Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 15 Februari 2018

As’ad: Keruntuhan ISIS hanya Soal Waktu

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wakil ketua umum PBNU H As’ad Said Ali berpendapat meskipun keberadaannya sempat “mengguncang” dunia, keruntuhan Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS) saat ini hanya soal waktu.

As’ad: Keruntuhan ISIS hanya Soal Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)
As’ad: Keruntuhan ISIS hanya Soal Waktu (Sumber Gambar : Nu Online)

As’ad: Keruntuhan ISIS hanya Soal Waktu

“Asal kekuatan regional bersatu seperti Saudi, Mesir dan lainnya bersatu, mereka akan segera lemah,” katanya seusai peluncuran buku Al Qaeda: Tinjauan Sosial-Politik, Ideologi dan Sepak Terjangnya, yang merupakan rangkuman hasil pengalaman dan pengetahuannya selama berkarir di Badan Intelejen Negara (BIN).

Gerakan kekerasan di Irak, muncul setelah jatuhnya Saddam Hussein yang beraliran sunni. Pemerintahan lalu didominasi oleh kelompok syiah. Negara-negara Muslim Sunni di regional tersebut seperti Mesir dan Arab Saudi, secara tidak langsung akhirnya mendorong berkembangnya Al Qaeda, sebagai upaya menyeimbangkan dengan rezim Syiah.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Situasi juga diperburuk oleh penarikan tentara Amerika Serikat di Irak yang terlalu cepat yang merubah stabilitas disana dan juga mengganggu kepentingan AS. Kelompok-kelompok Amerika di luar pemerintah lalu melakukan operasi melalui jalurnya di Turki yang juga anggota NATO. Kepentingan kedua pihak ini bertemu karena Turki tidak nyaman dengan adanya kedekatan Irak dengan Iran.?

Pemberian dukungan ini bukan untuk membuat kelompok militan kuat, tetapi sebagai ujung tombak untuk melakukan perubahan yang terjadi di Irak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ternyata benar, ketika ISIS naik ke atas, PM Maliki diganti dengan PM Abadi yang lebih dekat dengan sunni. Pada akhirnya akan terjadi keseimbangan dan akhirnya ISIS akan ditekan sedemikian rupa sehingga keruntuhannya hanya akan masalah waktu,” tegasnya.?

Ditanya tentang pola penempatan tentara Amerika yang berlangsung sangat lama seperti di Jerman dan Jepang untuk menciptakan stabilitas nasional, dan sekarang, negara-negara tersebut keamanannya stabil dan menjadi sejahtera, hal tersebut tidak bisa diterapkan di dunia Muslim.

“Ngak bisa karena konteksnya lain, mereka kalah dalam perang dunia. Orang Arab kan nasionalismenya kuat sekali. Kalau ada orang asing, akan melawan,” tandasnya. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 09 Februari 2018

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi

Kediri, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Hujan yang mengguyur kota Pare, Kediri, Selasa (13/11) tidak menyurutkan semangat ribuan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kabupaten Kediri untuk menggelar Apel dalam rangka memperingati Resolusi Jihad NU dan Peringatan Tahun Baru Hijriyah.

Bertempat di halaman masjid Jami’ An-Nur, Pare Kediri, ribuan Banser tumpleg bleg di arena itu. Bertindak selaku Inspektur Upacara adalah Kepala Satkorwil Banser Jawa Timur  H Imam Kusnin Ahmad SH.

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Resolusi Jihad, Banser Kediri Unjuk Gigi

Meski dalam kondisi hujan acara apel berjalan lancar tidak ada satu pasukanpun yang bergeser dari barisan. Mereka tetap antusias mendengarkan pidato arahan dari Komadan Banser Jatim tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Hujan tidak akan menyurutkan semangat anggota Banser dalam apel ini. Apalagi hujan. Darah dan nyawapun akan dikorbankan oleh Banser untuk memperrtahankan ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah ala NU dan tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) ini,’’ ujar Kang Kusnin membakar semangat anggota Banser dan Ansor yang hadir pada saat itu, yang disambut dengan pekikan Allahu Akbar bebera pakali dari para peserta yang hadir.

Menurutnya, kalau dibanding dengan perjuangan para pahlawan dan pendahulu, tidak sebanding sama sekali. Para pahlawan dan suahada’ taruhannya jiwa dan raga  untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini. “ Para pahlawan tidak perfikir saya akan mendapat apa dalam perjuangan ini. Prinsipnya bagaimana negeri ini terbebas dari penjajahan yang nota bene simbul keangkara murkaan,’’ terang Kang Kusnin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Maka sangat tepat bila, kader-kader muda NU memperingati resolusi Jihad NU yang tercetus pada 22 Oktober 1945 itu. Karena dengan adanya resolusi Jihad menjiwai semanat umat Islam untuk mepertahankan  Kemerdekaan Indonesia, yang saat ini kita kenal dengan peringatan hari Pahlawan 10 November itu.

“Jadi NU selalu setia kepada NKRI begitu pula dengan Ansor dan Banser-nya. Mengapa, karena NU dan Ansor ibarat sebuah perusahaan, organisasi ini memiliki saham yang sah di negara ini. Sehingga apa bila ada piahk-pihak yang ingin memporandakan negara ini. NU dan Banser akan membela mati-matian. Dan saat ini upaya-upaya itu nampaknya sudah mulai terjadi,’’ tegas dia.

Untuk itu, ia minta seluruh anggota Banser  harus merapatkan barisan, persatu padu untuk mepertahankan NKRI dari upaya perpecahan. “ Sebagai kader bangsa kita berkewajiban mempertahankan negeri ini dari segala bentuk ancaman. Baik dari dalam maupun dari luar,’’ kilahnya.

Selain itu, Kang Kusnin juga meminta para anggota Banser untuk lebih profesional dalam menjalankan tugasnya. Agar bias melaksanakan tanggung jawabnya. Yakni , pertama menjaga, memelihara dan menjamin kelangsungan hidup serta kejayaan Gerakan Pemuda Ansor dan NU.

Kedua,berpartisipasi aktif melakukan pengamanan dan ketertiban terhadap kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan oleh Banser, Gerakan Pemuda Ansor, NU serta kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya yang tidak bertentangan dengan perjuangan NU.

Ketiga, bersama dengan kekuatan bangsa yang lain untuk tetap menjaga dan menjamin keutuhan bangsa dari segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan dalam ikut menciptakan keutuhan NKRI.

Usai apel, acara dilanjutkan atraksi kekebalan tubuh dari satuan Densus 99 Banser Kabupaten Kediri dan kemampuan anggota Bagana ( Banser Tanggap Bencana) dalam memberikan pertolongan kepada para korban letusan gunung Kelud. “ Apel ini kami selenggarakan dalam rangka memperingati resolusi jihad NU dan sekaligus untuk peringatan tahun Islam,’’ ujar Agus Tariadi Ketua PC Ansor Kab. Kediri.

Selain apel, hari ini akan diselenggarakan oleh panitia gaungan dari PCNU dan banomnya. Diantaranya pawai ta’aruf, pengajian akbar dan malam bersholawat yang menghadirkan 5 ribu anggota Ishari (Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia) milik NU. “Yang akan memberikan ceramah adalah Ketua Umum PBNU KH Said Aqiel Siradj. Acara akan berlangsung di Stadion Canda Bhirawa Pare,” katanya. (Red:Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Sejarah, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 26 Januari 2018

Bupati Buka Acara Rakercab LP Ma’arif Banjarnegara

Banjarnegera, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Banjarnegara mengadakan Rapat Kerja Cabang Tahun 2016 dengan mengusung tema “Mewujudkan Pendidikan yang Mandiri, Berkualitas dan Profesional dalam Bingkai Faham Islam Ahlussunah wal Jama’ah” pada Sabtu, 13 Februari 2016 bertempat di RM. Saung Bu Mansur.

?

Bupati Buka Acara Rakercab LP Ma’arif Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Buka Acara Rakercab LP Ma’arif Banjarnegara (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Buka Acara Rakercab LP Ma’arif Banjarnegara

Hadir dalam acara Rakercab LP Ma’arif ini, Sutedjo Slamet Utomo Bupati Banjarnegara, H Taufiq R. Abdullah DPR RI Fraksi PKB, beberapa anggota DPRD Kabupaten Banjarnegara dari Fraksi PKB, PW LP Ma’arif Jawa Tengah, Kepala Dikdikpora, Kepala Kemenag, Pengurus PCNU Kabupaten Banjarnegara beserta banomnya, PC Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU, dan IPPNU.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Rakercab ini adalah momentum yang sangat stategis untuk menyusun program kerja ke depan sehingga apa yang dicita-citakan sebagaimana dituangkan dalam tema Rakercab ini bisa tercapai,” kata Hendro Cahyono selaku ketua PC LP Ma’arif Kabupaten Banjarnegara dalam sambutannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia juga mengingatan bahwa dalam penyusunan program, harus jelas dan fokus, terukur, bisa tercapai, sesuai dengan NU dan Aswaja serta melihat waktu. Ia pun yakin bahwa program yang dicanangkan bisa tercapai asalkan segenap pengurus mempunyai loyalitas, komitmen dan dedikasi yang tinggi kepada lembaga disertai rasa yakin dan optimis.?

H Zahid Khasani selaku ketua PCNU Kabupaten Banjarnegara dalam sambutannya mengingatkan bahwa dalam raker ini harus bisa dipetakan potensi yang dimiliki dengan jelas demi kemajuan NU di Banjarnegara. Dia juga meminta kepada pihak Kemenag agar ijin operasional pendidikan untuk warga NU dimudahkan.?

“Besarnya NU itu tidak perlu ditakuti. Akan tetapi besarnya Gafatar dan aliran-aliran baru lah yang harus diwaspadai karena mengusung negara khilafah, sedangkan NU dan banomnya dari Muslimat, Fatayat dan Ansor selalu bersinergi dengan negara bahwa NKRI adalah harga mati,” katanya mengakhiri sambutanya.?

Acara yang dihadiri oleh semua kepala sekolah dan madrasah di bawah naungan LP Ma’arif ini mendapat apresiasi dari Bupati Banjarnegara. Ia menyadari bahwa pendidikan adalah hal yang sangat penting. Karena apapun kekeyaan yang dimiliki tanpa didukung dengan sumber daya manusia yang memadai maka semua itu tidak ada artinya.?

“Selamat atas terselenggaranya Rapat Kerja Cabang Lembaga Pendidikan Ma’arif Kabupaten Banjarnegara ini, semoga menelorkan program-program yang bisa meningkatkan kualitas pendidikan di Banjarnegara, khususnya pendidikan agama,” katanya mengakhiri sambutan yang dilanjutkan dengan memukul bedug untuk membuka acara. (Mad Solihin/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 24 Januari 2018

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pamekasan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. NU adalah organisasi yang paling jelas proses kaderisasinya. Tidak hanya berhenti di kalangan mahasiswa dan atau pelajar di lingkungan lembaga pendidikan, melainkan juga hingga ke daerah-daerah terpencil di pelosok desa. Ada istilah Pimpinan Ranting (PR) untuk kepengurusan NU dan perangkat-perangkatnya di tingkat akar rumput.

Kesimpulan demikian terbesit ketika sebanyak 30 orang PR IPNU-IPPNU Desa Pamaroh sudah dibentuk, Ahad (8/4) lalau. Pembentukan yang ditempatkan di balai desa tersebut berjalan secara khidmat, disaksikan oleh puluhan petinggi NU Desa Pamaroh. Para pengurus harian IPNU-IPPNU Kadur sebagai penyelenggara dan ketua PC IPNU Pamekasan Nasiruddin menambah suasana pembentukan kian mengesankan.

Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)
Proses Kaderisasi NU Jelas (Sumber Gambar : Nu Online)

Proses Kaderisasi NU Jelas

Pada kesempatan itu, ketua IPNU Kadur Faisol Ansori menekankan betapa pentingnya menyeriusi proses kaderisasi. Dirinya sangat menaifkan ketika ada seseorang langsung dimasukkan ke dalam kepengurusan organisasi NU tanpa melalui proses kaderisasi yang matang dan panjang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami ke sini dalam rangka silaturahim serta membentuk kader-kader yang mau serius mengabdi dan belajar di NU,” tegas Faisol. “Dan siapa pun yang tidak serius dalam belajar, dengan berat hati kami sangat tidak mereka kader semacam itu. Berorgansiasi di NU butuh keseriusan dan keuletan dalam belajar.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berumah tangga saja, lanjut Faisol, masih memerlukan kader. Kehidupan rumah tangga tentu dinilai kurang sempurna tanpa kehadiran seorang kader (keturunan) yang nantinya menjadi penerus perjuangan sang orangtua.

“Sama halnya di NU. Kalau proses kaderisasi di tubuh IPNU maupun IPPNU sudah melemah, maka tunggulah kehancuran NU beberapa tahun ke depan,” katanya dengan nada kalem. “Dan jelas kita tidak menginginkan hal itu.”

Dari itulah pihaknya sangat berharap agar para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh bisa diajak kerja sama menghidupkan organisasi NU di tingkat desa, khususnya di Desa Pamaroh.

Pernyataan Faisol Ansori yang disampaikan saat sambutan tersebut mendapat dukungan seutuhnya dari para petinggi NU Pamaroh dan kepala desa Pamaroh. 

“Kami siap mendampingi, membina, dan membantu segala program kerja yang hendak dilaksanakan nanti,” ujar ketua PR NU Pamaroh K Abdus Syukur.

“Saya juga begitu. Saya akan selalu dukung segala kegiatan yang bernafas ke-NU-an,” kata A’wan PR NU Pamaroh yang kini menjabat kepala desa, Ustaz Moh Riski Abdullah.

Semangat berorganisasi tersebut disimak secara serius oleh para pengurus PR IPNU-IPPNU Pamaroh yang merupakan perwakilan dari 4 dusun yang ada di Pamaroh, meliputi Dusun Oray, Madis, Panconan, dan Sumber Waru. Sebelum azan Magrib menggema, pembentukan PR IPNU-IPPNU Pamaroh sudah selesai.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa, Sejarah, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Januari 2018

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ujaran kebencian saat ini tidak lagi berkeliaran dari mulut ke mulut. Melainkan sudah merambah ke dunia maya. Lalu lintas percakapan di dunia maya kian deras dan tak terbendung. Kebebasan berekspresi dan berbicara tidak lagi menjadi penghalang di media sosial.

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force

Penggunaan media sosial yang tak terkontrol ini banyak meresahkan masyarakat, termasuk NU. "Kita sudah buat tim ‘pasukan udara’ untuk memantau dunia maya dari teman-teman Ansor dan Cyber NU Jatim. Namanya Cyber Force," kata Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah di Markas Polda Jatim, Kamis (1/9).

Cyber Force sudah bekerja sejak beberapa bulan lalu. Tim inilah yang memantau lalu lintas media sosial dan menganalisis ujaran-ujaran yang berseliweran di dunia maya. Jika ada ujaran yang berpotensi memecah belah keutuhan bangsa, NKRI langsung dilaporkan ke Kominfo. "Cara kerjanya seperti apa, tanya ke Ansor dan cyber NU Jatim," lanjut Kiai Mutawakkil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Yang paling disorot NU, lanjut Mutawakkil, ialah ujaran dari kelompok Islam yang menebarkan paham keagamaan terindikasi radikal. Kelompok seperti inilah yang biasanya menyebarkan virus perpecahan, baik di tubuh Islam maupun masyarakat sebagai bangsa.

Kiai Mutawakkil mengungkapkan hal itu dalam acara penandatanganan nota kesepakatan atau MoU tentang Penanganan Konflik Sosial dan Ujaran Kebencian (Hate Speech) oleh Markas Besar Kepolisian RI dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). MoU dihadiri oleh Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. (Rof Maulana/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Nasional, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Kalbar Sambut Gempita MTQ JQH NU

Pontianak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang diselenggarakan Jam’iyyatul Qura’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQH NU) disambut gegap-gempita masyarakat Pontianak, Kalimantan Barat. 

Kalbar Sambut Gempita MTQ JQH NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalbar Sambut Gempita MTQ JQH NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalbar Sambut Gempita MTQ JQH NU

Pada pembukaan misalnya, warga Pontianak memenuhi tribun stadion Sultan Syarif Abdurahman Selasa malam (3/7).

“Tidak ada tempat yang kosong. Ada sekitar 2000 orang yang hadir,” ujar Odang Prasetyo, Kabag Agama Biro Kesejahteraan Sosial Setda Provinsi Kalimantan Barat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut  Odang, hal ini dilatarbelakangi kerinduan masyarakat akan MTQ bertaraf nasional, karena Pontianak terkahir menyelenggarakan MTQ Nasional tahun 1985, “Apalagi kini menjadi tuan rumah MTQ Internasional pertama kali,” tambahnya.  

“Saya bangga Pontianak menjadi tuan rumah MTQ Internasional. Ini kan pertama kali. Biasanya yang seperti ini diselenggarakan di pulau Jawa, kali ini  di Kalimantan. Makanya saya bangga,” ujar security sebuah hotel.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sambutan juga ditunjukkan dengan bertebarannya umbul-umbul, baliho, spanduk di jantung kota Pontianak, di sudut-sudut strategis, dan halaman kantor-kantor. 

Spanduk itu berbunyi “Mari Kita Sukseskan MTQ Internasional JQH Nahdaltul Ulama”. Terpampang di situ lambang MTQ JQH, Nahdlatul Ulama. Di bawahanya dicantumkan Organisasi Massa, Kepemudaan atau tokoh masyarakat yang mengucapkan. 

Menurut Veri, salah seorang warga Pontianak, umbul-umbul itu masih terlihat sampai radius 15 km perbatasan kota Pontianak.

Syahriel Ishaq melihat sambutan meriah masyarakat Pontianak dari sisi lain yaitu keragaman dalam kedamaian. Pembukaan ini dihadiri bergama tokoh dan warga lintas agama.

Mengingat, sambung Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMIII) Provinsi Kalimantan Barat, komposisi penduduk muslim tidak lebih banyak dari nonmuslim.  Tetapi MTQ menjadi milik bersama.

“Ini menunjukkan kedamaian dalam keragaman beragama,” tuturnya.

Seperti diketahui, pada acara pembukaan MTQ, Walikota Singkawang yang nonmuslim mempersembahkan tarian kolosal Tahar Gentar oleh 500 orang penari. Para penari terdiri dari muslim dan muslim. 

MTQ yang diselenggarkan JQH NU ini merupakan MTQ VII yang diikuti sekitar 1000 orang peserta. Selain itu akan digelar MTQ internasional I JQH yang diikuti seluruh negara ASEAN dan beberapa negara undangan; dan Musyawarah Nasional (Munsa) IV JQH NU.

Redaktur : Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 07 Desember 2017

Kini, Aplikasi Tahlilan Hadir di Android

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Berbahagialah bagi warga NU dan umat Islam secara umum. Karena sejumlah bacaan dan doa-doa ibadah keseharian, termasuk tahlil, kini bisa dinikmati melalui perkakas berupa tablet maupun telepon genggam yang mendukung sistem andorid.

Kini, Aplikasi Tahlilan Hadir di Android (Sumber Gambar : Nu Online)
Kini, Aplikasi Tahlilan Hadir di Android (Sumber Gambar : Nu Online)

Kini, Aplikasi Tahlilan Hadir di Android

Usai meluncurkan aplikasi berbasis android “TV Aswaja” dan “Rawi",? Persaudaraan Profesional Muslim (PPM) Aswaja kembali meluncurkan aplikasi android baru berupa “Majmu Lathif & Doa Harian”.

Menurut anggota Tim Developer PPM Aswaja, Ichwanul Muslim, peluncuran aplikasi baru tersebut bertujuan untuk mempermudah kalangan Nahdiyyin dalam menjalankan kegiatan keagamaan mereka terutama dalam hal akses doa-doa serta bacaan-bacaan Al-Quran lewat media elektronik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami yakin aplikasi ini sangat bermanfaat, karena di dalamnya berisi berbagai doa penting mulai dari bacaan dan doa Tahlil, Yasin, al-Waqiah, al Mulk, doa awal tahun, doa Nisyfu Sya’ban dan Asyura, serta doa lainnya," terang Ichwan, Kamis (12/6).

Ditambahkan, peluncuran aplikasi “Majmu Lathif & Doa Harian” memang sengaja dilakukan menjelang Nisfu Syaban sebagai bagian dari isi yang terangkum dalam aplikasi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami berharap, aplikasi ini bisa memberi manfaat dan kemudahan kepada seluruh warga nahdiyyin hususnya dan ummat islam pada umumnya," lanjut Ichwan.

Seperti aplikasi android sebelumnya, aplikasi Majmu Lathif & Doa Harian ini juga bisa diunduh gratis oleh pengguna android di https://play.google.com/store/apps/details?id=com.aswajanu.majmulathif. Atau cari di Play Store dengan kata kunci "Majmu Lathif".

"Bagi yang sudah mengunduh dan mencoba aplikasi ini, jika berkenan bisa disebarkan informasi ini kepada teman, saudara dan pemakai android lainnya agar lebih bermanfaat bagi khalayak muslim lainnya," pungkasnya. (Mukhlisin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 06 Desember 2017

Alhamdulillah, NU Cabang Tiongkok Segera Dibentuk

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?



Ketua PBNU H. Robikin Emhas mengikuti proses musyawarah pembentukan Pengurus Cabang Istimewa negara Tiongkok pada Ahad (20/8). Turut hadir dalam acara tersebut Mustasyar PBNU KH Tolchah Hasan dan Konjen Tiongkok Peng Jimu.

Alhamdulillah, NU Cabang Tiongkok Segera Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Alhamdulillah, NU Cabang Tiongkok Segera Dibentuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Alhamdulillah, NU Cabang Tiongkok Segera Dibentuk

Pada Kesempatan tersebut, Robikin Emhas meminta PCINU Tiongkok yang akan dibentuk untuk menyebarkan Islam Nusantara di negara tersebut. Islam yang harus disebarkan, menurut dia, adalah Islam menjadikan budaya sebagai infrastruktur agama, bukan yang memperhadapkan antara tradisi dan budaya masyarakat dengan agama.?

“Tentu saja sejauh tradisi dan budaya yang ada tidak bertentangan dengan hukum atau syariat Islam,” tegas Ketua PBNU Bidang Hukum itu.?

Menurut dia, Tiongkok adalah salah satu negara berpengaruh di dunia, khususnya di bidang ekonomi.?

“Dengan berdirinya NU di Tiongkok, kami berharap Tiongkok menjadikan Islam washathiyyah (moderat) sebagaimana dianut mayoritas penduduk Indoensia sebagai prereferensi utama dalam melihat Islam di dunia,” katanya ketika dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah dari Jakarta.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Robikin menegaskan, warga Tiongkok tidak usah khawatir dengan kehadiran organisasi yang didirikan para kiai di Surabaya pada 1926 tersebut. Karena, NU berwawasan Islam yang moderat dengan mengedapankan kedamaian.?

“Untuk itu Pak Konjen dan masyarakat Tiongkok tidak usah kuatir, tidak perlu takut dengan kehadiran NU di Tiongkok. Karena kehadiran NU justru akan meningkatkan kehidupan yang harmonis di tengah masyarakat," demikian pesannya disambut tepuk tangan hadirin dan Peng Jimu. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Bahtsul Masail, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 03 Desember 2017

Membangun Generasi Baru Cinta Perdamaian

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hingga saat ini, kasus kekerasan yang berlatar belakang isu SARA masih menjadi tantangan bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kasus kekerasan yang sering terjadi di tengah masyarakat menunjukkan meningkatnya radikalisme agama yang dibarengi dengan meningkatnya aksi teror di beberapa daerah.

Membangun Generasi Baru Cinta Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Generasi Baru Cinta Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Generasi Baru Cinta Perdamaian

Kenyataan ini secara umum berlangsung dari generasi ke generasi, sehingga mata rantai konflik tersebut tidak dapat terputus begitu saja. Diketahui bahwa hanya sekitar 10 persen konflik yang terjadi merupakan konflik yang dikategorikan konflik baru. Hal inilah yang kemudian menjadikan konflik bermutasi dari generasi ke generasi. Untuk mengatasi konflik tersebut, tidak jarang justru memunculkan kekerasan baru yang berkepanjangan.

Adanya keprihatinan inilah yang melatarbelakangi diselengarakannya Training Perdamaian yang dimotori oleh Pusat Studi Peace Promotion Institute Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati pada tanggal 29 Februari sampai 2 Maret 2016. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan dapat memutus mata rantai kekerasan dengan memberi pemahaman nilai-nilai perdamaian melalui pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk membangun generasi baru yang cinta damai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini dipandu langsung oleh fasilitator dari Peace Generation Indonesia, Kamilia Hamidah yang sekaligus menjabat Direktur Pusat Studi Peace Promotion Ipmafa. Pelatihan diikuti perwakilan dari guru, lembaga pesantren dan para mahasiswa anggota Pusat Studi Peace Promotion Ipmafa. ?

Selama pelatihan tersebut, peserta diberi pembekalan yang berisi pendidikan nilai dasar perdamaian untuk para guru dan calon fasilitator perdamaian masa depan. Pembekelan nilai ini meliputi 12 nilai perdamaian yang menjadi prinsip pergerakan cinta damai. Dengan demikian, setelah pelatihan ini para alumni pelatihan dapat mengajarkan dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian di komunitasnya masing-masing.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Model pelatihan dikemas dengan metode pembelajaran interaktif meliputi simulasi nilai perdamaian dengan pembelajaran micro-teaching yang menantang kreativitas para peserta. Pembelajaran juga disertai permainan-permainan interaktif sebagai pengejawantahan dari nilai yang diajarkan.

Kesan yang muncul dari para peserta menunjukkan semangat dan antusiasnya selama mengikuti pelatihan. "Senang sekali dapat ikut pelatihan ini sehingga saya bisa belajar bersama-sama. Setelah ini, saya berharap dapat melaksanakan nilai-nilai perdamaian demi kehidupan saya sehari-hari, menyampaikan pelatihan ini kepada siswa-siswa kami," ujar Hindriyah, seorang guru SMK di Margoyoso Pati.

"Saya merasa amazing berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai jiwa kepedulian sosial yang tinggi. Setelah mengikuti acara ini saya akan berusaha mengembangkan dua belas nilai ini di pesantren," tutur Karina Harjanti, delegasi dari pondok Pesantren Maslakul Huda Pati.

Menurut Kamilia, kedepan pihaknya ingin membuat gerakan mencetak sebanyak mungkin agen-agen perdamaian yang bisa menularkan virus perdamaian di lingkungannya masing-masing.

“Karena misi perdamaian inilah, kita dari Pusat Studi Peace Promotion membuka diri untuk bersinergi dengan semua pihak dalam memberikan pelatihan nilai dasar perdamaian pada pihak manapun yang konsen pada gerakan perdamaian," tegas Direktur Pusat Studi Peace Promotion Ipmafa ini.

Pelatihan nilai dasar perdamaian ini akan? rutin diadakan oleh Pusat Studi Peace Promotion yang akan dikemas dalam berbagai bentuk jenis kegiatan. Hal ini untuk menanamkan nilai-nilai dasar perdamaian agar semakin banyak agen perdamaian yang dapat menyebarkan perdamaian di masyarakat. (Isyrokh Fuaidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sifat kebudayaan yang pragmatis atau lebih dikenal dengan kebudayaan populer, kini menjadi tantangan bagi Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) untuk menghasilkan kebudayaan dan kesenian yang manusiawi dan berkualitas.

“Ini membutuhkan pemikiran besar dan visioner bahwa ke depan kita harus menguasai dan kita berjuang kembali dari nol. Sebenarnya orang yang segaris dengan Lesbumi masih banyak, cuma masih berserakan, ” tutur Pemimpin Redaksi Pondok Pesantren AttauhidiyyahMun’im DZ saat memberikan kilas balik Lesbumi dalam rapat koordinasi Pimpinan Pusat Lesbumi di Jakarta, Sabtu.

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan

Dikatakan Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) itu, Lesbumi sendiri dilahirkan pada tahun 1962 sebagai respon terhadap kondisi politik saat itu. Lesbumi menentang Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dengan konsep Manifesto Kebudayaan-nya atau dikenal dengan istilah Manikebu. Selain PKI sendiri, Lesbumi menentang keras imperialisme Barat.

Sejak awal berdirinya, Lesbumi tidak hanya hidup untuk berkesenian seperti prinsip yang dimiliki oleh Manikebu dengan prinsip art for art atau berkesenian untuk kesenian sementara Lesbumi prinsipnya art for humanity atau seni untuk kemanusiaan. “Apakah ini masih bisa kita pegangi terus atau kita ikut manikebu yang indah-indah, yang bagus-bagus, tanpa ada misi-misi kebudayaan dan moral tertentu,” paparnya.

Namun Mun’im percaya bahwa sebuah arus akan mengalami titik jenuh, hal yang sama juga akan dialami oleh kesenian pop. Karena itu Lesbumi diharapkan bisa menampilkan karya-karya lama berkualitas yang dimasa mendatang bisa menjadi spirit dan mainstream baru.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Dijelaskannya bahwa sebenarnya keberadaan Lesbumi waktu itu tidak hanya berfungsi sebagai badan otonom atau lembaga NU, tetapi sebagai think thank di bidang politik kebudayaan. Karena itu, keberadaan dewan kebudayaan saat ini sangat penting untuk menjalankan fungsi tersebut.

Pada masa Trikora untuk memperebutkan Irian Barat Lesbumi mendukung dalam berbagai kegiatan kesenian. “Disini, dewan kebudayaan bisa mengendalikan arah politik dan menjalankan misi politik untuk kebebasan,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU juga mendukung revoluasi yang belum selesai yang dicetuskan oleh Soekarno. Dukungan ini terkait dengan pembelaan NU terhadap Pancasila yang menurut Soekarno merupakan produk filsafat yang sangat tinggi, lebih tinggi daripada Declaration of Human Right dan Manifesto Komunis.

Mun’im menjelaskan kekuatan imperialis Barat bekerjasama dengan Orde Baru telah mematikan budaya dan kesenian yang berbasis pada kerakyatan dan kebangsaan. Ini untuk menjaga kepentingan politik imperialis, dan hal ini menguntungkan Orde Baru karena dengan hilangnya nuansa kerakyatan dan kebangsaan pada seni dan budaya maka akan muncul seni dan budaya baru yang menjadi ciri khas Orde Baru.

Pada waktu itu, Lesbumi paling menguasai teknologi perfilman dan mampu menghasilkan film-film berkualitas ketika Lekra yang dianggap paling maju belum bisa membuatnya. Film seperti Darah dan Doa dan Film Pagar Kawat Berduri mencerminkan visi yang dimiliki Lesbumi.

Di sisi lain, Lesbumi juga tidak meninggalkan kesenian tradisional di masyarakat tingkat bawah mengingat NU sangat menghargai keragaman seni. “Ada yang selera seninya tinggi, menengah, atau rendah, sehingga semua harus dikelola, kalau seleranya baru kuda lumping atau reog ya harus ditanggapi,” (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 29 November 2017

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Nahdlatul Ulama (NU) telah meng-ikhbar-kan 1 Ramadhan jatuh pada Senin, 6 Juni 2016. Hal ini berdasarkan keputusan dan ketetapan yang dilakukan oleh pemerintah melalui sidang itsbat pada Ahad (5/6) malam. Ketetapan ini berdasarkan pada pengamatan Hilal di 93 titik yang disebar oleh Kemenag dengan menggandeng LAPAN, Lembaga Falakiyah PBNU, dan lain-lain.

Nahdlatul Ulama tetap berpegang teguh pada metode rukyatul hilal sebagai instrumen penetapan awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan dan Syawal. Langkah ini sama sekali tidak menafikan metode Hisab, karena metode perhitungan secara matematis ini perlu dibuktikan secara empiris. 

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, KH Ghazali Masroeri sering menekankan kepada seluruh masyarakat bahwa NU sama sekali tidak menafikan metode hisab, tetapi justru NU menggunakan metode hisab dengan almanak yang diterbitkan setiap tahun. 

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Namun demikian, berangkat dari Sabda Rasulullah SAW, “Berpuasalah setelah melihat bulan, dan berlebaranlah setelah melihat bulan”, NU tidak berhenti di satu metode, tetapi berusaha membuktikan perhitungan matematis secara empiris dengan mengamati hilal secara langsung.

Demikian sekilas ulasan tentang Majalah Risalah Edisi 61/Tahun X/1437 H/Juni 2016 yang merupakan edisi terbaru. Selain mengulas persoalan puasa, Majalah yang kini dikemas dengan tampilan yang lebih besar ini juga melaporkan kegiatan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diselenggarakan PBNU pada 9-11 Mei 2016 lalu di JCC Senayan Jakarta. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian, momen bulan haji juga dimanfaatkan Redaksi Majalah Risalah untuk mengulas perkara haji yang kini banyak mengalami perubahan secara pembiayaan yang lebih murah. Tentu hal ini merupakan kabar baik bagi para calon Jamaah Haji. Hal menarik lain yang juga perlu diketahui yaitu, Kementerian Agama mengeluarkan peraturan bahwa jemaah yang sudah pernah melakukan ibadah haji tidak diperkenankan berangkat lagi agar memberi kesempatan kepada jemaah yang belum pernah melakukan ibadah haji.

Edisi terbaru yang terbit 66 halaman ini juga memuat berbagai informasi dan bacaan substantif lain. Di bagian akhir majalah ini, terdapat tulisan renyah dari Dosen muda Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, Fariz Alniezar yang mengulas tentang moderatisme keislaman yang selama ini diteguhkan oleh NU sehingga corak Islam khas Nusantara kerap menjadi inspirasi bagi carut marut dunia Islam selama ini. Selamat membaca! (Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 15 November 2017

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ilmu Fiqih sudah sangat populer dikalangan pesantren. Namun ilmu yang berkaitan dengan hukum Islam tersebut, pada perkembangan zaman mulai mengalami distorsi pemahaman. Seringkali Fiqih dikaitkan dengan permasalah ibadah kepada Allah belaka atau ibadallah. Padahal harus seimbang.

Demikian yang disampaikan oleh Umdah el Baroroh dalam acara Bedah Buku ‘Fiqh Sosial: Masa Depan Fiqh Indonesia’ yang berangkat dari pemikiran Fiqih Sosial KH MA Sahal Mahfudz, Kamis (24/3) di Teatrikal Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ilmu Fiqih Tak Hanya Soal Ibadah, Tetapi Juga Kehidupan Sosial

Umdah menjelaskan, manusia sebagai khalifatullah mempunyai dua makna. Manusia selain bertanggung jawab kepada Allah, ? juga bertanggung jawab terhadap kehidupan. Baik itu kemaslahatan alam maupun sosial dengan sesama manusia. "Jadi Fiqih itu tidak hanya ibadatullah, tetapi juga imarotul ard (menjaga kehidupan)," tutur Umdah penulis buku tersebut.

Muhammad shodiq, panelis bedah buku menyatakan apresiasi positif atas terbitnya buku Fiqih Sosial itu. Ia memaparkan ada empat macam hubungan antaraagama dan ilmu pengetahuan, yakni konflik, independen, dialog, dan integrasi. "Mbah Sahal sudah mencoba melengkapi apa yang tidak dipikirkan oleh ulama terdahulu. Beliau mencoba membangun dialog antaraagama dan ilmu pengetahuan," ujarnya

Ia berharap kepada Sahalian (Santri Mbah Sahal) secara khusus dan umat Islam pada umumnya untuk melanjutkan perjuangan Mbah Sahal. Mbah Sahal sudah meletakkan pondasi awal dialog agama dan ilmu pengetahuan. "Sekarang tugas kalian untuk mengintegrasikan antaraagama dan ilmu pengetahuan," ujar Dosen Fakultas Syariah sekaligus

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara yang didukung oleh Pusat Studi Pesantren dan Fiqih Sosial (Pusat Fisi), ? Keluarga Matholiul Falah (KMF) Yogyakarta serta Jurusan Muamalat Fakultas Syariah dan Hukum berlangsung meriah karena dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari berbagai Fakultas di UIN Sunan Kalijaga.

Ahmad Rodhi, Penasehat KMF menilai buku ini merupakan sebuah lompatan dalam dunia pesantren. Apalagi orang yang menuliskannya adalah perempuan. "Ini merupakan trobosan yang besar untuk mengembangkan pemikiran Fiqih Sosial Mbah Sahal," tutur pria yang juga menjabat Kaprodi Pendidikan Bahasa Arab di Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Kalijaga. (Ahmad Solkan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 14 November 2017

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Habib Muhammad Luthfy bin Hasyim bin Ali bin Yahya, ulama asal Pekalongan, mengimbau umat Islam yang akan menjalani ibadah puasa tahun 1434 H untuk menunggu keputusan pemerintah.

Hal ini perlu disampaikan agar ummat tidak bingung mana yang harus diikuti untuk memulai ibadah puasa yang merupakan bagian dari rukun Islam.

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy Imbau Umat Islam Tunggu Pemerintah

Hal tersebut disampaikan Ahmad Tubagus Surur Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan usai menghadap Habib Luthfy Selasa (2/7) di kediamannya Pekalongan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Habib Luthfy, sebagai ulil amri pemerintah tentu telah melakukan berbagai upaya untuk memberikan pelayanan terbaiknya kepada ummat, termasuk pengaturan tata cara beribadah puasa yang memang ummat memiliki banyak keterbatasan termasuk keterbatasan untuk dapat melihat awal bulan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PCNU Kota Pekalongan sendiri menurut Surur, juga telah melakukan berbagai persiapan antara lain mengumpulkan tamir masjid dan musholla se Kota Pekalongan yang berlangsung di Gedung Sholawat untuk diberi penjelasan seputar awal puasa.

Sedang kegiatan lain terkait dengan awal Romadlon, Lajnah Falakiyah akan membuka posko awal puasa di Gedung Aswaja Jalan Sriwijaya 2 Pekalongan hari Senin besok jam 17.00 - 21.00 untuk mempublikasikan hasil rukyatul hilal baik yang dilakukan oleh PCNU Kota Pekalongan, PWNU Jawa Tengah maupun oleh PBNU melalui website PCNU Kota Pekalongan di www.nubatik.net maupun melalui Radio Aswaja 107.8 FM.

Dalam penjelasan di hadapan pengurus tamir masjid dan musholla NU se Kota Pekaloan ngan, Wakil Rais PCNU Kota Pekalongan KH. Abdul Fattah Yasran mengatakan, secara teori posisi bulan tanggal 8 Juli 2013 masih di bawah ufuk dan jika ada beberapa kitab yang menerangkan sudah di atas ufuk namun posisisinya masih di bawah 2 derajat yang secara mata telanjang sulit untuk dapat dilakukan rukyat.

Atas dasar itu, menurut Kiyai Fattah, bulan Syaban dimungkinkan istikmal 30 hari dan puasa ramadlan jatuh pada hari Rabu 10 Juli 2013. Meskipun demikian, pihaknya meminta kepada ummat Islam untuk menunggu PBNU dan Pemerintah untuk kepastian awal ramadlan. 

 

Redaktur       : Syaifullah Amin

Kontributor  : Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 11 November 2017

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setiap bulan Agustus masyarakat Indonesia biasanya merayakan peringatan kemerdekaan RI dengan berbagai kegiatan. Di antara kegiatan tersebut adalah aneka perlombaan yang diperuntukan bagi anak-anak hingga masyarakat dewasa.

Mengenai kegiatan perlombaan ini, Ketua PCNU Subang meminta kepada masyarakat yang akan mengadakan kegiatan lomba pada peringatan hari kemerdekaan agar diisi dengan perlombaan yang memiliki nilai-nilai positif dan edukatif serta tetap menjaga akhlakul karimah.

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)
Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak (Sumber Gambar : Nu Online)

Lomba Agustusan Diminta Jaga Akhlak

"Di grup WA sudah beredar video lomba yang tidak senonoh antara laki-laki dan perempuan, video tersebut dikhawatirkan dijadikan sebagai inspirasi dalam membuat perlombaan pada Agustusan besok," ungkap KH Musyfiq Amrullah, Ketua PCNU Subang, Jawa Barat dalam rapat reboan di Kantor PCNU, Rabu (9/8).

Dikatakannya, sudah beredar video lomba tidak senonoh yang diikuti oleh beberapa perempuan yakni perlombaan memakan pisang di bagian tubuh lelaki, sebalikna ada video yang mempertunjukan perlombaan yang diikuti oleh para lelaki berupa lomba memecahkan balon yang ditempelkan di belakang tubuh perempuan.

"Perlombaan tersebut tidak layak dilombakan karena hanya mengundang tawa para penonton saja dan bisa merusak tatanan akhlakul karimah apalagi jika disaksikan oleh anak-anak di bawah umur, ini sudah masuk pornoaksi," papar pengasuh Pesantren Attawazun itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengasuh Pesantren Attawazun itu mengingatkan agar dalam kegiatan peringatan kemerdekaan jangan sampai melupakan jasa para pahlawan bangsa yang telah berkorban harta, jiwa dan raga demi kemerdekaan Indonesia.

"Jangan sampai lupa untuk mendoakan para pahlawan dan kita sebagai generasi penerus bangsa sebisa mungkin terus berjuang mengharumkan nama Indonesia serta melawan paham yang ingin menghancurkan NKRI ini," pungkasnya. (Aiz Luthfi/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba, Tegal, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 06 November 2017

Dampak Kehidupan Generasi Milenial

Oleh Ali Makhrus

Kata sahabat Mahbub dalam Politik Tinggkat Tinggi Kampus (2017), “Sekarang yang tadinya baru itu sudah dianggap tidak baru lagi. Perlu yang lebih baru. Segala berkembang secara dialektik”. Runtutan kata tersebut patut jadi renungan sebagai kaidah “ushul pikir” era milenal sekarang ini. Sebab, tuntutan zaman pasca rasionalitas atau positivistik ala August Comte (1798-1857), keberadaan sosial bisa diuraikan dengan mengguakan kerangka dan seperangkat ilmu alam.

Dua abad berikutnya, positivisme Si Mbah Kakung Comte telah mendapat kritik tajam akibat ‘pengangkaan” atas realitas sosial. Kritik tersebut kemudian dikenal dalam jagad filsafat dengan pos positifistik. Para pendekar sosiologi beberapa tokohnya ialah Karl Propper (1902-1994), Thomas Kuns (1922-1996)  dan para filsuf madzhab frankfurt (1923-hingga sekarang).

Dampak Kehidupan Generasi Milenial (Sumber Gambar : Nu Online)
Dampak Kehidupan Generasi Milenial (Sumber Gambar : Nu Online)

Dampak Kehidupan Generasi Milenial

Dengan kata lain, manusia tidak cukup digambarkan dengan narasi dan angka-angka dan akan terus bergerak dan berubah baik cara maupun perangkat untuk mengenalinya. Dan akan selalu ada misteri, seperti kata, “Proses perkembangan manusia yang terus melaju sudah barang tentu ikut merubah cara pandang kita terhadap ciptaan Tuhan yang paling baik ini" (Surat at-Thin Ayat 4). Dalam hal ini, bisa kita belajar konsep kekinian mengenai manusia abad internet. Sudah bukan barang baru lagi, bahwa pada tahun 2017 kita semakin populer dengan masyarakat millenial.

Potret tersebut bisa kita rujuk berdasar hasil penelitian Boston Consulting Consulting Group (BCG) kerja sama Unversity Of Berkeley 2011 dengan tema “American Millenial: Deciphering the Enigma Generation” serta penelitian pada tahun 2010 Pew Research Center dengan judul “Millenials : A Potrait Of Generation Net”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam paper tersebut dikatakan generasi milenial memiliki karakter kunci, yakni: technology reliant (percaya teknologi), image driven (jaga image), multitasking (serba bisa), open to change (terbuka pada perubahan), confident (percaya diri), team-oriented (tujuan tim), information rich (kaya informasi), impatient (tidak sabaran), dan adaptable (mudah beradaptasi).

Lebih jelas lagi, seperti keterangan student.cnnindonesia.com, merinci: pertama millenial lebih percaya user generated content/konten dan informasi yang dibuat oleh perseorangan, kedua lebih memilih ponsel atau gadget dari pada televisi, ketiga wajib memiliki media sosial, keempat kurang suka membaca secara konvensional, kelima lebih tahu teknologi daripada generasi orang tua mereka, keenam cenderung tidak loyal namun efektif, ketujuh lebih suka transaksi dengan cashless.

Dalam hemat penulis, beberapa karakter tersebut di atas mempertegas akan betapa internet telah menjadi satu media terpercaya dan bisa diandalkan dalam memenuhi kebutuhan manusia: ekonomi, politik, agama dan sebagainya. Dan dari sini, perlu mendapatkan legitimasi moral agama dalam rangka membimbing manusia menuju tujuan sebenarnya dalam menjalani kehidupan.

Dengan ringkas ingin penulis sampaikan, bahwa generasi millenial atau generasi Y inilah terbaru dan paling mutakhir tentang teori manusia di millenium kali ini. Dasar ini dilatarbelakangi oleh faktor bonus kelahiran atau demografis yang ditandai sejak tahun 1977 sampai 2000. Diperkirakan sekarang, manusia ini rata-rata telah berusia 20 sampai 40 tahun. Konsep manusia ini menjadi penting karena berdampak luas dalam berbagai bidang kehidupan, termasuk politik kepemimpinan dan ideologisasi. Apakah Indonesa juga memiliki kecenderungan yang sama sebagaimana Amerika?

Menurut riset yang dikeluarkan oleh Alvara Research Center dengan judul “The Urban Middle-Class Millenials Indonesia: Financial and Online Behavior” Feburari 2017, apa yang menggejala di Indonesia tidak jauh beda dengan apa yang menggejala di Amerika. Bahkan, Alvara memprediksi pada tahun 2020 jumlah populasinya mencapai angka 35 juta jiwa atau 13 persen dari jumlah total penduduk. Bahkan angka tersebut terus merangkak naik hingga 70 persen pada tahun 2030 atau kira-kira setara 175-180 Juta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai publik figur, Jokowi, hemat penulis, ialah sosok pemimpin representatif mewakili kesesuaian dengan zaman lari cepat ini. Kejelian beliau dengan latar belakang sebagai tukang, tak membuatnya gagap dengan gaya hidup masyarakat internet. Perkembangan berbagai aplikasi modern tak luput dari lirikan beliau sebagai panutan dan figur publik.

Pesan-pesan beliau menjangkau kalangan muda millenial, yang menurut BPS, 50 persen generasi penduduk produktif berasal dari millenial. Di saat yang bersamaan, tantangan berbagai seliweran hoaks bukanlah perkara sederhana. Untung saja, Jokowi terbiasa bergaul dan bercengkrama dengan anak-anaknya.

Usaha Jokowi menyelami massa millenial patut kita hargai sebagai bentuk pendekatan diri yang adaptable kepada generasi penerus ini. Apa dilakukan Jokowi kita harapkan terus terjadi peningkatan dari orang-orang berpengaruh agar terjadi kesesimbangan informasi di tengah peperangan cyber atau proxy war dalam dunia milter. Berdasar hasil penelitian di atas, karakter ketokohan jadi faktor yang memiliki tingkat pengaruh yang lebih tinggi.

Kita juga tidak boleh lupa, para ideologi kaum ekstrimis dan kontra Pancasila dan NKRI pun juga tak kalah piawai dalam memainkan jejaring media sosial. Hal tentu saja mempengaruhi pranata dan media ideologisasi yang berkembang akhir-akhir ini. Mereka sudah lebih terbuka dengan perangkat-perangkat millenial sebagai nuklir menghancurkan yang tidak sepaham dengan mereka.

Menurut Tim Cyber LTN PBNU dalam rilis tahun 2016 menjelaskan, ada sekitar 208 situs yang mengatasnamakan Islam dengan memanfaatkan dunia siber. Propaganda terus mereka perkuat dan perlebar hingga menjangkau kalangan-kalangan milenial. Dan kirannya, angka ini juga akan terus bertambah seiring waktu. Sementara, perkembangan-perkembangan konsumsi masyarakat kepada internet sudah seperti kebutuhan makan.

Penulis teringat, akan kaidah fikih ? ? ? ? yang artinya “perantara atau media baginya berlaku pula hukum sebagaimana tujuanya”. Keutuhan dan kerukunan merupakan bingkai yang hendak dibentuk demi menggapai kerahmatan dan keadilan bagi semesta alam.

Ideologi dan kepemimpinan merupakan wasilah lain dalam menghantarkan pesan-pesan bagi kebaikan bagi warga masyarakat. Jangan persepsi dasar tentang ‘wasilah’ berubah menjadi tujuan (ghoyah). Dan pada akhirnya, menutup kesempatan dalam memperoleh pencerahan menuju kebenaran. Kaidah beragama menuntun, ? ? ? ? ? ? ?: “menjaga lama yang baik, mengambil terbaru yang lebih baik”. Wallahu a’lam bis showab.

Penulis adalah Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 29 Oktober 2017

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bank Sulselbar tertarik melengkapi infrastruktur salah satu perguruan tinggi NU, Universitas Islam Makassar (UIM). Perhatian serius itu dibuktikan dengan kunjungan Direktur Umum Bank Sulselbar Ambo Syamsuddin ke Rektor UIM Dr. Ir. Hj. Majdah Agus Arifin Nu’mang, Selasa (16/12) kemarin.

Kunjungan itu dimaksudkan untuk mendapatkan gambaran konkret kemajuan yang telah dicapai universitas yang dipimpin istri Wagub Sulsel itu, terutama dari segi sarana dan prasarana. Setelah di terima di ruang kerja, Ambo Syamsuddin bersama Majdah didampingi Pembantu Rektor II Ir. Saripuddin Muddin meninjau langsung ke Auditorium KH Muhyiddin Zain yang tengah dalam tahap penyelesaian akhir. Auditorium itu akan menampung sekitarb 4000 undangan dilengkapi dengan panggung berukuran besar dan balkon di bagian belakang.

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

Bank Sulselbar Akan Lengkapi Infrastruktur Universitas Islam Makassar

Menurut Ambo Syamsuddin, pihaknya memang menaruh perhatian besar kepada UIM karena telah mengalami perkembangan yang begitu pesat setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Selain telah terbangun 11 gedung perkuliahan dan fasilitas lainnya yang cukup megah, juga perkembangan mahasiswanya telah mencapai 6.000 orang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk lengkah awal, pada tahun 2015 nanti Bank Sulselbar sudah menyiapkan bantuan khusus untuk melengkapi sarana dan prasarana yang dibutuhkan gedung auditorium. Gedung ini perlu kita dukung sepenuhnya karena dapat difungsikan secara produktif, baik oleh mahasiswa maupun masyarakat di daerah ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami terpanggil memberi bantuan nyata karena memang pengelolaan UIM semakin mapan di tangan ibu Rektor. Pembangunan fisiknya saja sudah tampak jauh dari bebrapa tahun lalu yang masih kelihatan dipenuhi pada rumput. Sekarang sudah dipenuhi gedung bertingkat,” tandasnya. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Sejarah, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 September 2017

Peringati Haul, Santri Pondok Tremas Baca Manaqib Pendiri

Pacitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Para santri Perguruan Islam Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur, memperingati haul akbar pendiri pertama, KH Abdul Manan Dipomenggolo, di antaranya dengan berziarah dan membaca manaqib. Pembacaan manaqib berlangsung khidmat di area pemakaman masyayikh Desa Semanten Pacitan, Selasa (26/08) sore.

Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan KH Luqman Harist Dimyathi saat memimpin pembacaan manaqib mengatakan, mengunjungi makam para wali atau kiai merupakan cara untuk mendeatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini adalah bagian dari tuntunan agama dan jauh dari perbuatan syirik.

Peringati Haul, Santri Pondok Tremas Baca Manaqib Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Haul, Santri Pondok Tremas Baca Manaqib Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Haul, Santri Pondok Tremas Baca Manaqib Pendiri

“Sebagai wujud rasa takdzim para santri kepada pada para masayikh yang telah wafat salah satunya dengan mendoakan dan menziarahi makamnya,” tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para ulama, lanjutnya, memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika berziarah. “Jangan sekali-kali meminta di dalam kuburan tapi mintalah kepada allah SWT melalui wasilah orang yang dikubur itu, mudah mudahan bisa dipahami,” terang kiai yang akrab disapa Gus Luqman ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain pembacaan manaqib, peringatan haul juga diisi dengan pembacaan tahlil yang dipimpin KH. Rotal Amin. Sedangkan pembacaan doa secara bergantian dibacakan sejumlah kiai antara lain KH Umar Syahid, KH. Fuad Habib, KH Burhanuddin, KH Hammad Harist, KH Asif Hasyim, dan KH Achid Turmudzi dan KH.Hamid.

Peringatan haul dihadiri oleh ribuan peziarah yang terdiri dari alim ulama, tokoh masyarakat, alumni dan para santri. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 13 Agustus 2017

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Buku baru berjudul "KH Sholeh Darat Al Samarani, Maha Guru Ulama Nusantara" karya Amirul Ulum dibedah oleh peneliti Balai Litbang Agama Kemenag Semarang Samidi Khalim di kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Rabu (19/10). Bedah buku ini merupakan rangkaian peringatan hari santri PCNU Kota Semarang yang bekerja sama dengan PKPI2 Unwahas.

"Kami ikut berbangga hati, kampus Unwahas dijadikan tuan rumah bedah buku Mbah Sholeh Darat. Semoga ada berkah untuk kampus," tegas Rektor Unwahas Mudzakir Ali.

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat

"Unwahas berdiri tahun 1999 dengan wasilah makam mbah Sholeh selama 40 hari sesuai nasehat KH. Abdurrahman Wahid," tambah H. Mudzakir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mbah Sholeh merupakan ulama lintas aliran yang melahirkan murid-murid yang menjadi tokoh agama dan berjiwa nasionalis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Buku ini adalah hadiah hari santri dan sekaligus menguatkan posisi Mbah Sholeh Darat sebagai ulama internasional," kata penulis buku, Amirul Ulum.

Banyak ajaran-ajaran Mbah Sholeh Darat yang hingga sekarang dijalani masyarakat. Kitab-kitab yang dikaryakannya juga masih dijadikan rujukan di pondok pesantren dan madrasah. "Ini menunjukkan bahwa berkah Mbah Sholeh Darat sangat abadi dan masih bisa dinikmati kata Ulum. Banyak murid-murid Mbah Sholeh yang menjadi tokoh nasional, lanjutnya, semacam RA Kartini, KH Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

"Buku karya Mas Ulum ini patut menjadi rujukan kajian biografi ulama Nusantara," kata Samidi. Masih banyak orang yang belum mengenal biografi Mbah Sholeh Darat. Sehingga, kehadiran buku ini mampu melengkapi karya-karya sebelumnya yang membahas Mbah Sholeh dari berbagai sudut keilmuan.

Keluarga besar Mbah Sholeh Darat pun menyambut baik hadirnya buku baru ini. "Semakin banyak orang yang mengkaji Mbah Sholeh menandakan ilmu beliau masih membekas untuk umat," kata Agus Taufiq, buyut Mbah Sholeh Darat. Di sisi lain, dzuriyah Mbah Sholeh Darat berharap kepada PCNU Kota Semarang menjadi penggerak ajaran Mbah Sholeh Darat. "Kita harap ke depan, PCNU Kota Semarang mampu menjadi garda depan penyebar ajaran Mbah Sholeh Darat," tegas Agus Tiyanto yang juga dzuriyah Mbah Sholeh. (Zulfa/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, AlaNu, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 10 Juli 2017

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Tanpa harus menunggu instruksi RW atau RT, warga NU sudah mengerti dari sononya untuk menyediakan aneka penganan dan makanan untuk dihidangkan dalam perayaan maulid Nabi Muhamad SAW.

Penganan maupun makanan yang tidak setiap hari tergeletak di meja sarapan pagi, bisa keluar begitu saja di perayaan maulid sebagai berkat. Penganan basah maupun kering khas di lingkungan masing-masing, mengobati kerinduan mereka pada makanan-makanan langka tersebut.

Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Penganan siap lahap antara lain adalah kue pisang, ketimus, gemblong, dodol, uli, ketan, lemper, dan lainnya. Kecuali itu, perayaan maulid juga dihadiri aneka buah-buahan baik yang panen musim setahun sekali atau lebih.

Dalam menyajikan hidangan maulid, warga NU sekenanya saja mengemas berkat. Kemasan yang dipakai berupa daun pisang, plastik, kertas nasi, hingga daun jati. Ada juga yang menggabungkan antara plastik dan daun pisang. Bahkan, ada pula yang membungkus makanan dalam keranjang dari anyaman bambu. Itu sah saja ditinjau dari hukum agama maupun hukum positif.

Isi berkat tentu saja bukan urusan kiai apalagi jajaran perangkat desa. Isi berkat ditentukan oleh individu masyarakat sendiri. Nasi boleh sama. Perkara lauknya, itu putusan yang tidak akan pernah bulat hingga hari Kiamat. Lauk berkat boleh daging kerbau, sapi, ikan bandeng, ikan emas, ikan mujahir, ayam atau telurnya.

Boleh jadi daging itu dimasak model goreng, semur, rendang, atau dendeng. Untuk ayam, ada kekhususan sedikit selain aneka model di atas. Warga NU juga kerap menyajikannya dalam bentuk opor atau dimasak banjir kecap. Yang pasti, nasi itu tidak dibiarkan sendirian. Akan terlihat janggal kalau nasi putih sendirian mendekam di dalam berkat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ini pelajaran awal yang baik buat para remaja perihal hak yang nilainya melebihi harga sepuluh kilo daging. Aneka warna penganan dan lauk meramaikan perayaan maulid tanpa ada pembatasan atau pengawasan dari institusi apapun. Penganan yang terlalu manis atau asin juga tidak membuat mereka cerewet seperti pengunjung restoran.

Berkat maulid berupa penganan masuk tidak hanya ke dalam rongga tubuh mereka. Berkat juga bisa masuk ke alam pikiran mereka. Bayangkan, kehadiran beragam makanan membuat kanak-kanak yang belum mengerti dunia kegirangan. Meskipun pasti kebagian, kanak-kanak berebutan menjambret makanan dari tangan panitia.

Kanak-kanak seperti kesetanan. Kalau keadaan sudah demikian, imbauan tertib panitia takkan diindahkan. Mereka hanya mengerti berebut. Titik. Tetapi, melihat kekisruhan kecil itu, orang dewasa hanya tertawa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berkat Gaya Muslimat NU Depok

Dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhamad SAW. pada 1434 H yang bertepatan pada tahun 2013, pengurus Muslimat NU Depok tidak mau tertinggal kaum Nahdliyin. Mereka mengumpulkan paling sedikit dua ribu kadernya di Masjid Dian Al-Mahri yang masyhur dikenal ‘Masjid Kubah Emas’, jalan Meruyung, Kecamatan Limo Depok, Senin (28/1) pagi.

Hanya saja perayaan maulid tahun ini meleset jauh makanan dan penganan di atas. Mereka terima undangan dari majelis taklim, lalu datang hanya membawa diri tanpa makanan apapun. Karena, berkat sudah disediakan panitia maulid. Hal ini dipandang ringan saja oleh para hadirin.

Pulang mendengarkan sifat luhur Nabi Muhamad SAW, kaum ibu Muslimat NU Depok hanya menenteng kepalan-kepalan garam mentah. Tak ada semur kerbau, opor ayam, pecak bandeng, atau keributan kanak-kanak berebut berkat.

Bagi umat Islam pengamal setia maulid atau penentangnya, berkat berupa garam mentah tidak lazim sama sekali. Sesuatu di luar kelaziman akan mendatangkan guncangan di tengah masyarakat. Setuju dengan model berkat demikian? Silakan. Tidak setuju? Anggap saja angin lalu.

Yang masih menggantung, apa maksudnya pengurus Muslimat NU Depok membekali garam mentah sebagai berkat? Apa karena kaum ibu dinilai lebih akrab dengan cobek? Mungkin boleh jadi kaum ibu dinilai lebih mandiri dalam mengolah makanan yang senantiasa bercengkerama dengan garam?

Pengurus Muslimat NU Depok mungkin hanya ingin mengingatkan bahwa garam merupakan satu kebutuhan dasar bagi manusia. Tanpa garam, orang bisa diserbu penyakit gondok. Tak ada garam, kelezatan masakan pun berkurang drastis seperti benda jatuh dari lantai lima langsung menuju lubang sumur.

Boleh jadi berkat berisi garam mentah merupakan cara kaum ibu NU membela nasib petani garam Indonesia yang terhuyung-huyung akibat kebijakan impor garam oleh pemerintah setahun terakhir.

Berkat garam Muslimat NU Depok boleh jadi merupakan kelanjutan dari kongres Asosiasi Petani Garam Nusantara, Aspegnu 11-12 Juli 2012 di Madura atas pelbagai soal terkait garam nasional. Bagi-bagi garam merupakan partisipasi Muslimat NU agar petani garam dalam negeri tidak menjadi “Anak itik mati di lumbung padi” atau alih profesi menjadi importir garam.

Sadar akan kepentingan umum, Muslimat NU Depok sanggup mengurungkan niat untuk berdemonstrasi yang akan menimbulkan kebisingan selain kemacetan. Dalam hal ini, kaum ibu Muslimat NU tidak mau gegabah menyikapi masalah garam nasional. Karena, salah-salah ambil sikap dapat merumitkan persoalan yang sebenarnya mudah.

Karena itu, mereka berinisiatif untuk memilih bentuk berkat maulid tahun ini dengan garam mentah dalam arti harfiah. Artinya, berkat itu benar-benar garam mentah yang dibawa pulang oleh 2000 kader Muslimat NU Depok. Mereka akan bercerita berkat pada suami, anak, dan anak menantu mereka. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 16 Juni 2017

Nyolong Ikan Allah

Di dunia ini masih saja tumbuh orang-orang yang hanya berpikiran harfiah, melulu melihat teks, tanpa melihat konteksnya. 

Suatu kali orang macam begini masuk ke sebuah pesantren. Ia pun nyolong ikan paling besar dari kolam di pesantren itu.

“Orang masuk pesantren nyumbang semen nyumbang apa. Kamu malah nyolong ikan,” kata Kiai.

Nyolong Ikan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)
Nyolong Ikan Allah (Sumber Gambar : Nu Online)

Nyolong Ikan Allah

“Mohon maaf Kiai, ini ikan siapa?” tanya orang tersebut.

Tentu dijawab oleh kiai, “Ikan saya.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan tenangnya, orang itu menjawab bahwa segala yang ada di bumi dan langit itu milik Allah dengan mengutip Al-Quran Surat al-Baqarah ayat 284, lillâhi mâ fis samâwati wa mâ fil ardl.

Kiai diam. Tidak menyanggah pernyataan orang tersebut. “Iya, saya tahu itu milik Allah. Tapi ya, jangan yang gede juga," batin Kiai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Orang itu pun berlalu. Belum jauh, Kiai mengambil batu dan melemparkannya ke orang tersebut.

“Pletak,” batu itu mengenai kepalanya.

Ia pun mengelus-elus kepalanya. Lalu bergegas kembali dengan langkah cepat.

“Kenapa Kiai? Gak setuju nih ikan Allah saya ambil?” tanyanya.

“Setuju. Silakan kamu ambil.”

Orang tersebut meminta alasan kenapa Kiai melemparnya dengan batu. Tapi Kiai membantah. Ia merasa tidak melempar.

“Saya nggak melempar kok,” tegasnya.

“Di sini tidak ada orang lagi, kecuali kita berdua, kiai,” sanggahnya.

“Baca Qurannya, Surat al-Anfal ayat 17, wa mâ ramita idz ramaita wa lâkinna Allâha ramâ. Dan engkau tidak melempar saat engkau melempar kecuali Allah yang melemparnya,” katanya. (Syakir NF)

*Diceritakan oleh Ketua LDNU KH Maman Imanul Haq saat mengisi Rapimnas IPNU di Bandung, Minggu (19/11). 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah