Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R Donovam berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (2/2) sore. Ia diterima langsung Ketum PBNU KH Said Aql Siroj di ruanganya.

“Saya tahu kemarin Nahdlatul Ulama memperingati hari lahir. Karena itu saya mengucapkan selamat hari lahir yang ke-91,” kata dubes yang mengaku baru tinggal di Indonesia selama sekitar dua bulan ini membuka pembicaraan.

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91

Joseph baru saja menggantikan dubes Amerika sebelumnya, Robert Orris Blake Junior yang telah mengakhiri masa tugasnya di Indonesia. Sebelumnya, Joseph menjabat sebagai Direktur Institut AS di Taiwan yang telah berdiri sejak 2014.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam pertemuan tersebut, ia mengatakan sangat terkesan dengan umat Islam di Indonesia ketika pertama kali mulai menyapa masyarakat di sini. Joseph bercerita, sebelumnya dirinya disambut dengan ramah saat mengunjungi sebuah pesantren di Jawa Tengah Januari lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Joseph mengajak NU untuk menjalin kemitraan dengan pihaknya khususnya di bidang toleransi dan pendidikan. “Ada tujuh ribu pelajar asal Indonesia yang kini sedang belajar di Amerika Serikat. Ini naik tujuh persen. Saya berharap jumlah tersebut terus meningkat,” tuturnya.

Kiai Said menyambut baik tawaran itu dan menyarankan agar banyak warga pesantren yang bisa belajar ke negara berjuluk “Negeri Paman Sam” ini. Sebelumnya ia menyampaikan kritik terhadap presiden baru Amerika Donald Trump yang terkesan menggeneralisisasi Islam dengan label negatif.

Kiai asal Cirebon ini lantas mengenalkan Islam Nusantara yang secara garis besar meyakini bahwa budaya dan agama memiliki hubungan sinergis. “Budaya menjadi infrastruktur agama. Dengan tradisi lokal, Islam di Indonesia menjadi kuat dan tak tercerabut dari masyarakat,” jelasnya.

Joseph yang datang bersama rombongan juga disambut hangat oleh Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketu PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Robikin Emhas, dan sejumlah pengurus lain. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Kedatangan Ethan Zohn, mantan bintang sepak bola Timnas Amerika, disambut hangat dan meriah oleh para santri di Pondok Pesantren Darul Muttaqin. Ethan yang sudah tiga kali menjadi survivor kanker ini memang aktif di dunia pendidikan dan anak-anak selepas dari karirnya di bola.

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Co-founder Grassroots Soccer ini menyengajakan diri mengunjungi pesantren atas fasilitasi Kedubes Amerika setelah mendengar gaung Liga Santri Nusantara (LSN). Melalui yayasannya, Ethan Zohn mengkampanyekan pendidikan kepada anak-anak yang kurang beruntung. Kali ini kunjungannya ke pesantren juga dilatarbelakangi oleh informasi bahwa para santri hidup dalam kesederhanaan bahkan tidak sedikit yang kekurangan.

Bertempat di lapangan sepak bola Pondok Pesantren Darul Muttaqin di Jalan Raya Cadas-Kukun, Kampung Ilat, Desa Pangadegan, Pasar Kemis Tangerang, Ethan memberikan coaching clinic kepada dua kesebelasan dari Ponpes Darul Muttaqin Tangerang dan Ponpes Ar Roisiyah Tangerang Selatan. 

Didampingi asistennya, Bryan, mantan kapten kesebelasan Maccabee Amerika Serikat tersebut memberikan pelatihan teknik dasar bermain kepada dua tim kesebelasan yang pernah bertemu di final Liga Santri Nusantara (LSN) Region Banten tersebut. Kedua kesebelasan tersebut masing-masing adalah juara dan runner-up Liga Santri Region Banten tahun ini.

Kehadiran Ethan membuat atlet muda dari dua kesebelasan tersebut tampak antusias dan berlatih penuh semangat. Tanpa malu-malu, para santri belia tersebut berinteraksi dengan Ethan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak hanya memberikan materi teknik sepak bola, Ethan juga memberikan motivasi kepada para santri. Ethan mengisahkan lika-liku kehidupannya hingga akhirnya bisa merumput di dunia sepak bola Amerika Serikat sebagai pemain professional bahkan bintang. Ia juga menceritakan pengalamannya bertahan dari serangan kanker dan bersyukur bisa selamat hingga kini.

"Sepak bola itu kadang penuh misteri. Kadang Anda tidak tahu akan seperti apa Anda ke depannya. Tetapi bermimpilah dan wujudkan mimpi itu. Awal karir saya di sepak bola adalah kiper cadangan. Ini membuat saya merasa tak berkecil hati karena tidak selalu dimainkan. Hingga suatu ketika saya mendapatkan titik balik dan tumbuh seperti ini," kata Ethan memotivasi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut Ethan menambahkan pentingnya kedisiplinan dalam membentuk karakter pesepak bola yang kuat. "Sepak bola itu bukan sekedar olahraga, tapi juga melatih kemampuan kepemimpinan, persahabatan, disiplin dan tanggung jawab. Sepak bola adalah kerjasama dan adaptasi, kita harus membuang egoisme dan rasa ingin tampil mencolok," imbuhnya. 

"Berlatih sepak bola tidak harus menjadi pemain profesional, namun justru melalui sepak bola anak muda terlatih mentalnya, sehingga kelak profesi apapun yang dijalani, mereka menjadi orang-orang terbaik," tambah Ethan seraya memotivasi santri. 

Coaching clinic lalu dilanjutkan dengan pertandingan ekhibisi. Dalam pertandingan ini para pemain Liga Santri Nusantara tersebut tampak bersemangat setelah mendapatkan suntikan motivasi dari Ethan Zohn yang merupakan kiper dan sekaligus kapten tersebut. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Sholawat, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 28 Februari 2018

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyak kalangan yang menilai, panggilan habib dan kiai seharusnya layak disandang Prof HM. Quraish Shihab. Secara silsilah dan keilmuan, tidak ada yang meragukan Penulis Tafsir Al-Misbah ini. Namun secara pribadi, Mufassir yang dikenal luas ini tidak mau dipanggil habib dan kiai. Kenapa?

Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab terbitan Lentera Hati yang ditulis oleh Mauluddin Anwar dan kawan-kawan, dijelaskan soal urusan habib dan kiai tersebut. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) ini hanya mau dipanggil habib oleh cucunya saja, karena lebih cocok berdasarkan artinya.?

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Di kalangan Arab-Indonesia, habib menjadi gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad SAW (Bani Hasyim). Khususnya dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Sayyidatina Fatimah Az-Zahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Panggilan habib juga penanda Arab-Indonesia yang memiliki Moyang yang berasal dari Negeri Yaman, khususnya Hadhramaut. Kakek Prof Quraish Shihab, Habib Ali bin Abdurrahman Shihab berasal dari Hadhramaut.

Dalam Bahasa Arab, habib berakar dari kata cinta. Jadi habib berarti “yang mencintai” atau bisa juga “yang dicintai”. Tetapi kemudian maknanya berkembang menjadi suatu istilah, habib adalah orang teladan, orang baik yang berpengetahuan, dan seseorang yang mempunyai hubungan dengan Rasulullah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alasan kedua itulah yang membuat Quraish menolak dipanggil habib. Padahal, sebagai orang yang menghabiskan usia bergelut dengan ilmu pengetahuan, Quraish layak mendapat gelar itu. Quraish adalah profesor doktor bidang Ilmu Tafsir, hafal al-Quran, pernah jadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mantan Menteri Agama. Tapi ia berkukuh tetap menolak. Semata-mata karena, “itu mengandung unsur pujian.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Baginya, gelar habib tidak perlu diberikan kepada sembarang orang. Sebangun dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil habib,” kata Quraish merendah.?

Apalagi, ada ajaran ayahnya, Habib Abdurrahman, agar tidak menonjolkan garis keturunan. Beliau enggan menggunakan gelar “Sayyid”, “Haji”, atau “Kiai”. Bahkan tidak juga gelar akademis.

Ada sajak yang acap didendangkan Habib Abdurrahman dan ditulis dalam buku tersebut:?

Kami, kendati memiliki garis keturunan terhormat

Tidak sekalipun mengandalkan garis keturunan?

Kami membangun sebagaimana leluhur kami membangun

Dan berbuat serupa dengan apa yang mereka perbuat.

Tidak hanya Prof Quraish, keluarga Shihab yang lain, seperti Umar Shihab dan Alwi Shihab pun sependapat. Alwi lebih keras, menyebut ada “inflasi habib”, karena pemakaian yang tidak pada tempatnya. Bahkan sudah sampai pada tahap berkonotasi buruk, seperti didengar Quraish dari sopir taksi, saat ia terjebak macet akibat adanya pengajian yang menutup badan jalan.

Maka mereka pun bersepakat, memakai gelar habib hanya sekadar sebutan untuk kakek. “Karena kakek itu sangat mencintai cucunya, terkadang lebih dari cinta kepada anaknya. Cucu juga kadang-kadang lebih mencintai kakeknya daripada bapaknya,” kata Quraish.?

Pesan lain dari penolakan itu untuk memberikan contoh keteladanan, siapa yang wajar diberi gelar kehormatan.

Tak hanya sapaan habib, Prof Quraish juga emoh dipanggil “kiai”. Lagi-lagi alasan serupa, gelar itu jabatan yang sangat tinggi. Baginya, kiai berkonotasi ulama besar yang tulus. Tapi, diksi ‘besar’ itu bisa mengandung pujian. Sesuatu yang selalu ia hindari. Belum lagi, sebutan kiai juga mengalami inflasi, karena dipakai banyak orang yang berpotensi menurunkan makna sebenarnya.?

Ia mencontohkan seseorang bergelar kiai atau ki, yang sedang dirundung masalah karena penipuan pengobatan alternatif.?

“Jadi udah deh nggak usah repot-repot pangil saya habib atau kiai. Panggil saya ustadz saja,” katanya tergelak. Ia tak menolak, karena ustadz berarti guru, dan ia sejak belia sudah menjadi pengajar, dengan raihan tertinggi menjabat Rektor IAIN. (Detik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Pahlawan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 16 Februari 2018

NU Rambipuji Perkuat Aswaja Lewat Tradisi Pertemuan Jumat Pon

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gerakan radikal tak pernah mati, namun terus menyusup ke tengah-tengah masyarakat untuk mempengaruhi orang per orang. Itulah salah satu yang mendasari  MWCNU Kecamatan Rambipuji, Jember, Jawa Timur  untuk menggelar pertemuan  rutin  sebulan sekali setiap Jumat Pon. Lokasi pertemuan tersebut bergiliran di masing-masing  Ranting NU.

NU Rambipuji Perkuat Aswaja Lewat Tradisi Pertemuan Jumat Pon (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Rambipuji Perkuat Aswaja Lewat Tradisi Pertemuan Jumat Pon (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Rambipuji Perkuat Aswaja Lewat Tradisi Pertemuan Jumat Pon

Menurut Rais Syuriah MWCNU Rambipuji, Kiai Mustaqim Asnawi, pertemuan rutin itu untuk memperkuat organisasi dan jamaah agar tetap solid berpegangan pada Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

"Kalau warga NU tetap kokoh dengan keyakinannya, saya kira propaganda apapun, tak akan mempan. Jadi kita perkuat pemantaban ke dalam, otomatis mencegah gangguan dari luar," jelasnya di Jember, Kamis (4/1).

Selain diisi dengan pengajian kitab-kitab Aswaja yang disampaikan oleh para kiai yang berkompeten, pertemuan Jumat Pon itu juga diisi dengan sosialisasi hasil  bahtsul masail yang sudah dibahas tim LBM NU Jember setiap bulan. Dikatakan Kiai Mustaqim Asnawi, hasil bahtsul masail itu sangat penting diketahui jamaah.

Sebab, itu adalah hasil instan yang  sudah digodok melalui pembahasan yang sangat detail berdasarkan dalil-dalil yang shahih.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Setiap bulan LBM NU membahas dua sampai tiga masalah terkini berdasarkan usulan dari MWC-MWC, eman kalau tidak disosialisasikan," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pertemuan Jumat Pon tesebut  sudah berlangsung beberapa kali. Bulan lalu, Jumat Pon  jatuh pada tanggal 29 Desember 2017,  pertemuan digelar di Masjid Arrouyan, Rambipuji. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 06 Februari 2018

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sepuluh santri dari berbagai pesantren kembali terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri (LKTIS). Para santri tersebut didaulat mempresentasikan hasil risetnya di hadapan para doktor dan guru besar pada seminar hasil pengembangan Karya Ilmiah Santri di Pusdiklat Kemenag, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin-Kamis, 1-3 Desember 2015.

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015

Program tahunan ini diinisiasi Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag. Menurut Tarif, salah seorang peneliti Puslitbang Penda, pengembangan karya tulis ilmiah santri sudah dilaksanakan sejak tahun 2008. "Memang pernah terputus, namun itu tidak mengurangi semangat kami untuk tetap melaksanakan program tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Puslitbang Penda, HM Hamdar Arraiyyah berpesan, khusus kepada para santri agar terus belajar menulis baik dari segi kebenaran isi dan logika kalimatnya. "Sebab, jika ada pernyataan yang salah lalu dipoles sedikit saja kalimat yang salah bisa jadi benar," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terkait rencana Kepala Bidang Litbang Nonformal-Informal Muhamad Murtadho yang akan menerbitkan karya para santri tersebut menjadi buku atau bunga rampai pesantren, Hamdar mengaku sangat senang. "Saya termasuk orang yang gembira jika naskah karya santri ini benar-benar dibukukan," tandasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sepuluh santri peneliti

Berikut ini sepuluh santri berikut karya risetnya yang dipilih oleh para peneliti Puslitbang Penda. Pertama, Muhamad Risqil Azizi (Mahad Aly Sukorejo,  Situbondo, Jawa Timur). Judul risetnya: "Nuansa Toleransi dalam Fiqih Kaum Santri: Kajian atas Pandangan Pesantren tentang Relasi Muslim dan Nonmuslim”. Kedua, Ardi Putra (PP Lingkar Studi Al-Quran Ar-Rahmah Yogyakarta): "Implementasi Pendidikan Karakter Toleransi di PP LSQ Yogyakarta."

Ketiga, Asror Basuki (Mahad Aly Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur): "Penanaman Karakter Moderat di Pesantren: Studi Kasus Pembelajaran Pesantren di Mahad Sukorejo Situbondo". Keempat, Laili Nur Azizah (PP Nawesea Yogyakarta). "Pendidikan Karakter Kemandirian Finansial berlandaskan Prophetic Intelligence: Studi Kewirausahaan di PP Raudlatul Muttaqien Kalasan Sleman”.

Kelima, tiga serangkai terdiri atas Syihabuddin Alwy, Ahmad Mushonnif Alfi, dan M Akrom Adabi (PP Al-Anwar 1 Sarang, Rembang, Jawa Tengah): "Nilai Kepedulian Sosial di Pesantren Al-Anwar 1 Sarang Rembang”. Keenam, Siti Nurul Marifah dan Ahmad Riyadi (PP Al-Muayyad Windan, Sukoharjo, Jawa Tengah): "Pengaruh Urban Farming terhadap Kemandirian dan Kepedulian Lingkungan pada Santri di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan”.

Ketujuh, Sahal Mahfudh (PP Mathaliul Huda Pusat, Kajen, Pati, Jawa Tengah): "Model Pembentukan Karakter Religius (Religious Character Building) Santri Tahfidz al-Quran di Pesantren Mathaliul Huda Pusat Kajen”. Kedelapan, Nur Amanah (PP Al-Hidayah, Cibiru Wetan, Bandung, Jawa Barat): "Implementasi Pendidikan Karakter Kejujuran dan Tanggung Jawab di Pesantren Al-Hidayah Kabupaten Bandung”.

Kesembilan, Feny Nida Fitriyani dan Dede Sukirah (PP Az-Zahra Purwokerto, Jawa Tengah): "Pengembangan Kreativitas Bahasa dan Warna di Pesantren Az-Zahra Karanglesem, Purwokerto, Jawa tengah”. Kesepuluh, Risdianto (PP Mahasiswa An-Najah Purwokerto): "Pengembangan Pesantren Hijau: Upaya Meningkatkan Environment Enterpreneur Santri, Studi Kasus pada PP Mahasiswa An-Najah Purwokerto, Jawa Tengah”. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Foto: Usai presentasi hasil riset di Pusdiklat Kemenag Ciputat, Rabu (2/12), sebagian santri berpose dengan para narasumber dan peneliti.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Kajian Islam, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 26 Januari 2018

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai

Cilacap, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam lintasan sejarah, NU memiliki peran politik yang sangat signifikan. Kenyataan ini dibuktikan dengan kiprah organisasi para kiai ini dalam mempengaruhi kebijakan publik secara nasional maupun internasional. Peran ini justru banyak terjadi ketika NU di luar jalur partai.

Pandangan ini disampaikan Ketua PBNU H Imam Azis dalam sesi diskusi Bahtsul Masail Nasional yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) di Pondok Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (8/5) malam.

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai

Imam menunjukkan fakta perjuangan NU pra-kemerdekaan hingga menjelang NU menjadi partai politik pada 1952. Saat itu para kiai mampu mengintervensi kebijakan kolonial Belanda dan Jepang, hingga terlibat dalam proses-proses menentukan pembentukan dan penyelenggaraan Republik Indonesia bersama jaringan yang dimiliki.

”Jadi, kalau NU ingin berperan secara politik, jalurunya tidak harus melalui partai,” tegasnya. Menurut Imam, NU pasca menjadi partai memang memiliki kantong suara yang cukup menjanjikan, tapi, produktivitasnya menurun hingga akhirnya kembali ke khittah pada 1984.

Di era demokrasi pascareformasi, lanjut Imam, NU berada di dalam ancaman ”pusaran uang” yang sangat kencang. Independensi organisasi sosial-keagamaan ini ditantang untuk konsisten menjadi motor perubahan meski tanpa kendaraan partai. Di jalur non-partai, NU dapat memerankan politik secara lebih luas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Artinya apa? Partai politik itu bukan keniscayaan bagi NU,” tuturnya.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

Merasakan Idul Adha di Nanchang Tiongkok

“Allahu Akbar, Allahu Akba. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu.” Pagi yang dingin di musim gugur kali ini tidak menyurutkan ratusan jamaah yang berpawai dari kawasan Wanda Guangchang yang berjarak sekitar satu kilometer atau selama kurang lebih 40 menit dari Masjid Besar Nanchang.

Ahad (5/10) sejak pukul 07.30 waktu setempat, sambil berpawai, para jamaah mengumandangkan kalimah thoyyibah tersebut memecah heningnya pagi di sepanjang jalan. Tidak seperti kebanyakan takbiran, di sini takbirnya diucapkan hanya dua kali di awal.

Menandai akan dimulainya sholat Idul Adhadi Masjid Besar Nanchang atau Nanchang Qingzhen Da Si di kawasan Honggutan New Distrikkota Nanchang, Provinsi Jiangxi, RRT.

Merasakan Idul Adha di Nanchang Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Merasakan Idul Adha di Nanchang Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Merasakan Idul Adha di Nanchang Tiongkok

Tradisi Pawaidan Takbiran yang unik dan khas yang jarang ditemukan di Tiongkokat aupun di Indonesia yang mayoritas muslim sekalipun.

Seperti yang sudah-sudah, tradisi di masjid Nanchang tiap pagi jelang sholat Idul Adha dan Idul Fitri akan dimulai,terlebih dahulu diawali dengan pawai takbir sambil membawa puluhan bendera dengan tiang dari kayu bamboo setinggi tiga-empat meter.

Bendera yang berbentuk segitiga berwarna hijau dan pinggirnya diberikain semacam lipatan rendah warna putih tersebut di tengahnya bertuliskan kaligrafi kalimat Syahadat dan pinggirnya bertuliskan dua bahasa yakni Arab “Masjid Akbar Nanchang” dan Mandarin “Nanchang Qingzhen Da Si”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sholat Idul Adha menjadi momentum yang sangat ramai di masjid dari pada sholat IdulFitri. Selain kali ini bertepatan di tengah libur hari nasional Tiongkok selama sepekan, adalah momen yang sangat istimewa bagi muslim di sini untuk berkumpul dan berbagi daging kurban bersama keluarga. Tak heran di masjid yang diresmikan pada IdulAdha tahun 2012 lalu ini jamaah yang dating sampai ribuan orang meluber ke halaman dan jalan raya depan masjid.

Imam Musa atau biasa dipanggi lAhong Musa selaku imam besar masjid Nanchang, satu atau setengah jam sebelum sholat dimulai biasanya akan mengawali dengan membaca beberapa surat al Quran dan dilanjutkan ceramah, baru setelah itu Sholat dan khutbah akan dibacakan sekitar sepuluh menit dengan bahasa Arab.

Ada yang berbeda ketika sholat Id, tiap rakaatnya hanya mengucapkantiga kali takbir yakni tiga kali di rakaat pertama sebelum membaca al Fatihah dan tiga kali di rakaat kedua setelah bacaan al Fatihah. Berbeda seperti kebanyakan sholat Id di Indonesia.

Usai sholat dan khutbah berakhir para jamaah berkumpul di halaman belakang masjid menyaksikan secara simbolis pemotongan perdana hewan kurban oleh Imam Musa. Puluhan kambing lainnya yang seharga 2.300 Renminbi ataus ekitar 4,5juta Rupiah perekor tersebut siap disembelih.

Uniknya, kambing-kambing disembelih oleh panitia penyembelih dan tidak dipotong di tempat tetapi langsung dibawa pulang secara utuh oleh pemilik yang berkurban untuk dimasak dan dimakan bersama keluarga dan tamu-tamunya. Jadi panitia hanya bertugas menyembelih, tidak ada pembagian hewan kurban.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di kota Nanchang, dari penuturan Imam Musa, terdapat sekitar 4 ribu muslim yang sebagian besarsuku Hui, mereka sebagian besar adalah perantau dari wilayah mayoritas muslim di Tiongkok Barat Lautyakni provinsi Ningxia, Gansu dan Qinghai yang berjualan makanan halal Lanzhou Lamian atau sejenis mie tarik dan sebagian kecil dari suku Uighur provinsi Xinjiang.

Merayakan Idul Adha di Asrama

Tahun ini bagi penulis adalah tahun keempat atau tahun terakhir di Nanchang University menyaksikan dan merasakan secara langsung Idul Adha di kota Nanchang. Di masjid sini tak ada malam takbiran apalagi suara bedug.Ya, kami anggap wajar karena disini selain Negara komunis, islam adalah minoritas dari penduduknya. Sebagai penggantinya, di asrama kami mendengarkan takbiran dari salahs atu saluran radio streaming di Indonesia dan rekaman takbiran hasil unduhan di internet sebelumnyauntuk merasakan suasana Idul Adha tiba.

Untuk mengobati rasa rindu berlebaran di rumah. Saya dan 28 mahasiswa muslim Indonesia lainnya mengawalinya dengan buka bersama puasa sunnah Arafah, jamaah maghrib dan isya diselingi dengan takbir bersama.

Paginyasebelumberangkatke masjid, dipimpinolehCkhalikDjirimumahasiswaasal Makassar selakuketuapanitia.Jam tujuhpagikami bersama-samaberangkatdenganmenyewatigamobilsejenis van untukpulang-pergi. Sekitar 15 menitperjalanandarikampussampaike masjid.

Usaisholat Id sekitarpukul 10.00 kami kembalikeasramadanmerayakanbersama-samasambillesehandi koridortanggalantai 21 danmengundangmahasiswa Indonesia lainnya yang non muslim.

Kali ini tema utama masakannya adalah adalah menu khas Makassar seperti Ayam Pallucamba, Sambal Goreng Daging, Mie Titi dan sebagainya. Sebagai kepala juru masaknya adalah RatnaErvina, mahasiswi yang pernah mengambil S1 jurusan Tata Boga di Makassar.

Karena tidak ada tradisi pembagian hewan kurban ke masyarakat umum, dengan patungan kami membeli sayur, buah, daging sapi, ayam,? ikan dan lain-lain yang mulai kami masak sejak malam takbir. Sambil makan bareng di selingi dengan candaan ringan kami bercerita tentang tradisi merayakan Idul Adha di kampong halaman masing-masing.

Untuk melepaskan gendengan keluarga di tanah air kami cukup memakai media social seperti Skype, Whats app atau Facebook dan sesekal ilewat telepon karena pulsanya cukup mahal.

Kebersamaan di hari yang penuh berkah ini semoga selalu terjalin dan semoga tahun depan kita semua bias berjumpa dengan Idul Adha lagi, Amin.

Dari Tiongkok kami mengucapkan Selamat Idul Adha 1435 H, Taqobbalallahu minna waminkumTaqobbal ya Karim. MohonMaafLahirdanBatin.

?

Ahmad SyaifuddinZuhri, Mahasiswa Master in International Relations Nanchang University, kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, RRT. Dewan Pembina Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok 2014-2015.

Foto: Mahasiswa Indonesia membawa spanduk ucapan selamat Idul Adha dalam bahasa Mandarin. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 24 Januari 2018

PAC Muslimat NU Arjasa Dapat Penghargaan Disabilitas

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Kepedulian Pengurus Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Arjasa, Jember, Jawa Timur terhadap penyandang disabilitas memantik penghargaan. Penghargaan tersebut diberikan oleh tim yang terdiri dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) dan Sentra Advokasi Perempuan, Difabel dan Anak (SAPDA) yang berpusat di Yogyakarta.

Seremoni penyerahan penghargaan itu telah dilakukan Senin lalu di sebuah rumah makan di Jember, dan diterima oleh Sekretaris PAC Muslimat NU Arjasa, Rohimah.? “Penghargaan tersebut langsung diberikan oleh Direktur SAPDA, Ibu Nurul Sa’adah, dan saya yang menerima selaku wakil PAC Muslimat NU Arjasa,” ucapnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di kediamannya, Kamis (22/12).

PAC Muslimat NU Arjasa Dapat Penghargaan Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)
PAC Muslimat NU Arjasa Dapat Penghargaan Disabilitas (Sumber Gambar : Nu Online)

PAC Muslimat NU Arjasa Dapat Penghargaan Disabilitas

Seperti diketahui, selama ini Rohimah merupakan sosok yang? cukup getol bergiat di dalam pelayanan insan-insan difabel. Salah satu program? yang ia gagas adalah “Menuju Arjasa Ramah Difabel”. Pada saat hampir bersamaan, SAPDA yang bekerja sama dengan Kemenko PMK RI dan The Asia Foundation, memilih Kecamatan Arjasa dan Ambulu sebagai daerah intervensi. Dan Rohimah pun semakin mantap? mengurusi? sekaligus? melayani tetek bengek yang berkaitan dengan penyandang disabilitas. Atas kegiatannya tersebut, Rohimah mendapat perhatian dari pemerintah. “Seiring berjalannya waktu, saya? diangkat menjadi FL (Fasilitator Lapangan) Desa Arjasa,”lanjutnya.

Sebagai PAC Muslimat NU, tentu saja dalam berbagai kegiatan yang terkait dengan penyandang? disabilitas,? ia selalu melibatkan Muslimat NU, termasuk dalam pembuatan? film dokumenter seputar orang yang mempunyai keterbatasn fisik tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebaliknya, dalam agenda rutin PAC Muslimat NU, penyandang disabilitas? selalu dihadirkan,? berbaur dengan masyarakat umum. Selain? itu, dalam rangka menyambut? Hari Disabilitas Internasional (HDI)? 2016,? Muslimat NU Arjasa? juga dilibatkan. Misalnya dalam kegiatan pergelaran seni Pandalungan dan karnaval, yang menampilkan seni musik hadrah dengan melibatkan 150 orang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sedangkan untuk kegiatan intensif penyandang disabilitas, dalam setiap bulan ada forum warga yang melibatkan berbagai elemen masyarakat seperti? tokoh agama, tokoh masyarakat dan aparat pemerintahana Ada juga forum belajar serta kelompok belajar yang juga melibatkan? masyarakat dan penyandang disabilitas,” tutur Rohimah.

Dikatakannya, Pemeritah Kabuapten Jember mempunyai perhatian yang besar terhadap penyadang disabilitas. Apalagi? saat ini Jember sudah memilki Perda Difabel.? Merujuk pada data Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), di Kabupaten Jember? tercatat sedikitnya? ada sekitar 2.500 penyandang disabilitas. ”Mereka butuh perhatian? kita semua,” jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Sholawat, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 23 Januari 2018

HPN Dorong Penguatan Wirausaha

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Nahdlatul Ulama (NU) sebagai organisasi sosial keagamaan dengan jumlah warga (Nahdliyin) terbesar di Indonesia bahkan di dunia sangat memungkinkan untuk maju secara ekonomi.

“Betapa hebatanya potensi NU. Bayangkan saja kalau itu balik lagi dengan ekonomi,” kata Prakoso Budi Susetyo Deputi Pengembangan SDM Kementerian Koperasi dan UKM RI saat mengisi acara Focus Group Discussion (FGD) yang diselenggarakan oleh DPP Himpunan Pengusaha Nahdliyin (HPN) di Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (2/3).

HPN Dorong Penguatan Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)
HPN Dorong Penguatan Wirausaha (Sumber Gambar : Nu Online)

HPN Dorong Penguatan Wirausaha

Dalam memajukan geliat ekonomi, ia menyarankan agar sebelum membentuk koperasi, lebih baik supaya berkonsentrasi dulu di wirausaha.?

“Makanya kenapa saya minta supaya konsentrasi ke wirausaha. Kalau wirausaha sudah mulai berkembang, baru dibentuk koperasi. Jadi koperasi akan kuat,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah dibentuk koperasi, nanti dibekali dengan belajar mengelola usaha, mengelola keuangan, mencari modal, dan pasar.

Pada acara FGD bertema “Penguatan Koperasi dan UMKM dalam Bisnis Ritel di Pedesaan” ini juga menghadirkan Wakil Ketua Umum Apindo Tutum Rahanta sebagai pembicara. (Husni Sahal/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Desember 2017

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014

Khartoum, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Khartoum Sudan hasil Konfercab XII PCINU Sudan yang lalu telah resmi dilantik oleh salah satu Mustasyar PCINU Sudan Dr Syekh Muhammad Al Fatih Ali Hasanain di Wisma NU Sudan.

Para pengurus PCINU Sudan masa kidmat 2013-2014 yang dilantik Jum’at (3/5) kemarin merupakan hasil keputusan rapat tim formatur sebanyak tiga kali pertemuan. Dalam kepengurusan periode ini lebih didominasi oleh “generasi baru” yang dinilai mempunyai komitmen dan loyalitas terhadap PCINU Sudan.

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014

Hadir dalam pelantikan tersebut beberapa tokoh dari organisasi masyarakat dan mahasiswa dari berbagai negara, serta perwakilan dari KBRI Sudan. Diantaranya, Ketua dan Sekretaris PPMI Sudan, Ketua dan Sekretaris Ikatan Keluarga Aceh (KMA), Ketua dan Sekretaris Persatuan Mahasiswa Malaysia dan Thailand.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua panitia, Budi Sutardi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya pelantikan. Sedangkan Rais Syuriah terpilih Auza’i Mahfudz Asirun dalam sambutannya menginstruksikan kepada para pengurus yang terpilih agar menjalankan tugas kepengurusan  dengan sungguh-sungguh dan ikhlas dalam berkhidmah.

Selain itu, Syekh Fatih selaku mustasyar menyampaikan dalam tausiahnya: “Aksi secara berjama’ah itu lebih utama dari pada aksi secara individual sebagaimana sholat berjama’ah lebih utama 27 derajat dari pada sholat sendirian”. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mendorong kepada generasi muda NU untuk meneruskan risalah yang telah dikembangkan oleh organisasi para ulama nusantara ini sebagai warisatul anbiya’, pewaris para nabi. Beliau mengutip hadist Nabi Muhammad SAW: Sampaikanlah (ajaran) dariku walau satu ayat.

Acara ini disampaikan dalam tiga bahasa, bahasa Indonesia, Inggris dan Arab dengan tujuan agar para audien bisa mengikuti seluruh rangkaian acara.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, AlaSantri, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Berdayakan Kader, GP Ansor Krikilan Luncurkan Angkringan

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Dalam rangka mendukung kemandirian organisasi, Pimpinan Ranting GP Ansor Desa Krikilan Kecamatan Sumber Kabupaten Rembang meluncurkan unit usaha angkringan. GP Ansor berkewajiban mendorong anggotanya untuk mandiri secara ekonomi.

Peluncuran ini diumumkan saat pengajian halal bihalal di halaman depan masjid desa setempat, Jumat (29/7) malam.

Berdayakan Kader, GP Ansor Krikilan Luncurkan Angkringan (Sumber Gambar : Nu Online)
Berdayakan Kader, GP Ansor Krikilan Luncurkan Angkringan (Sumber Gambar : Nu Online)

Berdayakan Kader, GP Ansor Krikilan Luncurkan Angkringan

Salah seorang pengurus harian PP GP Ansor Aunallah (Gus Aun) dalam sambutanya menyampaikan bahwa kader NU harus menambah wawasan Aswaja. Selain itu Ansor harus mampu mendorong kemandirian organisasi dan kader.

"Adanya angkringan GP Ansor Sumber. Mudah-mudahan menjadi organisasi yang mandiri guna menghadapi persaingan global di Indonesia,” kata Gus Aun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain kemandirian organisasi, Gus Aun juga mengajak kader GP Ansor untuk terus menambah wawasan ke-Aswajaan dan ke-NUan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Adanya angkringan ini diharapkan dapat mewujudkan kemandirian ke depan dan mampu mencetak kader potensial, serta loyal terhadap organisasi, harap Gus Aun. (Ahmad Asmui/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 20 Desember 2017

PWNU Jateng: Jangan Jadikan Medsos Wasilah Keburukan

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dampak positif dan negatif media sosial (medsos) saat ini memang luar biasa. Karena itulah, Sekretaris PWNU Jawa Tengah Mohamad Arja Imroni mengingatkan warga NU Jepara agar tidak mudah terprovokasi dari fitnah-fitnah yang berasal dari medsos.?

Arja menyampaiakna hal itu pada Musyawarah Kerja Cabang (Muskercab) II PCNU Jepara yang digelar di Pesantren Darul Ulum desa Bandungharjo, kecamatan Donorojo pada Ahad (27/11).?

PWNU Jateng: Jangan Jadikan Medsos Wasilah Keburukan (Sumber Gambar : Nu Online)
PWNU Jateng: Jangan Jadikan Medsos Wasilah Keburukan (Sumber Gambar : Nu Online)

PWNU Jateng: Jangan Jadikan Medsos Wasilah Keburukan

Sejatinya, kata dosen UIN Walisongo Semarang itu media sosial bisa untuk menambah amal kebaikan. “Sekarang medsos malah untuk wasilah amal buruk,” ungkapnya prihatin.?

Arja menyontohkan, seorang karyawan yang tidak sepakat dengan seorang kiai tentang larangan shalat Jum’at di jalan raya lantas berkomentar “bid’ah ndasmu” di twitter. Hal itu merupakan wasilah menambah amal buruk.?

Sehingga mewakili PWNU Jawa Tengah dirinya mengingatkan agar jangan mudah terprovokasi sumber dari media sosial.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kesempatan itu juga ia menceritakan seseorang yang sudah ketakutan dengan sebuah fatwa “tidak ikut demo sama dengan kafir”. Kemudian si fulan yang mendapatkan info dari salah satu medsos menyebarkannya. Dan, pada saat hari H demo, ia turut serta. Ternyata, kiai-kiai yang dikaguminya tidak turut serta dalam demo tersebut.?

Karenanya untuk hal fatwa keagamaan, warga NU harus konsultasi terlebih dahulu kepada syuriah NU.?

Arja menegaskan, fitnah kepada NU memang tidak henti-hentinya. Baik dari kanan dan kiri, kelompok yang ingin merongrong keutuhan NKRI.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karena posisi NU tawasuth (di tengah-tengah) maka cobaan dan goncangannya memang luar biasa dahsyatnya. “Saya membaca sebuah tulisan di majalah Aula baru-baru ini bahwa NU sendirian menjaga NKRI,” imbuhnya.?

Untuk itu, ia meminta kepada ratusan Nahdliyin agar selalu menjaga ukhuwah nahdliyyah. Persaudaraan berjamaah dan berjam’iyyah. “Dan berdoa agar kelompok-kelompok yang berusaha merongrong keutuhan NRKI “dihancurkan” oleh Allah SWT,” doanya.?

Hadir dalam kesempatan itu shahibul bait KH Ubaidillah Nur Umar sekaligus Rais Syuriah PCNU Jepara KH Hayatun Abdullah Hadziq Ketua PCNU Jepara H Ali Irfan Muhtar Ketua Yaptinu Jepara serta Ihwan Sudrajat Plt. Bupati Jepara.?

Kegiatan yang berlangsung sehari yang dihadiri MWCNU, Banom dan Lembaga se-kabupaten Jepara dibagi menjadi 3 komisi. Komisi A bidang organisasi, komisi B bidang program kerja dan komisi C bidang bahsul masail. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 Desember 2017

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Pasaman Barat, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Tiga Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor di Sumatera Barat keluarkan Deklarasi Kebangsaan menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan pada ? Deklarasi Kebangsaan Gerakan Pemuda Ansor yang diikuti Pimpinan Cabang Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Pasaman dan Kabupaten Pasaman Barat, Minggu (16/7/2017) malam usai shalat Isya berjamaah di Masjid Al-Ikhlas Sidodadi Kecamatan Kinali, Kabupaten Pasaman Barat.?

Pernyataan yang dibacakan kader Ansor Padang Pariaman M. Fadly, menyebutkan, menyikapi perkembangan bangsa Indonesia belakangan ini, maka dengan ini Ansor menyatakanm, pertama, Gerakan Pemuda Ansor menolak semua bentuk paham radikal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang sudah tumbuh sejak lama di tengah masyarakat Indonesia.

Kedua, menolak paham dan gerakan ISIS yang nyata-nyata tidak sesuai dengan nilai-nilai kemanusian dan agama Islam. Ketiga, mendukung pernyataan sikap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor tentang pembubaran ormas Hizbur Tahrir Indonesia (HTI) yang dinilai mengancam keutuhan NKRI.?

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Cabang-Cabang Ansor di Sumbar Keluarkan Deklarasi Tolak Paham Radikal

Keempat, mendukung sikap Pemerintah ? Indonesia yang membubarkan organisasi atau kelompok yang nyata-nyata berlawanan dengan ideologi Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI. Kelima, mendukung sikap TNI dan Polri yang tegas mengambilkan tindakan terhadap pihak-pihak yang dapat mengancam keutuhan NKRI.

Naskah pernyataan ditandatangani Ketua PC Padang Pariaman ? Zeki Aliwardana, Ketua PC Pasaman Asrial dan Ketua PC Pasaman Barat Djafrinal Effendi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Zeki Ali Wardana, pernyataan sikap ini disampaikan sebagai bentuk kepedulian Ansor terhadap dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara. “Ansor tidak ingin negara ini dicabik-cabik oleh kelompok yang datang kemudian untuk menghancurkan dengan paham-paham yang bertentangan dengan Pancasila sehingga merongrong keutuhan NKRI. Karena Ansor amat menyadari negara dan bangsa Indonesia didirikan dan dipertahankan oleh para pendahulu dengan pengorbanan pikiran, fisik, tetesan darah para ulama, santri dan komponen bangsa Indonesia lainnya,” kata Zeki, ? yang juga mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Djafrinal Effendi pun menambahkan, melalui deklarasi kebangsaan ini, kami ingin mengingatkan masyarakat untuk berhati-hati terhadap paham-paham yang cenderung radikal dan terindikasi merongrong keutuhan NKRI. Meski dibungkus dengan simbol-simbol Islam, namun targetnya jelas membawa kepentingan pihak luar sehingga ideologi bangsa Indonesia diganti sesuai dengan misinya.

“Setiap kader Ansor sudah dibekali wawasan kenapa harus menjaga empat pilar kebangsaan Indonesia. Yakni ideologi Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1 945. Sejarah panjang dan kondisi yang dimiliki Indonesia, hanya cocok dengan konsep empat pilar tersebut,” kata Djafrinal, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Sumatera Barat ini.?

Menurut Ketua Ansor Pasaman Asrial Arfandi Hasan, generasi muda yang tingkat pengetahuan agamanya (Islam) minim lebih mudah dimasuki paham radikal. Jika bertemu dan diajak oleh orang berpaham radikal, bisa tergoda untuk mengikutinya. “Untuk itu, generasi muda perlu meningkatkan pengetahuan agama Islam-nya yang berpahamkan rahmatan lil’alamin, Islam yang moderat,” kata Asrial, mantan Camat ? Padang Gelugur Kabupaten Pasaman ini. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Asrial, ? deklarasi kebangsaan ini juga meningkatkan silaturrahmi dan konsolidasi Ansor sesama pimpinan dan kader Ansor di tiga cabang. Ke depan pertemuan ini diharapkan dapat ditingkatkan dengan jumlah cabang yang lebih banyak.?

(Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 07 Desember 2017

Ini Keutamaan Zikir Menurut Ibnu Athaillah

Zikir adalah aktivitas seorang hamba dalam menyebut nama Allah. Dalam berzikir, kondisi orang berbeda-beda. Ada orang yang mulutnya berzikir, tetapi hatinya lalai. Ada juga yang menyebut nama Allah dengan hati terjaga. Sebagian orang berzikir dengan hati waspada sebagai disinggung Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ? ? ?)

Ini Keutamaan Zikir Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Keutamaan Zikir Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Keutamaan Zikir Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “Jangan tinggalkan zikir karena kelalaian hatimu yang tidak bersama Allah karena kelalaian tanpa zikir lebih buruk daripada kelalaian dengan zikir. Bisa jadi Allah mengangkatmu dari zikir dengan kelalaian ke zikir dengan hati terjaga, dari zikir dengan hati terjaga ke zikir dengan hati waspada, dari zikir dengan hati waspada ke zikir fana. Allah berfirman, ‘Dan yang demikian itu bagi Allah tidak sulit,’ (Surat Ibrahim ayat 20).”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ibnu Athaillah menganjurkan kita berzikir dengan hati lalai sekalipun. Ini menunjukkan betapa pentingnya zikir. Mengapa demikian? Zikir merupakan jalan utama mereka yang menempuh perjalanan Ilahi. Allah SWT sendiri memerintahkan kita untuk menyebut nama-Nya secara mutlak terus-menerus sebagaimana disinggung Ibnu Ajibah berikut ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ?" ? ? "? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurutku, zikir adalah pilar utama dari jalan yang ditempuh para sufi. Ia adalah amalan paling utama. Allah berfirman, ‘Sebutlah nama-Ku, Aku akan menyebut namamu,’ dan ‘Wahai orang-orang yang beriman, sebutlah nama Allah dengan sebutan yang banyak.’ Maksud dari ‘Sebutan yang banyak’ adalah tidak melupakan Allah di hati selamanya. Ibnu Abbas berkata, ‘Allah menentukan waktu-waktu khusus untuk semua ibadah dan memaafkan hamba-Nya yang menunaikan ibadah itu di luar waktunya kecuali ibadah zikir karena Allah tidak menentukan waktu khusus untuk ibadah ini. Allah berfirman, ‘Sebutlah nama Allah dengan sebutan yang banyak,’ dan ‘Bila kamu sekalian telah menunaikan sembahyang, maka sebutlah nama Allah saat kalian duduk, berdiri, dan berbaring.’ Seorang sahabat Rasul bertanya, ‘Ya rasul, syiar Islam kelewat banyak. Sebutlah satu amalan ringkas untukku di mana aku dapat menyusul ketertinggalan di masa lalu?’ ‘Jagalah lisanmu agar selalu basah menyebut nama Allah,’ jawab Rasul senyum. Rasulullah SAW bersabda, ‘Kalau ada seseorang memiliki banyak dirham di pangkuannya lalu ia membagikannya sampai habis, lalu seorang lagi hanya berzikir menyebut nama Allah, niscaya orang kedua lebih utama di sisi-Nya,’’” (Lihat Ibnu Ajibah, Syarhul Hikam, Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, juz I, halaman 79-80).

Sebagian ulama bahkan menyebut zikir sebagai kunci pembuka penyatuan seorang hamba dan Allah. Melalui zikir, seorang hamba dapat memasuki majelis mulia bersama Allah SWT. Hal ini  disebutkan oleh Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi berikut ini. Menurutnya, tidak ada ketentuan terhadap lafal zikir. Artinya, zikir dengan lafal yang mana saja dapat membuka pintu langit.

? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ? ?" ? "?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, zikir yang diperintahkan ustadznya apakah itu ‘Lâ ilâha illallâh’, ‘Allâh’, atau zikir lainnya sesuai pertimbangan kemaslahatan ustadz adalah kunci pintu ruang utama penyaksian Allah, penyatuan dengan-Nya, pokok dari fondasi kehadiran (wushul) jiwa-jiwa suci di majelis Allah nan suci lagi mulia,” (Lihat Syekh Burhanuddin As-Syadzili Al-Hanafi, Ihkamul Hikam fi Syarhil Hikam, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, 2008 M/1429 H, halaman 51).

Syekh Zarruq memandang pentingnya zikir. Menyebut asma Allah dapat menghidupkan batin seseorang. Tetapi lupa akan Allah dapat berakibat fatal, jatuh di lembah maksiat.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Peringatan: zikir itu menghidupkan hati. Lalai itu mematikan hati. Sementara puncak dari kelalaian itu nanti berakhir pada menganggap baik sesuatu yang sebenarnya adalah tidak baik. Sedangkan awal dari semua itu adalah lupa atas ketidakbaikan hal itu,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyyah, 2010 M/1431 H, halaman 61).

Selalai apapun, zikir tetap harus dilakukan karena zikir dapat mendekatkan kita kepada Allah. Kalaupun baru berzikir dengan hati lalai, minimal lisannya sudah dekat dengan Allah. Sebagai manusia, kita hanya berusaha. Selebihnya kita serahkan kepada Allah SWT.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tidak zikir itu tanda jauh dari Allah baik secara hati maupun lisan. Lain halnya dengan zikir karena meskipun hatimu jauh dari Allah, lisanmu tetap dekat dengan-Nya karena itu kau tetap harus menyebut nama Allah sekalipun hatimu lalai terhadap-Nya saat zikir... (untuk sampai ke sana) seorang murid hanya berkewajiban menjalani sebab (sebagai syariat), sementara kesampaian dan terangkatnya hijab adalah wewenang Allah,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Indonesia, Daru Ihyail Kutubil Arabiyah, tanpa tahun, juz I, halaman 40). Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Sholawat, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

GP Ansor Pakuan Ratu Bagikan Al-Qur’an dan Kitab ke Pesantren

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah ?

Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Pakuan Ratu Kabupaten Way Kanan Provinsi Lampung menyiapkan tiga paket Kitab Kuning dan Al Quran bagi tiga pondok pesantren di daerah tersebut. Sumber dana pembelian kitab itu berasal dari kewirausaan sosial hijamah (bekam) sambil beramal atau diistilahkan halal.

GP Ansor Pakuan Ratu Bagikan Al-Qur’an dan Kitab ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pakuan Ratu Bagikan Al-Qur’an dan Kitab ke Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pakuan Ratu Bagikan Al-Qur’an dan Kitab ke Pesantren

Ketua PAC Ansor Pakuan Ratu, Bakti Gozali di Blambangan Umpu, Jumat (8/4) pagi menjelaskan, kitab tersebut akan disalurkan untuk Pesantren Al-Falakhussadah asuhan Kiai Zainal Maarif, Ponpes Nurudz Dzikri Al-Amin asuhan Kiai Maulana Ismail dan Pesantren Riyadlotul Mubtadiin asuhan Ustadz Ahmad Sholihin.

Paket kitab dimaksud akan diserahkan bertepatan dengan hari lahir Ansor ke 82 tahun atau 24 April 2016 sebagai tambahan media belajar santriwan-santriwati.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Itulah khidmat kami kepada organisasi. Peringatan harlah Ansor sebagaimana arahan pimpinan cabang harus memberi makna dan manfaat. Kami sampaikan terima kasih kepada jajaran Klinik BMC, pimpinan cabang Gerakan Pemuda Ansor yang mendorong kemandirian kader dengan membekali keterampilan dan membuka peluang usaha," ujar Bakti didampingi Kasatkoryon Eko Sugiyanto dan Direktur Klinik BMC (Bulan Media Center) Isma Supandri.

Wabil khusus bagi sahabat Beni Irawan yang berkenan meluangkan waktu untuk melakukan terapi bekam, ujar Bakti melanjutkan, PAC Ansor Pakuan Ratu dan pimpinan cabang tentu menyampaikan penghargaan, penghormatan dan doa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Semoga Allah membalas energi, semangat dan keringat diberikan untuk organisasi melalui kewirausahaan sosial? Hijamah Sambil Beramal," ujar Bakti lagi.

Setelah melatih sejumlah kader PAC Pakuan Ratu, Negeri Agung dan Rebang Tangkas keterampilan hijamah atau bekam, Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan dipimpin Gatot Arifianto menandatangani nota kesepahaman "Halal" dengan Klinik BMC pimpinan dr yusuf J Mustofa pada peringatan hari lahir Nahdlatul Ulama (NU) ke 90 pada Ahad (31/1).

Sebanyak 25 persen dari jasa bekam melalui program "Halal" digunakan untuk bantuan pendidikan atau kemandirian anak yatim piatu.

"Halal merupakan program kewirausaahan sosial Gerakan Pemuda Ansor yang bagus. Karena itu kami memfasilitasi, mendukung dan menaungi penuh dibukanya praktik bekam oleh GP Ansor," ujar pimpinan Klinik BMC dr Yusuf J Mustofa.

Ia mengaku, pertama kali dalam sejarah, sebagai dokter mencoba bekam menjelang peluncuran kewirausahaan sosial tersebut. "Tidak tanggung-tanggung, langsung lima belas titik, hasilnya badan terasa enteng dan segar setelah seharian beraktivitas dan yang terpenting juga sudah mengikuti sunah rasul dalam hal pengobatan," ujar dr Yusuf lagi.

Secara teori medis, ujar dr Yusuf menambahkan, bekam merupakan rangsangan sistem peredaran darah dan saraf yang mirip dengan akupuntur dan sejenisnya yang bersifat positif bagi tubuh. "Ini karena efek bekam bisa merangsang peredaran darah menjadi baik," ujar dr Yusuf menegaskan. (Disisi Saidi Fatah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Berkat Nasi Tabheg, IPNU Jatim-Nurul Jadid Terima Piagam Rekor MURI

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) ke-3 tahun 2017 yang digelar oleh Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Provinsi Jawa Timur bekerja sama dengan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton Kabupaten Probolinggo, Ahad (22/10) membawa berkah tersendiri.

Berkat Nasi Tabheg, IPNU Jatim-Nurul Jadid Terima Piagam Rekor MURI (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkat Nasi Tabheg, IPNU Jatim-Nurul Jadid Terima Piagam Rekor MURI (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkat Nasi Tabheg, IPNU Jatim-Nurul Jadid Terima Piagam Rekor MURI

Pasalnya pada peringatan HSN kali ini, IPNU Jatim dan Pondok Pesantren Nurul Jadid menerima Piagam Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dari Senior Manager MURI Sri Widiyati atas penyelenggara sajian nasi Tabheg terbanyak.

Pada peringatan HSN ke-3 ini, IPNU Jatim dan Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton menggelar makan nasi tabheg (bungkus) bersama Kegiatan ini diikuti sedikitnya 12.297 santri dari pondok pesantren se-Jawa Timur. Secara bersama-sama mereka memakan nasi tabheg sebanyak 1.025 porsi dengan nasi dan lauk seadanya di Lapangan Kampus Terpadu Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan makan nasi tabheg bersama ini dipimpin langsung oleh Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton KH Zuhri Zaini beserta seluruh kepala pesantren. Serta KH. Zainul Mu’in dari Situbondo dan Junaidi Mut’hi dari Bondowoso. Tidak ketinggalan pula Ketua PW IPNU Jawa Timur Haikal Atiq Zamzani.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Suasana keakraban terlihat jelas dari raut muka para santri se-Jawa Timur. Meskipun tidak saling mengenal dan berada di bawah terik matahari, puluhan ribu santri ini sangat antusias dengan acara yang telah mencatat Rekor MURI tersebut.

Zaskia Sholeha, salah satu santri yang mengikuti makan nasi tabheg bersama mengungkapkan bahwa nasi tabheg merupakan ciri khas pondok pesantren dimana hanya ada saat ada kiriman dari orang tua santri. Kini nasi tabheg sudah digantikan dengan nasi kotak.

“Dengan acara ini, kita diajak kembali ke budaya pesantren berupa makan nasi tabheg. Tidak terasa meski terik matahari, karena bisa kumpul dan makan bersama para santri se-Jawa Timur. Inilah yang membuat kita bangga luar biasa, meskipun masih tidak saling kenal,” katanya.

Sementara Kepala Pesantren Nurul Jadid KH. Abdul Hamid Wahid mengatakan kegiatan ini dimaksudkan karena ingin meneguhkan dan mengokohkan kemandirian santri. Dari hal tersebut diharapkan santri bisa mengkontribusikan dirinya untuk kemajuan bangsa. “Dalam sejarah, santri telah memberikan sumbangan tenaga dan kontribusi nyata terhadap bangsa dan negara,” ungkapnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 29 November 2017

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang

Sukabumi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat KH R. Abdul Basith mengatakan, untuk memakmurkan masyarakat, diperlukan tiga gerakan. Gerakan itu adalah berjamaah shalat, berinfaq dan sedekah, zakat, serta perekonomian umat.  

“Jika tiga hal tersebut diterapkan di kabupaten Sukabumi insyaallah akan makmur,” katanya pada Lailatul Ijtima dan silaturahim bulanan ulama dan umaro sekaligus peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Pendopo Kabupaten Sukabumi (20/4).

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang (Sumber Gambar : Nu Online)
Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang (Sumber Gambar : Nu Online)

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin, Cicurug ini, lebih menekankan poin kedua, yaitu zakat, infak dan sedekah. Menurut dia, zakat adalah kewajiban dari Allah sesudah shalat. “Kenapa Allah memerintahkan kepada umat Islam harus mengeluarkan zakat? Karena setiap harta yang kita miliki ini di dalamnya ada hak orang lain yaitu 2,5%.

Ia mengaku sukar sekali zakat ini dipraktkkan karena tidak adanya pelajaran yang diajarkan langsung kepada anak-anak. Hal itu berbeda dengan kewajiban shalat, puasa, bahkan haji yang telah diajarkan mulai Pendidikan Anak Usia Dini atau Taman Kanak-kanak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terkait infak dan sedekah, ia menyebutkan keberhasilan di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug. Di desa dengan jumlah penduduk1522 orang tersebut, tiap hari mengeluarkan uang 500 rupiah. Kemudian dikumpulkan oleh satu panitia dengan pertanggungjawaban yang jelas.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sebelum belanja kebutuhan sehari-harinya diusahakan untuk sedekah dulu karena ini ganjarannya langsung dari Allah SWT. Sedekah berbeda dengan ibadah yang lain yang ada syarat-syarat tertentu dalam melaksanakannya,” lanjutnnya.

Ia menjelaskan, di desanya itu, dengan hanya sedekah 500 rupiah bisa membebaskan raskin untuk masyarakat tak mampu, membayar rekening listrik masjid, mushola, pondok pesantren, majlis talim dan madrasah.

Dari uang 500 itu juga desa tersebut bisa mendirikan klinik gratis, membantu pembiayaan keluarga yang anggotanya meninggal dengan membacakan Al-Qur’an selama seminggu. Serta melakukan lampunisasi setiap gang.

“Seandainya semua ini berjalan di kabupaten Sukabumi maka akan membantu pemerintah,” ungkapnya.

Di Desa Nangerang, kata dia, dengan uang 500 itu dalam satu bulan itu mencapai 27 juta. Setelah 3 tahun terus naik karena sudah terasa manfaatnya oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Apa yang dilakukan di desa Nanggerang bukan untuk menyaingi BPJS, tapi membantu pemerintah dan masyarakat. “Ini sudah terjadi di desa kami, bahkan dalam satu tahun bisa mencapai 300 juta. Ini melebihi dari pajak didapat pemerintah di desa itu. Dan sekarang sudah berkembang di tiga kecamatan yaitu Cicurug, Cibadak dan Cidahu,” pungkasnya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Halaqoh, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 November 2017

Mau Mudah Masuk Unila? Datanglah ke Posko SBMPTN KMNU!

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bagi para pelajar yang berminat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016, Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung telah membuka posko pendaftaran dan informasi untuk mempermudah proses tersebut.

Mau Mudah Masuk Unila? Datanglah ke Posko SBMPTN KMNU! (Sumber Gambar : Nu Online)
Mau Mudah Masuk Unila? Datanglah ke Posko SBMPTN KMNU! (Sumber Gambar : Nu Online)

Mau Mudah Masuk Unila? Datanglah ke Posko SBMPTN KMNU!

Menurut Ketua Umum KMNU Universitas Lampung Ahmad Nur Fuadi, posko tersebut memberikan kesempatan bagi para pendaftaran untuk berkonsultasi tentang pilihan jurusan dan program studi yang diminati. "Kami juga memberikan berbagai tips dan trik lolos tes SBMPTN dengan memberi gratis soal-soal tes saintek (sains-teknologi) dan soshum (sosial-humaniora)," katanya, Ahad (01/5).

Posko yang berlokasi di depan Museum Lampung tersebut juga memberi banyak informasi tentang beasiswa yang dapat diperoleh di Kampus Universitas Lampung. "Kami juga siap memberi layanan jemput berkas bagi sekolah atau madrasah yang secara kolektif mendaftarkan sekolahnya dengan jumlah minimal 20 siswa," tambah mahasiswa Jurusan Fisika Unila ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pemuda berkacamata alumni MAN 1 Pringsewu ini menambahkan bahwa posko yang dibuka sejak 25 April 2016 sampai dengan 20 Mei 2016 itu juga membantu para pelajar untuk proses pendaftaran SBMPTN Bidikmisi dan Non-Bidikmisi. "Tinggal datang dengan membawa foto resmi, kami siap membantu para pelajar meraih cita cita masa depan yang cerah," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di samping untuk membantu para pelajar, langkah KMNU ini menurut Fuad dilakukan sebagai sarana perkenalan sekaligus langkah awal rekrutmen kader KMNU Unila di masa depan. "Diharapkan para pelajar khususnya putra putri dari tokoh dan kader NU dapat bergabung dengan kita untuk mensyiarkan NU di kampus Universitas Lampung," jelasnya.

Untuk lebih detail tentang Posko SBMPTN KMNU Universitas Lampung, para pelajar bisa menghubungi Dira Fauzi (085779986865), Hafid (085769637883) atau Tari (085768126704). "Kami tunggu para pelajar Lampung di posko kami. Sukses kuliah dan sukses berorganisasi," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 26 November 2017

Pelayanan Sosial Dasar Muslimat NU di Pangkep, Kewirausahaan hingga Pelatihan IT

Pangkep, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Pusat Muslimat Nahdlatul Ulama (PP Muslimat NU) terus menggenjot pemberdayaan masyarakat desa dengan menggandeng Kemends PDTT. Program Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar jadi ujung tombak untuk mewujudkan misi pemberdayaan tersebut.

Pelayanan Sosial Dasar Muslimat NU di Pangkep, Kewirausahaan hingga Pelatihan IT (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelayanan Sosial Dasar Muslimat NU di Pangkep, Kewirausahaan hingga Pelatihan IT (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelayanan Sosial Dasar Muslimat NU di Pangkep, Kewirausahaan hingga Pelatihan IT

Ketua II PP Muslimat NU Hj Nurhayati Said Aqil Siroj mengatakan, Muslimat NU mulai menjalin kerja sama dengan Kemendes PDTT sejak tahun 2007. Tim PDT Muslimat NU telah membina 36 desa di seluruh Indonesia dalam meningkatkan kualitas masyarakat khususnya pemberdayaan perempuan desa.

“Tahun 2012 Muslimat NU sudah membina perempuan desa dengan berbagai keterampilan mulai dari menjahit, kecantikan, tata boga sampai dengan bengkel,” jelas istri Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj ini, pekan lalu saat membuka kegiatan Pelayanan Sosial Dasar di Pangkep, Sulawesi Selatan, Jumat-Ahad (25-27/8).

Adapun Program Pembelajaran Pelayanan Sosial Dasar di Biring Ere, Pangkep meliputi kegiatan sebagai berikut:

1. Peningkatan kapasitas kelembagaan melalui pelatihan IT dan keorganisasian, bantuan berupa laptop, dan printer secara simbolik di serahkan oleh Hj Hanik Rofiqoh kepada Hj Andi Yulianan Rahman (Ketua PC MNU Kab Pangkep).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

2. Peningkatan usaha ekonomi produktif melalui pelatihan kewirausahaan berbasis kearifan lokal, pelatihan pengolahan ikan bandeng menjadi abon, nugget, olahan ikan bandeng tanpa duri. bantuan berupa 1 set alat alat masak (kompor, alat press abon, dan lain-lain). Pemberian bantuan diserahkan oleh ibu Hj Laila Hanim kepada Hj Mawahidah Zam Lutfi (Bendahara Umum PC Muslimat NU Kab Pangkep).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

3. Pelatihan Guru PAUD, pemberian bantuan berupa APE (satu set Alat Permainan Eduktif) diserahkan oleh Hj Setiawati kepada Hj Nuraida Zaenal (Wakil Ketua PC Muslimat ? NU).

4. Peningkatan usaha gizi keluarga dan pelatihan kader kesehatan.

5. Prasasti pembangunan bak penampungan air (bak air, pompa air, pipa saluran ? air) diserahkan oleh Bendahara Umum Hj Andi Nurhiyari Jamaro kepada Desa Biring Ere, Alam.

Hadir dalam kegiatan tersebut Direktur PT Semen Tonasa di berikan oleh, Anggota DPR RI HA. Jamarro Dulung, Bupati Pangkep yang di wakili oleh oleh Kades Biring Ere, Alam.?

Dalam kesempatan itu, juga diadakan kegiatan pelantikan 7 PAC Muslimat NU (Bungoro, Balocci, Minasa te’ne, Pangkajenne, Segeri, Mandalle, Ma’arang) yang dilantik oleh ketua PC Muslimat NU Kabupaten Pangkep, Hj Andi Yuliana Rahman dan pelantikan pengurus ranting Desa Biring Ere (Wilayah PAC Bungoro) yang dilantik oleh Ketua PAC Kecamatan Bungoro, Syahruni Imran di Wisma Tonasa Pangkep. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 November 2017

Harlah Ke-61, IPPNU Bondowoso Sowan Para Alumni

Bondowoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bertepatan dengan Harlah Ke-61 IPPNU, Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, bersilaturahim ke rumah para mantan ketua PC IPPNU setempat.

Kunjungan ini dilakukan secara bergiiran dari rumah ke rumah dan sudah berlangsung sembilan kali. Kamis (3/3), para pengurus IPPNU setempat sowan ke kediamaan Ketua IPPNU Bondowoso periode 1969-1972 Hj Mustak Malah di Jalan dr Sutomo Gang tiga RT 20 RW 03 Kelurahan Badean, Kecamatan Kota Bondowoso, Kabupaten Bondowoso.

Harlah Ke-61, IPPNU Bondowoso Sowan Para Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah Ke-61, IPPNU Bondowoso Sowan Para Alumni (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah Ke-61, IPPNU Bondowoso Sowan Para Alumni

Ketua PC IPPNU Bondowoso Robiatul Adawiyah menjelaskan, selain silaturahim, pihaknya juga mengundang para alumni untuk hadir pada peringatan harlah IPNU-IPPNU. Menurut Robiatul, silaturahim kepada alumni merupakan kewajiban pihaknya, di samping mengumpulkan nama mereka dalam database para alumni dari masa ke masa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Mengingat banyak data alumni pengurus IPPNU lebih-lebih mantan ketua IPPNU yang hilang di telan zaman, dan IPPNU butuh pengayoman sekaligus support dari alumni untuk program-program IPPNU ke depan,” terangnya.

Jika organisasi Majelis Alumni IPNU sudah terbentuk, namun tidak demikian dengan Majelis Alumni IPPNU. Karena itu, IPPNU Bondowoso terus berinisiatif memfasilitasi terbentuknya Majelis Alumni IPPNU sebagai wadah penyatuan para alumni dalam berkiprah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Selama ini kami berinisiatif untuk membentuk, setiap kami mengundang hanya 5 orang saja yang hadir,” ungkapnya.

IPPNU Bondowoso rencananya juga akan menggelar doa bersama untuk Ujian Nasional (UN), 24 Maret 2016,? dalam rangkaian memperingati harlah ke-61 IPNU dan harlah ke-62 IPPNU. Kegiatan akan diikuti pelajar tingkat SMP dan SMA se-Bondowoso di Masjid Agung At-Taqwa. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Hadits, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah