Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kiai. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bagi Drs H Achfas Tafsir, kehidupan di alam dunia ini sangat indah ketika berguru pada burung. Sikap tawakal yang pantang menyerah terpatri dalam dada seekor burung. Burung tidak memiliki simpanan pangan apalagi gudang logistik. Namun ketika pagi menjelang, burung keluar dari sangkarnya dengan ceria dalam keadaan perut lapar. Saat sore menjemput malam, burungpun pulang dalam keadaan perut kenyang.

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng

Sikap tawakal dari seekor burung, menjadi daya juang Haji Achfas dalam membangun keluarga sakinah. Baginya, yang penting usaha, bekerja, ikhtiar untuk memperoleh rezeki dari Yang Maha Pengasih.

“Dengan tawakal, hidup tanpa beban,” tutur Achfas saat menerima tim penilai pemilihan keluarga sakinah teladan tingkat Jawa Tengah, di rumahnya Desa Karangjongkeng Rt 01/Rw II, Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes, Sabtu (17/5).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Usaha itu wajib, namun hasilnya tidak wajib. Sebab urusan dapat atau tidaknya adalah urusan hak prerogratif pemilik pemberi rejeki, Allah SWT. Ayah dari 4 orang anak itu percaya betul, ketika burung pulang ke sangkarnya disambut kemeriahan anak-anak burung yang berebut makanan dari paruh sang induk untuk memperoleh jatah makanan.

“Dalam sekejap, vila sangkar itupun menjadi sunyi senyap lantaran anak-anak burung itu terlelap tidur, dalam suasana tenteram dan perut mereka kenyang,” papar suami dari Hj Nasichatun ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan filosofi burung, pria kelahiran Brebes 17 Februari 1944 itu bisa mempertahankan biduk keluarganya selama 42 tahun yang dirajut sejak 27 November 1972. Menurutnya, keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tanpa dosa dan selalu mulus perjalanannya. Tetapi ibarat nahkoda, bagaimana bisa bersikap bijaksana dalam mengarungi luas samudera kehidupan. “Saya berusaha menjadi nahkoda dan istri menyiapkan makanan dan sesekali menunjukan arah ketika saya lalai,” ujar nya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI menjelaskan, Achfas terpilih menjadi keluarga sakinah teladan mewakili eks Karesidenan Pekalongan. Sebelumnya secara berjenjang telah mengikuti seleksi ditingkat desa, kecamatan, kabupaten dan eks Karesidenan Pekalongan. “Haji Achfas sangat pantas menjadi tauladan bagi keluarga Indonesia,” kata Imam.

Hal tersebut antara lain ditunjukannya dengan sikap dan sifat yang sederhana namun pasti. Dari 4 orang anaknya yakni M Yaser Atabaki Spi (39), dr M Fahmi Atabaki (37), Zulfa Atabaki Skep Ns (34) dan Humaira Atabaki Sfarm Apt (30), semua sukses dalam menempuh pendidikan. Di samping itu telah berkeluarga semua dengan memperoleh pekerjaan yang berbeda-beda dan terhormat.

Selain membina anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, Achfas juga mengelola pesantren alit. Pesantren yang dia kelola benar alit atau kecil karena hanya menampung 20 santri dengan tujuan utama untuk mempersiapkan calon imam sholat di surau kampung sejak dini. Setiap hari dia menanamkan pokok-pokok dasar ajaran islam terutama masalah kaifiyah sholat, akhlakul karimah, kedisiplinan, hidup mandiri dan kejujuran.

Dalam kehidupan Achfas, selama 23 tahun ini seperti falsafah komunitas burung, selalu menyediakan makanan. Dia rela menjadi buruh masak bagi pelajar dan santri, dalam artian masakan tidak hanya berbentuk fisik tetapi buruh masak rohani. Terukir dalam catatan pribadinya tahun 1982-1984 menyediakan makanan di pesantren Alit Nuruddin karangjongkeng (2 th).

Tahun 1984-1990 menyediakan makanan di Asrama Putri PGAN Pekalongan (6 th). Tahun 1990-1995 menyediakan makanan di asrama putra PGAN Pekalongan (5 th). Tahun 1995-2004 berturut-turut menjabat Kepala MTs N Ketanggungan Brebes, Kepala MTsN Lebaksiu Tegal, Kepala MTs Margadana Tegal dan terakhir menjadi Kepala MTs N Slawi. Saat menjadi pelayan diluar desa Karangjongkeng Pesantren Alit di asuh oleh adiknya KH Sobirin Tafsir. Bulan April 2004 Achfas pensiun dari guru, ia pulang kampung dan melanjutkan mengelola pesantren alit hingga sekarang (10 th) bersama adiknya KH Sobirin Tafsir.

Penilaian pemilihan Keluarga Sakinah Teladan dipimpin Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kanwil Kemenag Jateng Drs H Syaefullah MAg selaku Ketua Tim Penilai. Syaefullah berjanji akan bertindak obyektif, adil, dengan memotret kehidupan peserta. Termasuk penilaian dari tetangga sekitar mengenai pribadi dan kehidupan rumah tangganya. Anggota Tim Penilai, kata Syaeful, tidak hanya dari kementerian agama tetapi juga dari? unsur Kementerian Sosial, PKK, BKKBN dan Dinas Kesehatan.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE mengaku senang dengan kedatangan Tim dari Provinsi. Yang artinya bisa mendorong keluarga-keluarga Brebes menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Dengan keluarga yang sakinah akan mendorong pembangunan Kabupaten Brebes. Karena pada dasarnya pembangunan daerah itu diawali dari pembangunan keluarga. Kalau keluarganya kokoh maka masyarakatnya menjadi kokoh begitupun dengan daerahnya menjadi kuat dan pada muaranya Indonesia akan maju baldatun toyibatun warobun ghofur. “Masyarakat yang sejahterah adil dan makmur dibawah ridlo Allah SWT,” kata Idza.

Untuk itu, dia menyarankan agar institusi lain ikut menggelar pemilihan keluarga sakinah sesuai dengan kriteria dan dalam kemasan yang berbeda. Meskipun pada dasarnya sama untuk mencapai keharmonisan dan kebahagian keluarga. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Ubudiyah, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 16 Februari 2018

Kiai Masdar: Tragedi Rohingya Akibat Ketidakadilan Global

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Tragedi Rohingya adalah persoalan ketidakadilan. Semua negara akan terbuka jika mereka memiliki dollar yang banyak. Tapi faktanya justru menutup pintu rapat-rapat karena mereka tidak punya apa-apa. Ini adalah fenomena ketidakadilan global yang sangat menghinakan kemanusiaan. Terlepas dari persoalan etnik, agama, politik, dan konflik di negaranya. 

Kiai Masdar: Tragedi Rohingya Akibat Ketidakadilan Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar: Tragedi Rohingya Akibat Ketidakadilan Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar: Tragedi Rohingya Akibat Ketidakadilan Global

Demikian disampaikan oleh Rais Syuriyah PBNU, KH Masdar Farid Masudi dalam Diskusi Publik #SaveRohingya: Momentum Indonesia Menegakkan Kemanusiaan Global yang diselenggarakan di Kantor DPP PKB, Jakarta, Jum’at (22/5). 

“Saya kira semua yang ada di majelis ini mempunyai pandangan dan komitmen yang sama dalam menghadapi permasalahan yang mengemuka terkait pengungsi Rohingya ini, yakni kemanusiaan,” ujar Kiai Masdar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masdar menerangkan, sekiranya masyarakat Rohingya ini konglomerat, mereka akan disambut dengan karpet merah. Bukan hanya satu negara, bahkan banyak negara akan berebut menyajikan sambutan meriah untuk pengungsi Rohingya dan menawarkan kewarganegaraan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Akan tetapi faktanya mereka bukan kumpulan orang berduit, lanjutnya, bahkan bisa dikatakan bukan siapa-siapa. Karena mereka seperti itu (tidak bawa apa-apa kecuali badan dan nyawa) maka diperlakuan sebagaimana kita lihat di media. Perlakuan keji dan sadis selalu mampir ke mereka. 

“Sekali lagi, sesungguhnya mereka bukan siapa-siapa dan tidak punya apa-apa sehingga memperoleh perlakuan begitu keji. Soal akibat konflik politik, beragama tertentu, dari negara tertentu, dari etnik tertentu, itu hanya bumbu pemanis berita,” tuturnya.

Sehingga ketika ada negara kedatangan mereka, imbuhnya, tentu akan dimaknai penambah beban. Sungguh fenomena ketidakadilan global yang melibatkan hampir semua negara sedang dipertontonkan kepada kita. 

Selain Kiai Masdar, hadir sebagai narasumber Andi Rochmanyanto (Kemenlu RI), Syaiful Bahri Anshori (Komisi I DPR Fraksi PKB), dan Nur Munir (moderator). Acara dibuka oleh Andi Muawiyah Ramli (Dewan Syura DPP PKB). (Kholilul Rohman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, menyebut Indonesia bisa dijadikan teladan sekaligus rujukan dalam memahami kebinnekaan. Sebagai negara multikultur dan multiagama, NKRI patut dicontoh Jepang.

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

“Karena itu mereka berpikir bahwa Indonesia adalah salah satu model bagi Jepang juga untuk menerima seseorang atau sesuatu yang berbeda,” ujar Kato kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah usai berdiskusi tentang agama bersama sejumlah pejabat teras Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Senin (14/8).

Menurut  Kato, Indonesia sudah sejak lama terbiasa menerima orang yang berbeda-beda. “Sikap orang Bali, orang Padang, orang Jawa, orang Sunda (yang bisa menerima orang lain) itu sangat penting bagi kami,” tandasnya. 

Ditanya tentang perbedaan perspektif dalam memandang agama, Kato membenarkan hal tersebut sekaligus menyayangkannya. Pada saat ini, di Jepang, agama Islam tidak begitu dihargai dan dipahami dengan baik. Karena ada banyak stereotipe dan salah paham terhadap Islam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Karena itu, saya kira anak muda seperti mereka ingin belajar banyak dan berminat belajar secara langsung ke sini, berkomunikasi dengan bapak-ibu di sini. Mereka juga akan home stay juga dengan mahasiswa di UNAS. Saya kira mereka nanti akan memiliki pengalaman luar biasa untuk memahami Indonesia dan agama Islam secara lebih mendalam,” harapnya.

Dalam diskusi, Prof Kato mengatakan pihaknya kembali membawa para mahasiswa program studi Kebijakan Publik untuk studi banding tentang kebijakan terhadap agama di lembaga riset plat merah ini. Sebagian di antara mereka ikut serta dalam kunjungan pertama setahun silam.

“Selain itu, kami ingin lebih mengenal Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Bagi kami, negara ini menjadi teladan dan rujukan dalam membangun peradaban dan menghargai perbedaan,” ujar Kato.

Selain belajar mengenai mengenai kebijakan, ia bersama 23 mahasiswanya hendak berkunjung ke SMA, ke sejumlah yayasan yang aktivitasnya mengenai agama seperti ICRP dan sejumlah perusahaan juga dan di beberapa tempatnya. “Kami akan belajar tentang Pancasila,” ujarnya.

Rombongan mahasiswa dari Universitas Chuo Jepang ini disambut langsung oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud. Turut mendampingi, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Amsal Bachtiar dan sejumlah peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Kiai, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Februari 2018

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dunia masa kini yang dipenuhi dengan tuntutan kesempurnaan dan persaingan sengit diantara berbagai fihak telah menimbulkan tekanan-tekanan mental bagi sebagian anggota masyarakat. Sentuhan rohani yang diberikan oleh tasawwuf ternyata mampu memberi keseimbangan jiwa dan ketenangan batin.



Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)
Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini (Sumber Gambar : Nu Online)

Tasawwuf Semakin Diperlukan pada Masa Kini

Demikian dikatakan oleh Khatib Aam PBNU KH Nasaruddin Umar dalam pembukaan Munas Jam’iyyah Ahlut Thariqah Al Mu’tabarah An Nahdliyyah (Jatman) yang berlangsung di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (28/6).

Dirjen Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Departemen Agama ini menuturkan, tantangan-tantangan baru yang dihadapi masyarakat seringkali melampaui kemampuan mereka untuk mengelolanya. Hal ini bukan hanya dialami oleh kelompok masyarakat bawah, tetapi juga kelompok atas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mencontohkan munculnya persaingan dalam dunia politik seperti dalam perebutan jabatan melalui Pilkada serta upaya untuk tetap bisa bertahan dalam kesulitan ekonomi yang terus menekan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Disinilah peran penting institusi tarekat, untuk menuangkan aspek batiniah agama dan pedalaman makna agama serta mencegah adanya praktek tidak terpuji yang keluar dari koridor akhlak Islam,” tuturnya.

Munas ini diikuti oleh sekitar 500 orang dari berbagai jamaah tarekat yang tergabung dalam Jatman. Munas merupakan forum tertinggi setelah muktamar yang bertujuan untuk mengevaluasi berbagai program yang sudah dirancang sebelumnya.

Suasana penuh ketenganan dan keteduhan hati sangat tampak dalam forum ini. Para peserta yang sebagian besar memakai baju koko warna putih, dengan tekun mengikuti rangkaian acara. Mereka adalah para kiai dan guru tarekat yang memiliki ribuan jamaah di daerahnya masing-masing.

Zikir-zikir panjang dan istighotsah selalu menjadi bagian rutin dalam sholat berjamaah yang diselenggarakan di masjid asrama haji.

Sepakat dengan apa yang dikatakan oleh Nasaruddin Umar, salah seorang guru tarekat dari Jawa Timur yang ditemui Pondok Pesantren Attauhidiyyah menuturkan, tarekat saat ini semakin diterima oleh masyarakat. Jika dulu hanya komunitas santri saja yang akrab dengan tarekat, kini para birokrat, pengusaha, intelektual, termasuk dari kalangan militer secara intens mendalami tarekat. (mkf)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 31 Januari 2018

Konferwil PWNU Jawa Barat Dilaksanakan Bulan Ini

Sumedang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Barat dipastikan akan diselenggarakan pada tanggal 10-11 Oktober 2016 di di Pondok Pesantren Fauzan Sukaresmi, Garut. Surat undangan dan jadwal acara telah PCNU Kabupaten Sumedang.

Konferwil PWNU Jawa Barat Dilaksanakan Bulan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil PWNU Jawa Barat Dilaksanakan Bulan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil PWNU Jawa Barat Dilaksanakan Bulan Ini

Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang Kabupaten Sumedang Jujun Juhanda mengapresiasi pelaksanaan Konferwil ke-17 tersebut.

"PCNU Sumedang sangat mengapresiasi dan akan mendukung penuh kegiatan Konferwil PWNU Jawa Barat ini. Ini Konferwil yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga NU Jawa Barat," katanya Sabtu, (8/10).

Jujun menambahkan, PCNU Sumedang siap mengirimkan peserta dan penggembira dalam Konferwil tersebut. Banser Sumedang akan dikirimkan satu hari menjelang hari H untuk membantu pengamanan dalam berjalannya Konferwil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Semoga Konferwil bertema "Meneguhkan khidmat jamiyyah untuk umat dan bangsa" ini berjalan lancar dan penuh khidmat serta dapat terpilih ketua dan rais PWNU Jawa Barat yang kompeten dan kapabel,” tutup Jujun.

Berdasarkan surat undangan, Konferwil akan dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Kyai, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Khataman Al-Qur’an se-Jombang Awali Rangkaian Haul Gus Dur

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Khataman al-Qur’an di setiap masjid dan mushala sekabupaten menjadi pembuka dari berbagai rangkaian perhelatan haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang. Kegiatan ini diadakan sebagai ungkapan rasa hormat dan ta’dzimnya warga masyarakat Jombang kepada almarhum Gus Dur dalam perayaan haul ke-6 ini.

Khataman Al-Qur’an se-Jombang Awali Rangkaian Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Khataman Al-Qur’an se-Jombang Awali Rangkaian Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Khataman Al-Qur’an se-Jombang Awali Rangkaian Haul Gus Dur

Sekitar pukul 06.00 WIB pagi berbagai masjid dan mushalla di Jombang sudah mulai ramai dengan gemuru bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Masyarakat setempat berdatangan guna membaca Al-Qur’an hingga rampung 30 juz. Setiap masjid dan mushalla setidaknya ada 15 orang.

Selain membaca Al-Qur’an, warga masyarakat sekitar yang berhalangan hadir ke mushalla atau masjid membawakan hidangan berupa minuman, makanan, dan buah-buahan untuk disuguhkan kepada warga yang sedang ngaji. Mereka tampak khusyuk membaca Al-Qur’an secara bersama-sama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Pesantren Tebuireng Fakhrur Razi yang juga sebagai salah satu panitia penyelenggara haul Gus Dur mengatakan, antusias masyarakat dalam rentetan agenda haul Mantan Presiden Ke-4 Republik Indonesia (RI) ini perlu mendapat apresiasi. Pasalnya hampir semua rangkaian agenda mendapat dukungan penuh dari masyarakat.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Haul Ke-6 Gus Dur ini sanagat semarak dengan antusias warga masyarakat Jombang,” katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Sabtu (26/12) siang.

Haul Gus Dur bertempat di area Pesantren Tebuireng, Jombang, dengan beberapa rangkaian acara. Di antaranya tahlil bersama dan pengajian akbar. Hadir pada agenda ini Wakil Presiden (Wapres) RI H Jusuf Kalla (JK), KH Maimun Zubair, KH Shalahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Jamaluddin Ahmad, dan masyarakat umum. (Syamsul/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 09 Januari 2018

“Bolo Nyuluh” Ansor Ponorogo Ramaikan Radio Aswaja FM

Ponorogo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ruang tamu Radio Aswaja FM Rabu ? (23/1) ? malam kemarin dipenuhi dengan “Bolo Nyuluh”, sebutan bagi para pengurus Ansor dan anggota Banser Ponorogo. Biasanya mereka sekedar kongkow meramaikan acara “Nyuluh Bareng Ansor”, namun kali ini secara dadakan diadakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Biasanya pihak radio cukup menyediakan kopi beberapa cangkir saja untuk mereka yang diminum ramai-ramai ala pesantren. Tapi malam itu suasananya lain. Sejak pukul 20.00 WIB beberapa pengurus PC GP Ansor di luar Bidang Infotek dan Kajian Strategis yang mengasuh acara “Nyuluh Bareng Ansor” satu persatu datang dengan menenteng bungkusan plastik berisi “pelangan”, istilah orang Ponorogo untuk menyebut nasi bungkus. Terlihat mereka kikuk dengan suasana radio. Maklum mereka jarang-jarang ikut nimbrung acara di Aswaja FM.

“Bolo Nyuluh” Ansor Ponorogo Ramaikan Radio Aswaja FM (Sumber Gambar : Nu Online)
“Bolo Nyuluh” Ansor Ponorogo Ramaikan Radio Aswaja FM (Sumber Gambar : Nu Online)

“Bolo Nyuluh” Ansor Ponorogo Ramaikan Radio Aswaja FM

Jamal Mustofa selaku host acara Nyuluh bareng Ansor tetap saja mengawal dialog interaktif yang dikemas dengan bentuk obrolan ala warung kopi dan mengangkat tema sosial budaya khas Ponorogo. Dua ? narasumber tetap, Ahmad Subkhi (Kalibek, Kasatkorcab Banser) dan Muhsin Alwi (salah satu fungsionaris Satkorcab Banser) dengan penuh semangat melayani atensi pendengar setia Radio Aswaja FM. ? Demikian pula beberapa pengurus PC GP Ansor yang ikut nimbrung di dalam studio. Sementara itu, beberapa personil Banser sibuk memindahkan mebeulair ke ruang lain. Setelah itu beberapa lembar tikar digelar memenuhi ruang tamu radio milik resmi PCNU Ponorogo itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sekitar pukul 20.30 tiba-tiba ? Idam Mustofa, Pjs Ketua PC GP Ansor mengucapkan salam layaknya mulai menyampaikan sambutan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Terimakasih saya sampaikan kepada para sahabat Pengurus Cabang yang telah datang membawa pelangan. Mohon maaf kepada para bolo nyuluh karena tidak saya kasih tahu jika ? sekarang ini sengaja kita mau kenduri dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW. Semoga kita bisa memanfaatkan momentum ini untuk kembali meneladani semua sifat dan sikap beliau di kehidupan sehari-hari.” Demikian inti sambutan Idam Mustofa.

Syaiful Islam, Koordinator ? Majlis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor kemudian memimpin tahlil. Saat mahalul qiyam, tiba-tiba terdengar kencrengan (nama lain hadrah menurut orang Ponorogo) menyeruak suasana. Banyak yang terhenyak dan kaget, siapa yang menyiapkan kencrengan tadi. Keadaan itu tidak berlangsung lama karena masing-masing kemudian larut dalam alunan shalawat Nabi, Syi’ir Suluk Gus Dur dan lain-lain.

Kehadiran kencrengan ini pun ternyata tanpa sepengetahuan Idam Mustofa. Bukannya menyalahkan, malah pria berkacamata minus ini mendaulat para sahabat yang memainkan kencrengan untuk tergabung dalam group shalawat PC GP Ansor Ponorogo yang memang belum pernah terbentuk sebelumnya.

Alhamdulillah, mungkin beginilah barokahnya maulid Nabi. Kita lama merindukan hadirnya group shalawat PC GP Ansor, koq ini para sahabat tidak diminta malah memproklamirkan diri. Baik, untuk itu saya nyatakan kencrengan ini resmi menjadi group shalawat dengan nama Rijalul Ansor. Allahumma sholli`ala Muhammad…” ucapan Idam Mustofa langsung disambut dengan alunan shalawat dengan berbagai versinya.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: M. Wahid

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, PonPes, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 08 Januari 2018

PBNU Serahkan Bantuan untuk Dua Rumah Sakit NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerahkan bantuan alat-alat kesehatan kepada dua rumah sakit yang berdiri di bawah naungan NU. Bantuan alat kesehatan itu bernilai total Rp. 10 miliar. Penyerahan bantuan secara simbolis telah dilakukan oleh Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada Rumah Sakit Islam (RSI) Pati yang dikelola oleh PC Muslimat NU Kabupaten Pati dan Rumah Sakit NU Demak, Selasa (24/7), di Pati, Jawa Tengah.

PBNU Serahkan Bantuan untuk Dua Rumah Sakit NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serahkan Bantuan untuk Dua Rumah Sakit NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serahkan Bantuan untuk Dua Rumah Sakit NU

Bantuan untuk RSI Pati diterima oleh Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudh, sementara untuk RS NU Demak diterima oleh perwakilan PCNU Kabupaten Demak. RSI Pati mendapatkan bantuan perlengkapan pengelolaan limbah medis, kamera rontgen, dan kursi roda. Sementara RS NU Demak memperoleh peralatan pendukung laboratorium kesehatan dan seperangkat Ultrasonografi (USG).

"Total semuanya nanti senilai sepuluh miliar, diberikan bertahap. Ini tahap pertama  dan Insya Allah akan segera menyusul bantuan selanjutnya," ungkap Kiai Said.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Said menambahkan, pemberian bantuan alat kesehatan oleh Kristen Mormon disebutnya sebagai perwujudan nyata sebuah toleransi antar umat beragama. Toleransi yang sama diakuinya sudah terjalin sejak zaman khalifah penerus perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Dokternya Muawiyah itu namanya Tarjius, orang Kristen. Dokternya Abu Jafar al Mansur, pendiri Abbasiyyah bernama Jirjis, orang Kristen juga. Di bidang kesehatan Islam dan Kristen sudah lama bekerjasama, meski sebenarnya tidak sedikit ulama Islam yang menguasai ilmu kesehatan," tegas Kiai Said.

Bendahara Umum PBNU H. Bina Suhendra yang ikut hadir dalam seranh terima bantuan mengatakan, PBNU saat ini tengah mempelajari kemungkinan bantuan yang sama disalurkan ke rumah sakit lain. "Salah satunya yang sedang disurvey untuk dibantu RS NU Rembang. Bertahap, jika memang ada kerjasama dengan pihak luar lain akan disalurkan secara merata," ujarnya.

Melalui bantuan tersebut, operasional sejumlah rumah sakit yang dikelola di bawah naungan NU diharapkan bisa semakin meningkat. Sejalan dengan hal tersebut, layanan kesehatan ke masyarakat, khususnya Nahdliyin juga ditekankan harus bisa ditingkatkan.

"Yang bagus dari Kristen Mormon ketika membantu juga menyertainya dengan pelatihan penggunaan peralatan yang diberikan. Mereka juga mensurvey sendiri alat apa yang dibutuhkan, jadi apa yang diberikan diharapkan bisa dimanfaatkan sengan maksimal," tuntas Bina.

Penulis: Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Desember 2017

Indonesia Berkomitmen Bangun Suriah Setelah Konflik Panjang

Damaskus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Indonesia melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Wijaya Karya (Tbk) berkomitmen untuk membangun Suriah kembali pasca konflik berkepanjangan dan Pemerintah Suriah siap memberikan dukungan kemudahan bagi keterlibatan Indonesia di Suriah. Hal tersebut terungkap dalam pertemuan antara delegasi PT Wijaya Karya (WIKA) dengan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Suriah, Husein Arnous, di Damaskus.

Indonesia Berkomitmen Bangun Suriah Setelah Konflik Panjang (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Berkomitmen Bangun Suriah Setelah Konflik Panjang (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Berkomitmen Bangun Suriah Setelah Konflik Panjang

“Kami mulai mencanangkan program Rebuild Syria (Membangun kembali Suriah) pasca kehancuran oleh para teroris. Dan kami sangat berharap PT WIKA dari Indonesia dapat terlibat dalam pembangunan pasca konflik. Prioritas Pemerintah Suriah adalah pembangunan gedung yang hancur, seperti rumah, saluran air, rumah sakit, dan sekolah," pinta Husein Arnous pada pertemuan Jumat (9/9) melalui siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahad (11/9).

Menanggapi hal tersebut, Manajer Divisi Operasi Timur Tengah dan Afrika Utara PT WIKA, Bimo Prasetyo menyampaikan bahwa WIKA telah berpengalaman tinggi pada proyek konstruksi cepat pasca bencana.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Menghadapi tantangan yang serupa dengan kerusakan Suriah pasca konflik, WIKA berpengalaman dalam pembangunan Aceh pasca bencana tsunami? pada 2004 silam. Selain itu, WIKA juga kini dipercaya oleh banyak negara untuk mengerjakan proyek penting, seperti mall dan jembatan di Malaysia, jalan tol di Myanmar, bandara di Thailand, juga Libya, Timor Leste, dan Dubai," kata Prasetyo.

Menurut Duta Besar RI untuk Suriah, Djoko Harjanto, hubungan Indonesia Suriah mencapai titik yang sangat baik, mengingat Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Damaskus yang tidak hanya tetap bertahan di Damaskus, tetapi juga berkiprah cukup aktif di tengah konflik Suriah. “Tinggal bagaimana kalangan bisnis di Indonesia dapat memanfaatkan peluang besar di Suriah yang telah terbuka lebar ini menjadi keuntungan ekonomi,” ujar Dubes Djoko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Suriah mengalami konflik berkepanjangan sejak tahun 2012 dan semakin diperparah dengan munculnya kelompok teroris ISIS yang berpusat di kota Raqqah Suriah. Kota-kota penting di Suriah hancur akibat serangan mortar dan bom, seperti Aleppo, Idlib, juga beberapa titik penting di ibukota Damaskus. Indonesia adalah salah satu dari sedikit negara yang mempertahankan misi diplomatiknya dengan kepala perwakilan duta besar di ibukota Damaskus.

Pada pertemuan terpisah antara PT WIKA dengan Hamsho Group, perusahaan konstruksi terbesar di Suriah, dijajaki pula tentang kerja sama proyek pembangunan pasca konflik di Suriah, terutama perihal kemampuan lembaga keuangan penjamin dan cara pembayaran, mengingat Suriah masih terbelenggu embargo ekonomi. Hamsho Group tertarik bekerja sama dengan PT WIKA pada renovasi bandara internasional Damaskus dan pembangunan gedung apartemen yang hancur. Hamsho Group merupakan holding company yang menguasai bisnis strategis di Suriah, seperti konstruksi, telekomunikasi, dan media.

Ditambahkan oleh Pejabat Fungsi Ekonomi KBRI Damaskus, Makhya Suminar, KBRI Damaskus siap memfasilitasi kalangan bisnis di Indonesia yang ingin terlibat dalam pembangunan kembali Suriah. “Peluangnya terbuka sangat lebar. Bahkan Indonesia adalah satu-satunya kedutaan yang hadir pada pameran Rebuild Syria 7-11 September 2016,” pungkas Makhya. (Red: Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 29 November 2017

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Nahdlatul Ulama (NU) telah meng-ikhbar-kan 1 Ramadhan jatuh pada Senin, 6 Juni 2016. Hal ini berdasarkan keputusan dan ketetapan yang dilakukan oleh pemerintah melalui sidang itsbat pada Ahad (5/6) malam. Ketetapan ini berdasarkan pada pengamatan Hilal di 93 titik yang disebar oleh Kemenag dengan menggandeng LAPAN, Lembaga Falakiyah PBNU, dan lain-lain.

Nahdlatul Ulama tetap berpegang teguh pada metode rukyatul hilal sebagai instrumen penetapan awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan dan Syawal. Langkah ini sama sekali tidak menafikan metode Hisab, karena metode perhitungan secara matematis ini perlu dibuktikan secara empiris. 

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, KH Ghazali Masroeri sering menekankan kepada seluruh masyarakat bahwa NU sama sekali tidak menafikan metode hisab, tetapi justru NU menggunakan metode hisab dengan almanak yang diterbitkan setiap tahun. 

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Namun demikian, berangkat dari Sabda Rasulullah SAW, “Berpuasalah setelah melihat bulan, dan berlebaranlah setelah melihat bulan”, NU tidak berhenti di satu metode, tetapi berusaha membuktikan perhitungan matematis secara empiris dengan mengamati hilal secara langsung.

Demikian sekilas ulasan tentang Majalah Risalah Edisi 61/Tahun X/1437 H/Juni 2016 yang merupakan edisi terbaru. Selain mengulas persoalan puasa, Majalah yang kini dikemas dengan tampilan yang lebih besar ini juga melaporkan kegiatan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diselenggarakan PBNU pada 9-11 Mei 2016 lalu di JCC Senayan Jakarta. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian, momen bulan haji juga dimanfaatkan Redaksi Majalah Risalah untuk mengulas perkara haji yang kini banyak mengalami perubahan secara pembiayaan yang lebih murah. Tentu hal ini merupakan kabar baik bagi para calon Jamaah Haji. Hal menarik lain yang juga perlu diketahui yaitu, Kementerian Agama mengeluarkan peraturan bahwa jemaah yang sudah pernah melakukan ibadah haji tidak diperkenankan berangkat lagi agar memberi kesempatan kepada jemaah yang belum pernah melakukan ibadah haji.

Edisi terbaru yang terbit 66 halaman ini juga memuat berbagai informasi dan bacaan substantif lain. Di bagian akhir majalah ini, terdapat tulisan renyah dari Dosen muda Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, Fariz Alniezar yang mengulas tentang moderatisme keislaman yang selama ini diteguhkan oleh NU sehingga corak Islam khas Nusantara kerap menjadi inspirasi bagi carut marut dunia Islam selama ini. Selamat membaca! (Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 28 November 2017

Bibir Seksi

Pejalanan pulang melalui jalur darat selesai menunaikan haji. Pilihan kami ini bukan tanpa alasan, guru kami pernah berpesan; kalau pun harus terbang jangan sampai hal itu membuatmu merasa tinggi. 

Ingatlah bahwa di bawah sana banyak kekasih-kekasih Allah yang hidupnya sederhana. Selain itu, perjalanan darat menawarkan kepada kami tentang rihlah sejarah.

Bibir Seksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bibir Seksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bibir Seksi

Jalur yang kami lewati antara kota suci Mekah dan Tarim melalui kota tua Sana’a, ibu kota Yaman, dan tempat bersejarah lainya seperti daerah Darwan yang terletak di sebelah barat daya Sana’a. Daerah Darwan oleh para pakar sejarah Islam diperkirakan adalah daerah pemukiman Ashabul Jannah yang disebut-sebut Allah dalam dalam kitab suci Nya. Konon, Darwan memiliki kwalitas tanah tersubur yang berada di muka bumi, sehingga tidak sedikit buah-buahan, kurma, anggur, dan berkah bumi lainnya dihasilkan dari daerah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pagi hari kami telah melewati perbatasan. Kala itu, urusan imigrasi di perbatasan rada tersendat, tampaknya ada sedikit masalah dengan paspor kami, sebelum akhirnya uang dapat mempermudah urusan. Dari perbatasan ke Sana’a kami menyewa travel. Biaya yang ditawarkan si sopir cukup mahal, yaitu 15 dinar. Satu dinar pada saat itu senilai sama dengan sekitar 75 ribu rupiah, atau sekitar 30 riyal. Namun setelah jadi tawar-menawar yang cukup ulet, si sopir menurunkan 1 dinar per orang. Aku, Xafi dan Umar, masing-masing membayar  120 riyal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Travel yang kami tumpangi tak lain adalah mobil SUV tua peninggalan penjajahan Rusia. Mula-mula kami ragu, namun setelah berjalan beberapa saat kemudian kami mulai menikmati. Ternyata mobil Eropa sangat nyaman walaupun segi fisik terlihat usang. Di luar dugaanku, mobil sangat cepat melibas jalanan, terkadang juga harus melintasi gurun untuk menempuh jalan pintas. Masih sekuat mobil-mobil Rally Paris Dakkar yang sering aku lihat di televisi dulu. 

Debu-debu mengepul di sisi kanan-kiri kaca, sesekali mobil melakukan jumping ketika menabrak gundukan-gundukan kecil. Suspensi yang masih baik membuat kami tidak begitu merasakan benturan yang keras di dalam mobil.

Ketika aku mulai berbicara heart to heart, menceritakan tentang masa laluku, Xafi akhirnya mulai terbuka. Ia kali ini tidak lagi menghindar dari pertanyaanku. Sepanjang perjalanan ia bertutur tentang masa lalunya yang penuh dengan kegelapan dan kebimbangan, sebelum akhirnya datang petunjuk Tuhan.

“Aku tidak tahu bagaimana mulanya. Saat itu umurku menginjak 15 tahun, seperti kebanyakan remaja lainnya di negeriku, aku hidup dalam kebebasan dan mulai berani mengekspresikan hayalan liar. Aku tidak tahu siapa ayahku. Aku hanya tinggal bersama ibuku di sebuah apartemen tua. Pada suatu malam aku bermimpi mendengar sebuah nyanyian, namun entah nyanyian apa itu? Semacam bunyian-bunyian akapela, kedengaran seperti paduan suara di gereja-gereja.” 

“Semenjak itu, mimpi yang sama sering hadir dalam tidurku. Semakin sering terjadi aku semakin penasaran. Ada satu lirik yang aku coba ingat, dan lirik itulah yang kemudian aku tanyakan kepada ibuku. Namun ibuku tidak tahu. Aku coba bawa masalahku ini ke sekolah dan aku tanyakan kepada guruku. Tapi apa jawaban yang kudapat? Katanya aku mengalami gangguan jiwa. Aku disarankan menajalani terapi. Aku merasa baik-baik saja. Aku tak merasa menyimpang dari sebelumnya, selain aku mulai malas datang ke gereja, dan bagiku itu wajar, seperti kebanyakan teman sebayaku yang mulai kenal dengan kehidupan luar. Tak sengaja ada seorang guru sejarah yang mendengar masalahku. Ia kemudian menemuiku dan menjelaskan apa yang sebenarnya kualami. 

“Nak, lirik itu adalah bunyi-bunyian dalam Islam,” jelasnya tentang apa yang kudengar dalam mimpi. 

“Ya, aku tahu ada Agama Islam, tapi aku tak tahu kalau ada suara seindah itu dalam Islam. Lalu aku tanyakan kembali, “Sesungguhnya apa yamg kudengar ini, Pak? Lagu, novel, atau apa?” 

Guru sejarah itu tersenyum kecut, “Lupakan saja. Itu hanya nyanyian peperangan, dalam sejarah kelam bangsa kita!”.

Di lain hari aku menemui seorang biarawan, aku rasa dialah yang alim dalam urusan agama. Barangkali ia pernah mendapat pelajaran tentang perbandingan agama, dan pasti dia sedikit banyak tahu tentang Islam, dan tentunya ia tahu lagu apa yang sering kudengar dalam mimpiku. Biarawan itu kaget mendengar pertanyaanku. 

“Baiklah, akan aku beritahu. Mimpimu adalah sadarmu, dan yang kau dengar itu sebenarnya bukan nyanyian, melainkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, seperti Injil dalam agama kita. Ayat yang kau dengar itu menerangkan tentang siapa Tuhan menurut agama mereka? Allah adalah Tuhan, dan yang disebut Tuhan pastilah baik. Hanya saja konsep Tuhan menurut kita beda dengan konsep Tuhan menurut mereka yang cuma satu.” 

Nak, kata guru sejarah, mimpimu itu adalah teguran dari Tuhan agar kau rajin-rajin beribadah!

Setelah mendapat jawaban dari biarawan itu, aku mulai belajar tentang Islam. Sampai akhirnya aku benar-benar yakin. Dua tahun kemudian aku pergi ke Casablanca untuk meresmikan keyakinan baruku. Aku mengucapkan Syahadat di bawah bimbingan seorang Syeikh. Dan Sekarang, ya seperti yang kau lihat sendiri, dan Alhamdulillah aku sudah menenuaikan rukun ke lima ini bareng Kamu” Begitulah kira-kira cerita Xafi yang bisa kutangkap.

“Lega bukan rasanya sudah menenunaikan kewajiban?” tanyaku mengomentari ceritanya.

“Belum.” Xafi kulihat membuang pandangannya ke luar mobil.

“Kenapa?” tanyaku kembali.

“Aku selalu berdoa, agar ibuku mendapat petunjuk!” Xafi lalu diam. Suaranya agak serak ketika menjawab pertanyaanku. Dan aku, tahu, semua orang pasti ingin ibunya bahagia.

Umar yang mengajak pulang naik pesawat rupanya sangat kesal karena aku dan Xafi memilih perjalanan darat. Sepanjang perjalanan ia hanya diam, cemberut. Mungkin karena aku tidak memihak kepadanya. Aku bisa memaklumi. Namun aku sengaja memberinya pelajaran seperti ini. Biar dia tidak mudah menghina orang-orang miskin. 

Mobil berhenti di kota Harad untuk mengisi bahan bakar. Si sopir memberi kami waktu sebentar untuk membeli perbekalan, atau sekadar istirahat sejenak. Karena setelah ini kami akan menempuh perjalanan yang sangat panjang, ratusan mil jauhnya. Melewati gurun sahara, padang pasir yang tak bertuan, dan lembah-lembah yang sangat tandus. Mungkin senja hari kami baru sampai di kota Hamr, itu pun jika tidak terjadi gangguan dalam perjalanan, seperti ban kempes dan lainnya. Kami gunakan jeda tersebut untuk mandi. Betapa segarnya yang kurasa, tubuh tidak lagi terasa gerah. Plikat-plikat keringat telah luruh dibasuh air suci. Umar lalu pergi ke rumah makan untuk membeli perbekalan, barangkali roti dan air minum. Aku dan Xafi melakukan relaksasi sejenak dengan saling memijat bergantian.

Tidak sampai satu jam kami istirahat si sopir mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Kota Harad tidak begitu besar, namun kota Harad adalah satu-satunya kota yang paling besar yang kami lewati semenjak dari perbatasan. Dari kota ini  mobil mendapat tambahan satu penumpang. Ia duduk di depan bersama sopir, sedangkan kami tetap pada posisi semula.

Mobil berjalan meninggalkan kota, lalu desa dan lepas meninggalkan pemukiman. Dari balik kaca depan mobil yang tampak hanya genangan air yang menggeliat di atas permukaan tanah. Sebenarnya aku kasihan pada Umar. Aku yang kurus saja merasa gerah, apalagi dia. Tapi bagi saya pribadi, perjalanan ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Bagai suku-suku Arab nomaden dalam melakukan surfive kehidupan. Ada banyak sejarah, tetesan keringat dan darah yang perlu aku renungi dari perjuangan islam sepanjang perjalanan ini. Beginikah rasanya mereka dahulu dalam menyebarkan agama? Memangkas potongan-potongan siksa untuk menebarkan pahala. Sungguh, aku merasa tidak ada apa-apa, bahkan debu yang mereka injak pun aku tak sebanding.

Perasaan jenuh gerah dan yang tak enak-enak sudah mulai berdatangan, namun kota Hamr masih jauh di ujung mata. Bosan memang membosankan, tapi di saat seperti inilah saat yang tepat untuk melatih kesabaran. Bau tak sedap keringat bercampur kunyahan daun ghot penumpang dari Harad menambah memperburuk suasana. untung saja dulu aku sudah terlatih dengan semacam ini ketika naik kereta ekonomi jurusan Jakarta. Hanya saja panas dan debunya tak separah di sini.

Di tengah-tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk melaksanak shalat Jamak Ta’khir, dhuhur di waktu ashar. Mobil menepi, dan semua penumpang turun. Kami mengambil air wudlu dari sebotol aqua ukuran 1,5 mili liter yang telah kami persiapkan sebelumnya. Hanya sebentar mobil kebali berjalan. Suasana sudah tak sepanas sebelumnya. Satu jam perjalanan nampak mentari mulai menuruni balik bukit dan mulai menjauhi arah laju mobil.

Di depan jauh sana aku melihat seperti ada sesosok manusia berjalan. Aku perhatikan benar siluet tersebut. Jika benar-benar orang, mungkin dialah satu-satunya pejalan kaki yang kami temui di sepanjang perjalanan. Aku mulai yakin ketika mobil semakin dekat. Nampaknya seorang wanita sebatang kara. Entahlah apa ia tertinggal dari rombongannya, atau penduduk setempat? Tapi sepanjang aku memutar mata, tidak kudapatkan pemukiman di sekeliling jalan yang kami lalui.

Mobil melintasinya perlahan. Dari dalam aku melihat wanita itu berjalan sempoyong tak berdaya. Seketika hatiku terketuk tak tega. Aku meminta sopir untuk berhenti, pedal gas diinjaknya dalam, dan ban menggasut tanah liat memunculkan asap debu.

Aku bergegas turun menghampirinya.

“Assalamualaikumm..”.

“Salamun qaulan min rabbir rahim..”[1] jawab wanita itu atas salam yang kuucapkan.

“Yarhamukillah.. wahai fulanah, apa yang kau perbuat di tempat seperti ini?”

“Wa man yudllil fala haadiya lah!”[2] jawabnya.

“Maksudmu apa?”

 “Wa man yudllil fala haadiya lah!”[3] Jawaban sama yang kudapatkan darinya.

Aku tidak paham. Lalu memanggil Xafi untuk membantu menanyainya. Xafi turun dari mobil dan berdiri di sampingku. Tapi tetap saja wanita itu menjawab dengan kalimat yang sama “Wa man yudllil fala haadiya lah!”[4] Xafi yang cerdas segera tanggap dengan jawaban tersebut. “Mungkin maksudnya: dia sedang tersesat!”

“Emm..baiklah. terus antum hendak kemana?” tanyaku lagi kepada wanita itu.

“wa atimmulhajja wal ‘umrata lillah… fa man lam yajid fashiyamu tsalatsati ayyamin filhajji wa sab’ati idza raja’tum..ala bu’dan li’adin qaumi hud…”[5] jawabnya.

Xafi tampak berpikir memahami jawaban wanita itu, lalu setelah mendapatkan ia coba menjelaskan kepadaku. “Mungkin maksudnya; ia baru saja menunaikan ibadah haji, dan sekarang ia dalam perjalanan pulang ke rumah yang kemungkinan berada di sekitar Syi’eb Hud.”

Aku mulai memahami cara berbicara wanita ini. Dia selalu menggunakan ayat-ayat Al- Qur’an dalam memberikan jawaban. Ini seperti bermain sanepo. Tidak ada jawaban yang diutarakan secara langsung. Untung saja xafi mudah tanggap dengan jawabannya.

“Wahai Fulanah, mengapa kau tak menjawab dengan biasa? Bisakah kau berbicara sepertiku? Maksudku dengan bahasa percakapan.” Aku membujuk agar dia tak lagi menggunakan bahasa Sanepo, dan percakapan kami dapat berlangsung dengan mudah.

“ma yulfadzu min qaulin illa ladaihi raqibun ‘atiid….”[6]

Astaghfirullah.. jawaban yang mematikan, aku menyerah. Sudahlah, aku tidak bisa memaksa orang untuk memahamiku, tapi bagaimana sebaiknya aku sekarang bisa memahaminya.

“Anda berasal dari mana?” lanjutku.

“wa la taqifu ma laisa laka bihi..”

“cukup..cukup” putusku. Aku semakin pusing dengan jawabannya yang tidak membantu.

Baiklah, begini saja. Beri aku jawaban yang mudah, agar aku bisa menolong, atau setidaknya membantumu?! Ee, sudah berapa hari anda tersesat?”

“tsalatsa layalin sawiyya; .” [7]

Hah, tiga hari?! 

“Emm, kelihatannya kau kehabisan makanan?”

“Huwa yuth’imuni wa yasqin: .”[8] jawabnya seolah tak perduli.

Sebenarnya aku sebal dengan percakapan yang kaku ini. Tapi aku tak tega melihatnya. 

Aku coba menggiring percakapan ini ke yang lebih baik, tentunya untuk dia. Bagaimana dia sudah tiga hari tersesat di gurun tanpa tersisa bekal. Akan tetapi bagaiman aku bisa membantunya jika percakapan masih berlangsung seperti ini. 

“Maukah kau kuambilkan makan dan minuman?”

“Tsumma atimmus shiyama ilal laili”[9]

Penolakan yang halus. Tapi aku berusaha membujuknya untuk menerima bantuan dari kami. Baiklah jika dia ingin berpuasa, tapi apakah dia tidak memikirkan kondisi tubuhnya yang sudah tak berdaya seperti itu.

“Tapi sekarang bukan bulan Ramadan!” bujukku.

“wa man tathawwa’a khairan fa innallaha syakirun ‘alim..”[10]

“Hemm.. pintar! Tapi bukankah kita diperbolehkan tidak berpuasa dalam perjalanan!” desakku.

“wa an tashumu khairun lakum in kuntum ta’lamun..”[11]Lagi-lagi hujah yang ia katakan membuatku mati kutu. Mendengar jawaban-jawaban yang tak membantu itu xafi menyuruhku untuk meninggalkan saja. Aku sendiri masih bimbang.

“Baik lah.. mohon maaf jika kami telah menganggu perjalanan anda? Sekali lagi mohon maaf..”

“La tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum….. la tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum….. la tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum..///”[12] 

Begitu aku mendengar dia memaafkanku dengan cara yang sama, hatiku tiba-tiba tersentak. Ini orang bukan sembarangan, pikirku. Jarang sekali orang berbicara demikian. Al-Qur’an dan Al-Qur’an, tidak ada yang lain.

Aku yang sebenarnya sudah mulai putus asa timbul niatan untuk memberinya tumpangan. Tapi aku tidak berhak sepenuhnya atas itu. Jadi aku perlu minta ijin lebih dahulu pada si sopir, dan penumpang lainnya. “Itu terserah kamu? Tapi apa yang lainnya setuju?” kata Xafi. “Mangkanya itu?” jawabku lalu menemui si saik. “Asalkan membayar? Sepuluh orang pun boleh?” katanya. Tapi rupanya temanku yang satunya lagi keberatan. Aku memaklumi karena Umar memang orang yang kaku, kolot, cenderung fundamentalis dalam bermazhab.

“Ini bukan soal mahrom dan tidak. Juga bukan soal halal haram, Mar! Cobalah sedikit lebih toleran..! Ini soal nyawa perempuan itu, Mar?!”

“Tetap saja tidak bisa!” jawab Umar bersikukuh pada pendiriannya.

“Baiklah, kalau tidak boleh, aku dan saleh akan tetap tinggal!” kata Xafi membelaku.

“Oh, jangan.. jangan..!” Umar ketakutan. Karena ia sebenarnya jarang bepergian dan takut bila sendiri. “Ya sudah.. Tapi jangan kau dudukkan wanita itu bersamaku!”“Kebetulan,” kata hatiku.

Xafi nyengir. Umar cemberut membuang mukanya ke kaca sebelah. Aku lalu menghampiri wanita tersebut untuk menawarkan tumpangan.

“Maukah kau ikut bersama kami?” kataku menawari.

“wa ma taf’alu min khairin ya’lamhullah; ..”[13] jawabnya berkali-kali.

Niat yang tidak sia-sia, besitku dalam hati.

Akhirnya dia menerima tawaranku. Aku mengajaknya ke mobil. Aku bukakan pintu. Lalu wanita itu segera masuk. Tanpa sengaja ketika naik kepala wanita itu terbentur ke dinding pintu. “Inna lillahi..” wanita itu terjatuh ke tanah. Jubahnya semakin penuh dengan balutan debu. Ia berusaha bangkit sendiri. Aku semakin tak tega.

“Wa ma ashabakum min mushibatin fa bima kasabat min aidikum;..” ujarnya sambil meraih badan mobil untuk bangkit.

“Ishbirii, Ya ukhti..”[14]

“Fa fahimnaha sulaiman;..”[15] balasnya santun.

Aku mempersilakan ia kembali masuk ke dalam mobil.

“Qul lil mu’minina yaghudldlu min absharihim;..”[16] perintahnya menggunakan perintah Tuhan. Ia sepertinya mau membuka khimar yang menghalangi pandangannya.

“Baiklah, kami akan memejamkan mata. Silakan masuk, Ya Ukhti!”

Saat aku buka mata wanita itu telah berada di dalam mobil. Aku segera masuk menyusulnya. Si sopir menjalankan mobilnya kembali.

“Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun;..”[17] ucap wanita itu di awal laju.

Xafi yang berpindah di jok belakang melantunkan Qasidah dari diwan haddad kesukaannya. Suaranya begitu merdu, meliuk-liuk serupa seruling. Tapi entah mengapa wanita itu tidak begitu suka, dan menghentikan dengan membaca ayat “waqshid fi masyika waghdluld mis shautik.. waqra’uu ma tayassara minal qur’an;…”[18]

Xafi berhenti bersenandung, dan si saik memelankan laju mobilnya. Aku menengok ke belakang, kulihat umar semakin cemberut. Aku senang, setidaknya ia mau toleran dengan sesama umat manusia. Hehehe, aku tersimpul di samping wanita itu, di dalam mobil yang melaju yang terasa nyenyap, tidak ada qasidah yang disenandungkan, tidak ada diantara kami yang hafal alqur’an, sedangkan wanita itu sendiri juga diam.

“Apakah anda sudah mempunyai suami?” Tanyaku coba mencairkan suasana.

“Ya ayyuhalladzina amanuu la tas`aluu ‘an asyya`a in tubda lakum tasu`kum:..”[19]

Hehehe.. Aku sudah kehabisan akal untuk mencari cara. Lagi-lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang ia lantunkan bagai senjata mematikan. Dan hal itu juga membuatku semakin yakin akan mukjizat Al-Qur’an dalam mengalahkan lawan bicara.

Kami semua diam seiring mentari tenggelam. Mobil merangkak di atas jalanan padang pasir, bagai siput menuju kota Himr. Kesunyian semakin bertambah ketika langit semakin gelap. Tidak ada suara lain di dalam keheningan senja, kecuali derum mobil yang menabuh dinding penjuru. Diantara kesepian itu, sesekali terdengar si saik dan penikmat daun ghot berbincang-bincang dengan bahasa yang tak kupahami. Bahasa arab dalam intonasi mereka terdengar seperti bahasa madura saja, membuatku geli ingin tertawa, tapi kutahan, aku takut mengganggu ketenangan wanita di sampingku. Setelah yakin memasuki waktu Maghrib aku tawarkan air dan roti. Ia menerimanya. Aku minta kepada umar untuk berbagi madu dengan wanita itu. Barangkali rasa manis dapat membantu mengembalikan staminanya.

Sungguh banyak sekali orang di negeriku yang hafal Al-Quran, namun sedikit sekali yang seperti dia. Aku teringat kata Alhabib; Al yamanu ilmu wal amal. Yaman adalah tempat ilmu dan amal. Mungkin karena itu orang di negeriku tidak, atau belum ada yang sepertinya. 

Ketika sampai di pemukiman kami segera mencari kafilah, barangkali ada diantara mereka yang mengenal perempuan yang bersama kami. Kami sadar bahwa dia tidak bisa berlama-lama bersama kami. Dalam budaya dan tradisi arab perempuan yang bukan muhrim tidak mungkin bersama lelaki lain, kecuali dalam keadaan memaksa (dlarurat). Maka aku minta kepada si saik untuk membawa kami ke penginapan yang ada di desa tersebut. Setelah bertanya pada penduduk setempat mobil bergerak pelan menuju ke tengah-tengah pemukiman, tempat satu-satunya penginapan itu berada.

“Ya Fulanah! Adakah kau mempunyai seseorang yang bisa aku hubungi?” Tanyaku dalam bahasanya.

Perempuan yang sampai saat ini belum ku tahu namanya itu hanya mengangguk. “pelit amat kau!” besitku dalam hati. Sungguh padahal di negeriku ada pepatah; barang siapa malu bertanya maka sesat di jalan. Ini orang sudah tersesat, masih pelit bicara. Aduh, pasti orang seperti ini di negeriku akan selamanya tersesat. Bukan karena dia tidak baik, melainkan apalagi di daerah sumatera, konon orang yang paling baik adalah orang yang menyesatkan penanya jalan.

“Siapa?”

“Wa qad Ahsana bii idz akhrajanii min assijni wa ja~a bikum min albadwi min ba’di an nazagha asysyaithanu bainii wa baina ikhwatii”[20]

Dengan jawaban tersebut aku tahu kalau dia terpisah dari saudaranya dalam perjalanan. Tidak mungkin orang yang ketat beragama seperti orang-orang Yaman macam dia keluar dari rumah sendirian, seperti yang sudah menjadi kebiasaan perempuan di negeriku, itu tidak mungkin. Setiap kali perempuan-perempuan Hadramiy itu keluar dari sarangnya, pasti ada satu dua keluarga yang menyertai, entah itu ayah atau saudara lelakinya. Tapi ia tidak menyebutkan siapa saudaranya itu.

“Adakah nama yang bisa aku gunakan untuk memanggil saudaramu, Ya Fulanah?”

Mendengarku mengulang pertanyaan aku berharap kali ini yang keluar dari mulutnya adalah sebuah nama, dan bukan teka-teki ayat yang harus membuatku berpikir terlebih dahulu untuk menangkap jawaban. Ia segera menjawab, tapi suara bising mobil menelan mentah-mentah suaranya yang rendah dan pelan itu. 

“Ma? Qul jahran Ya Fulanah!” bentak Umar tidak sabar.

Wanita itu sedikit terkaget dengan suara keras umar, sembari memagangi jantung lalu mengulangi jawaban. Kali ini dengan suara yang cukup keras untuk kami dengar.

“Wa attakhada Allahu Ibrahima khalila…. Ya Yahya khudzi alkitaba bi quwwah.”[21]

Hemm.. Aku kira dia akan menyebutkan namanya saja, namun ternyata nama saudaranya itu juga ada dalam deretan ayat-ayat kitab suci. Aku memandang Umar, umar mengangguk. “Yahya dan Ibarahim,” lanjutku.

“Mungkin?”

“Coba kau cari di penginapan!” ujarku kepada Umar.

“Ah, tidak. Kau saja yang keluar!” kelitnya.

“Banci!”

“Ma huwa banci?” Tanya Xafi atas bahasa asing kami.

“Banci ‘inda lughatil arab; khuntsa, ya Xafi!” jelasku

Xafi tertawa mendengarnya.

“Amma inda lughat Asbaniyyah: Afimanado” lanjut Xafi memberi dalam bahasa Spanyol.

“Tak pantas kau bernama Umar! Lebih baik jika kau kujuluki Afimanado, benarkan seperti itu?”

“Na’am.. Afimanado. Hahaha” Xafi tertawa terpingkal-pingkal.

“Kenapa tak pantas?” tampik Umar nampak marah ditertawakan.        

“Memang tak pantas. Umar itu nama seorang yang pemberani, bukan cuman keras doank! Kalau Cuma keras, Abu Lahab juga keras, alias kolot!”

Umar melawan, mencoba membantah tuduhanku atas dirinya. Dia coba memintaku untuk diam di dalam mobil. Xafi melerai percekcokan kami. Tapi aku tak hiraukan, lalu keluar menuju penginapan. Si sopir menyusul di belakangku, dan mendahuluiku ketika masuki pintu penginapan.

Perasaanku sangat jengkel terhadap Umar. Aku suka orang yang teguh dalam beragama, keras dalam mempertahankan prinsip, tapi aku tak suka dengan orang yang ‘sok’ seperti Umar. Teramat jauh perangainya bila dibandingkan dengan Umar yang habib, guru kami. Umar ini bisanya cuma meniru kerasnya saja, tidak alim apalagi saleh. Beda dengan guru kami, keteguhannya mendasar, murah senyum dan murah hati dengan umat, kendati berdisiplin keras akan tetapi untuk pribadi dan keluarganya sendiri.

Seorang syeikh yang mempunyai penginapan tersebut keluar menemui kami. Aku masih ingat, saat itu ia menyebut serta marga keluarganya. Ya, nama marga yang tidak asing bagi telinga orang indonesa macam aku, satu-satunya keluarga bermarga Baswedan di desa tersebut, seperti nama seorang tokoh yang cukup terkenal di negeriku.

Syeikh Aqil si tuan penginapan itu meminta maaf pada kami karena kamar di penginapannya sudah penuh.

“Oh, bukan itu maksud kedatangan kami ke sini?” kataku coba meluruskan kesalah-pahaman tersebut.

“Sukurlah jika memang seperti itu!” balasnya dengan logat lahm khas Yamannya.

Aku menjelaskan maksud kedatangan kami. Syeikh Aqil sangat khidmat menyimak bahasaku yang agak payah, sembari membelai-belai jenggotnya yang tak lagi hitam, bahkan sudah tampak uban pada alisnya. 

Beliau lalu mengajak kami ke atas. Aku mengikutinya menaiki tangga, sedangkan si syekh tidak ikut masih tetap di bawah. Sesampai di atap loteng kudapati  tamu-tamu penginapan sedang bersantai-santai menikmati angin malam. Beberapa orang di saftah sebelah kiri tangga duduk melingkar, membuat semacam riungan. Di tengah-tengah mereka tersaji cangkir-cangkir yang kemudian aku ketahui ternyata berisi kopi bun. Syeikh Aqil mempersilakan. “Ya, mereka lah tamu-tamu ku. Coba anda Tanya sendiri..” 

“Baik Syeikh”

Dengan harapan salah satu diantaranya adalah saudara wanita yang bersama kami, aku menghampiri mereka.

“Assalamualaikum..”

“Waalaikum salam wa rahmah..”

“Afwan, apakah di antara kalian ada yang bernama Ibrahim dan Yahya?” tanyaku dalam bahasa mereka.

Mereka tidak segera menjawab, saling pandang, berbicara sangat cepat dengan bahasa lahm, terdengar seperti cericau burung manyar. Yang terdengar jelas cuma ketika mengulangi nama yang kutanyakan, “Ibrahimm,. Ibrahimm.. wa yahya.. mitsla anbiya..” ulang salah-satunya.

“Ma fi ismina Ibrahim,” jawab yang lain.

Pandanganku terjatuh. Seketika harapanku buyar kala mendapat jawaban yang nihil. Kasihan kalau tak sampai aku menemukan saudara perempuan itu. Kami tak mungkin membawanya dalam perjalanan malam ini. Sialnya lagi kamar penginapan juga sudah penuh.

“Syukran..”

Aku kembali kepada tuan penginapan. Aku berpikir meminta tolong agar memberitahukan kabar ini kepada semua tamu penginapan yang masih ada di dalam kamar. Syeikh Aqil tidak berani. Pantangan baginya mengganggu pelanggan yang sedang beristirahat, karena salah satu pelayanan yang ditawarkan penginapannya adalah kenyamanan pengunjung. Aku coba mendesaknya, merayunya, agar mau memudahkan. Tapi beliau masih bersikukuh. Lebih panjang lagi, beliau menghadirkan hadits; ma yu’min bi yaumil akhir fal yukrim dlaifahu..aku jadi tak berkutik mendengarnya.

Syeikh Aqil menawarkan untuk datang lagi besok, kami tidak bisa, sebab kami akan langsung melanjutkan perjalanan yang masih bermil-mil jauhnya, mengingat waktu sewa, karena bukan mobil pribadi. Aku sudah menyerah, dan bermaksud membawa serta perempuan itu ke Sana’a. Mungkin lewat tengah kami baru akan sampai tempat tujuan, dan waktu yang sangat lama untuk bersama wanita asing. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah mengambilnya, dan aku pula sekarang yang bertanggung jawab atas keselamatan dirinya.

Ketika turun ke lantai dua terdengar suara pintu yang dibuka. Suara tersebut berasal dari lorong ujung. Aku meminta ijin pada Syeikh Aqil untuk menunggu sebentar. Barangkali ada seseorang yang bakal keluar dari kamarnya, dan tentu harapanku orang tersebut adalah Ibrahim atau Yahya.

Suara jejakan kaki di atas lantai semakin mendekati tempatku berhenti. Lorong yang gelap tanpa penerang membuat wujud suara itu belum juga nampak, mungkin berasal dari kamar yang paling ujung. Antara sesaat kemudian lelaki berbadan tegap muncul dari belik kegelapan. Aku memberanikan diri untuk menyapa dan menghentikannya.

Betapa syukur hatiku ketika kuketahui orang tersebut bernama Ibrahim. Lantas saja ku beritahukan apa yang terjadi. Mendengar penjelasanku Ibrahim juga sangat senang. Ia jabat tanganku dan menariknya kedalam dekapannya. Seperti salaman orang pulang haji. Ia merasa bersyukur.

Aku ajak Ibrahim untuk turun ke mobil memastikan apakah perempuan tersebut adalah saudarinya. Hampir tiap langkahnya ia sertai dengan ucapan terima-kasihnya kepadaku. Aku jadi tak enak sendiri dengan sifat berlebihan itu, walau pun sebagai awam aku juga senang.

Di sudut ruang tamu si saik sudah terkapar tak sadarkan diri. Aku mengajak Ibrahim langsung keluar menuju tempat mobil diparkirkan. Xafi dan Umar kulihat sedang isis di atas permadani yang sengaja mereka gelar di belakang mobil. Sedangkan penikmat daun Ghot sudah tak bernyawa di jok depan. Pikirku juga, mungkin Umar memilih di luar karena tidak nyaman dengan wanita asing dalam satu ruangan, dan bagiku itu juga baik.

Ibrahim segera membuka pintu mobil untuk menghampiri saudaranya. Kudengar dari luar mereka berdua menangis. Barangkali adalah tangis kebahagiaan karena mereka telah dipertemukan kembali. Aku ikut terharu. Xafi dan Umar tiba-tiba telah berdiri di sampingku. Ibrahim keluar menemui kami, dan bilang kalau wanita itu benar-benar saudarinya. Aku mempersilakan ia membawanya dari kami.

Kami bertiga lalu masuk ke penginapan guna memenuhi undangannya. Lagian kami juga perlu membangunkan si sopir yang masih tertidur pulas di ruang tamu.

“Kami tunggu di sini saja..” ujarku ke pada Ibrahim.

“Baiklah. Mau kubuatkan kopi?” tawarnya kepada kami.

“tidak..tidak..” serempak kami bertiga menjawab. Karena tahu, kopi yang dimaksud Ibrahim adalah kopi bun. Ia tidak lebih manis dari jamu bagi lidah kami.

“Ya..ya,, aku tahu” sambungnya. “Kalau sahi kalian pasti suka?”

Ibrahim mengajak saudarinya naik ke kamar meninggalkan kami. Aku membangunkan si sopir. Kali ini aku lihat wajah Umar tak setegang sebelumnya. Ia sudah mulai bisa tersenyum kembali. Xafi memilih berbicang-bicang dengan Syeikh Aqil di ruang sebelah untuk menunggu. Antara beberapa saat Ibrahim telah turun kembali menyapa kami. Sesaat kemudian disusul lelaki lain yang nampaknya adalah Yahya, membawakan sahi dan roti untuk jamuan kami. Aku minta umar memanggil xafi untuk ikut bergabung.

“Bagaimana ceritanya, sampai bisa terpisah dengan saudari anda?” tanyaku untuk memulai percakapan.

“Awalnya kami pulang Haji. Dalam perjalanan di gurun terjadi badai. Kami serombongan berpencar untuk mencari tempat berlindung masing-masing. Badai berlangsung cukup lama dan parah menerjang kami. Saking parahnya, apa yang kami lihat seperti dinding tampak di depan muka. Aku sendiri berusaha menyelamatkan apa yang kami bawa, dan Yahya memegang Kendali onta. Ya, itulah kira-kira yang terjadi saat itu. Setelah badai mereda kami telah kehilangan Wudah. Kami terpisah sejak itu. 

Aku berusaha menacarinya tapi tak menemukan. Kami juga sudah menunggunya lama, tapi Wudah tidak segera muncul. Mengingat perbekalan menipis, kami memutuskan untuk singgah di desa terdekat sebelum mencarinya kembali. Rencana besok pagi kami berangkat mencarinya. Sukurlah kalian telah membawanya terlebih dahulu kepada kami.” Jawab ibrahim dalam bahasanya, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah bercakap-cakap seantara dan telah pula menikmati jamuan kami meminta undur diri. Sebenarnya Ibrahim meminta kami duduk lebih lama, namun kami memaksa berangkat, mengingat perjalanan masih cukup jauh. 

“Masya Allah, aku hamper lupa! Apakah saudari anda tidak berbicara selain itu?”

“Apa? Maksud anda, cara adik saya berbicara dengan menggunakan Ayat-ayat Qur’an?”

“Iya.”

“Seingatku, itu sudah lama, sekitar tujuh tahun yang lalu. Sejak itu ia  tidak lagi bicara kecuali dengan ayat-ayat suci.”

“Subahanallah.. Mengapa?”

“Entahlah.. mungkin dia takut kalau hafalannya hilang!” 

Ibrahim mengantarkan kami sampai mobil.

“Terimakasih.. atas jamuannya..”

“Terimakasih juga, telah membawa Wudah kepada kami..”

“Mohon doanya.. semoga selamat di perjalanan..”

“Amin.. Ma’assalamah wassahalah..”

Aku lepaskan jabat tangan Ibrahim kemudian segera menyusul Xafi dan Umar yang terlebih dahulu masuk. Mobil bergerak melanjutkan perjalanan. Ibrahim tampak masih berdiri mematung melepas kepergian kami. Perasaan menjadi lega, selega perasaan mereka.

Sekitar pukul 23: 30, mobil yang kami naiki melintas melewati Raydah. Tidak ada yang bisa kami lihat atas kota itu kecuali warna gelap malam dengan sedikit pernak-pernik lampu. Sayang perjalanan antara Himr dan Raydah kami tempuh pada malam hari. Andai saja lebih awal kami tiba, setidaknya sebelum petang, tentu kami bisa singgah ke daerah Darwan untuk menengok tempat Ashabul Jannah  berada.

Aku dengar Umar telah mendengkur tidur di jok belakang.  Sedangkan Xafi nampaknya sedang asik menyenandungkan kasidah-kasidah dari Diwan Hadad. Aku sendiri masih terngiang-ngiang akan wanita mulia itu. Bagaimana bisa dia berbicara hanya dengan ayat-ayat Al-Qur’an? Apa dia tidak bosan? Aku tak habis pikir. Hehehe..akhlak yang sangat cantik. Walaupun aku tak sempat melihat wajahnya, aku rasa perempuan itu mempunyai bibir yang seksi. 

Sebentar kemudian aku tak sadarkan diri. Dan terbangun kembali ketika mobil telah berhenti di depan sebuah penginapan di kota Sana’a. aku lihat jam menunjukkan pukul 01.50 dini hari.

_________ [1] .Yasin 58[2] .Al A’raf 186[3] .Idem[4] .Idem [5] . Albaqarah 196 – Hud  60[6] .Qaf 18[7] .Maryam 9 [8] .Assyu’ara 79[9] .Albaqarah 187[10] .Idem 158 [11] .Idem 184 [12] .Yusuf  92[13] .Albaqarah 197[14] . “Sabarlah wahai saudara..”[15] .Al Anbiya 79[16] .Annur 30[17] .Azzukhruf 13 / 14[18] . Luqman 10 – Muzammil 20[19] .Almaidah 104[20] . Yusuf 100[21]. Annisa’ 125 – Maryam 12

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 22 November 2017

NUTIZEN Akan Siarkan Langsung Ngaji Ramadhan di 30 Pesantren

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyambut bulan Ramadhan yang kian dekat, NUTIZEN, media baru berbasis aplikasi yang berisi video, audio, dan news aggregator, sudah menyiapkan teknologi untuk live streaming (siaran langsung) ngaji bulan puasa di 30 pesantren di Indonesia.

“Kami sudah berjejaring dengan teman-teman di pelbagai pondok. Beberapa sudah mulai uji coba livestreaming, berhasil. Tinggal ngaji posonan (Ramadhan-red) saja,” tutur Savic Ali, Direktur aplikasi NUTIZEN, Jumat (27/05).

NUTIZEN Akan Siarkan Langsung Ngaji Ramadhan di 30 Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
NUTIZEN Akan Siarkan Langsung Ngaji Ramadhan di 30 Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

NUTIZEN Akan Siarkan Langsung Ngaji Ramadhan di 30 Pesantren

Pesantren yang sudah uji coba teknologi live streaming ini antara lain Pondok Pesantren Al Munawwir Krapyak, Yogyakarta; Pesantren Al Jihad Surabaya; Pesantren Sirajuth Thalibin Brabo, Grobogan; Pesantren Darul Ishlah Jakarta; Pesantren Asnawiyah Demak, dan lainnya. Bukan hanya itu, beberapa Pengurus Cabang Istimewa NU (PCINU) juga sudah uji coba acara mereka, misalnya, PCINU Malaysia, PCINU Tunisia dan menyusul PCINU di negara lain. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ini adalah ikhtiar sederhana kami sebagai santri untuk berbakti kepada kiai-kiai dan pesantren. Melalui teknologi ini, insyaallah pesantren akan menjangkau lebih banyak jamaah,” tambahnya.

Lalu, bagaimana cara supaya pesantren bisa juga live streaming kegiatan mereka?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Langsung saja kontak redaksi, nanti akan langsung segera ditindaklanjuti atau bisa via media sosial NUTIZEN,” tutupnya.

NUTIZEN sendiri adalah aplikasi yang digawangi oleh anak-anak muda NU dan bergerak di bidang video dan tv streaming. Ada banyak sekali video keislaman dan musik religi yang disajikan sebagai sarana belajar Islam melalui sumber terpercaya. Di aplikasi ini pula pengguna telepon pintar bisa ikut ngaji langsung dengan kiai-kiai sepuh seperti KH Maimoen Zubair, KH Mustofa Bisri, Habib Luthfi, KH Said Aqil Siradj dan lain-lain. Aplikasi ini bisa diunduh gratis di playstore dengan tautan ini. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Internasional, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 13 November 2017

Ada Kemah Antar-Madrasah di Pesantren Nurul Qodiri Lampung Tengah

Lampung Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam rangka mensyukuri hari lahir (harlah) yang kedua, keluarga besar Yayasan Nurul Qodiri 3 Gayau Sakti, Kecamatan Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah, Lampung, menggelar beberapa rangkaian kegiatan selama tiga hari berturut-turut , Jumat-Ahad (19-21/8) dalam bentuk perkemahan taaruf antarmadrasah di kompleks Pesantren Nurul Qodiri 3.

?

Ada Kemah Antar-Madrasah di Pesantren Nurul Qodiri Lampung Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Kemah Antar-Madrasah di Pesantren Nurul Qodiri Lampung Tengah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Kemah Antar-Madrasah di Pesantren Nurul Qodiri Lampung Tengah

Kiai Muslih al Manshuri selaku pengasuh Pesantren Nurul Qodiri 3 mengaku sangat mendukung agenda yang diinisiasi para dewan guru, pengurus pesantren dan peran serta masyarakat sekitar Desa Gayau Sakti tersebut.

?

Menurutnya, kemah ini pihaknya laksanakan sebagai rasa syukur atas usia pesantren Nurul Qodiri 3 yang semakin bertambah. Pihak pesantren mengundang beberapa madrasah atau sekolah yang ada di sekitar Kecamatan Seputih Agung, Kabupaten Lampung Tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dan alhamdulillah diikuti utusan madrasah/sekolah sebanyak 200 peserta lebih," imbuh alumni pesantren Darussalamah Brajadewa Way Jepara Lampung Timur ini ketika dihubungi kontributor Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Sabtu (20/8).

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ahmad Muhlison selaku panitia Kemah Taaruf mengatakan, perkemahan ini mengusung tema, "Mempererat Tali Silaturahmi dan Membentuk Anak Bangsa yang Berakhlak Mulia", dan dirangkai dengan berbagai macam perlombaan antar-Gugus Depan (Gudep), antara lain Adzan, MTQ, Tata Boga, Hasta Karya, PBB (Peraturan Baris Berbaris), Panjat Pinang, dan hari ini di akhiri dengan Bakti Sosial (Baksos) di sekitar lingkungan pesantren Nurul Qodiri 3.

?

"Dan peserta perkemahan ada yang hadir di luar kecamatan Seputih Agung, seperti; Padang Ratu dan Way Pangubuan," tambahnya.

?

Saat ini Yayasan Nurul Qodiri 3 menyelenggarakan pendidikan formal dan nonformal, yakni Raudlatul Athfal Nurul Qodiri 3, Madrasah Ibtidaiyah Terpadu Nurul Qodiri 3, Madrasah Tsanawiyah Terpadu Nurul Qodiri 3, dan Madrasah Aliyah Plus Nurul Qodiri 3. Sedang untuk pendidikan non formal yakni Pesantren Nurul Qodiri 3. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba, Internasional, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 12 November 2017

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Padangpariaman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 34 tuanku dikukuhkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Selain itu, juga diberikan ijazah kelulusan kepada 111 tamatan pondok pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan tingkat tsanawiyah, Bustanul Muhaqqiqin (Ma’had A’ly) sebanyak 5 orang.?

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Imraniyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Idarussalam Tuanku Sutan, Rabu (19/7/2017) di komplek Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Pengukuhan gelar tuanku sekaligus peringatan manyaratuih (seratus) hari wafatnya pendiri Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan.

Tuanku yang dihasilkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, merupakan kader ulama yang memiliki kemampuan menggali sumber-sumber hukum dan ajaran Islam dari berbagai literatur ? klasik yang dikenal dengan kitab kuning. “Santri di Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan membaca kitab kuning yang banyak ditulis oleh ulama-ulama terdahulu yang hingga kini isinya masih relevan,” kata Idarussalam.

Menurut Idarussalam, ada tiga kompetensi yang dimiliki Nurul Yaqin diajarkan kepada santrinya. Pertama, keilmuan yakni ilmu kitab sebanyak 16 bidang. Kedua, skill, yakni kemampuan yang dimiliki santri yang diperlukan dalam kehidupan keseharian di masyarakat. Dimana santri bisa berdoa, jadi imam di masjid/surau/mushalla, berdakwah dan ? menjadi guru mengaji. Ketiga, karakter. Santri diajarkan dan dibiasakan dengan ? sopan santun, etika dan ? mengaplikasikan ibadah.?

“Inilah bedanya Pesantren Nurul Yaqin dengan sekolah lainnya. Di Pesantren Nurul Yaqin, Santri dituntut punya ilmu, skill dan berkarakter yang sangat mendukung dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Idarussalam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pesantren Nurul Yaqin tetap mengharapkan dukungan semua pihak, baik alumni, masyarakat, maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Padangpariaman,” kata Idarussalam.?

Dengan wafatnya pendiri Nurul Yaqin Ringan-Ringan Syekh Ali Imran, maka terdapat dua pimpinan, yakni pesantren dan keilmuan. Pelaksanaan pesantren diserahkan kepada Drs. Almuhdil Karim Tuanku Bagindo. Sedangkan di ? dibidang ? keilmuan, paham, jamaah, tarekat dan wirid, ? dipimpin oleh khalifah yang dinamakan Khalifah Imrani. Untuk pertama kali khalifah Imrani ini dipercayakan kepada Syekh Muda Zulhamdi Tuanku Kerajaan, murid langsung dari Syekh Ali Imran Hasan.?

Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur yang menghadiri acara pengukuhan tersebut mengatakan, para lulusan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan yang sudah dikukuhkan sebagai tuanku diharapkan menjadi ulama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Ilmu yang sudah diperoleh selama belajar di pesantren ini tentu diharapkan dapat bermanfaat bagi diri sendiri, maupun masyarakat di lingkungannya,” kata Suhatri Bur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan, sebagai ulama tentu prioritas utama adalah untuk terus menggali ilmu agama. Sehingga pemahaman tuanku akan sesuai dengan kondisi masyarakat yang dihadapinya. “Pemkab Padang Pariaman memberikan apresiasi terhadap kehadiran Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Amanah dari pendiri pesantren ini memang Pemkab agar memperhatikan perkembangan Pesantren ini. Ini tentu menjadi perhatian kita semuan,” kata Suhatri Bur menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Tokoh, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 08 November 2017

Maksimalkan Kaderisasi, IPNU-IPPNU Jombang Gandeng OSIS

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Sejumlah strategi dan upaya untuk melakukan pengaderan tengah dilakukan Pimpinan Cabang (PC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kabupaten Jombang, Jawa Timur.

Pada Sabtu (20/02/2016) kemarin, mereka menggandeng pengurus OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) Tambakberas, Jombang, untuk memaksimalkan program kaderisasi.

Maksimalkan Kaderisasi, IPNU-IPPNU Jombang Gandeng OSIS (Sumber Gambar : Nu Online)
Maksimalkan Kaderisasi, IPNU-IPPNU Jombang Gandeng OSIS (Sumber Gambar : Nu Online)

Maksimalkan Kaderisasi, IPNU-IPPNU Jombang Gandeng OSIS

Pengaderan tersebut tercermin dengan gelaran Makesta (Masa Kesetiaan Anggota) dengan kuota peserta tak kurang dari 210 siswa madrasah setempat. Kegiatan dibuka oleh Wakil Ketua Bidang Kesiswaan (Wakabid) MTsN Tambakberas Mashuda di gedung serbaguna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Makesta yang berlangsung selama dua hari itu difasilitasi dengan beberapa materi yang sifatnya menumbuhkan semangat kepemimpinan dan pengetahuan tentang IPNU-IPPNU. Di hari pertama peserta mendapat materi kepemimpinan dan keorganisasian, dalam hal ini disampaikan Ketua Keamanan dan Ketertiban (KAMTIB) Yayasan Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan materi selanjutnya tentang kelembagaan IPNU-IPPNU, dipandu Sekretaris PC IPPNU Jombang Nur Isna dan Sekretaris PC IPNU Jombang M Ihsanuddin Haidar. Keduanya memaparkan tentang sejarah bedirinya IPNU-IPPNU, arti logo, visi misi, mars serta perangkat-perangkat yang dibutuhkan.

Program ini sesuai dengan salah satu visi dan misi IPNU-IPPNU Jombang tahun ini, yakni memassifkan kaderisasi baik tingkat pelajar atau kalangan mahasiswa, mengingat letak geografis Jombang sebagai kota kelahiran para pendiri NU. Maka sudah seharusnya pelajar tingkat SMP/MTs sudah mengetahui tentang NU dan banom-banomnya.

"IPNU dan IPPNU adalah pengaderan pertama dalam NU. Jadi kalau mau kenalan sama NU ya masuk IPNU atau IPPNU dulu. Dan lagian kita juga berada di Jombang, yang mana sebagai kota asal para pendiri NU, ada Mbah Hasyim, Mbah Wahab dan juga Mbah Bisri. Apalagi kita di Tambakberas, ada Mbah Wahab pula. Sayang sekali kalau sampai tak kenal Organisasi ini,” katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah usai menyampaikan materinya.

Sementara Izza Diana Maula Shofi, salah seorang peserta Makesta mengungkapkan rasa senangnya dengan kegiatan tersebut. Meskipun ada banyak suguhan materi namun seluruh peserta tampak merasa menikmati dan fokus. "Seru, menyenangkan dan nggak bikin jenuh. Meskipun dari pagi tapi gak bikin bosan. Ada bercandanya juga. Tapi banyak juga materi yang didapat. Jadi lebih termotivasi lagi untuk menjadi seorang siswa yang aktif dan juga sudah mulai paham tentang tugas-tugas siswa ternyata luar biasa," ujarnya. (Syamsul Arifin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 07 Oktober 2017

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care

Lumajang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Keharuan terpancar dari wajah Sawari saat Direktur NU Care-LAZISNU Lumajang Mortamin Syah dan Divisi Marketing M Misto, menyerahkan uang kepada salah satu warga dusun Karangsejati RT 005 RW 007 Desa Dadapan Kecamatan Gucialit, Lumajang, Jawa Timur.

Janda tua penjual rujak itu sudah lama menutup warungnya karena menderita sakit. Niat kembali membuka usaha terganjal ketiadaan modal.

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care (Sumber Gambar : Nu Online)
Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care (Sumber Gambar : Nu Online)

Tangis Haru Janda Tua Penjual Rujak saat Terima NU Care

“Saya sangat bersyukur sekali sampai meneteskan air mata karena bantuan dari NU Care-LAZISNU Peduli. Saya akan menjalankan dengan baik modal ini sampai warung saya berkembang,” kata Sawari, .

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain Sawari ada dua warga lainnya yang hari itu menerima bantuan modal yang diserahkan pada tahap ketiga. Mereka adalah Hari, pemilik warung kopi dan gorengan di Desa Selok Gondang: dan Hasan Adiman, pemilik warung kopi dan gorengan Kelurahan Kepuharjo.

Ketiganya merupakan warga penerima bantuan modal pemberdayaan ekonomi dari NU Care LAZISNU Lumajang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Direktur NU Care-LAZISNU Lumajang, Mortamin Syah mengungkapkan program Ekonomi Mandiri NU Care-LAZISNU Lumajang menyasar 10 warga dan baru pertama kali dilaksanakan.

Besarnya bantuan modal bervariasi bagi masing-masing penerima. Ada yang Rp500 ribu, Rp300 ribu, atau Rp250 ribu.

“Disesuaikan modal awal kulakan (belanja) warung tersebut, misalnya warung kopi, pangkalan bakso, rujak, atau lainnya,” kata Mortamin.

Setiap penerima modal tidak diwajibkan mengembalikan uang bantuan.

“Ini dana hibah modal dari NU Care-LAZISNU tanpa harus mengembalikan. Kalau usahanya sudah lancar, baru kami anjurkan menjadi donatur NU Care dengan mengisi kaleng ZIS yang dititipkan kepada mereka,” ujarnya.

Pihaknya berharap bantuan tersebut dapat memberikan sumbangsih pengembangan usaha, sehingga nantinya warung-warung akan menjadi donatur NU Care-LAZSINU yang memutus rantai kemiskinan. Selain itu juga dapat menjadi uswah keshalehan sosial bagi kaum duafa lainnya. (Kendi Setiawan/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Pemurnian Aqidah, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 03 Oktober 2017

Gus Mus Jelaskan Dua Golongan Perusak Agama

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pejabat Rais Aam PBNU KH A Mustofa Bisri mengatakan, ada dua golongan yang dapat merusak agama. Pertama, orang yang berpura-pura zuhud. Kedua, berbuat kebatilan demi agama.

Poin pertama kata kiai yang akarab disapa Gus Mus, bahwa ada orang yang mengaku meninggalkan dunia, tapi perilakunya malah rakus dengan harta. Ada pula yang selalu santai-santai dalam setiap perbuatannya.

Gus Mus Jelaskan Dua Golongan Perusak Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Jelaskan Dua Golongan Perusak Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Jelaskan Dua Golongan Perusak Agama

“Zuhud seng bener iku wong seng menghargai awakke dewe lan nolak kerendahan, lan pakaiannya ora selalu tembel-tembelan (zuhud yang benar itu orang yang menghargai dirinya sendiri serta menolak kerendahan, bukannya malah suka memakai pakaian? compang-camping),” tuturnya saat mengaji kitab Idhatun Nasyiin di pondok pesantren Roudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Poin kedua, lanjut Gus Mus, orang yang melakukan kebatilan dengan mengatasnamakan agama. Senengane ngafir-ngafirno, bid’ahno-bid’ahno, fasiq-fasiqno wong liyo, koyo yok yok oo. (Sukanya mengkafirkan-kafirkan, mengbid’ah-bid’ahkan, mengfasiq-fasiqkan orang lain, seperti benar sendiri),” terangnya, Senin sore (7/06).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gus Mus mengutip dari Syekh Al-Gholayaniy, agama sekarang ibarat sosok tanpa nyawa, lafal tanpa makna. Sehingga orang terkadang tidak bisa membedakan antara nafsu dan semangat agama.

“Agama itu menerangi, bukan membenci. Agama itu mengajak, bukan menyepak. Agama itu rahmat, bukan kebencian. Agama itu tidak hanya teriak Allahu akbar di pinggir jalan,” tambah putra almarhum KH. Bisri Mustofa ini.

Gus Mus mengungkapkan, bahwa tidak sedikit masyarakat awam yang tertipu dengan penampilan-penampilan orang yang mengaku tokoh agama, tetapi perilakunya jauh dari ajaran agama.

“Jangan lihat jenggotanya, jubahnya, Allahu Akbarnya, tapi lihat perilakunya,” sindirnya disambut tawa santri-santri yang mengikuti pengajian kitab menjelang berbuka puasa di pesantren setempat.

Agama yang benar, tambah Gus Mus, yakni agama yang menjadi pelita bagi peradaban dan pengamalannya sebagai pembimbing kemanusiaan. Makanya, agama dapat membuat orang bahagia, sedangkan yang bikin celaka orang adalah meninggalkan agama.

Untuk itu, Pengasuh Pondok Pesantren Roudltut Thalibin ini mengajak bercermin kepada cara dakwah Nabi dengan akhlakuk karimah, kasih sayang bukan dengan kebencian. Karena dakwah itu mengajak, bukan mentakut-takuti. “Jangan kasih jalan bagi orang-orang yang mengaku tokoh agama tapi tidak mengerti agama,” tegasnya. (Muhammad Zidni Nafi’/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Ubudiyah, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 15 September 2017

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU

Pasuruan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menghadiri Haul Al-Arif Billah KH Abdul Hamid Pasuruan pada (21/12). Ia disambut PCNU Kota Pasuruan dengan mengadakan kegiatan bertajuk "Silaturahim PBNU dengan Pengurus NU se-Pasuruan Raya".

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU

Silaturahim yang berlangsung di aula PCNU Kota Pasuruan tersebut dimulai dengan pembacaan istighosah dipimpin Rais Syuriyah PCNU Kota Pasuruan KH Said Kholil. Kemudian dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dari ketua PCNU Kota Pasuruan KH Halim Masud.

Dalam taushiyahnya, KH Maruf Amin menyampaikan, prioritas kegiatan pokok pengurus NU. Pertama, adalah penguatan Aqidah Ahlusunnah wal-Jamaah An-Nahdliyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Islam Nusantara, kata dia, yang menjadi perbincangan ramai di masyarakat, sebenarnya adalah sebuah kemasan dengan isi Islam Ahlusunnah wal jamaah An Nahdliyah. “Jadi, bukan aliran baru seperti banyak dituduhkan oleh pihak yang tidak mau bertabayun,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan corak dakwahnya yang santun dan teduh, lanjut Kiai Ma’ruf, Islam Nusantara diharapkan menjadi solusi atas problematika bagi dunia Islam dewasa ini.

Kedua, adalah perbaikan dan pemberdayaan jam’iyah dengan prinsip aktif, dinamis, kreatif. Hal itu dilakukan secara berkelanjutan di semua bidang dengan menggalakkan pada sektor ekonomi dan pendidikan.

“Untuk mewujudkan tujuan NU maka diperlukan konsolidasi organisasi dan semangat ke-NU an,” pungkasnya.

Rais Aam menegaskan bahwa NU tidak boleh sekedar besar jumlahnya tetapi kecil perannya. NU harus besar jumlahnya dan besar pula perannya. Maka yang perlu ditingkatkan adalah semangat ke-U-an yang akan mengembalikan kejayaan NU sebagaimana di tangan para pendirinya. 

Acara ini dihadiri para pengurus PCNU Kota Pasuruan dan PCNU Kabupaten Pasuruan dengan dipandu cucu Almaghfurlah KH Abdul Hamid, Muchamad Nailur Rohman. (zulkarnaian mahmud/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Kiai, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 07 September 2017

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gundul-gundul pacul-cul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan wakul glempang segone dadi sak latar. Tembang Gundul-gundul Pacul ditembangkan oleh Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa CakNun saat datang ke Suluk Maleman yang bertemakan Mampir Mabuk, Sabtu (15/4) hingga Ahad (16/4) pagi .?

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk Maleman; Peradaban Mabuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk

Bukan tanpa alasan, Cak Nun menilai ada kesamaan hal yang terjadi antara tembang Gundul-gundul Pacul itu dengan tema yang dibawakan Suluk Maleman edisi ke-64 itu. Baginya para penguasa ibarat bocah gundul yang tengah nyunggi (membawa di kepala, Red) wakul itu.

Jika sang penguasa gembelengan atau diartikan mabuk baik secara tekstual maupun kontekstual maka yang terjadi juga akan sama. Wakulnya glempang. Padahal wakul yang berisi nasi itu bisa diartikan kesejahteraan maupun amanah dari rakyat.

“Padahal sekarang yang terjadi ini wakulnya glempang. Kedaulatannya glempang, akal pikiran bangsa ini glempang, termasuk budaya politik juga telah glempang,” ujar lelaki pimpinan Kiai Kanjeng itu.

Cak Nun pun menegaskan agar setiap individu dapat segera mencarikan solusi dan bukannya menambah masalah. Bahkan dalam mengambil penyelesaian masalah itupun juga harus hati-hati agar tidak menimbulkan permasalahan baru.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita bisa belajar dari tembang e dayohe teko. Di situ diceritakan cara menangani masalah dengan cara yang kurang tepat dan justru menimbulkan masalah demi masalah baru. Seperti saat menambal tikar dengan jadah yang sudah busuk. Tentu itu akan membuat dayoh atau tamu menjadi tidak nyaman bahkan bisa saja marah,” ujar Cak Nun.

Meski begitu Cak Nun tetap mengisyaratkan agar umat Muslim tak perlu khawatir. Karena Allah telah menjamin dalam surat Alam Nasyrah bahwa dalam setiap kesulitan selalu disertakan kemudahan.

“Bahkan bukan sesudahnya namun berbarengan dengan kesulitan itu sendiri. Itu sudah jelas disebutkan,” ujarnya yang kemudian dilanjutkan dengan mengajak para hadirin membaca surat tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Anis Sholeh Ba’asyin menambahkan, dalam menghadapi zaman seperti saat ini agar masyarakat jangan mau dijadikan jangkrik aduan. Karena dalam fenomena jangkrik aduan itu jelas bahwa jangkriknya harus berkelahi mempertaruhkan hidup dan matinya sedangkan pengadunya tertawa cengingisan saat menggelitik jangkrik aduannya itu.

“Begitulah kalau mau menghancurkan Indonesia tinggal mengadu domba orang Islam dengan orang Islam dan sekarang itu tengah dilakukan,” tambahnya.

Penggagas Suluk Maleman tersebut juga menambahkan bahwa dalam era peradaban mabuk ini yang justru perlu diwaspadai adalah orang-orang yang sengaja yang memabukkan diri. Seperti halnya kecenderungan manusia untuk menjadi Tuhan.

“Banyak yang justru mudah melihat ketidak sempurnaan orang lain sedangkan ketidaksempurnaan diri sendiri tidak terlihat. Padahal tidak ada orang yang benar-benar sempurna,” ujarnya.

Kedatangan Cak Nun sebagai salah satu ulama sepuh di Indonesia ini rupanya mampu menarik perhatian ribuan warga masyarakat Pati dan sekitarnya. Bahkan mereka tetap khusyuk menikmati diskusi dan ngaji budaya yang digelar di rumah Adab Indonesia Mulia hingga Ahad sekitar pukul 03.30.

Apalagi dalam diskusi kali ini tak hanya menghadirkan Cak Nun namun juga Presiden Jancukers Sujiwo Tedjo dan Dr Ilyas sebagai narasumbernya. Presiden Jancukers itu juga sempat membawakan sejumlah lagu bersama Sampak GusUran yang tentu kian menghangatkan suasana. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah