Kamis, 14 Mei 2015

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja

Phnom Penh, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Ini mungkin satu-satunya hal konyol yang pernah dilakukan oleh "foreigner". Ceritanya begini, beberapa hari lalu, saya berangkat ke Kamboja setalah dipastikan mendapatkan kesempatan ikut Youth Exchange untuk magang mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak di negara itu selama 6 pekan. Dari awal saya sudah menyiapkan oleh-oleh buat pihak-pihak yang bertanggung jawab terhadap project saya selama di negara tersebut.

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja (Sumber Gambar : Nu Online)
Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja (Sumber Gambar : Nu Online)

Dodol Rasa Sarung Atlas di Negeri Kamboja

Dua hari menjelang pemberangkatan, saya memutuskan membawa dodol beberapa bungkus yang berukuran seperempat kilogram dengan aneka warna dan rasa. Lazimnya dodol, buah tangan yang rasanya manis tersebut hanya terbungkus plastik bening dan ditempel merk oleh-oleh khas Bandung. Padahal sebelumnya saya berniat membawa "jenang” khas Kudus, sayangnya saya tidak sempat pulang kampung terlebih dahulu.

Sebelum berangkat ke bandara Soekarno Hatta, saya menata perlengkapan ke koper di kosan teman dan merasa, "Kok bungkus dodolnya nampak kurang menarik ya...". Saat itu juga saya melihat seisi kamar tidak ada sama sekali wadah/kardus kecil yang pas untuk wadahnya supaya terlihat tambah manis.

Naluri koplak saya tiba-tiba muncul. Naluri santri yang suka memanfaatkan segala sesuatu ketika sedang kepepet. Saya mengamati ternyata ada wadah bungkus peci (baru) merk Atlas yang baru saja dibeli sebelum membeli dodol. Akhirnya peci tersebut saya keluarkan, lalu dodol dua bungkus tanpa ragu saya masukkan ke dalam kardus tersebut. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya mencoba berpikir sejenak. "Kayaknya orang Kamboja enggak akan tahu kalau kardus ini bekas wadah peci, bukan wadah aslinya dodol,” pikirku sambil ketawa kecil dalam hati. Dengan bacaan Bismillah, saat itu pokoknya saya yakin berniat baik hendak memberikan oleh-oleh dodol itu kepada orang Kamboja.

Saat-saat yang mendebarkan akhirnya tiba. Sekitar dua hari setelah sampai di Phnom Penh, ibu kota Kamboja, pagi-pagi hari saya menemui sang owner sekolah di kantornya. Dengan wajah sedikit malu, saya bilang, "Sorry, Miss, this is a special gift from my country, it like a candy. Its taste is sweet".

Dengan wajah gembira, perempuan berparas Chinese itu antusias menerima oleh-oleh dari saya.

Bayangkan saja, di wadah tersebut masih tercantum nomor ukuran dan tinggi peci. Untungnya tidak ada gambar pecinya. Meskipun ada tulisan “songkok”, tapi saya yakin dia tidak akan mengetahui bahwa itu adalah wadah peci alias songkok hitam yang biasa dipakai Muslim Indonesia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya sebenarnya tidak berniat jahil, justru saya ingin menambah ‘manis’ oleh-oleh tersebut supaya yang menerima tambah senang dalam menikmati manisnya dodol. Meskipun memang nampak agak lucu juga, menertawai diri sendiri, masak dodol kok bungkusnya dari wadah peci.

Bilamana nanti dia menanyakan tentang asal-usul wadah tersebut, insyaallah saya akan menjawabnya dengan jujur. Namun saya tetap yakin, oleh-oleh tersebut sudah habis dilahap atau wadahnya sudah dibuang entah kemana. Pokoknya kalau Anda keluar negeri, jangan lupa bawa oleh-oleh khas negeri kita untuk kolega atau rekan dekat kita. Insyaallah berkah seperti dodol rasa peci alias songkok. (M. Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, PonPes, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Mei 2015

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Siapapun umat Islam yang suka memproduksi dan menyebar berita bohong atau hoax menunjukkan dirinya gagal mengawal Firman Allah. Pernyataan itu ditegaskan aktivis Gusdurian Lampung, Gatot Arifianto di Bandar Lampung, Rabu (4/1).

"Kenapa demikian? Karena Al-Qur’an sebagai pegangan dengan tegas telah menjelaskan bagaimana umat Islam untuk menghindari fitnah hingga selektif menerima informasi," paparnya.

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Suka Sebar Hoax Tanda Ketidakmampuan Mengawal Firman Allah

Beberapa penegasan berkaitan dengan hal tersebut, ujar dia menambahkan, ditegaskan dalam QS. Al-Anfal: 25. Waattaquu fitnatan laa tushiibannal-ladziina zhalamuu minkum khaash-shatan waalamuu annallaha syadiidul iqaab.?

Artinya: Dan takutlah kalian terhadap fitnah (siksaan) yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu. Dan ketahuilah, bahwa Allah amat keras siksaan-Nya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gatot menambahkan, penegasan lain ada pada QS. Al-Hujurat: 6. Yaa ai-yuhaal-ladziina aamanuu in jaa-akum faasiqun binaba-in fatabai-yanuu an tushiibuu qauman bijahaalatin fatushbihuu ala maa faaltum naadimiin.?

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik, membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah, kepada suatu kaum, tanpa mengetahui keadaannya, yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ada kata periksalah dengan teliti. Maksudnya tentu dengan cermat, seksama, tidak tergesa-gesa. Kalau begitu menerima informasi, baca sekilas langsung dibroadcast atau disebar mungkinkah bisa teliti? Menyebarkan yang haq lebih baik ketimbang menyebar hoax," kata dia lagi.

Selain itu, kata dia lagi, ditegaskan pula dalam QS. An Nuur: 15. Idz talaqqaunahu bialsinatikum wataquuluuna biafwaahikum maa laisa lakum bihi ilmun watahsabuunahu hai-yinan wahuwa indallahi azhiimun.?

Artinya: Ingatlah ketika kamu menerima (berita bohong) itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit pun, dan kamu menganggapnya remeh, padahal dalam pandangan Allah itu soal besar.

Dalam Hadist Riwayat Muslim, kata Gatot menambahkan, Rasulullah SAW juga telah bersabda: "Seseorang hamba yang membicarakan sesuatu yang belum jelas baginya (hakikat dan akibatnya), akan dilempar ke neraka jahanam sejauh antara timur dan barat."

"Saya tidak bermaksud menggurui, namun mengingatkan. Jika firman diabaikan, sabda Nabi, Mushaddiq yang menyatakan kebenaran diingkari, patutkah berteriak lantang paling Islam? Maka jika benar mencintai Al Quran, firman meski dikawal lebih dari fatwa," pungkasnya. (Syuhud Tsaqafi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah