Senin, 31 Maret 2008

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) mengadakan Seminar Psikologi bertema Rahasia Pikiran Bawah Sadar; Sadari, Kenali dan Kembangkan Potensi Pikiran Bawah Sadar Anda, Jumat (1/12) di Kampus Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat.

Dalam seminar tersebut diungkapkan pada dasarnya pikiran manusia terbagi menjadi dua, yakni pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar

"Pikiran sadar adalah alam sadar manusia yang masih mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sadar terbentuk ketika manusia dalam keadaan fokus dan mempunyai rasa empati yang besar terhadap lingkungannya," kata Muhammad Rizki Afandi, pembicara seminar tersebut.

Namun, keberadaan kesadaran tersebut akan menjadi pikiran bawah sadar jika pikiran manusia sedang blank.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah





Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fandi menjelaskan, mekanisme pikiran dan tindakan manusia terbentuk pertama kali oleh pengalaman empiris dan pengalaman induktif yang cakupannya terdiri dari 88% sub-consius dan 12% conscious.

"Pikiran manusia dibagi lagi menjadi dua, yakni otak kiri dan otak kanan. Dan untuk menghasilkan sebuah tindakan maka harus memenuhi tiga mekanisme, believe system, self image, dan self talking. Yang paling berpotensi untuk menunjukkan pikiran bawah sadar adalah self talking," urai Fandi.

Dengan demikian. lanjut Fandi, seluruh ucapan (self talking) maupun lintasan pemikiran yag tidak disadari, berpotensi untuk menjadi nilai permanen bagi sub-conscious.





Di akhir acara, panitia seminar memberikan secarik kertas pada seluruh peserta untuk memberikan feedback pada panitia untuk perbaikan kualitas kegiatan di masa yang akan datang.





Di antara peserta berharap akan diadakannya lagi seminar serupa karena sifatnya yang sangat penting dipelajari. Ada juga yang masih kurang puas karena kuota peserta yang disediakan tidak terlalu banyak.



. Ketua HMJ Psikologi Unusia, Humairo Ummu Syarifah mengatakan, seminar tersebut pertama digelar sejak terbentuknya HMJ Psikologi beberapa waktu lalu.

"Seminar diikuti mahasiswa yang berasal dari beberapa kampus, seperti Universitas Mercu Buana, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Unisma," kata Elok panggilan akrabnya. (Dwi Putri/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Pesantren, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 19 Maret 2008

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Agama, Lukman Saifuddin, mengatakan, bagaimanapun perbedaan paham bekas anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dengan mayoritas, mereka tetaplah saudara dalam kemanusiaan sehingga tidak dibenarkan melakukan anarkisme kepada mereka.

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar

"Sebesar, sekeras, setajam apapun perbedaan di antara kita, termasuk perbedaaan paham keagamaan, agar jangan lalu tersulut melakukan tindakan kekerasan apalagi sampai membakar rumah tinggal sesama saudara kita. Anggota-anggota Gafatar ini juga saudara kita," kata dia, di kantornya, Jakarta, Jumat.

Sebelumnya, terjadi aksi massa yang mengusir bekas anggota Gafatar di Kalimantan Barat. Aksi ini terbilang anarkis karena pengusiran itu disertai intimidasi, pembakaran tempat tinggal dan pengerahan massa besar-besaran.

Agar aksi serupa tidak meluas ke sejumlah daerah, dia berharap masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia untuk dapat menahan diri tidak melakukan tindakan kekerasan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Meski beda paham keagamaan, sebaiknya cara menyikapi mereka adalah merangkul mereka, membina mereka, dialog dengan mereka sehingga menuju kesamaan cara pandang. Tidak justru melakukan perusakan. Agama apapun tidak mentolerir kekerasan seperti itu dan itu bukan cara kita menyelesaikan masalah," katanya.

Kementerian Agama, kata Saifuddin, hingga saat ini masih menunggu fatwa Majelis Ulama Indonesia soal fatwa Gafatar. MUI sendiri rencananya akan mengeluarkan fatwa Gafatar pada awal Februari.

"MUI masih mendalami, mencermati soal paham keagamannya. Kementerian Agama atau pemerintah akan mengikuti fatwa MUI terkait paham Gafatar," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Ubudiyah, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah