Minggu, 27 September 2015

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Diantara faktor yang menyebabkan kondisi Indonesia terpuruk adalah semakin maraknya praktik korupsi oleh para elit negeri ini. Salah satu upaya untuk membasmi korupsi adalah dengan meningkatkan spiritualitas melalui tasawuf.

Demikian disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siroj di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta, Selatan, Jumat (4/10)

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Basmi Korupsi dengan Tasawuf

“Menteri gajinya sudah cukup, bupati sudah cukup, bensinnya, pembantunya, sopir, semuanya digaji oleh pemerintah. Menteri itu sudah staf khusus, staf ahli, asisten, deputi, sekretaris pribadi, bensin mobilnya, tukang masak di rumahnya itu ditanggung negara semua,” papar kiai asal Cirebon tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ternyata, Kiai Said menambahkan, mereka masih merasa kurang, “Kalau masih kurang, berarti jauh dari sifat-sifat sufi. Coba kalau terima, coba kalau qonaah, alhamdulillah sudah cukup, tidak akan korupsi,” paparnya.

Kiai yang akrab dipanggil Kang Said tersebut menyatakan bahwa salah besar jika ada yang mengatakan tasawuf yang menjadikan penyebab kemunduran Islam, justru tasawuflah yang mendorong agar spirit kualitas manusia menjadi dinamis dan memberikan semangat yang tinggi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tasawuf tidak membuat manusia pusing, sedih dengan urusan-urusan tektek bengek. Hanya sedih karena Allah. Yang menyebabkan kemunduran Islam adalah hubbu dunya, rebutan jabatan, rebutan harta, takut kelaparan, takut miskin takut mati,” tambahnya.

Jika saja para pejabat dan pemimpin negeri ini memiliki kualitas spiritual yang tinggi maka mereka akan menghindari korupsi, untuk menuju kualitas spiritualitas tersebut dapat ditempuh dengan tasawuf. (Aiz Luthfi/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 05 September 2015

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puluhan Mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta dan Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia meramaikan acara malam apresiasi seni yang diselenggarakan oleh Omah Aksoro dan Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Pijar STAINU Jakarta, Rabu malam (23/12) di Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat. Berbagai karya seni dipentaskan, seperti halnya puisi, cerpen, akustik, musikalisasi puisi, dan stand up comedy.

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa STAINU Jakarta Warnai Kampus dengan Aktivitas Seni

Ketua panitia, Ibnu Athoillah mengatakan, diselenggarakannya kegiatan kali ini dimaksudkan sebagai tempat ekspresi mahasiswa mengembangkan bakat yang dimilikinya. “Mahasiswa memang membutuhkan banyak tempat berekspresi, tidak hanya menyoal tentang hiruk-pikuk akademik dan perkuliahan saja,” katanya.

Mengambil tema ‘Rabun Sastra, Buta Sejarah’ Athok mengatakan kepada seluruh yang hadir untuk tidak melupakan dunia sastra dalam belajar. Meskipun secara makna sastra memiliki banyak penafsiran yang berbeda, akan tetapi pada dasarnya sastra mampu membaca sejarah dengan kaca mata yang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ambil saja Pramoedya Ananta Toer yang menulis sejarah dalam bentuk sastra tetraloginya, kita disajikan epik sejarah yang enak dibaca alurnya,” tambahnya.

Di kesempatan yang sama, Pembantu Ketua (Puka) III Bidang Kemahasiswaan STAINU Jakarta Ahmad Nurul Huda mengatakan, kegiatan malam apresiasi seni menjadi warna tersendiri kegiatan mahasiswa di luar perkuliahan. Kelompok kajian seperti Omah Aksoro mungkin bisa dicontoh mahasiswa untuk membentuk kelompok-kelompok kecil untuk melakukan kegiatan yang sama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya senang dengan kegiatan kali ini, dan saya dukung sepenuhnya sekaligus berharap bisa rutin digelar, kalau perlu tiap bulan,” katanya.

Lebih ramai lagi karena juga ada penampilan dari kampus di luar STAINU Jakarta dan UNU Indonesia. Acara ditutup dengan penampilan dari Kaprodi Psikologi Any Rufaedah yang menyanyikan lagu kemesraan dari Iwan Fals.

Turut memeriahkan dalam kegiatan ini wakil sekretaris LTN PBNU yang juga dosen STAINU Jakarta dan UNU Indonesia, Faris Alnizar; Ketua LP3M STAINU Jakarta, Fatkhu Yasik; dan civitas akademika, Amsar Dulmanan, Muhammad Nurul Huda, Ahmad Dzakirin serta para alumni STAINU Jakarta. (Faridurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Khutbah, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah