Sabtu, 26 Mei 2012

11 Keunikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen

Entah mengapa selepas menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar di desaku, saya berhasrat sekali untuk meneruskan pendidikan di Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah atau biasa dikenal dengan Mathole’, sebuah sebuah sekolah yang terletak di desa Kajen. Saya tahu bahwa di sekolah tersebut muridnya diwajibkan untuk menghapal bait-bait dan atau matan kitab kuning, suatu hal yang dijauhi teman saya pada waktu itu, tapi saya tidak gentar dan mantap untuk meneguk ilmu di Mathole’ karena tertantang. Keinginan kuat saya untuk belajar di Mathole’ didasari atas dua hal: hafalan kitab dan tidak ada Ujian Negeri (UN). Bagi saya, itu ‘sesuatu’ banget.

Namun sayang beribu sayang, orang tua saya tidak memperkenankan saya untuk mendaftar di sekolah tersebut karena berbagai alasan, diantaranya adalah usia saya yang masih kecil. Karena kalau saya jadi mendaftar di sekolah tersebut, saya harus sekaligus tinggal di pesantren yang ada di sekitar Mathole’(salah satu peraturan Mathole’ adalah murid yang jarak rumahnya lebih dari 5 km dari Mathole’, maka wajib mesantren). Itu yang mungkin tidak diinginkan oleh orang tua saya, yakni meninggalkan mereka di saat saya masih bocah.

Setelah tamat dari Madrasah Tsanawiyah, segera saya daftarkan diri di Mathole’. Singkat cerita, dari sekitar 99 orang (kalau tidak salah) yang mendaftarkan diri untuk tingkat Aliyah di Mathole’,hanya ada 9 orang yang diterima pada tingkat Aliyah, termasuk saya. Adapun selebihnya masuk ke tingkat Diniyah Wustho satu dan dua. Kelas persiapan sebelum masuk ke tingkat Aliyah, masing-masing masa pendidikannya berlangsung selama satu tahun. Kalau ada yang diterima di Diniyah Wustho satu, maka ia harus melewati Diniyah Wustho dua terlebih dahulu sebelum menginjak jenjang Aliyah.?

11 Keunikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)
11 Keunikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen (Sumber Gambar : Nu Online)

11 Keunikan Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen

Selama tiga tahun mengenyam pendidikan Islam yang berhaluan Aswaja dan memiliki tagline “Tafaqquh Fiddin, Menuju Insan Sholih Akrom” tersebut, saya menemukan beberapa keunikanyang ada di Mathole’dan itu sudah melekat dan menjadi karakteristiknya. Berikut adalah keunikan-keunikan yang ada di Mathole’.?

1. Menggunakan perhitungan Hijriyah

Pada umumnya, sekolah-sekolah yang ada di Indonesia menggunakan perhitungan bulan Masehi untuk menentukan tahun pelajaran atauawal-akhir dari proses belajar mengajar (akhir Juli adalah waktu kenaikan kelas). Namun tidak demikian dengan Mathole’, Mathole’ menggunakan tahun dan bulan Hijriyah sebagai patokan untuk menentukan tahun pelajaran.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kalau sekolahan yang lain menetapkan akhir Juli sebagai awal dari proses belajar mengajar, maka Mathole’ menetapkan bulan Syawal (bulan ke-10 dari tahun Hijriyah) sebagai awal dari tahun pelajaran dan bulan Sya’ban (bulan ke-8 dari tahun Hijriyah) sebagai akhir dari proses belajar mengajar. Jadi pada bulan ke-9 dari bulan Hijriyah, bulan Ramadhan, murid Mathali’ul Falah libur penuh. Dan biasanya selama bulan puasa ini, mereka mengaji posonan di pesantrennya masing-masing atau di pesantren yang menyediakan program posonan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Syawwal memiliki arti peningkatan. Setelah satu bulan penuh menjalani puasa pada bulan Ramadlan, maka orang-orang yang beriman akan mendapatkan peningkatan keimanan dan ketakwaan. Berangkat dari situ, maka masyayikh Mathole’ menetapkan Syawwal sebagai awal tahun pelajaran sebagai bulan peningkatan intelektualitas murid Mathole’ atau kenaikan kelas.Cerita yang saya dengar seperti itu. Entah benar atau tidak, Wallahu ‘Alam. Namun yang pasti, tahun pelajaran baru Mathole’ berbeda dengan tahun pelajaran baru sekolah-sekolah lainnya.

2. Tidak ada Ujian Nasional

Sekolah yang didirikan oleh KH Abdussalam pada tahun 1912 ini tetep keukeuh tidak mau mengikuti Ujian Nasional (UN). Konon, pada masa Orde Baru, Mathole’ diminta pemerintah untuk ikut serta dalam Ebtanas/UN dengan iming-iming Mathole’ akan diberikan bantuan untuk pembangunan gedung. Namun KH Sahal Mahfudh, Direktur Mathali’ul Falah pada waktu itu, menolak dengan tegas tawaran dari pemerintah tersebut dan tetap mempertahankan kurikulum Mathole’ yang tidak ikut Ujian Nasional hingga sekarang.

Meski tidak ada Ujian Nasional, ijazah yang dikeluarkan Mathole’ memiliki status mu’adalah (setara) dengan sekolah-sekolah yang mengikuti UN dan bisa digunakan untuk mendaftarkan diri ke Perguruan Tinggi baik swasta maupun negeri.Sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 2852 tahun 2015 tentang penetapan status kesetaraan, ada 31 pondok pesantren yang disetarakan dengan Madrasah Aliyah/ sederajat, termasuk diantaranya adalah Mathali’ul Falah Kajen, Pati. ? ?

Namun demikian, jangan dikira murid Mathole’akan lulus dengan mudah meski tidak ada Ujian Nasional.Angkatan saya saja ada sekitar 20 teman saya yang tidak lulus karena beberapa alasan seperti tidak lulus tes baca kitab, tidak lulus tes baca Al-Quran, dan lain sebagainya. ?

3. Semua yang mendaftar pasti diterima

Di buku Sekolah Anak-anak Juara, Munif Chatib menyatakan bahwa ada tiga tingkatan (maqam) dalam sebuah institusi pendidikan. Pertama, sekolah yang menetapkan tes standar masuk adalah maqam terendah. Kedua, sekolah yang hanya mau menerima anak-anak pintar dan baik, sebagai maqam kedua. Terakhir, sekolah yang menerima semua kategori alias menerima semua siswa yang mendaftar adalah sekolah denga maqam tertinggi.?

Pada sekolah maqam tertinggi,murid-murid tersebut diklasifikasikan ke dalam kelas sesuai dengan gaya belajarnya masing-masing.Chatib menyakini setiap murid itu cerdas, tinggal bagaimana mereka diperlakukan dengan sesuai dan tepat.

Pun di Mathole’, tidak ada satu pun murid yang mendaftar yang tidak diterima, semuanya diterima. Tes masuk yang dilakukan Mathole’ hanya bersifat untuk mengetahui kompetensi masing-masing murid, sehingga mereka bisa ditempatkan di kelas yang sesuai dengan kemampuan mereka.?

Sesuai dengan informasi yang saya terima, siswi Mathole’ atau biasa disebut Banatbeberapa tahun terakhir ini membludak hingga lokal kelas yang ada di komplek Perguruan Islam Mathali’ul Falah tidak cukup untuk menampungnya, meski demikian Mathole’ tetap menerima murid yang mendaftar tersebut. Hingga akhirnya, gedung TPQ yang berada di sebelah selatan Masjid Kajen dijadikan sebagai tempat belajar mengajar Banat. Karena dalam sejarahnya, Mathole’ tidak pernah menolak murid yang ingin belajar.

4. Hafalan sebagai sebuah kewajiban

Salah satu keunikan dan karakteristik dari Mathali’ul Falah adalah menjadikan hafalan nadzaman atau matan kitab-kitab kuning sebagai syarat kenaikan kelas. Sepintar dan sebagus apapun nilainya, tapi kalau tidak hafal, ya harus tinggal di kelas yang sama. Di Mathole’, hafalan sudah mendarah daging dan itu sudah dimulai sejak tingkat Madrasah Ibtidaiyyah (setingkat Sekolah Dasar).

Hafalan untuk kelas tiga Madrasah Ibtidaiyyah adalah Durusul Fiqhiyyah bagian pertama (Fiqih), kelas empat Ibtidaiyyah juga Durusul Fiqhiyyah, tapi bagian yang terakhir. Untuk kelas lima dan enam Ibtidaiyyah hafalannya adalah Arbain Nawawi (hadis) dan Amtsilati Tasrifiyyah (sorof), berturut-turut bagian pertama dan bagian akhir.

Adapun hafalan kelas satu Tsanawiyyah adalah 500 bait Alfiyah ibnu Malik (nahwu) bagian pertama, untuk 500 bait berikutnya dihafal di kelas dua Tsanawiyah dan ditambah dengan 110-an bait Kifayatut Tullab (ilmu faroid). Kelas tiga Tsanawiyah, murid harus hafal matan Tashilut Turuqot 140-an bait (ushul fikih). Sementara kelas satu Aliyah, hafalannya adalah 280-anbait Jauharul Maknun (balaghoh) dan 140-an bait Sullamul Munauroq (mantiq).?

Satu, dua, atau tiga hari sebelum setoran, biasanya banyak ditemukan murid-murid Mathali’ul Falah yang begadang sampai subuh di makan Mbah Mutamakkin, makam Mbah Syamsuddin, dan Makam Mbah Ronggo Kusumo. Mereka menghafal bagian-bagian yang mereka belum hafal atau sekedar mengulang dan melancarkan bait-bait yang sudah mereka hafal. Di Mathole’ masih menggunakan sistem Cawu (Catur Wulan), yaitu Cawu satu, dua, dan tiga. Untuk setoran hafalan, biasanya diselenggarakan tiga kali: setelah Cawu satu dan dua, serta sebelum Cawu tiga.?

5. Karya Tulis Arab (KTA)

Kalau hafalan menjadi syarat kenaikan kelas, maka Karya Tulis Arab (KTA) adalah syarat untuk mengikuti ujian Catur Wulan dua pada saat kelas tiga Aliyah. Kewajiban menulis karya tulis ini dimulai sejak sejak tahun 1998 dengan tujuan untuk mengembangkan dan melestarikan budaya tulis-menulis di kalangan pesantren yang kian hari kian susut. KTA ini wajib ditulis tangan secara manual, tidak diperkenankan diketik dengan komputer kecuali tulisan sampulnya.?

Para murid Mathole’ dibimbing oleh musyrif (pembimbing) dalam menyusun karya tulis tersebut. Selain menulis, mereka juga harus mampu memahami dan menjelaskan apa yang mereka tulis. Setelah KTA berhasil disusun, maka sesis selanjutnya adalah munaqosah (ujian KTA). Di sinilah mereka diminta untuk mempertanggungjawabkan apa yang mereka tulis di hadapan tim penguji. Jadi kalau lulus Mathole’ kemudian melanjutkan ke Perguruan Tinggi, Insya Allah tidak akan kaget lagi denganhal-hal yang berkaitan dengan tulis-menulis karya tulis. Hehe, semoga.

6. Tes Al-Quran dan Kitab sebagai syarat kelulusan

Jika dibandingkan dengan sekolah lain, Mathole’ memang memiliki persyaratan kelulusan yang lebih banyak. Mulai dari menulis KTA, tes Al Quran, tes kitab, dan nilai yang harus melebihi standar adalah rangkaian syarat untuk lulus dari Mathali’ul Falah.?

Tes Al Quran dan tes kitab dilaksanakan sebelum ujian Catur Wulan tiga. Ada empat kitab yang diujikan; Tafsir Jalalain, Bulughul Marom, Tukhfatut Tullab, dan Ghoyatul Wushul.? Sekitar satu jam sebelum tes kitab, murid-murid baru dikasih tahu kitab apa yang akan diujikan kepadanya. Maka dari itu, merekaharus mempersiapkan ke-empat-empatnya dengan matang.Dalam tes kitab, mereka diminta untuk memaknai teks dengan utawi iki iku, kemudian mereka menjelaskan maksud dari teks tersebut. Waktu itu saya kebagian kitab Tuhfatut Tullab dan mendapatkan bab-bab awal. Hehe,?

7. Absen yang sangat ketat

Menurut saya, Mathole’ memiliki sistem absensi yang super ketat. Bagaimana tidak, murid yang tidak masuk kelas, lari atau L istilah yang digunakan Mathole’, sebanyak tujuh kali dalam satu tahun pelajaransecara berturut-turut tanpa keterangan maka ia dianggap mengundurkan diri dari Mathole’ atau dikeluarkan.Sedangkan, murid yang lari (L) sebanyak sepuluh kali tanpa alasan, mereka tidak akan naik kelas meski nilainya bagus-bagus dan hafalannya tuntas. ?

Pada zaman saya masih sekolah di sana, murid yang datang telat diminta untuk membaca Al Quran beberapa juz tergantung dari tingkat keterlambatannya. Mungkin sistem absesi dan sanksi bagi yang datang telat telah berubah. Terlepas dari itu semua, saya berkeyakinan bahwa hal tersebut diterapkan Mathole’ untuk mendidikdan menerapkan kedisiplinan tingkat tinggi. semoga tidak ada lagi yang tidak naik kelas gara-gara “L”.?

8. Direktur, sebutan untuk Kepala Sekolah?

Di Mathali’ul Falah, Direktur bertanggung jawab atas Madrasah Aliyah, Diniyah Wustho, Madrasah Tsanawaiyyah, Diniyah Ula, dan Madrasah Ibtidaiyyah. Sebagaimana tulisan Musthofa Asrori dalam buku Kekhasan Pendidikan Islam, sampai sekarang Mathali’ul Falah sudah dipimpin oleh empat orang. Mereka adalah KH. Mahfudh Salam (1922-1944), KH. Abdullah Zen Salam dan dibantu KH. Muhammadun Abdul Hadi (1945-1963), KH. Sahal Mahfudh (1967-2014), KH. Nafi’ Abdillah (2014-2017), dan Ustadz H. Muhammad Abbad (2017-sekarang).

Pada zaman KH. Mahfudh Salam, Mathole’ menggunakan kurikulum klasikal dengan pembagian kelas shifir awwal, tsani, dan tsalis. Sedang pada kepemimpinan KH. Abdullah Salam, dikembangkan sistem penjenjangan: kelas 1-6 Ibtidaiyyah dan kelas 1-3 Tsanawiyyah. Selanjutnya KH. Sahal Mahfudh mengembangkan Mathole’ hingga tingkat Aliyah untuk putra-putri, Diniyah Ula, dan Diniyah Wustho.?

Setahu saya hanya Mathali’ul Falah yang menggunakan istilah Direktur untuk menyebut kepala sekolahdi instutusi pendidikan setingkat Madrasah Aliyah atau sederajatnya.?

9. Asatidz adalah Para Alumni PIM

Selama saya sekolah di Mathali’ul Falah, (setahu saya) hanya ada satu guru yang tidak alumni Mathole’. Guru tersebut mengajar pelajaran ilmu eksak. Kebijakan tersebut dimaksudkan untuk memberdayakan alumni-alumni Mathole’ yang berilmu mumpuni baik lulusan pondok pesantren ataupun lulusan Perguruan Tinggi dalam maupun luar negeri,terlebih alumni Timur Tengah. Ada program mengabdi untuk Mathole’ selama satu tahun bagi lulusan-lulusan Timur Tengah,terutama bagi yang “diberangkatkan” oleh Mathali’ul Falah.

10. Pakai Jarit

Unik, menarik, dan tidak ada duanya. Murid perempuan Mathali’ul Falah atau biasa disebut banatmemiliki seragam yang khas. Jarit. Kain bawahan yang tidak berjahit. Iya, banat tidak diperkenankan menggunakan bawahan selain jarit. Jarit tersebut dililitkan melingkari perut kemudian diikat dengan korset.

Banat memiliki tiga style seragam; pertama, kerudung hitam, baju putih, dan jarit hitam. Kemudian, kerudung putih, baju dan jarit warna hijau daun. Dan, kerudung putih, baju putih, serta jarit warna krem. Semua bawahannya adalah jarit.?

Kalau sekolah lain menggunakan rok untuk bawahan siswa perempuan, maka Mathole’ tetap mewajibkan siswinya untuk menggunakan jarit. Sebuah keunikan tersendiri bukan?

11. Banin dan Banat Dipisah

Banin (Siswa laki-laki) dan banat (siswi perempuan) Mathali’ul Falah memiliki jadwal pelajaran yang berbeda. Banin dan banat belajar pada gedung yang sama, namun mereka tidak belajar bersama. Banin belajar dari pukul tujuh pagi sampai pukul setengah satu siang, sementara banat belajar dari pukul satu siang sampai pukul lima sore.Dengan demikian, antara murid laki-laki dan murid perempuan tidak bisa bertemu dan berinteraksi satu sama lain karena perbedaan jam pelajaran tersebut dan memang tidak diperkenankan untuk berkomunikasi kecuali urusan organisasi, itu pun terbatas dan tidak di tempat umum.Siapapun yang ketahuan berinteraksi dengan yang bukan mahromnya, maka sanksi akan menantinya.

Terkait perbedaan jam pelajaran tersebut, saya punya cerita yang menggelitik. Saat itu, saya tertidur pada jam pelajaran terakhir. Setelah pelajaran selesai, tidak ada satu temanpun yang membangunkan saya (mereka sudah bersepakat), mereka membiarkan dan malah mengerjai saya dengan menyembunyikan peci, buku, dan sepatu di laci-laci meja secara acak. Saya tertidur hingga anak banat datang. Saya kaget bukan kepalang, terdengar suara cewek membangunkan saya dengan menggebrak-gebrak meja.?

Mbak-mbak yang membangunkan tersebut langsung keluar dan di luar terlihat banyak anakbanat yang sepertinya tidak berani masuk karena ada anak banin yang tertidur tersebut. Saya langsung bangun, mencari peci, buku, dan sepatu yang diumpatkan tersebut. Kemudian lari terbirit-birit menerjang pojok-pojok gedung Mathole’ yang sudah dipenuhi oleh anak-anak banat. Hanya orang yang pernah tertidur (bukan sengaja tidur) di kelas dan dibangunkan mbak-mbak lah yang bisa merasakan bagaimana malunya hal tersebut, apalagi kalau tidurnya ‘membuat pulau’.Karena ada juga anak banin yang sengaja tidur di jam akhir pelajaran agar terlanjur dan dibangunkan oleh mbak-mbak banat. (Ati-ati modus, hehe)

Itulah sebelas keunikan yang dimiliki oleh Mathali’ul Falah dan mungkin tidak dimiliki oleh sekolah-sekolah lain. Selain itu, mungkin ada keunikan-keunikan lain. Tapi menurut saya, kesebelas itulah yang menjadikan Mathole’ ‘berbeda’ dengan sekolah-sekolah yang lainnya. Wallahu ‘Alamu Bisshowab.

Muchlishon Rochmat, Alumni Perguruan Islam Mathali’ul Falah Kajen, Margoyoso, Pati.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Ulama, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 01 Mei 2012

Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan?

Hingga tahun 2017 ini pendudukan Israel atas Palestina sudah berlangsung selama lima puluh tahun. Pelanggaran demi pelanggaran terus dilakukan oleh Israel. Warga Palestina dipersekusi, diusir, bahkan dibunuh. Semua aktifitas warga Palestina diawasi oleh Israel hingga detik ini. Semuanya diatur oleh Israel: suplai air, makanan, dan kebutuhan lainnya. Bahkan untuk pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya pun warga Palestina harus mengantongi izin dari Israel.

Dunia internasional mengecam dan mengutuk apa yang dilakukan Israel. Meski demikian, Israel sepertinya tidak menghiraukannya. Ia terus saja melakukan ‘kejahatan kemanusiaan’ dan perampokan hak asasi manusia warga Palestina.

Perhatian dan dukungan dunia untuk Palestina seolah tak pernah surut. Palestina memiliki wilayah yang sangat strategis: pusat tiga agama Abrahamik (Islam, Kristen, dan Yahudi), pusat wisata dunia, dan pusat peradaban dunia. Selain itu, konflik Palestina-Israel bukan hanya soal agama, tetapi juga kemanusiaan.

Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendudukan Israel atas Palestina, Sampai Kapan?

Ada banyak negara yang mengecam Israel dan mendukung Palestina. Indonesia adalah salah satunya. Sikap Indonesia tegas terhadap Israel. Yaitu menutup hubungan diplomasi dengan Israel selama Palestina belum merdeka. 

Namun yang menjadi pertanyaan adalah sampai kapan konflik Palestina-Israel akan berakhir? Untuk menciptakan perdamaian di sana harus dimulai mana? Dan apakah yang sudah dilakukan Indonesia untuk Palestina sudah cukup? 

Untuk menjawab itu, Jurnalis Pondok Pesantren Attauhidiyyah A Muchlishon Rochmat berkesempatan mewawancarai Direktur Sekolah Kajian Ilmu Stratejik dan Global Universitas Indonesia (UI) Muhammad Luthfi Zuhdi.

Hingga hari ini, konflik Palestina dan Israel masih berlarut-larut dan tidak kunjung usai. Apa sebetulnya penyebab konflik Palestina dan Israel?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ada banyak faktor. Pertama, Israel sendiri memiliki ambisi untuk menjadi negara besar di situ. Selalu merasa tidak cukup dengan tanah yang mereka miliki. Israel bukan hanya mencaplok wilayah Palestina, tetapi juga mencaplok negara-negara di sekitarnya. Bahkan, pendudukan Israel seharusnya sampai Madinah dan Irak. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, negara-negara besar belum memiliki minat untuk mendukung Negara Palestina yang merdeka. Kunci-kunci hubungan internasional yang ada di muka bumi ini adalah negara-negara besar. Pengakuan mereka sangat menentukan di PBB. Kalau mereka tidak menyetujui, maka Negara Palestina tidak akan berdiri. 

Israel seringkali melanggar kesepakatan-kesepakatan internasional, namun sepertinya Israel tidak mendapat hukuman. Bagaimana itu?

Banyak orang yang melakukan protes, tetapi itu seperti orang yang teriak di gurun pasir. Apapun protes yang ditujukan kepada Israel, tetapi Israel terus jalan terus. Dan Israel didukung oleh negara-negara besar, khususnya Amerika. Sehingga protes tersebut tidak membuahkan hasil apapun. 

Selama negara-negara besar tidak memiliki iktikad untuk memberikan hak kemerdekaan kepada Palestina, maka Negara Palestina tidak akan pernah terwujud karena hak veto dikuasai oleh negara-negara besar.

 

Bagaimana Anda membaca situasi dan kondisi Palestina kini terutama setelah Fatah dan Hamas berdamai?

Saya menghimbau agar mereka belajar Indonesia. Bagaimana berdemokrasi, bagaimana menyikapi perbedaan pendapat. Timur Tengah tidak terbiasa dengan demokrasi. Katakan mereka berdemokrasi, pemilihan umum di Mesir. Ketika menang, mereka mengambil seluruhnya. Lalu, kemudian ada upaya untuk saling menghilangkan posisi orang lain. Ini bahaya kalau itu yang terjadi. 

Kalau misalnya mereka melakukan pemilihan umum. Kemudian satu kelompok Hamas menang, lalu ia meniadakan yang lain dengan tidak memberikan posisi mesti akan terjadi sebuah konflik yang lebih besar lagi. Jadi harus dibagi posisinya. Yang menang jangan mengambil semuanya, tetapi harus berbagi kepada yang lain. Seperti di Indonesia bahwa yang menang tidak mengambil semuanya.  

Hingga saat ini Indonesia tetap konsisten mendukung dan membantu Palestina –baik dalam tataran diplomasi ataupun bantuan logistik, kesehatan, dan pendidikan- serta menentang Israel. Menurut Anda, apakah yang dilakukan Indonesia sudah cukup?

Untuk ukuran tertentu sudah cukup baik, tetapi artinya bukan cukup. Namun Pemerintah Indonesia perlu didorong terus. Indonesia tidak boleh berhenti di tempat. Indonesia harus jalan terus. Apa yang sudah dilakukan hingga saat ini sudah bagus, meskipun harus dilakukan peningkatan-peningkatan. Seperti pelatihan capacity building terhadap warga Palestina. Ini sudah bagus tetapi harus ditingkatkan. Sehingga ketika mereka merdeka nanti mereka siap untuk bekerja.

Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia adalah negara yang tidak menyukai hal-hal provokatif. Indonesia tidak suka ngomong kesana kemari. Tetapi terus konsisten mendukung Palestina. Ini dirasakan oleh pejabat Palestina sendiri dan mereka menganggap Indonesia sebagai negara yang paling konsisten mendukungnya baik di lapangan maupun di dunia diplomatik serta dalam perjanjian-perjanjian. 

Kalau belum cukup, apa lagi yang seharusnya dilakukan Indonesia?

Pertanyaan saya apakah Indoensia sudah waktunya untuk mencoba masuk ke wilayah yang lebih dalam bagaimana terlibat dalam menciptakan perdamaian di Timur Tengah tersebut. Namun itu tidak mudah karena masalah Palestina itu seperti blackhole, apapun yang masuk hilang di situ.  Indonesia harus hati-hati dalam hal ini. 

Namun demikian, Indonesia memiliki pengalaman untuk mendamaikan beberapa negara seperti Kambodia dan Filipina Selatan. Bahkan mendamaikan konflik yang ada di Indonesia sendiri. Kita berhasil menyelesaikan konflik di Ambon, Poso, dan Aceh. Tidak banyak yang memiliki pengalaman ini sebagaimana yang Indonesia miliki. Dengan modal itu, Indonesia diharapkan bisa memberikan masukan kepada mereka.

Apakah Indonesia terkena dampak langsung dari konflik Palestina-Israel itu?

Dalam hal-hal tertentu ada. Indonesia sudah seharusnya mendukung Palestina. Pertama, di dalam konstitusi kita bahwa Indonesia anti penjajahan. Kedua, sejarah membuktikan bahwa orang yang pertama mengakui dan mendukung kemerdekaan Indonesia adalah Palestina. Ketiga, ini adalah bukan hanya masalah agama saja, tetapi juga masalah kemanusiaan. 

Kalau Indonesia kurang mendukung Palestina, maka ini dijadikan sebagai alat politik oleh oposisi untuk menjatuhkan pemerintahan. Atau paling tidak memojokkan pemerintah karena kurang mendukung Palestina. Artinya, ini bisa menjadi isu politik. Itu dampak langsungnya bagi Indonesia.

Sedangkan dampak lainnya adalah ada puluhan ribu orang Indonesia yang berkunjung ke Yerussalem. Menurut perhitungan yang saya baca, lebih dari enam puluh ribu orang Indonesia pergi ke Yerussalem setiap tahunnya. Ini berdampak langsung kepada ekonomi pariwisata Israel. Semakin banyak yang datang ke Yerussalem, maka semakin banyak yang didapat Israel. 

Kalau dampak ekonomi Israel kepada Indonesia?

Mungkin tentang perdagangan yang jumlahnya belum tahu persis karena itu tidak terbuka. Produk-produk Israel sendiri masuk ke Indonesia bisa melalui negara ketiga. Seperti produk Indonesia dulu saat diekspor ke Amerika dan Eropa juga melalui Singapura. Banyak produk Israel yang bagus dan unggul seperti alat-alat pertanian. Indonesia sebagai negara pertanian tidak bisa lepas dari itu. 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah