Selasa, 16 Februari 2016

Pengurus MWCNU Pajarakan Dilantik

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sedikitnya 65 orang pengurus MWCNU Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo masa khidmat 2016-2021 resmi dilantik oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin, Sabtu (17/12) pagi.

Pengurus MWCNU Pajarakan Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengurus MWCNU Pajarakan Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengurus MWCNU Pajarakan Dilantik

Pelantikan ini digelar di sela peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW serta pemberian santunan kepada anak yatim. Santunan ini diberikan kepada 100 orang anak yatim dari semua ranting se-Kecamatan Pajarakan.

Pelantikan ini dihadiri oleh Rais PCNU Kota Kraksaan KH. Munir Kholili, Ketua PCNU Kota Kraksaan KH. Ahmad Sujai Syafii beserta Sekretaris PCNU H. Fauzan Hafidzi dan Camat Pajarakan Sukarno beserta Forkopimka Pajarakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sambutannya Hasan Aminuddin mengatakan bahwa mukjizat Al-Quran sangat terbukti di negara kita. Inilah kehebatan Al-Quran, dari itulah kitab suci Al-Qur’an harus dijadikan sebagai pedoman untuk pedoman kehidupan.

“Kegiatan NU yang disangka bidah itu sudah tidak ada lagi karena yang diputusnya gerakan dan sikap beragama tidak diputuskan oleh ulama siapapun kecuali pengurus NU melalui koordinasi dan keputusan rapat organisasi. Terlebih lagi kebijakan Pemkab Probolinggo selalu bersinergi dengan NU,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Hasan Aminuddin, pengurus ranting harus ada getaran di lingkungannya. Yakni dengan usulan program takziyah (dana) yang diberikan oleh shohibul musibah.

“Yang harus dilakukan sebagai umat Islam diwajibkan untuk menghadiri dan membantu untuk meringankan penderitaan di setiap salah satu warga yang berduka di lingkungannya. Budayakan secara istiqomah melaksanakan tahlil selama 7 hari tanpa dikorupsi disertai dengan tanpa konsumsi di rumah yang berduka,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 07 Februari 2016

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Peran mahasiswa semakin luas di tengah masyarakat. Selama melaksanakan tugas kuliah kerja nyata (KKN), hal terpenting adalah mahasiswa berkewajiban menjadi motor pemberdayaan dan terlibat penuh dalam membangun masyarakat di desa. Mahasiswa juga harus menjaga sikap dan prilaku yang sesuai dengan nilai-nilai pesantren. 

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

KKN IPMAFA Pati Lakukan Pemberdayaan Berbasis Pesantren

Demikian disampaikan KH Abdul Ghaffar Rozin, Rektor Institut Pesantren Mathaliul Falah Pati (IPMAFA) saat menerjunkan 198 mahasiswa KKN di Pendopo Kabupaten Pati, Jawa Tengah (1/7).

"KKN IPMAFA selama ini selalu meninggalkan prestasi yang baik dalam pemberdayaan masyarakat. Diharapkan mahasiswa ketika KKN tidak membawa cat atau papan nama tetapi membawa metodologi dan terobosan yang memajukan kondisi masyarakat sekitar," jelas Ketua RMI PBNU ini. 

Penerjunan diterima langsung oleh Bupati Pati Hariyanto yang sekaligus mendelegasikan kepada para Kepala Desa tempat berlangsungnya KKN untuk menfasilitasi dan mengarahkan mahasiswa dalam membantu program pemberdayaan desa. KKN yang berlokasi di dua Kecamatan Tlogowungu dan Gembong dan tersebar di 26 desa ini dihadiri Bapeda Pati, Camat dan para Kepala Desa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Bupati Pati Haryanto menegaskan bahwa tugas mahasiswa KKN bukan pada pembangunan fisik, tapi hal-hal yang terkait dengan pemberdayaan. "Kalaupun ada program fisik, hanya bersifat menunjang. Yang terpenting dari KKN ini adalah memaksimalkan apa yang ada di desa, untuk desa dan dikembalikan lagi kepada desa," tuturnya.

Program KKN mengangkat tema "Peningkatan Kemandirian dan Daya Saing Masyarakat Berbasis Potensi Lokal Melalui KKN yang Berkelanjutan" dan berlangsung selama sebulan lebih dari 1 Agustus 2016-17 September 2016 mendatang. Fokus KKN IPMAFA terdiri dari 4 pilar utama meliputi pendidikan, ekonomi, lingkungan dan kesehatan yang berbasis nilai-nilai pesantren.

Sebelum melaksanakan KKN, mahasiswa melakukan observasi selama sebulan untuk menggali data dan informasi terkait masalah dan potensi desa, kemudian mereka melakukan FGD dengan masyarakat. Dari FGD tersebut ditarik menjadi program kerja masing-masing kelompok sehingga program KKN yang dijalankan sesuai dengan masalah dan potensi yang ada di desa. KKN IPMAFA didesain cukup matang supaya proses KKN dapat berjalan lancar dan efektif sesuai misi utamanya yaitu pemberdayaan masyarakat. (Isyrokh Fuaidi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 05 Februari 2016

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Malang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

UIN Maulana Malik Ibrahim (Maliki) Malang menggelar sidang senat terbuka dalam rangka penganugerahan doktor Honoris Causa (HC) kepada Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb, Rabu (24/2). Gelar kehormatan ini diberikan UIN sebagai apresiasi atas jasa Grand Syekh dalam pengembangan pendidikan Islam, khususnya di Al-Azhar.

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin berharap metode pendidikan dakwah di Universitas Al-Azhar yang moderat dan toleran bisa dikembangkan pada lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia. Harapan itu disuarakan Menag saat memberikan sambutan di hadapan 500 civitas akademika UIN Maliki Malang dan tamu undangan pada acara penganugerahan doktor kehormatan kepada Syekh Ahmad ath-Tayyeb di UIN Malang, Rabu (24/02) sebagaimana dikutip dari laman kemenag.go.id.

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berharap Metode Al-Azhar Bisa Berkembang di Indonesia

Menag menilai, Grand Syekh Al-Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama al-Muslimin adalah sosok ulama par-excellence dan intelektual Muslim dunia penebar kedamaian. Sikap demikian itu ditunjukkan selama masa transisi politik di Mesir, di mana Syekh Ahmad ath-Tayyeb mengedepankan ishlah dan berusaha memediasi pihak-pihak yang berkonflik agar bersatu kembali demi kejayaan Mesir dan Islam. Hal ini dikatakan Menag, sesuai pernyataan Grand Syeikh pada saat terjadi konflik di Mesir. Ia mengatakan, “Perbedaan merupakan sebuah keniscayaan dan saya himbau agar anda semua membuka pintu untuk perdamaian demi persatuan bangsa Mesir!”

“Sosok Syekh Ahmad ath-Thayyib boleh jadi tidak membutuhkan penganugerahan Dr HC, karena reputasinya sudah diakui dunia internasional. Kita justru yang berkepentingan menganugerahkan gelar kehormatan,” tambahnya. 

Selain itu, metode pendidikan dakwah Al-Azhar yang moderat dan toleran juga relevan dengan konteks Indonesia sebagai negara yang majemuk dan plural. Apalagi. Al-Azhar merupakan ikon institusi keislaman dunia dan namanya harum di kalangan Muslim Indonesia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Studi di Al-Azhar asy-Syarif ibarat ‘menimba air’ dari sumber aslinya,” papar Menag.

“Al-Azhar secara konsisten mengembangkan faham sunni dan mengamalkannya dalam tindakan keberagamaan. Syekh Ahmad al-Tayyeb sebagai ulama moderat dan selalu menyerukan pentingnya ukhuwwah dan perdamaian,” tambahnya.

Menag berharap, kehadiran Grand Syekh Al-Azhar ke Indonesia selain memperkuat hubungan bilateral antara dua negara, juga menjadi simbol kedekatan masyarakat Muslim Mesir dan Indonesia, serta bisa memperkuat kajian Islam di Indonesia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Menag,  awal kemunculan Perguruan Tinggi Islam di Indonesia pada tahun 1960-an juga mengacu pada model kajian Islam Al-Azhar. Saat sejumlah IAIN bertransformasi menjadi UIN (Universitas Islam Negeri), gagasan integrasi ilmu yang dikembangkan sedikit banyak juga diinspirasi oleh modernisasi pendidikan tinggi di Universitas Al-Azhar. 

Selain itu, hubungan Mesir dan Indonesia juga memiliki sejarah yang panjang. Para ulama dari kedua negara pernah terjalin jaringan intelektual yang intensif dalam hubungan guru-murid sejak abad ke-19. Bahkan, Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan Indonesia pada tahun 1945, di saat negara-negara Eropa mengingkari kedaulatan dan kemerdekaan Indonesia. 

Surat Keputusan Rektor tentang Penganugerahan Doktor Honoris Causa Bidang Pendidikan Islam kepada Grand Syeikh Prof Dr Ahmad Mohammad Ahmad al-Tayyeb dibacakan Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Maliki Malang Muhammad Zainuddin. Sementara itu, Rektor UIN  Malang Mudjia Raharja dalam sambutannya menyampaikan bahwa Grand Syeikh Al-Azhar merupakan sosok yang menginspirasi dalam tugas mengembangkan dan merawat cendekiawan muslim. Selain itu, Syekh Ath-Tahyeb juga merupakan ulama besar yang disegani, intelektual Muslim yang diakui dunia, serta tokoh yang selalu menyerukan kebenaran dan menebarkan kedamaian dunia. 

“Al-Azhar menjadi rujukan kami dalam mengembangkan UIN Malang, suatu saat nanti UIN Malang akan menjadi seperti Universitas Al-Azhar, yang mengembangkan ajaran Islam Rahmatan lil Alamin,” tutup Mudjia Raharja. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 03 Februari 2016

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman

Pariaman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Duta Besar Iran untuk Indonesia Mahmoud Farazandeh ikut menyaksikan puncak perayaan Tabuik masyarakat Pariaman, Ahad (25/11) kemarin di pendopo Walikota Pariaman.

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Dubes Iran Saksikan Perayaan Tabuik Pariaman

Mahmoud Farazandeh  menyaksikan tradisi Tabuik bersama Walikota Pariaman Mukhlis Rahman, dan Kabag Humas Pemko Pariaman  Gusniyeti Zaunit, Wakil Gubernur   Sumbar Muslim Kasim yang juga Ketua Umum Persatuan Keluarga Daerah Piaman (PKDP) Sumbar, pejabat Propinsi Sumatera Barat, pejabat di lingkungan Kota Pariaman, dan ribuan masyarakat yang memadati pusat perayaan Tabuik di Pasar Pariaman hingga ke pantai Gandoriah.  

Ia mengakatan, tanggal 1-10 Muharram saat berlangsungnya Tabuik sama dengan tanggal peristiwa yang menimpa keluarga Imam Husain di Karbala 10. Peristiwa di tahun 61 H ini menjadi semangat bagi masyarakat Iran dalam momen penting kehidupannya. Sehingga kehidupan Husain juga menjadi simbol  bagi orang Iran.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Mahmoud, selama 10 hari (1 hingga 10 Muharram) cucu Nabi Muhammad Saw, Imam Husain mengalami kegetiran di Padang Karbala. Mereka tidak diperkenan mengambil air  dari sumber air. Hingga akhirnya rombongan yang menyertai kurang lebih 70 orang, satu per satu dihabisi oleh pasukan Yazid Muawiyah. 

“Puncaknya, Husain saat hendak melakukan shalat zuhur dihujani anak panah tentara Yazid . Sahabat setia Husain berusaha menghalangi serangan anak panah,” kata.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesan yang hendak disampaikan oleh Husain adalah tekadnya menegakkan kebenaran dan ajaran Islam yang dibawa oleh kakek beliau, Nabi Muhammad saw.  “Bagi masyarakat Iran, pada hari ini (Asyura) menggunakan pakaian berwarna hitam, tidak ada pesta perkawinan dan kegiatan yang berbau kegembiraan. Hari ini disebut juga hari kesedihan, “ kata Mahmoud.

Dikatakan, perlakuan terhadap Imam Husain oleh tentara Yazid  memberikan simbol perlawanan terhadap kezaliman, kesyahidan untuk kemenangan. Dalam kondisi apa pun, Husain tetap memegang teguh pendirian menolak membaiat Yazid sebagai khalifah yang dinilai melenceng dari ajaran Islam. 

Terkait dengan Tabuik Pariaman, menurut Mahmoud, salah satu bentuk mengenang peristiwa bagaimana keteguhan Imam Husain menghadapi kezaliman tentara Yazid. Tentu saja akulturasi budaya dari berbagai masyarakat mengalami perbedaan.  Seperti Tabuik ini, diselenggarakan sesuai dengan budaya yang tumbuh dan berkembang di Pariaman. 

“Di Iran sendiri tidak ada Tabuik yang disimbolkan seperti di Pariaman. Hanya peti saja yang diarak. Peti itu melambangkan jenazah Husain yang tercerai berai oleh pasukan Yazid. Pada hari Asyura masyarakat Iran mengenai peristiwa bersejarah yang dialami cucu Nabi Muhammad Saw tersebut,” kata Mahmoud.  

Menjawab pertanyaan wartawan, Mahmoud menjelaskan, bouraq yang terdapat dalam perayaan Tabuik sebenarnya simbol pada peringatan Asyura. Di mana kuda yang ditinggalkan oleh Imam Husain, merupakan kuda dari Nabi Muhammad SAW. Kudo itu simbol kesetian. Karena kuda tersebut tidak pernah ditungganggi oleh yang lain setelah Husain tewas di tangan tentara Yazid. 

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Armaidi Tanjung

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Kajian Islam, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 02 Februari 2016

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Pada sekitar pukul 14.00 WIB, Sabtu 15 April 2017, KH Aziz Masyhuri Denanyar wafat. Berita ini tentu mengejutkan karena pada paginya beliau masih membaca koran dan melanjutkan menulis buku sebagaimana yang dilakukannya selama ini. Dengan demikian berarti dua kiai besar bernama Aziz dari Jombang telah tiada, satunya lagi yaitu KH Aziz Mansyur Paculgowang sudah wafat pada 2015 lalu.

Saya, walaupun tidak lama, pernah mengaji ke beliau berdua. Kiai Aziz Mansyur adalah sosok kiai yang mempunyai etos ilmiah ala Lirboyo, yang tidak lain adalah pondok kakeknya sendiri, karena beliau juga lama mondok di Lirboyo. Gaya ngaji beliau; duduk bersila di depan meja kecil, dilengkapi dengan lampu belajar, serta bersandar di bantal. Diatas meja kecil itu, selain ada kitab dan lampu belajar, juga ada segelas air putih.

Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Kiai Aziz dari Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Kiai Aziz dari Jombang

Ketika saya mengaji romadhon pada 2014, saya begitu takjub dengan kedisiplinan Kiai yang menjabat dewan syuro PKB ini. Kalau sudah duduk didepan kitab, maka sekitar 2 jam sampai 2, 5 jam ke depan, tidak beranjak dari tempat duduknya, membaca kitab tanpa berhenti, dan tanpa basa-basi. Ketika membaca kitab semacam ini posisi beliau menghadap ke arah kiblat, bertempat di selasar masjid. sementara kami yang mengaji juga menghadap kiblat, berada di belakang beliau. Nah, ini tentunya menguntungkan bagi saya, karena kalau ngantuk tidak akan ketahuan, hehehe.

Kitab yang dikaji ba’da taraweh ketika itu adalah al-Asybah wa An-nadhair, dan Dalailul Khoirot. Belum lagi yang dibaca pada waktu pagi dan sore. Dengan etos yang demikian itu, maka wajar kalau dalam kesempatan romadhon yang biasanya tidak sampai tanggal 20 sudah selesai, berhasil menghatamkan beberapa kitab. Sehingga bisa dimaklumi jika santri alumni pondok salaf, semacam Paculgowang dan Lirboyo mempunyai perbendaharaan kitab kuning yang relatif banyak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lalu bagaimana gaya Kiai Aziz Masyhuri mengaji? Tempat belia mengaji tidak? ? di masjid, namun di ruang tamu. Beliau duduk di salah satu kursi, kemudian yang mengaji duduk dikursi-kursi yang lain, ada dua set kursi tamu di ruang tersebut. Sebagaimana layaknya menerima tamu, di meja tersaji aneka hidangan, ada makanan kering yang berada di toples-toples dan ada makanan basah, seperti pisang goreng, roti bakar, atau yang lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jadwal mengaji satu minggu sekali, saya perhatikan hidangan di atas meja tersebut selalu berganti. Terasa benar bahwa memang itu disiapkan secara khusus untuk orang-orang yang mengaji pada beliau. Tidak berhenti sampai disitu, setiap ada yang datang, tidak lama kemudian ada yang menghidangkan kopi. Di tengah-tengah pengajian biasanya disusul dengan kolak, lalu diakhir ditutup dengan nasi goreng atau tahu petis. Jadi saya katakan pada Anda, bahwa tips mengaji pada Kiai Aziz Masyhuri haruslah dalam kondisi perut kosong, kalau tidak mau keringat dingin, karena harus menghabiskan makanan yang sedemikian banyak.

Nah, begitu kita datang ternyata tidak langsung mengaji kitab, tetapi masih mengobrol kesana-kemari antara setengah sampai satu jam. Bahan obrolan biasanya tentang permasalahan aktual, tentang ke-NU-an, tentang kegiatan-kegiatan beliau, atau seputar penulisan kitab yang sedang beliau kerjakan.

Jujur, awal-awal saya merasa gelisah dengan ritme mengaji seperti ini, karena tidak langsung to the poin. Tapi lama-kelamaan merasakan hal yang berbeda. Apa yang beliau obrolkan tersebut biasanya adalah pandangan atau sikap beliau sebagai seorang kiai menghadapi permasalahan yang sedang terjadi. Jadi ini adalah pengajian aktual, tidak melulu mengaji kitab, tapi juga mengaji kehidupan. Apalagi ketika membaca kitab juga selalu disisipi dengan penjelasan-penjelasan.

Yang dikaji ketika itu adalah kitab Kawakibul Lama’ah karangan Kiai Fadhol Senori Tuban, yang tak lain adalah pamannya sendiri. Mungkin Kiai Aziz Masyhuri produktif mengarang kitab karena terinspirasi oleh Kiai Fadhol ini. Kitab lain karya Kiai Fadhol diantaranya adalah ahlal musyamarah yang menceritakan tentang 10 wali di tanah Jawa. Di tangan Kiai Aziz Masyhuri, keterangan kawakibul lama’ah menjadi sangat luas.

Keterangan tentang apa yang tertulis di kawakibul lama’ah sepertinya sudah nempel banget di lidah beliau. Keterangannya bisa sangat detail. Misalkan saja, ketika masuk pada pembahasan devinisi sunnah dan jama’ah, dalam kitab tersebut menyitir devinisi dari kamus Muhith. Oleh beliau dijelaskan kamus mukhit ini merupakan kamus 4 jilid yang patokannya adalah huruf terakhir dari suatu kata. Misal kata ‘wasala’ yang terdiri dari huruf wawu, sin, dan lam, maka cara mencarinya dari huruf lam.

Keterangan ini kemudian melebar pada jenis-jenis kamus. Dimulai dari Tajul Arus yang merupakan sarah kamus mukhit. Lalu ada juga Misbahul Munir yang menurut beliau merupakan kamus yang paling ‘marem’, karena kalau ada masalah fiqh keterangannya dipanjangkan. Ada juga kamus munjit. Ini adalah kamus yang paling gampang, karena kalau ada yang tidak jelas dikasih gambar. Kelebihan yang lain dari kamus ini ada Faraidul Adab-nya. Namun yang mengarang orang kristen.

Keterangan kamus munjit ini menjadi semakin hidup manakala ditambahi dengan kisah Mbah Kiai Maksum Lasem dan putranya Mbah Kiai Ali Maksum. Mbah Kiai Maksum mengharamkan kamus munjit. Ketika Mbah Kiai Ali Maksum masih dipondok, waktu mau dijenguk ayahnya, santri-santri senior yang punya kamus munjit suruh menyembunyikan. Takut kalau-kalau Mbah Kiai Maksum memeriksa kamar-kamar. Nah, nanti kalau sudah pulang boleh dikeluarkan lagi.

Kitab berikutnya yang dikaji setelah kawakibul lama’ahkhatam adalah kitab tipis berjudul, butlani aqoidul syiah, sebuah kitab yang sepertinya belum ada di penerbitah Indonesia. Karena kami mengkajinya pun dari foto copy-an kitab yang beliau punya. Demikianlah Kiai Aziz Masyhuri, perbendaharaan kitab-kitab langkanya melimpah. Sehingga wajar kalau beliau menjadi rujukan kiai-kiai yang lain, termasuk dari pondok-pondok besar. Namun taqdir kami tidak bisa mempelajari kitab ini sampai selesai, karena setelah libur hari raya, pengajian kitab tersebut belum dilanjutkan lagi sampai beliau wafat.

Beliau memang pernah cerita, bahwa jika sedang haji, yang beliau buru adalah kitab-kitab terbitan timur tengah. Saking banyaknya yang beliau beli, sampai-sampai sebagiannya harus dititipkan ke orang lain yang jatah bagasinya masih ada. Maka wajar, kalau wacana kitab kuningnya di atas rata-rata. Sampai-sampai ketika Dr. Musthofa Ya’qub, imam besar Masjid Istiqlal Jakarta, yang juga karibnya waktu di Tebuireng membuat tulisan di Republika, tentang banyaknya kesamaan ajaran-ajaran NU melalui kitab karangan KH Hayim Asyari yang terkodifikasi dalam Irsyadus Syari, dengan ajaran-ajaran Wahabi, maka Kiai Aziz Masyhuri menegurnya, ketika bertemu di sebuah acara di madura. Hal ini karena Kiai Aziz Masyhuri mempunyai refrensi lain yang menguatkan tentang perbedaan besar antara ajaran NU dan wahabi.

Dengan kekayaan wacana kitab kuning demikian ini, ternyata Kiai Aziz Masyhuri mentransformasikan apa yang dipunyainya itu dengan cara yang santai; mengajar ngaji disambi dengan makan-makan dan ngobrol kesana-kemari. Perut terisi, kepala pun terisi.

Sedangkan Kiai Aziz Mansyur yang mempunyai tradisi dan etos kitab kuning yang disiplin, ternyata pembawaannya tidak dikit-dikit nge-dalil. Saya teringat ketika resepsi pernikahan saya, dalam tausyiahnya beliau malah hanya bercerita, tidak mendalil, tentang bagaimana galaunya ketika beliau dipasrahi untuk meneruskan estafet kepemimpinan pondok pesantren Tarbiyatun Nasihin, selepas ayahnya meninggal. Juga bercerita tentang awal-awal diundang mengaji ke kampung-kampung dengan mengendarai sepeda ontel, lalu beralih naik sepeda motor, lalu beralih memohon kapeda Allah agar diberi kendaraan yang ada iyup-iyupane (ada atapnya: mobil). Selanjutnya tausyiah beliau malah ditutup dengan penjelasan filosofi janur dan lain-lain, yang biasa digunakan di resepsi pernikahan adat Jawa. Allahummaghfirlahuma...

M. Fathoni Mahsun, Kader Gerakan Pemuda Ansor Jombang



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 01 Februari 2016

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mendukung usul amendemen kelima terhadap Undang-Undang Dasar 1945 yang disampaikan Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

Pernyatan tersebut dikemukakan Gus Dur di hadapan anggota DPD di Ruang GBHN di Gedung Nusantara V Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (21/5) kemarin.

Acara bertajuk Diskusi Kebangkitan Nasional yang diselenggarakan Kelompok DPD di Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) itu dipandu Ketua DPD Ginandjar Kartasasmita didampingi para Wakil Ketua DPD, Irman Gusman dan Laode Ida serta Ketua Kelompok DPD di MPR Bambang Soeroso.

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Dukung Amendemen Konstitusi

Gus Dur menyatakan, ia tidak berkeinginan mogok atau berhenti mendorong DPD menggolkan usulan amendemen kelima tersebut.

"Saya mendukung teman-teman DPD yang ingin mengadakan amendemen terhadap UUD. Saya juga tidak ingin mogok, berhenti. Ya nggak," kata Gus Dur.

Kendati MPR sejak tahun 1999 sampai tahun 2002 masih membahas amendemen UUD 1945, Gus Dur berpendapat perubahan konstitusi yang dilakukan kurang lama dirembug. Akibatnya, tidak semua kalangan rakyat Indonesia mengetahui bahwa UUD 1945 telah empat kali diamendemen. "Tidak semua (rakyat Indonesia) tahu. Bahasa menterengnya, sosialisasinya kurang," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Membandingkan UUD 1945 dengan UUD Amerika Serikat (AS), Gus Dur menyatakan sejak Thomas Jefferson yang Deklarator Kemerdekaan (1776) serta bapak pendiri AS menjabat sebagai Presiden AS yang ketiga (tahun 1801 hingga tahun 1809), perdebatan mengenai perubahan konstitusi hanya dibatasi pada dua pandangan, yakni hak-hak individu dan hak-hak negara bagian. Dari masa itu hingga kini, perdebatan mengenai amendemen UUD hanya dibatasi pada dua pandangan saja.

Melalui perbandingan tersebut, UUD 1945 yang telah diamendemen empat kali bagus sekali. Meski demikian, amendemen kelima UUD 1945 tetap dipersilakan digagas DPD jika membuat UUD 1945 semakin lebih bagus lagi. "Kalaupun toh di-amendemen (kembali) nanti, silakan. Tentu sesuatu yang lebih baik akan kita terima," kata Ketua Umum Dewan Syura Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB) itu. (ant/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah