Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Meme Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Kedatangan Ethan Zohn, mantan bintang sepak bola Timnas Amerika, disambut hangat dan meriah oleh para santri di Pondok Pesantren Darul Muttaqin. Ethan yang sudah tiga kali menjadi survivor kanker ini memang aktif di dunia pendidikan dan anak-anak selepas dari karirnya di bola.

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Co-founder Grassroots Soccer ini menyengajakan diri mengunjungi pesantren atas fasilitasi Kedubes Amerika setelah mendengar gaung Liga Santri Nusantara (LSN). Melalui yayasannya, Ethan Zohn mengkampanyekan pendidikan kepada anak-anak yang kurang beruntung. Kali ini kunjungannya ke pesantren juga dilatarbelakangi oleh informasi bahwa para santri hidup dalam kesederhanaan bahkan tidak sedikit yang kekurangan.

Bertempat di lapangan sepak bola Pondok Pesantren Darul Muttaqin di Jalan Raya Cadas-Kukun, Kampung Ilat, Desa Pangadegan, Pasar Kemis Tangerang, Ethan memberikan coaching clinic kepada dua kesebelasan dari Ponpes Darul Muttaqin Tangerang dan Ponpes Ar Roisiyah Tangerang Selatan. 

Didampingi asistennya, Bryan, mantan kapten kesebelasan Maccabee Amerika Serikat tersebut memberikan pelatihan teknik dasar bermain kepada dua tim kesebelasan yang pernah bertemu di final Liga Santri Nusantara (LSN) Region Banten tersebut. Kedua kesebelasan tersebut masing-masing adalah juara dan runner-up Liga Santri Region Banten tahun ini.

Kehadiran Ethan membuat atlet muda dari dua kesebelasan tersebut tampak antusias dan berlatih penuh semangat. Tanpa malu-malu, para santri belia tersebut berinteraksi dengan Ethan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak hanya memberikan materi teknik sepak bola, Ethan juga memberikan motivasi kepada para santri. Ethan mengisahkan lika-liku kehidupannya hingga akhirnya bisa merumput di dunia sepak bola Amerika Serikat sebagai pemain professional bahkan bintang. Ia juga menceritakan pengalamannya bertahan dari serangan kanker dan bersyukur bisa selamat hingga kini.

"Sepak bola itu kadang penuh misteri. Kadang Anda tidak tahu akan seperti apa Anda ke depannya. Tetapi bermimpilah dan wujudkan mimpi itu. Awal karir saya di sepak bola adalah kiper cadangan. Ini membuat saya merasa tak berkecil hati karena tidak selalu dimainkan. Hingga suatu ketika saya mendapatkan titik balik dan tumbuh seperti ini," kata Ethan memotivasi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut Ethan menambahkan pentingnya kedisiplinan dalam membentuk karakter pesepak bola yang kuat. "Sepak bola itu bukan sekedar olahraga, tapi juga melatih kemampuan kepemimpinan, persahabatan, disiplin dan tanggung jawab. Sepak bola adalah kerjasama dan adaptasi, kita harus membuang egoisme dan rasa ingin tampil mencolok," imbuhnya. 

"Berlatih sepak bola tidak harus menjadi pemain profesional, namun justru melalui sepak bola anak muda terlatih mentalnya, sehingga kelak profesi apapun yang dijalani, mereka menjadi orang-orang terbaik," tambah Ethan seraya memotivasi santri. 

Coaching clinic lalu dilanjutkan dengan pertandingan ekhibisi. Dalam pertandingan ini para pemain Liga Santri Nusantara tersebut tampak bersemangat setelah mendapatkan suntikan motivasi dari Ethan Zohn yang merupakan kiper dan sekaligus kapten tersebut. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Sholawat, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 25 Februari 2018

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

Taipe, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kiai muda MN Harisudin mendorong pekerja migran Indonesia di Taiwan untuk gemar bersedekah, baik sedekah wajib maupun sunah. Dalam penyaluran, ia menekankan harus diberikan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan, mengingat ada banyak dana sedekah yang disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme atas nama Islam. 

Demikian disampaikannya dalam pengajian On Air Majelis Talim Darus Syafa’ah, Kamis (28/12) malam waktu setempat.

Utusan Pondok Pesantren Kota Alif Lam Mim Surabaya itu menguraikan sedekah terbagi menjadi dua. Pertama, sedekah wajib yang juga disebut dengan zakat, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Kedua, sedekah yang tidak wajib; yakni sedekah biasa dan sedekah jariyah (wakaf).

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

“Saya yakin, Bapak dan Ibu pekerja migran Indonesia di sini sudah banyak membayar zakat, juga bersedekah. Saya sudah sering mendengar kalau LAZISNU PCINU Taiwan sudah banyak membantu saudara-saudara kita di tanah air. Kemarin membantu korban banjir di Pacitan. Sebelumnya, sedekah dan zakat PCI NU Taiwan disebar mulai Sabang (Aceh) sampai dengan Merauke,” tukas kiai yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember. 

Namun, Kiai MN Harisudin menggarisbawahi bahwa sedekah dan zakat pekerja migran Indonesia agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak, nuwun sewu (mohon maaf), saya minta agar sedekahnya disalurkan di tempat yang jelas, transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Demikian ini agar sedekah tidak disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme. Ini penting. Agar sedekahnya tidak dipakai untuk ngebom di Indonesia,” ujar Wakil Ketua LTN PWNU Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dosen pascasarjana IAIN Jember tersebut ketepatan tempat atau sasaran sedekah dan zakat, pertama adalah sanak famili di Indonesia, dan kedua LAZISNU PCINU Taiwan.

“Insyaallah, dua tempat ini merupakan tempat yang jelas dan tepat sasaran. Dan insyaallah juga berkah,” ujar Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates, Jember tersebut.

Majelis Talim Darus Syafa’ah merupakan salah satu majelis talim yang ada di Taiwan, dan merupakan satu diantara kurang lebih 30 lebih majelis talim yang berada di bawah koordinasi PCINU Taiwan. Anggota majelis adalah para pekerja migran Indonesia  yang menyempatkan diri mengaji setiap hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka tidak bertemu fisik, tapi secara on air karena keterbatasan waktu dan tempat. Pengajian diisi dengan khataman Al-Qur’an, yasinan, tahlil, shalawat nariyah, dan mauidlah hasanah oleh para ustadz dan kiai dari Indonesia. (Sohibul Ulum/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 09 Februari 2018

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi

Kediri, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Hujan yang mengguyur kota Pare, Kediri, Selasa (13/11) tidak menyurutkan semangat ribuan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kabupaten Kediri untuk menggelar Apel dalam rangka memperingati Resolusi Jihad NU dan Peringatan Tahun Baru Hijriyah.

Bertempat di halaman masjid Jami’ An-Nur, Pare Kediri, ribuan Banser tumpleg bleg di arena itu. Bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Kepala Satkorwil Banser Jawa Timur  H Imam Kusnin Ahmad SH.

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi

Meski dalam kondisi hujan acara apel berjalan lancar tidak ada satu pasukanpun yang bergeser dari barisan. Mereka tetap antusias mendengarkan pidato arahan dari Komadan Banser Jatim tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Hujan tidak akan menyurutkan semangat anggota Banser dalam apel ini. Apalagi hujan. Darah dan nyawapun akan dikorbankan oleh Banser untuk memperrtahankan ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah ala NU dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini,’’ ujar Kang Kusnin membakar semangat anggota Banser dan Ansor yang hadir pada saat itu, yang disambut dengan pekikan Allahu Akbar bebera pakali dari para peserta yang hadir.

Menurutnya, kalau dibanding dengan perjuangan para pahlawan dan pendahulu, tidak sebanding sama sekali. Para pahlawan dan suahada’ taruhannya jiwa dan raga  untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. “ Para pahlawan tidak perfikir saya akan mendapat apa dalam perjuangan ini. Prinsipnya bagaimana negeri ini terbebas dari penjajahan yang nota bene simbul keangkara murkaan,’’ terang Kang Kusnin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Maka sangat tepat bila, kader-kader muda NU memperingati resolusi Jihad NU yang tercetus pada 22 Oktober 1945 itu. Karena dengan adanya resolusi Jihad menjiwai semanat umat Islam untuk mepertahankan  Kemerdekaan Indonesia, yang saat ini kita kenal dengan peringatan hari Pahlawan 10 November itu.

“Jadi NU selalu setia kepada NKRI begitu pula dengan Ansor dan Banser-nya. Mengapa, karena NU dan Ansor ibarat sebuah perusahaan, organisasi ini memiliki saham yang sah di negara ini. Sehingga apa bila ada piahk-pihak yang ingin memporandakan negara ini. NU dan Banser akan membela mati-matian. Dan saat ini upaya-upaya itu nampaknya sudah mulai terjadi,’’ tegas dia.

Untuk itu, ia minta seluruh anggota Banser  harus merapatkan barisan, persatu padu untuk mepertahankan NKRI dari upaya perpecahan. “ Sebagai kader bangsa kita berkewajiban mempertahankan negeri ini dari segala bentuk ancaman. Baik dari dalam maupun dari luar,’’ kilahnya.

Selain itu, Kang Kusnin juga meminta para anggota Banser untuk lebih profesional dalam menjalankan tugasnya. Agar bias melaksanakan tanggung jawabnya. Yakni , pertama menjaga, memelihara dan menjamin kelangsungan hidup serta kejayaan Gerakan Pemuda Ansor dan NU.

Kedua,berpartisipasi aktif melakukan pengamanan dan ketertiban terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Banser, Gerakan Pemuda Ansor, NU serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya yang tidak bertentangan dengan perjuangan NU.

Ketiga, bersama dengan kekuatan bangsa yang lain untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam ikut menciptakan keutuhan NKRI.

Usai apel, acara dilanjutkan atraksi kekebalan tubuh dari satuan Densus 99 Banser Kabupaten Kediri dan kemampuan anggota Bagana ( Banser Tanggap Bencana) dalam memberikan pertolongan kepada para korban letusan gunung Kelud. “ Apel ini kami selenggarakan dalam rangka memperingati resolusi jihad NU dan sekaligus untuk peringatan tahun Islam,’’ ujar Agus Tariadi Ketua PC Ansor Kab. Kediri.

Selain apel, hari ini akan diselenggarakan oleh panitia gaungan dari PCNU dan banomnya. Diantaranya pawai ta’aruf, pengajian akbar dan malam bersholawat yang menghadirkan 5 ribu anggota Ishari (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia) milik NU. “Yang akan memberikan ceramah adalah Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj. Acara akan berlangsung di Stadion Canda Bhirawa Pare,” katanya. (Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Sejarah, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Februari 2018

Maulidan, Muslimat NU Tangerang Santuni Yatim Piatu

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Muslimat, Fatayat, dan IPPNU Kota Tangerang memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Mereka dalam rangka maulid itu memberikan santunan yatim piatu.

Ketua Muslimat NU Kota Tangerang Hj Fatimah Tomas menyampaikan terima kasih kepada semua pengurus Muslimat, Fatayat, dan IPPNU yang telah membantu dan bekerja sama dalam kegiatan ini.

Maulidan, Muslimat NU Tangerang Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)
Maulidan, Muslimat NU Tangerang Santuni Yatim Piatu (Sumber Gambar : Nu Online)

Maulidan, Muslimat NU Tangerang Santuni Yatim Piatu

“Kepada jamaah yang datang ke tempat ini, semoga Allah akan memberikan rahmatnya kepada kita semua,” ujarnya dalam peringatan Maulid Nabi Muhammad dan Santunan Yatim Piatu di Aula PCNU Kota Tangerang, Sabtu (30/12).

Ketua PCNU Kota Tangerang KH Bunyamin menyampaikan pada taushiyahnya, bahwa Rasul memberikan isyarat orang yang peduli, mau menyantuni dan memelihara anak yatim, nanti di surga bagaikan telunjuk dan jari tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menjelaskan, bila ada orang yang berkumpul dengan anak yatim, lalu memberi makan dan minum mereka sampai kenyang. Makanya, janjinya adalah di akhirat wajib mendapatkan surga.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Maka dari itu jangan sampai kita menyakiti anak yatim, karena doa anak yatim lebih cepet diijabah,” terangnya.

Menurutnya, ada lima yang akan dipertanyakan di hari akhir pada saat dihisab. Yakni umur kita digunakan untuk apa. Masa muda (fisik) diisi dengan apa. Harta  yang dimiliki didapat dari mana, dan digunakan untuk apa. Bila punya ilmu, diamalkan atau tidak ilmu itu.

Acara tersebut juga dihadiri Wakil Ketua PW Muslimat NU Banten, jamaah Nahdliyin, Muslimat, Fatayat, dan IPPNU se-Kota Tangerang.(Suhendra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 30 Januari 2018

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kalau merujuk pada Al-Qur’an, ada dua hal mendasar yang menyertai penciptaan manusia di dunia. Yang pertama adalah bahwa bisa saja Allah menciptakan manusia seragam, tapi manusia diciptakan beragam. Yang kedua, hanya orang-orang yang dikasihi Allah-lah yang mampu mengelola perbedaan tersebut sebagai rahmat.

Demikian diungkap oleh KH Abdul Ghofur Maimoen dalam Suluk Maleman bertajuk “Bulan Peneguhan Cinta” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Ahad (19/6) dini hari kemarin.?

Menurut putra KH Maimoen Zubair yang akrab dipanggil Gus Ghofur ini, keberagaman adalah sunatullah, dan kemampuan orang untuk menerima dan mengelola keberagaman adalah cermin bahwa ia termasuk orang yang dikasihi Allah.

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta

Menggarisbawahi apa yang diungkap oleh Gus Ghofur, Anis Sholeh Ba’asyin sebagai tuan rumah acara tersebut menegaskan, puasa Ramadhan adalah salah satu cara agar kita mampu meraih posisi sebagai golongan yang dikasihi Allah.

Menurut Anis, berpuasa itu merupakan langkah menahan diri untuk kepentingan yang lebih tinggi. Inti dari berpuasa pada dasarnya juga dilakukan dalam berbagai bentuk sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Bayangkan, bila orang tidak menahan diri untuk berhenti saat lampu merah di traffic light,? sudah pasti kekacauan yang terjadi, dan korbannya bukan hanya pihak yang menerobos, tapi juga orang-orang lain,” ujar Anis.

Dari contoh kecil ini saja, lanjut Anis, bisa dibayangkan bahwa sebuah peradaban tak mungkin dibangun bila para pemangkunya tak mau memuasakan dirinya. Nah, setidaknya ada dua motif manusia ketika melakukan puasa macam ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Yang pertama, karena takut. Motif ini terkait dengan hukum, orang berhenti di saat lampu merah bukan karena kesadaran dirinya tentang tatanan, tapi karena takut tertangkap polisi misalnya. Yang kedua, karena harapan. Motif ini terkait dengan cinta, orang berhenti di lampu merah baik ada polisi atau tidak, karena ia sadar harus menjaga orang lain, juga dirinya, dari kekacauan.?

Ilyas, dosen yang juga hadir sebagai pemateri justru menyayangkan sejumlah orang yang kerap mengumbar ibadahnya di media sosial. Dalam beribadah, sebaiknya orang juga dilandasi dengan semangat puasa, yakni menahan diri untuk tidak mengumbarnya.

Pria yang kerap berbicara ceplas-ceplos itu justru menilai bahwa orang Jawa-lah yang sebenarnya sudah lama mencapai makrifat. Banyak orang Jawa yang mendasarkan diri dengan puasa meski dibahasakan dengan istilah laku tirakat.

Menurut Ilyas, setidaknya ada tiga tingkatan dalam berpuasa. Puasa tingkatan pertama adalah puasa yang ditujukan untuk tujuan keduniawian. Puasa semacam itu biasanya dilakukan jika ingin mendapatkan kemuliaan di dunia baik jabatan, pekerjaan maupun lain sebagainya.

Ada pula tingkatan puasa dengan maksud berharap masuk surga. Meski lebih baik, namun dirinya menilai akan lebih baik lagi jika ibadah tidak didasari dengan timbal baik apapun.

“Tingkatan yang ketiga, biasanya berpuasa lantaran cintanya sama Allah. Biasanya mereka sudah tidak memiliki maksud apapun. Bahkan jika seandainya apa yang mereka cita-citakan tidak tercapai mereka juga tetap iklash menjalaninya. Puasa dijadikan bentuk berserah diri dan semuanya menjadi urusan Allah,” ujarnya.

Menurutnya orang akan menjadi merdeka jika mereka tidak terikat pada cita-cita atau keinginan keduniawian tertentu. Kemerdekaan akan diraih jika mereka berani untuk tidak menjadi apa-apa.

Ironisnya yang terjadi saat ini seringkali justru terjadi kebalikannya. Banyak orang yang justru sakit hati jika apa yang dicita-citakannya tidak terwujud. Mereka seolah ingin menggantikan posisi Tuhan yakni apa yang diinginkannya harus terwujud.

“Seringkali konflik atau ketidak rukunan terjadi karena ada orang yang memaksakan sesuatu atau orang lain tidak bersikap seperti apa yang dia mau. Memaksakan keinginan sudah pasti bukan cerminan puasa,” imbuhnya.

Selain pembicara diatas, hadir juga? KH. Budi Harjono,? Manu Albertine, perempuan asal Perancis yang sedang magang dalam program manajeman NGO di Indonesia; KH. Anis Maftuhin dari Salatiga; Hasan Aoni Azis, pengelola Rumah Dongeng Marwah-Kudus; Gus Afif, aktivis lingkungan dan juga Kepala Desa Susukan.

Diskusi yang digelar hingga pukul 02.30 Wib tersebut, bertambah atraktif setelah diselingi dengan peluncuran album Cinta Berdebu dari Komunitas Marwah, juga pagelaran musik Galbu Musik Orkestra yang menyuguhkan musik beraroma khas Timur Tengah, ditambah kehadiran puluhan penari sufi. Setidaknya 500 penonton yang hadir terlihat begitu menikmati, meski hujan turun sejak sore hari. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Kajian, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 26 Januari 2018

Gus Mus: Aneh! Ada yang Berpendapat, Sesat Disikat

Sleman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Kehadiran KH Mustofa Bisri sebagai muballigh dalam acara Tabligh Akbar dan Istighotsah, Ahad (1/12), berhasil menyedot sebanyak 800 mahasiswa dan warga setempat untuk memadati gedung Multy Purpose UIN Sunan Kalijaga. 

Pada acara yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa fakultas Dakwah kali ini, Gus Mus, begitu dia akrab disapa, banyak menyinggung tentang arti dakwah, objek dakwah, ruh dakwah serta hubungan antara dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar dengan kasih sayang. 

Gus Mus: Aneh! Ada yang Berpendapat, Sesat Disikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Aneh! Ada yang Berpendapat, Sesat Disikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Aneh! Ada yang Berpendapat, Sesat Disikat

Dalam acara yang mengusung tema “Dakwah Ku Gapai Indonesiaku Damai” ini, Gus Mus mendefinisikan dakwah sebagai sebuah ajakan. “Dakwah itu mengajak. Ada unsur merayu, ada unsur mbujuk,” paparnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Gus Mus, ayat tentang dakwah yang berbunyi “Ajaklah ke jalan Tuhanmu” dan sekilas tampak tak ber-maf’ul bih (objek, red.), sejatinya memiliki objek yang sangat jelas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kalau diperhatikan, memang ini tidak ada maf’ul bih-nya. Tapi sebenarnya ini sudah jelas. Orang yang diajak adalah orang yang belum ‘di jalan Tuhanmu’,” ungkapnya seraya menyayangkan realita banyaknya orang yang menganggap bahwa orang yang sesat harus disikat.

“Anehnya sekarang ini, ada orang yang berpendapat yang sesat disikat. Lalu sasaran dakwah ini siapa? Atau, ayat ini dikemanakan? Di-busek (hapus, red.)? Atau (mereka) tidak mudeng (paham, red.) al-Qur’an?!” sesalnya.

Gus Mus juga menjelaskan bahwa yang melakukan dakwah pertama kali adalah Rasulullah. Sebab Rasullah yang pertama kali melaksanakan perintah-perintah Allah. “Jadi kanjeng Rasul tidak kesulitan mencari contoh. Beliau langsung bisa mencontohkan dirinya sendiri. (seperti dalam hadits) shallu kamaa raaitumuuni ushallii,” ungkapnya.

Terkait dengan perbedaan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar, Gus Mus menjelaskan bahwa dakwah diperuntukkan bagi mereka yang belum ‘di jalan Tuhanmu’. Sedangkan amar ma’ruf nahi munkar dilakukan kepada mereka yang sudah menempuh ‘jalan Tuhanmu’.  

Korelasi antara dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar dengan kasih sayang juga tak luput dari sorotan Gus Mus. Begitu juga dengan realitas yang menunjukkan adanya krisis ruhud dakwah. 

Sebagai penutup, kyai yang juga seorang penyair ini diminta oleh audiens untuk membacakan bait-bait puisinya. Selama kurang lebih lima menit puisi dibacakan, suasana terasa hening dan syahdu. 

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Nur Hasanatul Hafshaniyah 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Kalangan pesantren tidak henti-hentinya mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Pada era penjajahan Belanda selama ratusan tahun, para kiai beserta santrinya mampu mempertahankan martabat pribumi melalui perlawanan simbolik maupun substantif.

Bahkan segala cara dilakukan oleh Belanda untuk dapat menundukkan para kiai pesantren. Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang amtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa Bintang Jasa yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu.

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Pondok pesantren dengan komitmen cinta tanah airnya yang membuncah membuat Belanda tak berkutik. Begitu pun ketika bangsa Indonesia mulai dijajah oleh Jepang (Nippon) pada tahun 1942. Rakyat pribumi tak sedikit yang harus mengikuti peraturan Jepang karena konsekuensi pedih akan didapat jika melawan.

Namun tidak demikian dengan kalangan pesantren. Tidak ada sedikit pun rasa gentar dari para kiai dan santri ketika harus menghadapi fitnah dan propaganda Jepang untuk menundukkan pesantren. Termasuk yang menjadi target utama Jepang, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Mereka menuduh Kiai Hasyim sebagai dalang pemberontakan rakyat kepada Jepang di desa Cukir, sekitar Jombang, Jawa Timur. Padahal Kiai Hasyim tidak tahu menahu.

Bukan hanya Kiai Hasyim, tragedi pada tahun 1943 tersebut sejumlah kiai yang mengkomandoi Jam’iyah Nahdlatul Ulama juga ditangkap yaitu KH Mahfudz Shiddiq. Hal ini memantik perlawanan ribuan santri kepada Jepang untuk membebaskan Sang Kiai. Sedangkan KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Abdul Wahid Hasyim berupaya keras melakukan diplomasi dengan tujuan yang sama.

Meskipun Kiai Hasyim pada akhirnya bebas, namun tahun pertama dalam masa pendudukan tentara Nippon, Maret 1942-Maret 1943 ditandai oleh tumbuhnya kebencian rakyat kepada tingkah serdadu-serdadu Nippon dan rasa muak terhadap propaganda Nippon. KH Saifuddin Zuhri (Berangkat dari Pesantren, 2013) mengungkap sejumlah penyebab kebencian dan rasa muak rakyat Indonesia kepada Jepang sebagai berikut:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pertama, terbukanya kebohongan propaganda Tokyo bahwa Nippon berkehendak memperbaiki nasib rakyat Indonesia yang sebangsa dan seketurunan dengan bangsa Nippon.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, mendirikan ketenteramana yang teguh atas dasar mempertahankan Asia Raya, tak lain dan tak bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahan sekaligus sebagai daerah garis belakang (home front) sumber tenaga manusia dan bahan mentah serta gudang logistik bagi tentara Nippon di medan perang Pasifik dan Asia Tenggara.

Ketiga, kebencian rakyat adalah spontanitas akibat keserakahan Nippon merampas bahan makanan dan harta benda rakyat. Suatu slogan berbunyi: “padi untuk saya, untuk kami, dan untuk kita sekalian” membuka kedok keserakahan mereka.?

Nippon harus mendapat makan tiga kali. Pertama kali sebagai saya (Nippon), kedua sebagai kami (Nippon ikut mendapat bagian kedua), ketiga sebagai kita (Nippon ikut mendapat bagian yang ketiga). Sedangkan untuk engkau dan kamu (rakyat Indonesia) tidak dipikirkan.

Keempat, kerja paksa berupa romusha. Kendati dirayu dengan sebutan “prajurit ekonomi” pada hakikatnya adalah kuli paksa. Hal ini tak ubahnya pekerjaan rodi di zaman Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Willem Daendels pada 1762-1818, yang memaksa rakyat di Jawa membuat jalan raya sepanjang Anyer-Banyuwangi dengan pengawasan tangan besi, bahkan romusha lebih kejam lagi dibanding rodi.

Daendels hanya mengerahkan rakyat untuk proyek di Tanah Jawa. Tapi romusha adalah kuli-kuli paksa yang diperintahkan dengan tangan besi untuk mengerjakan proyek-proyek peperangan bukan hanya di Jawa dan di Indonesia, tetapi juga di Burma (Myanmar), Indochina, Malaya, Kepulauan Pasifik, dan tempat-tempat lain yang dirahasiakan.?

Tragedi ini memisahkan mereka dengan keluarga. Bahkan tidak sedikit yang tidak diketahui nasibnya. Hal ini membuat rakyat Indonesia yang menjadi romusha juga banyak yang menetap di Thailand dan Burma serta menjadi warga negara tetap di sana.

Kelima, tenaga kerja perempuan yang dijanjikan Nippon untuk tugas palang merah, kenyataanya banyak yang dijadikan alat pemuas nafsu serdau-serdadu Nippon di medan perang.

Terakhir keenam yaitu perkosaan lebih dahsyat lagi adalah dari segi akidah, keyakinan Islam. Karena saat itu rakyat Indonesia tanpa kecuali diwajibkan setiap pagi menghadap ke arah istana Kaisar Jepang di Tokyo untuk melakukan upacara saikeirei, menyembah kaisar Jepang yang disebut Tenno Heika. Menurut kepercayaan Jepang, Tenno Heika adalah keturunan dari Dewa Matahari, Amaterasu O. Mikami yang mahakuasa.

Saikeirei dilakukan dengan cara membungkukan badan 90 derajat, persis seperti rukuk di dalam sholat. Sedangkan membungkuk dengan tujuan menyembah tersebut di dalam Islam hukumnya kufur dan haram sehingga wajib ditentang. Hal ini juga terjadi ketika Kiai Hasyim Asy’ari meringkuk di penjara Jepang selama lima bulan. Setiap pagi seluruh tahanan harus melakukan saikeirei, namun Kiai Hasyim dengan tegas menolak. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 24 Januari 2018

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pamekasan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. NU adalah organisasi yang paling jelas proses kaderisasinya. Tidak hanya berhenti di kalangan mahasiswa dan atau pelajar di lingkungan lembaga pendidikan, melainkan juga hingga ke daerah-daerah terpencil di pelosok desa. Ada istilah Pimpinan Ranting (PR) untuk kepengurusan NU dan perangkat-perangkatnya di tingkat akar rumput.

Kesimpulan demikian terbesit ketika sebanyak 30 orang PR IPNU-IPPNU Desa Pamaroh sudah dibentuk, Ahad (8/4) lalau. Pembentukan yang ditempatkan di balai desa tersebut berjalan secara khidmat, disaksikan oleh puluhan petinggi NU Desa Pamaroh. Para pengurus harian IPNU-IPPNU Kadur sebagai penyelenggara dan ketua PC IPNU Pamekasan Nasiruddin menambah suasana pembentukan kian mengesankan.

Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pada kesempatan itu, ketua IPNU Kadur Faisol Ansori menekankan betapa pentingnya menyeriusi proses kaderisasi. Dirinya sangat menaifkan ketika ada seseorang langsung dimasukkan ke dalam kepengurusan organisasi NU tanpa melalui proses kaderisasi yang matang dan panjang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami ke sini dalam rangka silaturahim serta membentuk kader-kader yang mau serius mengabdi dan belajar di NU,” tegas Faisol. “Dan siapa pun yang tidak serius dalam belajar, dengan berat hati kami sangat tidak mereka kader semacam itu. Berorgansiasi di NU butuh keseriusan dan keuletan dalam belajar.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berumah tangga saja, lanjut Faisol, masih memerlukan kader. Kehidupan rumah tangga tentu dinilai kurang sempurna tanpa kehadiran seorang kader (keturunan) yang nantinya menjadi penerus perjuangan sang orangtua.

“Sama halnya di NU. Kalau proses kaderisasi di tubuh IPNU maupun IPPNU sudah melemah, maka tunggulah kehancuran NU beberapa tahun ke depan,” katanya dengan nada kalem. “Dan jelas kita tidak menginginkan hal itu.”

Dari itulah pihaknya sangat berharap agar para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh bisa diajak kerja sama menghidupkan organisasi NU di tingkat desa, khususnya di Desa Pamaroh.

Pernyataan Faisol Ansori yang disampaikan saat sambutan tersebut mendapat dukungan seutuhnya dari para petinggi NU Pamaroh dan kepala desa Pamaroh. 

“Kami siap mendampingi, membina, dan membantu segala program kerja yang hendak dilaksanakan nanti,” ujar ketua PR NU Pamaroh K Abdus Syukur.

“Saya juga begitu. Saya akan selalu dukung segala kegiatan yang bernafas ke-NU-an,” kata A’wan PR NU Pamaroh yang kini menjabat kepala desa, Ustaz Moh Riski Abdullah.

Semangat berorganisasi tersebut disimak secara serius oleh para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh yang merupakan perwakilan dari 4 dusun yang ada di Pamaroh, meliputi Dusun Oray, Madis, Panconan, dan Sumber Waru. Sebelum azan Magrib menggema, pembentukan PR IPNU-IPPNU Pamaroh sudah selesai.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa, Sejarah, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 21 Januari 2018

Doa ketika Mengalami Kram atau Kesemutan

Suatu kali seorang kaki pria di sebelah Ibnu Abbas mengalami kebas (kejang otot, kram, kesemutan). Ibnu Abbas berkata

? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ?

Doa ketika Mengalami Kram atau Kesemutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa ketika Mengalami Kram atau Kesemutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa ketika Mengalami Kram atau Kesemutan

“Sebutkan nama manusia yang paling mencintaimu! Pria itu lantas mengucapkan ‘Muhammad shallallâhu ‘alaihi wasallam (semoga Allah melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepada beliau)’. Penyakit itu pun lantas hilang.” (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jadi, salah satu ikhtiar mengatasi kebas selain gerakan-gerakan fisik tertentu adalah dengan membaca shalawat. Redaksinya bisa beragam, seperti allâhumma shalli wa sallim ‘alâ sayyidinâ Muhammad, atau shallallâhu ‘ala sayyidinâ Muhammad, atau yang lebih panjang dari ini. (Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Berita, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Januari 2018

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Dalam rangka meringankan beban derita dan kepiluan etnis Rohingya, Myanmar, Polres  Jember  mengumpulkan dana dari jajaran internal Polres, Selasa (12/9). Acara yang bertitel Aksi Kemanusiaan Peduli Rohingya ini digelar di Mapolres Jember dengan mengundang Pengurus Baznas Jember.

Dana yang  terkumpul dadakan dari  kantong para polisi, termasuk Kapolres Jember Kusworo Wibowo mencapai Rp. 13.294.000. Dana itu langsung diserahkan kepada Ketua Baznas Jember HM Misbahus Salam.

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Internal Polres Jember Galang Dana Peduli Rohingya

Kusworo menegaskan, pihaknya menaruh perhatian besar terhadap nasib dan penderitaan etnis Rophingya. Karena itu, ia mengaku terketuk hatinya untuk sebisa mungkin membantu meringankan beban berat etnis Rohignya.

"Saya ingin menginisiasi gerakan peduli kemanusiaan untuk etnis Rohingya, dan itu harus dimulai dari pribadi-pribadi di institusi yang saya pimpin," tukasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, HM Misbahus Salam  menyampaikan terima kasih dan penghargaan untuk jajaran Polres Jember yang telah mengumpulkan sumbangan untuk entis Rohingya. Sumbangan tersebut, katanya, wajib disampaikan kepada yang berhak, yaitu etnis Rohingya.

"Namun kami masih belum tahu teknisnya, apakah sumbangan  itu lewat Kemensos ataukah Kemenlu, kami masih akan koordinasi dulu," jelasnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Ia berharap agar gerakan peduli kemanusiaan yang digelar Polres Jember benar-benar bisa menginspirasi instansi lain, khususnya Polres yang berbagai daerah untuk melakukan hal yang sama sebagai bentuk dukungan terhadap kelompok minoritas yang tengah dianiaya itu.

"Coba misalnya, setiap Polsek, bahkan Polres lain juga melakukan  gerakan serupa, berapa dana yang bisa disumbangkan untuk Rohingya," urainya. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 10 Januari 2018

10 Hari Terakhir Ramadhan, PWNU Sumsel Berbagi dengan Anak Yatim

Palembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) Sumatera Selatan menggelar “Ramadhan Berbagi” dengan buka puasa bersama anak yatim di kantor PWNU Sumsel, Jalan May Salim Batubara, Palembang, Sumatera Selatan.

Pada kegiatan yang berlangsung Ahad (26/6) tersebut, juga dibagikan bantuan kepada anak yatim piatu dari panti asuhan Baitussalam, Al Ihsan, Airing Agung, dan Nurul Huda. "Kegiatan ini rutin kita gelar setiap tahunnya, dan ini kita lakukan di 10 malam terakhir bulan Ramadhan," kata Ketua PWNU Sumsel KH Amri Siregar.

10 Hari Terakhir Ramadhan, PWNU Sumsel Berbagi dengan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
10 Hari Terakhir Ramadhan, PWNU Sumsel Berbagi dengan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

10 Hari Terakhir Ramadhan, PWNU Sumsel Berbagi dengan Anak Yatim

Dijelaskan, sejumlah kegiatan dilakukan baik oleh pengurus cabang, lembaga, maupun badan otonom NU di Sumsel untuk meneguhkan dan melestarikan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdhiyah.

"Beberapa bulan lalu kita menggelar Pendidikan Kader Penggerak Nahdhatul Ulama (PKPNU) dan Pelatihan imam dan khatib lembaga takmir masjid (LTMNU) bekerja sama dengan Bank Sumsel Babel," paparnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Begitu juga dengan banom, seperti Gerakan Pemuda Ansor Sumsel yang terus melakukan pengaderan dari kabupaten ke kabupaten di Sumsel. Selanjutnya melalui Rabithah Ma’ahid Islamiyah NU (RMINU) Sumsel bakal menggelar Liga Santri Nusantara. "Kegiatan dan kerja sama yang baik ini, sebaiknya terus kita lakukan dan sinergikan untuk kebesaran NU di Sumsel," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir juga dalam kesempatan tersebut, Rais Syuriyah PWNU Sumsel, KH Mudaris SM, KH Mardhi Abdullah, Ketua RMINU Sumsel KH Hendra Zainuddin, ketua LPNU Sumsel yang juga senator Ust H Hendri Zainuddin, guru besar UIN Raden Fatah Prof Dr Abdullah Idi, Ketua Kopertis Wilayah II, Prof Slamet Widodo, dan pengurus serta kader NU lainnya.

"Kegiatan ini bagus dan kita tak lupa berdoa untuk pendidiri NU agara kita mendapatkan barokah. Hadir banyak di sini guru besar, tidak lain juga atas barokah NU," pungkasnya. (Abdul Malik Syafei/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 23 Desember 2017

KUPI Gelar Kongres di Cirebon, Sejumlah Ulama Perempuan Dunia Hadir

Cirebon, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) menyelenggarakan Seminar International Ulama Perempuan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati Cirebon, Jawa Barat, Selasa (25/4).

Acara seminar dan kongres yang bertemakan Amlpifying Woman Ulama’s Voices, Asserting Values of Islam, National Hood, and Humanity ini mengadirkan pembicara dari 7 negara di antaranya Indonesia, Malaysia, Paksitan, Kenya, Afghanistan, Nigeria, Saudi Arabia. Total ulama perempuan yang hadir sebanyak 780 ulama.

KUPI Gelar Kongres di Cirebon, Sejumlah Ulama Perempuan Dunia Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)
KUPI Gelar Kongres di Cirebon, Sejumlah Ulama Perempuan Dunia Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)

KUPI Gelar Kongres di Cirebon, Sejumlah Ulama Perempuan Dunia Hadir

Ketua Steering Committee Badriyah Fayyumi mengatakan bahwa, kongres KUPI  pertama ini merupakan puncak dari perjuangan ulama perempuan.

“Kami menegaskan bahwa ulama perempuan mempunyai kontribusi penting bagi negara dan umat manusia, tapi sering kali apa yang dilakukan itu tidak tercatat dengan baik,” kata Badriyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Rektor Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurajti Cirebon H Sumanta menyambut gembira atas diselenggarakannya Seminar international di kampus yang dipimpinnya ini. 

“Saat ini, diruangan ini, kampus kami akan tercatat sejarah karena menyelenggarakan seminar international ulama perempuan,” kata Sumanta.

Adapun nama-nama yang akan menjadi pembicara pada seminar ini ialah, Kamarudin Amin (Indonesia), Eka Srimulayani (Indonesia), Bushra Qadeem (Pakistan), Hatoon Al-Fassi (Saudi Arabia), Ulfat Hussein Masibo (Kenya), Rafatu Abdul Hamid (Nigeria), Zainah Anwar (Malaysia), Roya Rahmani (Afghanistan), Ruhaini Dzuhayatin (Indonesia).

Acara KUPI sendiri dibuka Selasa (25/4) malam oleh Hj Sinta Nuriyah Wahid di Pondok Pesantren Kebon Jambu Babakan Ciwaringin, Cirebon. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Khofifah Dukung Muslimat NU Garap Pendidikan Akhlak Sejak Dini

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua PP Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa mengajak pengurus Muslimat NU untuk menyelamatkan generasi emas Indonesia. Karena generasi ini, keberlangsungan negara dan bangsa Indonesia ini terjaga. Penyelematan ini tiada lain dengan penguatan akhlakul kharimah dengan melahirkan anak-anak yang saleh dan salehah.

Khofifah Dukung Muslimat NU Garap Pendidikan Akhlak Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Dukung Muslimat NU Garap Pendidikan Akhlak Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Dukung Muslimat NU Garap Pendidikan Akhlak Sejak Dini

Demikian disampaikan Khofifah saat pelantikan pengurus Muslimat NU Brebes di Pendopo Bupati, Ahad (13/9).

Menurutnya, bagi Muslimat NU mengartikan generasi emas tidak harus menunggu waktu tahun 2045 atau 2030.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Bagi Muslimat NU, pemikiran generasi emas ada sejak sekarang dengan ngopeni secara penuh keberadaan generasi sejak dari kandungan,” tuturnya.

Menjadi PR bagi kita, lanjutnya, banyak generasi yang hilang akibat tidak adanya keharmonisan keluarga. Orang tua tidak lagi menjaga keberadaan janin sejak masih dalam kandungan. Menjadi lelaki siaga (siap antar jaga) juga jarang kita lihat, padahal perintah Al-Quran sudah jelas kalau seorang ayah menjadi penentram hati keluarga yang selalu menuntun istri dan anak-anaknya menjadi yang saleh dan salehah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ketika ibu tengah mengandung, seorang ayah haruslah memberikan senyuman terus menerus termasuk mengelus perut istri sembari membaca ayat-ayat Al-Quran,” ucapnya.

Sikap dan perilaku kedua orang tua, akan sangat berpengaruh langsung pada pembentukan akhlak generasi yang akan dilahirkannya.

Meskipun demikian, sebagai perempuan, jangan selalu mencurahkan isi hatinya kepada lelaki lain. Karena bisa menimbulkan benih-benih menjadi Wanita Idaman Lain (WIL). “Perkara keluarga, harus diselesaikan oleh keluarga itu sendiri dengan lebih mengintensifkan harmonisasi, agar stabilitas keluarga terjaga aman,” tegasnya.

Ukuran aman, lanjutnya, bagi TNI dan Polri sangat berbeda dengan aman dalam penilaian Muslimat NU. Barangkali untuk TNI Polri kalau negara ini tidak diganggu, tidak ada pencurian bisa dikatakan aman. “Tetapi bagi Muslimat, keamanan diukur pada sejauh mana kemuliaan akhlak generasi bisa terwujud di masyarakat,” ungkapnya.

Penanaman akhlak kepada generasi sejak dini menjadi garapan Muslimat NU lewat pendidikan TK/TPQ harus lebih dimatangkan lagi. Karena lewat pendidikan dini menjadi sumbangan yang tak terternilai. Di samping itu, NU juga untuk menguatkan pendidikan SD/MI/, SMP/MTs, SMA/MA/SMK unggulan. Dalam artian unggul dalam iptek, imtak dan berakhlakul karimah.

Ketua PCNU Brebes H Athoillah menambahkan, ada peningkatan yang perlu mendapat perhatian khusus untuk menyelamatkan generasi emas. Yakni peningkatan pendidikan baik formal, informal maupun nonformal. Yang tidak kalah penting, adalah peningkatan bidang kesehatan. “Bila dua faktor tersebut mendapat perhatian khusus, tentu generasi emas akan terselamatkan,” pungkasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Mensos memberikan bantuan modal kepada 10 kelompok usaha bersama (KUB) An-Nisa Muslimat NU. Masing-masing KUB mendapatkan suntikan dana Rp 20 juta. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 18 Desember 2017

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba

Bogor, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj secara gamblang menyatakan dukungan terhadap penetapan hukum vonis mati untuk terhadap para bandar dan pengedar narkoba. Menurut Kiai Said, pengedar dan bandar mesti dihukum jauh lebih dibanding sekadar penyalahguna narkoba.

Demikian pernyataan kiai yang lazim disapa Kang Said dalam Tadarus NU yang berbarengan dengan pelantikan PCNU kabupaten Bogor, Selasa (6/1) lalu.

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said Setuju Hukum Mati Bandar dan Pengedar Narkoba

“Pada bandar dan pengedar narkoba harus dihukum mati, karena mereka merusak moral bangsa. Dan itu berarti telah mengancam NKRI. Bagi NU, segala yang mengancam NKRI merupakan hal yang harus diperangi,” tegas Kang Said.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk mereka yang terlanjur pengguna sebagai korban, pemerintah berkewajiban merehabilitasi mereka. 

Dukungan ini juga dinyatakan Kang Said saat bertemu dengan Presiden Jokowi beberapa waktu lalu di Kantor PBNU. (Akhsan Ustadhi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Syariah, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Ketika Ulama California Berkisah tentang Kecintaan Nabi terhadap Tanah Air

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ulama asal California, Amerika Serikat Syekh Abdul Aziz turut hadir dalam perhelatan Konferensi Ulama Internasional bertajuk Bela Negara? yang digelar JATMAN di Pekalongan, Jawa Tengah. Syekh Aziz berkisah tentang Nabi Muhammad SAW yang begitu amat mencintai negerinya. Hal ini dia sampaikan saat sesi diskusi, Kamis (28/7) di Hotel Santika Pekalongan.

"Ada berapa rumah Rasulullah SAW,” tanya Syekh Abdul Aziz kepada hadirin.

Ketika Ulama California Berkisah tentang Kecintaan Nabi terhadap Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Ulama California Berkisah tentang Kecintaan Nabi terhadap Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Ulama California Berkisah tentang Kecintaan Nabi terhadap Tanah Air

Setelah Fathu Makkah, lanjutnya, Rasulullah ditawarkan kembali ke rumah beliau yang dulu di Makkah atau rumah istrinya, Sayyidah Khodijah.?

Apa jawab Rasulullah? "Aku lebih suka kembali ke Madinah, karena dari Madinah awal mula kejayaan dan kemuliaan Islam".

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Beliau saat berhijrah juga berdoa: "Ya Allah, engkau mengetahui betapa aku sangat mencintai Makkah sebagai tanah airku, maka berilah aku tanah air yang lebih aku cintai daripada Makkah."

Rasulullah juga berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya Rasul dan kekasih-Mu Ibrahim as. Pernah memohon kepada-Mu untuk kemuliaan Makkah dan Engkau mengabulkannya, maka aku memohon pada-Mu untuk kemuliaan madinah agar Engkau mengabulkannya."?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari riwayat ini, Syekh Abdul Aziz ingin menekankan bahwa sudah semestinya sebuah bangsa mencintai tanah airnya. Kata bangsa dalam hal ini adalah setiap individu, apapun keyakinan, suku, maupun bahasanya sehingga mampu menumbuhkan kesadaran membela dan memperkuat negaranya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Cerita, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 03 Desember 2017

Santri Arak Panji-Panji NU

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW, ribuan santri Madrasah Diniyah Awaliyah (MDA) se Kecamatan Wanasari Brebes sangat meriah. Mereka bertaaruf mengarak panji-panji Nahdlatul Ulama (NU) sejauh lebih kurang 5 kilo meter.

“Sebagai bentuk pengenalan organisasi NU sejak dini, kita arak panji-panji NU dan Foto-foto PBNU,” ujar Ketua Lembaga Pendidikan Maarif NU MWC Wanasari K Abdul Ghoni di sela Taaruf Semrak Maulud Nabi Muhammad SAW, Haul KH Mashum ke-XI MDA se Kecamatan Wanasari di Desa Dumeling, Kec. Wanasari Brebes, Ahad (28/2).

Santri Arak Panji-Panji NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Arak Panji-Panji NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Arak Panji-Panji NU

Menurut dia, diaraknya panji-panji NU dan Foto PBNU sebagai upaya mengguratkan keteguhan pada paham ahlussunah wal jamaah (aswaja). Dengan pengenalan dini pada tokoh-tokoh Islam yang berkhitmat di NU juga diharapkan para santri madrasah diniyah akan lebih mencintai Nabi Muhammad. “Ulama itu warosatul anbiya wal mursalim, jadi ulama bisa di jadikan jembatan mengenalkan Nabi,” ujar Kiai Ghoni.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Taaruf dilepas Ketua MWC NU Wanasari KH Sobarudin didampingi Ketua PC LP Maarif NU Syamsul Maarif. Sebanyak 4500 santri dari 35 MDA di bawah naungan LP Maarif itu berjalan keliling desa Dumeling, Pesantunan dan Kertabesuki dengan suka cita. Usai pawai, mereka mengikuti 9 mata lomba. Diantaranya Lomba Cerdas Cermat (LCC) Agama, Khitobah, Khot, Praktek Sholat Subuh dengan Qunut, Adzan, Nadhom Tufatul Athfal, Nadom Hidattut Sibyan dan Tartil Quran.

Menurut Ketua Panitia Penyelenggara Ust Hamdan Abdullah, kegiatan ini memperebutkan piala tetap dan uang pembinaan dengan nilai total 10 juta rupiah. Lewat berbagai macam lomba, lanjutnya, para santri diharapkan meningkat kualitasnya. “Dengan sportifitas yang tinggi, nilai kualitas santri akan terpatri juga,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain kegiatan diatas, tambahnya, nanti malam akan digelar pengajian umum. Sebagai pembicara Pengasuh Ponpes Assalafiyah Luwungragi Bulakamba Brebes KH Subekhan Makmun, Ketua PC NU Brebes Drs H Athoillah dan Ketua GP Ansor H Mudrik Khaelani Al Hafidz. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya, Meme Islam, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 14 November 2017

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Habib Muhammad Luthfy bin Hasyim bin Ali bin Yahya, ulama asal Pekalongan, mengimbau umat Islam yang akan menjalani ibadah puasa tahun 1434 H untuk menunggu keputusan pemerintah.

Hal ini perlu disampaikan agar ummat tidak bingung mana yang harus diikuti untuk memulai ibadah puasa yang merupakan bagian dari rukun Islam.

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah

Hal tersebut disampaikan Ahmad Tubagus Surur Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan usai menghadap Habib Luthfy Selasa (2/7) di kediamannya Pekalongan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Habib Luthfy, sebagai ulil amri pemerintah tentu telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan pelayanan terbaiknya kepada ummat, termasuk pengaturan tata cara beribadah puasa yang memang ummat memiliki banyak keterbatasan termasuk keterbatasan untuk dapat melihat awal bulan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PCNU Kota Pekalongan sendiri menurut Surur, juga telah melakukan berbagai persiapan antara lain mengumpulkan tamir masjid dan musholla se Kota Pekalongan yang berlangsung di Gedung Sholawat untuk diberi penjelasan seputar awal puasa.

Sedang kegiatan lain terkait dengan awal Romadlon, Lajnah Falakiyah akan membuka posko awal puasa di Gedung Aswaja Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan hari Senin besok jam 17.00 - 21.00 untuk mempublikasikan hasil rukyatul hilal baik yang dilakukan oleh PCNU Kota Pekalongan, PWNU Jawa Tengah maupun oleh PBNU melalui website PCNU Kota Pekalongan di www.nubatik.net maupun melalui Radio Aswaja 107.8 FM.

Dalam penjelasan di hadapan pengurus tamir masjid dan musholla NU se Kota Pekaloan ngan, Wakil Rais PCNU Kota Pekalongan KH. Abdul Fattah Yasran mengatakan, secara teori posisi bulan tanggal 8 Juli 2013 masih di bawah ufuk dan jika ada beberapa kitab yang menerangkan sudah di atas ufuk namun posisisinya masih di bawah 2 derajat yang secara mata telanjang sulit untuk dapat dilakukan rukyat.

Atas dasar itu, menurut Kiyai Fattah, bulan Syaban dimungkinkan istikmal 30 hari dan puasa ramadlan jatuh pada hari Rabu 10 Juli 2013. Meskipun demikian, pihaknya meminta kepada ummat Islam untuk menunggu PBNU dan Pemerintah untuk kepastian awal ramadlan. 

 

Redaktur       : Syaifullah Amin

Kontributor  : Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 04 November 2017

Engkau Pergi di Bulan Mulia Sesuai dengan Kemulianmu

Guruku di Kesugihan Cilacap, KH Chasbullah Badawi wafat malam ini, sekitar jam 19.00, di RS Griatri Purwokerto. Terbayang bulan Ramadan 1974, ketika aku setiap malam sehabis salat tarawih ngaji kitab Kifayatul Atqiya secara balahan kepada beliau.?

Biasanya, setelah setengah jam beliau membaca kitab, dari 40-an santri hanya tinggal satu dua orang saja yang masih mampu mempertahankan qalam untuk ngesah-sahi. Lainnya sudah tersambar mimpi.

Lalu, beliau akan berhenti dan memanggil seorang santri yang bernama Muhsin.

Engkau Pergi di Bulan Mulia Sesuai dengan Kemulianmu (Sumber Gambar : Nu Online)
Engkau Pergi di Bulan Mulia Sesuai dengan Kemulianmu (Sumber Gambar : Nu Online)

Engkau Pergi di Bulan Mulia Sesuai dengan Kemulianmu

“Sin, Muhsin, ngeneh pacitaneh dibagi!”

Beliau pun lalu masuk bagian dalam rumah dan beristirahat sebentar, sebelum mulai lagi membaca kitab. Kami pun mendapat jatah pacitan.

Di sini pula aku mendapat pengalaman melihat santriwan dan santriwati yang terpisah dinding saling betot lidi yang dipakai santriwan untuk mengitik santriwati di sebelah dinding.?

Betapa waktu lari sangat kencang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rama Kiai, engkau pergi di bulan mulia, sesuai dengan kemulianmu. Semoga Allah menerima semua amal baik Rama Kiai dan memaafkan semua kesalahan Rama. Amin. (Muhammad Machasin, Mustasyar PBNU)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 21 Oktober 2017

Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana

Pontianak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Kalimantan Barat (Kalbar) secara resmi berdiri bersamaan dengan ditandatanganinya “Prasasti Universitas Nahdlatul Ulama” oleh Wakil Presiden RI H Muhammad Jusuf Kalla, Sabtu (31/1), dalam momen peringatan hari lahir ke-89 NU di Jakarta. Prasasti itu menjadi simbol bagi berdirinya 23 perguruan tinggi NU di berbagai daerah di Tanah Air.

"Alhamdulillah, Pak Wapres sudah meresmikan UNU Kalbar. Itu berarti juga tahun ini kita siap menerima mahasiswa perdana. Kita mulai mempersiapkan segala sesuatunya mulai dari sekarang," kata Rektor UNU Kalbar Dr Agung Hartoyo M Pd di kantornya, Senin (2/2).

Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)
Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana (Sumber Gambar : Nu Online)

Buka 4 Fakultas, UNU Kalbar Siap Terima Mahasiswa Perdana

Ia menambahkan, pihaknya tengah mengisi kepengurusan atau personel UNU Kalbar, mulai dari dekan fakultas, ketua program studi, kepala biro, tenaga administrasi, keuangan, perpustakaan, laboratorium, tenaga informasi teknologi, dan sebagainya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

UNU merupakan universitas kelima di Kalbar, selain Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak, Universitas Panca Bhakti (UPB) Pontianak, Universitas Muhammadiyah Pontianak (UMP), dan Universitas Kapuas (Unka) Sintang. "Kita sama-sama memberikan kontribusi untuk kemajuan pendidikan di Kalbar. Untuk itu, mohon dukungan dari seluruh masyarakat agar UNU Kalbar bisa diterima," harap Agung.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Begitu berdiri, UNU Kalbar langsung membuka empat fakultas, antara lain Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Fakultas Pertanian (Faperta), Fakultas Teknik (FT), dan Fakultas Ekonomi (Fekon). "Semuanya umum," ujarnya.

Keempat fakultas itu terdiri dari 10 program studi (prodi). Untuk FKIP terdiri tiga prodi, yakni Prodi Guru Sekolah Dasar (PGSD), Pendidikan Matematika, dan Pendidikan Bahasa Inggris. Kemudian, Faperta terdiri empat prodi, yakni Prodi Agribisnis, Prodi Manajemen Sumber Daya Perairan, Prodi Agro Teknologi, dan Prodi Teknologi Hasil Perikanan.

"Untuk Fakultas Ekonomi hanya satu prodi, yakni Prodi Akuntansi. Sedangkan untuk Fakultas Teknik terdiri dua prodi, yakni Prodi Sistem Informasi dan Prodi Ilmu Lingkungan. Ini untuk tahap awal. Apabila nanti berkembang, bukan tidak mungkin kita menambah prodi, bila perlu fakultas," urai Agung yang dosen FKIP Untan ini.

Kampus sementara UNU Kalbar berada di Gang Jeruk Jalan KH Ahmad Dahlan, di samping kantor PMI Provinsi Kalbar. UNU Kalbar menerapkan sistem perkuliahan modern meski fasilitas kampus masih sederhana.

"Sistem perkuliahan menggunakan aplikasi yang dibuat oleh PBNU. Semua akan terkoneksi, baik materi kuliah, tugas belajar, sampailah pada soal keuangan. Dengan adanya sistem ini, untuk akreditasi menjadi sangat mudah. Tinggal buka aplikasi, semua akan terekam dengan jelas," beber Agung.

Ketua Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Kalbar ini berharap, pembukaan mahasiswa perdana UNU Kalbar mendapat respons positif. Bagi masyarakat yang ingin memasukkan anaknya kuliah di UNU, tunggu pengumuman resminya. "Nanti akan kita publikasikan secara luas ke masyarakat soal pendaftaran mahasiswa baru. Termasuklah segala persyaratannya," ujarnya. (Rosadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 10 Oktober 2017

Salafi Libya Hancurkan Makam Suci Tokoh Sufi

Zlitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kelompok konservatif meledakkan satu makam tokoh Sufi Abad Ke-15 dan membakar satu perpustakaan di Kota Zlitan, Libya, kata seorang pejabat militer, Sabtu (25/8).

Serangan paling akhir terhadap berbagai tempat yang dicap sebagai musyrik di wilayah tersebut oleh sebagian kelompok.

Salafi Libya Hancurkan Makam Suci Tokoh Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)
Salafi Libya Hancurkan Makam Suci Tokoh Sufi (Sumber Gambar : Nu Online)

Salafi Libya Hancurkan Makam Suci Tokoh Sufi

Para penyerang, Jumat (24/8), menggunakan bom dan buldozer untuk menghancurkan kompleks yang dipandang suci yang meliputi makam Abdel Salam al-Asmar dan memusnahkan ribuan buku di Perpustakaan Masjid Asmari, kata beberapa saksi mata dan pejabat Dewan Militer Zlitan Omar Ali.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kubu fanatik, banyak di antara mereka jadi berani karena aksi perlawanan Arab Spring, telah mengincar sejumlah tempat milik masyarakat Sufi di Libya, Mesir dan Mali dalam satu tahun belakangan.

Serangan tersebut juga telah mengingatkan orang mengenai peledakan pada 2001 oleh Taliban terhadap patung Buddha di Bamiyan, Afghanistan tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Serangan Jumat terjadi setelah dua hari bentrokan antara faksi suku di Zlitan, yang menewaskan dua orang dan melukai 18 orang lagi, demikian perhitungan Dewan Militer.

"Kaum Salafi memanfaatkan kenyataan bahwa pejabat keamanan sedang sibuk meredakan bentrokan dan mereka menghancurkan tempat suci," kata Ali kepada Reuters, Ahad pagi. Ia merujuk kepada kelompok konservatif yang memandang banyak tempat suci kaum Sufi sebagai musyrik.

Redaktur : Mukafi Niam

Sumber   : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah