Senin, 12 Maret 2018

PB PMII Tunggu Hasil Kajian Tim Kaderisasi PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) masih menunggu hasil kajian Tim kaderisasi dari pihak PBNU terkait wacana organisasi mahasiswa ini kembali ke NU.

“Selama ini kader-kader yang setuju hanya pendapat pribadi, secara struktural, PMII belum menyatakan sikap,” ujar Ketua Umum PB PMII Aminuddin Ma’ruf saat berkunjung ke Redaksi Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Sabtu, (31/1) malam.

PB PMII Tunggu Hasil Kajian Tim Kaderisasi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
PB PMII Tunggu Hasil Kajian Tim Kaderisasi PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

PB PMII Tunggu Hasil Kajian Tim Kaderisasi PBNU

Aminuddin menyatakan, persoalan besar seperti ini tidak bisa diputuskan secara sepihak melainkan harus melalui putusan kongres. Dia juga menuturkan terkait para pendiri dan senior PMII yang menyarankan kembali ke NU, bahwa perjuangan menjaga akidah Aswaja tidak terkait dengan positioning PMII-NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Hasil konsolidasi dari tujuh wilayah, saya menegaskan kepada para kader, wajib hukumnya menjaga akidah aswaja NU di kampus,” ? ucapnya di sela-sela acara Harlah ke-89 NU.?

Mengenai batas waktu penentuan sikap hingga pelaksanaan Muktamar 2015 oleh PBNU, Aminudin menerangkan, pihaknya membiarkan Tim PBNU bekerja terlebih dahulu hingga menemukan persepsi yang sama mengenai persoalan ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Selama ini kami belum berkomunikasi dengan tim kaderisasi PBNU, pihak kami juga sedang merumuskan makna interdependensi dengan NU yang selama ini belum dijelaskan,” paparnya.

Seperti yang sudah diberitakan sebelumnya, PBNU telah menyiapkan beberapa langkah kaderisasi NU di tingkat kampus. Hal ini terkait dengan persebaran kader NU di berbagai perguruan tinggi di Indonesia serta semakin banyaknya kampus baru yang didirikan dengan berbadan hukum NU dan prasasti perguruan tinggi NU pun telah ditandatangani Wapres Jusuf Kalla dalam acara Harlah ke-89 NU di PBNU Jakarta.

Sebelumnya diberitakan juga, pada Muktamar 2015 nanti, jika PMII tetap tidak mau bergabung dengan NU, PBNU bahkan siap mengajukan nama organisasi kemahasiswaan NU baru yang akan disahkan dalam Muktamar NU 2015.? (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 10 Maret 2018

Karya-karya Hadratusy Syaikh

Sebagai seorang ulama panutan, Hadratusy Syaikh KH M. Hasyim Asyari tidak hanya pandai berbicara di dalam mushola, kelas, atau mimbar-mimbar pengajian umum, tapi juga memiliki tradisi kepenulisan yang kuat. Sejumlah disiplin keislaman di bidang akidah, akhlah, hingga ilmu fiqih ia tulis dengan serius.

Berikut ini sejumlah karya Kiai Hasyim Asy’ari yang masih menjadi kitab  wajib untuk dipelajari di pesantren-pesantren Nusantara. Catatan karya Mbah Hasyim diambil dari website Pesantren Tebuireng (tebuireng.net):

Karya-karya Hadratusy Syaikh (Sumber Gambar : Nu Online)
Karya-karya Hadratusy Syaikh (Sumber Gambar : Nu Online)

Karya-karya Hadratusy Syaikh

1. Adabul Alim Wal Mutaallim adalah sebuah kitab yang mengupas tentang pentingnya menuntut dan menghormati ilmu serta guru. Dalam kitab ini KH. M. Hasyim Asyari menjelaskan kepada kita tentang cara bagaimana agar ilmu itu mudah dan cepat dipahami dengan baik. Kitab yang terdiri dari beberapa bab ini, memberikan pula kepada kita pencerahan tentang mencari dan menjadikan ilmu benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat. Salah satu contoh yang diberikan oleh KH. M. Hasyim Asyari kepada kita adalah bahwa ilmu akan lebih mudah diserap dan diterima apabila kita dalam keadaan suci atau berwudhu terlebih dahulu sebelum mencari ilmu. Banyak hal yang bisa kita petik dalam rangka mencari ilmu ketika kita membaca kitab ini.

2. Risalah Ahlis Sunnah Wal Jamaah merupakan pedoman bagi warga NU dalam mempelajari tentang apa yang disebut ahlus sunnah wal jamaah atau sering disingkat dengan ASWAJA. Dalam kitab ini, Hadratus Syaikh juga mengulas tentang beberapa persoalan yang berkembangan dimasyarakat semisal, apa yang disebut dengan bidah? Menerangkan pula tentang tanda-tanda kiamat yang terjadi pada masa sekarang ini. Banyak golongan yang mengaku bahwa mereka juga merupakan golongan ahlus sunnah wal jamaah. Akan tetapi dalam ibadah, amal perbuatannya banyak menyimpang dari tuntunan Rasulullah SAW. Dalam kitab ini diuraikan dengan jelas tentang bagaimana sebenarnya ahlus sunnah wal jamaah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

3. At-Tibyan Fin Nahyi An-Muqothoatil Arham Wal Aqorib Wal Ikhwan merupakan kumpulan beberapa pikiran khususnya yang berhubungan dengan Nahdlatul Ulama. Dalam kitab ini, ditekankan pentingnya menjalin silaturrohim dengan sesama serta bahayanya memutus tali sillaturohim. Didalam kitab ini pula, termuat Qunun Asas atau udang-undang dasar berdirinya Nadhatul Ulama (NU) serta 40 hadits nabi yang berhubungan dengan pendirian Nahdlatul Ulama. Dalam kitab ini, dikisahkan bahwa KH. Muhammad Hasyim Asyari pernah mendatangi seorang kyai yang ahli ibadah karena kyai tersebut tidak mau menyambung silaturrohim dengan masyarakat sekitar sehingga sempat terjadi perdebatan antara keduanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

4. An-Nurul Mubin Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin merupakan karya KH. Muhammad Hasyim Asyari yang menjelaskan tentang rasa cinta kepada nabi Muhammad SAW. Dalam kitab tersebut, dijelaskan pula tentang sifat-sifat terpuji nabi Muhammad SAW yang bisa menjadi suri tauladan bagi kita semua. Dijelaskan pula tentang kewajiban kita taat, menghormati kepada perintah Allah SWT yang telah disampaikan melalui nabi Muhammad SAW baik melalui al-qur an atau hadits. Silsilah keluarga nabi Muhammad SAW, tidak luput dari pembahasan. Singkat kata, dalam kitab ini, kita mendapatkan sejarah yang relatif lengkap dan menarik untuk dikaji serta dijadikan tauladan menuju insan kamil.

5. Ziyadatut Taliqot merupakan kitab yang berisi tentang polemik beliau dengan KH. Abdullah Bin Yasin Pasuruan tentang beberapa hal yang berkembang pada masa itu. Perdebatan terjadi pada beberapa masalah yang tidak sesuai antara pandangan Nahdlatul Ulama dengan KH. Abdullah Bin Yasin Pasuruan. Banyak sekali permasalahan yang diperdebatkan sehingga kitab ini begitu tebal dan permasalahan yang diperdebatkan masih terjadi dimasyarakat.

6. At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna Al-Maulid Bil Munkaroti adalah sebuah kitab tentang pandangan KH. Muhammad Hasyim Asyari tantang peringatan maulid nabi Muhammad SAW yang disertai dengan perbuatan maksiat atau munkar. Dalam kitab tersebut, diceritakan bahwa pada jaman dulu, disekitar Madiun, setelah pembacaan shalawat nabi, para pemuda segera menuju arena untuk mengadu keahlian dalam hal bela diri silat atau pencak. Acara itu, masih dalam rangkaian peringatan maulid serta dihadiri oleh gadis-gadis yang saling berdesakan dengan para pemuda. Mereka saling berteriak kegirangan hingga lupa bahwa saat itu, mereka sedang memperingati maulid nabi Muhammad SAW. Hal tersebut menimbulkan keprihatinan KH. Muhammad Hasyim Asyari sehingga beliau mengarang kitab ini.

7. Dhouul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah berisi pikiran ataupun pandangan KH. Muhammad Hasyim Asyari tentang lembaga perkawinan. Dalam kitab tersebut, beliau menangkap betapa pada saat itu, banyak pemuda yang ingin menikah, akan tetapi tidak mengtahui syarat dan rukunnya nikah. Tidak tahu pula tentang tata cara / sopan santun dalam pernikahan sehingga dalam mereka menjadi bingung karenanya. Dalam kitab tersebut, terkandung beberapa nasehat yang penting agar lembaga perkawinan betul-betul bisa menjadi sebuah keluarga yang Sakinah, Mawaddah Wa Rahmah sesuai tuntunan agama.

Selain menulis kitab, Kiai Hasyim juga rajin menyebarkan ilmu dan penapatnya di sejumlah media yang beredar secara nasional pada waktu itu, di antaranya, majalah Soeara Moeslimin Indonesia (majalah milik Masyumi), Berita NO, Soeloeh NO, Swara NO, dan sebagainya. 

Tema yang beliau tulis tidak sebatas bidang ilmu keagamaan, tapi juga meliputi pertanahan dan pertanian, politik internasional, kolonialisme, dan macam-macam lagi. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 09 Maret 2018

Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Wajib

Usai mengerjakan shalat sebaiknya jangan langsung beranjak dari tempat shalat. Biasakan diri untuk dzikir sejenak dan berdo’a untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat. Sebab dzikir merupakan ibadah yang sangat dianjurkan saat selesai shalat.

Ia termasuk ibadah yang mudah dan ringan dilakukan, namun ganjaran yang diberikan sangatlah besar. Kendati mudah dilakukan, ada banyak godaan yang harus disingkirkan agar tetap istiqamah dalam berdzikir. Di antara godaan yang dimaksud adalah malas.

Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Wajib (Sumber Gambar : Nu Online)
Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Wajib (Sumber Gambar : Nu Online)

Keutamaan Dzikir Setelah Shalat Wajib

Dalam Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali memasukkan bahasan khusus tentang do’a dan dzikir. Menurutnya, salah satu dzikir yang sangat dianjurkan ialah membaca subhânallâh, alhamdulillâh, dan allâhu akbar sebanyak 33 kali. Kemudian ditutup dengan melafalkan lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alâ kulli syai‘in qadîr satu kali.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendapat ini didasarkan pada hadis riwayat Abu Hurairah yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Siapa yang bertasbih, bertahmid, dan bertakbir setelah shalat sebanyak 33 kali dan menutupnya dengan membaca lâ ilâha illallâh lâ syarîka lahu lahul mulku wa lahulhamdu wa huwa ‘alâ kulli syai’in qadîr, maka dosanya akan diampuni meskipun sebanyak buih di lautan,’” (HR. Malik).

Dengan demikian, budayakan setelah shalat membaca semua dzikir di atas. Berdasarkan hadits yang dikutip di atas, orang yang terbiasa melakukan ibadah ini, dosanya akan diampuni Allah Yang Maha Pengampun meskipun dosanya sebanyak buih di lautan. Wallahu a‘lam. (Hengki Ferdiansyah).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Warta, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 07 Maret 2018

Pemuda Harus Jadikan Sejarah sebagai Refleksi

Banyuwangi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Tugas pemuda bukan hanya membaca sejarah, tapi mengingat dan menjadikannya refleksi. Kaum muda memperjuangkan kemerdekaan dengan semangat yang sangat tinggi. Bagi mahasiswa harus mengingat sejarah kemerdekaan yang kala itu dimotori oleh para pemuda. 



Hal tersebut disampaikan Direktur Student Crisis Centre IPNU Banyuwangi, Ibnu Tsani Rosyada pada kegiatan Ngobrol Pintar (Ngopi)) Pelajar Keren di Taman Hijau Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng, Banyuwangi (16/09).

Pemuda Harus Jadikan Sejarah sebagai Refleksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Harus Jadikan Sejarah sebagai Refleksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Harus Jadikan Sejarah sebagai Refleksi

Ibnu yang akrab disapa Noe, mengungkapkan pentingnya organisasi, mengingat para pemuda dulu juga berorganisasi dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Yang terpenting dalam sebuah organisasi adalah proses. Dan, pemuda dituntut sebagai insan yang terpelajar yang dapat menghadirkan perubahan. Tidak melihat saja," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Noe juga mengatakan para pemuda hari ini diharapkan menjadi penerus generasi selanjutnya.

“Tentunya perlu ada persiapan baik ilmu pengetahuan maupun sebuah karya," tambah Noe.

Menurutnya banyak cara ketika pemuda dalam berkarya. Seperti memberikan sebuah pemikiran, atau menghasilkan produk tertentu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara yang digelar Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi IPNU IPPNU Institut Agama Islam Ibrahimy Genteng tersebut berjalan aktif. Para peserta didominasi kader-kader Nahdliyin muda, mahasiswa baru, dan pengurus PMII Ibrahimy Genteng. Dipenghujung diskusi, para peserta Ngopi Pelajar Keren diajak mengumandangkan shalawat badar. (Red/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Jadwal Kajian, Kajian Sunnah, Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 06 Maret 2018

Kemenpora Inisiasi Gerakan Pemuda Pelopor Bela Negara

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) menginisiasi program Pemuda Pelopor Bela Negara. Program ini diinisiasi sebagai upaya untuk menanamkan nilai-nilai nasionalisme generasi muda di daerah perbatasan terluar, terdalam, dan tertinggal di Indonesia.

Dalam akun twitter resminya @KEMENPORA_RI, mereka menjelaskan bahwa program ini penting karena pemuda Indonesia harus menjadi pelopor masyarakat untuk cinta Pancasila dan rela berkorban bagi bangsa dan negara.

Kemenpora Inisiasi Gerakan Pemuda Pelopor Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenpora Inisiasi Gerakan Pemuda Pelopor Bela Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenpora Inisiasi Gerakan Pemuda Pelopor Bela Negara

Kemenpora juga menjelaskan, program ini sesuai dengan visi-misi Presiden Jokowi yang berupaya untuk membangun Indonesia dari pinggiran.

“Para pemuda direkrut untuk dilatih dan dididik kedisiplinan, etos kerja kuat, berkarakter, dan cinta tanah air,” tulis Kemenpora dalam akun twitternya tersebut, Kamis (3/3).

Dalam keterangannya, Kemenpora mengungkapkan bahwa pada periode 2016, Kemenpora akan merekrut pemuda sebanyak 450 kader dari 15 kabupaten terluar dan tertinggal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jadi, kepeloporan pemuda harus diperkuat demi kemajuan bangsa di masa yang akan datang,” tutupnya.?

Sebelumnya, Kemenpora juga meluncurkan program Pemuda Maritim. Program ini berupaya memberdayakan para pemuda di pesisir untuk memanfaatkan sumber daya laut agar diperoleh produk-produk laut berkualitas. Rencanaya, Kemenpora akan meresmikan program Pemuda Maritim bulan Maret 2016 ini. (Baca:? Kemenpora Luncurkan Program Pemuda Maritim)?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah





(Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pagar Nusa Dikembangkan tanpa Acuhkan Kearifan Lokal

Jember, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pagar Nusa ingin mengembangkan pencak silat tanpa mengabaikan kearifan lokal. Sebab, ketika kearifan lokal diacuhkan, maka ia sangat berpotensi menimbulkan ketegangan, bahkan benturan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Ketua PW Pagar Nusa Jawa Timur H Faidhul Mannan saat memberikan pengarahan dalam acara Ujian Kenaikan Tingkat (UKT) di Pondok Pesantren Al-Qodiri, Gebang, Jember, Ahad (10/12).

Pagar Nusa Dikembangkan tanpa Acuhkan Kearifan Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Dikembangkan tanpa Acuhkan Kearifan Lokal (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Dikembangkan tanpa Acuhkan Kearifan Lokal

Menurutnya, Pagar Nusa akan mengakomodasi kelompok silat manapun untuk bergabung, membangun kekuatan demi kejayaan NU, bangsa dan negara. "Oleh karena itu, saya mengajak bagi warga (pesilat) NU yang masih berada di mana-mana, mari kembali ke habitat aslinya.  Sekarang NU sudah punya wadah pesilat resmi, yaitu Pagar Nusa," ucapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pria kelahiran Situbondo itu menambahkan bahwa di tubuh Pagar Nusa sendiri cukup beragam aliran silat sesuai dengan budaya daerah, misalnya aliran Cimande, Kuntu, Gasmi, Pamor (Pamekasan), Jokotole, Bawean, dan sebagainya. Aliran-aliran silat tersebut tetap bisa eksis, bahkan dikembangkan dengan catatan platform dan visi misinya harus mengikuti Pagar Nusa.

"Kalau di Jember berkembang  aliran Cimande, ya tidak apa-apa. Silakan diakomodasi, dan ciri khas Cimandenya tak akan hilang, namun tetap harus mengikuti garis besar Pagar Nusa," ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Pencak Silat Pagar Nusa Jember H Fathorrozi menegaskan bahwa kegiatan UKT dimaksudkan untuk meningkatkan keterampilan dan kapasitas para pesilat secara berjenjang sehingga semakin  lama semakin banyak pesilat yang memenuhi kualifikasi. "Saya punya target, dalam lima tahun kedepan minimal ada 5000 pelatih," tukasnya saat memberikan sambutan.

UKT itu sendiri diikuti oleh 600-an pesilat Pagar Nusa yang datang dari berbagai  kecamatan di Kabupaten Jember. Hadir dalam acara  tersebut, fungsionaris Pimpinan Pusat Pagar Nusa Lora Fadil Muzakki yang  menjadi tuan rumah, Wakil Ketua PCNU Jember H Misbahus Salam. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, PonPes, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 05 Maret 2018

Enam Tips Tetap Sehat Selama Puasa Ramadhan

Oleh : Masludi S



Marhaban Ya Ramadhan

Marhaban barasal dari kata rahb yang berarti luas atau lapang. Marhaban menggambarkan suasana penerimaan tetamu yang disambut dan diterima dengan lapang dada, dan penuh kegembiraan. Marhaban ya Ramadhan (selamat datang Ramadhan), mengandungi arti bahwa kita menyambut Ramadhan dengan lapang dada, penuh kegembiraan, tidak dengan keluhan.?

Enam Tips Tetap Sehat Selama Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Enam Tips Tetap Sehat Selama Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Enam Tips Tetap Sehat Selama Puasa Ramadhan

Rasulullah sendiri senantiasa menyambut gembira setiap datangnya Ramadhan. Dan berita gembira itu disampaikan pula kepada para sahabatnya seraya bersabda: "Sungguh telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang penuh keberkahan. Allah telah memfardlukan atas kamu puasanya. Di dalam bulan Ramadhan dibuka segala pintu surga dan dikunci segala pintu neraka dan dibelenggu seluruh setan. Padanya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Barangsiapa tidak diberikan kepadanya kebaikan malam itu maka sesungguhnya dia telah dijauhkan dari kebajikan" (HR. Ahmad)?

Bagi kaum muslimin, ibadah puasa, baik puasa wajib maupun puasa sunah, bukanlah sesuatu yang asing. Umat Islam telah terbiasa melaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan dan merupakan ibadah mahdhah yang wajib dilaksanakan. Umat Islam diwajibkan berpuasa di bulan Ramadhan sebulan penuh ketika sudah berusia akil balig. Seorang dipandang sudah akil balig apabila laki-laki sudah mimpi basah (mengeluarkan sperma) dan perempuan sudah mengalami menstruasi atau haid.

Bagi umat Islam, Pengertian as-shaum (puasa) menurut bahasa adalah menahan diri dari sesuatu. Sedangkan menurut istilah agama (syara’) adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan syarat-syarat tertentu. Jadi puasa adalah menahan diri dari makan dan minum serta hal-hal lain yang membatalkannya mulai terbit fajar hingga matahari terbenam, dengan niat dan beberapa syarat. Al-Quran mengungkapkan bahwa puasa adalah aktivitas ubudiyah agar orang-orang beriman mencapai derajat takwa. Dalam Al-Quran surah al-Baqarah: 183 dijelaskan tentang puasa, sebagai berikut:?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang-orang yang bertaqwa. (Al-Baqarah:183)

Pada umumnya munculnya berbagai macam penyakit yang menimpa banyak manusia, lebih-lebih di zaman modern sekarang ini, lebih banyak disebabkan oleh keresahan, kegelisahan, ketegangan jiwa, stres berat, dan juga akibat pola makan yang tidak baik dan tidak benar. Apalagi makan dan minum yang berlebih-lebihan. Keresahan, kegelisahan, ketegangan jiwa, stres berat akan menyebabkan saraf menjadi tegang dan meningkatnya kekalutan, kemudian mempengaruhi saraf-saraf lambung, seringkali menyebabkan sulitnya pencernaan, luka lambung (maag), denyut jantung tidak normal, sukar tidur, dan pusing-pusing.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Ilmu Kedokteran terbukti bahwa, makan dan minum yang berlebih-lebihan bisa membahayakan lambung, menghancurkan hati, memberatkan kerja jantung, menyebabkan mengerasnya pembuluh darah, sesak dada, naiknya tekanan darah, dan kencing manis. Sehubungan dengan hal ini Allah SWT sudah mengingatkan, Makan dan minumlah, dan jangan berlebih-lebihan. (QS al-A’raaf: 31). Rasulullah SAW juga bersabda, yang artinya, Perut itu gudangnya penyakit. Agaknya tidak ada cara pencegahan dan pengobatan atas penyakit-penyakit tersebut kecuali dengan tidak makan dan minum yang berlebih-lebihan, yakni dengan membatasi nafsu makan (diet), dan yang lebih baik tentunya adalah dengan puasa.

Puasa Ramadhan menjadi hal yang penting dipahami manfaatnya. Apalagi jika dilakukan secara ikhlas dan disertai kepercayaan dan pengetahuan yang memadai tentang manfaat pelaksanaan puasa bagi kesehatan tubuh, khususnya dalam metabolisme dan sistem endokrim.

Dengan menjalankan puasa, berarti suatu aktivitas fisik dan biologis, usaha untuk mengatur dan memperbaiki metabolisme tubuh. Hal ini dapat dimengerti, karena pelaksanaan puasa mengajarkan dan melatih tubuh secara disiplin untuk makan dan minum secara tidak berlebihaan dan mengatur kuantitas dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Dengan demikian, maka puasa akan memberi manfaat kesehatan bagi orang yang menjalankannya. Bepuasa akan melatih seseorang untuk hidup teratur dan disiplin serta mencegah kelebihan makan. Menurut penelitian, puasa akan menyehatkan tubuh, sebab makanan berkaitan erat dengan proses metabolisme tubuh. Saat berpuasa, karena ada fase istirahat setelah fase pencernaan normal, yang diperkirakan 6 sampai delapan jam, maka pada fase tersebut terjadi degradasi dari lemak dan glukosa darah.?

Puasa terbukti mampu meningkatkan derajat kesehatan. Penyakit maag, tekanan darah tinggi, dan kadar gula darah akan lebih terkontrol. Hausnya itu lho nggak tahan? kata-kata ini biasanya muncul bagi yang baru pertama kali memulai puasa Ramadhan. Walau merasa sangat haus, toh akhirnya kalau diniatai dengan ikhlas puasa bias sampai tiba bedug Maghrib. Yang terpikirpun begitu menyeruput teh manis saat buka,”aduuh rasanya nikmat banget”. Rasa haus yang seharian kutahan itupun hilang sudah.

Menahan lapar dan haus, apalagi pada siang hari yang panas terik, terkadang memang butuh perjuangan tersendiri. Namun, jika puasa kita dilandasi dengan iman dan keikhlasan untuk ibadah, rasanya rasa lapar dan haus itu tak berarti apa-apa. Apalagi jika kita menyadari bahwa puasa ternyata juga membawa begitu banyak hikmah dan manfaat buat kita, salah satunya manfaat kesehatan. Penelitian menunjukkan, puasa sangat baik dilakukan oleh orang yang kadar kolesterol di dalam darahnya tinggi. Bukan rahasia lagi, kadar kolesterol darah yang tinggi secara jangka panjang bisa mengakibatkan penyumbatan pembuluh darah. Bila hal ini terjadi di otak, maka terjadilah stroke, dan bila terjadi di daerah jantung maka timbullah penyakit jantung.

Dari hasil penelitian pula diketahui, puasa bisa meningkatkan kolesterol baik (HDL) sebanyak 25 titik, dan menurunkan lemak trigliserol sekitar 20 titik. Lemak trigliserol merupakan bahan pembentuk kolesterol jahat (LDL). Puasa juga akan mengurangi produksi senyawa oksigen yang bersifat racun (radikal bebas oksigen). Tahukah Anda? radikal bebas oksigen yang berlebihan di dalam tubuh akan mengurangi aktivitas kerja enzim, menyebabkan terjadinya mutasi, dan kerusakan dinding sel. Ada sekitar 50 penyakit degeneratif, termasuk penyakit jantung dan stroke, dicetuskan dan diperparah oleh senyawa radikal bebas. Bagi orang yang sehat, puasa juga akan mengurangi risiko terkena penyakit diabetes tipe-2. Ini karena saat puasa, dengan sendirinya konsumsi kalori secara fisiologis akan berkurang. Hal ini akan mengurangi sirkulasi hormon insulin dan kadar gula darah. Lebih jauh, hal ini akan meningkatkan sensitivitas hormon insulin dalam menormalkan kadar gula darah. Pengontrolan gula darah yang baik akan mencegah penyakit diabetes tipe-2.?

Selain itu, ada beberapa manfaat lain dari puasa untuk kesehatan, yaitu: Mendorong terjadinya rejuvinasi (pergantian) sel-sel tubuh a). Membantu menurunkan tekanan darah bagi yang menderita tekanan darah tinggi. Berat badan juga akan turun. b). Dispepsia (maag) fungsional kebanyakan akan membaik berkat puasa. c). Penyakit kulit khususnya jamur akan lebih cepat membaik. d). Puasa dapat meningkatkan volume semen, persentase spermatozoa hidup dan jumlah total spermatozoa.?

Lakukan secara benar, agar puasa yang tengah kita jalankan ini memberikan manfaat yang sebesar-besarnya bagi kesehatan, maka laksanakan puasa dengan benar. Puasa yang benar artinya puasa yang sesuai dengan kaidah agama, juga kesehatan. Untuk itu, simak beberapa tips :

Pertama, makan dan minum yang cukup, sekitar 8-10 gelas sehari. Dalam hal minum ini, para lansia (lanjut usia) seringkali tidak merasa haus walau baru minum sedikit. Namun demi kesehatan, gaya hidup hendaknya diusahakan untuk minum yang cukup meski tidak haus. Minum air di sini tidak selalu berarti air putih semata, tetapi minum teh, susu, jus buah, koktil buah, bahkan kuah sayur juga termasuk dalam jumlah air yang kita konsumsi.?

Kedua, untuk kebutuhan kalori, biasanya wanita membutuhkan kalori sekitar 1.900 kalori, sementara pria 2.100 kalori. Kalori sebanyak ini bisa terpenuhi dari makanan dan minuman yang disantap selama sahur dan buka puasa. Tapi tentunya, makanan dan minuman itu harus memenuhi standar gizi yaitu 50 persen karbohidrat, 25 persen lemak, 10-15 persen protein, serta vitamin dan mineral secukupnya. Untuk makanan, sebaiknya pilih makanan alami karena lebih aman. Misalnya: karbohidrat diperoleh dari nasi, kentang, mi atau jagung. Protein dari daging, ikan, tempe, tahu, dan lain-lain. Sedangkan sumber vitamin dan mineral ada pada sayuran dan buah-buahan berwarna kuning, hijau tua, dan merah.?

Ketiga, saat berbuka puasa, hendaknya tidak makan sekaligus banyak, tapi secara bertahap. Dimulai dengan menikmati makanan ringan atau minuman yang manis-manis. Jika Anda suka kurma, makanlah buah yang berasa manis ini. Selain berguna untuk menyuplai energi, kurma juga kaya kandungan zat gizi seperti kalium, magnesium, niasin, dan serat.

Keempat, sedangkan pada saat sahur, meski kurang bernafsu untuk makan karena rasa kantuk belum hilang, sebaiknya digunakan sebaik-baiknya. Ada anjuran untuk makan sahur selambat mungkin, kira-kira setengah jam sebelum Imsak. Tapi ingat, sebaiknya makan sahur tidak terlalu kenyang, kira-kira sepertiga dari kebutuhan kalori sehari.?

Kelima, jika tidak bisa makan nasi dalam jumlah yang cukup banyak (karena ada perubahan pada lambung dan gerakan usus) cobalah untuk makan camilan. Untuk mencegah sembelit, sebaiknya sayur dan buah dikonsumsi setiap hari. Jika perlu mengonsumsi suplemen.

Kelima, istirahat di waktu siang hari. Ini berguna untuk menghindari keluarnya keringat yang sangat banyak.?

Keenam, Jika ingin olahraga, bisa dilakukan pada sore hari sekitar satu atau setengah jam sebelum berbuka.

Penulis adalah dokter umum, warga NU yang berdomisili di Kec. Sliyeg-Indramayu

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah, Olahraga, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbahaya, Jika Islam Dipahami Hanya Sebatas Gerakan

Jakarta, NU.Online
Ketua Umum Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi dan Syeikh Agung Al-Azhar Prof Dr Mohamed Sayed Tantawi  dalam pertemuannya di Kairo, Mesir, sependapat bahwa Islam tidak bisa dipahami hanya sebagai konsep gerakan semata, tapi harus di pahami secara holistik sebagai sebuah ajaran. Jika pola pikir gerakan yang dikedepankan, ini sangat berbahaya. Pasalnya pemahaman seperti ini hanya akan memberikan penilaian salah dan memasukan Islam sebagai kelompok radikal. Padahal, unsur radikalisme itu ada pada semua agama.

"Dalam pertemuan itu, PBNU dan Al-Azhar sepakat memprakarsai suatu pertemuan internasional di Jakarta untuk menampilkan Islam sebagai ajaran, dan bukan sebagai gerakan atau kekuatan. Sebab, sangat berbahaya, jika Islam hanya dipahami sebagai gerakan," kata Hasyim Muzadi,  Minggu (25/5).

Menurut Gus Hasyim, Pertemuan internasional yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta sekitar akhir 2003 ini, akan dihadiri para rektor universitas Islam di seluruh dunia, di samping para ulama yang membidani bidang ajarannya, bukan politikus Islam.

Muzadi dan Syeikh Tantawi berpandangan bahwa realitas sekarang  yang sangat ditonjolkan adalah Islam sebagai gerakan atau kekuatan, sehingga seolah-olah Islam itu berhadap-hadapan atau saling memusuhi dengan negara-negara Barat atau kelompok non-Islam lainnya.

"Sehingga pada gilirannya sangat merugikan dunia Islam dalam konteks hubungan internasional. Oleh karena itu, perlu kita tampilkan Islam sebagai ajaran atau sebagai filsafat hidup yang mengandung kebenaran rahmatan lil alamin (menjadi rahmat bagi semesta alam)," paparnya.

Pelaksanaan pertemuan internasional yang akan dijadwalkan itu  merupakan bagian dari upaya PBNU dalam langkah menjembatani antara dunia Islam dan dunia Barat, yang dalam hal ini akan difokuskan ke Eropa.

Dalam upaya menjembatani dunia Islam dan dunia Barat ini, PBNU telah berkunjung ke negara-negara Eropa, dan bertemu dengan pimpinan parlemen Uni Eropa serta sejumlah pejabat di sana, khususnya di Jerman beberapa waktu lalu, dan ternyata mereka mengharapkan agar NU menjembatani hal tersebut.

"Bertalian dengan itu, PBNU yakin bahwa jembatan yang paling baik adalah jika Islam ditampilkan sebagai ajaran, dan bukan sebagai kekuatan," tandas Muzadi.

Pada kesempatan tersebut, PBNU dan pihak Al-Azhar sepakat untuk meningkatkan kerja sama di bidang pendidikan. Dalam pertemuan dengan Syeikh Al-Azhar tersebut, Muzadi didampingi sejumlah pimpinan PBNU, di samping Kepala Bidang Politik Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Kairo Agil Salem Al-Attas mewakili Dubes RI untuk Mesir Prof Dr Bachtiar Ali, MA yang saat ini melakukan tugas kerja di Jakarta, dan Kasub-Bidang Protokoler KBRI Krishna Djelani.

KH Hasyim Muzadi bersama rombongan PBNU melakukan kunjungan selama beberapa hari ke Mesir setelah melakukan ibadah umrah di Arab Saudi. Dalam kunjungan tersebut beliau didampingi oleh KH Abdul Aziz Ahmad, KH Masduki Baidlawi,  Ronin Hidayat, KH Sofyan Hidayat Bin Najmuddin. KH. Mas Soebadar, KH A. Idris Muzakki, Slamet Effendy Yusuf,  KH. Abd Wahid Bisri, Fakhrurozi, Muhammad Nafi, Ibu Mutammimah Muzadi,  Siti Aniroh Slamet,  Abd Hikam Hidayat, Elina Almaghfiroh, Laily Abidah, dan Alfi Rahamawati.

Selama di Mesir, selain bertemu dengan Syeikh Al-Azhar, juga Rektor Universtas Al-Azhar Prof Dr Omar Hashim, dan Wakil Menteri Waqaf Mesir. Dalam pertemuan tersebut, PBNU sepakat dengan kementerian wakaf untuk kerja sama di bidang wakaf, dan dalam hal ini PBNU akan mengirim tim khusus untuk melakukan studi banding ke Mesir menyangkut pelaksanaan wakaf.

"Manajeman wakaf  sangat penting dipelajari, karena selama ini kita belum mempraktekan secara baik manajeman wakaf, padahal persoalan ini sangat bertalian dengan pemanfaatan harta umat" ungkapnya.(Kln-S/kol/cih)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbahaya, Jika Islam  Dipahami Hanya Sebatas Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)
Berbahaya, Jika Islam Dipahami Hanya Sebatas Gerakan (Sumber Gambar : Nu Online)

Berbahaya, Jika Islam Dipahami Hanya Sebatas Gerakan

Sabtu, 03 Maret 2018

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia Joseph R Donovam berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Kamis (2/2) sore. Ia diterima langsung Ketum PBNU KH Said Aql Siroj di ruanganya.

“Saya tahu kemarin Nahdlatul Ulama memperingati hari lahir. Karena itu saya mengucapkan selamat hari lahir yang ke-91,” kata dubes yang mengaku baru tinggal di Indonesia selama sekitar dua bulan ini membuka pembicaraan.

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91 (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91 (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Baru Amerika Ucapkan Selamat Harlah NU Ke-91

Joseph baru saja menggantikan dubes Amerika sebelumnya, Robert Orris Blake Junior yang telah mengakhiri masa tugasnya di Indonesia. Sebelumnya, Joseph menjabat sebagai Direktur Institut AS di Taiwan yang telah berdiri sejak 2014.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam pertemuan tersebut, ia mengatakan sangat terkesan dengan umat Islam di Indonesia ketika pertama kali mulai menyapa masyarakat di sini. Joseph bercerita, sebelumnya dirinya disambut dengan ramah saat mengunjungi sebuah pesantren di Jawa Tengah Januari lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Joseph mengajak NU untuk menjalin kemitraan dengan pihaknya khususnya di bidang toleransi dan pendidikan. “Ada tujuh ribu pelajar asal Indonesia yang kini sedang belajar di Amerika Serikat. Ini naik tujuh persen. Saya berharap jumlah tersebut terus meningkat,” tuturnya.

Kiai Said menyambut baik tawaran itu dan menyarankan agar banyak warga pesantren yang bisa belajar ke negara berjuluk “Negeri Paman Sam” ini. Sebelumnya ia menyampaikan kritik terhadap presiden baru Amerika Donald Trump yang terkesan menggeneralisisasi Islam dengan label negatif.

Kiai asal Cirebon ini lantas mengenalkan Islam Nusantara yang secara garis besar meyakini bahwa budaya dan agama memiliki hubungan sinergis. “Budaya menjadi infrastruktur agama. Dengan tradisi lokal, Islam di Indonesia menjadi kuat dan tak tercerabut dari masyarakat,” jelasnya.

Joseph yang datang bersama rombongan juga disambut hangat oleh Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketu PBNU H Marsudi Syuhud, Ketua PBNU Robikin Emhas, dan sejumlah pengurus lain. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Kedatangan Ethan Zohn, mantan bintang sepak bola Timnas Amerika, disambut hangat dan meriah oleh para santri di Pondok Pesantren Darul Muttaqin. Ethan yang sudah tiga kali menjadi survivor kanker ini memang aktif di dunia pendidikan dan anak-anak selepas dari karirnya di bola.

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Eks Bintang Timnas AS Berbagi Teknik Sepak Bola dengan Santri

Co-founder Grassroots Soccer ini menyengajakan diri mengunjungi pesantren atas fasilitasi Kedubes Amerika setelah mendengar gaung Liga Santri Nusantara (LSN). Melalui yayasannya, Ethan Zohn mengkampanyekan pendidikan kepada anak-anak yang kurang beruntung. Kali ini kunjungannya ke pesantren juga dilatarbelakangi oleh informasi bahwa para santri hidup dalam kesederhanaan bahkan tidak sedikit yang kekurangan.

Bertempat di lapangan sepak bola Pondok Pesantren Darul Muttaqin di Jalan Raya Cadas-Kukun, Kampung Ilat, Desa Pangadegan, Pasar Kemis Tangerang, Ethan memberikan coaching clinic kepada dua kesebelasan dari Ponpes Darul Muttaqin Tangerang dan Ponpes Ar Roisiyah Tangerang Selatan. 

Didampingi asistennya, Bryan, mantan kapten kesebelasan Maccabee Amerika Serikat tersebut memberikan pelatihan teknik dasar bermain kepada dua tim kesebelasan yang pernah bertemu di final Liga Santri Nusantara (LSN) Region Banten tersebut. Kedua kesebelasan tersebut masing-masing adalah juara dan runner-up Liga Santri Region Banten tahun ini.

Kehadiran Ethan membuat atlet muda dari dua kesebelasan tersebut tampak antusias dan berlatih penuh semangat. Tanpa malu-malu, para santri belia tersebut berinteraksi dengan Ethan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak hanya memberikan materi teknik sepak bola, Ethan juga memberikan motivasi kepada para santri. Ethan mengisahkan lika-liku kehidupannya hingga akhirnya bisa merumput di dunia sepak bola Amerika Serikat sebagai pemain professional bahkan bintang. Ia juga menceritakan pengalamannya bertahan dari serangan kanker dan bersyukur bisa selamat hingga kini.

"Sepak bola itu kadang penuh misteri. Kadang Anda tidak tahu akan seperti apa Anda ke depannya. Tetapi bermimpilah dan wujudkan mimpi itu. Awal karir saya di sepak bola adalah kiper cadangan. Ini membuat saya merasa tak berkecil hati karena tidak selalu dimainkan. Hingga suatu ketika saya mendapatkan titik balik dan tumbuh seperti ini," kata Ethan memotivasi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut Ethan menambahkan pentingnya kedisiplinan dalam membentuk karakter pesepak bola yang kuat. "Sepak bola itu bukan sekedar olahraga, tapi juga melatih kemampuan kepemimpinan, persahabatan, disiplin dan tanggung jawab. Sepak bola adalah kerjasama dan adaptasi, kita harus membuang egoisme dan rasa ingin tampil mencolok," imbuhnya. 

"Berlatih sepak bola tidak harus menjadi pemain profesional, namun justru melalui sepak bola anak muda terlatih mentalnya, sehingga kelak profesi apapun yang dijalani, mereka menjadi orang-orang terbaik," tambah Ethan seraya memotivasi santri. 

Coaching clinic lalu dilanjutkan dengan pertandingan ekhibisi. Dalam pertandingan ini para pemain Liga Santri Nusantara tersebut tampak bersemangat setelah mendapatkan suntikan motivasi dari Ethan Zohn yang merupakan kiper dan sekaligus kapten tersebut. (Ali/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Sholawat, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 01 Maret 2018

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi

Bagi Drs. Suhardi, M.Pd.I., Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Pamulang, Banten, terget yang ditetapkan oleh madrasah harus jelas dan kongkret. Setiap tahun madrasah yang dipimpinnya harus mendapatkan prestasi, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga untuk berbagai kompetisi non akademik.

Suhardi tercatat oleh Kementerian Agama sebagai salah satu kepala madrasah yang luar biasa. Madrasah yang dulunya tidak diminati bahkan tidak dikenal, sekarang diperebutkan oleh para orang tua calon siswa baru dan mendapatkan penghargaan tingkat nasional. Para siswa MTsN 2 Pamulang juga mencatatkan segudang prestasi tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Di luar bidang akademik, MTs ini tercatat pernah memenangi lomba UKS, Juara Umum Porseni beberapa bidang olahraga, marcing band, dan kontes robotik. Untuk marching band, madrasah ini telah memeroleh Piala Wakil Presiden 2010 dan Piala Presiden 2010. Untuk robotik, MTsN 2 Pamulang bahkan sampai memperoleh juara pda kontes robotik tingkat internasional di Malaysia.

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi

Suhardi punya cerita tersendiri mengenai awal mula kegiatan marching band di madrasahnya. “Tahun 2010 saya punya waka kesiswaan yang hobi marching band. Lalu saya tantang, kamu bisa nggak bikin marching band berkelas nasional? Katanya, bisa pak. Saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi kata dia, gampang pak. Kita jalan-jalan ke pasar baru lihat toko-toko marching band yang bagus-bagus nanti kita kerjasama saja,” katanya.

“Akhirnya kita pergi ke pasar baru. Ketemulah toko Wijaya milik orang India. Saya katakan, saya ingin merintis marching band tapi saya tidak punya alat dan saya janji kalau saya akan membeli alat-alat akan ke bapak terus. Saya datang ke situ dan bikin MOU. Jadi saat latihan kita pakai alat yang bagus dan harganya mahal sekali 20 jutaan itu,” kata Suhardi bercerita.

Semenjak itu MTsN 2 Pamulang selalu langganan juara marching band. Puncaknya madrasah tsanawiyah ini berhasil memeroleh Piala Presiden dan sering kali menang kompetisi dengan sekolah lain seluruh Indonesia bahkan dengan grup marching band tingkat SMA dan perguruan tinggi.

Kembali ke toko Wijaya yang pertama meminjamkan alat marching band, setelah beberapa kali juara, pemilik toko makin percaya kepada Suhardi. Bahkan anak dari penjaga toko juga disekolahkan ke MTsN 2 Pamulang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kata Suhardi, ketidaktersediaan sarana bukan hambatan untuk meraih prestasi. Dengan tekat juara, beragam cara bisa ditempuh.

Prestasi lain yang sangat membanggakan diraih MTSN 2 pada akhir tahun 2014 di bidang robotik. MTsN ini memborong sejumlah penghargaan dalam kontes robotik tingkat internasional di Johor Malaysia. Padahal kegiatan eskul robotik baru dimulai pada 2013, baru satu tahun sebelum prestasi internasional diraih. Hampir mirip seperti marching band, pada awalnya madrasah ini juga tidak punya peralatan robotik. Salah satu kunci sukses dalam hal ini adalah kerjasama dengan pihak-pihak yang kompeten dan kejelian memilih siswa yang berbakat di bidang logika, matematika, sains dan informatika.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di bidang akademik, prestasi akademik yang diperoleh MTsN 2 Pamulang lebih banyak lagi, dari mulai lomba cerdas cermat di berbagai tingkatan, olympiade matematika, oimpiade bahasa Inggris, dan lomba karya tulis tingkat nasional. Untuk institusi madrasah sendiri, tahun 2008 MTsN 2 Pamulang telah ditetapkan sebagai madrasah berprestasi tingkat Kanwil Kemenag Banten, dan tahun 2009 MTsN mendapatkan Juara I Lomba Madrasah Berpretasi Tingkat Nasional.

Menurut Suhardi, MTsN 2 Pamulang menyusun kalender pendidikan dengan sangat rapi. Hasil rapat kerja juga dicetak dengan baik dan karena melibatkan semua komponen maka hasil rapat kerja ini bersifat mengikat semua pihak. Semua yang telah dirumuskan bersama harus dilaksanakan.

MTsN 2 Pamulang juga telah menyusun dan menerbitkan buku pedoman khusus tentang pengelolaan Kelas Bina Prestasi.

Kata Suhardi, target yang ingin dicapai oleh madrasah jelas, yakni harus berprestasi. Dari berbagai prestasi yang telah dicapai, maka tingkat kepercayaan masyarakat kepada madrasah otomatis akan meningkat. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, Pondok Pesantren, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Kehadiran Habib Ahmad Alaydrus dari Jakarta pada Kamis (17/11) malam mendapat sambutan luar biasa dari ribuan warga Jombang. Mereka khidmat mengikuti seluruh rangkaian acara yang dikemas dalam Jombang Bershalawat tersebut.

Wakil Bupati Jombang Nyai Hj Mundjidah Wahab saat memberikan sambutan berharap kegiatan ini mampu menjauhkan Kabupaten Jombang dari bala, petaka, maupun musibah. "Semoga apa yang kita niatkan, yang kita cita-citakan akan terwujud," katanya disambut amin ribuan hadirin.

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Jombang Bershalawat Hadirkan Habib Ahmad Alaydrus Jakarta

Yang terpenting karena malam ini membaca shalawat, maka nanti di akhirat akan mendapat syafaat dari Nabi Muhammad SAW, lanjutnya.

Tidak hanya bershalawat, sebelumnya ribuan warga ini disuguhi penampilan grup Banjari tiga pilar yang terdiri dari anggota TNI, Polri, dan Korpri. Selanjutnya hadirin diajak beristighotsah dan mendengarkan ceramah agama yang disampaikan KH Syahroni dari Sidoarjo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejak sore ribuan warga yang berbusana dominan warna putih ini tampak sudah memenuhi halaman Masjid Agung Baitul Mukminin Jombang hingga Alun-alun yang berada persis di depannya.

Tidak hanya dari dalam kota, jamaah juga datang dari penjuru Jombang bahkan ada yang dari luar kota. Lantunan shalawat nabi tanpa henti dilantunkan yang diiringi rebana dan Banjari. (Ibnu Nawawi/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Cerita, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 28 Februari 2018

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyak kalangan yang menilai, panggilan habib dan kiai seharusnya layak disandang Prof HM. Quraish Shihab. Secara silsilah dan keilmuan, tidak ada yang meragukan Penulis Tafsir Al-Misbah ini. Namun secara pribadi, Mufassir yang dikenal luas ini tidak mau dipanggil habib dan kiai. Kenapa?

Dalam buku Cahaya, Cinta dan Canda Quraish Shihab terbitan Lentera Hati yang ditulis oleh Mauluddin Anwar dan kawan-kawan, dijelaskan soal urusan habib dan kiai tersebut. Pendiri Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) ini hanya mau dipanggil habib oleh cucunya saja, karena lebih cocok berdasarkan artinya.?

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai? (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenapa Quraish Shihab Enggan Dipanggil Habib dan Kiai?

Di kalangan Arab-Indonesia, habib menjadi gelar bangsawan Timur Tengah yang merupakan kerabat Nabi Muhammad SAW (Bani Hasyim). Khususnya dinisbatkan terhadap keturunan Nabi Muhammad melalui Sayyidatina Fatimah Az-Zahra yang menikah dengan Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Panggilan habib juga penanda Arab-Indonesia yang memiliki Moyang yang berasal dari Negeri Yaman, khususnya Hadhramaut. Kakek Prof Quraish Shihab, Habib Ali bin Abdurrahman Shihab berasal dari Hadhramaut.

Dalam Bahasa Arab, habib berakar dari kata cinta. Jadi habib berarti “yang mencintai” atau bisa juga “yang dicintai”. Tetapi kemudian maknanya berkembang menjadi suatu istilah, habib adalah orang teladan, orang baik yang berpengetahuan, dan seseorang yang mempunyai hubungan dengan Rasulullah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alasan kedua itulah yang membuat Quraish menolak dipanggil habib. Padahal, sebagai orang yang menghabiskan usia bergelut dengan ilmu pengetahuan, Quraish layak mendapat gelar itu. Quraish adalah profesor doktor bidang Ilmu Tafsir, hafal al-Quran, pernah jadi Rektor IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan mantan Menteri Agama. Tapi ia berkukuh tetap menolak. Semata-mata karena, “itu mengandung unsur pujian.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Baginya, gelar habib tidak perlu diberikan kepada sembarang orang. Sebangun dengan gelar kesarjanaan, yang harus ada usaha untuk mendapatkannya, maka habib pun harus ada usaha, terutama dari akhlaknya.

“Saya merasa, saya butuh untuk dicintai, saya ingin mencintai. Tapi rasanya saya belum wajar untuk jadi teladan. Karena itu saya tidak, belum ingin dipanggil habib,” kata Quraish merendah.?

Apalagi, ada ajaran ayahnya, Habib Abdurrahman, agar tidak menonjolkan garis keturunan. Beliau enggan menggunakan gelar “Sayyid”, “Haji”, atau “Kiai”. Bahkan tidak juga gelar akademis.

Ada sajak yang acap didendangkan Habib Abdurrahman dan ditulis dalam buku tersebut:?

Kami, kendati memiliki garis keturunan terhormat

Tidak sekalipun mengandalkan garis keturunan?

Kami membangun sebagaimana leluhur kami membangun

Dan berbuat serupa dengan apa yang mereka perbuat.

Tidak hanya Prof Quraish, keluarga Shihab yang lain, seperti Umar Shihab dan Alwi Shihab pun sependapat. Alwi lebih keras, menyebut ada “inflasi habib”, karena pemakaian yang tidak pada tempatnya. Bahkan sudah sampai pada tahap berkonotasi buruk, seperti didengar Quraish dari sopir taksi, saat ia terjebak macet akibat adanya pengajian yang menutup badan jalan.

Maka mereka pun bersepakat, memakai gelar habib hanya sekadar sebutan untuk kakek. “Karena kakek itu sangat mencintai cucunya, terkadang lebih dari cinta kepada anaknya. Cucu juga kadang-kadang lebih mencintai kakeknya daripada bapaknya,” kata Quraish.?

Pesan lain dari penolakan itu untuk memberikan contoh keteladanan, siapa yang wajar diberi gelar kehormatan.

Tak hanya sapaan habib, Prof Quraish juga emoh dipanggil “kiai”. Lagi-lagi alasan serupa, gelar itu jabatan yang sangat tinggi. Baginya, kiai berkonotasi ulama besar yang tulus. Tapi, diksi ‘besar’ itu bisa mengandung pujian. Sesuatu yang selalu ia hindari. Belum lagi, sebutan kiai juga mengalami inflasi, karena dipakai banyak orang yang berpotensi menurunkan makna sebenarnya.?

Ia mencontohkan seseorang bergelar kiai atau ki, yang sedang dirundung masalah karena penipuan pengobatan alternatif.?

“Jadi udah deh nggak usah repot-repot pangil saya habib atau kiai. Panggil saya ustadz saja,” katanya tergelak. Ia tak menolak, karena ustadz berarti guru, dan ia sejak belia sudah menjadi pengajar, dengan raihan tertinggi menjabat Rektor IAIN. (Detik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Pahlawan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 Februari 2018

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Bulungan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Sultan Kasimuddin Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara, mengadakan refleksi dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-71,

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII Kaltara Gelar Refleksi Nasionalisme di Perbatasan

Acara yang bertempat di gedung Fatayat NU Kabupaten Bulungan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, di antaranya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), BEM Universitas Kaltara (Unikal), BEM STT Al Ansor, ketua IPNU dan IPPNU,? Kabupaten Bulungan, ketua Fatayat NU, dan ketua Gerakan Pemuda Ansor setempat. Selain itu hadir pula Komisioner KPU Kaltara Colirulliza, Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara, M. Achadi dari Jurnas, serta perwakilan dari Kemenag Bulungan.

Ketua Pengurus Cabang PMII Tarakan Rico Adriansyah mengatakan bahwa forum yang mengusung tema “Mewujudkan Indonesia Merdeka 100%” ini cukup berat dan menjadi tugas para aktivis dan mahasiswa terutama di Kalimantan Utara untuk merealisasikannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pada pembukaan UUD 1945 disebutkan bahwa dengan selamat sentosa menghantarkan rakyat Indonesia kedepan pintu gerbang kemerdekaan Indonesia’. Oleh karena itu untuk mewujudkan Indonesia merdeka seratus persen perlu terus diadakan diskusi yang sifatnya membangun serta mempererat persatuan," lanjut Rico, Selasa (16/8) malam itu.

Sementara itu Satriansyah dari Kesbangpol Kaltara mengatakan, Kaltara sebagai provinsi baru sekaligus yang berbatasan dengan Malaysia memiliki tantangan tersendiri. Menurutnya, nasionalisme warga Kaltara sedang diuji karena sebagian dari keluarga kita ada di sana.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kalau merdeka secara de facto dan de jure kita sudah merdeka. Namun tantangan kita saat ini adalah menjaga nasionalisme, serta meningkatkan kemerdekaan ekonomi dan kemenrdekaan sosial," lanjutnya.

Ia menegaskan, Kaltara sebagai provinsi baru yang menjadi perbatasan Indonesia dan Malaysia menjadi kunci penting dalam peranan menjaga ketahanan nasional.

Di akhir acara PMII Komisariat Kasimuddin Bulungan berharap peringatan kemerdekaan 17 Agustus di Provinsi Kaltara akan menjadi momentum bagi mahasiswa sebagai garda terdepan dalam memajukan Indonesia dari pinggiran sesuai dengan nawacita Joko Widodo pada butir ke-3. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 25 Februari 2018

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

Taipe, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kiai muda MN Harisudin mendorong pekerja migran Indonesia di Taiwan untuk gemar bersedekah, baik sedekah wajib maupun sunah. Dalam penyaluran, ia menekankan harus diberikan tepat sasaran dan tidak disalahgunakan, mengingat ada banyak dana sedekah yang disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme atas nama Islam. 

Demikian disampaikannya dalam pengajian On Air Majelis Talim Darus Syafa’ah, Kamis (28/12) malam waktu setempat.

Utusan Pondok Pesantren Kota Alif Lam Mim Surabaya itu menguraikan sedekah terbagi menjadi dua. Pertama, sedekah wajib yang juga disebut dengan zakat, yakni zakat fitrah dan zakat mal. Kedua, sedekah yang tidak wajib; yakni sedekah biasa dan sedekah jariyah (wakaf).

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekerja Indonesia di Taiwan Diingatkan Jangan Bersedekah untuk Terorisme

“Saya yakin, Bapak dan Ibu pekerja migran Indonesia di sini sudah banyak membayar zakat, juga bersedekah. Saya sudah sering mendengar kalau LAZISNU PCINU Taiwan sudah banyak membantu saudara-saudara kita di tanah air. Kemarin membantu korban banjir di Pacitan. Sebelumnya, sedekah dan zakat PCI NU Taiwan disebar mulai Sabang (Aceh) sampai dengan Merauke,” tukas kiai yang juga Katib Syuriyah PCNU Jember. 

Namun, Kiai MN Harisudin menggarisbawahi bahwa sedekah dan zakat pekerja migran Indonesia agar tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

“Ibu-ibu dan Bapak-bapak, nuwun sewu (mohon maaf), saya minta agar sedekahnya disalurkan di tempat yang jelas, transparan dan bisa dipertanggungjawabkan. Demikian ini agar sedekah tidak disalahgunakan untuk kegiatan radikalisme dan terorisme. Ini penting. Agar sedekahnya tidak dipakai untuk ngebom di Indonesia,” ujar Wakil Ketua LTN PWNU Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dosen pascasarjana IAIN Jember tersebut ketepatan tempat atau sasaran sedekah dan zakat, pertama adalah sanak famili di Indonesia, dan kedua LAZISNU PCINU Taiwan.

“Insyaallah, dua tempat ini merupakan tempat yang jelas dan tepat sasaran. Dan insyaallah juga berkah,” ujar Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates, Jember tersebut.

Majelis Talim Darus Syafa’ah merupakan salah satu majelis talim yang ada di Taiwan, dan merupakan satu diantara kurang lebih 30 lebih majelis talim yang berada di bawah koordinasi PCINU Taiwan. Anggota majelis adalah para pekerja migran Indonesia  yang menyempatkan diri mengaji setiap hari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka tidak bertemu fisik, tapi secara on air karena keterbatasan waktu dan tempat. Pengajian diisi dengan khataman Al-Qur’an, yasinan, tahlil, shalawat nariyah, dan mauidlah hasanah oleh para ustadz dan kiai dari Indonesia. (Sohibul Ulum/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Meme Islam, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 24 Februari 2018

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah meresmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan di Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Rabu (9/8) siang. Peresmian ini ditandai dengan pelepasan balon dan penandatanganan prasasti peresmian.

Peresmian ini dihadiri oleh ? Wakil Bupati (Wabup) Probolinggo H Timbul Prihanjoko didampingi oleh Wakapolres Probolinggo Kompol Hendy Kurniawan, Kepala Kantor Kemenag Kabupaten Probolinggo H Santoso serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat.

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim Resmikan Kantor PCNU Kota Kraksaan

Kegiatan peresmian ini diikuti oleh kurang lebih 2.000 undangan. Mereka terdiri dari segenap pengurus jajaran Syuriah dan Tanfidziah beserta seluruh pengurus lembaga dan badan otonom (banom) dari tingkat cabang hingga ranting juga santri dan masyarakat.?

Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah Ahmad Suja’i mengutarakan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang telah membantu proses kelancaran pembangunan kantor dua lantai milik PCNU Kota Kraksaan ini. Dari yang awalnya hanya direncanakan di rehab saja sampai akhirnya diputuskan untuk dibangun kembali dari awal pondasi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kantor ini adalah wujud dari kekompakan dan kebersamaan yang baik antara ulama dan umaro. Insya Allah adanya kantor ini akan menambah semangat kami untuk meningkatkan kualitas kegiatan-kegiatan ke-NU-an kami untuk Kabupaten Probolinggo khususnya Kota Kraksaan,” katanya.

Sementara Ketua PWNU Jawa Timur KH Moh Hasan Mutawakkil Alallah menyampaikan pengurus Tanfidziah dalam tubuh organisasi PCNU Kota Kraksaan mempunyai fungsi vital sebagai pelaksana fungsi pokok manajemen meliputi fungsi perencanaan, ? pengorganisasian, ? pengarahan dan pengendalian untuk jajaran dibawahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Untuk menjalankan semua pokok fungsi manajemen tersebut dengan baik dan optimal maka PCNU Kota Kraksaan membutuhkan kantor yang representatif dan memadai seperti ini,” katanya.

Menurut Kiai Mutawakkil, dengan adanya kantor yang lebih nyaman dan luas ini sedapatnya mampu meningkatkan ghiroh Nahdliyah, khususnya di lingkup internal kepengurusan.?

“Hikmah lainnya adalah sebagai penyemangat dalam melanjutkan perjuangan para ulama NU dan memastikan ajaran aqidah Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an nahdliyyah terus membumi di bumi pertiwi khususnya Kota Kraksaan,” tegasnya.?

Sedangkan Wabul Probolinggo H Timbul Prihanjoko menegaskan atas solidnya NU dalam memerangi segala pengaruh-pengaruh negatif yang selalu berusaha memecah belah umat dan membuat keruwetan yang mana hal itu juga akan menghambat pembangunan.?

“Yang sudah kondusif ini mari kita pertahankan. Ke depan perbanyaklah kegiatan keagamaan seperti pengajian dan sholawatan,” jelas salah satu mantan pengurus lembaga milik NU ini,” ungkapnya.?

Menurut Wabup Probolinggo, menjawab tantangan zaman yang tiap saat selalu berubah. Sehingga dihimbau agar NU supaya lebih peka dengan kompleksnya segala perkembangan di era millenium ini.?

“Hal ini merupakan PR bagi kita semua bagaimana kita bisa lebih luwes dalam melakukan pendekatan kepada generasi muda melalui temen yang sedang diminati untuk kita arahkan ke hal-hal positif dan Islami,” katanya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Santri, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Proyek perluasan kilang Balikpapan (Refinery Unit V) yang dikelola PT. Pertamina, diperkirakan membutuhkan 20.000 tenaga terampil. Pemenuhan tenaga terampil tersebut sebagian akan diprioritaskan dari pekerja lokal, yakni dari daerah Kalimantan Timur.

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)
Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Terkait dengan rencana pemenuhan tenaga kerja, beberapa petinggi PT Pertamina melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, Senin (20/11) kemarin.

"Kami sowan (silaturahim) ke Pak Menteri untuk menawarkan kerjasama pelatihan untuk  tenaga kerja lokal. Kebutuhan tenaga kerja terlatih sampai 20.000 orang, tapi sebagian akan dilatih dari tenaga kerja lokal sekitar 5000-7000 orang," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina, Ardhy N. Mokobombang.

Turut serta dalam rombongan audiensi adalah Vice President Refining Project Pertamina Ignatius Tallulembang, serta beberapa pejabat lainnya.

Dijelaskannya, proyek perluasan kilang Balikpapan merupakan bagian dari program strategis meningkatkan kemandirian dan ketahanan energy nasional, baik peningkatan produksi BBM atau non BBM.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kualitas produksi yang semula Euro 2 menjadi Euro 5. Proyek berdurasi 43 bulan ini akan menyerap tenaga kerja sedikitnya  20.000 orang. Saat kilang dioperasikan akan menyerap sekitar 2.500 orang pekerja.  

Rencananya, ground breaking mega proyek dengan investasi US$ 5 miliar ini akan  dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Desember atau Januari nanti.

Terkait dengan rencana kerjasama menyiapkan pelatihan tenaga kerja terampil, saat ini pihak sedang menyusun silabi pelatihan yang akan diterapkan pada lima Balai Latihan Kerja (BLK) di Kalimantan Timur. Atau di BLK lainnya sesuai kebutuhan pelatihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan tersebut, Menaker M Hanif Dhakiri menyatakan sangat mendukung adanya penyerapan tenaga kerja lokal dalam proyek tersebut.

“Selain mendukung kemandirian energi dan dunia industri, proyek ini akan menyerap ribuan pekerja lokal.  Pemerintah dan Pertamina akan menyiapkan pelatihan bagi tenaga kerjanya,” kata Menaker.   

Menaker berjanji, untuk keperluan pemenuhan tenaga kerja lokal tersebut, pihaknya akan segera membuat tim khusus (pertamina dan Kemnaker) untuk menyusun silabus, instruktur, dan peralatan yang dibutuhkan dalam proyek tersebut.  (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Serba-serbi dari NU Karbitan

Oleh Saiful Hakam



Di kantor tua, sebuah kantor jawatan penyelidikan ilmu-ilmu budaya dan sosial, saya sering berbincang ringan dengan rekan sejawat tentang nasib sebagai santri, berwajah santri, dan bertabiat santri: tukang doa

Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)
Serba-serbi dari NU Karbitan (Sumber Gambar : Nu Online)

Serba-serbi dari NU Karbitan

Dua kata di atas sering keluar dari mulut saya. Rekan saya itu tidak pernah menukas sama sekali.  Dilema. Saya bilang ke kawan saya bahwa saya ini bukan santri sejati. Mengapa?

Karena, saya tidak pernah mondok sama sekali. Tidak bisa baca kitab kuning sama sekali. Bahkan, lebih parah lagi, tidak bisa bahasa Arab klasik sama sekali. Jadi, saya tidak absah disebut santri apalagi disebut santri NU. Sangat tidak absah. 

Namun, kawan saya itu memberikan petunjuk yang bikin senang. “Meskipun, Sampean tidak pernah mondok, tidak bisa baca kitab kuning, dan tidak bisa bahasa Arab klasik tapi wajah Sampean mutlak wajah santri,” begitu katanya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya tidak tahu maksud dari frasa “wajah santri”. Tapi itu tidak bisa digugat. Kalimat ini bikin saya merenung. 

Dan, memang, saya lahir dan tumbuh di lingkungan NU. Bisa dibilang NU 26 karat. Hampir semua kerabat dari kakek, paman, bibi, sampai bapak pernah jadi pengurus NU. Kakek saya dari pihak bapak konon katanya pernah jadi pengurus syuriah NU di sebuah kota kecil berawalan huruf B di Jawa Timur, tempat jenazah Bung Karno dikebumikan. 

Bapak saya sendiri, kalau dirunut riwayat hidup karirnya betul-betul dimulai dari NU dan jati dirinya dibentuk oleh NU. Mula-mula jadi anggota IPNU. Dan konon, karena tidak ada dokumen foto dan dokumen kertas tertulis, pernah jadi ketua IPNU Kota B. 

Di waktu senggang bapak saya itu, dengan bangga bercerita pengalaman pertama naik mobil sedan. Yakni, dijemput panitia Kongres IPNU di Stasiun Pekalongan. Di sana di dalam konggres itulah ia berkenalan dengan KH Hasyim Muzadi. Sama-sama jadi kader IPNU pertama. Yang aneh, ia selalu ingat mobil sedan dan kursi empuk yang dikaguminya itu. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu, ia dengan penuh semangat menyebut nama-nama Mahbub Djunaidi dan Saiffuddin Zuhri.  Dan, ia punya obsesi yang penuh menyala-nyala pada jas dan dasi. Koleksinya banyak. Ketika saya tanyakan mengapa suka banget pada jas, jawabnya mencontoh KH Abdul Wahid Hasyim, bapaknya Gus Dur itu. 

Karirnya bertahap di organisasi NU. Dari IPNU, ia pindah ke Pengurus Ansor. Lalu dari Ansor, naik menjadi pengurus cabang NU dengan jabatan wakil sekretaris. Dan, ketika jadi pengurus cabang ini ia juga merangkap menjadi pengurus Partai Persatuan Pembangunan. 

Entah berapa latihan kader yang ia ikuti. Ia sering menjadi utusan Kota B dalam memenuhi undangan pengurus wilayah NU Jawa Timur di Surabaya. Karena begitu seringnya, sampai-sampai ada kelakar dari rekannya untuk bapak saya, “Jangan-jangan rapat Muslimat akan Sampean wakili?”

Susah memang memikirkan jati diri NU saya. Kebanyakan yang muncul adalah cerita-cerita dan pengalaman bapak mengurus NU. Atau, kesibukan bibi, adik bungsu bapak, yang hampir seluruh hidupnya dicurahkan sebagai pengurus Muslimat NU bagian konsumsi. Bibi saya ini meskipun sakit akan lekas sehat ketika mendapat undangan kegiatan-kegiatan Muslimat NU. Dan, kami, anak-anak, hafal betul bahwa ia selalu mengurus urusan konsumsi dalam pengajian-pengajian Muslimat NU. Urusan masak memasak, mulai dari menanak nasi, lauk pauk, dan minuman. 

Kabar terakhir, ia merelakan kediamannya dijadikan sebagai pilot project PAUD muslimat NU kota B. Ini tentu saja membuat sibuk saudara sepupu saya karena harus menambah kamar dan merehab rumah. Tapi, mereka semua riang gembira. 

Di tengah-tengah kebimbangan itu, saya kemudian sadar bahwa NU bukan sekedar identitas. Dilema ini muncul karena saya hijrah ke ibu kota, jadi kaum muhajirin di ibu kota, dan berhadapan dengan berbagai macam aroma kehidupan. Terutama, aroma kehidupan Islam yang penuh aneka warna. 

Bapak saya menjalankan tradisi-tradisi NU dengan tekun. Terutama amalan wiridan dan sowan kiai. Semua anaknya ketika menghadapi ritus peralihan dari ulangan umum, dua istilah istilah zaman dulu: Ebtanas daUMPTN, dan menikah pasti diajak ikut berdoa dan diajak ikut sowan kiai memohon bantuan doa. 

Sembahyang lima waktu dijalankan secara berjamaah. Dan, tentu saja dengan wiridan yang panjang. Wiridan yang bagi kami sangat panjang, hampir setengah jam, adalah wiridan sesudah sembahyang subuh. 

Kami diajak bersama-sama membaca asmaul husna dan selawat nabi. Ketika kami akan pergi naik kereta api, naik kendaraan umum, dan naik sepeda motor, kami dinasihati untuk membaca selawat nabi dengan serius. Mengheningkan cipta untuk berselawat. 

Artinya, rasa dan nuansa saya menjadi santri terus terang tidak seketika. Ada tahapan dan ada proses. Di sekolah dasar, saya paling cemas, takut, dan grogi ketika disuruh hafalan surat-surat pendek pada pelajaran agama Islam. Takutnya bukan main. Dan, hafalan itu membutuhkan kerja keras. Saya masih ingat betapa beratnya menghafal surat Al-Balad. Kalau tidak hafal, dan kurang hafalan. Dihukum. Berdiri depan kelas. Menanggung malu dua beban. 

Anak pengurus NU kok tidak hafal surat pendek. Lalu, menjelang kelas enam SD, saya berjuang keras menghafal surat adl-Dluha dan asy-Syams. Itu pun penuh perjuangan karena baru bisa hafal penuh pada kelas dua SMA. 

Sementara itu surat Yasin, belajar menghafal sejak kelas enam SD dan baru hafal lulus program S-2 di universitas di Kabupaten Sleman. Yang masih belum hafal, adalah bacaan dan amalan tahlil, sampai hari ini masih berjuang, berjuang dalam proses membaca, dan menghafal. Memang betul-betul NU karbitan. 

Lalu, suatu ketika, saya ingin mengamalkan amalan surat al-Waqiah. Ini ikut-ikut teman yang lama mondok di Kediri. Dan, alhamdulilah lumayan bisa lancar membaca, itu pun berkat bantuan huruf latin. 

Bikin sedih memang. Cerita semacam ini sebenarnya tidak layak diceritakan apalagi dituliskan mengingat bagi santri, ritus peralihan dan ritus-ritus semacam ini bukan sesuatu dan hal yang keren apalagi mengesankan. Kaum santri sejati punya tradisi intelektual yang kuat terutama dalam bahasa Arab klasik, syair, kitab-kitab klasik, dan debat dalam majelis bahstul masail. Kalau santri sejati bercakap-cakap bahasa Arab, wah, seketika saya akan minder setengah mati. 

Meski demikian, semangat untuk berproses menjadi NU tidak berhenti. Rekan saya, seorang intelektual dari Tasikmalaya dan fasih ilmu sejarah dan ilmu filsafat, dan dari dulu berjibaku membeli buku dengan siap hidup bersahaja, memperkenalkan saya pada buku-buku tentang NU. Terutama terbitan LKIS. LKiS adalah sebuah lembaga intelektual dan penerbitan yang masyhur di Jogja. Perkenalan buku ini seperti sebuah kegembiraan yang tidak dapat dilukiskan apalagi dipahat dalam prasasti batu. 

Nuansa NU saya, dibentuk mula-mula oleh kisah-kisah dari bapak, ibu, paman, yang kadang hilir mudik sibuk jadi panitia rapat-rapat NU,pidato-pidato kiai, dan juga dari buku-buku tua milik ibu. Ibu punya buku biografi KH Abdul Wahid Hasyim. Saya membacanya sewaktu duduk di bangku SMU. Dan, buku itu rusak dan hilang kerna saya tak pandai merawatnya. Buku yang tebal, tua, berdebu. Saya suka melihat foto Gus Dur muda sedang duduk di kursi sambil baca buku. 

Lalu, majalah Aulaterbitan PWNU Jawa Timur. Majalah Aula betul-betul sebuah hiburan yang bikin senang dan senantiasa ditunggu-tunggu kedatangannya. Parahnya, Bapak sering lupa bayar tagihan. Dari majalah aula, kesadaran tentang NU tumbuh. Ke-NU-an menjadi hadir dan bernyawa. 

Ah, tiba-tiba saya ingat catatan harian ibu. Adik bungsu hampir saja diberi nama muktamar, karena lahir pada tahun 1984 dan bersamaan dengan penyelenggaraan Muktamar NU 1984. Bapak tentu saja hadir, tapi lekas pulang ke Kota B kerena dimaki-maki rekan-rekannya disuruh pulang menemani istri dan menunggu lahir anak. 

Dan, di atas itu semua, penanda yang tidak bisa dilupakan adalah potret di rumah kakek, yang dipajang dengan sangat berwibawa, di balai rumah, Potret KH Muhammad Hasyim Asyari. Lama terpasang di balai rumah Kakek Buyut. Setiap tamu dan orang yang datang ke rumah kakek, pasti, akan disambut oleh potret Hadratussyekh. 

Penulis adalah Peneliti LIPI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah, Nusantara, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Februari 2018

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Gowa, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Sekretaris Lembaga Takmir Masjid Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan H Misbahuddin mengingatkan bahwa sejarah kejayaan Islam ada di tangan pemuda. Karena pada saat itu, katanya, pemuda mengisi segala lini kehidupan termasuk mengisi masjid. 

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Demikian disampaikan Misbahuddin Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pesantren Bahrul Ulum Kabupaten Gowa, Jumat (8/12).

Menurutnya, kalau hari ini pemuda tidak bergerak, pemuda tidak berpikir tentang masjid dengan baik, maka boleh jadi masjid tidak berfungsi secara baik karena masjid menjadi kekuatan dan fondasi agama, masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 

"Pemuda harus dekat dengan masjid, mengawasi masjid, mengisi masjid dengan kegiatan di antaranya dengan pengajian yang muatannya untuk menjadi NKRI," terangnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan yang mengusung tema Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI ini terlaksana atas kerja sama LTM PBNU dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). 

Hadir pada hari terakhir roadshow Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pulau Sulawesi Selatan ini Sekretaris LTM PBNU H Ibnu Hazein, Wakil Sekretaris LTM PBNU Syarif Hidayat, Sekretaris LTM PBNU H Sarmidi Husna, Ketua PCNU Kabupaten Gowa Abdul Jabbar Hijaz, Wakil Ketua PWNU Sulawesi Selatan H Muammar Bakri. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Pada tahun 1958, ada yang menyebutkan pada tahun 1950, Presiden Soekarno berkunjung ke Mataram, melalui bandara Selaparang, Ampenan. Tujuannya untuk meresmikan kantor gubernur Nusatenggara Barat (NTB).

Rencana kedatangannya, telah tersiar jauh hari sebelumnya oleh warga di pulau Lombok itu, termasuk oleh Tuan Guru Haji (TGH) Saleh Hambali. Jika kejadian itu tahun 198, saat itu berarti ia adalah Rais Syuriyah PWNU NTB. Saat itu NU masih berstatus partai. ?

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Tuan Guru itu sebetulnya dikenal masyarakat sebagai orang yang rendah hati dan jarang berkomunikasi dengan pihak luar, apalagi dengan seorang presiden. Namun, entah kenapa, dengan percaya diri ia menegaskan, bahwa Bung Karno akan berkunjung ke pesantrennya, Darul Qur’an di desa Bengkel. Sebuah desa yang akan dilalui Bung Karno jika melalui Ampenan. ?

Akan mampirnya Bung Karno, dikemukakan Tuan Guru kepada para santrinya. Salah seorang saksi hidup peristiwa itu adalah Ustadz Asmaun dari desa Bonder, Lombok Tengah yang diceritakan anaknya, Syaifullah. Ketua PWNU NTB saat ini, TGH Taqiudin Mansur juga membenarkan kisah itu.? Dia mendngar cerita itu dari ayahnya, TGH Mansur, santri Darul Qur’an saat itu. ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para santri merasa heran kenapa Tuan Guru Soleh Hambali bisa seyakin itu karena tidak ada pemberitahuan dari pihak mana pun tentang berkunjungnya Bung Karno ke pesantren Darul Qur’an.

Beberapa hari menjelang kedatangan, di agenda protokoler kepresidenan tetap tidak ada jadwal Presiden Soekarno ke pondok. Namun, TGH Saleh Hambali malah meminta para santri menyiapkan podium penyambutan.

Di hari kedatangan Bung Karno, dari bandara Selaparang Ampenan menuju kota Mataram, semua santri disuruh keluar oleh TGH Saleh Hambali.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh berkata kepada santri-santrinya, jika Bung Karno adalah pemimpin yang benar, dia akan mampir ke pesantren Darul Qur’an.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh waktu itu menulis ayat Al-Quran di dinding pesantren, yaitu “Fawaillul lil mushallin.” Namun, dalam pada catatan Yusuf Tantowi, ayat yang ditulis TGH Saleh adalah “Fa ammal yatima fala taqhar, wa amma sya ila fala tanhar” dan dia tidak menuliskannya di tembok, melainkan dibentangkan di atas spanduk.

Ternyata, ketika Bung Karno melewati pondok pesantren Darul Qur’an, ia benar-benar mampir. Hal itu di luar dugaan pasukan pengawal yang berada di paling depan. Mereka tidak mengetahui orang yang dikawalnya telah mampir pada tempat yang tidak dijadwalkan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja

Bondowoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kegiatan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ke-2 GP Ansor Bondowoso merupakan tidak lanjut dari rapat kerja cabang pertama yang telah digelar satu tahun lalu. Sebelumnya, Rakercab ini dilaksanakan bersamaan dengan pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bondowoso. Rakercab kedua ini juga merumuskan agenda-agenda ke depan agar berjalan dengan baik.

Hal tersebut di sampaikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (PG) Ansor Kabupaten Bondowoso Muzammil dalam sambutannya membuka Rapat Kerja Cabang Ke-2 dan sekaligus Pelantikan Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Bondowosa PC GP Ansor di Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Koncer Darul Aman Jl KH Abd Muiz Tr Desa Koncer Darul Aman Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Sabtu (5/3).

Ia berharap nantinya di Rakercab ini agar ada kontrol bersama, agar ada tanggung jawab bersama sehingga kedepan betul-betul sesuai apa yang diinginkan warga Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso, selain bisa bermanfaat untuk masyarakat Bondowoso secara umum.

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja

Acara Pembukaan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ke-2 ini di ikuti 23 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor se-Kabupaten Bondowoso dengan mengambil tema ‘Revatalisasi peran Pemuda Ansor dalam proses Pembangunan menuju Masyarakat Bondowoso Beriman, Berdaya dan Bermartabat’.

Turut hadir pula juga dalam acara pembukaan Rakercab Ke-2 ini di antaranya Ketua PC GP Ansor Bondowoso Muzammil beserta jajarannya, Banser, Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor, Polsek Tenggarang, Koramil Tenggarang, Camat Tenggarang Jakfar Sodik, Diknas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Pengasuh Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki KH Muhammad Hasan Abd Muiz. (Ade Nurwahyudi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Hadits, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi

Oleh Ahmad Nur Kholis

--Awal tahun 2009 silam saya mengikuti acara pengajian Almaghfurlah KH Idris Marzuki Lirboyo. Acara dilaksanakan di Pondok Pesantren Al-Fattah Singosari, asuhan KH Ja’far Shadiq atau biasa disapa Gus Ja’far. Acara ini digelar oleh alumni dan masyarakat umum dalam rangka turba persiapan peringatan Harlah satu Abad lirboyo. Turut dalam acara ini Almukarram KH Abdullah Kafabih Mahrus.

Dalam kesempatan itu, selain diisi dengan pemberian ijazah “Dala’ilul Khairat” oleh KH Idris, juga ada mau’idzah hasanah oleh beliau, kepada semua yang hadir. Dalam ceramahnya ini KH Idris menjelaskan tentang pentingnya pendidikan pesantren bagi generasi masa depan.

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Wejangan Mbah Idris tentang Wahabi

Disamping itu, Putra dari KH Marzuki Dahlan ini juga menerangkan tentang isi dari sebuah kitab kecil yang seingat saya dibawanya. Tapi waktu itu saya tidak tahu nama kitab tersebut karena pendengaran saya kurang teliti. Tapi yang jelas telinga saya mendengar bahwa kitab yang diterangkan ini ditulis oleh Muhammad bin Abdul Wahab pendiri Wahabi.

Dalam kitab itu seingat saya KH Idris menjelaskan tentang klarifikasi Muhammad bin Abdul Wahab bahwa jika ada yang mengatakan bahwa dirinya telah membid’ahkan tawassul maka itu adala kebohongan yang besar. KH Idris membacakan kitab kalimat “Buhtanun Adhim” dalam kitab itu.

Saat ini, setelah Al-Mukarrom KH Idris telah berpulang tahulah saya nama kitab itu. Dalam sebuah buku yang diterbitkan Lembaga Takmir Masjid (LTM) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) berjudul “Tradisi Amaliah NU dan Dalil-dalilnya” disebutkan:

“Sesungguhnya Sulaiman bin Suhaim telah menyandarkan pendapat-pendapat yang tidak saya katakan, diantaranya adalah: saya mengkafirkan orang-orang yang bertawassul terhadap orang Shalih, dan saya katanya, mengkafirkan Syaikh Al-Bushairy, dan telah membakar Kitab Dalailul Khairat. Jawaban saya atas tuduhan di atas adalah, bawa itu merupakan kebohongan yang besar.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendapat ini dikutip dari kitab Muhammad bin Abdul Wahab yang berjudul: “Al-Muwajjahah li Ahlil Qashim.”

Dalam buku terbitan PBNU itu juga dikutip tentang keterangan Muhammad bin Abdul Wahab saat ditanya tentang shalat Istisqa’. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menjawab tidak masalah dalam shalat istisqa’ diselingi tawasul kepada orang shalih. Pendapat ini dikutip dari kitab Rasail Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Subhanallah......

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Selasa (10/1) malam, akan menggelar diskusi bidang pertanian di Jalan Kramat Raya 65A Jakarta Pusat.

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

PP GP Ansor Diskusi Pertanian Dengan Menteri Desa

Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), di Jakarta melalui pesan tertulisnya menyatakan, diskusi itu akan dihadiri Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi RI Eko Putro Sandjojo.

Dalam Diskusi Refleksi Akhir Tahun 2016, Gerakan Pemuda Ansor, Ketua Bidang Pertanian, Kedaulatan Pangan dan ESDM PP GP Ansor Adhe Musa Said prihatin melihat nasib petani yang cenderung tidak mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Ia berharap kebijakan sektor pertanian dijalankan serius oleh Pemerintah Republik Indonesia.

Agenda lain di PP GP Ansor Selasa malam ialah menyambut anggota Banser dari Malang, Jawa Timur, Hakam Mabruri (34) dan Rofingatul Islamiah (34) yang bertekad menyosialisasikan corak khas Islam Nusantara ke 11 Negara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kepala Satuan Koordinasi Nasional Barisan Ansor Serbaguna (Kasatkornas Banser) H Alfa Isnaeni, Senin (9/1) malam mengintruksikan jajarannya mendampingi Gus Yaqut yang akan menyambut Hakam dan istri.?

Hakam yang bertolak dari Malang 17 Desember 2016 tiba di Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (7/1). Kedua pasangan suami istr itu disambut ratusan Banser setempat di perbatasan Indramayu-Subang. Hakam dan Rofingatul dijadwalkan tiba di Kantor PP GP Ansor sekitar pukul 17.30 WIB. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah