Rabu, 28 Februari 2018

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyak kalangan yang menilai, panggilan habib dan kiai seharusnya layak disandang Prof HM. Quraish Shihab. Secara silsilah dan keilmuan, tidak ada yang meragukan Penulis Tafsir Al-Misbah ini. Namun secara pribadi, Mufassir yang dikenal luas ini tidak mau dipanggil habib dan kiai. Kenapa?

Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab terbitan Lentera Hati yang ditulis oleh Mauluddin Anwar dan kawan-kawan, dijelaskan soal urusan habib dan kiai tersebut. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) ini hanya mau dipanggil habib oleh cucunya saja, karena lebih cocok berdasarkan artinya.?

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Di kalangan Arab-Indonesia, habib menjadi gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad SAW (Bani Hasyim). Khususnya dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Sayyidatina Fatimah Az-Zahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Panggilan habib juga penanda Arab-Indonesia yang memiliki Moyang yang berasal dari Negeri Yaman, khususnya Hadhramaut. Kakek Prof Quraish Shihab, Habib Ali bin Abdurrahman Shihab berasal dari Hadhramaut.

Dalam Bahasa Arab, habib berakar dari kata cinta. Jadi habib berarti “yang mencintai” atau bisa juga “yang dicintai”. Tetapi kemudian maknanya berkembang menjadi suatu istilah, habib adalah orang teladan, orang baik yang berpengetahuan, dan seseorang yang mempunyai hubungan dengan Rasulullah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alasan kedua itulah yang membuat Quraish menolak dipanggil habib. Padahal, sebagai orang yang menghabiskan usia bergelut dengan ilmu pengetahuan, Quraish layak mendapat gelar itu. Quraish adalah profesor doktor bidang Ilmu Tafsir, hafal al-Quran, pernah jadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mantan Menteri Agama. Tapi ia berkukuh tetap menolak. Semata-mata karena, “itu mengandung unsur pujian.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Baginya, gelar habib tidak perlu diberikan kepada sembarang orang. Sebangun dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil habib,” kata Quraish merendah.?

Apalagi, ada ajaran ayahnya, Habib Abdurrahman, agar tidak menonjolkan garis keturunan. Beliau enggan menggunakan gelar “Sayyid”, “Haji”, atau “Kiai”. Bahkan tidak juga gelar akademis.

Ada sajak yang acap didendangkan Habib Abdurrahman dan ditulis dalam buku tersebut:?

Kami, kendati memiliki garis keturunan terhormat

Tidak sekalipun mengandalkan garis keturunan?

Kami membangun sebagaimana leluhur kami membangun

Dan berbuat serupa dengan apa yang mereka perbuat.

Tidak hanya Prof Quraish, keluarga Shihab yang lain, seperti Umar Shihab dan Alwi Shihab pun sependapat. Alwi lebih keras, menyebut ada “inflasi habib”, karena pemakaian yang tidak pada tempatnya. Bahkan sudah sampai pada tahap berkonotasi buruk, seperti didengar Quraish dari sopir taksi, saat ia terjebak macet akibat adanya pengajian yang menutup badan jalan.

Maka mereka pun bersepakat, memakai gelar habib hanya sekadar sebutan untuk kakek. “Karena kakek itu sangat mencintai cucunya, terkadang lebih dari cinta kepada anaknya. Cucu juga kadang-kadang lebih mencintai kakeknya daripada bapaknya,” kata Quraish.?

Pesan lain dari penolakan itu untuk memberikan contoh keteladanan, siapa yang wajar diberi gelar kehormatan.

Tak hanya sapaan habib, Prof Quraish juga emoh dipanggil “kiai”. Lagi-lagi alasan serupa, gelar itu jabatan yang sangat tinggi. Baginya, kiai berkonotasi ulama besar yang tulus. Tapi, diksi ‘besar’ itu bisa mengandung pujian. Sesuatu yang selalu ia hindari. Belum lagi, sebutan kiai juga mengalami inflasi, karena dipakai banyak orang yang berpotensi menurunkan makna sebenarnya.?

Ia mencontohkan seseorang bergelar kiai atau ki, yang sedang dirundung masalah karena penipuan pengobatan alternatif.?

“Jadi udah deh nggak usah repot-repot pangil saya habib atau kiai. Panggil saya ustadz saja,” katanya tergelak. Ia tak menolak, karena ustadz berarti guru, dan ia sejak belia sudah menjadi pengajar, dengan raihan tertinggi menjabat Rektor IAIN. (Detik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Pahlawan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 Februari 2018

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Bulungan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sultan Kasimuddin Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mengadakan refleksi dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71,

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Acara yang bertempat di gedung Fatayat NU Kabupaten Bulungan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), BEM Universitas Kaltara (Unikal), BEM STT Al Ansor, ketua IPNU dan IPPNU,? Kabupaten Bulungan, ketua Fatayat NU, dan ketua Gerakan Pemuda Ansor setempat. Selain itu hadir pula Komisioner KPU Kaltara Colirulliza, Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara, M. Achadi dari Jurnas, serta perwakilan dari Kemenag Bulungan.

Ketua Pengurus Cabang PMII Tarakan Rico Adriansyah mengatakan bahwa forum yang mengusung tema “Mewujudkan Indonesia Merdeka 100%” ini cukup berat dan menjadi tugas para aktivis dan mahasiswa terutama di Kalimantan Utara untuk merealisasikannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pada pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia’. Oleh karena itu untuk mewujudkan Indonesia merdeka seratus persen perlu terus diadakan diskusi yang sifatnya membangun serta mempererat persatuan," lanjut Rico, Selasa (16/8) malam itu.

Sementara itu Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara mengatakan, Kaltara sebagai provinsi baru sekaligus yang berbatasan dengan Malaysia memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, nasionalisme warga Kaltara sedang diuji karena sebagian dari keluarga kita ada di sana.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kalau merdeka secara de facto dan de jure kita sudah merdeka. Namun tantangan kita saat ini adalah menjaga nasionalisme, serta meningkatkan kemerdekaan ekonomi dan kemenrdekaan sosial," lanjutnya.

Ia menegaskan, Kaltara sebagai provinsi baru yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia menjadi kunci penting dalam peranan menjaga ketahanan nasional.

Di akhir acara PMII Komisariat Kasimuddin Bulungan berharap peringatan kemerdekaan 17 Agustus di Provinsi Kaltara akan menjadi momentum bagi mahasiswa sebagai garda terdepan dalam memajukan Indonesia dari pinggiran sesuai dengan nawacita Joko Widodo pada butir ke-3. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 25 Februari 2018

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

Taipe, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kiai muda MN Harisudin mendorong pekerja migran Indonesia di Taiwan untuk gemar bersedekah, baik sedekah wajib maupun sunah. Dalam penyaluran, ia menekankan harus diberikan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan, mengingat ada banyak dana sedekah yang disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme atas nama Islam. 

Demikian disampaikannya dalam pengajian On Air Majelis Talim Darus Syafa’ah, Kamis (28/12) malam waktu setempat.

Utusan Pondok Pesantren Kota Alif Lam Mim Surabaya itu menguraikan sedekah terbagi menjadi dua. Pertama, sedekah wajib yang juga disebut dengan zakat, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Kedua, sedekah yang tidak wajib; yakni sedekah biasa dan sedekah jariyah (wakaf).

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

“Saya yakin, Bapak dan Ibu pekerja migran Indonesia di sini sudah banyak membayar zakat, juga bersedekah. Saya sudah sering mendengar kalau LAZISNU PCINU Taiwan sudah banyak membantu saudara-saudara kita di tanah air. Kemarin membantu korban banjir di Pacitan. Sebelumnya, sedekah dan zakat PCI NU Taiwan disebar mulai Sabang (Aceh) sampai dengan Merauke,” tukas kiai yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember. 

Namun, Kiai MN Harisudin menggarisbawahi bahwa sedekah dan zakat pekerja migran Indonesia agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak, nuwun sewu (mohon maaf), saya minta agar sedekahnya disalurkan di tempat yang jelas, transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Demikian ini agar sedekah tidak disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme. Ini penting. Agar sedekahnya tidak dipakai untuk ngebom di Indonesia,” ujar Wakil Ketua LTN PWNU Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dosen pascasarjana IAIN Jember tersebut ketepatan tempat atau sasaran sedekah dan zakat, pertama adalah sanak famili di Indonesia, dan kedua LAZISNU PCINU Taiwan.

“Insyaallah, dua tempat ini merupakan tempat yang jelas dan tepat sasaran. Dan insyaallah juga berkah,” ujar Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates, Jember tersebut.

Majelis Talim Darus Syafa’ah merupakan salah satu majelis talim yang ada di Taiwan, dan merupakan satu diantara kurang lebih 30 lebih majelis talim yang berada di bawah koordinasi PCINU Taiwan. Anggota majelis adalah para pekerja migran Indonesia  yang menyempatkan diri mengaji setiap hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka tidak bertemu fisik, tapi secara on air karena keterbatasan waktu dan tempat. Pengajian diisi dengan khataman Al-Qur’an, yasinan, tahlil, shalawat nariyah, dan mauidlah hasanah oleh para ustadz dan kiai dari Indonesia. (Sohibul Ulum/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 24 Februari 2018

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah meresmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan di Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (9/8) siang. Peresmian ini ditandai dengan pelepasan balon dan penandatanganan prasasti peresmian.

Peresmian ini dihadiri oleh ? Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo H Timbul Prihanjoko didampingi oleh Wakapolres Probolinggo Kompol Hendy Kurniawan, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Santoso serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Kegiatan peresmian ini diikuti oleh kurang lebih 2.000 undangan. Mereka terdiri dari segenap pengurus jajaran Syuriah dan Tanfidziah beserta seluruh pengurus lembaga dan badan otonom (banom) dari tingkat cabang hingga ranting juga santri dan masyarakat.?

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i mengutarakan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah membantu proses kelancaran pembangunan kantor dua lantai milik PCNU Kota Kraksaan ini. Dari yang awalnya hanya direncanakan di rehab saja sampai akhirnya diputuskan untuk dibangun kembali dari awal pondasi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kantor ini adalah wujud dari kekompakan dan kebersamaan yang baik antara ulama dan umaro. Insya Allah adanya kantor ini akan menambah semangat kami untuk meningkatkan kualitas kegiatan-kegiatan ke-NU-an kami untuk Kabupaten Probolinggo khususnya Kota Kraksaan,” katanya.

Sementara Ketua PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan pengurus Tanfidziah dalam tubuh organisasi PCNU Kota Kraksaan mempunyai fungsi vital sebagai pelaksana fungsi pokok manajemen meliputi fungsi perencanaan, ? pengorganisasian, ? pengarahan dan pengendalian untuk jajaran dibawahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Untuk menjalankan semua pokok fungsi manajemen tersebut dengan baik dan optimal maka PCNU Kota Kraksaan membutuhkan kantor yang representatif dan memadai seperti ini,” katanya.

Menurut Kiai Mutawakkil, dengan adanya kantor yang lebih nyaman dan luas ini sedapatnya mampu meningkatkan ghiroh Nahdliyah, khususnya di lingkup internal kepengurusan.?

“Hikmah lainnya adalah sebagai penyemangat dalam melanjutkan perjuangan para ulama NU dan memastikan ajaran aqidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an nahdliyyah terus membumi di bumi pertiwi khususnya Kota Kraksaan,” tegasnya.?

Sedangkan Wabul Probolinggo H Timbul Prihanjoko menegaskan atas solidnya NU dalam memerangi segala pengaruh-pengaruh negatif yang selalu berusaha memecah belah umat dan membuat keruwetan yang mana hal itu juga akan menghambat pembangunan.?

“Yang sudah kondusif ini mari kita pertahankan. Ke depan perbanyaklah kegiatan keagamaan seperti pengajian dan sholawatan,” jelas salah satu mantan pengurus lembaga milik NU ini,” ungkapnya.?

Menurut Wabup Probolinggo, menjawab tantangan zaman yang tiap saat selalu berubah. Sehingga dihimbau agar NU supaya lebih peka dengan kompleksnya segala perkembangan di era millenium ini.?

“Hal ini merupakan PR bagi kita semua bagaimana kita bisa lebih luwes dalam melakukan pendekatan kepada generasi muda melalui temen yang sedang diminati untuk kita arahkan ke hal-hal positif dan Islami,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Santri, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Proyek perluasan kilang Balikpapan (Refinery Unit V) yang dikelola PT. Pertamina, diperkirakan membutuhkan 20.000 tenaga terampil. Pemenuhan tenaga terampil tersebut sebagian akan diprioritaskan dari pekerja lokal, yakni dari daerah Kalimantan Timur.

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)
Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Terkait dengan rencana pemenuhan tenaga kerja, beberapa petinggi PT Pertamina melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, Senin (20/11) kemarin.

"Kami sowan (silaturahim) ke Pak Menteri untuk menawarkan kerjasama pelatihan untuk  tenaga kerja lokal. Kebutuhan tenaga kerja terlatih sampai 20.000 orang, tapi sebagian akan dilatih dari tenaga kerja lokal sekitar 5000-7000 orang," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina, Ardhy N. Mokobombang.

Turut serta dalam rombongan audiensi adalah Vice President Refining Project Pertamina Ignatius Tallulembang, serta beberapa pejabat lainnya.

Dijelaskannya, proyek perluasan kilang Balikpapan merupakan bagian dari program strategis meningkatkan kemandirian dan ketahanan energy nasional, baik peningkatan produksi BBM atau non BBM.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kualitas produksi yang semula Euro 2 menjadi Euro 5. Proyek berdurasi 43 bulan ini akan menyerap tenaga kerja sedikitnya  20.000 orang. Saat kilang dioperasikan akan menyerap sekitar 2.500 orang pekerja.  

Rencananya, ground breaking mega proyek dengan investasi US$ 5 miliar ini akan  dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Desember atau Januari nanti.

Terkait dengan rencana kerjasama menyiapkan pelatihan tenaga kerja terampil, saat ini pihak sedang menyusun silabi pelatihan yang akan diterapkan pada lima Balai Latihan Kerja (BLK) di Kalimantan Timur. Atau di BLK lainnya sesuai kebutuhan pelatihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan tersebut, Menaker M Hanif Dhakiri menyatakan sangat mendukung adanya penyerapan tenaga kerja lokal dalam proyek tersebut.

“Selain mendukung kemandirian energi dan dunia industri, proyek ini akan menyerap ribuan pekerja lokal.  Pemerintah dan Pertamina akan menyiapkan pelatihan bagi tenaga kerjanya,” kata Menaker.   

Menaker berjanji, untuk keperluan pemenuhan tenaga kerja lokal tersebut, pihaknya akan segera membuat tim khusus (pertamina dan Kemnaker) untuk menyusun silabus, instruktur, dan peralatan yang dibutuhkan dalam proyek tersebut.  (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Serba-serbi dari NU Karbitan

Oleh Saiful Hakam



Di kantor tua, sebuah kantor jawatan penyelidikan ilmu-ilmu budaya dan sosial, saya sering berbincang ringan dengan rekan sejawat tentang nasib sebagai santri, berwajah santri, dan bertabiat santri: tukang doa

Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Serba-serbi dari NU Karbitan

Dua kata di atas sering keluar dari mulut saya. Rekan saya itu tidak pernah menukas sama sekali.  Dilema. Saya bilang ke kawan saya bahwa saya ini bukan santri sejati. Mengapa?

Karena, saya tidak pernah mondok sama sekali. Tidak bisa baca kitab kuning sama sekali. Bahkan, lebih parah lagi, tidak bisa bahasa Arab klasik sama sekali. Jadi, saya tidak absah disebut santri apalagi disebut santri NU. Sangat tidak absah. 

Namun, kawan saya itu memberikan petunjuk yang bikin senang. “Meskipun, Sampean tidak pernah mondok, tidak bisa baca kitab kuning, dan tidak bisa bahasa Arab klasik tapi wajah Sampean mutlak wajah santri,” begitu katanya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya tidak tahu maksud dari frasa “wajah santri”. Tapi itu tidak bisa digugat. Kalimat ini bikin saya merenung. 

Dan, memang, saya lahir dan tumbuh di lingkungan NU. Bisa dibilang NU 26 karat. Hampir semua kerabat dari kakek, paman, bibi, sampai bapak pernah jadi pengurus NU. Kakek saya dari pihak bapak konon katanya pernah jadi pengurus syuriah NU di sebuah kota kecil berawalan huruf B di Jawa Timur, tempat jenazah Bung Karno dikebumikan. 

Bapak saya sendiri, kalau dirunut riwayat hidup karirnya betul-betul dimulai dari NU dan jati dirinya dibentuk oleh NU. Mula-mula jadi anggota IPNU. Dan konon, karena tidak ada dokumen foto dan dokumen kertas tertulis, pernah jadi ketua IPNU Kota B. 

Di waktu senggang bapak saya itu, dengan bangga bercerita pengalaman pertama naik mobil sedan. Yakni, dijemput panitia Kongres IPNU di Stasiun Pekalongan. Di sana di dalam konggres itulah ia berkenalan dengan KH Hasyim Muzadi. Sama-sama jadi kader IPNU pertama. Yang aneh, ia selalu ingat mobil sedan dan kursi empuk yang dikaguminya itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu, ia dengan penuh semangat menyebut nama-nama Mahbub Djunaidi dan Saiffuddin Zuhri.  Dan, ia punya obsesi yang penuh menyala-nyala pada jas dan dasi. Koleksinya banyak. Ketika saya tanyakan mengapa suka banget pada jas, jawabnya mencontoh KH Abdul Wahid Hasyim, bapaknya Gus Dur itu. 

Karirnya bertahap di organisasi NU. Dari IPNU, ia pindah ke Pengurus Ansor. Lalu dari Ansor, naik menjadi pengurus cabang NU dengan jabatan wakil sekretaris. Dan, ketika jadi pengurus cabang ini ia juga merangkap menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan. 

Entah berapa latihan kader yang ia ikuti. Ia sering menjadi utusan Kota B dalam memenuhi undangan pengurus wilayah NU Jawa Timur di Surabaya. Karena begitu seringnya, sampai-sampai ada kelakar dari rekannya untuk bapak saya, “Jangan-jangan rapat Muslimat akan Sampean wakili?”

Susah memang memikirkan jati diri NU saya. Kebanyakan yang muncul adalah cerita-cerita dan pengalaman bapak mengurus NU. Atau, kesibukan bibi, adik bungsu bapak, yang hampir seluruh hidupnya dicurahkan sebagai pengurus Muslimat NU bagian konsumsi. Bibi saya ini meskipun sakit akan lekas sehat ketika mendapat undangan kegiatan-kegiatan Muslimat NU. Dan, kami, anak-anak, hafal betul bahwa ia selalu mengurus urusan konsumsi dalam pengajian-pengajian Muslimat NU. Urusan masak memasak, mulai dari menanak nasi, lauk pauk, dan minuman. 

Kabar terakhir, ia merelakan kediamannya dijadikan sebagai pilot project PAUD muslimat NU kota B. Ini tentu saja membuat sibuk saudara sepupu saya karena harus menambah kamar dan merehab rumah. Tapi, mereka semua riang gembira. 

Di tengah-tengah kebimbangan itu, saya kemudian sadar bahwa NU bukan sekedar identitas. Dilema ini muncul karena saya hijrah ke ibu kota, jadi kaum muhajirin di ibu kota, dan berhadapan dengan berbagai macam aroma kehidupan. Terutama, aroma kehidupan Islam yang penuh aneka warna. 

Bapak saya menjalankan tradisi-tradisi NU dengan tekun. Terutama amalan wiridan dan sowan kiai. Semua anaknya ketika menghadapi ritus peralihan dari ulangan umum, dua istilah istilah zaman dulu: Ebtanas daUMPTN, dan menikah pasti diajak ikut berdoa dan diajak ikut sowan kiai memohon bantuan doa. 

Sembahyang lima waktu dijalankan secara berjamaah. Dan, tentu saja dengan wiridan yang panjang. Wiridan yang bagi kami sangat panjang, hampir setengah jam, adalah wiridan sesudah sembahyang subuh. 

Kami diajak bersama-sama membaca asmaul husna dan selawat nabi. Ketika kami akan pergi naik kereta api, naik kendaraan umum, dan naik sepeda motor, kami dinasihati untuk membaca selawat nabi dengan serius. Mengheningkan cipta untuk berselawat. 

Artinya, rasa dan nuansa saya menjadi santri terus terang tidak seketika. Ada tahapan dan ada proses. Di sekolah dasar, saya paling cemas, takut, dan grogi ketika disuruh hafalan surat-surat pendek pada pelajaran agama Islam. Takutnya bukan main. Dan, hafalan itu membutuhkan kerja keras. Saya masih ingat betapa beratnya menghafal surat Al-Balad. Kalau tidak hafal, dan kurang hafalan. Dihukum. Berdiri depan kelas. Menanggung malu dua beban. 

Anak pengurus NU kok tidak hafal surat pendek. Lalu, menjelang kelas enam SD, saya berjuang keras menghafal surat adl-Dluha dan asy-Syams. Itu pun penuh perjuangan karena baru bisa hafal penuh pada kelas dua SMA. 

Sementara itu surat Yasin, belajar menghafal sejak kelas enam SD dan baru hafal lulus program S-2 di universitas di Kabupaten Sleman. Yang masih belum hafal, adalah bacaan dan amalan tahlil, sampai hari ini masih berjuang, berjuang dalam proses membaca, dan menghafal. Memang betul-betul NU karbitan. 

Lalu, suatu ketika, saya ingin mengamalkan amalan surat al-Waqiah. Ini ikut-ikut teman yang lama mondok di Kediri. Dan, alhamdulilah lumayan bisa lancar membaca, itu pun berkat bantuan huruf latin. 

Bikin sedih memang. Cerita semacam ini sebenarnya tidak layak diceritakan apalagi dituliskan mengingat bagi santri, ritus peralihan dan ritus-ritus semacam ini bukan sesuatu dan hal yang keren apalagi mengesankan. Kaum santri sejati punya tradisi intelektual yang kuat terutama dalam bahasa Arab klasik, syair, kitab-kitab klasik, dan debat dalam majelis bahstul masail. Kalau santri sejati bercakap-cakap bahasa Arab, wah, seketika saya akan minder setengah mati. 

Meski demikian, semangat untuk berproses menjadi NU tidak berhenti. Rekan saya, seorang intelektual dari Tasikmalaya dan fasih ilmu sejarah dan ilmu filsafat, dan dari dulu berjibaku membeli buku dengan siap hidup bersahaja, memperkenalkan saya pada buku-buku tentang NU. Terutama terbitan LKIS. LKiS adalah sebuah lembaga intelektual dan penerbitan yang masyhur di Jogja. Perkenalan buku ini seperti sebuah kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan apalagi dipahat dalam prasasti batu. 

Nuansa NU saya, dibentuk mula-mula oleh kisah-kisah dari bapak, ibu, paman, yang kadang hilir mudik sibuk jadi panitia rapat-rapat NU,pidato-pidato kiai, dan juga dari buku-buku tua milik ibu. Ibu punya buku biografi KH Abdul Wahid Hasyim. Saya membacanya sewaktu duduk di bangku SMU. Dan, buku itu rusak dan hilang kerna saya tak pandai merawatnya. Buku yang tebal, tua, berdebu. Saya suka melihat foto Gus Dur muda sedang duduk di kursi sambil baca buku. 

Lalu, majalah Aulaterbitan PWNU Jawa Timur. Majalah Aula betul-betul sebuah hiburan yang bikin senang dan senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya. Parahnya, Bapak sering lupa bayar tagihan. Dari majalah aula, kesadaran tentang NU tumbuh. Ke-NU-an menjadi hadir dan bernyawa. 

Ah, tiba-tiba saya ingat catatan harian ibu. Adik bungsu hampir saja diberi nama muktamar, karena lahir pada tahun 1984 dan bersamaan dengan penyelenggaraan Muktamar NU 1984. Bapak tentu saja hadir, tapi lekas pulang ke Kota B kerena dimaki-maki rekan-rekannya disuruh pulang menemani istri dan menunggu lahir anak. 

Dan, di atas itu semua, penanda yang tidak bisa dilupakan adalah potret di rumah kakek, yang dipajang dengan sangat berwibawa, di balai rumah, Potret KH Muhammad Hasyim Asyari. Lama terpasang di balai rumah Kakek Buyut. Setiap tamu dan orang yang datang ke rumah kakek, pasti, akan disambut oleh potret Hadratussyekh. 

Penulis adalah Peneliti LIPI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Februari 2018

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Gowa, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Sekretaris Lembaga Takmir Masjid Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan H Misbahuddin mengingatkan bahwa sejarah kejayaan Islam ada di tangan pemuda. Karena pada saat itu, katanya, pemuda mengisi segala lini kehidupan termasuk mengisi masjid. 

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Demikian disampaikan Misbahuddin Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pesantren Bahrul Ulum Kabupaten Gowa, Jumat (8/12).

Menurutnya, kalau hari ini pemuda tidak bergerak, pemuda tidak berpikir tentang masjid dengan baik, maka boleh jadi masjid tidak berfungsi secara baik karena masjid menjadi kekuatan dan fondasi agama, masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 

"Pemuda harus dekat dengan masjid, mengawasi masjid, mengisi masjid dengan kegiatan di antaranya dengan pengajian yang muatannya untuk menjadi NKRI," terangnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan yang mengusung tema Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI ini terlaksana atas kerja sama LTM PBNU dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). 

Hadir pada hari terakhir roadshow Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pulau Sulawesi Selatan ini Sekretaris LTM PBNU H Ibnu Hazein, Wakil Sekretaris LTM PBNU Syarif Hidayat, Sekretaris LTM PBNU H Sarmidi Husna, Ketua PCNU Kabupaten Gowa Abdul Jabbar Hijaz, Wakil Ketua PWNU Sulawesi Selatan H Muammar Bakri. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Pada tahun 1958, ada yang menyebutkan pada tahun 1950, Presiden Soekarno berkunjung ke Mataram, melalui bandara Selaparang, Ampenan. Tujuannya untuk meresmikan kantor gubernur Nusatenggara Barat (NTB).

Rencana kedatangannya, telah tersiar jauh hari sebelumnya oleh warga di pulau Lombok itu, termasuk oleh Tuan Guru Haji (TGH) Saleh Hambali. Jika kejadian itu tahun 198, saat itu berarti ia adalah Rais Syuriyah PWNU NTB. Saat itu NU masih berstatus partai. ?

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Tuan Guru itu sebetulnya dikenal masyarakat sebagai orang yang rendah hati dan jarang berkomunikasi dengan pihak luar, apalagi dengan seorang presiden. Namun, entah kenapa, dengan percaya diri ia menegaskan, bahwa Bung Karno akan berkunjung ke pesantrennya, Darul Qur’an di desa Bengkel. Sebuah desa yang akan dilalui Bung Karno jika melalui Ampenan. ?

Akan mampirnya Bung Karno, dikemukakan Tuan Guru kepada para santrinya. Salah seorang saksi hidup peristiwa itu adalah Ustadz Asmaun dari desa Bonder, Lombok Tengah yang diceritakan anaknya, Syaifullah. Ketua PWNU NTB saat ini, TGH Taqiudin Mansur juga membenarkan kisah itu.? Dia mendngar cerita itu dari ayahnya, TGH Mansur, santri Darul Qur’an saat itu. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para santri merasa heran kenapa Tuan Guru Soleh Hambali bisa seyakin itu karena tidak ada pemberitahuan dari pihak mana pun tentang berkunjungnya Bung Karno ke pesantren Darul Qur’an.

Beberapa hari menjelang kedatangan, di agenda protokoler kepresidenan tetap tidak ada jadwal Presiden Soekarno ke pondok. Namun, TGH Saleh Hambali malah meminta para santri menyiapkan podium penyambutan.

Di hari kedatangan Bung Karno, dari bandara Selaparang Ampenan menuju kota Mataram, semua santri disuruh keluar oleh TGH Saleh Hambali.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh berkata kepada santri-santrinya, jika Bung Karno adalah pemimpin yang benar, dia akan mampir ke pesantren Darul Qur’an.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh waktu itu menulis ayat Al-Quran di dinding pesantren, yaitu “Fawaillul lil mushallin.” Namun, dalam pada catatan Yusuf Tantowi, ayat yang ditulis TGH Saleh adalah “Fa ammal yatima fala taqhar, wa amma sya ila fala tanhar” dan dia tidak menuliskannya di tembok, melainkan dibentangkan di atas spanduk.

Ternyata, ketika Bung Karno melewati pondok pesantren Darul Qur’an, ia benar-benar mampir. Hal itu di luar dugaan pasukan pengawal yang berada di paling depan. Mereka tidak mengetahui orang yang dikawalnya telah mampir pada tempat yang tidak dijadwalkan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja

Bondowoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kegiatan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ke-2 GP Ansor Bondowoso merupakan tidak lanjut dari rapat kerja cabang pertama yang telah digelar satu tahun lalu. Sebelumnya, Rakercab ini dilaksanakan bersamaan dengan pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bondowoso. Rakercab kedua ini juga merumuskan agenda-agenda ke depan agar berjalan dengan baik.

Hal tersebut di sampaikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (PG) Ansor Kabupaten Bondowoso Muzammil dalam sambutannya membuka Rapat Kerja Cabang Ke-2 dan sekaligus Pelantikan Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Bondowosa PC GP Ansor di Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Koncer Darul Aman Jl KH Abd Muiz Tr Desa Koncer Darul Aman Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Sabtu (5/3).

Ia berharap nantinya di Rakercab ini agar ada kontrol bersama, agar ada tanggung jawab bersama sehingga kedepan betul-betul sesuai apa yang diinginkan warga Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso, selain bisa bermanfaat untuk masyarakat Bondowoso secara umum.

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja

Acara Pembukaan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ke-2 ini di ikuti 23 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor se-Kabupaten Bondowoso dengan mengambil tema ‘Revatalisasi peran Pemuda Ansor dalam proses Pembangunan menuju Masyarakat Bondowoso Beriman, Berdaya dan Bermartabat’.

Turut hadir pula juga dalam acara pembukaan Rakercab Ke-2 ini di antaranya Ketua PC GP Ansor Bondowoso Muzammil beserta jajarannya, Banser, Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor, Polsek Tenggarang, Koramil Tenggarang, Camat Tenggarang Jakfar Sodik, Diknas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Pengasuh Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki KH Muhammad Hasan Abd Muiz. (Ade Nurwahyudi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Hadits, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi

Oleh Ahmad Nur Kholis

--Awal tahun 2009 silam saya mengikuti acara pengajian Almaghfurlah KH Idris Marzuki Lirboyo. Acara dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Fattah Singosari, asuhan KH Ja’far Shadiq atau biasa disapa Gus Ja’far. Acara ini digelar oleh alumni dan masyarakat umum dalam rangka turba persiapan peringatan Harlah satu Abad lirboyo. Turut dalam acara ini Almukarram KH Abdullah Kafabih Mahrus.

Dalam kesempatan itu, selain diisi dengan pemberian ijazah “Dala’ilul Khairat” oleh KH Idris, juga ada mau’idzah hasanah oleh beliau, kepada semua yang hadir. Dalam ceramahnya ini KH Idris menjelaskan tentang pentingnya pendidikan pesantren bagi generasi masa depan.

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi

Disamping itu, Putra dari KH Marzuki Dahlan ini juga menerangkan tentang isi dari sebuah kitab kecil yang seingat saya dibawanya. Tapi waktu itu saya tidak tahu nama kitab tersebut karena pendengaran saya kurang teliti. Tapi yang jelas telinga saya mendengar bahwa kitab yang diterangkan ini ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahab pendiri Wahabi.

Dalam kitab itu seingat saya KH Idris menjelaskan tentang klarifikasi Muhammad bin Abdul Wahab bahwa jika ada yang mengatakan bahwa dirinya telah membid’ahkan tawassul maka itu adala kebohongan yang besar. KH Idris membacakan kitab kalimat “Buhtanun Adhim” dalam kitab itu.

Saat ini, setelah Al-Mukarrom KH Idris telah berpulang tahulah saya nama kitab itu. Dalam sebuah buku yang diterbitkan Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berjudul “Tradisi Amaliah NU dan Dalil-dalilnya” disebutkan:

“Sesungguhnya Sulaiman bin Suhaim telah menyandarkan pendapat-pendapat yang tidak saya katakan, diantaranya adalah: saya mengkafirkan orang-orang yang bertawassul terhadap orang Shalih, dan saya katanya, mengkafirkan Syaikh Al-Bushairy, dan telah membakar Kitab Dalailul Khairat. Jawaban saya atas tuduhan di atas adalah, bawa itu merupakan kebohongan yang besar.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendapat ini dikutip dari kitab Muhammad bin Abdul Wahab yang berjudul: “Al-Muwajjahah li Ahlil Qashim.”

Dalam buku terbitan PBNU itu juga dikutip tentang keterangan Muhammad bin Abdul Wahab saat ditanya tentang shalat Istisqa’. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menjawab tidak masalah dalam shalat istisqa’ diselingi tawasul kepada orang shalih. Pendapat ini dikutip dari kitab Rasail Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Subhanallah......

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Selasa (10/1) malam, akan menggelar diskusi bidang pertanian di Jalan Kramat Raya 65A Jakarta Pusat.

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), di Jakarta melalui pesan tertulisnya menyatakan, diskusi itu akan dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Eko Putro Sandjojo.

Dalam Diskusi Refleksi Akhir Tahun 2016, Gerakan Pemuda Ansor, Ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan ESDM PP GP Ansor Adhe Musa Said prihatin melihat nasib petani yang cenderung tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Ia berharap kebijakan sektor pertanian dijalankan serius oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Agenda lain di PP GP Ansor Selasa malam ialah menyambut anggota Banser dari Malang, Jawa Timur, Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) yang bertekad menyosialisasikan corak khas Islam Nusantara ke 11 Negara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni, Senin (9/1) malam mengintruksikan jajarannya mendampingi Gus Yaqut yang akan menyambut Hakam dan istri.?

Hakam yang bertolak dari Malang 17 Desember 2016 tiba di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (7/1). Kedua pasangan suami istr itu disambut ratusan Banser setempat di perbatasan Indramayu-Subang. Hakam dan Rofingatul dijadwalkan tiba di Kantor PP GP Ansor sekitar pukul 17.30 WIB. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat Nabi Menjawab Pertanyaan

Nabi adalah orang yang membawa berita. Bukan sembarang berita, tapi ini berita dari langit. Semua Nabi membawa dua pesan utama: percaya kepada Tuhan dan percaya pada hari akhir/hari kebangkitan. Pesan dari langit bukan sekadar pepesan kosong melainkan juga harus diterapkan untuk terciptanya ketertiban dan kenyamanan. Pada titik ini, Nabi menjelma menjadi suri tauladan untuk menjalankan pesan ilahi.

Nabi bukan hanya pembawa pesan (messenger) sebagaimana layaknya tukang pos yang tidak tahu isi pesan. Nabi diberi pemahaman akan berita atau pesan yang hendak diteruskan kepada sesama. Bahkan Nabi juga menjawab sejumlah pertanyaan mengenai maksud dan kandungan berita langit. Nabi juga menjadi orang pertama yang berhadapan dengan mereka yang tidak percaya dan mengingkari pesan langit.

Saat Nabi Menjawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Nabi Menjawab Pertanyaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Nabi Menjawab Pertanyaan

Ada yang jelas-jelas menentang (kafir) namun ada pula yang hatinya mendua antara percaya dan tidak percaya (munafiq). Banyak pihak yang sekadar iseng bertanya kepada Nabi. Atau bertanya untuk menguji dan mengolok-olok. Ada pula yang gemar mencari-cari kesalahan, menguping dan membocorkan pembicaraan Nabi, bahkan ada yang meniru gerak-gerik Nabi berbicara sekadar mengejek setiap kali Nabi menyampaikan pesan atau penjelasan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam Hadis riwayat Imam Bukhari dikisahkan Nabi naik mimbar dan kemudian "menantang" jamaah untuk mengajukan pertanyaan yang mereka mau, dan pasti saat itu akan Nabi jawab. Melihat Nabi yang terlihat geram, sejumlah sahabat menangis terisak-isak. Nabi berulangkali berseru: "bertanyalah kalian kepadaku!". Seorang bertanya, "dimana tempat tinggalku kelak?" Nabi menjawab: "kamu di neraka!". lantas Abdullah bin Hudzaifah bertanya: "siapa ayahku Ya Rasul?" Nabi menjawab, "Ayahmu Hudzaifah." Nabi masih menunggu siapa lagi yang mau bertanya segala macam kepadanya dengan terus mengulang: "Ayo bertanya lagi?!"

Umar bin Khattab kemudian berkata: "Radhina billahi Rabba, wa bil Islami dina, wa bi Muhammadin shallahu alayhi wa sallam Rasula (Kami ridha Allah sebagai Rabb Kami, Islam sebagai agama kami dan Muhammad SAW sebagai Rasul)." Ucapan Umar di tengah isak tangis para sahabat tersebut mengandung pertaubatan, penyesalan akan ketidaksopanan sejumlah pihak dan juga pengulangan janji kesetiaan kepada Nabi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nabi terdiam sejenak mendengar ucapan Umar. Nabi kemudian bersabda: "Pada dinding ini telah diperlihatkan kepadaku surga dan neraka. Belum pernah kulihat kebaikan dan keburukan seperti hari ini." Ucapan Nabi bermakna gentingnya situasi saat itu akibat kemarahan Nabi.

Peristiwa ini berbuntut panjang. Dalam riwayat Imam Muslim diceritakan kisah tambahan betapa ibu Abdullah murka pada anaknya yang bertanya siapa bapaknya di depan Nabi. Bukan saja pertanyaan itu tidak penting ditanyakan tapi juga seolah meragukan jalur nasabnya. Kata ibunya, "Kamu sangka ibumu ini pelacur yang kemudian aibnya mau kamu buka di depan Nabi dan jamaah dengan bertanya seolah meragukan siapa ayahmu?! Aku tidak pernah mendengar seorang pun yang lebih durhaka ketimbang engkau!"

Ada memang orang yang selalu ingin tahu hal-hal yang amat sangat detil dari agama ini. Nabi yang membawa gagasan besar dan pesan dari langit disibukkan dengan pertanyaan remeh temeh, seperti orang yang kehilangan unta dan kemudian bertanya hal itu kepada Nabi.

Nabi pernah bersabda:

"Wahai manusia, sesungguhnya Allah telah mewajibkan haji kepada kalian, maka berhajilah”. Seseorang berkata, ”Apakah setiap tahun, wahai Rasulullah?” Maka beliau diam hingga orang tersebut mengulanginya sampai tiga kali, kemudian Rasulullah bersabda, ”Kalau aku katakan ya, niscaya hal tersebut menjadi wajib, dan niscaya kalian tidak akan sanggup,” kemudian beliau bersabda, ”Biarkanlah aku terhadap apa yang aku tinggalkan kepada kalian. Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian binasa karena pertanyaan dan penentangan mereka kepada nabi-nabi mereka. Jika aku memerintahkan sesuatu kepada kalian, kerjakan semampu kalian. Dan jika aku melarang sesuatu pada kalian, tinggalkanlah."

Maka kemudian turunlah ayat: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian menanyakan hal-hal yang jika diterangkan kepada kalian, niscaya menyusahkan kalian." [al-Mâidah: 101].

Jadi, apa kita tidak boleh bertanya? Tentu boleh. Ada sekitar 12 ayat di mana Allah turun tangan langsung menjelaskan jawaban dengan menggunakan redaksi: "Mereka bertanya kepadamu tentang...." Itu karena pertanyaannya sangat penting. Di lain kesempatan, Nabi juga senang sekali berdialog dengan para sahabatnya. Ini artinya Nabi tidak keberatan menghadapi berbagai pertanyaan sahabat.

Namun seringkali orang bertanya bukan untuk mendapatkan jawaban. Ada yang bertanya untuk menunjukkan bahwa dia juga memiliki pengetahuan tentang hal yang dibicarakan. Ada yang bertanya untuk menyindir, atau untuk menunjukkan kita lebih pintar dari yang ditanya. Atau bertanya untuk menebar pesona betapa alim dan dermawannya kita.

Simak pertanyaan model ini: "Mengapa ya Ustadz setiap saya habis bersedekah rasanya nikmatttt sekaliii?" Lantas disusul pertanyaan jamaah lain, "Kalau saya rasanya nikmat itu pas sehabis shalat tahajud 12 rakaat. Kenapa ya Ustadz?" Atau yang satu ini: "Bu Ustadzah, setiap saya pergi umrah setiap bulannya kenapa ya saya selalu menangis kalau shalat di depan Kabah? Dan anehnya tetangga saya katanya tidak bisa keluar air mata di Tanah Suci. Apakah perbedaan ini karena saya rajin menyantuni anak yatim, sementara tetangga saya itu terkenal pelitnya ya Bu?"

Duuhhhh!

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesantren Al-Barokah Lolos ke Semifinal Liga Santri

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kesebelasan pesantren Al-Barokah, Daleman, Wonosari, Klaten, menjadi tim pertama yang lolos ke babak semifinal Liga Santri Nusantara (LSN) U-17 Zona Jateng 1. Hasil ini diperoleh Al-Barokah setelah pada laga keduanya di penyisihan Grup D menundukkan Al-Muayyad Solo dengan skor 3-0 di Lapangan Kota Barat Solo, Kamis (17/8).

Pesantren Al-Barokah Lolos ke Semifinal Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Barokah Lolos ke Semifinal Liga Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Barokah Lolos ke Semifinal Liga Santri

Ketiga gol, dua tercipta dari kaki Rifa’i pada menit ke-11 dan 14. Sementara, satu gol lainnya dilesakkan M Shihab pada menit ke-47.

Berkat kemenangan ini, Al-Barokah pun semakin kokoh di puncak klasemen Grup D dengan torehan enam poin hasil dari dua kali kemenangan. Dengan regulasi turnamen yang hanya mengambil satu tim dalam tiap grup untuk melaju ke final, posisi puncak klasemen itu pun sudah membuat Al-Barokah sepenuhnya aman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatih tim Al-Barokah Wito, tidak menyangka jika timnya mampu melenggang ke babak semifinal dengan mulus. Sebab, persiapan timnya menghadapi turnamen ini terbilang mepet, hanya sekitar satu pekan.

“Semua pemain kami berasal dari kampung dan sebelumnya tidak pernah belajar bermain bola di SSB. Tapi, ternyata semangat mereka lebih besar dari kemampuannya,” ujar Wito saat dijumpai seusai laga.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, pada pertandingan lain di Grup A, Nurul Islam Boyolali kalah dengan skor telak dari Mamba’ul Hikmah Wonogiri 1-4. Dengan hasil ini, Nurul Islam melenggang ke semifinal pun menipis karena turun satu peringkat ke urutan kedua, digeser oleh Mamba’ul Hikmah yang juga mengemas tiga poin, namun lebih unggul dalam produktifitas gol. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jadwal Kajian, Halaqoh, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 22 Februari 2018

NU Minta Swasta Dilibatkan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pemerintah harus lebih banyak melibatkan partisipasi dan peran lembaga pendidikan swasta dalam penyelenggaraan pendidikan nasional, termasuk dalam menuntaskan program wajib belajar sembilan tahun. Mutu pendidikan nasional yang baik akan tercapai, apabila semua pihak sama-sama bekerja keras.

Demikian disampaikan Sekjen Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Endang Turmudzi sehubungan dengan penandatanganan piagam kerjasama antara Departemen Pendidikan Nasional dengan Pimpinan Pusat Lembaga Pendidikan (LP) Ma’arif Nahdlatul Ulama tentang program sarjana dan pemuda penggerak wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun di Jakarta, Kamis (3/5).

NU Minta Swasta Dilibatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Minta Swasta Dilibatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Minta Swasta Dilibatkan

Penandatangan naskah piagam kerjasama program tersebut dilakukan di gedung Depdiknas Jakarta oleh Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Suyanto dan Ketua PP LP Ma’arif NU HM. Thoyib.

Endang mengatakan, dalam upaya peningkatan mutu pendidikan, maka peningkatan anggaran pendidikan merupakan suatu keharusan. Karena dengan anggaran yang memadai merupakan faktor penting bagi pembangunan sarana dan prasarana pendidikan, termasuk juga kesejahteraan para pendidik.

”Jadi anggaran yang sekarang ini masih kurang memadai. Karena itu NU mengupayakan agar anggaran pendidikan itu 20 % dari APBN,” tandasnya.

Terkait dengan lembaga pendidikan dibawah payung NU, Endang berharap pemerintah lebih memperhatikan sekolah-sekolah swasta seperti sekolah yang dimiliki organisasi berlambang bintang sembilan ini. Karena bagaimanapun lembaga pendidikan ini telah lama berkiprah di masyarakat, membantu pemerintah dalam mencerdaskan bangsa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Secara umum lembaga pendidikan dibawah NU adalah swasta, baik sekolah maupun madrasah. Sebagian besar berada di pedesaan, namun selama ini perhatian pemerintah masih kurang," kata Endang.

Sementara itu Koordinator program sarjana dan pemuda penggerak wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun (SP2WB) Ma’arif-Depdiknas Mamat S. Burhanudin mengatakan, melalui program ini akan dilakukan rekrutmen sarjana dan pemuda untuk dilatih melakukan kegiatan-kegiatan pokok dalam penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun, seperti sosialisasi wajib belajar.

”Tujuannya untuk menggerakkan potensi yang ada di masyarakat, swasta dan pemerintah dalam menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun,” imbuh Mamat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan, saat ini meskipun angka partisipasi kasar (APK) peserta wajib belajar nasional telah mencapai 88,68 persen, namun masih ada beberapa daerah yang memiliki APK rendah. ”Program ini ditujukan bagi daerah yang mempunyai APK rendah dan memiliki angka absolut tinggi,” jelasnya.

Adapun pelaksanaan program SP2WB Maarif-Depdiknas dijadwalkan dimulai dengan penyelenggarakan Training of Traner (TOT) pada 7-11 Mei mendatang di Jakarta yang akan diikuti 110 peserta, meliputi peserta dari daerah APK rendah dari 20 kabupaten yang mewakili 13 provinsi, darn dari unsur pengurus PP LP Ma’arif. (dpg/nam)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketum PBNU: IPNU-IPPNU Pintu Pertama Kaderisasi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengatakan, Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) merupakan harapan besar bagi generasi NU mendatang. Kedua badan otonom ini harus di garda depan dalam proses kaderisasi.

Ketum PBNU: IPNU-IPPNU Pintu Pertama Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: IPNU-IPPNU Pintu Pertama Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: IPNU-IPPNU Pintu Pertama Kaderisasi

”IPNU dan IPPNU adalah gerbang awal atau pintu pertama kaderisasi di NU,” ujarnya usai melantik Pimpinan Pusat IPNU dan IPPNU di Jakarta, Senin (18/3) malam.

Menurut kiai yang akrab disapa Kang Said ini, menyongsong peringatan satu abad NU atau sekitar 13 tahun yang akan datang, NU membutuhkan kader-kader baru yang lebih unggul dari IPNU-IPPNU. Sebab, merekalah nanti yang akan meneruskan estafet kepengurusan dan pengabdian di ormas Islam terbesar ini di masa depan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Turut hadir pula dalam kesempatan ini Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Helmy Faishal Zaini, utusan  Kedutaan Besar Amerika Serikat, dan sejumlah mantan pengurus dan ketua umum IPNU dan IPPNU.

Dalam sambutannya, Muhaimin menjelaskan kebesaran Islam Indonesia di dunia internasional. Menurut pengalamnnya di luar negeri, selama ini Islam di Tanah Air sangat diperhitungkan dan menjadi rujukan bagi isu-isu keislaman baik oleh Timur Tengah ataupun Barat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dan kalau bicara Islam Indonesia berarti bicara NU karena NU lah yang terbesar di republik ini,” katanya.

Dengan alasan ini, Muhaimin mendorong kepengurusan baru IPNU-IPPNU untuk giat memajukan organisasi. Ia optimis IPNU-IPPNU akan menjadi lebih baik.

”Masa depan di tangan anda. Dan rebutlah masa depan itu untuk kemaslahatan NU dan Islam di masa yang akan datang,” ujarnya.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Makam, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 21 Februari 2018

Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA

Buleleng, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Desa Pengastulan, Kecataman Seririt, Kabupaten Buleleng, Bali memiliki sejarah yang agak berbeda dengan daerah lain di Bali. Jika di tempat lain hubungan keharmonisan antara Islam dan Hindu berjalan cukup harmonis, di Desa yang berada di Kabupaten Buleleng ini dikenal sebagai desa yang seringkali terjadi letupan konflik berlatar SARA.

Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor di Sebuah Desa di Bali Ini Jadi Penengah Konflik SARA

Walau demikian, konflik yang terjadi tidak sampai meluas dan hanya terlokalisir di Desa Pengastulan. Karena sesungguhnya latar konflik tidak ansih karena agama, melainkan kesalahpahaman-kesalahpahaman antar anak muda yang kebetulan berbeda agama.?

Terakhir, konflik kembali memanas pada bulan puasa. Dan ini lagi lagi karena gesekan pemuda yang karena masalah sepele, namun dibawa dan diprovokasi menjadi konflik agama. Kondisi seperti ini tentunya tidak mengenakan bagi masyarakat Pengastulan baik Islam maupun Hindu, yang selalu dibayangi konflik terus menerus.

Untuk itu, keberadaan Gerakan Pemuda Ansor yang belum lama dibentuk di Desa Pengastulan ini terus melakukan komunikasi dua arah untuk meminimalisir kesalahpahaman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal ini ditegaskan Mursalin, Ketua Ranting GP Ansor Pengastulan ketika ia dan puluhan anggota Banser turut mengamankan Upacara Ngaben, Rabu (30/8). "Kami akan terus berkomunikasi dan bekerja sama seperti ini," tegasnya.

Mursalin melanjutkan, selama ini gesekan kerap terulang karena tidak adanya tindakan nyata kedua belah pihak untuk benar benar bersatu. "Simbolitas semacam ini sungguh sangat berarti, dimana kami yang Muslim juga turut andil pada kegiatan saudara kita yang beragama Hindu, dan kerjasama seperti ini belum pernah terjadi sejak dulu" terangnya.

Setelah terbentuknya GP Ansor ini, Mursalin mengaku agak mudah berkomunikasi dengan semua pihak. ? Kemudahan ini tentunya tidak bisa dilepaskan dari nama besar NU dan Gus Dur.?

"Ketika kami berkoodinasi dan membawa nama NU, mereka sangat respek, dan menerima dengan hangat," ungkapnya.

Kondisi yang sudah cendrung membaik ini, akan dimanfaatkan GP Ansor untuk merajut persaudaraan sesama masyarakat Desa Pengastulan. "Kami tidak ingin ada lagi gesekan, karena sekali terjadi lagi, maka yang rugi adalah kita bersama," tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk diketahui, keberadaan Islam di Desa Pengastulan terbilang cukup lama, yang telah ada sejak abad ke 17. Dari empat dusun yang ada, Islam terisolir di satu dusun bernama Dusun Kauman, dengan jumlah pemeluk Islam sekitar 25 persen dari 4468 jumlah keseluruhan penduduk Desa Pengastulan. (Abraham Iboy/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi mengupas makna Jihad dalam Refleksi Satu Tahun dilaksanakannya Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi), Ahad (21/02/16). Kegiatan yang dihadiri ratusan Jamaah yang datang dari segala penjuru Kabupaten Pringsewu ini dibarengkan dengan Launching Kegiatan Pra Harlah Ke-93 NU PCNU Kabupaten Pringsewu.

Baca:? Empat Kegiatan PCNU Pringsewu Sambut Harlah Ke-93 NU

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad

Dalam penjelasannya Abah Sujadi, biasa ia dipanggil, mengatakan bahwa mayoritas orang menafsirkan dan mengaitkan Jihad dengan peperangan. "Selain ditafsirkan dan dikaitkan dengan peperangan, pengembangan makna jihad menyentuh kepada perjuangan di jalan kebaikan atau sabilur khoir," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Kata Jihad dalam bahasa Arab terdiri dari 4 huruf yang masing-masing memiliki makna sesuai dengan tujuan jihad. "Jihad terdiri dari huruf Jim yaitu Juhdun wajihadun, huruf Ha yaitu hidayah, huruf Alif yaitu aman dan amanah dan huruf dzal yaitu dawam dan daulah," katanya mengutip Kitab Dalailul Falihin yang merupakan Syarah Kitab Riyadus Shalihin Jilid IV.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa setiap orang yang berjihad harus memiliki 4 rukun Jihad tersebut. "Rukun yang pertama adalah juhdun yaitu bersungguh sunguh. Dalam jihad kita harus bersusah payah namun tidak boleh merasa susah dan tidak boleh merasa payah," tegasnya dihadapan Jamaah yang memenuhi Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rukun yang kedua dalam berjihad menurutnya adalah hidayah yang bermakna petunjuk. "Dengan petunjuk ini kita akan mendapatkan hasil jihad yaitu berupa keberkahan. Dan keberkahan inilah yang diharapkan dalam kehidupan dalam berbangsa dan bernegara," tuturnya.

Sujadi melanjutkan Rukun Jihad yang ketiga adalah Aman dan Amanah. Ia mengatakan bahwa keamanan adalah kunci dalam melaksanakan syariat Agama. "Jihad dilakukan dengan tidak merusak keamanan. Jika kondisi negara tidak aman maka kita akan merasa tidak tenang dan nyaman dalam melakukan Ibadah kita," ujar kiai yang juga Bupati Pringsewu ini.

Kemudian rukun jihad yang terakhir menurutnya adalah Dawam yaitu dilakukan secara terus menerus. " Jihad tidak bisa dilakukan secara instan. Jihad membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu dalam jihad tidak boleh memaksakan sesuatu berubah dengan cepat sesuai dengan keinginan kita," pungkasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai rasa syukur atas sudah satu tahun Program Jihad Pagi pada diakhir acara dilakukan pemotongan Tumpeng oleh Abah Sujadi dan diberikan secara simbolis kepada Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

MWCNU Kedopok Kota Probolinggo Miliki Kantor Baru

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sejak akhir Desember 2017 lalu, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Kedopok, Kota Probolinggo Jawa Timur memiliki gedung baru sebagai kantor dan sarana penunjang operasional kerja organisasi. Gedung ini terletak di Jalan Bengawan Solo Kelurahan Sumber Wetan, Kecamatan Kedopok.

MWCNU Kedopok Kota Probolinggo Miliki Kantor Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Kedopok Kota Probolinggo Miliki Kantor Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Kedopok Kota Probolinggo Miliki Kantor Baru

Ketua PCNU Kota Probolinggo H. Muhammad menyambut gembira adanya gedung baru MWCNU Kecamatan Kedopok tersebut. Menurutnya, adanya kantor sebagai perekat, ukhuwah, sinergis antar pengurus MWCNU dan Pengurus Ranting NU se-Kecamatan Kedopok.

“Terwujudnya kantor ini tidak lepas dari cita-cita, kekompakan dan kerja keras para pengurus MWCNU Kecamatan Kedopok,” katanya, Selasa (16/1). Keberadaannya untuk memudahkan kegiatan pengurus baik MWC dan ranting, termasuk lembaga maupun badan otonom (banom) NU, lanjutnya.

Terpisah, Ketua MWCNU Kecamatan Kedopok Syairuddin berharap kantor baru tersebut bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan kepada warga NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Mari bersama-sama menjadikan kantor baru ini sebagai media dakwah bagi warga NU baik di tingkat MWC, Ranting maupun lembaga dan badan otonom NU yang ada di sini,” katanya.

Sementara, Ketua Ranting NU Desa Sumber Wetan Hamdan Amrullah mengharapkan kantor baru menjadi ajang silaturrahim dan membuat lebih solid pengurus dalam menata, mengukuhkan dan mendakwahkan NU dengan melibatkan secara aktif dan masif kepada para Ranting NU se-Kecamatan Kedopok. (Syamsul Akbar/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 20 Februari 2018

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda mengingatkan pengurus NU beserta lembaga dan banomnya untuk tetap bersemangat mengurus NU. Kendati bukan organisasi yang berorientasi profit, keberkahan di dunia dan di akhirat akan selalu memayungi kehidupan pengurus NU.

“Jangan berpikir uang dalam mengurus NU. Jalankan saja dengan ikhlas,” ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda, di Blambangan Umpu, sekitar 220 km sebelah utara Kota Bandarlampung, Jumat (7/11).

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Way Kanan Tegaskan Keikhlasan Mengurus NU

Menurut Kiai Huda, pengurus NU mesti yakin akan ganjaran Allah. "Karena itu, saya mengingatkan kader NU di Way Kanan yang meyakini pilihan bergiat aktif di organisasi ini untuk mempercayakan segalanya kepada Allah.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menjadi pengurus NU tidak ada gajinya. Mengurus NU itu berjuang, ujar Ketua PCNU Way Kanan periode 2011-2016.

KH Huda mengajak kader dan warga NU di daerah yang berabatasan dengan Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Timur Sumsel itu untuk selalu menegakkan panji-panji Aswaja. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PBNU Berangkatkan Peserta Kemah Ramadhan IPPNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pada bulan Ramadhan ini, Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) menggelar “Kemah Ramadhan Pramuka 2010” yang digelar di Bumi Perkemahan Cibubur Jakarta pada 27-29 Agustus 2010.

Sebanyak 80 siswa yang berasal dari Sekolah Menangah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA) di Jakarta mengikuti acara ini. Pemberangkatan dilakukan di gedung PBNU oleh Ketua PBNU Slamet Effendy Yusuf seusai sholat Jum’at.

PBNU Berangkatkan Peserta Kemah Ramadhan IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Berangkatkan Peserta Kemah Ramadhan IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Berangkatkan Peserta Kemah Ramadhan IPPNU

Slamet dalam sambutannya mengemukakan IPPNU merupakan wahana pengkaderan bagi generasi muda NU. Ia berharap para pelajar putri ini serius dalam belajar untuk mempersiapkan diri mereka demi masa depan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Para pelajar putri NU ini untuk sepuluh tahun ke depan harus mampu mengambil peran penting, karena itu, saat ini harus mempersiapkan dirinya baik-baik,” katanya.

Jika para kader tersebut mampu memaksimalkan potensi terbaiknya, maka akan mampu memberikan peran yang terbaik untuk bangsa. “Kalian tumbuh subur harapan NU,” tandasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selama di bumi perkemahan, para remaja putri ini akan dibekali materi kepramukaan agar bisa lebih mandiri, tak lupa materi-materi keagamaan dank e-NU-an. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 19 Februari 2018

PCINU Yaman Terbitkan Buku "Hadhramaut Corner"

Tarim, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Upaya melestarikan manhaj serta pemikiran salafus sholeh agaknya tak cukup dengan menggelindingkan wacana mereka di forum-forum kajian serta diskusi.?

Salah satu langkah yang kongkret adalah dengan menuangkannya dalam bentuk buku. Menyadari hal itu, memasuki tahun baru masehi 2013, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama’ (PCINU) Yaman menerbitkan buku berjudul “Hadhramaut Corner”. Selain sebagai aplikasi nyata dalam ranah dakwah bil qolam, kehadiran buku setebal 239 halaman tersebut – sebagaimana bisa diketahui dari judulnya – juga merupakan upaya kristalisasi ide dan pemikiran ulama di negeri Hadhramaut, Yaman.?

PCINU Yaman Terbitkan Buku Hadhramaut Corner (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Yaman Terbitkan Buku Hadhramaut Corner (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Yaman Terbitkan Buku "Hadhramaut Corner"

Buku yang ditulis oleh M. Khotibul Umam, mantan wakil rais syuriyah PCINU Yaman periode 2010-2012 yang baru saja menyelesaikan studi S1 di Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff Tarim ini, merupakan kumpulan essai tetapnya dalam rubrik Tadarus Ramadhan di situs berita www.okezone.com selama 3 tahun berturut-turut, mulai 1431 hingga 1433 Hijriah.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Umam, demikian ia akrab disapa, menjadi penulis tetap kolom Tadarus Ramadhan di okezone, di tengah-tengah kesibukannya menjalani aktivitas kemahasiswaan.

“Buku ini saya dedikasikan untuk para segenap pelajar, warga Nahdliyyin, dan seluruh umat Islam, serta masyarakat Indonesia secara umum,” ujar pemuda asal Sampang, Madura tersebut saat acara launching buku, Jumat (04/01) di salah satu ruang paralel Universitas Al-Ahgaff, Tarim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadhramaut Corner sendiri merupakan terjemahan dari bahasa Arab : Zawiyah Hadhramaut. Zawiyah – yang berarti pojok – merupakan istilah yang digunakan masyarakat Kota Tarim, Hadhramaut untuk menunjukkan arti sebuah tempat khusus di pojok masjid yang dijadikan tempat menggelar aktivitas keilmuan.?

Melalui keberadaan zawiyah-zawiyah inilah, selama berabad-abad, masjid – masjid di Tarim tak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah semata. Melainkan mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam pembentukan keilmuan umat. Di tempat tersebut, para masyayikh membacakan kitab keislaman kepada masyarakat. Diantara sekian banyak zawiyah yang masih eksis dan konsisten hingga kini, adalah zawiyah Masjid Syekh Ali, yang diasuh oleh Habib Abdullah bin Syihab ; zawiyah tua yang menjadi salah satu sumber inspirasi penulisan buku Hadhramaut Corner. Salah satu kitab rujukan kajiannya, adalah an-Nashoih ad-Diniyah karya Imam Abdullah bin Alwy al-Haddad(w. 1132 H.)

“Sebagian besar isi buku ini terinspirasi dari nasehat serta petuah para habaib Kota Tarim di beberapa zawiyah yang konsisten saya ikuti,” papar penulis bernama pena Umamel Samfanie.

Bagi alumnus pesantren Lirboyo Kediri tersebut, ide-ide serta pemikiran sejumlah Masyayikh Hadhramaut, diantaranya; Habib Abdullah bin Syihab, Habib Salim al-Syathiri, Habib Ali al-Masyhur, dan Habib Umar bin Hafidz, sangat patut diapresiasi dan diwacanakan di Indonesia. Khususnya, terkait metodologi dakwah yang menekankan nilai kecintaan ? dan perdamaiandalam mempresentasikan ajaran Islam, sebagaimana yang dibawa oleh para Walisongo di Nusantara. Hal itu bisa dilihat dari salah satu esai yang berjudul “Luthfan la ‘Unfan : Lemah Lembut, Bukan Ganas Beringas”.

“Buku ini sengaja ditulis dengan gaya essai ringan, agar bisa lebih mengena kepada pembaca,” papar Umam yang akan segera bertolak ke tanah air dalam waktu dekat.

Sementara itu, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTNU) PCINU Yaman, M. Shofwan Jauhari, berharap besar agar kehadiran buku Hadhramaut Corner ini menjadi awal yang baik untuk geliat kepenulisan dan penerbitan lembaga yang ia bawahi.

“Ini menjadi motivasi besar untuk kawan-kawan LTNU !” ungkapnya saat diwawancara. Mahasiswa Al-Ahgaff ? tingkat akhir, asal Sidoarjo itu menambahkan, bahwa selain penulisan buku, LTNU juga akan fokus ke aktivitas penerjemahan. Insya Allah, dalam waktu dekat, Hadhramaut Corner akan dicetak oleh sebuah penerbit di Indonesia.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Dzul Fahmi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat

Padang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sekretaris GP Ansor Sumatera Barat Zulhardi Z Latif dilantik sebagai anggota DPRD Kota Padang periode 2014-2019, Rabu (6/8). Zulhardi dilantik bersama anggota DPRD Kota Padang lainnya di aula gedung DPRD Kota Padang.

Menjelang pelantikan, Zulhardi mengatakan kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, jabatan sebagai wakil rakyat merupakan amanah rakyat yang harus dijalankan. “Alhamdulillah, konstituen saya mengantarkan saya menjadi wakil rakyat,” katanya.

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekretaris Ansor Sumbar Dapat Amanah Rakyat

Sebagai kader Ansor, kata Zulhardi, kita akan berupaya menyuarakan aspirasi generasi muda NU di Kota Padang. Ini pertama kader Ansor yang dilantik menjadi anggota DPRD Kota Padang setelah reformasi, katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum menjadi Sekretaris GP Ansor Sumbar, ia pernah diamanahkan sebagai Ketua GP Ansor Kota Padang.

Ketua GP Ansor Sumbar Rusli Intan Sati menyampaikan ucapan selamat atas terpilihnya Zulhardi Z Latif. “Meski saya gagal dalam pemilihan legislatif 9 April lalu, pelantikan Zulhardi ini sebagai gantinya. Walaupun daerahnya berbeda, yang penting kader Ansor tetap ada yang di legislatif,” kata Rusli yang pernah menjadi anggota DPRD Solok. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dibarengi Praktik, Maruf Khozin Bedah “Fikih Jenazah An-Nahdliyah”

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menangani orang meninggal dunia, itu bukan tugas dari Modin. Melainkan tugas orang terdekatnya. Hal ini ditegaskan oleh Ustadz Muhammad Maruf Khozin saat mengisi acara bedah buku "Fikih Jenazah An-Nahdliyah" dalam kegiatan pengajian Ramadhan di masjid Agung Sidoarjo, Ahad (5/7) lalu.

Dibarengi Praktik, Maruf Khozin Bedah “Fikih Jenazah An-Nahdliyah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibarengi Praktik, Maruf Khozin Bedah “Fikih Jenazah An-Nahdliyah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibarengi Praktik, Maruf Khozin Bedah “Fikih Jenazah An-Nahdliyah”

Menurut pria yang juga pengurus Aswaja Center PWNU Jatim ini menuturkan, bahwa memperlakukan orang yang sudah meninggal dunia itu harus sebaik mungkin. "Upaya kita memperlakukan jenazah itu harus dengan sebaik-baiknya," tuturnya.

Mayat yang sudah dimandikan dan diberi sabun, itu sudah cukup. Kalau ada yang dikasih bedak atau dihias supaya kelihatan cantik, di dalam Fikih, Maruf Khozin menyatakan belum menemukan keterangannya. Yang penting syari, itu sudah cukup.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menghadapi perbedaan modin, terkait memandikan jenazah, mengkafani, menyolati, dikatakan Ustadz Maruf itu yang paling pokok. Setelah secara fikih, itu adalah kebiasaan setempat.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Menurut Imam Ibnu Aqil, tidak dianjurkan menyolati secara adat di masyarakat kecuali adat itu haram. Kalau misal di tempat itu sudah biasa dipacaki (dihias), ya silahkan dari pada gegeran (bertengkar)," ujarnya.

Dia menambahkan, masalah tradisi selama belum mengarah pada sesuatu yang haram, itu tidak masalah. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bagi Drs H Achfas Tafsir, kehidupan di alam dunia ini sangat indah ketika berguru pada burung. Sikap tawakal yang pantang menyerah terpatri dalam dada seekor burung. Burung tidak memiliki simpanan pangan apalagi gudang logistik. Namun ketika pagi menjelang, burung keluar dari sangkarnya dengan ceria dalam keadaan perut lapar. Saat sore menjemput malam, burungpun pulang dalam keadaan perut kenyang.

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng

Sikap tawakal dari seekor burung, menjadi daya juang Haji Achfas dalam membangun keluarga sakinah. Baginya, yang penting usaha, bekerja, ikhtiar untuk memperoleh rezeki dari Yang Maha Pengasih.

“Dengan tawakal, hidup tanpa beban,” tutur Achfas saat menerima tim penilai pemilihan keluarga sakinah teladan tingkat Jawa Tengah, di rumahnya Desa Karangjongkeng Rt 01/Rw II, Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes, Sabtu (17/5).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Usaha itu wajib, namun hasilnya tidak wajib. Sebab urusan dapat atau tidaknya adalah urusan hak prerogratif pemilik pemberi rejeki, Allah SWT. Ayah dari 4 orang anak itu percaya betul, ketika burung pulang ke sangkarnya disambut kemeriahan anak-anak burung yang berebut makanan dari paruh sang induk untuk memperoleh jatah makanan.

“Dalam sekejap, vila sangkar itupun menjadi sunyi senyap lantaran anak-anak burung itu terlelap tidur, dalam suasana tenteram dan perut mereka kenyang,” papar suami dari Hj Nasichatun ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan filosofi burung, pria kelahiran Brebes 17 Februari 1944 itu bisa mempertahankan biduk keluarganya selama 42 tahun yang dirajut sejak 27 November 1972. Menurutnya, keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tanpa dosa dan selalu mulus perjalanannya. Tetapi ibarat nahkoda, bagaimana bisa bersikap bijaksana dalam mengarungi luas samudera kehidupan. “Saya berusaha menjadi nahkoda dan istri menyiapkan makanan dan sesekali menunjukan arah ketika saya lalai,” ujar nya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI menjelaskan, Achfas terpilih menjadi keluarga sakinah teladan mewakili eks Karesidenan Pekalongan. Sebelumnya secara berjenjang telah mengikuti seleksi ditingkat desa, kecamatan, kabupaten dan eks Karesidenan Pekalongan. “Haji Achfas sangat pantas menjadi tauladan bagi keluarga Indonesia,” kata Imam.

Hal tersebut antara lain ditunjukannya dengan sikap dan sifat yang sederhana namun pasti. Dari 4 orang anaknya yakni M Yaser Atabaki Spi (39), dr M Fahmi Atabaki (37), Zulfa Atabaki Skep Ns (34) dan Humaira Atabaki Sfarm Apt (30), semua sukses dalam menempuh pendidikan. Di samping itu telah berkeluarga semua dengan memperoleh pekerjaan yang berbeda-beda dan terhormat.

Selain membina anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, Achfas juga mengelola pesantren alit. Pesantren yang dia kelola benar alit atau kecil karena hanya menampung 20 santri dengan tujuan utama untuk mempersiapkan calon imam sholat di surau kampung sejak dini. Setiap hari dia menanamkan pokok-pokok dasar ajaran islam terutama masalah kaifiyah sholat, akhlakul karimah, kedisiplinan, hidup mandiri dan kejujuran.

Dalam kehidupan Achfas, selama 23 tahun ini seperti falsafah komunitas burung, selalu menyediakan makanan. Dia rela menjadi buruh masak bagi pelajar dan santri, dalam artian masakan tidak hanya berbentuk fisik tetapi buruh masak rohani. Terukir dalam catatan pribadinya tahun 1982-1984 menyediakan makanan di pesantren Alit Nuruddin karangjongkeng (2 th).

Tahun 1984-1990 menyediakan makanan di Asrama Putri PGAN Pekalongan (6 th). Tahun 1990-1995 menyediakan makanan di asrama putra PGAN Pekalongan (5 th). Tahun 1995-2004 berturut-turut menjabat Kepala MTs N Ketanggungan Brebes, Kepala MTsN Lebaksiu Tegal, Kepala MTs Margadana Tegal dan terakhir menjadi Kepala MTs N Slawi. Saat menjadi pelayan diluar desa Karangjongkeng Pesantren Alit di asuh oleh adiknya KH Sobirin Tafsir. Bulan April 2004 Achfas pensiun dari guru, ia pulang kampung dan melanjutkan mengelola pesantren alit hingga sekarang (10 th) bersama adiknya KH Sobirin Tafsir.

Penilaian pemilihan Keluarga Sakinah Teladan dipimpin Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kanwil Kemenag Jateng Drs H Syaefullah MAg selaku Ketua Tim Penilai. Syaefullah berjanji akan bertindak obyektif, adil, dengan memotret kehidupan peserta. Termasuk penilaian dari tetangga sekitar mengenai pribadi dan kehidupan rumah tangganya. Anggota Tim Penilai, kata Syaeful, tidak hanya dari kementerian agama tetapi juga dari? unsur Kementerian Sosial, PKK, BKKBN dan Dinas Kesehatan.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE mengaku senang dengan kedatangan Tim dari Provinsi. Yang artinya bisa mendorong keluarga-keluarga Brebes menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Dengan keluarga yang sakinah akan mendorong pembangunan Kabupaten Brebes. Karena pada dasarnya pembangunan daerah itu diawali dari pembangunan keluarga. Kalau keluarganya kokoh maka masyarakatnya menjadi kokoh begitupun dengan daerahnya menjadi kuat dan pada muaranya Indonesia akan maju baldatun toyibatun warobun ghofur. “Masyarakat yang sejahterah adil dan makmur dibawah ridlo Allah SWT,” kata Idza.

Untuk itu, dia menyarankan agar institusi lain ikut menggelar pemilihan keluarga sakinah sesuai dengan kriteria dan dalam kemasan yang berbeda. Meskipun pada dasarnya sama untuk mencapai keharmonisan dan kebahagian keluarga. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Ubudiyah, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 18 Februari 2018

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Kiai Umar selain sebagai ulama dan pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono, Jember, Jawa Timur, juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Bahkan rumahnya yang menyatu dengan asrama santri pada zaman revolusi itu menjadi markas berkumpulnya para pejuang, khususnya di Jember bagian timur.

Hal tersebut diungkap oleh penulis buku "Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan" KH Sholeh Hayat saat menjadi pemateri dalam Seminar dan Bedah Buku “Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan” di auditorium IAIN Jember, Sabtu (29/10).

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Menurutnya, jasa Kiai Umar dalam merebut kemerdekaan Indonesia juga tidak kecil. Bersama Kiai As’ad Syamsul Arifin, ia bahu-membahu mengusir penjajah. Oleh karena itu, Kiai Sholeh berharap kepada pemerintah agar rumah Kiai Umar dijadikan cagar budaya. “Sudah selayaknya rumah Kiai Umar dijadikan cagar budaya, karena punya nilai historis, lebih-lebih terkait dengan perjuangan bangsa Indonesia,” ucapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sepenggal cerita sempat dikuak oleh Kiai Sholeh. Katanya, suatu ketika rumah Kiai Umar dikepung oleh serdadu Belanda. Mereka curiga bahwa rumah tersebut menjadi tempat persembunyian para pejuang. Dengan pongahnya, mereka memasuki pekarangan rumah ayahanda Kiai Khotib itu. Namun Kiai Umar tak kurang akal. “Semua pejuang dan tentara, disuruh ganti baju dan pakai kopiah layaknya santri. Sehingga Belanda tidak menemukan apa yang mereka cari,” urainya.

Harapan serupa juga dilontarkan Katib Syuriyah PCNU Jember, Ustadz MN. Harisudin. Menurutnya, apa yang diharapkan Kiai Sholeh tidaklah berlebihan. Sebab, Kiai Umar memang figur pejuang yang menjadi penggerak rakyat untuk melawan penjajah. “Dan rumahnya difungsikan sebagai markas, yang menjadi sentral perjuangan di wilayah tersebut,” ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU Cirebon Usulkan Beberapa Kriteria Ahwa

Cirebon, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Keluarga Besar Nahdlatul Ulama (KBNU) Cirebon mengusulkan beberapa kriteria ahlul halli wal aqdi (Ahwa) antara lain beranggotakan kiai dan nyai NU yang pernah menjabat kepengurusan, berakhlaq karimah, berusia di atas 70 tahun, tidak berambisi untuk menjadi pemimpin puncak NU, merepresentasikan wilayah persebaran NU, melepaskan diri dari ikatan politik praktis dan kepemerintahan, serta berimbang antara laki-laki dan perempuan.

NU Cirebon Usulkan Beberapa Kriteria Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Cirebon Usulkan Beberapa Kriteria Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Cirebon Usulkan Beberapa Kriteria Ahwa

Wakil Ketua PCNU Kota Cirebon, Prof DR H Jamali Sahrodi MAg mengatakan, KBNU Cirebon yakin bahwa dengan pemilihan kepemimpinan ala AHWA, NU akan terhindar dari ke-madlaratan money politics, tidak adanya caci maki, olok-olok, atau dukung-mendukung antar-kandidat.

Menurutnya, ukhuwah nahdliyyah akan terjaga, ruang intervensi kekuasaan dan partai politik akan tertutup, martabat dan kewibawaan kiai dan nyai sebagai penjaga moral NU dan masyarakat akan dirasakan oleh semua pihak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sehingga muktamar akan lebih fokus kepada program-program dan pengembangan NU, masyarakat, dan bangsa ke depan, tidak disibukkan dengan kompetisi antar-kandidat,” kata Prof Jamali.?

Usulan ini disampaikan oleh KBNU Cirebon pada konferensi pers bertajuk ‘NU Cirebon Siaga Terdepan Mengawal Ahlul Halli Wal Aqdi’ kepada sejumlah awak media di Kantor PCNU Kota Cirebon, Senin (8/6). (Ayub al Anshori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah