Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fragmen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Maret 2018

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi

Bagi Drs. Suhardi, M.Pd.I., Kepala Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Pamulang, Banten, terget yang ditetapkan oleh madrasah harus jelas dan kongkret. Setiap tahun madrasah yang dipimpinnya harus mendapatkan prestasi, tidak hanya dalam bidang akademik, tetapi juga untuk berbagai kompetisi non akademik.

Suhardi tercatat oleh Kementerian Agama sebagai salah satu kepala madrasah yang luar biasa. Madrasah yang dulunya tidak diminati bahkan tidak dikenal, sekarang diperebutkan oleh para orang tua calon siswa baru dan mendapatkan penghargaan tingkat nasional. Para siswa MTsN 2 Pamulang juga mencatatkan segudang prestasi tingkat lokal, nasional bahkan internasional.

Di luar bidang akademik, MTs ini tercatat pernah memenangi lomba UKS, Juara Umum Porseni beberapa bidang olahraga, marcing band, dan kontes robotik. Untuk marching band, madrasah ini telah memeroleh Piala Wakil Presiden 2010 dan Piala Presiden 2010. Untuk robotik, MTsN 2 Pamulang bahkan sampai memperoleh juara pda kontes robotik tingkat internasional di Malaysia.

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Kepala MTs Ini Membawa Madrasahnya Berprestasi

Suhardi punya cerita tersendiri mengenai awal mula kegiatan marching band di madrasahnya. “Tahun 2010 saya punya waka kesiswaan yang hobi marching band. Lalu saya tantang, kamu bisa nggak bikin marching band berkelas nasional? Katanya, bisa pak. Saya tidak tahu bagaimana caranya, tapi kata dia, gampang pak. Kita jalan-jalan ke pasar baru lihat toko-toko marching band yang bagus-bagus nanti kita kerjasama saja,” katanya.

“Akhirnya kita pergi ke pasar baru. Ketemulah toko Wijaya milik orang India. Saya katakan, saya ingin merintis marching band tapi saya tidak punya alat dan saya janji kalau saya akan membeli alat-alat akan ke bapak terus. Saya datang ke situ dan bikin MOU. Jadi saat latihan kita pakai alat yang bagus dan harganya mahal sekali 20 jutaan itu,” kata Suhardi bercerita.

Semenjak itu MTsN 2 Pamulang selalu langganan juara marching band. Puncaknya madrasah tsanawiyah ini berhasil memeroleh Piala Presiden dan sering kali menang kompetisi dengan sekolah lain seluruh Indonesia bahkan dengan grup marching band tingkat SMA dan perguruan tinggi.

Kembali ke toko Wijaya yang pertama meminjamkan alat marching band, setelah beberapa kali juara, pemilik toko makin percaya kepada Suhardi. Bahkan anak dari penjaga toko juga disekolahkan ke MTsN 2 Pamulang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kata Suhardi, ketidaktersediaan sarana bukan hambatan untuk meraih prestasi. Dengan tekat juara, beragam cara bisa ditempuh.

Prestasi lain yang sangat membanggakan diraih MTSN 2 pada akhir tahun 2014 di bidang robotik. MTsN ini memborong sejumlah penghargaan dalam kontes robotik tingkat internasional di Johor Malaysia. Padahal kegiatan eskul robotik baru dimulai pada 2013, baru satu tahun sebelum prestasi internasional diraih. Hampir mirip seperti marching band, pada awalnya madrasah ini juga tidak punya peralatan robotik. Salah satu kunci sukses dalam hal ini adalah kerjasama dengan pihak-pihak yang kompeten dan kejelian memilih siswa yang berbakat di bidang logika, matematika, sains dan informatika.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di bidang akademik, prestasi akademik yang diperoleh MTsN 2 Pamulang lebih banyak lagi, dari mulai lomba cerdas cermat di berbagai tingkatan, olympiade matematika, oimpiade bahasa Inggris, dan lomba karya tulis tingkat nasional. Untuk institusi madrasah sendiri, tahun 2008 MTsN 2 Pamulang telah ditetapkan sebagai madrasah berprestasi tingkat Kanwil Kemenag Banten, dan tahun 2009 MTsN mendapatkan Juara I Lomba Madrasah Berpretasi Tingkat Nasional.

Menurut Suhardi, MTsN 2 Pamulang menyusun kalender pendidikan dengan sangat rapi. Hasil rapat kerja juga dicetak dengan baik dan karena melibatkan semua komponen maka hasil rapat kerja ini bersifat mengikat semua pihak. Semua yang telah dirumuskan bersama harus dilaksanakan.

MTsN 2 Pamulang juga telah menyusun dan menerbitkan buku pedoman khusus tentang pengelolaan Kelas Bina Prestasi.

Kata Suhardi, target yang ingin dicapai oleh madrasah jelas, yakni harus berprestasi. Dari berbagai prestasi yang telah dicapai, maka tingkat kepercayaan masyarakat kepada madrasah otomatis akan meningkat. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, Pondok Pesantren, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Februari 2018

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Gowa, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Sekretaris Lembaga Takmir Masjid Pengurus Wilayah Sulawesi Selatan H Misbahuddin mengingatkan bahwa sejarah kejayaan Islam ada di tangan pemuda. Karena pada saat itu, katanya, pemuda mengisi segala lini kehidupan termasuk mengisi masjid. 

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid sebagai Pondasi Agama, Masyarakat, dan NKRI

Demikian disampaikan Misbahuddin Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pesantren Bahrul Ulum Kabupaten Gowa, Jumat (8/12).

Menurutnya, kalau hari ini pemuda tidak bergerak, pemuda tidak berpikir tentang masjid dengan baik, maka boleh jadi masjid tidak berfungsi secara baik karena masjid menjadi kekuatan dan fondasi agama, masyarakat, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) 

"Pemuda harus dekat dengan masjid, mengawasi masjid, mengisi masjid dengan kegiatan di antaranya dengan pengajian yang muatannya untuk menjadi NKRI," terangnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan yang mengusung tema Revitalisasi Peran dan Fungsi Masjid sebagai Benteng Kedaulatan dan Pemakmuran NKRI ini terlaksana atas kerja sama LTM PBNU dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia (Kemenpora RI). 

Hadir pada hari terakhir roadshow Pelatihan Pemuda Pelopor Tahun 2017 di Pulau Sulawesi Selatan ini Sekretaris LTM PBNU H Ibnu Hazein, Wakil Sekretaris LTM PBNU Syarif Hidayat, Sekretaris LTM PBNU H Sarmidi Husna, Ketua PCNU Kabupaten Gowa Abdul Jabbar Hijaz, Wakil Ketua PWNU Sulawesi Selatan H Muammar Bakri. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 10 Februari 2018

Ketua PWNU Jatim: Panitia Muktamar Jangan Berharap Keuntungan Materi

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan Muktamar ke-33 Nahdlatul Ulama membutuhkan banyak biaya, mulai dari mempersiapkan sarana dan prasarana hingga kebutuhan lain. Namun jangan sampai panitia mengharap keuntungan materi dari kegiatan lima tahunan ini.

Peringatan dan juga harapan ini disampaikan Ketua Tanfidziyah PWNU Jatim KH Hasan Mutawakkil Alallah pada kegiatan soft launching muktamar di Kantor PWNU Jatim, Jalan Raya Al-Akbar Timur Surabaya, Sabtu (28/2).

Ketua PWNU Jatim: Panitia Muktamar Jangan Berharap Keuntungan Materi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua PWNU Jatim: Panitia Muktamar Jangan Berharap Keuntungan Materi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua PWNU Jatim: Panitia Muktamar Jangan Berharap Keuntungan Materi

Dalam pandangan alumnus Universitas Al-Azhar Mesir ini, muktamar kali ini terasa istimewa karena dilaksanakan di tempat dimakamkannya para pendiri NU. Sejak NU berdiri, tidak pernah muktamar digelar di Jombang, kendati berulang-ulang pernah dilaksanakan di Jawa Timur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? "Tujuan dan niatnya juga agar seluruh pengurus dan anggota NU berziarah ke makam para pendiri NU," tandas Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong Probolinggo ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dia menjelaskan, tema Islam Nusantara yang diusung pada muktamar sebagai penguatan Islam dan keindonesiaan dalam menghadapi perubahan global, bukan hanya dari segi keislaman, tapi juga politik, budaya, dan ekonomi.

? "Makanya muktamar kali ini akan dilirik dan menjadi perhatian dunia," tandas Ketua PWNU Jatim dua periode ini.

Karenanya, Kiai Mutawakkil berharap para panitia dapat menyukseskan Muktamar ke-33 NU, baik pra maupun saat muktamar dilaksanakan. "Saya yakin panitia tidak mengharapkan materi, karena kalau itu yang didahulukan akan kualat. Tapi kalau mengharap berkah, Insya Allah akan diberi rezeki min haitsu laa yahtasib wa yuhtasab," katanya.

Sementara itu, Wagub Jatim, Syaifullah Yusuf menerangkan, rencananya launching terkait tempat muktamar akan dilaksanakan pada 14 Maret 2014 mendatang di Jombang. Gubernur Jatim, Pangdam Brawijaya V, Kapolda Jatim, dan sejumlah forpimda akan diundang pada launching tersebut.

? ? "Kalau pembukaan muktamarnya akan dihadiri oleh Presiden Jokowi dan ditutup oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla," kata Gus Ipul.

Selain Gus Ipul dan Kiai Mutawakkil, hadir sejumlah tokoh dan kiai NU dalam soft launching muktamar tersebut. Di antaranya Katib Syuriah PWNU Jatim, KH Syafruddin, Pengurus PBNU yang juga mantan Mendikbud Muhammad Nuh, mantan Ketua PWNU Jatim Ali Maschan Moesa, Rektor UINSA Prof Dr Abdul Ala, dan lainnya. Kegiatan Soft launching ini diakhiri dengan istighasah dan doa bersama. (Syaifullah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Jadwal Kajian, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 07 Februari 2018

Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Melayani Budaknya

Orang boleh saja kesal kepada pejabat kebanyakan yang bertingkah selalu ingin dipuji, dihormati dan dilayani. Tapi yakinlah, tak semua pemimpin berkarakter menjengkelkan semacam itu. Sebagaimana kisah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah tersohor era Bani Umayyah.

Suatu hari Umar bin Abdul Aziz meminta budak perempuannya untuk mengipasi dirinya hingga ia bisa tidur. Si budak menaati perintah sang tuan. Angin spoi-spoi pun mengantarkan Umar bin Abdul Aziz ke alam mimpi.

Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Melayani Budaknya (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Melayani Budaknya (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Melayani Budaknya

Seiring dengan pulasnya tidur sang khalifah, gerak kipas di tangan budak perempuan itu perlahan berhenti dengan sendirinya. Si budak yang tak kuat menahan kantuk ikut tertidur di dekat Umar bin Abdul Aziz.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Budak itu masih tidur saat sang khalifah bangun dari alam mimpinya. Cepat-cepatlah sang khalifah mengambil kipas itu lalu mengipas-kipaskannya ke arah si budak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Budaknya berteriak begitu bangun dan sadar sang khalifah sedang mengipasi dirinya. Si budak merasa lancang meski “layanan spesial” itu bukan atas kemauannya. Rasa haru dan malu bercampur saat berhadapan dengan karakter pemimpin yang demikian rendah hati.

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa sepertimu. Aku juga merasa panas sebagaimana dirimu,” tutur Umar bin Abdul Aziz menenangkan. “Aku senang mengipasimu sebagaimana engkau senang mengipasi diriku.”

Demikian diceritakan dalam kitab Irsyâdul ‘Ibâd karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari. Kisah tersebut menggambarkan betapa egaliternya Umar bin Abdul Aziz. Statusnya sebagai pemimpin tak membuatnya merasa lebih berkelas dibanding yang lain.

Sikap yang ditunjukkan pemimpin yang berjuluk Khalifah Kelima itu hanya bisa muncul secara tulus ketika seseorang sadar akan hakikat kedudukan manusia sebagai sama-sama hamba Allah dan tugas sejati pemimpin yang harus melayani rakyatnya. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Fragmen, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 20 Januari 2018

Kiai Said Pimpin Tahlil di Makam Kiai Hasyim Muzadi

Depok, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengekspresikan rasa dukanya atas kepergian KH Ahmad Hasyim Muzadi dengan berziarah langsung ke makam mantan ketum PBNU itu di kompleks Pondok Pesantren al-Hikam Depok, Jawa Barat, Kamis (16/3) petang.

Ia yang datang bersama pengurus lain, di antaranya Sekjen PBNU H Helmy Faishal dan Ketua PBNU H Marsudi Syuhud, memimpin pembacaan tahlil dan doa yang diikuti para santri dan peziarah lainnya.

Kiai Said Pimpin Tahlil di Makam Kiai Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Said Pimpin Tahlil di Makam Kiai Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Said Pimpin Tahlil di Makam Kiai Hasyim Muzadi

Sebelumnya, prosesi pemakaman Kiai Hasyim digelar secara militer dengan inspektur upacara Wakil Presiden Jusuf Kalla. Kiai Said tak sempat mengikuti upacara pemakaman lantaran di saat yang bersamaan PBNU menyelenggarakan Silaturahim Nasional Alim Ulama Nusantara di Pesantren al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah.

Menurut Kiai Said, Nahdliyin patut merasa sangat kehilangan ulama yang ia sebut sebagai sosok panutan itu. Ia mengatakan, dedikasi Kiai Hasyim untuk Nahdlatul Ulama sangat luar biasa dan tidak pernah surut. Kiai Hasyim merupakan tokoh NU, yang berkhidmah sejak dari tingkat ranting hingga pengurus besar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya sepuluh tahun mendampingi beliau, ketika berkhidmat sebagai Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama,” imbuh Kiai Said.

Jenazah Kiai Hasyim disemayamkan sekitar pukul empat sore setelah dishalatkan puluhan kali di Malang lalu dilanjutkan di Depok. Wapres Jusuf Kalla bersaksi bahwa almarhum merupakan tokoh yang sungguh-sungguh dalam mendarmabaktikan dirinya untuk bangsa dan negara. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, PonPes, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Januari 2018

PBNU Dorong Polisi Introspeksi Diri

Jakarta,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, mendesak Kepolisian Republik Indonesia (Polri) untuk secepatnya mengungkap pelaku dan dalang di balik serangkaian aksi kekerasan oleh geng motor. NU juga mendorong kepolisian untuk melakukan introspeksi diri atas peristiwa tersebut.

"Harus cepat diungkap. Jangan sampai ini berlatur-larut yang ujungnya akan semakin meresahkan masyarakat," tegas Kiai Said di Jakarta, Senin (16/4).

PBNU Dorong Polisi Introspeksi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Dorong Polisi Introspeksi Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Dorong Polisi Introspeksi Diri

Keresahan masyarakat akibat maraknya aksi kekerasan oleh geng motor, lanjut Kiai Said, dikhawatirkan justru akan menimbulkan aksi anarkis lainnya. "Masyarakat sekarang ini sangat mudah terprovokasi. Jangan sampai masyarakat tidak puas dengan kinerja polisi dalam menangani aksi geng motor, yang justru berujung terjadinya tindakan main hakim sendiri," tambahnya menandaskan.

Polisi juga didorong secepatnya melakukan instropeksi diri atas maraknya aksi kekerasan oleh geng motor, terlebih kejadian ini sudah merambah ibukota Negara, Jakarta. Tindakan kekerasan yang beberapa diantaranya disasarkan ke aparat kepolisian, dinilai sebagai kondisi mengkhawatirkan yang sesegera mungkin harus disikapi.

"Geng motor menyerang aparat itu tindakan berani dan di luar kewajaran. Apalagi ini terjadi di Jakarta, ibukota Negara yang merupakan barometer untuk kota-kota lain," urai Kiai Said.

Seperti diberitakan, dalam beberapa pekan terakhir aksi kekerasan oleh geng motor marak terjadi di berbagai lokasi di Jakarta. Dua nyawa masyarakat sipil melayang akibat kejadian itu, sementara kerugian materi juga ditimbulkan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Presiden SBY melalui juru bicara Julian Aldrin Pasha menyatakan terganggu dengan maraknya aksi kekerasan oleh geng motor, dan menyerahkan penanganannya ke aparat keamanan, baik Polri maupun TNI.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 13 Januari 2018

Khataman Al-Qur’an se-Jombang Awali Rangkaian Haul Gus Dur

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Khataman al-Qur’an di setiap masjid dan mushala sekabupaten menjadi pembuka dari berbagai rangkaian perhelatan haul KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Jombang. Kegiatan ini diadakan sebagai ungkapan rasa hormat dan ta’dzimnya warga masyarakat Jombang kepada almarhum Gus Dur dalam perayaan haul ke-6 ini.

Khataman Al-Qur’an se-Jombang Awali Rangkaian Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Khataman Al-Qur’an se-Jombang Awali Rangkaian Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Khataman Al-Qur’an se-Jombang Awali Rangkaian Haul Gus Dur

Sekitar pukul 06.00 WIB pagi berbagai masjid dan mushalla di Jombang sudah mulai ramai dengan gemuru bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Masyarakat setempat berdatangan guna membaca Al-Qur’an hingga rampung 30 juz. Setiap masjid dan mushalla setidaknya ada 15 orang.

Selain membaca Al-Qur’an, warga masyarakat sekitar yang berhalangan hadir ke mushalla atau masjid membawakan hidangan berupa minuman, makanan, dan buah-buahan untuk disuguhkan kepada warga yang sedang ngaji. Mereka tampak khusyuk membaca Al-Qur’an secara bersama-sama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Pesantren Tebuireng Fakhrur Razi yang juga sebagai salah satu panitia penyelenggara haul Gus Dur mengatakan, antusias masyarakat dalam rentetan agenda haul Mantan Presiden Ke-4 Republik Indonesia (RI) ini perlu mendapat apresiasi. Pasalnya hampir semua rangkaian agenda mendapat dukungan penuh dari masyarakat.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Haul Ke-6 Gus Dur ini sanagat semarak dengan antusias warga masyarakat Jombang,” katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Sabtu (26/12) siang.

Haul Gus Dur bertempat di area Pesantren Tebuireng, Jombang, dengan beberapa rangkaian acara. Di antaranya tahlil bersama dan pengajian akbar. Hadir pada agenda ini Wakil Presiden (Wapres) RI H Jusuf Kalla (JK), KH Maimun Zubair, KH Shalahuddin Wahid, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Jamaluddin Ahmad, dan masyarakat umum. (Syamsul/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Januari 2018

NU Jatim Pertegas Khittah 1926

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur (Jatim) mempertegas Khittah NU 1926 dalam tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-84 NU di kantor PWNU Jatim, di Surabaya, Selasa (31/7).

"Khittah NU 1926 bukan sekedar menjaga jarak dari partai politik, tapi menata hati dalam bermasyarakat dan bernegara," ujar Ketua PWNU Jatim KH Ali Maschan Moesa.

NU Jatim Pertegas Khittah 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Jatim Pertegas Khittah 1926 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Jatim Pertegas Khittah 1926

Ia mengemukakan hal itu dalam sambutannya pada tasyakuran Harlah ke-84 NU yang dihadiri belasan politisi dari berbagai kalangan, antara lain PKB pro-Anam/PKNU, PKB Jatim pro-Imam Nahrawi, PKB Jatim "caretaker", PPP, PKS, dan Partai Demokrat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Ali, Khittah NU 1926 berarti kembali kepada garis perjuangan Islam ala Walisongo yang bukan meng-Islam-kan negara, melainkan meng-Islam-kan masyarakat secara bertahap.

"Meng-Islam-kan masyarakat berarti NU mementingkan isi daripada wadah dalam bentuk negara atau politik, karena itu meng-Islam-kan masyarakat adalah menata hati masyarakat," ucapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menata hati, kata pengasuh Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya, itu, adalah memperbaiki moral masyarakat untuk dapat bersikap sabar, ikhlas, dan selalu berbuat dengan niat untuk agama.

"Jadi, kalau salat tapi suka mencaci maki orang, maka salat yang dilakukan tidak ada artinya, bahkan kalau bisa bersikap sabar saat dicaci maki orang, serta menganggapnya sebagai ujian," paparnya.

Tasyakuran Harlah ke-84 NU itu diawali dengan silaturrahim tokoh lama NU tahun 1970-an, silaturrahim pengurus ranting NU se-Jatim pada lima lokasi, khataman Al-Quran, dan tumpeng tasyakuran. (ant/sbh)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Fragmen, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 05 Januari 2018

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Menko Kesra) Agung Laksono mengklaim, angka kemiskinan di Indonesia terus mengalami penurunan. Menurutnya, penurunan ini terjadi setelah program pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan berjalan sesuai harapan.

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)
Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun (Sumber Gambar : Nu Online)

Ke Tambakberas, Menko Kesra Klaim Kemiskinan Menurun

“Secara bertahap, angka kemiskinan terus turun, dari 12,9 persen kini tinggal 11,25 persen. Dan kita targetkan penurunan itu bisa mencapai 10 persen,” ujarnya usai bersilaturrahmi dengan beberapa Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Selasa (15/7).

Hadir dalam acara kunjungan Menkokesra ini Pengasuh Pesantren Bahrul Ulum KH Hasib Abdul Wahab, Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid, serta Pengasuh Pesantren Darul Ulum Peterongan KH Dimyati Rimly. Bupati dan Wakil Bupati Jombang, Nyono Suharly dan Munjdiah Wahab, juga turut mendampinginya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski telah mengalami penurunan, Agung mengakui, pada akhir-akhir ini program penanggulangan kemiskinan mengalami keterlambatan. Hal ini dikarenakan beberpa hal yang belum bisa berjalan maksimal. “Namun secara keseluruhan angka kemiskinan mengalami penurunan, termasuk angka penganguran juga mengalami penurunan,” imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Agung berharap, program penanggulangan kemiskinan yang dijalankan kementriannya bisa dilanjutkan oleh presiden terpilih mendatang. Salah satunya adalah Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat  Mandiri (PNPM Mandiri).

”Siapapun presidennya, saya berharap PNPM ini bisa dilanjutkan,” pintanya seraya mengatakan, pihaknya sudah membuat rekomendasi untuk disampaikan kepada presiden terpilih nanti.

Mengapa PNPM? Menko Kesra yang juga wakil ketua DPP Golkar ini mengungkapkan,  alasannya karena PNPM sangat bermanfaat bagi pembangunan masyarakat khususnya dipedesaan. “Yakni untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan desa, air, pembangunan ekonomi, dan juga sosial kemasyarakatan, dan proyeknya tidak terlalu besar,” imbuhnya.

Apalagi, lanjutnya, dalam pelaksanaannya di lapangan, PNPM melibatkan masyarakat langsung dan secara nasional untuk angka kebocorannya sangat minim. “Secara nasional, angka kebocorannya  hanya 0,02 persen,” tandasnya.

Sementara itu, dalam safarinya ke Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, Agung menyerahkan bantuan ke pesantren di antaranya untuk koperasi pesantren sebesar Rp 200 juta, sembako dari BAZNAS sebesar Rp 50 juta, serta sertifikat peserta BPJS untuk kalangan pesantren.

Menko Kesra juga menyerahkan sertifikat Bantuan Langsung Masyarakat (BLM) sebesar Rp 33,05 miliar dari PNPM Mandiri, serta bantuan untuk pembangunan museum sebesar Rp 20 Miliar dari Dirjen Kebudayaan. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Khutbah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 01 Januari 2018

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesi (PMII) cabang kota Semarang menggelar pelatihan penulisan artikel. Bertempat di aula masjid Al-Jauhari tampak ? puluhan kader dari Universitas Islam Walisongo, Universitas Diponegoro, dan Universitas Negeri Semarang dan Universitas Wahid Hasyim, Ahad (17/5).?

Acara dibuka langsung oleh KH Ahmad selaku sesepuh pergerakan Ahlussunnah wal Jamaah di lingkungan Semarang.?

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Hanya Berkoar di Jalanan, PMII Gelar Pelatihan Penulisan Artikel

KH Ahmad yang pernah menjadi wakil gubernur Jawa Tengah menanggapi positif diselenggarakannya pelatihan ini.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pembelaan dari segi pers dan jurnalis harus kita tingkatkan," tambah sesepuh asli Magelang ini. Tulisan di media bisa mengarahkan kebenaran dan keburukan yang terjadi di masyarakat. Sudut pandang dan cara penulisan jurnalis menjadi salah satu cara untuk mengontruksi kebenaran tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia juga bercerita mengenai seorang muslimah berkewarganegaraan Jerman yang menyelamatkan seorang wanita yang diperkosa di sebuah kafe. Namun, muslimah tersebut terbunuh oleh geng pemerkosa. Kebanyakan media tidak menonjolkan bahwa wanita tersebut muslimah. Kiai Ahmad yang pernah menjadi ketua tanfidziyyah menambahkan banyak pemberitaan yang menyudutkan Islam.?

Selain itu, hadir M. Rikza Chamami M.Si dosen UIN Walisongo Semarang yang sering mengirimkan artikelnya ke media massa memberikan motivasi kepada kader yang hadir. Selain itu, Ida Nur Laila redaktur Harian Jawa Pos Radar Semarang memberikan materi teknik dan cara penulisan artikel dan trik menembus media massa.?

Pelatihan penulisan sehari ini memberikan suntikan semangat sendiri bagi kader-kader agar mulai memandang pentingnya dunia penulisan dalam dunia pergerakan.?

"Peningkatan kualitas penulisan dan pemahaman kader dalam dunia jurnalistik ke depan harus lebih baik," ungkap Abdur Rahman selaku ketua cabang. Media massa yang ada di Semarang bisa menjadi alternatif bagi kader-kader untuk menyalurkan ide dan gagasan dalam dunia tulis-menulis. Berbagai macam rubrik bisa menjadi tujuan dari kader PMII kota Semarang.?

Dengan lahirnya kader baru pergerakan dalam dunia tulis menulis harapannya PMII tidak hanya berkoar di jalan menyuarakan aspirasi rakyat namun, melalui pembentukan opini di media massa. Selain itu dunia tulis-menulis juga bisa menjadi lahan belajar bagi kader pergerakan dalam memahami dunia jurnalistik. (m zulfa/mukafi niam)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Doa, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 28 Desember 2017

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah

Dalam perjalanan hijrah yang menegangkan dan mengharukan, Nabi shallallahu alaihi wasallam dan sahabatnya Abu Bakar al-Shiddiq singgah di Quba, kota kecil berjarak kira-kira tujuh kilometer dari kota Madinah. Di kota kecil yang banyak ditumbuhi pohon kurma yang menghijau itu, Nabi tinggal selama empat hari, menurut riwayat lain disebutkan empat belas hari. Di sana, Nabi berjumpa dengan para sahabatnya yang sangat setia seperti Umar ibn Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan para sahabat yang lain.  

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah (Sumber Gambar : Nu Online)

Kisah Masjid dan Shalat Jumat Pertama Rasulullah

Selama tinggal di Quba, beliau dengan para sahabatnya yang terdiri dari para muhajir (orang-orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan penduduk Quba membangun suatu masjid yang disebut dengan Masjid Quba. Itulah masjid yang pertama kali dibangun Nabi dan para sahabatnya, yang ditegakkan atas dasar takwa kepada Allah. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya: “Janganlah kamu bersembahyang dalam masjid itu (dhirar) selama-lamanya. Sesungguhnya masjid yang didirikan atas dasar taqwa (masjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu shalat di dalamnya. di dalam masjid itu terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri, dan sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bersih. (QS. Al-Taubah, 9:108).

Nabi shallallahu alaihi wasallam  sampai di Quba pada hari Senin, setelah tinggal selama empat atau empat belas hari, dan telah selesai membangun masjid yang pertama kali didirikan itu, beliau dan para sahabatnya bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan ke kota Madinah yang selama ini menjadi tumpuan harapan. Pada hari Jumat pagi sekali, Nabi dan para sahabatnya berangkat menuju Yatsrib atau Madinah. Menjelang memasuki kota Madinah pada kilometer empat, beliau sampai di suatu lembah bernama Wadi Ranuna milik keluarga Bani Salim ibn Auf, di tempat itu Nabi dan rombongan melakukan shalat Jumat (M. Muhyiddin, Sayyiduna Muhammad Nabi al-Rahmah, hal. 61). Itulah shalat Jumat pertama yang dilakukan Nabi dan para sahabatnya. Sampai sekarang jamaah haji selalu menyempatkan diri berkunjung ke masjid tersebut, dinamai Masjid Jumat karena ia dipakai shalat Jumat untuk yang pertama kalinya.





(Baca juga: Detik-detik Menegangkan Nabi dan Abu Bakar di Gua Tsur)

Dalam khutbahnya yang pertama itu Nabi mewasiatkan beberapa pelajaran yang penting, di antaranya sebagai berikut: “Wahai manusia, hendaklah kamu berbuat kebajikan bagi dirimu sendiri, kamu akan mengetahui, demi Allah, sesungguhnya seseorang dari kamu dikejutkan dengan suara gemuruh, sehingga meninggalkan domba gembalaannya, maka domba itu tidak ada penggembalanya lagi. Allah berfirman padanya, padahal tidak ada penerjemah dan tidak ada penghalang yang menghalangi di sisi-Nya: “Tidakkah rasul-Ku telah datang kepadamu menyampaikan kebenaran?, Aku karuniakan kepadamu harta dan kenikmatan yang banyak maka apa yang dapat kamu kerjakan untuk dirimu?” Orang itu kemudian menoleh ke kiri dan ke kanan, semuanya lengang tidak melihat sesuatu. Kemudian melihat ke depannya, ia pun tidak melihat sesuatu kecuali Jahannam. Siapa yang ingin terlepas dari siksa Jahannam, meskipun hanya sekedar berbuat baik kepada orang lain dengan memberikan secuil buah kurma, hendaklah ia lakukan. Jika secuil buah kurma pun tidak dimilikinya maka hendaklah ia bertutur kata yang baik. Karena tutur kata yang baik adalah amal perbuatan yang terpuji....”. (M. Khudry Bek, Nur al-Yaqien, hal. 82).

Khutbah tersebut mengarahkan umat manusia agar selalu berbuat kebajikan terhadap sesamanya dan tidak mencampakkan dirinya dalam kehancuran dan kenistaan. Sebagai umat Islam, kita wajib memberikan bantuan terhadap mereka yang membutuhkannya. Bantuan itu bisa berupa harta, wisdom (kebijaksanaan), jasa, nasehat, fikiran, do’a, dan bertutur kata yang baik. Umat Islam diarahkan al-Qur’an agar senantiasa menjaga keseimbangan antara kehidupan dunia dan akhirat, tidak diperkenankan mengabaikan salah satunya. 

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Al-Qashash, 28: 77).

Mengenai perseimbangan kehidupan, yang juga berkaitan dengan ayat tersebut di atas, Ibn al-Asakir meriwayatkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

”Bukanlah orang yang terbaik di antaramu, orang yang meninggalkan kehidupan dunia karena semata-mata mengejar kehidupan akhirat, atau meninggalkan akhirat karena semata-mata mencari kehidupan dunia, hingga ia memperoleh keduanya sekaligus. Karena kehidupan dunia adalah sarana untuk mencapai akhirat....”.

KH Zakky Mubarak, Rais Syuriyah PBNU

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 26 Desember 2017

Soal Larangan Ucapkan Selamat Natal, Ini Tanggapan Menag

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan adanya pandangan umat Islam di Indonesia yang berbeda-beda terkait boleh tidaknya mengucapkan selamat Natal, harus disikapi dengan saling menghormati dan memahami.

Soal Larangan Ucapkan Selamat Natal, Ini Tanggapan Menag (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Larangan Ucapkan Selamat Natal, Ini Tanggapan Menag (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Larangan Ucapkan Selamat Natal, Ini Tanggapan Menag

“Kita memahami bahwa kita masyarakat yang beragam. Di (umat) Islam sendiri terjadi keragaman pendapat dalam menyampaikan ucapan selamat Natal kepada saudaranya yang umat Kristiani,” demikian Menag menjawab pertanyaan wartawan usai peluncuran Al-Qur’an dan Terjemahan Bahasa Daerah di Auditorium HM Rasjidi, Gedung Kemenag, Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat, Rabu (20/12) siang.

(Baca: Tiga Terjemahan Al-Quran Bahasa Daerah Diluncurkan Kemenag)Ia mengatakan ada sebagian umat Islam yang mengharamkan mengucapkan selamat Natal kepada umat Kritiani, karena beranggapan dengan ucapan tersebut sebagai bentuk pengakuan terhadap kelahiran Yesus Kristus yang dalam akidah Islam bukanlah Tuhan sebagaimana umat Kristiani memahaminya.

Namun, ada sebagain umat Islam yang berpandangan mengucapkan selamat Natal bukanlah haram sehingga dibolehkan, karena ucapan selamat Natal tersebut ditujukan atas kelahiran Nabi Isa. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jadi yang dipersepsikan adalah peringatan kelahiran Nabi Isa,” kata Menag.

Menurutnya jangankan terhadap nabi, terhadap orangtua, saudara, keluarga dan teman-teman kita pun setiap tahun dirayakan hari kelahiran atau hari ulang tahun.

“Apalagi kepada nabi, (mengucapkan ulang tahun) tidak semata boleh, tetapi juga dianjurkan,” lanjut dia.

Menag menegaskan keragaman pandangan semacam ini karena persepsi dan interpretarsi yang tidak sama. Oleh karenanya yang terpenting tidak perlu saling menyalahkan. 

“Bagi mereka yang memang mengharamkan, ya sudah kita hormati. Kita maklumi kalau tidak mengucapkan selamat Natal, sehingga umat Kristiani juga harus berjiwa besar karena ada sebagian saudara mereka yang karena keyakinannya tidak membolehkan mereka mengucapkan selamat Natal,” papar Menag.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tetapi, sambung Menag, kita juga harus menghormati mereka yang berpandangan bahwa mengucapkan Natal itu dibolehkan. 

“Demi menjaga hubungan baik, menjaga persaudaraan sebangsa dan sebagai sesama manusia,” tandas Menag.

Ia menegaskan hal yang sama-sama diyakini umat Islam adalah larangan mengikuti ritual upacara keagamaan atau melakukan amaliyah peribadatan dalam peringatan Natal. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 25 Desember 2017

Muktamar Ke-33 Sukses, PCNU Padang Gelar Syukuran

Padang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Padang bersyukur atas suksesnya perhelatan Muktamar Ke-33 NU di Jombang yang memilih KH Maruf Amin sebagai Rais Aam PBNU dan KH Said Aqil Siroj Ketua Umum PBNU. Dengan terpilihnya pimpinan PBNU yang baru, PCNU Padang berharap semua pihak yang merasa tidak puas bisa menerimanya.

Muktamar Ke-33 Sukses, PCNU Padang Gelar Syukuran (Sumber Gambar : Nu Online)
Muktamar Ke-33 Sukses, PCNU Padang Gelar Syukuran (Sumber Gambar : Nu Online)

Muktamar Ke-33 Sukses, PCNU Padang Gelar Syukuran

Syukuran yang dirangkai dengan acara halal bi halal ini berlangsung di kantor PCNU Padang di Jalan Ranah Binuang, Kecamatan Padang Selatan, Kota Padang, Jumat (21/8) malam. Hadir dalam kesempatan ini Kepala Kemenag Kota Padang Japeri, Rais Syuriah PCNU Kota Padang Sumardi Basir, Sekretaris PW Fatayat NU Sumbar Desri Nora, dan warga Nadhiyin lainnya.

Ketua PCNU Kota Padang Yultel Ardi mengungkapkan, bagi PCNU Padang, siapa pun yang terpilih melalui muktamar NU, kita akan dukung dalam menjalankan program PBNU lima tahun ke depan. Sebagai sebuah proses pemilihan, tentu ada yang terpilih dan ada pula yang belum terpilih. "Kita berharap, bagi yang belum terpilih, silakan ikut pada muktamar yang akan datang," kata Yultel.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nadhiyin di Kota Padang memang mendengar kegaduhan selama Muktamar melalui media. Namun, menurutnya, sesungguhnya tidak terlalu gaduh seperti diberitakan media. "Melalui halal bihalal dan syukuran ini, kami sampaikan bahwa muktamar NU sudah berhasil memilih pemimpin PBNU lima tahun mendatang," kata Yultel menambahkan.

Mustasyar PWNU Sumbar Prof. Dr. Asasriwarni dalam tausyiahnya mengatakan, acara syukuran ini wajar diadakan PCNU Padang. "Kita bersyukur terpilih pimpinan baru PBNU. Karena bersyukur itu penting kita lakukan sebagai manusia, hamba Allah," kata Asasriwarni guru besar IAIN Imam Bonjol Padang ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Asasriwarni memberikan contoh, orang yang memiliki gubuk tua yang hampir runtuh, tidak memiliki kaki, masih saja selalu bersyukur kepada Allah. Kenapa ia bersyukur? Ternyata ia merasa masih memiliki gubuk tua, sementara orang lain tidak punya. Ia kehilangan kaki, sementara orang lain kehilangan kaki dan tangan, bahkan nyawa orang lain pun sudah berpisah dengan badan. "Artinya, sudah sepantasnya kita selalu bersyukur terhadap apa yang kita miliki dan rasakan," kata Asasriwarni menambahkan. (Armaidi Tanjung/Mahbib)

Foto: Tampak Ketua PCNU Padang Yultel Ardi, Kepala Kemenag Kota Padang Japeri dan Musytasyar PWNU Sumbar Asasriwarni.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Doa, Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Menilik Tradisi Aqiqah di Sulsel

Pangkep, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Aqiqah adalah peristiwa agama berupa penyembelihan kambing bagi bayi yang baru lahir, satu ekor kambing untuk perempuan dan dua ekor kambing untuk laki-laki, yang disedekahkan kepada kerabat dan handaitolan. Di Indonesia, ritual aqiqah tersebut dipadu dengan tradisi dan kearifan lokal sehingga menjadi sebuah peristiwa yang menarik dan penuh makna.



Menilik Tradisi Aqiqah di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
Menilik Tradisi Aqiqah di Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

Menilik Tradisi Aqiqah di Sulsel

Di Sulawesi Selatan yang didominasi oleh suku Bugis dan Makassar, syukuran aqiqahan ini sangat kental dengan makna penyelamatan lingkungan dan pesan moral agar melihat dalam perspektif jangka panjang sampai lintas generasi, bukan berfikir secara instan sehingga kelahiran sebuah generasi baru tidak merusak atau membebani alam sekaligus menjaga tradisi gotong royong dan memelihara kekerabatan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah sempat mengikuti sebuah acara prosesi upacara aqiqahan di kelurahan Pundata Baji, Kec. Labakkang Kab. Pangkep Jum’at (8/2) atas seorang bayi perempuan dengan nama Anindyanari Lintang Amala, putrid campuran Jawa-Makassar yang diaqiqahi pada hari ketujuh kelahirannya. Terdapat beberapa ritual dan sejumlah barang yang harus disediakan yang menjadi simbol dan doa bagi masa depan bayi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terdapat perbedaan persyaratan bagi bayi yang masih keluarga bangsawan dengan gelar karaeng, andi, atau daeng, dengan masyarakat biasa. Sebagai anak yang masih memiliki darah bangsawan suku Makassar, ia diwajibkan untuk menyediakan 29 bibit kelapa. Dalam acara aqiqahan, bibit kelapa tersebut dihias dengan indah dan ditaruh dalam kamar bayi. Beras yang ditaruh dalam baskom juga dihias dengan bentuk kepala manusia.

Penanaman kelapa ini merupakan upaya agar bayi yang baru lahir telah dipersiapkan sebagian dari kebutuhan hidupnya. Kelapa, buah yang bermanfaat dari akar sampai ujung daun tersebut akan berbuah ketika sang bayi sudah menginjak remaja yang hasilnya bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan hidupnya. Terdapat pesan moral yang penting bahwa segala sesuatu telah dipersiapkan bagi kehidupan bayi dalam perspektif jangka panjang dan tidak merusak alam. Tradisi ini sangat kontekstual pada masa sekarang ini

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

dimana alam dieksploitasi habis-habisan sehingga menimbulkan berbagai bencana alam.

Sayangnya tradisi yang sangat bagus ini bagi sebagian masyarakat hanya menjadi simbol saja karena perubahan kondisi sosial masyarakat. Perubahan dari masyarakat agraris dengan kepemilikan tanah yang luas tentu tidak mengalami masalah dalam menjalankan tradisi ini. Tetapi ketika masyarakat sudah hidup di perkotaan dengan kepemilikan tanah hanya selebar petak rumahnya saja, tampaknya perlu ada perubahan tradisi yang lebih fleksibel terkait dengan penyelamatan lingkungan.

Bayi yang baru lahir juga disediakan dua ekor ayam yang masih usia muda dan sebutir telur ayam. Ayam merupakan binatang yang bisa berkembang biak dengan cepat dan memiliki nilai gizi yang sangat bagus. Untuk mengenalkan diri dengan binatang, saat prosesi aqiqah, dahi bayi dan ibunya disentuhkan dengan ayam-ayam tersebut.

Selain itu disediakan pula sebuah kelapa muda yang dibuka dan airnya digunakan untuk membasahi gunting guna memotong rambut sang bayi. Kelapa muda melambangkan sebuah kesegaran, kemudaan, dan kesehatan yang diharapkan selalu menyertai kehidupan anak yang dilahirkan tersebut. Sebelas lilin kecil merupakan simbol agar kehidupannya selalu diliputi jalan terang.

Dua potong gula merah juga disediakan sebagai simbolisasi agar kehidupan anak tersebut selalu manis, menyenangkan, dan penuh kegembiraan. Ditambah pula dengan dua buah pala yang berisi pengharapan agar bayi tersebut bisa bermanfaat bagi orang lain. Ia akan selalu ada ketika orang lain membutuhkannya.

Tak ketinggalan, sebuah tasbih dengan sebuah cincin emas yang dicelupkan ke air kemudian disentuhkan di dahi menunjukkan agar ajaran agama selalu menjadi pegangan dalam seluruh kehidupannya. Untuk menambah suasana, dinyalakan pula dupa untuk wewangian dalam prosesi potong rambut bayi yang dilakukan oleh dukun bayi terlatih yang telah membantu merawat bayi.

Bagi dukun bayi, mereka diberi sedekah berupa 12 macam jenis kue yang ditaruh dalam satu nampan, 8 liter beras dan uang 20 ribu rupiah yang dibawa pulang setelah prosesi tersebut selesai.

Ari-ari yang merupakan bagian tubuh bayi saat dilahirkan menjadi bagian penting. Setelah dicuci, ari-ari tersebut ditanam dengan harapan agar bayi tersebut selalu ingat akan kampung halaman dimana ia dilahirkan.

Pembacaan barasanji atau syair barzanji juga umum diselenggarakan pada malam aqiqahan. Pada acara tersebut rambut bayi dipotong dan ada pula pembagian minyak wangi kepada jamaah yang membacakan syair-syair pujian kepada Rasulullah.

Bagi orang Bugis-Makassar, perayaan akikah diselenggarakan cukup meriah. Pada acara tersebut sekitar 300 orang kerabat dan relasi diundang. Keluarga dekat telah berdatangan sehari sebelumnya untuk membantu menyiapkan pesta. Para tamu yang datang biasanya memberikan sumbangan atau kado untuk bayi. Tamu-tamu juga turut melihat si kecil yang kini telah menjadi anggota baru dalam keluarga tersebut.

Sayangnya, kekayaan tradisi dan kearifan lokal ini seringkali kurang dipahami maknanya secara utuh. Masyarakat hanya melaksanakan apa yang sudah dilakukan oleh para pendahulunya tanpa memahami makna dan filosofinya. Sebagian masyarakat bahkan menganggap hal ini sebagai bid’ah yang harus ditinggalkan.

Seorang gadis memaknai pemberian bunga dari seorang pria sebagai simbol dan tanda cinta. Tentunya Allah juga memahami doa melalui simbol-simbol yang dibuat hambanya. (Mukafi Ni’am)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Fragmen, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 15 Desember 2017

NU Aset Bangsa yang Harus Dipertahankan

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jamiyyah Nahdlatul Ulama (NU) merupakan aset bangsa yang luar biasa karena umat yang terbesar di Indonesia, bahkan dunia. Sebab itu Jamiyyah ini harus dipertahankan.

Demikian diungkapkan KH Kamil Ahmad, Rais Syuriah PCNU Jepara dalam Ziarah Akbar di makam Suromoyo desa Kedungleper kecamatan Bangsri kabupaten Jepara, Ahad (07/06).  

NU Aset Bangsa yang Harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Aset Bangsa yang Harus Dipertahankan (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Aset Bangsa yang Harus Dipertahankan

Kiai Kamil mengharapakan NU harus terus dipertahankan oleh bangsa. Sebab ia meyakini jika NU memberontak akan berbahaya. Misalnya saja jika warga NU tidak membayar pajak negara akan bangkrut. Tetapi warga NU, lanjutnya, merupakan warga yang taat membayar pajak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jangan sampai warga warga NU berontak karena tidak diperhatikan pemerintah,” paparnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai aset besar NKRI NU tidak hanya sebuah pernyataan belaka. Tetapi sejak dulu senantiasa mempertahankan NKRI. Pada Oktober 1945 KH Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad yang isinya kemerdekaan wajib dipertahankan serta pemerintah yang sah harus dipertahankan dan diperjuangkan oleh warga NU.

Maka tidak salah jika tahun 1964 Mbah Hasyim dianugerahi oleh Presiden Soekarno sebagai pahlawan nasional. Tidak hanya dulu, sekarang juga demikian. Oktober tahun lalu Jokowi menganugerahi KH Wahab Hasbullah sebagai pahlawan nasional.

“Jangan dianggap remeh. Kita memang kaum sarungan. Klular-klulur (lemah, red) tetapi kalo sedang dibutuhkan kita akan berjuang lahir batin mempertahankan negara,” tegas Kiai Kamil.

Meneruskan Perjuangan

Ketua PCNU Jepara, KH Asyhari Syamsuri menambahkan sebagai warga NU Jepara harus meneruskan perjuangan KH Ahmad Fauzan. Bagi Kiai Asyhari Kiai Fauzan sebelum Indonesia merdeka sudah menginisiasi berdirinya NU secara kultural. Baru setelah Indonesia merdeka Kiai Fauzan merupakan pelopor berdirinya NU di Jepara.

Begitu pula dengan KH Amin Sholeh. Kiai Amin dulu ialah Rais PWNU Jawa Tengah juga Ketua MUI Jawa Tengah. Untuk itu, warga NU tidak boleh lupa meneruskan perjuangan-perjuangan mereka. Momen itu tambah Kiai Asyhari merupakan syiar NU dari tingkatan paling bawah.

“Kita harus menunjukkan bangsa amaliah kita berdasar. Kalo pengikut agama Islam yang lain menganggap semua jenis bidah sesat maka kita meski membedakannnya. Ada bidah hasanah seperti yang kita lakukan semacam tahlil, manaqib, maulid dan sebagainya,” imbuhnya.

Kegiatan yang diinisasi oleh GP Ansor dan Fatayat NU Jepara ini menziarahi 2 makam di Suromoyo yakni KH Ahmad Fauzan dan KH Amin Sholeh. Selain dihadiri kiai, pejabat juga ribuan jamaah serta siswa madrasah. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 Desember 2017

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puluhan pelajar tingkat SMP dan sederajat dari berbagai daerah di Indonesia mengadu kepintaran untuk merebut tropi dari Menteri Pendidikan dan Gubernur Jawa Timur. Para pelajar kelas 9 ini selama 4 hari mengikuti Olimpiade Sains dan Sosial (SSO) yang digelar SMA Darul Ulum 2 BPPT, Pesantren Rejoso Peterongan Kabupaten Jombang Jawa Timur.

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

SMA Pesantren Darul Ulum Gelar Olimpiade Sains dan Sosial Nasional

Djihan Islahiyah dan dua rekannya peserta asal SMP Islam Al Azhar, Pontianak? misalnya mengaku sudah mempersiapkan diri untuk mengikuti lomba tingkat Nasional ini. Sebagai wakil dari luar Jawa, Djihan sangat berharap bisa memenangi olimpiade Sains dan Sosial. "Kita dating bertiga, dan sekolah kita memang jauh hari telah mempersiapkan muridnya untuk mengikuti lomba ini," katanya ditemui usai mengikuti lomba.

Dengan menggunakan seragam, khas pelajar berjilbab ini mengatakan bahwa sekolah yang diwakilinya pernah mendapatkan medali perak dari lomba sains tingkat provinsi. "Dengan materi yang dilombakan, kita optimis bisa menjadi Juara," tambahnya seraya mengatakan dirinya sudah berulang kali mengikuti ajang lomba serupa di daerah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbeda dengan peserta asal Pontianak,? Padil pelajar SMP Negeri Palu Sulawesi Selatan, meski bisa menjawab soal-soal yang dilombakan, namun pihaknya mengaku pesimis. Pasalnya dirinya hanya datang bersama dua rekannya. "Kita datang cuman dua orang, karena yang satu sakit saat akan berangkat ke sini, jadi ada satu materi yang kurang kayaknya," ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk menghadi olimpiade ini, Saifullah Kamil menceritakan,? sekolah memberikan materi tambahan khusus bagi pelajar yang ditunjuk untuk mengikuti lomba. "Latihan latihan itu diwajibkan 2 kali setiap minggu. Dan ini adalah lomba yang pertama kita ikuti," ungkapnya dengan logat khas Palu.

Ahmad Kaseri Kepala SMA Darul Ulum 2 Unggulan BPPT mengatakan, olimpiade Sains dan Sosial kali ini diikuti sebanyak 1. 629 peserta. Terdiri dari 68 Tim peserta Sains dan 51 Tim peserta Sosial yang datang dari berbagai daerah dan provinsi.

"Antusias peserta cukp tinggi, disamping hadiah uang pembinaan, mereka yang juara berhak mendapatkan tropi bergilir dari Menteri Pendidikan dan Tropy dari Gubernur Jatim," jelasnya seraya mengatakan untuk pemenang olimpiade, Kusairi menyebutkan, jika masuk SMA DU 2 ini, akan mendapatkan tambahan biasiswa selama 1 tahun. (Muslim Abdurrahman/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Desember 2017

Kader Ansor Bandung Fasilitasi Pasien Dhuafa Penderita Tumor

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Azis Ahmad Zainudin (28) kader GP Ansor Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung menunjukkan kepedulian sosialnya. Azis yang saat ini berprofesi sebagai pendamping desa itu terpanggil hatinya untuk memfasilitasi warga penderita tumor ganas yang akses menuju pelayanan kesehatan sangat jauh dari tempat tinggalnya.

Hanya bermodalkan silaturahmi dan kesadaran kemanusiaan, ia berhasil mengetuk hati sejumlah donatur untuk membawa warga penderita tumor ganas yang diketahui bernama Beni (54), warga Kampung Cimala, Desa Cukanggenteng, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung.

Kader Ansor Bandung Fasilitasi Pasien Dhuafa Penderita Tumor (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Bandung Fasilitasi Pasien Dhuafa Penderita Tumor (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Bandung Fasilitasi Pasien Dhuafa Penderita Tumor

"Kebetulan keluarga Pak Beni tergolong keluarga tidak mampu. Walaupun sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), tapi untuk menempuh perjalanan ke RSHS Bandung sangat jauh mencapai puluhan kilometer. Dan itu tentu sangat membutuhkan fasilitas," ujar Azis saat dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Selasa (24/1).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saat ini, kata Azis, penderita tumor ganas itu kini sudah dirawat di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung berkat bantuan kendaraan dari salah satu donatur Sedekah Rombongan, sebuah yayasan yang bergerak dalam bidang sosial.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Tapi kami juga koordinasi dengan beberapa instansi pemerintah seperti kepala desa, Muspika dan Dinas Sosial. Mereka apresiatif. Bahkan kami juga sudah kirim surat ke Bupati bahwa di daerah kami yang terpencil ini banyak warga miskin yang masih kesulitan untuk berobat," katanya.

Ke depan ia akan terus memberikan dampingan kepada warga miskin yang masih kesulitan untuk berobat. Bahkan ia mengajak semua pihak untuk sama-sama memberikan advokasi di wilayahnya tersebut sehingga bisa menggerakkan pemerintah agar ada anggaran untuk warga miskin yang hendak berobat.

"Sebetulnya target ada satu keluarga lagi yang sangat membutuhkan dan siap kami fasilitasi. Mudah-mudahan lancar tanpa ada halangan apapun," pungkas pria yang saat ini menjabat sebagai Sekretaris GP Ansor Pasirjambu tersebut. (Ade Mahmudin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqih

Oleh Nadirsyah Hosen

Sebelum mengeluarkan fatwa, para ulama harus terlebih dahulu mengetahui kaidah yang dapat digunakan untuk menggali hukum amaliah dari dalil yang terperinci. Pengetahuan ini bersumber dari disiplin ilmu klasik, yaitu Ushul al-Fiqh. Tiada fiqh tanpa melalui Ushul al-Fiqh. Kalau ilmu fiqh bicara soal halal-haram, maka ilmu Ushul al-Fiqh bicara proses yang mendasari halal-haram tersebut.

Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqih

Imam Syafii (w. 204 H) dianggap sebagai ulama yang pertama kali secara sistematis menulis kitab Ushul al-Fiqh lewat karyanya al-Risalah. Setelah itu bermunculan kitab yang ditulis para ulama untuk menjelaskan (syarh) apa yang disampaikan Imam Syafii dan ada pula yang mengkritisi isi kitab beliau. Para ulama Iraq yang mengikuti mazhab Hanafi misalnya seperti al-Kannani (w. 289 H) dan al-Qummi (w. 305 H) masing-masing menulis kitab al-Hujjah fi al-Radd ala al-Syafii dan Ma Khalafa fihi al-Syafii al-Iraqiyyin fi Ahkam al-Quran.?

Tentu saja para ulama pengikut Imam Syafii mempertahankan dan menjelaskan kitab al-Risalah, misalnya nama-nama seperti al-Sayrafi (w. 330 H), al-Nisaburi (w. 365 H), dan al-Jawzaqi (w. 388). Dibutuhkan sekitar 2 abad untuk para ulama memperdebatkan disiplin ilmu ushul al-fiqh yang dikembangkan oleh Imam Syafii.

Pada abad 5 Hijriah, para ulama mulai menyusun ulang isi kitab ushul al-Fiqh. Dua ulama besar yang terkenal sebagai hakim agung pada masanya merintis ulang usaha ini. Al-Qadli al-Baqillani (w. 402) ulama ahlus sunnah wal jamaah dari mazhab Maliki digelari Syekh Ushuliyyin setelah menulis al-Taqrib wal Irsyad. Sayangnya kitab ini dikabarkan sempat hilang dan hanya kita ketahui pentingnya kitab ini dari sejumlah ulama klasik yang sering merujuk pada karya besar ini. Kabarnya belakangan kitab ini ditemukan dalam bentuk manuskrip di Cairo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Al-Qadli Abdul Jabbar (w. 415 H) yang merupakan tokoh Mutazilah menulis kitab Ushul al-Fiqh berjudul al-Amd (dua jilid). Kitab ini dikomentari oleh Abu al-Husayn al- Basri (w. 435 H) dalam al-Mutamad fi Ushul al-Fiqh. Beliau ini ulama yang cukup "aneh" karena dalam ilmu kalam mengikuti mazhab Mutazilah namun dalam hal fiqh beliau mengikuti mazhab Syafii.

Al-Juwayni (w. 478 H) yang diberi gelar Imam al-Haramain, selain meringkas kitab al-Baqillani, juga menulis kitab sendiri yang juudlnya al-Burhan fi Ushul al-Fiqh. Imam al-Haramain ini merupakan guru dari Imam al-Ghazali. Yang menarik, Imam al-Haramain mengaitkan antara ilmu kalam dengan Ushul al-Fiqh. Beliau juga lebih jauh menjelaskan berbagai topik yang dibahas oleh Imam Syafii. Namun demikian, sebagai seorang ulama kaliber dunia, beliau juga turut menyampaikan kritikan terhadap Imam Asyari dan Imam Syafii serta ulama lainnya. Keberanian beliau ini mendapat komentar tajam dari para ulama seperti al-Maziri (w. 536 H) dan al-Abyari (w. 616 H) dari mazhab Maliki yang tidak bisa menerima Imam al-Haramain mengkritik Imam Malik.

Imam al-Ghazali (w. 505 H) meneruskan gaya kontroversial gurunya. Tidak tanggung-tanggung Imam al-Ghazali menulis 4 kitab berbeda dalam disiplin ilmu ini. Kitab terakhirnya yang dijadikan rujukan luas yaitu al-Mustasfa. Imam al-Ghazali juga tidka segan berbeda pandangan dengan Imam Syafii. Jadi hal yang wajar saja kalau murid berbeda pandangan dengan guru atau bahkan kakek gurunya. Tapi tetap saja Imam al-Haramain dan Imam al-Ghazali tidak keluar dari mazhab Syafii, tidak seperti Imam Abu Tsaur, Imam Ahmad dan Imam Dawud yang ketiganya mendirikan mazhab sendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bagaimana dengan mazhab di luar Syafii? Al-Sarkhasi (w. 423 H) dari mazhab Hanafi yang digelari Syamsul al-Aimmah menulis kitab al-Ushul. Begitu juga Imam al-Jassas (w. 370 H) menulis kitab dengan judul serupa. Sebelumnya ada lagi al-Dabusi (w. 340 H) yang menulis Taqwim al-Adillah. Pengaruh al-Dabusi dan Sarakhsi dalam pembahasan ushul al-fiqh di mazhab Hanafi sangat kuat. Corak pembahasan Syafiiyah dan jumhur ulama (Mutakallimin) dengan Hanafiyah dalam kajian Ushul al-Fiqh memang berbeda.

Pada abad ketujuh Hijriah, disiplin ilmu Ushul al-Fiqh sudah dianggap mapan. Maka mulailah pada periode ini penggabungan kitab, peringkasan dan penjelasan atas ringkasan kitab-kitab sebelumnya. Empat kitab utama yaitu al-Amd, al-Mutamad, al-Burhan dan al-Mustasfa digabung pembahasannya oleh dua ulama besar. Pertama, al-Amidi (w. 631 H) dari mazhab Syafii meringkasnya dalam al-Ihkam fi Usul al-Ahkam.?

Lantas diringkas kembali oleh Ibn Hajib (w. 646 H) dalam Muntaha al-Sul. Oleh pengarangnya sendiir, buku ini kemudian diringkas kembali dalam Mukhtasar Ibn al-Hajib. Lantas pembahasan yang sudah ringkas, diberi komentar panjang oleh Udad al-Din al-Iji (w. 756 H), al-Syirazi (w. 710 H) dan al-Asfahani (w. 749 H).

Kedua, Fakhr al-Din al-Razi dari mazhab Syafii (w. 606 H) menulis al-Mahsul yang merupakan ringkasan dan gabungan dari 4 kitab utama di atas. Dari mazhab Maliki, Imam al-Qarafi (w. 684 H) menulis Tanqih al-Fusul fi Ikhtisar al-Mahsul. Ringkasan al-Mahsul ini kemudian diberi penjelasan sendiri oleh beliau dalam kitabnya Syarh Tanqih al-Fusul. Al-Armawi (w. 656) ikut meringkaskan al-Mahsul dalam kitabnya al-Hasil (Tahsil al-Mahsul). Al-Baydawi (w. 685) kemudian meringkaskan kembali al-Hasil dalam karyanya Minhaj al-Wusul.

Namun karena diringkas dari ringkasan orang jadi susah mengerti karena itu al-Asnawi (w. 772 H) menjelaskan Minhaj-nya al-Baydawi dalam kitabnya Nihayat al-Sul. Begitu juga al-Badakshyi berusaha menjelaskannya dalam Manahij al-Uqul yang populer dengan nama Syarh Badakhsyi. Kitab Nihayat al-Sul karya Asnawi diberi penjelasan yang luar biasa oleh Prof Abu Nur Zuhair dalam kitab Ushul al-Fiqhnya. Abu Nur Zuhair ini guru Abah saya di al-Azhar Cairo dan kabarnya Syekh Ali Gomaa, mantan mufti mesir juga pernah belajar pada Syekh Nur Zuhair ini.

Abah tidak hanya belajar di dalam kelas kepada Syekh Nur Zuhair, tetapi juga belajar langsung di kediamannya. Caranya unik, sambil bersalaman, dan lutut bertemu lutut, Syekh Nur Zuhair menjelaskan isi kitabnya, dan Abah diminta mengulangi penjelasannya tersebut. Kitab Syekh Nur Zuhair ini pula-lah yang diajarkan Abah kepada saya, dan saya mewarisi kitab yang Abah pakai saat belajar dulu dengan gurunya lengkap dengan catatan Abah di pinggir kitab. Inilah perjalanan kitab Ushul al-Fiqh dari Imam Syafii sampai abad modern ini. Inilah pula sanad kajian Ushul al-Fiqh yang saya miliki.

Jikalau anda belum pernah belajar dengan mendalam akan kitab Ushul al-Fiqh dan anda tidak memiliki sanad keilmuan dalam bidang ini, mohon anda menahan diri untuk tidak sembarangan mengeluarkan fatwa ini halal-ini haram tanpa pondasi Ushul al-Fiqh yang kuat, apalagi kalau anda dengan enteng di medsos memaki para ulama atau para sarjana Syariah hanya karena pendapatnya tidak anda setujui. Alih alih membantah dengan ilmu, anda hanya mampu mencaci-maki yang hal itu jauh dari akhlak yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah SAW.

Berbeda pendapat antara ulama itu hal biasa, asalkan tetap dilakukan dengan ilmu dan akhlak. Berbeda pendapat di kalangan awam itu luar biasa, sampai caci maki dan menuduh kesana-kemari karena tanpa ilmu dan tanpa akhlak.

Saya ingin menutup catatan ini dengan sebuah puisi selepas saya sowan ke makam Imam Syafii di Cairo pada tahun 2012. Untuk Imam Syafii peletak pondasi dasar ilmu Ushul al-Fiqh mari kita bacakan al-fatihah.

Sang Imam

Ku lihat engkau berbaring dengan tenang

Ku saksikan setiap detik beterbangan pahala jariyah ke tubuhmu

dari setiap bacaan, amalan maupun doa pengikutmu di penjuru dunia

Fatwamu bagaikan ibu (al-Umm) yang menyapih mereka

Argumentasimu menjadi surat pengantar (al-Risalah) bagi ibadah mereka

Ujung karpet terbuka

dan ku saksikan bekas tapak kaki al-Musthafa

Adakah yang lebih menggetarkan ketika engkau sang pembela Sunnah

didatangi langsung oleh al-Musthafa di saat wafatmu?

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 November 2017

Relawan LAZISNU Pringsewu Siap Berkhidmat untuk Umat

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Saat ini Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu telah memiliki sejumlah relawan yang sudah berkomitmen untuk bekhidmah mengembangkan organisasi bagi kemaslahatan umat melalui organisasi tersebut.

Relawan yang rata-rata masih muda dan energik ini siap menjadi ujung tombak dalam menggalang zakat, infaq dan shadaqah yang akan dikelola dan didistribusikan kepada mustahiq atau yang berhaq.

Relawan LAZISNU Pringsewu Siap Berkhidmat untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
Relawan LAZISNU Pringsewu Siap Berkhidmat untuk Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

Relawan LAZISNU Pringsewu Siap Berkhidmat untuk Umat

"Para relawan tersebut nantinya akan dibekali dengan pelatihan khusus dalam melaksanakan tugas di lapangan," kata Ketua LAZISNU Pringsewu Heru saat melakukan pertemuan dengan para relawan di Pringkumpul, Ahad (26/2) malam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Heru menambahkan, saat ini para relawan sedang fokus melaksanakan penggalangan dana yang nantinya akan disalurkan untuk bantuan pascabencana para korban banjir di Kecamatan Gadingrejo yang terjadi beberapa waktu lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu Katib Syuriyah PCNU Pringsewu KH Munawir yang hadir pada pertemuan relawan tersebut berharap LAZISNU terus berbenah dan menajamkan program agar kiprah organisasi semakin maksimal.

"Manajemen organisasi dan pengelolaan zakat infaq dan shadaqah sangat penting untuk meningkatkan tingkat kepercayaan para donatur," katanya.

Karena itu harus ada progress report yang terus dipublikasikan untuk diketahui oleh khalayak ramai. "Kita sangat berharap LAZISNU Pringsewu akan menjadi lembaga yang akuntabel dan bisa menjadi contoh dalam berkiprah serta memberikan manfaat bagi para mustahiq," katanya. (Muhammad Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 25 November 2017

Rapuhnya Akhlak, Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rapuhnya akhlak di kalangan generasi muda, menjadi faktor penyebab kenakalan remaja. Ahlak yang rendah sebagai akibat dari kurangnya pendidikan agama. Sehingga mudah terpengaruh oleh hal-hal yang negatif. Padahal generasi muda menjadi tumpuan kehidupan bangsa dan negara di masa mendatang.?

Demikian disampaikan Pengasuh Pesantren Assalafiyah Brebes KH Subkhan Makmun saat menyampaikah makalah pada Pembinaan Penyuluh Agama se Kab Brebes, di aula kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kab Brebes, Senin (26/05/14).

Rapuhnya Akhlak, Faktor Penyebab Kenakalan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Rapuhnya Akhlak, Faktor Penyebab Kenakalan Remaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Rapuhnya Akhlak, Faktor Penyebab Kenakalan Remaja

Kiai yang terkenal tegas tersebut mengungkapkan, bahwa kenakalan remaja seperti pencurian, penipuan, perkelahian, pengrusakan, penganiayaan, penyalahgunaan narkoba, pelanggaran susila, pelecehan seksual dan lain-lain tengah merambah generasi muda. Keadaan tersebut diatas tidak bisa kita pungkiri tetapi bukan berarti untuk dibiarkan. Namun harus ada tindakan kongkrit dari dai dan pendidik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kata Kiai Subkhan, ada upaya-upaya yang dapat diambil dalam penanggulangan kenakalan remaja. Antara lain melalui pertama, tindakan preventif berupa peningkatan kesadaran orang tua tentang tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik pertama dan utama. Kedua, menjalin komunikasi yang efekttif antara Tsalasa Usul (Tri pusat pendidikan), antara keluarga, sekolah dan masyarakat bersinerji dalam satu bahasa menangani kenakalan remaja. Langkah ketiga menanamkan ajaran agama dan nilai-nilai akhlak dan keempat memfasilitasi atau mengisi waktu-waktu luang dengan hal-hal bermanfaat.?

“Sesungguhnya, sifat muda, pengangguran dan kecukupan harta yang tidak terkendali menjadi sumber kerusakan bagi seseorang,” kata Kiai Subkhan menyitir sebuah syair.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun demikian, Keluarga tetap menjadi yang pertama sebagai madrasah keluarga. Di dalam keluarga bisa berfungsi sebanya pusat belajar agama, cinta kasih, sosial budaya, perlindungan, reproduksi, sosialisasi pendidikan, ekonomi dan pembinaan lingkungan.?

Sebagai dai dan pendidik, lanjutnya, adalah sebagai sumber teladan. Karena tidak hanya berfungsi menginformasikan ilmu saja tetapi harus berupaya membersikan diri dan mengarahkannya ke akhlaqul karimah. Jiwa dan raganya bisa mencerminkan keagungan ilmu dan mengindahkan syariat.?

Untuk itulah, sebagai dai dan pendidik harus mempunyai niat nasrul ilmu, ketulusan hati, mencontoh kebenaran dan kembali kepada yang haq serta berdoa untuk umat dan peserta didik.?

“Langkah-langkah tersebut tentunya dengan bersandar kepada Allah SWT,” papar Kiai Subkhan.

Pembinaan penyuluh agama, di prakarsai Kantor Kemenag Brebes sebagai upaya turut membangun akhlak bangsa. Kepala Kantor Kemenag Brebes H Imam Hidayat menjelaskan, pembinaan diikuti 268 penyuluh agama non PNS se Kabupaten Brebes. Para penyuluh ini, merupakan sukarelawan yang direkrut Kantor Urusan Agama tiap Kecamatan.?

“Mereka bekerja sukarela dan ikhlas dengan mengharap Ridlo Allah SWT,” kata Imam Hidayat.? (wasdiun/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, PonPes, Nasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah