Senin, 29 Mei 2017

Ingin Jadi Pengusaha? Ini Caranya

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Pengurus Nahdlatul Ulama Cabang Istimewa Malaysia (NUCIM), menggelar Festival Hadrah dan Seminar Kewirausahaan, Ahad (15/10). Program diadakan di Dewan Masjid Tun Abdul Aziz Petaling Jaya Selangor, sebuah tempat yang dapat ditempuh dalam 15 menit perjalanan dari Bandar Kuala Lumpur.

Ingin Jadi Pengusaha? Ini Caranya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingin Jadi Pengusaha? Ini Caranya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingin Jadi Pengusaha? Ini Caranya

Antusias sekitar 300 Warga Negara Indonesia memenuhi dewan sejak pukul 10 pagi. Festival yang bekerjasama dengan Ikatan Pekerja Muslim Indonesia (IPMI) ini, diikuti 10 grup hadrah dari berbagai komunitas di seluruh Malaysia. Festival hadrah dimenangi oleh Grup Roudhotul Qolbi dari Melaka sebagai pemenang pertama, Nurul Musthofa dari Selangor sebagai pemenag kedua, dan grup Wahidatul Husna dari Pulau Pinang.

Hadir dalam acara tersebut Minister Konselor Penerangan, Sosial, Dan Budaya (Pensosbud) KBRI Kuala Lumpur, Agus Badrul Jamal; Ketua Syuriyah NUCIM, KH Liling Sibromilisi; Ketua Tanfidziyah Ustadz Ihyaul Lazib; Ketua Pertubuhan NU Selangor Ustadz Ahmad Rofi’I, dan banom-banom NUCIM seperti Muslimat, Fatayat, dan Pagar Nusa.

Agus Badrul Jamal mengatakan KBRI mendukung penuh usaha-usaha untuk memajukan ekonomi rakyat Indonesia. Program tersebuit juga selaras dengan program KBRI Kuala Lumpur yaitu Saya Mau Sukses.

“Saya berharap seminar ini tidak hanya berhenti di sini, tapi diperlukan program lanjutan seperti pendampingan dan monitoring dengan apa yang telah dipelajari bersama,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Semua Bisa Jadi Pengusaha

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara seminar kewirausahaan menghadirkan seorang pengusaha muda Muslim dari Jakarta, Budi Harta Winata. Budi yang pemilik PT Artha Mas Graha Andalan menyampaikan materi Semua Bisa Jadi Pengusaha.

Budi memberikan kiat-kiat sukses yang dialaminya dari awal sehingga mampu menjadi pengusaha sukses. Ia menekankan lima poin utama apabila ingin sukses.

“Yang pertama kita harus menjadikan Allah SWT sebagai tempat meminta dan berserah diri. Jangan meminta kepada selain DiriNya, terus berdoa dan berdoa kepada Diri-Nya,” ujarnya kemudian mencontohkan dirinya yang berangkat kosong dalam merantau ke Jakarta.

Poin kedua, menjadikan orang tua sebagai raja.

“Kalau orangtua kita layani selayaknya, ianya akan memberikan tempias kepada kita dalam meraih sebuah kesuksesan,” sambung Budi. 

Ketiga adalag memperkuat hablum minannas (hubungan antar sesama manusia). Caranya dengan membangun relasi dengan siapa saja dan terus bina koneksi sebelum anda memulakan sebuah usaha.

“Sedangkan yang keempat adalah jangan lupa untuk bersedekah! Kita harus percaya dengan kekuatan sedekah,” urainya. Budi mencontohkan tak lupa bersedekah dengan siapa saja seperti dengan petugas kebersihan di setipa mall yang disinggahi.

Poin terakhir adalah jangan lupa untuk terus bersyukur atas apa yang telah didapatkan. 

“Karena itu sudah janji Allah, siapa yang bersyukur pasti akan ditambah nikmat-Nya,” tandasnya. 

Acara juga diisi dengan diskusi dan ramah tamah. (Mahfudz Tejani/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 28 Mei 2017

Pemeriksaan Hakim Progresif

Oleh Muhtar Said?

Jessica Kumala Wongso, warga biasa yang menjadi “buah bibir” di Indonesia karena dia diduga membunuh Wayan Mirna Salihin dengan cara memasukan racun sianida ke dalam minumanya. Peristiwa ini terjadi di Restaurant Olivier, West Mall, Ground Floor, Grand Indonesia, Kebon Kacang, Tanah Abang, Jakarta Pusat,

Pemeriksaan Hakim Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemeriksaan Hakim Progresif (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemeriksaan Hakim Progresif

Kasus Jessica ini mampu menyedot animo publik sejak seringnya media-media sering mengulang pemberitaanya dengan menampilkan adegan-adegan yang terekam dalam kamera Closed Circuit Television (CCTV). Sehingga masyarakat mudah mengkonsumsinya dan menjadikannya bahan obrolan, baik obrolan diranah akademisi, praktisi maupun sampai dengan di warung kopi.

Pembunuhan Mirna dengan cara diracun ini mampu menutupi pembunuhan aktivis Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib (Munir) yang juga sama-sama meninggal karena di racun. Padahal kalau ditimbang-timbang pembunuhan Munir seharusnya lebih diutamakan ketimbang pembunuhan Mirna kalau dilhat dari sudut kacamata kemanfaatannya bagi masyarakat. akan tetapi pembunuhan Munir sampai sekarang kasusnya masih belum tertuntaskan.?

Hal inilah yang menjadi pertanyaan, Munir seorang aktivis HAM yang sumbangsihnya terhadap kemanusian tidak diragukan lagi saja sampai sekarang belum tuntas, apalagi (tanpa berniat untuk merendahkan) Mirna seorang warga biasa. Akan tetapi sebagai warga Indonesia, harus bersikap optimis dan mendukung lembaga peradilan untuk membuat putusan yang seadil-adilanya, begitu juga dengan peristiwa pembunah Mirna dengan terdakwa Jessica juga harus diputuskan dengan adil oleh Hakim yang menanganinya.

Pemberitaan media massa mengenai pembunah Mirna semakin menjad-jadi ketika memasuki ranah pembuktian. Kasusnya dibuat seperti drama telenovela oleh media, sejak memasuki pemeriksaan saksi ahli. Dalam ranah ini, saksi ahli dimintai keterangangnya untuk memberikan keterangan sesuai dengan keahliannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keterangan ahli: tambahan alat bukti

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keterangan saksi ahli yang didatangkan oleh kedua belah pihak (Kuasa Hukum dan Jaksa Penuntut Umum) ternyata bukan malah memberikan pencerahan bagi masyarakat, namun dirasa malah semakin menambah cerita drama dalam kasus pembunuhan Mirna. Hal ini bisa terjadi karena masing-masing saksi ahli memberikan keterangan yang berbeda.

Pada dasarnya hakim bisa menjatuhkan vonis hukuman kepada terdakwa apabila sudah mendapatkan alat bukti, seperti yang tercantum dalam Pasal 183 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP). Ketika dua alat bukti dirasa oleh hakim tidak terpenuhi, maka hakim mempunyai kewajiban untuk membuat putusan bebas bagi terdakwa.

Melihat persidangan kasus pembunuhan Mirna bisa memberikan gambaran, Majelis Hakim sedang mendalami kasus tersebut karena Hakim menerima saksi ahli yang diajukan oleh kedua belah pihak. Dalam hal Hakim menerima pengajuan saksi ahli yang ditawarkan oleh kedua belah pihak untuk didengarkan keterangannya juga dibenarkan oleh undang-undang. Dalam Pasal 184 ayat (1) ketengan ahli juga merupakan salah satu dari alat bukti yang sah, empat alat bukti yang sah lainnya adalah keterangan saksi, surat, petunjuk dan keterangan terdakwa.

Jadi, pada dasarya hakim boleh menolak pengajuan saksi hali yang ditawarkan oleh kedua belah pihak kalau sudah ditemukan dan diyakini adanya dua alat bukti. Pasal 183 KUHAP merupakan batas minimal alat bukti yang digunakan untuk membuat putusan. Hal itu menandakan apabila alat bukti kurang dari dua maka, terdakwa bisa diputus tidak bersalah dan hakim memutus bersalah kepada terdakwa apabila ada dua alat bukti atau lebih. ? ?

Kewenangan hakim untuk menerima keterangan ahli itu bisa jadi karena adanya pengaruh dari opini-opini dari masyarakat yang disebarkan oleh banyak media massa. Seharusnya hakim tidak harus mempedulikan opini yang berkembang di masyarakat, namun dalam Pasal 5 ayat (1) UU No 48 tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman memberikan kewajiban kepada hakim untuk menggali, mengikuti, memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

Keterangan ahli dari dua belah pihak bisa jadi dibutuhkan karena hakim ingin menggali dan menciptakan rasa keadilan bagi masyarakat dalam putusannya kelak. Akan tetapi keterangan ahli yang didatangkan oleh masing-masing pihak ternyata malah menambah runyam proses pemeriksaan di Pengadilan. Hal yang ditakutkannya adalah goyahnya pendirian Hakim sehingga dikahwatirkan Hakim akan membuat putusan blunder.

Saksi ahli dari pihak hakim

Jika hakim merasa bingung dengan keterangan saksi ahli yang didatangkan oleh kedua belah pihak maka, hakim juga bisa mendatangkan saksi ahli yang ditunjuk olehnya sendiri. Saksi ahli ini bisa menjadi penengah terhadap saksi ahli yang didatangkan oleh kuasa hukum Jessica maupun Jaksa Penuntun Umum.?

Memang, belum ada dasar seorang hakim yang mendatangkan saksi ahli dalam kasus pidana biasa. Untuk itu hakim harus berani mendatangkan saksi ahli supaya menjadi penengah bagi saksi ahli-saksi ahli yang didatangkan oleh pihak yang berperkara.

Hakim bisa belajar atau merujuk pada Surat Edaran Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2008 tentang Meminta Keterangan Saksi Ahli (selanjutnya di sebut SEMA No 13 Tahun2008). Pada hakikatnya Sema No 13 Tahun 2008 ini digunakan untuk menangani kasus-kasus yang berhubungan dengan delik Pers.?

Dalam SEMA No 13 Tahun 2008 ini menyatakan, Hakim dapat meminta keterangan dari seorang ahli dalam bidang Pers. Model-ini juga bisa ditiru oleh Hakim yang menangai kasus pembunuhan Mirna. SEMA No 13 Tahun 2008 ini digunakan sebagai bentuk atau iktikad baik ? Hakim dalam menggali nilai-nilai hukum dan berusaha menciptakan putusan yang mampu menciptakan rasa keadilan bagi masyarakat.

Untuk hal ini, dibutuhkan hakim yang berani dalam melakukan terobosan hukum, mengingat (tidak bermaksud meragukan saksi hali dari kedua belah pihak) saksi ahli yang didatangkan oleh kedua belah pihak malah semakin membingungkan hakim dalam merumuskan putusan.?

Namun, tidak semua hakim berani untuk melakukan terobosan hukum seperti ini, yang berani melakukan langkah-langkah fenomenal ini adalah hakim-hakim yang madzhab hukum progresif. Hakim progresif harus mampu dan berani membawa misi hukum adalah untuk manusia, bukan manusia untuk hukum (M. Amin : 2011).

Jika untuk misi hukum adalah untuk manusia, maka hakim yang memimpin sidang kasus pembunuhan Mirna Salihin harus berani menghadirkan saksi ahli yang “berpihak” padanya, sesuai dengan SEMA No 13 tahun 2013, meskipun SEMA tersebut tidak ditujukan untuk pidana umum.***

Penulis adalah Peneliti Pusat Studi Tokoh Pemikiran Hukum, Dosen Hukum di Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nahdlatul Ulama (NU) mengutuk praktik suap-menyuap dalam pencalonan pejabat publik. Atas praktik itu, sikap tegas diambil NU terhadap pencalonan wakil rakyat, bupati, gubernur, maupun pencalonan kursi presiden.

Katib Aam PBNU KH Malik Madani menyampaikan perihal itu saat dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (7/5) siang. Menurutnya, praktik suap itu merupakan perbuatan yang patut dikutuk karena dampak kerusakannya sangat luas.

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap (Sumber Gambar : Nu Online)
Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap (Sumber Gambar : Nu Online)

Katib Aam PBNU: NU Kutuk Praktik Suap

“Selain merusak moral masyarakat, praktik suap dalam pencalonan juga berisiko menimbulkan korupsi yang kini tengah diberantas aparat hukum,” kata KH Malik Madani.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kata Kiai Malik Madani, Praktik suap dalam pencalonan dibahas secara khusus dalam Sidang Komisi Bahtsul Masail Diniyyah Al-Waqi‘Iyyah pada Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama, Munas-Konbes NU di Pesantren Kempek Cirebon, Jawa Barat, September 2012 lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para kiai NU dalam Munas-Konbes NU 2012, lanjut Kiai Malik Madani, menyebut praktik suap pencalonan itu dengan istilah “risywah politik”. Mereka dengan jelas mengharamkan praktik risywah itu.

Dinyatakan atau tidak, risywah politik tetap haram. Hukum haram berlaku baik bagi calon atau tim sukses yang menyuap maupun penerima yang mengerti maksud penyuap. Sedangkan penerima suap wajib mengembalikan bentuk suap itu kepada penyuap, tegas Kiai Malik.

Para kiai perlu memutuskan persoalan itu dengan garis hitam-putih dalam Munas-Konbes NU mengingat praktik suap sangat meresahkan masyarakat. Celakanya, praktik itu dinilai lazim, pungkas KH Malik Madani.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, Nahdlatul, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 27 Mei 2017

Ansor Jatim Instruksikan Hentikan Aksi Terkait Bhatoegana

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua GP Ansor Jawa Timur Alva Isnaeni menginstruksikan seluruh anggotanya di Jawa Timur dapat menghentikan aksi-aksi terkait kekecewaan terhadap pernyataan Ketua DPP PD Sutan Bhatoegana yang menyebut mantan Presiden Abdurrahman Wahid tidak bersih.

"Ya kita berharap hentikan menjalankan aksi-aksi ini, itu instruksi secara organisasi," kata Alva di kediaman Gus Dur, Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis.

Ansor Jatim Instruksikan Hentikan Aksi Terkait Bhatoegana (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Jatim Instruksikan Hentikan Aksi Terkait Bhatoegana (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Jatim Instruksikan Hentikan Aksi Terkait Bhatoegana

Alva mengatakan meskipun dirinya secara resmi dia telah menginstruksikan secara organisasi, namun tidak ada jaminan bahwa GP Ansor di Jawa Timur bisa menghentikan aksi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Siapa yang bisa menjamin di Indonesia ini, Presiden saja tidak bisa menjamin. Artinya begini, selain menghimbau saya juga menginstruksikan aksi dihentikan sejak Sutan minta maaf ini," kata Alva.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alva juga meyakinkan bahwa pihaknya telah membatalkan rencana melaporkan Sutan ke Mabes Polri.

"Jadi kami berharap ini didengarkan GP Ansor di Jawa Timur, untuk kemudian melakukan langkah-langkah yang baik dalam rangka mengkonsolidasikan organisasi," kata Alva.

Alva mengharapkan momentum permintaan maaf Sutan, dapat digunakan menjadi momentum konsolidasi organisasi, terutama pelurusan sejarah terhadap Gus Dur selaku tokoh NU.

Pada Kamis (29/11), Keluarga besar mantan Presiden Abdurrahman Wahid menyatakan telah menerima permintaan maaf dari Ketua DPP PD Sutan Bhatoegana, atas pernyataannya yang menyebut Gus Dur tidak bersih.

"Sudah disampaikan permohonan maaf oleh pak Sutan kepada keluarga dengan tulus dan ikhlas, dan kami keluarga besar KH Abdurrahman Wahid juga mewakili kaum Nahdliyin menerima pernyataan maaf beliau," kata Putri Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, di kediaman keluarga besarnya.?

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber ? : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 23 Mei 2017

Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan

Judul: Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur

Penulis: Abdurrahman Wahid

Penerbit: LKiS, Yogyakarta.

Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Gus Dur Menjadi Seorang Sejarawan

Cetakan: I, Januari 2010

Tebal: xx + 134 halaman

Peresensi: Akhmad Kusairi

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai seorang anak bangsa, sosok Abdurrahman Wahid atau biasa dikenal dengan Gus Dur dalam perjalanan hidupnya telah banyak menyumbangkan tenaga maupun pikiran bagi berlangsungnya Indonesia sebagai sebuah bangsa. Sebagian orang sudah tidak asing lagi dengan pemikiran-pemikirannya tentang agama, politik dan sosial kemasyarakatan. Namun tahukah orang bahwa Gus Dur juga bisa menjadi sejarawan yang menguasai berbagai literatur tentang sejarah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal ini lah yang membuat menarik hadirnya buku *Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur * ini. Dengan analisisnya yang jeli, kritis, unik, dan terbilang nakal, Gus Dur membuat dugaan-dugaan terhadap fakta-fakta sejarah masa lalu yang terjadi di Indonesia (baca: Nusantara). Orang mungkin akan terkaget atau setidaknya tergelitik membaca tafsir dan spekulasinya terhadap suatu peristiwa sejarah yang selama ini mungkin sudah umum dipercayai sebagai kebenaran sejarah, tiba-tiba digoyangnya sedemikian rupa sehingga mau tidak mau orang pun akan melakukan peninjauan ulang.

Penguasaan Gus Dur atas bentangan sejarah nusantara dibuktikan dengan perhatian atas berbagai lakon sejarah, dari Sriwijaya, hingga ke masyarakat Tapanuli Selatan di Medan. Tema-tema pilihan Gus Dur juga beragam dari kekuasaan, toleransi agama, etnisitas, demokrasi, bahasa, gerakan politik, gerakan agama, pertanian, LSM, gender, maritim, dan moralitas.

Penguasaan materi ini tentu dimiliki Gus Dur dengan pembelajaran intensif melalui pembacaan buku, diskusi, atau kunjungan ke pelbagai situs sejarah. Gus Dur dalam sisi ini tampil sebagai intelektual yang peka terhadap sejarah. Modal ini memberikan kontribusi untuk proyek penulisan sejarah nusantara secara komprehensif.

Kejelian dan keberanian Gus Dur dalam menganalisis terlihat misalnya dalam Cerita mengenai pasukan China yang bersama-sama Raden Wijaya mengalahkan pamannya Jayakatwang. Dalaam buku ini Gus Dur menulis bahwa Bukan Kubilai Khan dan pasukannya yang menyerang Jayakatwang yang dibantu Raden Wijaya, melainkan Raden Wijayalah yang dibantu pasukan China di bawah perwira-perwira angkatan laut yang beragama Islam (sebagai-mana Laksamana Ma Chengho/Ma Zenghe, pendiri Singapura). Pendirian ini pun masih harus ditambah dengan perbedaan yang lain, yaitu tentang motivasi penyerangan: balas dendam, perluasan kekuasaan, soal agama, atau yang lain. Dalam kasus ini Gus Dur mengingatkan betapa pentingnya membaca sejarah lama kita dengan berbagai macam-macam versi, versi agamakah atau versi pertentangan akibat ambisi pribadi? (hal 21)

Dalam soal kaum modernis yang cenderung memaksakan perubahan Gus Dur mencontohkan betapa di tanah Batak bagaimana gereja Kristen Protestan di tanah Batak yang mengusulkan agar seorang pemimpin adat, yaitu Sisingamangaraja XII agar diangkat sebagai pahlawan nasional oleh pemerintah. Di sini tampak penghargaan dari sebuah gerakan agama, Gereja untuk menghargai seorang Raja adat. Menurut Gus Dur, dalam kasus di atas terlihat jelas hubungan simbiotik antara Raja Adat dan gerakan keagamaan, karena keduanya adalah institusi yang berakar menjadi tradisi yang kemudian menjadi satu kesatuan dalam hubungan saling mendukung dan memberikan legitimasi. (hal 118)

Melihat analisinya yang cerdas sepertinya Gusdur sudah sangat familiar dengan sumber-sumber bacaan semacam, *Nagara Kertagama*-nya Prapanca*, Serat Centhini, Serat Cebolek, Babad Tanah ]awi, Babad Diponegoro, Kidung Kebo, Pakem Kajen. *Di samping itu pendapat ahli-ahli sejarah semacam Dr Taufik Abdullah, Yan Romien (Belanda), Charles Issawi (Libanon), Mohamad Yamin, Kuntowijoyo, hingga ahli purbakala, R. Boechori. Tentunya di sini ditambah dengan hasil olah pikirannya sendiri.

Ada cerita tentang asal usul kedatangan orang Arab dan China ke Indonesia; tentang Pangeran Diponegoro; tentang Kerajaan Banten; tentang penyerangan Sultan Agung ke Batavia, dan masih banyak lagi. Tapi yang lebih menarik, di samping melakukan penafsiran-penafsiran, Gus Dur hampir selalu bisa mengaitkan cerita-cerita sejarah lama itu dengan kehidupan masa kini; seperti mengaitkan kisah Perang Bubat di zaman Hayam Wuruk dengan per-kembangan PKB (yang dipimpinnya), mengaitkan pemerintahan Mesir Kuno zaman Pharao/ Firaun dengan kejadian di pemerintahan Jepang di bawah PM Kaizumi dan soal otonomi daerah; mengaitkan kisah Jaka Tingkir dengan Lembaga Swadaya Masyarakat.Cerita-cerita sejarah masa lalu semacam itu masih banyak lagi dilihat dan diceritakan Gus Dur.

Dan Gus Dur bukanlah Gus Dur bila dalam ber-bicara tidak menyelipkan kritik. Maka kita tak heran bila di sana-sini, dalam tulisan-tulisannya, kita temu-kan saja kritik-kritiknya yang tajam yang umumnya juga tidak melenceng dari prinsip-prinsip dasar yang diyakininya. Misalnya, dia dengan tajam terus meng-kritik pemerintah: mengkritik politisi yang hipokrit dan mementingkan kepentingan sendiri atau kelompok-nya, mengkritik pejabat-pejabat korup, mengkritik sikap keberagamaan yang terlalu formalitas, dan sudah barang pasti mengkritik MPR/DPR yang dianggapnya melanggar UUD 1945 dengan menyelenggarakan SI untuk melengserkannya kemarin.

Gus Dur dalam kapasitast sebagai seorang ilmuan yang *melek* sejarah merasa ada keganjilan ketika harus mengisahkan sejarah tanpa jejak literatur. Keterbatasan ini mungkin diakibatkan oleh ketidaksadaran penulisan sejarah pada masa lalu. Konsekuensi dari kealpaan ini adalah pelacakan dan penyingkapan sejarah melalui sumber-sumber lisan.

Memang secara ilmiah kesahihan sumber lisan ini bisa diragukan, tapi juga membuka kemungkinan untuk memunculkan perbandingan kritis dengan sumber tertulis walaupun sedikit. Usulan ini diajukan karena Gus Dur sadar ada kemiskinan sumber sejarah untuk lebih mengetahui kebenaran yang sudah terlepas dari bau dongeng atas sebuah pristiwa sejarah.

Terlepas dari semua kekurangannya, buku ini tetep merupakan sumbangan terpenting Gus Dur untuk bangsa Indonesia untuk lebih mengenal lagi kisah masa lalu. Publik harus mengapresiasi warisan esai ini secara konstruktif dan kritis. wacana sejarah Gus Dur sangat gamblang dan memukau, tapi ada esai-esai tertentu mengesankan keterbatasan Gus Dur dalam mengolah sumber informasi dan tidak lihai dalam analisis.

Akhirnya Buku ini harus dibaca sebagai refleksi kritis terhadap sejarah kita. Usaha Gus Dur dalam menulis kumpulan esai ini menjadi bukti keunggulan Gus Dur dalam membongkar wacana-wacana yang sudah telanjur menjadi dongeng.

*Akhmad Kusairi adalah peneliti pada The Al-Falah Institute YogyakartaDari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Ahlussunnah, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 20 Mei 2017

Kiai Asy’ari, Codot, dan Pelajaran Shalat

KH Achmad Al Asy’ari merupakan salah satu ulama besar dari Tegalsari, Laweyan, Solo, yang memiliki nama kecil Abdul Malik bin Mohd. Ishak Kartohudro. Namanya kemudian diganti Asy’ari karena konon ia mengidolakan Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, pendiri mazhab Asy’ariyyah. Sumber lain menyebutkan, pergantian nama tersebut sebagai harapannya, agar ia menjadi seperti gurunya, Kiai Asy’ari Bawean, sebagai seorang ulama ahli falak.

Selain dikenal ahli falak, Kiai Asy’ari juga memiliki kepribadian yang santun. Dalam mendidik dan mengajarkan agama, ia memiliki metode tersendiri, yang membuat orang menjadi tertarik tanpa ada rasa keterpaksaan.

Kiai Asy’ari, Codot, dan Pelajaran Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Asy’ari, Codot, dan Pelajaran Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Asy’ari, Codot, dan Pelajaran Shalat

Metode yang ia pakai, masih diingat betul salah satu cucunya, Ustad Ali bin KH Naharussurur. Saat ditemui Pondok Pesantren Attauhidiyyah di Pesantren Tamirul Islam, Kamis (17/11), ia bercerita, ketika itu ia bersama cucu lainnya diajak untuk pergi masjid untuk sholat subuh.

“Mbah Asyari, tidak pernah mengajak kami untuk bangun sholat shubuh, tapi sebelum tidur, biasanya beliau bertutur : Le, ayo ndang turu! Tak kandani, sak durunge subuh, codot kui padha mangani pelem. Mula, sesuk tangi sak durunge subuh, ben ora kedhisikan codot. (Nak, ayo segera tidur! Saya kasih tahu, sebelum subuh, kelelawar keluar mencari mangga. Maka dari itu, besok mesti bangun sebelum subuh, agar tidak kalah cepat dengan kelelawar)," kata Ustad Ali, menirukan ucapan kakeknya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada keesokan harinya, Ali pun ikut bangun. Bersama cucu yang lain, ia mengikuti Mbah Asy’ari mencari mangga di halaman rumah. Setelah menemukan beberapa, kemudian Mbah Asy’ari mengajak mereka untuk “bersembunyi”, menunggu agar para codot (kelelawar) kembali menjatuhkan buah mangga mereka.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami diajak ndelik (bersembunyi), tapi sembunyinya ini, ternyata kita diajak ke masjid untuk ikut jamaah shalat shubuh,” kenangnya.

Setelah mengikuti jamaah shalat, anak-anak sudah tidak sabar untuk segera mencari mangga. Namun, Mbah Asyari kembali memberitahu agar mencarinya, saat suasana sudah agak terang, sehingga mangga yang dicari kelihatan jelas.

“Namun, yang tidak kami sadari, kami menunggu Simbah yang sedang wiridan, dengan kata lain kami juga diajari untuk wiridan,” ungkap pria yang akrab disapa Abah Ali itu.

Yang lebih ajaib lagi, adalah buah yang mereka temukan tidak hanya mangga, tapi juga rambutan, salak dan sebagainya, meskipun di halaman rumah Kiai Asy’ari tidak tumbuh pohon tersebut.

Setelah dewasa, barulah ia tahu, kalau buah yang mereka cari itu sudah disiapkan Mbah Asy’ari, agar mereka terbiasa untuk bangun pagi dan shalat shubuh berjamaah, tanpa dipaksa ataupun karena takut.

“Ternyata tanpa sepengetahuan kami, pada hari sebelumnya, Simbah sudah pesan kepada ibu saya, untuk membeli sejumlah buah dan menyebarkannya di halaman rumah,” kata Ustadz Ali.

KH Achmad Al Asy’ari wafat pada 26 April tahun 1975, dan dimakamkan di Pemakaman Pulo Laweyan Solo. Lahu al-fatihah!? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, RMI NU, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 19 Mei 2017

RMI Jateng Nilai Rencana Kebijakan Sekolah 5 Hari Tidak Tepat

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rencana kebijakan Gubernur Jawa Tengah, Gandjar Pranowo tentang Sekolah lima hari, dinilai tidak tepat oleh beberapa pihak. Rencana kebijakan ini, dianggap masih belum strategis dan bahkan kontraproduktif jika diterapkan di Jawa Tengah. Rencana kebijakan Gubernur Ganjar menjadi pertimbangan serius organisasi masyarakat, LSM dan aktifis lembaga pendidikan.?

Ketua Rabithah Ma’ahid Islamiyyah (RMI) PWNU Jawa Tengah, KH. Abdul Ghoffar Rozien, M.Ed menolak rencana yang dilontarkan Gubernur Gandjar Pranowo. Rozien mengungkapkan bahwa, rencana kebijakan Ganjar Pranowo sebetulnya bagus, akan tetapi belum sepenuhnya tepat jika dilaksanakan di Jawa Tengah.?

RMI Jateng Nilai Rencana Kebijakan Sekolah 5 Hari Tidak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)
RMI Jateng Nilai Rencana Kebijakan Sekolah 5 Hari Tidak Tepat (Sumber Gambar : Nu Online)

RMI Jateng Nilai Rencana Kebijakan Sekolah 5 Hari Tidak Tepat

“Jika kebijakan itu diterapkan, akan berdampak pada ritme pembelajaran. Pertama, pelajar di Jateng masih membutuhkan pendidikan diniyyah sore. Ini penting, karena pendidikan diniyyah sore masih menjadi tumpuan basis moral anak-anak kita. Jadi, jadwal sekolah 5 hari perlu dikaji ulang,” ungkap Rozien. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Rozien, dalam database RMI, di Jawa Tengah ada sekitar 1.700 pesantren dan madrasah yang memiliki kurikulum dengan format sore hari. Kebijakan sekolah lima hari, dengan jam padat dari pagi hingga siang, akan berdampak pada jam pelajaran sekolah diniyyah. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rozien menambahkan, “Kedua, libur sekolah pada hari Sabtu dan Minggu, perlu ditimbang lagi manfaat dan mudharat (kerugian) nya. Jika tidak diisi dengan kegiatan produktif, maka tidak ada manfaatnya. Ketiga, kebijakan ini, hanya cocok jika diterapkan di kota Metropolitan, semisal Jakarta,“ terang Rozien.?

Menurutnya, kondisi Jakarta yang macet parah menjadikan anak-anak yang sekolah membutuhkan perjalanan lebih lama, hingga kelelahan di akhir pekan. Sedangkan, di Jawa Tengah kondisinya tidak demikian.?

Dalam pandangan Rozien, pemerintah sebaiknya menyelenggarakan forum kajian dan riset tentang hal ini, sebelum mengeksekusi kebijakan.?

“Riset kebijakan, evaluasi dan dengar pendapat dari ormas, pengasuh pesantren dan aktifis pendidikan, sangat penting untuk melihat sejauh mana efektifitas kebijakan ini,” tegas Rozien. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, RMI NU, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Mei 2017

Tujuh Alasan Mengapa Harus Memilih Nahdlatul Ulama

Boalemo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Abdul Manan Ghani menyebutkan, ada tujuh alasan mengapa umat Islam harus memilih dan masuk ke dalam Nahdlatul Ulama (NU). Pertama, NU didirikan para ulama. NU merupakan ormas Islam yang didirikan para ulama pada 1926, jauh sebelum Indonesia merdeka. Hadratussyekh Hasyim Asyari didaulat menjadi Rais Akbar NU atau pimpinan tertinggi sejak NU didirikan hingga ia wafat.

Kedua, ulama adalah pewaris nabi. Para nabi diutus ke dunia untuk memperkenalkan Allah kepada umat manusia dan mengajak mereka untuk menyembah Allah. Setelah para nabi tersebut wafat, maka yang menjadi penerusnya adalah para ulama.

Tujuh Alasan Mengapa Harus Memilih Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Alasan Mengapa Harus Memilih Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Alasan Mengapa Harus Memilih Nahdlatul Ulama

"Islam datang ke Nusantara dibawa oleh ulama sebagai pewaris nabi," Kata Kiai Manan dalam acara Pelatihan Pemuda Pelopor 2017 di Boalemo Gorontalo, Selasa (5/12).

Ketiga, ulama NU adalah penerus Wali Songo. Di dalam sejarahnya, Wali Songo adalah para penyebar Islam di wilayah Nusantara. Mereka menyebarkan Islam dengan cara-cara yang damai, sejuk, dan menggunakan pendekatan budaya lokal sehingga dalam kurun waktu yang singkat berhasil mengislamkan mayoritas masyarakat Nusantara, khususnya Jawa.

Keempat, NU mengusung paham Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam bidang akidah, NU mengikuti Abu Musa Al Asyari dan Abu Hasan Al Maturidi. Fikihnya mengikuti imam empat yaitu Imam Abu Hanifah, Maliki, Syafii, dan Hanbali. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sedangkan tasawufnya mengikuti Imam Ghazali," ujar Kiai Manan.

Kelima, sanad keilmuan NU sampai kepada Nabi Muhammad. Ilmu-ilmu agama yang diajarkan di lingkungan NU memiliki sanad yang tidak terputus hingga ke penulis kitab, bahkan kepada Nabi Muhammad.

“Keenam, NU berdiri di atas kebenaran,” tambahnya.

Terakhir, NKRI harga mati. Bagi NU, keindonesiaan dan keislaman itu dalam satu tarikan nafas. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Ulama dan warga NU menganggap bahwa NKRI bukan negara agama tertentu dan juga bukan negara sekuler, namun Indonesia itu seperti Negara Madinah yang dibangun atas dasar kesepakatan antar elemen bangsa yang berbeda untuk hidup bersama di bawah bendera NKRI. (Muchlishon Rochmat)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Olahraga, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Mei 2017

Peresmian Kantor Baru NU Sulsel Semarak

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Peresmian kantor NU Sulawesi Selatan, Rabu (22/8) di halaman kantor Jalan Perintis Kemerdekaan KM 9 berlangsung semarak. Kedatangan rombongan Gubernur Sulsel, Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansyah, disambut pagelaran musik merching band yang berasal dari pesantren binaan NU di Sulsel.

Tak berhenti disitu rombongan yang juga diarak dengan Tari Paduppa, dalam tradisi Bugis-Makassar. Tari Paduppa ini sebagai tari-tarian untuk menjemput para bangsawan. Terlihat juga dalam rombongan, Wakil Gubernur Agus Arifin Numang yang juga Mustasyar NU.

Peresmian Kantor Baru NU Sulsel Semarak (Sumber Gambar : Nu Online)
Peresmian Kantor Baru NU Sulsel Semarak (Sumber Gambar : Nu Online)

Peresmian Kantor Baru NU Sulsel Semarak

Dalam sambutan Ketua Panitia Pembangunan dan Peresmian Kantor NU Sulsel, Andi Majdah M Zain yang juga Rektor Universitas Islam Makassar mengatakan, kantor NU Sulsel ini mulai dibangun pada pertengahan Juli 2013. Pembangunan telah memakan biaya sekitar Rp 7,5 milyar yang berasal dari Pemprov 1 milyar, hamba Allah masing-masing 2 orang Rp 1,5 milyar dan 1 milyar yang tidak disebutkan namanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian sebagai komitmen Universitas Islam Makassar sebagai Kampus milik NU memberikan urungan atau patungan 1 milyar dan selebihnya urungan dari pengurus, dosen-dosen UIM, pengusaha NU dan warga Nahdliyin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kantor NU Sulsel ini setidaknya masih membutuhkan dana sekitar Rp 1,5 milyar untuk pembelian alat kelengkapan kantor, namun sengaja diresmikan untuk menggerakkan hati warga Nahdliyin untuk menyumbang,” imbuh Iskandar Idy dalam sambutannya disambut tertawa oleh ribuan Nahdliyin.

Menurutnya,? pembangunan kantor NU Sulsel ini, semoga mampu menjadi pusat untuk membangkitkan proses-proses berdakwah semua komponen NU di sulawesi selatan, yang sebelumnya lembaga/lajnah dan banom memiliki sekretariat yang berbeda.

Ketua Umum PP Muslimat NU mengapresiasi selesainya dibangun kantor NU ini. Dikatakan, sekarang yang perlu diperhatikan bagaimana NU Sulsel dapat memfungsikan kantor yang berlantai 5 ini sebagai pusat kaderisasi dan dakwah untuk menyebarkan nilai-niai aswaja di tengah masyarakat.

Tak lupa pula PP Muslimat NU juga urungan untuk menutupi kekurangan pembangunan Kantor NU Sulsel ini sebanyak 100 juta.

Dalam ceramah Kiai Said Aqil Siroj menyinggung mengenai amalan-amalan NU Sulsel yang banyak dianggap bidah seperti memuji Nabi, burdah, barazanji, tawassul dan lain sebagainya.

Disisi lain Kang Said menyampaikan wawasan kebangsaan NU, menurutnya di negara Indonesia, tak hanya ukhuwah Islamiyah atau persaudaraan sesama Islam yang dibutuhkan, tetapi ukhuwah wathaniyyah atau persaudaraan sesama warga bangsa sangat dibutuhkan.

“Mengapa timur tengah saat ini sering bergejolak, karena di dalamnya tidak ada kesepakatan bagaimana menjaga keutuhan bangsa atau ukhuwah wathaniyah. Nah, NU jauh hari sudah mengamalkan dan menfatwakan Ukhuwah Islamiyah harus paralel dengan ukhuwah wathaniyah,” katanya.

Dalam sambutan Gubernur Sulawesi Selatan, mengapresiasi atas selesainya pembangunan Kantor NU Sulsel ini. SYL sapaan akrab Gubernur Sulsel ini berharap NU Sulsel dapat berjalan bersama-sama dengan Pemrov untuk melakukan kerja-kerja sosial, pendidikan dan dakwah.

“Komitmen pemerintah tak diragukan lagi, saya bersama Pak Agus Wagub Sulsel sangat memperhatikan Ormas NU di Sulsel,” katanya disambut tempukan tangan dari warga Nahdliyin yang hadir.

Setelah itu Gubernur dan Kiai Said Aqil Siroj bersama-sama menanda tangani prasasti dan pengguntingan pita didampingi Rais Syuriyah NU Sulsel Gurutta Sanusi Baco, Wakik Gubernur, Ketua Umum PP Muslimat NU, Iskandar Idy, Rektor Universitas Islam Makassar Andi Majdah M Zain, Katib Syuriyah Kiai Ruslan, dan Arfin Hamid.

Acara Kemudian dilanjutkan dengan peninjauan Kantor NU Sulsel. Kemeriahan peresmian kantor NU Sulsel ini, dihadiri mantan-mantan Ketua PWNU Sulsel, Para Mustasyar, Ketua Lembaga/Lajnah, Badan Otonom, PCNU Se Sulsel dan Ribuan Nahdliyin memadati peresmian ini. (Andy Muhammad Idris/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Pesantren, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 15 Mei 2017

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

Keberhasilan dalam sebuah berorganisasi bisa dilihat dari dua hal, pertama adalah perencanaan yang baik dan kedua adalah eksekusi yang baik dari perencanaan atau program-program yang dibuat. Rencana saja tanpa kerja atau kerja tanpa perencanaan, dua-duanya tidak mampu memberi hasil optimal. Dari aspek tersebut, salah satu perangkat NU yang layak mendapat apresiasi adalah Muslimat NU. Aksi nyata dari badan otonom NU bisa dilihat dari banyaknya layanan organisasi yang diberikan kepada masyarakat tanpa terlalu banyak ramai terlibat dalam berbagai isu “bising” yang menghabiskan energi, tetapi minim hasil.

Bagaimana hal tersebut bisa terjadi dan teladan apa yang bisa diambil oleh perangkat kelembagaan NU lain atau organisasi di luar NU? Tentu tidak ada faktor tunggal karena keberhasilan adalah kombinasi dari banyak upaya-upaya sistematis dalam memanfaatkan peluang dan tantangan yang menghadang. Tetapi hal penting yang patut dicontoh adalah kerja yang dilakukan oleh Muslimat NU adalah kerja-kerja riil yang bisa terukur dengan baik hasilnya seperti mendirikan taman kanak-kanak, koperasi, klinik dan rumah sakit, panti asuhan, dan lainnya.

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU, Melayani Masyarakat dengan Kerja Nyata

Dalam organisasi keagamaan atau pengembangan masyarakat, modal keuangan yang dimiliki sangat minim. Yang menjadi dasar adalah semangat untuk merubah kondisi masyarakat agar lebih baik. Tetapi, dengan berjalannya waktu, maka akan ada proses pembelajaran, ada akumulasi modal keuangan dan peningkatan ketrampilan mengelola lembaga tersebut. Muslimat NU juga memulai dari hal-hal kecil tapi nyata dan dari situlah mereka berkembang. Sebagaimana proses pertumbuhan manusia. Saat bayi dan anak-anak, kita semua meniru perilaku orang dewasa sampai akhirnya usia kita beranjak dan mampu bertindak atas kemampuan diri sendiri. Proses kemajuan sebuah negara juga menggunakan pola yang sama. Jepang, sebelum menjadi sebuah negara industri maju merupakan peniru dari produk-produk Barat, tetapi dengan berjalannya waktu, kualitas produksinya meningkat sampai akhirnya berhasil mengungguli produk dari Eropa dan Amerika. Strategi yang sama dikembangkan oleh Korea Selatan yang kini produknya juga sudah menguasai dunia. Dan hal yang sama kini dilakukan oleh China. Meskipun kini dikenal dengan produk dengan kualitas rendah, tetapi di masa depan, ada proses pembelajaran dan peningkatan kualitas yang akhirnya bisa saja mengalahkan negara-negara lain di mana sebelumnya menjadi tempat belajar.

Muslimat NU juga belajar dengan meniru mereka yang lebih sukses, sampai akhirnya menemukan sebuah pola sendiri yang paling sesuai dengan budaya dan karakter organisasi. Muslimat tidak merancang program-program yang bombastis tapi minim aksi nyata. Hanya bermain dalam tataran wacana tetapi tidak ada eksekusi. Yang paling penting adalah memulai dari hal yang kecil tetapi nyata, dari situ bisa menjadi tempat untuk belajar banyak hal dan dari situlah proses pengembangan diri dimulai. Sampai akhirnya dengan berjalannya waktu, maka kemajuan dan kematangan diperoleh. Organisasi Islam yang berhasil di Indonesia, juga menggunakan pola sebagaimana yang dijalankan oleh Muslimat NU. Mereka memfokuskan diri untuk melakukan kerja-kerja nyata dengan perspektif jangka panjang. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal lain yang perlu dicermati dari Muslimat NU adalah perannya sebagai madrasah pertama bagi para putra-putrinya. Peran ini kini mendapat tantangan dalam era baru ketika banyak sekali ibu muda yang harus keluar rumah sehari penuh untuk bekerja sementara anak-anaknya dalam pengasuhan orang lain. Hal lain adalah perkembangan teknologi informasi yang menerobos tanpa batas ke seluruh keluarga. Bagaimana Muslimat NU menyiapkan ibu-ibu dalam situasi baru, hal inilah yang mungkin harus dibahas dalam kongres ke-17 pekan ini yang berlangsung di Jakarta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari sekian banyak prestasi yang telah dicapainya, ada satu persoalan penting yang juga perlu mendapat perhatian Muslimat NU. Sebuah organisasi, ditujukan untuk mampu terus bertahan sepanjang masa atau terus berkembang dari waktu ke waktu. Karena itu, mekanisme pergantian kepemimpinan harus disiapkan setiap saat. Puncak dari keberhasilan kepemimpinan bukan terjadi pada saat pemimpin saat ini masih berkuasa, tetapi adalah saat para penggantinya berhasil mempertahankan atau bahkan mengembangkan kesuksesan yang sudah diraihnya. Jangan sampai apa yang sudah dibangun dengan susah payah pada hari ini, runtuh di kemudian hari karena tidak ada penyiapan tongkat estafet kepemimpian.

Tradisi yang berjalan di banyak organisasi masa kini adalah pembatasan masa kepemimpinan. Ini akan memaksa pemimpin periode yang sedang berjalan, untuk menyiapkan calon penggantinya. Ini juga akan mendorong, orang-orang paling potensial untuk berkompetisi dan menunjukkan potensi terbaiknya agar bisa berada dalam posis tertinggi. Ini juga akan mendorong para pemimpin saat ini untuk tidak selalu berada dalam area nyaman. Ia harus berusaha meraih posisi lebih tinggi yang lebih menantang di tempat lainnya jika ingin tetap mengaktualisasikan diri. Jika situasi seperti ini bisa berjalan dengan baik, organisasi akan menjadi sehat dan dinamis. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Maarif NU Diharapkan Mampu Hasilkan Tenaga Profesional

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. NU memiliki dua model pendidikan, yaitu pesantren dan sekolah. Jika pesantren menghasilkan para ulama dan ahli agama, sekolah yang berada di bawah koordinasi Lembaga Pendidikan (LP) Maarif NU diharapkan mampu menghasilkan tenaga-tenaga profesional dengan berbagai bidang keahlian.

Demikian dikatakan oleh Ketua PBNU KH Abas Mu’in dalam dialog dengan para siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Maarif NU I Kebumen yang sedang mengadakan kunjungan ke gedung PBNU, Rabu (2/7).

Maarif NU Diharapkan Mampu Hasilkan Tenaga Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif NU Diharapkan Mampu Hasilkan Tenaga Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Maarif NU Diharapkan Mampu Hasilkan Tenaga Profesional

Sebagai SMK yang berada di bawah naungan Maarif NU, Kang Abas meminta agar pendidikan keagamaan ahlusunnah wal jamaah, pengembangan watak, perilaku dan sikap yang sesuai ajaran Islam tidak dilupakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jangan sampai hal ini dilupakan karena kalau tidak, tak ada bedanya dengan sekolah lainnya,” tandasnya.

Perilaku tak terpuji yang saat ini biasanya dilakukan oleh para pelajar seperti tawuran juga jangan sampai terjadi dalam sekolah di lingkungan NU. “Tambahan nama Maarif NU memiliki arti khusus, kalau tak bisa menjaga nama baik, lebih baik tak usaha dikasih embel-embel NU,” paparnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu Wasgino, ketua rombongan menjelaskan saat ini sekolahnya sudah memenuhi standar nasional. SMK yang dimiliki NU di Kebumen saat ini terus berkembang. Yang memiliki siswa lebih dari 1000 per SMK sudah ada tiga buah.

Wasgino berharap PBNU dapat memfasilitasi bursa kerja bagi siswa karena adanya kesempatan dan informasi yang lebih luas di Jakarta. Pelatihan bagi para guru juga masing sangat diperlukan untuk meningkatan kualitas mereka.

Kunjungan ke PBNU kali ini merupakan bagian dari kunjungan industri yang dilakukan oleh 200 siswa dengan mendatangai studio TPI dan Taman Ismail Marzuki (TIM) yang merupakan pusat kebudayaan dan tempat berkumpulnya insan film di Jakarta. Dengan mengunjungi gedung PBNu, diharapkan mereka mengenal lebih dekat para pemimpinnya di pusat.  (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Sunnah, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 14 Mei 2017

TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Di sejumlah daerah, minat pelajar untuk mengaji Al-Qur’an semakin menurun. Karenanya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) ini memberikan bimbingan belajar kepada para santri sehingga tetap bertahan dan semangat dalam belajar agama.

 

TPQ dimaksud adalah Tanwirul Qulub yang berada di desa dan dusun Mlaras Sumobito Jombang Jawa Timur. Lukman Chaqim sebagai Ketua TPQ menandaskan, ada kebiasaan di masyarakat sekitar bahwa usai menyelesaikan pendidikan tingkat dasar baik SD maupun MI, mereka enggan mengaji. "Kalau sudah masuk SMP maupun MTs, sepertinya tidak pantas belajar di TPQ lagi," katanya, Selasa (12/1).

 

TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji

Beberapa dari mereka beralasan mengikuti bimbingan belajar di sejumlah lembaga kursus. "Karena pelajaran di sekolah semakin sulit, maka kegiatan ngaji akhirnya dikorbankan," ungkap ayah 3 anak ini. Padahal andai saja tetap mengaji, mereka masih bisa membagi waktu lantaran ke TPQ tidak butuh  waktu lama, lanjutnya.

 

Karenanya, sejak dua bulan lalu, TPQ ini menyediakan bimbingan belajar khusus bagi santri yang tingkat MI maupun SD. "Sejak awal sudah kami sediakan bimbingan belajar sesuai dengan minat pelajaran yang diinginkan," kata Ustadz Luqman, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

Tidak berhenti sampai di situ, mereka yang sudah memasuki MTs maupun SMP, juga diberikan kesempatan yang sama agar bisa menerima bimbingan belajar, khususnya mata pelajaran eksakta dan bahasa asing. "Untuk keperluan ini kami mendatangkan guru sesuai mata pelajaran yang ada dan diinginkan," ungkapnya.

 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Biaya yang harus dikeluarkan para santri sangat terjangkau. "Setiap menghadiri bimbingan belajar, mereka dikenakan biaya hanya seribu rupiah untuk tingkat dasar, dan dua ribu rupiah untuk sekolah menengah pertama," kata mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang ini.

Dengan tambahan bimbingan belajar tersebut, maka jadwal masuk untuk TPQ diajukan lebih awal yakni jam 14.45 WIB. "Untuk bimbingan belajar dimulai sejak jam 16.45 hingga 17.30 WIB," terangnya.

 

Bagi Ustadz Luqman, penambahan materi bimbingan belajar adalah sebagai terobosan agar para santri yang juga siswa bisa terus bertahan mendalami Al-Qur’an. "Karena tekad kami, santri di sini bisa mampu menghafal Al-Qur’an, baik secara lafadz, makna, maupun mengamalkan dalam keseharian," katanya. Dan untuk bisa sampai ke tataran ideal tersebut tentu membutuhkan waktu belajar yang tidak singkat, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, AlaSantri, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jelang Pilkada Serentak, PCNU Sumenep Adakan Istighotsah Akbar

Sumenep, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Semakin dekatnya gelaran pilkada serentak yang diikuti eskalasi politik yang kian memanas, PCNU Sumenep, Madura, Jawa Timur menggelar acara bertajuk ‘Istighatsah Akbar Demi Keselamatan Sumenep’.

Jelang Pilkada Serentak, PCNU Sumenep Adakan Istighotsah Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Pilkada Serentak, PCNU Sumenep Adakan Istighotsah Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Pilkada Serentak, PCNU Sumenep Adakan Istighotsah Akbar

Acara yang digelar di halaman masjid Jamik Sumenep, Jumat (4/12) pukul 14.00 sampai selesai diikuti ribuan warga Kabupaten Sumenep.

Menurut ketua panitia acara Istighotsah, A Kurdi, kegiatan ini setidaknya diikuti 5000 jamaah baik dari warga NU maupun masyarakat umum yang peduli dengan keselamatan dan keamanan pilkada pada tanggal 9 Desember 2015 nanti.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak ada sambutan dari panitia dan pengurus NU. Satu-satunya sambutan disampaikan oleh Kapolres Sumenep, AKBP Rendra Radita Dewayana. Dalam sambutannya, Rendra menyampaikan agar warga Sumenep ikut mendukung pilkada damai, menjaga ketenangan dan keamanan bersama baik sebelum pilkada digelar maupun sesudahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hujan yang turun sebelum acara dilaksanakan seakan menambah khusyu Istighotsah yang dipimpin KH Thayfur Aliwafa dan doa yang dipimpin langsung Rais Syuriyah PCNU Sumenep KH A Basyir AS.

Tampak hadir diantara jamaah dua pasangan calon yang akan memperebutkan kursi kepala daerah Sumenep periode 2015-2020, yakni pasangan Busyo-Fauzi dan Zainal-Eva. (Dayat/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 13 Mei 2017

Habib Lutfhi: Bela Negara Bukan Cuma Baris Berbaris

Majalengka, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bela negara jangan dipahami sempit, sebatas soal baris berbaris. Tapi lebih dari itu, mencakup soal ketahanan pangan, penguatan ekonomi, sosial, budaya, dan aspek lainnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Habib Lutfhi: Bela Negara Bukan Cuma Baris Berbaris (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Lutfhi: Bela Negara Bukan Cuma Baris Berbaris (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Lutfhi: Bela Negara Bukan Cuma Baris Berbaris

Demikian hal itu ditegaskan oleh Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya, Rais Am Jamiyah Ahlut Thariqah al Mutabarah an Nahdiyah saat berkunjung ke Pondok Pesantren Al-Mizan Jatiwangi pada Senin (22/02).

"Paham bela negara itu luas, bukan hanya baris berbaris. Selain soal kedaulatan NKRI, juga mencakup kesejahteraan bangsa," ungkap Habib Luthfi. 

Sebelumnya Habib Luthfi hadir di acara peringatan harlah ke-90 NU sekaligus peresmian kantor PCNU Majalengka. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain memberikan tausiyah, pada kesempatan itu, Mursyid Thoriqoh Sadziliyah yang disegani itu juga membaiat ribuan jamaah Nahdiyin yang memadati lokasi acara.

Sementara itu, KH Maman Imanulhaq, Wakil Ketua LDNU Pusat dalam sambutannya meminta Nahdiyyin jangan sampai mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berkembang saat ini.

"Kita harus mulai berfikir kritis terhadap masalah yang fundamental saja. Jangan sampai masyarakat terpengaruh dengan masalah yang remeh-temeh," ungkap Kiai Maman di Aula Kantor PCNU Majalengka. 

Di hadapan Pengurus Cabang dan Wilayah NU dan ribuan Jamaah Nahdiyyin, KH Maman juga mengajak kepada warga Nahdliyin untuk memberdayakan diri dengan menggali potensi sosial-ekonomi keumatan warga Nahdliyin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rangkaian Acara Harlah ke-90 NU dan Peresmian Kantor PCNU Majalengka sendiri tampak berlangsung meriah. Sebelum acara puncak, pada pagi harinya ratusan pelajar dan ribuan warga Nahdiyyin tumpah ruah dalam gerak jalan santai dan Kirab Merah Putih yang menampilkan Paskibraka SMK Maarif NU Al-Mizan Jatiwangi. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal

Bali, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sehari setelah dilantik, kepengurusan Silaturrahim Ikhwan Akhawat dan Simpatisan Thariqat An-Naqsyabandiyah Gersempal (Sitqon) di Bali, menggelar majelis zikir perdana yang dirangkai dengan istighotsah dan pembacaan sholawat tawasuliyah, Senin (7/9). Hadir di tengah jamaah Ketua PWNU Bali KH Abdul Aziz.

Kiai Aziz menyampaikan bahwa kehadirannya tidak dalam kapasitasnya sebagai Ketua PWNU Bali.

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal

“Kendati demikian saya berharap dan optimis bahwa Sitqon akan menjadi salah satu ruh dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU),” kata Kiai Aziz.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu turut hadir pula perwakilan dari pengurus pusat Sitqon KHR Syaifullah Jafar dan KHR Amin Syafiuddin dari Sampang Madura. Majelis ini juga diikuti oleh beberapa imam Khwajagan Naqsyabandiyah Mudzhari Gersempal dari Pamekasan dan Sumenep Ustadz Habibi dan Kiai Tajuddin Zahid. (Dedi Haryono/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Lomba, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Inilah Orang Beragama Bohong-bohongan

Bondowoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Bupati Bondowoso H Amin Said Husni mengatakan, berbuka puasa bersama yang dilakukan Badan Amil Zakat Nasional dengan anak-anak yatim piatu merupakan bentuk perhatian dari orang tua kepada anaknya. 

Hal ini, menurut dia, sesuai dengan perintah Allah. "Orang yang shalat, tapi tidak peduli kepada lingkunganya, adalah orang yang beragama bohong-bohongan,” kata bupati sembari membaca Surat Al-Maun.

Inilah Orang Beragama Bohong-bohongan (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Orang Beragama Bohong-bohongan (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Orang Beragama Bohong-bohongan

Menurut Amin, orang seperti itu, kelihatan luarnya seperti orang beragama. Namun, sebetulnya di dalam hatinya tidak ada nilai-nilai keagaman karena tidak peduli dengan lingkungan.

“Kepada yatim tidak peduli, kepada orang miskin tidak peduli, kepada orang memerlukan pertolongan tidak peduli, sehat-sehat sendiri, kenyang-kenyang sendiri; itu adalah orang sekalipun beragama, kata Allah, bohong-bohongan alias hanya luarnya saja tampak beragama, tapi tidak,” jelasnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan itu BAZNAS kabupaten Bondowoso berbagi keberkahan Ramadhan dengan memberikan santunan kepada 1018 anak di Bondowoso. Santunan disampaikan secara simbolis kepada 12 anak oleh H. Amin Said Husni didampingi Ketua Baznas Bondowoso KH Salwa Arifin. (Ade Nurwahyudi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bangga dengan Dosa Ciri Zaman Sudah Tua

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Perubahan zaman ke arah sikap hedonisme dan cinta materi keduniaan, saat ini semakin tampak ditengah-tengah masyarakat. Hal ini bisa terlihat dari fakta lebih banyak orang tua berlomba-lomba mendidik anaknya untuk mencari pekerjaan daripada belajar ilmu khususnya ilmu agama.

Bangga dengan Dosa Ciri Zaman Sudah Tua (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangga dengan Dosa Ciri Zaman Sudah Tua (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangga dengan Dosa Ciri Zaman Sudah Tua

"Orang tua zaman dulu itu kuat dan tekun doanya untuk para keturunannya agar memiliki ilmu agama yang kuat. Kalau sekarang ini para orang tua jarang mendoakan, dan materi saja yang dikejar. Ini keteledoran orang zaman sekarang," demikian kata KH Anwar Zuhdi saat mengupas kitab Bidayatul Hidayah di Ngaji Ahad (Jihad) Pagi, Ahad (2/4).

Abah Anwar, begitu kiai nyentrik pringsewu ini biasa disapa, menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan pertanda bahwa zaman sudah tua. Selain cinta terhadap dunia, tanda zaman sudah tua adalah banyaknya kemaksiatan dan dosa yang dilakukan manusia tanpa ada rasa malu dan takut kepada Allah SWT.

"Zaman sekarang ini, orang tidak malu berbuat dosa. Bahkan mereka bangga dengan dosa yang telah diperbuatnya," kata Abah Anwar pada Jihad Pagi yang rutin dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Abah Anwar mengingatkan, kekhawatiran terhadap rezeki selama hidup di dunia sebenarnya tidak perlu, karena Allah yang akan memberikannya kepada setiap makhluk yang diciptakan di dunia dengan adil.

"Jangan disamakan adilnya manusia dengan adilnya Allah. Adilnya manusia berbeda dengan adilnya Allah," tegas Abah Anwar sembari mencontohkan bahwa adilnya Allah bisa saja dengan tidak memberikan sesuatu yang diinginkan oleh manusia. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Mei 2017

Ansor Banyuanyar Fokuskan PKD ke Pembentukan Karakter Pemuda

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam rangka membentuk karakter pemuda, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) di Pondok Pesantren Bahrul Huda di Desa Klenang Kidul Kecamatan Banyuanyar, Selasa (3/11).

PKD ini diikuti oleh 121 orang peserta terdiri dari 27 orang pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Banyuanyar, 54 orang pengurus ranting dari 14 desa serta 26 orang utusan dari PAC GP Ansor Kecamatan Maron, Tiris, Gending, Tegalsiwalan, Kraksaan dan Paiton.

Ansor Banyuanyar Fokuskan PKD ke Pembentukan Karakter Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Banyuanyar Fokuskan PKD ke Pembentukan Karakter Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Banyuanyar Fokuskan PKD ke Pembentukan Karakter Pemuda

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Camat Banyuanyar H Didik Abdul Rohim, Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Banyuanyar Kiai Bahar, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Kraksaan Taufiq dan sejumlah pengurus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua PAC GP Ansor Kecamatan ? Banyuanyar Kholilullah mengatakan, selain untuk membentuk karakter pemuda, kegiatan ini bertujuan sebagai kaderisasi dalam semangat juang mempertahankan NKRI serta menajamkan keteguhan dalam melestarikan warisan ulama NU aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.

“Melalui PKD ini diharapkan para pengurus GP Ansor memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan setia terhadap NKRI, dapat membedakan aliran-aliran radikal yang menyesatkan serta membentuk khilafah dengan mengatasnamakan agama,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Ketua PC GP Ansor Kota Kraksaan Taufiq mengharapkan agar peserta PKD mampu membesarkan organisasi GP Ansor dan berjuang dengan sepenuh hati. “Diharapkan para pengurus GP Ansor memberikan manfaat seluas-luasnya untuk NKRI dan Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah,” harapnya.

Sedangkan Camat Banyuanyar H Didik Abdul Rohim mengatakan, bahwa bukanlah pemuda yang mengatakan ada bapak saya, tetapi yang dikatakan pemuda adalah diri saya. “Kalau pemuda ingin sukses, maka harus memiliki komitmen, konsensus, konsekuen dan konsisten,” katanya.

Dalam PKD tersebut, para pemuda mendapatkan beberapa materi meliputi sesi ta’aruf, Aswaja, tradisi dan amaliyah Aswaja, ke-NU-an, ke-GP Ansor-an, dasar keorganisasian dan diakhiri dengan pembai’atan. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketum Pagar Nusa Minta Nasihat Kiai untuk Format Pengurus

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Ketua Umum Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa M. Nabil Haroen bersilaturahim kepada sesepuh NU dan tokoh pencak silat untuk meminta nasihat-nasihat mereka. Pada Sabtu (13/5), ia sowan kepada pengasuh Pondok Pesantren Az-Zuhri KH Luqman Hakim di Ketileng, Semarang, Jawa Tengah.

Ketum Pagar Nusa Minta Nasihat Kiai untuk Format Pengurus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum Pagar Nusa Minta Nasihat Kiai untuk Format Pengurus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum Pagar Nusa Minta Nasihat Kiai untuk Format Pengurus

Menurut Nabil, nasihat-nasihat mereka, menjadi bahan refleksi pada sidang format pengurus nanti, sehingga kepengurusan yang akan datang bisa solid.?

"Karena tugas saya adalah mengawal dan menemani teman-teman Pagar Nusa saja, selebihnya Pagar Nusa ini milik teman-teman," ujar ketua umum yang terpilih pada kongres ketiga Pagar Nusa di Padepokan TMII, Jakarta, beberapa waktu lalu.?

Sowan ke Kiai Luqman, kata Nabil, sangat penting karena ia merupakan kiai muda kharismatik di Jawa tengah, khususnya di mata teman-teman Pagar Nusa sendiri.?

"Sudah selayaknya dan seharusnya dan wajib bagi saya sowan ke beliau dan mendengarkan dawuh-dawuh beliau," tambahnya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, KH Luqman Hakim berharap Pagar Nusa di bawah komando Nabil, agar tetap menjadi pagarnya NU dan bangsa. Juga bersinergi dengan banom-banom NU. "Harus bersinergi supaya Pagar Nusa ini menjadi uswah bagi banom-bamom lain," kata kiai berambut gondrong itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rencananya, Nabil akan terus bersilaturahim kepada kiai di berbagai daerah untuk mendengarkan nasihat mereka. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, Warta, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 11 Mei 2017

Sambut Pemilu, Sejumlah Ulama-Cendekiawan Bertemu

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Aliansi para ulama pesantren dan cendekiawan menghelat sarasehan nasional tentang keagamaan, keumatan, dan kebangsaan di Pesantren Miftahul Ulum Jakarta Selatan, Rabu (2/4).

Sarasehan ini rencananya akan digelar selama dua hari hingga Kamis siang. Acara tersebut dihadiri para tokoh nasional: Ketua MPR Sidarto Danusubroto, mantan Menko Perekonomian era Pemerintahan Gus Dur Prof Dr Muhammad Rizal Ramli, Pemikir Kenegaraan Yudi Latif, Ketua PBNU Slamet Effendi Yusuf, dan Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo.

Sambut Pemilu, Sejumlah Ulama-Cendekiawan Bertemu (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Pemilu, Sejumlah Ulama-Cendekiawan Bertemu (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Pemilu, Sejumlah Ulama-Cendekiawan Bertemu

Nampak juga di barisan depan, mantan juru bicara kepresidenan Adhi Massardi, anggota DPR RI Eva Kusuma Sundari, dan Ketua Umum PP Muslimat Khofifah Indar Parawansa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penggagas acara sarasehan Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzadi mengatakan, acara ini merupakan kesinambungan dari beberapa acara serupa yang digelar secara kolosal di berbagai pesantren se-Jawa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketika didaulat memberi sambutan sekaligus membuka sarasehan secara resmi, Gubernur Jokowi tak sampai tiga menit berdiri di podium.

"Untuk mempersingkat waktu, dengan membaca basmalah, sarasehan nasional ulama-cendekiawan ini saya nyatakan dibuka," ujarnya yang langsung disambut aplaus hadirin.

Acara pembukaan kemudian ditutup doa oleh ulama Betawi KH Abdurrahman Nawi. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Bahtsul Masail, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 09 Mei 2017

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

DKI Jakarta akan menjadi tuan rumah Konferensi Para Pemimpin Keagamaan ASIA pada 25 Februari sampai dengan 1 Maret mendatang.

Konferensi bertajuk Bringing A Commom Word to Common action for justice yang bakal dihelat di Hotel ACACIA, Jakarta Pusat itu diharapkan dapat membangun komitmen bersama antara para pemimpin keagamaan se ASIA, dari kalangan Muslim dan Kristen.

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia (Sumber Gambar : Nu Online)
ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia (Sumber Gambar : Nu Online)

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia

“Konferensi Ulama dan Arcbishop se Asia ini dihadiri 150 ulama dan Arcbishop dari 15 negara. INi merupakan kelanjutan dari pertemuan ICIS (International Conference of Islamic Scolars) di Singapura, beberapa tahun lalu,” ujar Ketua Panitia The Conference of Muslim-Christians Religious Leaders of Asia, M Nasihin Hasan, Selasa (19/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Nasihin, Konferensi yang diinisasi oleh ICIS itu, akan membahas sejumlah hal krusial di Negara-negara Asia, terutama terkait ketegangan antar agama, ketimpangan hukum, kemiskinan, hingga persoalan korupsi dan perdagangan manusia yang sampai saat ini masih marak terjadi di berbagai Negara di Asia.

“Agama seharusnya bisa menjadi spirit utama dalam penegakan keadilan dan pemberantasan kemiskinan. Dalam konferensi ini, para tokoh agama diharapkan bisa bersama merumuskan wacana dan aksi bersama untuk mengatasi  problem keadilan dan persoalan perdagangan manusia yang menjadi masalah besama Asia saat ini,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Sekjend ICIS KH Hasyim Muzadi mengatakan meskipun berbeda secara theologist, setiap agama sejatinya punya titik temu dalam hal ajaran  tanggung jawab sosial dan moral. “Setiap agama ada titik temu. Tetapi juga ada titik pisah. Kita perkuat titik temunya,” ujar Rais Syuriyah  PBNU itu.

Pertemuan tersebut, kata Hasyim juga merupakan bagian dari Konferensi ICIS yang dilaksanakan rutin sejak tahun 2004 lalu.

“ICIS selama tiga kali berturut-turut. Tahun 2004,2006 dan 2008 ICIS aktif mengadakan pertemuan dengan tokoh agama dari 87 negara. Alhamdulillah ini semakin diterima. Sebelumnya dalam 3 kali pertemuan itu hanya muslim. Sekarang interfaith,” paparnya.

Pertemuan itu juga untuk menegaskan kepada dunia internasional bahwa stigma tentang tingginya intoleransi di negeri ini adalah pandangan yang tak proporsional.

”Walaupun agak sulit karena karena dunia internasional menilai dengan sekularisasi dan pandangan atheism. Sementara di Indonesia kita melihat dengan kacamata pancasila dan keberagamaan,” ujarnya. 

Selama ini  kata Hasyim banyak pengamat agama yang tak turun ke bawah. Banyak peneliti yang kerjanya mencatati konflik tanpa memperbaiki.

“Konfllik agama tak berarti dilatarbelakangi pemikiran intoleransi,” tandasnya. Konferensi tersebut dihelat ICIS bekerja sama dengan Koferensi Wali Gereja di Indonesia (KWI) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Federas Bishop Asia (FABC) dan Konferensi Kristen Asia (CCA).

Menteri Agama RI Suryadharma Ali direncanakan akan didapuk membuka acara. Konferensi yang berlangsung selama lima hari itu akan menampilkan pembicara-pembicara dari berbagai negara dengan keynote speaker (pembicara kunci) Ali Asghar Engineer.

Pembicara lainnya adalah Arbishop Ferdinand Capalla (Filipina), Arbishop Felix Macado (Hongkong), KH Hasyim Muzadi (Sekjen ICIS), Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Komarudiin Hidayat, Prof. Dr. Azyumardi.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Abdel Malek

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Pertandingan, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU Jerman Minta SBY Fokus Urus Negara

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menyambut kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Jerman, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman meminta Presiden untuk lebih memikirkan nasib seluruh rakyat, dibanding menenggelamkan diri dalam urusan partai politiknya sendiri.

“Seringkali presiden SBY memainkan peran yang tidak seimbang antara presiden sebagai Kepala Negara dan sebagai ketua Dewan Pembina Partai Demokrat,” demikian dalam rilis pers yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Jum’at (1/3).

NU Jerman Minta SBY Fokus Urus Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jerman Minta SBY Fokus Urus Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jerman Minta SBY Fokus Urus Negara

Kunjungan SBY tersebut dalam rangka menghadiri Internationale Tourismus Borse (ITB) di Berlin pada 6-10 Maret 2013 mendatang.

Presiden juga diharapkan tidak memanfaatkan kekuasaan untuk menekan dan mengintervensi lembaga-lembaga hukum seperti Komisi Pemberantasa Korupsi (KPK) demi kepentingan-kepentingan politiknya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Menjalang Pemilu 2014, tahun 2013 adalah tahun pencitraan demi meraih kekuasaan. Oleh karena itu pemerintah harus memberi tauladan bagaimana menjaga norma dan aturan main serta fatsun politik agar rakyat tetap rukun dan bangsa ini tidak tercerai-berai,” demikian PCINU Jerman.

Terkait ITB Berlin 2013, NU Jerman memberikan apresiasi yang mendalam atas kesuksesan Indonesia menjadi negara partner bagi penyelenggaraan ITB 2013 di Berlin. Diharapkan, apa yang didapatkan dan disepakati selama ITB 2013 berlangsung bisa diwujudkan dalam bentuk nyata peningkatan kerjasama Jerman-Indonesia.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Mei 2017

1.282 Calon Jamaah Haji asal Jombang Diimbau Patuhi Jadwal Pemberangkatan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Kasi Pelayanan Haji dan Umroh Kemenag Jombang, Emy Chulaimi mengimbau seluruh calon jamaah haji (CJH) agar mematuhi jadwal pemberangkatan yang sudah diedarkan sebelumnya. Jumlah total keseluruhan CJH asal Jombang yang dipastikan berangkat diketahui sebanyak 1.282 jamaah.

Imbauan ini didasarkan pada persoalan yang kerap terjadi setiap pemberangkatan CJH. Mereka kebanyakan terlambat mendatangi lokasi pemberangkatan yang telah ditentukan panitia sehingga jadwal pemberangkatan CJH harus molor.

1.282 Calon Jamaah Haji asal Jombang Diimbau Patuhi Jadwal Pemberangkatan (Sumber Gambar : Nu Online)
1.282 Calon Jamaah Haji asal Jombang Diimbau Patuhi Jadwal Pemberangkatan (Sumber Gambar : Nu Online)

1.282 Calon Jamaah Haji asal Jombang Diimbau Patuhi Jadwal Pemberangkatan

"Yang kita pesankan kepada calon jamaah haji, tolong jadwal yang sudah kita sampaikan kepada masing-masing KBIH dan jamaah yang secara mandiri jangan sampai terlambat ketika masuk ke Pendopo (tempat pemberangkatan)," katanya, Senin (21/8).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketentuan jadwal pemberangkatan CJH di sejumlah daerah sebelumnya sudah melalui koordinasi dengan sejumlah pihak yang berkaitan, termasuk pihak yang mengatur di Asrama Haji Sukolilo Surabaya sebagai tempat istirahat CJH sebelum penerbangan ke tanah suci.

"Karena harus sampai di Asrama Haji Sukolilo Surabaya harus tepat waktu," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bahkan, imbauan agar berangkat tepat waktu ini juga telah melalui surat resmi yang dikeluarkan Kemenag Jombang kepada setiap KBIH juga masing-masing jamaah yang proses pemberangkatannya secara mandiri.

"Kita akan pantau dan wanti-wanti rerus, kita juga sudah edarkan surat kepada mereka," katanya.

Sesuai jadwal pemberangkatan, ribuan calon jamaah haji ini akan diberangkatkan pada Rabu, 23 Agustus di Pendopo Jombang. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Kiai, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 04 Mei 2017

GP Ansor Way Kanan Canangkan “Ansor Digdaya”

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendidikan bukan peristiwa semacam transfer uang dengan nominal tertentu antar rekening. Pendidikan adalah proses pendampingan bagi anak-anak untuk berani melakukan pencarian agar menjadi pribadi tangguh. Demikian disampaikan Ketua PC GP Ansor Way Kanan Lampung Gatot Arifianto di Blambangan Umpu, Rabu (27/4).

"Ansor Way Kanan mempunyai program Digdaya yang merupakan singkatan dari Mendidik Generasi, Memberdayakan Masyarakat. BPUN adalah pelaksanaan Ansor Digdaya. Kami berkomitmen mendorong pelajar kurang mampu secara finansial, namun mampu secara intelektual untuk bisa memasuki Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur SBMPTN," ujar Gatot lagi.

GP Ansor Way Kanan Canangkan “Ansor Digdaya” (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Way Kanan Canangkan “Ansor Digdaya” (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Way Kanan Canangkan “Ansor Digdaya”

BPUN Way Kanan 2016 diberi tema "Bakti Ansor untuk Way Kanan dan Indonesia". Hal tersebut, ujar Gatot yang juga Manajer BPUN Way Kanan itu, merupakan cara memperingati hari lahir ke-82 GP Ansor tahun dan hari ulang tahun Way Kanan ke 17 tahun.

"Kegagalan menutup mata dari persoalan kemanusiaan adalah hal membahagiakan. Tapi itulah sikap yang harus Ansor ambil sebagai organisasi pemuda Nahlatul Ulama," katanya.

Sebagai organisasi yang memiliki arti penolong, imbuh Gatot, Ansor tidak akan memicingkan mata terhadap persoalan kemanusiaan dan kesetaraan. "Pendidikan adalah investasi kemanusiaan. Pendidikan adalah kata kunci regenerasi suatu bangsa, dan anak-anak muda berprestasi namun kurang mampu juga berhak mengenyam pendidikan lebih tinggi," kata dia lagi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penyelenggaraan BPUN Way Kanan 2016 digelar di Pesantren Assiddiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Kecamatan Gunung Labuhan. Diikuti 19 pelajar dari sejumlah sekolah yang berada di tiga kabupaten di Provinsi Lampung, yakni Way Kanan, Lampung Utara, dan Bandar Lampung.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ada sekitar enam puluh peserta yang mendaftarkan diri baik online maupun offline. Namun yang memiliki kemauan keras, bermental baja dan berani dikarantina satu bulan penuh hanya sembilan belas orang. Artinya, mereka telah menyeleksi diri mereka untuk menjadi hebat. Karena itu, Ansor berkomitmen memfasilitasi mereka untuk bisa Digdaya dalam tempaan satu bulan," demikian Gatot Arifianto. (Disisi Saidi Fatah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Anti Hoax, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 03 Mei 2017

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Wakil Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Prof Dr M Maksum Machfoedz menekankan perlunya dialog antarkelompok internal sebuah agama dalam upaya-upaya toleransi. Menurutnya, dialog-dialog internal sangat dibutuhkan untuk menyamakan persepsi antarkelompok dalam sebuah agama.

“Dialog antarkelompok internal sebuah agama ini yang cukup sulit. Tetapi dialog seperti ini cukup efektif seperti yang pernah dilakukan PBNU dengan mempertemukan sejumlah kelompok Muslim di Afghanistan yang saling bertenangan,” kata Prof Maksum saat membuka seminar perdana Otokritik Indonesia perihal toleransi yang diselenggarakan Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) di Gedung PBNU lantai 8, Jakarta, Jumat (16/12) siang.

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Maksum Tegaskan Perlunya Dialog Antarkelompok Internal Agama

Dialog antarumat beragama memang penting. Tetapi mempertemukan kelompok-kelompok internal sebuah agama merupakan sebuah upaya yang tidak kalah penting, tambah Prof Maksum.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia meyakini bahwa dialog internal sangat penting mengingat setiap agama memiliki kelompok-kelompok ekstremnya sendiri.

“Hampir setiap agama ada kelompok radikalnya. Ini sebuah fakta,” kata Prof Maksum. (Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 02 Mei 2017

Gus Mus Dorong Lembaga Pendidikan Mandiri dari Pemerintah

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pejabat Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri (Gus Mus) mendorong lembaga pendidikan untuk tidak bergantung pada pemerintah. Kemandirian dinilai justru akan membawa mereka pada kreativitas dan kemajuan.

Menurut Gus Mus, kunci kesuksesan negara-negara Barat tak lain adalah kemandirian. “Amerika dan Eropa itu pada mandiri, mereka tidak mengandalkan pemerintah. Makanya bisa maju,” terangnya saat pertemuan di gedung Haji Kudus, Jawa Tengah, Rabu (5/11).

Gus Mus Dorong Lembaga Pendidikan Mandiri dari Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Dorong Lembaga Pendidikan Mandiri dari Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Dorong Lembaga Pendidikan Mandiri dari Pemerintah

Ia menerangkan bahwa kemandirian menjadi hal yang pertama kali diperlukan jika ingin tetap bertahan. Termasuk urusannya dalam dunia pendidikan. Ketika sebuah lembaga pendidikan tak mampu mandiri dan percaya diri, maka ia akan kalah dengan lembaga pendidikan di sekitarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Contoh nyata dari kemandirian yang berbuah manis adalah pondok pesantren dan madrasah-madrasah swasta yang dirintis oleh para kiai. Kecuali mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa uluran tangan pemerintah, mereka juga tetap mengedepankan nilai ketakwaan.

Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibien Rembang ini menilai bahwa Kabupaten Kudus merupakan daerah yang paling mandiri di Nusantara. Pendapat ini dilatarbelakangi banyaknya lembaga pendidikan swasta yang tegak berdiri sejak puluhan tahun lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kudus itu hebat. Saya melihat, inilah daerah paling mandiri di Indonesia. Makanya, Kudus tak bisa diapa-apakan lagi. Lihat saja, banyak lembaga pendidikan swasta yang sangat mandiri dan karenanya tetap dapat selalu eksis, tak kalah dengan lembaga-lembaga pendidikan negeri,” paparnya.

Lembaga pendidikan swasta yang dimaksud yakni madrasah-madrasah berhaluan Ahlussunnah wal Jama’ah, baik yang berada di naungan Lembaga Pendidikan Ma’arif NU Kudus maupun yang di luarnya. Di antaranya, madrasah NU Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS), madrasah Qudsiyyah, madrasah NU Banat, madrasah NU Mu’allimat, dan yang lain. Lembaga tersebut banyak didatangi pelajar bahkan dari daerah luar Kudus.

“Lembaga-lembaga ini didirikan atas landasan takwa, oleh para kiai. Bukan didirikan atas landasan APBN, dibiayai negara. Mereka ini mandiri, tidak bergantung pada pemerintah. Kemandirian mengantar mereka untuk kreatif dan aktif, makanya tetap eksis. Banyak juga lembaga-lembaga kita yang tidak mandiri dan akhirnya statis,” ujar Gus Mus. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah