Selasa, 31 Desember 2013

Menteri BUMN Resmikan Sekolah Kewirausahaan GP Ansor Malang

Malang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebagai wujud pemberdayaan ekonomi para kader, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Malang, Jawa Timur, meluncurkan Sekolah Kewirausahaan bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Islam Malang (Unisma).

Kegiatan yang berlangsung di Aula KH Oesman Mansur Unisma, Jumat (15/11) ini secara resmi dibuka Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) RI Dahlan Iskan. Ketua PC GP Ansor Malang Hasan Abadi mengakui kader GP Ansor mempunyai latar belakang yang cukup beragam.

Menteri BUMN Resmikan Sekolah Kewirausahaan GP Ansor Malang (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri BUMN Resmikan Sekolah Kewirausahaan GP Ansor Malang (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri BUMN Resmikan Sekolah Kewirausahaan GP Ansor Malang

“Yang banyak di jalur pendidikan dan politik, sementara yang di jalur wirausaha masih dirasa kurang. Untuk itulah kami bertekad untuk mengembangkan kader yang mampu menjadi pengusaha, harapannya muncul pengusaha-pengusaha di kalangan Ansor,” jelasnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dahlan Iskan dalam kesempatan tersebut mendorong GP Ansor untuk menjadi organisasi yang mandiri sehingga kian diperhitungkan di tengah-tengah masyarakat. Sementara itu dekan Fakultas Ekonomi Unisma Noor Shodiq Askandar mengaku senang dapat berkontribusi kepada kader-kader NU, khususnya yang aktif di GP Ansor.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sebagai kampus yang berlatarbelakang NU, kami merasa terpanggil untuk ikut bersama-sama dengan Ansor berkiprah memberikan pengabdian melalui kerjasama sekolah kewirausahaan. Kami akan siapkan dosen-dosen terbaik sebagai mentornya. Tidak hanya itu, lanjut  kami juga akan membuka jejaring yang selama ini bekerjasama dengan FE UNISMA untuk gerakan pemuda Ansor,” katanya. (Suryo/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 22 November 2013

IPNU-IPPNU Ziarahi Kubur Para Pendiri NU Sulsel

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Belasan pengurus IPNU-IPPNU Sulawesi Selatan dan IPNU-IPPNU Makassar mengunjungi Pekuburan Arab jalan Kandea nomor 3 Makassar, Ahad-Senin (3-4/8). Mereka di sana mendoakan arwah sejumlah ulama dan tokoh pendiri NU seperti Anre Gurutta KH Muhammad Ramli, Anre Gurutta KH Ahmad Bone, ayah Jusuf Kalla Anre Gurutta H Kalla.

Di pemakaman ini, mereka juga berdoa untuk Anre Gurutta KH Muhiddin Zain, Anre Gurutta KH Abduh Shafa, Anre Gurutta KH Said Musamma, Imam besar masjid raya Anre Gurutta KH Tahir Mahdali, ibu Jussuf Kalla Hj Athirah, Dr Harifuddin Cawidu, Bunyamin Matalitti.

IPNU-IPPNU Ziarahi Kubur Para Pendiri NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Ziarahi Kubur Para Pendiri NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Ziarahi Kubur Para Pendiri NU Sulsel

Dari sana rombongan pelajar NU bergerak menuju makam Syekh Nashirussunna Anre Gurutta KH Muhammad Nur di Daya dan makam Anre Gurutta KH Muh Harisah AS di pekuburan Al-Waqiah, Gowa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami rutin berziarah dan tahlilan setiap tahunnya sebagai upaya menghormati para pendiri NU di Sulsel di samping menjaga tradisi NU,” kata Ketua IPNU Sulsel Muhammad Ramli Syamsuddin, Senin (4/8).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Maklum, kata Ramli, belakangan ini banyak aliran sempalan yang mengafirkan tradisi masyarakat. Karenanyatekad kami semakin menguat untuk melestarikan tradisi ziarah makam. “IPNU-IPPNU mestinya berdiri di garis depan untuk melestaikan budaya atau tradisi ziarah makam sebagai bentuk kewajiban dan tanggung jawab,” tegas Ramli.

Tampak dalam rombongan ziarah antara lain Ketua IPPNU Sulsel Mirna Kartika, Wakil Ketua IPNU Andy, Bendahara IPNU Sudirman, Ketua IPNU Makassar Muhammad Nur, Wakil Ketua IPNU Makassar Abd Rahman, Ketua IPPNU Makassar Nur Azizah Dahlan, Sekretaris IPNU Makassar Aswad, Wakil Bendahara IPNU Makassar Rusli Gani, dan sejumlah kader IPNU-IPPNU Sulawesi Selatan di Makassar. (Andi M Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 07 November 2013

Ribuan Warga Meriahkan Harlah NU di Pamekasan

Pamekasan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan masyarakat memadati halaman pondok pesantren Al-Kautsar, Lawangan Daya, Pademawu, Pamekasan, Sabtu (16/6). Mereka sedang memperingati hari lahir (Harlah) ke-89 Nahdlatul Ulama (NU).

Ribuan Warga Meriahkan Harlah NU di Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Meriahkan Harlah NU di Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Meriahkan Harlah NU di Pamekasan

Puncak Harlah yang cukup semarak ini dihadiri oleh mustasyar PCNU Pamekasan yang sedang mengemban amanah sebagai bupati Pamekasan, Kholilurrahman. Hadir pula para pengurus PCNU, lembaga, lajnah, dan banom NU se Madura serta PWNU Jawa Timur.

Ketua PCNU Pamekasan Abd Ghoffar dalam sambutannya mengatakan, Harlah NU penting diadakan untuk mengingatkan para warga NU terhadap para pendiri organisasi yang mengedepankan kemaslahatan dalam berdakwah ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sampai kapan pun, NU akan tetap berpegang teguh pada ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamâah. Yaitu ajaran Islam yang mengedepankan perdamaian yang memang dipilih oleh para pendiri NU ini,” tegasnya.

Dikatakan, tantangan utama NU saat ini ialah paham berhaluan garis keras. Kekerasan dalam beragama kerapkali masih mewarnai Indonesia termasuk Madura sendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dari itu, marilah kita sama-sama merawat, mengukuhkan, dan menyerbarluaskan Islam Ahlussunnah wal Jamâah ini. Satu yang perlu diingat ialah cara yang harus kita lakukan dalam berdakwah adalah menjauhkan diri dari sikap kekerasan,” tegas Kiai Ghoffar sembari menekankan pentingnya menguatkan persahabatan antarsesama manusia dan umat Islam.

Puncak Harlah dikemas dengan Pengajian Akbar dan Musyawarah Cabang (Muscab) yang melibatkan segenap para ulama atau kiai di Pamekasan. Pengajian Akbar disampaikan oleh  Rais Syuriyah PWNU Jawa Timur, KH Miftachul Akhyar. 

Sebelumnya, digelar rangkaian kegiatan pra-Harlah, antara lain sosialisasi Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pamekasan, ziarah ke makam ulama dan muassis NU, lomba baca kitab kuning, pembukaan lembaga kursus dan bimbingan belajar, pawai Harlah, kajian dan pelatihan Aswaja, zikir dan istiqhasah, dan pelatihan kompetensi guru.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Tokoh, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 22 Oktober 2013

Gerakan Perempuan Tak Boleh Mereduksi Makna Kemanusiaan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa berpendapat gerakan perjuangan hak-hak perempuan harus tetap dalam koridor norma, nilai dan syr’i bagi yang muslim serta tak boleh mereduksi mana kemanusiaan.

“Misalnya begini, atas nama women right, kemudian mereka single parent, pokoknya saya mau beli sperma, saya nga mau suami, ia bilang soal haknya dia, tapi hak anak gimana, ini sudah keluar dari norma,” katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah baru-baru ini.

Gerakan Perempuan Tak Boleh Mereduksi Makna Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gerakan Perempuan Tak Boleh Mereduksi Makna Kemanusiaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gerakan Perempuan Tak Boleh Mereduksi Makna Kemanusiaan

 

Dijelaskannya, diantara para pejuang hak perempuan, ada yang dikategorikan sebagai women liberation. Mereka berusaha memperjuangkan hak-hak perempuan sebebas-bebasnya, tanpa memperdulikan nilai dan norma yang ada.

“Norma-norma itulah yang menjadikan ada peradaban dan budaya. Jadi yang tidak dimiliki dia, berarti bukan manusia,” imbuhnya.

Beberapa isu yang diperjuangkan oleh kelompok ini atas nama women right dan atas nama reproductive right adalah legal aborsion. Menurutnya, hal ini dalam ajaran Islam sudah keluar dari syariah sehingga harus dijaga. Aborsi diperbolehkan pada saat janin itu mengganggu keselamatan. Pengecualian tetap dimungkinkan sesuai dengan aturan, ada aturan agama, norma, susila.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya terserah mau dibilang sok moralis, sok apa-sok apa, tetapi itulah yang membedakan manusia dan yang tidak manusia, jangan mereduksi makna kemanusiaan itu sendiri,” tandasnya.

Makna kemanusiaan, menurut Mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan ini tak boleh direduksi atas nama kebebasan tanpa batas. “Menempatkan perempuan sebagai bagian dari penerus budaya, penerus peradaban itu menjadi penting. Kalau ada pola-pola yang kita tahu menerabas dan itu dibiarkan, merusak peradaban manusia itu sendiri, juga dilestarikan, ya saya berbeda dengan mereka,” tegasnya.

Mengenai hubungan antara laki-laki dan perempuan, Khofifah berpendapat sifatnya fungsional saja, seusia dengan peran dan fungsi yang harus diembannya. Ada saatnya, suami sakit dan istri yang harus mencari uang untuk keluarga.

“Menurut saya bagaimana dibangun kesetaraan dalam posisi mutual understanding. Ya mereka harus memahami posisi masing-masing, tidak harus memaksakan. Mbok meskipun suaminya penjudi, peminum, pemakai narkoba, pokoknya dia kepala keluarga, apa keputusan yang mau diambil, yang benar saja,” paparnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dijelaskannya, saat ini berdasarkan data perceraian tahun 2005 yang merupakan data terbaru yang bisa diakses tahun 2007 dari Dirjen Bimas Islam, terdapat kecenderungan gugat cerai yang sangat tinggi.

Di Makassar gugat cerai mencapai 85 persen, Jakarta ini 75 -80 persen,? Surabaya 80 persen, Bandung justru 65 persen. Di Semarang 70 persen, Medan 75 persen, dan di Cilacap 80 persen. Ada 13 item yang menjadi penyebabnya yang diantaranya suami poligami, kedua suaminya tidak bertanggung jawab, ketiga, persoalan ekonomi dan ke 13 persoalan beda partai.

“Ini yang saya apal. Ini kalau tidak ditelaah bisa berbahaya lho, menyangkut ketahanan keluarga. Janganlah bilang ketahanan nasional kalau keluarganya rentan seperti ini,” katanya.

Menurutnya, ini adalah problem serius dan masing-masing fihak yang terkait dengan ketahanan keluarga harus memberikan respon. “Harus direspon supaya ada refleksi dari masing-masing individu dan keluarga. Ini jangan dianggap remeh. Dan di Muslimat, ini tak omongno di berbagai tempat. Bapak-bapak jagalah keluarga, jangan cuma ibu-ibu yang disuruh jaga keluarga,” tandasnya. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 07 Oktober 2013

Kiai Masdar Farid Mas’udi: FDS Lebih Besar Mudharatnya

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sikap tegas penolakan terhadap pelaksanaan full day school (FDS) ditunjukkan oleh pelbagai pihak. Selain sikap tegas penolakan berbentuk unjuk rasa dan aksi damai di sejumlah daerah, sikap tegas juga ditunjukkan oleh Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi saat ditemui di Gedung PBNU Jakarta, Jumat (11/8).

Kiai Masdar Farid Mas’udi: FDS Lebih Besar Mudharatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar Farid Mas’udi: FDS Lebih Besar Mudharatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar Farid Mas’udi: FDS Lebih Besar Mudharatnya

Menurut Kiai Masdar, pelaksanaan full day school akan menyebabkan mudharat (kerugian) yang lebih besar di kalangan masyarakat daripada kemaslahatan (kebaikan)-nya

"Selain terbukti telah menimbulkan polemik, full day school juga akan berpotensi mematikan eksistensi Madrasah Diniyah yang selama ini terbukti berkontribusi dalam memerangi radikalisme," jelas Kiai Masdar.

Kebijakan, lanjut Kiai Masdar, harusnya didasarkan pada basis pengkajian yang komprehensif sehingga seminimal mungkin tidak menimbulkan polemik.?

"Jangan sampai sebuah kebijakan justru kontraproduktif dan cenderung membuat kegaduhan. Maka menurut saya full day school ini sebaiknya dibatalkan saja," jelas penulis buku Syarah Konstitusi: UUD 1945 Perspektif Islam ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu sampai saat ini gelombang penolakan demi penolakan terus dilakukan di pelbagai daerah. Sikap resmi juga ditunjukkan oleh Pengurus Wilayah dan Cabang di Jawa Timur dan Jawa Tengah. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, Lomba, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 05 Oktober 2013

Darurat Radikalisme, PBNU Dukung Revisi UU Terorisme

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua PBNU Robikin Emhas berpandangan, Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2013 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme yang ada sekarang belum dapat menjangkau berbagai tindakan yang jelas-jelas mengarah dan merupakan fase terwujudnya aksi terorisme.

Darurat Radikalisme, PBNU Dukung Revisi UU Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Darurat Radikalisme, PBNU Dukung Revisi UU Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Darurat Radikalisme, PBNU Dukung Revisi UU Terorisme

“Misalnya WNI (warga negara Indonesia) yang ikut pelatihan perang di luar negeri oleh kelompok terduga terorisme. Bahkan WNI yang teridentifikasi bergabung dengan ISIS dan melakukan aksi teror di luar negeri pun sekembalinya di Indonesia tidak dapat disentuh berdasarkan UU Terorisme yang ada sekarang ini,” katanya Kamis (21) malam.

Ia juga melihat otoritas negara yang berwenang mencegah dan menindak pelaku teror belum terkoordinasi dengan baik. Untuk itu, dalam revisi UU Terorisme, kata Robikin, harus memastikan terjaminnya fungsi koordninasi antara Polri, TNI, BIN dan BNPT.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun demikian, revisi UU Terorisme tidak boleh melampaui batas kewenangan yang dijamin konstitusi. Apalagi berpotensi terancamnya kebebasan sipil dan kebebasan berpendapat warga negara. “Demikian halnya, law enforcement di bidang terorisme harus tetap menjunjung tinggi dan menjamin dipenuhi? hak-hak dasar terduga teroris ketika sedang dalam proses hukum (due process of law),” imbuhnya dalam siaran pers.

Menurutnya, perlu ditegaskan bahwa revisi UU Terorisme juga tidak berarti memberikan kewenangan kepada lembaga inteligen seperti BIN untuk melakukan tindakan polisionil berupa penangkapan, misalnya. “Biarkan tugas semacam itu tetap melekat pada institusi Polri,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua PBNU Bidang Hukum ini menjelaskan, dukungan terhadap revisi UU Terorisme bukan merupakan reaksi emosional terhadap peristiwa bom Sarinah. Sebab, dalam pandangan PBNU, Indonesia saat ini senyatanya sudah boleh dibilang berada dalam kondisi darurat radikalisme dan dalam batas-batas tertentu terorisme.

Padahal, menjaga keselamatan jiwa bukan saja merupakan amanat konstitusi atas warga negara, tetapi sekaligus merupakan maqasid syariah (tujuan pokok doktrin Islam). “Sekaitan hal itu, PBNU mendukung penuh revisi UU Terorisme apabila dimaksudkan sebagai upaya untuk mengefektifkan langkah pencegahan dan penindakan terhadap aksi terorisme dan bukan untuk maksud dan kepentingan yang lain,” tutur Robikin. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jadwal Kajian, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 21 September 2013

Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian

Margoyoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sejumlah mahasiswa baru jurusan Pengembangan Masyarakat Islam (PMI) dibekali penguatan pemahaman tentang kaprodian dan prospek lulusan oleh ketua jurusan di auditorium kampus Staimafa, Senin (5/10).

Faiz Aminudin selaku ketua jurusan PMI menjelaskan bahwa mahasiswa baru perlu dibekali dengan penguatan, pemantapan, dan keyakinan dalam memilih kaprodian agar mahasiswa tidak salah dalam memilih jurusan. Dan meyakinkannya bahwa jurusan yang  telah dipilih sudah sesuai dengan niat pertama, terangnya.

Bekali Mahasiswa  Baru dengan Penguatan Kaprodian (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekali Mahasiswa Baru dengan Penguatan Kaprodian

Selain itu, menurutnya jurusan PMI terbilang sangat unik dan berbeda dengan jurusan lainnya. Karena semua mata kuliah jurusan PMI sudah disesuaikan dengan kebutuhan di masyarakat. dan lebih banyak dalam melakukan praktek di lapangan sehingga dengan dibekali praktek di lapangan, mahasiswa diharapkan mampu melakukan pendamping dan pemberdayaan di masyarakat agar masyarakat bisa berdaya dan sejahtera.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia menambahkan bahwa ouput lulusan jurusan PMI adalah sebagai fasilitator, pengabdian di masyarakat, pekerja sosial serta bisa masuk dalam ranah dinas sosial untuk melakukan pendampingan dan program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat seperti BUMdes, PNPM dan dana kesejahteraan sosial lainnya, tandasnya.

Lumatun Nadzifah, selaku ketua panitia pelaksanaan  menjelaskan bahwa kegiatan yang dikemas dalam forum saresehan dan  silaturrahim mahasiswa ini bertujuan untuk memantapkan dan meyakinkan mahasiswa dalam memilih jurusan dan untuk mengetahui output lulusan  mahasiswa, tambahnya. (Siswanto El Mafa/Mukafi  Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Ahlussunnah, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 07 Agustus 2013

Jangan Mengolok Hanya karena Berbeda Pilihan

Rasanya, kebisingan Pilkada Jakarta belum lenyap di dalam memori otak kita. Riuhnya masih terasa segar dalam benak. Hanya karena berbeda pilihan, seseorang Muslim seolah berhak menjadikan atas orang lain yang juga jelas-jelas Muslim sebagai sasaran olok-olok, caci maki semaunya sendiri, bahkan melarang jenazahnya dishalati.

Terlepas dari sudut pandang perbedaan pendapat ulama dalam memilih pemimpin, hukum menyakiti saudara Muslim adalah dosa besar sebagaimana yang pernah dikatakan oleh Habib Umar bin Hafidz, Hadramaut, Yaman.

Jangan Mengolok Hanya karena Berbeda Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Mengolok Hanya karena Berbeda Pilihan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Mengolok Hanya karena Berbeda Pilihan

Tidak ada dalil yang memperbolehkan orang Muslim menyakiti saudaranya yang lain walaupun orang tersebut telah melakukan dosa besar. Sehingga ketakutan atas olok-olok itu bisa menjadikan orang lain takut atas keburukan tindakan kita. "Kalau kita tak memilih yang sama dengan dia, jangan-jangan kita nanti akan dicemoooh". Ketakutan orang lain terhadap kita sebab perkara demikian berbahaya.

Dalam shahih Bukhari, Nabi Muhammad SAW pernah dimintai izin seseorang untuk bertamu. Beliau mempersilakan. Sebelumnya Nabi sudah mengatakan kepada Aisyah bahwa yang datang kali ini adalah orang paling buruk.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun anehnya justru setelah orang itu masuk dan kemudian duduk bersama Rasul, Baginda Nabi ini tidak menampakkan muka masam, marah. Padahal Nabi tahu siapa sebenarnya orang yang ia hadapi ini. Nabi Muhammad menghadapi tamunya dengan wajah penuh ramah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sontak, kejadian ini mengagetkan istri termuda beliau. Bagaimana mungkin, kata Rasul tadi, orang ini adalah pria yang buruk, tapi mengapa malah beliau bersikap lembut saat menghadapinya?

Saat perasaan Aisyah ini diungkapkan pada Rasul setelah tamu ini pulang, Rasulpun menjawab:

 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: Hai Aisyah, kapan engkau menemukanku melakukan hal-hal yang buruk? Sesungguhnya orang paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah orang yang ditinggalkan oleh masyarakat karena mereka takut atas sikap buruk orang tersebut. (Shahih Al Bukhari, 457)

Abdur Rauf Al Munawi dalam kitab Fathul Qadir menjelaskan, orang yang ditakuti ini bisa jadi ditakuti karena ucapan ataupun sikapnya yang buruk melewati batas syara sehingga menjadikan orang lain takut.

Begitu pula dalam pandangan dalam memilih pemimpin. Siapa pun pemimpin yang dipilih oleh saudara kita, kita hanya boleh mengajak dalama level dakwah atau maksimal pada level amar maruf nahi munkar. Namun tidak diperbolehkan mencela, menghardik, menebar fitnah atau isu yang menyakitkan hati umat Islam yang lain.

Demikianlah cara Rasulullah menghadapi orang yang tidak baik. Beliau tidak menghardik, mengancam, ataupun mengumpat. Beliau berwajah ramah penuh senyum. Dengan begitu, siapa pun orangnya, seburuk apa pun perangainya, tak ada satu pun orang yang takut kepada Rasul karena khawatir akan disikapi buruk oleh Rasul. Para sahabat takut kepada baginda Nabi karena segan mereka atas kemuliaan akhlak Nabi bukan sebab takut diperlakukan jahat oleh Nabi.

Dalam satu riwayat dikisahkan, saat Rasul memberi taushiyah, semua sahabat duduk diam dengan wajah tertunduk, seolah di atas masing-masing kepala mereka ada burung yang hinggap. Ini saking khusyuk mereka atas kewibawaan Nabi. Kecuali hanya dua sahabat yang berkepala tegap, yaitu Abu Bakar dan Umar. Selain sahabat, keduanya merupakan mertua Nabi. Di saat Nabi berceramah, ketika kebetulan bertatapan dengan di antara dua sahabat ini, mereka masing-masing melempar senyum. (Ahmad Mundzir)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 06 Agustus 2013

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Semarang mengadakan konferensi cabang (Konfercab), 23-24 Agustus 2014, di Gedung Serbaguna PCNU Kota Semarang, Jawa Tengah. Konfercab ke-36 ini akan diawali dengan seminar nasional.

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab PMII Semarang Teguhkan Aswaja di Kampus

Siswoyo selaku ketua panitia menyampaikan, tema konfercab yang diangkat kali ini adalah "Meneguhkan Gerakan Ahlussunah wal Jamaah dalam Dunia Kampus". Sementara forum seminar akan menghadirkan dosen Universitas Diponegoro, Hasyim Asyari; Dr. Arja Imroni, Sekretaris PWNU Jateng; dan Kapolrestabes Semarang.

Forum konfercab juga akan menyinggung berbagai permasalahan baik pada lingkup lokal, nasional, maupun global. PMII didorong untuk menunjukkan partisipasinya dalam penyelesaian persoalan di masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tidak hanya peran dan fungsi PMII yang harus berjalan dengan baik, pergantian pengurus juga wajib berjalan dengan periodik, tidak mengalami panjangnya masa kepengurusan,” tambah Siswoyo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karena itu, konfercab ini juga menjadi ajang pergantian pengurus. Dari banyak perguruan tinggi di Semarang, hanya tujuh Pengurus Komisariat (PK) PMII yang akan menentukan ketua baru cabang mereka.

Ketujuh PK PMII tersebut antara lain PK PMII Sultan Agung (Unissula), PK PMII Galang Sewu (Polines), PK PMII Diponegoro (Undip), PK PMII Al-Ghozali (Unnes), PK PMII IKIP PGRI (Universitas PGRI), dan PK PMII Wahid Hasyim (Unwahas). Perwakilan dari masing-masing komisariat ini nanti yang akan memilih pemimpin baru menggantikan Ahmad Junaidi. (Mukhamad Zulfa/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Fragmen, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 29 Juli 2013

Buku KH Saifuddin Zuhri Tersebar di 100 Perpustakaan Jepang

Tokyo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH Saifuddin Zuhri, Menteri Agama tahun 1962-1967, pernah menjabat sebagai Sekjen PBNU dikenal sebagai penulis produktif. Salah satu karyanya berupa buku berjudul "Guruku Orang-orang dari Pesantren".

Buku biografi yang bercerita tentang kehidupan pesantren ini kali pertama diterbitkan pada tahun 1974 oleh Penerbit Al-Ma’arif Bandung. Buku ini sempat fenomenal sehingga dicetak beberapa edisi dalam tiga dasawarsa. 

Buku KH Saifuddin Zuhri Tersebar di 100 Perpustakaan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Buku KH Saifuddin Zuhri Tersebar di 100 Perpustakaan Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Buku KH Saifuddin Zuhri Tersebar di 100 Perpustakaan Jepang

Ternyata buku ini diminati di kalangan akademisi di Jepang. Terbukti buku ini dialihbahasakan dan diterbitkan dalam bahasa Jepang.



Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fakta ini terungkap saat Menag Lukman Hakim Saifuddin berkunjung ke Perpustakaan Universitas Chuo di Tokyo, Jepang. Buku edisi bahasa Jepang itu diterbitkan dengan sampul warna hijau kekuningan dan menjadi koleksi perpustakaan Universitas Chuo yang lengkap dan luas.

Profesor Kato, Guru Besar Antropologi di kampus Chuo mengungkapkan buku itu dianggap penting oleh para akademisi di Jepang. Sedikitnya 100 perpustakaan di Jepang punya koleksinya.

Menag Lukman terharu dan sekaligus senang mendengar dan mendapati fakta ini. Menag mengaku sudah lama mendengar informasi terkait penerbitan buku Kyai Saifuddin Zuhri oleh pihak Jepang. Namun baru kali ini melihatnya dengan mata kepala sendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya sungguh berterima kasih, ternyata buku ini sangat dihargai oleh kalangan akademisi di Jepang. Terus terang saya surprise," katanya di Tokyo, Selasa (14/11)



Kontan saja Menag memfoto buku itu. Kemudian oleh pihak kampus dia diminta untuk membubuhkan tanda tangan di buku itu.

Sekedar diingat, kyai Saifuddin Zuhri adalah sosok santri yang berjasa mengangkat nama pesantren ke pentas nasional lewat kiprahnya. 

Selain menjadi pejabat tinggi negara, tokoh NU ini rajin mengangkat suara kaum santri. Buku berjudul "Guruku Orang-orang dari Pesantren" menjadi tonggak tersendiri. 

"Sebelumnya orang-orang pesantren malu mengakui latar belakangnya. Namun setelah terbitnya buku ini kaum santri lebih percaya diri mengungkapkan latar belakang kepesantrenannya," kata Menag Lukman yang juga putra Kiai Saifuddin Zuhri. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 28 Juli 2013

Seminar Nasional Bersarung

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kain sarung dari berabad-abad lalu bukan hanya menjadi simbol perlawanan kolonialisme, tetapi juga telah menjelma menjadi simbol dan identitas budaya Nusantara. Selain itu, sarung yang identik dengan santri juga mampu membentuk akhlak luhur sebab secara nyata digunakan untuk beribadah, ngaji, dan kegiatan-kegiatan positif lainnya.

Hal itu mengemuka dalam Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Kamis (6/4) di Gedung PBNU Jakarta bertajuk Sarung sebagai Identitas Budaya Indonesia. Dalam acara tersebut, bukan hanya sebagian peserta seminar yang mengenakan sarung, tetapi sarung juga mengikat di pinggang para narasumber utama yang mengisi acara itu.

Seminar Nasional Bersarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Seminar Nasional Bersarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Seminar Nasional Bersarung

LTM PBNU mengundang narasumber di antaranya Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto, Budayawan yang juga Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, dan Guru Besar UIN Maulana Malik Ibrahim Malang Imam Suprayogo. Mereka secara bergantian mengurai makna sarung dari berbagai perspektif.

Imam Suprayogo yang menjadi pembicara pertama mengungkapkan bahwa sarung mempunyai banyak fungsi ketika dipakai oleh seseorang. Ia mencontohkan santri di pesantren yang selama ini lekat dengan sarung di berbagai kegiatannya di pesantren.

“Jika sudah memakai sarung, maka tidak perlu memakai celana karena ia sudah bisa menggantikan celana. Sarung juga bisa menggantikan selimut, maka dari itu tidak ada santri yang memakai selimut. Sarung itulah selimut mereka,” papar mantan Rektor UIN Malang ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menerangkan, sarung yang dipakai santri dan masyarakat Indonesia pada umumnya tidak hanya berhasil menjadikan identitas budaya, tetapi juga mampu menumbuhkan akhlak baik karena selain sarung juga dipakai oleh orang-orang mulia seperti kiai, ia juga mampu menundukkan santri dari hal-hal negatif sebab identitas kesantriannya yang melekat saat memakai sarung.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbeda dengan Imam Suprayogo, Dedi Mulyadi mengurai sarung secara filosofis, terutama dalam perspektif Budaya Sunda. Dia mengartikan sarung dengan mengurai kata “Sa” dan “Rung”.

“Sa dalam bahasa Sunda berarti tidak terbatas, berlebihan. Ini sifat dasar manusia yang di dalam dirinya mengandung tanah, air, udara, dan api. Sudah mempunyai sertifikat tanah, tetapi manusia terus ingin memperlebar kepemilikan tanahnya,” ujar Kang Dedi, sapaan akrabnya.

Begitu juga dengan air, imbuhnya, manusia mempunyai kecenderungan memompa air sebanyak-banyaknya, padahal yang diminum hanya dua gelas. Menurutnya, udara dan api juga sama yang jika dimanfaatkan atau dikuasai secara belebihan akan mendatangkan bencana.

“Sebab itu diteruskan dengan kata ‘Rung’, artinya dikurung. Segala ketamakan manusia yang terdapat dalam keempat unsur tersebut berusaha dibatasi atau dikurung,” jelas Kepala Daerah mempunyai misi penguatan seni dan budaya Indonesia dalam tata kelola pemerintahannya ini.

Sementara itu, Ketua Lesbumi PBNU KH Agus Sunyoto memaparkan sarung secara historis. Ia menungkapkan bahwa sebetulnya sarung lahir dari bangsa Yaman. Tetapi bangsa Indonesia berhasil memodifikasi sarung sesuai dengan identitas lokal masing-masing dari orang-orang Nusantara sejak dulu.

Sebab itu, kain sarung yang lahir dari sejumlah suku di Indonesia mempunyai nama-nama yang berbeda seperti di antaranya Songket yang banyak diproduksi di sejumlah daerah, Ulos di Sumatera Utara, Tapis di Lampung, dan sarung tenun yang terdapat di berbagai wilayah di Indonesia. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 07 Juli 2013

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Dalam rangka memuaskan pasangan antara suami istri, Islam membebaskan trik dan gaya bercinta antara keduanya selama tidak bertentangan dengan aturan syariat. Termasuk pula dalam melakukannya dengan gaya oral seks. Hal ini tidak termasuk larangan dalam agama.

Baca: Hukum Oral Seks di Bagian Kewanitaan

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Orang yang melakukan oral, sebagian dari mereka, sudah banyak yang dalam kondisi ereksi atau tegang sehingga tidak jarang para pasangan suami-istri ini sudah mengeluarkan pelumas berupa cairan bening atau biasa disebut dengan istilah madzi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jika ditelisik lebih dalam, selain air kencing, ada tiga jenis air yang keluar dari kemaluan manusia. Pertama, air sperma (mani). Sperma bisa diidentifikasi dari salah satu beberapa cirinya, yaitu keluar dengan memancar dan tersendat, ada bau yang khas seperti adonan roti/kue, terasa nikmat saat air itu keluar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, air wadi, yaitu air keruh, kental yang biasa keluar setelah orang mengeluarkan air kencing mungkin disebabkan faktor capai atau hal lain.

Ketiga, air madzi, yaitu air bening yang keluar dari kemaluan, baik dari seorang pria maupun wanita yang biasanya disebabkan karena faktor syahwat. Baik disebabkan karena membayangkan, melihat atau sedang pemanasan (foreplay).

Di antara semua air yang keluar tersebut hukumnya najis kecuali sperma. Seseorang yang mengeluarkan sperma, wajib mandi. Sedangkan wadi dan madzi hanya mewajibkan wudhu, tidak harus mandi, serta harus dibersihkan sebagaimana membersihkan najis seperti biasanya.

Bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan intim, tentu sangat kesulitan jika harus menghindari madzi ini. Karena madzi memang diciptakan Allah untuk melengkapi kegiatan jima yang dilegalkan dalam syara bagi pasangan yang sah. Ia menjadi pelumas untuk sebuah lancarnya hubungan senggama.

Padahal apabila kita melihat fiqih dasarnya, ada sebuah aturan bahwa seseorang tidak diperkenankan mengotori tubuh dengan najis tanpa ada alasan yang jelas, apalagi memasukkan najis tersebut ke dalam tubuh, tentu tidak diperbolehkan.

Madzi merupakan cairan najis. Ia berlaku hukum yang sama. Artinya tidak boleh sampai masuk ke dalam tubuh, termasuk masuk ke kelamin seorang istri. Tetapi karena hal ini sangat sulit dihindari, maka syara memberikan toleransi sehingga madzi bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan suami-istri hukumnya dimafu (diampuni).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tempat sucinya sperma itu jika memang kepala batang dzakar dan farji yang keluar murni berupa mani yang suci. Jika tidak murni suci, hukumnya (mani itu) najis dan haram bersenggama dengan kondisi seperti demikian sebagaimana orang orang istinja dengan batu ketika air sperma keluar dari situ. Karena hal itu menjadikan najis. Iya, diampuni dari orang yang kesulitan menghindari hal tersebut dengan nisbat untuk jima,” (Lihat Ianatuth Thalibin, juz I, halaman 85).

Hukum mafu hanya mempunyai arti diampuni, tidak mengubah status najis menjadi suci. Maksudnya najis tetap najis, tidak bisa berubah menjadi suci. Madzi itu najis. Selamanya, hukum madzi tetap najis. Tidak bakal berubah menjadi suci. Hanya saja, bagi suami istri yang sedang bercinta, cairan ini diampuni. Sedangkan madzi jika dalam kondisi selain jima, hukumnya tetap najis.

Contoh, darah nyamuk yang sedikit itu hukumnya najis, tetapi dimafu jika terkena tubuh atau pakaian. Ini dinisbatkan untuk shalat. Jadi orang yang tangannya terkena darah nyamuk, boleh langsung melaksanakan shalat tanpa harus membersihkan darah tersebut karena dimafu.

Diampuninya darah pada tangan untuk shalat ini tidak berlaku apabila tangan yang terkena darah nyamuk kemudian dicelupkan ke dalam air satu gelas untuk kemudian diminum. Jika dicelupkan ke dalam air segelas, semua air dalam gelas menjadi najis. Ia dimafu untuk shalat namun tidak dimafu untuk diminum.

Kembali tentang pembahasan madzi. Madzi merupakan kebutuhan wajib bagi pasangan senggama dan sangat sulit menghindarinya. Oleh karena itu hukumnya dimafu. Tetapi dimafunya ini tidak berlaku jika madzi masuk mulut bagi orang yang melakukan oral seks. Karena mulut itu bukan tujuan utama orang bercinta yang madzi tidak diciptakan untuk menjadi pelumas mulut, namun pelumas vagina.

Di sinilah alasan sebagian ulama yang tidak memperbolehkan oral seks itu karena hampir pasti akan ada pelumas yang masuk ke mulut. Ini tidak boleh.

Adapun ulama yang memperbolehkan oral seks, mereka tidak melihat dari sudut pandang najis tidaknya madzi. Mereka lebih melihat pada hukum dasar bahwa hal tersebut diperbolehkan tanpa memandang hukum madzi. Mungkin saja ada orang yang hubungan senggamanya kering sehingga ia tidak punya madzi. Jadi tidak mempunyai alasan untuk melarang hubungan oral seks.

Kesimpulannya, pertama, madzi atau air lubricant yang diproduksi tubuh hukumnya najis tetapi dimafu jika masuk ke vagina istrinya karena hal ini sangat susah untuk dihindari.

Kedua, oral seks diperbolehkan namun tidak boleh mengabaikan hukum bahwa madzi atau cairan yang masuk ke mulut hukumnya adalah najis. Ia dimafu jika masuk ke liang vagina saja. Jika masuk ke mulut, itu bukan keadaan yang sulit dihindari, maka hukumnya tetap najis tidak dimafu.

Ketiga, pasangan yang ingin melakukan hubungan oral seks bisa memakai kondom yang suci supaya yang masuk ke mulut adalah benda suci. Jika tidak memakai kondom, apabila ada najis yang masuk ke mulut, harus segera dikeluarkan kembali, tidak boleh ditelan. Setelah itu mulutnya harus disucikan secepatnya dengan mekanisme pembersihan najis sebagaimana pada umumnya yaitu dengan berkumur dan lain sebagainya. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 29 Juni 2013

Fatayat NU Jombang Pilih Kembali Ema Umiyyatul Chusnah

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 21 pimpinan anak cabang Fatayat NU di Jombang memilih Ema Umiyyatul Chusnah, acap disapa Ning Ema, untuk melanjutkan kepemimpinan cabang Fatayat NU Jombang lima tahun mendatang dalam konferensi cabang di Hotel Yusro Jombang, Jawa Timur, Ahad (22/12).

Awalnya, usai demisioner kepengurusan 2008-2013, pimpinan sidang dari PW Fatayat NU Jawa Timur melanjutkan dengan pemilihan calon ketua. Namun para peserta konferensi menginginkan kepemimpinan Ning Ema dilanjutkan untuk lima tahun mendatang.

Fatayat NU Jombang Pilih Kembali Ema Umiyyatul Chusnah (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jombang Pilih Kembali Ema Umiyyatul Chusnah (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jombang Pilih Kembali Ema Umiyyatul Chusnah

Akhirnya proses pemilihan tidak dilanjutkan karena 21 pimpinan PAC memberikan pandangan mendukung kepemimpinan Ning Ema.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat sambutan pembukaan Konferensi XIV Fatayat NU Jombang, Ketua PCNU Jombang H Isrofil Amar menyatakan kebanggaannya atas kerja Fatayat NU Jombang. "Ternyata kiprah PC Fatayat NU Jombang telah tersebar di internet," kata H Isrofil yang sebelum hadir sempat membuka berita via internet.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua PW Fatayat NU Jawa Timur Hikmah Bafagih mengharapkan ada regenerasi dan pembagian peran secara proporsional bagi aktifitas kepengurusan. "Jangan hanya mengandalkan satu orang, dengan tidak membagi peran dengan pengurus yang lain.”

Ning Ema yang juga salah seorang unsur dewan pengawas di pesantren Bahrul Ulum Tambakberas ini menyatakan, Fatayat NU di Jombang merupakan kekuatan yang tidak sederhana jika diukur dari indikator jumlah anggota yang tersebar di seluruh wilayah kota santri.

“Sedikitnya terdapat 20 ribu orang perempuan potensial di Jombang,” catat Ning Ema, salah seorang cucu KH Abdul Wahab Chasbullah. (Saiful/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 30 Mei 2013

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu

Karanganyar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menjelang datangnya bulan Ramadhan, kalangan abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta yang diutus langsung oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X mengadakan Upacara Labuhan di Gunung Lawu, Jumat (30/5) sore. Dipilihnya Gunung Lawu sebagai lokasi upacara karena dulu sempat dijadikan tempat pertapaan para Raja Mataram.

Dalam Upacara Labuhan ini, juru kunci Gunung Lawu dipasrahi ubo rampe atau sesaji oleh para abdi dalem Keraton Kasultanan Yogyakarta. Ubo rampe tersebut dimaksudkan sebagai lambang terima kasih kepada Allah swt. yang memberi keberkahan bagi masyarakat setempat.

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang Ramadhan, Ada Upacara ‘Labuhan’ di Puncak Lawu

Tradisi ini rutin dilakukan setiap tanggal 30 Rajab atau sebulan sebelum memasuki bulan Ramadan. “Ini juga sebagai ungkapan syukur kepada leluhur yang telah membantu berjuang untuk Kerajaan Mataram di masa lalu,” kata Abdi Dalem Widyo Budoyo, Kanjeng Mas Tumenggung Hardoyudo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Abdi dalem telah menyiapkan ubo rampe yang dimasukkan dalam dua kotak kayu berwarna merah yang bertuliskan Redi Lawu Kanemah dan Redi Lawu Kasepuhan. Selain ubo rampe, juru kunci gunung setinggi 3.265 meter ini juga diberikan kain adat jawa oleh abdi dalem.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah diterima, aneka ubo rampe dibawa ke Pepunden di Dusun Nano, Desa Tawangmangu, Kecamatan Tawangmangu untuk diarak bersama warga setempat. Untuk kemudian tepat pada pertengahan malam, dibawa naik ke puncak Lawu.

Kepala Lingkungan Dusun Nano, Surono mengaku senang bisa menyambut para utusan Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Ini memang sebuah tradisi yang harus dipertahankan,” tuturnya. (Rodif/Ajie/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 Mei 2013

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Saat kelas dua madrasah aliyah A Hisyam Karim (39) secara tidak sengaja membaca buku Filsafat Eksistensialisme. Rupanya buku filsafat itu membuatnya tertarik untuk mempelajari filsafat lebih lanjut.

"Sejak saat itu saya berpikir filsafat itu menarik dan ingin mempelajari lebih dalam lagi," kata Hisyam di Subang. Jumat (20/5).

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Jawab Kegelisahan Karena Mentah Belajar Filsafat

Setelah lulus aliyah pada tahun 1995, ia melanjutkan kuliah di Jurusan Dakwah Fakultas Ushuludin Universitas Islam Bandung (Unisba). Dua tahun kemudian, keinginan untuk mempelajari filsafat membuat Hisyam pindah kuliah ke Jurusan Aqidah Filsafat IAIN Jakarta.

"Saat mondok hanya disajikan satu kebenaran saja, tapi pas kuliah di filsafat ternyata kebenaran itu banyak. Makanya dulu teman saya ada yang pakai salib, tidak sholat dan lain-lain karena punya landasan berpikir tersendiri," tambah pendiri Forum Studi M@kar (Manbaul Afkar) Ciputat itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah lama berkecimpung dalam dunia filsafat, muncul kegelisahan dalam batinnya karena diakuinya filsafat untuk konsumsi akal. Sementara hati yang menjadi tempat aneka rasa tidak terisi sehingga batinnya menjadi hampa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hisyam melanjutkan, setelah lulus kuliah pada tahun 2004 Hisyam sering sowan kepada Kiai Nawawi yang merupakan sahabat bapaknya. Kemudian pada tahun 2009, Hisyam memberanikan diri untuk bercerita kepada Kiai Nawawi tentang kegelisahan batinnya.

"Saat itu dengan sikap tawadlu Kiai Nawawi mengantar saya ketemu kakaknya, Kiai Sayuti," ungkapnya.

Hisyam menceritakan, Kiai Sayuti adalah seorang mursyid Tarekat Syattariyah dan Kiai Nawawi adalah khalifahnya. Saat bertemu dengan Kiai Sayuti, Hisyam langsung dibaiat menjadi murid Tarekat Syattariyah.

"Setelah dibaiat, sambil salaman. Alhamdulillah, usai salaman dengan Kiai Sayuti kegelisahan batin yang mengendap dalam diri saya langsung hilang saat itu juga, langsung plong," jelas alumni Pascasarjana STAINU Jakarta yang menulis tesis tentang Peran Kiai Sayuti dalam Menyebarkan Tarekat Syattariyah Itu.

Hisyam mengakui, filsafat memang penting untuk dipelajari karena berdasarkan pengalamannya, dengan mempelajari filsafat manusia bisa berpikir terbuka namun tetap kritis sehingga dalam menerima pemikiran tidak menelan mentah-mentah.

"Selain itu juga dengan belajar filsafat kita bisa berusaha untuk bersikap adil. Kita juga bisa menemukan solusi aneka masalah dengan menggunakan teori-teori filsafat, dan masih banyak lagi tentunya," jelas Hisyam yang saat ini menjabat Ketua NU Caracas itu.

Namun demikian, menurut Hisyam, dalam mempelajari filsafat sebaiknya dibarengi juga dengan mengamalkan ajaran tasawuf seperti masuk salah satu tarekat mutabarah. Hal ini dilakukan untuk menyeimbangkan antara kebutuhan akal dan kebutuhan hati.

"Sekali lagi saya tegaskan, ini subjektif pengalaman pribadi saya, tentu yang lain juga punya pengalaman sendiri," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Nahdlatul Ulama, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 04 Mei 2013

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Jaringan Lintas Iman Nusantara menggelar "Silaturahmi dan Dialog Kultural" di food court Denala, Jombang, Jawa Timur. Temanya, "Meneguhkan Indonesia Sebagai Rumah Bersama". Pada kesempatan itu, Ketua Umum Aliansi Nasional Bhineka Tunggal Ika (ANBTI) Nia Sjarifudin mengingatkan negara melalui aparaturnya harus paham Pancasila.

"Apakah saat ini aparatur negara paham Pancasila atau tidak? Jika tidak ini menjadi persoalan," ujar dia, Sabtu (1/8) malam terkait tumbuhnya fenomena perlawanan-perlawanan terhadap Bhineka Tunggal Ika.

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum ANBTI: Negara Harus Paham Pancasila

Pada kegiatan dimoderatori Aan Anshori dari Gusdurian Jawa Timur itu, Nia menegaskan keberagaman ialah takdir Tuhan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Siapa berani melawan Tuhan yang telah menggariskan keberagaman? Cara kita berpikir dan berkelakuan itu juga harus arif. Agama tidak boleh mendominasi kepentingan publik, konstitusi kita menyebut setiap orang, apapun latar belakangnya. Tantangan bangsa Indonesia saat ini ialah kecerdasan kita harus lebih menang dari puritanisme," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejumlah aktivis Nahdlatul Ulama (NU) di beberapa tempat di Indonesia menegaskan Indonesia masih memerlukan Pancasila yang merupakan bagian dari 4 (empat) konsensus kebangsaan sebagai landasan dan pedoman untuk meyatukan berbagai elemen di tanah air ini. 

Indonesia, ujar Wakil Ketua II PC Fatayat NU Waykanan Provinsi Lampung Ponita Dewi, terdiri dari 1.128 suku bangsa dan bahasa, ragam agama dan budaya, lebih kurang 17.508 pulau yang membentang dari 6,08 LU - 11,15 LS dan 94,45 BT - 141,05 BT.

Konsepsi tentang dasar negara Indonesia dirumuskan dengan merangkum lima prinsip utama (sila) yang menyatukan dan menjadi haluan ke-Indonesiaan, yang dikenal dengan "Pancasila",  yang terdiri dari Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

"Karena itu, menjadi mengejutkan ketika masih ada kekerasan atas nama agama di Indonesia beberapa pekan lalu," ujar Ponita yang beberapa hari lalu diminta menjadi moderator Riungan (kumpulan) Kebangsaan dihelat Gusdurian Lampung dan sejumlah pihak berpandangan sama mengenai kebangsaan dan kemanusiaan.

Riungan Kebangsaan merupakan sinergi dan energi cinta untuk bangsa dari Gusdurian Lampung, alumni BPUN Way Kanan 2015, Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu), Pemuda Katolik, Gerakan Pemuda Ansor, Peradah, Yayasan Shuffah Blambangan Umpu, Palang Merah Indonesia (PMI), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), TP PKK dan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU).

Riungan Kebangsaan berisi donor darah dan diskusi kebangsaan membahas "Masih Perlukah Indonesia Dengan Pancasila?" dengan pembicara I Gede Klipz Darmaja dari Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia (Peradah) Lampung, lalu Andreas Sugiman dari Pemuda Katolik Way Kanan, Ketua PC Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) Nahdlatul Ulama (NU) Supri Iswan. 

Dengan menjadi moderator dalam acara itu, katanya, berarti ikut aktif dalam mensosialisasikan 4 (empat) konsensus kebangsaan, salah satunya adalah Pancasila. 

"Selain mendapatkan ilmu, secara otomatis ikut memberikan kesimpulan kemudian menggali lagi Pancasila. Riungan Kebangsaan mengingatkan kembali lima sila yang menjadi ideologi negara, yang mana nilai-nilai Pancasila tersebut harus kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari karena tanpa kita sadari nilai-nilai Pancasila itu sudah mulai luntur," papar Duta Genre (Generasi Berencana) Indonesia 2013 itu pula.

Adapun Presiden Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) HM Syaiful Bahri Anshori menegaskan,  4 (empat) pilar berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan Bhinneka Tunggal Ika harus disosialisasikan secara berkesinambungan.

"Sosialisasi empat Pilar Kebangsaan menjadi sangat penting dan urgen untuk selalu dilakukan secara sustainable, sistematis dan berkesinambungan sebagai refreshing dan reformating untuk menumbuh kembangkan kembali cita cita luhur para founding father kita tentang konsepsi pendirian negara kita, bahwa kita adalah bangsa yang besar dengan berbagai perbedaan, keberagaman yang harus disyukuri dan diikat dengan nilai-nilai empat  pilar yang telah diwariskan oleh para pendahulu kita," ujar anggota DPR RI dari PKB itu. (Gatot Arifianto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 28 April 2013

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin, Rembang, Jawa Tengah, KH Musthofa Bisri (Gus Mus) mengingatkan kepada para nasional untuk tidak mementingkan dirinya sendiri, melainkan sebaliknya, harus bisa memecahkan persoalan bangsa.

“Jadi pemimpin jangan hanya mementingkan diri sendiri saja, tetapi harus bisa memikirkan nasib bangsa ini,” kata Gus Mus dalam sambutannya pada acara tahlilan Tujuh Hari Wafatnya KH Yusuf Hasyim (Pak Ud) di Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Minggu (21/1) lalu.

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemimpin jangan Hanya Pentingkan Diri Sendiri

Menurut salah seorang anggota Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu, saat ini bangsa Indonesia sedang mengalami berbagai cobaan mulai dari bencana alam hingga beberapa peristiwa kecelakaan transportasi.

“Sayangnya ketika kita sedang dirundung cobaan seperti ini, sampai sekarang kita masih belum memiliki seorang pemimpin yang benar-benar bisa menyelesaikan persoalan ini. Para pemimpin masih memikirkan kepentingan dirinya sendiri,” ujar Gus Mus di depan sekitar tiga ribu massa yang menghadiri acara tersebut.

Oleh sebab itu, Gus Mus, meminta para pemimpin nasional harus bisa menauladani para pendahulu yang berjuang mempertaruhkan jiwa dan raga demi bangsa ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pendiri NU Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan Pak Ud (putranya) adalah orang yang sampai akhir hayatnya tidak pernah berhenti memikirkan bangsa. Orang-orang seperti inilah yang seharusnya kita tauladani bersama,” ujar budayawan dan penyair itu.

Ia mengungkapkan, Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari bersama beberapa ulama semasa hidupnya pernah mengikrarkan diri di depan Ka’bah sebelum pulang ke Tanah Air untuk berjuang membela bangsa dan negara dari cengkeraman penjajah.

Demikian juga dengan putranya, Pak Ud, yang semasa mudanya ikut terjun di medan pertempuran melawan penjajah Belanda. Disusul kemudian di era 1960-an, Pak Ud bersama dengan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang dipimpinnya turut serta dalam penumpas gerombolan Partai Komunis Indonesia (PKI) yang hendak merongrong NKRI.

“Beliau ini sudah akrab dengan desingan peluru. Jarang sekali seorang pimpinan pondok pesantren ikut bertempur seperti Pak Ud,” ucap alumnus Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir itu.

Bahkan, meski dalam keadaan susah berjalan pun, Pak Ud, masih saja terlibat dalam berbagai aktifitas, termasuk menjadi “keynote speaker” dalam seminar tentang wacana kebangkitan komunis di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat itu, Pak Ud lah yang memelopori penolakan pembentukan Komite Kebenaran dan Rekonsiliasi Nasional yang beberapa nama calon anggotanya sudah diusulkan kepada presiden sebelum akhirnya dibatalkan.

Sementara, acara tujuh hari wafatnya sesepuh pengasuh Ponpes Tebuireng Jombang itu selain dihadiri para santri dan ulama dari berbagai daerah, juga warga masyarakat sekitar yang ingin memberikan sumbangsih bacaan doa dan tahlil. (ant/miol/sbh)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 April 2013

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja

Mojokerto, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua Umum PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa berpesan kepada para guru di sekolah-sekolah NU untuk meningkatkan pengetahuan perihal Aswaja. Menurutnya, para guru NU mengambil peran kunci bagi kelanjutan sosialisasi paham aswaja di lingkungan sekolah.

Demikian disampaikan Hj Khofifah pada Pembukaan Kongres II Pergunu di Pesantren Amanatul Ummah, Pacet, Mojokerto, Kamis (27/10).

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Guru di Sekolah NU Harus Paham Aswaja

"Guru yang mengajar di sekolah NU, jangan sampai tidak tahu apa itu Aswaja. Guru itu harusnya mengajar tidak sebatas menyampaikan materinya, tapi harus sampai muridnya paham, dan menjamin dilaksanakan oleh murid dalam kehidupan sehari-hari,” kata Khofifah.

Baginya, hal itu pembeda antara guru yang tergabung dalam Pergunu dan guru di luar NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menyebutkan dua peran para guru Pergunu. "Guru itu harus bisa menjadi speaker (penyampai Aswaja). Kedua, guru NU juga harus bisa membangun harmoni dalam kebhinekaan," tegas Khififah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia juga menyinggung perihal peredaran narkoba di lingkungan pendidikan. "Jika saya kaitkan dengan momentum Kongres II Pergunu ini, maka pertanyaannya ketika masyarakat Indonesia sudah darurat narkoba, masihkah ada Pergunu di Indonesia?"

Menurutnya, capaian kesuksesan dan maju-mundurnya suatu bangsa itu ditentukan oleh pendidikannya. Sementara pendidikan itu ditentukan oleh para pendidiknya sendiri. (Ayip-Mang Ayi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 18 Maret 2013

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kontribusi positif dan aktif mahasiswa untuk mengabdi dalam pembangunan desa sangat penting. Karena itu, Mahasiswa harus aktif dan berani menyuarakan semua aspirasi untuk memperkaya proses pengambilan kebijakan di desa-desa.

Hal ini disampaikan Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi saat menghadiri Konfrensi Nasional III Inovasi Lingkungan Terbangun Restorasi Permukiman Desa-Kota yang dihadiri mahasiswa dari berbagai Universitas di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin (12/10).

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa! Mengabdilah di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa

Marwan menegaskan, salah satu kelemahan paling berat dalam proses pembangunan desa selama ini adalah lemahnya peran dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat desa biasanya hanya jadi subjek yang tidak banyak dilibatkan, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam pengelolaan pembangunan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini semua problem lama yang harus kita dobrak. Bersyukur sudah ada UU Desa yang memposisikan masyarakat desa sebagai pemeran utama dalam pembangunan nasional. Desa sudah jadi pelaku pembangunan yang didukung perangkat kuat serta dana desa yang besar," ujar Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) ini.

Mahasiswa, lanjut Marwan, harus ikut menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat desa. Karena itu, jika sudah lulus, mahasiswa jangan pergi ke kota tapi bangunlah desa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pemerintah pasti mendengar apa yang disampaikan mahasiswa karena pikiran positif dari perguruan tunggi akan jadi rujukan dalam membuat kebijakan yang konstruktif," jelas Marwan.

Tak lupa, pria asal Pati, Jawa Tengah ini juga meminta rekomendasi dari mahasiswa yang konstruktif demi pemberdayaan masyarakat desa. Termasuk dalam proses penataan ruang desa yang selama ini sangat lemah.

Dalam sistem perencanaan tata ruang, katanya, kelemahan yang dirasakan karena selama ini kebijakan pemerintah kurang menjadikan masyarakat sebagi subjek dalam perencanaan. Kemudian pelaku pembangunan tidak terbuka dalam proses penataan ruang. Juga karena rendahnya upaya pemerintah dalam memberi informasi akuntabilitas tentang penataan ruang. “Bahkan sinergi antara swasta dan masyarakat kurang optimal dalam tata ruang pembangunan," tandas Marwan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 Maret 2013

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Grebek Mulud yang digelar di halaman Masjid Agung Surakarta, Senin (12/12), menandai puncak perayaan tradisi Sekaten. Dalam acara yang dihelat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. itu diarak dua gunungan, Jaler-Estri.

Prosesi dimulai saat Gunungan Jaler-Estri dan empat Gunungan Anakan dikirab dengan rute dari Keraton Solo melewati Sithinggil menuju Masjid Agung Solo. Kirab Gunungan itu keluar dari Keraton melalui Kori Kamandungan.

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan

Usai didoakan, gunungan-gunungan tersebut langsung diserbu pengunjung. Sebagian pengunjung percaya, isi gunungan yang telah didoakan tersebut membawa keberkahan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengageng Kusumawa Wandawa Keraton Solo, KGPH Puger mengatakan, kirab Gunungan Jaler-Estri dalam Grebek Mulud menggambarkan keberadaan laki-laki dan perempuan yang kemudian melahirkan keturunan. “Lahirnya Nabi Muhammad SAW simbol sejahtera, mampu menyejahterakan umat.” terang Puger.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Tafsir Anom K.R.T. Muhammad Muhtarom, menambahkan Tradisi Sekaten ini merupakan salah satu produk dari proses internalisasi Islam dengan budaya. “Konsep ini digagas oleh Sunan Kalijaga, sebagai media dakwah Islam yang penuh kearifan dan jauh dari sikap intervensi,” tutur dia.

Grebek Mulud sendiri merupakan tradisi yang tidak hanya diselenggarakan di Solo. Tradisi ini juga diadakan di daerah lain, antara lain Yogyakarta dan Demak. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Februari 2013

Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia Adakan Kerja Sama Penelitian

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Dalam waktu dekat, Universitas Hasyim Asyari Tebuireng, Jombang, akan berkolaborasi dengan Universiti Sultan Azlan Syah (USAS) Malaysia untuk mengadakan penelitian bersama. Penelitian itu dimaksudkan untuk mendapatkan potret utuh perkembangan gerakan radikal dan liberal di kawasan Asia.

Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia Adakan Kerja Sama Penelitian (Sumber Gambar : Nu Online)
Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia Adakan Kerja Sama Penelitian (Sumber Gambar : Nu Online)

Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia Adakan Kerja Sama Penelitian

"Selain penelitian, kami juga akan menjalin kerjasama program dalam bentuk pertukaran mahasiswa dan dosen antar kedua universitas. Juga kerjasama di bidang penelitian, penulisan jurnal ilmiah dan pertukaran budaya," kata Wakil Rektor III Mif Rohim Syarkun, Jumat (10/2/2017).

Kerjasama itu ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara Unhasy Tebuireng dan USAS Malaysia di kampus Unhasy Tebuireng, sehari sebelumnya. Dari pihak USAS, delegasi dipimpin oleh Deputy Vice-Chancellor Academic and Student Affair (Wakil Rektor I), Dato Wan Sabri Bin Wan Yusof. Sedangkan delegasi Unhasy dipimpin oleh Wakil Rektor I Unhasy Muhsin Ks.

Nantinya, kata Rohim, jika ada dosen Unhasy yang mengambil studi S3 di USAS, salah satu dosen Unhasy akan diminta menjadi co-promotor atau co-supervisor. "Untuk penulisan jurnal, kami akan mengkaji pemikiran keislaman yang dikembangkan oleh Hadlratus Syaikh Hasyim Asyari," ungkap pria yang sebelumnya cukup lama mengajar di Universiti Teknologi Malaysia ini.

Di tempat sama, Wakil Rektor I USAS Wan Sobri menuturkan, kerja sama ini akan sangat menguntungkan kedua belah pihak. Sebab, Unhasy memiliki tradisi keilmuan yang cukup lama. Pesantren Tebuireng sejak berdiri pada 1899 dan Unhasy pada 1967, menurut dia, sudah memulai tradisi keilmuan dan kajian keislamanan yang cukup memadai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"MoU kali ini kami bekerja sama dalam bidang akademik, penulisan, penyelidikan (penelitian, red), pertukaran pelajar dan staf/pengajar. Supaya pengalaman yang sudah dimiliki dua universiti ini dapat dikongsikan (dikerjasamakan, red). Advantage-advantage masing-masing juga dapat dikongsikan," tutur Dato Wan Sabri dengan logat khas Melayu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain berkunjung ke kampus Unhasy, rombongan USAS juga berziarah ke makam KH Hasyim Asyari dan KH Abdurrahman Wahid Gus Dur di Kompleks Pesantren Tebuireng.

"Saya sangat kagum dengan pondok dan kampus ini. Pondoknya sangat bersih dan teratur. Dan saya bangga bisa berpeluang menziarahi Allah Yarham Gus Dur," ungkap Dato Wan Sabri. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 19 Februari 2013

Safari Ramadhan, NU Depok Kunjungi Sebelas Kecamatan

Depok, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Memasuki bulan suci Ramadan 1437 H, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Depok akan menggelar kegiatan Ramadhan yang tersebar di sebelas kecamatan di Depok. Keliling ini dilakukan dalam rangka membina warga NU dalam bidang keagamaan.

"Pengurus PCNU akan berkunjung ke kecamatan di mushalla atau masjid. Rangkaiannya dimulai dengan berbuka puasa, shalat tarawih bersama dan dilanjutkan dengan taushiyah dari para kiai NU," kata Rais Syuriyah NU Kota Depok KH Zainudin Maksum Ali.

Safari Ramadhan, NU Depok Kunjungi Sebelas Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan, NU Depok Kunjungi Sebelas Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan, NU Depok Kunjungi Sebelas Kecamatan

Ketua Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Kota Depok H Chaerul Anwar mengatakan, pihaknya akan menyelenggarakan kegiatan Safari Ramadhan dimulai sejak Kamis-Selasa (9-28/6) di sebelas kecamatan di Depok.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurutnya, langkah tersebut sangat positif mengingat sambutan dari masyarakat cukup antusias. Ia menambahkan, dalam Safari Ramadhan tersebut pihaknya juga sedikit memberikan bantuan kepada masjid dan marbot.

"Kita turun ke bawah sambil berdakwah di bulan suci Ramadhan. Ini juga bagian dari mencari keberkahan dan meramaikan masjid di bulan puasa," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurutnya, dalam taushiyah nantinya para penceramah dari para mustasyar dan kiai NU. Mengenai materi, lanjutnya, pastinya juga berisi seputar keutamaan di bulan Ramadhan. Ia menambahkan, upaya ini juga bagian dari langkah konsolidasi organisasi dan pembinaan umat.

"Tentunya, dalam materi nanti juga menyebarkan tentang ajaran dan amalan di bulan Ramadhan sesuai dengan Ahlussunnah wal Jamaah. Masyarakat butuh penyegaran rohani dan ini bagian dari tugas kami dalam memberikan pelayanan pada umat," harapnya. (Aan Humaidi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Cerita, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 Februari 2013

Saat Berhaji Jangan Merasa Paling Benar, Pintar, dan Kaya

Makkah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Naib (wakil) Amirul Hajj KH Musthofa Aqil Siroj mengajak jemaah haji Indonesia untuk tidak melakukan perbuatan rafatsa, fusuq, dan jidal sebagaimana diajarkan oleh Al-Qur’an surah Al Baqarah ayat 197.

Saat Berhaji Jangan Merasa Paling Benar, Pintar, dan Kaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Berhaji Jangan Merasa Paling Benar, Pintar, dan Kaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Berhaji Jangan Merasa Paling Benar, Pintar, dan Kaya

Hal ini disampaikan Rais Syuriyah PBNU itu saat memberikan taushiyah kepada jemaah haji Indonesia di Hotel Dar Ummul Qura Sektor I wilayah Mahbas Jin, Makkah.

Menurutnya, ada tiga cara untuk menghindari rafats, fusuq, dan jidal. “Jangan merasa paling benar, jangan merasa paling pinter, dan jangan merasa kaya,” katanya di Makkah Rabu, (23/08) sebagaimana diberitakan Kemenag.go.id.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Musthofa Aqil berkisah bahwa Nabi Adam kembali diterima doanya setelah merasa salah. Doa Nabi Adam, “Ya Tuhan, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami, dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk hamba yang merugi.”

Setelah itu, Nabi Adam kembali dipertemukan dengan Siti Hawa di Jabal Rahmah. “Jadi jangan merasa paling benar,” tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Musthofa juga berpesan agar jemaah tidak merasa paling pinter. Menurutnya, amal ibadah itu ada macam-macam, karenanya jemaah jangan merasa paling pinter.

“Ada yang makai ushalli, ada yang tidak. Ada yang pake qunut, ada yang tidak. Semuanya punya kiai, punya mazhab, semuanya punya kitab. Lebih baik kita diam, daripada ngomong dari mana itu (sementara kita tidak tahu)?”? katanya.

“Pesan ini penting dibawa ke Indonesia. Sillakan beda pendapat, tapi jangan berantem,” tambahnya.

Pesan ketiga adalah jangan merasa kaya. “Kata Allah, sayalah yang kaya, maka mintalah. Jangan menunjukkan kaya kepada Allah. Jangan pakai perhiasan. Maka akan lebih enak, mintanya,” ujarnya.

Mengakhiri taushiyahnya, Kiai Musthofa berpesan, agar jemaah banyak membaca Al-Qur’an ketika berada di Makkah, memperbanyak membaca shalawat ketika di Madinah. Dan memperbanyak membaca istighfar ketika berada di padang Arafah. “Semoga menjadi haji yang mabrur,” harapnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah