Kamis, 30 Desember 2010

PCNU Kota Bekasi Laksanakan Kurban Hari Tasyriq Terakhir

Bekasi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bekasi melaksanakan penyembelihan kurban di kantor PCNU setempat, Bekasi, Jawa Barat, Sabtu (26/9), atau pada hari tasyriq terakhir, 13 Dzulhijjah 1436 H. Hewan yang disembelih terdiri dari 3 ekor sapi dan 9 ekor kambing.

Dari jumlah hewab tersebut terkumpul 694 kantong daging yang kemudian dibagikan kepada warga sekitar dengan melibatkan seluruh lembaga dan badan otonom NU. Distribusi daging dilaksanakan pada hari tasyrik ketiga lantaran banyaknya pengurus NU yang menjadi tokoh dan sekaligus terlibat dalam kepanitiaan kurban di lingkungan rumah masing-masing. Pelaksanaan kurban pada akhir pekan dipandang lebih efektif dan efisien.

PCNU Kota Bekasi Laksanakan Kurban Hari Tasyriq Terakhir (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kota Bekasi Laksanakan Kurban Hari Tasyriq Terakhir (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kota Bekasi Laksanakan Kurban Hari Tasyriq Terakhir

Ketua Panitia Kurban H. Ahmad Mirza menjelaskan, amanah kurban yang disalurkan melalui PCNU berasal dari Walikota Bekasi, PT Riung, dan iuran bersama KH Nandi Naqsabandi, KH Zamakhsyari Abdul Majid, Sri, Hj Itut, dan H. Abdul Manan. Sementara kambing berasal dari H. Rahmat Ukar, Edy Wagiana, Sriyono bin Prayitno, Herman, H. Suwartono, Hj. Nur Hayati, Arie Wibowo, dan Polresta Bekasi Kota.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Termasuk kita juga mendapat bantuan operasional penyembelihan dari Baznas Kota Bekasi, Kemenag Kota Bekasi, DKM Grand Metropolitan, serta sejumlah donatur dari pengurus dan simpatisan NU. Kita juga melakukan inventarisir jumlah kurban dari masjid, mushala, ponpes, serta yayasan yang berada di bawah naungan NU, dengan total quban mencapai 656 yang terdiri dari 446 ekor kambing dan 210 ekor sapi, ” ujar H Ahmad Mirza.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua PCNU Kota Bekasi, KH. Zamaskhsyari Abdul Majid menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih kepada segenap pengurus dan panitia yang telah bekerja keras menyukseskan pelaksanaan kurban 2015 M/ 1436 H. Dia menuturkan, di tengah kondisi perekonomian yang sulit, PCNU Kota Bekasi masih dapat melaksanakan kurban dengan jumlah sapi dan kambing tak berbeda jauh dari tahun kemarin.

“Itulah pentingnya kita tetap optimis, sebagaimana optimisme dan keyakinan yang ditunjukkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Sebab, orang yang optimis akan diberikan reward oleh Allah. Insya Allah mulai awal tahun depan PCNU Kota Bekasi akan membuka rekening kurban, tempat di mana kita bisa menabung, supaya tumbuh kemandirian dalam tubuh NU. Semoga kurban kita semua diterima oleh Allah SWT,” ujarnya. (Syamsul/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 04 Desember 2010

Ridwal Kamil Paparkan Kiat Memimpin Bandung di Pesantren Tebuireng

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Banyak cara yang harus dilakukan para pemimpin agar bisa sukses membawa perubahan. Namun yang lebih utama adalah keteladanan, menjaga ucapan, serta memperbanyak silaturahim.

Sejumlah pesan ini disampaikan H Ridwan Kamil saat memberikan kuliah umum di Pesantren Tebuireng Jombang, Rabu (8/3). Menurut Wali Kota Bandung tersebut, tidak ada perbedaan antara pemimpin dan orang kebanyakan. "Masing-masing memiliki waktu 24 jam," jelas Kang Emil, sapaan akrabnya.

Ridwal Kamil Paparkan Kiat Memimpin Bandung di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)
Ridwal Kamil Paparkan Kiat Memimpin Bandung di Pesantren Tebuireng (Sumber Gambar : Nu Online)

Ridwal Kamil Paparkan Kiat Memimpin Bandung di Pesantren Tebuireng

Akan tetapi, bagaimana mengatur waktu yang sudah dimiliki tersebut untuk kegiatan yang lebih terukur. "Ada waktu untuk diri sendiri, ibadah, keluarga serta masyarakat," ungkapnya. Dan semakin banyak waktu yang diberikan untuk khalayak, tentu akan lebih baik, lanjutnya sembari mengutip sebuah hadits.

Pada acara yang juga diikuti sejumlah ustadz, guru dan pimpinan pesantren tersebut, Kang Emil memaparkan sejumlah terobosan ketika memimpin Bandung. "Memang butuh waktu agar ide kita bisa diterima dengan baik oleh masyarakat," katanya. Termasuk memindahkan mereka yang menempati kawasan kumuh ke lokasi pemukiman yang lebih layak. "Untuk sosialisasi, saya butuh waktu selama setahun," kisahnya.

Karena itu, Kang Emil memanfaatkan betul silaturahim dengan warga, sekaligus menjaga ucapannya. "Saat itu saya harus duduk bersama mereka sembari memberikan pemahaman terkait ide relokasi tersebut," jelasnya. Dan lewat komunikasi yang kian intensif tersebut, akhirnya warga dapat menerima pemindahan dengan tanpa ada perlawanan berarti, lanjutnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Yang tidak kalah penting dari silaturahim tersebut adalah bagaimana menjaga ucapan agar jangan ada yang menyakiti masyarakat. "Apa senjata yang lebih tajam?" katanya sembari mengisahkan dialog Imam al-Ghazali dengan muridnya. "Bukan pedang, pisau dan sejenisnya, akan tetapi lisan atau ucapan," ungkapnya.

Terkait ide gerakan ngaji usai waktu Magrib dan shalat Shubuh berjamaah, Kang Emil menandaskan bahwa hal tersebut sebagai kewajiban pemimpin. "Kami tidak hanya mengejar kemajuan fisik, juga mental," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia beralasan bahwa banyak warga negara yang penduduknya ternyata merasa tidak nyaman kendati pembangunan infrastruktur dan kemajuan ekonomi berkembang pesat. "Minimal saya bisa mempertanggungjawabkan di akhirat bahwa yang saya bangun selama ini tidak semata kemajuan fisik," jelasnya.

Di akhir paparannya, Kang Emil berharap para santri kelak dapat menjadi kalangan yang mandiri serta peduli dengan keadaan. "Menjadi orang yang turun tangan, bukan lepas tangan," katanya. Juga bukan mereka yang tangannya di bawah, justru di atas, lanjutnya.

Usai memberikan kuliah umum, Kang Emil melanjutkan ziarah ke makam keluarga Tebuireng serta bertemu KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) di dalem kasepuhan. ? (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

?

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Hadits, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah