Jumat, 27 Maret 2015

Antara Minat Baca, Minat Komentar, dan Minat Share

Oleh Aswab Mahasin

Akhir-akhir ini saya sering ditambahkan menjadi anggota grup Whatsapp (WA), tidak satu atau dua grup. Kelihatannya grup Whatsapp telah menjadi media bagi sekumpulan orang yang memiliki niat agar dimudahkan komunikasinya, dan grup WA terbukti efektif, seperti; rapat dalam urusan kerja bisa dilakukan di mana saja, kepentingan komunikasi bisa dengan mudah disampaikan secara masal, begitupun dengan undangan pernikahan, sunatan sampai tahlilan, hanya sekali klik seluruh anggota grup sudah mengetahui. Grup WA bisa juga dijadikan sebagai media promosi sebuah produk dagangan, yang pasti banyak manfaatnya.

Antara Minat Baca, Minat Komentar, dan Minat Share (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Minat Baca, Minat Komentar, dan Minat Share (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Minat Baca, Minat Komentar, dan Minat Share

Namun, kemudahan itu dan keefektifan tersebut banyak dimanfaatkan oleh kelompok tertentu yang mempunyai kepentingan tertentu pula, seperti: menyebarkan berita-berita hoaks, membagikan tulisan-tulisan yang melenceng dari data, sampai pada ujaran kebencian, dan (mungkin) agenda politik.

Disayangkan, seringkali anggota grup menelan mentah-mentah informasi yang diterima, dan meyakini tulisan yang dishare oleh seorang anggota grup adalah benar. Saya ambil contoh, belum lama, dan mungkin sudah lama berita ini tersebar (tapi mulai booming kembali di grup WA), mengenai tulisan dari mantan pemeluk agama Hindu (katanya) menyatakan, ritual 7 hari, 40 hari, 100 hari orang meninggal, dan seterusnya adalah warisan dari tradisi Hindu, dan tercatat/termaktub dalam kitab agama Hindu, setelah saya lihat, kebetulan saya punya Samaveda Samhita, dari penerbit Paramita Surabaya, sangat jelas bertentangan dan berbeda dari tafsir ayat-ayatnya, jauh melenceng.

Hal tersebut hanya sekulumit contoh saja, bahkan kadang berita ‘basi’-pun masih sering di-share. Belum lama, saya mendapatkan share, al-Qur’an yang diterbitkan oleh Penerbit Suara Agung, dikatakan dengan sengaja menghilangkan surat Al-Maidah ayat 51-57, dan itu disebarkan dengan bahasa yang profokatif.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, setelah saya coba telusuri kebenarannya, saya mendapatkan klarifikasi dari website resmi penerbit tersebut, dan itu mutlak kesalahan yang tidak disengaja, ayat tersebut tidak hilang namun ada kesalahatan cetak, seharusnya tercetak pada halaman 117, tapi tercetak pada halaman 113. Dan pada tahun 2015 sudah ditarik dari peredaran, untungnya baru 400 eksmplar yang terdistribusi, sisanya 5.000 eksmplar lebih dimusnahkan. 

Sesungguhnya, informasi-informasi tersebut baik untuk disampaikan, sebagai kontrol masyarakat. Tetapi, terkadang bahasa yang digunakan pengunggah awal tidak ramah lingkungan, akhirnya hanya menyisahkan kebencian bagi penerima berita. Didukung lagi tidak berimbangnya antara ‘minat baca, minat komentar, dan minat share’.

Harus kita akui, pemagang gadget/smartphone, dan pengguna Medsos memiliki ‘minat share dan minat komentar’ yang tinggi, tapi tidak berimbang dengan ‘minat bacanya’. Sebaiknya, kita jangan terlalu mudah membagikan informasi-informasi—secara data meragukan (apalagi memuat ujaran yang tidak laik konsumsi), alangkah indahnya—jika kita mencoba menelusuri sumber beritanya dan kebenarannya terlebih dahulu. 

Kita semua juga tahu, bagaimana minat komentar pengguna Medsos, ambil contoh tak usah jauh-jauh, postingan-postingan di Facebook Pondok Pesantren Attauhidiyyah, seperti tulisan-tulisan saya yang dipublikasikan di Pondok Pesantren Attauhidiyyah, setiap saya melihat komentar di FB Pondok Pesantren Attauhidiyyah, banyak komentar bertolak belakang dengan esensi ide tulisannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kenapa itu bisa terjadi? Karena mereka hanya melihat seklumit deksripsi dan judulnya saja, tanpa membaca konten isi tulisan, lagi-lagi minat baca kita “jongkok”. Kita lebih asyik mengomentari, membagikan tanpa mengetahui “isi”-nya. Kalau demikian, bagaimana kita mau menyaring mana yang benar dan keliru, jika kita hanya melihat kulitnya saja?

Fenomena ini bagi saya sedikit meresahkan. Secara tidak langsung, telah lahir otoritas baru diluar kontorl para ahli. Aktifitas bershare-ria susah untuk dibendung, memang tidak ada yang salah, tapi menjadi salah ketika tulisan/berita itu salah, dan parahnya dianggap benar oleh kebanyakan orang sehingga menjadi dalil (seakan-akan) paling shoheh. 

Pola ini yang harus kita rubah, sebagai manusia kita harus menyadari, Allah SWT telah menghadiahkan bingkisan luar biasa berupa ‘akal’, sebab itu manusia menjadi ahsan taqwim (makhluk paling mulia). Manusia harus cermat memilah-memilih, mana konten yang laik di-share dan mana yang tidak, kemudian mana komentar yang sesuai dengan isi konten tulisan, tidak malah bertengkar atau mengubar ujaran paling benar antara satu dan lainnya. Kita harus lebih cerdas lagi.

Karena begini, setiap informasi tidak bisa dijadikan sebagai standar otoritas fatwa, apalagi standar kebenaran (begitupun dengan tulisan ini), apalagi tulisan-tulisan yang tersebar di grup WA dan Medsos. Otoritas yang mempunyai makna adalah otoritas yang memegang teguh prinsip-prinsip ilmiah, tidak hanya sebatas simbol-simbol yang tidak bisa dijelaskan secara kebenarannya, apalagi informasi-informasi yang berisi sampah hoaks, jelas tidak memiliki otoritas babar-blas.

Meminjam pernyataan Haidar Bagir dalam buku Islam Tuhan, Islam Manusia, menyatakan, otoritas bisa diterima dalam makna yang sesuai dengan makna-asli ajektif, yakni yang bersifat ilmiah. Semua itu diyakini karena al-Quran sebagai otoritas tertinggi dalam Islam, mengajarkan bahwa agama Islam adalah untuk orang-orang yang berakal, Nabinya pun dengan tegas mengatakan, “tak ada agama bagi orang yang tak berakal.”

Artinya, kita tidak diizinkan ‘serampangan’ dalam menentukan sebuah kebenaran, harus ada otroritas yang jelas, secara sumber, fakta, dan keabsahan sebuah berita/tulisan. Kebanyakan dari kita tidak fokus pada pencarian kebenaran, kita malas untuk menganalisis ulang. Apalagi komentar-komentar yang tercecer dalam Medsos, hanya menyisihkan permusuhan-permusuhan pendapat yang sama sekali (belum menjamin) kemungkinan benar, hanya kesombongan semata.

Minat share dan minat komentar, harus dibarengi dengan minat baca, dengan kata lain, membiasakan mencari sumber yang jelas dan harus dipelajari terlebih dahulu. Di sini kita membutuhkan sebuah perangkat ‘alat perang’, yaitu perang melawan hawa nafsu. Karena nafsu menjadi ingin ‘manfaat’ di zaman digital sekarang, belum tentu menyebarkan kemanfaatan mutlak secara universal. Apalagi dorongan menjadi manfaat tersebut, dibarengi dengan nafsu merasa benar. 

Di era digital sekarang, harus disadari banyak jebakan yang mengintai, tidak hanya kemanfaatan yang bisa menjadi salah, agama pun jika dikendalikan oleh ‘pendekar yang berwatak jahat’ bisa juga salah. Analoginya, tangan kita yang mempunyai fungsi untuk menulis, makan, minum, menggendong, dengan berbagai macam fungsi ‘baik’nya, akan menjadi salah jika difungsikan untuk memukul orang, menampar, membunuh, dan sebagainya. Maka dari itu, dalam sebuah riwayat disebutkan, kelak nanti, seluruh organ tubuh kita akan dimintai pertanggung jawaban, dan mulut akan membisu. 

Harus Anda sadari pula, berita hoaks dan tulisan yang bersumber ngawur, bukanlah sebuah argumen ilmiah dan bukan juga pendapat yang shoheh, melainkan hanya untuk menggiring opini kita supaya mengikuti alur si pembuat berita, dengan berbagai macam kemungkinan kepentingan.

Namun, jika sebuah tulisan dan berita itu bersumber jelas, harus Anda ‘amini’, bahwa itu adalah khazanah pengetahuan. Dan kita harus sebisa mungkin mempunyai prinsip, sebuah pendapat mempunyai dua kemungkinan, pendapat Anda mempunyai peluang salah dan benar, begitupun dengan pendapat saya. Tapi, lagi-lagi itu adalah hak seseorang untuk berpendapat, tidak bisa kita batasi. Dan si tukang komentar tidak usah bertengkar karena itu.

Kita harus meyakini, kebijaksanaan, kebaikan, hikmah, dan segala rupanya yang positif terdapat di mana-mana, bahkan dalam pendapat yang tidak kita sepakati sekalipun. Lalu, kewajiban kita sebagai seorang yang ingin menaikan taraf kualitas diri, harus ‘memungutnya’. Sekali lagi, bukan malah perang komentar. 

Semua itu bisa dilakukan, asalkan minat baca, minat menganalisis, dan minat mempelajari lebih diutamakan, daripada minat mengomentari dan minat share. Jangan, jangan dulu dibagikan, jangan dulu dikomentari, kalau Anda belum benar-benar paham tentang isinya. Karena bisa saja Anda terjebak dalam kemanfaatan semu, hanya gara-gara dibuai dengan kata-kata, “Jangan berhenti pada Anda, sebarkan kemanfaatan ini kepada teman-teman Anda.” (mungkin itu jebakan). Baca lagi, teliti lagi, dan pelajari lagi. Biasakan melakukan hal-hal tersebut. 

Saya tutup tulisan ini dengan sebuah antologi puisi, In The Mecca, Gwendolyn Brooks (1917-2000 M) mengatakan: “One reason that cats are happier than people is that they have no newspapers—satu alasan kenapa kucing lebih bahagia dari manusia adalah, bahwa mereka tidak memiliki koran.” Apalagi Whatsapp, begitupun dengan grup WA dan Medsos.

Penulis adalah pengelola website www.tangga.id.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, RMI NU, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 24 Maret 2015

Indonesia Siap Jadi Juru Damai Arab Saudi-Iran

Konflik memanas yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran hari-hari ini yang, sebagaimana diberitakan banyak media, diawali dari eksekusi mati Sheikh Nirm al-Nimr, tokoh Syiah yang berdomisili di bagian timur Arab Saudi, sungguh sangat memprihatinkan.

Rakyat Iran marah. Mereka membakar kantor kedutaan Besar Arab Saudi di Teheran, Ibukota Iran. Ujungnya, Arab Saudi secara resmi memberhentikan hubugan diplomatic kedua negara.

Indonesia Siap Jadi Juru Damai Arab Saudi-Iran (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Siap Jadi Juru Damai Arab Saudi-Iran (Sumber Gambar : Nu Online)

Indonesia Siap Jadi Juru Damai Arab Saudi-Iran

Keadaan itu langsung menyita reaksi publik, termasuk demonstrasi yang terjadi di negara-negara timur tengah: Iran, Irak, Pakistan, dan juga Lebanon.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Konflik yang terjadi antara Arab Saudi dan Iran sangat tidak layak dipertontonkan dan sangat menghawatirkan. Kedua belah pihak sama-sama bersikukuh pada pandangan masing-masing. Jika hal ini dibiarkan, bukan tidak mungkin akan terjadi pertempuran yang lebih luas dan berbahaya bagi dunia.

Dalam pada itu, Arab Saudi dan Iran adalah representasi dunia Islam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), dalam konteks konflik antara Arab Saudi dan Iran ini, Pertama, mendorong pemerintah untuk mengambil peran serta langkah-langkah diplomatic dalam rangka membantu menyelesaiakan konflik Arab Saudi dan Iran ini.

Kedua, dalam mengambil langkah diplomatik, Pemerintah Indonesia harus berhati-hati agar tidak terlibat dalam pemihakan (tidak melakukan blocking).

Ketiga, Indonesia sangat siap untuk menjadi juru damai konflik tersebut. Sebab Indonesia, sebagai Negara berpenduduk muslim terbesar dan terbukti dalam menjaga toleransi dalam kemajemukan, memiliki modal diplomatik yang tinggi.

Keempat, PBNU mengimbau agar konflik tidak diperparah dengan isu-isu ideologi Wahabi-Syiah.

Kelima, mengmbau pada umat Islam agar tidak terprovokasi sehingga melakukan tindakan-tindakan yang merugikan.

Dalam pada itu, PBNU, dalam konteks konflik Arab Saudi dan Iran,? siap menjadi garda depan untuk selalu melaksanakan dan juga megembangkan paham Islam yang moderat “Islam Nusantara” yang selalu mengedepankan sikap moderat, seimbang, adil, dan juga toleran.

Jakarta, 06 Desember 2015

Ketua Umum? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?



Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 20 Maret 2015

Rektor IAI Nganjuk Dorong Anak Muda Masuk Perguruan Tinggi

Nganjuk, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Generasi muda menjadi bagian penting untuk pembangunan bangsa. Karenanya, perlu diberikan perhatian khusus bagi anak muda Indonesia masuk perguruan tinggi, terlebih hanya 9 persen masyarakat kita yang pernah mengenyam perguruan tinggi.

Demikian pernyataan Rektor Institut Agama Islam (IAI) Pangeran Diponegoro, Drs Riduwan M.Pd.I, saat membuka Sanlat BPUN 2016, di Aula Kampus Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro, Nganjuk, Jawa Timur, Ahad (10/4).

Rektor IAI Nganjuk Dorong Anak Muda Masuk Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rektor IAI Nganjuk Dorong Anak Muda Masuk Perguruan Tinggi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rektor IAI Nganjuk Dorong Anak Muda Masuk Perguruan Tinggi

Menurut Riduwan, salah satu syarat menjadi negara maju yakni harus mendorong anak-anak muda supaya lebih banyak lagi masuk ke perguruan tinggi. "Sekarang ini baru 9 persen anak-anak Indonesia yang masuk ke perguruan tinggi, setidaknya harus 20 persen. Malaysia sudah 20 persen, jangan sampai anak muda usia 18-21 semakin sedikit yang masuk ke perguruan tinggi," ujarnya.

Indonesia dalam beberapa tahun ke depan, lanjut dia, berada pada masa emas, dimana jumlah usia produktif rakyat Indonesia mendominasi. Sementara di berbagai negara justru sudah sebaliknya karena masuk pada generasi tua.

Jumlah pelajar yang meneruskan ke perguruan tinggi di Indonesia kalah jauh dibandingkan Korea dan Malaysia. Ada anggapan rendahnya angka partisipasi itu karena biaya kuliah di Indonesia yang mahal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karenanya ? bagi pelajar yang nantinya tidak lolos seleksi pesantren kilat (Sanlat) BPUN 2016 di Kabupaten Nganjuk, pihaknya akan memberikan bantuan. “Kami Istitut Agama Islam Pangeran Diponegoro Kabupaten Nganjuk membuka beasiswa bagi siswa/siswi program beasiswa yayasan” ujar Ketua LPTNU Nganjuk ini.

Kampus IAI Pangeran Diponegoro membuka beasiswa untuk Fakultas Ushuludin dan Studi Agama (FUSA) meliputi ? Ilmu Quran dan Tafsir (IAT), Akhlaq Tasawuf ( AT), Fakultas Dakwah Komunikasi Islam (FDKI) Menejemen Dakwah (MD) dan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI).

Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro memiliki empat Fakultas ? yaitu Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) meliputi (PAI), (PGMI) dan (PGRA). Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam (FSEI)) meliputi Ekonomi Syariah (ES), Hukum Tata Negara/Siyasah (HTN). Fakultas Dakwah dan Komunikasi Islam (FDKI), Manajemen Dakwah (MD) Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI). Fakultas Usuludhin dan Studi Agama (FUSA) meliputi ? Ilmu Al Quran dan Tafsir (IAT), Akhlak Tasawuf (AT).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sekarang dalam proses pembangunan fakultas kesehatan (Stikes) dan Tehnik (STIT). Insyaallah tahun depan sudah beroprasi. Target kami 2020 sudah jadi universitas,” pungkas Ketua MWC NU Kecamatan Wilangan ini. (Anwar Muhammad/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pondok Pesantren Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 19 Maret 2015

Sebar Islam Damai, Gusdurian Didorong Kuasai Strategi Bermedia Sosial

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jaringan Gusdurian diharapkan tidak sekadar sebagai wadah kumpul-kumpul. Gusdurian harus memberikan dampak positif. Demikian disampaikan mantan aktivis 1998, Syafi’ Alielha, di hadapan anggota Jaringan Gusdurian, di Griya Gus Dur, Jakarta, Sabtu (5/3) sore.

Sebar Islam Damai, Gusdurian Didorong Kuasai Strategi Bermedia Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Sebar Islam Damai, Gusdurian Didorong Kuasai Strategi Bermedia Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Sebar Islam Damai, Gusdurian Didorong Kuasai Strategi Bermedia Sosial

Lebih lanjut, Syafi’ yang menjadi pembicara pada lokakarya media sosial Jaringan Gusdurian mengatakan bahwa tantangan saat ini memang besar tetapi bukan berarti tanpa peluang.

Dalam upaya menyebarkan Islam yang damai, Jaringan Gusdurian harus menguasai teknologi dan strategi bermedia sosial. Jaringan Gusdurian bisa membuat meme, status, atau membagikan link-link yang terkait Islam damai melalui media sosial.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurutnya, masyarakat saat ini sangat haus akan informasi spiritual. Jangan sampai informasi yang tersedia hanya berasal dari golongan-golongan yang mengedepankan intoleransi dan kekerasan, yang dewasa ini begitu gencar.

Syafi’ mengingatkan, penyebaran informasi soal Islam yang damai, harus didukung dengan penguasaan bahan. Oleh karena itu, diperlukan kebiasaan membaca yang aktif.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lokakarya media sosial tersebut merupakan rangkaian awal dari pertemuan regional Jaringan Gusdurian Wilayah Jawa Bagian Barat yang meliputi Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Banten, berlangsung 5-6 Maret 2016. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 07 Maret 2015

Tak Benar Pesantren Tak Bekali Santri Keahlian untuk Hidup

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais syuriyah PBNU Dr. Masyhuri Naim mengungkapkan ketidaksetujuannya pada pandangan sebagian masyarakat yang menganggap bahwa pesantren tidak memberi bekal untuk hidup.

Kiai lulusan Saudi Arabia ini menjelaskan bahwa saat ini banyak pesantren yang memberi bekal santrinya dengan berbagai ketrampilan seperti peternakan, pertanian dan bidang keahlian lainnya.

Tak Benar Pesantren Tak Bekali Santri Keahlian untuk Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Benar Pesantren Tak Bekali Santri Keahlian untuk Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Benar Pesantren Tak Bekali Santri Keahlian untuk Hidup

Ia mencontohkan pesantren Sidogiri Pasuruan yang dengan metodenya telah berhasil membuat para santrinya bisa eksis dalam berbagai bidang kehidupan. Pesantren ini telah memiliki koperasi dengan omset milyaran per tahun maupun Baitul Mal wat Tamwil (BMT) yang kini sudah menjangkau banyak kota di Jawa Timur.

Dalam sistem pengajarannya, para santri juga diminta untuk tugas belajar atau semacam KKN selama setahun sebelum mereka lulus. Program yang sudah berjalan lama ini membuat para santri belajar untuk mengajarkan ilmunya maupun belajar kehidupan secara langsung di masyarakat.

“Metode ini yang juga dilakukan oleh Rasulullah dengan mengirim sahabat-sahabatnya ke berbagai tempat sementara yang tinggal di Madinah sendiri tidak terlalu banyak sehingga Islam bisa berkembang dengan cepat,” tandasnya di PBNU disela-sela acara halaqah syuriyah, Rabu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai yang kini mengajar di UIN Syarif Hidayatullah Jakarata ini juga menunjukkan bahwa dengan pengiriman santri ke pesantren-pesantren lainnya yang membutuhkan ustadz, akhirnya akan terbentuk jaringan antar pesantren yang bisa saling membantu. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah