Rabu, 31 Januari 2018

Berita Nahdlatoel Oelama

Majalah Berita Nahdlatoel Oelama (BNO) diterbitkan Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (PBNU), dengan alamat kantor NU, Sasak No 66, Surabaya. Menurut sebuah sumber, majalah tersebut terbit pertama kali pada tahun 1931.?

Pada terbitan Nomor pertama Tahun kelima, Muharam ? terbit pada 1 Januari 1936, terdapat keterangan yang mengungkapkan kebahagiaan bahwa majalah ini bisa terbit ? half maandblad atau terbit sebulan dua kali. Di edisi itu pula tertulis keterangan bahwa majalah tersebut diupayakan oleh para ulama NU.?

Berita Nahdlatoel Oelama (Sumber Gambar : Nu Online)
Berita Nahdlatoel Oelama (Sumber Gambar : Nu Online)

Berita Nahdlatoel Oelama

Para ulama berharap, majalah tersebut dapat berperan sebagai obor kaum Muslimin pada umumnya dan Nahdliyin khususnya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di dalam kota redaksi tercatat K. Machfoed Siddik Djember sebagai Hoofd Redacteur, dan K. Abdullah Oebaid Surabaya, KH Eljas Tubuireng dan KH A Wahid sebagai Redacteur. Sementara itu, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng, KH Abdul Wahab Chasbullah Surabaya, dan KH Bisri Kauman duduk sebagai Mede Redacteur.

Majalah BNO berbeda dengan majalah yang diterbitkan NU pada masanya. Jika majalah lain hanya berisi artikel-artikel keagamaan dan keorganisasian NU, maka BNO memuat banyak jenis tulisan, dari agama, organisasi, ekonomi, hingga permasalahan tanah dan pertanian. Dimuat juga tulisan-tulisan bertema politik dari dalam negeri ataupun luar negeri yang sedang berkembang pada masanya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berita-berita NU di berbagai daerah juga termuat, bahkan hingga NU Teluk Lubuk, di Sumatra Selatan.?

Sebagai majalah berbasis aliran keagamaan, BNO tak lupa merespon dan membela keyakinannya. Nomor 9 Tahun 9 misalnya, majalah ini merespon tulisan yang ada di majalah Adil terbitan Muhammadiyah tentang hukum Azimat.?

BNO Nomor Pertama Tahun kesepuluh, Nopember 1940, juga merespon perselisihan Persatuan At-Tarbiyatul Islamiyah dengan Hamka tengang tarikat an-Naqsabandiyah yang diungkapkan dalam majalah Al-Mizan (majalah milik Persatuan At-Tarbiyatul Islamiyah yang terbit di Bukit Tinggi).?

BNO menolak keras padangan Hamka yang mengatakan tarikat itu sesat menyesatkan. dan mendukung terbitan majalah Al-Mizan.

Tak ketinggalan pula, seperti umumnya terbitan di NU, majalah ini, tiap terbitannya memuat nama-nama kyai, ulama, atau aktivis organisasi yang sudah meninggal. Maksdunya, meminta para pembaca untuk sholat ghoib atau berkirim doa.

Majalah BNO beredar di banyak kota, dari Madura, hampir semua kota di Jawa Timur, Yogyakarta, kota-kota di jawa Tengah hingga Cirebon, Tasikmalaya, Bandung dan Jakarta. Pertanyaan-pertanyaan seputar keagamaan juga dikirimkan dari Lampung.?

Keragaman iklan yang dimuat juga menggambarkan keragaman pembaca. Dari iklan toko kain hingga tiket kapal laut, dari tukang jahit hingga toko buku yang menjual buku-buku Kristen, dari toko emas imitasi hingga iklan hotel, hingga iklan toko dasi bergambar lambang Muhammadiyah, semua ada. Dari sisi tampilan, majalah ini juga lebih rapi, baik sampul dan tata letak halamannya yang menggunakan tiga kolom di tiap halaman.

Ditemukan edisi No. 6/Tahun XII/Juni - Juli 1952 kolektor majalah Kemala Atmojo. Ada perubahan besar di edisi nomor tersebut, terbitan tidak sebulan dua kali lagi, tapi terbit dua bulan sekali. Perubahan lain adalah perpindahan alamat ke Jalan Maluku II/1, Semarang dan untuk alamat administrasi di Jalan Pekodjan 157, Kudus.?

Penerbitan majalah dikelola oleh PBNU bagian Da’wah. Susunan redaksi pada edisi yang sampul berwarna merah memasang foto Kyai Wahab Chasbullah sedang berpidato tersebut terdiri dari Pemimpin Redaksi: Saifuddin Zuhri. Anggota Redaksi: K.H.A. Wahid Hasjim; K.H. M. Dahlan; K.H. M. Iljas; A.A. Achsien; Idham Chalid; A. Fattah Jasin; Ahmad Shiddieq; Umar Burhan; A. Ch. Widjaja; K. R. Amin Tjokrowidagdo; Nurjaman. Administrasi: M. Zainury Noor. Belum ditemukan waktu perubahan majalah ini. Dan belum ada informasi yang pasti kapan berakhirnya majalah ini. (Hamzah Sahal)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pondok Pesantren Walisongo Saragen dan Mambaul Hikmah Selogiri Wonogiri berhasil mencapai babak puncak Liga Santri Nusantara (LSN) U-17 Zona Jateng 1. Kedua kesebelasan melenggang ke babak final setelah mengalahkan lawan mereka di babak semifinal yang digelar di Stadion Kota Barat Solo, Ahad (20/8).

Pantuan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, laga sengit tersaji pada awal pertandingan Mambaul Hikmah (MH) melawan Al-Manshur Popongan Klaten. Meski demikian, MH kemudian dapat mendominasi jalannya pertandingan dan mengakhiri laga dengan skor telak 6-1.

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat (Sumber Gambar : Nu Online)
Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat (Sumber Gambar : Nu Online)

Hari Ini, Final Liga Santri Nusantara Zona Jateng I Dihelat

Ari Yuansyah membuka keunggulan MH dengan golnya pada saat pertandingan baru berjalan menit ketiga. Namun, delapan menit kemudian Al-Manshur dapat membalasnya dengan gol yang dicetak Wawahidin. Tak butuh waktu lama, di menit ke-12, MH kembali unggul. Skor babak pertama 2-1 untuk keunggulan MH.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di babak kedua, MH mendominasi permainan, dan berhasil menyarangkan empat gol ke gawang lawan. Sementara Al-Manshur tidak dapat menambah pundi-pundi golnya. Skor akhir pertandingan 6-1 untuk MH.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan di pertandingan lainnya, Walisongo Sragen berhasil menyingkirkan Al-Barokah Gunting Klaten dengan skor 4-0. Masing-masing gol dicetak oleh Dani, Tri Widodo, Wilaryom dan Usup.

Selanjutnya kedua tim akan bertemu pada babak final, yang rencananya akan digelar hari ini, Senin (21/9), di Stadion Kota Barat.

“Jadwal Final LSN Zona Jateng I, akan dimulai pada pukul 14.30-15.45 WIB, Al Manshur vs Al Barokah memperebutkan juara 3 dan 4. Dilanjutkan, partai final pada pukul 16.00-17.25, Mambaul Hikmah vs Walisongo,” terang salah satu panitia pelaksana LSN Zona Jateng I, Dony Ridukha. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Harlah, Maulid, dan Natal

Oleh KH Abdurrahman Wahid

Penggunaan ketiga kata di atas dalam satu nafas, tentu banyak membuat orang marah. Seolah-olah penulis menyamakan ketiga peristiwa itu, karena bagi kebanyakan kaum Muslimin, satu dari yang lain sangat berbeda artinya. Harlah (hari lahir) digunakan untuk menunjuk kepada saat kelahiran seseorang atau sebuah institusi. Dengan demikian, ia memiliki "arti biasa" yang tidak ada kaitannya dengan agama. Sementara bagi kaum Muslimin, kata Maulid selalu diartikan saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Dan kata Natal bagi kebanyakan orang, termasuk kaum Muslimin dan terlebih-lebih kaum Nasrani, memiliki arti khusus yaitu hari kelahiran Isa Al-Masih. Karena itulah, penyamaannya dalam satu nafas yang ditimbulkan oleh judul di atas, dianggap "bertentangan" dengan ajaran agama. Karena dalam pandangan mereka, istilah itu memang harus dibedakan satu dari yang lain. Penyampaiannya pun dapat memberikan kesan lain, dari yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya.

Harlah, Maulid, dan Natal (Sumber Gambar : Nu Online)
Harlah, Maulid, dan Natal (Sumber Gambar : Nu Online)

Harlah, Maulid, dan Natal

Kata Natal, yang menurut arti bahasanya adalah sama dengan kata harlah, hanya dipakai untuk Nabi Isa al-Masih belaka. Jadi ia mempunyai arti khusus, lain dari yang digunakan secara umum -seperti dalam bidang kedokteran, seperti perawatan pre-natal yang berarti "perawatan sebelum kelahiran"-. Yang dimaksud dalam peristilahan ‘Natal adalah saat Isa Al-Masih dilahirkan ke dunia oleh "perawan suci" Maryam. Karena itulah ia memiliki arti tersendiri, yaitu saat kelahiran anak manusia bernama Yesus Kristus untuk menebus dosa manusia. Karena kaum Nasrani mempercayai adanya dosa asal. Anak manusia yang bernama Yesus Kristus itu sebenarnya adalah anak Tuhan, yang menjelma dalam bentuk manusia, guna memungkinkan "penebusan dosa" tersebut. Karena itu penjelmaannya sebagai anak manusia itu disebut juga oknum, yang merupakan salah satu dari oknum roh suci dan oknum Bapa yang ada di surga.

Sedangkan Maulid adalah saat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Pertama kali dirayakan kaum Muslimin atas perintah Sultan Shalahuddin al-Ayyubi dari Dinasti Mamalik yang berkebangsaan Kurdi itu. Dengan maksud untuk mengobarkan semangat kaum Muslimin, agar menang dalam perang Salib (crusade), maka ia memerintahkan membuat peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad tersebut, enam abad setelah Rasulullah wafat. Peristiwa Maulid itu hingga kini masih dirayakan dalam berbagai bentuk, walaupun Dinasti Saud melarangnya di Saudi Arabia. Karya-karya tertulis berbahasa Arab banyak ditulis dalam puisi dan prosa untuk "menyambut kelahiran" itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karenanya dua kata (Natal dan Maulid) yang mempunyai makna khusus tersebut, tidak dapat dipersamakan satu sama lain, apapun juga alasannya. Karena arti yang terkandung dalam tiap istilah itu masing-masing berbeda dari yang lain, siapapun tidak dapat membantah hal ini. Sebagai perkembangan "sejarah ilmu", dalam bahasa teori Hukum Islam (fiqih) kedua kata Maulid dan Natal adalah "kata yang lebih sempit maksudnya, dari apa yang diucapkan" (yuqlaqu alam wa yuradu bihi al-khash). Hal ini disebabkan oleh perbedaan asal-usul istilah tersebut dalam sejarah perkembangan manusia yang sangat beragam itu. Bahkan tidak dapat dipungkiri, bahwa kata yang satu hanya khusus dipakai untuk orang-orang Kristiani, sedangkan yang satu lagi dipakai untuk orang-orang Islam.

******

Natal, dalam kitab suci Al-Quran disebut sebagai "yauma wulida" (hari kelahiran, yang secara historis oleh para ahli tafsir dijelaskan sebagai hari kelahiran Nabi Isa, seperti terkutip: "kedamaian atas orang yang dilahirkan (hari ini)" (salamun yauma wulid) yang dapat dipakaikan pada beliau atau kepada Nabi Daud. Sebaliknya, firman Allah dalam surat al-Maryam: "Kedamaian atas diriku pada hari kelahiranku" (al-salamu ‘alaiyya yauma wulidtu), jelas-jelas menunjuk kepada ucapan Nabi Isa. Bahwa kemudian Nabi Isa "dijadikan" Anak Tuhan oleh umat Kristiani, adalah suatu hal yang lain lagi, yang tidak mengurangi arti ucapan Yesus itu. Artinya, Natal memang diakui oleh kitab suci Al-Quran, juga sebagai kata penunjuk hari kelahiran beliau, yang harus dihormati oleh umat Islam juga. Bahwa, hari kelahiran itu memang harus dirayakan dalam bentuk berbeda, atau dalam bentuk yang sama tetapi dengan maksud yang berbeda, adalah hal yang tidak perlu dipersoalkan. Jika penulis merayakan Natal adalah penghormatan untuk beliau dalam pengertian yang penulis yakini, sebagai Nabi Allah Swt.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sedangkan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi (Saladin the Saracen), penguasa dari wangsa Ayyub yang berkebangsaan Kurdi non-Arab itu, enam abad setelah Nabi Muhammad Saw wafat, harus berperang melawan orang-orang Kristiani yang dipimpin Richard berhati singa (Richard the Lion Heart) dan Karel Agung (Charlemagne) dari Inggris dan Perancis untuk mempertanggungjawabkan mahkota mereka kepada Paus, melancarkan perang Salib ke tanah suci. Untuk menyemangatkan tentara Islam yang melakukan peperangan itu, Saladin memerintahkan dilakukannya perayaan Maulid Nabi tiap-tiap tahun, di bulan kelahiran beliau. Bahwa kemudian peringatan itu berubah fungsinya, yang tidak lagi mengobarkan semangat peperangan kaum Muslimin, melainkan untuk mengobarkan semangat orang-orang Islam dalam perjuangan (tidak bersenjata) yang mereka lakukan, itu adalah perjalanan sejarah yang sama sekali tidak mempengaruhi asal-usul kesejarahannya.

Jadi jelas bagi kita, kedua peristiwa itu jelas mempunyai asal-usul, dasar tekstual agama dan jenis peristiwa yang sama sekali berbeda. Ini berarti, kemerdekaan bagi kaum Muslimin untuk turut menghormati hari kelahiran Nabi Isa, yang sekarang disebut hari Natal. Mereka bebas merayakannya atau tidak, karena itu sesuatu yang dibolehkan oleh agama. Penulis menghormatinya, kalau perlu dengan turut bersama kaum Kristiani merayakannnya bersama-sama. Dalam literatur fiqih, jika kita duduk bersama-sama dengan orang lain yang sedang melaksanakan peribadatan mereka, seorang Muslim diperkenankan turut serta duduk dengan mereka asalkan ia tidak turut dalam ritual kebaktian. Namun hal ini masih merupakan "ganjalan" bagi kaum Muslimin pada umumnya, karena kekhawatiran mereka akan "dianggap" turut berkebaktian yang sama. Karena itulah, kaum Muslimin biasanya menunggu di sebuah ruangan, sedangkan ritual kebaktian dilaksanakan di ruang lain. Jika telah selesai, baru kaum Muslimin duduk bercampur dengan mereka untuk menghormati kelahiran Isa al-Masih.

Inilah "prosedur" yang ditempuh oleh para pejabat kita tanpa mengerti sebab musababnya. Karena jika tidak datang melakukan hal itu, dianggap "mengabaikan" aturan negara, sebuah masalah yang sama sekali berbeda dari asal-usulnya. Sementara dalam kenyataan, agama tidak mempersoalkan seorang pejabat datang atau tidak dalam sebuah perayaan keagamaan. Karena jabatan kenegaraan bukanlah jabatan agama, sehingga tidak ada keharusan apapun untuk melakukannya. Namun seorang pejabat, pada umumnya dianggap mewakili agama yang dipeluknya. Karenanya ia harus mendatangi upacara-upacara keagamaan yang bersifat ‘ritualistik, sehingga kalau tidak melakukan hal itu ia akan dianggap ‘mengecilkan arti agama tersebut. Ini adalah sebuah proses sejarah yang wajar saja. Setiap negara berbeda dalam hal ini, seperti Presiden AS yang tidak dituntut untuk mendatangi peringatan Maulid Nabi Saw. Di Mesir umpamanya, Mufti kaum Muslimin -yang bukan pejabat pemerintahan- mengirimkan ucapan selamat Natal secara tertulis, kepada Paus Shanuda (Pausnya kaum Kristen Coptic di Mesir). Sedangkan kebalikannya terjadi di hari raya Idul Fitri dan Idul Adha, bukan pada hari Maulid Nabi Saw. Padahal di Indonesia pejabat beragama Kristiani, kalau sampai tidak mengikuti peringatan Maulid Nabi Saw akan dinilai tidak senang dengan Islam, dan ini tentu berakibat pada karier pemerintahannya. Apakah ini merupakan sesuatu yang baik atau justru yang buruk, penulis tidak tahu. Kelanjutan sejarah kita sebagai bangsa, akan menunjukkan kepada generasi-generasi mendatang apakah arti moral maupun arti politis dari "kebiasaan" seperti itu.

Di sini menjadi jelas bagi kita, bahwa arti pepatah lain padang lain ilalang, memang nyata adanya. Semula sesuatu yang mempunyai arti keagamaan (seperti perayaan Natal), lama-kelamaan "dibudayakan" oleh masyarakat tempat ia berkembang. Sebaliknya, semula adalah sesuatu yang "dibudayakan" lalu menjadi berbeda fungsinya oleh perkembangan keadaan, seperti Maulid Nabi Saw di Indonesia. Memang demikianlah perbedaan sejarah di sebuah negara atau di kalangan suatu bangsa. Sedangkan di negeri lain orang tidak pernah mempersoalkannya baik dari segi budaya maupun segi keyakinan agama. Karenanya, kita harus berhati-hati mengikuti perkembangan seperti itu. Ini adalah sebuah keindahan sejarah manusia, bukan?

Jerussalem, 20 Desember 2003

Tulisan ini pernah dimuat di harian Suara Pembaharuan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa

Amsterdam, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam Kementerian Agama Kamaruddin Amin menilai Islam Indonesia atau yang sering disebut Islam Nusantara menemukan momentumnya untuk disosialisasikan di Eropa karena Eropa dan komunitas Muslim di sana sering mengalami ketegangan hubungan, saling mencurigai. Untuk itu, promosi Islam Indonesia saat ini menjadi sangat relevan untuk konteks Eropa.

Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

Promosi Islam Indonesia Relevan untuk Kondisi Eropa

Hal ini disampaikan Kamaruddin Amin saat menjadi Keynote Speech pada The 1st Biennial International Conference on Moderat Islam In Indonesia di Vrije Universiteit, Amsterdam Belanda, Senin (27/3) lalu.?

Konferensi internasional yang mengangkat tema Rethinking Indonesia’s Islam Nusantara: From Local Relevance to Global Significance ini digelar Pengurus Cabang Internasional Nahdlatul Ulama (PCINU) Belanda bekerja sama dengan Kementerian Agama.

"Masalah integrasi dan asimilasi Islam dan budaya Eropa menjadi isu yang cukup sentral di Eropa hari ini. Disatu sisi orang Eropa menganggap Islam tidak sesuai dengan budaya Eropa yang modern, demokratis, toleran, menghargai perbedaan, sehingga sering muncul Islamphobia. Di sisi lain, umat Islam sangat memcurigai budaya Barat yang serba bebas, diskriminatif, tidak islami dan seterusnya," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal ini, menurut Kamaruddin, membentuk pola relasi yang sangat tidak produktif. Karenanya, promosi Islam Indonesia atau Islam Nusantara menjadi relevan dan kontekstual.

Menurut Guru Besar UIN Alauddin Makassar ini, Islam Nusantara merupakan adalah salah satu bentuk artikulasi implementasi Islam secara empiris sebagai produk dialektika antara Islam dan budaya lokal Indonesia.

Adalah tidak realistis mengharapkan satu jenis Islam yang diimplementasikan secara universal. Sebab, kata Kamaruddin, meski memiliki nilai universal dan sumber yang sama (Al-Quran dan Hadis), Islam harus berdialog dengan partikularitas masalah di mana Islam diimplementasikan. Akibatnya, implementasi Islam di Saudi berbeda dengan Islam Indonesia, begitu juga dengan Islam di Eropa dan Amerika.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Islam harus mengalami akulturasi budaya agar bisa dengan mudah diterima di masyarakat. Islam Nusantara adalah salah satu contoh yang berpotensi menjadi model untuk diimplementasikan di tempat lain," tandasnya.

Acara ini dihadiri tidak kurang dari 300 peserta. Mereka adalah para akademisi studi Islam dan Indonesia dari sejumlah universitas di Belanda, Belgia, Jerman, Italia, Libanon, Saudi Arabia, dan Malaysia. Selain itu, ada juga para mahasiswa dan diplomat Indonesia dari sejumlah negara Eropa.

Tampak hadir juga sejumlah Duta Besar, antara lain, Husnan Bey Fanani (Azerbaijan), Agus Maftuh Abigebriel (Saudi Arabia), dan Safira Mahrusah (Aljazair).

Konferensi ini akan berlangsung hingga 29 Maret mendatang. Sejumlah narasumber yang hadir antara lain: Staf Khusus Menteri Agama Hadi Rahman, Intelektual NU Ahmad Baso, dan Indonesianis yang juga Guru Besar Utrecht University Karel Steenbrink. (Kemenag/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Konferwil PWNU Jawa Barat Dilaksanakan Bulan Ini

Sumedang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Konferensi Wilayah (Konferwil) Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Provinsi Jawa Barat dipastikan akan diselenggarakan pada tanggal 10-11 Oktober 2016 di di Pondok Pesantren Fauzan Sukaresmi, Garut. Surat undangan dan jadwal acara telah PCNU Kabupaten Sumedang.

Konferwil PWNU Jawa Barat Dilaksanakan Bulan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Konferwil PWNU Jawa Barat Dilaksanakan Bulan Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Konferwil PWNU Jawa Barat Dilaksanakan Bulan Ini

Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumedang Kabupaten Sumedang Jujun Juhanda mengapresiasi pelaksanaan Konferwil ke-17 tersebut.

"PCNU Sumedang sangat mengapresiasi dan akan mendukung penuh kegiatan Konferwil PWNU Jawa Barat ini. Ini Konferwil yang sangat ditunggu-tunggu oleh warga NU Jawa Barat," katanya Sabtu, (8/10).

Jujun menambahkan, PCNU Sumedang siap mengirimkan peserta dan penggembira dalam Konferwil tersebut. Banser Sumedang akan dikirimkan satu hari menjelang hari H untuk membantu pengamanan dalam berjalannya Konferwil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Semoga Konferwil bertema "Meneguhkan khidmat jamiyyah untuk umat dan bangsa" ini berjalan lancar dan penuh khidmat serta dapat terpilih ketua dan rais PWNU Jawa Barat yang kompeten dan kapabel,” tutup Jujun.

Berdasarkan surat undangan, Konferwil akan dihadiri Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan dan dibuka secara resmi oleh Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj. (Ayi Abdul Kohar/Abdullah Alawi)?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Kyai, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 30 Januari 2018

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kalau merujuk pada Al-Qur’an, ada dua hal mendasar yang menyertai penciptaan manusia di dunia. Yang pertama adalah bahwa bisa saja Allah menciptakan manusia seragam, tapi manusia diciptakan beragam. Yang kedua, hanya orang-orang yang dikasihi Allah-lah yang mampu mengelola perbedaan tersebut sebagai rahmat.

Demikian diungkap oleh KH Abdul Ghofur Maimoen dalam Suluk Maleman bertajuk “Bulan Peneguhan Cinta” yang digelar di Rumah Adab Indonesia Mulia, Ahad (19/6) dini hari kemarin.?

Menurut putra KH Maimoen Zubair yang akrab dipanggil Gus Ghofur ini, keberagaman adalah sunatullah, dan kemampuan orang untuk menerima dan mengelola keberagaman adalah cermin bahwa ia termasuk orang yang dikasihi Allah.

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, Bulan Peneguhan Cinta

Menggarisbawahi apa yang diungkap oleh Gus Ghofur, Anis Sholeh Ba’asyin sebagai tuan rumah acara tersebut menegaskan, puasa Ramadhan adalah salah satu cara agar kita mampu meraih posisi sebagai golongan yang dikasihi Allah.

Menurut Anis, berpuasa itu merupakan langkah menahan diri untuk kepentingan yang lebih tinggi. Inti dari berpuasa pada dasarnya juga dilakukan dalam berbagai bentuk sikap dalam kehidupan bermasyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Bayangkan, bila orang tidak menahan diri untuk berhenti saat lampu merah di traffic light,? sudah pasti kekacauan yang terjadi, dan korbannya bukan hanya pihak yang menerobos, tapi juga orang-orang lain,” ujar Anis.

Dari contoh kecil ini saja, lanjut Anis, bisa dibayangkan bahwa sebuah peradaban tak mungkin dibangun bila para pemangkunya tak mau memuasakan dirinya. Nah, setidaknya ada dua motif manusia ketika melakukan puasa macam ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Yang pertama, karena takut. Motif ini terkait dengan hukum, orang berhenti di saat lampu merah bukan karena kesadaran dirinya tentang tatanan, tapi karena takut tertangkap polisi misalnya. Yang kedua, karena harapan. Motif ini terkait dengan cinta, orang berhenti di lampu merah baik ada polisi atau tidak, karena ia sadar harus menjaga orang lain, juga dirinya, dari kekacauan.?

Ilyas, dosen yang juga hadir sebagai pemateri justru menyayangkan sejumlah orang yang kerap mengumbar ibadahnya di media sosial. Dalam beribadah, sebaiknya orang juga dilandasi dengan semangat puasa, yakni menahan diri untuk tidak mengumbarnya.

Pria yang kerap berbicara ceplas-ceplos itu justru menilai bahwa orang Jawa-lah yang sebenarnya sudah lama mencapai makrifat. Banyak orang Jawa yang mendasarkan diri dengan puasa meski dibahasakan dengan istilah laku tirakat.

Menurut Ilyas, setidaknya ada tiga tingkatan dalam berpuasa. Puasa tingkatan pertama adalah puasa yang ditujukan untuk tujuan keduniawian. Puasa semacam itu biasanya dilakukan jika ingin mendapatkan kemuliaan di dunia baik jabatan, pekerjaan maupun lain sebagainya.

Ada pula tingkatan puasa dengan maksud berharap masuk surga. Meski lebih baik, namun dirinya menilai akan lebih baik lagi jika ibadah tidak didasari dengan timbal baik apapun.

“Tingkatan yang ketiga, biasanya berpuasa lantaran cintanya sama Allah. Biasanya mereka sudah tidak memiliki maksud apapun. Bahkan jika seandainya apa yang mereka cita-citakan tidak tercapai mereka juga tetap iklash menjalaninya. Puasa dijadikan bentuk berserah diri dan semuanya menjadi urusan Allah,” ujarnya.

Menurutnya orang akan menjadi merdeka jika mereka tidak terikat pada cita-cita atau keinginan keduniawian tertentu. Kemerdekaan akan diraih jika mereka berani untuk tidak menjadi apa-apa.

Ironisnya yang terjadi saat ini seringkali justru terjadi kebalikannya. Banyak orang yang justru sakit hati jika apa yang dicita-citakannya tidak terwujud. Mereka seolah ingin menggantikan posisi Tuhan yakni apa yang diinginkannya harus terwujud.

“Seringkali konflik atau ketidak rukunan terjadi karena ada orang yang memaksakan sesuatu atau orang lain tidak bersikap seperti apa yang dia mau. Memaksakan keinginan sudah pasti bukan cerminan puasa,” imbuhnya.

Selain pembicara diatas, hadir juga? KH. Budi Harjono,? Manu Albertine, perempuan asal Perancis yang sedang magang dalam program manajeman NGO di Indonesia; KH. Anis Maftuhin dari Salatiga; Hasan Aoni Azis, pengelola Rumah Dongeng Marwah-Kudus; Gus Afif, aktivis lingkungan dan juga Kepala Desa Susukan.

Diskusi yang digelar hingga pukul 02.30 Wib tersebut, bertambah atraktif setelah diselingi dengan peluncuran album Cinta Berdebu dari Komunitas Marwah, juga pagelaran musik Galbu Musik Orkestra yang menyuguhkan musik beraroma khas Timur Tengah, ditambah kehadiran puluhan penari sufi. Setidaknya 500 penonton yang hadir terlihat begitu menikmati, meski hujan turun sejak sore hari. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Kajian, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelajar MTs Maarif NU Sindangwangi Pelajari Kesehatan Reproduksi

Majalengka, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Siswa-siswi MTs Maarif NU Sindangwangi menerima kunjungan dari Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa Perempuan dan Keluarga Berencana kabupaten Majalengka. Mereka mengikuti sosialisasi kesehatan reproduksi remaja di Gedung MTs Maarif NU Sindangwangi jalan Pondok Sapi Sindangwangi Majalengka, Senin (1/9) pagi.

Acara sosialisasi dipandu langsung oleh Kepala Bidang KB BPMDPKB Majalengka Dra Hj Nunung, Kepala Seksi Kesehatan Reproduksi Remaja Majalengka, dan Duta KB Majalengka.

Pelajar MTs Maarif NU Sindangwangi Pelajari Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar MTs Maarif NU Sindangwangi Pelajari Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar MTs Maarif NU Sindangwangi Pelajari Kesehatan Reproduksi

Kepala MTs Ma’arif NU Sindanwangi H Castim menyatakan apresiasi atas kegiatan sosialisasi ini. “Acara ini penting untuk mengenalkan kesehatan reproduksi remaja kepada pelajar MTs yang tentunya memang sudah mulai memasuki masa pubertas.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelajar di mana alat reproduksinya sudah berfungsi saat usia 9 tahun, kata Hj Nunung, perlu mengetahui bagaimana caranya menjaga alat reproduksi sehingga mereka sejak dini dapat menghindar dari hal-hal negatif.

Acara sosialisasi dikemas dalam bentuk tanya-jawab. Pihak BPMDPKB memberikan hadiah berupa pin bagi siswa yang bertanya dan menyampaikan argumentasinya. (Aris Prayuda/Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 28 Januari 2018

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan

Way Kanan,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kebersihan sebagian dari iman. Meneguhkan pandangan positif sejumlah pihak terhadap Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan Lampung. Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) daerah itu melakukan kegiatan sosial gotong-royong membersihkan lingkungan.

"Selain safari ramadan akan digelar beberapa kali, kami juga melakukan gotong-royong membersihkan seputaran balai kampung sembari menunggu buka puasa," kata Ketua Ansor Ranting Gisting Jaya Nanang Yudhi Saputro, di Blambangan Umpu, Rabu (15/6).

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan

Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 50 kader. Menindaklanjuti arahan Pimpinan Cabang supaya kader Ansor tidak lelah membuktikan eksistensi melalui gerakan bermanfaat dan bisa dirasakan oleh masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sebagai kader, kami selalu siap mengikuti arahan dan kebijakan Pimpinan Cabang untuk terus berbuat dan berbuat bagi organisasi. Jika tidak ada aksi, apa arti kata gerakan yang melekat pada Pemuda Ansor?" imbuh Ketua PAC Ansor Negara Batin Hozin Munir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Aksi bersih-bersih kader Ansor Gisting Jaya menuai tanggapan positif. Foto-foto yang diupload di media sosial Facebook oleh Budi Waluyo, kader Ansor setempat yang berprofesi sebagai perawat mendapat sejumlah like. "Bravo Pemuda Ansor," ujar I Gusti Ayu Marsih mengomentari foto Budi.

Sejumlah pihak di daerah itu mengapresiasi kiprah Ansor. Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Agus Zulkarnain salah satunya, menilai program-program Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan konkrit, langkah demi langkah terlihat manfaatnya untuk masyarakat umum dan sangat positif.

Adapun Duta Generasi Berencana (GenRe) Mahasiswa Nasional 2013 Ponita Dewi, tak ragu menyebut Ansor sebagai? akronim dari Active, Nice, Social action and Relevant.

"Aksi bersih-bersih lingkungan tentunya merupakan gerakan yang memberi manfaat positif bagi masyarakat," pungkas Nanang. (Rudi/Abdullah Alawi)



? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Nahdlatul, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Tantangan yang dihadapi NU semakin besar. Peradaban modern dan kecanggihan teknologi informasi harus dijawab dengan cerdas. Kalau waktu berdirinya NU, ajaran radikalisme berkembang di luar negeri. Kini, radikalisme ada di tengah-tengah kita. Jangan sampai kita lengah. Kita harus bersatu memberikan yang terbaik untuk peradaban Indonesia dan dunia.

Demikian ditegaskan KH Said Aqil Siroj dalam silaturahim PWNU se-Indonesia dan PBNU di lantai 8 Kantor PBNU, Rabu (15/12).

Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Berikan Kontribusi Terbaik untuk Peradaban Indonesia dan Dunia

"Muktamar sudah selesai. Sekarang waktunya kita bersama-sama membangun Indonesia. Tema Islam Nusantara yang sudah digagas NU dalam Muktamar Ke-33 di Jombang sudah menjadi referensi bagi dunia Islam. Sudah banyak sekali duta besar dari berbagai negara yang ingin ketemu PBNU," tegas Kiai Said.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam diskusi dengan berbagai PWNU se-Indonesia, Kiai Said juga menegaskan bahwa kepengurusan PBNU yang baru sudah menyiapkan banyak agenda kerja ke depan. Sudah disiapkan koordinator wilayah yang pada tahun 2016 nanti sudah turun ke bawah. Penguatan organisasi akan diprioritaskan, mulai menata PCNU, MWCNU, ranting, dan anak ranting.

"Secara organisasi harus kuat. Semua kepengurusan harus ditata dengan rapi. Para koordinator wilayah akan bekerja dengan serius, menjalin hubungan dan kerja  sama dengan semua PWNU. Ini langkah nyata agar NU semakin kerja maksimal dalam membangun Islam Nusantara. Peradaban Indonesia dan dunia sudah menunggu peran NU," tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam silaturrahim ini, hadir para pengurus PBNU, diantaranya Prof Maksum Mahfoedz, Helmy Faisal, Marsudi Suhud, Bina Suhendra, Imam Pituduh, KH Abdul Manan, dan lain sebagainya. (Madun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesan Mensos Diperingatan Hari Kemanusiaan Sedunia 19 Agustus

Bogor, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia (World Humanitarian Day) yang jatuh pada 19 Agustus 2016 besok, Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa atas nama Pemerintah Indonesia mengucapkan selamat memperingati Hari Kemanusiaan Sedunia kepada para pegiat kemanusiaan di seluruh Indonesia dan seluruh dunia.

Pesan Mensos Diperingatan Hari Kemanusiaan Sedunia 19 Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesan Mensos Diperingatan Hari Kemanusiaan Sedunia 19 Agustus (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesan Mensos Diperingatan Hari Kemanusiaan Sedunia 19 Agustus

“Kiranya momentum ini bisa menjadikan motivasi dan semangat untuk berbuat lebih banyak lagi atas nama kemanusiaan,” ujar Menteri Sosial saat memberi arahan dalam Pelatihan Taruna Siaga Bencana (Tagana) Tingkat Madya di Tagana Training Center, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tanggal 19 Agustus menandai hari terjadinya pengeboman di kantor pusat PBB di Baghdad yang menewaskan 22 orang. Untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai bantuan kemanusiaan sedunia dan orang-orang yang menaruh hidup mereka dalam risiko demi memberikan pelayanan kemanusiaan, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 19 Agustus sebagai Hari Kemanusiaan Sedunia (HKS) pada tahun 2008 silam.

Peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia dilakukan selain untuk memperingati mereka yang kehilangan nyawa dalam melakukan upaya kemanusiaan, juga untuk membangun kesadaran publik mengenai urusan kemanusiaan serta upaya kemanusiaan yang dapat dilakukan mereka. Setiap orang dapat menjadi pelaku kemanusiaan dan bermanfaat bagi orang yang membutuhkan bantuan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofifah menjelaskan, tantangan penanggulangan bencana di tingkat global, regional dan nasional yang semakin rumit membutuhkan keberadaan personil yang kompeten. Penguatan kesiapsiagaan untuk respons bencana adalah prioritas. Selain itu mitigasi risiko dan penaanganan dampak bencana mensyaratkan hubungan antara urusan kemanusiaan dan pembangunan untuk memaastikan keselarasan yang lebih baik antara karya-karya kemanusiaan dan pembangunan, penguatan risiko bencana dan respons bencana yang lebih efektif.

Dalam upaya pengembangan kapasitas pelaku tanggap darurat di lapangan dan sebagai bagian dari kesiapsiagaan, Pemerintah melalui Kementerian Sosial secara berkala mengadakan pelatihan bagi Taruna Siaga Bencana (TAGANA) termasuk menggandeng Lembaga Penanggulangan Bencana dan Iklim Nahdlatul Ulama (LPBINU).

“TAGANA sebagai unsur yang terdekat dengan lokasi bencana diwajibkan untuk siap hadir di lokasi setelah satu jam bencana terjadi, harus tanggap dan sigap dalam rangka melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana, dan memiliki pemahaman tentang penanggulangan bencana agar dapat bekerja secara efektif dan efisien,” terang Ketua Umum PP Muslimat NU ini.

? “Kita tidak bisa mengelak lagi, yang harus dilakukan yakni mereduksi kemungkinan risiko bencana, membangun antisipasi dini masyarakat di daerah-daerah rawan bencana dan dengan peta yang tersedia,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pos Komando (Posko) sebagai pusat pengendalian dan pengawasan sekaligus wadah koordinasi berbagai pihak menjadi penting untuk dipahami oleh TAGANA. Untuk itulah, Kementerian Sosial mengadakan kegiatan bagi 120 personil ? TAGANA tingkat Madya untuk mendapat pembekalan tentang Manajemen Posko Penanggulangan Bencana pada 15-20 Agustus 2016 di Tagana Training Center, Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Harry Hikmat mengungkapkan sejalan dengan peringatan Hari Kemanusiaan Sedunia, menjadi penting bagi TAGANA untuk membangun kapasitas bekerja sama dengan berbagai pihak dalam penanggulangan bencana melalui Posko, dan menunjukkan kepada dunia sebagai bagian dari Satu Kemanusiaan.

“Posko Kementerian Sosial dan Dinas/Instansi Sosial di seluruh Indonesia adalah sebagai pendukung utama dalam melakukan perlindungan sosial terhadap korban bencana alam. Melalui posko ini data kejadian bencana beserta dampaknya dapat diperoleh secara cepat dan tepat. Sehingga perlindungan sosial terhadap korban bencana alam dapat juga dilaksanakan secara cepat dan tepat sesuai dengan data yang diperoleh,” katanya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PCNU Kota Semarang Gerakkan Komitmen Keikhlasan Kader NU

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Kota Semarang mengadakan peringatan hari lahir Ke-94 Nahdlatul Ulama di Aula PCNU jalan Puspogiwang I beberapa hari lalu. Peringatan ini dimulai dengan khataman Al-Quran bada Maghrib dilanjutkan dengan Shalat Isya berjamaah dan istighotsah yang dipimpin KH Hadlar Ihsan.

"Kita instruksikan untuk menyebarkan semarak harlah NU dan kegiatan NU yang lain di media sosial. Alhamdulillah acara di Kebumen Istighotsah dan Apel Kader Penggerak NU berjalan lancar," kata Ketua PCNU Kota Semarang KH Anashom.

PCNU Kota Semarang Gerakkan Komitmen Keikhlasan Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Kota Semarang Gerakkan Komitmen Keikhlasan Kader NU (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Kota Semarang Gerakkan Komitmen Keikhlasan Kader NU

Data yang dihimpun panitia menyebutkan, terdapat 16.650 nahdliyyin-nahdliyyat yang hadir di pantai Petanahan Kebumen. Dari kota Semarang menyumbang 150 kader menggunakan dua bus besar dan tujuh kendaraan roda empat. Kader yang berangkat ini merupakan alumni PKPNU tiga angkatan, PCNU, Banom dan MWCNU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan ini menjadi bagian untuk meramaikan harlah Ke-94 NU. Semangat kebersamaan terus dipupuk bersama dan ditularkan kepada nahdliyyin. Selain itu media sosial yang kita punya harus dipenuhi dengan konten-konten yang menyejukkan. Pada kegiatan di Kebumen ini banyak netizen menggunakan tagar #CintaNUcintaNKRI sebagai bagian dari kampanye nasionalisme.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"NU harus punya gerakan (harakah) yang harus dievaluasi dan ditingkatkan, dimulai dengan diri sendiri," pesan Rais Syuriyah PCNU Kota Semarang KH Hanief Ismail.

Pesan ini disampaikan dalam sambutan sekaligus refleksi dengan pemotongan tumpeng sebagai rangkaian harlah NU 94. Pesan selanjutanya bahwa dalam ber-NU harus ikhlash. Di samping itu totalitas dalam ber-NU. Kita harus mengetahui secara mendalam NU itu sendiri. Jangan sampai menjelek-jelekkan NU karena dalam NU sudah ada amaliyah yang paten dan khittah yang jelas. (Zulfa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Doa, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 27 Januari 2018

Pesantren Tabah Gelar Festival Lomba Seni Hadrah Nusantara

Lamongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pondok Pesantren Tarbiyatut Tholabah (Tabah) Kranji, Paciran, Lamongan, Jawa Timur, mengadakan Festival Lomba Seni Hadrah Nusantara dalam rangka memperingati Maulid Nabi dan haul ke-67 pendiri pesantren setempat, KH Musthofa, Sabtu (19/12).

Festival digelar bekerja sama dengan para alumni Pesantren Tabah yang ada di Jakarta. Kegiatan yang masuk kali ketuju ini diikuti 54 grup dari berbagai daerah, seperti Malang dan Surabaya. Panitia berharap, ajang perlombaan tersebut menjadi salah satu upaya melestarikan seni hadrah sebagai media dakwah.

Pesantren Tabah Gelar Festival Lomba Seni Hadrah Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tabah Gelar Festival Lomba Seni Hadrah Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tabah Gelar Festival Lomba Seni Hadrah Nusantara

"Dari 54 group yang terdaftar adalah mayoritas dari pesantren-pesantren, dan ini menjadikan wadah silaturahim antar santri untuk melestarikan seni tradisional serta menunjukkan seni banjari ini sebagai musik khas santri dan pesantren," jelas ketua panitia, Muhammad Nidhomuddin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk menyukseskan haul pendiri Pesantren Tabah, beberapa alumni yang tergabung dalam Wadah Silaturahim Alumni Tarbiyatut Tholabah Kranji di Jakarta atau akrab disebut Wasiat Jakarta menyelenggarakan beberapa acara lomba.

"Semoga festival banjari ini turut membawa keberkahan bagi pesantren, santri, dan seluruh alumni yang tersebar di pelosok daerah. Kami bangga dengan antusiasme pemuda dan santri untuk tetap kokoh melestarikan seni banjari ini. Sebab, di era modern sudah banyak yang lupa dengan seni musik tradisonal," terang Abdurrohman Wahid, Ketua Umum Wasiat Jakarta. (Rowman/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sekjen PBNU: Tingkatkan Amal Usaha dan Usaha Amal

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kamandirian ekonomi warga menjadi pilar penting tegaknya jamiyyah yang sehat dan berkualitas. Oleh karena itu PBNU mendorong kepada seluruh warga NU untuk berdikari dan mandiri secara ekonomi.

Hal ini disampaikan oleh Sekjen PBNU HA Helmy Faishal Zaini saat menghadiri pelantikan MWCNU Karangawen, Demak, Jawa Tengah, Ahad (17/9).

Sekjen PBNU: Tingkatkan Amal Usaha dan Usaha Amal (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBNU: Tingkatkan Amal Usaha dan Usaha Amal (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBNU: Tingkatkan Amal Usaha dan Usaha Amal

Dalam sambutannya, pria kelahiran Cirebon ini mengatakan bahwa konsentrasi PBNU adalah menjalankan amanat Muktamar 33 NU yakni memajukam kualitas hidup warga di tiga bidang yang meliputi pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

"Saya selalu mencontohkan bagaimana pesantren Sidogiri begeliat dan berhasil memhembangkan ekonomi mikro. Sekarang omset BMT Sidogiri sudah triliuanan," jelas Helmy.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Model-model pengembangan ekonomi mikro, lanjut Helmy, adalah sarana terbaik untuk mewujudkan masyarakat yang mandiri secara ekonomi. Masyarakat yang mandiri secara ekonomi akan mudah didorong untuk mewujudkan jamiyyah yang mandiri.

"Kami menyebut kegiatan pemberdayaan ekonomi dari warga, oleh warga dan untuk warga tersebut sebagai amal usaha dan usaha amal," pungkas Helmy mengakhiri. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

GP Ansor Rembang Siapkan Aplikasi Database untuk Validasi Anggota

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam rangka validasi database, PC Gerakan Pemuda Ansor Rembang, Jawa Tengah mengadakan revalidasi data anggota yang dimulai dari ranting hingga PAC. Ketua PC GP Ansor Rembang Gus Hanies menjelaskan, tujuan diadakannya revalidasi database adalah untuk lebih memvalidkan data anggota GP Ansor se-Rembang. 

GP Ansor Rembang Siapkan Aplikasi Database untuk Validasi Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Rembang Siapkan Aplikasi Database untuk Validasi Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Rembang Siapkan Aplikasi Database untuk Validasi Anggota

Ia menambahkan, seluruh database anggota sudah direncanakan akan diinput ke dalam sebuah aplikasi yang sudah disediakan Ansor Rembang. Ia menargetkan paling lambat 16 Juli 2016 mendatang, semua data anggota dari ranting sudah di serahkan kepada pengurus Anak Cabang.

"Nanti database akan kita input disebuah aplikasi yang kita siapkan khusus untuk data, dan akan direncanakan data kita online-kan untuk mempermudah memberikan pelayanan kapan pun dan dimana pun,” kata Gus Hanies. Keterangan ini dia sampaikan awal Juli lalu.

Hanies juga sedikit menjelaskan fungsi aplikasi database yang disiapkan oleh Ansor Rembang, diantaranya untuk mempermudah Pengurus Cabang dalam mengelola pengkaderan bagi pengurus dan anggota. Ia juga menyebut, dengan aplikasi ini dapat membantu mengetahui kondisi riil dari anggota, mulai dari golongan darah, pendidikan, pekerjaan, dan jenjang pengkaderan yang pernah di ikuti selama dan sebelum masuk di Ansor.

"Misalnya begini, kita butuh donor darah, kita kan bisa mencari melalui aplikasi database ini siapa saja yang mempunyai misal golongan darah O. Contoh juga ketika pelatihan PKL, kita kan tinggal mencari melalui Search Engine aplikasi, untuk menampilkan siapa saja yang sudah PKD, yang siap dikirim untuk PKL. Tidak perlu kita telepon sana-sini mencari kader,” pungkasnya. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Nahdlatul Ulama, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 26 Januari 2018

Bupati Buka Acara Rakercab LP Ma’arif Banjarnegara

Banjarnegera, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Banjarnegara mengadakan Rapat Kerja Cabang Tahun 2016 dengan mengusung tema “Mewujudkan Pendidikan yang Mandiri, Berkualitas dan Profesional dalam Bingkai Faham Islam Ahlussunah wal Jama’ah” pada Sabtu, 13 Februari 2016 bertempat di RM. Saung Bu Mansur.

?

Bupati Buka Acara Rakercab LP Ma’arif Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Buka Acara Rakercab LP Ma’arif Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Buka Acara Rakercab LP Ma’arif Banjarnegara

Hadir dalam acara Rakercab LP Ma’arif ini, Sutedjo Slamet Utomo Bupati Banjarnegara, H Taufiq R. Abdullah DPR RI Fraksi PKB, beberapa anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara dari Fraksi PKB, PW LP Ma’arif Jawa Tengah, Kepala Dikdikpora, Kepala Kemenag, Pengurus PCNU Kabupaten Banjarnegara beserta banomnya, PC Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, dan IPPNU.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Rakercab ini adalah momentum yang sangat stategis untuk menyusun program kerja ke depan sehingga apa yang dicita-citakan sebagaimana dituangkan dalam tema Rakercab ini bisa tercapai,” kata Hendro Cahyono selaku ketua PC LP Ma’arif Kabupaten Banjarnegara dalam sambutannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia juga mengingatan bahwa dalam penyusunan program, harus jelas dan fokus, terukur, bisa tercapai, sesuai dengan NU dan Aswaja serta melihat waktu. Ia pun yakin bahwa program yang dicanangkan bisa tercapai asalkan segenap pengurus mempunyai loyalitas, komitmen dan dedikasi yang tinggi kepada lembaga disertai rasa yakin dan optimis.?

H Zahid Khasani selaku ketua PCNU Kabupaten Banjarnegara dalam sambutannya mengingatkan bahwa dalam raker ini harus bisa dipetakan potensi yang dimiliki dengan jelas demi kemajuan NU di Banjarnegara. Dia juga meminta kepada pihak Kemenag agar ijin operasional pendidikan untuk warga NU dimudahkan.?

“Besarnya NU itu tidak perlu ditakuti. Akan tetapi besarnya Gafatar dan aliran-aliran baru lah yang harus diwaspadai karena mengusung negara khilafah, sedangkan NU dan banomnya dari Muslimat, Fatayat dan Ansor selalu bersinergi dengan negara bahwa NKRI adalah harga mati,” katanya mengakhiri sambutanya.?

Acara yang dihadiri oleh semua kepala sekolah dan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif ini mendapat apresiasi dari Bupati Banjarnegara. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting. Karena apapun kekeyaan yang dimiliki tanpa didukung dengan sumber daya manusia yang memadai maka semua itu tidak ada artinya.?

“Selamat atas terselenggaranya Rapat Kerja Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Banjarnegara ini, semoga menelorkan program-program yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Banjarnegara, khususnya pendidikan agama,” katanya mengakhiri sambutan yang dilanjutkan dengan memukul bedug untuk membuka acara. (Mad Solihin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gus Mus: Aneh! Ada yang Berpendapat, Sesat Disikat

Sleman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Kehadiran KH Mustofa Bisri sebagai muballigh dalam acara Tabligh Akbar dan Istighotsah, Ahad (1/12), berhasil menyedot sebanyak 800 mahasiswa dan warga setempat untuk memadati gedung Multy Purpose UIN Sunan Kalijaga. 

Pada acara yang diadakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa fakultas Dakwah kali ini, Gus Mus, begitu dia akrab disapa, banyak menyinggung tentang arti dakwah, objek dakwah, ruh dakwah serta hubungan antara dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar dengan kasih sayang. 

Gus Mus: Aneh! Ada yang Berpendapat, Sesat Disikat (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Aneh! Ada yang Berpendapat, Sesat Disikat (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Aneh! Ada yang Berpendapat, Sesat Disikat

Dalam acara yang mengusung tema “Dakwah Ku Gapai Indonesiaku Damai” ini, Gus Mus mendefinisikan dakwah sebagai sebuah ajakan. “Dakwah itu mengajak. Ada unsur merayu, ada unsur mbujuk,” paparnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Gus Mus, ayat tentang dakwah yang berbunyi “Ajaklah ke jalan Tuhanmu” dan sekilas tampak tak ber-maf’ul bih (objek, red.), sejatinya memiliki objek yang sangat jelas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kalau diperhatikan, memang ini tidak ada maf’ul bih-nya. Tapi sebenarnya ini sudah jelas. Orang yang diajak adalah orang yang belum ‘di jalan Tuhanmu’,” ungkapnya seraya menyayangkan realita banyaknya orang yang menganggap bahwa orang yang sesat harus disikat.

“Anehnya sekarang ini, ada orang yang berpendapat yang sesat disikat. Lalu sasaran dakwah ini siapa? Atau, ayat ini dikemanakan? Di-busek (hapus, red.)? Atau (mereka) tidak mudeng (paham, red.) al-Qur’an?!” sesalnya.

Gus Mus juga menjelaskan bahwa yang melakukan dakwah pertama kali adalah Rasulullah. Sebab Rasullah yang pertama kali melaksanakan perintah-perintah Allah. “Jadi kanjeng Rasul tidak kesulitan mencari contoh. Beliau langsung bisa mencontohkan dirinya sendiri. (seperti dalam hadits) shallu kamaa raaitumuuni ushallii,” ungkapnya.

Terkait dengan perbedaan dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar, Gus Mus menjelaskan bahwa dakwah diperuntukkan bagi mereka yang belum ‘di jalan Tuhanmu’. Sedangkan amar ma’ruf nahi munkar dilakukan kepada mereka yang sudah menempuh ‘jalan Tuhanmu’.  

Korelasi antara dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar dengan kasih sayang juga tak luput dari sorotan Gus Mus. Begitu juga dengan realitas yang menunjukkan adanya krisis ruhud dakwah. 

Sebagai penutup, kyai yang juga seorang penyair ini diminta oleh audiens untuk membacakan bait-bait puisinya. Selama kurang lebih lima menit puisi dibacakan, suasana terasa hening dan syahdu. 

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Nur Hasanatul Hafshaniyah 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

MUI Pati Gelar Workshop Perlindungan Elemen Pendidikan

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Pati, Jawa Tengah,  Sabtu (11/1) pagi, menggelar workshop dengan tema “Keseimbangan Perlindungan Siswa dan Pembelaan Guru dalam Proses Pendidikan", acara tersebut digelar bertempat di Setda Pati, Jawa Tengah. 

Hadir sebagai Narasumber, dari kalangan akademisi dan kepolisian yakni Prof. Dr. A. Rofiq,  AKBP Baharuddin dan Kapolres Widodo, MHM. Sementara, peserta workshop di antaranya para kiai dan seluruh jajaran guru setingkat Madrasah Aliyah (MA).

Menurut Ketua MUI Pati, KH. Abdul Mujib Shaleh, workshop ini digelar dengan tujuan mencari kesimbangan perlindungan baik perlindungan siswa maupun pembelaan guru supaya tidak ada yang merasa terhukumi. 

MUI Pati Gelar Workshop Perlindungan Elemen Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Pati Gelar Workshop Perlindungan Elemen Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Pati Gelar Workshop Perlindungan Elemen Pendidikan

“Selama ini, yang diusut adalah perlindungan anak saja, padahal guru pun juga perlu untuk dilindungi dan dibela. Sedikit-sedikit kalau ada guru berbuat kasar, orang tua tidak terima dan langsung melaporkan ke aparat keamanan. Ini yang perlu dicari keseimbangannya,” ungkapnya.   

Diharapkan, dengan kagiatan workshop ini bisa meminimalisir kasus-kasus kekerasan yang dialami siswa oleh guru agar tidak ada lagi laporan kekerasan oleh orang tua murid kepada pihak kepolisian. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan berlangsung lancar, pada akhir workshop, diambil hasil keputusan bahwa kesemuanya sepakat untuk mengimbangkan antara pembelaan hukum baik siswa maupun guru. “Nanti tinggal mengirim ahli kebijakan kesepakatan baik kepada bupati, kejaksaan dan semua instansi yang terkait,” pungkasnya. (Asnawi Lathif/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai

Cilacap, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam lintasan sejarah, NU memiliki peran politik yang sangat signifikan. Kenyataan ini dibuktikan dengan kiprah organisasi para kiai ini dalam mempengaruhi kebijakan publik secara nasional maupun internasional. Peran ini justru banyak terjadi ketika NU di luar jalur partai.

Pandangan ini disampaikan Ketua PBNU H Imam Azis dalam sesi diskusi Bahtsul Masail Nasional yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) di Pondok Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (8/5) malam.

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai

Imam menunjukkan fakta perjuangan NU pra-kemerdekaan hingga menjelang NU menjadi partai politik pada 1952. Saat itu para kiai mampu mengintervensi kebijakan kolonial Belanda dan Jepang, hingga terlibat dalam proses-proses menentukan pembentukan dan penyelenggaraan Republik Indonesia bersama jaringan yang dimiliki.

”Jadi, kalau NU ingin berperan secara politik, jalurunya tidak harus melalui partai,” tegasnya. Menurut Imam, NU pasca menjadi partai memang memiliki kantong suara yang cukup menjanjikan, tapi, produktivitasnya menurun hingga akhirnya kembali ke khittah pada 1984.

Di era demokrasi pascareformasi, lanjut Imam, NU berada di dalam ancaman ”pusaran uang” yang sangat kencang. Independensi organisasi sosial-keagamaan ini ditantang untuk konsisten menjadi motor perubahan meski tanpa kendaraan partai. Di jalur non-partai, NU dapat memerankan politik secara lebih luas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Artinya apa? Partai politik itu bukan keniscayaan bagi NU,” tuturnya.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

Akhir Perjalanan Istri yang Cantik dan Suami Buruk Rupa

Imran bin Hitthan bertubuh gempal, pendek, dan wajah yang jauh dari lumayan. Meskipun demikian ia dianugerahi Allah seorang istri yang cantik, tinggi semampai, dan langsing.

Suatu hari ia menemui istrinya yang telah bersolek. Imran tak menguasai diri. Meskipun setiap hari bertemu, ia terkesima saat menjumpai istrinya. Imran berdiri terpaku. Tak bergerak. Tak berkata-kata. Hanya menatap dengan mata tak berkedip.

Akhir Perjalanan Istri yang Cantik dan Suami Buruk Rupa (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhir Perjalanan Istri yang Cantik dan Suami Buruk Rupa (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhir Perjalanan Istri yang Cantik dan Suami Buruk Rupa

“Kenapa sih bang?” kata istrinya tersenyum.

“Demi Allah, engkau sungguh cantik,” jawab Imran terkagum.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Untunglah, kita berdua kelak jadi penghuni surga.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kau tahu darimana?” Imran bertanya heran.

“Allah menganugerahimu seorang istri rupawan seperti aku, lalu Kau bersyukur. Sedangkan aku diuji oleh Allah dengan takdir suami buruk rupa sepertimu, lalu aku bersabar. Bukankah orang yang bersabar dan bersyukur kelak menjadi penghuni surga?” (Alhafiz K)

*) Dikutip dari Akhbaruz Zhiraf wal Mutamajinin karya Ibnul Jauzi. Judul dibuat oleh pengutip.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Halaqoh, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan, Rabu (16/11) petang, berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Ia menyampaikan keprihatinan terhadap aksi demo 4 November lalu yang semula damai namun berakhir ricuh pada malam harinya.

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU

Ia menjelaskan bagaimana sejumlah oknun pendemo menggunakan bambu runcing dan beberapa alat lainnya untuk melukai polisi. Polisi, katanya, menyadari bahwa ada pihak tertentu yang memang menginginkan aksi demo berujung rusuh. Karenanya, polisi saat itu berusaha hanya bertahan untuk menghindari ketegangan yang kian panas.

"Akhirnya banyak sekali anak buah kami yang menjadi korban," tuturnya di hadapan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Waktum PBNU H Maksum Mahfudz, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketua PBNU Eman Suryaman, dan beberapa pengurus lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia secara khusus juga meminta PBNU untuk mendinginkan suasana menyusul belum tuntasnya polemik soal pernyataan gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok yang berujung demo hingga dua kali di Ibu Kota. Ia berharap tak ada demo susulan.

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, menyambut baik kunjungan Kapolda Mtro Jaya. NU, katanya, sejak awal berkomitmen untuk meredam situasi agar tak berakhir rusuh. "PBNU percayakan kepada proses hukum," tegasnya.

Ia menilai aksi demo susulan sudah di luar persoalan kasus penistaan agama apabila targetnya adalah memaksa polisi untuk menahan Ahok sebagaimana kabar yang ia dengar. Menurutnya, langkah tersebut adalah bentuk tidak menghargai proses hukum.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sikap PBNU ini juga selaras dengan seruan Kapolda Metro Jaya agar masyarakat tenang dan tidak melakukan tekanan pada proses hukum. "Apalagi kalau terkait (desakan politik kepada, red) petinggi negara, aksi ini berarti sudah inkonstitusional," tambah Iriawan.

Iriawan saat itu didampingi oleh Wakapolda Metro Jaya Brigjend Suntana, Direktur Intelkam PMJ Kombes Merdisyam, Kapolres Metro Jakpus Kombes Dwiyono, dan Korspripim PMJ AKBP Arsal. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam menata dunia pendidikan, pemerintah diminta tidak sepihak menetapkan kebijakan baru. Pemerintah  sebaiknya mensosialisasikan gagasannya terlebih dahulu sebelum menjadi kebijakan  kepada para pemangku kepentingan pendidikan seperti pihak sekolah. 

Demikian yang dikatakan Ketua PC IPPNU Kudus Risda Umami kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kamis (2/5) pandangannya terkait refleksi hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh 2 Mei kemarin.

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan

Risda menyoroti dunia pendidikan nasional belakangan  ini yang memprihatinkan. Banyak kebijakan baru yang kurang terkoordinasikan dengan baik bahkan cenderung morat-marit melenceng jauh dari harapan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pelaksanaan Ujian Nasional misalnya, jika memang dirasa cuma menekan psikologis anak dan menjadikan pelajaran lain jadi termarginalkan, saya kira perlu perlu dipertimbangkan peninjauan kebijakannya,” tandasnya.

Menurut aktifis jebola IAIN Walisongo Semarang ini, masyarakat bawah masih merasakan biaya pendidikan (sekolah) yang terlalu mahal. Hal ini, katanya, akibat praktek komersialisasi pendidikan sebagaimana kebijakan Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI). 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“RSBI yang sudah dibubarkan Mahkamah Konstitusi ini, dulunya sangat diskriminatif bagi masyarakat yang tidak mampu. Setelah dibubarkan, semoga saja tidak ada lagi komersialisasi pendidikan dalam bentuk yang lain,” tegas Risda.

Ia juga mendesak pemerintah untuk segera mencairkan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang hingga kini belum turun dari pusat. Pembiayaan operasional madrasah (swasta) sangat bergantung pada dana BOS tersebut.

“Bila belum cair sampai sekarang, roda madrasah bisa terganggu,” tegas Risda yang juga seorang pendidik sebuah madrasah Ibtidaiyah di Kudus.

Pernyataan serupa disampaikan sekretaris PC IPNU Kudus Ali Syafi’i. Menurutnya, wajah pendidikan kian terkungkung oleh kebijakan atau undang-undang seperti terbitnya aturan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak menyebabkan keresahan di kalangan guru pendidik.

“Metode pengendalian kenakalan anak dalam pendidikan mengalami kesulitan karena merasa terbatasi. Guru menjadi tidak tegas, khawatir dianggap berbuat kekerasan,” ujar Ali kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Hadits, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Kalangan pesantren tidak henti-hentinya mengobarkan perlawanan kepada penjajah. Pada era penjajahan Belanda selama ratusan tahun, para kiai beserta santrinya mampu mempertahankan martabat pribumi melalui perlawanan simbolik maupun substantif.

Bahkan segala cara dilakukan oleh Belanda untuk dapat menundukkan para kiai pesantren. Pada tahun 1937 misalnya, pernah datang kepada Kiai Hasyim Asy’ari seorang amtenar (utusan pemerintah Hindia-Belanda) bermaksud memberikan tanda jasa berupa Bintang Jasa yang terbuat dari perak dan emas. Tetapi dengan tegas kakek KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menolak pemberian itu.

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Propaganda Jepang yang Memantik Perlawanan Rakyat Indonesia

Pondok pesantren dengan komitmen cinta tanah airnya yang membuncah membuat Belanda tak berkutik. Begitu pun ketika bangsa Indonesia mulai dijajah oleh Jepang (Nippon) pada tahun 1942. Rakyat pribumi tak sedikit yang harus mengikuti peraturan Jepang karena konsekuensi pedih akan didapat jika melawan.

Namun tidak demikian dengan kalangan pesantren. Tidak ada sedikit pun rasa gentar dari para kiai dan santri ketika harus menghadapi fitnah dan propaganda Jepang untuk menundukkan pesantren. Termasuk yang menjadi target utama Jepang, yaitu KH Hasyim Asy’ari. Mereka menuduh Kiai Hasyim sebagai dalang pemberontakan rakyat kepada Jepang di desa Cukir, sekitar Jombang, Jawa Timur. Padahal Kiai Hasyim tidak tahu menahu.

Bukan hanya Kiai Hasyim, tragedi pada tahun 1943 tersebut sejumlah kiai yang mengkomandoi Jam’iyah Nahdlatul Ulama juga ditangkap yaitu KH Mahfudz Shiddiq. Hal ini memantik perlawanan ribuan santri kepada Jepang untuk membebaskan Sang Kiai. Sedangkan KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Abdul Wahid Hasyim berupaya keras melakukan diplomasi dengan tujuan yang sama.

Meskipun Kiai Hasyim pada akhirnya bebas, namun tahun pertama dalam masa pendudukan tentara Nippon, Maret 1942-Maret 1943 ditandai oleh tumbuhnya kebencian rakyat kepada tingkah serdadu-serdadu Nippon dan rasa muak terhadap propaganda Nippon. KH Saifuddin Zuhri (Berangkat dari Pesantren, 2013) mengungkap sejumlah penyebab kebencian dan rasa muak rakyat Indonesia kepada Jepang sebagai berikut:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pertama, terbukanya kebohongan propaganda Tokyo bahwa Nippon berkehendak memperbaiki nasib rakyat Indonesia yang sebangsa dan seketurunan dengan bangsa Nippon.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, mendirikan ketenteramana yang teguh atas dasar mempertahankan Asia Raya, tak lain dan tak bukan hanya menjadikan Indonesia sebagai tanah jajahan sekaligus sebagai daerah garis belakang (home front) sumber tenaga manusia dan bahan mentah serta gudang logistik bagi tentara Nippon di medan perang Pasifik dan Asia Tenggara.

Ketiga, kebencian rakyat adalah spontanitas akibat keserakahan Nippon merampas bahan makanan dan harta benda rakyat. Suatu slogan berbunyi: “padi untuk saya, untuk kami, dan untuk kita sekalian” membuka kedok keserakahan mereka.?

Nippon harus mendapat makan tiga kali. Pertama kali sebagai saya (Nippon), kedua sebagai kami (Nippon ikut mendapat bagian kedua), ketiga sebagai kita (Nippon ikut mendapat bagian yang ketiga). Sedangkan untuk engkau dan kamu (rakyat Indonesia) tidak dipikirkan.

Keempat, kerja paksa berupa romusha. Kendati dirayu dengan sebutan “prajurit ekonomi” pada hakikatnya adalah kuli paksa. Hal ini tak ubahnya pekerjaan rodi di zaman Gubernur Jenderal Hindia-Belanda Herman Willem Daendels pada 1762-1818, yang memaksa rakyat di Jawa membuat jalan raya sepanjang Anyer-Banyuwangi dengan pengawasan tangan besi, bahkan romusha lebih kejam lagi dibanding rodi.

Daendels hanya mengerahkan rakyat untuk proyek di Tanah Jawa. Tapi romusha adalah kuli-kuli paksa yang diperintahkan dengan tangan besi untuk mengerjakan proyek-proyek peperangan bukan hanya di Jawa dan di Indonesia, tetapi juga di Burma (Myanmar), Indochina, Malaya, Kepulauan Pasifik, dan tempat-tempat lain yang dirahasiakan.?

Tragedi ini memisahkan mereka dengan keluarga. Bahkan tidak sedikit yang tidak diketahui nasibnya. Hal ini membuat rakyat Indonesia yang menjadi romusha juga banyak yang menetap di Thailand dan Burma serta menjadi warga negara tetap di sana.

Kelima, tenaga kerja perempuan yang dijanjikan Nippon untuk tugas palang merah, kenyataanya banyak yang dijadikan alat pemuas nafsu serdau-serdadu Nippon di medan perang.

Terakhir keenam yaitu perkosaan lebih dahsyat lagi adalah dari segi akidah, keyakinan Islam. Karena saat itu rakyat Indonesia tanpa kecuali diwajibkan setiap pagi menghadap ke arah istana Kaisar Jepang di Tokyo untuk melakukan upacara saikeirei, menyembah kaisar Jepang yang disebut Tenno Heika. Menurut kepercayaan Jepang, Tenno Heika adalah keturunan dari Dewa Matahari, Amaterasu O. Mikami yang mahakuasa.

Saikeirei dilakukan dengan cara membungkukan badan 90 derajat, persis seperti rukuk di dalam sholat. Sedangkan membungkuk dengan tujuan menyembah tersebut di dalam Islam hukumnya kufur dan haram sehingga wajib ditentang. Hal ini juga terjadi ketika Kiai Hasyim Asy’ari meringkuk di penjara Jepang selama lima bulan. Setiap pagi seluruh tahanan harus melakukan saikeirei, namun Kiai Hasyim dengan tegas menolak. (Fathoni Ahmad)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Merasakan Idul Adha di Nanchang Tiongkok

“Allahu Akbar, Allahu Akba. Laa Ilaha Illallahu Wallahu Akbar, Allahu Akbar wa Lillahil Hamdu.” Pagi yang dingin di musim gugur kali ini tidak menyurutkan ratusan jamaah yang berpawai dari kawasan Wanda Guangchang yang berjarak sekitar satu kilometer atau selama kurang lebih 40 menit dari Masjid Besar Nanchang.

Ahad (5/10) sejak pukul 07.30 waktu setempat, sambil berpawai, para jamaah mengumandangkan kalimah thoyyibah tersebut memecah heningnya pagi di sepanjang jalan. Tidak seperti kebanyakan takbiran, di sini takbirnya diucapkan hanya dua kali di awal.

Menandai akan dimulainya sholat Idul Adhadi Masjid Besar Nanchang atau Nanchang Qingzhen Da Si di kawasan Honggutan New Distrikkota Nanchang, Provinsi Jiangxi, RRT.

Merasakan Idul Adha di Nanchang Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)
Merasakan Idul Adha di Nanchang Tiongkok (Sumber Gambar : Nu Online)

Merasakan Idul Adha di Nanchang Tiongkok

Tradisi Pawaidan Takbiran yang unik dan khas yang jarang ditemukan di Tiongkokat aupun di Indonesia yang mayoritas muslim sekalipun.

Seperti yang sudah-sudah, tradisi di masjid Nanchang tiap pagi jelang sholat Idul Adha dan Idul Fitri akan dimulai,terlebih dahulu diawali dengan pawai takbir sambil membawa puluhan bendera dengan tiang dari kayu bamboo setinggi tiga-empat meter.

Bendera yang berbentuk segitiga berwarna hijau dan pinggirnya diberikain semacam lipatan rendah warna putih tersebut di tengahnya bertuliskan kaligrafi kalimat Syahadat dan pinggirnya bertuliskan dua bahasa yakni Arab “Masjid Akbar Nanchang” dan Mandarin “Nanchang Qingzhen Da Si”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sholat Idul Adha menjadi momentum yang sangat ramai di masjid dari pada sholat IdulFitri. Selain kali ini bertepatan di tengah libur hari nasional Tiongkok selama sepekan, adalah momen yang sangat istimewa bagi muslim di sini untuk berkumpul dan berbagi daging kurban bersama keluarga. Tak heran di masjid yang diresmikan pada IdulAdha tahun 2012 lalu ini jamaah yang dating sampai ribuan orang meluber ke halaman dan jalan raya depan masjid.

Imam Musa atau biasa dipanggi lAhong Musa selaku imam besar masjid Nanchang, satu atau setengah jam sebelum sholat dimulai biasanya akan mengawali dengan membaca beberapa surat al Quran dan dilanjutkan ceramah, baru setelah itu Sholat dan khutbah akan dibacakan sekitar sepuluh menit dengan bahasa Arab.

Ada yang berbeda ketika sholat Id, tiap rakaatnya hanya mengucapkantiga kali takbir yakni tiga kali di rakaat pertama sebelum membaca al Fatihah dan tiga kali di rakaat kedua setelah bacaan al Fatihah. Berbeda seperti kebanyakan sholat Id di Indonesia.

Usai sholat dan khutbah berakhir para jamaah berkumpul di halaman belakang masjid menyaksikan secara simbolis pemotongan perdana hewan kurban oleh Imam Musa. Puluhan kambing lainnya yang seharga 2.300 Renminbi ataus ekitar 4,5juta Rupiah perekor tersebut siap disembelih.

Uniknya, kambing-kambing disembelih oleh panitia penyembelih dan tidak dipotong di tempat tetapi langsung dibawa pulang secara utuh oleh pemilik yang berkurban untuk dimasak dan dimakan bersama keluarga dan tamu-tamunya. Jadi panitia hanya bertugas menyembelih, tidak ada pembagian hewan kurban.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di kota Nanchang, dari penuturan Imam Musa, terdapat sekitar 4 ribu muslim yang sebagian besarsuku Hui, mereka sebagian besar adalah perantau dari wilayah mayoritas muslim di Tiongkok Barat Lautyakni provinsi Ningxia, Gansu dan Qinghai yang berjualan makanan halal Lanzhou Lamian atau sejenis mie tarik dan sebagian kecil dari suku Uighur provinsi Xinjiang.

Merayakan Idul Adha di Asrama

Tahun ini bagi penulis adalah tahun keempat atau tahun terakhir di Nanchang University menyaksikan dan merasakan secara langsung Idul Adha di kota Nanchang. Di masjid sini tak ada malam takbiran apalagi suara bedug.Ya, kami anggap wajar karena disini selain Negara komunis, islam adalah minoritas dari penduduknya. Sebagai penggantinya, di asrama kami mendengarkan takbiran dari salahs atu saluran radio streaming di Indonesia dan rekaman takbiran hasil unduhan di internet sebelumnyauntuk merasakan suasana Idul Adha tiba.

Untuk mengobati rasa rindu berlebaran di rumah. Saya dan 28 mahasiswa muslim Indonesia lainnya mengawalinya dengan buka bersama puasa sunnah Arafah, jamaah maghrib dan isya diselingi dengan takbir bersama.

Paginyasebelumberangkatke masjid, dipimpinolehCkhalikDjirimumahasiswaasal Makassar selakuketuapanitia.Jam tujuhpagikami bersama-samaberangkatdenganmenyewatigamobilsejenis van untukpulang-pergi. Sekitar 15 menitperjalanandarikampussampaike masjid.

Usaisholat Id sekitarpukul 10.00 kami kembalikeasramadanmerayakanbersama-samasambillesehandi koridortanggalantai 21 danmengundangmahasiswa Indonesia lainnya yang non muslim.

Kali ini tema utama masakannya adalah adalah menu khas Makassar seperti Ayam Pallucamba, Sambal Goreng Daging, Mie Titi dan sebagainya. Sebagai kepala juru masaknya adalah RatnaErvina, mahasiswi yang pernah mengambil S1 jurusan Tata Boga di Makassar.

Karena tidak ada tradisi pembagian hewan kurban ke masyarakat umum, dengan patungan kami membeli sayur, buah, daging sapi, ayam,? ikan dan lain-lain yang mulai kami masak sejak malam takbir. Sambil makan bareng di selingi dengan candaan ringan kami bercerita tentang tradisi merayakan Idul Adha di kampong halaman masing-masing.

Untuk melepaskan gendengan keluarga di tanah air kami cukup memakai media social seperti Skype, Whats app atau Facebook dan sesekal ilewat telepon karena pulsanya cukup mahal.

Kebersamaan di hari yang penuh berkah ini semoga selalu terjalin dan semoga tahun depan kita semua bias berjumpa dengan Idul Adha lagi, Amin.

Dari Tiongkok kami mengucapkan Selamat Idul Adha 1435 H, Taqobbalallahu minna waminkumTaqobbal ya Karim. MohonMaafLahirdanBatin.

?

Ahmad SyaifuddinZuhri, Mahasiswa Master in International Relations Nanchang University, kota Nanchang, Provinsi Jiangxi, RRT. Dewan Pembina Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Tiongkok 2014-2015.

Foto: Mahasiswa Indonesia membawa spanduk ucapan selamat Idul Adha dalam bahasa Mandarin. (Red: Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (PP LKNU), para tokoh ulama, dan warga NU Kabupaten Brebes dengan menggandeng UNICEF mendeklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi, Sabtu (22/8). Kegiatan yang berlangsung di lantai 5 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta ini mengambil tema Sharing Pengalaman Sosialisasi tentang Gizi dan Pencegahan Stunting.

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi

Deklarasi para tokoh agama ini dilakukan dalam rangka melaksanakan program pencegahan Stunting (bertubuh pendek dan fungsi kognitif terganggu) di Kabupaten Brebes. Kegiatan ini diikuti oleh 45 tokoh agama dari 5 Kecamatan di Kabupaten Brebes.

Menurut Supervisor Program Penanggulangan Stunting LKNU yang sekarang menjabat Sekreteris Umum PP Fatayat NU, Anggia Ermarini mengatakan, bahwa mengapa pihaknya merangkul Kabupaten Brebes dalam kegiatan, karena Indeks Kesehatan Masyarakat (IKM) di Kabupaten Brebes paling rendah di Provinsi Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dari 35 Kabupaten di Jawa Tengah, Brebes peringkat ke-35 dalam hal kesehatan di masyarakat. Ini merupakan pilot project yang akan kita terapkan juga di 6 Kabupaten di luar Jawa,” ungkap perempuan yang akrab disapa Mbak Anggi ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum berkunjung ke PBNU, para peserta tersebut dilepas oleh Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti. Dalam pelepasannya, Bupati sangat berharap kepada para tokoh ulama untuk betul-betul menyosialisasikan program pencegahan stunting ini.

“Kenapa yang justru kita libatkan para tokoh ulama, karena ulamalah yang setiap omongannya diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat sehingga menyadarkan masyarakat untuk melakukan pola hidup sehat,” ujar Ketua PC Fatayat NU Brebes, Hj Mu’minah menirukan sambutan Bupati, Jum’at (21/8) malam.

Dalam kesempatan ini, para tokoh ulama dan warga NU Brebes mendeklarasikan 3 butir kesepakatan dan komitmen pencegahan Stunting yang berisi sebagai berikut:

1. Membentuk Forum Ulama Peduli Gizi di Kabupaten Brebes.

2. Menjalin kerjasama dalam meningkatkan sosialisasi peningkatan gizi dan pencegahan stunting di masyarakat.

3. Bekerjasama dengan semua pihak untuk menyukseskan program pengurangan angka stunting di Kabupaten Brebes.?

Kegiatan ini mendapat pengarahan dari Rais Syuriyah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, serta dihadiri oleh Ketua PCNU Brebes, KH Athoillah, Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI, Doddy Izwardy, dan Chief of Social Policy UNICEF, Dr Petra Hoelscher. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 24 Januari 2018

Saatnya Berantas Buta Al-Quran

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang KH Abdul Kholiq Hasan menandaskan bahwa saat ini sudah saatnya umat disadarkan akan pentingnya memahami al-Quran. Selanjutnya, diharapkan sejumlah pesan dari kitab suci tersebut dapat diejawantah dalam keseharian.

Saatnya Berantas Buta Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Saatnya Berantas Buta Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Saatnya Berantas Buta Al-Quran

Ia menyampaikan hal itu saat mengisi kajian di Masjid Ar-Ridho Mojoagung Jombang, Jawa Timur (29/8). Kajian yang diikuti jamaah rutin tersebut diawali dengan penyampaian sejumlah kisah keteladanan para orang tua yang memiliki kepedulian kepada pendidikan anak, khususnya terhadap al-Quran.

"Dari sejumlah kisah yang di ketengahkan dalam kitab-kitab klasik membenarkan akan hal ini," kata Gus Kholiq, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karena? itu kepada para jamaah, Gus Kholiq mengajak untuk terus memupuk rasa senang dan bangga kepada anak-anak yang memiliki kemampuan membaca al-Quran dengan baik. Demikian juga mereka yang berkenan menghafal kitab suci umat Islam ini dipandang sebagai sebuah prestasi yang layak dipertahankan. "Yang juga sangat penting adalah mengamalkan apa yang menjadi perintah dalam al-Quran," tandasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Oleh karena itu, pimpinan di Institut Agama Islam Bani Faffah Tambakberas Jombang ini mengajak para jamaah untuk memiliki perhatian kepada anak-anak agar diberikan kesempatan belajar al-Quran sejak dini. "Ini penting sebagai bagian dari melaksanakan perintah agama," terangnya.

Katib Syuriah PCNU Jombang ini mengistilahkan pengenalan dan pendalaman kitab suci umat Islam ini dengan upaya pemberantasan buta huruf al-Quran. "Kalau selama ini kita mengenal pemberantasan buta huruf serta buta aksara, maka umat Islam juga harus mendengungkan pemberantasan terhadap buta huruf al-Quran," tandasnya.

Apalagi di Jombang sendiri yang dikenal dengan kota santri ternyata masih banyak para pelajar yang belum mengenal dengan baik al-Quran. "Orang tua hanya fokus kepada pemberantasan buta huruf dan membekali anak-anaknya dengan pengetahuan umum," sergahnya. Padahal, sebagai kota santri yang juga menyediakan banyak pesantren dan lembaga pendidikan agama, sudah seharusnya hal ini menjadi kepedulian para orang tua, lanjutnya.

Terhadap keengganan sebagian orang tua tersebut, Gus Kholiq ikut prihatin. "Ini menandakan bahwa para orang tua belum memiliki pemahaman yang menyeluruh terhadap pesan agama," katanya. Hal ini juga menjadi catatan tersendiri bagi para ulama, kiai serta tokoh agama untuk bersama-sama menggelorakan semangat pemberantasan buta huruf al-Quran.

"Karena kalau diperhatikan dengan seksama, al-Quran tidak semata memberikan wawasan keagamaan juga sarat dengan ilmu pengetahuan dan teknologi," ungkapnya. Sejumlah ulama kenamaan pada jaman kejayaan Islam ternyata mampu menggali pesan keagamaan dan pengetahuan yang terkandung dalam kitab suci tersebut.

Gus Kholiq membayangkan, pada saatnya umat Islam dari berbagai disiplin ilmu dapat duduk bersama untuk menggali secara menyeluruh kandungan al-Quran. "Ini tentu saja akan menambah keyakinan umat Islam dan rasa bangga atas agama yang dianut," pungkasnya. (Syaifullah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?



Setelah beberapa bulan tanpa kabar atas tindak lanjut sikap pemerintah melalui Menteri Koordinator bidan Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto tentang penanganan ormas anti-Pancasila, akhirnya Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, pada 12 Juli 2017.

GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah

Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya Alaik S. Hadi mengapresiasi ketegasan dan mendukung penuh terbitnya Perppu 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan dan siap mengawal proses pembubaran ormas radikal dan anti-Pancasila.

“Terbitnya Perppu ini adalah tepat dan konstitusional, dan akan mempercepat proses hukum penanganan ormas radikal dan anti pancasila, tanpa memberangus hak-hak ormas di Indonesia. Pemerintah bisa menangkal gerakan-gerakan atau benih ke arah terorisme, radikalisme, atau ormas yang terbukti bertentangan dengan ideologi negara atau Pancasila,” jelasnya melalui siaran pers, Rabu (12/7).

Sebelumnya, GP Ansor Kota Surabaya beberapa kali membantu kepolisian dalam menggagalkan aktivitas ormaa anti-Pancasila di Kota Surabaya. Kerja sama baik antar GP Ansor dan Kepolisian akan terus ditingkatkan mengingat ormas anti-Pancasila juga berganti modus gerakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sikap ini, kata dia, juga merupakan bentuk konkrit dukungan di bawah atas pernyataan PBNU dan Pimpinan Pusat GP Ansor yang dari awal mendesak terbitnya Perpu Pembubaran Ormas anti Pancasila.

“Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) pembubaran ormas tak hanya untuk membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Tetapi Ormas apapun yang jelas dan nyata-nyata anti-Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI, sudah selayaknya segera dibubarkan,” katanya.?

Menurut dia, strategi dan taktik dalam pencegahan gerakan ormas anti-Pancasila telah dibuat oleh Banser Kota Surabaya dengan membentuk Resimen Banser Mahasiswa yang akan nantinya diharapkan bisa mengawal dan menjaga lingkungan kampus terhadap gempuran paham radikal dan anti-Pancasila.

Sekaitan dengan itu GP Ansor dan Banser Surabaya juga akan mengimbau Ansor dan Banser di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk terlibat aktif dalam membagikan informasi yang berkaitan dengan aktivitas ormas anti-Pancasila kepada Kepolisian agar aktivitas ormas anti-Pancasila dapat diantisipasi.

Secepatnya, GP Ansor dan Banser Surabaya segera akan koordinasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, aparat dan para ulama di Kota Surabaya untuk bersama mengawal Perppu Pembubaran Ormas ini di Surabaya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dengan terbitnya Perppu 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. GP Ansor dan Banser Kota Surabaya akan siap mengawal NKRI sampai titik darah penghabisan,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Tegal, Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah