Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Februari 2018

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Guru Besar Universitas Chuo, Profesor Hisanori Kato, menyebut Indonesia bisa dijadikan teladan sekaligus rujukan dalam memahami kebinnekaan. Sebagai negara multikultur dan multiagama, NKRI patut dicontoh Jepang.

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)
Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang (Sumber Gambar : Nu Online)

Prof Kato Nilai Kebinnekaan Indonesia Patut Diteladani Jepang

“Karena itu mereka berpikir bahwa Indonesia adalah salah satu model bagi Jepang juga untuk menerima seseorang atau sesuatu yang berbeda,” ujar Kato kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah usai berdiskusi tentang agama bersama sejumlah pejabat teras Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama, Senin (14/8).

Menurut  Kato, Indonesia sudah sejak lama terbiasa menerima orang yang berbeda-beda. “Sikap orang Bali, orang Padang, orang Jawa, orang Sunda (yang bisa menerima orang lain) itu sangat penting bagi kami,” tandasnya. 

Ditanya tentang perbedaan perspektif dalam memandang agama, Kato membenarkan hal tersebut sekaligus menyayangkannya. Pada saat ini, di Jepang, agama Islam tidak begitu dihargai dan dipahami dengan baik. Karena ada banyak stereotipe dan salah paham terhadap Islam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Karena itu, saya kira anak muda seperti mereka ingin belajar banyak dan berminat belajar secara langsung ke sini, berkomunikasi dengan bapak-ibu di sini. Mereka juga akan home stay juga dengan mahasiswa di UNAS. Saya kira mereka nanti akan memiliki pengalaman luar biasa untuk memahami Indonesia dan agama Islam secara lebih mendalam,” harapnya.

Dalam diskusi, Prof Kato mengatakan pihaknya kembali membawa para mahasiswa program studi Kebijakan Publik untuk studi banding tentang kebijakan terhadap agama di lembaga riset plat merah ini. Sebagian di antara mereka ikut serta dalam kunjungan pertama setahun silam.

“Selain itu, kami ingin lebih mengenal Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia. Bagi kami, negara ini menjadi teladan dan rujukan dalam membangun peradaban dan menghargai perbedaan,” ujar Kato.

Selain belajar mengenai mengenai kebijakan, ia bersama 23 mahasiswanya hendak berkunjung ke SMA, ke sejumlah yayasan yang aktivitasnya mengenai agama seperti ICRP dan sejumlah perusahaan juga dan di beberapa tempatnya. “Kami akan belajar tentang Pancasila,” ujarnya.

Rombongan mahasiswa dari Universitas Chuo Jepang ini disambut langsung oleh Kepala Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama Abdurrahman Mas’ud. Turut mendampingi, Kepala Puslitbang Bimas Agama dan Layanan Keagamaan Muharram Marzuki, Kepala Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Amsal Bachtiar dan sejumlah peneliti. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Kiai, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 06 Februari 2018

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015

Tangerang Selatan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sepuluh santri dari berbagai pesantren kembali terpilih dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah Santri (LKTIS). Para santri tersebut didaulat mempresentasikan hasil risetnya di hadapan para doktor dan guru besar pada seminar hasil pengembangan Karya Ilmiah Santri di Pusdiklat Kemenag, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Senin-Kamis, 1-3 Desember 2015.

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Karya Ilmiah 10 Santri yang Lolos LKTIS Kemenag 2015

Program tahunan ini diinisiasi Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang Diklat Kemenag. Menurut Tarif, salah seorang peneliti Puslitbang Penda, pengembangan karya tulis ilmiah santri sudah dilaksanakan sejak tahun 2008. "Memang pernah terputus, namun itu tidak mengurangi semangat kami untuk tetap melaksanakan program tersebut," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Puslitbang Penda, HM Hamdar Arraiyyah berpesan, khusus kepada para santri agar terus belajar menulis baik dari segi kebenaran isi dan logika kalimatnya. "Sebab, jika ada pernyataan yang salah lalu dipoles sedikit saja kalimat yang salah bisa jadi benar," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terkait rencana Kepala Bidang Litbang Nonformal-Informal Muhamad Murtadho yang akan menerbitkan karya para santri tersebut menjadi buku atau bunga rampai pesantren, Hamdar mengaku sangat senang. "Saya termasuk orang yang gembira jika naskah karya santri ini benar-benar dibukukan," tandasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sepuluh santri peneliti

Berikut ini sepuluh santri berikut karya risetnya yang dipilih oleh para peneliti Puslitbang Penda. Pertama, Muhamad Risqil Azizi (Mahad Aly Sukorejo,  Situbondo, Jawa Timur). Judul risetnya: "Nuansa Toleransi dalam Fiqih Kaum Santri: Kajian atas Pandangan Pesantren tentang Relasi Muslim dan Nonmuslim”. Kedua, Ardi Putra (PP Lingkar Studi Al-Quran Ar-Rahmah Yogyakarta): "Implementasi Pendidikan Karakter Toleransi di PP LSQ Yogyakarta."

Ketiga, Asror Basuki (Mahad Aly Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur): "Penanaman Karakter Moderat di Pesantren: Studi Kasus Pembelajaran Pesantren di Mahad Sukorejo Situbondo". Keempat, Laili Nur Azizah (PP Nawesea Yogyakarta). "Pendidikan Karakter Kemandirian Finansial berlandaskan Prophetic Intelligence: Studi Kewirausahaan di PP Raudlatul Muttaqien Kalasan Sleman”.

Kelima, tiga serangkai terdiri atas Syihabuddin Alwy, Ahmad Mushonnif Alfi, dan M Akrom Adabi (PP Al-Anwar 1 Sarang, Rembang, Jawa Tengah): "Nilai Kepedulian Sosial di Pesantren Al-Anwar 1 Sarang Rembang”. Keenam, Siti Nurul Marifah dan Ahmad Riyadi (PP Al-Muayyad Windan, Sukoharjo, Jawa Tengah): "Pengaruh Urban Farming terhadap Kemandirian dan Kepedulian Lingkungan pada Santri di Pondok Pesantren Al-Muayyad Windan”.

Ketujuh, Sahal Mahfudh (PP Mathaliul Huda Pusat, Kajen, Pati, Jawa Tengah): "Model Pembentukan Karakter Religius (Religious Character Building) Santri Tahfidz al-Quran di Pesantren Mathaliul Huda Pusat Kajen”. Kedelapan, Nur Amanah (PP Al-Hidayah, Cibiru Wetan, Bandung, Jawa Barat): "Implementasi Pendidikan Karakter Kejujuran dan Tanggung Jawab di Pesantren Al-Hidayah Kabupaten Bandung”.

Kesembilan, Feny Nida Fitriyani dan Dede Sukirah (PP Az-Zahra Purwokerto, Jawa Tengah): "Pengembangan Kreativitas Bahasa dan Warna di Pesantren Az-Zahra Karanglesem, Purwokerto, Jawa tengah”. Kesepuluh, Risdianto (PP Mahasiswa An-Najah Purwokerto): "Pengembangan Pesantren Hijau: Upaya Meningkatkan Environment Enterpreneur Santri, Studi Kasus pada PP Mahasiswa An-Najah Purwokerto, Jawa Tengah”. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Foto: Usai presentasi hasil riset di Pusdiklat Kemenag Ciputat, Rabu (2/12), sebagian santri berpose dengan para narasumber dan peneliti.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Kajian Islam, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 31 Januari 2018

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pondok Pesantren Walisongo Saragen dan Mambaul Hikmah Selogiri Wonogiri berhasil mencapai babak puncak Liga Santri Nusantara (LSN) U-17 Zona Jateng 1. Kedua kesebelasan melenggang ke babak final setelah mengalahkan lawan mereka di babak semifinal yang digelar di Stadion Kota Barat Solo, Ahad (20/8).

Pantuan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, laga sengit tersaji pada awal pertandingan Mambaul Hikmah (MH) melawan Al-Manshur Popongan Klaten. Meski demikian, MH kemudian dapat mendominasi jalannya pertandingan dan mengakhiri laga dengan skor telak 6-1.

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat

Ari Yuansyah membuka keunggulan MH dengan golnya pada saat pertandingan baru berjalan menit ketiga. Namun, delapan menit kemudian Al-Manshur dapat membalasnya dengan gol yang dicetak Wawahidin. Tak butuh waktu lama, di menit ke-12, MH kembali unggul. Skor babak pertama 2-1 untuk keunggulan MH.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di babak kedua, MH mendominasi permainan, dan berhasil menyarangkan empat gol ke gawang lawan. Sementara Al-Manshur tidak dapat menambah pundi-pundi golnya. Skor akhir pertandingan 6-1 untuk MH.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan di pertandingan lainnya, Walisongo Sragen berhasil menyingkirkan Al-Barokah Gunting Klaten dengan skor 4-0. Masing-masing gol dicetak oleh Dani, Tri Widodo, Wilaryom dan Usup.

Selanjutnya kedua tim akan bertemu pada babak final, yang rencananya akan digelar hari ini, Senin (21/9), di Stadion Kota Barat.

“Jadwal Final LSN Zona Jateng I, akan dimulai pada pukul 14.30-15.45 WIB, Al Manshur vs Al Barokah memperebutkan juara 3 dan 4. Dilanjutkan, partai final pada pukul 16.00-17.25, Mambaul Hikmah vs Walisongo,” terang salah satu panitia pelaksana LSN Zona Jateng I, Dony Ridukha. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 28 Januari 2018

Pesan Mensos Diperingatan Hari Kemanusiaan Sedunia 19 Agustus

Bogor, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) yang jatuh pada 19 Agustus 2016 besok, Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa atas nama Pemerintah Indonesia mengucapkan selamat memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia kepada para pegiat kemanusiaan di seluruh Indonesia dan seluruh dunia.

Pesan Mensos Diperingatan Hari Kemanusiaan Sedunia 19 Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Mensos Diperingatan Hari Kemanusiaan Sedunia 19 Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Mensos Diperingatan Hari Kemanusiaan Sedunia 19 Agustus

“Kiranya momentum ini bisa menjadikan motivasi dan semangat untuk berbuat lebih banyak lagi atas nama kemanusiaan,” ujar Menteri Sosial saat memberi arahan dalam Pelatihan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Tingkat Madya di Tagana Training Center, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tanggal 19 Agustus menandai hari terjadinya pengeboman di kantor pusat PBB di Baghdad yang menewaskan 22 orang. Untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai bantuan kemanusiaan sedunia dan orang-orang yang menaruh hidup mereka dalam risiko demi memberikan pelayanan kemanusiaan, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 19 Agustus sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia (HKS) pada tahun 2008 silam.

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia dilakukan selain untuk memperingati mereka yang kehilangan nyawa dalam melakukan upaya kemanusiaan, juga untuk membangun kesadaran publik mengenai urusan kemanusiaan serta upaya kemanusiaan yang dapat dilakukan mereka. Setiap orang dapat menjadi pelaku kemanusiaan dan bermanfaat bagi orang yang membutuhkan bantuan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofifah menjelaskan, tantangan penanggulangan bencana di tingkat global, regional dan nasional yang semakin rumit membutuhkan keberadaan personil yang kompeten. Penguatan kesiapsiagaan untuk respons bencana adalah prioritas. Selain itu mitigasi risiko dan penaanganan dampak bencana mensyaratkan hubungan antara urusan kemanusiaan dan pembangunan untuk memaastikan keselarasan yang lebih baik antara karya-karya kemanusiaan dan pembangunan, penguatan risiko bencana dan respons bencana yang lebih efektif.

Dalam upaya pengembangan kapasitas pelaku tanggap darurat di lapangan dan sebagai bagian dari kesiapsiagaan, Pemerintah melalui Kementerian Sosial secara berkala mengadakan pelatihan bagi Taruna Siaga Bencana (TAGANA) termasuk menggandeng Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU).

“TAGANA sebagai unsur yang terdekat dengan lokasi bencana diwajibkan untuk siap hadir di lokasi setelah satu jam bencana terjadi, harus tanggap dan sigap dalam rangka melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana, dan memiliki pemahaman tentang penanggulangan bencana agar dapat bekerja secara efektif dan efisien,” terang Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

? “Kita tidak bisa mengelak lagi, yang harus dilakukan yakni mereduksi kemungkinan risiko bencana, membangun antisipasi dini masyarakat di daerah-daerah rawan bencana dan dengan peta yang tersedia,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pos Komando (Posko) sebagai pusat pengendalian dan pengawasan sekaligus wadah koordinasi berbagai pihak menjadi penting untuk dipahami oleh TAGANA. Untuk itulah, Kementerian Sosial mengadakan kegiatan bagi 120 personil ? TAGANA tingkat Madya untuk mendapat pembekalan tentang Manajemen Posko Penanggulangan Bencana pada 15-20 Agustus 2016 di Tagana Training Center, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat mengungkapkan sejalan dengan peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia, menjadi penting bagi TAGANA untuk membangun kapasitas bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penanggulangan bencana melalui Posko, dan menunjukkan kepada dunia sebagai bagian dari Satu Kemanusiaan.

“Posko Kementerian Sosial dan Dinas/Instansi Sosial di seluruh Indonesia adalah sebagai pendukung utama dalam melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana alam. Melalui posko ini data kejadian bencana beserta dampaknya dapat diperoleh secara cepat dan tepat. Sehingga perlindungan sosial terhadap korban bencana alam dapat juga dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan data yang diperoleh,” katanya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 23 Januari 2018

Tuan Guru Bengkel, Ulama yang Produktif dalam Menulis

Mataram, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyak warga Nahdliyin yang tidak mengenal dan memahami pemikiran para tokoh peletak dasar Nahdlatul Ulama (NU) di Nusa Tenggara Barat. Diantara ulama yang seharusnya terus digali pikiran adalah Tuan Guru Haji M Shaleh Hambali Bengkel. Ia adalah Rais Syuriah NU Nusa Tenggara Barat pertama.

Demikian disampaikan mantan Rektor Mansur Maksum dalam acara bedah buku Pemikiran Lokal: TGH M Shaleh Hambali Bengkel di Halaman Kantor PWNU NTB, Rabu (22/11).

Dia menilai, Tuan Guru Bengkel adalah seorang ulama yang sangat alim dan mampu menjadi penengah manakala ulama-ulama berbeda pendapat.?

Tuan Guru Bengkel, Ulama yang Produktif dalam Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuan Guru Bengkel, Ulama yang Produktif dalam Menulis (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuan Guru Bengkel, Ulama yang Produktif dalam Menulis

“Jika ada perbedaan diantara ulama, beliau yang didengar waktu itu,” katanya.

Tuan Guru Bengkel juga adalah seorang ulama yang produktif dalam menulis. Tercatat, ada delapan belas kitab yang ditulisnya, yaitu Talim Al Shibyan Bi Ghayat Al Bayan, Bintang Perniagaan, Cempaka Mulia Perhiasan Manusia, Wasiat Al Musthafa, Mawaidh Al Shalihiyah, Intan Berlian Perhiasan Perhiasan Laki Perempuan, Manzalul Al Amrad, Hidayat Al Athfal, Al Lulu Al Mantsur, dan lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Lembaga Kajian dan Pemberdayaan Sumber Daya Manusia Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (PWNU NTB) Muhammad Akbar Jadih menilai, Tuan Guru Bengkel adalah sosok ulama yang memiliki kemampuan manajemen yang baik, baik dalam mengelola karya-karyanya ataupun pesantrennya.

“Beliau sudah memiliki staf khusus dalam menulis karya-karya beliau,” katanya.

Ia mengajak Nahdliyin untuk meneladani Tuan Guru Bengkel, terutama dalam melahirkan karya tulis. Ia berharap, ke depan Tuan Guru Bengkel akan dianugerahi oleh pemerintah menjadi pahlawan nasional.?

Ada tiga tema besar yang menjadi perhatian khusus Tuan Guru Bengkel di dalam karya-karyanya, yaitu fikih, ushul fikih, dan tasawuf. Hampir sebagian besar karya Tuan Guru Bengkel ditulis dalam bahasa Arab Melayu. (Muchlishonn Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Pondok Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Intelijen Provokasi Perang Saudara di Irak

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Eksekusi mati mantan Presiden Irak Saddam Hussein memunculkan banyak kekhawatiran dari berbagai kalangan. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi menduga, intelijen telah masuk dan berusaha memprovokasi rakyat Irak agar terjadi perang saudara.

Intelijen Provokasi Perang Saudara di Irak (Sumber Gambar : Nu Online)
Intelijen Provokasi Perang Saudara di Irak (Sumber Gambar : Nu Online)

Intelijen Provokasi Perang Saudara di Irak

“Saya menduga, gerakan intelijen sekarang paling sudah masuk dan membakar para pengikut Saddam (Hussein: Red),” kata Hasyim usai menerima Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Hidayat Nurwahid di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Rabu (3/1)Eksekusi mantan orang terkuat di Irak tersebut, menurut Hasyim, justru menjadi benih-benih munculnya perang saudara. Karena selama ini, Amerika Serikat (AS) melalui media massa selalu mencitrakan seolah-olah terjadi konflik kepentingan di antara kelompok Islam di negeri kaya minyak tersebut.

“Kondisi tersebut dikacaukan sedemikian rupa oleh AS sehingga yang muncul adalah persoalan sektarian agama, antara Syiah-Sunni dan Kurdi. Ini menjadi ‘amunisi’ terjadinya perang saudara. Kalau itu kemudian meluas, maka seluruh kawasan itu akan terbakar (baca: bergejolak)

Dalam kesempatan itu, Hasyim juga menyesalkan pemberitaan di media massa, terutama media internasional yang terus mengekspos proses eksekusi Saddam. Hal itu, katanya, tidak hanya akan semakin menambah kebencian rakyat Irak terhadap AS, melainkan juga membuat citra buruk Islam.

“Saddam dihukum, itu urusan rakyat Irak sendiri. Tapi ekspos media yang terlalu berlebihan itu akan meletakkan Islam sebagai agama yang kejam, Islam adalah agama kekerasan,” sesal Hasyim. (rif)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Internasional, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 21 Januari 2018

Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Perhelatan Haul Gus Dur setiap tahun selalu menyedot antusiasme luar biasa dari masyarakat, berbagai organisasi, para tokoh berbagai agama dan keyakinan, hingga tokoh nasional, tak terkecuali di Haul Ke-6 Gus Dur 2015, Sabtu (26/12) malam. Seperti di tahun-tahun sebelumnya, selain di Ciganjur, Haul juga digelar di beberapa tempat seperti Tebuireng Jombang, Surabaya, Kudus, dan daerah-daerah lain.

Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Testimoni Para Tokoh Nasional tentang Gus Dur

Haul Ke-6 Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan menghadirkan tokoh nasional, pejabat, seniman, ulama, dan ribuan masyarakat dari berbagai penjuru.?

Tokoh-tokoh tersebut diantaranya, Rais Aam PBNU, KH Ma’ruf Amin, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siroj, Pengasuh Pesantren Al-Hikam, KH Hasyim Muzadi, Wakil Ketua Umum PBNU 2010-2015, H As’ad Said Ali, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), Menteri Agama, H Lukman Hakim Saifuddin, Menko Kemaritiman, Rizal Ramli, Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa, Rais Aam JATMAN, Habib Luthfi bin Yahya, dan tokoh-tokoh lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam testimoni yang berhasil dihimpun Pondok Pesantren Attauhidiyyah, KH Maruf Amin mengatakan, Gus Dur itu buku bacaan yang tak ada habisnya. “Beliau yang merintis dinamisasi pemikiran kritis di lingkungan NU, tetapi sangat menguasai instrumen fiqh dan ushul fiqh. Bahkan beliau sangat menguasai Al-Hikam yang disebut kaada al-hikamu an-yakuna quraanan,” ujar Kiai yang juga Ketua Umum MUI Pusat ini.

KH Said Aqil Siroj juga menuturkan, Gus Dur mengajari dirinya untuk memahami ilmu ahwal, kondisi di sekitar kita. “Gus Dur memang tampaknya menganggap enteng masalah, tapi sebenarnya beliau berusaha menyelesaikan masalah itu dengan tepat. Termasuk juga dalam mendistribusikan tugas kepada yang lain,” ungkap Pengasuh Pesantren Al-Tsaqafah Ciganjur, Jakarta Selatan ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian, penulis buku Al-Qaeda, H Asad Said Ali menjelaskan, Gus Dur tak hanya seorang kiai, tetapi juga guru politik yang senantiasa teguh menjaga nilai-nilai kemanusiaan sebagai tujuan utama. “Gus Dur merupakan guru politik yang mengajari saya untuk bisa bersikap loyal sekaligus kritis kepada pemimpin,” jelas As’ad.

Lalu, Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok dalam testimoninya mengenang masa pencalonanannya di Pilkada Gubernur Bangka Belitung (Babel) yang didukung Gus Dur. “Dulu saya berucap kepada Gus Dur, Keturunan Tionghoa nggak bisa jadi Gubernur Gus. Beliau langsung menimpali, siapa bilang? Jadi Presiden juga bisa,” kenang Ahok. Dia pun tidak memungkiri bahwa jabatan Gubernurnya saat ini tak lepas dari berkah dan inspirasi Gus Dur.

Senada dengan yang lain, Menag H Lukman Hakim Saifuddin memaparkan tiga jasa utama Gus Dur . “Pertama, sejak tahun 70-an, Gus Dur mampu mengangkat kembali nilai-nilai tradisi dan institusi pesantren. Kedua, tokoh terdepan dalam menyelesaikan debat hubungan Islam dan Pancasila. Ketiga, mengingatkan dan memahamkan kita bahwa kemajemukan Indonesia adalah Sunnatullah, bukan kelemahan melainkan anugerah dari Allah,” terang Menag.

Sementara itu, Menko Kemaritiman yang juga Menteri Perkonomian di era Presiden Gus Dur, Rizal Ramli juga menuturkan dalam testimoninya bahwa dirinya banyak belajar dari Gus Dur. “Beliau mengerem rasionalitas saya dan mengajarkan hal-hal yang beyond rationality,” ungkap Rizal.

Menurutnya, kharisma Gus Dur juga sangat besar. Tidak ada pemimpin di Indonesia setelah Bung Karno yang pengaruh dan pendukungnya sebesar Gus Dur. “Mendiang Ben Anderson mengunjungi makam-makam para Presiden RI, dan membuktikan bahwa Gus Dur adalah pemimpin yang paling dicintai rakyatnya,” jelasnya.?

Setiap tahun, tak kurang dari 3 juta orang berziarah ke makam Gus Dur di pemakaman keluarganya di Pesantren Tebuireng Jombang. Dari jumlah tersebut, kotak amal yang disediakan Pesantren juga menghasilkan sedekah milyaran rupiah dari para peziarah. Saat ini hasil sedekah tersebut dikelola oleh Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) dan dimanfaatkan untuk kegiatan-kegiatan sosial keagamaan dan kemasyarakatan.

Momentum bersatu

Di sesi terakhir testimoni, Rais Aam Idarah Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN), Habib Luthfi bin Yahya menjelaskan, ikan di laut tidak terpengaruh akan keasinan air laut. Bahkan saat dimasak ikan laut harus diasinkan. Begitulah seharusnya Indonesia. Berbeda namun bisa bersatu.

“Percuma haul-haul melulu jika masih begitu-begitu saja. Pasca haul kita harus bisa belajar dan meneladani Gus Dur. Semestinya teriakan takbir memunculkan rumah sakit, sekolah, madrasah, dan pesantren. Bukan malah dipakai untuk hal-hal buruk,” tuturnya.

Gus Dur, tambahnya, tidak hanya sekadar menikmati harmonisasi musik klasik. Melaluinya ia menunjukkan arti penting dari demokrasi. Sunan Kudus melarang memotong sapi. Hal tersebut membuat Pangeran Poncowati tertarik belajar Islam hingga memberikan kerajaannya untuk Sunan.

Mursyid Thariqah asal Pekalongan ini menerangkan, wali itu mampu berdakwah walau sudah meninggal. Buktinya? Banyak orang-orang berdoa dan mengaji di makam mereka. “Gus Dur meninggal saja mampu mengayomi umat muslim dan non-muslim. Bagaimana ketika hidup?” jelasnya.

“Amplop yang ada di Gus Dur itu mengalir pindah. Tak jarang Gus Dur harus menambal uang transport sendiri. Salah satu karomah Gus Dur, sampai sekarang beliau masih ramai diziarahi,” ungkapnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 19 Januari 2018

Ingatkan Bulan Puasa, Siswa SD Bagikan Jadwal Imsakiyah

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Banyak cara yang dilakukan untuk mengingatkan datangnya bulan suci Ramadhan, salah satunya dengan membagikan jadwal imsakiyah, seperti yang dilakukan Ratusan siswa Sekolah Dasar Islam Roushon Fikr Jombang, Jawa Timur, Senin (15/6) sore.

Ingatkan Bulan Puasa, Siswa SD Bagikan Jadwal Imsakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ingatkan Bulan Puasa, Siswa SD Bagikan Jadwal Imsakiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ingatkan Bulan Puasa, Siswa SD Bagikan Jadwal Imsakiyah

Saat pawai menggunakan dokar, becak hias, dan sepeda hias, para siswa dan seluruh pengajar SDI ini keliling kota sembari membagikan selebaran kepada masyarakat untuk menghormati datangnya bulan puasa serta membagikan jadwal imsyakiyah.

“Mari kita sambut bulan suci umat Muslim dengan banyak beribadah, banyak mengaji," ujar salah satu siswa seraya menyerahkan imbauan puasa di sepanjang jalan yang mereka lalui.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ratusan siswa SD ini terlihat bersemangat menyuarakan datangnya bulan suci yang tinggal dua hari lagi. "Bulan Ramadhan adalah bulan suci, bulan yang sangat mulia dan bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam, mari kita sambut dengan gembira," tambahnya.

Kepala SDI Roushon Fikr, Sayekti Puji Rahayu mengatakan, pawai menyambut bulan puasa memberikan pembelajaran anak didik sejak usia dini tentang agama serta mengingatkan kepada masyarakat pentingnya meningkatkan ibadah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Menyiarkan datangnya bulan puasa, dan mengimbau kepada masyarakat Jombang untuk bersuka cita memeriahkan bulan puasa dengan banyak ibadah. Ini dilakukan sekolah setiap tahunnya," ujarnya.

Diharapkan, datangnya bulan suci bagi umat Islam ini bisa menjadi ajang untuk saling menghormati karena selama satu bulan penuh banyak masyarakat menjalankan ibadah. "Ini penting disampaikan, agar kita semua bisa saling menghargai menghormati ada masyarakat yang sedang menjalankan puasa tidak makan dan minum," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Pesantren, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Banser Diminta Peka Dinamika di Masyakat

Purbalingga,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kasatkornas Banser Ir. H. Alfa Isnaeni mewanti-wanti para anggota Banser untuk selalu peka dengan dinamika yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Hal ini karena tidak tertutup kemungkinan adanya gerakan penyusupan untuk mendegradasi Banser, Gerakan Pemuda Ansor, NU dan Islam Ahhlussunnah wal-Jamaah Annahdliyah.

Banser Diminta Peka Dinamika di Masyakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Diminta Peka Dinamika di Masyakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Diminta Peka Dinamika di Masyakat

"Nah, kepekaan pimpinan Banser sangat dibutuhkan dan diuji untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang muncul," kata Alfa Isnaeni pada Temu Personil Banser di Desa Majasem Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah pada Ahad (31/1).

Alfa juga mengingatkan bahwa Banser sekarang telah bertransformasi menjadi organisasi yang dibangun oleh barisan kader-kader yang senantiasa meningkatkan profesionalitasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Banser, kata Alfa, bukan sekadar tenaga pengamanan, akan tetapi merupakan kader inti dari Gerakan Pemuda Ansor. Kader pemuda nahdliyyin yang siap membaktikan ilmu dan kemampuannya untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik.

Melalui sistem pengkaderan yang dibangun selama ini, termasuk melalui pendidikan dan latihan (diklat), menjadikan kader-kader Banser memiliki daya intelegensi dan kesigapan untuk membaca kondisi, serta bertindak mengantisipasi atau mengatasi masalah yang muncul di tengah-tengah masyarakatnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sebagai kader nahdlyin, kita harus selalu hadir di tengah-tengah masyarakat kita. Makin banyak tantangan, oleh karena itu kita perlu meningkatkan kewaspadaan, dan jangan lupa senantiasa meningkatkan kompetensi dan profesionalitas kader," ujar Alfanyang ditemani Wasekjend Pimpinan Pusat GP Ansor Ulil Arham.

Alfa mengingatkan bahwa masih ada kelompok kelompok tertentu di bumi Nusantara ini yang mengusung Islam dengan radikalisme, Islam dengan kekerasan, Islam yang selalu mengkafirkan. "Terhadap hal ini, Banser bersikap dengan tegas menolak dengan? keras bentuk bentuk kekerasan dan radikalisme termasuk mengatasnakan agama. Banser juga menolak segala bentuk terorisme," ujar Alfa.

Lebih lanjut, di bumi Nusantara juga muncul gerakan yang samar-samar dan bahkan ada yang berani terang terangan menentang Pancasila dan NKRI. “Nah, terhadap gerakan tersebut Ansor dan Banser dengan tegas menolak kelompok yang anti Pancasila dan anti-NKRI,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 11 Januari 2018

Aktivis Muslim ASEAN: Keberadaan NU Penting Bagi Dunia

Hampir sama dengan Indonesia, Malaysia juga berpenduduk mayoritas Muslim. Selain itu warga Malaysia dikenal amat majemuk. Namun, pelaksanaan Islam di Malaysia agak berbeda dengan di Indonesia. Perempuan asal Malaysia Ratna Osman dari ASEAN Progresif Moslem Movement, mengutarakan Islam moderat yang dikembangkan di Indonesia pantas diterapkan di Malaysia dan dunia.?

Berikut wawancara Kontributor Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kendi Setiawan dengan perempuan berperawakan tinggi besar itu sesaat setelah kegiatan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil), Senin-Rabu (9-11/5) lalu di Jakarta. Versi wawancara ini sudah disesuaikan dengan kaidah Bahasa Indonesia.

Ibu, saya ingin tahu Islam di Malaysia seperti apa?

Aktivis Muslim ASEAN: Keberadaan NU Penting Bagi Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis Muslim ASEAN: Keberadaan NU Penting Bagi Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis Muslim ASEAN: Keberadaan NU Penting Bagi Dunia

Islam di Malaysia ada beberapa versi. Kalau versi kerajaannya yang harus dipatuhi warga muslim di Malaysia, agak konservatif dan agak mendiskriminasikan kaum wanita dan anak-anak. Dan kalau versi yang lebih sedikit agak progresif dan moderat, tapi agak susah untuk mengeluarkan pendapat atau menjalankan aktivitas karena agak dikekang, dikontrol oleh kerajaan.

Jadi berbeda dengan di Indonesia begitu?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Banyak berbedanya, sebab di Indonesia terutama yang dilakukan NU yang saya dengar terutama Gus Dur, (lewat) kata-kata, pemikiran, kepemimpinan dalam NU itu teramat progresif. Dan Gus Dur, contoh pemimpin yang saya rasa diperlukan di Malaysia. Memang di Malaysia ada ulama-ulama yang progresif, mungkin di dalam kerajaan juga ada yang progresif, tetapi mereka minoritas dan suara mereka tidak boleh menjadi keputusan kerajaan.

Kalau melihat NU dengan kegiatan Isomil yang salah satu agendanya ingin mengembangkan Islam moderat, menurut Ibu bagaimana?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pertama saya rasa itu adalah satu usaha yang saya amat baik, tetapi memang terlalu rumit, karena (ajaran) Islam memang ada beberapa versi, yang sepatutnya memberi rahmat. Tapi malangnya ada orang Islam yang merasa versi atau interpretasi mereka saja yang diterima oleh Allah. Dan ini bahaya ya, kalau melihat unsur-unsur terorisme dari ISIS misalnya, mereka mengatakan bahwa versi mereka saja yang benar dan Allah menginginkan mereka mendirikan khilafah di muka bumi.

Jadi, mereka melakukan kekerasan dan terorisme di seluruh dunia. Dan ini bukan pelaksanaan Islam. Ini sudah keluar dari Islam. Malangnya seakan-akan seluruh orang muslim juga sudah terjebak di dalamnya kalau kita lihat Islamofobia.

Kira-kira NU dengan Isomil akan berpengaruh untuk Malaysia?

Saya baru ingin mengatakan bahwa yang utama, saya rasa NU ini sangat penting bagi dunia saat ini. Terutama di bagian negara-negara Asia Selatan. Sebab itu saya wakil dari ASEAN Progresif Moslem Movement, mau bekerja sama dengan NU dan strategi awal adalah dari Asia Tenggara. Karena saya rasa dunia Arab dan Timur Tengah mereka punya strategi sendiri dan boleh kerja sama dengan NU, tapi lebih diutamakan lagi kalau diprioritaskan dengan Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei, Filipina.?

Contohnya saya dengar wakil dari kerajaan Malaysia saat ini tidak ada satu pun yang datang ke Isomil. Jadi Malaysia yang terdekat dan sepatutnya menyambut kerja sama Isomil ini, tapi malangnya tidak ada wakil dari Malaysia, kecuali saya. Itu pun dengan keinginan sendiri.

Ibu dapat bertemu dan berdiskusi dengan para peserta dari berbagai negara di forum ini. Bagaimana kesannya?

Alhamdulillah saya amat gembira melihat dan bertemu banyak ulama yang hadir di Isomil ini. Saya berbicara dengan mereka, mereka amat progresif. Jadi kalau NU ini akan meneruskan ke tahap berikutnya, saya mau strateginya dilakukan ke negara-negara ASEAN, dan membawa ulama-ulama yang progresif untuk mengadakan konferensi untuk menyatakan misi penting (Islam moderat). Itu akan lebih mendapat perhatian terutama di Malaysia yang memang memerlukan banyak ulama progresif bukan yang regresif.

Ibu, apakah di Malaysia ada pondok pesantren?

Pesantren yang kita sebut madrasah ada, tetapi tidak seprogresif di Indonesia. Di Indonesia pesantren mempelajari kitab-kitab yang baru yang modern, ulama-ulama yang baru dan bukan hanya kitab kuning. Madrasah di Malaysia tidak modern, juga Universitas Islam Antar Bangsa, pengajarannya dogmatis. Mungkin ada juga yang pumya perhatian terhadap masalah realitas sosial di Malaysia, tetapi lagi-lagi mereka itu minoritas dan mungkin suara mereka tidak didengar atau akan membahayakan diri mereka bila ditunjukkan.





Tentang Muslimat NU Cabang Malaysia. Apa pendapat Ibu?

Itu yang saya tidak tahu itu, saya baru tahu saat berjumpa teman NU dari Malaysia di Isomil ini. Saya berharap bisa bekerjasama denagn mereka. Saya ingin Isomil diadakan lagi di Malaysia dan mengundang para ulama dari kerajaan dan lembaga non pemerintah, supaya kita dapat melakukan dialog yang sehat, yang intelektual dan bukan menuduh-nuduh, bukan ? memberi fatwa orang itu sesat. Saya rasa Islam tidak akan berantakan dan terjadi disintegrasi, jika umat negara kuat.?

Masyarakat Malaysia itu majemuk. Islam di Malaysia mayoritas, tapi tidak seperti di Indonesia. Kita memerlukan satu resolusi agar masyarakat Islam di Malaysia bisa membaur dengan non-Islam, bukan membeda-bedakan ini yang Islam ini bukan Islam. Hal ini tidak baik untuk masa depan negara dan masyarakat Malaysia juga.

Kalau soal terorisme di Malaysia bagaimana?

Ancaman teroris di Malaysia memang nyata. Alhamdulilllah, dalam hal ini pihak Kerajaan terus berusaha membatasi aktivitas mereka. Kerajaan bagus dalam pemberantasan terorisme, tapi ada unsur-unsur yang konservatif, ekstrimis dalam Undnag-Undang di Malaysia juga. Misalnya UU Islam yang diterapkan bisa menimbulkan ? ekstrimisme yang memang disukai oleh pihak ISIS, misalnya.

Walau hukum tersebut ada dalam Al-Quran, tapi banyak hukum-hukum keluarga dalam Al-Quran tidak dijalankan dengan baik. Kesengsaraan wanita dan anak-anak yang sepatutnya dijaga, haram menyakiti wanita dan anak-anak, itu disebutkan di dalam Al-Quran.

Jadi yang ingin saya katakan bahwa ada unsur-unsur terorisme bukan saja seperti yang kita lihat di luar seperti dengan senjata dengan pengebomam yang dilakukan ISIS. Benih-benih dari ajaran ektrimisme yang ada sekarang ini di Malaysia, ini yang kita mau coba ungkapkan.

Tadi Ibu menyebut Gus Dur, pernah bertemu dengan Gus Dur?

Saya tidak pernah ketemu, tapi banyak rekan-rekan menceritakan tentang Gus Dur, betapa hebatnya Gus Dur. Di kantor saya terpasang Quote Gus Dur, “Islam yang indah bukan menghukum orang.”

(Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah yang kami hormati. Ibadah Jumat dinilai sebagai hari Ied bagi umat Islam. Di dalamnya para jamaah mendengarkan nasihat-nasihat ketakwaan dalam khutbah Jumat.

Yang saya tanyakan, bagaimana hukumnya kalau seorang khatib mengangkat masalah politik praktis dan menjelek-jelekan orang lain terutama politikus dan partai tertentu terlebih lagi di tengah pilpres, pilkada, pilbup? Atas penjelasannya kami ucapkan terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Jakarta/Abdurrahim).

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Membahas Politik Praktis dalam Khutbah Jumat

Jawaban

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Khutbah merupakan rangkaian yang wajib dilakukan dalam ibadah Jumat. Seorang khatib di dalam khutbahnya wajib berpesan kepada jamaah agar meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT. Pesan ketakwaan ini merupakan satu dari lima rukun khutbah itu sendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memang tidak ada ketentuan perihal pilihan kata terkait pesan ketakwaan atau washiat ketakwaan. Khatib hanya diwajibkan untuk menyampaikan washiat ketakwaan meskipun dengan “taatlah kepada Allah”.

Meskipun demikian, seorang khatib perlu memerhatikan rambu-rambu khutbah. Berikut ini kami kutipkan anjuran para ulama seperti disebutkan Imam Nawawi dalam Al-Majemuk.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? " ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Seorang khatib dalam khutbahnya disunahkan menggunakan kata-kata yang jelas dan lancar, teratur, terang, tanpa dipanjangkan dan tanpa teriak. Jangan pula khutbah menggunakan kata-kata klise (seperti slogan dalam propaganda politik maupun iklan) karena tidak mengena dengan sempurna di hati pendengar. Jangan juga menggunakan kata asing karena dapat menjauhkan dari maksud pesan ketakwaan itu sendiri. Seorang khatib hendaknya menggunakan kata-kata secara bijak dan mudah dipahami. Imam Al-Mutawalli berpendapat, khatib makruh menggunakan kata-kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga makruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Al-Mutawalli berargumentasi dengan perkataan Sayyidina Ali RA, ‘Bicaralah kepada orang lain sesuai daya pikir mereka. Apakah kalian senang kalau Allah dan Rasul-Nya didustakan?’ (HR Bukhari di akhir Bab Ilmu),” (Lihat Imam An-Nawawi, Al-Majemuk, Maktabah Taufiqiyyah, Kairo, Mesir, Tahun 2010, Juz 4, Halaman 363).

Terkait kata-kata asing yang sulit dijangkau oleh daya pikir sebagian jamaah ini, Syekh Sulaiman Jamal mengingatkan agar para khatib menghindarkan untuk mengeluarkan kata-kata yang terlalu berat untuk dipahami atau bahkan kontroversial seperti istilah-istilah para filsuf atau para sufi yang “berat-berat”.

? : ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? . ? .

Artinya, “(Tidak menggunakan kata aneh dan asing) tidak lazim dalam penggunaan. Syekh Al-Qamuli berkata bahwa khatib dilarang dengan makruh menggunakan kata yang mengandung banyak makna (polisemi) dan sulit dipahami. Khatib juga dimakruh menggunakan kata-kata yang tidak masuk logika sebagian jamaah Jumat. Yang terakhir ini menjadi haram bila khatib terjatuh melakukan hal yang diharamkan melalui ucapannya. Selesai penjelasan Syekh Barmawi,” (Lihat Syekh Sulaiman Jamal, Hasyiyatul Jamal ala Syarhi Manhajit Thullab, Juz 5 halaman 478).

Rambu-rambu seperti di atas memang sengaja dirumuskan para ulama karena mempertimbangkan penyampaian nasihat sebagai tujuan pokok dari pesan ketakwaan itu sendiri. Hal ini diuraikan Syekh Jalaluddin Al-Mahalli dalam karyanya Kanzur Raghibin atau lebih dikenal Al-Mahalli yang kami kutip berikut ini.

? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.(? ? ?) ? ? ? (? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? .

Artinya, “(Washiyyat ketakwaan) karena mengikuti sunah. Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadits dari Jabir RA bahwa Rasulullah SAW selalu mewashiatkan ketakwaan dalam khutbahnya. (Tidak ada ketentuan mengenai redaksinya) terkait bahasa pesan ketakwaan (menurut pendapat yang shahih). Karena tujuan dari washiat ini adalah penyampaian nasihat. Penyampaian nasihat ini dianggap memadai meski dengan lafal selain “washiat”. Maka dianggap memadai dengan lafal ‘Taatlah kamu kepada Allah’,” (Lihat Al-Mahalli, Kanzur Raghibin ala Minhajit Thalibin [Hamisy Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah], Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Meskipun tidak ada ketentuan perihal redaksi wasiat, khatib dianjurkan untuk membatasi diri pada lafal “washiat” itu sendiri. Ini yang lebih utama sebagaimana usul Syekh Qaliyubi yang kami kutipkan berikut ini.

? : ( ? ? ? ) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Perihal (washiat ketakwaan), kalau khatib hanya menggunakan lafal ‘washiat’, tentu lebih utama karena tidak adanya ketentuan perihal lafal ketakwaan disepakati para ulama,” (Lihat Qaliyubi, Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah, Masyhad Al-Husainy, Kairo, Juz I, Halaman 277).

Lalu bagaimana dengan khatib yang menyelipkan isu politik praktis di dalam washiat ketakwaan dalam khutbahnya? Hemat kami, mimbar Jumat terlalu suci untuk diwarnai dengan kepentingan politik praktis, apalagi misalnya kalau khutbah itu digunakan untuk menghasut, mencaci-maki, melontarkan ghibah, atau melontarkan kata sufistik yang kontroversial (syathahat). Ini jelas diharamkan sebagaimana disebutkan oleh Syekh Sulaiman Jamal dalam Hasyiyah-nya seperti kami kutip di atas.

Kami menyarankan agar para khatib memerhatikan kembali tujuan utama dari washiat ketakwaan itu sendiri, yakni mengingatkan para jamaah untuk meningkatkan ketakwaan kepada Allah dengan kata-kata yang bijak dan santun.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, RMI NU, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 03 Januari 2018

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Kesepuluh anak yang tengah mengantre itu segera bergerak begitu panitia menyilakan pemegang kartu bernomor 1-10 memasuki ruangan. Di dalam ruangan yang rupanya telah disulap menyerupai swalayan, kesepuluh anak itu mengambil satu pak alat tulis, roti dan biskuit, beras, dan pakaian. Khusus untuk pakaian, mereka bisa memilih sesuai ukuran, jenis kelamin, dan warna kesukaan. Selesai mengambil benda-benda itu mereka diarahkan keluar melalui pintu khusus. Di pintu keluar, mereka menerima uang tunai. Binar bahagia terlihat dari wajah mereka.

Suasana itulah yang belangsung di SD Harapan Ibu, Jalan H Banan, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (30/3). Kesepuluh siswa itu ada bersama 550 siswa penerima santunan anak yatim dan dluafa.

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu

SD Harapan Ibu menjadikan pemberian santunan kepada anak yatim dan dluafa sebagai agenda tahunan. Acara santunan dapat atas kerjasama pihak sekolah dan donator lainnya.

“Sekolah kami menghimpun infak siswa seminggu sekali. Untuk kegiatan ini kami menganggarkan sekitar 20 juta dari infak tersebut,” kata Kepala SD Harapan Ibu, Baharudin.

Dalam kegiatan tersebut, NU Care LAZISNU juga turut berpartisipasi dengan memberikan sumbangan berupa beras sebanyak 500 kilogram. Direktur NU Care LAZISNU, Samsul Huda mengungkapkan keterlibatan NU Care merupakan bagian program NU Care menjelang Ramadlan dalam bentuk kepedulian kepada yatim piatu dan dluafa.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kebetulan SD Harapan Ibu melakukan kegiatan santunan ini, sehingga dapat bersinergi dengan NU Care. Ini juga sebagai sosialisasi NU Care kepada masyarakat Jakarta Selatan dan sekitarnya,” ujar Samsul.

Samsul menambahkan dalam waktu ke depan ia berharap ada sinergi yang berlekanjutan antara NU Care dan SD Harapan Ibu. Pengumpulan dan penyaluran donasi dikelola SD Harapan Ibu. Adapun NU Care berfungsi memayungi pengumpulan dan penyaluran donasi tersebut sebagai bagian LAZNAS.

Lurah Pondok Pinang Hendi Novriandi yang turut hadir, mengungkapkan pemberian santunan sebagai bentuk saling mengasihi kepada warga di lingkungan sekitar. Ia memandang hal itu sebagai hal positif.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya berharap siswa-siswa yang hadir di sini untuk menciptakan inovasi dan prestasi yang akan menjadi bekal di masa depan,” pesannya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Hadits, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Dilantik, IPNU-IPPNU Sarirejo Diminta Sering Iqra’

Lamongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kepengurusan Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Sarirejo, Lamongan, Jawa Timur akhirnya resmi dilantik, Kamis (17/7).

Dilantik, IPNU-IPPNU Sarirejo Diminta Sering Iqra’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, IPNU-IPPNU Sarirejo Diminta Sering Iqra’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, IPNU-IPPNU Sarirejo Diminta Sering Iqra’

Kegiatan yang dilaksanakan di halaman Pondok Pesantren Nurus Sa’adah Gempoltukmloko, Sarirejo, itu disaksikan sejumlah tokoh masyarakat dan beberapa alumni.

Ketua Pengurus Cabang NU (PCNU) Lamongan, KH. Bi’in Abdussalam yang juga hadir dalam pelantikan tersebut mengaku bangga dengan semangat yang ditunjukkan kepengurusan baru ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya merasa bangga melihat semangat adik-adikku ini, kalian adalah penerus perjuangan NU ke depan, masa depan NU ada ditanggan kalian. Untuk itu kalian harus belajar dari sekarang agar kelak NU mempunyai kader yang militan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan itu, KH. Bi’in Abdussalam juga berpesan kepada kader IPNU-IPPNU untuk sering-sering Iqra’. “Dalam kesempatan kali ini saya berpesan kepada kepengurusan yang baru dilantik ini untuk senantiasa ber-iqra’ atau membaca,” tuturnya.

“Yang dimaksud Iqra’ di sini yakni membaca apa saja, baik itu fenomena yang terjadi di sekitar kita, juga bisa berarti membaca Qur’an. Dengan banyak ber-iqra’ maka kita akan peka terhadap kadian akan muncul di sekitar kita,” tambahnya.

Prosesi pelantikan diisi dengan pembacaan surat pengesahan dan ikrar pengurus. Dalam kesempatan itu ketua baru IPNU Sarirejo Eko Setiawan meminta dukungan, bimbingan, dan doa dari para kiai, banom NU, para Alumni dan undangan yang hadir.

“Hal ini penting demi kesuksesan kinerja kepengurusan baru,” katanya. Ia juga berharap kader IPNU dan IPPNU lebih giat dan lebih total dalam mengurusi IPNU-IPPNU ini. “Karena pengurus IPNU dan IPPNU Sarirejo sekarang ini, insyaallah merupakan kader-kader terbaik, yang terpilih,” ujar Eko .

Dalam kegiatan ini juga dimeriahkan pembacaan shalawat oleh grup banjari rekan-rekanita IPNU-IPPNU yang ada di ranting-ranting maupun komisariat yang ada di Sarirejo. (Akmal/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 20 Desember 2017

Ibu-Ibu Jamuri Duduki Kursi DPRD Surakarta

Solo,? Pondok Pesantren Attauhidiyyah -

Menjelang siang, Sabtu (24/12) lalu, lampu-lampu di salah satu ruangan sidang di Gedung DPRD Kota Surakarta menyala terang. Kursi-kursi pun telah ditata rapi sedemikian rupa. Kiranya akan berlangsung acara penting, semacam sidang di tempat tersebut.

Namun, hingga waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB, tidak nampak orang-orang yang mengenakan jas. Justru yang datang rombongan ibu-ibu berpakaian putih berpadu kerudung warna merah. Satu per satu mereka mulai berdatangan memenuhi kursi yang tersedia, termasuk kursi yang terletak di lantai atas.

Ibu-Ibu Jamuri Duduki Kursi DPRD Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibu-Ibu Jamuri Duduki Kursi DPRD Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibu-Ibu Jamuri Duduki Kursi DPRD Surakarta

Tak lama, terdengar alunan suara merdu dari salah satu perempuan, yang duduk di panggung depan. Dengan diiringi irama pukulan rebana, semakin menambah asyik suasana.

“Ya Robbi Sholli Ala Muhammad. Ya Robbi Sholli Alaih Wasallim. Ya Robbi Sholli Ala Muhammad. Ya Robbi Sholli Alaih Wasallim,” lantunannya kemudian diikuti seluruh jamaah yang hadir, membuat gedung menjadi semakin bergemuruh akan lantunan shalawat.

Rupanya, hari itu tengah diadakan kegiatan pembacaan shalawat yang diselenggarakan Jamaah Mahabbah Rasul Putri (Jamuri) Surakarta. Secara berkeliling mereka melakukannya, untuk memperingati bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ketua Jamuri Surakarta, Nyai Hj Sechach Wal’afiyah, menerangkan jadwal penyelenggaraan yang ke-24 ini kebetulan bertempat di Gedung DPRD Kota Surakarta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Mic yang biasanya untuk interupsi dan lain sebagainya, kali ini kita gunakan untuk dzikir dan shalawat. Penyelenggaraan ini juga sekaligus mengubah anggapan, bahwa kursi anggota dewan bisa diduduki segala lapisan masyarakat,” terang Nyai Hj Sechach Wal’afiyah.

Ditambahkan Nyai Syechah kegiatan shalawat keliling Jamuri di bulan Maulid ini akan berlangsung selama sebulan penuh. Acara pamungkas akan dihelat di Masjid Tegalsari Surakarta, Jumat (30/12) mendatang.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon Ya Lal Wathon, Hubbul Wathon minal Iman, Wala Takun minal Hirman, Inhadlu Alal Wathon. Demikian penggalan lirik lagu Syubbanul Wathon yang menggema di arena Festival Pramuka 2017 dalam rangka HUT Ke-416 Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Jumat (5/5) di Taman Rakyat Slawi (Trasa).

Lagu yang dibawakan grup Hadroh Pramuka Pondok Pesantren MA Mahadut Tholabah Babakan Lebaksiu, Tegal itu mampu memukau para pengunjung yang memadati Taman Rakyat Slawi.

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)
Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka (Sumber Gambar : Nu Online)

Lagu Ya Lal Wathan Menggema di Festival Pramuka

Selain, Syubbanul Wathon, beberapa lagu religi juga dibawakan yakni Sholawat Nabi dan Ya Rosululloh. "Mereka sudah terbiasa berlatih, baik di pesantren maupun di Madrasah," ujar Pembina MA Mahadut Tholabah Babakan, Dani Zakaria

Sekretaris Daerah Pemkab Tegal, dokter Widodo Joko Mulyono yang hadir tampak terpukau dengan ? penampilan Hadroh Pramuka.?

"Saya apresiasi Festival Pramuka ini, ada hadroh Pramuka. Ini menunjukan Pramuka juga bisa, tidak hanya berkemah saja," ungkapnya

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia yang juga Ketua Kwarcab Pramuka Tegal berharap, Festival Pramuka menjadi tradisi setiap tahun pada setiap HUT Kabupaten Tegal yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan.?

"Gelaran ini juga sebagai alat untuk mencapai tujuan Gerakan Pramuka yaitu membentuk manusia yang berkarakter, berkepribadian, berwatak dan berbudi pekerti luhur sebagai warga negara Republik Indonesia yang berjiwa Pancasila," tutur?

Ketua DKC Tegal, Septi Kusuma Putri selaku koordinator acara menambahkan, selain Hadroh Pramuka, ajang Festival Pramuka juga dimeriahkan serangkaian penampilan yakni Tari Mayong, Kreasi Kolone Tongkat, Deklamasi Puisi dan Senam MOP, Simulasi Bencana oleh Ubaloka Tegal, Tari Papua dan Demo Cuci Tangan. (Hasan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 04 Desember 2017

H Afifuddin Lubis dan KH Mahmuddin Pasaribu Kembali Pimpin NU Sumut

Medan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. H Afifuddin Lubis dan KH Mahmuddin kembali terpilih masing-masing sebagai Ketua Tanfidziah dan Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama  (PWNU) Sumatera Utara (Sumut) dalam Konferensi Wilayah (Konferwil) XVII NU Sumut, Ahad (23/7) di Berastagi Cottage, Kabupaten Karo. Keduanya terpilih melalui proses pemilihan oleh 31 Pengurus (PC) NU kabupaten/kota se-Sumut.

Dalam sidang pleno proses pemilihan yang dipandu Ketua PBNU, Robikin Emhas, KH Suwadi Pranoto dan perwakilan PWNU Sumut H Muhammad Hatta Seregar, diawali dengan pemilihan Rais Syuriah dengan sistem musyawarah mufakat. Dari tujuh nama bakal calon yang muncul disepakati KH Mahmuddin Pasaribu sebagai Rais Syuriah PWNU Sumut masa bakti 2017-2022.

H Afifuddin Lubis dan KH Mahmuddin Pasaribu Kembali Pimpin NU Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)
H Afifuddin Lubis dan KH Mahmuddin Pasaribu Kembali Pimpin NU Sumut (Sumber Gambar : Nu Online)

H Afifuddin Lubis dan KH Mahmuddin Pasaribu Kembali Pimpin NU Sumut

Selanjutnya dilanjutkan pemilihan Ketua Tanfidziah diawali dengan penjaringan calon. Muncul dua kandidat bakal calon yakni H Afifuddin Lubis dan Dr H Syafii Siregar. Keduanya mendapat dukungan sesuai dengan Tata Tertib Persyaratan Bakal Calon minimal didukung oleh 10 pemilik suara yang sah dari  31 suara PCNU kabupaten/kota, satu suara perwakilan PBNU dan satu suara perwakilan PWNU Sumut.

Pada tahap penjaringan bakal calon, Afifuddin mendapat dukungan 22 sauara dan Syafii 11 suara. Namun pada saat pemilihan calon atau putaran kedua Afifuddin meraih 23 suara, Syafii 9 suara, dan satu suara tidak sah.

Ketua PBNU Robikin Emhas menyampaikan apresiasi terhadap berjalannya Konferwil XVII NU Sumut  yang berjalan secara demokratis tanpa perdebatan berarti. Ini menunjukkan pengurus NU di Sumut sudah semakin dewasa. Diharapkan kepada Rais Syuriah terpilih sebagai ketua formatur dan Ketua Tanfidziah sebagai sekretaris untuk segera menyusun kepengurusan PWNU Sumut.

Ketua PWNU Sumut priode 2017-2022, Afifuddin Lubis menyampaikan terima kasih kepada peserta Konferwil yang memberikan amanah untuk kemajuan NU Sumut lima tahun ke depan. Dirinya meminta dukungan seluruh PCNU kabupaten/kota dan warga Nahdliyin bersama-sama membangun NU sebagai organisasi yang baik dan besar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kita hilangkan perbedaan yang muncul dalam Konferwil ini, mari bersama-sama membangun NU untuk lebih baik lagi," ujar Afifuddin. (Hamdani Nasution/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 30 November 2017

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Keadilan adalah watak natural manusia, juga watak khas agama Islam. Tulisan ini akan mengulas bagaimana konsep keadilan menurut KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Dalam kumpulan tulisan tokoh-tokoh Islam yang diedit oleh Budhy Munawar Rahman berjudul Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Mei: 1994), Gus Dur menulis tentang konsep keadilan menurut Islam. Menurut Gus Dur, konsep keadilan dalam Islam bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Efek positif lanjutannya, al-Qur’an sebagai firman Allah juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan.

Apa yang dikatakan Gus Dur jelas kebenarannya. Sistem dan pola hidup adil adalah misi wahyu yang digariskan terhadap para nabi. Dalam surat al-Hadid ayat 57, al-Qur’an menegaskan bahwa keadilan merupakan sesuatu yang diturunkan bagi para rasul selain kitab suci. Dalam berbagai kitab tafsir ditegaskan bahwa keadilan dituntut al-Qur’an diterapkan sejak dari sikap batin, ucapan, sampai penyelesaian perselisihan. Alam rayapun, ditegakkan berdasar keadilan. Gus Dur menyebut ada beberapa wawasan keadilan dalam al-Qur’an sejak Qisth, Hukm sampai Adl sendiri.

Gus Dur memaklumi karena begitu vitalnya keadilan sehingga keadilan dijadikan rukun iman oleh beberapa mazhab diluar sunni seperti Syiah dan Muktazilah. Disinilah sikap pluralis Gus Dur terlihat. Gus Dur menghormati eksistensi paham lain berdasar garis pandang vitalnya suatu konsep. Bagi Gus Dur, keadilan merupakan suatu perintah agama bukan hanya acuan etis atau dorongan moral belaka. Satu perintah agama yang netral politik. Dalam sebuah tulisannya di Kompas ketika meletus perang Teluk tahun 1991, Gus Dur menegaskan kritiknya terhadap dua kubu ulama Arab, pembela Saddam maupun pembela Raja Fadh. Gus Dur juga begitu antipati ketika seorang ulama Indonesia kala itu ikut mendudukkan Saddam sebagai bughat (pemberontak) hanya berdasar persepsi minor yang tak jelas.

Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Selain adl, keadilan juga disebut qisth. Konsep qisth menundukkan arah pada diri pribadi sebelum langkah besar transformasi masyarakat. Al-Qur’an berkata “Hai orang beriman, jadilah kamu penegak keadilan (qisth), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri (An-Nisa’: 135). Secara tersirat ini menunjukkan penerapan keadilan untuk diri sendiri, atau pendidikan adab bagi pribadi sebelum menerapkan keadilan untuk masyarakat luas.

Gus Dur gusar jika keadilan yang sebenarnya murni watak agama menjadi satu keadilan berdasar ideologi tertentu. Bagi Gus Dur, keadilan ideologis memiliki pilar rapuh yang berbahaya karena keadilan ideologis akan membuahkan tirani. Watak keadilan justru akan menjadi sikap subversif apabila ideologi menyertai secara ketat. Di negeri ini, terdapat kelompok yang berjuang atas dasar ideologi keadilan namun justru watak keadilan yang didominasi ideologi cenderung untuk dikotomis, berpikir sepihak berdasar kepada garis anutan ideologinya.

Keadilan menurut kelompok keadilan ideologis jatuh dalam lingkup orientasi kontestasi dan pemenangan kekuasaan. Ambil contoh konsep penerapan bernegara ala Ikhwanul Muslimin. Menurut Hasan Al Banna, risalah penegakan daulah Islamiyah dimulai dari tahap islahul afrad (perbaikan diri sendiri), takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim), takwinul mujtama’ul muslimin (membentuk masyarakat muslim), tahrirul wathan (pembebasan tanah air), islahul hukumah (perbaikan pemerintahan) dan terakhir iqamatud daulah (pembentukan negara Islam).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di banyak negara, strategi ini diterapkan Ikhwanul Muslimin, namun sebagaimana kata Gus Dur pasti ada kelindan tak disangka manakala ideologisasi muncul mendominasi. Pada tahap islahul afrad, upaya penegakan keadilan pada pribadi individual bisa dilakukan. Namun, syahwat politik yang terlalu ambisius untuk menguasai pemerintahan justru akan mengorbankan keadilan sendiri. Sulit dipilah mana keadilan berdasar agama, mana pula berdasar kepentingan politik.

Menurut Gus Dur, keadilan juga berkait dengan kesejahteraan. Yatim piatu, kaum miskin, serta zawil qurba yang membutuhkan pertolongan merupakan pengejewantahan keadilan. Artinya, keadilan harus menjauhi sejauh mungkin korupsi karena korupsi pada dasarnya sejenis kezaliman massal terhadap seluruh rakyat utamanya rakyat kecil. Korupsi menyebabkan pemberdayaan kaum miskin dan anak yatim menjadi terhambat. Unsur transformasi sosial sedikit banyak yang merekatkan keadilan sebagai watak struktural. Hal ini menjelaskan hubungan kerangka keadilan untuk diri pribadi dengan keadilan untuk masyarakat. Artinya, keadilan akan mampu ditegakkan manakala sistem adil hidup mandiri di masyarakat.

Bagi Gus Dur, keadilan memiliki keterbatasan. Pertama, keterbatasan visi keadilan sendiri. Keadilan bisa dianggap selesai manakala keadilan diterapkan, tapi justru dengan melanggar wawasan keadilan. Demi agama islam, seseorang akan merasa absah jika harus merusak aset milik orang lain. Seseorang akan merasa menegakkan keadilan, meski dengan menghancurkan dan merusak. Padahal merusak adalah kegiatan yang bertentangan dengan wawasan keadilan. Atas nama keadilan, suap terpaksa dilakukan justru demi ideologisasi keadilan. Keadilan dan kesejahteraanpun dijual demi demokrasi padahal keadilan justru watak nomokrasi.

Menurut Gus Dur, wawasan keadilan juga rentan karena terikat konsep berbalasan (kompensatoris). Demi keadilan ideologis, Islam berupaya diarahkan menjadi daulah justru dengan meminta kompensasi dari masyarakat. Keadilan ideologis terpaksa diperjuangkan dengan mengabaikan nilai agama. Menjelang pemilu, menyuap pemilih terpaksa dilakukan. Ongkos pemilu yang besar memaksa juga terjadinya korupsi. Keadilan dirusak demi kepentingan keadilan yang diideologisasi. Gus Dur pun dulu dijatuhkan oleh kelompok yang menyebut dirirnya pejuang keadilan. Padahal menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan justru merupakan pelanggaran keadilan konstitutif. Hari ini, mengembalikan fitrah keadilan kepada kerangka dasar agama dan bukan ideologi politik terasa penting untuk dilakukan. Kita merindukan keadilan yang obyektif. Bukan keadilan ideologis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

 

*Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember Pustakawan Buku dan Kitab Kuning

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Pertandingan, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 24 November 2017

Ini Doa Cegah Gagal Panen

Mereka yang mengambil profesi sebagai petani tentu akan berharap kerja cocok tanamnya memberikan syukur-syukur hasil yang terbaik. Tidak gagal saja sudah sangat syukur. Pasalnya kegagalan panen berdampak luas selain kerugian pada permodalan.

Selain memberikan pupuk yang cocok dan menjaganya dari gangguan hama, petani juga perlu melakukan upaya lain untuk mengamankan ladang atau lahan pertaniannya seperti berdoa, bersedekah, atau mengadakan selamatan.

Ini Doa Cegah Gagal Panen (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Doa Cegah Gagal Panen (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Doa Cegah Gagal Panen

Berikut ini adalah doa Rasulullah SAW saat salah seorang warga menunjukkan buah kurma yang pertama matang dari ladangnya.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Allâhumma bârik lanâ fî tsamarinâ, wa bârik lanâ fi madînatinâ, wa bârik lanâ fî shâ‘ina, wa bârik lanâ fî muddinâ.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya, “Tuhanku, berkatilah kami pada buah-buahan kami. Berkatilah kami pada kota kami. berkatilah kami pada gantang kami. berkatilah kami pada alat takar (mud) kami.”

Pada riwayat lain, Rasulullah SAW memohon keberkahan dari hasil panen. Rasulullah membaca doa seperti ini.

? ? ?

Barakatan ma‘a barakatin

Artinya, “Semoga Allah menambah keberkahan berlipat ganda.”

Secara jelas Rasulullah SAW berdoa agar Allah SWT memelihara ladang yang sudah mulai berbuah hingga akhir masa panen dari segala gangguan yang menyebabkan gagal panen. Inilah doanya.

? ? ? ? ? ?

Allâhumma kamâ araitanâ awwalahû, fa arinâ âkhirahû

Artinya, “Tuhanku, perlihatkanlah kepada kami hasil akhir cocok tanam kami sebagaimana Engkau memperlihatkan hasil awalnya.”

Rasulullah SAW membaca doa ini agar salah seorang warga pemilik ladang yang mendatanginya tidak mengalami gagal panen. Kemudian Rasulullah memanggil salah seorang anak kecil yang ada di dekatnya. Beliau kemudian memberikan buah hasil panen pertama yang dibawa petani itu kepada anak tersebut.

Semua doa Rasulullah SAW ini disebutkan oleh Imam An-Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Nahdlatul, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 21 November 2017

Menag: Dana Haji Boleh Diinvestasikan untuk Pembangunan Infrastruktur

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa dana setoran Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) boleh dikelola untuk hal-hal yang produktif, termasuk pembangunan infrastruktur. Kebolehan ini mengacu pada konstitusi maupun aturan fiqih.?

Menag: Dana Haji Boleh Diinvestasikan untuk Pembangunan Infrastruktur (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Dana Haji Boleh Diinvestasikan untuk Pembangunan Infrastruktur (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Dana Haji Boleh Diinvestasikan untuk Pembangunan Infrastruktur

“Dana haji boleh digunakan untuk investasi infrastruktur selama memenuhi prinsip-prinsip syariah, penuh kehati-hatian, jelas menghasilkan nilai manfaat, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, dan demi untuk kemaslahatan jamaah haji dan masyarakat luas,” ujar Menag Lukman melalui keterangan tertulisnya di Jakarta, Sabtu (29/7).?

Menag mengutip hasil Keputusan Ijtima Ulama Komisi Fatwa Se-Indonesia IV Tahun 2012 tentang Status Kepemilikan Dana Setoran BPIH Yang Masuk Daftar Tunggu (Waiting List). Disebutkan bahwa dana setoran BPIH bagi calon haji yang termasuk daftar tunggu dalam rekening Menteri Agama boleh di-tasharruf-kan untuk hal-hal yang produktif (memberikan keuntungan), antara lain penempatan di perbankan syariah atau diinvestasikan dalam bentuk sukuk.?

Hasil investasi itu menjadi milik calon jemaah haji. Adapun pengelola berhak mendapatkan imbalan yang wajar/tidak berlebihan. Namun demikian, dana BPIH ? tidak boleh digunakan untuk keperluan apa pun kecuali untuk membiayai keperluan yang bersangkutan.?

Fatwa itu juga sejalan dengan aturan perundangan terkait pengelolaan dana haji. UU Nomor 34 tahun 2014 mengatur bahwa BPKH selaku Wakil akan menerima mandat dari calon jemaah haji selaku Muwakkil untuk menerima dan mengelola dana setoran BPIH.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mandat itu merupakan pelaksanaan dari akad wakalah yang diatur dalam Perjanjian Kerja Sama antara Ditjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Kementerian Agama, dan Bank Penerima Setoran BPIH tentang penerimaan dan pembayaran BPIH.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Akad wakalah ditandatangani setiap calon jemaah haji ketika membayar setoran awal BPIH. Melalui akad wakalah, calon jemaah haji selaku Muwakkil memberikan kuasa kepada Kementerian Agama selaku Wakil untuk menerima dan mengelola dana setoran awal BPIH yang telah disetorkan melalui Bank Penerima Setoran (BPS) BPIH sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.?

UU 34/2014 mengamanatkan pengelolaan keuangan haji dilaksanakan oleh BPKH. Badan ini berwenang berwenang menempatkan dan menginvestasikan keuangan haji dalam bentuk produk perbankan, surat berharga, emas, investasi langsung dan investasi lainnya. Nilai manfaat (imbal hasil) atas hasil pengelolaan keuangan haji ini dimaksudkan untuk sebesar-besarnya kepentingan jemaah haji.?

Namun, investasi yang dilakukan BPKH juga harus mempertimbangkan aspek keamanan, kehati-hatian, nilai manfaat, dan likuiditas serta kesesuaian dengan prinsip syariah. Hal ini mengingat dana haji adalah dana titipan masyarakat yang akan melaksanakan ibadah haji.?

“Selanjutnya, badan pelaksana maupun dewan pengawas BPKH bertanggung jawab secara tanggung renteng jika ada kerugian investasi yang ditimbulkan atas kesalahan dan/atau kelalaian dalam pengelolaanya,” tandasnya.?

Investasi produktif

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo ingin agar dana haji yang tersimpan di pemerintah bisa diinvestasikan untuk pembangunan infrastruktur.

Hal ini disampaikan Jokowi usai melantik Anggota Dewan Pengawas dan Anggota Badan Pelaksana Pengelola Keuangan Haji (BPKH) di Istana Negara, Jakarta, Rabu (26/7).

Jokowi menekankan bahwa pengelolaan keuangan haji adalah hal yang paling penting. "Jadi, bagaimana uang yang ada, dana yang ada ini, bisa dikelola, diinvestasikan ke tempat-tempat yang memberikan keuntungan yang baik," kata Jokowi.?

Menurut Jokowi, cara seperti ini sudah dipakai di negara lain seperti Malaysia. "Bisa saja kan (untuk infrastruktur). Daripada uang ini diam, ya lebih baik diinvestasikan tetapi pada tempat-tempat yang tidak memiliki risiko tinggi, aman, tapi memberikan keuntungan yang gede," ucap Jokowi. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Khutbah, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 04 Oktober 2017

Berapa Batas Minimal Mahar?

Assalamu’alaikum wr. wb. Perkenalkan nama saya Ahmad Saiful, sekarang saya tinggal bersama orang tua di Nabire Papua. Insya Allah bulan Syawal saya akan menikah dengan gadis pujaan saya. Insya Allah saya akan memberikan mahar sebesar dua juta rupiah, baik calon mertua maupun isteri sudah setuju dan tidak mempersoalkan. Bahkan keluarga calon isteri malah mengatakan kepada saya, kalau tidak ada uang ya jangan dipaksakan harus dua juta, yang penting ada maharnya.

Jujur saya jadi terharu melihat ketulusan calon isteri dan mertua saya sehingga saya berniat kalau ada rejeki lagi saya akan tambahi maharnya. Yang ingin saya tanyakan adalah mengenai batas minimal dan maksimal mahar, terutama menurut pandangan madzhab syafii. Adakah ketentuan mengenai batas berapa minimalnya dan berapa maksimalnya. Mohon untuk segera dijelaskan, dan kami ucapkan terimakasih. Wassalamu’alaikum wr. wb.

? ***

Assalamu’alaikum wr. wb

Berapa Batas Minimal Mahar? (Sumber Gambar : Nu Online)
Berapa Batas Minimal Mahar? (Sumber Gambar : Nu Online)

Berapa Batas Minimal Mahar?

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Mahar—sebagaimana yang telah kita ketahui bersama—bukan masuk kategori sebagai rukun maupun syarat dalam akad nikah, tetapi lebih merupakan konsekwensi logis yang timbul karena akad nikah itu sendiri. Inilah yang dipegangi oleh mayoritas pakar hukum Islam.

? ? ? ? ? ? ? ? ?? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Menurut mayoritas fuqaha` mahar bukanlah salah satu syarat dalam akad nikah, bukan juga salah satu rukunnya. Tetapi mahar hanyalah merupakan salah satu konsekwensi logis yang timbul karena akad nikah tersebut. (Al-Mausu’ah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, cet ke-2, Kuwait-Dar as-Salasil, 1404 H-1427 H, juz, 24, h. 24)

Para ulama sepakat bahwa tidak ada batasan mengenai jumlah maksimal mahar. Namun mereka berselisih pandangan mengenai jumlah minimal mahar. Setidaknya ada dua pendangan yang beredar dikalangan para pakar hukum Islam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pertama, menurut imam Syafii, Ahmad, Ishaq, Abu Tsur, dan fuqaha` Madinah dari kalangan tabi’in berpendapat bahwa tidak ada batasan minimal jumlah mahar. Menurut mereka, segala sesuatu yang boleh dijual-belikan atau bernilai maka bisa dijadikan mahar. Pandangan ini juga dianut oleh Ibnu Wahab salah seoarang ulama dari kalangan madzhab maliki.? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Adapun mengenai besaran mahar maka para ulama telah sepakat bahwa tidak batasan berapa jumlah maksimal mahar. (namun) mereka berbeda pendapat mengenai batas minimalnya. Menurut imam Syafii, Abu Tsaur, dan para fuqaha` Madinah dari kalangan tabi’in tidak batasan minimal mahar, dan setiap sesuatu yang bisa diperjual-belikan atau bernilai maka boleh dijadikan sebagai mahar. Pandangan ini juga dikemukakan oleh Ibnu Wahb salah seorang ulama dari kalangan madzhab maliki” (lihat Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Mesir-Musthafa Babi al-Halabi, cet ke-4, 1395 H/1975, juz, 2, h. 18)

Sedang pandangan kedua, di antaranya adalah menurut imam Abu Hanifah dan imam Malik bahwa mahar itu ditentukan batas minimalnya. Kendati kedua imam tersebut sepakat akan adanya ketentuan minimal mahar tetapi mereka berselisih mengenai jumlah minimalnya. Menurut imam Abu Hanifah, jumlah minimal mahar adalah sepuluh dirham atau yang senilai dengannya. Sedang menurur imam Malik adalah seperempat dinar atau perak seberat tiga dirham timbangan atau yang senilai dengan perak seberat tiga dirham timbangan (kail), atau bisa yang senilai dengan salah satu dari keduanya (seperempat empat dirham dan perak seberat tiga dirham timbangan).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Sekelompok ulama berpendapat tentang kewajiban membatasi jumlah minimal mahar. Dan mereka berselisih pendapat, namun yang masyhur dalam persoalan ini ada dua madzhab. Pertama, madzhab imam Malik beserta para pengikutnya. Kedua, madzhab imam Abu Hanifah beserta para pengikutnya. Menurut imam Malik, jumlah minimal mahar adalah seperempat dinar emas atau perak seberat tiga dirham timbangan atau yang senilai dengan perak seberat tiga dirham timbangan saja. Hal ini menurut pendapat yang masyhur di kalangan madzhab maliki. Dan ada pendapat yang mengatakan atau yang senilai dengan salah satu dari keduanya. Sedangkan menurut imam Abu Hanifah, jumlah minimal mahar adalah sepuluh dirham, ada pendapat yang mengatakan lima dirham, dan ada juga yang mengatakan empat puluh dirham”. (Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Mesir-Musthafa Babi al-Halabi, cet ke-4, 1395 H/1975, juz, 2, h. 18)

Berangkat dari penjelasan di atas maka secara global dapat ditarik sebuah kesimpulan bahwa setidaknya ada dua pendapat mengenai mahar. Pertama, tidak membatasi berapa minimal dan maksimal mahar. Sedang pendapat kedua adalah membatasi jumlah minimal mahar, tetapi tidak jumlah maksimalnya.

Jika kemudian ditarik ke dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawaban yang dapat kami kemukakan adalah bahwa menurut madzhab syafii tidak ada batasan minimal mengenai jumlah mahar. Apa saja bisa menjadi mahar sepanjang bernilai atau bisa diperjualbelikan. Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Dan kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb

?

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Kajian Islam, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah