Selasa, 21 September 2004

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. NU-CARE LAZISNU Tangerang Selatan akan membuka stand di Bintaro Xchange, Bintaro Jaya, Kota Tangerang Selatan. Stand yang digelar untuk mengenalkan program-program tersebut berada di tengah-tengah pagelaran BritAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 pada Sabtu 12 November mendatang.

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz (Sumber Gambar : Nu Online)
NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz (Sumber Gambar : Nu Online)

NU-CARE LAZISNU Tangsel Kenalkan Program di Festival Jazz

“Tujuan utama NU-CARE LAZISNU Tangsel buka stand di acara BritaAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 adalah untuk menggalang dana dalam rangka santunan anak yatim yang dibungkus dengan acara makan bersama di McD Perempatan Duren tanggal 13 November,” papar Sekretaris LAZISNU Tangsel, Rizky Subagia kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah pada Rabu (9/11) malam.

(Baca: http://www.nu.or.id/post/read/72630/peringati-hari-pahlawan-lazisnu-tangsel-adakan-santunan-anak-yatim)

Rizky menambahkan hal yang tak kalah penting melalui pembukaan stand di Bintaro XChange adalah mengenalkan kepada masyarakat Tangsel khususnya tentang adanya NU-CARE LAZISNU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“NU-CARE Tangsel juga akan mengenalkan program Tabungan Berkah salah satu program andalan kami saat ini,” kata Rizky seraya menambahkan Tabungan Berkah dari NU-CARE LAZISNU Tangsel sangat mudah karena hanya dengan mengisi donasi melalui kencleng (kaleng) yang disediakan NU-CARE LAZISNU Tangsel. Jumlah donasi pun menyesuaikan minat dan kemampuan donatur.?

Melalui rilis yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Promotor BritaAmaX Tangsel Jazz Festival 2016 Dinni Deniasti Atiek mengatakan BritAmaX Tangsel Jazz Festival merupakan pagelaran musik jazz terbesar di Kota Tangerang Selatan.?

Didukung Pemerintah Kota Tangerang Selatan, acara yang diadakan selama satu hari itu akan diisi oleh penampilan artis jazz papan atas Indonesia seperti Glenn Fredly, Iga Mawarni, Fariz RM, Jeffrey Tahalele, Rio Moreno Latin Combo, Amelia Ong, KSP Band, Alsa Quartet, Tiyo Alibasjah dan Ginda Bestari.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara yang pada tahun ini memasuki tahun ketiga, akan diisi dengan bazaar dan produk kreatif warga Tangsel. Selain panggung utama, panitia menyiapkan dua panggung yang dinamakan “BritAmaX Jawara dan Blandongan” yang akan menjadi panggung bagi ? musisi jazz mempertontonkan skill kecanggihan bermusik mereka.

Dari sisi konsep penyelenggaraan acara pada tahun ini berbeda dengan konsep tahun 2015 lalu. Tahun ini TJF mengusung konsep jazz family, jazz yang dapat ditonton oleh seluruh anggota keluarga, mulai anak hingga kakeknya. Selain itu juga jazz yang lebih akrab, hangat, dan memasyarakat. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 26 April 2004

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Indonesia memiliki jumlah masjid paling banyak di dunia. Ada sekitar delapan ratus ribuan masjid yang tersebar dari Sabang hingga Merauke (Kemenag RI, 2014). Uniknya, sembilan puluh sembilan persen dari keseluruhan masjid di Indonesia dibangun dan dikelola masyarakat, sementara sisanya dibangun pemerintah. Hal ini berbeda dengan masjid-masjid yang ada di beberapa negara Islam. Di Arab Saudi, Kuwait, Iran, dan lainnya, masjid dibangun pemerintah. Tidak hanya itu, imam dan marbotnya diatur dan digaji oleh pemerintah.

Pada zaman Rasulullah, masjid menjadi pusat peradaban. Masjid dijadikan sebagai tempat untuk dakwah, pendidikan, pengembangan ekonomi, dan pelayanan sosial. Bahkan, para sahabat melakukan latihan perang pun di depan masjid. Masjid benar-benar dijadikan sebagai pusat kegiatan umat Islam. 

Saat ini, sebagian besar masjid di Indonesia hanya difungsikan sebagai tempat salat saja, tidak lebih. Jika ada masjid yang dijadikan sebagai tempat pemberdayaan masyarakat, itu pun jumlahnya tidak banyak. Kenapa bisa demikian? Sesuai dengan buku Pedoman Muharrik dan Ta’mir Masjid yang disusun Lembaga Ta’mir Masjid PBNU, ada tiga hal yang menyebabkan kondisi masjid di Indonesia seperti itu. Pertama, pengelola masjid yang tidak kompeten. Untuk mengembalikan fungsi masjid sebagaimana seperti zaman Rasulullah, maka dibutuhkan pengelola masjid yang inovatif, kreatif, dan memiliki kemampuan untuk memimpin dan mengelola masjid. 

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Revitalisasi Masjid dan Upaya Memakmurkannya

Kedua, tidak dikelola dengan serius. Pengelola dan pengurus masjid belum memiliki semangat yang tinggi untuk mengurusi masjid secara optimal. Biasanya mereka disibukkan dengan aktifitas kerja masing-masing sehingga kurang begitu memperhatikan masjidnya. Sehingga ada yang menyebut kalau sebagian besar masjid di Indonesia itu la yamutu wa la yahya (tidak hidup, mati pun segan), terutama dalam hal program kegiatannya. 

Ketiga, konflik antar pengelola. Biasanya, konflik antar pengelola disebabkan oleh perbedaan pendapat dalam mengurus masjid. Yang satu menginginkan seperti itu, sementara yang satunya lagi menginginkan seperti itu. Sehingga tidak ada titik temu antar keduanya karena mementingkan ego dan keinginannya masing-masing. Kalau konflik seperti itu dibiarkan, maka masjid akan terbengkalai dan program-programnya tidak jalan.

Syekh Muhammad Said Ramadhan Al-Buthy menyebutkan bahwa masjid merupakan asas utama dan terpenting dalam pembentukan masyarakat Islam. Masyarakat Islam tidak akan terbentuk secara kukuh dan rapi kecuali dengan komitmen terhadap Islam. Hal ini tidak akan bisa ditumbuhkan kecuali dengan cara memakmurkan masjid.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memakmurkan Rumah Allah

Sesungguhnya rumah-rumah-Ku di bumi-Ku adalah masjid-masjid. Dan sesungguhnya yang mendatangi-Ku adalah yang memakmurkannya. Maka beruntunglah orang-orang yang bersuci di rumahnya kemudian mendatangi-Ku di rumah-Ku, maka hak-Ku adalah memberi kemuliaan kepada orang yang datang ke rumah-Ku. (Hadist Qudsi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbicara tentang kemakmuran masjid, maka ada tiga hal yang seharusnya menjadi fokus perhatian. Pertama, jamaah. Seperti hadist qudsi di atas, bahwa salah satu cara untuk mengukur suatu masjid makmur atau tidak adalah dengan cara melihat jamaahnya. Jika jamaahnya banyak, maka masjid tersebut makmur. Begitupun sebaliknya. 

Kedua, program kegiatan. Kemakmuran masjid juga bisa dilihat dari variasi kegiatan yang ada. Dalam hal ini, Lembaga Ta’mir Masjid PBNU memiliki tujuh program kegiatan untuk memakmurkan masjid. (a) Menjadikan masjid sebagai pusat penyebaran paham Aswaja. (b) Tempat penyuluhan kesehatan seperti mendirikan klinik di sekitar area masjid, khitanan masal, dan lainnya. (c) Pusat keilmuan seperti pengadaan Madrasah Diniyah, Taman Pendidikan Al-Qur’an, majelis ta’lim, dan lainnya. (d) Pusat pengembangan ekonomi umat seperti pendirian koperasi. (e) Pusat dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin seperti menyelenggarakan kajian dan pengajian. (f) Pusat kepedulian sosial seperti memberikan beasiswa bagi anak yang kurang mampu. (g) Mendoakan orang wafat seperti menyelenggarakan tahlil dan istighotsah bersama.   

Ketiga, finansial atau keuangan. Untuk memakmurkan masjid, setidaknya harus memiliki pendanaan yang cukup. Program-program masjid yang sudah disusun tersebut bisa terlaksana dengan baik jika ada anggaran yang memadahi. Kebutuhan, sarana dan prasarana masjid juga memerlukan bujet. 

Untuk itu, harus ada langkah yang tepat untuk mewujudkan kemandirian keuangan masjid. Salah satu cara menggalang dana adalah dengan mengaktifkan Gerakan Infak Sedekah Masjid (Gismas) sebagaimana yang digagas LTM PBNU. Pengurus masjid bisa menitipkan celengan di setiap rumah di sekitar masjid dan meminta pemilik rumah untuk mengisinya minimal seribu rupiah. Kalau seandainya ini berjalan dan misalnya ada tiga ratus celengan yang disebar pengurus masjid, maka akan terkumpul sembilan juta rupiah dalam waktu satu bulan. Tentu ini tidak mudah, butuh ketekunan, keuletan, dan konsistensi daripada pengurus masjid dan warga yang dititipi celengan Gismas tersebut.

 

Muchlishon Rochmat

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Pondok Pesantren, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah