Kamis, 22 Desember 2011

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PP Fatayat NU Ida Fauziyah mengimbau masyarakat untuk tidak terpengaruh dengan paham gerakan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS).?

"Saya berharap agar masyarakat tidak terpengaruh dengan gerakan dan ideologi yang aneh-aneh, organisasi yang aneh-aneh. Jaga kebersamaan dan keutuhan NKRI," kata Ida di Jakarta, Selasa.?

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Imbau Masyarakat Tak Terpengaruh Paham ISIS

Ia juga meminta kepada pemerintah untuk memberikan penjelasan secara luas kepada masyarakat melalui berbagai media mengenai ISIS dan ancamannya bagi keutuhan NKRI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Melakukan dialog sekaligus penggalangan kerja sama dengan tokoh-tokoh agama, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh adat untuk mengantisipasi gerakan ISIS agar tidak berpengaruh atau tidak diikuti oleh masyarakat," sebut politisi PKB itu.?

Ida juga berharap agar lembaga kemasyarakatan termasuk RT/RW untuk membangun kewaspadaan terhadap gerakan-gerakan ISIS.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Langkah-langkah tersebut tentu saja jangan sampai menimbulkan suasana yang mencekam dan justru menjadi alat untuk menakuti-nakuti masyarakat," kata Ida. (antara/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 05 November 2011

Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan

Oleh Hilful Fudhul





Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Milenial dan Jihad Kebangsaan

Bagi sebagian orang adanya hari santri dinggap mengarah kepada kelompok masyarakat tertentu. Jika melihat latar belakang sejarah lahirnya hari santri, ialah bagian dari sejarah bangsa saat kembali terjadi pengalihan kekuasaan atas bangsa Indonesia oleh para penjajah. Tepat pada tanggal 22 Oktober 1945, para ulama dan santri berkumpul untuk membahas cara mempertahankan kemerdekaan yang telah diproklamirkan oleh Soekarno-Hatta. Maka muncullah fatwa yang disebut Resolusi Jihad yang pada akhirnya mampu menggerakkan rakyat untuk ikut berjuangan melawan penjajah.



Fatwa yang dikeluarkan oleh KH Hasyim Asy’ari itu mendapatkan respons dan sekaligus sebagai sebuah semangat yang mampu memberi kekuatan bagi pejuang untuk tetap mempertahankan kemerdekaan. Kewajiban melawan penjajah demi mempertahankan kemerdekaan adalah seruan dari fatwa penting Mbah Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak sia-sia, perlawanan rakyat atas penjajah pasca resolusi jihad disampaikan kepada rakyat. Perlawanan itu pun diluar dari prediksi penjajah, sebab terus dilakukan oleh rakyat saat itu sehingga dalam kurun waktu yang relative singkat dapat menguasai wilayah Surabaya.

Peristiwa dikeluarkannya Resolusi Jihad adalah bagian dari sejarah bangsa Indonesia yang tidak dapat dihapuskan begitu saja, mengingat kontribusi santri dalam mepertahankan kemerdekaan. Peristiwa ini menepis anggapan bahwa santri dan ulama tidak berjiwa nasionalis. Resolusi Jihad adalah bukti kecintaan santri pada bangsanya. 

Pada peristiwa ini pula terbukti bahwa santri sebagai kaum agamawan sekaligus berjiwa nasionalis. Bangsa Indonesia perlu bersyukur atas kehadiran santri dan ulama yang begitu cinta atas negerinya. Ini pula yang tidak dimiliki oleh bangsa lain yang miliki ulama seperti di beberapa negara di Timur Tengah. Tidak hadirnya ulama dan santri yang berjiwa nasionalis adalah masalah yang kian penting di negara-negara di Timur Tengah yang dapat memicu konflik disebabkan oleh ulama yang tidak memiliki rasa nasionalisme.

Keadaan di Indonesia sangat berbeda dengan negara-negara di Timur tengah, Indonesia memiliki ulama dan santri yang begitu cinta akan bangsanya, bahkan siap mengorbankan jiwa dan raganya bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) seperti yang sering disampaikan oleh Gus Yaqut sebagai pimpinan GP-Ansor Pusat dan juga KH Said Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU. Hal itu bukanlah hal yang baru lagi sebab kecintaan terhadap bangsa itu telah ditunjukan oleh salah satu tokoh nasional seperti KH Hasyim Asy’ari dan KH Wahab Hasbullah sehingga antara Negara dan agama dalam prinsip tertentu merupakan satu kesatuan.

Santri, Pembangunan dan Hilangnya Moralitas

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kini perjuangan dalam jihad kebangsaan yaitu melawan penjajahan telah usai. Tapi apakah santri juga harus berhenti berjihad atas bangsanya? Tentu saja tidak. Sebagai bangsa yang memiliki cita-cita dan capaian masa depan sangat banyak persoalan yang kini sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia seperti menguatnya paham keagamaan yang meniadakan prinsip-prinsip toleransi serta kemanusiaan sebagaimana yang ditunjukkan oleh paham Wahabi ini juga turut menyerang bangsa Indonesia. Perlu sebuah simpul kebangsaan yang dibalut oleh pemahaman Islam yang rahmatan lill’alamin yaitu agama sebagai sebuah seruan persatuan dan persaudaraan agar menjadi rahmat bagi alam semesta.

Masalah lain yang dihadapi oleh bangsa Indonesia adalah penuntasan kemiskinan yang disebabkan oleh beberapa faktor antara lain masih sedikitnya peluang lapangan pekerjaan. Maka persoalan bangsa hari ini merupakan bagian dari persoalan ulama dan santri. Jika dahulu santri berjihad melawan penjajahan sebagai representasi penderitaan rakyat, hari ini jihad kebangsaan ialah ikut serta dalam pembangunan nasional seperti ikut serta membuka lapangan pekerjaan sebagai salah satu cara mengentaskan kemiskinan. 

Begitu pula dengan zaman yang kian modern ditandai dengan hadirnya teknologi canggih dalam mempermudah urusan umat manusia seperti alat komunikasi dan teknologi lainnya. Tuntutan agar masyarakat mampu mengikuti arus gerak zaman, diperlukan penguatan skill bagi masyarakat melalui instansi pendidikan dan pelatihan. Pelatihan skill perlu diajarkan juga di pondok pesantren dan struktur yang ada di beberapa ormas keagamaan seperti NU dan Muhammadiyah. Keikutsertaan santri dalam membangun bangsa melalui bidang ekonomi, politik, pendidikan dan kesehatan tanpa meninggalkan moral sebagai basis atau modal pembangunan nasional yang berkemajuan serta berperadaban tinggi.

Moral menjadi penting mengiringi pembangunan nasional saat ini, mengingat banyaknya persoalan bangsa yang tidak diiringi dengan moralitas sumber daya manusia. Maka muncul persoalan seperti pornografi, korupsi, narkoba, miras yang disebabkan oleh merosotnya moralitas manusia dan juga menyumbang merosotnya moralitas bangsa. Ini juga yang menyebabkan penggunaan media sosial atau teknologi yang tidak disertai dengan penanaman moral terhadap masyarakat. 

Muncul kemudian persoalan hoaks yang beberapa bulan terakhir menyulut konflik yang tidak saja terjadi di dunia maya, akan tetapi juga menyebabkan konflik di dunia nyata. Sudah saatnya santri hari ini berjihad kebangsaan dengan ikut membangun Indonesia di berbagai bidang yang diiringi dengan moralitas yang tinggi agar Indonesia menjadi bangsa yang maju. 

Jelas rasanya bahwa antisipasi atas persoalan bangsa hari ini ialah pembangunan nasional yang tidak diirngi dengan penguatan moralitas. Penting kiranya pemerintah membahas persoalan moralitas yang kian merosot. Di era kepemimpinan Jokowi-Kalla hari ini yang terus membangun infrastruktur serta percepatan pembangunan ekonomi sudah dibuktikan dengan hadirnya berbagai infrastruktur seperti pembangunan tol sampai kereta cepat sebagai upaya dalam memajukan bangsa. Selain itu, pemerintah mendorong berbagai cara untuk mempermudah investasi untuk membangun negeri, ini juga akan dapat mendorong pembangunan infrastruktur lainya.

Akan tetapi, muncul persoalan seperti korupsi yang merugikan keuangan negara yang kian hari meningkat yang menjerat tokoh nasional sampai daerah yang tersandung kasus korupsi dengan bentuk yang beragam dari suap menyuap sampai jual-beli jabatan. Tentu persoalan ini dapat merugikan keuangan negara. 

Maka pemerintah harus menunjukkan komitmennya dalam memberantas korupsi. Selain menghadirkan hukum positif yang dapat memberikan efek jera terhadap pelaku korupsi, perlu pula mendorong paham keagamaan yang kuat agar setiap orang tidak saja menghadirkan wajah agama hanya di mimbar-mimbar masjid sampai gereja, akan tetapi juga menghadirkan agama di instansi seperti kantor pemerintah. Moral yang kuat ini akan menjadi rem bagi seseorang dalam melaksanakan tugas kenegaraan maupun di setiap pekerjaannya.

Ajaran Islam sendiri, sebagaimana kita ketahui bahwa narkoba, korupsi, maupun hoaks sangatlah dilarang. Islam tidak membenarkan perbuatan mengambil harta yang bukan menjadi miliknya. Islam melarang memfitnah antara satu dengan yang lainnya karena dapat menyulut permusuhan. Begitu juga dengan narkoba; anjuran untuk tidak merugikan diri dengan menggunakan narkoba yang dapat merusak kesehatan juga dilarang dalam Islam. 

Artinya persoalan yang sedang dihadapi oleh bangsa hari ini, juga merupakan persoalan umat Islam secara keseluruhan. Maka jihad dalam melawan persoalan bangsa serta turut pula membangun bangsa yang lebih makmur merupakan tugas mulia yang dapat pula dilakukan oleh ulama dan santri hari ini. 

Penulis adalah Wakil Ketua Lakpesdam PCNU Kota Yogyakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 13 Oktober 2011

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Persoalan yang sering ditanyakan terkait dengan pemilihan tidak langsung atau ahlul halli wal aqdi adalah apakah pemilihan ini menyalahi prinsip-prinsip demokrasi dan kedaulatan pengurus cabang dan wilayah NU?

Wakil sekjen PBNU Masduki Baidlawi menjelaskan, rais aam syuriyah merupakan “wilayah khusus” dimana warga atau pengurus tanfidziyah sudah samikna waathona (mendengar dan mematuhi), bukan lagi persoalan cabang terlibat atau tidak, karena syuriyah punya legitimasi kuat dalam syariah Islam.

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)
Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara! (Sumber Gambar : Nu Online)

Belajar dari Keruntuhan Syarekat Islam, Demokrasi Hanya Cara!

Pola pemilihan ahlul halli ini dicontohkan oleh khalifah kedua Umar bin Khattab. Sebelum meninggal, ia menunjuk beberapa orang untuk memilih penggantinya. Cerita ini kemudian dikodifikasi oleh Imam Mawardi dalam kitabnya Al Ahkamus Sulthoniyah yang kemudian dijadikan landasan oleh para ulama NU terkait kebijakan pemerintahan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Faktor kedua, kata Masduki, ketika supremasi ulama tergerogoti, maka persoalan kewenangan cabang dan wilayah dalam memilih dipinggirkan dulu. Ketika tantangan politik eksternal begitu kuat, ada alasan dilakukan melalui ahlul hallli wal aqdi.

“Demokrasi itu alat untuk mencapai tujuan. Bisa saja dalam situasi tertentu dilakukan asal secara ideologis tidak terganggu, tetapi ketika ruh dan jantung organisasi terganggu, yang akhirnya jantung organisasi dirampas orang. Ya ngak bisa begitu,” tegasnya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Belajar dari Syarekat Islam

Ia menyatakan, organissi NU tidak bisa dibiarkan terlalu terbuka sehingga sembarang orang bisa menjadi pengurus tanpa pernah terlibat dalam proses didalamnya, sementara tantangan di luar semakin keras.?

Kelompok Islam transnasional merupakan tantangan baru yagn harus diwaspadai infiltrasinya dalam lingkungan NU. Di beberapa daerah, sudah terindikasi penyusupan tersebut dan akhirnya bisa dikeluarkan. Orang makin kabur antara NU dan Islam transnasional. Ada yang sudah permisif ‘ngak papa yang penting sama-sama Islamnya’ padahal orientasi politiknya berbeda.?

Ia menyatakan, NU harus belajar dari keruntuhan Syarekat Islam (SI) yang pada zaman kolonial, merupakan organisasi Islam paling besar dan berjaya. Tapi puluhan tahun kemudian habis karena terlalu terbuka, akhirnya ada kelompok SI hijau dan SI merah yang dimasuki anasir-anasir komunis.

“Ini tidak ada urusan demokratis dan tidak demokratis, ini urusannya eksistensi NU untuk masa depannya seperti apa, yang 12-13 tahun lagi sudah 100 tahun. Kalau dibiarkan, NU bisa seperti SI. Jadi orang yang mengurus NU merupakan orang yang betul-betul secara ideologi adalah orang NU, jelas, aswajanya seperti apa, pengkaderannya seperti apa,” tandasnya.

Muktamar Situbondo

Ia mencontohkan pola ahlul halli sudah pernah digunakan dalam muktamar ke-27 NU yang berlangsung di Sitobondo yang akhirnya memilih Gus Dur sebagai ketua umum PBNU.

Masa itu ditandai dengan munculnya kader-kader muda NU yang cemerlang seperti Fahmi Syaifuddin, Gus Dur, Masdar F Mas’udi, Slamet Effendy Yusuf, Ichwan Syam dan lainnya. Dikalangan para ulama, juga ada pikiran baru yang reformis seperti KH Ali Maksum, KH Mahrus Ali, KH As’ad Syamsul Arifin, KH Ahmad Siddiq dan lainnya.?

Kelompok tersebut sangat resah dan gundah dengan kondisi NU yang terlalu terbawa ke politik praktis. Lalu dicarilah cara bagaimana yang memimpin NU memiliki visi yang sama dan sejalan dengan ulama.?

“Kalau dilakukan pemilihan one man one vote, yang akan terpilih lagi Kiai Idham Chalid. Maka dicarilah model pemilihan agar Gus Dur terpilih ketua umum PBNU. Jadi konteksnya begitu. Untuk konteks sekarang, ya alasannya seperti yang saya sebutkan di atas.” (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 30 September 2011

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pondok Pesantren memegang peranan penting di masyarakat, sementara di perguruan tinggi masing-masing tempat para mahasiswa menuntut ilmu porsi pembinaan spiritual dan karakter mental masih sangat kurang. Karenannya harus tersedia tempat untuk membina moral, membangun karakter dan memperkuat basis keilmuan sehingga kelak akan mampu berperan secara maksimal di dunia kerja dan masyarakat yang tetap disemangati dengan nilai-nilai Keislaman, kebudayaan dan ke Indonesiaan. Hal itu yang selalu diungkapkan oleh Pendiri Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang, KH A Hasyim Muzadi.

Akhirnya pada tanggal 3 Juli 1989 berdiri Yayasan Al Hikam Malang dengan akte notaris NO 47/ 1989. Kemudian Pesantren Mahasiswa Al Hikam sendiri secara resmi berdiri pada tanggal 17 Ramadlan 1413 H/ 21 Maret 1992.

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembangkan Perpustakaan sebagai Jantung Pendidikan

Pesantren Mahasiswa (Pesma) Al Hikam yang beralamatkan di Jl. Cengger Ayam No. 25 Lowokwaru Kota Malang bercita-cita untuk menggabungkan sisi positif perguruan tinggi dan pesantren untuk mewujudkan generasi yang mempunyai penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi, berbudi pekerti luhur serta memiliki kepribadian dengan tetap memegang budaya dan semangat keIndonesiaan. Selain itu, Pesma Al-Hikam yang biasa disebut oleh para santri memiliki Motto “Amaliah Agama, Prestasi Ilmiah, dan Kesiapan Hidup

Untuk sampai kepada tujuan pendidikan di Pesma Al Hikam. Santri diberikan kesempatan untuk mengaktualisasikan minat dan bakatnya di berbagai media aktivitas yang ada di pesantren Mahasiswa Al Hikam. Media-media aktivitas tersebut antara lain : Organisasi Santri Pesantren Mahasiswa Al Hikam (Ospam), KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji) Al Hikam, Taman Pendidikan Al-Qur’an Al Hikam, Mini Market Al Hikam, dan Unit Teknologi Informasi (UTI).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diharapkan dengan berbagai aktivitas positif di dalam masing-masing unit tersebut santri yang aktif akan memiliki keterampilan dan pengetahuan praktis dalam mengelola lembaga, mengenal, melayani orang lain dan lingkungan, menyusun program, pengalaman kepemimpinan, dan keterampilan teknis tertentu yang mungkin tidak didapat secara langsung dari kelas baik di kampus maupun di pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengembangan perpustakaan 

Keberadaan perpustakaan dan pusat informasi berawal adanya taman bacaan, dimana koleksinya masih berupa kumpulan koleksi milik pengasuh yakni KH A Hasyim Muzadi yang dimanfaatkan oleh para santri untuk kebutuhan pengkayaan ilmu pengetahuan dan penumbuhan daya pikir santri. Pada saat itu koleksi perpustakaan masih belum dikelola secara profesional.

Sesuai dengan perkembangan waktu, keberadaan taman bacaan semakin dirasakan sebagai kebutuhan untuk mendukung kegiatan lembaga induknya, yaitu Pesma Al Hikam, STAI Ma’had Aly (STAIMA), maka sejak tahun 2003 bersamaan dengan berdirinya STAI Ma’had Aly (STAIMA), unit tersebut menjadi unit perpustakaan dan pusat informasi yang dikelola secara profesional oleh para pustakawan ahli yang terdiri dari 2 orang sarjana perpustakaan, 1 orang tenaga teknisi perpustakaan, 2 orang tenaga bantu yang memiliki kualifikasi kemampuan bahasa Inggris dan bahasa Arab.

Pada tahun 2011 koleksi yang dimiliki oleh perpustakaan mencapai 5850 judul, 15.992 eksemplar yang dilengkapi dengan barkode dan terekam dalam pangkalan data (database) dan dilengkapi dengan opac (online public acces catalogue) dan jaringan internet. Disamping itu memiliki koleksi virtual library yang berjumlah 68 judul dengan subyek Al-Qur’an, Tafsir, Hadits, bahasa Arab, bahasa Inggris, kajian keislaman. Koleksi tersebut terpasang dalam OPAC (Online Public Acces Catalouge) atau AISAL (Al-Hikam Integreted Self Access Learning). Untuk mengetahui koleksi buku dan kitab yang dimiliki oleh perpustakaan al-Hikam dapat diakses di: http://al-hikam.ddns.net/   

Sedangkan terkait akses ilmu pengetahuan, menurut Wakil Pengasuh Pesma Al-Hikam, KH Muhammad Nafi’ perpustakaan Al Hikam juga sudah sangat representatif. Dari data perpustakaan Al Hikam, terdapat 6.704 judul buku dengan total 17.304 eksemplar. Selain itu, terdapat sekitar 5.000 judul kitab berupa e-Book. 

”Kita sadar akan pentingnya perpustakaan, apalagi pesantren kita khusus untuk mahasiswa,” tandas pengurus PCNU Kota Malang yang juga menantu Mbah Muhith Muzadi. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 11 September 2011

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj menerima kunjungan dan silaturrahim elit pengurus Parta Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) sore ini, Jumat (8/1) di Gedung PBNU Jl Kramat Raya 164.

Kedatangan elit partai pemenang pemilu 2014 itu dalam rangka mengundang secara khusus Ketua Umum dan Sekjend PBNU ke acara Rakernas dan Harlah PDI-P pada tanggal 10 Januari 2016 di JJC Kemayoran Jakarta Pusat.

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Elit PDIP Silaturrahim ke PBNU

Dalam sambutannya, Sekjend PDIP, Hasto Kristiyanto mengatakan bahwa ada banyak kesamaan visi antara PBNU dengan PDIP terutama yang menyangkut pendampingan wong cilik dan program-program kerakyatan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“PDIP memiliki visi memberdayakan rakyat kecil dan itu sejalan dengan visi NU yang sangat peduli pada rakyat kecil,” tandas Hasto.

Sementara itu, Wasekjen PDIP Ahmad Basarah menceritakan, ia telah melaporkan kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarno Putri soal dirinya yang bergabung dalam kepengurusan LAZISNU periode 2015-2020 ini. Menanggapi hal itu Megawati sangat berbahagia dan mendukung sepenuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu dalam sambutannya KH Said Aqil Siroj menyatakan bahwa PDIP sebagai partai penguasa hendaknya harus terus bersinergi dengan ormas-ormas yang ada untuk urusan sosial kemasyarakatan.

Selain itu, Dosen Pascasarjana STAINU Jakarta itu juga banyak memberi masukan soal keadaan terkini dunia Islam terutama soal kondisi konflik yang mendera negara-negara teluk di kawasan Timur Tengah.

“Di saat negara-negara teluk berkonflik, kita di Indoenesia harus memberi contoh, bahkan harus siap memediasi,” tandas Kang Said.

Lebih Lanjut, Sekjen HA Helmy Faishal Zaini mengatakan bahwa Indonesia sangat siap untuk menjadi juru damai dan mediator konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran ini.

“Kita sangat siap untuk menjadi juru damai konflik negara-negara teluk yang sangat meresahkan itu. Kedua negara baik Iran mapun Arab Saudi adalah representasi negara Islam. Jadi sebagai sesama muslim kita siap membantu mengatasi konflik,” ujar Kang Helmy.

Selain KH Said Aqil Siroj dan H Helmy Faishal Zaini, hadir juga Bendum PBNU, Bina Suhendra, Wasekjen PBNU H Imam Pituduh, dan H Ishfah Abidal Aziz.

Sementara dari pihak PDIP rombongan terdiri dari Sekjen Hasto Kristiyanto, Wasekjen Ahmad Basarah serta beberapa pengurus harian lainnya. (Fariz Alniezar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 09 September 2011

Ini Cara Bertemu dengan Walisongo dan Orang Saleh

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Warga NU Kampung Semeru Distrik Iwaka, Papua, mengadakan halal bihalal dan pembukaan rutinan istighosah. Acara yang dimulai setelah Maghrib diikuti oleh jamaah putra dan putri.

"Kita ini terlalu ngoyo bekerja secara fisik, tetapi kurang diimbangi secara spiritual," kata Ketua Takmir Mushala Ikhlasul Amal, H Asyari.

Ini Cara Bertemu dengan Walisongo dan Orang Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Bertemu dengan Walisongo dan Orang Saleh (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Bertemu dengan Walisongo dan Orang Saleh

Sementara Wakil Ketua PCNU Mimika Sugiarso menyebut perlunya saling bermaafan meskipun mereka belum berjumpa sebelumnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Walaupun kita belum bertemu bisa jadi kita punya dosa. Misalnya teman kita menggunjing temannya, lalu kita ikut nimbrung, itu kita ikut kena dosa. Makanya kepada siapapun kita harus minta maaf," kata Sugiarso.

Ia mengajak para jamaah untuk istiqamah mengikuti upacara istighosah. “Insya Allah doa kita mustajab. Istiqamah lebih baik dari karamah. Doa kiai NU dalam Resolusi Jihad dan Perang 10 November manjur berkat keistiqamahan ibadah mereka," terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ustadz Hasyim Asyari mengajak jamaah untuk bersatu. "Mari kita kuatkan persatuan dengan silaturahim dan saling memberi dan meminta maaf. Bahkan kita sambung dengan silatur ruh agar bisa sambung dengan para Walisongo dan orang saleh. Caranya kita kirim Al-Fatihah. Istighotsah sarana untuk berkomunikasi dengan ruh mereka dan dengan Allah agar sinyal kita kuat. Istighotsah ibarat mengisi pulsa. Jika tidak punya pulsa, kita tidak bisa menelpon Allah."

Acara dilanjutkan dengan sholat Isya dan ramah tamah. Selanjutnya rutinan Istigosah akan diadakan malam Ahad Wage ba‘da Magrib.

PCNU Mimika juga membagikan stiker "Aku Bangga Jadi NU" dan "Alhamdulillah kami sekeluarga  NU." Jamaah mengisi lembar data untuk tanda terima stiker ini.

Diharapkan stiker bisa ditempel di motor, pintu, dan tempat lain sebagai Ke-NUan dan sebagai tanda keanggotaan jamaah istighotsah. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 29 Agustus 2011

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Para alumni Pondok Pesantren Darussalam, Blokagung, Karangdoro, Tegalsari, Banyuwangi, Jawa Timur, yang bermukim di Jakarta dan sekitarnya memperingati haul ke-27 pendiri pesantren tersebut, KH Mukhtar Syafa’at bin Abdul Ghafur.

Acara ini digelar di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur, Sabtu (1/4). Acara yang rutin digelar tiap tahun ini tak hanya dihadiri alumni dan simpatisan, namun juga 30 keluarga Kiai Syafa’at dari Banyuwangi.

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Bakti Sosial Awali Haul Ke-27 Pendiri Pesantren Blokagung di Jakarta

Peringatan haul itu diawali dengan bakti sosial berupa pemberian santunan kepada 1000 anak yatim yang didatangkan dari berbagai daerah di Jakarta dan sekitarnya. Acara santunan ini dimulai sejak pukul 08.00 WIB sampai 10.00 WIB.

Yang didaulat sebagai penceramah pada acara ini adalah KH. Syarif Rahmat. Pada kesempatan ini, kiai yang selalu memakai blangkon ini mengatakan bahwa fungsi ulama adalah seperti gunung. “Gunung selalu membuat daerah sekitarya sejuk. Ulama pun demikian,” tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengasuh Pondok Pesantren Ummul Qurra’, Pondok Cabe ini juga mengingatkan pentingnya kita mencari berkah kepada petilasan para salafussalih, seperti kuburan, dan lain-lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya berharap, alumni Blokagung ini, meskipun telah memperingati haul kiainya, untuk menyempatkan ziarah ke makam Kiai Syafa’at di Banyuwangi sana,” tambahnya.

Kiai Syarif juga mengingatkan akan pentingnya regenerasi para ulama, karena jika ulama telah tiada, maka bumi akan menjadi “panas”.

Acara itu juga dihadiri pengasuh Pondok Pesantren As-Shiddiqiyah, Jakarta, KH Nur Muhammad Iskandar. Kiai Nur Muhammad dipercaya untuk memimpin doa di akhir acara. (M. Nurul Huda/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 08 Agustus 2011

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Grup Qasidah “Band Kepret” dari Pesantren Al-Karimiyyah turut berpartisipasi dalam memeriahkan kegiatan Pembukaan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) dan sekaligus Pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU Kecatamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat, di gedung Madrasah Ibtidaiyyah (MI) Al-Huda, Ahad (10/3) kemarin.

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)
Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta (Sumber Gambar : Nu Online)

Qasidah Al-Karimiyyah Meriahkan Pembukaan Makesta

Salah satu keunikan dari Grup Qasidah yang digawangi oleh Nashori, Cecep, Ino, Epul, Wisnu, Gofur, Irfan, Radi, Yadi dan Sopyan tersebut ketika tampil di hadapan sedikitnya 78 orang peserta dan 30 orang panitia adalah berhasil membawakan beberapa lagu shalawat dengan beberapa arransemen dan para penabuh yang mengiringinya pun dapat menyesuaikan dengan arransemen yang dibawakan oleh Nashori, sang vokalis.

Selain itu, keunikan lainnya adalah dalam Grup Qasidah ini pun terdapat beberapa alat musik yang tidak biasanya hadir dalam Grup Qasidah “Band Kepret”, karena selain alat musik konvensional dari “band kepret”, juga dilengkapi dengan tam-tam, kotek, symbal dan drum tenor.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Nashori, kolaborasi alat musik tersebut merupakan hasil karyanya sendiri, naluri dan imajinasi musiknya berhasil membuat inovasi suara dalam “band kepret” apalagi kemampuan musiknya selalu dilatih dalam seminggu paling tidak 2 kali.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jadwal latihan kita seminggu dua kali, hari jum`at sore dan minggu sore,” ujarnya

Menurut mahasiswa STAI Riyadlul Jannah ini, dibandingkan dengan marawis dan hadroh, qasidah dihitung lebih mudah dalam melakukan inovasi.

“Menurut saya, untuk membuat kreasi dan inovasi musik lebih gampang qasidah daripada marawis dan hadrah,” ungkapnya

Dalam kegiatan yang dihadiri oleh Pengurus MWCNU Patokbeusi, PC IPNU Subang, Sekretaris Kecamatan dan beberapa tokoh masyarakat tersebut grup qasidah Al-karimiyyah cukup menghibur hadirin dan hadirin pun terlihat khusu dalam mendengarkan beberapa lantunan shalawat yang dibawakan oleh mereka.

Redaktur? ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor : Aiz Luthfi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 29 Juli 2011

Santri Digoda Setan Kelas Santri

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH. Henry Sutopo mengatakan, Iblis mendapat kewenangan menggoda anak keturunan Adam. Ia menggoda manusia sesuai dengan kedudukan.

Santri Digoda Setan Kelas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Digoda Setan Kelas Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Digoda Setan Kelas Santri

“Kalau santri, ya yang menggoda setannya kelas santri. Kalau kiai, yang menggoda setannya juga kelas kiai.” 

Ia menyampaikan hal itu pada pengajian menjelang buka bersama puasa arafah di masjid Yasayan Kodama (Korps Dakwah Mahasiwa) Yogyakarta, Senin (14/10).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di akhir pengajian, Henry Sutopo menegaskan bahwa semua manusia itu tidak ada yang selamat dari bujuk rayu iblis, kecuali Nabi Muhammad Saw.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tidak ada yang selamat dari bujuk rayu Iblis kecuali Nabi Muhammad Saw.” Pungkasnya, disambut suara adzan maghrib. 

Kegiatan tersebut, dihadiri oleh puluhan jamaah yang terdiri dari masyarakat di sekitar masjid Kodama Yogyakarta.  (Rokhim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Juli 2011

Gandeng Komunitas Matapena, Hasyim Asyari Gelar Liburan Sastra

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Komunitas Matapena Rayon Hasyim Asyari Bangsri menggandeng komunitas Matapena Yogyakarta menggelar Liburan Sastra di Pesantren (LSdP) #8. kegiatan yang rencananya diselenggarakan Jum’at-Ahad (29/6-1/7) mendatang bertempat di Rumah Joglo Hasyim Asyari Bangsri.

Materi yang disampaikan Sastra Pesantren yang Berpihak pada Kasunyatan Obyektif, ke-Matapena-an, Motivasi Menulis, Penanaman Nilai, Menggali Ide, Membuat Setting Cerita, Penokohan, Alur, Tahlilan Sastra, Olah Rasa, Seni Panggung dan Teater. 

Gandeng Komunitas Matapena, Hasyim Asyari Gelar Liburan Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Komunitas Matapena, Hasyim Asyari Gelar Liburan Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng Komunitas Matapena, Hasyim Asyari Gelar Liburan Sastra

Untuk pemateri Zastrow Al-Ngatawi (Budayawan Lesbumi), KH Nuruddin Amin (Pengasuh Pesantren Hasyim Asyari Bangsri), Adipati Genk Kobra, Ahmad Fikri AF (Pembina Komunitas Matapena) dan kru Matapena Yogyakarta; Akhiriyati Sundari, Arifa Juhas, Pijer Sri Laswiji, Zaki Zarung, Mahbub Djamaluddin, Sachree M Daroini, Hugeng Satya Dharma dan Humam Rimba. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KH Zainal Umam, pembina Matapena Rayon Hasyim Asyari menuturkan kegiatan bertujuan mengisi liburan dengan kegiatan bersastra dan berkarya, menggali dan mengasak skill menulis maupun ajang silaturahmi dan berjejaring antar rayon komunitas Matapena yang berada di Kabupaten Jepara dan sekitarnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk syarat pendaftaran; peserta berusia 15-22 tahun, mengisi formulir pendaftaran, membayar kontribusi sebesar Rp.150.000, menyerahkan cerpen karya sendiri, pendaftaran ditutup hingga 28 Juni 2012. 

Tempat pendaftaran sekretariat Matapena Jl. Wonosari KM 4.5 Gang Musholla Jeruk Legi Bantul Yogyakarta atau MTs Hasyim Asyari Jl. Raya Bangsri-Jepara (depan Masjid An-Nur) Bangsri Jepara. Contact person 085643274002 (Mansyur) atau 085742391972 (Shofaun Nafis). 

Redaktur   : Mukafi Niam

Kontributor: Syaiful Mustaqim 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Amalan, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 25 Juni 2011

Pantau Radikalisme GP Ansor Bolmut Sebarkan Islam Rahmatan lil Alamin di Tiap Masjid

Bolmong Utara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Gerakan Pemuda Ansor Bolang Mongondow Utara kembali berdakwah Islam rahmatan lil alamin di masjid-masjid. Mereka membuat mengadakan kajian-kajian rutin Islam yang penuh rahmat di tiap masjid.

Pada pekan ini, mereka menggelar kajian di masjid Al-Ikhwan Desa Tote, Sabtu (27/02). Pada kesempatan ini mereka mengangkat tema "Menangkal Bahaya Radikalisme dan Penguatan Kebangsaan Ini.”

Pantau Radikalisme GP Ansor Bolmut Sebarkan Islam Rahmatan lil Alamin di Tiap Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pantau Radikalisme GP Ansor Bolmut Sebarkan Islam Rahmatan lil Alamin di Tiap Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pantau Radikalisme GP Ansor Bolmut Sebarkan Islam Rahmatan lil Alamin di Tiap Masjid

"Kajian seperti ini memang harus dikuatkan pada setiap generasi penerus bangsa apalagi pada saat ini banyak paham-paham radikal,” kata Dansatkorcab Banser Bolmong Utara Ridwan.

Menurut Ridwan, Islam Rahmatan lil Alamin dan penguatan kebagsaan perlu diberikan kepada generasi penerus bangsa sehingga mereka diharapkan tidak menjadi target penyebaran paham-paham radikal yang saat ini mengacam NKRI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kajian ini langsung dipandu langsung oleh Ketua GP Ansor Bolmong Utara Donal Lamunte. Hadir Juga Ketua BPD Desa Tote dan para pemuda Desa Tote. (Taufik Paputungan/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 03 Juni 2011

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?



Mencegah radikalisme perlu dimulai dari kalangan pelajar. Sebab itu, Dewan Mahasiswa (Dema) Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang menggandeng Kementerian Agama Kota Tangerang untuk mencegah radikalisme di kalangan pelajar. Ini sebagai bentuk kegiatan di bulan Ramadhan?

Presiden Dema STISNU Imam Khoiri menjelaskan, Kemenag harus ikut andil bersama-sama Dema STISNU dalam melakukan pencegahan bahaya radikalisme dan terorisme. "Kami (Dema) dan Kemenag sepakat terjun bersama menangkal radikalisme atas nama agama. Kita memulai dari sosialisasi di kalangan pelajar," ujarnya saat melakukan kunjungan ke Kantor Kementerian Agama Kota Tangerang, Selasa (30/5).

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

Dema STISNU-Kemenag Kota Tangerang Cegah Radikalisme Pelajar

Ia menambahkan, dema STISNU dan Kemenag sudah menyepakati beberapa poin sebagai manifesto kader mujahid untuk memberikan pemahaman pentingnya pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila dan UUD 1945.?

Kesepakatan juga berisi untuk menolak keras radikalisme atas nama agama, menolak organisasi yang ingin mengubah dasar negara, dan mendorong generasi muslim Indonesia berpikir moderat, toleran, dan penuh cinta serta kasih sayang.

Kepala Kemenag Kota Tangerang H. Dedi Mahfudin a mengapresiasi langkah mahasiswa STISNU Nusantara. Menurutnya, radikalisme perlu ditangkal sejak dini karena pemikirian radikal dapat merusak integrasi kebangsaan.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebab itu, Kemenag Kota Tangerang sangat mendukung program mencegah sejak dini bahaya pemikiran radikal di kalangan pelajar.

"Kita akan adakan kegiatan sosialisasi bersama-sama mencegah tindakan radikal di kalangan pelajar Kota Tangerang ", terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jalinan kerjasama ini akan wujudkan pada kegiatan Gema (Gerakan Mahasiswa) Ramadhan 2017, yaitu berupa kegiatan roadshow dan sosialisasi bahaya radikalisme dan "ngaji pancasila" di 5 (lima) kelurahan Kota Tangerang selama bulan Ramadhan.?

Hadir pada acara silaturrahmi tersebut, Idrus Maulana pendiri PMII STISNU, Aflah Mumtaz Ketua Komisariat PMII, Raudhoh Amalia Pengurus Dema STISNU, dan pengurus Dema lainnya. (Suhendra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa, Khutbah, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 April 2011

Penguatan NU Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dakwah NU di wilayah Indonesia bagian timur amat diperlukan. Hal ini dikarenakan kondisi sosio-kultural masyarakatnya yang agak berbeda dari daerah-daerah lain, khususnya Pulau Jawa. Selain agamanya plural, sejumlah daerah merupakan lokasi rawan konflik.

Penguatan NU Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan NU Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan NU Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan

Pendapat ini disampaikan Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) H Nurul Yakin Ishaq di Jakarta, Jumat (22/3).

Yakin menyatakan, berdasarkan pengalaman LDNU berkunjung ke beberapa daerah seperti Maluku, Papua Barat, dan Gorontalo, kebutuhan tersebut nyata dan NU penting hadir untuk menyebarluaskan karakter Islam yang damai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Sebab ahlussunnah wal jamaah yang dikembangkan NU ini berpijak pada prinsip tasammuh (toleransi), tawassuth (moderasi), dan tawazun (kesemimbangan),” tegasnya.

Seperti di Ambon, sambung Yakin, beberapa masjid terbengkalai dan kecenderungan untuk membuat kampung eksklusif berdasarkan agama tertentu cukup kuat. ”Mungkin ini sisa-sisa ekses dari kerusuhan yang pernah memanas di daerah ini,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Yakin, gerakan Islam garis keras yang dulu turut serta dalam konflik di sana hingga kini masih aktif menyebarluaskan paham mereka yang rentan akan merusak kerukunan masyarakat. ”Padahal perbedaan adalah suatu keniscayaan. Dan itu dilindungi oleh konstitusi."

LDNU baru-baru ini menghadiri istighatsah kubra dan peletakan batu pertama Pesantren Nurul Huda Kobisanto, Seram Utara, Maluku Tengah, Maluku. Acara dengan ribuan peserta ini dihadiri pula Menteri PDT dan para pejabat daerah setempat.

”Timbul kebanggaan di hati saya. Ternyata setelah melintasi perbukitan, sungai, dan hutan belantara,  ada NU di sana,” ujar Yakin.

LDNU berharap, Pengurus Wilayah NU (PWNU) Maluku yang baru terpilih dua minggu lalu dapat bekerja maksimal dan mewarnai proses keberagamaan dan kerukunan di bekas wilayah yang terkenal kental dengan konflik bernuansa SARA ini.

Penulis: Mahbib Khoiron

 

Foto: Kunjung LDNU ke acara Istighatsah Kubra di Seram Utara, Maluku Tengah, Maluku

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 20 Februari 2011

Enak Zaman Soeharto atau Jokowi? Jawaban Kakek Ini Bikin Ngakak

Hingga sekarang masyarakat Indonesia masih membanding-bandingkan kualitas hidup dari Presiden satu ke Presiden lain. Poster bergambar Soeharto dengan tulisan “Piye kabare, penak zamanku toh?” (bagaimana kabarnya, enak zamanku kan?) sering ditemukan menempel di dinding publik, baik di tembok hingga bagian belakang truk.

Perbedaan ini dirasakan oleh kakek Lasimin. Suatu ketika kakek berusia 70 tahun yang tinggal di Banyumas, Jawa Tengah ini ditanya oleh seorang pemuda kampung bernama Zaenal.?

Zaenal melontarkan sebuah pertanyaan mengenai perbedaan hidup di zaman Presiden Soeharto dengan era Presiden Jokowi saat ini. Obrolan ringan ini berlangsung di sebuah dipan di depan rumah kakek Lasimin yang terlihat begitu sejuk dan rindang karena berada di bawah Pohon Jambu.

Enak Zaman Soeharto atau Jokowi? Jawaban Kakek Ini Bikin Ngakak (Sumber Gambar : Nu Online)
Enak Zaman Soeharto atau Jokowi? Jawaban Kakek Ini Bikin Ngakak (Sumber Gambar : Nu Online)

Enak Zaman Soeharto atau Jokowi? Jawaban Kakek Ini Bikin Ngakak

“Kek, kalau kakek rasakan, enak zaman siapa sih, Soeharto atau Jokowi,” tanya Zaenal to the point.

“Yo jelas enakan zaman Soeharto toh,” jawab kakek Lasimin sambil menyungging senyum hingga gigi ompongnya terlihat.

“Kenapa kek?”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Soalnya di zaman Soeharto, istriku masih muda dan seger.” Geerrrrr....muncul dari mulut Zaenal. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 16 Januari 2011

Pesantren Darunnajah Gelar Lomba Tahfidz Quran

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Pesantren Darunnajah Jakarta mengelar Musabaqoh Hifzhul Quran yang ke-3 antar Pondok Pesantren se-Indonesia. Musabaqoh Hifzhul Quran merupakan acara rutin setiap tahun, yag pada tahun ini bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda  ke-89. 

Pesantren Darunnajah Gelar Lomba Tahfidz Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Darunnajah Gelar Lomba Tahfidz Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Darunnajah Gelar Lomba Tahfidz Quran

Ketua Panitia Sofwan Manaf megungkapkan Musabaqoh Hifzhul Quran ini adalah salah satu cara untuk mencerdaskan kader bangsa.

“Agar mencintai Agama dan Negara, para santri juga diharapkan membawa nilai-nilai Al Quran, mampu menjaga toleransi dan keberagaman yang ada di Indonesia serta berpegang teguh pada nilai-nilai kebangsaan demi terciptanya cinta tanah air Indonesia raya," ungkapnya pada Jumat, (27/10).

Sofwan mengatakan sebanyak 426 hafidz dan hafidzah dari pesantren se-Indonesia menjadi peserta kegiatan tersebut. Mereka sebelumnya mengikuti seleksi di 14 kota meliputi Medan, Kuningan, Tidore, Maros,

Tenggarong, Martapura, Dumai, Palembang, DKI Jakarta, Magelang, Surabaya, Bondowoso, Sumbawa, dan Lombok.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para pemenang (terbaik) pada tiap golongan, baik putra dan putri mendapatkan hadiah ibadah umroh. Sedangkan terbaik 2, 3, harapan 1, dan harapan 2 mendapatkan dana pembinaan. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Pondok Pesantren, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah