Selasa, 15 April 2008

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ignasius Sandyawan Sumardi (Romo Sandy) mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Uskup (dari NU) yang pertama membelanya. Pernyataan itu sangat beralasan bagi Romo Sandy sebab Gus Dur (selain juga Romo Mangunwijaya dan Danuwinata) adalah tokoh yang menjadi pembela Romo Sandy dalam gerakan Suaka Kemanusiaan Kasus 27 Juli 1996.

Romo Sandy mengisahkan pengalaman tersebut dalam Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gus Durian, Jumat (2/9) malam di Griya Gus Dur, Jl. Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat. FJP malam itu bertema ‘Gus Dur dan Rakyat Kecil’, didatangi puluhan hadirin, yang mayoritas kaum muda.

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy

Menurut Romo Sandy, sejak perjumpaan pertamanya yang terjadi saat Gus Dur masih sebagai intelektual muda NU yang vokal dan cerdas, telah menggunggah inspirasi baginya. Ia menilai pemikiran Gus Dur sangat orisinil dan otentik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal lainnya yang juga sangat mengesankan dari Gus Dur adalah setiap Romo Sandy, datang Gus Dur selalu sudah bersentuhan dengan perkara sehingga Gus Dur menjadi ‘tukang kompor’.

“Kalau sudah ingin melakukan (niat baik), ya sudah. Lakukan dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Artinya Gus Dur itu sangat total. Dalam hal apa pun selalu begitu,” terang Romo Sandy.

Kesan ketotalan dari Gus Dur itu mengingatkan Romo Sandy kepada salah satu pesan guru silatnya saat mengambil pendidikan di Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyodan Magelang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Kowe nek dadi pendekar, dadio pendekar beneran (kalau? kamu ingin menjadi pendekar, jadilah pendekar sejati atau sungguhan),” kata Romo Sandy mengutip pesan gurunya.

Pesan tersebut, berpadu dengan sosok Gus Dur, menjadikan Romo Sandy semakin bersemangat dan mantap dalam perjuangan membela kemanusiaan. Romo Sandy lalu menyebut beberapa gerakan yang ia lakukan dan menyebabkannya sering berinteraksi dengan Gus Dur.

Dalam perjumpaan-perjumpaan tersebut, Gus Dur, menurut Romo Sandy membaur dengan rakyat kecil, tanpa kesan pencitraan atau dibuat-buat. Hal yang sangat berbeda dengan para politikus lainnya.

Terhadap dunia politik, Gus Dur menjadikan politik sebagai sesuatu yang substansial, artinya politik sebagai sesuatu yang bersentuhan dengan persoalan-persoalan kehidupan masyarakat sehari-hari. Gus Dur sama sekali jauh dari politik artifisial atau politik dagang sapi, di mana politik hanya menjadi ajang tawar menawar kekuasaan.

“Yang paling ujung di dalam politik adalah kemanusiaan. Oleh karena itu Gus Dur sangat demokratis, tidak pernah menolak berdialog dengan siapa pun,” kenang Romo Sandy.

Romo Sandy meneruskan, Gus Dur juga menjadi semacam pantulan dari setiap orang yang datang, termasuk Romo Sandy. Saat bertemu dengannya, ia tidak akan menceramahi. Hal itu memberi pelajaran bahwa pendidikan yang diberikan Gus Dur seperti model pendidikan dalam filsafat Yunani, di mana ada persentuhan yang kuat.

Adalah tugas kita dalam mengembangkan pendidikan seseorang, seperti bidan yang membantu melahirkan ilmu yang sudah ada dalam jiwa atau roh orang tersebut. Dan itulah yang dilakukan Gus Dur karena substansi pendidikan adalah fasilitator pembebasan manusia.

Romo Sandy meyayangkan, saat ini sangat sulit menemukan—kalau bukan tidak ada—sosok seperti Gus Dur. Menurut Romo Sandy, anak-anak muda sekarang tidak orisinil. Dalam mencari pendidikan atau pengetahuan, bahkan membentuk dirinya, mereka mendasarkannnya pada apa yang disajikan oleh internet, mendengar dan menonton audio visual yang tersedia di ineternet. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 08 April 2008

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Blitar, Jawa Timur, Senin (31/7), bersilaturahim ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Rombongan terdiri dari perwakilan seluruh Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) di kabupaten setempat.

Pada tahun ini PCNU Kabupaten Blitar kembali meraih Juara Umum NU Award yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Kunjungan tersebut sebagai pemenuhan nazar atas capaian ini.

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017



(Baca: Juara Umum NU Award 2017, NU Blitar Ajak MWC Ke PBNU)


Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rombongan yang berangkat dari Blitar menggunakan bus sejak kemarin ini diterima Ketua PBNU H Aizzuddin Abdurrahman dan Robikin Emhas, serta Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi dan Ishfah Abidal Aziz. Turut hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Anggia Ermarini.

“Terus terang kami bangga atas prestasi PCNU Blitar dalam Nu award di Jawa Timur,” kata Robikin di hadapan rombongan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



(Baca: PCNU Blitar Berhasil Pertahankan Juara Umum NU Award 2017)


Ia juga mengingatkan sejumlah tantangan NU di bidang kesehatan, pendidikan, keagamaan, dan teknologi siber. Robikin mendorong cabang-cabang NU di seluruh Indonesia untuk berperan aktif dalam meningkatkan khidmah ke masyarakat.

Selain itu mereka juga menerima wawasan soal persiapan perhelatan Munas-Konbes NU yang bakal digelar di Nusa Tenggara Barat pada November mendatang. Ishfah dalam kesempatan itu menyampaikan salah satu materi yang akan dibahas di forum tertinggi kedua setelah Muktamar NU itu adalah soal Peraturan Organisasi (PO) yang mengatur urusan permohonan Surat Keputusan (SK). (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah