Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R Donovam berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (2/2) sore. Ia diterima langsung Ketum PBNU KH Said Aql Siroj di ruanganya.

“Saya tahu kemarin Nahdlatul Ulama memperingati hari lahir. Karena itu saya mengucapkan selamat hari lahir yang ke-91,” kata dubes yang mengaku baru tinggal di Indonesia selama sekitar dua bulan ini membuka pembicaraan.

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91

Joseph baru saja menggantikan dubes Amerika sebelumnya, Robert Orris Blake Junior yang telah mengakhiri masa tugasnya di Indonesia. Sebelumnya, Joseph menjabat sebagai Direktur Institut AS di Taiwan yang telah berdiri sejak 2014.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam pertemuan tersebut, ia mengatakan sangat terkesan dengan umat Islam di Indonesia ketika pertama kali mulai menyapa masyarakat di sini. Joseph bercerita, sebelumnya dirinya disambut dengan ramah saat mengunjungi sebuah pesantren di Jawa Tengah Januari lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Joseph mengajak NU untuk menjalin kemitraan dengan pihaknya khususnya di bidang toleransi dan pendidikan. “Ada tujuh ribu pelajar asal Indonesia yang kini sedang belajar di Amerika Serikat. Ini naik tujuh persen. Saya berharap jumlah tersebut terus meningkat,” tuturnya.

Kiai Said menyambut baik tawaran itu dan menyarankan agar banyak warga pesantren yang bisa belajar ke negara berjuluk “Negeri Paman Sam” ini. Sebelumnya ia menyampaikan kritik terhadap presiden baru Amerika Donald Trump yang terkesan menggeneralisisasi Islam dengan label negatif.

Kiai asal Cirebon ini lantas mengenalkan Islam Nusantara yang secara garis besar meyakini bahwa budaya dan agama memiliki hubungan sinergis. “Budaya menjadi infrastruktur agama. Dengan tradisi lokal, Islam di Indonesia menjadi kuat dan tak tercerabut dari masyarakat,” jelasnya.

Joseph yang datang bersama rombongan juga disambut hangat oleh Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketu PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Robikin Emhas, dan sejumlah pengurus lain. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Maret 2018

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Kehadiran Habib Ahmad Alaydrus dari Jakarta pada Kamis (17/11) malam mendapat sambutan luar biasa dari ribuan warga Jombang. Mereka khidmat mengikuti seluruh rangkaian acara yang dikemas dalam Jombang Bershalawat tersebut.

Wakil Bupati Jombang Nyai Hj Mundjidah Wahab saat memberikan sambutan berharap kegiatan ini mampu menjauhkan Kabupaten Jombang dari bala, petaka, maupun musibah. "Semoga apa yang kita niatkan, yang kita cita-citakan akan terwujud," katanya disambut amin ribuan hadirin.

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta

Yang terpenting karena malam ini membaca shalawat, maka nanti di akhirat akan mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW, lanjutnya.

Tidak hanya bershalawat, sebelumnya ribuan warga ini disuguhi penampilan grup Banjari tiga pilar yang terdiri dari anggota TNI, Polri, dan Korpri. Selanjutnya hadirin diajak beristighotsah dan mendengarkan ceramah agama yang disampaikan KH Syahroni dari Sidoarjo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejak sore ribuan warga yang berbusana dominan warna putih ini tampak sudah memenuhi halaman Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang hingga Alun-alun yang berada persis di depannya.

Tidak hanya dari dalam kota, jamaah juga datang dari penjuru Jombang bahkan ada yang dari luar kota. Lantunan shalawat nabi tanpa henti dilantunkan yang diiringi rebana dan Banjari. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Cerita, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 25 Februari 2018

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

Taipe, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kiai muda MN Harisudin mendorong pekerja migran Indonesia di Taiwan untuk gemar bersedekah, baik sedekah wajib maupun sunah. Dalam penyaluran, ia menekankan harus diberikan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan, mengingat ada banyak dana sedekah yang disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme atas nama Islam. 

Demikian disampaikannya dalam pengajian On Air Majelis Talim Darus Syafa’ah, Kamis (28/12) malam waktu setempat.

Utusan Pondok Pesantren Kota Alif Lam Mim Surabaya itu menguraikan sedekah terbagi menjadi dua. Pertama, sedekah wajib yang juga disebut dengan zakat, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Kedua, sedekah yang tidak wajib; yakni sedekah biasa dan sedekah jariyah (wakaf).

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

“Saya yakin, Bapak dan Ibu pekerja migran Indonesia di sini sudah banyak membayar zakat, juga bersedekah. Saya sudah sering mendengar kalau LAZISNU PCINU Taiwan sudah banyak membantu saudara-saudara kita di tanah air. Kemarin membantu korban banjir di Pacitan. Sebelumnya, sedekah dan zakat PCI NU Taiwan disebar mulai Sabang (Aceh) sampai dengan Merauke,” tukas kiai yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember. 

Namun, Kiai MN Harisudin menggarisbawahi bahwa sedekah dan zakat pekerja migran Indonesia agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak, nuwun sewu (mohon maaf), saya minta agar sedekahnya disalurkan di tempat yang jelas, transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Demikian ini agar sedekah tidak disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme. Ini penting. Agar sedekahnya tidak dipakai untuk ngebom di Indonesia,” ujar Wakil Ketua LTN PWNU Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dosen pascasarjana IAIN Jember tersebut ketepatan tempat atau sasaran sedekah dan zakat, pertama adalah sanak famili di Indonesia, dan kedua LAZISNU PCINU Taiwan.

“Insyaallah, dua tempat ini merupakan tempat yang jelas dan tepat sasaran. Dan insyaallah juga berkah,” ujar Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates, Jember tersebut.

Majelis Talim Darus Syafa’ah merupakan salah satu majelis talim yang ada di Taiwan, dan merupakan satu diantara kurang lebih 30 lebih majelis talim yang berada di bawah koordinasi PCINU Taiwan. Anggota majelis adalah para pekerja migran Indonesia  yang menyempatkan diri mengaji setiap hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka tidak bertemu fisik, tapi secara on air karena keterbatasan waktu dan tempat. Pengajian diisi dengan khataman Al-Qur’an, yasinan, tahlil, shalawat nariyah, dan mauidlah hasanah oleh para ustadz dan kiai dari Indonesia. (Sohibul Ulum/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 24 Februari 2018

Serba-serbi dari NU Karbitan

Oleh Saiful Hakam



Di kantor tua, sebuah kantor jawatan penyelidikan ilmu-ilmu budaya dan sosial, saya sering berbincang ringan dengan rekan sejawat tentang nasib sebagai santri, berwajah santri, dan bertabiat santri: tukang doa

Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Serba-serbi dari NU Karbitan

Dua kata di atas sering keluar dari mulut saya. Rekan saya itu tidak pernah menukas sama sekali.  Dilema. Saya bilang ke kawan saya bahwa saya ini bukan santri sejati. Mengapa?

Karena, saya tidak pernah mondok sama sekali. Tidak bisa baca kitab kuning sama sekali. Bahkan, lebih parah lagi, tidak bisa bahasa Arab klasik sama sekali. Jadi, saya tidak absah disebut santri apalagi disebut santri NU. Sangat tidak absah. 

Namun, kawan saya itu memberikan petunjuk yang bikin senang. “Meskipun, Sampean tidak pernah mondok, tidak bisa baca kitab kuning, dan tidak bisa bahasa Arab klasik tapi wajah Sampean mutlak wajah santri,” begitu katanya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya tidak tahu maksud dari frasa “wajah santri”. Tapi itu tidak bisa digugat. Kalimat ini bikin saya merenung. 

Dan, memang, saya lahir dan tumbuh di lingkungan NU. Bisa dibilang NU 26 karat. Hampir semua kerabat dari kakek, paman, bibi, sampai bapak pernah jadi pengurus NU. Kakek saya dari pihak bapak konon katanya pernah jadi pengurus syuriah NU di sebuah kota kecil berawalan huruf B di Jawa Timur, tempat jenazah Bung Karno dikebumikan. 

Bapak saya sendiri, kalau dirunut riwayat hidup karirnya betul-betul dimulai dari NU dan jati dirinya dibentuk oleh NU. Mula-mula jadi anggota IPNU. Dan konon, karena tidak ada dokumen foto dan dokumen kertas tertulis, pernah jadi ketua IPNU Kota B. 

Di waktu senggang bapak saya itu, dengan bangga bercerita pengalaman pertama naik mobil sedan. Yakni, dijemput panitia Kongres IPNU di Stasiun Pekalongan. Di sana di dalam konggres itulah ia berkenalan dengan KH Hasyim Muzadi. Sama-sama jadi kader IPNU pertama. Yang aneh, ia selalu ingat mobil sedan dan kursi empuk yang dikaguminya itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu, ia dengan penuh semangat menyebut nama-nama Mahbub Djunaidi dan Saiffuddin Zuhri.  Dan, ia punya obsesi yang penuh menyala-nyala pada jas dan dasi. Koleksinya banyak. Ketika saya tanyakan mengapa suka banget pada jas, jawabnya mencontoh KH Abdul Wahid Hasyim, bapaknya Gus Dur itu. 

Karirnya bertahap di organisasi NU. Dari IPNU, ia pindah ke Pengurus Ansor. Lalu dari Ansor, naik menjadi pengurus cabang NU dengan jabatan wakil sekretaris. Dan, ketika jadi pengurus cabang ini ia juga merangkap menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan. 

Entah berapa latihan kader yang ia ikuti. Ia sering menjadi utusan Kota B dalam memenuhi undangan pengurus wilayah NU Jawa Timur di Surabaya. Karena begitu seringnya, sampai-sampai ada kelakar dari rekannya untuk bapak saya, “Jangan-jangan rapat Muslimat akan Sampean wakili?”

Susah memang memikirkan jati diri NU saya. Kebanyakan yang muncul adalah cerita-cerita dan pengalaman bapak mengurus NU. Atau, kesibukan bibi, adik bungsu bapak, yang hampir seluruh hidupnya dicurahkan sebagai pengurus Muslimat NU bagian konsumsi. Bibi saya ini meskipun sakit akan lekas sehat ketika mendapat undangan kegiatan-kegiatan Muslimat NU. Dan, kami, anak-anak, hafal betul bahwa ia selalu mengurus urusan konsumsi dalam pengajian-pengajian Muslimat NU. Urusan masak memasak, mulai dari menanak nasi, lauk pauk, dan minuman. 

Kabar terakhir, ia merelakan kediamannya dijadikan sebagai pilot project PAUD muslimat NU kota B. Ini tentu saja membuat sibuk saudara sepupu saya karena harus menambah kamar dan merehab rumah. Tapi, mereka semua riang gembira. 

Di tengah-tengah kebimbangan itu, saya kemudian sadar bahwa NU bukan sekedar identitas. Dilema ini muncul karena saya hijrah ke ibu kota, jadi kaum muhajirin di ibu kota, dan berhadapan dengan berbagai macam aroma kehidupan. Terutama, aroma kehidupan Islam yang penuh aneka warna. 

Bapak saya menjalankan tradisi-tradisi NU dengan tekun. Terutama amalan wiridan dan sowan kiai. Semua anaknya ketika menghadapi ritus peralihan dari ulangan umum, dua istilah istilah zaman dulu: Ebtanas daUMPTN, dan menikah pasti diajak ikut berdoa dan diajak ikut sowan kiai memohon bantuan doa. 

Sembahyang lima waktu dijalankan secara berjamaah. Dan, tentu saja dengan wiridan yang panjang. Wiridan yang bagi kami sangat panjang, hampir setengah jam, adalah wiridan sesudah sembahyang subuh. 

Kami diajak bersama-sama membaca asmaul husna dan selawat nabi. Ketika kami akan pergi naik kereta api, naik kendaraan umum, dan naik sepeda motor, kami dinasihati untuk membaca selawat nabi dengan serius. Mengheningkan cipta untuk berselawat. 

Artinya, rasa dan nuansa saya menjadi santri terus terang tidak seketika. Ada tahapan dan ada proses. Di sekolah dasar, saya paling cemas, takut, dan grogi ketika disuruh hafalan surat-surat pendek pada pelajaran agama Islam. Takutnya bukan main. Dan, hafalan itu membutuhkan kerja keras. Saya masih ingat betapa beratnya menghafal surat Al-Balad. Kalau tidak hafal, dan kurang hafalan. Dihukum. Berdiri depan kelas. Menanggung malu dua beban. 

Anak pengurus NU kok tidak hafal surat pendek. Lalu, menjelang kelas enam SD, saya berjuang keras menghafal surat adl-Dluha dan asy-Syams. Itu pun penuh perjuangan karena baru bisa hafal penuh pada kelas dua SMA. 

Sementara itu surat Yasin, belajar menghafal sejak kelas enam SD dan baru hafal lulus program S-2 di universitas di Kabupaten Sleman. Yang masih belum hafal, adalah bacaan dan amalan tahlil, sampai hari ini masih berjuang, berjuang dalam proses membaca, dan menghafal. Memang betul-betul NU karbitan. 

Lalu, suatu ketika, saya ingin mengamalkan amalan surat al-Waqiah. Ini ikut-ikut teman yang lama mondok di Kediri. Dan, alhamdulilah lumayan bisa lancar membaca, itu pun berkat bantuan huruf latin. 

Bikin sedih memang. Cerita semacam ini sebenarnya tidak layak diceritakan apalagi dituliskan mengingat bagi santri, ritus peralihan dan ritus-ritus semacam ini bukan sesuatu dan hal yang keren apalagi mengesankan. Kaum santri sejati punya tradisi intelektual yang kuat terutama dalam bahasa Arab klasik, syair, kitab-kitab klasik, dan debat dalam majelis bahstul masail. Kalau santri sejati bercakap-cakap bahasa Arab, wah, seketika saya akan minder setengah mati. 

Meski demikian, semangat untuk berproses menjadi NU tidak berhenti. Rekan saya, seorang intelektual dari Tasikmalaya dan fasih ilmu sejarah dan ilmu filsafat, dan dari dulu berjibaku membeli buku dengan siap hidup bersahaja, memperkenalkan saya pada buku-buku tentang NU. Terutama terbitan LKIS. LKiS adalah sebuah lembaga intelektual dan penerbitan yang masyhur di Jogja. Perkenalan buku ini seperti sebuah kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan apalagi dipahat dalam prasasti batu. 

Nuansa NU saya, dibentuk mula-mula oleh kisah-kisah dari bapak, ibu, paman, yang kadang hilir mudik sibuk jadi panitia rapat-rapat NU,pidato-pidato kiai, dan juga dari buku-buku tua milik ibu. Ibu punya buku biografi KH Abdul Wahid Hasyim. Saya membacanya sewaktu duduk di bangku SMU. Dan, buku itu rusak dan hilang kerna saya tak pandai merawatnya. Buku yang tebal, tua, berdebu. Saya suka melihat foto Gus Dur muda sedang duduk di kursi sambil baca buku. 

Lalu, majalah Aulaterbitan PWNU Jawa Timur. Majalah Aula betul-betul sebuah hiburan yang bikin senang dan senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya. Parahnya, Bapak sering lupa bayar tagihan. Dari majalah aula, kesadaran tentang NU tumbuh. Ke-NU-an menjadi hadir dan bernyawa. 

Ah, tiba-tiba saya ingat catatan harian ibu. Adik bungsu hampir saja diberi nama muktamar, karena lahir pada tahun 1984 dan bersamaan dengan penyelenggaraan Muktamar NU 1984. Bapak tentu saja hadir, tapi lekas pulang ke Kota B kerena dimaki-maki rekan-rekannya disuruh pulang menemani istri dan menunggu lahir anak. 

Dan, di atas itu semua, penanda yang tidak bisa dilupakan adalah potret di rumah kakek, yang dipajang dengan sangat berwibawa, di balai rumah, Potret KH Muhammad Hasyim Asyari. Lama terpasang di balai rumah Kakek Buyut. Setiap tamu dan orang yang datang ke rumah kakek, pasti, akan disambut oleh potret Hadratussyekh. 

Penulis adalah Peneliti LIPI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 19 Februari 2018

PCINU Yaman Terbitkan Buku "Hadhramaut Corner"

Tarim, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Upaya melestarikan manhaj serta pemikiran salafus sholeh agaknya tak cukup dengan menggelindingkan wacana mereka di forum-forum kajian serta diskusi.?

Salah satu langkah yang kongkret adalah dengan menuangkannya dalam bentuk buku. Menyadari hal itu, memasuki tahun baru masehi 2013, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama’ (PCINU) Yaman menerbitkan buku berjudul “Hadhramaut Corner”. Selain sebagai aplikasi nyata dalam ranah dakwah bil qolam, kehadiran buku setebal 239 halaman tersebut – sebagaimana bisa diketahui dari judulnya – juga merupakan upaya kristalisasi ide dan pemikiran ulama di negeri Hadhramaut, Yaman.?

PCINU Yaman Terbitkan Buku Hadhramaut Corner (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Yaman Terbitkan Buku Hadhramaut Corner (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Yaman Terbitkan Buku "Hadhramaut Corner"

Buku yang ditulis oleh M. Khotibul Umam, mantan wakil rais syuriyah PCINU Yaman periode 2010-2012 yang baru saja menyelesaikan studi S1 di Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff Tarim ini, merupakan kumpulan essai tetapnya dalam rubrik Tadarus Ramadhan di situs berita www.okezone.com selama 3 tahun berturut-turut, mulai 1431 hingga 1433 Hijriah.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Umam, demikian ia akrab disapa, menjadi penulis tetap kolom Tadarus Ramadhan di okezone, di tengah-tengah kesibukannya menjalani aktivitas kemahasiswaan.

“Buku ini saya dedikasikan untuk para segenap pelajar, warga Nahdliyyin, dan seluruh umat Islam, serta masyarakat Indonesia secara umum,” ujar pemuda asal Sampang, Madura tersebut saat acara launching buku, Jumat (04/01) di salah satu ruang paralel Universitas Al-Ahgaff, Tarim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadhramaut Corner sendiri merupakan terjemahan dari bahasa Arab : Zawiyah Hadhramaut. Zawiyah – yang berarti pojok – merupakan istilah yang digunakan masyarakat Kota Tarim, Hadhramaut untuk menunjukkan arti sebuah tempat khusus di pojok masjid yang dijadikan tempat menggelar aktivitas keilmuan.?

Melalui keberadaan zawiyah-zawiyah inilah, selama berabad-abad, masjid – masjid di Tarim tak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah semata. Melainkan mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam pembentukan keilmuan umat. Di tempat tersebut, para masyayikh membacakan kitab keislaman kepada masyarakat. Diantara sekian banyak zawiyah yang masih eksis dan konsisten hingga kini, adalah zawiyah Masjid Syekh Ali, yang diasuh oleh Habib Abdullah bin Syihab ; zawiyah tua yang menjadi salah satu sumber inspirasi penulisan buku Hadhramaut Corner. Salah satu kitab rujukan kajiannya, adalah an-Nashoih ad-Diniyah karya Imam Abdullah bin Alwy al-Haddad(w. 1132 H.)

“Sebagian besar isi buku ini terinspirasi dari nasehat serta petuah para habaib Kota Tarim di beberapa zawiyah yang konsisten saya ikuti,” papar penulis bernama pena Umamel Samfanie.

Bagi alumnus pesantren Lirboyo Kediri tersebut, ide-ide serta pemikiran sejumlah Masyayikh Hadhramaut, diantaranya; Habib Abdullah bin Syihab, Habib Salim al-Syathiri, Habib Ali al-Masyhur, dan Habib Umar bin Hafidz, sangat patut diapresiasi dan diwacanakan di Indonesia. Khususnya, terkait metodologi dakwah yang menekankan nilai kecintaan ? dan perdamaiandalam mempresentasikan ajaran Islam, sebagaimana yang dibawa oleh para Walisongo di Nusantara. Hal itu bisa dilihat dari salah satu esai yang berjudul “Luthfan la ‘Unfan : Lemah Lembut, Bukan Ganas Beringas”.

“Buku ini sengaja ditulis dengan gaya essai ringan, agar bisa lebih mengena kepada pembaca,” papar Umam yang akan segera bertolak ke tanah air dalam waktu dekat.

Sementara itu, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTNU) PCINU Yaman, M. Shofwan Jauhari, berharap besar agar kehadiran buku Hadhramaut Corner ini menjadi awal yang baik untuk geliat kepenulisan dan penerbitan lembaga yang ia bawahi.

“Ini menjadi motivasi besar untuk kawan-kawan LTNU !” ungkapnya saat diwawancara. Mahasiswa Al-Ahgaff ? tingkat akhir, asal Sidoarjo itu menambahkan, bahwa selain penulisan buku, LTNU juga akan fokus ke aktivitas penerjemahan. Insya Allah, dalam waktu dekat, Hadhramaut Corner akan dicetak oleh sebuah penerbit di Indonesia.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Dzul Fahmi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Februari 2018

Maulidan, Muslimat NU Tangerang Santuni Yatim Piatu

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Muslimat, Fatayat, dan IPPNU Kota Tangerang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka dalam rangka maulid itu memberikan santunan yatim piatu.

Ketua Muslimat NU Kota Tangerang Hj Fatimah Tomas menyampaikan terima kasih kepada semua pengurus Muslimat, Fatayat, dan IPPNU yang telah membantu dan bekerja sama dalam kegiatan ini.

Maulidan, Muslimat NU Tangerang Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulidan, Muslimat NU Tangerang Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulidan, Muslimat NU Tangerang Santuni Yatim Piatu

“Kepada jamaah yang datang ke tempat ini, semoga Allah akan memberikan rahmatnya kepada kita semua,” ujarnya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Santunan Yatim Piatu di Aula PCNU Kota Tangerang, Sabtu (30/12).

Ketua PCNU Kota Tangerang KH Bunyamin menyampaikan pada taushiyahnya, bahwa Rasul memberikan isyarat orang yang peduli, mau menyantuni dan memelihara anak yatim, nanti di surga bagaikan telunjuk dan jari tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menjelaskan, bila ada orang yang berkumpul dengan anak yatim, lalu memberi makan dan minum mereka sampai kenyang. Makanya, janjinya adalah di akhirat wajib mendapatkan surga.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Maka dari itu jangan sampai kita menyakiti anak yatim, karena doa anak yatim lebih cepet diijabah,” terangnya.

Menurutnya, ada lima yang akan dipertanyakan di hari akhir pada saat dihisab. Yakni umur kita digunakan untuk apa. Masa muda (fisik) diisi dengan apa. Harta  yang dimiliki didapat dari mana, dan digunakan untuk apa. Bila punya ilmu, diamalkan atau tidak ilmu itu.

Acara tersebut juga dihadiri Wakil Ketua PW Muslimat NU Banten, jamaah Nahdliyin, Muslimat, Fatayat, dan IPPNU se-Kota Tangerang.(Suhendra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 23 Januari 2018

Kader NU Pakistan Raih Doktor Bidang Biologi Molekuler

Lahore, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Prestasi menggembirakan diraih oleh kader Nahdlatul Ulama di Pakistan, Agung Nugroho Puspito. Mahsasiswa Pascasarjana Fakultas Life Science, Universitas Punjab Lahore, Pakistan, ini berhasil meraih gelar doktor di bidang biologi molekuler.

Kader NU Pakistan Raih Doktor Bidang Biologi Molekuler (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader NU Pakistan Raih Doktor Bidang Biologi Molekuler (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader NU Pakistan Raih Doktor Bidang Biologi Molekuler

Agung merupakan orang Indonesia pertama yang meraih gelar tersebut di Pakistan. Capaian itu ia peroleh setelah sukses mempertahankan desertasinya yang berjudul  “Genetic Improvement of Cotton For Herbicide and Bollworm Tolerances” di hadapan para dosen pengujinya, pada Selasa (15/12) lalu.

Pada sidang yang diuji oleh Prof Dr Tayyab Husnain itu, Agung dalam desertasinya menjelaskan bahwa riset yang ia buat pada dasarnya adalah untuk mengurangi biaya produksi pada budidaya tanaman kapas. Dengan perkembangan riset ini kita dapat menghasilkan crystal protein yang mampu membunuh serangga seperti ulat, dan lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Cara yang digunakan adalah dengan mentransfer 2 DNA pregulasi crystal protein (Cry1Ac+Cry2A) pada tanaman kapas. Ketika serangga menyerang kuncup kapas, dan memakan sedikit daun kapas, maka ia akan mati dalam hitungan beberapa jam saja, tanpa perlu kita menggunakan insektisida. “Dengan demikian kita akan menghemat uang produksi sebesar 66 juta USD untuk insektisida di seluruh dunia,” lanjut pria asal Probolinggo ini.

Agung memaparkan, terobosan Cp4 EPSPS (DNA sintetik  yang mampu membuat tanaman kapas kebal glyphosate) dapat membuat tanaman kapas tetap hidup walaupun terkena zat kimia seperti herbisida glyphosate. Dengan demikian tanaman pengganngu di sekitarnya akan mati tanpa harus menghiraukan keselamatan tanaman kapas, itu artinya kita dapat mereduksi 30 persen kerugian yang disebabkan oleh gulma.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di akhir, tim penguji memberikan prakata dan pesan untuk keder NU ini yang diawali dengan berdiri dari duduknya kemudian menyampaikan, “Anda Doktor sekarang, selamat!”. Ti penguji memberikan nasihat Agung untuk terus berusaha menjadi ilmuwan yang inovatif dan tangguh.

Sementara Ketua Tanfidziyah Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) Pakistan Zulfikri Hasibuan tidak bisa menutupi kegembiraannya dengan hasil ini. “Alhamdulillah, penantian panjang dan melelahkan Mas Agung telah tercapai, jarang-jarang ada kader NU yang menjadi doktor di bidang biologi, semoga ilmu yang didapat bisa bermanfaat untuk nusa, bangsa dan agama” ungkapnya dan disambut amiin oleh Agung.

Desertasi setebal 180 halaman ini disidangkan di Auditorium National Centre of Excellence in Molecular Biology, University of the Punjab, Lahore dengan dihadiri oleh para dosen dan beberapa guru besar serta hampir seluruh kepala laboratorium di Universitas Punjab. Sidang yang dimulai pukul 14.00 waktu setempat itu dihadiri oleh beberapa mahasiswa Indonesia maupun Pakistan. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 16 Januari 2018

Bagaimana Memahami Hadits Berdasarkan Illatnya?

Hadist adalah kalam nabi yang berisi perintah dan larangan atau yang semakna dengan keduanya sehingga dalam kajian hadist perintah dan larangan tersebut tidak bisa dilepaskan dari illat. Karena dengan illat, hukum dari sebuah hadist dapat dipahami secara benar, begitupun juga dengan hukum yang lain dapat diqiyaskan dengan illat dari hadist tersebut.

Imam Al-Amidi dalam kitabnya Al-Ihkam Fi Usulil Ahkam mendefinisikan illat sebagai berikut.

Bagaimana Memahami Hadits Berdasarkan Illatnya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Memahami Hadits Berdasarkan Illatnya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Memahami Hadits Berdasarkan Illatnya?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya, “Sifat lahir yang membuat suatu hukum dapat diketahui atau penyebab dari ada dan tidak adanya suatu hukum.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Illat yang dimaksud di sini bukanlah illat dalam ilmu Musthalahul Hadist atau yang disebut illat/muallal, melainkan illat yang dimaksud adalah illat dalam kajian Ushul Fikih.

Adapun dalam pembagiannya, illat dibagi menjadi dua. Pertama, illatul manshushah, yakni adanya illat ini berdasarkan hal-hal yang telah tertulis dalam Al-Qur’an dan hadist. Kedua, illatul mustanbathah, yaitu illat yang dihasilkan oleh para mujtahid melalui proses ijtihadnya.

Menurut KH Ali Mustafa Yaqub dalam kitab At-Thuruqus Shahihah fi Fahmis Sunnatin Nabawiyyah, secara umum illatul manshushah tidak akan menyebabkan perbedaan pendapat di antara para ulama. Hal ini berbeda dengan illatul mustanbatah dikarenakan tidak disebutkan secara gamblang illatnya dalam badan nash.

Pertama, contoh illatul manshushah dalam hadits bisa kita lihat dari hadits riwayat Bukhari tentang minuman yang memabukkan.

? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap minuman yang memabukkan adalah haram.”

Atau dari riwayat  Muslim dan Abu Dawud.

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap yang memabukkan adalah khamar dan setiap yang memabukkan adalah haram.”

Juga dari riwayat Abu Dawud.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Setiap yang memabukkan adalah haram. Minuman yang ketika banyak kadarnya haram, maka seisi telapak tanganpun haram.”

Dari dua hadits di atas bisa disimpulkan bahwa dalam hal ini, yang menjadi illat adalah memabukkan. Semua ulama sepakat akan hal ini, mengingat illat dalam hadits tersebut adalah illat yang manshushah.

Tetapi terkadang para ulama berbeda pendapat terkait illatul manshushah jika ada perbedaan riwayat dalam hadist tersebut. Sebagian ulama terkadang menggunakan hadits yang menyebutkan illatnya. Sedangkan ulama yang lain menggunakan hadist yang tidak menyebutkan illatnya.

Misalnya dalam hadits terkait menyerupai kaum musyrik berikut ini.

? ? ? ? ? ?

Artinya, “Berpenampilanlah berbeda dari kaum musyrik, cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot.”

Kalau kita hanya mengacu pada hadits tersebut seolah-olah cukup jelas bahwa yang menjadi illat adalah berbeda dengan kaum musyrik, yang pada saat itu mereka memelihara kumis sehingga dianjurkan untuk mencukur kumis agar berbeda.

Tetapi ada juga hadits lain tanpa menyebutkan kata “berbeda dari kaum musyrik” sehingga ada sebagian ulama yang mewajibkan menumbuhkan jenggot dan mencukur kumis. Bahkan hadits tersebut menurut As-Suyuthi adalah sahih.

? ? ? ?

Artinya, “Cukurlah kumis dan biarkanlah jenggot.”

Inilah yang kami maksud, walaupun illatnya manshusah tetapi ulama berbeda pendapat karena berbeda periwayatan. Maka dari itu dalam menggunakan hadits tidak dianjurkan untuk menggunakan hadits yang sepotong-potong. Diharuskan mentakhrij agar mendapatkan riwayat hadits secara komprehensif.

Kedua, contoh illatul mustanbathah.

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Janganlah sekali-kali seorang shalat ashar kecuali di Bani Quraizah.”

Dalam memahami hadits di atas ada dua pendapat yang berbeda di kalangan para sahabat, yakni  ahluz zhahir dan ashabur ra‘yi wal qiyas.

Ahluz zhahir meyakini bahwa pemahaman dari hadist tersebut adalah bahwa shalat ashar harus diakhirkan dan dilaksanakan di Bani Quraizhah karena mereka melihat zhahirnya lafal hadist.

Sedangkan menurut ashabur ra‘yi wal qiyas, mereka tetap harus shalat ashar di jalan karena waktu ashar akan habis ketika sudah sampai di Bani Quraidzah. Mereka melihat makna atau tujuan dari hadits tersebut adalah agar mereka segera sampai di Bani Quraizhah.

Dari beberapa penjelasan di atas, bisa kita simpulkan bahwa memahami illat dalam hadits adalah sebuah komponen yang tidak bisa dipisahkan dari fiqhul hadits (memahami hadits). Ketidakmampuan dan kedangkalan dalam mengetahui illat dapat membuat seseorang menjadi konservatif, tekstualis, dan kejumudan dalam memahami hadits. Wallahu a‘lam. (Muhammad Alvin Nur Choironi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, Nusantara, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 14 Januari 2018

Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sembilan mahasiswa Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) Jakarta baru-baru ini telah berhasil mempertahankan berbagai tesisnya terkait pengembangan studi Islam Nusantara di hadapan para penguji.

Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Tesis Tentang Gender dalam Studi Islam Nusantara Berhasil Dipertahankan

 

Selain topik tasawuf, fiqih, budaya, dan sejarah lokal, dua mahasiswi telah sukses mempertanggungjawabkan hasil penelitian mereka melalui proses Munaqosah Tesis yang cukup ketat. Dua mahasiswi tersebut adalah Fitrotul Muzayyanah dan Euis Wulan.

Melalui proses ujian yang cukup panjang, Fitrotul Muzayyanah tampil percaya diri mengungkap sejarah tokoh perempuan nahdliyin dalam tesis yang berjudul Kontribusi Sosio-Intelektual Ulama Perempuan Pesantren kepada para penguji.

 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tesis yang mengulas peran keagamaan Nyai Khoiriyah Hasyim ini, menepis argumen tentang langkanya peran perempuan dalam dunia Islam serta absennya agen perempuan dalam pembentukan intelektualisme di dunia pesantren.

Dalam paparannya, Muzayyanah telah menunjukkan bukti-bukti yang cukup meyakinkan tentang kualitas intelektual dan militansi Nyai Khoiriyah dalam berbagai aktivitas keagamaannya. 

Menurutnya, kontribusi sosial dan intelektual Nyai Khoiriyah selama di Jombang dan Makkah menjadi data penting terkait keterlibatan tokoh perempuan dalam upaya mendorong perempuan untuk mengakses dunia pendidikan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melalui peran sosial dan keagamaan Nyai Khoriyah ini pula, Ulama Perempuan hadir dengan citra intelektual dan gagasan keagamaan yang progresif, kritisserta semangat altruisme seorang aktivis yang terus memberikan kontribusi kemanusiaan dimanapun ia berada.

Sebagai puteri kandung Kiai Hasyim Asy’ari, pembentukan intelektualitas Nyai Khoiriyah tak lepas dari gemblengan pendiri ormas terbesar di nusantara tersebut. Sejak kecil, Khoiriyah muda telah belajar mengaji Al-Qur’an, fiqih, tafsir dan ilmu nahwu dibawah asuhan sang ayah. Tidak heran jika kelak ia juga tidak canggung untuk mengambil peran sebagai guru, pendakwah dan pemimpin pesantren. 

Salah satu pikiran progresifnya bisa dilihat pada status hukum Islam tentang masalah Keluarga Berencana (KB). Di saat lingkungan pesantren resistan terhadap KB, Nyai  Khoiriyah justru bersikap sebaliknya. 

Menurutnya, program KB adalah program yang halal dan diperbolehkan. Hal ini mempertimbangkan kenyataan empirik mengenai keluarga yang beranak banyak cenderung mengalami kesulitan dalam hal mendidik anak-anaknya. Terlebih lagi jika mereka tergolong miskin. 

Sementara itu Euis Wulan mempertanggungjawabkan tesisnya yang berjudul, Studi Kepemimpinan Keagamaan Hj Sariani Thaha Ma’ruf Dalam Perspektif Gender. Penelitian yang menggunakan analisis gender ini menguji peran aktivis perempuan yang mencurahkan sebagian besar hidupnya untuk jalan dakwah dan usaha-usaha pendidikan keagamaan. 

Dalam presentasinya, Wulan menunjukkan representasi ‘Ulama Perempuan’ yang memiliki keterampilan orasi handal yang menaruh perhatian besar terhadap pendidikan agama dan politik warga. Keterampilannya dalam berkomunikasi dengan massa  pernah mendorongnya untuk terlibat dalam politik praktis yang mengusung gagasan keindonesiaan dan kemuslimatan. 

Banyak ungkapan Hj Sariani Thaha Ma’ruf yang menunjukkan gagasan emansipasi perempuan dalam dalam bingkai kemanusiaan yang bersumber dari teks-teks suci. Misalnya pesannya yang cukup populer di kalangan jama’ahnya, “Anak perempuan harus bisa melakukan apa yang dilakukan oleh laki-laki”. 

Dalam kesempatan lain, aktivis Muslimat NU ini menyampaikan, “Sebaik-baik manusia adalah manusia yang dapat memberi manfaat kepada sesamanya”.

Selaku Asisten Direktur I Pascasarjana Unusia Jakarta sekaligus penguji, Deny Hamdani menegaskan bahwa penelitian tentang relasi gender dalam kerangka pikir Islam Nusantara menjadi salah satu topik penting di sekolah pascasarjana untuk terus digali. 

Selain bermanfaat untuk mengungkap konstruksi gender dalam struktur sosial dan budaya kalangan santri, juga berguna untuk menampilkan peran perempuan dalam masyarakat yang selama ini dianggap sebelah mata. 

“Pada titik ini juga, aphorisme Islam Nusantara al-muhafadzah ‘ala al-qadimis shalih wal akhdzu bil jadidil ashlah mendapat kesempatan untuk diuji,” kata Deny kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (14/11) di Jakarta.

Pengujian secara ilmiah dimaksudkan untuk mengetahui sejauhmana kecenderungan komunitas santri menjaga tradisi lama yang masih relevan dengan zaman dan pada saat yang sama menggeser sikap mental dan tradisi lama dengan kultur baru yang lebih sesuai dengan konteks kekinian. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Bahtsul Masail, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 08 Januari 2018

Hadapi Cuaca Ekstrem, LPBINU Jepara Dirikan Posko Terpadu Siaga Bencana

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Menyusul longsor di Dukuh Kajang tepatnya di jalan utama Desa Damarwulan menuju desa-desa di kaki Gunung Muria seperti Desa Tempur, Kamis (26/1), Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim PCNU Jepara bergerak cepat. Mereka mendirikan posko terpadu siaga bencana.

Wakil Ketua PCNU Jepara Hisyam Zamroni mengatakan, pada kondisi cuaca yang ekstrem di Kabupaten Jepara seperti yang terjadi beberapa waktu ini, PCNU Jepara mengintruksikan dan meminta seluruh jajaran PCNU, MWCNU, banom, dan lembaga NU se-Kabupaten Jepara untuk memberlakukan siaga bencana.

Hadapi Cuaca Ekstrem, LPBINU Jepara Dirikan Posko Terpadu Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Cuaca Ekstrem, LPBINU Jepara Dirikan Posko Terpadu Siaga Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Cuaca Ekstrem, LPBINU Jepara Dirikan Posko Terpadu Siaga Bencana

“Posko Terpadu Siaga Bencana disediakan di semua MWCNU dan Ranting NU se-Kabupaten Jepara. Ada petugas dan relawan yang berjaga 24 jam penuh. Setiap posko menyiapkan dua buah mobil dan sarana prasarana penanggulangan bencana,” kata Hisyam kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Senin, (30/1).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Hisyam, posko siaga bencana ini merupakan partisiapsi aktif PCNU Jepara dalam menjaga masyarakat Jepara khususnya terdampak bencana. PCNU bergerak cepat taktis dan akurat dalam penanggulangan bencana di Jepara, menyinergikan siaga bencana bersama instansi, lembaga dan kelompok masyarakat baik milik negara maupun swasta untuk membantu korban bencana di wilayah Jepara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Juga untuk menggerakkan masyarakat peduli dan siaga bencana, membangun jaringan dan komunikasi antarlembaga NU khususnya di bidang penanganan bencana, menjadikan satu komando dalam intruksi, perintah dan penangan gerak cepat penanggulangan bencana,” tambah Hisyam.

Seluruh pengurus NU dan banom di semua tingkatan dari ranting, MWC, dan? cabang diharapkan dapat saling berkoordinasi dan memberikan infomasi secepatnya kepada PCNU dan LPBINU Jepara jika ada bencana di wilayah masing-masing.

Bila ada infomasi kejadian bencana, LPBINU Jepara akan secepatnya bergerak ke lokasi kejadian. Infomasi kemudian diteruskan kepada Pemda, BPBD, Basarnas dan Basarda Jepara untuk ditindaklanjuti langsung secara cepat dan akurat.

Masyarakat di Jepara yang akan menginformasikan secara langsung kejadian bencana, dapat menghubungi LPBINU Jepara melalui Dedi di nomor 081391350115, atau Asyhadi di 08122892578. (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jadwal Kajian, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 07 Januari 2018

Sehebat Apapun Jurus, Tiada Arti Tanpa Pertolongan Allah!

Klaten, NU Online

Ratusan anggota Pencak Silat NU Pagar Nusa Klaten Jawa Tengah mengikuti kegiatan ujian kenaikan tingkat pertama (UKT). Kegiatan tersebut dipusatkan di Kompleks Pesantren Al-Muttaqien? Pancasila Sakti Klaten, Ahad (20/9).

Peserta yang lulus dalam ujian pertama ini, ditandai dengan pergantian badge, dari polos ke warna kuning. Usai digembleng dengan berbagai latihan fisik, jurus, serta tenaga dalam mereka diberi ijazah berupa wirid-wirid.

Salah satu Majelis Pendekar Pagar Nusa Klaten, Iman Widodo berpesan kepada para peserta untuk senantiasa mengingat tulisan yang terdapat pada logo Pagar Nusa: Laa Ghaliba illa Billah (artinya: tak ada kemenangan tanpa pertolongan Allah).

Sehebat Apapun Jurus, Tiada Arti Tanpa Pertolongan Allah! (Sumber Gambar : Nu Online)
Sehebat Apapun Jurus, Tiada Arti Tanpa Pertolongan Allah! (Sumber Gambar : Nu Online)

Sehebat Apapun Jurus, Tiada Arti Tanpa Pertolongan Allah!

“Pemberian Wirid ini untuk apa? untuk menyadarkan kalian bahwa sekuat apapun fisik kalian, sesempurna apapun jurus, kalian hanyalah nol! tak ada artinya apa-apa tanpa pertolongan Allah swt! tegas Iman.

Iman melanjutkan semua aurod dan hizib yang diajarkan, hanya menjadi sarana untuk mendekat dan meminta pertolongan kepada-Nya. “Karena hal itu juga, di badge kalian itu tertulis: Laa Gholiba illa Billah!” tutur Iman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendekar sejati, lanjut Iman, tidak menggunakan jurusnya dengan sembarangan. “itu artinya, kalau ia tahu pukulannya bisa berakibat fatal bagi orang lain maka sebisa mungkin ia tidak akan memukul sembarangan. Mesti bisa melihat kemaslahatan.

Dengan menjaga sikap yang demikan, para pendekar Pagar Nusa akan menjadi individu yang seperti diharapkan Mbah Liem, sebagaimana tertulis di salah satu sudut pondok Al-Muttaqien : Joglo Perdamaian Umat Manusia Sedunia! (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Santri, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 05 Januari 2018

Ikatan Sarjana NU Tangsel Resmi Dikukuhkan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Tangerang Selatan, Senin, (11/04) resmi dilantik. Pelantikan yang dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum ISNU Dr Ali Masykur Musa.

Acara pelantikan ini dilanjutkan dengan seminar International yang bertajuk Islam Nusantara to Word Civilization yang dihadiri oleh beberapa narasumber. Diantaranya, Dr Zainul Milal Bizawie (Penulis Masterpiece Islam Nusantara), Brian Lee (Peneliti Heaverly of Light South Korea) dan James B. Hoesterey (Penelity Emary University USA). Dalam hal ini, Prof Dr Masykuri Abdillah (Guru Besar UIN Jakarta sekaligus Direktur Pasca Sarjana UIN) ditunjuk sebagai pembicara kunci.

Ketua ISNU Tangsel, Ir Suryadi berharap, agar ISNU Tangsel bisa bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mewarnai dinamika Tangsel. Suryadi juga berharap dengan dilaksanakannya pelantikan ISNU di lingkungan intelektual, ISNU bisa memberikan energi bagi mahasiswa untuk terus membaca dan bertindak cerdas dalam memilih buku sebagai pembuka jendela wacana.

Ikatan Sarjana NU Tangsel Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikatan Sarjana NU Tangsel Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikatan Sarjana NU Tangsel Resmi Dikukuhkan

Dalam sambutan yang berbeda, Ketua Wilayah ISNU Banten, H.A. Bazary Syam mengungkapkan bahwa ISNU harus menjadi garda terdepan dalam mengawal Islam Nusantara. Ia menambahkan bahwa ISNU adalah sebuah kelompok intelektual yang didirikan untuk menyelamatkan bangsa dan negara.?

“Dalam mars ISNU, Allahu Akbar menjadi kesejukan bukan untuk membunuh umat Islam,” imbuhnya. (M. Alvin Nur Choironi/Zunus)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 24 Desember 2017

Makna Takwa dan Dua Bentuk Perintah Allah

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Makna Takwa dan Dua Bentuk Perintah Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Makna Takwa dan Dua Bentuk Perintah Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Makna Takwa dan Dua Bentuk Perintah Allah

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Jamaah shalat Jumat hadâkumullâh,

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kata takwa sudah tidak asing lagi di telinga kita. Kata ini merupakan istilah agama dan telah masuk dalam perbendaharaan bahasa nasional. Bahkan ketakwaan merupakan syarat pengangkatan pejabat-pejabat negara kita.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari segi bahasa, kata taqwa berarti “memelihara” atau “menghindari”. Dalam konteks keagamaan, “pemeliharaan” tersebut berkaitan dengan “diri atau keluarga” sedangkan “penghindaran”-nya berkaitan dengan siksa Tuhan di dunia ini dan di akhirat kelak. Para ulama seringkali mendefisinikan takwa sebagai “melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”. Sayang, definisi ini jarang dijabarkan pengertiannya sehingga menimbulkan kedangkalan pemahaman dan kegersangan penghayatan agama.

Jamaah shalat Jumat hadâkumullah,

Mari kita pertanyakan: “Apa saja isi dan bentuk perintah Allah?”

Jika Anda membuka Al-Qur’an, Anda pasti menemukan beragam gaya bahasa yang digunakan maksud itu dan beragam pula makhluk yang diperintah dan masalah yang diperintahkan-Nya. Ada perintah yang ditujukan kepada manusia, dan ada pula yang ditujukan kepada binatang dan alam raya. Ada perintah-Nya yang berkaitan dengan syariat (agama) dan ada pula yang berkaitan dengan hukum-hukum alam dan hukum-hukum kemasyarakatan (sunnatullah). Semua ini termasuk dalam jangkauan makna perintah Allah yang dikemukakan di atas.

Bagi yang taat melaksanakan perintah-Nya pastilah memperoleh ganjaran, demikian pula sebaliknya. Allah Mahaadil, Dia tidak memilih tapi memilah. Dia tidak lalai atau tidur hanya seringkali menunda dan mengulur.

Perintah yang berkaitan dengan syariat, seperti shalat, puasa, zakat, ditunda ganjaran dan sanksinya sampai hari kemudian. Kalaupun ganjaran atau sanksi itu ada yang dapat dirasakan di dunia, itu sekadar panjar.

Berbeda dengan sikap terhadap sunnatullah, yang sanksi dan ganjarannya dirasakan dalam kehidupan dunia ini. Siapa yang giat bekerja, belajar, akan kaya dan sukses dan itulah ganjaran-Nya. Siapa yang membiarkan diri terserang kuman, atau menganggur tidak bekerja, pasti menderita dan itulah siksa-Nya.

Bukankah hukum-hukum alam dan kemasyarakatan adalah ciptaan dan ketentuan Allah juga, dan penderitaan yang dialami akibat melanggarnya adalah ketetapan-Nya juga yang diberlakukan tanpa pilih kasih serta berdasarkan hukum-hukum itu? Jika demikian, mengapa ragu menyatakan bahwa kemiskinan dan penyakit serta keterbelakangan akibat pelanggaran adalah siksa-Nya di dunia ini? Tak perlu ragu selama kita menyadari firman-Nya ini:

? ? ? ? ? ?

"Allah tidak menganiaya mereka tetapi mereka menganiaya diri sendiri." (QS Ali Imran: 117).

Jamaah shalat Jumat hadâkumullah,

Setelah hal-hal yang diuraikan tersebut jelas, kiranya tidak perlu lagi kita mempertanyakan masalah, misalnya:

“Mengapa non-Muslim maju sedangkan mereka tidak melakukan shalat dan tidak juga puasa?” Bukankah kemajuan material mereka diraih dengan bertebarannya mereka di bumi dan cucuran keringat?

“Mengapa rizki tak kunjung datang sedangkan tahajjud dan i’tikaf telah melengkungkan punggung?” Bukankah ini ganjarannya ada di akhirat nanti? Tidak wajar pula diragukan siksa Tuhan terhadap yang melanggar syariat-Nya, karena tidak di sini tempatnya mereka disiksa.

Akhirnya, kita harus sadar bahwa kita baru mengamalkan setengah dari takwa kita, sementara setengah takwa lainnya dilaksanakan dengan baik oleh umat yang lain. Rupanya, tidak sedikit di antara kita yang bukan saja tidak menghayati, tetapi mengerti pun belum, mengenai makna bertakwa, kendati perintah ini wajib diperdengarkan, sedikitnya setiap hari Jumat



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Alif Budi Luhur



* Mayoritas isi materi khutbah ini mengutip tulisan M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, 2007 (Bandung: Mizan).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Nusantara, Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Dilantik, Pelajar NU Klego Diharap Jadi Intelektual Muda NU

Boyolali, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Klego, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah masa khidmah 2016-2018 dilantik.

Pelantikan dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pengajian rutin Ahad malam (1/1), di MWCNU Klego.Turut hadir para pengurus MWCNU Klego, beserta banom-banom lainnya.

Dilantik, Pelajar NU Klego Diharap Jadi Intelektual Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, Pelajar NU Klego Diharap Jadi Intelektual Muda NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, Pelajar NU Klego Diharap Jadi Intelektual Muda NU

Pelantikan yang dilaksanakan di Gedung NU Center Klego Boyolali Jawa Tengah, Sabtu, diawali dengan pembacaan kitab maulid al-Barzanji. Usai pembacaan shalawat, dilanjut seremonial pelantikan yang dilakukan oleh Ketua PC IPNU Boyolali Khamidurahim dan Ketua PC IPPNU Boyolali Yasinta Agustyani.

Para pengurus IPNU yang mengenakan jas dipadu bawahan sarung, dengan lantang dan lugas mengucapkan janji setia mereka. Sementara itu, para pengurus IPPNU juga lancar mengikuti ikrar yang dibacakan sang ketua.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sambutannya, Ketua IPNU Boyolali Khamidurahim berharap, para pengurus yang dilantik ini dapat menjadi intelektual muda Nahdliyin.

“IPNU-IPPNU itu wadah kaum intelektual muda NU, khususnya di tingkatan pelajar. Khidmahkanlah diri kalian untuk benar-benar memiliki jiwa pelajar NU sesungguhnya,” pintanya.

Sementara itu, Sekretaris PC IPPNU Boyolali Dyah juga memberikan apresiasi untuk para pengurus yang telah dilantik. “Kami sangat mengapresiasi semangat rekan dan rekanita. Semangat mereka sangat membara dakam mengibarkan panji NU,” ungkapnya. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 Desember 2017

Jika Ada Masalah, Segera Datangi Masjid

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa masjid dan mushalla merupakan rumah Allah SWT. Sehingga setiap menghadapi permasalahan dalam hidup maka segera datangi rumah Allah.?

Hal tersebut disampaikan oleh H Hasan Aminuddin ketika melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baitur Rohim di Desa Randutatah Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, Jum’at (7/4) sore.

Jika Ada Masalah, Segera Datangi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Ada Masalah, Segera Datangi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Ada Masalah, Segera Datangi Masjid

“Jika ada masalah, segera datangi masjid. Oleh karena itu masjid harus dibuat megah, besar dan bagus sehingga bagaimana orang i’tikaf bisa kerasan dan tidak panas. Kalau mau bangun, tolong yang besar sekali,” katanya.

Menurut Hasan, tidak ada rumah Allah yang dibangun tidak selesai asalkan takmir masjidnya amanah. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu meminta doa kepada kiai yang pelit. Kepada Allah saja jauh apalagi sesama manusia.

“Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Buatlah masjid sesuai dengan keadaan masyarakat. Jangan sampai masjidnya besar, tetapi yang mau datang tidak ada, sehingga masjidnya sering kosong. Tugas takmir masjid adalah memakmurkan masjid,” jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hasan menegaskan bahwa setiap pembangunan rumah Allah pasti selesai. Hanya saja yang wajib membantu pembangunan masjid ini adalah tetangga. Masyarakat harus bahu membahu menyelesaikan pembangunan masjid agar memberikan manfaat kepada sesama.

“Supaya memberikan manfaat kepada orang lain, ada tiga hal yang dapat diberikan. Yakni, ilmunya, tenaganya dan uangnya. Percayalah dengan hitungan Al Qur’an, setiap yang dikeluarkan di jalan Allah dikembalikan 700 kali. Jika ada orang yang awalnya senang sekarang susah berarti dia tidak pernah bersedekah,” tegasnya.

Kepada masyarakat Hasan meminta apabila mempunyai anak yang belum menikah agar dijaga dengan baik. Sehingga tidak terpengaruh kepada narkoba, minuman keras dan pil koplo. Hal ini dilakukan oleh orang di luar agar generasi muda Indonesia lebih bodoh.?

“Solusinya, dudukkan anak, setiap anak naik kelas dan khatam Al Qur’an ucapkan terima kasih. Jangan nasehati anak, tetapi berilah contoh. karena anak saat ini lebih pintar dari orang tuanya,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Takmir Masjid Baitur Rohim Ustad Maryo menyampaikan bahwa Masjid Baitur Rohim tersebut telah berusia 25 tahun. Pembangunan masjid yang membutuhkan anggaran dana sebesar Rp 1,5 miliar ini dilakukan karena kapasitasnya sudah tidak mencukupi lagi. Saat ini anggaran yang tersedia sudah mencapai Rp 209 juta.

“Bahan-bahan material pembangunan masjid ini berasal dari swadaya masyarakat. Kesadaran masyarakat sangat tinggi sekali. Masjid ini milik bersama dan bukan perorangan. Oleh karena itu mohon bantuan dan kerja samanya agar masjid ini bisa segera selesai,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 11 Desember 2017

Menata Ulang Strategi Dakwah NU

Baru-baru ini, sebuah stasiun televisi swasta menyatakan permintaan maaf kepada publik karena terdapat kekeliruan pada tulisan ayat Al-Qur’an yang akhirnya menjadi viral di dunia maya. Masih terdapat silang pendapat apakah hal ini merupakan kesalahan teknis dalam penulisan ayat tersebut atau karena kapasitas ustadzah memang lemah dalam menulis huruf Arab. Sejauh ini, keluhan terhadap kapasitas keilmuan penceramah di tv sudah seringkali diungkapkan ke publik, toh tetap saja, penceramah dengan kapasitas ilmu agama minimal masih menghiasi layar kaca. Kita menginginkan stasiun tv menampilkan tokoh sekualitas KH Quraish Shihab atau Gus Mus yang memiliki kemampuan agama sangat dalam dalam bidangnya membawakan ajaran Islam dengan jernih. 

Beragamnya siaran dakwah yang dikemas dengan berbagai bentuk harus diapresiasi. Ini tentu hal yang baik bahwa siaran dakwah menjangkau masyarakat yang lebih luas. Dai-dai yang sebelumnya tidak dikenal, menjadi favorit publik ketika sudah muncul di layar kaca dan kemudian sibuk sekali berceramah dari panggung ke panggung karena memiliki kemampuan retorika yang sangat baik yang menyenangkan jamaah.

Kebanyakan seleksi ustadz yang masuk ke TV adalah kemampuan mereka dalam beretorika atau menghibur jamaah. Karena itu, kemudian, muncul dakwahtainment, memposisikan dakwah dengan gaya sebuah entertainment atau hiburan, yaitu unsur hiburannya lebih dominan daripada dakwahnya sendiri. Karena kemampuannya dalam menghibur yang ditonjolkan, maka tak jarang kapasitas keilmuannya menjadi nomor dua. Sudah berulangkali, penceramah di tv harus minta maaf kepada publik karena kesalahan dalam ceramah. Belum lagi penjelasan yang janggal dan berputar-putar atas tema tertentu yang sesungguhnya menunjukkan penguasaan atas khazanah keislaman yang belum memadai.

Menata Ulang Strategi Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menata Ulang Strategi Dakwah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menata Ulang Strategi Dakwah NU

Kelompok Nahdliyin, dengan puluhan ribu pesantren telah menghasilkan para ahli agama dengan kemampuan yang sangat mumpuni. Di banyak pesantren, juga ada materi khitabah atau berpidato yang mengajarkan pada santri bagaimana berdiri di depan publik dan menyampaikan ceramah keagamaan, baik dalam khutbah atau dalam ceramah umum. Sudah seharusnya kita mampu melahirkan para dai yang kompeten, bukan hanya di panggung atau majelis, tetapi juga menjangkau pemirsa di lingkungan yang lebih luas. 

Soal kapasitas melucu, jangan ditanya lagi, kalangan pesantren memiliki keahian dalam membuat lelucon. Kehidupan sehari-hari mereka dipenuhi dengan guyon-guyon segar di antara para teman sesama santri. Saat di panggung, mereka tahu kapan jamaah sudah mengantuk dan perlu mengeluarkan leluconnya. Toh, bagi mereka, pesan keagamaan tetap menjadi nomor satu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sudah selayaknya jika dai-dai Nahdliyin mampu menjangkau ruang yang lebih besar. Pencapaian mereka saat ini masih jauh dari potensi yang sebenarnya ada. Sayangnya, ruang-ruang publik yang ada tidak diberikan dengan gratis karena ada banyak orang atau kelompok yang ingin menguasainya. Ada kelompok, yang secara jumlah kecil, tetapi militan dan vokal. Mereka ingin menguasai panggung untuk memperluas jangkauan pengaruhnya. Sementara itu, budaya yang hidup di kalangan santri jika tidak diminta, belum tentu mau. Jika ada yang lebih tua, mempersilakan guru atau orang yang lebih tua terlebih dahulu. Kerendahan hati merupakan bagian dari sikap keagamaan yang telah mendarah daging. 

Dengan adanya pihak-pihak yang secara keilmuan pas-pasan tetapi ingin merebut ruang dakwah ini, tentu sudah selayaknya jika para dai NU mulai memikirkan ulang sikap saat berkontetasi dengan pihak luar. Harus dibedakan mana saat saling mempersilakan di antara sesama dai dalam komunitas yang sama, dengan ideologi yang sama, dan dengan kelompok lain yang akan menggunakan ruang-ruang dakwah untuk memperjuangkan ideologi, yang bisa merupakan bagian dari penyebaran Islam transnasional, dengan segala kamuflasenya.

Selanjutnya, kita juga harus memperluas ruang dakwah seiring dengan adanya media sosial yang kini menjadi sarana komunikasi dan interaksi. Tak ada pilihan selain ikut menguasai ruang-ruang tersebut atau pada akhirnya area tersebut menjadi ajang persebaran ideologi yang tidak sesuai dengan ajaran Islam rahmatan lil alamiin sebagaimana yang terjadi saat ini. Semakin lama, masyarakat semakin tergantung pada internet, termasuk ketika mencari materi-materi keagamaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dakwah via internet ini yang tampaknya belum disiapkan di lingkungan pesantren karena sebagian besar pusat pendidikan Islam khas Indonesia ini masih melarang para santri mengakses internet. Para santri perlu diajari bagaimana memproduksi konten-konten produktif dan ramah, juga belajar soal literasi digital. Kini, sudah mulai ada kiai yang menyiarkan pengajiannya melalui kanal Facebook. Ke depan, mereka yang memanfaatkan ruang ini diharapkan semakin bertambah. 

Kita dapat mengisi internet dengan rujukan-rujukan keislaman yang otoritatif dengan berbagai sudut pandang yang mampu membuat masyarakat memahami keragaman pandangan keislaman, dan kemudian memilih salah satu yang menurutnya paling benar, tetapi tidak menyalahkan pandangan lainnya. Kita memiliki pakar dalam bidang fiqih, qur’an dan hadits, tasawuf, dan bidang-bidang kajian keislaman lainnya. Tinggal bagaimana memberi ruang bagi mereka untuk berekpresi. Mereka yang menguasai internet, menguasai masa depan dari pikiran umat Islam Indonesia. (Achmad Mukafi Niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 November 2017

Kisah Mbah Umar Tumbu Saat Menghadapi Pemberontakan PKI

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH Umar Syahid atau yang dikenal dengan panggilan Mbah Tumbu oleh masyarakat Pacitan, Jawa Timur mempunyai kisah tersendiri kala berhadapan dengan pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948.?

Kisah tersebut diceritakan oleh Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Besar Nahldatul Ulama (PBNU) KH Abdul Mun’im DZ saat menjenguk Mbah Tumbu beberapa hari sebelum wafat.

Kisah Mbah Umar Tumbu Saat Menghadapi Pemberontakan PKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Mbah Umar Tumbu Saat Menghadapi Pemberontakan PKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Mbah Umar Tumbu Saat Menghadapi Pemberontakan PKI

“Saat persitiwa pemberontakan oleh PKI 1948 di Madiun, beliau sedang jualan di sana dan menyaksikan langsung pembantaian para ulama,” terang Mun’im.

Jualan, lanjut penulis buku Benturan NU dan PKI ini, adalah salah satu cara agar Mbah Umar selamat karena dikira orang biasa.?

“Dia menjadi informan bagi para kiai untuk menghadapi PKI. Sebab dia bisa berjalan ke mana saja tanpa dicurigai PKI,” ujar pria yang aktif melakukan pengkaderan warga NU dalam wadah Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKPNU) ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mbah Umar Tumbu termasuk kiai tertua di Indonesia yaitu berusia 132 tahun. Usia tersebut diakuinya sendiri ketika Mun’im dan kawan-kawan menjenguknya di Pacitan. Mbah Tumbu wafat pada Rabu (4/1) pukul 22.55 WIB di RSUD Pacitan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sesepuh Pacitan ini adalah santri dan teman perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari. Waktu mudanya, sesepuh Pacitan tersebut hidup sebagai kiai kelana dengan jualan Tumbu (wadah dari anyaman bambu, sejenis gerabah).

“Karena itu beliau dikenal dengan sebutan Mbah Tumbu,” jelas Mun’im.

Hasil jualan Tumbu, imbuhnya, digunakan Mbah Umar Tumbu untuk membangun musholla dan masjid di sekitar Pacitan, Ponorogo, dan Madiun.

Mbah Umar merupakan Pengasuh Pondok Pesantren Nur Rohman, Jajar, Donorojo, Pacitan. Pada masa remaja, ia nyantri di Pesantren Tremas Pacitan dibawah asuhan KH Dimyathi Abdullah.

Kecintaanya pada NU dibuktikan dengan istiqamahnya yang selalu hadir dalam tiap acara pengajian atau acara keagamaan yang digelar oleh NU atau pesantren. Dan selalu menunggui hingga acara selesai.

Mbah Tumbu juga disebut-sebut sebagai azimat-nya masyarakat Pacitan dan Nahdliyin pada umunya. Terbukti kediamannya tidak pernah sepi dari para tamu yang sowan meminta nasihat atau doa darinya. Karena itulah ia dikenal sebagai kiai pelayan umat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 29 September 2017

Atasi Krisis Akidah, NU Sumberwetan Ajak Nahdliyin Istighotsah

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebagai upaya mengatasi krisi aqidah yang mulai marak terjadi, Ranting NU Sumberwetan Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo mengajak Nahdliyin melakukan istighotsah bersama, Rabu (4/1) malam.

Atasi Krisis Akidah, NU Sumberwetan Ajak Nahdliyin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Krisis Akidah, NU Sumberwetan Ajak Nahdliyin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Krisis Akidah, NU Sumberwetan Ajak Nahdliyin Istighotsah

Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Al Ihsan ini diikuti oleh ratusan nahdliyin mulai dari unsur pengurus NU, kiai, ustadz, tokoh masyarakat, Lurah dan Ketua RT/RW se-Kelurahan Sumberwetan Kecamatan Kedopok.

Ketua PRNU Sumberwetan Hamdan Amrullah mengungkapkan, istighotsah ini digelar karena saat ini keberadaan Kota Probolinggo sudah bisa dibilang mulai krisis akidah karena bulan-bulan ini banyak terjadi kejadian pembegalan, pencurian, maraknya hiburan malam dan pesta narkotika yang menimbulkan perzinahan dan lain sebagainya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Istighotsah ini dilakukan sebagai upaya memperkecil angka kemaksiatan dan menghimpun kekompakan para tokoh masyarakat dan warga dari berbagai blok kelurahan, untuk mengurangi ruang gerak pemahaman radikal dan pembaharuan yang ingin mencoba masuk ke daerah perumahan baru-baru ini,” katanya.

Menurut Hamdan Amrullah, istighotsah bersama ini dilakukan rutin setiap bulan berpindah-pindah dari masjid, musholla dan rumah-rumah nahdliyin yang ingin ditempati. Selain istighotsah juga ada doa bersama untuk keselamatan, kemakmuran dank haul ahli kubur seluruh warga Kelurahan Sumberwetan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Mudah-mudahan dengan kegiatan istighotsah ini semakin memantapkan keimanan dan ketaqwaan kita bersama kepada Allah SWT. Karena di Kota Probolinggo saat ini sudah mulai dilanda oleh krisis aqidah yang sangat mengancam keberlangsungan para generasi muda sebagai penerus perjuangan pembangunan di masa yang akan datang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 05 September 2017

Esensi Ibadah Qurban

Oleh Nasrulloh Afandi

--Pengorbanan tertinggi manusia adalah mengikhlaskan sesuatu yang sangat dicintai semata-mata untuk dan karena Allah SWT, meskipun sesuatu itu telah lama dinantikan dan baru saja didapatkannya.

Khazanah ini, bisa mengambil i’tibar (perumpamaan) dari kisah keikhlasan jiwa besar Nabi Ibrahim AS, Ia  telah lama berdoa dan menantikan kehadiran seorang putra, namun ketika putra yang telah lama Ia nantikan itu, baru saja Ia miliki dan telah  tumbuh berusia tiga belas tahun, malah justru datang perintah baru dari Allah SWT, untuk menyembelih putranya sebagai qurban, Ia pun ikhlas menerimanya. Maka akhirnya, semakin diangkatlah derajatnya di mata Allah swt.

Mengorbankan Kepentingan Keluarga

Esensi Ibadah Qurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Esensi Ibadah Qurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Esensi Ibadah Qurban

Nabi Ibrahim AS adalah sang promotor yang mengajak umat manusia untuk mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya demi untuk kepentingan yang lebih luas atas dasar kebenaran (agama) sehingga Ia pun tanpa ragu, tanpa menunda-nunda, langsung dengan ikhlas menuruti (Kebenaran) perintah Allah swt untuk menyembelih putranya,

Ia bersikap mengedepankan kepentingan agama (kebenaran di ruang publik)  dan untuk ummat, meski harus mengorbankan putranya.- Subhanallah-. Meskipun akhirnya putranya tidak jadi disembelih, karena Allah SWT mengutus malaikat untuk menggantikan Nabi Ismail AS dengan kambing untuk disembelih.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Syeikh Tohir Bin Asyur Sang penggerak lokomotif  Maqashid Syariah modern, dalam magnum opusnya, kitab “Tafsir At-Tahrir wat-Tanwir”, ia mengomentari tentang perintah Allah swt kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya ,yang dibadikan dalam al-Quran(QS As-Shaafaat 102-109) : “Sejatinya Allah swt tidaklah akan mensyariatkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayang kesayangannya yang telah lamadinantikannya itu, tetapi perintah tersebut hanyalah upaya Allah swt menguji kualitas keimanan untuk menetapkan dan mengangkat derajatnya Nabi Ibrahim as, bersedia atau tidakkah mengorbankan putranya itu. Terbukti, setelah Nabi Ibrahim dan putranya pun bersedia(bersabar) untuk melaksanakn perintah tersebut, kemudian  Allah swt pun menggirim kambing untuk disembelih, sebelum Nabi Ibrahim melaksanakan atau menyembelih putranya”.

Inilah esensi disyariatkan ibadah qurban, pada tahun kedua Hijriah, yaitu tahun bebarengan dengan disyariatkan(diperintahkannya) Dua salat Id dan zakat harta, itu,

Ekslusivisme Ibadah Qurban

Faktor yang menjadi pijakan ibadah qurban, setidaknya ada dua hal:

Pertama; Untuk mengenang kebesaran jiwa antara seorang ayah yang bernama Nabi Ibrahim AS yang sangat berjiwa besar dan ikhlas rela mengorbankan kpentingan pribadi dan keluarganya, terbukti Ia pun bersedia melaksanakan perintah meneyemeblih anaknya atas dasar kebenaran (dari perintah agama).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua; Mengenang kesabaran dan ketaatan  Sang anak (birrul walidain) yang sangat berbakti pada orang tuanya, Ia  bernama Nabi Ismail as yang ikhlas mau disembelih sebagai qurban oleh ayahnya dengan landasan kebenaran(Firman Allah swt).

Karena dua faktor ini pula, ibadah Qurban mempunyai ekslusivisme, diantaranya, memotong hewan Qurban, adalah harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat, yaitu empat hari: Tanggal 10 Dzulhijjah (setelah shalat ‘Id) dan tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah (tiga hari sesudahnya) yang dikenal dengan Ayyamutasyriq.

Hal ini, yang membedakan antara penyembelihan hewan Qurban dengan (ibadah) penyembelihan hewan lainnya. seperti menyembelih hewan aqiqah, atau juga memotong hewan ternak untuk pesta pernikahan atau menjamu tamu, atau memotong hewan karena memenuhi nazar, atau hewan Dam(denda) yang disembelih oleh orang yang berhaji Tamattu, atau haji Qiran, namun itu semua berbeda dengan memotong hewan Qurban dalam momentum Idul Adha ini. Karena amalan-amalan trsebut, bisa dilaksanakan kapanpun.

Inilah dimensi ekslusivis Ibadah qurban dari syiar Islam lainnya yang berupa ibadah menyembelih(hewan)

Bagaimana Berqurban di Ruang Publik?

Betapa pun sesuatu hal yang sangat dicintai dan telah lama diharapkan, dan baru saja dimiliki, tetapi ketika Perintah Tuhan(kebenaran di ruang Publik) menyerukan untuk mengorbankan hal itu, maka harus ikhlas dikorbankannya.

Dalam konteks ini, implementasinya, dalam kehidupan sosial sehari-hari, dengan tidak terbatas waktu, musim atau tempat, kapan dan dimanapun, jelas membantu orang-orang membutuhkan adalah sebuah tuntutan kebenaran yang harus dilakukan. Sebagaimana Nabi Ibrahim ikhlas mengorbankan putranya, meski masih dalam keadaan “bulan madu” bersama putra kesayangannya.

Di berbagai  lini aktivitas sosial, hal ekonomi, pendidikan, keadilan, politik dan kebebasan berpikir, itu semua adalah bagian dari hal-hal yang perlu pengorbanan, wajib dilakukan oleh orang-orang  mampu untuk melakukannya , berkewajiban untuk berqurban demi membantu mereka yang membutuhkan. Bukan sebaliknya, orang yang lebih kuat atau berkecukupan  justeru mengorbankan orang yang lebih lemah atau kekurangan dijadikannya sebagai tumbal angkara ambisi mereka yang kuat.

Jika hal ini bisa terlaksana di kancah kehidupan sosial bermasyarakat, maka kronisnya penyakit moral berupa: “Mengorbankan kebenaran yang merugikan publik, demi tercapainya hal-hal ambisi pribadi , keluarga dan golongannya”, secara estafet, penyakit tersebut akan tergusur. Bahkan niscaya event Idul Adha ini, maka secara estafet akan mampu dijadikan Pijakan Strategis Reorientasi Totalitas Moralitas Bangsa, dari keterpurukannya yang kian bertambah akut ini.

Teladan dari Nabi Ibrahim AS ini, memang tentu sangatlah langka untuk kita temukan dalam kehidupan bangsa Indonesia tercinta itu, utamanya yang menjangkit kalang elite pemerintah negeri tercinta dasawarsa ini.

Di sisi lain, skandal moral, yang menjangkit totalitas bangsa kita itu, di berbagai lini aktivitas kehidupan bangsa Indonesia ini, dengan semakin langkanya jiwa-jiwa sosial, egoistis merajalela, mencari rezeki dengan menghalalkan segala cara. Kebenaran dan kemanusian dikorbankan, -- parahnya lagi kerap mengklaim sebagai pejuang publik---  meski sejatinya demi hanya untuk mengedepankan tercapainya ambisi pribadi dan keluarga atau maksimal golongannya belaka.

Analisis (tafakkur) berbagai unsur nilai ruhaniah (spiritualitas) yang terkandung, atas disyariatkannya ibadah qurban ini. Adalah sebuah pijakan awal untuk langkah menempa setiap individual manusia (Pasca Idul Adha) dengan hal-hal positif, dengan metode mengambil I’tibar( Teladan) dari apa yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS putranya.

Semangat Idul Adha atau hari raya Qurban ini, sudah semestinya  “menjadi start awal” medan memerangi nafsu angkara ambisi, dan kedzoliman (kesewenang-wenangan) yang telah subur bercokol di ruang publik tanah air kita ini, dengan cara “menyembelih” kenaifan-kenaifan tersebut, dan kembali kepada semangat autentisitas berqurban sejati, yaitu berkorban untuk mengedepankan kebenaran, kepentingan luas, dan meminggirkan kepentingan sempit, demi terwujudnya kemaslahatan yang lebih luas.

 

Nasrulloh Afandi, Wakil Ketua Yayasan Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Indramayu Timur, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Nusantara, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 13 Mei 2017

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal

Bali, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sehari setelah dilantik, kepengurusan Silaturrahim Ikhwan Akhawat dan Simpatisan Thariqat An-Naqsyabandiyah Gersempal (Sitqon) di Bali, menggelar majelis zikir perdana yang dirangkai dengan istighotsah dan pembacaan sholawat tawasuliyah, Senin (7/9). Hadir di tengah jamaah Ketua PWNU Bali KH Abdul Aziz.

Kiai Aziz menyampaikan bahwa kehadirannya tidak dalam kapasitasnya sebagai Ketua PWNU Bali.

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Bali Hadiri Istighotsah Tarekat Naqsyabandiyah Gersempal

“Kendati demikian saya berharap dan optimis bahwa Sitqon akan menjadi salah satu ruh dari organisasi Nahdlatul Ulama (NU),” kata Kiai Aziz.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu turut hadir pula perwakilan dari pengurus pusat Sitqon KHR Syaifullah Jafar dan KHR Amin Syafiuddin dari Sampang Madura. Majelis ini juga diikuti oleh beberapa imam Khwajagan Naqsyabandiyah Mudzhari Gersempal dari Pamekasan dan Sumenep Ustadz Habibi dan Kiai Tajuddin Zahid. (Dedi Haryono/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Lomba, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah