Minggu, 27 Desember 2015

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Buleleng, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Dalam rangka mengantisipasi jatuhnya korban demam berdarah di Kecamatan Gerokgak Kabupaten Buleleng, GP Ansor Gerokgak mencoba menghubungi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng pada Jumat (29/1). Mereka melayangkan surat ke Dinas Kesehatan Buleleng.

Dalam surat itu, mereka setidaknya mengajukan dua hal dalam rangka pencegahan demam berdarah. Mereka mengharapkan dinas kesehatan melalui petugas medis melakukan sosialisasi bahaya demam berdarah, mulai dari sebab, gejala, dan cara pencegahannya.

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)
Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng (Sumber Gambar : Nu Online)

Antisipasi DBD, GP Ansor Gerokgak Kirim Surat ke Dinas Kesehatan Buleleng

Kedua, karena banyaknya genangan air dan tumpukan sampah plastik akibat intensitas hujan yang begitu tinggi, GP Ansor meminta dinas terkait mengadakan pengasapan pada wilayah-wilayah yang rawan penyakit demam berdarah.

Ketua GP Ansor gerokgak Abdul Karim Abraham mengatakan, selama tahun 2015, di kecamatan Gerokgak ada seratus lebih kasus demam berdarah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Banyaknya kasus pada tahun sebelumnya setidaknya menjadi peringatan bagi petugas kesehatan untuk dapat meminimalisasi kasus DBD dengan cara antisipasi sejak dini,” ujar Karim. (Abraham Iboy/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Internasional, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 23 Desember 2015

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (Padasuka) menghelat seminar nasional bertajuk “Menelusuri Indikasi Pengaburan Sejarah Islam Nusantara”. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama dengan Dewan Mahasiswa (Dema) Fakultas Adab dan Humaniora.

Acara tersebut digelar di aula Student Center UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Kamis (12/3) siang. Diskusi tersebut menghadirkan tiga sejarawan: Wakil Ketua PP Lesbumi NU KH Agus Sunyoto, Prof Ahmad Mansur Suryanegara, dan Ridwan Saidi.

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Padepokan Padasuka Helat Seminar Pengaburan Sejarah

Pengasuh Padasuka KH Syarif Rahmat dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini dimaksudkan untuk menjernihkan pemahaman keislaman masyarakat. “Saya harap, diskusi ini membuka cakrawala pemahaman baru sejarah kita,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyoal tentang pengaburan suatu sejarah, Kiai Syarif Rahmat memberikan satu contoh. Suatu ketika, para dukun dan tukang santet di zaman Nabi Sulaiman kehilangan pasaran. Lalu mereka bersekongkol untuk mengdongkel kekuasaan Raja Sulaiman. Mereka pun sepakat menyelundupkan sejumlah orang untuk menjadi punggawa istana Sulaiman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Setelah situasi dirasa aman, mereka mengubur sejumlah peralatan sihir di bawah singgasana Raja Sulaiman. Beberapa waktu setelah Sulaiman wafat, mereka lalu berkumpul untuk mengatur strategi. Mereka membagi tugas, ada yang jadi tim gabungan pencari fakta (TGPF), ada pula yang bagian berita,” tutur Kiai Syarif menirukan mereka.

TGPF itu, lanjut Kiai Syarif, lalu meminta izin untuk masuk istana dengan dalih penyelidikan. Lalu, mereka pun membongkar apa yang pernah mereka tanam di bawah kursi Sulaiman. Mereka lalu pura-pura terkejut. Tanpa banyak komentar, mereka lalu melakukan konferensi pers yang pesertanya adalah anggota mereka sendiri.

“Singkat cerita, sejak itu terbentuklah opini bahwa Sulaiman adalah tukang sihir, pendusta yang memutarbalikkan fakta. Mereka mengambil kesimpulan bahwa Sulaiman selama ini menggunakan kekuatan sihir,” paparnya.?

Hal ini, lanjut Kiai Syarif, berlangsung hingga ribuan tahun hingga datang seorang pembaharu, yakni Nabi Muhammad SAW. Mereka lalu marah karena memandang penjelasan Rasulullah merupakan hal baru.

Rasulullah juga menjelaskan kepada mereka bahwa Baitullah yang paling tua adalah yang ada di Mekah, bukan yang di Baitul Maqdis. “Apa alasanmu, Muhammad. Sejarah kan harus ada buktinya,” kata mereka.

Lalu Rasulullah mengajukan tiga bukti dan fakta bahwa Baitullah yang di Mekah itu lebih tua. Sementara orang-orang Yahudi dan Nasrani beranggapan sebaliknya. Pertama, ayat bayyinat itu ayat-ayat yang nyata. Yakni, adanya maqam Ibrahim lebih tua sepuluh generasi baru sampai Sulaiman.

“Kedua, siapapun yang masuk ke wilayah Ka’bah di Mekah merasa aman yang mana hal tersebut disepakati tiga agama karena menghormati kewingitan daerah itu. Ketiga, adanya kewajiban melakukan ibadah haji ke Baitullah, bukan ke Baitul Maqdis,” tandasnya.

Kiai Syarif berkesimpulan, peristiwa semacam itu bukan tak mungkin terjadi pada masa berikutnya. Peristiwa pemalsuan sejarah ala Yahudi dan Nasrani bisa saja terjadi di negeri tercinta ini.

“Oleh karena itu, ketika saya berkeliling sowan ke para kiai dan para tokoh, saya berpandangan bahwa sekarang ini saatnya para pendekar sejarah bicara untuk Indonesia, bukan untuk orang lain,” pungkasnya. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Anti Hoax, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kang Said: Bangsa Besar Mau Pertahankan Bahasanya

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menjelaskan, salah seorang Wali Songo, yaitu Sunan Bonang, berhasil mensinkronkan antara bahasa Arab dalam kitab kuning dengan bahasa ibu santri, misalnya bahasa Jawa.

Kang Said: Bangsa Besar Mau Pertahankan Bahasanya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Bangsa Besar Mau Pertahankan Bahasanya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Bangsa Besar Mau Pertahankan Bahasanya

Kiai yang akrab disapa Kang Said itu mencontohkan, dalam memaknai kitab kuning, santri memiliki rumus khusus dalam bahasa Jawa. Jika kedudukan kalimat itu mutada, maka akan ditandai utawi, khobar itu iku, fail atau naibul fail itu sopo atau opo, maf’ul bih itu ing, dhorof itu ingdalem, tamyiz apane, hal itu hale.

Pada praktiknya, misalnya dalam kalimat alhamdu utawi sedoyo puji. Utawi di situ supaya tahu santri bahwa itu mubtada. Iku lillahi, kagungan allah. Iku di situ supaya tahu bahwa itu khobar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Karena bahasa itu menunjukkan bangsa, pesantren adalah cagar budaya, benteng budaya dan sumber budaya,” tegasnya ketika diwawancarai di ruangannya, gedung PBNU, Jakarta, Senin (17/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia kemudian mengimbau, supaya bangsa Indonesia mempertahankan bahasa ibu masing-masing karena bahasa Indonesia tidak selengkap bahasa ibu. “Bangsa besar adalah bangsa yang bisa mempertahankan jatidirinya, bahasanya, kepribadiannya, wisdomnya, tidak tergilas era apapun, termasuk era globalisasi.”

Hari Bahasa Ibu berasal dari pengakuan internasional terhadap Hari Gerakan Bahasa yang dirayakan di Bangladesh. Tanggal 21 Februari dinyatakan sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional oleh UNESCO pada tanggal 17 November 1999. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 15 Desember 2015

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, kembali menegaskan bahwa NU netral dalam pemilihan presiden mendatang. NU tidak akan mendukung salah satu kandidat calon presiden dan wakil presiden.

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Pilpres, PBNU Tegaskan Netral

"NU bukan partai politik, jadi tidak akan terlibat aksi dukung-mendukung," kata Kiai Said di Jakarta, Selasa (29/4). Penegasan netralitas ini disampaikan setelah beredar kabar dukungan NU ke kandidat calon presiden tertentu, seiring dengan banyaknya aksi silaturahim politisi ke PBNU.

Dengan netralitas tersebut, Kiai Said mengaku memberikan kebebasan kepada Nahdliyin untuk menentukan pilihannya. Termasuk jika ada kader NU yang menginginkan maju dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, pilihan ke mana berkoalisi diserahkan sepenuhnya kepada yang bersangkutan. "Saya tidak menyebut nama ke mana dukungan warga NU mestinya diberikan," tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski demikian NU sebagai organisasi kemasyarakatan terbesar ingin memberikan arahan kepada rakyat Indonesia pada umumnya dan umat Islam khususnya, terkait kriteria pemimpin yang layak dipilih. Kriteria itu sendiri seperti tertuang dalam kitab al-Ahkam ash-Shulthoniyah karya Imam Mawardi yang sudah banyak dikaji di pesantren-pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kriteria pemimpin islami pertama adalah berilmu, cerdas (alim). Kedua adalah berani, tegas (syuja), dan ketiga adil (adil)," kata Kang Said, demikian Kiai Said disapa di kesehariannya.

Kriteria keempat pemimpin islami, lanjut Kang Said, adalah jujur dan sederhana (zuhud). Sementara kriteria terakhir adalah mampu secara fisik (salim al-jism). "Kalau ada calon pemimpin yang bisa memenuhi lima kriteria itu, dia sudah islami, meskipun diusung oleh partai yang tidak berbasis massa Islam," pungkanya. (Samsul Hadi/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Aswaja, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 14 Desember 2015

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memantapkan langkah di era digital, Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Institut Pesantren Mathaliul Falah (KPI IPMAFA) menjalin kerja sama dengan sejumlah pakar media untuk menyelenggarakan forum diskusi bertema ‘Kompetensi Dasar Komunikasi dan Penyiaran di Masa Depan’ yang merumuskan sejumlah pemikiran dan hubungan kerja sama dengan berbagai lembaga terkait.?

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Prodi KPI IPMAFA Pati Jalin Kerja Sama dengan Sejumlah Pakar Media

Acara yang berlangsung Jumat (25/3) ini dihadiri oleh sejumlah praktisi dan pakar media seperti Hakim Jayli (TV9), Asep Cuwantoro (KPID Jawa Tengah), Muhammad Niam (Kepala SMK Multimedia Cordova), dan Luluk (PAS FM Pati).

?

"Forum ini adalah pemantik untuk membuka berbagai sumbangsih pemikiran mengenai tren era komunikasi digital pada 10 tahun mendatang," ungkap Rektor IPMAFA H Abdul Ghaffar Rozin saat memberikan sambutan.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ditegaskan kembali oleh Hakim Jayli, tren komunikasi dan penyiaran digital di era mendatang akan menawarkan banyak peluang sekaligus tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah keberagaman konten dan teknologi berbasis internet. Maka dibutuhkan kejelian untuk menangkap adanya peluang itu sekaligus kemampuan mengatasi berbagai hambatan yang ada.

?

Pernyataan serupa juga dilontarkan oleh PAS FM Pati yang memandang, institusi pendidikan seperti KPI IPMAFA harus memulai untuk memberikan sumbangsih berupa karya-karya berbasis teknologi digital seperti pembuatan film dokumenter maupun fiksi, seni fotografi, maupun reportase radio. Namun, lebih ditekankan pada aspek local wisdom yang kini mulai terlupakan. Padahal secara geografis tiap daerah pasti memiliki kekhasan tersendiri. Tinggal bagaimana membuat kemasannya terasa menarik dan tepat sasaran.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perihal konten berbasis local wisdom ini juga disoroti oleh Asep Cuwantoro selaku KPID Jawa Tengah. Menurutnya, aspek konten inilah yang harus diperkuat kembali. IPMAFA sebagai institusi perguruan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan komunikasi dan penyiaran akan memiliki keunikan tersendiri jika mampu menghasilkan konten berkualitas yang berpatokan pada standar regulasi penyiaran dan tentu saja nilai-nilai moral pesantren.

?

Pada ranah praktis, banyak sekali tantangan yang harus dihadapi oleh perguruan tinggi maupun institusi pendidikan penyelenggara kegiatan pembelajaran komunikasi sejenis. Misalnya dari segi pembiayaan dan pengadaan alat-alat yang tentunya tidak murah. "Keterbatasan alat bisa disiasati dengan menjalin kerjasama dengan berbagai institusi," ungkap Muhammad Niam Kepala SMK Cordova.

?

Acara yang dimulai pukul 9:30 dan berakhir pada 15.30 WIB itu tidak hanya merumuskan gagasan ideal dan praksis untuk menghadapi tren komunikasi digital di masa depan, tetapi juga ditindaklanjuti dengan kesepakatan hubungan kerjasama antara IPMAFA dengan lembaga-lembaga yang hadir.

?

Menurut Arif Chasannudin, Sekretaris Program Studi Komunikasi dan Penyiaran IPMAFA, sumbangsih pemikiran dari para narasumber diskusi ini juga akan menjadi acuan ideal untuk merumuskan kurikulum perkuliahan komunikasi dan penyiaran berbasis nilainilai pesantren di masa depan. Ia juga menambahkan, tidak menutup kemungkinan KPI IPMAFA menjalin kerja sama dengan beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Islam Indonesia (UII), Universitas Islam Negeri (UIN), Universitas Gajah Mada (UGM), Undip Semarang dan penyelenggara pendidikan komunikasi lainnya. (Jamal Mamur/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 10 Desember 2015

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Pondok Pesantren Nurul Islam (Nuris), Antirogo, Jember, Jawa Timur, terus meningkatkan performance santrinya agar bisa eksis di tengah-tengah masyarakat. Salah satunya adalah dengan ? Program Abdi Masyarakat (PAM).?

Sebelum para santri benar-benar lepas dan menjadi alumni Nuris, ? mereka "diuji" dulu untuk terjun di masyarakat, menjalani pengabdian, beradaptasi dan bergaul dengan warga yang sama sekali baru.?

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nuris Uji Santri Terjun di Masyarakat

Sebanyak 146 santriwan-santriwati pada Jumat (28/4) dilepas untuk mengikuti PAM angkatan ke-5. ? Pelepasan yang dilakukan di halaman belakang Pondok Pesantren Nuris tersebut dihadiri oleh sang pengasuh, KH Muhyiddin Abdusshomad, para pengurus dan segenap santri.?

Kiai Muhyiddin menekankan pentingnya peserta PAM menjaga diri dan bersikap ramah selama berada di tengah-tengah ? masyarakat. "Teruslah kalian terapkan S6 selama kalian bertugas" tuturnya.?

S6 yang dimaksud Kiai Muhyiddin adalah singkatan dari sopan,santun, salam, sapa, senyum dan sanjung yang memang menjadi moto Nuris.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, pengasuh Nuris yang lain, KH Robith Qashidi menyatakan bahwa PAM mempuyai banyak manfaat bagi santri. Diantaranya, pertama adalah mempererat hubungan antar pesantren, khususnya pesantren Nuris dan tempat peserta PAM bertugas.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, membekali santri dengan pengalaman mengajar, dan ketiga meningkatkan rasa percaya diri santri. "Kalau di perguruan tinggi, ini namanya KKN. Jadi tempat dan masyarakat di mana santri diterjunkan itu adalah miniatur masyarakat sesungguhnya yang kelak akan dihadapi santri ketika telah benar-benar lepas dari Nuris," ucapnya.

Pelepasan peserta PAM tersebut, ditandai dengan pengenaan jas PAM oleh Gus Robith Qashidi terhadap santri yang diwakili Nur Habibullah, siswa kelas XII IPA SMA. Sementara untuk perwakilan santriwati dikenakan oleh Ning Laili Happy Dianterhadap Shinta Louna Faqih, siswi ? kelas XI MA Unggulan Nuris.

Ke-146 santri tersebut diterjunkan di 16 ? pesantren di seantero Jember, dan satu pesantren di Bondowoso. Mereka akan menjalani pengabdian selama satu bulan penuh. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 07 Desember 2015

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik

Sumedang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Cabang Lembaga Tamir Masjid Nahdlatul Ulama (LTMNU) Kabupaten Sumedang, Jawa Barat kembali mengadakan Pelatihan Muharrik Masajid di Kecamatan Ganeas, Kabupaten Sumedang, Selasa (26/1).

Ketua LTMNU Eman Sulaeman mengatakan, muharrik (penggerak) masjid adalah orang yang bertugas mengatur dan menggerakan para pengurus takmir masjid dengan memanfaatkan segala sumber daya dan dana yang dimilki oleh masjid bersangkutan.

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Sumedang Revitalisasi Masjid melalui Tenaga Muharrik

Seorang muharrik, katanya, juga membantu pengurus takmir masjid untuk memahami dan menghadapi kesulitan dan tantangan yang dihadapinya. “Jadi seorang muharrik tidak hanya memberi rekomendasi dan melakukan presentasi, akan tetapi dituntut selalu tampil dalam proses implementasi. Ia berperan sebagai pendamping takmir dalam mengimplementasikan agenda revitalisasi masjid,” terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus LTMNU kini sedang melakukan pendataan terhadap masjid NU. Eman bersyukur pihaknya sudah berhasil memberikan surat keputusan (SK) masjid-masjid di empat kecamatan di Sumedang.

“Dan ini menjadi program prioritas LTMNU untuk terus meng-SK-an masjid-masjid di Kabupaten Sumedang. Sehingga kita dapat mengetahui jumlah masjid-masjid NU itu ada berapa, tipologinya seperti apa di Sumedang ini. Di samping bertujuan untuk membentengi dari paham-paham yang menghancurkan paham Ahlusunnah wal Jamaah,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendidikan bagi para penggerak masjid ini dihadiri 50 orang. Hadir sebagai pemateri Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh. Menurutnya, jumlah masjid yang begitu banyak membuktikan bahwa keberadaan tempat ibadah ini sangat penting di mata umat Islam.

Di negeri yang dihuni mayoritas umat Islam ini, sambungnya, jumlah masjid dan mushala mencapai 1.070.000. Jumlah tersebut berdasarkan data Kementerian Agama RI pada tahun 2009. Sementara, berdasarkan data Lazuardi Biru tahun 2010, kurang lebih 80 persen masjid di Indonesia menggunakan amaliyah ala NU dalam hal beribadah, misalnya qunut saat shalat subuh, wirid setelah imam salam, adzan jumat dilakukan dua kali, dan sebagainya. (Ayi Abdul Kohar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 06 Desember 2015

Ada Si Jidan dan Burhan di Masjid As-Segaf Solo

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Selama bulan Ramadhan, seperti biasa Masjid Jami’ Assegaf Pasar Kliwon Solo, menyelenggarakan berbagai kegiatan keagamaan. Menurut Imam Masjid Jami’ Assegaf, Habib Jamal Bin Abdul Qodir Assegaf, kegiatan sudah dimulai sejak pukul 12.00 WIB.

“Setiap harinya, rutin mulai pukul 12 siang sampai dini hari, ada banyak kegiatan” terang kakak Habib Syech As-Segaf itu, saat ditemui Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Rabu (2/7) sore.

Ada Si Jidan dan Burhan di Masjid As-Segaf Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Si Jidan dan Burhan di Masjid As-Segaf Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Si Jidan dan Burhan di Masjid As-Segaf Solo

Setelah diawali dengan pengajian tafsir al-Qur’an, waktu sore hari dilanjut dengan kegiatan Rauhah Sore. “Setiap sore kita menafsiri Kitab Rayadhus Shalihin karangan Imam Nawawi,” ujar Habib Jamal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Usai kajian kitab, kemudian jamaah berkumpul di serambi masjid untuk mendengarkan kultum dari salah seorang ustadz. Kultum berakhir hingga waktu azan Maghrib tiba.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbagai kegiatan usai salat tarawih, juga sudah disiapkan takmir masjid. “Ada Nyantri Ramadhan, Sarasehan Ramadhan, Dzikir dan Muhasabah,” katanya.

Agar jamaah tidak mengantuk, ada pula beberapa acara inspiratif seperti Kisah Malam, Suara Anda, dan Dialog Interaktif. Untuk tahun ini, panitia juga mengadakan beberapa program baru.

“Ada Burhan (Bubur Ramadhan) yang diselenggarakan pada dua puluh hari pertama Ramadhan dan Si Jidan (Santri Masjid Ramadhan),”

Dengan berbagai kegiatan tersebut, pihaknya berharap dapat menjadikan jamaah lebih tertarik untuk semakin giat dalam beribadah di bulan Ramadhan. Tak lupa, di malam hari para jamaah akan disuguhi secangkir kopi rempah khas masjid ini. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 03 Desember 2015

PBNU Adakan Pembekalan Program Dai Internasional

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj memberikan pembekalan kepada Tim Inti Dai Internasional dan Media (TIDIM) atau Dai Ambassador di Gedung PBNU Lantai 8, Jalan Kramat Raya, Jakarta. TIDIM merupakan program Lembaga Dakwah NU yang bertujuan menyiapkan dai agar siap bertugas di luar negeri.?

PBNU Adakan Pembekalan Program Dai Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Adakan Pembekalan Program Dai Internasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Adakan Pembekalan Program Dai Internasional

Dalam sambutannya, Wakil Sekretaris LDNU, KH Wahfiudin Sakam mengutarakan jika selama 11 hari (19/5-29/5) 20 dai dari berbagai daerah akan digembleng di Cisarua, Bogor, Jawa Barat. Ia menambahkan, selama pelatihan para dai akan mendapatkan pembelajaran terkait komunikasi, pemanfaatan media sosial, bahasa Inggris, fisik dan mental, membuat presentasi serta psikoterapi.?

"Alhamdulillah untuk bulan ramadhan tahun ini, LDNU akan mengirimkan satu dai ke Amsterdam dan dua dai ke Hongkong. Untuk Australia kami masih menjalin komunikasi," ungkap penanggung jawab program TIDIM itu.

Rencananya selepas Idul Fitri, LDNU akan memperkuat TIDIM dengan kemampuan bahasa Inggris mereka agar lebih siap go International. "Insyaallah selama tiga minggu TIDIM akan intensif belajar bahasa Inggris," ungkap KH Wahfiudin.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Wakil Ketua LDNU, KH Maman Imanul Haq mengamini agar dai-dai yang memiliki basis pengetahuan Islam aswaja dan kemampuan komunikasi yang baik dapat diterjunkan ke seluruh dunia. “Sebuah harapan baru bagi Islam Nusantara untuk menjadi ruh bagi perjuangan Islam yang rahmatan lil alamin,” terang Anggota DPR RI ini.

Pembekalan juga disampaikan oleh salah satu Ketua PBNU, KH Manan Abdul Ghani. Ia menegaskan bahwa NU terus bergerak dan pergerakan dimulai dari masjid. "Saat ini kita juga sedang menjalankan program penggerak masjid. Kader dai internasional harus mampu mengembangkan dakwah yang bermuara dari masjid," pungkasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan jika TIDIM harus memegang amanah dengan baik. Islam yang berkembang di Indonesia terbukti mampu menjaga persatuan dan kesatuan bangsa.

"Janganlah kita ragu untuk terus mendakwahkan kebenaran dalam kondisi apapun," tutupnya. (Idan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah