Selasa, 30 Januari 2007

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Peringatan 1000 hari wafat KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) akan digelar diberbagai tempat. Salah satunya di Ciganjur, kediaman Gus Dur semasa hidup. Beragam acara akan digelar, mulai tahlilan, taushiyah, dan pentas kebudayaan.

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta Gus Dur, Enam Truk Siap ke Ciganjur

Peringatan yang akan digelar 26 dan 27 September tersebut, akan dihadiri jamaah dari beragam tempat. Pondok Pesantren Attauhidiyyah berhasil menemui salah seorang warga yang sudah menggalang jamaah.

“Kami dari Tanjung Priuk akan berangkat enam truk sekitar dua ratus orang,” ujar Helmi salah seorang peserta peluncuran buku Sang Zahid buah karya KH Husein Muhammad di Wahid Institute, Matraman, Jakarta, Selasa, (25/9).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Itu belum termasuk yang berangkat dengan mobil pribadi dan motor,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Helmi mengaku mengetahui peringatan seribu hari wafat Gus Dur dari Gus Nuril Soko Tunggal Rawamangun, Jakarta. Kemudian para pengusaha yang memiliki truk dan mobil pribadinya disiapkan mengangkut jamaah.

“Jadi, kami tidak urunan. Itu truk-truk pribadi pengusaha kayu Sumenep, Madura, yang akan dengan gratis membawa jamaah,” ujarnya.

Menurut Helmi, mengajak mereka sangat mudah karena sudah terhubung dalam jamaah shalawat Nariyah KH Kholil As’ad Syamsul Arifin, Situbondo, yang tiap seminggu sekali berkumpul.

“Kami hadir disebabakan cinta kepada Gus Dur. Ia selalu membela keragaman, bersahaja dan sekaligus salah satu cucu pendiri Nahdlatul Ulama. Selain itu, karena KH Kholil As’ad Syamsul Arifin pernah mengisi shalawat Nariyah di Ciganjur,” katanya, ketika ditanya alasan kehadiran.

Selain dari Tanjung Priuk, Helmi juga mendapat informasi teman-temannya dari Taman Puring, Jakarta Selatan, Cibinong,dan Banten juga akan hadir berombongan.

“Dahsyat sekali. Sangat dahsyat! Saya kagum dengan fenomena ini. Saya kemudian mencari. Itulah kemudian saya menulis buku Sang Zahid,”komentar KH Husein Muhammad ketika diceritakan jamaah yang bersiap menghadiri peringatan 1000 hari wafat Gus Dur.

Karena itu, sambung pengasuh pesantren Darut Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, semakin yakin betapa bahagianya orang-orang ikhlas seperti Ketua Umum PBNU 1984-1999.

“Ketika dia hadir sering tidak dipahami. Ketika tidak ada, dia dicari-cari,” tuturnya.Semula saya menduga, lanjutnya, akan membutuhkan waktu panjang warga memahami Gus Dur, “Ternyata begitu cepat ia menjadi legenda,” katanya.

Ia kemudian mengutip sebuah hadits, Allah itu apabila mencintai seseorang, mengatakan kepada malaikat Jibril. “Hai Jibril, aku mencintai seseorang, maka cintailah dia!” Kemudian Jibril juga menceritakan kepada teman-temannya. “Hai malaikat, Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia!”

“Apabila yang di langit itu mencintai si fulan, maka yang di bumi pun akan mencintai si fulan. Itu yang dicintai Allah seperti itu,” pungkasnya.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Ahlussunnah, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Januari 2007

Ketua Lakpesdam PBNU Luncurkan Buku “Fatwa Hubungan Antaragama”

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PBNU H Rumadi meluncurkan buku karya terbarunya, Kamis (24/3) di lantai 8 Gedung PBNU Jakarta. Buku yang diberi judul ‘Fatwa Hubungan Antaragama di Indonesia’ yang dilakukan oleh 3 ormas besar, NU Muhammadiyah, dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) ini sekaligus dibedah dalam kegiatan tersebut.

Ketua Lakpesdam PBNU Luncurkan Buku “Fatwa Hubungan Antaragama” (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua Lakpesdam PBNU Luncurkan Buku “Fatwa Hubungan Antaragama” (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua Lakpesdam PBNU Luncurkan Buku “Fatwa Hubungan Antaragama”

Diantara para narasumber yang membedah karya Dosen Fakultas Syariah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut yaitu mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mohammad Mahfudh MD, Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Kemenag RI H Machasin, Pengurus Pusat Muhammadiyah Imam Daruquthni, dan anggota komisi Fatwa MUI Pusat yang juga Wakil Ketua LBM PBNU KH Abdul Moqsith Ghozali.

Dalam bukunya ini, Rumadi berupaya mengupas 13 fatwa NU dari tahun 1929-1999, 12 fatwa Muhammadiyah dari tahun 1989-2011, dan 16 fatwa ditambah rekomendasi MUI dari tahun 1980-2012.

Menurut keterangan rilis tentang buku yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama tersebut, setelah ditabulasi tercatat ada 27 topik antaragama. Beberapa tema dibahas silang oleh tiga atau dua dari tiga organisasi tersebut. Satu-satunya fatwa yang dibahas tiga organisasi ini adalah perkawinan beda agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain para narasumber dan penulis buku, hadir pada acara bedah buku setebal 310 halaman ini Wakil Ketua PBNU H M Maksoem Mahfoedz, Sekretaris Lakpesdam PBNU H Marzuki Wahid yang didaulat sebagai moderator, Ulil Abshar Abdalla, dan ratusan peserta dari berbagai latar belakang yang hadir memadati ruangan tempat acara. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah