Minggu, 21 Desember 2014

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Terus molornya penyelesaian kasus lumpur Lapindo Sidoarjo, sangat mengecewakan warga Kota Petis itu. Apalagi proses verifikasi tanah yang semakin rumit dan semakin banyak saja persyaratan yang diminta oleh pihak PT Minarak, perusahaan yang diminta Lapindo membayar ganti rugi. Warga semakin kecewa. “Penanganan lumpur selama ini sangat-sangat-sangat kurang maksimal,” kata Drs H Abdi Manaf, Ketua PCNU Sidoarjo di Surabaya, Sabtu.

Ia mencontohkan, kalau dulu, Lapindo belum mengakui tanah yang berstatus petok D dan letter C, lalu minta disetujui Bupati. Ketika Bupati dan pemerintah pusat sudah mengakui, bahkan bupati bersedia menjadi jaminan, ternyata Minarak menambah syarat lagi, yaitu riwayat tanah. “Ini jelas semakin mempersulit warga,” lanjut Gus Manaf. “Tampaknya memang ada kesan Lapindo sengaja mengulur-ulur waktu pembayaran ganti rugi pada warga,” lanjutnya.

Yang membuat hati alumnus Pesantren Tebuireng Jombang itu tidak enak, ternyata selama ini pihak Lapindo masih belum merasa bersalah atas musibah itu, sekalipun sudah ribuan orang hidup di pengungsian dan kehilangan harta benda. Kesimpulan itu diterima Gus Manaf ketika bertemu langsung dengan Andi Darussalam dari PT Minarak. Kalaupun Lapindo selama ini mau mengeluarkan uang, hal itu semata-mata hanya karena tanggung jawab sosial.

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lumpur Lapindo Bagai Lingkaran Setan

Penyelesaian lumpur Lapindo yang diinginkan warga, menurut Gus Manaf, sebenarnya tidak muluk-muluk. Pemerintah memberikan jaminan ganti rugi kepada warga, lalu seluruh aset Lapindo dijadikan jaminan kepada pemerintah. Selesai. “Kalau pemerintah bilang tidak punya uang, buyar saja negara ini, masak negara kok tidak punya uang untuk memberikan ganti rugi warganya,”? terang putra Bawean itu.

Tapi sayang, pemerintah tampaknya tidak punya keberanian untuk melangkah ke sana. Sedangkan pihak Lapindo hanya mengobral janji-janji terus, nyaris tak ada pembuktian. Pemerintah juga tidak berani mengambil langkah lebih tegas lagi pada perusahaan milik keluarga Bakrie itu.

Gus Manaf tidak bisa membayangkan sampai kapan proses verifikasi tanah warga akan selesai. Sebab, dari 16 ribu warga yang akan diverifikasi, hanya terselesaikan 10 sampai 15 orang setiap harinya. Itupun belum termasuk yang harus dikembalikan berkasnya, karena dinilai belum lengkap. “Terus kapan selesainya?” tanyanya tak habis mengerti.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di sisi lain, ia menilai peranan empat orang anggota DPD asal Jawa Timur dalam soal Lumpur Lapindo masih sangat kurang. Sebab mereka baru datang ke lokasi lumpur setelah musibah itu berlangsung lebih dari satu tahun. Tepatnya sekitar tiga hari lalu. “Katanya sih untuk menyerap aspirasi,” tutur Gus Manaf.

Penanganan lumpur selama ini, kata Gus Manaf, ibarat lingkaran setan. Pemerintah tidak berani menjadi jaminan, sedangkan Lapindo yang menyatakan sanggup membayar ganti rugi, ternyata hanya mengobral janji. “Kalau begini terus, kan kasihan orang-orang itu,” tegasnya. (sbh)



Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Desember 2014

Media sebagai Kekuatan Strategis dalam Masyarakat

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Seiring perkembangan zaman, media merupakan salah satu bagian penting yang tak dapat dipisahkan lagi dengan kondisi sosial masyarakat. Pasalnya, media adalah sebuah acuan atau tolak ukur berkembangnya suatu negara. Lalu sejauh mana peran media massa? Ada banyak jawaban yang diajukan oleh para pakar sosial mengenai peran media massa terhadap isu yang berkembang di masyarakat. 

Demikian pembicaraan yang menguak dalam pemaparan singkat diskusi media massa dan NU, yang disampaikan oleh kontributor Pondok Pesantren Attauhidiyyah wilayah Tegal Abdul Muiz dalam Latihan Kader Muda (Lakmud) yang dikemas oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdltul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Kecamatan Tarub, baru-baru ini di SDN Gedongan Sayang Kecamatan Tarub. 

Media sebagai Kekuatan Strategis dalam Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Media sebagai Kekuatan Strategis dalam Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Media sebagai Kekuatan Strategis dalam Masyarakat

Muiz menjelaskan media massa juga bisa berperan sebagai sumber rujukan di bidang pendidikan dan penyebaran informasi yang cepat. Dalam hal ini, media dapat meningkatkan pengetahuan masyarakat. Media memiliki andil yang penting dalam mengajak masyarakat untuk memerangi kekerasan dan tindak kriminalitas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Media sebagai kekuatan strategis dalam menyebarkan informasi merupakan salah satu otoritas sosial yang berpengaruh dalam membentuk sikap dan norma sosial suatu masyarakat. Media massa bisa menyuguhkan teladan budaya yang bijak untuk mengubah prilaku masyarakat,” katanya.

Dalam diskusi yang diikuti oleh 90 peserta itu, ia juga menceritakan tahun 20 sampai 30-an, media-media NU bergerak dalam penguatan akidah ahlusunah wal jama’ah. Pada tahun 50-an warga NU memiliki media Duta Masyarakat yang memiliki pengaruh yang sangat kuat apalagi NU menjadi partai terbesar ketiga dalam pentas nasional sehingga Duta Masyarakat selalu dinanti oleh masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kendati demikian, tantangan kita saat ini ialah maraknya kelompok fundamintalis Islam dan liberal yang merongsong akidah Islam. Mereka sangat gencar, hingga mereka menerbitkan tafsir Alquran sendiri. Itu semua harus dihadapi oleh NU. Melihat karakter media NU tahun 20-60-an dan sekarang ini, warga NU diharuskan meluruskan tema dan isu sekaligus membangun strategi redaksional yang memadai,” tukasnya.

Diakhir sesi banyak pertanyaan yang terlontar dari peserta, sehingga jalannya diskusi semakin hangat. Rekomendasi dari kegiatan diskusi itu adalah adanya tindak lanjut dengan menggelar kegiatan yang lebih intensif semacam diklat jurnalistik. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Nahdlatul Ulama, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Desember 2014

Pekan Pancasila, Siswa SMA Walisongo Digembleng Patriotisme

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 100 siswa SMA Walisongo Ketanggungan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah dalam keadaab berpuasa mereka digembleng Patriotisme oleh Komando Rayon Militer (Koramil) setempat. Mereka mendapatkan materi tentang kebangsaan agar tertanam jiwa Pancasilais, patriotisme, dan nasiolisme.

Pekan Pancasila, Siswa SMA Walisongo Digembleng Patriotisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Pekan Pancasila, Siswa SMA Walisongo Digembleng Patriotisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Pekan Pancasila, Siswa SMA Walisongo Digembleng Patriotisme

“Kita harus menggelorakan kembali semangat Pancasila dan nilai nilai kebangsaan kepada generasi muda, termasuk anak-anak sekolah,” ujar Danramil 15 Ketanggungan Solehudin saat membuka acara Pekan Pancasila Koramil 15 Ketanggungan, di SMA Walisongo Ketanggungan, Sabtu (10/6)

Solehudin mengaku bangga dengan masih banyak siswa yang memiliki jiwa patriotisme, pancasilais dan nasionalis. Namun demikian perlu dilakukan penanaman lebih mendalam lagi mengingat era sekarang banyak sekali paham-paham yang mengajak kepada paham radikalisme yang berusaha merongrong Pancasila dan Keutuhan NKRI.?

Kita harus waspada dengan pergerakan yang mengarah kepada perpecahan bangsa. Karena terbukti, para pelaku tindakan teror mayoritas masih berusia muda yang masih labil dan gampang dikibuli dengan dalih agama.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Umi Hidayah dan Dwi Mulyana kelas 11 IPA mengaku senang dan bersemangat mengikuti kegiatan pekan Pancasila meski diadakan di bulan puasa. “Suasana menjadi cair, semangat, senang berpadu menjadi satu, pokoknya hepi dech,” ujar Umi.

Kegiatan Pekan Pancasila diisi dengan ceramah oleh Danramil dengan outbond yang dipandu oleh 6 anggota TNI. Outbond antara lain memainkan tandu bola, hola hop, tandu air, estafet air dengan mata tertutup, estafet bambu di leher dan lain-lain.?

“Para siswa juga di test mengucapkan Pancasila, yang ternyata ada satu siswa yang terlihat grogi sehingga mengucapkannya terbalik, seharusnya sila ketiga yang diucapkan sila keempat,” sambung Kepala SMA Walisongo Ahmad Amin yang ikut mendampingi acara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Amin menyakini, setelah siswanya mengikuti pekan Pancasila bisa tertanam jiwa saling gotong royong, persatuan dan kesatuan, kekompakan dan patriotisme serta nasionalismenya tumbuh. “Keseimbangan lahir dan batin, jiwa dan raga harus berpola dengan baik sebagaimana yang termaktub dalam agama dan Pancasila,” terang Amin.

Selain pekan Pancasila, lanjut Amin, SMA Walisongo juga menggiatkan berbagai kegiatan Islami seperti Tadarus, Lomba Khitobah, Tartil dan Maulid Barzanji. Sedangkan Pesantren Ramadhan bakal digelar pada 12-15 Juni. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 14 Desember 2014

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Seperti tahun sebelumnya, tahun ini Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menggelar Kirab Resolusi Jihad NU. Penyelenggaraan kirab sebagai salah satu bentuk peringatan Hari Santri Nasional 2016, akan menempuh sekurang-kurangnya 2000 kilometer dan memakan waktu sepuluh hari. Para peserta diharapkan untuk dengan ikhlas menjalankan kegiatan ini, sekaligus menyiapkan fisik, karena jarak tempuh yang jauh dan lamanya waktu.

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)
Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari (Sumber Gambar : Nu Online)

Kirab Resolusi Jihad NU Tempuh 2000 Kilometer Selama 10 Hari

Hal itu muncul dalam rapat koordinasi Kirab Resolusi Jihad NU 2016 di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat, Ahad (9/10) sore.

Aizuddin Abdurahman mewakili panitia mengatakan, Kirab Resolusi Jihad NU tahun ini mengalami perkembangan yang luar biasa. Kirab tahun ini juga lebih istimewa karena animo, ekspektasi, dan harapan atas terselenggaranya kirab.

Selama perjalanan kirab, rombongan akan bersilaturahim kepada para kiai serta pengurus NU di daerah, berdialog, dan bersosialisasi dengan warga NU. Selain itu peserta kirab juga akan diajak melakukan ziarah ke makam pendiri dan pejuang NU. Oleh karena itu peserta kirab diharapkan ? benar-benar menjaga semangat kekhidmadan kirab karena bernilai sejarah.

Sebanyak kurang lebih delapan puluh orang diberangkatkan dalam kirab yang dimulai di Banyuwangi pada 13 Oktober hingga tiba kembali di Jakarta pada 22 Oktober. Para peserta adalah perwakilan seluruh lembaga dan badan otonomi di bawah PBNU. Pemberangkatan peserta dari Jakarta dilakukan Selasa, 12 Oktober menggunakan kereta api, dan tiba di Banyuwangi Rabu, 13 Oktober.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setiba di Banyuwangi peserta akan menggunakan lima armada bus. Dari Banyuwangi peserta kirab dijadwalkan akan mengunjungi Situbondo, Probolonggo, Pasuruan, Malang, Sidoarjo, Bangkalan, Bubutan pada ? 14 Oktober. Hari berikutnya, 15 Oktober, rombongan akan memasuki Surabaya, Mojokerto, Rejoso, Jombang, Kertosono, Kediri.

Pada Ahad 16 Oktober, rombongan terjadwal mengunjungi Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Madiun. Menginap semalam di Madiun, esok harinya 17 Oktober, rombongan akan mengunjungi Magetan, Ngawi, Mantingan, Sragen, Solo, Klaten, Jogjakarta.

Selasa, 18 Oktober rombongan meneruskan perjalanan ke Magelang, Parakan, Wonosobo, dan Banyumas. Sementara pada Rabu, 19 Oktober, perjalanan dilanjutkan ke Cilacap, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya, Garut, dan Bandung.

Kamis 20 Oktober, rombongan dijadwalkan tiba di Cianjur, meneruskan ke Bogor dan Tangerang Selatan pada sore harinya. Jumat 21 Oktober dari Tangerang Selatan rombongan akan mengunjungi Serang, Pandeglang, Cilegon dan Jakarta. Rombongan kirab akan mengikuti Upacara Hari Santri di Lapangan Banteng Jakarta Pusat, Sabtu 22 Oktober.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kirab diharapkan tidak hanya utuk konsolidasi, namun juga akan menambah ketebalan ke-NU-an. Rute dan kegiatan kirab akan membawa rombongan pada napak tilas perjuangan para pendiri NU. ? Sehingga para peserta kirab nantinya akan merasakan perjuangan para pendahulu, serta ada nilai-nilai yang dapat diteladani. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Desember 2014

Said Aqil Siraj: “Kembangkan Wisata Syariah”

Jakarta, NU.Online
Workshop “Revitalisasi Peran Agamawan Dalam Pemulihan  dan Pengembangan Pariwisata Nusantara” yang dilaksanakan Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) di Hotel Aston Atrium Jakarta 7-8 Mei Mengusulkan diwujudkannya pariwisata yang berbasiskan syariah.

Secara kongret Ketua Umum PP LPNU H. Basofi Soedirman menyatakan akan mengembangkan konsep wisata pesantren. Pesantren merupakan sebuah institusi pendidikan yang unik, yang tidak ada di Barat. Ini adalah suatu hal yang menarik “Asalkan aman dan nyaman, mereka akan berbondong-bondong datang pesantren” ujar Basofi.

Basofi yang memiliki sejumlah biro perjalanan mengatakan bahwa semasa menjadi gubernur di Jawa Timur ia sudah pernah mengembangkan wisata pesantren. Lokasi yang dipilihnya adalah pesantren Salafiah Syafiiyah Asembagus yang diasuh oleh KH As’ad Samsul Arifin. Namun demikian, proyek tersebut berhenti ditengah jalan ketika ia turun dari jabatannya.

Menanggapi usulan dari Basofi tersebut, Syuriah PBNU KH Said Aqil Siraj yang juga hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut sambil bercanda menannyakan “Nanti yang dilihat turisnya apa santrinya?”. Pengembangan pesantren sebagai lokasi wisata perlu dipersiapkan konsep yang matang agar dikemudian hari tidak timbul masalah.

Bagaimanapun juga kegiatan wisata harus dikembangkan untuk menunjang kegiatan Perekonomian. Said Aqil yang merupakan direktur pascasarjana Universitas Islam Malang dalam ceramahnya mengatakan bahwa bagaimanapun juga kita harus mengembangkan suatu konsep wisata yang memiliki nilai agama atau bisa juga dikatakan sebagai wisata syariah, mengacu konsep yang sudah ada sebelumnya seperti bank syariah, asuransi syariah, atau hotel syariah yang saat ini sudah mulai berkembang di masyarakat.

Kita tidak boleh hanya melarang saja atas kegiatan wisata yang bersifat negatif. Kita harus memberikan satu alternatif dulu yang sesuai dengan ajaran agama sebelum melarangnya. “Amal Ma’ruf dulu, baru Nahi Munkar, jangan kebalik ” ujarnya.

Saat ini sebetulnya sudah ada wisata yang bernilai ibadah, yaitu wisata ziarah. Warga NU sudah akrab sekali dengan ziarah wali songo. Akan tetapi selama lokasi wisata belum dikembangkan dengan baik sehingga nilai tambahnya kurang baik. Secara internasional Taj Mahal di India, Piramid di Mesir, ataupun makam-makam lainnya juga merupakan wisata ziarah, namun mereka sudah dikelola dengan baik. (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Said Aqil Siraj: “Kembangkan Wisata Syariah” (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Aqil Siraj: “Kembangkan Wisata Syariah” (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Aqil Siraj: “Kembangkan Wisata Syariah”

Selasa, 02 Desember 2014

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf

Batam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau menggelar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Mualaf 2016, untuk mengasah pengetahuan muallaf terkait ajaran Islam.

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemenag Kepri Gelar MTQ Khusus Bagi Muallaf

"Saya menyambut baik kegiatan ini karena merupakan wujud visi dan misi Kementerian Agama dalam meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama," kata Kepala Kanwil Kemenag Kepri Marwin Jamal dalam siaran pers di Batam, Selasa.

Terdapat lima cabang lomba yang digelar dalam MTQ Mualaf, yaitu shalat, pidato, cerdas cermat, adzan dan iqomah.

Ia berharap MTQ Mualaf dapat dilakukan berkelanjutan agar manfaat yang dirasakan juga tidak terputus. Kemenag juga akan mendorong agar MTQ Mualaf bisa menjadi cabang dalam MTQ Nasional.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemenag ingin pembinaan mualaf terus dilakukan, satu di antaranya menggunakan dana zakat, karena mualaf berhak menerima zakat.

Sementara itu, Ketua Panitia Ali Hasan Hasibuan mengatakan peserta MTQ Mualaf berasal dari enam kabupaten/kota, di Kepri, yaitu Tanjungpinang, Batam, Bintan, Lingga, Natuna dan Karimun. Hanya Kabupaten Kepulauan Anambas yang belum hadir dalam MTQ Mualaf.

MTQ Mualaf, kata dia, merupakan bentuk pembinaan bagi saudara baru untuk meningkatkan pemahaman dan pengamalan ajaran agama Islam.?

Ketua Himpunan Bina Muallaf Indonesia (HBMI) Kepulauan Riau yang juga Kepala Bidang Bimas Islam Kanwil Kemenag Kepri Erman Zaruddin mengatakan penyelenggaraan MTQ Mualaf itu sudah dilaksanakan tiga kali, dan sempat terhenti selama lima tahun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Biasanya semua mualaf dapat mengikuti kegiatan ini, namun kali ini sengaja dibatasi bagi mualaf yang baru lima tahun menjadi pemeluk agama Islam. Tujuannya supaya kita mengetahui sampai sejauh mana keberhasilan pembinaan yang dilakukan di kabupaten/kota," kata dia. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Daerah, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah