Jumat, 30 Juni 2017

NU Perlu Intensifkan Dakwah ke Masyarakat Perkotaan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Nahdlatul Ulama perlu meningkatkan intensitas dakwah yang menyasar kepada masyarakat perkotaan. Hal itu mengingat demografi umat Islam di perkotaan terus meningkat, di samping karakternya yang relative berbeda dari masyarakat perdesaan juga membutuhkan strategi dakwah tertentu.

Demikian di antara poin utama diskusi bertema “Urgensi Dakwah di Masyarakat Perkotaan dan Perkantoran” yang digelar Lembaga Ta’lif wan Nasyr Nahdlatul Ulama (LTNNU) di Jakarta, Kamis (12/10) malam.

NU Perlu Intensifkan Dakwah ke Masyarakat Perkotaan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Perlu Intensifkan Dakwah ke Masyarakat Perkotaan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Perlu Intensifkan Dakwah ke Masyarakat Perkotaan

Hadir sebagai pembicara dalam diskusi yang rencananya digelar bulanan ini KH Maman Imanulhaq (Ketua LDNU), KH Asrorun Niam (Katib Syuriah PBNU), Ustadz Ali Sobirin (Wakil Ketua LTM NU), H Asrori Karni (Redaktur Senior Gatra), H Syamsul Huda (Ketua LAZISNU), dan Hadi Usmayadi (Ketua LTNNU). 

Maman di hadapan forum memaparkan tentang fenomena gairah keagamaan masyarakat perkotaan yang mulai muncul sejak tahun 1980-an. NU sebagai organisasi besar mau tidak mau harus menyesuaikan dalam metode dakwah yang digunakan.

Menurutnya, NU saat ini mestinya tidak hanya berfokus pada masalah substansial, namun juga harus memperhatikan simbol-simbol keagamaan. Hal ini dikarenakan masyarakat perkotaan saat ini lebih berfokus pada penggunaan simbol agama tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jadi, dua hal itu yaitu memperhatikan simbol agama dan tetap menjaga substansi ajaran agama menjadi penting untuk diperhatikan,” ujar pria yang akrab disapa Kang Maman ini.

Sementara itu, Asrorun Niam mencoba untuk melihat permasalahan dakwah NU dari sisi yang lain. Menurutnya, NU mesti tidak lagi mengedepankan cara dakwah yang konfrontatif namun akan lebih baik jika NU melakukan sinergi pendampingan terhadap objek dakwah. Cara ini diyakini efektif dengan satu syarat yaitu dibutuhkan sikap yang istiqomah. Diharapkan dengan metode ini secara perlahan NU akan mewarnai kegiatan-kegiatan di sekitar objek dakwah. 

Diskusi malam hari ini dimanfaatkan oleh Ketua LAZISNU, Syamsul Huda, untuk melakukan introspeksi bersama. Betapa NU sebenarnya telah tertinggal dengan organisasi lain dalam manajemen zakat dan shadaqah, apalagi di kalangan perkotaan dan perkantoran. 

Ia memaparkan banyak fakta tentang hal ini. Namun demikian Syamsul optimis bahwa NU akan bisa menjadi lebih baik terutama dalam hal pengelolaan zakat yang profesional sebagai syarat menjangkau target masyarakat perkotaan dan perkantoran.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan Ali Shobirin sebagai pembicara selanjutnya menjelaskan bahwa solusi dari permasalahan ini sebenarnya sederhana yaitu kembali ke masjid. Ia mengajak hadirin secara umum dan khususnya kepada pengurus NU agar kembali memakmurkan masjid. Selain itu, penulis buku “Teknologi Ruh” ini juga meminta kepada Nahdhiyin untuk lebih berani mengambil peran dalam kegiatan keagamaan.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Asrori Karni, redaksi senior majalah Gatra. Asrori menganalisis perkembangan dakwah perkotaan dari sejak orde baru hingga saat ini. Menurutnya, jika melihat dari perjalanan waktu, NU saat ini mengalami akselerasi yang besar. Terbukti dengan banyaknya nahdhiyin yang berkiprah di berbagai bidang, sehingga dalam konteks dakwah kepada masyarakat perkotaan dan perkantoran ini, optimis akan melakukan akselerasi dari ketertinggalan pada saat ini.

Sebelumnya, Ketua LTNNU yang bertindak sebagai pemantik diskusi sekaligus moderator membuka pemaparannya dengan menjelaskan berbagai data terkait dengan demografi masyarakat perkotaan. 

Cak Usma, panggilan akrab Ketua LTN NU ini, juga menjelaskan tentang betapa pentingnya NU untuk memahami profil masyarakat perkotaan sehingga bisa tepat sasaran dalammenjalankan dakwah di perkotaan. Ia memaparkan tentang analisis SWOT terhadap tujuan dakwah NU ini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Wilayah Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) DKI Jakarta menyatakan prihatin dengan kondisi dan perhatian terhadap guru di DKI Jakarta. Ada beberapa indikator yang dinilai menjadi bukti bahwa guru di ibu kota negara ini masih dipandang sebelah mata.

“Masih ada guru DKI Jakarta yang hanya mendapatkan gaji 300 ribu per bulan, padahal biaya hidup di Jakarta cukup tinggi. Bagaimana mereka bisa menghidupi keluarganya, menjamin kehidupan yang layak untuk anaknya, serta jaminan pendidikan yang berkelanjutan untuk anak turunnya?” kata Ketua PW Pergunu Aris Adi Leksono dalam siaran pers, Rabu (4/5).

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata (Sumber Gambar : Nu Online)
Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata (Sumber Gambar : Nu Online)

Pergunu: Guru di Jakarta Masih Dipandang Sebelah Mata

Ia menambahkan, tahun 2015 kemarin gaji guru honorer terlambat bayar hingga 10 bulan. Bahkan, di tahun 2016 belum ada kepastian honor untuk guru honorer di lingkungan Kementerian Agama. Tunjangan kesejateraan daerah (TKD) juta tak diterima semua guru, terutama guru yang lingkungan Kementerian Agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Padahal guru DKI Jakarta adalah sama mendidik anak Jakarta. Bahkan beban kerja guru Kementerian Agama lebih besar daripada lainnya dalam hal menanamkan akhlak dan moral pada generasi penerus bangsa,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Aris, terbitnya Peraturan Gubernur Provinsi DKI Jakarta Nomor 235 Tahun 2015 tentang Honorarium Guru Non Pagawai Negeri Sipil Dan Tenaga Kependidikan Non Pegawai Sipil semakin menambah kesenjangan perlakuan pemerintah Provinsi DKI Jakarta terhadap guru honorer, terutama bagi guru di sekolah swasta, apalagi bagi guru honorer di lingkungan Kementerian Agama.

Karena itu, Pergunu DKI meminta kepada Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi DKI Jakarta agar dapat memutuskan regulasi yang dapat memperhatikan nasib guru, secara berkeadilan tanpa dikotomi negeri-swasta, Diknas-Kemenag.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta sebagai pemangku kebijakan juga diharapkan bisa menjadi “rumah besar” pelayanan pendidikan di Jakarta yang berkeadilan dengan langkah konkret memberikan TKD untuk semuan Guru dan UMP untuk semua Guru.

“Untuk itu, Pemerintah Pusat, Pemprov DKI Jakarta, Dinas Pendidikan, dan Kementerian Agama perlu menerbitkan peraturan bersama untuk guru sebagai wujud sinergi kebijakan dalam rangka meningkatkan kompetensi dan kesejahteraan guru di DKI Jakarta. Jakarta adalah daerah khusus, dengan APBD yang sangat besar, sangat memungkinkan menebitkan peraturan dengan pendekatan leg spesialis,” papar Aris.

PW Pergunu DKI Jakarta, Selasa (3/5) lalu juga menggelar Seminar Nasional dan Rembug Guru Jakarta, sebagai respon terhadap proses pendidikan yang tidak merata antara pendidikan di bawah naungan Pemerintah Provinsi dan pendidikan di bawah naungan Kementerian Agama.

Tema yang diusung pada seminar yang berlangsung di gedung Sertifikasi Guru Universitas Nasional Jakarta (UNJ) Lantai 9, Jakarta tersebut adalah "Merajut Konsepsi Pendidikan Holistik dan Berkeadilan". (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Drama Kalung Permata Barzanji karya WS Rendra akan dipentaskan sekitar 50 santri dari 9 pondok pesantren di Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam (7/2) pukul 20.00.

Panitia pementasan, Jamaludin Mohammad mengatakan, sebelumnya drama itu dipentaskan juga oleh para santri itu di Pondok Kebon Jambu, Cirebon. Pementasan itu, kata Jamal, ditonton ribuan orang.

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM (Sumber Gambar : Nu Online)
Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM (Sumber Gambar : Nu Online)

Ayo Nonton Pentas Barzanji di TIM

Waktu di Tegal, tambah Jamal, ketika dipentaskan siang pukul 15.00 gedung teater dengan kapasitas 1500-an terisi penuh. “Malamnya, pukul 20.00 dihadiri Ki Entus (Bupati Tegal) dan Wamen Kemendikbud, gedung pementasan juga penuh,” katanya melalui pes rilis kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Jumat (7/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Jamal yang juga pegiat Komunitas Seniman Santri (KSS) Cirebon ini, pementasan yang diadaptasi dari syair-syair puitis Sayid Jafar al-Barzanji disutradarai Ken Zuraida, istri WS Rendra.

Ken Zuraida, selepas pementasan di Kebon Jambu (29/2) kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah mengaku ada kebanggaan tersendiri mementaskan teater di tengah para santri dan dilakukan oleh mereka sendiri.

Ia menambahkan, gagasan pementasan teater Kalung Permata Barzanji bermula dari niatnya merevitalisasi Barzanji sebagai salah satu seni sastra yang berpuluh tahun akrab dengan kehidupan masyarakat Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain dilestarikan, sambung perempuan yang akarab disapa Mbak Ida ini, Barzanji sudah saatnya lebih dinikmati publik luas, bukan hanya kalangan pesantren.

"Selawat, melalui lantunan Barzanji itu bisa mencerahkan langit, juga bumi. Maka, tradisi ini penting untuk dipertahankan dan dikenalkan kepada masyarakat luas," katanya.

Pementasan akan berlansung tangaal 7 dan 8 Februari 2014 tiap 20.00 WIB. HTM: Balkon 50rbu Kursi bawah 100 rbu, VIP 250rbu, CP: Alice 0852 2377 3456. Informasi pemesanan tiket juga bisa melalui: TIM (021) 3193 7325 / 3193 7357 Untung: 9735 9735, Hemma 0857 1935 1935. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 Juni 2017

Hikayat Khittah NU 1926

NU tidak ke mana-mana, tapi ada di mana-mana. Kalimat ini begitu populer hingga sekarang setelah KH Achmad Siddiq menggunakannya untuk mengartikan Khitthah NU. Munculnya kalimat itu sangat erat dengan konteks sejarah yang melingkupinya, terutama pada sekitar tahun 1983-1984. Bagaimana asbabul wurud-nya?

Potongan-potongan sejarah tentang perjalanan NU tersebar di berbagai sumber. Ada yang tersurat dalam buku-buku tentang NU, ada yang terlukis dalam surat kabar, ada yang tertuang dalam cacatan-catatan pribadi, ada pula yang lestari melalui tutur kata orang per orang, dan ada juga yang terkunci dalam memori para pelaku sejarahnya.

Hikayat Khittah NU 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)
Hikayat Khittah NU 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)

Hikayat Khittah NU 1926

Secarik kisah berikut tentu tidak bisa mewakili aspek historis lahirnya Khitthah NU 1926 secara menyeluruh. Namun setidaknya inilah proses peristiwa yang berhasil direkam oleh Aula dari rujukan-rujukan utama tentang Khitthah NU 1926.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khitthah adalah satu kata dari Bahasa Arab yang berarti garis. Dalam NU, kata Khitthah pertama kali diungkapkan oleh KH Achyat Chalimi (Mojokerto) pada tahun 1954, ketika berlangsung Muktamar NU ke-20 di Surabaya. Kiai Achyat saat itu mengusulkan, “NU harus kembali ke Khitthah, agar tidak awut-awutan begini,” katanya. Namun usulan itu tidak disertai dengan konsep yang utuh, sehingga tidak mendapat banyak perhatian.

Kata Khitthah NU kemudian kembali menjadi perhatian nahdliyin pada Muktamar NU ke-26 pada tahun 1979 di Semarang. Dalam muktamar yang dilaksanakan pada 5-11 Juni 1979 itu, Sekjen PBNU waktu itu, KH Moenasir Ali, memesan buku berjudul Khitthah Nahdliyah yang ditulis oleh KH Achmad Siddiq dalam jumlah besar. Buku kecil itu kemudian dibagi-bagikan kepada peserta muktamar tapi tidak menjadi pembahasan muktamar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Proses penulisan buku itu juga memiliki kisah tersendiri. Almaghfurlah KH A Muchith Muzadi, yang berperan dalam penulisan buku itu, pernah menuturkan secuil kisahnya kepad penulis. Menurutnya, sewaktu Kiai Achmad akan berangkat haji pada tahun 1978, banyak kiai dan pengurus NU yang diundang, termasuk Kiai Muchit. Saat itu Kiai Achmad memohon didoakan oleh para kiai sekaligus berceramah tentang NU pada masa lalu. Secara spontan Kiai Achmad dan para kiai meminta Kiai Muchith menulis isi ceramah itu.

Saat Kiai Achmad hendak berangkat dan transit di Surabaya, Kiai Muchith berkata: “Pak Achmad, ini catatan kemarin sudah jadi. Apakah mau ditinggal atau dibawa ke Makkah dan dikoreksi di sana?”. “Endi, tak gowo wae (Mana, aku bawa saja),” kata Kiai Achmad.

Setelah Kiai Achmad pulang ke tanah air, ternyata catatan itu sudah dikoreksi. Kemudian digarap lagi oleh Kiai Muchith, diserahkan, dikoreksi lagi dan begitu seterusnya. Sampai pada tahun 1979, setelah dianggap cukup, catatan itu kemudian diketik oleh Kiai Muchith dan diperbanyak hingga 10 eksemplar.

Draf itu memang rencananya dicetak menjadi buku. Namun sebelum Kiai Muchith mencari percetakan yang bisa diajak kerjasama, ternyata ada pegawai percetakan dari Bangil yang datang membawa cetakan percobaan. Ia mengaku mendapat draf buku itu dari Amak Fadholi yang secara kebetulan diberi salinannya oleh Kiai Muchith.

Akhirnya buku itu dicetak dengan judul Khitthah Nahdliyah. Buku kecil itu juga diberi catatan pengantar oleh Wakil Rais Am waktu itu KH Masjkur dan Ketua Umum (Ketum) PBNU waktu itu KH Idham Chalid. Sejak saat itu, kata Khitthah banyak dibicarakan orang. Dan buku inilah yang menjadi  referensi utama untuk merumuskan Khitthah NU 1926 yang dibahas dan diputuskan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama NU tahun 1983 dan Muktamar NU ke-27 tahun 1984.

Gejolak Organisasi

Khitthah NU 1926 sesungguhnya tidak hanya mengatur hubungan NU dengan partai politik. Tetapi secara historis, kelahiran Khitthah NU 1926 memang sangat dipengaruhi oleh realitas politik yang terjadi di Indonesia pada era awal 1980-an dan berdampak pada roda organisasi di tubuh NU.

Dalam konteks politik, NU pernah terjun ke dunia politik praktis dengan menjadi partai politik pada 1952. Setelah itu, Partai NU mengikuti dua kali Pemilu dan berhasil menjadi tiga partai politik terbesar di tanah air. Namun Partai NU dipaksa fusi pada tahun 1973 oleh pemerintah (Orde Baru) dengan dalih penyederhanaan partai. Sehingga hanya ada dua partai politik, yaitu PPP dan PDI serta Golkar (yang bukan partai politik tapi ikut Pemilu).

NU secara resmi menyatakan bergabung bersama umat Islam lainnya ke dalam PPP. Banyak pengurus NU yang merangkap sebagai pengurus PPP, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.  Bahkan Rais Am PBNU KH M Bisri Syansuri juga sekaligus menjabat Ketua Dewan Syura DPP PPP secara bersamaan. NU juga menempatkan beberapa tokohnya untuk menduduki kursi anggota legislatif, hasil Pemilu tahun 1977, baik di pusat maupun di tingkat daerah.

Pada muktamar ke-26 tahun 1979 di Semarang, suara untuk mengembalikan NU lepas dari partai politik sudah mulai terdengar. Salah satunya melalui buku berjudul Khitthah Nahdliyah yang ditulis oleh Kiai Achmad itu. Namun suaranya kurang menggema sehingga tidak bisa menjadi keputusan muktamar. Salah satu keputusan muktamar tersebut adalah memilih KH M Bisri Syansuri sebagai Rais Am yang menjabat sejak 1971 dan KH Idham Chalid sebagai Ketum PBNU yang memimpin sejak 1956.

Suasana berorganisasi kembali seperti semula. Said Budairy menceritakan dalam catatan pribadinya bahwa NU benar-benar mengalami krisis jati diri saat itu. “Sebagai organisasi politik sudah bukan, sedangkan merubah diri menjadi organisasi sosial keagamaan, baru berupa pernyataan. Prilaku masih tetap saja seperti masih sebagai partai politik. Kantor NU ramai dan sibuk hanya ketika menyongsong pemilihan umum. Ketika memasuki fase penyusunan calon untuk Pemilu, Ormas ini tiba-tiba saja persis seperti Parpol, repot banget menyusun daftar calon. Orang-orang berdatangan dari daerah. Khawatir susunan calon di daerahnya tidak sesuai dengan yang diinginkan”.

Keadaan ini diperparah dengan wafatnya Kiai Bisri pada tahun 1980. Kekosongan jabatan Rais Am PBNU berlangsung hingga satu setengah tahun kemudian. Baru pada bulan September 1981, posisi Rais Am PBNU dipercayakan kepada KH Ali Maksum melalui Munas Alim Ulama NU di Yogyakarta.

Namun gejolak di dalam internal NU belum berakhir. Bahkan perpecahan antara syuriah dan tanfidziyah semakin menjadi-jadi. Puncaknya, pada tanggal 2 Mei 1982, dua hari sebelum dilangsungkannya Pemilu, empat orang kiai dari jajaran Syuriah PBNU berkumpul di Jakarta dan mengunjungi KH Idham Chalid di rumahnya di Cipete, Jakarta. Mereka adalah KH Ali Maksum, KH Machrus Aly, KH As’ad Syamsul Arifin dan KH Masjkur.

Mereka meminta Kiai Idham untuk lebih aktif mengurusi PBNU. Namun Kiai Idham tidak memenuhi permintaan mereka karena alasan kesehatan. Lalu Kiai As’ad mengusulkan, bagaimana jika Kiai Idham menyerahkan jabatan Ketum PBNU kepada Rais Am PBNU. Kiai Idham mengiyakan, dan pada hari itu pula Kiai Idham menandatangani surat pengunduran diri yang sebelumnya sudah disiapkan oleh empat kiai tersebut.

Tidak lama kemudian, Kiai Idham mencabut pengunduran diri itu karena para kiai dianggap menyalahi konsensus di antara mereka. Sebab berita pengunduran diri itu sudah tersebar luas dan sudah diketahui oleh pers sebelum perhitungan suara hasil Pemilu 1982 selesai.

Kiai Idham kemudian menyampaikan pengumuman bahwa jabatan Ketum PBNU masih ada di tangannya. Kiai Idham juga menentukan daftar pengurus yang berhak menandatangani surat keluar. Anehnya, nama Kiai Maksum sebagai Rais Am tidak ada dalam daftar itu. Seakan-akan Ketum PBNU itu telah memecat Rais Am. Padahal di pihak lain, Kiai Ali Maksum sudah merasa bahwa jabatan Ketum PBNU sudah diserahkan kepadanya, sehingga ia merangkap sebagai Rais Am sekaligus Ketum PBNU.

Peristiwa itu mengakibatkan kepemimpinan NU terpecah menjadi dua. Gerbong Idham Chalid dikenal dengan istilah kubu Cipete dan gerbong Kiai Ali Maksum dikenal dengan kubu Situbondo. Dualisme kepemimpinan ini berlangsung hingga setahun kemudian. Sampai akhirnya untuk menyelesaikan konflik itu kubu Cipete berencana mengadakan muktamar dan kubu Situbondo hendak menggelar Munas Alim Ulama.

Di tengah-tengah dualisme kepemimpinan itu, para aktivis muda NU mengambil inisiatif yang berbeda. Mereka kerap mengadakan diskusi untuk mencari solusi atas gejolak tersebut. Adalah dr Fahmi D Saifuddin yang menjadi motor penggeraknya. Dia merangkul tokoh-tokoh muda yang waktu itu peduli terhadap nasib NU dan sudah menjauh dari kepentingan politik manapun. Pertama-tama dr Fahmi bertamu ke rumah Said Budairy di rumahnya yang ada di Mampang, Jakarta Selatan, dan mengajaknya bergabung. Setelah itu, bergabung juga Mahbub Djunaidi, M Zamroni, Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Danial Tandjung, Slamet Effendi Yusuf, M Ichwan Sam dan sebagainya. Diskusi dan rapat paling sering digelar di rumah Said Budairy yang kemudian dikenal dengan Kelompok G, karena rumah Said Budairy terletak di gang G.

Hasil diskusi-diskusi kecil itu semakin kongkret. Salah satunya adalah menggelar forum diskusi yang lebih besar dengan mengundang 24 tokoh NU dari berbagai daerah. Mereka adalah KH MA Sahal Mahfudz (tidak sempat hadir), KH Musthofa Bisri, KH M Moenasir Ali, KH A Muchith Muzadi, Gus Dur, KH Tholchah Hasan, Dr Asep Hadipranata, Mahbub Djunaidi, M Zamroni, dr Muhammad Thohir, dr Fahmi D Saifuddin, M Said Budairy, Abdullah Sjarwani, SH, M Saiful Mudjab, Umar Basalim, Drs H Cholil Musaddad, Gaffar Rahman, SH, Slamet Effendy Yusuf, M Ichwan Syam, Musa Abdillah, Musthofa Zuhad, M Danial Tanjung, Ahmad Bagdja dan Masdar F Mas’udi.

Diskusi yang membahas tentang NU masa depan itu kemudian dikenal dengan Majelis 24 karena pesertanya berjumlah 24 orang. Mereka berdiskusi pada 12 Mei 1983 di Hotel Hasta Jakarta. Pertemuan itu dilakukan dengan fasilitas yang sangat sederhana. Penyelenggara hanya menyewa ruangan dengan suguhan minuman dan kacang goreng. Malah waktu makan siang, semua peserta mencari makan di trotoar depan hotel. Pertemuan berlangsung sampai malam dan setelah pertemuan selesai, semua pulang ke tempat masing-masing.

Meskipun singkat dan penuh keterbatasan, tapi hasilnya sangat penting. Majelis 24 sepakat membentuk tim yang diberi nama Tim Tujuh Pemulihan Khitthah NU. Anggota tim ini diberi tugas untuk menyusun rumusan Khitthah NU 1926. Sedangkan acuan pokok tentang Khitthah NU adalah buku Khitthah Nahdliyah dan Fikrah Nahdliyah karya KH Ahmad Siddiq.

Kelompok ini disebut Tim Tujuh karena beranggota tujuh orang. Mereka terdiri dari Abdurrahman Wahid (ketua), M Zamroni (wakil ketua), M Said Budairy (sekretaris), Mahbub Djunaidi, dr Fahmi D Saifuddin, M Danial Tanjung dan Ahmad Bagdja (anggota).

Akhirnya Tim Tujuh berhasil menyusun rumusan Khitthah NU 1926 sebelum dilaksanakannya Munas Alim Ulama NU pada 18-21 Desember 1983. Rumusan tersebut kemudian menjadi pembahasan dan disahkan dalam Munas Alim Ulama tahun 1983 di Situbondo. Setelah mengalami beberapa koreksi dari peserta Munas, Khitthah NU 1926 disahkan menjadi keputusan muktamar melalui Komisi Khitthah. (A. Afif Amrullah)

 

Penulis adalah Redaktur pelaksana Majalah Aula dan Dosen FAI Unsuri Surabaya

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selapanan Pelajar NU Sulang Diisi Materi Entrepreneurship

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Berbeda dari pertemuan rutin selapanan Ikatan Pelajar Nahadlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) anak cabang Sulang Rembang yang biasanya diisi materi keagamaan kali ini diisi materi Entrepreneurship, Ahad (25/9) bertempat di Masjid Jamiul Muttaqin Desa Pragu Kecamatan Sulang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.

Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB menghadirkan pemateri Ragil Bambang Sumatri asal Desa Kemadu Sulang Rembang. Dia mengisi materi Entrepreneurship dan banyak bercerita jatuh bangunnya dalam perjalanan bisnisnya menggeluti ternak kambing jawa.?

Selapanan Pelajar NU Sulang Diisi Materi Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)
Selapanan Pelajar NU Sulang Diisi Materi Entrepreneurship (Sumber Gambar : Nu Online)

Selapanan Pelajar NU Sulang Diisi Materi Entrepreneurship

Dengan latar belakang pendidikan sarjana arsitek dari Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang tidak menyiutkan nyali dia untuk menjadi pengusaha peternak kambing jawa dan kambing etawa yang dikenal memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

"Saya mulai beternak kambing itu mulai 2006. Pada saat itu, mencari kerja sangatlah sulit. Oleh karenanya, saya memilih membuka usaha sendiri dengan beternak kambing Jawa. Pertama kali ternak hanya sebanyak 8 ekor," ujar Ragil Bambang Sumatri diawal penyampaiannya.

Hadir dalam selapanan ini sebanyak 76 kader pelajar NU Sulang. Istiqomah, salah satu kader asal Ranting Pedak merasa senang karena materi selapanan kali ini sangat menginspirasinya. "Saya sangat senang sekali mengikuti acara dipagi hari ini, karena diajari oleh bapak Ragil mengenai peternakan kambing yang banyak sekali manfaatnya," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, beliau menceritakan kelompok tani ternak bernama Taruna Tani Margo Mulyo yang digagas beliau pada tahun 2009 meraih peringkat II tingkat Provinsi Jawa Tengah pada lomba peternakan pada tahun 2010. Sedangkan pada tahun ini, meraih juara I tingkat Provinsi Jawa Tengah dan akan maju tingkat nasional pada 2017 nanti.

Lain halnya dengan Edi Sucipto salah satu peserta asal Ranting Pragu merasa mendapatkan pengetahuan baru bagaimana memulai usaha yang baik, "Kalau pendapat saya secara pribadi terkait materi yang disampaikan sangatlah puas, banyak pelajaran bagaimana tips dan trik memulai sebuah usaha," tuturnya.

Acara yang selesai menjelang dzuhur ini dihadiri oleh sesepuh desa dan nampak hadir perwakilan dari pengurus cabang IPNU-IPPNU Rembang dan perwakilan Banom NU lainnya. (M. Ulin/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, PonPes, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pemerintah akan melaksanakan sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1434 Hijriyah pada 7 Agustus 2013 sesaat setelah diadakan rukyatul hilal di berbagai dareah. 

Pada saat itu posisi hilal sudah memungkinkan untuk dirukyat (imakur rukyat), dan berdasarkan pengalaman  maka hilal dimungkinkan bisa disaksikan.

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam laman Kementerian Agama di Jakarta, Rabu, berharap hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan secara bersama oleh semua umat Muslim di Tanah Air.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sidang itsbat akan dilaksanakan 7 Agustus, semua ormas Islam kita undang," kata Wamenag kepada wartawan pada acara buka puasa bersama di kediamannya, Jalan Ampera I No. 10, Jakarta Selatan, Selasa sore.

Hadir Duta Besar Arab Saudi Mustafa bin Ibrahim Al Mubarak, para pejabat eselon I, II, dan III Kementerian Agama, serta beberapa direktur BUMN.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Wamenag mengatakan, jika didasarkan pada perhitungan hisab, pada hari pelaksanaan rukyatul hilal atau hari Rabu senja tanggal 7 Agustus 2013, posisi hilal berada di atas dua derajat.

Sesuai pengalaman tahun-tahun yang lalu, apabila hilal di atas dua derajat, maka hilal atau bulan baru dimungkinkan akan bisa disaksikan atau imkanur rukyat.

"Kecuali jika pada hari itu seluruh lokasi pemantauan hilal di Tanah Air terhalang mendung," ujarnya.

Namun Wamenag berharap, hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat muslim Indonesia. “Kita berharap lebaran bareng, sehingga lebih menguatkan ukhuwah Islamiyah," ujarnya.

Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil menambahkan, pada sidang itsbat penentuan awal syawal nanti terlebih dahulu dilaksanakan sebuah seminar membahas tentang masalah hisab-rukyat.

"Jika sebelumnya kegiatan sidang dilaksanakan sore hari, itsbat nanti akan dimulai dari siang hari, sekitar pukul 13.30 dengan sebuah seminar membahas permasalahan hisab rukyat, termasuk juga mengenai penetapan yang dilakukan oleh kelompok An Nazir dan Naqshabandi," kata Djamil.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Kiai, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 26 Juni 2017

Pengurus NU Harus Sauyunan

Sukabumi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Penggerak Nahdlatul Ulama harus memiliki soliditas yang kuat. Saling bekerjasama dan sauyunan di antara para pengurus. Dalam bahasa Sunda, sauyunan berarti merapatkan barisan, seniat dan semisi, sevisi, dalam bercita-cita.?



Pengurus NU Harus Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus NU Harus Sauyunan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus NU Harus Sauyunan

Menurut Mustasyar NU Kabupaten Sukabumi, Ajengan KH Mahbub, sauyunan bisa dicontoh dari penggerak NU Sukabumi di tahun 1950-an, yaitu Ajengan Masthuro, pemimpin Al-Masthuriyah, Ajengan Djunaidi pengasuh pesantren Cigunung, KH Abdullah Sanusi, pemimpin pesantren Al-Falah dan H Siroj.?

“Ajengan Masthuro menonjol dalam intelektual, Ajengan Abdullah ahli mengarang kitab, Ajengan Cigunung terkenal dengan ketawadhuan dan wara’ serta ajengan Siroj terkenal dengan ilmu kanuragannya,” ujar putera Ajengan Abdullah Sanusi, ketika ditemu Pondok Pesantren Attauhidiyyah beberapa waktu lalu.?

Para ajengan itu, terus menjaga silaturahim dan selalu bertukar pikirang tentang pesantren, umat, dan NU. Jika tidak demikian, sambung pengasuh pesantren Al-Falah Sukamantri ini, NU akan susah bergerak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Wakil Ketua GP Ansor Kabupaten Sukabumi, Daden Sukendar, kiprah keempat penggerak NU itu mesti ditauladani penggerak NU sekarang.

Untuk tujuan itu, Keluarga Besar NU Sukabumi akan mengkaji karya-karya kiai NU di Sukabumi untuk kalangan anak muda NU. “Kegiatan tersebut merupakan upaya mempertemukan antara anak muda NU dengan orang tuanya,” ujar Daden, santri lulusan Al-Masthuriyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan tersebut diharapkan akan memupuk kebersamaan dan sauyunan anak muda NU Sukabumi yang aktif di PMII, IPNU, IPPNU, Fatayat dan GP Ansor. Sehingga soliditas yang kuat bisa terjalin. ?

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 24 Juni 2017

Ketua PWNU Aceh: Pendalaman Ilmu Modal Dakwah Islam

Banda Aceh, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua PWNU Aceh Tgk H Faisal Ali yang lebih dikenal Lem Faisal menyadari pentingnya peningkatan ilmu pengetahuan bagi para pendakwah. Ia mengatakan, para pendakwah tidak boleh merasa cukup dengan ilmu yang ada padanya.

Menyadari itu, Faisal yang tidak lagi bisa dikatakan muda terdorong untuk melanjutkan studinya ke perguruan tinggi di samping terus mengaji.

Ketua PWNU Aceh: Pendalaman Ilmu Modal Dakwah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Aceh: Pendalaman Ilmu Modal Dakwah Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Aceh: Pendalaman Ilmu Modal Dakwah Islam

“Untuk mensyiarkan syariat Islam di bumi Aceh khususnya, ilmu pengetahuan sangat diperlukan,” kata Faisal yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya di bidang Komunikasi Islam pada STAI Al-Aziziyah, Samalanga, Banda Aceh.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Faisal dalam sidang munaqasyah di gedung serbaguna STAI-Al-Aziziyah, mempertahankan skripsinya "Implementasi Penerapan Nilai-nilai Ahlussunnah Wal Jamaah Melalui Adat-Istiadat Studi Kasus di kecamatan Sukamakmur Aceh Besar.” Pada usia yang tidak bisa dibilang muda, ia berhasil meraih predikat istimewa.

“Ke depan jika diberikan umur panjang, insya Allah kita akan mengupayakan untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya,” lanjut Faisal yang diwisuda pada Selasa (15/4) setelah studi 9 semester sejak 2009.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Faisal mengharapkan seluruh para kader dayah agar senantiasa menyatukan diri mewujudkan cita-cita para guru, “Ulama Aceh yang telah mendahului kita, membumikan Aceh dengan syiar-syiar Islam,” tandas Faisal.

Faisal diwisuda bersama 428 wisudawan lainnya STAI Al-Aziziyah di kompleks Dayah Jamiah Al-Aziziyah, Batee Iliek, Samalanga. Wisuda ke-III ini  meluluskan 62 mahasiswa dari program studi KPI, 109 dari program studi SAS, dan 257 dari prodi PAI. (Tgk Muslem Hamdani/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional, Hadits, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Juni 2017

Diresmikan, Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU Pringsewu Siapkan Program

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bertempat di Lapangan Kompleks Gedung NU Pringsewu, Jumat (9/10) Satuan Komunitas (Sako) Pramuka LP Ma’arif NU Pringsewu resmi dikukuhkan. Disaksikan seluruh peserta upacara perkemahan ke-1 Maarif NU Pringsewu, Ketua Kwarcab Pringsewu H Heri Iswahyudi memimpin sendiri peresmiannya.

Diresmikan, Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU Pringsewu Siapkan Program (Sumber Gambar : Nu Online)
Diresmikan, Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU Pringsewu Siapkan Program (Sumber Gambar : Nu Online)

Diresmikan, Satuan Komunitas Pramuka Ma’arif NU Pringsewu Siapkan Program

Hadir pada kesempatan ini Ketua Sako Ma’arif Pusat H Muhsin Ibnu Juhan. Menurut Muhsin, Sako Pramuka Maarif Pringsewu adalah salah satu Sako yang dikukuhkan dari keseluruhan 6 Provinsi dan 17 kabupaten di Indonesia yang sudah ada sebelumnya.

Muhsin berharap Sako Pringsewu akan menjadi pembangkit bagi kabupaten-kabupaten lain di Lampung untuk membentuk Sako di wilayahnya masing-masing. "Suatu saat kami ingin datang ke Pringsewu dengan Sako-Sako lain di Indonesia untuk bersama-sama melaksanakan perkemahan Nasional Sako seluruh Indonesia di Pringsewu," harapnya diamini oleh seluruh yang hadir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu Ketua Sako Pramuka Ma’arif NU yang sudah dikukuhkan Mas Mustangin mengatakan bahwa dirinya dan seluruh pengurus siap untuk berkiprah dan memajukan Sako Pramuka Maarif Pringsewu. Ia menjelaskan bahwa Sako Pramuka Maarif NU adalah Gerakan Pramuka yang memiliki ciri khas NU dan tidak terpisah dari Gerakan Pramuka Nasional.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir pada pelantikan ini Ketua LP Maarif Lampung H Fauzi, Ketua PCNU Pringsewu H Taufiqurrohim, Ketua LP Maarif Pringsewu Ahmad Rifai, dan beberapa Ketua LP Maarif kabupaten lainnya di Lampung. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 22 Juni 2017

Puasa Tingkatkan Kedisiplinan dan Produktivitas Kinerja

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes, Drs H Imam Hidayat, MPdI memandang, Puasa Ramadhan menjadi barometer kedisiplinan dan Produktivitas Aparatur Sipil Negara (ASN). Karena puasa memiliki makna pengendalian diri.?

Pengendalian diri bagi seorang pegawai, terutama dari sisi kepribadian, sehingga berpengaruh bagi diri dan masyarakat yang dilayani.?

“Konteks impelemntasi puasa sebagai seorang ASN, bisa menjadi semangat tarbiyah peningkatan disiplin dan kinerja pegawai,” terang Imam Hidayat saat dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah di ruang kerjanya, Jumat (9/6).

Puasa Tingkatkan Kedisiplinan dan Produktivitas Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa Tingkatkan Kedisiplinan dan Produktivitas Kinerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa Tingkatkan Kedisiplinan dan Produktivitas Kinerja

Kata Imam, seorang yang berpuasa telah diatur harus mampu menahan diri yang diawali dengan imsyak sampai dengan berbuka saat Maghrib. Di sini, ada ketentuan waktu yang jelas, antara waktu berangkat kerja dan kapan harus meninggalkan kantor.?

Dalam sebuah hadits riwayat Imam Muslim, Ibadah puasa itu perhitungan pahalanya langsung dari Allah SWT. Sesungguhnya, semua amalan bani adam akan dilipatgandakan, satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kali lipat hingga 700 kali lipatnya. Allah ta’ala berfirman, ‘Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya, ia meninggalkan syahwat dan makannya karena aku, maka Aku yang akan membalasnya.’?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kaitan ini, lanjut Imam, ibadah puasa itu ibadah rahasia yang hanya diketahui oleh dirinya dan Allah SWT. Maka sebagai ASN ada upaya pengawasan melekat. Bekerja apapun, tidak karena ada atasan, atau pimpinan harus dijalani.

“Tidak perlu diperintah kalau memang sudah ada tugas pokok dan fungsinya, lakukan. Yang menjadi ukuran adalah dorongan pribadi bahwa kita menjalankan amanah, melayani umat, jadi kerjakan apa yang menjadi tugas dan kewajiban,”imbuhnya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Datangnya bulan Puasa, tidak mengurangi gaji ataupun mengurangi tunjangan kinerja (tukin), maka jangan sampai puasa malah membuat kinerja melemah. Karena alasan ngantuk, cape, tidak bersemangat, takut kehausan dan kelaparan, atau dijadikan alasan datangnya terlambat.?

Justru dibulan puasa, sambungnya, semua amal yang baik dilipatgandakan. Bulan barokah, bulan peningkatan kebaikan. Maka bila berkerja dengan ikhlas dan terjadi peningkatan produktivitas maka akan dilipat gandakan pula pahalanya.?

Kedisiplinan dan Produktivitas kerja meningkat bukan karena siapa-siapa, tetapi karena lillah, karena Allah SWT.?

Semoga saja, puasa tahun ini mendapatkan ridlo-Nya dan ikhlas menjalankannya. Jangan sampai sebaliknya, betapa banyak orang yang berpuasa namun dia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya tersebut, kecuali rasa lapar dan dahaga.?

Alasan tidur bae, dengan dalih tidur saja mendapat pahala ini jangan dijadikan pedoman. Imam mangajak, selaku ASN agar menjadi contoh untuk melaksanakan puasa dengan sebaik-baiknya agar laalakum tatakum. Sebab, tidak semua orang yang berpuasa jadi orang takwa, mudah-mudahan ASN puasanya mengantarkan diri menjadi insan yang takwa.

Untuk itu, pegawai harus tetap menjalankan puasa, karena menilik keberkahan puasa akan mendorong lebih rajin lagi, dengan motivasi dari setiap amal perbuatan akan dilipatgandakan pahalanya. (Wasdiun / Muslim Abdurrahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul, Ahlussunnah, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 18 Juni 2017

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

Cirebon, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Barat melalui Lembaga TaMir Masjid NU (LTMNU) tengah mengembangkan radio FM sebagai media dakwah.?

Hal ini tampak ketika Rais Syuriyah PBNU KH Masdar Farid Masudi mengunjungi studio radio Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Al Biruni di Babakan, Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Ahad (6/1). Radio ini cukup lama pasif hingga akhirnya bekerjasama dengan PWNU Jabar.

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jabar Kembangkan Radio Dakwah

"Ini radio swasta yang kurang bisa mengembangkan kreativitas. Kita coba dorong untuk bisa aktif kembali bersama NU Jawa Barat," kata Ketua LTMNU Jabar HM Syaifullah Amin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Syaifullah menargetkan, bulan depan radio siap mengudara dan bisa diakses oleh seluruh penduduk di kawasan Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ditambahkan, pengembangan radio dimaksudkan untuk memperkuat paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Rencananya, radio ini akan diisi sejumlah kegiatan, seperti pengajian, dialog interaktif, pemberitaan, dan lain-lain.

Ketua Pengurus Pusat LTMNU KH Abdul Manan A Ghani yang juga meninjau studio radio mendukung penuh lahirnya radio berbasis NU di Cirebon. Ia berharap, prestasi ini dapat ditingkatkan dan menjadi percontohan bagi pengurus LTMNU lain di seluruh Indonesia.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis ? : Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 17 Juni 2017

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Gusdurian Lampung? dan GP Ansor Pakuan Ratu serta Negara Batin Kabupaten Way Kanan menyelenggarakan bakti sosial pengobatan alternatif dan pengolahan sampah plastik? untuk memperingati Hari Pahlawan 10 November 2016.

"Lingkungan hidup adalah masa depan bersama. Banyak yang masih tidak peduli dengan hal tersebut. Itu yang menjadi dasar kami memperingati Hari Pahlawan dengan harakah (gerakan) tersebut," ujar Ketua GP Ansor Pakuan Ratu Bakti Ghozali di Blambangan Umpu, Rabu (9/11).

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gusdurian dan GP Ansor Ajak Santri Way Kanan Jadi Pahlawan Lingkungan

Didampingi Ketua GP Ansor Negara Batin Hozin Munir, Bakti menjelaskan, pelaksanaan kegiatan akan berlangsung di Pesantren Al-Falakhussdah asuhan Kiai Zainal Maarif di Kampung Tanjung Kecamatan Pakuan Ratu.

Tema kegiatan ini ialah "Berdamai Dengan Lingkungan Hidup. Berdamai Dengan Masa Depan yang Hidup". Para santri akan diajak untuk mengolah sampah plastik menjadi bantal, boneka, dan ecobricks sebagai bentuk pengamalan Surah Ar-Rum [30]: 41.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengurangi pencemaran tanah hingga polusi udara dihasilkan dari pembakaran plastik yang memacu timbulnya efek rumah kaca dan juga merusak lapisan bumi (ozon) serta dapat memicu sel kanker.

"Serta menuju masyarakat sehat tanpa polusi udara dari pembakaran sampah plastik yang dapat melepaskan zat berbahaya di udara seperti karbon monoksida, dioksin dan furan, volatil maupun partikel berbahaya lainnya yang berefek buruk bagi kesehatan," kata Bakti.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Adapun bakti sosial digelar ialah berupa penyembuhan alternatif nonmedis untuk lemah syahwat, migrain, darah tinggi, asma, jantung dan lain-lain.

"Medianya dengan tangan dan air. Masyarakat yang mengikuti penyembuhan tersebut berinfaq sukarela. Hasilnya akan didonasikan untuk sedekah oksigen," kata dia lagi.

Selain itu, juga penyembuhan bekam untuk masyarakat setempat juga akan dilakukan sehubungan adanya program Halal atau Hijamah Sambil Beramal untuk kemandirian organisasi Ansor.

"Ansor dan Gusdurian berharap bisa terlibat aktif mengajak masyarakat mengurangi penistaan agama dan Al-Quran melalui perilaku yang selama ini acap luput, dibiarkan dari pengamatan, yakni membuang atau membakar sampah plastik sembarangan," kata Bakti lagi.

Selain itu, juga mengajak santri dan masyarakat menjadi pahlawan melalui bidang lingkungan hidup, salah satu mengajak masyarakat berpartisipasi aktif dalam sedekah oksigen yang bertumbuh alias sedekah pohon. (Disisi Saidi Fatah/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Forum Kerukunan Umat Beragama Generasi Muda (FKUB GM) Jawa Tengah yang baru pertama ada di Indonesia dan menjadi percontohan, Jum’at (30/12) kemarin dikukuhkan. pengurusnya dilantik.

Pelantikan dilaksanakan di Hotel Muria, Jl Dr Cipto Semarang, oleh Wakil Gubernur Jateng Rustriningsih didampingi Kepala Badan Kesbangpollinmas Jateng Agus Tusono dan seluruh pengurus FKUB Jateng.

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)
Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda (Sumber Gambar : Nu Online)

Dikukuhkan, FKUB Generasi Muda

Disaksikan hadirin utusan FKUB kabupaten/kota se-Jateng dan pejabat Kantor Kanwil Kemenag Jateng, organiasi baru para aktivis muda lintas agama itu dikukuhkan untuk berkiprah menjaga kerukunan umat beragama di kalangan generasi muda.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka terdiri atas Ketua Imam Fadhilah (Islam), Wakil Ketua Iqbal Birsyada (Islam), Wakil Ketua Pdt Timotius Setyanto (Kristen), Sekretaris Titus Bayu Santoso (Katholik), Sekretaris II Chandra Purnama Sari (Budha), Bendahara Eko Pujianto (Hindu) Bendahara II Giyanto Wijaya Salim (Kong Hu Chu). 

Ditambah para pengurus bidang yang mewakili unsur enam agama di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dibentuk di Seluruh Jateng

Ketua FKUB Jateng Abu Hapsin Umar didampingi jajaran pengurus menyatakan, pihaknya akan berupaya membentuk FKUB GM di seluruh kabupaten atau kota se-Jawa Tengah.  Targetnya, dalam tahun 2012 bisa selesai di 35 daerah di Jateng.

 “Kami mengupayakan agar FKUB GM bisa terbentuk di seluruh kabupatan/kota se-Jateng dalam tahun 2012 ini. Semoga ini kepeloporan ini membawa kebaikan dan bisa menyebar ke seluruh Indonesia,” tuturnya.

Ketua FKUB GM Iman Fadhillah menyatakan, forum yang dipimpinnya bertugas membantu FKUB yang sudah ada dalam upaya menjalin dialog antar umat beragama di kalangan generasi muda.

“Kami akan menjadi fasilitator bagi para pemuda lintas agama untuk membicarakan isu-isu strategis dalam relasi antar agama,” terang akvitis muda Nahdlatul Ulama ini.

Dosen Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang ini menambahkan, forumnya telah menggelar rapat kerja dan memprogramkan banyak kegiatan. Diantaranya mengadakan Kongres Pemuda Antaragama yang mempertemukan pemuda lintas agama dari seluruh kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Sementara itu, Wakil Gubernur (Wagub) Jateng Rustriningsih dalam sambutannya mengingatkan agar generasi muda Jawa Tengah terus menjaga kerukunan antarumat beragama agar tercipta suasana yang guyub, dan harmonis. Ia meminta pengurus FKUB GM Jateng membangun terus komunikasi lintas agama.

“Fasilitasi aspirasi umat dengan baik dan sosialisasikan kebijakan yang berkaitan dengan kerukunan umat beragama.”

Rustri berharap FKUB GM menjadi pionir dalam kehidupan sosial, dengan  program pemberdayaan  masyarakat dalam aktivitas yang positif seperti bhakti lingkungan, peduli korban bencana, dan pelatihan kerja.

Secara khusus Wagub menyampaikan penghargaan kepada Gerakan Pemuda Ansor yang pasukannya, Banser,  selalu membantu pengamanan perayaan Natal.

“Hal itu sebagai wujud nyata kerjasama lintas agama untuk mendukung toleransi dan kerukunan beragama,” ucapnya seraya mendukung pembentukan FKUB GM di daerah di Jawa Tengah.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ichwan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bupati Demak Buka Konferensi BPP LP Ma’arif NU Kecamatan Wedung

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bupati Demak Drs. H.A. Dakhirin Said, MSi, membuka Konferensi Badan Pengelola Pendidikan (BPP) Lembaga Pendidikan Maarif NU (LP Ma’arif NU) Raudlatul Mualimin Kecamatan Wedung, Kabupaten Demak, Ahad, (18/1) lalu di MTs NU Raum Wedung, Demak, Jawa Tengah.

Bupati Demak Buka Konferensi BPP LP Ma’arif NU Kecamatan Wedung (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Demak Buka Konferensi BPP LP Ma’arif NU Kecamatan Wedung (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Demak Buka Konferensi BPP LP Ma’arif NU Kecamatan Wedung

Dalam sambutannya, Dakhirin menekankan pentingnya masa depan generasi yang tidak lepas dari pendidikan. Sehingga, tambahnya, transfer ilmu pengetahuan agar diikuti oleh ketulusan dan keikhlasan sehingga ilmu yang amalkan akan memiliki manfaat dan keberkahan.?

“Penting juga partisipasi aktif orang tua dalam mengawal proses dan hasil belajar anak-anaknya dalam menempuh pendidikannya,” ujar Dhakiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Ketua Panitia Konferensi, Drs. Ahmad Said bahwa BPP Maarif NU Raum ini berdiri sejak 8 Pebruari 1967 dan sekarang telah memiliki 3 satuan pendidikan, yakni MTs NU Raum Wedung, MANU Raum Wedung dan SMK NU Raum Wedung. “Serta memiliki UKM Mart yang menjadi kebanggaan anggota dan masyarakat Wedung,” tutur Said.

Hasil dari Konferensi ini, lanjut Siad, telah menetapkan AD/ART baru, penerimaan LPJ Pengurus lama dan memilih kepengurusan BPP Maarif NU Raum masa khidmat 2015-2020. Adapun, tambahnya, yang terpilih menjadi Ketua KH. Masykuri Abdillah, M.Ag., Sekretaris Zainuddin, S.PdI., Bendahara Sucipto, S.PdI., dan 2 orang formatur dari unsur MWC NU Wedung, KH. Salman Dahlawi, S.Ag, M.PdI., dan utusan peserta, KH. Fatkhul Qarib, S.PdI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan yang sama Bupati Demak meresmikan penempatan kantor baru UKM Mart yang merupakan pengembangan dari usaha dari BPP Maarif NU Raudlatul Mualimin Kecamatan Wedung Kabupaten Demak.?

“Harapannya UKM yang telah berkembang ini dapat ikut memandirikan pengelolaan pendidikan milik NU Kecamatan Wedung,” ucap Dhakirin

Konferensi ini diikuti oleh 31 peserta dari semua unsur baik dari PC Maarif NU, MWC NU Wedung, BPP Maarif NU Raum Wedung, Perwakilan dari satuan pendidikan di bawah pengelolaan BPP Ma’arif NU Raum, pimpinan Banom NU Kecamatan Wedung, ? tokoh ulama dan tokoh masyarakat. (Faojin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 16 Juni 2017

Nyolong Ikan Allah

Di dunia ini masih saja tumbuh orang-orang yang hanya berpikiran harfiah, melulu melihat teks, tanpa melihat konteksnya. 

Suatu kali orang macam begini masuk ke sebuah pesantren. Ia pun nyolong ikan paling besar dari kolam di pesantren itu.

“Orang masuk pesantren nyumbang semen nyumbang apa. Kamu malah nyolong ikan,” kata Kiai.

Nyolong Ikan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyolong Ikan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyolong Ikan Allah

“Mohon maaf Kiai, ini ikan siapa?” tanya orang tersebut.

Tentu dijawab oleh kiai, “Ikan saya.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan tenangnya, orang itu menjawab bahwa segala yang ada di bumi dan langit itu milik Allah dengan mengutip Al-Quran Surat al-Baqarah ayat 284, lillâhi mâ fis samâwati wa mâ fil ardl.

Kiai diam. Tidak menyanggah pernyataan orang tersebut. “Iya, saya tahu itu milik Allah. Tapi ya, jangan yang gede juga," batin Kiai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Orang itu pun berlalu. Belum jauh, Kiai mengambil batu dan melemparkannya ke orang tersebut.

“Pletak,” batu itu mengenai kepalanya.

Ia pun mengelus-elus kepalanya. Lalu bergegas kembali dengan langkah cepat.

“Kenapa Kiai? Gak setuju nih ikan Allah saya ambil?” tanyanya.

“Setuju. Silakan kamu ambil.”

Orang tersebut meminta alasan kenapa Kiai melemparnya dengan batu. Tapi Kiai membantah. Ia merasa tidak melempar.

“Saya nggak melempar kok,” tegasnya.

“Di sini tidak ada orang lagi, kecuali kita berdua, kiai,” sanggahnya.

“Baca Qurannya, Surat al-Anfal ayat 17, wa mâ ramita idz ramaita wa lâkinna Allâha ramâ. Dan engkau tidak melempar saat engkau melempar kecuali Allah yang melemparnya,” katanya. (Syakir NF)

*Diceritakan oleh Ketua LDNU KH Maman Imanul Haq saat mengisi Rapimnas IPNU di Bandung, Minggu (19/11). 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kader IPNU Rembang, Sabet Dua Piala Duta Wisata Jateng 2016

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - David Anggi Laksono, kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dari Kabupaten Rembang, berhasil meraih dua piala sekaligus dalam ajang pemilihan Duta Wisata Jawa Tengah tahun 2016 yang dilaksanakan di Surakarta belum lama ini. David perwakilan dari Rembang bersama Regyta Saskia Putranti dari Kabupaten Demak mendapatkan juara dalam kategori kepribadian dan penampilan terbaik.

David sapaan akrabnya saat dihubungi via handpone (HP) mengaku sangat senang dan bangga bisa memperoleh juara pada kategori tersebut. Sebelumnya, pihaknya tidak pernah menargetkan untuk mendapatkan juara maupun kontestan terbaik.

Kader IPNU Rembang, Sabet Dua Piala Duta Wisata Jateng 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader IPNU Rembang, Sabet Dua Piala Duta Wisata Jateng 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader IPNU Rembang, Sabet Dua Piala Duta Wisata Jateng 2016

"Sebenarnya saya tidak berambisi untuk menjuarai dari tingkat kabupaten dan juga di Surakarta. Apalagi perwakilan dari rembang dari tingkat SMA Sederajat. Yang lainya dari mahasiswa. Ini merupakan kebanggan tersendiri bagi saya", katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, penorehan yang dicapai oleh kader IPNU dari Rembang mendapatkan apresiasi dari Ketua IPNU Rembang Ahmad Humam. Berdasarkan data di IPNU Cabang, David tercatat sebagai Ketua IPNU Ranting Seren Kecamatan Sulang. Keberhasilan David diharapkan mampu memberikan pengaruh terhadap kader IPNU maupun IPPNU untuk mengukir prestasi.

"Kami ucapkan selamat kepada rekan David yang telah mewakili Kabupaten Rembang pada ajang Duta Wisata Jawa Tengah dan berhasil membawa 2 trofi kategori penampilan dan kepribadian terbaik," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Humam mengatakan, prestasi ini akan memberikan pandangan kepada masyarakat bahwa IPNU dan IPPNU tidak hanya konsen terhadap ilmu agama, namun juga pengetahuan umum lainnya sesuai dengan tuntutan zaman.

Untuk diketahui, Pemilihan Duta Wisata atau pemilihan Mas-Mbak Jawa Tengah adalah sebuah kegiatan di bagian kepariwisataan dan kepemudaan yang mengemban misi dalam usaha promosi segala aspek kepemerintahan, tidak terkecuali dalam bidang pariwisata dan kebudayaan di Jawa Tengah yang menjadi segmen utama dalam pergerakan langkahnya. (Kurni Wawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Pesantren, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 14 Juni 2017

Pidato Pengukuhan Kepengurusan PBNU Periode 2015-2020

Oleh Ketua Umum PBNU? Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj

Hadirin yang dirahmati Allah,?

Islam menegaskan tentang pentingnya organisasi, jam’iyyah yang mampu menghadirkan kemaslahatan ummat. Menyatukan komitmen untuk menegakkan maslahat, merupakan tujuan dari ibadah sosial yang diserukan Islam.?

Pidato Pengukuhan Kepengurusan PBNU Periode 2015-2020 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pidato Pengukuhan Kepengurusan PBNU Periode 2015-2020 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pidato Pengukuhan Kepengurusan PBNU Periode 2015-2020

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak ada kebaikan, pada kebanyakan pembicaraan-pembicaraan rahasia mereka, kecuali untuk menyuruh manusia memberi sedekah, atau menghadirkan kebaikan, atau mengupayakan perdamaian antara umat manusia (QS, An-Nisa: 114).?

Islam menyerukan pentingnya menghadirkan kemaslahatan umat sebagai wujud dari peran penting kaum muslim. Kita menyelenggarakan diskusi, rapat, musyawarah maupun berorganisasi, tidak ada baiknya di hadapan Allah, kecuali dengan tiga hal:?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pertama, ? ?. Islam menyerukan komitmen warga muslim untuk bersama-sama mengentaskan kemiskinan. Harakah islamiyyah (gerakan keislaman) perlu difokuskan untuk menghadirkan kesejahteraan. Kemiskinan akan mendorong umat menjadi lemah, dekat dengan kekufuran. Indonesia sebenarnya kaya raya, dikenal sebagai negeri zamrud khatulistiwa, yang di dalamnya terdapat pelbagai kekayaan alam; ragam fauna, tumbuhan, mutiara-mutiara hingga material tambang di perut bumi. Inilah yang harus dikelola sebagai kekayaan bangsa.?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Rasulullah bersabda, ada tiga sumber energi yang menjadi milik bersama, yakni air, api dan hutan.”

Tentu saja, sabda Rasulullah ini harus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk menegakkan bangsa yang berdaulat. Kedaulatan politik, ekonomi dan kebudayaan memerlukan komitmen kedaulatan energi. Sumber air yang melimpah, mutlak untuk kesejahteraan rakyat. Kekayaan minyak dan bahan tambang, harus menjadi sumber kedaulatan energi. Hutan-hutan yang luas, wajib dikelola untuk kemaslahatan bangsa ini. Dari kekayaan melimpah di negeri ini, ternyata masih banyak warga yang miskin. Tidak hanya miskin harta, namun juga miskin mental. Untuk itu, perlu ada dorongan sekaligus kebijakan untuk membuka lapangan kerja yang luas, yang memberi kesempatan bagi kader terbaik bangsa ini. Pembenahan mental mutlak dilakukan, agar kita mampu berkarya dan berkompetisi dengan bangsa-bangsa lain.?

Rumusan dasar negara, dalam Pasal 33 UUD 1945 mengingatkan kita tentang betapa pentingnya energi sebagai modal untuk mensejahteraan rakyat. Intinya, bukan hanya pertumbuhan ekonomi yang dikejar, akan tetapi yang lebih penting adalah pemerataan kesejahteraan. Pada titik ini, kebijakan strategis pemerintah menjadi kuncinya.?

Kalau prinsip kepemimpinan dan tujuan kesejahteraan rakyat tidak sejalan-beriringan, maka ancamannya adalah kerusakan di segala bidang, yang menimbulkan murka dari Sang Pencipta Jagad Raya, Allah Subhanahu wata’ala.?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Kalau sekiranya kebenaran tunduk kepada kehendak hawa ¬nafsu mereka, niscaya rusaklah semua langit dan bumi dan segala apa yang ada di dalam¬nya. Bahkan Kami berikan ke¬pada mereka itu al-Quran untuk kehormatan sebutan mereka, namun mereka tetap berpaling dari kehormatan itu (QS: Al-Mu’minun: 71).?

Hadirian sekalian, yang berlimpah Berkah?

Kedua, ? ?. Kebaikan-kebaikan yang menghadirkan harapan. Islam menegaskan tentang pentingnya pengetahuan untuk membangun peradaban. NU berkomitmen untuk terus mengabdi dalam mencerdaskan bangsa dan menyehatkan warga. Dalam hal ini, sudah berlangsung di pelbagai penjuru negeri, pendirian Universitas-Universitas Nahdlatul Ulama, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dan Rumah Sakit yang menjadi bukti kongkret kiprah NU.?

Komitmen untuk menghadirkan kecerdasan, hanya dapat tercapai dengan jalan ketaqwaan. Revolusi mental bangsa hanya dapat digapai dengan moral dan keteladanan. Gerakan mencerdaskan otak, menyegarkan mental, dan menjernihkan hati, akan mendorong lahirnya individu yang shalih, sekaligus juga masyarakat yang shalih. Bangsa yang paling mulia di hadapan Allah, ialah bangsa yang bertaqwa.?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“…. dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q.S. Al Hujurat: 13)

Ketaqwaan inilah yang menjadi inspirasi bagi kalbu dan penjernih pikiran. Gerakan intelektual dan strategi kedaulatan, haruslah diiringi dengan kejernihan hati, kecerdasan moral, dan keteguhan mental. Allah menjanjikan derajat yang tinggi, maqaaman mahmuuda, bagi orang-orang dan bangsa yang memiliki keunggulan pengetahuan.?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu, dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS: Al-Mujaadalah: 11)

Upaya mencerdaskan generasi bangsa, adalah tugas strategis yang menjadi darma bakti warga nahdliyyin. Sejarah panjang hadirnya pesantren di negeri ini, menjadi penanda betapa kiai terdahulu sudah berkiprah dalam membangun pengetahuan dan kesejahteraan masyarakat. Islam tidak hanya memikirkan aspek teologi maupun ritual semata. Al-islamu dinul tsaqofah wal hadharah wal insaniyyah. Islam adalah agama yang membangun pengetahuan, peradaban dan kemanusiaan. Mencerdaskan bangsa, sekaligus menyehatkan fisik dan mentalnya, tubuh dan jiwanya, merupakan komitmen bersama yang digariskan NU, sebagaimana teladan dari para kiai pendiri organisasi ini.?

Tentu saja, pemerintah tidak mungkin menangani semua aspek dalam kehidupan warga negeri ini. NU sebagai jama’ah (komunitas) sekaligus jam’iyyah (organisasi) berkomitmen untuk membantu mencerdaskan warga negeri ini, agar mampu meraih kesejahteraan. Komitmen kami, terbukti dalam bidang pendidikan serta ekonomi kerakyatan. ?

Ketiga, ? ? ? ?. Menjadi jembatan islah, rekonsiliasi antar masyarakat. Islam mengajarkan tentang pentingnya maslahah ‘ammah, kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. NU telah membuktikan, dalam sejarah panjangnya, sebagai mediator dalam konflik-konflik kemanusiaan, maupun sengketa kebangsaan. Hadratus Syaikh Hasyim Asy’arie, Kiai Wahab Chasbullah, Kiai Wahid Hasyim, dan beberapa kiai NU lainnya, selalu menjadi penengah dalam situasi konflik. ?

Kiai Hasyim Asy’arie menjadi pejuang sekaligus penengah di awal masa kemerdekaan bangsa ini. Beliau dengan ikhlas memberikan ? tongkat kepemimpinan negara kepada Soekarno, yang ia beri restu untuk mengawal NKRI. Kiai Wahab Chasbullah menjadi mediator dalam himpitan kolonial, untuk memperjuangkan kepentingan warga negara Indonesia. Kiai Wahid Hasyim, menjadi jembatan aspirasi antar kelompok, dalam masa awal kemerdekaan republik ini. Kiai-kiai lain juga berperan untuk tujuan yang sama, dalam ruang dan peran yang berbeda-beda. Tentu, dalam konteks sekarang, NU hadir sebagai mediator untuk menjaga kesatuan bangsa dan mengukuhkan NKRI, bahkan juga dalam sengketa agama dan kemanusiaan di dunia internasional. ?

NU tanpa pretensi politik praktis, selalu berperan menjadi perekat bangsa, mengawal utuhnya NKRI. Kiranya, jelas rumusan kebangsaan yang dapat menjadi referensi, sebagaimana termaktub dalam PBNU: Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945. Untuk itu, NU sekali lagi menyerukan kepada pemerintah untuk berpegang kepada konstitusi, teguh pada dasar negara.?

? ? ? ? ? ?

“Kebijakan seorang pemimpin mestilah merujuk pada kemaslahatan bersama.”

Konsep kepemimpinan ini bermakna substansial, sesuai dengan kaidah fiqh as-siyasah, yang tercermin dalam kitab al-Asybah wa an-Nadhair. Pemimpin mestilah berpegang pada prinsip untuk mensejahterakan rakyatnya, menyebar optimisme dan menghadirkan teladan kebaikan. ?

Nahdlatul Ulama selalu berkomitmen untuk mengawal negara, agar tidak terpecah belah dalam kepentingan rasial, etnik maupun manuver-manuver politik kelompok tertentu. Dalam sejarah Nahdlatul Ulama menjelang Satu Abad ini, organisasi ini bergerak dalam bidang-bidang strategis yang menghadirkan kemaslahatan untuk umat.?

Jakarta, 5 September 2015?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 13 Juni 2017

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi...

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelawak sekaligus dai HM Syakirun turut menyemarakkan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dan khitanan massal yang diselenggarakan pengurus masjid MI Hasyim Asyari Bangsri Jepara, Jawa Tengah, Jumat (17/1) malam.

Dalam pengajian yang berlangsung di Jalan Raya depan Terminal Bangsri Kirun, panggilan akrabnya mengajak jamaah untuk meneladani Nabi Muhammad SAW. “Teladan kita bukanlah Maradona, Rhoma Irama, Jokowi, Sule dan Tukul Arwana melainkan Muhammad SAW,” tegasnya kepada ribuan jamaah yang hadir.   

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)
Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi... (Sumber Gambar : Nu Online)

Teladan Kita Bukan Maradona, Tapi...

Meneladani Nabi kata lelaki asal Madiun Jawa Timur itu dengan mengikuti empat sifat wajibNya; sidiq, amanah, tabligh dan fathanah. “Dengan kejujuran para santri yang kini sedang menuntut ilmu kelak yang akan memimpin bangsa kita Indonesia,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kirun pun menyontohkan tokoh semacam Gus Ipul Wagub Jatim, Ki Entus Susmono Bupati Tegal bisa mewarnai bangsa, sebutnya dengan modal sidiq, kejujuran.

Dalam ceramahnya ia juga menceritakan tentang dirinya yang kini banyak mengaji. Hal itu dilakukannya dalam rangka gandul sarung kiai. Golek selamet dunia dan akhirat. “Saya nyedak Ulama agar tidak katut pelawak yang nyedot sabu-sabu,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Disamping itu, imbuhnya untuk menggapai berkah. “Pedagang untung karena dagangannya laku. Petani panen hasil tandurannya. Bupati lan polisi digaji karena bekerja untuk negara. Lha aku dibayar goro-goro lambeku,” guraunya sembari disambut tawa jamaah.

Agar lambe, (mulutnya, red) berkah itulah ia semakin dekat dengan kiai. “Dengan ilmu hidup menjadi berkah, dengan agama akan terarah dan dengan budaya hidup menjadi indah,” pungkasnya. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, Hikmah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 12 Juni 2017

Hasyim Muzadi: Moral Politik Indonesia Masih Jauh Panggang dari Api

Tulungagung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) DR KH Hasyim Muzadi mengemukakan, moral politik bangsa Indonesia saat ini masih sebatas sebuah angan-angan yang belum diaktualisasikan secara riil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

"Political morality kita masih jauh panggang daripada api, masih sebatas angan-angan. Kita nggak tahu sampai kapan political morality kita bisa seperti yang ada di negara-negara lain," tegas Hasyim Muzadi saat meresmikan kantor PCNU Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, Sabtu (5/1).

KH Hasyim Muzadi mengemukakan penilaiannya itu setelah sebelumnya membandingkannya dengan moral politik yang dimiliki Bangsa Iran. Diakui Hasyim, dirinya sangat kagum ketika Ahmadinejad bisa terpilih menjadi presiden Iran. Padahal, rival dalam pemilihan presiden itu seorang mantan ketua parlemen yang juga kaya raya.

Hasyim Muzadi: Moral Politik Indonesia Masih Jauh Panggang dari Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Moral Politik Indonesia Masih Jauh Panggang dari Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Moral Politik Indonesia Masih Jauh Panggang dari Api

Suatu ketika, kekagumannya itu pernah ditanyakan kepada koleganya, seorang syeikh terkenal di Iran. "Saya tanyakan kepada syeikh itu, kenapa Ahmadinejad bisa terpilih menjadi presiden. Ternyata, jawabannya, Ahmadinejad terpilih menjadi presiden, karena dia miskin. Saya langsung kaget. Kok beda ya dengan yang terjadi di negara kita. Ini artinya, political morality kita masih jauh panggang daripada api," kata Hasyim Muzadi.

Di hadapan warga nahdliyin, KH Hasyim juga mengingatkan posisi NU yang sebenarnya nasabnya bagus, tapi nasibnya selalu jelek. "Kita memang kuat di bidang ubudiyah. Tapi, kita lemah di bidang nidzamiyah. NU itu selalu terlibat dalam setiap perjuangan, tapi selalu kocar-kacir di bidang kenegaraan. Maka, yang diperlukan NU sekarang, selain kekuatan rokhaniyah juga kekuatan nidzamiyah," ujar pengasuh Ponpes Al Hikam Malang ini.

Pada bagian lain, Hasyim Muzadi mengungkapkan keprihatinannya terhadap manajemen kepengurusan NU yang diibaratkan masih seperti mobil taksi. Akibatnya, langkah perjuangan NU menjadi sangat bergantung kepada siapa figur yang mengendalikan kepengurusan organisasi. Jika demikian, tambah dia, NU bisa kehilangan arah perjuangan sebagaimana digelorakan kiai-kiai yang menjadi pendirinya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kepengurusan NU, hari ini seperti taksi.  Jadinya, perjuangan NU tergantung pengurus yang sedang menjadi ‘sopir’ taksi yang bernama NU. Ini terjadi dimana-mana," ujar Hasyim Muzadi mengingatkan kader-kadernya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Agar tidak seperti taksi, tambah Hasyim, PBNU akan mengadakan musyawarah nasional (Munas ) alim ulama, akhir Desember 2008 ini. "Sesuai amanat Rais Am, Munas alim ulama ini untuk merumuskan ‘rel’ yang bisa dijadikan  lintasan para pengurus NU. Dengan begitu, jika terjadi regenerasi kepengurusan, arah NU tidak ganti-ganti haluan seperti saat ini,"’ ungkap Hasyim.

Selaku Ketua Umum PBNU, Hasyim Muzadi juga mengajak warga nahdliyin di semua tingkatan untuk menghidupkan kembali keberadaan jamaah dan pengajian kitab di masjid-masjid. "Ini penting untuk brain storming. Jangan sampai kebiasaan NU seperti itu ditinggalkan. Tradisi NU itu bisa diambil orang lain kalau kita tidak menghidupkannya," terang Hasyim Muzadi.

Sementara itu, peresmian gedung PCNU yang berlokasi di Desa Gedangsewu, Kecamatan  Boyolangu, Kabupaten Tulungagung, seperti dilaporkan kontributor Pondok Pesantren Attauhidiyyah Muhibuddin dari Tulunggagung, ditandai dengan pemukulan bedug yang dilakukan KH  Hasyim Muzadi.

Ikut menyaksikan pemukulan bedug, Ketua PCNU H. Chamim Badruzzaman, Bupati Ir Heru Tjahjono, MM, Ketua PWNU Jatim, DR Ali Maschan Moesa, anggota FKB DPR RI, Ali Masykur Moesa, Ketua Muslimat NU, Khofifah Indar Parawansa. Acara ini juga dihadiri pengurus cabang NU yang ada di sekitar kota Tulungagung.

Selain itu, dalam peresmian itu, Hasyim Muzadi juga menyerahkan bibit tanaman kepada warga nahdliyin sekaligus untuk mencanangkan gerakan penghijauan. Bibit tanaman penghijauan yang diserahkan, antara lain berupa 30.000 batang bibit tanaman durian dan bibit jati emas sejumlah 10.000 batang. (bin)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 11 Juni 2017

Saudi Belum Tetapkan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepastian apakah Indonesia akan memperoleh tambahan kuota haji sebanyak 10 ribu atau tidak, masih menjadi tanda tanya besar. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan, sesuai keputusan Pemerintah Saudi, kuota haji tahun ini di setiap negara sama dengan tahun lalu.

Saudi Belum Tetapkan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Saudi Belum Tetapkan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Saudi Belum Tetapkan Kuota Tambahan Haji untuk Indonesia

Pemotongan kuota sebanyak 20 persen, katanya, juga masih diberlakukan untuk semua negara. Karenanya, kuota haji Indonesia sebesar 168.800, terdiri dari 155.200 kuota haji reguler dan 13.600 kuota haji khusus.

“Khusus bagi Indonesia, karena sejak lama memperjuangkan tambahan 10 ribu, ini yang terus kita ikhtiarkan. Doakan saja mudah-mudahan bisa diwujudkan tahun ini tambahan itu,” tegas Menag saat ditanya wartawan usai menghadiri Halaqah Pimpinan Pondok Pesantren se-Provinsi Lampung, Senin (18/04), sebagaiman dilansir kemenag.go.id.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ihwal wacana tambahan kuota bagi Indonesia sebanyak 10 ribu jamaah, Menag sudah meminta kepastiannya kepada Pemerintah Saudi Arabia saat melakukan kunjungan kerja ke Jeddah pertengahan Maret lalu. Namun, pihak Saudi belum memberikan jawaban secara tegas karena sedang dipertimbangkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Menteri Urusan Haji Saudi mengatakan bahwa hal ini betul-betul menjadi perhatian Pemerintah Saudi yang terus dipertimbangkan. Pada saatnya nanti, Pemerintah Saudi akan menyampaikan secara resmi terkait hal ini,” kata Menag, Rabu (16/03) lalu.

Seperti diketahui, Presiden Joko Widodo telah melakukan kunjungan ke Saudi Arabia dan bertemu dengan Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud di Jeddah, pada pertengahan September tahun lalu. Dalam pertemuan itu, Raja Salman menyampaikan kepada Presiden Jokowi bahwa kuota jamaah haji? Indonesia akan ditambah sebanyak 10 ribu.

Saat menerima Kunjungan Kehormatan dari Menteri Luar Negeri Kerajaan Arab Saudi Adel Bin Ahmed Al Jubeir, di tengah-tengah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Luar Biasa (LB) ke-5 Organisasi Kerjasama Islam (OKI), di JCC Senayan, Jakarta, Senin (07/03),? Presiden Joko Widodo? meminta? agar penambahan kuota haji bagi Indonesia dapat segera direalisasikan. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Bahtsul Masail, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Infaq Warga Meningkat, PCNU Batang Segera Bangun Rumah Sakit

Batang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam rentang tiga tahun terakhir ini, PCNU Kabupaten Batang terus berupaya mendirikan Rumah Sakit Nahdlatul Ulama (RSNU). Pembangunan yang akan didirikan di area jalan pantura, tepatnya di Desa Sengon Kecamatan Subah ini menjadi program unggulan PCNU Batang dengan dukungan dari segenap warga NU setempat.?

Sejak tahun 2014 lalu, PCNU Batang secara masif menggelar infaq bertepatan dengan peringatan Harlah NU. Keinginan warga NU Batang untuk memiliki rumah sakit semakin menguat dengan peningkatan infaq yang terkumpul. ?

Bendahara PCNU Batang, Ahmad Siddiq memaparkan, tahun 2014 infaq yang terkumpul sebesar Rp.430.249.000, tahun 2015 sebesar Rp.443.553.900, dan di tahun 2016 perolehan infaq meningkat menjadi Rp. 730.043.000.

Infaq Warga Meningkat, PCNU Batang Segera Bangun Rumah Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)
Infaq Warga Meningkat, PCNU Batang Segera Bangun Rumah Sakit (Sumber Gambar : Nu Online)

Infaq Warga Meningkat, PCNU Batang Segera Bangun Rumah Sakit

“Untuk wakaf tanah sampai saat ini sebesar Rp. 2.204.821.700, sehingga total dana infaq dan dana wakaf rumah sakit mencapai Rp. 3.808.667.600,” kata Ahmad Siddiq dalam pertemuan rutin Selapanan PCNU Batang dengan MWCNU se-Kabupaten Batang, (Ahad, 22/5).?

Menurut Ketua PCNU Batang, H Achmad Taufiq, dari hasil infaq tahun ini akan digunakan untuk membeli tanah yang ada disebelah barat lahan yang sudah ada untuk pengembangan berikutnya. “Selain rumah sakit, kita juga akan membangun fasilitas penunjang seperti masjid dan plaza yang berada di sekitar rumah sakit,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Pembangunan RSNU Batang, AS. Burhan menyatakan, tahapan pembangunan rumah sakit saat ini pada tahap perijinan prinsip yang masih dalam proses. “Saat ini kami masih memproses ijin prinsip pendirian rumah sakit, dan setelah ijin prinsip ini turun baru kita bisa menggandeng pihak investor utnuk bermitra dengan kita, “ tandasnya.?

Pada kesempatan itu, panitia pembangunan memperlihatkan kepada pada hadirin desain gambar rumah sakit yang akan menjadi kebanggaan warga Nahdliyin Batang itu. (Yasin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KH Hasyim Muzadi: Persiapan Panitia Perlu Lebih Serius

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Muktamar ke-33 NU yang akan dihelat di Jombang Jawa Timur, Agustus mendatang, tentu bakal kental dengan nilai historis. Terlebih, lokasi Muktamar yang mengambil 3 pesantren yang lekat dengan para pendiri NU: Tebuireng, Denanyar, dan Tambakberas.

KH Hasyim Muzadi: Persiapan Panitia Perlu Lebih Serius (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi: Persiapan Panitia Perlu Lebih Serius (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi: Persiapan Panitia Perlu Lebih Serius

Namun, di sisi lain lokasi yang terpisah tentu akan menjadi kendala tersendiri bagi para peserta Muktamar. Terlebih pada sesi rapat pembahasan yang akan melibatkan para Syuriyah.

“Pada tahun 2004, lokasi Muktamar di Asrama Haji. Satu lokasi saja, peserta banyak yang terlambat. Ini tempatnya di beberapa lokasi yang jaraknya kilometer, tentu akan menjadi tantangan bagi paitia” kata Rais Syuriyah PBNU DR KH Hasyim Muzadi pada pertemuan PCNU se-Soloraya, di Kantor PCNU Solo Jawa Tengah, Selasa (5/5).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurutnya, lokasi Muktamar semestinya dipusatkan pada satu lokasi. “Taruhlah di Tebuireng, di sana juga ada Museum Hasyim Asy’ari yang dapat menampung ribuan peserta. Di sana untuk parkir juga insyaallah cukup,” ujar Pengasuh Pesantren Al-Hikam itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, terlepas dari hal tersebut, Kiai Hasyim juga mengingatkan kepada para pengurus NU yang hadir untuk mempersiapkan lebih serius dalam menghadapi Muktamar.

“Paling penting, masuk Muktamar mesti persiapkan konsep dengan matang. Khususnya dalam konsep penguatan peran Syuriyah. NU ini mau dibawa ke mana?” tanya dia.

Selain masalah lokasi dan persiapan Muktamar, dalam kesempatan tersebut Kiai Hasyim juga meminta para pengurus NU di Cabang dan Wilayah untuk mewaspadai masuknya paham lain ke dalam tubuh NU. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 10 Juni 2017

Cak Nun: Warga Sidoarjo Bosan dengan Janji

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Budayawan Emha Ainun Najib mengatakan, saat ini warga korban semburan lumpur Sidoarjo sudah bosan dengan berbagai janji pencairan bantuan persoalan ganti rugi rumah dan tanah milik warga yang terendam luapan lumpur sejak 29 Mei 2006.

"Warga menaruh harapan terakhir pada kedatangan Presiden SBY. Beliau diharapkan dapat menunjukkan kepemimpinannya untuk memperhatikan kesusahan warga yang rumah dan tanahnya terendam lumpur," kata dia seusai melakukan malam renungan "Mata Air Ma’iyah Menuju Indonesia Emas" di Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Selasa.

Banyak warga yang juga menceritakan kondisi pengungsian yang sudah tidak layak lagi, kata pria kelahiran Jombang, 27 Mei 1953 itu.

Cak Nun: Warga Sidoarjo Bosan dengan Janji (Sumber Gambar : Nu Online)
Cak Nun: Warga Sidoarjo Bosan dengan Janji (Sumber Gambar : Nu Online)

Cak Nun: Warga Sidoarjo Bosan dengan Janji

Karena daya tampung tenda yang disediakan terbatas, katanya, tenda yang rata-rata berukuran 3x4 meter itu harus dihuni hingga tiga keluarga. "Berdasarkan pertemuan terakhir dengan warga korban lumput, warga sudah memberi peringatan terakhir," kata pria yang akrab dipanggil Cak Nun itu.

Mengenai isinya, kata Cak Nun, jika pada kedatangan Presiden SBY kali ini tidak juga memberi titik terang kejelasan nasib mereka, sekitar 40.000 warga telah siap untuk membentuk massa dengan segala benda tajam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Mereka mengancam akan membuat "chaos" dengan melakukan blokade pada seluruh akses jalan dan jembatan," kata dia.                                                                               

Pertemuan dengan Presiden  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dia, pertemuan bersama warga korban lumpur dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Puri Cikeas Minggu sore (24/6) tidak lebih merupakan tanggungjawab sosial saya karena telah diserahkan amanat oleh warga korban.    

Ia mengatakan, sebelum bersedia memfasilitasi pertemuan tersebut, ia mendapatkan surat mandat yang ditandatangani langsung oleh sekitar 46.000 warga atau 14.300 KK korban lumpur yang berisi permohonan penunjukan dirinya untuk ikut turun tangan membela persoalan warga korban lumpur.

"Lalu, tak lama stelah itu tepatnya tiga menit kurang 10 detik, pihak kepresidenan menelpon dirinya untuk memfasilitasi pertemuan membahas persoalan Lapindo," katanya.

Dalam pertemuan diwakili 94 persen dari 11 ribu KK yang menjadi korban lumpur Lapindo, warga menyampaikan lambannya persoalan proses pembayaran ganti rugi oleh PT Lapindo.

"Hingga saat ini baru sekitar 300 kavling berupa sawah atau pekarangan kosong bersertifikat yang diberikan ganti rugi oleh PT Lapindo," katanya.

Ia mengatakan, sebagian besar warga yang rumah dan tanahnya terendam lumpur belum diberi ganti rugi meskipun sudah memenuhi persyaratan administrasi yang diminta oleh PT Lapindo Brantas.           

"Bahkan, dokumen yang disyaratkan menyertakan tandatangan Bupati Sidoarjo Wim Hendrarso, dibuat sampai rangkap lima," kata dia yang masih aktif tur bersama grup musik dakwah Gamelan Kyai Kanjeng itu. (ant/kut)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 07 Juni 2017

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais Syuriyah PBNU, KH Hasyim Muzadi menegaskan, berbuat amal kebaikan kepada orang lain hendaknya diniati dengan ikhlas, tanpa mengingat-ingat kembali kebaikan tersebut. Sebab, jika seseorang berbuat baik kepada orang lain dengan ikhlas, tanpa pamrih serta tanpa mengharapkan imbalan apapun, maka perbuatan orang tersebut akan dibalas Allah lebih baik lagi.

"Kalau kita dapat pertolongan dari orang lain, perbuatan itu mari kita ingat. Tapi kalau kita berbuat baik kepada orang jangan diingat-ingat. Sebab, orang kalau beramal tidak akan dihilangkan amalnya oleh Allah," kata KH Hasyim Muzadi saat memberikan tausiah pada acara Haul para ulama pendiri masjid jami Al-Abror di kelurahan Kauman Kecamatan Sidoarjo Kabupaten Sidoarjo Jawa Timur, Rabu (20/5) malam.

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim: Kebaikan Harus Ikhlas Tanpa Mengingat-ingatnya

Kiai Hasyim juga menerangkan, bahwa jangan takut amal hilang, karena Allah tidak akan menghilangkan amal manusia.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Maka jangan takut pula orang lain menghilangkan amal kita. Amal itu bisa hilang kalau manusianya sendiri yang menghilangkan, bukan Allah," imbuhnya.

Dirinya menegaskan, jika seseorang menolong orang lain, jangan dipikirkan apa yang sudah dilakukannya itu. "Kalau sudah menolong di lepas saja. Tidak usah mikir atau diatur. Itu sudah kuasanya Allah," jelasnya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Kajian, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penasehat Presiden Iran Kunjungi Redaksi NU Online

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Usai berdialog dengan sejumlah petinggi PBNU, Penasehat Presiden Republik Islam Iran Ayatullah Taqi Misbah Yazdi menyempatkan diri mengunjungi Kantor Redaksi Pondok Pesantren Attauhidiyyah di Gedung PBNU lantai 5, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, (22/5).

Misbah, begitu ulama Iran ini akrab disapa, yang saat itu didampingi Ketua Divisi Budaya Lembaga Internasional Majma’ Ahlul Bait, Hojjatul Islam Sayed Rois Zadeh Musawi dan Direktur Islamic Cultural Center (ICC), Sayyed Mohsin Hakimullohi, tampak kagum mengetahui bahwa NU memiliki Situs Resmi.

Ia semakin kagum saat melihat salah satu berita pada sebuah komputer tentang kunjungan Presiden Republik Islam Iran Mahmoud Ahmadinejad ke PBNU pada tanggal 12 Mei lalu. Berita berjudul ’Dari Kunjungan Ahmadinejad ke PBNU; Menolak Tunduk Pada Amerika’ itu tampak ia perhatikan cukup lama.

Namun sayang, ia tak memahami apa isi berita itu. Pasalnya ia tak mengerti bahasa Indonesia, sebagaimana berita itu ditulis.

“Bisa diterjemahkan?,” tanya Misbah kepada salah seorang penerjemah yang turut mendampinginya.

Tak lama kemudian sang penerjemah menerjemahkan sekilas isi berita tersebut kepada Misbah dalam bahasa Persia (bahasa Iran).

Setelah diterjemahkan, Misbah menganggukkan kepala tanda mengerti maksud dari berita tersebut. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Kajian Islam, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penasehat Presiden Iran Kunjungi Redaksi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasehat Presiden Iran Kunjungi Redaksi NU Online (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasehat Presiden Iran Kunjungi Redaksi NU Online