Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

Lima Asas Perbankan Syariah (3): Hifdhud Din dalam Fiqih Transaksi

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa al-dharuriyyatu al-khamsah merupakan asas primer bagi fiqih transaksi. Ada lima asas primer, sebagaimana disampaikan oleh Al-Ghazaly dalam kitab Nadhariyatu al-Maqashidi ‘inda al-Imami Al-Syathiby: 1/43, bahwa: 

Lima Asas Perbankan Syariah (3): Hifdhud Din dalam Fiqih Transaksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Asas Perbankan Syariah (3): Hifdhud Din dalam Fiqih Transaksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Asas Perbankan Syariah (3): Hifdhud Din dalam Fiqih Transaksi

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya: “Ada lima maqashid yang tidak boleh lepas dari penjagaan dari setiap agama dan penerapan syari’at adalah: proteksi agama, penjagaan jiwa, akal, keturunan dan harta.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari kelima maqashid atau (al-dharuriyyatu al-khamsah) ini, mana yang harus didahulukan antara masing-masing asas bila terjadi pertentangan di antara masing-masing asas tersebut. Imam Al-Ghazaly, sebagaimana disampaikan oleh Al-Syathiby dalam kitab yang sama mengatakan: 

? ? - ? ? - ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: "? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sungguh, beliau Imam Al-Ghazali rahimahullah, telah melakukan pembelaan atas dipilihnya mendahulukan upaya proteksi agama dibanding proteksi jiwa. Sebagaimana substansi pernyataan beliau: “Esensi proteksi agama lebih diutamakan, adalah karena melihat sisi tujuan dari al-dîn (dirisalahkan) dan buahnya dalam mencapai kebahagiaan abadi di sisi Rabbu al-‘Alamîn.”

Jadi, pada pokok bahasan ini, dengan mendasarkan pada qaul Imam Al-Ghazaly ini, maka proteksi agama dalam fiqih transaksi merupakan asas yang paling utama dibanding asas yang lain. Hal ini disebabkan karena Allah SWT telah berfirman di dalam Al-Qur’an Surat al-Dzariyat: 56, bahwa: 

? ? ? ? ? ?

Artinya: “Tiadalah Kami ciptakan Jin danmanusiamelainkan agar merekaberibahkepada-Ku.” 

Ayat ini mendapat penafsiran dari Imam Al-Thabary dalam kitab Tafsir Al-Thabary: 22/444, dengan menukil qaul dari Ibnu ‘Abbas radliyallahu ‘anhu:

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “[Maksud dari ayat tersebut adalah] Tiada Aku ciptakan Jin dan Manusia melainkan agar beribadah kepada-Ku dan pasrah terhadap perintah-Ku.” 

Mencermati beberapa konsep hifdhud dîn di atas, lantas apa yang menjadi objek sasaran dari hifdhud dîn dalam Fiqih Transaksi?

Terhadap hal ini, kita ingat kembali bahwa tujuan utama dari berdirinya Lembaga Keuangan/Perbankan Syari’ah adalah menyediakan sistem perbankan yang bebas riba (zero riba). 

Jika kita melihat konsep dasar munculnya riba, sebenarnya konsep ini timbul akibat adanya akad hutang-piutang (mudayyanah) yang mana pihak yang menghutangi mengambil manfaat dari orang yang dihutangi. Biasanya, pada sistem perbankan konvensional, pihak perbankan langsung membebani nasabah yang berhutang dengan skema persentase bunga. Skema persentase ini diperuntukkan sebagai imbal jasa atas keluarnya modal/keuangan kepada pihak yang berhutang. Melalui skema ini, pihak perbankan konvensional mendapatkan suplai pendanaan (funding) untuk operasionalnya berdasarkan persentase piutang yang ia berikan kepada nasabah. 

Namun demikian, konsep seperti ini ditentang oleh syari’at karena faktor syarat persentase bunga yang ditetapkan di muka tersebut. Syariat menyebutnya sebagai riba nasiah, yaitu riba yang diakibatkan oleh hutang-piutang. Dengan demikian, perbankan syariat tidak mungkin menerapkan akad mudayyanah ini dalam bagian sistem fundingnya. Sebagai alternatifnya, perbankan syariah harus memilih alternatif lain, antara lain melalui proses jual beli, atau investasi permodalan. 

Konsisten dalam (1) sistem zero riba, (2) prinsip jual beli yang dibenarkan oleh syari’at, serta (3) perjanjian kerja sama investasi modal, merupakan wujud penerapan dari hifdhud dîn dalam Fiqih Transaksi. Ini merupakan landasan utama, sehingga apabila ada suatu produk turunan baru yang menyalahi ketiga diktum dari hifdhud dîn ini, maka secara otomatis produk turunan tersebut harus ditolak oleh perbankan syariah.

Muhammad Syamsudin, Pegiat Kajian Fiqih Terapan dan Pengasuh PP Hasan Jufri Putri P. Bawean, Kab. Gresik, Jatim

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, Humor Islam, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 14 Februari 2018

IPNU-IPPNU Lamongan Gelar Kirab Akbar

Lamongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pada Ahad (31/3), Alun-alun Lamongan Kota diramaikan oleh penampilan para pelajar dalam acara Kirab Akbar Pelajar Nahdliyyin se-Kab. Lamongan.

IPNU-IPPNU Lamongan Gelar Kirab Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lamongan Gelar Kirab Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lamongan Gelar Kirab Akbar

Acara ini sekaligus merupakan rangkaian acara penutupan dalam peringatan harlah IPNU-IPPNU, ? oleh IPNU-IPPNU cabang Lamongan.

Acara sendiri diikuti oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU se-Kab. Lamongan.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masing-masing peserta unjuk diri dalam menampilkan kreatifitasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tepat pukul 09.00 WIB Ketua PCNU Lamongan H Kacung Marijan mengibarkan bendera tanda dimulainya acara kirab tersebut. Kirab sendiri mengambil rute alun-alun kota sebagai garis start menuju ke perkampungan sekitar dan berakhir kembali di alun-alun Kota.?

Kondisi ini membuat para peserta mendapatkan apresiasi dari masyarakat yang menyaksikan hampir di sepanjang rute kirab.

Dari beberapa penampilan peserta ada peserta yang menampilkan karya uniknya melalui replika tikus besar. Replika tikus itu sengaja didesain dan diberi tulisan, “Cukup rusak tanaman saja, jangan merusak bangsa” tulisan tersebut seakan menjadi sindiran sosial atas realita yang terjadi sekarang, bahwa korupsi tidak hanya masalah uang semata, budaya juga bisa merusak moral bangsa.?

Beberapa pelajar yang tampil memang banyak yang mengambil tema tani.?

Dari berpakaian ala petani lengkap dengan alat-alat pertaniannya sampai ada yang membawa hasil taninya, padi, singkong dan lainnya. Selain itu juga ada yang menampilkan marching drum band oleh beberapa komisariat.?

Acara yang berlangsung dibawah terik panas matahari itu tidak memupuskan semangat peserta. Mereka tetap antusias untuk menampilkan aksi-aksi kreatifitasnya sampai dengan selesainya acara. Dua jam kemudian peserta berhasil finis di alun-alun Lamongan kota.?

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Hepi Ikmal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 31 Januari 2018

Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa

Amsterdam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin menilai Islam Indonesia atau yang sering disebut Islam Nusantara menemukan momentumnya untuk disosialisasikan di Eropa karena Eropa dan komunitas Muslim di sana sering mengalami ketegangan hubungan, saling mencurigai. Untuk itu, promosi Islam Indonesia saat ini menjadi sangat relevan untuk konteks Eropa.

Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa

Hal ini disampaikan Kamaruddin Amin saat menjadi Keynote Speech pada The 1st Biennial International Conference on Moderat Islam In Indonesia di Vrije Universiteit, Amsterdam Belanda, Senin (27/3) lalu.?

Konferensi internasional yang mengangkat tema Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara: From Local Relevance to Global Significance ini digelar Pengurus Cabang Internasional Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda bekerja sama dengan Kementerian Agama.

"Masalah integrasi dan asimilasi Islam dan budaya Eropa menjadi isu yang cukup sentral di Eropa hari ini. Disatu sisi orang Eropa menganggap Islam tidak sesuai dengan budaya Eropa yang modern, demokratis, toleran, menghargai perbedaan, sehingga sering muncul Islamphobia. Di sisi lain, umat Islam sangat memcurigai budaya Barat yang serba bebas, diskriminatif, tidak islami dan seterusnya," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal ini, menurut Kamaruddin, membentuk pola relasi yang sangat tidak produktif. Karenanya, promosi Islam Indonesia atau Islam Nusantara menjadi relevan dan kontekstual.

Menurut Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini, Islam Nusantara merupakan adalah salah satu bentuk artikulasi implementasi Islam secara empiris sebagai produk dialektika antara Islam dan budaya lokal Indonesia.

Adalah tidak realistis mengharapkan satu jenis Islam yang diimplementasikan secara universal. Sebab, kata Kamaruddin, meski memiliki nilai universal dan sumber yang sama (Al-Quran dan Hadis), Islam harus berdialog dengan partikularitas masalah di mana Islam diimplementasikan. Akibatnya, implementasi Islam di Saudi berbeda dengan Islam Indonesia, begitu juga dengan Islam di Eropa dan Amerika.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Islam harus mengalami akulturasi budaya agar bisa dengan mudah diterima di masyarakat. Islam Nusantara adalah salah satu contoh yang berpotensi menjadi model untuk diimplementasikan di tempat lain," tandasnya.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 300 peserta. Mereka adalah para akademisi studi Islam dan Indonesia dari sejumlah universitas di Belanda, Belgia, Jerman, Italia, Libanon, Saudi Arabia, dan Malaysia. Selain itu, ada juga para mahasiswa dan diplomat Indonesia dari sejumlah negara Eropa.

Tampak hadir juga sejumlah Duta Besar, antara lain, Husnan Bey Fanani (Azerbaijan), Agus Maftuh Abigebriel (Saudi Arabia), dan Safira Mahrusah (Aljazair).

Konferensi ini akan berlangsung hingga 29 Maret mendatang. Sejumlah narasumber yang hadir antara lain: Staf Khusus Menteri Agama Hadi Rahman, Intelektual NU Ahmad Baso, dan Indonesianis yang juga Guru Besar Utrecht University Karel Steenbrink. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Januari 2018

NU Jatim Pertegas Khittah 1926

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) mempertegas Khittah NU 1926 dalam tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-84 NU di kantor PWNU Jatim, di Surabaya, Selasa (31/7).

"Khittah NU 1926 bukan sekedar menjaga jarak dari partai politik, tapi menata hati dalam bermasyarakat dan bernegara," ujar Ketua PWNU Jatim KH Ali Maschan Moesa.

NU Jatim Pertegas Khittah 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Pertegas Khittah 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Pertegas Khittah 1926

Ia mengemukakan hal itu dalam sambutannya pada tasyakuran Harlah ke-84 NU yang dihadiri belasan politisi dari berbagai kalangan, antara lain PKB pro-Anam/PKNU, PKB Jatim pro-Imam Nahrawi, PKB Jatim "caretaker", PPP, PKS, dan Partai Demokrat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Ali, Khittah NU 1926 berarti kembali kepada garis perjuangan Islam ala Walisongo yang bukan meng-Islam-kan negara, melainkan meng-Islam-kan masyarakat secara bertahap.

"Meng-Islam-kan masyarakat berarti NU mementingkan isi daripada wadah dalam bentuk negara atau politik, karena itu meng-Islam-kan masyarakat adalah menata hati masyarakat," ucapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menata hati, kata pengasuh Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya, itu, adalah memperbaiki moral masyarakat untuk dapat bersikap sabar, ikhlas, dan selalu berbuat dengan niat untuk agama.

"Jadi, kalau salat tapi suka mencaci maki orang, maka salat yang dilakukan tidak ada artinya, bahkan kalau bisa bersikap sabar saat dicaci maki orang, serta menganggapnya sebagai ujian," paparnya.

Tasyakuran Harlah ke-84 NU itu diawali dengan silaturrahim tokoh lama NU tahun 1970-an, silaturrahim pengurus ranting NU se-Jatim pada lima lokasi, khataman Al-Quran, dan tumpeng tasyakuran. (ant/sbh)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Fragmen, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Khofifah Dukung Muslimat NU Garap Pendidikan Akhlak Sejak Dini

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mengajak pengurus Muslimat NU untuk menyelamatkan generasi emas Indonesia. Karena generasi ini, keberlangsungan negara dan bangsa Indonesia ini terjaga. Penyelematan ini tiada lain dengan penguatan akhlakul kharimah dengan melahirkan anak-anak yang saleh dan salehah.

Khofifah Dukung Muslimat NU Garap Pendidikan Akhlak Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Dukung Muslimat NU Garap Pendidikan Akhlak Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Dukung Muslimat NU Garap Pendidikan Akhlak Sejak Dini

Demikian disampaikan Khofifah saat pelantikan pengurus Muslimat NU Brebes di Pendopo Bupati, Ahad (13/9).

Menurutnya, bagi Muslimat NU mengartikan generasi emas tidak harus menunggu waktu tahun 2045 atau 2030.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Bagi Muslimat NU, pemikiran generasi emas ada sejak sekarang dengan ngopeni secara penuh keberadaan generasi sejak dari kandungan,” tuturnya.

Menjadi PR bagi kita, lanjutnya, banyak generasi yang hilang akibat tidak adanya keharmonisan keluarga. Orang tua tidak lagi menjaga keberadaan janin sejak masih dalam kandungan. Menjadi lelaki siaga (siap antar jaga) juga jarang kita lihat, padahal perintah Al-Quran sudah jelas kalau seorang ayah menjadi penentram hati keluarga yang selalu menuntun istri dan anak-anaknya menjadi yang saleh dan salehah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ketika ibu tengah mengandung, seorang ayah haruslah memberikan senyuman terus menerus termasuk mengelus perut istri sembari membaca ayat-ayat Al-Quran,” ucapnya.

Sikap dan perilaku kedua orang tua, akan sangat berpengaruh langsung pada pembentukan akhlak generasi yang akan dilahirkannya.

Meskipun demikian, sebagai perempuan, jangan selalu mencurahkan isi hatinya kepada lelaki lain. Karena bisa menimbulkan benih-benih menjadi Wanita Idaman Lain (WIL). “Perkara keluarga, harus diselesaikan oleh keluarga itu sendiri dengan lebih mengintensifkan harmonisasi, agar stabilitas keluarga terjaga aman,” tegasnya.

Ukuran aman, lanjutnya, bagi TNI dan Polri sangat berbeda dengan aman dalam penilaian Muslimat NU. Barangkali untuk TNI Polri kalau negara ini tidak diganggu, tidak ada pencurian bisa dikatakan aman. “Tetapi bagi Muslimat, keamanan diukur pada sejauh mana kemuliaan akhlak generasi bisa terwujud di masyarakat,” ungkapnya.

Penanaman akhlak kepada generasi sejak dini menjadi garapan Muslimat NU lewat pendidikan TK/TPQ harus lebih dimatangkan lagi. Karena lewat pendidikan dini menjadi sumbangan yang tak terternilai. Di samping itu, NU juga untuk menguatkan pendidikan SD/MI/, SMP/MTs, SMA/MA/SMK unggulan. Dalam artian unggul dalam iptek, imtak dan berakhlakul karimah.

Ketua PCNU Brebes H Athoillah menambahkan, ada peningkatan yang perlu mendapat perhatian khusus untuk menyelamatkan generasi emas. Yakni peningkatan pendidikan baik formal, informal maupun nonformal. Yang tidak kalah penting, adalah peningkatan bidang kesehatan. “Bila dua faktor tersebut mendapat perhatian khusus, tentu generasi emas akan terselamatkan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mensos memberikan bantuan modal kepada 10 kelompok usaha bersama (KUB) An-Nisa Muslimat NU. Masing-masing KUB mendapatkan suntikan dana Rp 20 juta. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 18 Desember 2017

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba

Bogor, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj secara gamblang menyatakan dukungan terhadap penetapan hukum vonis mati untuk terhadap para bandar dan pengedar narkoba. Menurut Kiai Said, pengedar dan bandar mesti dihukum jauh lebih dibanding sekadar penyalahguna narkoba.

Demikian pernyataan kiai yang lazim disapa Kang Said dalam Tadarus NU yang berbarengan dengan pelantikan PCNU kabupaten Bogor, Selasa (6/1) lalu.

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba

“Pada bandar dan pengedar narkoba harus dihukum mati, karena mereka merusak moral bangsa. Dan itu berarti telah mengancam NKRI. Bagi NU, segala yang mengancam NKRI merupakan hal yang harus diperangi,” tegas Kang Said.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk mereka yang terlanjur pengguna sebagai korban, pemerintah berkewajiban merehabilitasi mereka. 

Dukungan ini juga dinyatakan Kang Said saat bertemu dengan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu di Kantor PBNU. (Akhsan Ustadhi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Syariah, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Desember 2017

PCINU Sudan Tahlilan untuk Syekh Mutamakkin dan KH Sahal Mahfudh

Khartoum, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

PCINU Sudan menggelar tahlilan untuk Syekh Ahmad Mutamakkin dan KH Sahal Mahfudhdi di Wisma PCINU Sudan akhir pekan lalu. ? Kegiatan yang dan Keluarga Mathali’ul Falah (KMF) Sudan ini dihadiri mahasiswa nahdiyyin dan warga negara Indonesia lainnya.?

PCINU Sudan Tahlilan untuk Syekh Mutamakkin dan KH Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Sudan Tahlilan untuk Syekh Mutamakkin dan KH Sahal Mahfudh (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Sudan Tahlilan untuk Syekh Mutamakkin dan KH Sahal Mahfudh

Ketua KMF Sudan, Choirul Umam menjelaskan, tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mempererat tali silaturahim dan mengenang jasa para ulama serta guru-guru Matholi’ul Falah.

“Ini juga merupakan salah satu agenda untuk menyambut Hari Santri 2016. Kegiatan ini diharapkan para mahasiswa di Sudan dapat meneladani perjuangan ulama-ulama Matholi’ul Falah dalam menimba ilmu serta mengajarkannya pada masyarakat seperti Syekh Mutamakkin dan Kiai Sahal Mahfudh ini,” lanjutnya.

Rangkaian acara dimulai dengan Khataman Al-Qur’an, tahlil, istighotsah, pembacaan shalawat, shalat ghaib, dan kemudian dilanjutkan dengan sarasehan. Tema yang diangkat dalam sarasehan tersebut adalah “Mengenal Syekh Mutamakkin dan Menyelami Pemikiran Kiai Sahal”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Narasumber sarasehan, Mustasyar PCINU Sudan Sidik Ismanto Syekh Mutamakkin adalah seorang tokoh agama yang hidup pada abad ke-17. Dari berbagai riwayat disebutkan, pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari, memiliki garis keturunan dengan Syekh Mutamakkin.

Narasumber lain, Rais Syuriyah PCINU Sudan Ribut Nur Huda menggambarkan sosok keduanya dalam sudut pandang yang berbeda. Disamping memiliki wawasan yang luas, mereka juga memiliki strategi dakwah yang luar biasa hebat.

“Pandangan Kiai Sahal bahwa agama harus menjadi motivator dan inisiator kehidupan manusia, telah terbukti kan dengan hasil perubahan dan gagasan fiqih sosial yang beliau wariskan untuk para santri dan ksatria di Indonesia” jelasnya.

Syekh Mutamakkin dan Kiai Sahal memang sudah tidak ada, namun ajaran dan pemikiran mereka akan selalu dikenang dan diteladani oleh Umat Islam Indonesia dan dunia. Bahkan, salah satu kitab karya Kiai Sahal Thoriqatul Hushul ‘ala Ghoyatul Wushul menjadi kitab yang dikaji di Universitas al-Azhar, Mesir. (Hida/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah









Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 02 Desember 2017

PCNU Pringsewu Berharap Pengurus Pertahankan Amaliyah NU

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat melantik Pengurus Ranting NU Desa Tanjung Dalam, Kecamatan Pagelaran, periode 2016-2021, Wakil Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu KH Hambali berpesan agar segenap pengurus dapat mempertahankan amaliyah Ahlussunnah wal Jama’ah di wilayahnya.

"Saya harap pengurus tidak hanya cukup dilantik. Namun ikrar yang diucapkan harus diwujudkan dalam kerja nyata. Salah satu wujudnya adalah memperhatikan dan memperhatankan ciri khas amaliyah NU," katanya saat melantik pengurus tersebut yang dibarengkan dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, Ahad (25/12).

PCNU Pringsewu Berharap Pengurus Pertahankan Amaliyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Pringsewu Berharap Pengurus Pertahankan Amaliyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Pringsewu Berharap Pengurus Pertahankan Amaliyah NU

Menurut Kiai Hambali yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pringsewu ini, salah satu tugas pengurus NU adalah memberikan pencerahan dan penjelasan kepada warga NU terkait permasalahan tentang agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam menjalankan tugas, Kiai Hambali juga berharap agar pengurus dapat dengan ikhlas dalam berkhidmah. "Semoga pengurus dapat berkiprah dengan ikhlas dan ini akan menjadi lahan ibadah bagi kita, " jelasnya seraya berharap pula pengurus NU akan termasuk dalam gerbong Hadratussyekh Hasyim Asy’ari besok di hari akhir.

Pada kesempatan tersebut Kiai Hambali memotivasi para pengurus dengan mengingatkan pesan pendiri NU KH Hasyim Asyari bahwa siapa pun yang mengurus jamiyyah NU adalah santrinya dan didoakan hidup barakah, memiliki keturunan yang sholeh dan sholehah serta husnul khotimah saat bertemu dengan Allah SWT.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepengurusan Pengurus Ranting NU Desa Tanjung Dalam dilantik berdasarkan Surat Keputusan PCNU Kabupaten Pringsewu Nomor 77/PC/A.II/013/IV/2016. Sebagai Rais di jajaran Syuriyah Kiai Hasanusi dan Ketua Tanfidziyah Ustadz Wagirin. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 01 Desember 2017

Riungan Kebangsaan Gusdurian Ramaikan HUT AJI Bandar Lampung

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gusdurian Lampung kembali menggelar “Riungan Kebangsaan” di Bandar Lampung. Kegiatan ini diadakan dengan melibatkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Palang Merah Indonesia (PMI) Bandar Lampung, Masyarakat Jurnalis Lingkungan Hidup, GP Ansor Lampung, Justice Peace Integrity of Creation Fransiskanes Santo Georgius Martir (JPIC-FSGM), De Most (Motivasi Sidik Jari) dan Alumni Sanlat Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) Waykanan 2015.

Penggiat Gusdurian Lampung Gatot Arifianto di Bandar Lampung, Jumat (14/8) menjelaskan, Riungan Kebangsaan akan menghadirkan beberapa narasumber utama Fatah Yasin, aktivis lingkungan hidup dari PW GP Ansor Lampung Fatah Yasin, penyuluh Agama Budha Kantor Wilayah Kementerian Agama Lampung Supriyadi, Komisi Kerasulan Awam dari Keuskupan Tanjungkarang Sr. Vincentia HK, pemuka Agama Hindu, serta pegiat Majelis Semaan Al Qur’an dan Dzikrul Ghofillin.

Riungan Kebangsaan Gusdurian Ramaikan HUT AJI Bandar Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Riungan Kebangsaan Gusdurian Ramaikan HUT AJI Bandar Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)

Riungan Kebangsaan Gusdurian Ramaikan HUT AJI Bandar Lampung

"Riungan Kebangsaan dan Donor Darah" digelar di Gedung B Aula Pasca Sarjana, Kampus IBI Darmajaya, Kamis (20/8) mulai pukul 13.00 WIB hingga selesai. Tema dibahas ialah "Bagaimana Agama-Agama Memandang Lingkungan Hidup?"

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kegiatan ini juga menjadi bagian dari rangkaian acara perayaan HUT ke-21 AJI yang jatuh pada 7 Agustus lalu," ujar Gatot yang juga anggota AJI Bandar Lampung itu menambahkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sekretaris AJI Bandar Lampung Wandi Barboy Silaban melanjutkan, panitia mengundang jurnalis, aktivis lingkungan hidup, tokoh-tokoh agama, mahasiswa pecinta alam, lembaga mahasiswa keagamaan, serta para pelajar untuk hadir bersilaturahmi dan menyumbangkan pemikirannya dalam Riungan Kebangsaan.

"Kami sengaja mengundang orang-orang yang aktif di bidang keagamaan untuk memberi perspektif bagaimana menjaga dan melestarikan lingkungan dari sisi agama," ujar Wandi lagi.

Menurutnya, walaupun ada narasumber utama, tapi konsep diskusinya seperti ILC (Indonesian Lawyer Club). Akan ada moderator memandu, yakni Ponita Dewi, Duta Genre atau Generasi Terencana 2013.

"Semua yang hadir bisa berpartisipasi menyumbangkan pemikiran. Kami juga berharap para peserta Riungan Kebangsaan serta masyarakat umum untuk datang dan berkenan mendonorkan darahnya mengingat hal tersebut merupakan bagian dari partisipasi dalam mewujudkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan. Bagi yang berminat donor darah bisa menghubungi Disisi Saidi Fatah, Ketua Alumni Sanlat BPUN Waykanan 2015 di nomor 082377505585," kata Wandi. (Teddy Heriyanto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 26 November 2017

Ribuan Santri Ikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Sunan Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan santri mengikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Kanjeng Sunan Kudus yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (Yapiq) Kudus, Ahad (3/4) pagi. Bupati Kudus H Musthofa melepas rombongan sepeda yang diselenggarakan dalam rangka Satu Abad Qudsiyyah Menara Kudus.

Tampak hadir Ketua Yapiq KH Em Nadjib Hassan, KH Noor Halim Maruf, Prof H Abdurrahman Masud, dan jajaran Forkopindo Kabupaten Kudus.

Ribuan Santri Ikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Sunan Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Ikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Sunan Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Ikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Sunan Kudus

KH Nadjib Hassan menjelaskan kenapa sepeda santai ini memakai napak tilas laku kanjeng Sunan Kudus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Bahwa Qudsiyyah ini didirikan Mbah KHR Asnawi pada tahun 1337 H, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Mbah KHR Asnawi adalah cucu ke-19 Sayid Jafar Shadiq (Sunan Kudus,). Jadi kalau kemudian Qudsiyyah ini dikaitkan dengan mbah Sunan Kudus, nyambungnya dengan Muassis Qudsiyyah Mbah KHR Asnawi," terang Ketua Lembaga Bathsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bupati Kudus H Musthofa mengapresiasi sepeda santai napak tilas laku Kanjeng Sunan Kudus ini. Ia berharap tradisi napak tilas Sunan Kudus ini bisa diagendakan setiap tahunnya.

"Tradisi untuk memperingati napak tilas ini, harapan kami tidak hanya untuk satu abad, tetapi mari kita bersama-sama untuk selalu kita peringati setiap tahunnya, dan saya akan perintahkan dinas pariwisata dan DPRD Kudus diagendakan," tegasnya.

Musthofa memaparkan bahwa Pemkab Kudus sudah mengimplementasikan tradisi Gusjigang yang diwariskan dari kanjeng Sunan Kudus.

"Pertama saya menancapkan bahwa Kudus ini menjadi paku pendidikan, kedua bagaimana kesehatan itu bisa kita gratiskan mulai dari puskesmas sampai RSUD (Rumah Sakit Daerah Umum) Kudus walaupun tidak pakai kartu, yang penting warga Kudus, dan yang ketiga pemberdayaan ekonomi kerakyatan adalah implementasi dari pada Gusjigang," tandasnya.

Seperti yang kita ketahui bahwa tema besar Satu Abad Qudsiyyah ialah "Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa". Yang dimaksud Gusjigang ialah bagus akhlaq dan tingkah lakunya, pinter ngaji atau beribadah haji, dan pandai berdagang atau mandiri.

Dalam kesempatan ini, panitia membagikan hadiah 21 sepeda gunung, 3 kambing, dan ratusan hadiah hiburan lainnya. Selain kegiatan sepeda santai napak tilas laku kanjeng Sunan Kudus, kegiatan lainnya juga bakal digelar yakni Khotmil Quran 100 khataman, 100 ribu surat Al-Ikhlas, dan bancaan 100 ingkung yang akan diselenggarakan di kompleks makam Menara Kudus, Selasa (5/4) malam.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dari Kudus. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Hadits, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 19 November 2017

Meneladani Nasionalisme Kiai Wahab

Oleh Wasid Mansyur

--Setelah proses panjang, akhirnya Kiai Haji Abdul Wahab Hasbullah Jombang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional tahun 2014 bersama Letjen (Pur) Djamin Ginting, Sukarni Karto Kartodiwirjo dan HR. Mohammad Mangoendiprojo.

Penetapan Kiai Wahab memang dinanti-nanti banyak kalangan, khususnya kalangan Pesantren dan NU. Pasalnya, kontribusi Kiai Wahab cukup? besar dalam mengantarkan lipatan demi lipatan perjalanan kehidupan berbangsa dengan segala karakternya sebagaimana dirasakan hari ini.

Tercatat Kiai Wahab dibesarkan dalam lingkungan tradisi pesantren. Tapi, tekad pribadinya sebagai aktivis politik mampu mengantarkan ia aktif di pentas pergerakan nasional melampaui dunia pesantren yang dipupuknya sejak kecil. Salah satunya adalah keterlibatan Kiai Wahab dalam diskusi aktif pada masa-masa perjuangan bersama tokoh-tokoh nasional, misalnya Ir. Soekarno, dalam membincang dan menyikapi isu-isu terkini yang dihadapi bangsa.

Meneladani Nasionalisme Kiai Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)
Meneladani Nasionalisme Kiai Wahab (Sumber Gambar : Nu Online)

Meneladani Nasionalisme Kiai Wahab

Di sisi lain, khususnya dalam lingkungan NU, Kiai Wahab dipandang sebagai salah satu tokoh kunci berdirinya NU tahun 1926. Melalui organisasi Tashwirul Afkar, Kiai Wahab mampu mengumpulkan beberapa tokoh pesantren untuk mendiskusikan beberapa hal kaitannya dengan isu-isu Islam serta kontestasinya di belahan dunia Arab. Kelak forum ini menjadi embrio dari lahirnya NU setelah mendapat restu dari Hadlratusy Syekh Kiai Hasyim Asy’ari.

Kiai Wahab adalah sosok multi talenta; sebagai tokoh pesantren, aktivis politik hingga ideolog Muslim tradisional. Dengan penyematannya sebagai Pahlawan Nasional perasaaan bangga itu penting. Tapi, lebih dari itu teladan Kiai Wahab patut menjadi contoh bagi generasi muda saat ini, khususnya keteguhan Kiai Wahab mengawal isu-isu keislaman dan kebangsaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nasionalisme Religius? ?

Dalam buku “Mbah Wahab Hasbullah: Kiai Nasionalis Pendiri NU”, Saifuddin Zuhri menyebutkan bahwa Kiai Wahab dalam waktu setengah abab mengabdikan dirinya merintis jalan perjuangan di tengah kegelapan zaman penjajahan penuh resiko dan pengorbanan. Perjuangannya muncul didasari oleh? ilmu, akhlak, kerja keras dan harta bendanya tanpa berpikir keuntungan materi. (hal, 8).

Kutipan di atas menggambarkan kecintaanya kepada bangsa dimulai melalui modal sosial yang dimilikinya, yakni bermula dari lingkungan tradisi pesantren. Karenanya, ada dua makna penting dari belajar sosok Kiai Wahab dalam konteks kekinian bangsa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pertama, berkaitan dengan kehidupan beragama dan bernegara. Melalui pesantren dan NU Kiai Wahab bersama tokoh-tokoh lainnya mampu membumikan visi Islam yang harmoni dan mengutamakan toleransi dalam keragamaan bangsa. Karenanya, aktivitas Kiai Wahab selalu bergerak dalam kerangka gerak ganda yang bersamaan, yakni meneguhkan nilai-nilai Islam di satu sisi dan mempertahankan NKRI di sisi yang berbeda.

Dilihat dari basis intelektualnya, sekali lagi Kiai Wahab dibesarkan dalam lingkungan pesantren. Kalaupun ia pernah belajar di negeri Hijaz (Arab Saudi), tapi sikap kritis Kiai Wahab terus ada dalam menyikapi perkembangan Islam di semenanjung Arab terlebih ketika paham Wahhabi disahkan menjadi ideologi negara. Bersama komite Hijaz, pada tahun 31 Januari 1926 Kiai Wahab melakukan negosiasi agar Raja Ibnu Sa’ud yang beraliran Wahhabi memberikan kebebasan dan perlindungan kepada mereka yang berbeda.

Semangat lokalitas ini dikembangkan oleh Kiai Wahab dalam kehidupan beragama. Memang Arab adalah sumber lahirnya Islam, tapi spirit keislaman yang merahmati tidak bisa wujud dengan hanya meniru Arab, alih-alih dalam konteks kekinian yang penuh konflik. Dengan begitu mereka yang alumni Arab atau Barat perlu terus menjadikan lokalitas sebagai jatidiri pengembangan intelektualnya agar ? tidak terus terserabut dari akar kebudayaannya.

Kedua, totalitas dalam berbuat dan keikhlasan bertindak. Saifuddin Zuhri mencatat, kesibukan Kiai Wahab dilakukan sejak usia 25 tahun hingga menjelang wafatnya 88 tahun (hal, xi). Runtutan perjalanan panjang ini diabdikan Kiai Wahab dalam kerangka nilai memperjuangkan semangat kebangsaan melalui NU dan pesantren sebagai media Jihad.

Totalitas dan keikhlasan Kiai Wahab sekali lagi adalah kunci dari keberhasilannya sehingga layak mendapat gelar Pahlawan Nasional, sekalipun –menurut penulis—terkesan terlambat. Tidak ada pilihan bahwa ke depan kita butuh kepemimpinan bangsa di berbagai bidangnya memiliki semangat sama sebab hanya dengan cara seperti ini dimungkinkan tidak akan muncul kekuasaan yang hanya mencari keuntungan jangka pendek, alih-alih kepentingan kebangsaan.

Tanpa bermaksud mengkultuskan Kiai Wahab, kita semua harus berterimakasih atas jazanya untuk negeri ini. Pasalnya, ungkapan Arab mengatakan man lam yasykur al-nas lam yasykur Allah (barang siapa yang tidak berterimakasih kepada sesama manusia, maka dipandang tidak berterimakasih kepada Allah). Maka kunci berterimakasih kepada Allah adalah berterimakasih kepada sesama.

Selanjutnya, penetapan Kiai Wahab sebagai salah satu Pahlawan Nasional sekali lagi harus menjadi titik pijak kita bersama bagaimana terus memupuk kecintaan kepada bangsa sendiri, sekaligus terus membumikan visi keislaman yang merahmati semua. Semangat ini yang menjadi warisan terpenting Kiai Wahab, yakni semangat nasionalisme-religius, hingga patut dilestarikan. Semoga.

Wasid Mansyur, alumni LP Al-Khoziny Buduran Sidoarjo, penulis buku “Menegaskan Islam Indonesia: Belajar dari Pesantren dan NU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama, Lomba, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 17 November 2017

Hukum Shalat Jamaah dengan Pacar

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Kepada yang terhormat admin Pondok Pesantren Attauhidiyyah, saya mau menanyakan perihal shalat jamaah dengan pacar. Apakah hukum shalat jamaah tersebut? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ’alaikum wr. wb. (Rahmat Hidayat/Sidoarjo)

Hukum Shalat Jamaah dengan Pacar (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Shalat Jamaah dengan Pacar (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Shalat Jamaah dengan Pacar

Jawaban

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah SWT. Pertama-tama yang harus dipahami adalah bahwa dalam konteks ini ada dua permasalahan. Pertama menyangkut soal dua orang berlainan jenis yang bukan mahram melakukan khalwat atau berduaan di tempat sepi. Kedua, menyangkut status hukum shalat berjamaahnya.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyangkut permasalahan pertama hemat kami sudah sangat jelas bahwa menurut ajaran Islam, laki-laki yang berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya jelas tidak diperbolehkan/haram. Di antara dalil menjadi landasan dalam hal ini adalah sebagai berikut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali-kali berkhalwat (berduaan) dengan perempuan yang bukan mahram karena yang ketiga di antara mereka adalah setan,” (HR Ahmad).

Hadits ini dengan terang menjelaskan bahwa keimanan itu meniscayakan untuk menafikan khalwat dengan perempuan yang bukan mahram atau ajnabiyyah. Karena hal tersebut bisa menjerumuskan kepada sesuatu yang dilarang.

Dari sini kemudian dapat dipahami kenapa berkhalwat atau berduaan dengan perempuan yang bukan mahram diharamkan. Jadi larangan tersebut bisa dipahami sebagai upaya untuk menutup hal-hal yang tidak diinginkan (saddud dzari’ah).

Atas dasar inilah kemudian dengan tegas Abu Ishaq Asy-Syirazi dalam kitab Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i menyatakan bahwa makruh seorang laki-laki shalat dengan seorang perempuan ajnabiyyah atau yang bukan mahramnya karena didasarkan hadits Nabi yang melarang seorang laki-laki berduaan dengan perempuan yang bukan mahram.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dan dimakruhkan seorang laki-laki shalat dengan seorang perempuan ajnabiyyah karena didasarkan pada sabda Nabi SAW, ‘Jangan sekali-kali seorang laki-laki berkhalwat dengan perempuan karena yang ketiga di antara mereka adalah setan,” (Lihat Abu Ishaq Asy-Syirazi, Al-Muhadzdzab fi Fiqhil Imamis Syafi’i, Beirut, Darul Fikr, tt, juz I, halaman 98).

Kemakruhan dalam konteks ini menurut Muhyiddin Syarf An-Nawawi adalah makruh tahrim sebagaimana yang beliau kemukakan dalam anotasi atau syarah atas pernyataan Abu Ishaq Asy-Syirazi di atas. Sedangkan makruh tahrim itu sendiri pengertian adalah sama dengan haram.

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Yang dimaksud makruh (dalam pernyataan Abu Ishaq Asy-Syirazi di atas) adalah makruh tahrim. Hal ini apabila si laki-laki tersebut berduaan dengan seorang perempuan ajnabiyyah atau bukan mahramnya,” (Lihat Muhyiddin Syarf An-Nawawi, Al-Majmu` Syarhul Muhadzdzab, Jeddah, Maktabah Al-Irsyad, juz IV, halaman 173).

Namun persoalannya tidak hanya sampai di sini saja. Jika shalat hanya berduaan, yaitu hanya seorang laki-laki (imam) dan perempuan (makmum) yang bukan mahramnya atau hanya berdua dengan pacar adalah haram dengan mengacu pada penjelasan di atas, maka pertanyaannya adalah apakah sah shalat jamaah tersebut?

Dalam pandangan kami, shalat berjamaah dengan perempuan yang bukan mahram atau dengan pacar sebagaimana dijelaskan di atas adalah tetap sah. Sebab keharaman shalat berduaan dengan pacar atau perempuan yang bukan mahramnya karena adanya sesuatu yang berada di luar shalat (li amrin kharijiy ‘anis shalah). Yaitu berkhalwat atau berduaan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Sedang berkhalwat tersebut bisa terjadi melalui perantara shalat dan yang lainnya.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Hindari dan jauhi keinginan untuk berdua-duaan dengan pacar, karena bisa menjerumuskan ke dalam perbuatan yang dilarang. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Santri, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan bakal menggelar serangkaian acara dalam rangka menyambut hari lahir (halah) Fatayat NU yang jatuh pada 24 April nanti. Kegiatan praharlah ini diwujudkan dalam bentuk bakti sosial.

Fatayat NU Sulsel akan mengadakan antara lain penyuluhan narkoba bagi perempuan di Lapas Bolangi Kabupaten Gowa pada 23 April, layanan pengobatan gratis di Makassar pada 24 April 2016, dan donor darah di Makassar pada 26 April.

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis

Hal ini disampaikan Ketua PW Fatayat NU Sulsel Nurul Ulfa dalam diskusi publik praharlah Fatayat NU di Aula Kantor PWNU Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 9, Kompleks Universitas Islam Makassar, Kamis (21/4).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diskusi publik tersebut mengangkat tema "Meretas Profesionalisme dan Kompetensi Perempuan Sulsel dari Stereotip Sosial Kultural, menuju Pembangunan Berkeadilan". Narasumber yang hadir di antaranya Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Masrurah Muktar, anggota DPRD Kabupaten Soppeng Andi Nurhidayati, dan Nurfadillah Mappaselleng, pakar budaya Sulsel.

Peran besar perempuan

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Prof Masrurah Muktar dalam paparannya banyak menyinggung eksistensi perempuan di dunia modern dewasa ini. Menurutnya, saat ini perempuan memiliki peran ganda, di dalam dan di luar keluarga.

"Sehingga ruang-ruang yang ada saat ini, baik itu dunia pendidikan, politik, dan lain sebagainya semua bisa berkontribusi, tanpa harus melihat gender," tambahnya.

Senada, Nurfadillah Mappaselleng berpendapat, laki-laki dan perempuan memiliki derajat sosial yang sama dan yang membedakan hanyalah fisik. "Dewasa ini, tanpa melihat jenis kelamin, semua orang memiliki kontribusi terhadap pembangunan bangsa, sehingga semuanya harus dihargai sesuai perannya masing-masing," tuturnya.

Namun, ia menilai saat ini masih banyak pandangan mengatasnamakan agama yang mereduksi peran perempuan.

Salah satu Anggota DPRD Kabupaten Soppeng Andi Nurhidayati banyak mengulas keterlibatan perempuan dalam politik 30 persen. Menurutnya, keterlibatan perempuan di parlemen memiliki kontribusi besar terhadap maju tidaknya pembangunan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.

Tampak hadir Wakil Ketua PW Muslimat NU Sulsel Nurjannah Abna, ratusan pengurus Fatayat NU Sulsel, kader PMII Sulsel, pengurus IPNU Sulsel, dan ratusan mahasiswa Universitas Islam Makassar. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Pendidikan, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kota Kraksaan Taufiq menyampaikan bahwa menjadi anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) harus memiliki jiwa korsa. Yakni, semangat kebersamaan, persatuan dan kesatuan terhadap suatu korps senasib dan sepenanggungan.

Hal tersebut disampaikan Taufiq dalam Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) Banser yang digelar PC GP Ansor Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo di lereng Gunung Argopuro Desa Segaran Kecamatan Tiris Kabupaten Probolinggo, Sabtu dan Ahad (25-26/2) sore.

Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Anggota Banser Harus Miliki Jiwa Korsa

“Saya meminta agar dalam setiap anggota Banser tertanam jiwa korsa dengan penuh tanggung jawab disertai dengan dedikasi untuk sesuatu hal yang mulia. Tentunya juga demi kegiatan yang bersifat kebajikan dan kebaikan serta tolong menolong dengan mengedepankan rasa kebersamaan,” katanya.

Diklatsar Banser sendiri diikuti oleh 340 orang peserta. Selama kegiatan mereka mendapatkan beragam materi dari beberapa narasumber yang dihadirkan oleh PC GP Ansor Kota Kraksaan. “Dengan kegiatan ini, tentunya Banser akan mendapatkan amunisi baru yang siap membesarkan NU dan menjadi benteng ulama NU,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ratusan anggota Banser ini terlihat semangat mengikuti rangkaian Diklatsar Banser. Meskipun hujan disertai dengan angin kencang, tetapi mereka tetap antusias mengikuti tahapan demi tahapan. “Mudah-mudahan apa yang kami lakukan ini mendapatkan rido Allah dan barokahnya para ulama NU,” kata salah satu peserta. (Syamsul Akbar/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Hikmah, Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 14 November 2017

IPNU-IPPNU Probolinggo Ikut Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kota Probolinggo ikut terlibat dalam sosialisasi empat pilar kebangsaan. Sosialisasi diformat dalam bentuk lomba cerdas cermat yang diikuti oleh 31 lembaga SLTA se Kota dan Kabupaten Probolinggo yang merupakan kader-kader muda NU.

IPNU-IPPNU Probolinggo Ikut Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Probolinggo Ikut Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Probolinggo Ikut Sosialisasikan Empat Pilar Kebangsaan

Empat pilar yang dimaksudkan terdiri dari Pancasila, Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika. Sosialisasi tersebut dimaksudkan agar sikap nasionalisme generasi penerus bangsa tetap tinggi.

Ketua PC IPNU Kota Probolinggo Masyhuri Nurzah kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jum’at (8/2) mengatakan, sosialisasi empat pilar kebangsaan ini digelar dengan tujuan untuk membentuk karakter generasi muda yang memiliki jiwa Pancasila, cinta tanah air dan berwawasan kebangsaan agar dapat membentengi generasi nuda dari pengaruh paham-paham radikal yang tidak sesuai dengan Pancasila.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Kader muda yang berjiwa Pancasila, disiplin dan suka bekerja keras dapat menjadi penangkal ancaman potensial yang dapat merongrong bangsa, mengajak kepada generasi muda untuk bangkit maju dan generasi muda harus mengetahui posisi dalam perannya mengisi kemerdekaan serta mengharapkan generasi muda berkualitas sehingga dapat memanfaatkan sumber daya alam yang ada,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurutnya, pengetahuan dan pengamalan Empat Pilar Kebangsaan sangat penting bagi generasi muda untuk mengisi kemerdekaan. Apabila generasi muda mempunyai ideologi yang baik dan memiliki SDM yang berkualitas maka tidak akan dapat dengan mudah terpengaruh oleh faham radikalisme dan faham-faham lain yang bertentangan dengan Pancasila serta mampu memproteksi bahaya transnasional akibat pemahaman yang salah.

Hal senada juga diungkapkan oleh Ketua PC IPPNU Kota Probolinggo Khoirun Nisa. Menurutnya, sosialisasi empat pilar kebangsaan kepada kader-kader muda bangsa tersebut diharapkan agar wawasan akan persatuan bangsa ini semakin besar serta rasa nasionalismenya juga semakin tinggi.

”Akhir-akhir ini pemahaman terhadap empat pilar kebangsaan kader muda sudah memulai pudar. Oleh karenanya, IPNU-IPPNU tergerak untuk mensosialisasikannya kembali melalui metode lomba cerdas cermat. Sebab kalau disampaikan melalui seminar, saya rasa kader-kader muda akan merasa bosan dan jenuh,” ujarnya.

Menurut Khoirun Nisa, peranan generasi muda sangat dibutuhkan untuk menghidupkan kembali rasa nasionalisme terutama penerapan Pancasila. Sebab dari dulu sampai sekarang ini, isi dari Pancasila tidak berubah, tapi tantangan yang dihadapi itu yang berubah. Sehingga perlu ada upaya untuk mengembangkan dan menyegarkan arti Pancasila yang disesuaikan dengan kondisi zaman.

Alhamdulillah, para peserta mampu menguasai dengan baik soal materi Empat Pilar Kebangsaan. Selain itu mereka juga mampu menghafal sekian pasal dan mampu menafsirkan pasal-pasal. Semoga kegiatan ini mampu menanamkan jiwa nasionalisme kader-kader muda melalui pemahaman empat pilar kebangsaan. Yang paling penting lagi, mereka juga tahu mengenai IPNU-IPPNU Kota Probolinggo,” pungkasnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 November 2017

Harlah Ke-61, IPPNU Bondowoso Sowan Para Alumni

Bondowoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bertepatan dengan Harlah Ke-61 IPPNU, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, bersilaturahim ke rumah para mantan ketua PC IPPNU setempat.

Kunjungan ini dilakukan secara bergiiran dari rumah ke rumah dan sudah berlangsung sembilan kali. Kamis (3/3), para pengurus IPPNU setempat sowan ke kediamaan Ketua IPPNU Bondowoso periode 1969-1972 Hj Mustak Malah di Jalan dr Sutomo Gang tiga RT 20 RW 03 Kelurahan Badean, Kecamatan Kota Bondowoso, Kabupaten Bondowoso.

Harlah Ke-61, IPPNU Bondowoso Sowan Para Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-61, IPPNU Bondowoso Sowan Para Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-61, IPPNU Bondowoso Sowan Para Alumni

Ketua PC IPPNU Bondowoso Robiatul Adawiyah menjelaskan, selain silaturahim, pihaknya juga mengundang para alumni untuk hadir pada peringatan harlah IPNU-IPPNU. Menurut Robiatul, silaturahim kepada alumni merupakan kewajiban pihaknya, di samping mengumpulkan nama mereka dalam database para alumni dari masa ke masa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Mengingat banyak data alumni pengurus IPPNU lebih-lebih mantan ketua IPPNU yang hilang di telan zaman, dan IPPNU butuh pengayoman sekaligus support dari alumni untuk program-program IPPNU ke depan,” terangnya.

Jika organisasi Majelis Alumni IPNU sudah terbentuk, namun tidak demikian dengan Majelis Alumni IPPNU. Karena itu, IPPNU Bondowoso terus berinisiatif memfasilitasi terbentuknya Majelis Alumni IPPNU sebagai wadah penyatuan para alumni dalam berkiprah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Selama ini kami berinisiatif untuk membentuk, setiap kami mengundang hanya 5 orang saja yang hadir,” ungkapnya.

IPPNU Bondowoso rencananya juga akan menggelar doa bersama untuk Ujian Nasional (UN), 24 Maret 2016,? dalam rangkaian memperingati harlah ke-61 IPNU dan harlah ke-62 IPPNU. Kegiatan akan diikuti pelajar tingkat SMP dan SMA se-Bondowoso di Masjid Agung At-Taqwa. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Hadits, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gus Dur dan Humanisme Islam

Sudah tiga tahun sejak 30 Desember 2009, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) meninggalkan kita. Banyak jasa, peninggalan tetapi juga kontroversi yang ia wariskan. Salah satu peninggalan itu adalah pemikiran Islamnya yang ternyata berpijak dari suatu humanisme Islam. Sayang, banyak yang tak memahami hal ini sehingga pemikirannya sering disalahtafsirkan.

Humanisme Islam adalah dasar normatif dan muara etis dari segenap pemikiran Gus Dur. Sejak pribumisasi Islam, Islam sebagai etika sosial, negara kesejahteraan Islam hingga pluralisme agama. Dengan demikian, humanisme Gus Dur bukan antroposentrisme yang meniadakan agama dan Tuhan. Sebaliknya, ia berangkat dari pemuliaan Islam atas manusia, di mana manusia menjadi subjek sekaligus objek humanisasi kehidupan, karena Allah telah menitahkannya.

Hal ini didasarkan Gus Dur pada pemuliaan Allah atas manusia (Walaqod karromna bani Adam, Q.S. 17:70) sehingga Dia menciptakan manusia dengan kualitas terbaik: Laqod kholaqna al-insaana fi ahsani taqwiim (Q.S. 95:4). Titik puncak pemuliaan ini terjadi ketika Adam didaulat sebagai wakil-Nya di muka bumi (Inni jaa’ilun fi al-ardli khalifah, Q.S. 2:30) untuk mewujudkan risalah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin (kesejahteraan bagi semesta). Dengan demikian, pemuliaan Allah atas manusia dan pendaulatannya sebagai khalifatullah fi al-ard, merujuk pada peran manusia sebagai perealisir kerahmatan Islam sebagaimana diperankan oleh tauladan umat Islam, Rasulullah Muhammad SAW.

Berdasarkan pemuliaan manusia ini, Islam kemudian menggariskan perlindungan atas hak dasar manusia (kulliyatul khams) yang ditetapkan sebagai tujuan utama syariah (maqashid al-syari’ah). Hak dasar itu meliputi; hak hidup (hifdz al-nafs), hak beragama (hifdz al-din), hak kepemilikan (hifdz al-maal), hak profesi (hifdz al-‘irdl) dan hak berkeluarga (hifdz al-nasl). Perlindungan atas hak dasar manusia ini Gus Dur sebut sebagai universalisme Islam, yang bisa diwujudkan melalui kosmopolitanisme Islam. Artinya, perjuangan pemenuhan hak dasar manusia hanya bisa diwujudkan melalui perluasan cakrawalan Islam ke ranah peradaban kosmopolitan-modern. Mengapa? Karena persoalan manusia kontemporer hanya bisa diselesaikan melalui pranata modern. Oleh karenanya, kosmopolitanisme dalam bentuk modernisasi Islam dilakukan Gus Dur bukan dalam rangka Westernisasi, melainkan demi penegakan universalisme Islam.

Gus Dur dan Humanisme Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Humanisme Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Humanisme Islam

Upaya mempertemukan Islam dengan modernitas ini Gus Dur lakukan melalui pendaulatan nilai-nilai modern seperti demokrasi, keadilan sosial dan persamaan hukum, bahkan sebagai Weltanschauung (pandangan-dunia) Islam. Artinya, Gus Dur telah mengakarkan tiga nilai tersebut pada ajaran Islam, yakni syura, ‘adalah dan musawah. Dengan demikian, demokrasi, keadilan, dan persamaan merupakan nilai-nilai substantif Islam yang dibutuhkan demi perwujudan universalisme Islam. Hal ini wajar sebab tanpa ketiga kondisi tersebut, hak-hak warga negara tidak akan terlindungi.

Lalu, jika Weltanschauung Islam adalah nilai-nilai normatif; apakah prinsip operasionalnya? Jawab Gus Dur kaidah fiqh, Tasharruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuthun bi al-mashlahat. Keabsahan seorang pemimpin tergantung pada kemampuannya menciptakan kemashlahatan rakyat. Berdasarkan kaidah ini, Gus Dur telah mempraksiskan humanisme Islam menjadi etika politik, dan membebankan tugas pensejahteraan, terutama kepada negara.     

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

Etika Sosial Islam

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Segenap abstraksi di atas merupakan landasan normatif yang mendasari pemikiran Gus Dur. Misalnya, ketika terjadi ketegangan antara agama dan kebudayaan, manakah yang harus dimenangkan? Bagi Gus Dur, nilai-nilai kemanusiaan yang harus dibela. Bukan formalisme agama, bukan pula simbolisme budaya. Pembelaan inilah yang melahirkan gagasan pribumisasi Islam, di mana ajaran Islam dikontekstualisasikan ke dalam persoalan masyarakat demi pembelaan nasib manusia. Tentu yang dikritik Gus Dur adalah formalisme agama yang abai dengan realitas. Sebab di dalam pribumisasi Islam itu, Gus Dur tetap menggunakan ushul fiqh dan qawaidul fiqhiyah, sehingga kontekstualisasi Islam tetap dalam kerangka syariah.

Hal serupa di dalam Islam sebagai etika sosial. Sebuah prinsip etis yang diderivasi dari Sutar al-Baqarah ayat 177, yang menekankan perlindungan dan bantuan kepada kaum miskin sebagai penyempurnaan iman. Etika sosial Islam merujuk pada pengembangan struktur masyarakat berkeadilan sebagai kondisi struktural yang dibutuhkan demi pemenuhan hak dasar manusia. Pada titik ini Gus Dur menggagas perlunya “rukun sosial” yang menjembatani Rukun Iman dan Rukun Islam, untuk membentuk “kesadaran sosial” yang sebenarnya terdapat di dalam Rukun Islam. Artinya, Rukun Islam, berupa syahadat, sholat, puasa, haji dan terutama zakat merupakan “rukun sosial” sebab ia menandaskan keperdulian terhadap sesama. Hanya saja sosialitas dari rukun tersebut diabaikan oleh “kesadaran inividualis” kaum muslim, sehingga amal ibadah yang semestinya “bersifat sosial” hanya menjadi ritus-individual. Maka, dibutuhkan perumusan “ibadah sosial” pada ranah teologis, sehingga segenap amal ibadah berdampak pada perbaikan kondisi masyarakat.

Berdasarkan kebutuhan akan struktur berkeadilan inilah, Gus Dur memilih bangunan negara kesejahteraan Islam (Islamic welfare-state). Yakni bangunan kenegaraan yang menciptakan struktur masyarakat berkeadilan. Hal ini didasarkan pada kaidah al-ghayah wa al-wasail (tujuan dan cara pencapaian), di mana negara menjadi alat bagi pembentukan struktur masyarakat berkeadilan yang merupakan tujuan dari etika sosial Islam. Dalam kerangka inilah negara-bangsa (nation-state) menjadi pilihan realistik untuk mewujudkan tujuan tersebut. Dengan demikian, Gus Dur bukanlah sekularis, ketika ia tidak sepakat dengan Negara Islam Indonesia. Mengapa? Karena ketika Islam tidak menjadi negara, Presiden ke-4 RI ini tetap menjadikan Islam sebagai tujuan sosial (social purpose) yang memandu kinerja negara. Bukan privatisasi agama yang menghalangi Islam masuk ke ranah publik. Gagasan negara kesejahteraan Islam merupakan bentuk substantif politik Islam yang menempatkan negara sebagai mesin pewujud etika sosial Islam.

 

Bukan Pluralisme

Dari uraian di atas terpahami bahwa humanisme Gus Dur memuat dua prinsip mendasar. Pertama, perlindungan atas hak dasar manusia oleh syariat Islam. Kedua, pengembangan struktur masyarakat berkeadilan. Menariknya, kedua prinsip ini diperjuangkan Gus Dur melalui pemikiran Islam yang membentuk kesatuan struktural. Hal ini terlihat pada posisi pribumisasi Islam sebagai “basis struktur” yang menopang etika sosial Islam yang berperan sebagai “struktur” dan dinaungi oleh “supra-struktur” negara kesejahteraan Islam. Poros dari kesatuan struktural ini adalah struktur sosial berkeadilan, yang ditopang oleh budaya Islam dan dinaungi oleh politik Islam.

Dengan demikian, perjuangan Gus Dur adalah perjuangan kemanusiaan yang dipraksiskan ke dalam penegakan keadilan dalam bentuk demokratisasi, keadilan sosial dan persamaan hukum. Oleh karena itu, sebutan Gus Dur sebagai “bapak pluralisme” yang disematkan oleh Presiden SBY pasca wafat beliau, perlu ditinjau ulang. Mengapa? Karena sebutan itu telah menyempitkan perjuangan Gus Dur hanya di dalam pluralisme agama. Padahal pluralisme agama hanya salah satu “program” di dalam “bidang” persamaan hukum. Selainnya, Gus Dur masih memiliki “dua bidang” lain, yakni demokrasi dan keadilan sosial yang merujuk pada Weltanschauung Islam di atas.

Pemahaman Gus Dur “bapak pluralisme”pun bersifat sempit. Sebab pluralisme agama Gus Dur sebenarnya berada di tiga ranah. Pertama, pembelaan atas minoritas sebagai wujud dari pembelaan atas kaum lemah (humanisme). Kedua, penegakan konstitusi yang menghargai kemajemukan (persamaan hukum). Ketiga, perawatan pluralitas demi penjagaan “tubuh bangsa”, sebab kebangsaan Indonesia dirajut oleh kemajemukan agama. Oleh karena itu, pluralisme Gus Dur tidak terbatas pada interfaith dialogue dalam rangka kebebasan beragama. Melainkan pembelaan minoritas demi perlindungan hak dasar manusia (hifdz al-din) dalam kerangka kebangsaan, demokrasi dan keadilan. Gus Dur atas perjuangan ini tidak sebatas “bapak pluralisme”, melainkan “bapak kemanusiaan”.    

 

 

* Penulis buku Gus Dur dan Ilmu Sosial Transformatif, Sebuah Biografi Intelektual (Koekoesan, 2009), Koordinator Kelas Pemikiran Gus Dur, Jaringan Gusdurian

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 04 November 2017

Ini Sebab Jamaah Haji Harus Bayar Dam

Selain menunaikan rukun, seorang jamaah haji perlu memerhatikan juga tentang Wajib Haji. Dalam masalah haji, penting untuk membedakan istilah rukun dan wajib haji. Keduanya adalah perkara yang harus dilaksanakan, tetapi ada perbedaan di antara keduanya.

Pada rukun haji, ketika seseorang tidak melaksanakannya, maka hajinya batal dan harus diulang. Sedangkan pada wajib haji, orang yang tidak melaksanakannya bisa menggantinya dengan membayar dam.

Ini Sebab Jamaah Haji Harus Bayar Dam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Sebab Jamaah Haji Harus Bayar Dam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Sebab Jamaah Haji Harus Bayar Dam

Berdasarkan kitab Al-Fiqhul Manhaji lil Imam As-Syafi’i, wajib haji mencakup lima hal berikut.

1. Memulai Ihram dari Miqat.

Seseorang yang memulai haji akan melaksanakan ihram, dengan berniat, lalu mengenakan pakaian ihram. Amaliyah ihram ini harus dilakukan di miqat yang telah ditetapkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Miqat dibagi menjadi dua, yaitu miqat zamani dan miqat makani. Miqat zamani ini adalah waktu bagi seorang jamaah haji untuk memulai ihram, mulai bulan Syawwal sampai bulan Dzulhijjah. Kemudian, selain memerhatikan waktunya, penting diketahui untuk miqat makani adalah lokasi tempat dimulainya ihram. Lokasi miqat makani ini berbeda-beda berdasarkan daerah masing-masing, dan disebutkan tiap-tiap patokannya dalam berbagai kitab fikih.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

2. Menginap (Mabit) di Muzdalifah

Kegiatan ini dilakukan seusai ritual wukuf di Arafah, tepatnya saat terbenamnya matahari. Muzdalifah ini adalah lokasi di antara Arafah dan Mina. Hendaknya menginap di sana sekiranya sebagian malam saja, tidak wajib sampai Subuh esok hari tiba.

3. Melempar Jumrah

Setelah menginap di Muzdalifah seorang jamaah haji menuju tempat-tempat jumrah, dan melempar masing-masing tujuh kerikil. Waktunya merentang sejak tengah malam Idul Adha sampai waktu maghrib. Jumrah sendiri ada tiga macam: Jumrah ula, jumrah wustha dan jumrah aqabah.

4. Menginap di Mina pada dua malam hari Tasyriq

Setelah ritual melempar jumrah, jamaah haji menuju Mina dan menginap di sana pada hari Tasyriq. Menginap ini diartikan untuk bermalam pada sebagian besar waktu pada dua hari Tasyriq di Mina itu.

5. Thawaf wada’

Thawaf ini dilakukan setelah menunaikan semua amalan haji, dan hendak keluar dari Mekkah.

Jika wajib haji itu tidak dilaksanakan, maka orang tersebut wajib membayar dam. Dam dalam kitab Matan Taqrib karya Syekh Abu Syuja’ terbagi atas beberapa kriteria, sesuai dengan larangan haji yang dilaksanakan atau kewajiban haji yang ditinggalkan. Kriteria dam untuk orang yang meninggalkan wajib haji dalam Matan Taqrib adalah sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Dam wajib disebabkan meninggalkan ibadah (dalam hal ini wajib haji) dipilih secara berurutan (sesuai kondisi). Yang pertama, dengan seekor kambing. Jika tidak ada kambing, maka ditunaikan dengan berpuasa sepuluh hari. Tiga hari ketika berada di Mekkah, dan tujuh hari ketika kembali ke kampung halaman.”

Dengan demikian, wajib haji kiranya perlu diperhatikan agar ibadah haji menjadi lebih sempurna dilaksanakan. Semoga jamaah haji sekalian menjadi haji yang mabrur dan diterima Allah. Wallahu a’lam. (M Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa, Hikmah, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 09 Oktober 2017

GP Ansor Sambek Tolak Terjerumus Kepentingan Sesaat

Wonosobo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan Pemuda Ansor Sambek kecamatan Wonosobo kabupaten Wonosobo mengambil posisi bebas dan aktif dalam menghadapi pemilihan umum 2014 mendatang. Mereka mengambil aturan organisasi sebagai dasar pijakan agar tidak menjadi korban kepentingan politik sesaat.

GP Ansor Sambek Tolak Terjerumus Kepentingan Sesaat (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Sambek Tolak Terjerumus Kepentingan Sesaat (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Sambek Tolak Terjerumus Kepentingan Sesaat

Demikian dinyatakan Ketua Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Sambek Nimun Romli dalam acara lapanan rutin yang dihadiri tokoh masyarakat, pengurus MWCNU Wonosobo, PAC GP Ansor Wonosobo, Satkoryon serta semua anggota dari kampung Sambek dan Jolontoro, Rabu (26/2).

Dalam kegiatan yang diisi dengan mujahadah, kajian ke-NUan, dan ke-Banseran ini, Nimun mengatakan, “Kegiatan positif seperti ini penting diadakan untuk memperkaya informasi dan meningkatkan mutu kader Ansor dan anggota Banser Sambek.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tujuannya juga mengarah pada kemandirian organisasi," tambah Nimun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senapas dengan pendapat Nimun, Ketua PAC GP Ansor Wonosobo Slamet Nurochman dalam sambutannya menyatakan dukungannya atas sikap PR GP Ansor Sambek perihal posisi dan fungsi Banser. Ia berharap ranting lain meniru sikap tersebut.samberk, yang diharapkan ditiru oleh ranting lainnya.

"Kita ingin Ansor, Banser dan warga NU tidak hanya dijadikan komoditas politik sesaat, tapi harus berkesinambungan tidak hanya sebagai obyek penderita. Karenanya, kita harus cerdas; jangan sampai menjual organisasi untuk hanya kenikmatan sesaat," kata Slamet yang didampingi Kasatkoryon M Mahfudz. (Herry Budhi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 30 September 2017

Gus Mus Undang Mustasyar Beri Nasehat NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Para kiai khos yang tergabung dalam Majelis Mustasyar (Penasehat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hadir di lantai 5 gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Rabu (16/4) siang.

Kedatangan para kiai sepuh ini dalam rangka memenuhi undangan Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri (Gus Mus) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Para pengurus harian PBNU meminta nasehat kepada kiai sepuh tersebut.

Gus Mus Undang Mustasyar Beri Nasehat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Undang Mustasyar Beri Nasehat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Undang Mustasyar Beri Nasehat NU

Sebelum para kiai sepuh tersebut memberikan nasehat dan pandangannya, Gus Mus memberikan sambutan selaku pejabat Rais Aam. “Tugas mustasyar memang menasehati PBNU. Pada kesempatan berbahagia ini, saya berharap para kiai yang duduk di mustasyar untuk memberikan nasehat,” ujar Gus Mus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berturut-turut para angggota mustasyar diminta memberi pandangan dan nasehat. Mereka adalah Prof Dr KH Tholchah Hasan, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA, Prof Dr KH Ridhwan Lubis Medan Sumatra Utara, Prof Dr KH Khotibul Umam Jakarta, KH Syatibi Banten, KH Abdurrahman Latukao Manado Sulawesi Utara, KH Abdurrahim Musthofa Kupang Nusa Tenggara Timur. Kemudian, KH Dimyathi Rois Kendal Jawa Tengah.

Hadir pula para mustasyarin lainnya, yakni HM Jusuf Kalla yang juga menjabat Ketua Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI). Dari jajaran Syuriah tampak KH Masdar Farid Mas’udi, dan Prof Dr H Machasin, MA. Dari jajaran Katib Syuriah KH Afifuddin Muhajir, dan KH Yahya Cholil Staquf. Sementara dari Tanfidziyah Ketua PBNU H Iqbal Sullam, Abdul Mun’im DZ, dan Bendahara Umum H Bina Suhendra.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam masing-masing pandangan dan nasehatnya, para mustasyarin menyatakan gembira dengan acara yang digelar di PBNU ini kendati ada beberapa kritik yang membangun bagi pengurus harian.?

Nasaruddin Umar, misalnya, sangat risau dengan makin kencangnya golongan minoritas Islam yang cenderung garis keras memonopoli media.

“Andaikan acara seperti ini sering diadakan, niscaya banyak memberi manfaat dan inspirasi bagi umat. Saya sendiri merasa senang ketika mendengar suara lembut para kiai apalagi melihat wajahnya yang bersinar itu,” ujar mantan Katib Aam yang juga Wakil Menteri Agama ini.

Mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla memberikan pandangannya tentang Ke-NU-an. Masukan-masukan dan kritikannya kerap mengundang tawa para kiai dan hadirin lainnya. Kedatangan MJK kali ini menjadi bintang pada “Hari Mustasyar” yang telah dicanangkan Katib Aam KH Malik Madani ini. (musthofa asrori/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah