Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pertandingan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Februari 2018

NU Galang Bantuan untuk Palestina

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. NU sedang melakukan penggalangan dana untuk membantu korban bencana kemanusiaan akibat keganasan perang di Palestina. Penggalangan itu dilakukan melalui Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah NU (LAZISNU).

NU Galang Bantuan untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Galang Bantuan untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Galang Bantuan untuk Palestina

Menurut Direktur Eksekutif Pengurus Pusat LAZISNU, H Amir Ma’ruf, Palestina saat ini ada banyak luka dan korban nyawa, serta kerusakan infrastruktur. “Maka yang paling pokok, LAZISNU menyerukan Islam Indonesia untuk membantu. Mereka perlu dukungan internasional, terutama dunia Islam,” tegasnya di Jakarta, (12/7).

Bagi yang punya rezeki mari membantu bareng-bareng berrsama LAZISNU. “Kita akan kumpulkan dulu dana, nanti akan segera kita komunikasikan dan kirimkan ke sana. Bantuan bisa disalurkan melalui rekening LAZISNU di BNI 010 857 56 48, BCA 6340 161 481, MANDIRI 123 000 483 8977. "Jangan lupa tambahkan Rp. 911 pada 3 digit terakhir untuk mengkonfirmasi donasi sebagai Bantuan Gaza, contoh: Rp. 500.911,-", imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Amir menambahkan, PP LAZISNU juga sudah melakukan imbauan kepada Cabang-Cabang LAZISNU di daerah untuk melakukan hal serupa. Selain menggalang dana, LAZISNU juga turun aksi ke jalanan bersama Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama pada Jumat sore (11/7) di Bundaran HI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada kesempatan itu, saat jelang adzan maghrib tiba LAZISNU membagikan 1000 ta’jil kepada pengguna jalan di seputar Bundran HI.

Pada kesempatan itu Amir juga mengatakan, ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh umat islam Indonesia. Bagi yang memiliki rezeki berlebih, segera salurkan bantuan, misalnya ke LAZISNU. Bagi yang mempunyai kekuatan diplomasi, segera mendesak PBB untuk meminta perang dihentikan. Di luar itu, doa adalah kekuatan untuk meringankan derita sesama manusia. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 02 Februari 2018

Pengamat: Pendanaan Teroris Indonesia Makin Mandiri

Depok, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengamat teroris dari Universitas Indonesia (UI) Solahudin mengungkapkan, pendanaan teroris di Indonesia dewasa ini semakin mandiri atau independen. Sebelumnya dana mereka berasal dari luar negeri, namun saat ini mendapatkannya dari dalam negeri

Pengamat: Pendanaan Teroris Indonesia Makin Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengamat: Pendanaan Teroris Indonesia Makin Mandiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengamat: Pendanaan Teroris Indonesia Makin Mandiri

Ia menyebutkan, dana dari dalam negeri mereka dapatkan dengan cara perampokan, donatur dari orang kaya dan lainnya. Ia mencontohkan, pada operasi latihan teroris di Aceh pada 2010, seorang dokter menyerahkan bantuan sebesar Rp 400 juta pada Abu Bakar Baasir.

"Soal dana, teroris Indonesia sudah independen. Bahkan, mereka melakukan cyber fai (perampokan via internet). Seperti pembobol situs investasi Malaysia sampai Rp 7 miliar,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun untung, meski niat awalnya untuk membiayai aksi teroris, keyakinan si pembobol goyah dan hanya disumbangkan Rp 200 juta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Jadi, di antara teroris sendiri juga ada yang korupsi," ujarnya di hadapan ratusan para alim ulama pada acara Silaturahmi Nasional tentang “Penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional” di Pesantren Al-Hikam, Beji, Depok, Jawa Barat Ahad (7/12).? ? ?

Solahudin menuturkan meski mampu dalam penggalangan dana, aksi terorisme menurun secara kuantitas, meningkat secara kualitas. Di tahun 2013 ada 21 serangan teror dan sementara 2014 sampai bulan November turun menjadi 5 kasus.

"Sekarang ini teroris “jihad” di Indonesia bukan prioritas, namun mereka melihat di Syiria lebih utama," terang Kepala Center For Terrorim and Social Conflict Studies UI ini.

Dia menambahkan, pada malam tahun baru 2013 saat penangkapan teroris jaringan Septi di ciputat. Setelah diteliti, tujuan mereka adalah untuk membiayai jihad ke Syiria.

Bahkan, lanjutnya, sampai saat ini 100 orang lebih warga Indonesia ke Syiria untuk bergabung ke ISIS dan Jabal Nusro. "Kalau dulu musuhnya Amerika atau far enemy yang mentarget kepentingan Barat, namun 3-4 tahun belakangan disebut sebagai near enemy, yaitu pemerintah, polisi.”

Menurutnya, mereka lebih banyak bergabung dengan ISIS dibandingkan dengan kelompok Jabal Nusro. Pasalnya, paling komitmen dalam Syariat Islam dan adanya mesianisme.

"Tapi, perlu diingat bahwa episentrum Isis di Indonesia ada di penjara. Sebab, saat ini ada dua orang di penjara yaitu Abu Bakar Baasir dan kelompok Tauhid wal Jihad Aman Abdurrahma di LP Nusa Kambangan," paparnya.

?

Di ujung pemaparannya, ia juga mengingatkan agar mewaspadai lembaga pendidikan dikuasai para Islamis. Ia mencontohkan, Lembaga Dakwah Kampus (LDK) dan Rohis. (Aan Humaidi/Abdullah Alawi)

Foto: dua mantan teroris memberikan penjelasan di acara Silaturahmi Nasional tentang penguatan Aswaja dan Penanggulangan Terorisme dalam Ketahanan Nasional.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Habib, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 21 Januari 2018

Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ribuan umat Islam asal Pekalongan dan sekitarnya sejak pagi memadati Gedung Kanzus Sholawat yang terletak di Jalan dr Wahidin Pekalongan, Senin (26/6). Mereka menghadiri kegiatan open house Habib Muhammad luthfy bin Yahya yang digelar setiap tanggal 2 Syawwal.

Pada agenda rutin tahunan itu Habib Luthfy memberikan kesempatan kepada masyarakat yang ingin bertemu dengan beliau. Pasalnya, di tengah jadwal yang sangat padat, tanggal 2 Syawwal menjadi agenda khusus Habib Luthfy untuk bertemu dengan masyarakat secara luas.

Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Umat Islam Hadiri Open House Habib Luthfy bin Yahya

Kesempatan ini tidak disia-siakan ribuan anggota masyarakat. Mereka yang hadir dari berbagai daerah sejak pagi mendengarkan pengajian dan taushiyah Habib Luthfy dan diteruskan bersalaman yang baru berakhir jam 12.30 wib.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain masyarakat, tampak hadir di Kanzus Sholawat beberapa kiai NU, Bupati Pekalongan H Asif Qolbihi, Kapolres Pekalongan AKBP Wawan Kurniawan, serta jajaran TNI dan Polri. Mereka memanfaatkan open house ini untuk bertemu secara langsung dengan Habib Luthfy bin Yahya, kiai kharismatik yang kini diamanahi sebagai Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (JATMAN).

Khoiruman asal Kudus menuturkan kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah bahwa dirinya bersama keluarga hadir secara khusus memanfaatkan lebaran di hari kedua untuk bertemu dengan Habib Luthfy. Ia sudah beberapa kali hadir bersama keluarga dengan menyewa kendaraan roda empat. Bahkan pada tahun sebelumnya ia bersama teman-teman yang lain selalu hadir di acara open house yang digelar Habib Luthfy.

Hal yang sama disampaikan Abdurroman asal Bojong Kabupaten Pekalongan. Ia bersama keluarganya tidak pernah absen pada acara open house Habib Luthfy. Menurutnya, ada perasaan bangga dan gembira serta perasaan nyaman setelah bisa bersalaman dengan Habib Luthfy.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk kali ini ia hadir di samping untuk meminta maaf juga meminta obat dengan membawa sebotol air mineral untuk dimintakan doa kepada Habib Luthfy. Ia meminta doa melalui air ini untuk obat bagi kakaknya yang saat ini sedang sakit. (Iz/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba, Pertandingan, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 19 Januari 2018

Sembari Ziarah, Nahdliyin Ranting Slarang Lor Sowan PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Suasana kantor PBNU di Jalan Kramat Raya 164, Selasa (4/6) pagi, ramai tak seperti biasanya. Empat rombongan bus dari Pengurus Ranting Desa Slarang Lor, Kecamatan Dukuhwaru, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, memadati Masjid an-Nahdlah di lantai dasar gedung ini.

Mereka yang berjumlah 201 orang ini terdiri dari anggota Muslimat, Fatayat, IPNU, IPPNU, GP Ansor, dan warga NU secara umum. Kunjungan mereka ke PBNU disambut Sekretaris Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) H Nurul Yakin Ishaq.

Sembari Ziarah, Nahdliyin Ranting Slarang Lor Sowan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembari Ziarah, Nahdliyin Ranting Slarang Lor Sowan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembari Ziarah, Nahdliyin Ranting Slarang Lor Sowan PBNU

Pemimpin rombongan, Sholihuddin, mengatakan, tujuan kedatangannya adalah silaturahim biasa di sela program ziarah ke para wali di sejumlah daerah. Menurut dia, semua peserta ziarah ini belum pernah melihat secara langsung kantor PBNU.

Empat bus ziarah bergerak ke arah barat dari Slarang Lor sejak Senin sore. Sebelum ke PBNU, rombongan meziarahi makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat. Tujuan selanjutnya adalah Banten, menuju makam Sultan Hasanuddin, Maulana Yusuf, Mbah Sholeh (Gunung Santri), dan Maulana Mansur. Rencananya, peserta ziarah juga akan mampir ke makam para habib di Jakarta dan serta ulama lain di Jawa Barat.

”Program (ziarah) ini terjadi karena spontanitas saja. Awalnya kami menyediakan dua bus. Ternyata peminatnya melebihi dugaan. Kami tambah menjadi tiga bus. Kurang lagi, akhirnya jadi empat bus,” ujar Sholihuddin, yang merupakan Rais Syuriyah Pengurus Ranting NU Slarang Lor ini.

Saat menerima rombongan ziarah, Yakin mengulas materi ke-NU-an dan prinsip-prinsip dakwah Ahlussunnah wal Jamaah. Menurut dia, NU menghargai manusia tak hanya ketika hidup tapi juga saat ia meninggal dunia. Hal ini dibuktikan dengan ziarah dan sejumlah doa yang dihadiahkan kepada orang yang sudah wafat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Dalam berdakwah, NU selalu menjunjung tinggi akhlakul karimah. Tidak menggunakan kekerasan,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kunjungan silaturahim ini diakhiri dengan doa dan saling menyerahkan cindera mata antara PBNU dan Pengurus Ranting Slarang Lor.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Habib, Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan ibadah haji lebih dari sekali baik, sudah jelas mubah menurut agama. Namun pelaksanaan haji lebih dari sekali di tengah keterbatasan kuota haji, jelas memasukkan pelakunya ke dalam daftar mereka yang berperilaku tercela. Pasalnya, pelaksanaan haji lebih dari sekali jelas mengurangi kuota calon haji wajib.

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral

Isu ini mengemuka dalam forum bahtsul masail pra muktamar NU yang diadakan PBNU di pesantren Krapyak, Yogyakarta, Sabtu-Ahad (28-29/3).

Beberapa kiai mendasarkan perilaku tercela ini pada ghosob yang secara otomatis hukumnya haram. Menurut mereka, orang yang melaksanakan ibadah haji lebih dari sekali merampas secara nyata hak kuota orang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah satu peserta forum ini KH Muzammil menerangkan bahwa ibadah haji kedua atau ketiga hukumnya sunah. Ini sudah maklum. Tetapi hukum haji tidak wajib (kedua atau ketiga kali) yang menghalangi orang lain menunaikan haji wajib ialah haram baik dilarang pemerintah atau tidak. Karena dasarnya, merugikan orang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Alasan kedua, secara moral orang yang berhaji dua kali mencederai muru’ahnya (harga diri) karena menghamburkan harta (isrof). Menurut Imam Ghozali, termasuk orang yang terpedaya ialah infaq untuk keperluan haji beberapa kali sementara ia meninggalkan tetangga dalam keadaan lapar,” kata Ketua LBM PWNU Yogyakarta mengutip nukilan dari Ihya Ulumiddin di hadapan sedikitnya 40 kiai NU.

Kiai Muzammil juga mengutip qaul Ibnu Masud RA, “Di akhir zaman banyak orang haji tanpa sebab”. Karena itu, Dirjen Haji Kemenag RI perlu membuat aturan penundaan keberangkatan untuk mereka yang pernah melaksanakan haji.

Sedangkan mereka yang pernah ibadah haji perlu menyadari untuk menunda pendaftaran demi memberi kesempatan ibadah haji bagi saudara lain yang belum menunaikannya. Alangkah baiknya ia mengalokasikan dananya untuk kesejahteraan tetangga di sekitarnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Pertandingan, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 30 November 2017

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Keadilan adalah watak natural manusia, juga watak khas agama Islam. Tulisan ini akan mengulas bagaimana konsep keadilan menurut KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Dalam kumpulan tulisan tokoh-tokoh Islam yang diedit oleh Budhy Munawar Rahman berjudul Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Mei: 1994), Gus Dur menulis tentang konsep keadilan menurut Islam. Menurut Gus Dur, konsep keadilan dalam Islam bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Efek positif lanjutannya, al-Qur’an sebagai firman Allah juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan.

Apa yang dikatakan Gus Dur jelas kebenarannya. Sistem dan pola hidup adil adalah misi wahyu yang digariskan terhadap para nabi. Dalam surat al-Hadid ayat 57, al-Qur’an menegaskan bahwa keadilan merupakan sesuatu yang diturunkan bagi para rasul selain kitab suci. Dalam berbagai kitab tafsir ditegaskan bahwa keadilan dituntut al-Qur’an diterapkan sejak dari sikap batin, ucapan, sampai penyelesaian perselisihan. Alam rayapun, ditegakkan berdasar keadilan. Gus Dur menyebut ada beberapa wawasan keadilan dalam al-Qur’an sejak Qisth, Hukm sampai Adl sendiri.

Gus Dur memaklumi karena begitu vitalnya keadilan sehingga keadilan dijadikan rukun iman oleh beberapa mazhab diluar sunni seperti Syiah dan Muktazilah. Disinilah sikap pluralis Gus Dur terlihat. Gus Dur menghormati eksistensi paham lain berdasar garis pandang vitalnya suatu konsep. Bagi Gus Dur, keadilan merupakan suatu perintah agama bukan hanya acuan etis atau dorongan moral belaka. Satu perintah agama yang netral politik. Dalam sebuah tulisannya di Kompas ketika meletus perang Teluk tahun 1991, Gus Dur menegaskan kritiknya terhadap dua kubu ulama Arab, pembela Saddam maupun pembela Raja Fadh. Gus Dur juga begitu antipati ketika seorang ulama Indonesia kala itu ikut mendudukkan Saddam sebagai bughat (pemberontak) hanya berdasar persepsi minor yang tak jelas.

Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Selain adl, keadilan juga disebut qisth. Konsep qisth menundukkan arah pada diri pribadi sebelum langkah besar transformasi masyarakat. Al-Qur’an berkata “Hai orang beriman, jadilah kamu penegak keadilan (qisth), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri (An-Nisa’: 135). Secara tersirat ini menunjukkan penerapan keadilan untuk diri sendiri, atau pendidikan adab bagi pribadi sebelum menerapkan keadilan untuk masyarakat luas.

Gus Dur gusar jika keadilan yang sebenarnya murni watak agama menjadi satu keadilan berdasar ideologi tertentu. Bagi Gus Dur, keadilan ideologis memiliki pilar rapuh yang berbahaya karena keadilan ideologis akan membuahkan tirani. Watak keadilan justru akan menjadi sikap subversif apabila ideologi menyertai secara ketat. Di negeri ini, terdapat kelompok yang berjuang atas dasar ideologi keadilan namun justru watak keadilan yang didominasi ideologi cenderung untuk dikotomis, berpikir sepihak berdasar kepada garis anutan ideologinya.

Keadilan menurut kelompok keadilan ideologis jatuh dalam lingkup orientasi kontestasi dan pemenangan kekuasaan. Ambil contoh konsep penerapan bernegara ala Ikhwanul Muslimin. Menurut Hasan Al Banna, risalah penegakan daulah Islamiyah dimulai dari tahap islahul afrad (perbaikan diri sendiri), takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim), takwinul mujtama’ul muslimin (membentuk masyarakat muslim), tahrirul wathan (pembebasan tanah air), islahul hukumah (perbaikan pemerintahan) dan terakhir iqamatud daulah (pembentukan negara Islam).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di banyak negara, strategi ini diterapkan Ikhwanul Muslimin, namun sebagaimana kata Gus Dur pasti ada kelindan tak disangka manakala ideologisasi muncul mendominasi. Pada tahap islahul afrad, upaya penegakan keadilan pada pribadi individual bisa dilakukan. Namun, syahwat politik yang terlalu ambisius untuk menguasai pemerintahan justru akan mengorbankan keadilan sendiri. Sulit dipilah mana keadilan berdasar agama, mana pula berdasar kepentingan politik.

Menurut Gus Dur, keadilan juga berkait dengan kesejahteraan. Yatim piatu, kaum miskin, serta zawil qurba yang membutuhkan pertolongan merupakan pengejewantahan keadilan. Artinya, keadilan harus menjauhi sejauh mungkin korupsi karena korupsi pada dasarnya sejenis kezaliman massal terhadap seluruh rakyat utamanya rakyat kecil. Korupsi menyebabkan pemberdayaan kaum miskin dan anak yatim menjadi terhambat. Unsur transformasi sosial sedikit banyak yang merekatkan keadilan sebagai watak struktural. Hal ini menjelaskan hubungan kerangka keadilan untuk diri pribadi dengan keadilan untuk masyarakat. Artinya, keadilan akan mampu ditegakkan manakala sistem adil hidup mandiri di masyarakat.

Bagi Gus Dur, keadilan memiliki keterbatasan. Pertama, keterbatasan visi keadilan sendiri. Keadilan bisa dianggap selesai manakala keadilan diterapkan, tapi justru dengan melanggar wawasan keadilan. Demi agama islam, seseorang akan merasa absah jika harus merusak aset milik orang lain. Seseorang akan merasa menegakkan keadilan, meski dengan menghancurkan dan merusak. Padahal merusak adalah kegiatan yang bertentangan dengan wawasan keadilan. Atas nama keadilan, suap terpaksa dilakukan justru demi ideologisasi keadilan. Keadilan dan kesejahteraanpun dijual demi demokrasi padahal keadilan justru watak nomokrasi.

Menurut Gus Dur, wawasan keadilan juga rentan karena terikat konsep berbalasan (kompensatoris). Demi keadilan ideologis, Islam berupaya diarahkan menjadi daulah justru dengan meminta kompensasi dari masyarakat. Keadilan ideologis terpaksa diperjuangkan dengan mengabaikan nilai agama. Menjelang pemilu, menyuap pemilih terpaksa dilakukan. Ongkos pemilu yang besar memaksa juga terjadinya korupsi. Keadilan dirusak demi kepentingan keadilan yang diideologisasi. Gus Dur pun dulu dijatuhkan oleh kelompok yang menyebut dirirnya pejuang keadilan. Padahal menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan justru merupakan pelanggaran keadilan konstitutif. Hari ini, mengembalikan fitrah keadilan kepada kerangka dasar agama dan bukan ideologi politik terasa penting untuk dilakukan. Kita merindukan keadilan yang obyektif. Bukan keadilan ideologis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

 

*Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember Pustakawan Buku dan Kitab Kuning

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Pertandingan, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 29 November 2017

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor kembali menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD). Kali ini, kaderisasi jenjang pertama organisasi pemuda NU tersebut digelar di wilayah Subang selatan, meliputi Kecamatan Jalancagak, Cisalak, Kasomalang, Tanjungsiang, Ciater, Sagalaherang dan Serangpanjang. Namun ada juga peserta dari delegasi Subang tengah meliputi Kecamatan Subang dan Cibogo.

Kegiatan PKD tersebut digelar selama dua hari, Sabtu-Ahad (30-31/7/2016) yang dipusatkan di Pondok Pesantren Az-Zahra Kampung Cibatu,? Desa/KecamatanTanjungsiang. Sebanyak kurang lebih 50 orang terlibat dalam kegiatan yang menjadi ajang kaderisasi di GP Ansor tersebut.

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Kaderisasi, Anggota GP Ansor Terjun ke Masyarakat

Ketua Panitia Pelaksana, Gilang Fajar Alfina menegaskan, dalam pelaksanaan rekrutmen anggota GP Ansor tersebut dilakukan beberapa instrumen penting dalam mengikuti kegiatan PKD di antaranya dilakukan screening atau proses penyaringan terlebih dahulu untuk memastikan layak dan tidaknya mengikuti PKD.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini penting dilakukan karena konsep kaderisasi di GP Ansor tidak sembarangan. Merekalah yang akan mengemban amanah organisasi jika sudah pulang ke daerahnya masing-masing," ujar Gilang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para peserta tersebut, kata Gilang, telah dibekali dengan berbagai disiplin ilmu yang berkaitan dengan konsep kepemimpinan dan menggali potensi diri untuk kemudian diimplementasikan dalam kiprahnya di tengah-tengah masyarakat. "Karena mereka akan menjadi penggerak motor organisasi GP Ansor untuk berkiprah di daerahnya masing-masing," kata Gilang yang merupakan Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Tanjungsiang.

Ia berharap, sebagaimana tema yang diusung, "Meneguhkan Ideologi Islam Ahlussunnah wal Jama’ah, Generasi Muda Siap Memimpin", kader-kader GP Ansor bisa meneruskan estafet kepemimpinan di Kabupaten Subang dengan berbasis ajaran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah sebagai pondasinya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kabupaten Subang Asep Alamsyah Heridinata menegaskan, kegiatan kaderisasi di GP Ansor ini rutin digelar setiap tahunnya. "Saat ini sudah memasuki tahun ketiga kita laksanakan PKD dan Diklatsar setelah bulan-bulan kemarin kita gelar di Subang bagian barat," kata Asep.

Dengan demikian, lanjut Asep, kader-kader GP Ansor dan Banser sudah terjun ke akar rumput hingga seluruh kecamatan di Kabupaten Subang. "Karena ini komitmen kami akan membentuk kepengurusan GP Ansor di tingkat ranting (desa, red)," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 28 November 2017

Calhaj Pasrah Pengurangan Kuota Haji

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Adanya pengurangan kuota haji Indonesia, sebagian besar calon jamah haji (calhaj) mengaku pasrah. Mereka menyatakan legowo bila memang harus tertunda tidak jadi berangkat ke tanah suci Makkah pada tahun ini.

Calhaj Pasrah Pengurangan Kuota Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Calhaj Pasrah Pengurangan Kuota Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Calhaj Pasrah Pengurangan Kuota Haji

Salah seorang calon haji dari KBIH An-Nur Kudus Ahmad Sjahri menyatakan sangat menerima dengan ikhlas terhadap kebijakan pengurangan kuota dari kerajaan Arab Saudi itu.Sebab, ia teringat pesan Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi bahwa menunaikan ibadah haji merupakan fadhal dari Allah SWT.

“Bila tidak jadi berangkat, tidak apa-apa mas. Berarti kami belum memperoleh fadhal untuk menunaikan ibadah haji tahun ini,” ujarnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Sabtu (13/7).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Sjahri , kebijakan pengurangan kuota ini sudah tepat dikarenakan di tanah suci Makkah sedang ada renovasi bangunan yang bisa berpengaruh pada pengurangan tempat pelaksanaan ibadah haji. Dikatakan, pihak kerajaan arab Saudi pasti sudah mengkalkulasi daya tampung jamaah haji untukmenghindari kecelakaan jamaah haji.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Seperti foto yang dikirimkan pengurus KBIH Annur saat umroh, memang melihat lokasi renovasi tersebut. Jadi amatlah benar kalau diberlakukan pengurangan,” imbuhnya.

Meskipun belum menerima pemberitahuan resmi, Sjahri yang akan berangkat bersama istrinya ini tidak merasa risau seandainya masuk daftar tunggu tahun 2014. Menurut pengetahuannya, pertimbangan pengurangan kuota adalah calhaj dengan nomor porsi terbelakang, umur termuda dan waktu pelunasan terakhir.

“Menyadari sebagai calhaj yang masih muda, saya dan istri santai saja bila harus tertunda. Kami kembali pada dawuhnya mbah Sya’roni bahwa berangkat sekarang dan besok itu semuanya adalah fadhal dari Allah,”tandasnya.

Pernyataan senada juga disampaikan calhaj dari KBIHNU Kudus Mu’tamad. Ia menerima segala keputusan yang dikeluarkan pemerintah. “Karena nomor kursi yang saya peroleh termasuk terbelakang, jadi kemungkinan termasuk dalam daftar tunggu. Namun semua ini kita kembalikan kepada kehendak Allah,” katanya singkat.

Beberapa waktu lalu, Kepala kementrian Agama Kudus H Hambali menginformasikan calon jamaah haji yang terkena dampak pengurangan kuota haji sebanyak 200 orang Calon Haji (Calhaj) Kabupaten Kudus yang bakal tertunda keberangkatannya tahun ini. Tetapi nama-nama CJH itu belum bisa diketahui karena harus menunggu pengumuman resmi dari pemerintah pusat setelah 15 Juli mendatang dengan cara by name by addres.

Penguman nama-nama calhaj yang masuk daftar pengurangan, katanya, tidak dilakukan secara terbuka melainkan dengan pendekatan secara personal. “Hal ini untuk menghindari kerisauan para calhaj sehingga mereka tidak berkecil hati karena tidak jadi berangkat,” jelas Hambali.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 19 November 2017

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando

Pacitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gerakan Pemuda Ansor dan organisasi semiotonomnya, Barisan Ansor Serbaguna (Banser)? harus menjadi garda terdepan dalam menbentengi NKRI dari rongrongan kelompok-kelompok anti-Pancasila.

Demikian seruan Katib Syuriyah PBNU KH Luqman Harits Dimyathi dalam acara peringatan hari lahir (harlah) ke-82 GP Ansor di Pacitan, Jawa Timur, Rabu (27/4) malam.

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando (Sumber Gambar : Nu Online)
Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando (Sumber Gambar : Nu Online)

Copot Spanduk Khilafah, Banser Jangan Bergerak Tanpa Komando

Kiai Luqman menyampaikan hal tersebut setelah mencermati ancaman terhadap kedaulatan NKRI semakin hari semakin nyata. Salah satu di antarnya adalah maraknya poster atau spanduk yang berisi ajakan menegakkan negara khilafah di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengasuh Pesantren Tremas ini mengatakan, bila di Pacitan benar-benar ditemukan spanduk tentang ajakan menegakkan negara khilafah, GP Ansor dan Banser diminta bergerak untuk menurunkannya. Namun usaha itu harus sepengetahuan alat negara, yakni kepolisian dan TNI. Hal ini sesuai dengan intruksi Ketua Umum Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor H Yaqut Cholil Qoumas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ansor dan Banser jangan bergerak tanpa komando. Semua harus ada komando, tidak boleh berjalan dengan mengunakan tata cara sendiri. Dan itu pun harus komunikasi dengan alat negara,” imbuhnya mengingatkan.

Penurunan spanduk khilafah, lanjutnya, merupakan salah satu usaha menegakkan kebenaran dan tidak menyalahi Undang-undang. Sebab bila pemasangan spanduk ini dibiarkan begitu saja, maka akan sangat berbahaya bagi keutuhan negara Indonesia. “Bukanya kita arogan, justru yang memasang spanduk itu yang arogan. Memangnya ini negara siapa?” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Pacitan Khoirul Anam memohon arahan dan bimbingan dari para sesepuh dan pengurus NU di Pacitan agar dapat menjalankan roda organisasi dengan baik. Menurutnya, saran-saran yang diberikan akan bermanfaat untuk meningkatkan kapasitas dan kinerja pengurus Ansor ke depan.

“Kami mohon doa restu, bimbingan dan motivasinya. Semoga bisa menjalankan amanah yang diberikan kepada kami, untuk meneruskan estafet perjuangan para ulama,” katanya.

Selain puluhan pengurus dan anggota Banser, peringatan harlah Ansor juga dihadiri Mustasyar PCNU Pacitan KH Umar Syahid, Rais Syuriyah PCNU Pacitan KH Faqih Sujak, Sekretaris PCNU Pacitan M Nurul Huda, ketua organisasi kepemudaan dan undangan lainnya. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Pertandingan, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 17 November 2017

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Wilayah Fatayat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan bakal menggelar serangkaian acara dalam rangka menyambut hari lahir (halah) Fatayat NU yang jatuh pada 24 April nanti. Kegiatan praharlah ini diwujudkan dalam bentuk bakti sosial.

Fatayat NU Sulsel akan mengadakan antara lain penyuluhan narkoba bagi perempuan di Lapas Bolangi Kabupaten Gowa pada 23 April, layanan pengobatan gratis di Makassar pada 24 April 2016, dan donor darah di Makassar pada 26 April.

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat Sulsel Gelar Penyuluhan di Lapas hingga Pengobatan Gratis

Hal ini disampaikan Ketua PW Fatayat NU Sulsel Nurul Ulfa dalam diskusi publik praharlah Fatayat NU di Aula Kantor PWNU Sulawesi Selatan, Jalan Perintis Kemerdekaan Km 9, Kompleks Universitas Islam Makassar, Kamis (21/4).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Diskusi publik tersebut mengangkat tema "Meretas Profesionalisme dan Kompetensi Perempuan Sulsel dari Stereotip Sosial Kultural, menuju Pembangunan Berkeadilan". Narasumber yang hadir di antaranya Rektor Universitas Muslim Indonesia (UMI) Prof Masrurah Muktar, anggota DPRD Kabupaten Soppeng Andi Nurhidayati, dan Nurfadillah Mappaselleng, pakar budaya Sulsel.

Peran besar perempuan

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Prof Masrurah Muktar dalam paparannya banyak menyinggung eksistensi perempuan di dunia modern dewasa ini. Menurutnya, saat ini perempuan memiliki peran ganda, di dalam dan di luar keluarga.

"Sehingga ruang-ruang yang ada saat ini, baik itu dunia pendidikan, politik, dan lain sebagainya semua bisa berkontribusi, tanpa harus melihat gender," tambahnya.

Senada, Nurfadillah Mappaselleng berpendapat, laki-laki dan perempuan memiliki derajat sosial yang sama dan yang membedakan hanyalah fisik. "Dewasa ini, tanpa melihat jenis kelamin, semua orang memiliki kontribusi terhadap pembangunan bangsa, sehingga semuanya harus dihargai sesuai perannya masing-masing," tuturnya.

Namun, ia menilai saat ini masih banyak pandangan mengatasnamakan agama yang mereduksi peran perempuan.

Salah satu Anggota DPRD Kabupaten Soppeng Andi Nurhidayati banyak mengulas keterlibatan perempuan dalam politik 30 persen. Menurutnya, keterlibatan perempuan di parlemen memiliki kontribusi besar terhadap maju tidaknya pembangunan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat.

Tampak hadir Wakil Ketua PW Muslimat NU Sulsel Nurjannah Abna, ratusan pengurus Fatayat NU Sulsel, kader PMII Sulsel, pengurus IPNU Sulsel, dan ratusan mahasiswa Universitas Islam Makassar. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Pendidikan, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 05 November 2017

Dibuka Mendikbud, Rakernas IPPNU Berlangsung 23-25 Desember

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) mengagendakan kegiatan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) pada 23-25 Desember 2016 di Pondok Pesantren Al-Tsaqofah, Jakarta. Rencananya, Rakernas akan dibuka oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Muhadjir Effendy

Dibuka Mendikbud, Rakernas IPPNU Berlangsung 23-25 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)
Dibuka Mendikbud, Rakernas IPPNU Berlangsung 23-25 Desember (Sumber Gambar : Nu Online)

Dibuka Mendikbud, Rakernas IPPNU Berlangsung 23-25 Desember

Ketua Umum PP IPPNU Puti Hasni mengatakan, Rakernas kali ini mengangkat tema "Sinergisitas Pelajar Putri dalam Memperjuangkan Perdamaian terhadap Perempuan". ?

Menurutnya hal ini sesuai dengan program IPPNU sedang fokus pada perlindungan perempuan dan pelajar putri.

“Cara terbaik adalah kampanye perdamaian terhadap perempuan. Karena itu, IPPNU membentuk Rumah Ramah Perempuan yang diorientasikan sebagai forum konseling bagi pelajar putri, remaja dan perempuan Indonesia,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Puti menambahkan, Rakernas tentu saja untuk merumuskan kembali program-program kerja prioritas dan unggulan untuk dapat diterapkan baik di tingkat pusat maupun daerah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Selain itu Rakernas bertujuan untuk mengonsolidasikan kembali jajaran pengurus IPPNU di tingkat wilayah,". jelas Puti.

Menurutnya, ada beberapa hal penting peran IPPNU untuk pelajar putri yang tergabung dalam IPPNU untuk mencapai tujuan-tujuan organisasi. Di antaranya, kaderisasi pelajar putri nusantara untuk mengenal Islam Ahlussunnah Wal Jamaah An Nahdliyyah, penguatan nilai-nilai dan militansi kader.

“Selain itu juga penguatan komisariat di pondok pesantren dan sekolah ma’arif serta pengurus komisariat perguruan tinggi, dan perluasan komisariat di sekolah-sekolah umum," imbuhnya. (Anty Husnawaty/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 16 Oktober 2017

Mahasiswa UNU Indonesia dan STAINU Ikuti Pelatihan Dakwah Transformatif Aswaja

Bogor, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bekerja sama dengan Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), sejumlah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia mengikuti Training Leadership Dakwah Transformatif Aswaja.

Mahasiswa UNU Indonesia dan STAINU Ikuti Pelatihan Dakwah Transformatif Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa UNU Indonesia dan STAINU Ikuti Pelatihan Dakwah Transformatif Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa UNU Indonesia dan STAINU Ikuti Pelatihan Dakwah Transformatif Aswaja

Kegiatan yang berlangsung Selasa-Kamis, (12-14) ini menghadirkan narasumber diantaranya, Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan, KH Mujib Qulyubi, MH, Pembantu Ketua IV STAINU Jakarta, Aris Adi Leksono, KH Wafiudin Sakam, dan Nugroho Ramadhan.

Dalam keterangannya, KH Mujib Qulyubi mengatakan, kegiatan ini penting untuk mempertajam sisi spiritualitas mahasiswa STAINU Jakarta dan UNU Indonesia sebagai sebuah keunggulan tersendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Selain itu, leadership juga menjadi modal penting untuk pengembangan potensi diri. Karena kedisiplinan, kreativitas, serta kemampuan berkomunikasi yang baik merupakan dampak dari jiwa kepemimpinan yang terbentuk melalui pelatihan secara berkelanjutan,” papar Mujib.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Katib Syuriyah PBNU ini juga menuturkan, dengan modal ketajaman spiritual dan leadership tersebut, mahasiswa dari kedua kampus kepunyaan NU itu akan mampu berperan sebagai penggerak Aswaja di tengah masyarakat. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Pondok Pesantren, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 06 Oktober 2017

Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga Sempat Beda Pendapat soal Model Dakwah

Para tokoh utama penyebar Islam di seluruh Indonesia, Wali Songo dikenal inklusif (terbuka) dalam menyebarkan dan menanamkan nilai-nilai Islam ke masyarakat Nusantara. Mereka bukan tanpa resisten dalam melakukan misi dakwahnya, karena masyarakat kala itu kental dengan budaya dan tradisi yang telah mengurat dan mengakar.

Budaya yang unik dan tradisi yang telah berjalan turun-temurun menjadi tantangan sekaligus potensi tersendiri dalam misi dakwah para wali sembilan itu. Sebagai tantangan, sebab para wali tidak mungkin memberangus budaya dan tradisi masyarakat begitu saja, sedangkan potensi memungkinkan dakwah para wali memiliki instrumen ampuh dalam menyemayamkan agama Islam melalui budaya.

Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga Sempat Beda Pendapat soal Model Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga Sempat Beda Pendapat soal Model Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Sunan Ampel dan Sunan Kalijaga Sempat Beda Pendapat soal Model Dakwah

Salah satu anggota Wali Songo yang akrab dengan tradisi dan budaya dalam menyebarkan Islam adalah Sunan Kalijaga (Raden Mas Said). Bahkan salah satu murid Sunan Bonang ini kerap menciptakan tembang dan karya-karya seni lain untuk menarik minat masyarakat secara tidak langsung untuk mempelajari Islam.?

Namun demikian, model dakwah yang digagas oleh Sunan Kalijaga itu tidak serta merta mendapat dukungan dari para wali lain. Suatu ketika, dalam rapat dewan wali untuk membahas strategi dakwah Islam, Sunan Ampel yang kala itu menahkodai Wali Songo sempat tidak setuju menggunakan instrumen tradisi dan budaya masyarakat dalam menyebarkan Islam (Choirul Anam, 2010).

Kekhawatiran ini dipahami betul oleh Sunan Kalijaga, karena Sunan Ampel tidak ingin ajaran Islam tercampur dengan budaya dan tradisi masyarakat. Seketika itu pula Sunan Kalijaga memberikan argumentasinya bahwa Islam tidak akan tercampur dengan budaya dan tradisi, melainkan Islam akan memberikan ruh terhadap kebiasaan-kebiasaan masyarakat tersebut.

Artinya, Islam 100 persen tetap pada ajarannya dan masyarakat pun tetap dapat menjalankan tradisinya dengan bingkai nilai-nilai Islam. Inilah yang disebut bahwa Islam tidak akan mencerabut akar tradisi dan budaya masyarakat. Karena jika diandaikan agama adalah sebuah pohon, maka budaya dan tradisi adalah tanahnya. Pohon tidak akan berkembang besar, tinggi, dan berbuah jika tidak ada media tanam.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melalui akulturasi budaya, masyarakat saat itu juga dapat memahami Islam secara substantif, bukan berdasarkan simbol dan ayat-ayat suci yang hanya dipahami secara tekstual. Kontekstualisasi ajaran Islam yang digagas oleh Sunan Kalijaga dan sunan-sunan lain melalui instrumen budaya akhirnya mendapat respon positif dewan wali sehingga agama Islam terus berkembang dan menjadi agama mayoritas di negeri ini.

Menilik sejarah panjang penuh dengan keindahan tersebut, betapa harus sadarnya masyarakat dan bangsa ini terkait peneguhan identitas diri. Islam yang dibawa oleh Wali Songo tidak mengajarkan kemarahan, tetapi keramahan; tidak memukul, tetapi merangkul; tidak mengejek, tetapi mengajak; tidak eksklusif (tertutup/kaku), tetapi inklusif (terbuka/luwes); dan tidak menggurui, namun menjamui.

(Fathoni Ahmad)

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Pertandingan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 September 2017

Mengambil Upah dari Uang Derma

Lembaga filantropi terbilang semakin berkembang di Indonesia. Perkembangan ini menunjukan antusias warga untuk membantu sesama tanpa komando pemerintah sedikitpun. Selain berupa lembaga, juga banyak ditemukan komunitas ataupun personal yang secara sukarela bergerak menggalang dana untuk membantu fakir miskin, korban bencana alam, pembangunan masjid, pesantren, dan lain-lain.

Kehadiran para relawan ini patut disyukuri dan diapresiasi. Sebab bagaimanapun, tidak semua masalah di negara ini dapat diselesaikan oleh negara. Kehadiran mereka cukup banyak membantu dalam menyelesaikan problem kemanusiaan. Akan tetapi, tidak semua relawan berasal dari kalangan elite dan orang kaya. Di antara mereka juga ada yang hidup tidak berkecukupan, bahkan menjadikan hal itu sebagai profesinya. Artinya,  ia tidak memiliki pekerjaan selain menjadi relawan.

Mengambil Upah dari Uang Derma (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengambil Upah dari Uang Derma (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengambil Upah dari Uang Derma

Bagaimana hukumnya jika pada relawan tersebut mengambil sedikit bagian dari uang sumbangan yang telah dia kumpulkan?

Masalah ini pernah dibahas dalam muktamar  NU Ke-2 tahun 1927. Dalam muktamar tersebut diputuskan bahwa orang yang memungut derma untuk mendirikan masjid, madrasah, bantuan fakir miskin dan yatim, ataupun kegiatan sosial lainnya, diperbolehkan untuk mengambil sebagian dari uang itu dengan syarat tidak melebihi upah sepantasnya atau sekedar mencukupi kebutuhannya. Kebolehan ini dikhususkan untuk para relawan yang miskin saja dan tidak diperbolehkan bagi relawan yang kaya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keputusan ini merujuk kepada keterangan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ?

Disamakan dengan wali anak yatim, seperti yang telah dikemukakan, orang yang mengumpulkan harta, misalnya untuk membebaskan tawanan. Jika ia orang yang miskin maka ia diperbolehkan untuk makan dari harta tersebut atau ia boleh mengambil satu di antara dua hal yang paling sedikit, yaitu biaya nafkah atau mengambil ujratul mitsli (upah standar).

Menurut al-Syirwani yang demikian itu termasuk pula orang yang mengumpulkan harta untuk membantu menyelamatkan orang miskin yang terbelit hutang atau orang yang terzalimi yang dirampas hartanya. Pendapat tersebut adalah pendapat yang baik dan (memang) harus seperti itu, sebagai pendorong dan penyemangat dalam perbuatan mulia.

Membantu penggalangan dana untuk orang yang membutuhkan ialah perbuatan yang sangat mulia. Sebab itu, aktivitas ini harus senantiasa dibantu dengan memberikan upah kepada para relawan tersebut jika ia memang sangat membutuhkan.

Sebaliknya, jika ia berkecukupan dan kaya, seyogyanya ia tidak mengambil uang sumbangan itu. Lebih baik uangnya didermakan kepada orang yang lebih membutuhkan sesuai dengan niat awal pengumpulan dana. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 17 Juli 2017

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Puti Hasni mendukung gerakan ekonomi IPPNU Garut dalam pengembangan industri kuliner kreatif untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Saya sangat mengapresiasi apa yang telah dirintis dan dikembangkan rekanita IPPNU Garut. Kepekaan dalam melihat peluang memang terlihat dari upaya konkret dalam memanfaatkan setiap potensi yang ada," kata Puti kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Rabu (10/2).

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum IPPNU Apresiasi Bisnis Kuliner IPPNU Garut

Ia menegaskan bahwa IPPNU akan terus mendorong para kadernya menciptakan kreasi-kreasi, inovasi, dan jeli melihat potensi serta peluang pasar dalam memanfaatkan bonus demografi sebagai jawaban menghadapi MEA.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Upaya ke depan, pelatihan-pelatihan berbasis kewirausahaan akan makin ditingkatkan dan ditindaklanjuti secara serius oleh IPPNU," ujarnya.

Puti berharap IPPNU di semua lini baik wilayah, cabang, anak cabang maupun ranting di daerah lain harus dapat termotivasi dan tidak boleh kalah dengan IPPNU Garut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing daerah yang tentunya beragam, saya berharap kader-kader IPPNU dapat mewujudkan inovasi-inovasi baru yang sesuai dengan selera pasar di era MEA, pungkasnya. (Afifah Marwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Budaya, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 09 Mei 2017

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

DKI Jakarta akan menjadi tuan rumah Konferensi Para Pemimpin Keagamaan ASIA pada 25 Februari sampai dengan 1 Maret mendatang.

Konferensi bertajuk Bringing A Commom Word to Common action for justice yang bakal dihelat di Hotel ACACIA, Jakarta Pusat itu diharapkan dapat membangun komitmen bersama antara para pemimpin keagamaan se ASIA, dari kalangan Muslim dan Kristen.

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia (Sumber Gambar : Nu Online)
ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia (Sumber Gambar : Nu Online)

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia

“Konferensi Ulama dan Arcbishop se Asia ini dihadiri 150 ulama dan Arcbishop dari 15 negara. INi merupakan kelanjutan dari pertemuan ICIS (International Conference of Islamic Scolars) di Singapura, beberapa tahun lalu,” ujar Ketua Panitia The Conference of Muslim-Christians Religious Leaders of Asia, M Nasihin Hasan, Selasa (19/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Nasihin, Konferensi yang diinisasi oleh ICIS itu, akan membahas sejumlah hal krusial di Negara-negara Asia, terutama terkait ketegangan antar agama, ketimpangan hukum, kemiskinan, hingga persoalan korupsi dan perdagangan manusia yang sampai saat ini masih marak terjadi di berbagai Negara di Asia.

“Agama seharusnya bisa menjadi spirit utama dalam penegakan keadilan dan pemberantasan kemiskinan. Dalam konferensi ini, para tokoh agama diharapkan bisa bersama merumuskan wacana dan aksi bersama untuk mengatasi  problem keadilan dan persoalan perdagangan manusia yang menjadi masalah besama Asia saat ini,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Sekjend ICIS KH Hasyim Muzadi mengatakan meskipun berbeda secara theologist, setiap agama sejatinya punya titik temu dalam hal ajaran  tanggung jawab sosial dan moral. “Setiap agama ada titik temu. Tetapi juga ada titik pisah. Kita perkuat titik temunya,” ujar Rais Syuriyah  PBNU itu.

Pertemuan tersebut, kata Hasyim juga merupakan bagian dari Konferensi ICIS yang dilaksanakan rutin sejak tahun 2004 lalu.

“ICIS selama tiga kali berturut-turut. Tahun 2004,2006 dan 2008 ICIS aktif mengadakan pertemuan dengan tokoh agama dari 87 negara. Alhamdulillah ini semakin diterima. Sebelumnya dalam 3 kali pertemuan itu hanya muslim. Sekarang interfaith,” paparnya.

Pertemuan itu juga untuk menegaskan kepada dunia internasional bahwa stigma tentang tingginya intoleransi di negeri ini adalah pandangan yang tak proporsional.

”Walaupun agak sulit karena karena dunia internasional menilai dengan sekularisasi dan pandangan atheism. Sementara di Indonesia kita melihat dengan kacamata pancasila dan keberagamaan,” ujarnya. 

Selama ini  kata Hasyim banyak pengamat agama yang tak turun ke bawah. Banyak peneliti yang kerjanya mencatati konflik tanpa memperbaiki.

“Konfllik agama tak berarti dilatarbelakangi pemikiran intoleransi,” tandasnya. Konferensi tersebut dihelat ICIS bekerja sama dengan Koferensi Wali Gereja di Indonesia (KWI) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Federas Bishop Asia (FABC) dan Konferensi Kristen Asia (CCA).

Menteri Agama RI Suryadharma Ali direncanakan akan didapuk membuka acara. Konferensi yang berlangsung selama lima hari itu akan menampilkan pembicara-pembicara dari berbagai negara dengan keynote speaker (pembicara kunci) Ali Asghar Engineer.

Pembicara lainnya adalah Arbishop Ferdinand Capalla (Filipina), Arbishop Felix Macado (Hongkong), KH Hasyim Muzadi (Sekjen ICIS), Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Komarudiin Hidayat, Prof. Dr. Azyumardi.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Abdel Malek

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Pertandingan, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 15 April 2017

Gelar Aksi, Ini 3 Tuntutan PMII kepada DPRD Kota Pariaman

Pariaman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puluhan mahasiswa dari Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Kota Pariaman menggealr aksi damai ke gedung DPRD Kota Pariaman, di Manggung, Rabu (11/11/). Aksi demonstrasi digelar dalam rangka hari Pahlawan 10 Nopember 2015.

Gelar Aksi, Ini 3 Tuntutan PMII kepada DPRD Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Aksi, Ini 3 Tuntutan PMII kepada DPRD Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Aksi, Ini 3 Tuntutan PMII kepada DPRD Kota Pariaman

PMII Kota Pariaman dalam tiga butir tuntutannya meminta agar DPRD Kota Pariaman menjadi pahlawan untuk kemaslahan umat. Kemudian meminta DPRD agar memikirkan kepemudaan sesuai amanat UU No 40 tahun 2009, sebagai wujud estafet pahlawan bangsa.

Tuntutan ketiga meminta DPRD Kota Pariaman memberikan informasi yang jelas kepada masyarakat terkait pemilihan gubernur dan wakil gubernur Sumatera Barat dalam Pilkada serentak 9 Desember 2015 mendatang, demi mewujudkan pahlawan yang diharapkan bukan demi kepentingan politik pribadi atau partai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Aksi demonstrasi PMII langsung dipimpin Ketua PC PMII Kota Pariaman Jupmaidi Ilham. Tapi tak satupun dilayani anggota DPRD Kota Pariaman. Seluruh anggota DPRD Kota Pariaman sedang dinas luar daerah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mahasiswa melanjutkan aksinya ke Kantor Balaikota Pariaman di jalan Imam Bonjol Kota Pariaman. Para mahasiswa menggelar aksinya juga dengan berorasi di halaman Kantor Balaikota tersebut. (Armaidi Tanjung/Fathoni)

Keterangan Foto: Ketua PC PMII Kota Pariaman Jupmaidi Ilham tengah berorasi di halaman Balaikota Pariaman, Rabu (11/11/2015).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Pertandingan, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 05 April 2017

Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah

Adzan merupakan pertanda telah masuknya waktu sholat sekaligus panggilan untuk melaksanakan sholat berjama’ah bagi seluruh kaum muslimin yang mendengarkannya. Banyak sekali pahala yang dijanjikan oleh Allah terkait adzan, baik bagi yang melafalkannya ataupun yang mendengarkannya. Saat muadzin melafalkan adzan, yang mendengar disunnahkan untuk menjawab adzan.

Hal yang sangat disunnahkan terkait adzan dan iqamah lainnya ialah beberapa amalan dan doa sesudahnya, sebagaimana yang telah kami sarikan dari beberapa literatur klasik: 

Dalam kitab Asna al-Mathalib karya Imam Zakaria al-Anshary (Dar al-Kutub al-Islamy, 2000), juz II, hal. 456, setelah selesai adzan, disunnahkan bagi muadzin dan yang mendengar adzan, untukmembaca shalawat, yang paling utama ialah shalawat Ibrahimiyyah:

Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah (Sumber Gambar : Nu Online)
Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah (Sumber Gambar : Nu Online)

Rangkaian Amalan dan Doa Sesudah Adzan dan Iqamah

? ? ? ?  ? ? ? ?  ? ? ? ? ?  ? ? ? ?  ? ? ? ?  ? ? ? ?  ? ? ? ? ?  ? ?  ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Allâhumma shalli ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ `âli sayyidinâ Muhammad kamâ shallaita ‘alâ sayyidinâ Ibrâhîm, wa ‘alâ `âli sayyidinâ Ibrâhim, wa bârik ‘alâ sayyidinâ Muhammad wa ‘alâ `âli sayyidinâ Muhammad kamâ bârakta ‘alâ sayyidinâ Ibrâhim, wa ‘alâ `âli sayyidinâ Ibrâhîm, innaKa Hamîdun Majîdun

“Ya Allah, berilah rahmat pada Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaiman Engkau merahmati Nabi Ibrahim dan keluarganya, serta berkatilah Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaiman Engkau berkatilah Nabi Ibrahim dan keluarganya. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Agung”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dilanjutkan dengan berdoa dengan doa di bawah ini:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhumma Rabba hâdzihid-da‘wati at-tâmmati, wash-shalâtil-qâimati, âti sayyidanâ Muhammad al-washilah wal fadlîlah, wad-darajatar rafî’ah wab’atshu maqâman mahmûdan alladzî wa’adtah, innaka lâ tukhliful-mî‘âd

“Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, kurniailah Nabi Muhammad wasilah (tempat yang luhur) dan kelebihan serta kemuliaan dan derajat yang tinggi dan tempatkanlah dia pada kependudukan yang terpuji yang telah Engkaujanjikan, sesungguhnya Engkau tiada menyalahi janji, wahai dzat yang paling Penyayang.”

Selanjutnya, disebutkan dalam kitab Jami’ul Ahadits, juz IV, hal. 250, disebutkan ada doa khusus setelah adzan maghrib, yakni:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allahumma hadza iqbâlu lailika wa idbâru nahârika wa ashwâtu du’âika faghfir lii

“Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya malam-Mu, dan perginya siang-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku”

Adapun setelah adzan shubuh, ada doa khusus sebagaimana disebutkan dalam kitab Fathul Muin hal. 280, yakni:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allahumma hadza iqbâlu nahârika wa idbâru lailika wa ashwâtu du’âika faghfir lî

“Ya Allah, ini adalah (saat) datangnya siang-Mu, dan perginya malam-Mu, dan terdengarnya doa-doa untuk-Mu, maka ampunilah aku”

Doa diantara Adzan dan Iqamah. 

? ? ? ? ? ? ?

Allahumma innî as-alukal-‘âfiyah fid-dunya wal-âkhirah

“Ya Allah, aku mohon pada-Mu keselamatan di dunia dan akhirat”

Disambung dengan Membaca ayat kursi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allâhu lâ Ilâha illa Huwal hayyul qayyumu. Lâ takhudzuhû sinatuw wa lâ naûm. laHû mâ fissamâwâti wa mâ fil ardhi. man dzal ladzii yasfau indahû illâ bi idznihi. yalamu mâ baina aidiihim wa mâ khalfahum. wa lâ yuhithûna bi syai-in min ilmihii illâ bi mâsyâ-a. wasia kursiyyuhussamâwâti wal ardha. wa lâ ya-udhû hifzhuhumâ wahuwal aliyyul azhiim.

“Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.”

Terakhir, jika sesudah iqamah masih ada waktu, maka disunnahkan membaca doa setelah iqamah ialah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Allahumma Rabba hadzihi ad-da’wati at-tâmmati, wa ash-shalâti al-qâimati, shalli ‘ala sayyidina muhammadin wa âtihi su’lahu yaumal qiyâmah

“Ya Allah Tuhan yang memiliki seruan yang sempurna dan shalat yang tetap didirikan, rahmatilah Nabi Muhammad dan berikan padanya permintaannya di hari kiamat.”

Demikian rangkaian amalan dan doa sesuadah adzan dan iqamah ini, semoga bermanfaat bagi kami dan segenap pembaca. Wallahu a’lam bi-shawab





(Muhammad Ibnu Sahroji)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Kyai, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 15 Maret 2017

Mendes Promosikan Produk Desa dan Perkenalkan Transmigran Teladan

Kayong Utara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah ?

Sail Karimata 2016 yang diselenggarakan di Pantai Pulau Datuk, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat merupakan momentum untuk membangkitkan pembangunan dan perekonomian masyarakat. Dengan kegiatan tersebut, Kayong Utara yang masih masuk kategori daerah tertinggal, bisa memperkenalkan potensinya di tingkat nasional bahkan internasional.

Demikian disampaikan Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, Eko Putro Sandjojo di sela-sela acara Sail Karimata kepada wartawan, Sabtu (15/10) melalui siaran pers yang diterima Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Mendes Promosikan Produk Desa dan Perkenalkan Transmigran Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes Promosikan Produk Desa dan Perkenalkan Transmigran Teladan (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes Promosikan Produk Desa dan Perkenalkan Transmigran Teladan

Selain memperkenalkan beberapa produk unggulan dari beberapa daerah di Kalbar, dalam kesempatan tersebut Menteri Eko juga memperkenalkan peraih penghargaan transmigran teladan dari Provinsi Sulawesi Tengah, Munaksan kepada Presiden Jokowi.

Menteri Eko menjelaskan Munaksan Transmigran teladan yang dikenalkan kepada Jokowi, telah berhasil mengubah nasibnya setelah mengikuti program transmigrasi. Ia berhasil memiliki jumlah penghasilan hingga 700 juta dalam per-tahun. Penghasilan sebanyak itu ia dapatkan dari kesuksesannya mengembangkan pertanian jagung. Bahkan dari hasil penjualan jagung ini, Munaksan mampu membeli lahan lain diluar lokasi transmigrasi untuk mengembangkan usaha jagungnya.?

"Dalam satu bulan Munaksan mampu menjual jagung yang ia tanam di lokasi transmigrasi hingga 200 ton," ujar Menteri Eko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain membawa transmigran teladan, Menteri Eko juga mengajak Dirut BUMDES Ponggok, Kabupaten Klaten, Untung Hari Margana untuk memberikan motivasi kepada 43 kepala desa di Kabupaten Kayong untuk menggerakan ekonomi perdesaan melalui BUMDES.

"Dirut BUMDES Ponggok ini kita jadikan sebagai percontohan. Keberhasilan BUMDES ponggok kalau bisa dijadikan inspirasi bagi 43 desa di Kabupaten Kayong, kita kemarin mengadakan dialog dengan kepala desa dan pak Untung kita jadikan narasumber untuk memotivasi bagaimana sukses dalam membikin BUMDES," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai informasi puncak acara Sail Karimata 2016 yang diselenggarakan di Kabupaten Kayong Utara juga dihadiri oleh sejumlah Menteri Kabinet Kerja. Diantara menteri yang hadir mendampingi Jokowi adalah Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, Menko Maritim, Luhuy Binsar Panjaitan, Menteri Pariwisata Arif Yahya, Menkominfo Rudi Rudiyantara, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, dan Wakil Ketua MPR Osman Sapta Odang. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Pertandingan, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 09 Februari 2017

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

KHA Musallim Ridlo adalah satu mubalig alias singa podium dari Kabupaten Banyumas. Almarhum dikenal sosok ulama yang moderat, guru santri, praktisi politik, dan menjabat Ketua NU Banyumas selama tiga dekade. Beliau wafat seratus hari silam, tepatnya tanggal 1 Mei 2014, pada usia 84 tahun.

“Warga Nahdliyin merasa sangat kehilangan beliau. Kiai Musallim adalah sosok yang sangat konsisten dalam memperjuangkan dan membela NU,” kata Drs H Taefur Arofat, salah satu pengurus PCNU Kabupaten Banyumas.

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)
KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas (Sumber Gambar : Nu Online)

KHA Musallim Ridlo, Singa Podium dari Banyumas

?

Tokoh kelahiran 27 Februari 1932 ini tumbuh dan dibesarkan di lingkungan pesantren. Musallim kecil mendapat didikan agama langsung dari sang ayah Almaghfurlah KHA Masruri. Ketika para santri lain masih terlelap tidur, remaja Musallim mengaji seorang diri di bawah penerangan lampu minyak. “Dulu ayah mengaji dari jam 3 dini hari hingga waktu Subuh tiba,” tutur M Ibnu Ridlo (50), putera sulung almarhum.

Selain mengaji ilmu agama, Musallim muda juga menempuh pendidikan formal di Sekolah Rakyat (setara SD). Ternyata, kepiawaian Musallim dalam ilmu agama telah diakui sang ayah sekaligus guru saat usianya relalif muda. Suatu hari KHA Masruri akan mengimami salat jamaah seperti hari-hari biasa namun beliau merasa was-was saat hendak takbiratul ihram. Lantas, beliau memilih mundur dan meminta Musallim menggantikannya sebagai imam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setamat SR, pemuda Musallim melanjutkan nyantri ke Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur. Di sana dirinya banyak belajar dan menimba ilmu dari KH Wahid Hasyim, ayah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). “KH Wahid Hasyim adalah inspirator ayah dalam banyak hal,” kata M Ibnu Ridlo.

Kepergian KH Wahid Hasyim yang begitu tiba-tiba dalam sebuah kecelakaan lalu lintas sungguh memukul hatinya. Konon, semangat pemuda Musallim sempat drop sepeninggal Kiai Wahid. Tak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, beliau melanjutkan studi ke pesantren asuhan KH Bisri Mustofa di Rembang, JawaTengah. Sepulang nyantri dari Tebuireng dan Rembang, Kiai Musallim mulai berkiprah di bidang dakwah, pendidikan, dan politik.

Beliau mendapat amanah sebagai Ketua Partai NU Cabang Kabupaten Banyumas, saat itu partai politik sebelum berfusi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Dalam dunia pendidikan, almarhum turut serta merintis berdirinya Yayasan Perguruan Al-Hidayah yang berkantor pusat di Karangsuci Purwokerto bersama KH Muslich, KHM Sami’un, dan sejumlah ulama lain.

?

Politik dan Dakwah

Kiprah sebagai wakil rakyat dimulai saat beliau terpilih sebagai anggota DPR-GR Jawa Tengah (1971). Selanjutnya menjadi anggota DPRD Kabupaten Banyumas hingga tahun 1992. Semasa Ketua DPRD Kabupaten Banyumas dijabat Kisworo, dirinya menjabat Wakil Ketua DPRD bersama Agus Taruno.

Pada 1992-1997 KHA Musallim duduk sebagai anggota DPR-RI dari PPP. “Dalam dunia politik, Kiai Musallim dikenal sebagai sosok yang lurus ibarat penggaris; lempeng kaya garisan,” ujar Bupati Achmad Husein, seperti ditirukan M Ibnu Ridlo.

Aktivitas dakwah dan politik dilakoninya secara tulus dan penuh sukacita. Mengisi ceramah pengajian hingga pelosok pedesaan adalah hal dinantikan umat. Bahasa ceramahnya blakasuta alias lugas, tanpa tedheng aling-aling, sehingga mudah dicerna oleh kalangan awam sekalipun.

Sekadar catatan, beberapa tahun silam, Eyang Singa setiap malam Jumat Kliwon mengisi acara Gendu-Gendu Rasa di RRI Purwokerto. Hal ini diakui banyak pihak sebagai kiprah nyata dalam upaya nguri-nguri (baca: melestarikan) Bahasa Jawa dialek Banyumasan.

Demikian halnya dengan KHA Musallim Ridlo. Dalam aktivitas dakwahnya beliau sangat konsisten dengan dialek Banyumasan. Dalam konteks ini, Kiai Musallim adalah sosok ulama moderat-visioner yang layak menyandang gelar Pelestari Dialek Ngapak.

KHA Musallim Ridlo telah berpulang ke hadirat Allah, Kamis (1/5) silam. Jenazah almarhum dikebumikan di komplek Pondok Pesantren Al-Masruriyah Desa Kebumen, Kecamatan Baturraden. Dari pernikahannya dengan Nyai Solihah, beliau dikaruniai lima orang putra: M Ibnu Ridlo, Niswati Amanah, M Aman Ridlo, HM Maskun Ridlo, dan M Hanif Ridlo. Kini dakwah beliau di Pesantren Al-Masruriyah dilanjutkan HM Maskun Ridlo alias Gus Maskun. (Akhmad Saefudin)

Foto: KHA Musallim Ridlo (kanan) saat bersama KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah