Jumat, 27 Juni 2014

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Warga Amerika Serikat menempatkan posisi Gus Dur sekelas dengan pemimpin gerakan perubahan di AS Martin Luther King. Mereka mengapresiasi pemikiran dan gerakan Gus Dur dalam memperjuangkan nasib kelompok minoritas.

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur di AS Setara dengan Martin Luther King

Demikian disampaikan Dubes AS untuk Indonesia Robert O Blake dalam lawatan kerjanya di pesantren Tebuireng, Jombang, Kamis (11/12) pagi.

“Di Amerika Serikat, Sosok Gus Dur disamakan dengan Martin Luther King,” kata Blake.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara King sendiri, Blake menyatakan, aktivis HAM dan pemimpin gerakan hak sipil Afrika-Amerika. Sedangkan ajaran dan kepemimpinan Gus Dur memiliki peran penting dalam membentuk demokrasi yang beragam, toleran dan aktif seperti yang terlihat saat ini di Indonesia.

“Saya sangat senang dengan gagasan Gus Dur. Demokrasi, HAM, pluralisme dan anti-kekerasan tetap bertahan dan diaplikasikan oleh generasi muda Indonesia,” Blake menambahkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masyarakat AS sudah semakin memahami Islam sehingga tidak merasa takut berlebih dengan kehadiran Islam di Amerika. “Bahkan agama Islam sekarang di AS berkembang pesat. Di beberapa negara bagian, Islam merupakan agama kedua terbanyak yang dianut masyarakat,” kata Blake dalam bahasa Inggris.

Pengasuh pesantren Tebuireng KH Sholahuddin Wahid menyatakan dirinya akan melakukan pertemuan lanjutan dengan Blake untuk memaparkan pemikirna Gus Dur secara detil. Ia juga sempat menawarkan pendidikan pemikiran Gus Dur bagi siswa dan mahasiswa AS untuk tinggal beberapa bulan di pesantren Tebuireng. (Abror/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Tokoh, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 12 Juni 2014

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dewan juri Kompetisi Film Pendek Dokumenter Muktamar ke-33 NU menetapkan 15 nominasi film sebagai nominasi juara. Keputusan tersebut ditetapkan setelah pertemuan dewan juri di gedung PBNU sehari sebelum Lebaran atau Kamis (16/7) lalu.

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekilas 15 Nominasi Juara Kompetisi Film Pendek NU

Berikut adalah ringkasan isi ke-15 film tersebut:

Inoeng Silat berdurasi 13 menit 23 detik (2014) dengan sutradara Miftha Yuslukhalbi & Nadia Susera. Film ini bercerita tentang perempuan belajar beladiri yang dianggap tabu di Aceh masa kini. Padahal jaman dahulu perempuan Aceh mahir beladiri untuk menjaga diri dari segala marabahaya. Dalam Kenangan berdurasi 5 menit 12 detik (2014) sutradara Canggih Setyawan. Film ini bererita tentang Heri Susetyo, seorang Tionghoa yang memutuskan masuk Islam dan mendirikan sebuah masjid. Bagaimana dia memandang seorang Gus Dur? Al Ghorib: Sebuah Kisah tentang Kemungkinan yang Asing berdurasi 29 menit 10 detik (2015) dengan sutradara Vedy Santoso. Film ini mengisahkan Dr. Katrin Bandel, mualaf asal Jerman yang memilih dan menjalani kehidupan nyantri di Pondok Pesantren Al Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Suluk Batik-Kitab berdurasi 16 menit 24 detik (2015) dengan sutradara Abdul Syukur & Dwi Rahmanto. Film ini mengisahkan perjalanan diri membangun seni lingkungan bermediakan batik sebagai acuan dan pacuan pemahaman kedepan. Batik sebagai bagian seni rupa tradisional tak lepas dari pijakan kesatuan antrara nilai jasmani dan rohani. Selokan Mataram berdurasi 30 menit (2015) dengan sutradara Setiyo Junaedi. Selokan Mataram merupakan kanal yang membelah Yogyakarta. Dibangun dengan darah dan air mata. Sebuah langkah penting untuk jalur pengairan utama kehidupan pertanian masyarakat Yogyakarta. Tata Cara Tante Cora berdurasi 12 menit 48 detik (2013) sutradara Muh. Alif Rasman. Film ini tentang tante Cora. Ini tentang betapa kayanya Allah yang menjadikan manusia beraneka ragam, bagaimana mengedepankan kebebasan dalam memilih jalan hidup, dan berlapang dada dalam menghargai perbedaan. Kisah Nglurah: Potret Toleransi Umat Islam & Hindu Jawa. Film berdurasi 6 menit 30 detik diproduksi tahun 2015 oleh sutradara Nugroho Adi Saputro. Seperti kebanyakan desa di pulau Jawa, desa Nglurah mayoritas berpenduduk muslim. Bagaimana bentuk interaksi antara warga desa Nglurah dengan pemeluk agama Hindu yang beribadah di candi Menggung yang terletak di wilayah desa tersebut? Film Teungku Rangkang berdurasi 16 menit 30 detik (2014) dengan sutradara Muhammad Akbar Rafsanjani & Muhajir. Film ini bercerita tentang metode Iqra dalam membaca & belajar Al Quran semakin menggeser metode Qaidah Baghdadiyah (Aleh-Ba) di penjuru Aceh. Teungku Hanifuddin dari Gampong Blang Asan, Sigli, berusaha terus melestarikan qaidah tersebut agar tak punah ditelan waktu. Indah Itu Pesantren berdurasi 7 menit (2015) dengan sutradara Prajanata Bagiananda Mulia. Masa depan seorang anak pada akhirnya bergantung pada cara ia dididik dalam memperoleh ilmu. Benarkah menuntut ilmu di pesantren itu membosankan dan mengerikan? Bagaimana pula dengan masa depan lulusan pesantren? Di Bumi Tuhan, film berdurasi 22 menit 41 detik (2015) besutan sutradara Taufan Latief Alimudin Akbar. Film ini tentang kerukunan, pemuda, hubungan antarmanusia yang hidup bersama di bawah langit yang sama, menghirup udara yang sama, bersama-sama di bumi Tuhan. Pustaka di Lembah Gunung Slamet berdurasi 15 menit (2015) buah karya sutradara Zandy Ivanda. Film ini merekam Ridwan Sufuri yang prihatin dengan minimnya pengetahuan warga sekitar rumahnya. Ia berinisiatif membuat perpustakaan keliling. Sejauh mana usahanya itu menggapai manfaat? Film Dalae berdurasi 20 menit (2014) oleh sutradara Arziqi Mahlil & Munzir. Film ini menceritakan pemuda di desa berusaha melestarikan Dalail. Sebaliknya dengan pemuda kota. Apa penyebab pemuda kita tidak begitu peduli kepada budaya Dalail? Mableun, film berdurasi 20 menit karya sutradara Faisal Ilyas & Samsul pada 2013. Film ini mengangkat peran seorang nenek yang membantu masyarakat dalam proses persalinan ditengah ketidakhadiran bidan Puskesmas di Pulo Aceh, Aceh Besar. Pelangi di Tepian Samudera buah karya sutradara Mukhlas Syah Walad & Fuad Ridzqidari, film berdurasi 20 menit diproduksi tahun 2014. Film ini mengungkap perjuangan seorang Mukim di tengah pergulatan ekonomi. Ia meyakini Kenduri Laut menjadi simbol pemersatu masyarakat dalam sebuah kearifan lokal. Bulan Sabit di Kampung Naga, film berdurasi 19 menit 52 detik ini diproduksi tahun 2015 karya sutradara M. Iskandar Tri Gunawan. Film ini mengungkap Islam membawa misi ‘rahmatan lil ‘alamin’, bukan ‘rahmatan lil muslimin’, apalagi ‘rahmatan lil nahdliyin’. Semangat menjadi rahmat bagi semesta alam ini bisa mewujud di lingkungan Pondok Pesantren Kauman yang terletak di Pecinan kota Lasem-Rembang. Interaksi multikultur yang berlangsung lama ini telah membangun kesadaran akan pentingnya dialog antarpihak.? Kompetisi yang dibuka 20 Juni hingga 10 Juli 2015 ini diikuti 69 film. Menurut salah seorang anggota tim kreatif Muktamar ke-33 NU, Hamzah Sahal, bahwa jumlah peserta melebihi target. “Kami menargetkan 30 judul film yang masuk. Tapi ternyata ada 69 judul film. Sebetulnya, kata Hamzah, ada 73 judul film, tapi yang 4 judul masuk setelah batas akhir penerimaan. Jadi, batal dengan sendirinya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ke-69 judul film tersebut melibatkan tidak kurang 75 sutradara muda yang berasal dari 13 provinsi. Jawa Tengah, Tawa Timur, Nanggroe Aceh Darussalam, Daerah Istimewa Jogjakarta paling banyak mengirimkan karya.

Dewan juri yang terdiri dari Nurman Hakim, Bebi Hasibuan, Bowo Leksono, Aman Sugandi, Dimas Jayasrana akan menentukan pemenang pertama, kedua, dan ketiga, dengan hadiah total 45 juta. Pemenang akan diumumkan di Pondok Pesantren Attauhidiyyah pada 1 Agustus 2015. (Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

(Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah