Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaNu. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat

Padang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sekretaris GP Ansor Sumatera Barat Zulhardi Z Latif dilantik sebagai anggota DPRD Kota Padang periode 2014-2019, Rabu (6/8). Zulhardi dilantik bersama anggota DPRD Kota Padang lainnya di aula gedung DPRD Kota Padang.

Menjelang pelantikan, Zulhardi mengatakan kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, jabatan sebagai wakil rakyat merupakan amanah rakyat yang harus dijalankan. “Alhamdulillah, konstituen saya mengantarkan saya menjadi wakil rakyat,” katanya.

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat

Sebagai kader Ansor, kata Zulhardi, kita akan berupaya menyuarakan aspirasi generasi muda NU di Kota Padang. Ini pertama kader Ansor yang dilantik menjadi anggota DPRD Kota Padang setelah reformasi, katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum menjadi Sekretaris GP Ansor Sumbar, ia pernah diamanahkan sebagai Ketua GP Ansor Kota Padang.

Ketua GP Ansor Sumbar Rusli Intan Sati menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Zulhardi Z Latif. “Meski saya gagal dalam pemilihan legislatif 9 April lalu, pelantikan Zulhardi ini sebagai gantinya. Walaupun daerahnya berbeda, yang penting kader Ansor tetap ada yang di legislatif,” kata Rusli yang pernah menjadi anggota DPRD Solok. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 07 Februari 2018

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dua ikatan organisasi pelajar NU Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) memperingati hari lahir (Harlah) dengan menggelar Panggung Kreasi Pelajar (PKP).

Harlah ke-60 IPNU dan ke-59 IPPNU diperingati Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wanasari di Kantor MWC Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Rabu (25/2).

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi

 

“Kreativitas pelajar NU perlu digali, dengan menyediakan media penyaluran,” kata Ketua Panitia penyelenggara Umi Mukaromah di sela acara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam memperingati Harlah, IPNU-IPPNU merasa terpanggil untuk menyediakan media kreativitas pelajar. Diharapkan, para pelajar NU khususnya bakat dan minatnya di dalam berkesenian akan terus tumbuh dan berkembang.

Acara yang berlangsung meriah tersebut, antara lain ditampilkan berbagai macam atraksi kreasi band pelajar, lawak, drama, rebana, dan tari islami.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah melalui penilaian dewan juri yang sangat ketat, akhirnya berhasil menyabet juara IPNU-IPPNU Pimpinan Ranting Sawojajar meraih juara 1 dengan menampilkan Rebana kolaborasi Tari saman. Juara 2 PR Kertabesuki (band), juara 3 PR Kertabesuki (band) dan juara harapan diraih Komisariat SMK Maarif NU 1 Wanasari (Lawak).

Ikut menyaksikan PKP unsur PC IPNU-IPPNU, Muspika Kecamatan Wanasari dan Ketua MWC NU Wanasari. Selain kegiatan Panggung kreasi pelajar, dalam Harlah tahun ini juga diadakan aksi sosial donor darah yang bekerja sama dengan PMI Cabang Brebes. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, AlaNu, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 28 Januari 2018

PCNU Kota Semarang Gerakkan Komitmen Keikhlasan Kader NU

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Semarang mengadakan peringatan hari lahir Ke-94 Nahdlatul Ulama di Aula PCNU jalan Puspogiwang I beberapa hari lalu. Peringatan ini dimulai dengan khataman Al-Quran bada Maghrib dilanjutkan dengan Shalat Isya berjamaah dan istighotsah yang dipimpin KH Hadlar Ihsan.

"Kita instruksikan untuk menyebarkan semarak harlah NU dan kegiatan NU yang lain di media sosial. Alhamdulillah acara di Kebumen Istighotsah dan Apel Kader Penggerak NU berjalan lancar," kata Ketua PCNU Kota Semarang KH Anashom.

PCNU Kota Semarang Gerakkan Komitmen Keikhlasan Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kota Semarang Gerakkan Komitmen Keikhlasan Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kota Semarang Gerakkan Komitmen Keikhlasan Kader NU

Data yang dihimpun panitia menyebutkan, terdapat 16.650 nahdliyyin-nahdliyyat yang hadir di pantai Petanahan Kebumen. Dari kota Semarang menyumbang 150 kader menggunakan dua bus besar dan tujuh kendaraan roda empat. Kader yang berangkat ini merupakan alumni PKPNU tiga angkatan, PCNU, Banom dan MWCNU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan ini menjadi bagian untuk meramaikan harlah Ke-94 NU. Semangat kebersamaan terus dipupuk bersama dan ditularkan kepada nahdliyyin. Selain itu media sosial yang kita punya harus dipenuhi dengan konten-konten yang menyejukkan. Pada kegiatan di Kebumen ini banyak netizen menggunakan tagar #CintaNUcintaNKRI sebagai bagian dari kampanye nasionalisme.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"NU harus punya gerakan (harakah) yang harus dievaluasi dan ditingkatkan, dimulai dengan diri sendiri," pesan Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanief Ismail.

Pesan ini disampaikan dalam sambutan sekaligus refleksi dengan pemotongan tumpeng sebagai rangkaian harlah NU 94. Pesan selanjutanya bahwa dalam ber-NU harus ikhlash. Di samping itu totalitas dalam ber-NU. Kita harus mengetahui secara mendalam NU itu sendiri. Jangan sampai menjelek-jelekkan NU karena dalam NU sudah ada amaliyah yang paten dan khittah yang jelas. (Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Doa, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 14 Januari 2018

Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sembilan mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta baru-baru ini telah berhasil mempertahankan berbagai tesisnya terkait pengembangan studi Islam Nusantara di hadapan para penguji.

Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan

 

Selain topik tasawuf, fiqih, budaya, dan sejarah lokal, dua mahasiswi telah sukses mempertanggungjawabkan hasil penelitian mereka melalui proses Munaqosah Tesis yang cukup ketat. Dua mahasiswi tersebut adalah Fitrotul Muzayyanah dan Euis Wulan.

Melalui proses ujian yang cukup panjang, Fitrotul Muzayyanah tampil percaya diri mengungkap sejarah tokoh perempuan nahdliyin dalam tesis yang berjudul Kontribusi Sosio-Intelektual Ulama Perempuan Pesantren kepada para penguji.

 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tesis yang mengulas peran keagamaan Nyai Khoiriyah Hasyim ini, menepis argumen tentang langkanya peran perempuan dalam dunia Islam serta absennya agen perempuan dalam pembentukan intelektualisme di dunia pesantren.

Dalam paparannya, Muzayyanah telah menunjukkan bukti-bukti yang cukup meyakinkan tentang kualitas intelektual dan militansi Nyai Khoiriyah dalam berbagai aktivitas keagamaannya. 

Menurutnya, kontribusi sosial dan intelektual Nyai Khoiriyah selama di Jombang dan Makkah menjadi data penting terkait keterlibatan tokoh perempuan dalam upaya mendorong perempuan untuk mengakses dunia pendidikan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melalui peran sosial dan keagamaan Nyai Khoriyah ini pula, Ulama Perempuan hadir dengan citra intelektual dan gagasan keagamaan yang progresif, kritisserta semangat altruisme seorang aktivis yang terus memberikan kontribusi kemanusiaan dimanapun ia berada.

Sebagai puteri kandung Kiai Hasyim Asy’ari, pembentukan intelektualitas Nyai Khoiriyah tak lepas dari gemblengan pendiri ormas terbesar di nusantara tersebut. Sejak kecil, Khoiriyah muda telah belajar mengaji Al-Qur’an, fiqih, tafsir dan ilmu nahwu dibawah asuhan sang ayah. Tidak heran jika kelak ia juga tidak canggung untuk mengambil peran sebagai guru, pendakwah dan pemimpin pesantren. 

Salah satu pikiran progresifnya bisa dilihat pada status hukum Islam tentang masalah Keluarga Berencana (KB). Di saat lingkungan pesantren resistan terhadap KB, Nyai  Khoiriyah justru bersikap sebaliknya. 

Menurutnya, program KB adalah program yang halal dan diperbolehkan. Hal ini mempertimbangkan kenyataan empirik mengenai keluarga yang beranak banyak cenderung mengalami kesulitan dalam hal mendidik anak-anaknya. Terlebih lagi jika mereka tergolong miskin. 

Sementara itu Euis Wulan mempertanggungjawabkan tesisnya yang berjudul, Studi Kepemimpinan Keagamaan Hj Sariani Thaha Ma’ruf Dalam Perspektif Gender. Penelitian yang menggunakan analisis gender ini menguji peran aktivis perempuan yang mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk jalan dakwah dan usaha-usaha pendidikan keagamaan. 

Dalam presentasinya, Wulan menunjukkan representasi ‘Ulama Perempuan’ yang memiliki keterampilan orasi handal yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan agama dan politik warga. Keterampilannya dalam berkomunikasi dengan massa  pernah mendorongnya untuk terlibat dalam politik praktis yang mengusung gagasan keindonesiaan dan kemuslimatan. 

Banyak ungkapan Hj Sariani Thaha Ma’ruf yang menunjukkan gagasan emansipasi perempuan dalam dalam bingkai kemanusiaan yang bersumber dari teks-teks suci. Misalnya pesannya yang cukup populer di kalangan jama’ahnya, “Anak perempuan harus bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki”. 

Dalam kesempatan lain, aktivis Muslimat NU ini menyampaikan, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang dapat memberi manfaat kepada sesamanya”.

Selaku Asisten Direktur I Pascasarjana Unusia Jakarta sekaligus penguji, Deny Hamdani menegaskan bahwa penelitian tentang relasi gender dalam kerangka pikir Islam Nusantara menjadi salah satu topik penting di sekolah pascasarjana untuk terus digali. 

Selain bermanfaat untuk mengungkap konstruksi gender dalam struktur sosial dan budaya kalangan santri, juga berguna untuk menampilkan peran perempuan dalam masyarakat yang selama ini dianggap sebelah mata. 

“Pada titik ini juga, aphorisme Islam Nusantara al-muhafadzah ‘ala al-qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah mendapat kesempatan untuk diuji,” kata Deny kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (14/11) di Jakarta.

Pengujian secara ilmiah dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana kecenderungan komunitas santri menjaga tradisi lama yang masih relevan dengan zaman dan pada saat yang sama menggeser sikap mental dan tradisi lama dengan kultur baru yang lebih sesuai dengan konteks kekinian. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Bahtsul Masail, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 11 Januari 2018

Harlah Ke-81, GP Ansor Resmikan Masjid KH Abdurrahman Wahid

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor meresmikan masjid baru memasuki hari lahir (Harlah) ke-81 yang jatuh tepat pada Jumat (24/4). Masjid dua lantai yang diberi nama "KH Abdurrahman Wahid" ini terletak di Jalan Kramat Raya 65A, Jakarta.

Harlah Ke-81, GP Ansor Resmikan Masjid KH Abdurrahman Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-81, GP Ansor Resmikan Masjid KH Abdurrahman Wahid (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-81, GP Ansor Resmikan Masjid KH Abdurrahman Wahid

Prosesi peresmian ditandai dengan penandatanganan prasasti masjid oleh mantan ibu negara Hj Sinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, dan Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid dan disaksikan ratusan kader GP Ansor yang datang dari Jabodetabek.

Nusron menjelaskan, bagian bawah bangunan masjid yang berada di depan kantor PP GP Ansor ini berfungsi sebagai tempat media center dan aktivitas ekonomi, seperti toko buku dan pernak-pernik NU, juga koperasi simpan-pinjam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ini tak hanya sebuah penghargaan tapi juga kebanggaan bagi kami sekeluarga. Ini bukti bahwa jejak perjuangan Gus Dur terus membekas pada generasi muda NU,” ujar Hj Sinta Nuriyah, Jumat malam, yang didampingi putrinya, Yannuba Arifah Chafsah atau Yenny Wahid.

Istri mendiang Gus Dur ini mengingatan, kini banyak nama tokoh yang disematkan pada tempat-tempat dengan maksud mengenang. Namun sayangnya tempat-tempat tersebut ternyata banyak yang tak mencerminkan karater dan kepribadian sang tokoh yang menjadi label itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tapi saya yakin dan percaya bahwa tempat ini tidak akan menjadi tempat seperti itu karena Ansor adalah urat nadi dari bangsa Indonesia,” tuturnya sembari menyebut bahwa jauh sebelum perayaan harlah GP Ansor malam ini, nama suaminya telah menjadi pula nama sebuah perpustakaan di New York Amerika Serikat.

Graha Ansor empat lantai yang menjadi kantor GP Ansor juga rampung diperbaiki bersamaan dengan selesainnya pembangunan masjid. Rencananya, kata Nusron, lantai 4 gedung ini menjadi perpustakaan yang juga bernama KH Abdurrahman Wahid, lantai 3 sebagai lokasi perkuliahan perbankan syariah STAINU Jakarta, lantai dua menjadi kantor, lalu lantai satu adalah aula yang bisa disewa secara umum.

Hadir pula dalam acara yang diselenggarakan di halaman Graha Ansor ini Rais Syuriah PBNU KH Saifuddin Amsir dan KH Masdar Farid Mas’udi, Sekjen PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua Lembaga Ta’mir Masjid NU (LTMNU) KH Abdul Manan A Ghani, dan sejumlah pejabat pemerintah.

Peringatan Harlah ke-81 GP Ansor diawali dengan acara manaqiban, khatmul quran, dan pembacaan shalawat dengan mengusung tema “Transformasi Jamaah Menuju Jami’iyah Nahdliyah”. Melalui tema ini, Nusron mengatakan pihaknya hendak menegaskan bahwa pemuda NU yang sangat besar lebih solid dalam gerakan teroganisasi secara modern tanpa kehilangan jati diri tradisinya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional, Aswaja, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 25 Desember 2017

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau warga NU, dan umat Islam secara umum, untuk bertakziah ke rumah duka Rais Syuriyah PBNU KH Masduqi Mahfudz yang wafat Sabtu (1/3) petang di Malang, Jawa Timur.

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz

Bagi yang tidak memungkinkan takziah secara langsung diminta menunaikan shalat ghaib. “Ini bentuk penghormatan terakhir kepada guru kita, Kiai Masduqi. Insya Allah seluruh amal perbuatannya diterima,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta.

Kang Said, demikian ia akrab disapa, mengaku sangat kehilangan kiai yang meninggal dunia di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang, Jawa Timur itu. “Belum lama kita ditinggal Kiai Sahal Mahfudh (Rais Aam PBNU), seorang kiai kharismatik lainnya sekarang meninggalkan kita. Innalilahi wainna Ilaihi Rojiun," tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengikuti Kebutuhan Zaman

Di mata Kang Said, Kiai Masduqi adalah guru dan teladan yang sangat alim. Kiai yang lahir di Pati, Jawa Tengah, tersebut dinilai sebagai sosok yang sangat dalam menguasai ilmu fiqih di kitab-kitab klasik, namun mampu mengaktualisasikanya sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saat kita belum banyak mengenal komputer, tahun 1996 dalam Munas NU di Lombok, Kiai Masduqi sudah bisa mengoperasikan laptop,” kenang Kiai Said.

Kiai Masduqi yang tercatat sebagai murid dari Kiai Kholil, Rembang, Jawa Tengah, lanjut Kang Said, juga dikenal sebagai sosok yang zahid, tulus, dan ikhlas. Pendiriannya dalam mempertahankan prinsip keagamaan sangat keras, hingga menjadikannya sebagi kiai yang kharismatik dan sangat disegani.

“Kiai Masduqi tidak segan berdebat dengan anak-anak muda seperti saya, Pak Masdar (Farid Mas’udi), dan lain sebagainya. Secara keilmuan kami sering tidak sependapat, tapi secara umum kami sangat takdim, sangat menghormati beliau,” urai Kang Said. (Samsul Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 12 Desember 2017

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca

Oleh Robiatul Adawiyah



Suatu hari A membagikan sebuah artikel yang memiliki judul bombastis sembari berkomentar “Terjadinya Hari Kiamat Di 2012” adalah sebuah bukti bahwa yang membuat sebuah artikel merupakan (orang dalam/orang dekat) dari Tuhan, atau ia sempat mengintervensi Tuhan.

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Budaya Komentar di Era Krisis Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca

Temannya, B berkata, “Bro, yakin itu berita benar?”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

A membalas, “Nggak tau, bro, gw nggak baca, cuma share doang.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

B lalu mengambil novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan dan ngegebukin A sampai otak A keluar, lalu B mengambil otak A buat dijual di Tokopedia.

Banyak orang seperti ini di media sosial. Orang-orang yang tidak pantas hidup, yang suka membagikan artikel-artikel bernada bombastis tanpa membaca sepatah kata pun yang ditulis. Atau yang lebih bodoh lagi, suka asal berkomentar padahal belum membaca keseluruhan isi berita/artikel.

Peristiwa di atas menandakan bahwa masih banyak keberadaan masyarakat takhayul dan masyarakat ilmiah. Banyak terdapat gejala-gejala tak masuk akal sejak budaya media sosial mulai berkembang.

Orang menjadi semakin mudah mengedarkan segala macam perkataan, mulai dari kabar serius, desas-desus politik, kabar burung, takhayul, cerita gaib, perang ideologi, rasisme dan lain hal sebagainya.

Peristiwa tersebut disebabkan karena memeriksa suatu kabar membutuhkan jerih payah yang lebih dari pada harus menyebarluaskan berita lewat sosial media. Teknologi dengan cepat melahirkan budaya komentar, dan siapapun boleh komentar. Tak peduli komentar itu melukai seseorang atau tidak, yang dapat membuat seseorang saling membenci, mengancam bahkan saling membunuh.

Melihat kenyataan tersebut, haruskah kita melarang seseorang untuk menggunakan teknologi? Atau apakah semua orang harus menjadi seorang ilmuwan yang dapat menggunakan banyak metode? dengan keahlian detailnya. Jawabannya adalah “Tidak”. Setiap orang hanya perlu berpikir dan bertindak dengan masuk akal.

Ilmu pengetahuan adalah salah satu cara untuk mengetahui. Mengapa disebut salah satu, agar hal tersebut tidak dimaknakan untuk mengalahkan segalanya. Sebab ada realitas yang tidak bisa dijangkau hanya sebatas dengan ilmu.

Melihat keadaan tersebut, dapat dipengaruhi oleh tingkat minat baca seseorang. Minat baca Indonesia itu rendah. Studi menunjukkan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University. Indonesia hanya sedikit lebih baik daripada Botswana, tapi jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya.

Kenapa bisa begini? Ini pasti salah Jokowi. Memang mudah menyalahkan pihak eksternal. Namun, kurangnya budaya membaca ini sebuah permasalahan yang kompleks yang tidak bisa ditinjau dari satu sisi saja.

Di satu sisi, kebiasaan membaca tidak ditanamkan secara mendalam saat pendidikan dasar. Budaya membaca hanya berhenti sebatas jargon yang ditempel atau dipasang di banner atau baliho atau papan besi di sekolah. “Budayakan membaca”, begitu slogan yang sering ditemui dulu waktu kecil. Namun dalam praktiknya, hampir tidak ada insentif sama sekali untuk membaca buku di luar buku teks pelajaran. Siswa Indonesia baca buku hanya untuk mengetahui materi yang akan diujikan nanti, lalu membuat rumus-rumus cepat supaya nggak perlu liat buku. Guru juga hanya sebatas menguji daya ingat dengan menggunakan soal pilihan ganda, tanpa memberikan kesempatan siswa untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri. Lalu, buat apa repot-repot baca buku banyak-banyak, toh materinya nggak keluar di ujian? Kebiasaan ini membuat siswa menjadi robot yang hanya berpikir dari satu sisi saja.

Keadaan tersebut sayangnya dijumpai pada materi pelajaran Bahasa Indonesia yang didominasi soal pilihan ganda, padahal seharusnya pertanyaan ilmu bahasa itu seharusnya interpretatif. Siswa hanya diberikan sebuah cuplikan atau kutipan teks dan memilih makna teks tersebut dari empat pilihan yang ada. Siswa tidak diberikan kesempatan, atau insentif, untuk membahas teks tersebut sesuai pandangan subjektifnya. Akhirnya, siswa tidak berminat untuk menggali lebih lanjut cuplikan tersebut.

Keadaan tersebut juga sering dijumpai di lingkungan kampus. Mahasiswa juga terkadang malas mencari sumber-sumber referensi yang ‘lebih’, dan terlalu bergantung dengan materi slide-slide PowerPoint dosen. Seakan materi di PowerPoint adalah mutlak dan tidak perlu mengembangkan wawasan lagi.

Terkadang, perpustakaan di sekolah dan kampus hanya sebuah formalitas. Di kampus, sebagian besar area perpustakaan dialihfungsikan menjadi meja buat laptop. Hanya sedikit buku-buku yang tertampung. Itupun mungkin jarang disentuh orang-orang kecuali saat ujian tengah/akhir semester. Di luar itu, buku-buku tersebut menganggur.

Lalu ada juga faktor ekonomi. Tidak dapat dipungkiri, lebih dari 50% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Boro-boro beli buku, beli makan buat besok aja pusing.? Perlu diakui bahwa membaca buku adalah sebuah privilege untuk orang-orang kelas menengah, jadi perlu dikesampingkan dulu orang-orang miskin. Buat kelas menengah, buku belum menjadi prioritas utama. Mungkin nomor sekian setelah gadget, paket data Internet, jatah nongkrong di kafe, dan bensin kendaraan. Buku-buku yang beredar di toko buku Indonesia masih relatif mahal, terutama buku-buku impor yang masih berbahasa Inggris. Di Gramedia, buku-buku terjemahan memang relatif lebih murah, namun tetap dirasakan ‘mahal’ bagi sebagian orang. Yang laku justru buku komik, self-help bernuansa Islami, dan buku-buku teori konspirasi Illuminati penuh bullshit.

Ada juga faktor sosial. Kehidupan sosial Indonesia cenderung condong pada budaya lisan dibanding budaya tulis. Dalam hal ini adalah kehidupan sosial, orang-orang lebih senang ngerumpi dibanding membaca. Orang yang membaca cenderung diolok-olok atau setidaknya disindir. Tekanan sosial membuat mereka terpaksa meletakkan bukunya dan ikut nimbrung. Dengan berkembangnya budaya lisan atau biasa disebut diskusi, akan lebih mudah mendapatkan sumber-sumber pengetahuan hanya sekedar “katanya dan katanya” tanpa peduli untuk meneliti terlebih dahulu mengenai kebenarannya.

Budaya komentar di era krisis membaca dapat mengakibatkan seseorang konservatif dalam berpikir namun radikal dalam tindakan. Persis seperti situasi nasional saat ini sejak beredarnya video di kepulauan seribu hingga datang putaran kedua.

Penulis adalah mahasiswi MPI STAI Az-Ziyadah Jakarta. Manusia yang baru menginjak kepala dua asal Jakarta (Betawi Asli), yang aktif menyandu kopi, berhobi tidur, dan jalan-jalan, dan senang bermain dengan perasaan.



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 14 November 2017

Jenius, Kiai Desain NU Jadi Islam Tradisional Plus

Bandung Barat, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Sekretaris Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya ManusiaPWNU Jawa Barat Wawan Gunawan mengatakan, NU merupakan organisasi Islam yang unik dan khas ala Indonesia. Lahir dengan identik sebagai komunitas tradisional, namun senantiasa berpikiran maju ke depan.?

Jenius, Kiai Desain NU Jadi Islam Tradisional Plus (Sumber Gambar : Nu Online)
Jenius, Kiai Desain NU Jadi Islam Tradisional Plus (Sumber Gambar : Nu Online)

Jenius, Kiai Desain NU Jadi Islam Tradisional Plus

Sisi tradisionalismenya, menurut dia, NU senantiasa akomodatif dengan adat dan tradisi masyarakat Indonesia. Demikian pula, NU merupakan pilar penting yang mengokohkan bangunan kebangsaan Indonesia hingga saat ini.

“Sisi tradisionalismenya, NU akomodatif dengan budaya dan kearifan lokal masyarakat. Tidak ada dalam kamus NU untuk memberantas adat dan budaya lokal. Selama tidak bertentangan dengan syariat, nilai dan tradisi lokal tetap dilestarikan dan diperkaya dengan nilai-nilai keislaman sebagaimana jalan dakwah yang ditempuh para Wali Songo itu,” katanya pada Sarasehan Nahdliyyin Bandung Barat di Pondok Pesantren al-Ghuroba, Sindangkerta, Sabtu (20/5).

Kemudian, dengan kejeniusan para kiainya, NU juga mampu mengawinkan pandangan keagamaan dengan wawasan kebangsaan secara komprehensif. Inilah poin plus nya-NU yang belum kita temukan pada belahan dunia Islam lainnya atau pun ormas lain di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dalam konteks politik kebangsaan, di belahan dunia Muslim lainnya nasionalisme dan Islam masih belum ada titik temu dan seringkali terlibat konflik, bahkan peperangan satu sama lain. Maka, sebagai bangsa, kita wajib bersyukur dengan kehadiran NU karena adanya merupakan berkah bagi bangsa Indonesia yang aneka ragam ini,” ujar Wawan.

Jauh sebelum kemerdekaan, lanjut Wawan, NU melalui muktamarnya tahun 1936 di Banjarmasin telah menegaskan bahwa Indonesia sebagai darussalam (negeri damai), bukan darul islam atau daulah islam. Demikian pula, saat ijtihad kebangsaan KH Wahid Hasyim merelakan Pancasila sebagai dasar negara dalam sidang BPUPKI tahun 1945. Pada tahun 1983 dalam Munas Alim Ulama di Situbondo, NU merupakan organisasi pertama yang mencetuskan penerimaan asas tunggal Pancasila.

Wawan meyakini, pada masanya nanti dengan model corak keislaman yang dikembangkan NU, Islam Indonesia akan menjadi kiblat dari peradaban Islam dunia dalam menciptakan harmoni dan perdamaian.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara Sarasehan yang diigagas Nahdliyyin Bandung Barat ini diikuti tidak kurang dari 250-an ajengan dan aktivis Nahdliyyin. Selain Wawan, hadir juga sebagai narasumber diskusi adalah Ketua PW Ansor Jabar Deni Ahmad Haidar. Selepas disukusi, dilanjutkan dengan pembahasan draft rekomendasi yang dipandu KH Hilman Farid (inisiator sarasehan). Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pula taushiyah Rais Syuriah PCNU KH Aa Maulana. (Edi Rusyandi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional, AlaNu, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 13 November 2017

Lakpesdam NU Diminta Beri Masukan Posisi NU Saat Ini

Bogor,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. ‘Awan PBNU Hj. Sri Mulyati meminta Lakpesdam PBNU memberikan Masukan pemikiran kepada NU dalam menanggapi masalah-masalah yang dihadapi saat ini yang berubah dari sebelumnya.

Lakpesdam NU Diminta Beri Masukan Posisi NU Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Diminta Beri Masukan Posisi NU Saat Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Diminta Beri Masukan Posisi NU Saat Ini

Sumbangan pemikiran tersebut, menurut dosen Taswuf Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu, bisa menyangkut kehidupan berbangsa dan benegara dalam kontes nasional dan hubungan internasional atau dalam konteks global.

Dalam konteks global, mantan Ketua Umum PP Fatayat NU itu, ditengarai, Pengurus Cabang Istimewa NU di luar negeri, misalnya, mendapatkan banyak pertanyaan tentang karakter dan sikap NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Karena nampaknya di PCINU mendapatkan pertanyaan-pertanyaan bagaimana konsep NU menghadapi masalah-masalah hari ini,” katanya saat membuka Rapat Kerja Lakpesdam PBNU di Wisma Karya Ciloto, Bogor, Jawa Barat, Jumat (27/1). ?

Ia juga meminta kepada pengurus Lakpesdam untuk menata niat dalam beraktivitas, terutama sebagai pengurus dari lembaga yang didirikan para kiai. Permintaannya itu merujuk pada kitab yang populer di kalangan pesantren, Ta’limul Muta’alim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di dalam kitab itu, lanjutnya, niat dinilai sangat penting. Karena penataan niat, ada hal yang kelihatannya urusan dunia, tapi karena niatnya baik, akan dicatat menjadi amal akhirat.

Raker Lakpesdam diawali dengan diskusi yang membahas NU di Tengah Gelombang Populisme dengan pembicara Menteri Tenga Kerja dan Transmigrasi Hanif Dhakiri, anggota Ombudsman Republik Indonesia Ahmad Suaedy dan pengurus Lakpesdam PBNU Dadi Darmadi. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 07 November 2017

Derita Celebral Palsy Syndrome, Bocah 9 Tahun Hanya Berbobot 7 Kilo

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Di bawah terik matahari yang memanggang Ibu Kota pada Jumat 23 Desember silam, Slamet Tuhari, Yulia, dan Agus—ketiganya dari tim NU Care-LAZISNU—mendatangi sebuah rumah kontrakan di kawasan Paseban, Jakarta Pusat.

Kedatangan mereka hari itu adalah untuk menyerahkan bantuan uang tunai kepada salah seorang mustahik. Mustahik kali ini adalah seorang anak yang sedang sakit, sehingga NU Care berinisiatif untuk memberikan bantuan uang tunai.

Derita Celebral Palsy Syndrome, Bocah 9 Tahun Hanya Berbobot 7 Kilo (Sumber Gambar : Nu Online)
Derita Celebral Palsy Syndrome, Bocah 9 Tahun Hanya Berbobot 7 Kilo (Sumber Gambar : Nu Online)

Derita Celebral Palsy Syndrome, Bocah 9 Tahun Hanya Berbobot 7 Kilo

Lepas pukul satu siang, tibalah mereka di kamar kontrakan mustahik yang terletak di lantai dua. Setelah mengucapkan salam dan menunggu beberapa saat, kami dipersilakan Wiwin Windrati (36), penghuni kontrakan tersebut, untuk masuk.?

“Kita datang ke sini untuk membantu Dik Al,” tambah Mbak Yulia.

Mbak Wiwin, ibu kandung Al, kembali menceritkan kepada Tim LAZISNU. Penderitaan Al bermula sejak sekitar tujuh tahun lalu, saat Al baru berusia dua tahun. Artinya Al kini telah berusia sembilan tahun. Umumnya pada anak usai tersebut, mereka sedang aktif bermain ceria dengan teman sebaya. Juga postur tubuh yang mulai tumbuh besar dan sehat.?

Hal itu tidak terjadi pada Al. Celebral Palsy Syndrome dan Microsepalus yang diidap Al, menyebabkannya berbeda. Diusianya yang sembilan tahun, berat badan ? Al tak lebih dari 7 kilogram.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Celebral Palsy adalah gangguan kesehatan yang memengaruhi gerakan dan postur tubuh. Hal tersebut berhubungan dengan cedera otak atau masalah perkembangan otak. Namun, Al juga mengalami persoalan pada jantungnya, di mana ukuran jantungnya sangat kecil sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Terdapat satu kasus Celebral Palsy pada satu juta anak di dunia. Artinya penyakit ini tergolong sangat langka.

Wiwin juga menuturkan, ia dan suaminya Indra Jaya, harus menyediakan obat kejang sedikitnya 8 tabung per bulan. Obat tersebut diperlukan agar Al dapat beristirahat. Obat harus diberikan setiap hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Wiwin menyimpan keinginan untuk merawat dan melakukan sebaik mungkin untuk Al. Selain tercukupi kesediaan obat, Wiwin dan suaminya berharap dapat mencukupi makanan Al berupa Sun bubur merah atau Quecker merah, dan mengontrol Al ke dokter jantung.

Sambil menahan tangis, Wiwin mengatakan harapannya untuk dapat mengajak Al melihat dunia luar, agar Al tidak bosan hanya di kamar kontrakan. Untuk itu ia membayangkan bisa menghadiahi Al sebuah kereta dorong agar bisa mengajak Al jalan-jalan.

Indra Jaya (40), suami Wiwin bekerja sebagai tenaga sales. Dengan biaya hidup yang tinggi, keluarga itu sangat memerlukan kepedulian masyarakat sekaligus pemerintah.?

NU Care-LAZISNU mengagendakan memberikan bantuan pembelian obat setiap bulannya, selain rencana pengadaan kursi dorong untuk Al.?

Bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi meringankan beban Al, dapat menghubungi NU Care-LAZISNU di nomor 021-310 29 13 dan 0813-9800-9800. Kepedulian masyarakat, akan mengembalikan senyum yang telah lama hilang dari wajah Al. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 November 2017

Tiga Golongan Manusia Menurut Imam al-Ghazali

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menurut keterangan dalam kitab Bidayatul Hidayah karya Imam al-Ghazali r.a, dijelaskan bahwa manusia di dunia ini, terbagi menjadi tiga golongan.

Tiga Golongan Manusia Menurut Imam al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Golongan Manusia Menurut Imam al-Ghazali (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Golongan Manusia Menurut Imam al-Ghazali

“Pertama, yakni golongan manusia yang taat. Kelompok ini disebut salim (selamat),” terang Habib Muhammad bin Husein Al-Habsyi, saat mengisi ceramah  majelis pengajian Purnomo Sidi Masjid Agung Surakarta, Kamis (4/2) malam.

Menurut cucu Habib Anis Al-Habsyi itu, kelompok pertama ini akan masuk surga, tapi masih dikatakan “kurang sukses”. Karena hanya menjalankan ketaatan, namun masih mengerjakan maksiat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Golongan kedua, khasir (merugi), yakni kelompok manusia yang tidak taat dan terus menjalankan maksiat. Sedangkan kelompok ketiga yakni mereka yang menjalankan ketaatan dan meninggalkan maksiat.

“Golongan ini disebut, rabih (beruntung). Lebih susah meninggalkan maksiat daripada sekedar menjalankan maksiat,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai contoh, banyak orang yang taat menjalankan ibadah shalat, puasa, aktif di pengajian, namun masih saja susah untuk meninggalkan perbuatan menggunjing. “Makanya, kelak akan ada golongan muflis (bangkrut). Mereka membawa banyak amal, tapi habis ketika dihisab,” tutur dia.

(Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, AlaNu, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 31 Oktober 2017

Lagi, JATMAN DKI Jakarta Selenggarakan Pelatihan Tasawuf Dasar

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jamiyyah Ahlith Thariqah al-Mutabarah An-Nahdhiyyah (JATMAN) DKI Jakarta, Sabtu (30/4) menyelenggarakan kembali Pelatihan Tasawuf Dasar angkatan ke-3. Acara dihelat di Zawiyah Utama tarekat Idrisiyyah, Masjid Al-Fatah Harmoni Jakarta Pusat.

Lagi, JATMAN DKI Jakarta Selenggarakan Pelatihan Tasawuf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagi, JATMAN DKI Jakarta Selenggarakan Pelatihan Tasawuf Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagi, JATMAN DKI Jakarta Selenggarakan Pelatihan Tasawuf Dasar

Ketua Zawiyah Utama, Ustadz Asep Saefullah menyampaikan, tarekat Idrisiyyah sangat mengapresiasi inisiatif JATMAN menyelenggarakan pelatihan ini. "Saat ini umat sangat membutuhkan tasawuf agar hidupnya lebih terarah," ungkapnya saat memberikan sambutan. 

Sementara itu, H Rusbiyanto Asfa, Sekretaris JATMAN DKI Jakarta menjelaskan bahwa JATMAN saat ini fokus kepada pengembangan kader-kader muballigh tasawuf.  "Setelah pelatihan ini, Insyaallah kita akan mengadakan beberapa program lainnya seperti khalwat, nada, dan dzikir serta pelatihan pendalaman tasawuf," ujarnya.

Ia menambahkan, dalam pelatihan ini mengundang beberapa pembicara dari berbagai tarekat seperti; Ustadz Rizal Fauzi Tarekat Idrisiyyah, Ustadz H. Handri Ramadian dari Tarekat Qadiriyyah Naqsyabandiyyah Suryalaya, Ustadz Ali M. Abdillah dari Tarekat Khalwatiyyah, serta M. Yunus A. Hamid dari Tarekat Tijaniyyah.

"Kita berharap melalui metode tasawuf dapat berkontribusi mengembangkan revolusi mental bangsa," tutupnya. (Nugraha Romadhon/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, AlaNu, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 27 Oktober 2017

Pawai Panjang Jimat Meriahkan Maulid Nabi di Pekalongan

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan orang dari berbagai komunitas ikut memeriahkan Pawai Panjang Jimat di Pekalongan, Sabtu (24/1) siang. Acara ini merupakan salah satu rangkaian dari kegiatan peringatan Maulid Nabi yang diselenggarakan Kanzus Sholawat.

Dalam kirab tersebut, tampak dalam barisan paling depan, rombongan pembawa bendera Merah Putih. Rombongan tersebut terdiri dari Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Polri, Banser, Satpol PP dan puluhan pelajar.

Pawai Panjang Jimat Meriahkan Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pawai Panjang Jimat Meriahkan Maulid Nabi di Pekalongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pawai Panjang Jimat Meriahkan Maulid Nabi di Pekalongan

Sedangkan di belakang rombongan pembawa bendera, ikut mengiringi aneka atraksi ditampilkan oleh peserta pawai. Selanjutnya, iring-iringan pecinta sepeda ontel, berbagai grup drumband/marching band dari beberapa sekolah di Kota dan Kabupaten Pekalongan dan Batang, barisan anggota Banser, IPNU-PPNU, Pemuda Pancasila dan kelompok rebana.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di tengah-tengah rombongan, masyarakat dihibur dengan aksi egrang batik dari Paguyuban Terbang Egrang Kebahan Lor, Banyuri Ageng Kota Pekalongan. Dan grup barongsai dan liong Naga Mas Pekalongan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rais ‘Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) Habib Luthfy bin Yahya mengatakan, pawai panjang jimat ditampilkan setiap menjelang kegiatan peringatan maulid yang diadakan Kanzus Sholawat.

"Momentum peringatan maulid di samping untuk meningkatkan rasa cinta kepada Rasulullah, juga meningkatkan rasa kebersamaan dalam kedamaian sesama ummat manusia di muka bumi ini," ujarnya.

Pawai yang dimulai sejak pukul 1 siang tersebut, diawali Stadion Kraton menyusuri Jalan Kemakmuran, Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda, Jalan Hayamwuruk, Jalan dr. Cipto dan berakhir di Jalan dr. Wahidin Pekalongan. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 23 September 2017

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan

Xinjiang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bicara Islam di Cina, maka harus menyertakan Xinjiang di dalamnya. Mengapa? Ya, karena Xinjiang adalah rumah bagi setidaknya sepertiga Muslim di Cina.

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan

Dari total 25 juta Muslim di Negeri Tirai Bambu, sebanyak 8,5 juta di antaranya hidup di Xinjiang. Sementara, dari 300 ribu masjid di Cina, 23 ribu di antaranya ada di Xinjiang.

Xinjiang adalah sebuah daerah otonomi— bukan provinsi—di Cina. Nama lengkapnya adalah Daerah Otonomi Uighur Xinjiang. Wilayah ini berbatasan dengan Daerah Otonomi Tibet di sebelah selatan dan Provinsi Qinghai serta Gansu di tenggara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Xinjiang juga berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur, Rusia di utara, serta Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Kashmir di barat. Xinjiang juga mencakup sebagian besar wilayah Aksai Chin, yang diklaim India sebagai bagian dari Negara Bagian Jammu dan Kashmir.

Secara harfiah, Xinjiang bermakna “perbatasan baru” atau “daerah baru”, sebuah nama yang diberikan semasa Dinasti Qing Manchu. Bagi para pendukung kemerdekaan Xinjiang, nama ini terasa sinis dan menyakitkan hati, sebab mereka sejatinya lebih menyukai nama lokal yang bersejarah atau yang berkaitan dengan gerakan kemerdekaan, seperti Turkestan Cina, Turkestan Timur, atau Uighuristan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penduduk asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uighur (45,21 persen) dan suku Kazakh (6,74 persen). Selain itu, di Xinjiang juga terdapat suku Han yang merupakan suku mayoritas di Cina.

Menurut sensus tahun 2000, jumlah suku Han di Xinjiang mencapai 40,58 persen. Ini adalah peningkatan jumlah yang sangat drastis dibandingkan pada 1949 saat berdirinya Republik Rakyat Cina. Kala itu, belum banyak suku Han yang hidup di Xinjiang, hanya sekitar enam persen.

Meski dalam hal jumlah Muslim Uighur masih merupakan mayoritas di Xinjiang, tetapi hari demi hari mereka kian terpinggirkan. Istilah ‘daerah otonomi’ yang ditetapkan Pemerintah Cina cuma sekadar nama. Agama dan budaya mereka ditekan habis-habisan oleh Pemerintah Cina.

Sementara, dalam bidang ekonomi, orang-orang dari suku Hanlah yang berkuasa. Di “tanah air” suku Uighur ini, orang-orang Han menguasai ladang-ladang minyak dan jalur-jalur perdagangan. Sementara, warga setempat yang beragama Islam cenderung terpinggirkan laksana orang Indian di Amerika.

Xinjiang kaya akan mineral dan minyak bumi. Cadangan gas alamnya bahkan merupakan yang terbesar di Cina. Daerah ini juga merupakan lokasi utama bagi Cina untuk melakukan uji coba nuklir.

Bagi Cina, Xinjiang memang sangat penting secara geopolitik. Sejak dulu, Cina menempatkan Xinjiang sebagai garda pertahanan terdepan dalam menghadapi kemungkinan serangan dari Barat.

Hal tersebut merupakan alasan mengapa Cina sedikit pun tak ingin kehilangan kontrol dan pengaruh atas wilayah ini.

Demi mengontrol Xinjiang, berbagai langkah dilakukan Pemerintah Cina, termasuk membelenggu hak warga Muslim untuk menjalankan ritual dan ajaran agamanya. Sekadar contoh, keberadaan sekolah Islam, masjid, dan imam dikontrol secara ketat.

Dalam kurun waktu 1995 hingga 1999, pemerintah telah meruntuhkan 70 tempat ibadah serta mencabut surat izin 44 imam. Pemerintah juga menerapkan larangan ibadah perorangan di tempat-tempat milik negara. Larangan ini mencakup larangan shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara.

Pendek kata, menjalankan ibadah secara leluasa masih menjadi barang mahal dan mewah bagi warga Muslim di Xinjiang. Di bidang ketenagakerjaan, orang-orang Muslim juga sering dihambat dari jabatan yang tinggi.

Cengkeraman dan tekanan Pemerintah Cina yang terlampau kuat ditambah dominasi suku Han atas masyarakat lokal membuat hasrat untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat tak pernah surut dari bumi Xinjiang.

Ketimbang menjadi bagian Cina, masyarakat Uighur lebih suka jika Xinjiang menjadi negara sendiri atau bergabung dengan Kirgistan, sebuah negara bekas Uni Soviet yang berbatasan langsung dengan Xinjiang.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Sumber : Republika

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 13 Agustus 2017

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Buku baru berjudul "KH Sholeh Darat Al Samarani, Maha Guru Ulama Nusantara" karya Amirul Ulum dibedah oleh peneliti Balai Litbang Agama Kemenag Semarang Samidi Khalim di kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Rabu (19/10). Bedah buku ini merupakan rangkaian peringatan hari santri PCNU Kota Semarang yang bekerja sama dengan PKPI2 Unwahas.

"Kami ikut berbangga hati, kampus Unwahas dijadikan tuan rumah bedah buku Mbah Sholeh Darat. Semoga ada berkah untuk kampus," tegas Rektor Unwahas Mudzakir Ali.

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat

"Unwahas berdiri tahun 1999 dengan wasilah makam mbah Sholeh selama 40 hari sesuai nasehat KH. Abdurrahman Wahid," tambah H. Mudzakir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mbah Sholeh merupakan ulama lintas aliran yang melahirkan murid-murid yang menjadi tokoh agama dan berjiwa nasionalis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Buku ini adalah hadiah hari santri dan sekaligus menguatkan posisi Mbah Sholeh Darat sebagai ulama internasional," kata penulis buku, Amirul Ulum.

Banyak ajaran-ajaran Mbah Sholeh Darat yang hingga sekarang dijalani masyarakat. Kitab-kitab yang dikaryakannya juga masih dijadikan rujukan di pondok pesantren dan madrasah. "Ini menunjukkan bahwa berkah Mbah Sholeh Darat sangat abadi dan masih bisa dinikmati kata Ulum. Banyak murid-murid Mbah Sholeh yang menjadi tokoh nasional, lanjutnya, semacam RA Kartini, KH Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

"Buku karya Mas Ulum ini patut menjadi rujukan kajian biografi ulama Nusantara," kata Samidi. Masih banyak orang yang belum mengenal biografi Mbah Sholeh Darat. Sehingga, kehadiran buku ini mampu melengkapi karya-karya sebelumnya yang membahas Mbah Sholeh dari berbagai sudut keilmuan.

Keluarga besar Mbah Sholeh Darat pun menyambut baik hadirnya buku baru ini. "Semakin banyak orang yang mengkaji Mbah Sholeh menandakan ilmu beliau masih membekas untuk umat," kata Agus Taufiq, buyut Mbah Sholeh Darat. Di sisi lain, dzuriyah Mbah Sholeh Darat berharap kepada PCNU Kota Semarang menjadi penggerak ajaran Mbah Sholeh Darat. "Kita harap ke depan, PCNU Kota Semarang mampu menjadi garda depan penyebar ajaran Mbah Sholeh Darat," tegas Agus Tiyanto yang juga dzuriyah Mbah Sholeh. (Zulfa/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, AlaNu, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 30 Juli 2017

Internet Marketers NU Terus Gempur Radikalisme di Internet

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Internet Marketers Nahdlatul Ulama (IMNU) terus berperan aktif memerangi paham radikalisme yang tumbuh subur di internet. Upaya tersebut diwujudkan melalui pelatihan dan pemaparan materi terkait strategi dakwah di media sosial yang ditujukan bagi para kiai, santri, dan Nahdliyin.

Seperti yang dilakukan IMNU belum lama ini. Dalam acara Pelatihan Kepemimpinan Dasar yang diadakan GP Ansor Kabupaten Soppeng Makassar di Kampus STAI Al Ghazali 24-26 November 2017, IMNU mengambil peran untuk menyampaikan materi tentang strategi dakwah di media sosial.

Internet Marketers NU Terus Gempur Radikalisme di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)
Internet Marketers NU Terus Gempur Radikalisme di Internet (Sumber Gambar : Nu Online)

Internet Marketers NU Terus Gempur Radikalisme di Internet

Menurut Baldanur Baharudin, Sekretaris Jenderal IMNU, yang menjadi pembicara pada pelatihan tersebut, paham radikalisme yang sudah menjamur di internet perlu dikhawatirkan.

"Sangat mengkhawatirkan. Apalagi umat Islam di Indonesia banyak yang tidak paham tentang manhaj atau mazhabnya (paham radikalisme). Umumnya hanya berkata yang penting Islam, padahal dalam ber-Islam perlu manhaj yang jelas dan sanad ilmu yang tersambung sampai ke Rasululllah. Akhirnya kaum awam mudah terpengaruh oleh paham-paham baru yang masuk negara ini," tutur pria yang akrab disapa Baldan itu kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, Baldan juga mengingatkan akan pentingnya membangun jaringan dakwah di internet, khususnya pada para dai.

"Dai-dai NU harus lebih melek internet dan wajib membangun jaringan dakwahnya melalui Internet. Ini dilakukan agar generasi muda tidak mudah terpengaruh dan masuk ke dalam paham-paham radikal dan paham-paham yang mengancam Aqidah Ahlussunah Wal Jamaah an-Nahdliyah."

Pelatihan yang diikuti 30 peserta itu juga dihadiri Ketua Fatayat NU A. Tenri Ampa dan Ketua Tanfiziyah NU Muh. Asis Makmur beserta pengurus GP Ansor Soppeng.

Berdasarkan keterangan Baldan, para peserta terlihat antusias mengikuti pelatihan. Bahkan seusai acara, GP Ansor dan Fatayat sudah merencanakan akan berkolaborasi dengan IMNU untuk menggelar pelatihan serupa dengan peserta yang lebih banyak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain di Sulawesi Selatan, di waktu yang sama, IMNU juga memberikan pelatihan serupa di wilayah Jombang, Jawa Timur. (Alika Rukhan/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 07 Juni 2017

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais Syuriyah PBNU, KH Hasyim Muzadi menegaskan, berbuat amal kebaikan kepada orang lain hendaknya diniati dengan ikhlas, tanpa mengingat-ingat kembali kebaikan tersebut. Sebab, jika seseorang berbuat baik kepada orang lain dengan ikhlas, tanpa pamrih serta tanpa mengharapkan imbalan apapun, maka perbuatan orang tersebut akan dibalas Allah lebih baik lagi.

"Kalau kita dapat pertolongan dari orang lain, perbuatan itu mari kita ingat. Tapi kalau kita berbuat baik kepada orang jangan diingat-ingat. Sebab, orang kalau beramal tidak akan dihilangkan amalnya oleh Allah," kata KH Hasyim Muzadi saat memberikan tausiah pada acara Haul para ulama pendiri masjid jami Al-Abror di kelurahan Kauman Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, Rabu (20/5) malam.

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya

Kiai Hasyim juga menerangkan, bahwa jangan takut amal hilang, karena Allah tidak akan menghilangkan amal manusia.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Maka jangan takut pula orang lain menghilangkan amal kita. Amal itu bisa hilang kalau manusianya sendiri yang menghilangkan, bukan Allah," imbuhnya.

Dirinya menegaskan, jika seseorang menolong orang lain, jangan dipikirkan apa yang sudah dilakukannya itu. "Kalau sudah menolong di lepas saja. Tidak usah mikir atau diatur. Itu sudah kuasanya Allah," jelasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Kajian, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 26 Maret 2017

PWNU DIY Adakan Konvensi Anggota DPD RI

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Keberadaan warga Nahdliyyin di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) cukup besar, menurut Lembaga Survei Indonesia (LSI) warga Nahdliyyin di DIY sebanyak 60 persen. 

Dengan posisi seperti itu, layak jika NU memiliki perwakilan di lembaga-lembaga strategis dalam pemerintahan untuk memperjuangkan suara masyarakat. Begitu juga dengan harapan memiliki perwakilan di tingkat Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dari warga Nahdlatul Ulama (NU).

PWNU DIY Adakan Konvensi Anggota DPD RI (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU DIY Adakan Konvensi Anggota DPD RI (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU DIY Adakan Konvensi Anggota DPD RI

Menanggapi keinginan warga NU DIY melalui Pengurus Cabang yang menghendaki adanya proses pemilihan calon anggota DPD RI yang diusulkan dari warga NU. Maka, untuk menjembatani hal itu Pengurus Wilayah Nahdlatu Ulama (PWNU) DIY mengadakan Konvensi Penjaringan Calon Anggota DPD RI Periode 2014-2019 Dari Kader NU di Kantor PWNU DIY Jl MT Haryono, pada Ahad (17/3) siang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masyhuri selaku panitia pelaksana mengatakan bahwa memikirkan NU di masa depan adalah sesuatu yang menjadi miliki bersama. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pelaksanaan konvensi sudah dibuka sejak tanggal 11-14 Maret 2013. Selama empat hari pendaftaran terdapat tiga calon yang mendaftar, yakni HA Hafidz Asrom, HA Taufiqurrahman, dan H Fairus Ahmad,” tuturnya dalam sambutan.

Dari ketiga bakal calon itu ternyata tidak ada satupun yang dinyatakan lolos oleh panitia. Hal ini perlu diambil hikmah dan perlu dipikirkan bersama oleh segenap warga Nahdliyyin, terutama PWNU. 

Merespon hal itu jajaran PWNU DIY mengadakan musyawarah untuk mencari solusi terbaik.

Dari usulan-usulan pengurus cabang dari rapat selama dua malam, diambil yang terbaik yakni semua calon diluluskan sekalipun tidak memenuhi persyaratan.

Konvensi ini dihadiri dari berbagai macam kalangan, di antaranya partisipan pengurus Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-DIY, Majelis Wakil Cabang (MWC) se-DIY. Turut Hadir juga, jajaran Rais Syuriyah PWNU DIY dan Ketua Tanfidziyah PWNU DIY.

KH Asyhari Abta memberikan arahan sekaligus membuka acara konvensi yang juga dihadiri pengurus Badan Otonom (Banom) PWNU DIY. 

“Dari tiga calon tersebut, PWNU hanya merestui dua calon untuk maju menjadi calon DPD RI. Dengan dua calon itu, diharapkan bisa mengelola konflik dengan baik, artinya jangan sampai menimbulkan gesekan-gesekan antara dua tim sukses maupun antara pemilih,” harap KH Asyhari Abta.

Harapan PWNU dalam menghadapi konvensi ini dapat melaksanakan dengan jiwa penuh ketakwaan. Ia menjelaskan bahwa jangan ada tendensi lain, kecuali tendensi dalam rangka berlakunya program-program NU dengan memiliki dua calon DPD itu. Selanjutnya, kepentingan jam’iyah harus lebih diutamakan.

“Bersaing boleh, tapi bersaing yang sehat, bersaing dengan akhlaqul karimah. Kemudian jangan sampai menggunakan permainan kotor, misalnya money politic,” pesannya.

Namun, di luar dugaan, dari pihak H Fairus Ahmad ternyata mengundurkan diri saat diberikan waktu untuk menyampaikan visi misinya sehingga, dua calon yang direstui PWNU sudah terpilih tanpa pemilihan. 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Rokhim, Hendra

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Internasional, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 01 Januari 2017

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelatihan Kader Penggerak Aswaja yang Berwawasan Kebangsaan yang dihelat Pimpinan Wilayah Muslimat NU DKI Jakarta, Senin dan Selasa, 14-15 Agustus 2017 ? di Hotel Bintang, Jakarta Pusat berlangsung sukses. Sedikitnya 150 orang mengikuti kegiatan tersebut.

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Peserta Pelatihan Kader Penggerak Aswaja Muslimat NU DKI Jakarta

Mereka adalah perwakilan PP Muslimat NU, PW Muslimat NU DKI Jakarta, PW Muslimat NU Lampung, PC Muslimat NU se-DKI Jakarta, IPNU, IPPNU, Fatayat, dan GP Ansor.

Maghfiroh, aktivis Muslimat NU dari Kecamatan Matraman Jakarta Timur, mengungkapkan ada pengalaman-pengalaman baru yang ia dapatkan dari kegiatan tersebut.

“Paling menarik tentang keaswajaan, itu sangat penting bagaimana kita sebagai aktivis Muslimat NU mengenalkan keaswajaan kepada anak-anak muda,” katanya.

Menurutnya anak-anak muda sekarang banyak yang jauh dari pengenalan keaswajaan ala NU karena lebih terpukau dengan penampilan yang mereka lihat dari kelompok di luar NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita sebagai orang NU harus memberikan contoh sebagai anutan. Kalau kita contohkan yang baik tentu mereka akan suka,” katanya saat ditanya bagaimana mengenalkan keaswajaan yang ia dapatkan dari pelatihan.

Peserta lainnya, Kholifah, aktivis Muslimat NU Jakarta Barat, mengungkapkan materi dalam pelatihan semakin memantapkan dan menambahkan wawasan.

“Terutama pengetahuan bahaya terorisme dan adanya paham-paham radikal. Penting kita ketahui dan kenalkan kepada masyarakat agar waspada,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan menghadirkan KH Musthofa Aqil Siroj dari Syuriyah PBNU, perwakilan BNPT, Kemenag, dan Pemda DKI Jakarta. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Nahdlatul Ulama, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 19 Desember 2016

Di Muktamar, Pemikiran Konstruktif Diperlukan untuk Kemajuan NU

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Tanfidyah PWNU Jawa Barat, Dr H Eman Suryaman berharap kepada para pengurus NU seluruh Indonesia agar menyiapkan pemikiran-pemikiran yang kontsruktif untuk kemajuan NU pada perhelatan Muktamar ke-33 NU di Jombang Agustus mendatang. 

"Kita sama-sama sudah memiliki pemikiran jauh dan luas untuk mengglobalkan Islam Nusantara. Itu artinya bukan sekadar memberi merek, atau menjual label ke publik, melainkan sebagai sarana memperjelas gerakan NU," jelasnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah saat ditemui dalam persiapan Seminar Civic Islam, Rabu (20/5) di Kantor PWNU Jawa Barat, Jalan Galunggung No 9 Bandung.

Di Muktamar, Pemikiran Konstruktif Diperlukan untuk Kemajuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Muktamar, Pemikiran Konstruktif Diperlukan untuk Kemajuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Muktamar, Pemikiran Konstruktif Diperlukan untuk Kemajuan NU

Dalam pandangan tokoh yang dikenal sebagai wirausahawan dan pegiat sosial ini, spirit yang harus ditumbuhkan NU bukan lagi soal apakah NU akan memainkan politik atau lebih memilih jalur kultural. Tetapi lebih pada NU yang selalu mendatangkan manfaat untuk umat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya kira sekarang Sumber Daya Manusia NU sudah semakin bagus. Namun jangan lengah karena mutu SDM sehebat apapun bisa tak banyak berguna kalau tidak mampu bekerja secara kolektif dan menemukan kesamaan visi dalam menetapkan tujuan berorganisasi," terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada Muktamar nanti, Eman akan menyampaikan banyak pemikiran dan juga pengalaman konkret. Sebab selama empat tahun memimpin NU Jawa Barat, Eman dan teman-teman PWNU Jawa Barat sangat aktif dan dinamis. Banyak prestasi dalam bentuk pembangunan fisik maupun konsolidasi antar pengurus.

"Soal ilmu mungkin bisa sama, tapi soal pengalaman adalah sesuatu yang sulit digantikan oleh wacana. Bukan soal membanggakan diri bahwa NU Jawa Barat punya kemajuan. Kami ingin pengalaman itu berguna, diserap dan bisa menjadi model bagi pengembangan organisasi," pungkasnya. (Yus Makmun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah