Jumat, 30 Desember 2005

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Untuk kesekian kalinya Pimpinan Komisariat Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) SMK NU Ma’arif 2 Jekulo, Kudus, Jawa Tengah, mengadakan agenda Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). Acara diikuti oleh 289 peserta kelas X dan dipandu oleh tim instruktur Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Jekulo. Selama dua? hari acara ini berlokasi di madrasah setempat dalam pembagian dua ruang terpisah, pada Kamis-Jum’at (14-15).

Wakil Kepala Urusan Kurikulum Madrasah, Mohammad Badawi, mengatakan, Makesta ini diadakan untuk menguatkan ideologi Ahlussunnah wal Jama’ah dan moral pelajar. Terdapat peningkatan jumlah peserta didik SMK NU Ma’arif 2, namun berasal tak hanya dari latar belakang NU. Karenanya, Makesta dirasa cukup penting untuk mengajarkan ihwal ke-NU-an pada para calon teknisi mesin, komputer dan jaringan ini.

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentengi Moral, Wajibkan Makesta IPNU-IPPNU di Sekolah

“Kami tidak pernah pilih-pilih pelajar. Yang NU maupun selainnya, kami terima. Melihat semakin banyak gerakan-gerakan yang menggerogoti NU dan Aswaja, maka mereka perlu mengikuti IPNU-IPPNU. Apalagi gerakan Islam radikal juga meluas, mereka benar-benar perlu penyelamatan sejak dini,” terang Badawi yang juga mantan aktivis PMII semasa kuliahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Moral juga yang kami tekankan di sini. Sekarang ini, PR terbesar para pendidik adalah soal moralitas pelajar. Terutama lagi untuk pelajar putri, mereka sangat rawan. Dibutuhkan penekanan aspek moral, agar selain pandai otomotif, juga berakhlakul karimah,” lanjut Badawi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Badawi juga mengatakan, pihaknya menjalin komunikasi dengan pengurus ranting. Ini dilakukan di antaranya untuk koordinasi agar peserta didiknya juga aktif dalam IPNU-IPPNU di desanya masing-masing.

Madrasah ini tengah berusaha menekankan peran Pimpinan Komisariat (PK). Sejak semula berdiri, madrasah memang telah menyelenggarakan agenda Makesta yang wajib bagi peserta didik baru. Namun sejauh ini, peran PK belum begitu optimal.

“Sejak berdiri, tahun 2009, madrasah telah mengadakan Makesta setiap tahun ajaran baru. Namun karena tergolong baru, Pimpinan Komisariat masih belum dapat aktif optimal dalam program kerjanya. Para pengurus cenderung lebih menginduk pada instruksi dari pihak madrasah. Ke depan, kami ingin agar Pimpinan Komisariat bisa lebih optimal lagi dalam menyusun dan melaksanakan progam kerjanya sendiri, tanpa harus menunggu instruksi,” terang Badawi.

Beberapa materi yang disampaikan saat Makesta berlangsung, yakni Ahlussunnah Waljama’ah, Ke-NU-an, Ke-IPNU-IPPNU-an, serta Keorganisasian. Selain IPNU-IPPNU, para peserta didik SMK NU Ma’arif 2 Kudus ini juga aktif dalam kegiatan ekstra pencak silat, Pagar Nusa. Setelah ini, rencananya mereka segera mengadakan diklat jurnalistik dan menerbitkan majalah. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 28 Oktober 2005

Pendidikan Keluarga dan Tantangannya

Oleh Waliyadin

Pendidikan keluarga memainkan peranan penting bagi perkembangan kehidupan seorang anak. Pendidikan dan pembelajaran 24 jam di sekolah pun belum tentu bisa menandingi efektifitas pendidikan keluarga lantaran ikatan emosional orang tua dan anak yang sudah terbentuk sejak awal masa kehidupannya.

?

Pendidikan Keluarga dan Tantangannya (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendidikan Keluarga dan Tantangannya (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendidikan Keluarga dan Tantangannya

Di dalam keluarga seorang anak mulai menyerap segala macam nilai-nilai pendidikan mulai dari mengenal bagaimana dunia ini bekerja, norma dan sistem nilai yang berlaku, bahkan keyakinan pada agamadimulai dari pendidikan yang ditanamkan kepada anak oleh orangtuanya. Di keluarga pulalah, kecerdasan dan perkembangan karakter dan budi pekerti seorang anak mulai berkembang. Boleh jadi itulah yang mendorong kementerian pendidikan dan kebudayaan menggalakan penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun demikian, pendidikan keluarga tidak lepas dari tantangan dalam pelaksanaanya. Nyatanya, masih kerap dijumpai keluarga yang tidak tuntas mengantarkan anaknya menjadi pribadi yang berhasil seutuhnya. Dengan perkataan lain masih banyak ditemui kegagalan pendidikan keluarga untuk mencetak generasi “jenius” meminjam istilah Karen Armstrong dalam bukunya Awakening Genius in the Classroom (1998).

?

Padahal, sejatinya setiap anak dalam keadaan jenius memiliki rasa ingin tahu yang besar (curiosity), semangat hidup yang tinggi (vitality), riang gembira (cheerful), menikmati hidup (joyfulness), dan sederet sifat dasar anak lainnya yang menunjukkan kejeniusan mereka.

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masih mengutip gagasan yang dipaparkan oleh Armstrong, dalam buku tersebut dinyatakan bahwa lingkungan keluarga yang tidak kondusif justru mematikan kejeniusan seorang anak lantaran ada beberapa kondisi yang memicu terjadinya kerusakan kejeniusan anak. Pertama, disfungsi emosional merupakan kondisi dimana emosi seorang anak tidak berfungsi sebagaimana seharusnya.

?

Hal ini terjadi karena kondisi keluarga yang kacau lantaran orang tua ketergantungan minuman keras atau narkoba, pola makan yang tidak sesuai, kondisi keluarga yang penuh kekerasan, kehawatiran yang berlebihan dan depresi. Kondisi-kondisi seperti itulah yang menyebabkan seorang anak tidak memiliki gairah hidup, rasa ingin tahu menjadi redup, takut berbuat kesalahan, tingkat kebahagian hidup rendah yang menandakan matinya kejeniusan seorang anak.?

Kedua, kemiskinan dalam kehidupan keluargamenuntut orangtua menghabiskan banyak waktu untuk mencari penghidupan sehingga hampir tidak ada waktu untuk menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak untuk belajar. Kemiskinan yang terus berlangsung dalam kehidupan keluarga inilah yang pada akhirnya menyebabkab seorang anak depresi dan kehilangan vitalitasnya karena mereka merasa kurang beruntung bila dibandingkan dengan temannya yang memiliki tingkat sosial dan ekonomi yang lebih baik. Kondisi tersebut akan semakin diperparah manakalaorangtua tergolong buta aksara karena tidak ada stimulus verbal yang bisa disampaikan oleh orang tua kepada anak untuk tetap memicu kecerdasannya.

Ketiga, gaya hidup yang penuh dengan ketergesa-gesaan (fast tract life style). Jika sebelumnya karena kondisi ketiadaan harta, kali ini justru karena orangtua bergelimang harta yang memicunya untuk menjalani hectic lives, kehidupan yang begitu padat dengan aktivitas menumpuk harta, kekayaan, dan kedudukan dalam karir tertentu. Tak ayal, orang tua tidak punya waktu untuk bercengkrama dengan anak. Karena persoalan kesempatan dan kesempitanwaktu itu, orangtua berusaha mendorong anaknya untuk berkembang lebih cepat meski belum waktunya.

?

Misalnya, sejak usia dini mereka dipaksa untuk mampu menguasai banyak keterampilan yang melampaui kapasitasnya sebagai seorang anak. Masa anak-anak yang penuh dengan kehidupan bermain ria direnggut oleh keculasan orang tua. Kondisi semacam itulah yang membawa dampak buruk bagi anak misalnya anak menjadi tertekan, depresi, rasa takut berlebihan, sakit kepala, dan kesulitan untuk berkonsentrasi saat belajar.

?

Keempat, kondisi dimana orang tua menerapakan ideologi yang rigid dengan cara mengasuh anak dalam lingkungan yang serba mencekam dan penuh kebencian manakala seorang anak tidak mau patuh dengan ideologi yang dianut oleh orang tua. Ideologi ini bisa menurut agama dan kepercayaan yang dianut oleh orangtua atau mungkin landasan filosofis yang dianut olehnya. Lingkungan keluaraga yang seperti itu menjadikan anak selalu merasa curiga dan tidak memiliki alternatif dalam bertindak, sensitivitas terhadap keberagaman menjadi mati, keluwesan dalam berfikir pun menjadi beku.

Agaknya itulah kondisi dilingkungan keluarga yang perlu dihindari bagi setiap orangtua yang memikul tanggung jawab awal mendidik putra-putrinya. Jangan sampai lingkungan keluarga yang sejatinya lingkungan yang paling ideal untuk menjadikan seorang anak menjadi generasi yang berguna bagi dirinya sendiri, orangtua, nusa, bangsa dan agama sudah dimatikan potensinya oleh orangtuanya sendiri.

?

Kondisi-kondisi itu pulalah yang perlu menjadi perhatian bagi para pemangku kebijakan dalam hal ini kementrian pendidikan dan kebudayaan yang akan menerapkan kebijakan full day school melalui sekolah lima hari. Kebijakan itu memang menghendaki tersedianya banyak waktu antara orangtua dengan anak. Namun, ketersediaan banyak waktusaja tidak cukup masih ada banyak hal yang semestinya ada di lingkungan keluarga yakni figur orangtua yang baik, terpenuhinya kebutuhan dasar setiap keluarga, serta ideologi demokratis dalam mendidik anak.

?

Dengan terciptanya kondisi keluarga yang kondusif dan terbebasnya dari permasalahan keluarga, maka harapan terciptanya generasi jenius hasil proses pendidikan keluarga bisa terpenuhi. Sebaliknya jika belum bisa terpenuhi maka penguatan pendidikan keluarga sepertinya akan terus mengalami hambatan.

?

Mahasiswa Pascasarjana University of Canberra dan Penerima Beasiswa Luar Negeri Program 5000 Doktor Kementerian Agama.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 28 Juni 2005

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Keluarga besar Gerakan Pemuda Ansor kembali kehilangan sosok pemberani dan murah hati. Wawan, salah satu anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) meninggal dunia, Kamis (9/3) pukul 03.30 WIB, selang beberapa jam selesai menjalankan tugas membantu korban puting beliung di daerah Tamansari, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat.

Menurut Haris sesama anggota Banser, Wawan seperti biasanya membantu warga masyarakat yang tertimpa musibah.

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

Usai Bantu Korban Puting Beliung, Anggota Banser Wafat

"Dia itu Ketua RT dan mempunyai jiwa sosial tinggi, tegas, baik, dan perhatian terhadap keluarganya," ujar Haris selesai menshalatkan almarhum.

Haris menceritakan, setelah kejadian puting beliung yang mengakibatkan kerusakan di beberapa tempat, seketika para anggota Banser berdatangan untuk membantu tidak terkecuali almarhum.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami sesama Banser kaget, soalnya malam tadi Wawan bersama Ansor-Banser yang lainnya masih biasa saja, tidak terlihat sakit atau tanda-tanda, tiba-tiba menjelang Subuh kami mendengar kabar duka tersebut," tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikabarkan, Wawan pulang ke rumahnya sekitar pukul 21.00 WIB setelah membersihkan puing reruntuhan dan pohon tumbang yang menimpa bangunan Pondok Pesantren Miftahul Anwar, Nangela.

Almarhum yang beralamat di Ciharashas RT 01/RW 08 Kelurahan Sumelap ini meninggalkan seorang istri bernama Juju dan empat orang anak. Semoga Almarhum mendapatkan tempat yang layak di sisi Allah SWT. Allahummaghfir lahu warhamhu waafihi wa`fu anhu.. Aamiin. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 08 Maret 2005

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi

Demak,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kabupaten Demak Jawa Tengah mengadakan lomba menulis artikel dan puisi. Lomba tersebut untuk aggota IPPNU dan pelajar MA/SMA/SMK se-Demak. Naskah bisa dikirim mulai 23 September sampai 17 Oktober 2014.

Ketua PC IPPNU Demak Fitriyah mengatakan lomba menulis pelajar NU ini dalam rangka mengakhiri masa khidmat kepengurusan sebagai rangkaian kegiatan pra-Konferensi Cabang.

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Demak Lombakan Tulis Artikel dan Puisi

Ia menyebut lomba tersebut sebagai sarana untuk menumbuhkan semangat menulis sehingga kemampuan kader IPPNU di bidang  kepenulisan atau jurnalistik semakin meningkat.

"Melalui lomba ini diharapkan muncul kader IPPNU yang menjadi penulis-penulis muda yang bisa mampu ikut mengisi dan mewarnai media massa serta berkembang di wadah IPPNU," katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah via telepon, Jumat (26/9).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengenai persyaratan lomba, Ia menjelaskan peserta adalah anggota IPPNU dan siswi MA/SMA/SMK s-Demak dengan usia maksimal 20  tahun. Tema artikel "Pelajar, Generasi Harapan Bangsa", sementara puisi bertema " Pelajar dalam Bingkai Belajar, Berjuang dan Bertaqwa".

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Peserta boleh mengikuti kedua lomba atau salah satu dengan syarat hanya diperbolehkan mengirimkan 1 naskah artikel atau puisi dan harus asli karya sendiri serta belum pernah dipublikasikan," terang Fitri.

Pengiriman naskah artikel dan puisi paling lambat tanggal 17 Oktober 2014 pukul 16.00 WiB ke alamat email: pc_ippnu_demak@yahoo.co.id. Pendaftaran lomba yang tidak dipungut biaya tersebut bisa melalui Group facebook "lomba menulis PC IPPNU Demak".

"Kami menyediakan hadiah berupa sertifikat, uang pembinaan dan hadiah menarik lainnya bagi para pemenang,"imbuh Fitri seraya menyatakan informasi jelasnya bisa dilihat pada pamflet selebaran. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 25 Januari 2005

5 Makna Penting Seorang Santri

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Di kalangan warga NU (Nahdliyin), istilah santri biasanya dinisbatkan kepada mereka yang tengah menimba ilmu agama Islam di sebuah tempat bernama pesantren. Santri juga bisa diartikan sebagai orang yang beribadat dengan sungguh-sungguh; orang yang saleh (Lihat KBBI).

“Identitas seorang santri, juga dapat dijabarkan dari makna per huruf yang ada pada kata santri,” terang Ustadz Hari Surasman, saat mengisi ceramah pada kegiatan Pengajian Dzikir dan Sholawat Sariro di kompleks Pondok Pesantren Al-Muayyad Mangkuyudan, Surakarta, Ahad, (3/4).

Menurut kiai asal Salatiga tersebut, kata santri (?) dalam bahasa Arab, terdiri dari 5 huruf, yakni sin, nun, ta’, ro’, dan ya’. “Pertama, seorang santri harus menjadi saafiqul khoir atau pelopor kebaikan, di manapun ia berada,” tukas dia.

5 Makna Penting Seorang Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
5 Makna Penting Seorang Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

5 Makna Penting Seorang Santri

Kemudian penjabaran dari huruf nun, naasibul ulama (penerus ulama). Santri merupakan para kader, calon yang kelak diharapkan akan menjadi penerus para ulama. “Ketiga huruf ta’, yaitu taarikul ma’ashi (meninggalkan maksiat),” tuturnya.

Sedangkan huruf ro’ dan ya’ dijabarkan sebagai syarat yang mesti dimiliki para santri, yaitu Ridho Allah dan sifat yaqin. Kelima hal inilah, yang mesti menjadi karakter dan syarat yang dimiliki para santri agar bisa berhasil dalam kehidupannya di dunia maupun akhirat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, salah satu pengajar di SMA Al-Muayyad, Agus Himawan menjelaskan, selain mengikuti kegiatan dzikir dan sholawat, para santri Al-Muayyad yang akan mengikuti Ujian Nasional juga diajak berziarah ke sejumlah makam ulama di Solo.

“Selain untuk mengharap berkah, kami juga ingin para santri tidak lupa sejarah para ulama, serta menyemai benih cinta mereka terhadap ulama,” tutur dia.

Adapun tujuan makam yang diziarahi antara lain makam Habib Anis Al-Habsyi di Masjid Riyadh Gurawan, KH Ahmad Siradj di Makamhaji, dan Ki Ageng Henis di Pajang Laweyan. (Ajie Najmuddin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Santri, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah