Minggu, 28 April 2013

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, KH Musthofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan kepada para nasional untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, melainkan sebaliknya, harus bisa memecahkan persoalan bangsa.

“Jadi pemimpin jangan hanya mementingkan diri sendiri saja, tetapi harus bisa memikirkan nasib bangsa ini,” kata Gus Mus dalam sambutannya pada acara tahlilan Tujuh Hari Wafatnya KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Minggu (21/1) lalu.

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri

Menurut salah seorang anggota Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai cobaan mulai dari bencana alam hingga beberapa peristiwa kecelakaan transportasi.

“Sayangnya ketika kita sedang dirundung cobaan seperti ini, sampai sekarang kita masih belum memiliki seorang pemimpin yang benar-benar bisa menyelesaikan persoalan ini. Para pemimpin masih memikirkan kepentingan dirinya sendiri,” ujar Gus Mus di depan sekitar tiga ribu massa yang menghadiri acara tersebut.

Oleh sebab itu, Gus Mus, meminta para pemimpin nasional harus bisa menauladani para pendahulu yang berjuang mempertaruhkan jiwa dan raga demi bangsa ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pendiri NU Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan Pak Ud (putranya) adalah orang yang sampai akhir hayatnya tidak pernah berhenti memikirkan bangsa. Orang-orang seperti inilah yang seharusnya kita tauladani bersama,” ujar budayawan dan penyair itu.

Ia mengungkapkan, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari bersama beberapa ulama semasa hidupnya pernah mengikrarkan diri di depan Ka’bah sebelum pulang ke Tanah Air untuk berjuang membela bangsa dan negara dari cengkeraman penjajah.

Demikian juga dengan putranya, Pak Ud, yang semasa mudanya ikut terjun di medan pertempuran melawan penjajah Belanda. Disusul kemudian di era 1960-an, Pak Ud bersama dengan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang dipimpinnya turut serta dalam penumpas gerombolan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang hendak merongrong NKRI.

“Beliau ini sudah akrab dengan desingan peluru. Jarang sekali seorang pimpinan pondok pesantren ikut bertempur seperti Pak Ud,” ucap alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu.

Bahkan, meski dalam keadaan susah berjalan pun, Pak Ud, masih saja terlibat dalam berbagai aktifitas, termasuk menjadi “keynote speaker” dalam seminar tentang wacana kebangkitan komunis di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat itu, Pak Ud lah yang memelopori penolakan pembentukan Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional yang beberapa nama calon anggotanya sudah diusulkan kepada presiden sebelum akhirnya dibatalkan.

Sementara, acara tujuh hari wafatnya sesepuh pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang itu selain dihadiri para santri dan ulama dari berbagai daerah, juga warga masyarakat sekitar yang ingin memberikan sumbangsih bacaan doa dan tahlil. (ant/miol/sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 April 2013

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja

Mojokerto, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa berpesan kepada para guru di sekolah-sekolah NU untuk meningkatkan pengetahuan perihal Aswaja. Menurutnya, para guru NU mengambil peran kunci bagi kelanjutan sosialisasi paham aswaja di lingkungan sekolah.

Demikian disampaikan Hj Khofifah pada Pembukaan Kongres II Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Kamis (27/10).

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja

"Guru yang mengajar di sekolah NU, jangan sampai tidak tahu apa itu Aswaja. Guru itu harusnya mengajar tidak sebatas menyampaikan materinya, tapi harus sampai muridnya paham, dan menjamin dilaksanakan oleh murid dalam kehidupan sehari-hari,” kata Khofifah.

Baginya, hal itu pembeda antara guru yang tergabung dalam Pergunu dan guru di luar NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menyebutkan dua peran para guru Pergunu. "Guru itu harus bisa menjadi speaker (penyampai Aswaja). Kedua, guru NU juga harus bisa membangun harmoni dalam kebhinekaan," tegas Khififah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia juga menyinggung perihal peredaran narkoba di lingkungan pendidikan. "Jika saya kaitkan dengan momentum Kongres II Pergunu ini, maka pertanyaannya ketika masyarakat Indonesia sudah darurat narkoba, masihkah ada Pergunu di Indonesia?"

Menurutnya, capaian kesuksesan dan maju-mundurnya suatu bangsa itu ditentukan oleh pendidikannya. Sementara pendidikan itu ditentukan oleh para pendidiknya sendiri. (Ayip-Mang Ayi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah