Rabu, 17 Desember 2008

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Masalah persatuan dalam kebhinekaan mengemuka dalam diskusi kebangsaan yang diadakan Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) di Lantai Lima Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/10) siang. Masalah ini diperbincangkan dengan hangat oleh para pemuda dari pelbagai latar belakang organisasi pelajar dan mahasiswa.

Sejumlah narasumber dari PMII, IPNU, PMKRI, GMNI, GMKI, dan Ketua FKUB Jati Asih Bekasi membawa menyampaikan pandangannya perihal semangat persatuan yang digelorakan para pemuda di tahun 1928. Mereka tampak menguasai sejarah dan semangat para pemuda Indonesia dengan membandingkannya dengan situasi disharmoni yang kerap hadir menjelang pilkada di sejumlah daerah di Indonesia.

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda

Direktur Eksekutif LKSB Abdul Ghopur menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang berkenan hadir untuk membincangkan situasi sosial terkini di sejumlah daerah di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alhamdulillah sekarang kita masih bersatu dalam bingkai kebangsaan meskipun belakangan pilkada di beberapa daerah membawa pada ketegangan-ketegangan sosial,” kata Ghopur mengawali diskusi yang dihadiri sedikitnya 25 pemuda dari pelbagai latar belakang gerakan pelajar dan kemahasiswaan.

Ia masih berharap penuh pada para pemuda yang memiliki semangat kebangsaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita semua sebagai pemuda memiliki tanggung jawab sejarah untuk mengembalikan kondisi ini ke dalam apa yang dicita-citakan para pemuda pendiri bangsa kita,” kata Ghopur.

Sementara Ketua Umum PMKRI Angelo menyampaikan bahwa butir-butir Pancasila dan semangat persatuan para pemuda pergerakan bangsa dahulu merupakan pengembaraan pemikiran dan penggalian nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia yang didasarkan pada kerukunan masyarakat.

Sedangkan Ketua Umum GMNI Crisman menyayangkan sejumlah orang yang melanggar norma-norma semangat persatuan para pendiri bangsa. “Tidak sedikit perilaku anak bangsa hari ini bertolak belakang dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan, persatuan, demokrasi Indonesia, keadilan, ketuhanan, dan kerakyatan.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Peringatan haul ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Yogyakarta berlangsung meriah, Senin (16/12). Hadir dalam acara bertema “Napak Tilas Perjalanan Gus Dur dalam Merawat Kebhinnekaan” ini warga dari berbagai komunitas dan pemeluk agama.

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama

Rangkaian perhelatan haul dimulai sejak pukul 15.00 WIB dengan melakukan kirab budaya dari gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta menuju Monumen Serangan Umum 1 Maret. Aneka pertunjukkan seperti barongsai, Bregodo Mataram, dan ketoprak turut meramaikan acara.

Dalam acara yang dihadiri komunitas difabel ini merupakan, istri Gus Dur, Ny Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mengatakan, semakin banyaknya orang yang meneruskan perjuangan Gus Dur membuat presiden ke-4 ini terus serasa di tengah-tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Gus Dur itu adalah oase yang menjadi sumber mata air bagi kehidupan. Kita semua punya tugas penting untuk menjaga sumber ini, agar selalu mengalir dan memebrikan kehidupan bagi manusia,” ujarnya.

Menurut Shinta Nuriyah, Gus Dur adalah orang yang selalu siap pasang badan ketika ada ketidakadilan. “Banyak orang yang secara lantang meneriakkan ketidakadilan, namun tidak ada yang berani pasang badan,” lanjutnya. (Muyassaroh Hafidzoh/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 11 Desember 2008

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi

Lviv, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bersama dengan ratusan Muslim Tatar yang ketakutan, Ismail Ayubov memutuskan untuk meninggalkan rumahnya di Crimea bersama dengan istri dan dua orang anaknya, mengingat ketidakpastian masa depan setelah aneksasi oleh Rusia.

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi

“Situasi bisa sangat berbahaya bagi Muslim di Rusia,” kata Ayubov kepada situs World Crunch, Selasa (13/5).

“Saya takut dengan milisi bersenjata,” tambah seorang laki-laki, Enver Mohammed.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terdapat sekitar 300 ribu minoritas Muslim di Krimea, yang mewakili kurang dari 15 persen populasi yang berjumlah 2 juta, yang menentang aneksasi Rusia ke wilayah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rusia melakukan aneksasi setelah referendum yang dilakukan di awal Maret, dengan hasil keputusan 96 persen masyarakat setuju bergabung dengan Rusia. Komunitas Tatar memboikot referendum tersebut yang menolak penyelenggaraan referendum dibawah todongan senjata serdadu Rusia.

Setelah aneksasi Rusia, ketakutan Muslim Tatar meningkat atas kemungkinan hilangnya kebebasan dan ingatan akan pengusiran dan tuntutan yang mereka hadapi pada 1944.

Selain itu, pemerintahan sementara Krimea menolak pemimpin Muslim Tatar, Mustafa Dzhemilev, ketua majelis Tatar, selama lima tahun atas kritik yang dilakukan terhadap Rusia, menjadi tambahan perhatian bagi kalangan Muslim.

Jaksa Agung Krimea, Natalia Poklonska mengancam akan membubarkan majelis dan mengajukan tuntutan kriminal atas para demonstran.

Menghadapi masa depan yang tidak pasti, ratusan orang Tatar meninggalkan rumah mereka menuju wilayah barat Ukraina di kota Lviv.

“Banyak yang tidak ingin meninggalkan kehidupan mereka di belakang,” kata Muhammad, 28 tahun. 

“Referendum ini adalah lelucon,” tambahnya.

Kehidupan baru

Setelah pergi dari kampung halaman, orang-orang Tatar tersebut membentuk kelompok-kelompok untuk mendukung para pendatang baru di Lviv.

“Rusia mungkin ingin melindungi minoritas, tetapi mereka hanya berpura-pura,” kata Alim Aliev, pemuda 25 tahun yang sudah tinggal di Lviv selama lima tahun dan saat ini memberi dukungan pada para pengungsi Tatar.

Bersama dengan 60 aktifis lainnya, dia membantu mencarikan tempat tinggal, mengumpulkan uang dan membantu mengisi formulir yang diperlukan.

Mereka tidak hanya membantu pengungsi Muslim. Ketika milisi merebut ibukota Krimea Simferopol, mereka membuat halaman Facebook SOS Krimea.

Suku Tatar yang telah mendiami Krimea selama berabad-abad diusir dari tempat tinggalnya oleh Stalin pada Mei 1944, yang menuduh mereka berkolaborasi dengan Nazi.

Populasi keseluruhan Tatar, lebih dari 200 ribu orang, dipindahkan dalam kondisi mengenaskan ribuah mil ke Uzbekistan dan lokasi-lokasi lainnya, banyak yang meninggal di perjalanan atau setelah tiba di lokasi baru.

Uni Soviet menyita rumah mereka, menghancurkan rumah mereka dan mengubahnya menjadi gudang, satu dirubah menjadi museum atheisme.

Sampai masa munculnya perestroika pada akhir 1980-an, sebagian besar orang Tatar baru diizinkan kembali, dan migrasi terus berlanjut setelah Ukraina menjadi merdeka setelah keruntuhan Soviet pada 1991.

Menghidupkan kembali pengalaman pengasingan yang sama, kondisi masih sulit bagi banyak Muslim Tatar untuk membuat kehidupan baru di Lviv.

Sebagai warga negara Ukraina, orang Tatar tidak diperlakukan sebagai pengungsi menurut ketentuan konvensi Jenewa.

Untuk memenuhi kehidupan, orang Tatar Krimea membuka kios dan toko, kata Aliev.

“Satu keluarga bahkan menjalankan bisnis kafe di pusat kota,” tambahnya.

Ketiadaan masjid di Lviv menjadi problem tersendiri bagi para pendatang baru tersebut, berdoa agar bisa kembali ke rumah mereka dibawah hukum Ukraina. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 12 Oktober 2008

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW

Kuala Lumpur, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pusat  Fatayat NU memberikan orientasi kepada pengurus PCI Fatayat NU Malaysia, Senin (25/9). Orientasi bertujuan  menyemangati para pengurus PCI Fatayat NU Malaysia yang dilantik sehari sebelumnya.

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Malaysia Berkomitmen Beri Solusi Permasalahan TKW

“Organisasi Fatayat NU harus mampu menjawab kebutuhan dan kepentingan para kader perempuan NU di Malaysia,” ujar Sekretaris Umum PP Fatayat NU, Margareth Aliyatul Maimunah.

Ketua Bidang Keorganisasian PP Fatayat NU, Nadhifa mengungkapkan banyaknya jumlah tenaga kerja wanita (TKW) di Malaysia. “Di antara mereka banyak yang terlibat permasalahan hukum,” tambahnya.

Perempuan yang juga staff ahli Mentri Ketenagakerjaan ini juga mengungkapkan dengan berbagai masalah yang dialami TKW di Malaysia, PCI Fatayat Malaysia harus dapat membantu para TKW tersebut dalam advokasi hukum.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Ketua PCI Fatayat NU Malaysia Kiki Rizki Makiya, menyampaikan tugas dan tantangan Fatayat semakin berat.

“Tetapi yang paling penting adalah tidak boleh keluar dari ideologi kita, yaitu ahlussunah wal jamaah,” ujarnya.

Pelantikan PCI Fatayat NU Malaysia mengambil moto Jadilah orang yang tangguh dan mampu struggle. Kiki menegaskan, dengan moto itu  tidak ada kalimat menyerah dan buntu dalam menyampaikan amanah. (Uswah/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 22 Agustus 2008

GP Ansor Pilih Bergerak Memberi Manfaat daripada Nyinyir di Medsos

Denpasar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 



Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor mengapresiasi seluruh pimpinan wilayah, cabang hingga ranting yang terus menunjukan komitmen kemanusiaan. Satu di antaranya, membantu pengungsi Gunung Agung di Provinsi Bali.

GP Ansor Pilih Bergerak Memberi Manfaat daripada Nyinyir di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pilih Bergerak Memberi Manfaat daripada Nyinyir di Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pilih Bergerak Memberi Manfaat daripada Nyinyir di Medsos

Hal tersebut sebagai penegasan bahwa pemuda Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia lebih memilih bergerak daripada pandai unjuk celoteh atau nyinyir di media sosial tanpa memberi kontribusi bagi negara, kemanusiaan dan agama.

"Pimpinan Pusat Pemuda Ansor kemarin (Selasa, 10 Oktober 2017) menyalurkan bantuan bagi saudara-saudara kita yang sedang dalam pengungsian," ujar Wakil Ketua Umum PP GP Ansor H Alfa Isnaeni, di Denpasar, Rabu (11/10).

Kasatkornas Banser itu melanjutkan, bantuan disalurkan lebih dari Rp50 juta. Meliputi kebutuhan konsumsi untuk orang dewasa hingga balita senilai Rp25 juta. Kemudian Rp25 juta untuk kebutuhan sarana air bersih.

Bantuan lain disalurkan ialah masker. Termasuk bantuan operasional bagi Banser yang tengah melakukan tugas kemanusiaan bagi sekitar 660 pengungsi Gunung Agung, di Desa Buitan Kecamatan Manggis, Kabupaten Karang Asem.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sumbangan dari Ketua Umum PP GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas itu disampaikan Kasatkornas didampingi Kepala Satuan Unit Khusus  Nasional Banser Husada (Basada) Yunianto Wahyudi dan Kepala Satuan Unit Khusus Nasional Banser Tanggap Bencana (Bagana) Chabibullah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami juga melakukan koordinasi dengan Posko Induk di PWNU Bali. Lalu melanjutkan silaturahim dengan para pengungsi di Posko yang dibuat jajaran PC Ansor dan Satkorcab Banser Karangasem di Masjid Al Hikmah," kata Alfa lagi.

Kehadiran jajaran Satkornas ke lokasi pengungsian didampingi Ketua PW Ansor Bali Amron Sudarmanto dan Kasatkorwil Banser Suraji. Di lokasi pengungsian itu, mereka disambut jajaran PCNU, PC Ansor dan Satkorcab Banser Karangasem.

"Pimpinan Pusat Pemuda Ansor dan Satkornas Banser mengapresiasi respon dilakukan kader di Karangasem yang melakukan pendampingan dalam bentuk terapi psikologi. Pengajaran keagamaan serta melibatkan langsung para pengungsi untuk pengelolaan dapur umum," papar Kasatkornas.

Jika status Gunung Agung sudah kembali dalam kondisi normal, maka ujar Chabibullah menambahkan, perlu adanya peningkatan kapasitas Banser dalam penanganan kebencanaan. Rencana itu disambut baik sehingga akan digelar Diklatsus Khusus Bagana. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 18 Juli 2008

Keluarga NU Tunisia Gelar Orientasi Kader

Tunis, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Keluarga Nahdlatul Ulama (KNU) Tunisia memulai kegiatan orientasi bagi para anggota, Sabtu (21/11) kemarin di Tunis. Kegiatan akan berlanjut dalam beberapa sesi selama bulan Nopember-Desember 2014.

Keluarga NU Tunisia Gelar Orientasi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga NU Tunisia Gelar Orientasi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga NU Tunisia Gelar Orientasi Kader

Kegiatan yang dilakukan dalam rangka memperkuat pemahaman anggota tentang ke-NU-an dan ke-aswaja-anini diikuti oleh 35 orang mahasiswa warga NU. Pada Sabtu kemarin, Dr KH Fuad Tohari (Wakil Ketua LBM PBNU) dan Dr. Ahmad Kholil Yasir (Dosen STAIN Kediri) memberikan orientasi sesi pertama. ?

Mengawali pemaparannya, KH Fuad menjelaskan latar belakang sejarah pendirian NU, serta berbagai problematika yang mewarnai perjalanan jamiyyah ini hingga era reformasi. Kemudian, disampaikan pula tantangan-tantangan yang dihadapi jamiyyah NU pada era modern ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurutnya, tantangan berasal dari luar NU, terutama adanya ekspansi ideologi dan gerakan transnasional yang merasuki masyarakat nahdliyin di tanah air.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Para mahasiswa yang belajar di luar negeri, seharusnya lebih memahami dan mampu mewaspadai gerarakan-gerakan transnasional ini", kata Kyai Fuad.

Sedangkan tantangan yang bersifat internal adalah persoalan-persoalan keumatan seperti kemiskinan dan rendahnya tingkat pendidikan umat. "Itu semua adalah PR besar bagi warga NU, termasuk para mahasiswa yang sedang menimba ilmu di luar negeri", tutur KH Fuad yang juga dosen UIN Jakarta ini.

Karena itu, lanjut Fuad, para kader muda NU harus menyiapkan diri agar saatnya nanti siap melanjutkan estafet kepemimpinan yang akan diwariskan para ulama generasi sekarang.

Sedangkan Dr Kholil mendorong para kader NU di Tunisia untuk mengoptimalkan perannya melalui jamiyyah Nahdlatul Ulama. "Pengalaman berorganisasi selama masa kuliah adalah modal besar bagi terciptanya para pemimpin handal di masa yang akan datang", tutur Kholil.

Pada acara sambutan pendahuluan, ketua Keluarga Nahdlatul Ulama (KNU) Dede Ahmad Permana menjelaskan, KNU Tunisia didirikan sebagai wadah silaturahmi warga nahdliyin di Tunis, sekaligus sebagai rintisan pendirian PCINU Tunisia. "Pembenahan internal dan kelengkapan organsasi telah dilakukan secara bertahap, sambil mengurus pengajuan SK ke PBNU," tutur mahasiwa S3 Universitas Zitouna ini.

Di Tunisia, saat ini terdapat sekitar 150 WNI, termasuk di dalamnya 70 mahasiswa yang sedang menimba ilmu di sejumlah lembaga pendidikan, seperti Universitas Zitouna, Universitas Tunis dan Universitas Manouba. Mereka berasal dari berbagai daerah di tanah air dan rata-rata lulusan pesantren.

Potensi itu dapat dioptimalkan dalam rangka transformasi wacana-wacana keislaman anara Tunisia dan Indonesia, mengingat umat Islam Tunisia yang berakidah Ahlussunnah dan bermazhab Fiqh Maliki, dikenal sangat moderat dan toleran. Hal ini sejalan dengan karakter umum umat Islam Indonesia dan sebagaimana prinsip tawassuth, tawazun dan tasamuh yang diusung oleh jamiyyah NU.? (Madid-Muntaha-Dede/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 24 Juni 2008

Libatkan Cabang, PMII Jatim Gelar Dialog Kebangsaan

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Koordinator Cabang PMII Jawa Timur, menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk "Merangkai Kerukunan di Tengah Keberagaman," Sabtu (20/6). Kepala Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur Boedi Soepratikno, Sekretaris Umum KNPI Jawa Timur H Muslich Hasyim, dan Ketua Yayasan Pondok Kasih Surabaya Hanna Amalia Handayani Ananda, hadir sebagai pembicara dalam forum ini.

"Maraknya kasus kekerasan berlatarbelakang agama, suku, etnis, ditengarai sebagai sebuah tantangan terbesar pengelolaan keberagaman yang selama ini menjadi identitas bangsa Indonesia," kata Ketua Umum PKC PMII Jawa Timur Muhammad Zunaidi dalam pidato pembukaannya di aula PWNU Jawa Timur, Surabaya.

Libatkan Cabang, PMII Jatim Gelar Dialog Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Libatkan Cabang, PMII Jatim Gelar Dialog Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Libatkan Cabang, PMII Jatim Gelar Dialog Kebangsaan

PMII Jawa Timur sebagai organisasi kepemudaan menggagas dialog ini sebagai bagian dari sumbangsih terhadap bangsa dalam merangkai kerukunan di tengah kemajemukan yang ada di Jawa Timur, imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dialog yang dihadiri kurang lebih 200 kader PMII dari cabang-cabang se-Jawa Timur, ini mengikrarkan kembali sumpah pemuda untuk merefleksikan perjuangan para pendiri bangsa dalam menyatukan pemuda-pemuda bangsa.

Dalam kesempatan yang sama, Boedi Soepratikno, menjabarkan beberapa program Bakesbangpol Provinsi Jawa Timur dalam menjaga kesatuan dan kerukunan di Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai representasi Pemerintah, Bakesbang telah menyelenggarakan berbagai forum yang diikuti beragam elemen masyarakat agar tercipta silaturahmi dan kerukunan antar umat beragama di Jatim.

Sementara, Muslich menegaskan, Perjuangan Islam Indonesia yang dipelopori oleh PMII sebagai salah satu bagian dari NU melanjutkan perjuangan KH Hasyim Asyari dalam menjaga kerukunan keberagaman di Indonesia, ujarnya. (Iqbal/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 24 Mei 2008

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Rabat, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Penampilan santri berprestasi yang tengah mengikuti program kelas internasional di Universitas Ibnu Thofail kota Kenitra, membuka konferensi cabang ke-2 PCINU Maroko dengan menyanyikan himne Pelajar NU dan sholawatan di auditorim Institut Dar El-Hadith Al-Hasaniyah, Rabat, Maroko. Usai itu mereka menyaksikan pemutaran film dokumenter perihal sejarah berdirinya PCINU Maroko.

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemutaran Video Sejarah PCINU Maroko Awali Konferensi

Anggota Majelis Ilmi Kota Kenitra Maroko, Ahmad ‘Aid Bahdah, berkesempatan membuka secara resmi forum bergengsi ini, Ahad (10/8).

Tampak hadir dalam pembukaan konferensi ini antara lain Dubes RI untuk Kerajaan Maroko H Tosari Widjaja, utusan direktur Institut Dar El-hadith Al-Hasaniyah, staf KBRI Rabat, Mustasyar PCINU Maroko H Husnul Amal, Prabowo Wiratmoko Jati, warga NU di Maroko, anggota Persatuan Pelajar Indonesia Maroko beserta, dan sejumlah tamu undangan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua panitia konferensi ini Fairuz Ainun berharap agar PCINU ke depan dapat menciptakan sistem organisasi yang baik dan ke luar meningkatkan hubungan keagamaan dengan ulama Maroko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara H Tosari Widjaja mengimbau anggota PCINU Maroko untuk menangkap isyarat kelahiran PCINU bukan hanya sebagai wadah untuk kongko atau berdiskusi semata tanpa makna apapun.

“Kelahiran PCINU Maroko berpijak dari sebuah amanah dari PBNU agar PCINU dapat menjadi duta-duta Islam Aswaja Indonesia untuk berbagai negara khususnya di Maroko,” kata H Tosari.

Forum konferensi ini akhirnya memberikan amanah kepada Alvian Zahasvan sebagai Rais Syuriyah dan Kusnadi El-Ghezwa sebagai Ketua PCINU Maroko untuk masa bakti 2014-2016.

Kusnadi dalam menyatakan visinya ke depan, menginginkan PCINU Maroko yang familiar, bermartabat dan bermuatan intelektual. Ia pun mengajak kepada semua pengurus dan anggota PCINU Maroko untuk bekerja sama sehingga program Go Internasional NU dapat terwujud. (Red. Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Quote, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 15 April 2008

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ignasius Sandyawan Sumardi (Romo Sandy) mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah Uskup (dari NU) yang pertama membelanya. Pernyataan itu sangat beralasan bagi Romo Sandy sebab Gus Dur (selain juga Romo Mangunwijaya dan Danuwinata) adalah tokoh yang menjadi pembela Romo Sandy dalam gerakan Suaka Kemanusiaan Kasus 27 Juli 1996.

Romo Sandy mengisahkan pengalaman tersebut dalam Forum Jumat Pertama (FJP) Jaringan Gus Durian, Jumat (2/9) malam di Griya Gus Dur, Jl. Taman Amir Hamzah Jakarta Pusat. FJP malam itu bertema ‘Gus Dur dan Rakyat Kecil’, didatangi puluhan hadirin, yang mayoritas kaum muda.

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Dur Pembela Pertama dalam Suaka Kemanusiaan Romo Sandy

Menurut Romo Sandy, sejak perjumpaan pertamanya yang terjadi saat Gus Dur masih sebagai intelektual muda NU yang vokal dan cerdas, telah menggunggah inspirasi baginya. Ia menilai pemikiran Gus Dur sangat orisinil dan otentik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal lainnya yang juga sangat mengesankan dari Gus Dur adalah setiap Romo Sandy, datang Gus Dur selalu sudah bersentuhan dengan perkara sehingga Gus Dur menjadi ‘tukang kompor’.

“Kalau sudah ingin melakukan (niat baik), ya sudah. Lakukan dengan sungguh-sungguh, jangan setengah-setengah. Artinya Gus Dur itu sangat total. Dalam hal apa pun selalu begitu,” terang Romo Sandy.

Kesan ketotalan dari Gus Dur itu mengingatkan Romo Sandy kepada salah satu pesan guru silatnya saat mengambil pendidikan di Seminari Menengah Santo Petrus Kanisius, Mertoyodan Magelang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Kowe nek dadi pendekar, dadio pendekar beneran (kalau? kamu ingin menjadi pendekar, jadilah pendekar sejati atau sungguhan),” kata Romo Sandy mengutip pesan gurunya.

Pesan tersebut, berpadu dengan sosok Gus Dur, menjadikan Romo Sandy semakin bersemangat dan mantap dalam perjuangan membela kemanusiaan. Romo Sandy lalu menyebut beberapa gerakan yang ia lakukan dan menyebabkannya sering berinteraksi dengan Gus Dur.

Dalam perjumpaan-perjumpaan tersebut, Gus Dur, menurut Romo Sandy membaur dengan rakyat kecil, tanpa kesan pencitraan atau dibuat-buat. Hal yang sangat berbeda dengan para politikus lainnya.

Terhadap dunia politik, Gus Dur menjadikan politik sebagai sesuatu yang substansial, artinya politik sebagai sesuatu yang bersentuhan dengan persoalan-persoalan kehidupan masyarakat sehari-hari. Gus Dur sama sekali jauh dari politik artifisial atau politik dagang sapi, di mana politik hanya menjadi ajang tawar menawar kekuasaan.

“Yang paling ujung di dalam politik adalah kemanusiaan. Oleh karena itu Gus Dur sangat demokratis, tidak pernah menolak berdialog dengan siapa pun,” kenang Romo Sandy.

Romo Sandy meneruskan, Gus Dur juga menjadi semacam pantulan dari setiap orang yang datang, termasuk Romo Sandy. Saat bertemu dengannya, ia tidak akan menceramahi. Hal itu memberi pelajaran bahwa pendidikan yang diberikan Gus Dur seperti model pendidikan dalam filsafat Yunani, di mana ada persentuhan yang kuat.

Adalah tugas kita dalam mengembangkan pendidikan seseorang, seperti bidan yang membantu melahirkan ilmu yang sudah ada dalam jiwa atau roh orang tersebut. Dan itulah yang dilakukan Gus Dur karena substansi pendidikan adalah fasilitator pembebasan manusia.

Romo Sandy meyayangkan, saat ini sangat sulit menemukan—kalau bukan tidak ada—sosok seperti Gus Dur. Menurut Romo Sandy, anak-anak muda sekarang tidak orisinil. Dalam mencari pendidikan atau pengetahuan, bahkan membentuk dirinya, mereka mendasarkannnya pada apa yang disajikan oleh internet, mendengar dan menonton audio visual yang tersedia di ineternet. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 08 April 2008

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) kabupaten Blitar, Jawa Timur, Senin (31/7), bersilaturahim ke kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Rombongan terdiri dari perwakilan seluruh Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) di kabupaten setempat.

Pada tahun ini PCNU Kabupaten Blitar kembali meraih Juara Umum NU Award yang digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Kunjungan tersebut sebagai pemenuhan nazar atas capaian ini.

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Kami Bangga Blitar Juara Umum NU Award 2017



(Baca: Juara Umum NU Award 2017, NU Blitar Ajak MWC Ke PBNU)


Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rombongan yang berangkat dari Blitar menggunakan bus sejak kemarin ini diterima Ketua PBNU H Aizzuddin Abdurrahman dan Robikin Emhas, serta Wasekjen PBNU Masduki Baidlowi dan Ishfah Abidal Aziz. Turut hadir Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Anggia Ermarini.

“Terus terang kami bangga atas prestasi PCNU Blitar dalam Nu award di Jawa Timur,” kata Robikin di hadapan rombongan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



(Baca: PCNU Blitar Berhasil Pertahankan Juara Umum NU Award 2017)


Ia juga mengingatkan sejumlah tantangan NU di bidang kesehatan, pendidikan, keagamaan, dan teknologi siber. Robikin mendorong cabang-cabang NU di seluruh Indonesia untuk berperan aktif dalam meningkatkan khidmah ke masyarakat.

Selain itu mereka juga menerima wawasan soal persiapan perhelatan Munas-Konbes NU yang bakal digelar di Nusa Tenggara Barat pada November mendatang. Ishfah dalam kesempatan itu menyampaikan salah satu materi yang akan dibahas di forum tertinggi kedua setelah Muktamar NU itu adalah soal Peraturan Organisasi (PO) yang mengatur urusan permohonan Surat Keputusan (SK). (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 31 Maret 2008

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Psikologi Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (Unusia) mengadakan Seminar Psikologi bertema Rahasia Pikiran Bawah Sadar; Sadari, Kenali dan Kembangkan Potensi Pikiran Bawah Sadar Anda, Jumat (1/12) di Kampus Unusia, Jalan Taman Amir Hamzah, Jakarta Pusat.

Dalam seminar tersebut diungkapkan pada dasarnya pikiran manusia terbagi menjadi dua, yakni pikiran sadar dan pikiran bawah sadar.

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Seminar Psikologi Unusia Ungkap Rahasia Pikiran Bawah Sadar

"Pikiran sadar adalah alam sadar manusia yang masih mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sadar terbentuk ketika manusia dalam keadaan fokus dan mempunyai rasa empati yang besar terhadap lingkungannya," kata Muhammad Rizki Afandi, pembicara seminar tersebut.

Namun, keberadaan kesadaran tersebut akan menjadi pikiran bawah sadar jika pikiran manusia sedang blank.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah





Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fandi menjelaskan, mekanisme pikiran dan tindakan manusia terbentuk pertama kali oleh pengalaman empiris dan pengalaman induktif yang cakupannya terdiri dari 88% sub-consius dan 12% conscious.

"Pikiran manusia dibagi lagi menjadi dua, yakni otak kiri dan otak kanan. Dan untuk menghasilkan sebuah tindakan maka harus memenuhi tiga mekanisme, believe system, self image, dan self talking. Yang paling berpotensi untuk menunjukkan pikiran bawah sadar adalah self talking," urai Fandi.

Dengan demikian. lanjut Fandi, seluruh ucapan (self talking) maupun lintasan pemikiran yag tidak disadari, berpotensi untuk menjadi nilai permanen bagi sub-conscious.





Di akhir acara, panitia seminar memberikan secarik kertas pada seluruh peserta untuk memberikan feedback pada panitia untuk perbaikan kualitas kegiatan di masa yang akan datang.





Di antara peserta berharap akan diadakannya lagi seminar serupa karena sifatnya yang sangat penting dipelajari. Ada juga yang masih kurang puas karena kuota peserta yang disediakan tidak terlalu banyak.



. Ketua HMJ Psikologi Unusia, Humairo Ummu Syarifah mengatakan, seminar tersebut pertama digelar sejak terbentuknya HMJ Psikologi beberapa waktu lalu.

"Seminar diikuti mahasiswa yang berasal dari beberapa kampus, seperti Universitas Mercu Buana, Universitas Muhammadiyah Jakarta, Unisma," kata Elok panggilan akrabnya. (Dwi Putri/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Pesantren, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 19 Maret 2008

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Agama, Lukman Saifuddin, mengatakan, bagaimanapun perbedaan paham bekas anggota Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dengan mayoritas, mereka tetaplah saudara dalam kemanusiaan sehingga tidak dibenarkan melakukan anarkisme kepada mereka.

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag: Tak Dibenarkan Melakukan Anarkisme pada Anggota Gafatar

"Sebesar, sekeras, setajam apapun perbedaan di antara kita, termasuk perbedaaan paham keagamaan, agar jangan lalu tersulut melakukan tindakan kekerasan apalagi sampai membakar rumah tinggal sesama saudara kita. Anggota-anggota Gafatar ini juga saudara kita," kata dia, di kantornya, Jakarta, Jumat.

Sebelumnya, terjadi aksi massa yang mengusir bekas anggota Gafatar di Kalimantan Barat. Aksi ini terbilang anarkis karena pengusiran itu disertai intimidasi, pembakaran tempat tinggal dan pengerahan massa besar-besaran.

Agar aksi serupa tidak meluas ke sejumlah daerah, dia berharap masyarakat di berbagai wilayah di Indonesia untuk dapat menahan diri tidak melakukan tindakan kekerasan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Meski beda paham keagamaan, sebaiknya cara menyikapi mereka adalah merangkul mereka, membina mereka, dialog dengan mereka sehingga menuju kesamaan cara pandang. Tidak justru melakukan perusakan. Agama apapun tidak mentolerir kekerasan seperti itu dan itu bukan cara kita menyelesaikan masalah," katanya.

Kementerian Agama, kata Saifuddin, hingga saat ini masih menunggu fatwa Majelis Ulama Indonesia soal fatwa Gafatar. MUI sendiri rencananya akan mengeluarkan fatwa Gafatar pada awal Februari.

"MUI masih mendalami, mencermati soal paham keagamannya. Kementerian Agama atau pemerintah akan mengikuti fatwa MUI terkait paham Gafatar," katanya. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja, Ubudiyah, Pondok Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Februari 2008

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Oleh Nadirsyah Hosen

Allahu Akbar sekarang menjadi guyonan. Takbir sering diplesetkan jadi take beer. Ucapan Takbir sering dianggap sebagai ciri Islam garis keras, yang sedikit-sedikit teriak Takbir disela orasinya. Bahkan di masyarakat Barat istilah Takbir dikenal akibat para teroris meneriakkannya sebelum menjalankan aksi terornya.

Tiba-tiba kita hidup di jaman dimana ucapan Takbir menjadi begitu disalahmemgerti dan dikelirutafsirkan, baik oleh umat Islam maupun oleh non-Muslim. Dan harus diakui pihak Muslim berkontribusi besar atas kesalahpahaman ini. Takbir menjadi sesuatu yang menakutkan atau malah menjadi bahan plesetan. Mari kita kembalikan makna Takbir yang sesungguhnya.

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)
Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki (Sumber Gambar : Nu Online)

Kembalikan Makna Takbir yang Hakiki

Takbir itu adalah membesarkan Allah. Allahu Akbar. Allah Maha Besar. Maha Besar dari apa? dari alam semesta ini, dari segalanya, termasuk dari berbagai problem yang kita hadapi, dari segala ucapan yang menghina, dari segala pembangkangan makhluk.

Saat kita memulai shalat dan mengucapkan Allahu Akbar, maka itulah garis pemutus anrara kita dan dunia. Kita miraj ke hadapan Allah lewat ucapan takbir. Kita tinggalkan semua urusan dunia, tak kita pikirkan urusan hutang piutang, beban berat kerjaan, bahkan jomblo pun tak lagi hirau nasib ngenesnya saat Allahu Akbar diucapkan memulai shalat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kita besarkan Allah, kita kecilkan diri kita. Siapa yang bertakbir maka dia tidak akan punya sifat kibir alias takabur. Dia paham sesungguhnya bahwa dirinya tidak berarti apa-apa di depan kemahabesaran Allah. Keangkuhan diri musnah seketika bersama Takbir.

Yang terjadi sekarang sebaliknya, ucapan Takbir dipakai untuk membesarkan diri kita, dan mengecilkan pihak lain. Takbir maknanya bergeser seolah menjadi "lihatlah betapa kami mayoritas, kami berkuasa penuh, dan kami bisa bertindak apapun atas kalian".

?

Takbir sekarang lebih ditujukan kepada mereka yang kita anggap sebagai musuh Allah ketimbang kita tujukan untuk muhasabah diri kita sendiri. Alih-alih membesarkan Allah, saat ini ucapan Takbir justru dipakai untuk menakbirkan diri kita sendiri. Naudzubillah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tiba-tiba ucapan Takbir menjadi menakutkan. Dipakai untuk melibas yang berbeda, digunakan untuk membenarkan tindakan apapun termasuk membully atau memfitnah pihak lain. Takbir seolah mewakili kemurkaan Allah, padahal Allah gak ada urusannya dengan kemarahan dan ketersinggungan kalian. Kata Gus Mus, "disangkanya kalau kalian marah, terus Allah yang al-Rahman dan al-Rahim itu juga pasti marah?"

Allah Maha Besar itu tidak menakutkan. Allah Maha Besar itu mengayomi semuanya di dalam kemahabesaranNya. Allah Maha Besar itu memberi hak hidup dan rejeki bahkan kepada mereka yang menentangNya. Allah Maha Besar itu tidak terhina sedikitpun jikalau semua penduduk dunia melecehkanNya. Tidak berkurang kadar keagunganNya sedikitpun kalau tak satupun mau menyembahNya.

Maka sesiapa yang mengucap Takbir, sejatinya dia akan merunduk dan merendahkan diriNya di depan kemahabesaran Allah. Yang mengucapkan Takbir dia akan merangkul semua makhluk ciptaan Allah. Yang ber-takbir akan mengakui bukan kita yang menentukan nasib sesama tapi hanya Allah!

Mari kita kembalikan makna Takbir ke makna yang hakiki, agar ucapan Takbir tidak dianggap simbol kekerasan umat dan menjadi guyonan belaka. Ucapan Takbir harus diletakkan secara proporsional agar kita dan semuanya sama-sama mengerti makna yang sebenarnya.***

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 19 Januari 2008

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pemerintah akan melaksanakan sidang itsbat penentuan 1 Syawal 1434 Hijriyah pada 7 Agustus 2013 sesaat setelah diadakan rukyatul hilal di berbagai dareah. 

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)
Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng (Sumber Gambar : Nu Online)

Sidang Itsbat pada 7 Agustus, Lebaran Diperkirakan Bareng

Pada saat itu posisi hilal sudah memungkinkan untuk dirukyat (imakur rukyat), dan berdasarkan pengalaman  maka hilal dimungkinkan bisa disaksikan.

Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar dalam laman Kementerian Agama di Jakarta, Rabu, berharap hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan secara bersama oleh semua umat Muslim di Tanah Air.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sidang itsbat akan dilaksanakan 7 Agustus, semua ormas Islam kita undang," kata Wamenag kepada wartawan pada acara buka puasa bersama di kediamannya, Jalan Ampera I No. 10, Jakarta Selatan, Selasa sore.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadir Duta Besar Arab Saudi Mustafa bin Ibrahim Al Mubarak, para pejabat eselon I, II, dan III Kementerian Agama, serta beberapa direktur BUMN.

Wamenag mengatakan, jika didasarkan pada perhitungan hisab, pada hari pelaksanaan rukyatul hilal atau hari Rabu senja tanggal 7 Agustus 2013, posisi hilal berada di atas dua derajat.

Sesuai pengalaman tahun-tahun yang lalu, apabila hilal di atas dua derajat, maka hilal atau bulan baru dimungkinkan akan bisa disaksikan atau imkanur rukyat.

"Kecuali jika pada hari itu seluruh lokasi pemantauan hilal di Tanah Air terhalang mendung," ujarnya.

Namun Wamenag berharap, hari raya Idul Fitri tahun ini akan dirayakan bersama-sama oleh seluruh masyarakat muslim Indonesia. “Kita berharap lebaran bareng, sehingga lebih menguatkan ukhuwah Islamiyah," ujarnya.

Dirjen Bimas Islam Abdul Djamil menambahkan, pada sidang itsbat penentuan awal syawal nanti terlebih dahulu dilaksanakan sebuah seminar membahas tentang masalah hisab-rukyat.

"Jika sebelumnya kegiatan sidang dilaksanakan sore hari, itsbat nanti akan dimulai dari siang hari, sekitar pukul 13.30 dengan sebuah seminar membahas permasalahan hisab rukyat, termasuk juga mengenai penetapan yang dilakukan oleh kelompok An Nazir dan Naqshabandi," kata Djamil.

Redaktur: Mukafi Niam

Sumber  : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah