Sabtu, 30 September 2017

Gus Mus Undang Mustasyar Beri Nasehat NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Para kiai khos yang tergabung dalam Majelis Mustasyar (Penasehat) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hadir di lantai 5 gedung PBNU Jalan Kramat Raya No 164 Jakarta Pusat, Rabu (16/4) siang.

Kedatangan para kiai sepuh ini dalam rangka memenuhi undangan Rais Aam PBNU KH A Musthofa Bisri (Gus Mus) dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Para pengurus harian PBNU meminta nasehat kepada kiai sepuh tersebut.

Gus Mus Undang Mustasyar Beri Nasehat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus Undang Mustasyar Beri Nasehat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus Undang Mustasyar Beri Nasehat NU

Sebelum para kiai sepuh tersebut memberikan nasehat dan pandangannya, Gus Mus memberikan sambutan selaku pejabat Rais Aam. “Tugas mustasyar memang menasehati PBNU. Pada kesempatan berbahagia ini, saya berharap para kiai yang duduk di mustasyar untuk memberikan nasehat,” ujar Gus Mus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berturut-turut para angggota mustasyar diminta memberi pandangan dan nasehat. Mereka adalah Prof Dr KH Tholchah Hasan, Prof Dr KH Nasaruddin Umar, MA, Prof Dr KH Ridhwan Lubis Medan Sumatra Utara, Prof Dr KH Khotibul Umam Jakarta, KH Syatibi Banten, KH Abdurrahman Latukao Manado Sulawesi Utara, KH Abdurrahim Musthofa Kupang Nusa Tenggara Timur. Kemudian, KH Dimyathi Rois Kendal Jawa Tengah.

Hadir pula para mustasyarin lainnya, yakni HM Jusuf Kalla yang juga menjabat Ketua Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (DMI). Dari jajaran Syuriah tampak KH Masdar Farid Mas’udi, dan Prof Dr H Machasin, MA. Dari jajaran Katib Syuriah KH Afifuddin Muhajir, dan KH Yahya Cholil Staquf. Sementara dari Tanfidziyah Ketua PBNU H Iqbal Sullam, Abdul Mun’im DZ, dan Bendahara Umum H Bina Suhendra.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam masing-masing pandangan dan nasehatnya, para mustasyarin menyatakan gembira dengan acara yang digelar di PBNU ini kendati ada beberapa kritik yang membangun bagi pengurus harian.?

Nasaruddin Umar, misalnya, sangat risau dengan makin kencangnya golongan minoritas Islam yang cenderung garis keras memonopoli media.

“Andaikan acara seperti ini sering diadakan, niscaya banyak memberi manfaat dan inspirasi bagi umat. Saya sendiri merasa senang ketika mendengar suara lembut para kiai apalagi melihat wajahnya yang bersinar itu,” ujar mantan Katib Aam yang juga Wakil Menteri Agama ini.

Mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla memberikan pandangannya tentang Ke-NU-an. Masukan-masukan dan kritikannya kerap mengundang tawa para kiai dan hadirin lainnya. Kedatangan MJK kali ini menjadi bintang pada “Hari Mustasyar” yang telah dicanangkan Katib Aam KH Malik Madani ini. (musthofa asrori/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 29 September 2017

Atasi Krisis Akidah, NU Sumberwetan Ajak Nahdliyin Istighotsah

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebagai upaya mengatasi krisi aqidah yang mulai marak terjadi, Ranting NU Sumberwetan Kecamatan Kedopok Kota Probolinggo mengajak Nahdliyin melakukan istighotsah bersama, Rabu (4/1) malam.

Atasi Krisis Akidah, NU Sumberwetan Ajak Nahdliyin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)
Atasi Krisis Akidah, NU Sumberwetan Ajak Nahdliyin Istighotsah (Sumber Gambar : Nu Online)

Atasi Krisis Akidah, NU Sumberwetan Ajak Nahdliyin Istighotsah

Kegiatan yang dipusatkan di Masjid Al Ihsan ini diikuti oleh ratusan nahdliyin mulai dari unsur pengurus NU, kiai, ustadz, tokoh masyarakat, Lurah dan Ketua RT/RW se-Kelurahan Sumberwetan Kecamatan Kedopok.

Ketua PRNU Sumberwetan Hamdan Amrullah mengungkapkan, istighotsah ini digelar karena saat ini keberadaan Kota Probolinggo sudah bisa dibilang mulai krisis akidah karena bulan-bulan ini banyak terjadi kejadian pembegalan, pencurian, maraknya hiburan malam dan pesta narkotika yang menimbulkan perzinahan dan lain sebagainya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Istighotsah ini dilakukan sebagai upaya memperkecil angka kemaksiatan dan menghimpun kekompakan para tokoh masyarakat dan warga dari berbagai blok kelurahan, untuk mengurangi ruang gerak pemahaman radikal dan pembaharuan yang ingin mencoba masuk ke daerah perumahan baru-baru ini,” katanya.

Menurut Hamdan Amrullah, istighotsah bersama ini dilakukan rutin setiap bulan berpindah-pindah dari masjid, musholla dan rumah-rumah nahdliyin yang ingin ditempati. Selain istighotsah juga ada doa bersama untuk keselamatan, kemakmuran dank haul ahli kubur seluruh warga Kelurahan Sumberwetan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Mudah-mudahan dengan kegiatan istighotsah ini semakin memantapkan keimanan dan ketaqwaan kita bersama kepada Allah SWT. Karena di Kota Probolinggo saat ini sudah mulai dilanda oleh krisis aqidah yang sangat mengancam keberlangsungan para generasi muda sebagai penerus perjuangan pembangunan di masa yang akan datang,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 26 September 2017

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Komandan Satuan Koordinasi Wilayah Barisan Ansor Serbaguna (Danstakorwil Banser) Jawa Barat, Yudi Nurcahyadi menyayangkan bentrokan antara FPI dan GMBI meluas hingga ke daerah di Jabar. Pasalnya segala bentuk anarkisme tidak bisa dibenarkan oleh siapa pun dengan alasan apapun.

"Kami tak mau tanah Jawa Barat jadi arena peperangan. Urang Islam, urang Sunda mah teu kitu (orang Islam dan orang Sunda tidak seperti itu)," kata Yudi selepas menghadiri undangan Kapolda Jabar, Inspektur Jenderal (Irjen) Polisi Anton Carliyan, Jumat (13/1).

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Jabar Sayangkan Bentrok FPI dan GMBI Meluas ke Daerah

Menurut Yudi, Banser Jabar juga mengkritik gaya yang dipakai FPI dalam mengawal Rizieq Shihab. Sebagai warga negara yang baik, tak perlu "abring-abringan" seperti itu karena siapa pun sama kedudukannya di mata hukum.

"Begitu juga ke GMBI. Serahkan saja kepada kepolisian kasus ini meski memang berdemonstrasi dijamin Undang-Undang," ujar Yudi yang menegaskan bahwa anarkisme kedua kelompok tersebut tidak dibenarkan.

Maka, tuturnya, kesan yang tersiar ke publik pemanggilan Rizieq Shihab sampai dikawal ribuan massa FPI seolah unjuk kekuatan sebagai intervensi hukum, dan adanya massa diluar FPI seolah menandingi gerakan FPI tadi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ya jadi bentrok karena yang namanya kerumunan massa lebih dari dua orang akan menimbulkan keberanian yang tak akan terkendali. Coba kalau Rizieq Shihab datangnya biasa, dan massa GMBI juga menunggu respon kepolisian," ucapnya.

Atas insiden yang telah mencoreng Bumi Parahyangan ini, Banser Jabar mengintruksikan kepada Banser di Kota/Kabupaten se-Jabar untuk terus menjaga kenyamanan warga, terutama warga NU.

"Ada apa dibalik semua itu, kita harus jeli," kata Yudi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelumnya buntut dari bentrokan di Jalan Soekarno Hatta Bandung, sejumlah Sekretariat GMBI diberbagai daerah seperti Bogor, Tasikmalaya, dan Ciamis dirusak massa. (Nurjani/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

STKQ Al-Hikam Tingkatkan Kualitas Kepemimpinan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sekolah Tinggi Kulliyatul Quran, Beji, Depok berusaha meningkatkan kualitas kepemimpinan mahasantrinya. Karenanya, sebuah pelatihan kepempimpinan digelar di kompleks kampus, ruang multimedia STKQ Al-Hikam, Beji, Depok.

Pelatihan kepemimpinan diikuti oleh 25 pengurus BEM STKQ Al-Hikam, Sabtu (20/4) siang. Kegiatan pelatihan mengambil tajuk “Mahasantri Kini, Pemimpin Esok”. Pelatihan diinisiasi Bidang Pendidikan dan Pengkaderan BEM STKQ Al-Hikam.

STKQ Al-Hikam Tingkatkan Kualitas Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)
STKQ Al-Hikam Tingkatkan Kualitas Kepemimpinan (Sumber Gambar : Nu Online)

STKQ Al-Hikam Tingkatkan Kualitas Kepemimpinan

Demikian dikatakan seorang mahasantri STKQ Al-Hikam Zaki Muttaqien kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Rabu (24/4) malam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kegiatan ini dibuka oleh bagian kemahasiswaan Hamzah Abdul Madjid. Sebelum pelatihan dibuka, peserta dan pembicara membaca zikir dan rangkaian tahlil. 

“Kegiatan pelatihan kepemimpinan in sangat penting bagi mahasantri terutama bagi pengurus BEM,” kata Hamzah Abdul Madjid dalam sambutannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan kepemimpinan dipandu oleh tiga pemateri. Mereka adalah Ketua PMII Depok Woro Rahmat Hidayat, Mantan Presiden UI ILDP 2012 Hafiza Novitariani, Bendahara BEM Fakultas Ilmu Kedokteran UI 2013 Mustafrikhatul Maftukhah.

Di akhir acara, Mustafrikhatul Maftukhah memaparkan materi administrasi organisasi. Administrasi organisasi, baginya, merupakan materi teknis yang kerap diabaikan mereka yang terlibat dalam suatu organisasi.

Mustafrikhatul berpesan kepada BEM STKQ untuk merumuskan administrasi organisasi sebagai acuan nantinya.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Inilah Saptawikrama Lesbumi, Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara

Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (LESBUMI) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2015 -2020, pada Rabu-Kamis, 27 dan 28 Januari 2016, telah melaksanakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) bertempat di Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta.

Dalam Rakernas LESBUMI PBNU yang dibuka oleh Ketua Umum PBNU, Prof. Dr. K.H. Said Aqil Siroj, M.A dan dihadiri Ketua LESBUMI PBNU K.H. Agus Sunyoto dan Sekjen LESBUMI PBNU, H Uki Marzuki Solihin, serta para pengurus harian telah melahirkan Saptawikrama Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara.

Inilah Saptawikrama Lesbumi, Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Saptawikrama Lesbumi, Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Saptawikrama Lesbumi, Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara



Saptawikrama Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara
adalah keputusan strategis yang paling ditunggu oleh PBNU dalam Rakernas LESBUMI karena merupakan bagian integral dari pedoman kebijakan Nahdlatul Ulama (NU) dalam merumuskan kebijakan dan menentukan sikap terhadap berbagai permasalahan yang dihadapi warga NU (Nahdiyin) pada khususnya dan masyarakat Indonesia pada umumnya. Keputusan strategis yang meneguhkan posisi Lesbumi PBNU sebagai Garda Nasional Peradaban, Kesenian dan Kebudayaan Islam Nusantara ini menandai kehadiran dan fungsi penting Lesbumi dalam meneguhkan Islam Nusantara untuk membangun peradaban Indonesia dan dunia.

Saptawikrama Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara yang meneguhkan Hasil Muktamar ke-33 NU di Jombang, Jawa Timur, pada 1-5 Agustus 2015, adalah sebagai berikut:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

SAPTAWIKRAMA (AL-QAWA’ID AS-SAB’AH)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tujuh Strategi Kebudayaan Islam Nusantara

1. Menghimpun dan mengosolidasi gerakan yang berbasis adat istiadat, tradisi dan budaya Nusantara.

2. Mengembangkan model pendidikan sufistik (tarbiyah wa ta’lim) yang berkaitan erat dengan realitas di tiap satuan pendidikan, terutama yang dikelola lembaga pendidikan formal (ma’arif) dan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI).

3. Membangun wacana independen dalam memaknai kearifan lokal dan budaya Islam Nusantara secara ontologis dan epistemologis keilmuan.

4. Menggalang kekuatan bersama sebagai anak bangsa yang bercirikan Bhinneka Tunggal Ika untuk merajut kembali peradaban Maritim Nusantara.

5. Menghidupkan kembali seni budaya yang beragam dalam ranah Bhnineka Tunggal Ika berdasarkan nilai kerukunan, kedamaian, toleransi, empati, gotong royong, dan keunggulan dalam seni, budaya dan ilmu pengetahuan.

6. Memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi untuk mengembangkan gerakan Islam Nusantara.

7. Mengutamakan prinsip juang berdikari sebagai identitas bangsa untuk menghadapi tantangan global.



Rakernas LESBUMI PBNU masa khidmat 2015-2020 dihadiri oleh:

1. Ketua, K.H. Agus Sunyoto

2. Wakil Ketua, K.H. Muhammad Jadul Maula

3. Wakil Ketua, Candra Malik

4. Wakil Ketua, Muhammad Dinaldo

5. Wakil Ketua, Muhammad Sofwan

6. Sekretaris, Uki Marzuki Solihin

7. Wakil Sekretaris, Abdullah Wong

8. Wakil Sekretaris, Abdul Ghofur

9. Wakil Sekretaris, Sastro Adi Wiyono

10. Bendahara, Senja Bagus Ananda

11. Anggota, Abi S Nugroho

12. Anggota, Didin Ahmad Zaenudin

13. Anggota, Widyasena

14. Anggota, Autar Abdillah

15. Anggota, Lodji Nur Hadi

16. Anggota, Isfandiari

17. Anggota, Viddy Deary

18. Anggota, Aji Prasetyo

19. Anggota, Agung Purnomo

20. Anggota, Agustya Hertwiyanto

21. Anggota, Hasan Basri

22. Anggota, Abdullah Alawi

23. Anggota, H N Hamid

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul, Pahlawan, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 25 September 2017

KH Agoes Ali Mashuri: Ulama Payung Besar Umat

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH Agoes Ali Mashuri, Wakil Rais PWNU Jatim mengatakan para ulama dan kiai selalu hadir tatkala melihat kondisi umat sedang carut marut. Persoalan, ancaman dan ketimpangan, para ulama dan kiai berijtihad dan mengajak umat untuk menjawab problem bangsa dengan Istighotsah Kubro.

"Para ulama dan kiai selalu hadir sebagai sosok pengayom, perekat dan penyejuk pada umatnya," kata Gus Ali saat konferensi pers bersama Ketua PWNU Jatim di loby Gedung PWNU Jatim (6/4).

KH Agoes Ali Mashuri: Ulama Payung Besar Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Agoes Ali Mashuri: Ulama Payung Besar Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Agoes Ali Mashuri: Ulama Payung Besar Umat

Istighotsah Kubro ini merupakan doa bersama. Kekuatan doa di atas segalanya dan banyak hal yang tidak rasional bisa ditempuh dengan doa.?

"Mari Istighotsah Kubro dilakukan untuk mendinginkan hati dan menjernihkan pikiran, menyongsong masa depan bangsa yang lebih baik," terang Pengusuh Pesantren Bumi Shalawat Sidoarjo ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Istighotsah yang akan dilaksanakan di GOR Delta Sidoarjo pada Ahad 9 April 2017 ini, merupakan sebuah edukasi pada umat untuk menyeimbangkan kecerdasan intelektual, spiritual dan intuisi.

"Gerakan kiai harus tampil beda dengan gerakan politisi dan aktivis jalanan. Demonya kiai bukan turun ke jalan tapi doa bersama. Istighotsah Kubro untuk Mengetuk Pintu Langit Menggapai Nurullah (Cahaya Allah)," pungkas Gus Ali. (Rof Maulana/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya, Hikmah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 23 September 2017

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan

Xinjiang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bicara Islam di Cina, maka harus menyertakan Xinjiang di dalamnya. Mengapa? Ya, karena Xinjiang adalah rumah bagi setidaknya sepertiga Muslim di Cina.

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslim Xinjiang, Bertahan di Tengah Keterbatasan

Dari total 25 juta Muslim di Negeri Tirai Bambu, sebanyak 8,5 juta di antaranya hidup di Xinjiang. Sementara, dari 300 ribu masjid di Cina, 23 ribu di antaranya ada di Xinjiang.

Xinjiang adalah sebuah daerah otonomi— bukan provinsi—di Cina. Nama lengkapnya adalah Daerah Otonomi Uighur Xinjiang. Wilayah ini berbatasan dengan Daerah Otonomi Tibet di sebelah selatan dan Provinsi Qinghai serta Gansu di tenggara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Xinjiang juga berbatasan dengan Mongolia di sebelah timur, Rusia di utara, serta Kazakstan, Kirgistan, Tajikistan, Afghanistan, dan Kashmir di barat. Xinjiang juga mencakup sebagian besar wilayah Aksai Chin, yang diklaim India sebagai bagian dari Negara Bagian Jammu dan Kashmir.

Secara harfiah, Xinjiang bermakna “perbatasan baru” atau “daerah baru”, sebuah nama yang diberikan semasa Dinasti Qing Manchu. Bagi para pendukung kemerdekaan Xinjiang, nama ini terasa sinis dan menyakitkan hati, sebab mereka sejatinya lebih menyukai nama lokal yang bersejarah atau yang berkaitan dengan gerakan kemerdekaan, seperti Turkestan Cina, Turkestan Timur, atau Uighuristan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penduduk asli Xinjiang berasal dari ras-ras Turki yang beragama Islam, terutama suku Uighur (45,21 persen) dan suku Kazakh (6,74 persen). Selain itu, di Xinjiang juga terdapat suku Han yang merupakan suku mayoritas di Cina.

Menurut sensus tahun 2000, jumlah suku Han di Xinjiang mencapai 40,58 persen. Ini adalah peningkatan jumlah yang sangat drastis dibandingkan pada 1949 saat berdirinya Republik Rakyat Cina. Kala itu, belum banyak suku Han yang hidup di Xinjiang, hanya sekitar enam persen.

Meski dalam hal jumlah Muslim Uighur masih merupakan mayoritas di Xinjiang, tetapi hari demi hari mereka kian terpinggirkan. Istilah ‘daerah otonomi’ yang ditetapkan Pemerintah Cina cuma sekadar nama. Agama dan budaya mereka ditekan habis-habisan oleh Pemerintah Cina.

Sementara, dalam bidang ekonomi, orang-orang dari suku Hanlah yang berkuasa. Di “tanah air” suku Uighur ini, orang-orang Han menguasai ladang-ladang minyak dan jalur-jalur perdagangan. Sementara, warga setempat yang beragama Islam cenderung terpinggirkan laksana orang Indian di Amerika.

Xinjiang kaya akan mineral dan minyak bumi. Cadangan gas alamnya bahkan merupakan yang terbesar di Cina. Daerah ini juga merupakan lokasi utama bagi Cina untuk melakukan uji coba nuklir.

Bagi Cina, Xinjiang memang sangat penting secara geopolitik. Sejak dulu, Cina menempatkan Xinjiang sebagai garda pertahanan terdepan dalam menghadapi kemungkinan serangan dari Barat.

Hal tersebut merupakan alasan mengapa Cina sedikit pun tak ingin kehilangan kontrol dan pengaruh atas wilayah ini.

Demi mengontrol Xinjiang, berbagai langkah dilakukan Pemerintah Cina, termasuk membelenggu hak warga Muslim untuk menjalankan ritual dan ajaran agamanya. Sekadar contoh, keberadaan sekolah Islam, masjid, dan imam dikontrol secara ketat.

Dalam kurun waktu 1995 hingga 1999, pemerintah telah meruntuhkan 70 tempat ibadah serta mencabut surat izin 44 imam. Pemerintah juga menerapkan larangan ibadah perorangan di tempat-tempat milik negara. Larangan ini mencakup larangan shalat dan berpuasa pada bulan Ramadhan di kantor atau sekolah milik negara.

Pendek kata, menjalankan ibadah secara leluasa masih menjadi barang mahal dan mewah bagi warga Muslim di Xinjiang. Di bidang ketenagakerjaan, orang-orang Muslim juga sering dihambat dari jabatan yang tinggi.

Cengkeraman dan tekanan Pemerintah Cina yang terlampau kuat ditambah dominasi suku Han atas masyarakat lokal membuat hasrat untuk memisahkan diri dari pemerintah pusat tak pernah surut dari bumi Xinjiang.

Ketimbang menjadi bagian Cina, masyarakat Uighur lebih suka jika Xinjiang menjadi negara sendiri atau bergabung dengan Kirgistan, sebuah negara bekas Uni Soviet yang berbatasan langsung dengan Xinjiang.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Sumber : Republika

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Beberapa syarat sahnya shalat diantaranya adalah memakai pakaian yang suci dari najis, menghadap ke kiblat dan tempat yang suci, boleh saja seseorang menjalankan shalat ditempat manapun asalkan tempat tersebut suci dari najis, entah di rumah, di sekolahan, apartemen, kos-kosan dan lain-lain.

Tetapi ada beberapa tempat yang dikecualikan untuk tidak menjalankan shalat ditempat tersebut, sebagaimana yang telah di nash dalam sebuah hadits riwayat dari Ibnu Umar,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Tujuh Tempat Dilarang Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Tujuh Tempat Dilarang Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Tujuh Tempat Dilarang Shalat

Sesungguhnya Rasulullah saw melarang menunaikan shalat tujuh tempat; tempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan (hewan), kuburan, di tengah-tengah jalan, di kamar mandi, di kandang unta dan di atas(bangunan) kabah.

Larangan shalat di tujuh tempat ini tentunya memerlukan alasan, bagaimana tempat-tempat tersebut mendapat larangan dari syara, Pertama adalah larangan shalat ditempat pembuangan sampah, tempat penyembelihan hewan, kamar mandi dan kandang unta dikarenakan terdapat banyak najisnya; seperti kotoran-kotoran, darah, tempat berkumpulnya para setan yang bisa mengganggu kekhusyuan dalam shalat dan lain-lain, sehingga tempat tersebut terkena najis dan menjadi tidak suci. Kedua adalah larangan shalat ditengah-tengah jalan yang dilalui oleh orang, karena bisa mempersempit jalan dan mengganggu orang-orang yang sedang lewat. Ketiga larangan shalat di kuburan agar terhindar dari penyembahan terhadap kuburan. Keempat larangan shalat diatas kabah, karena tidak dapat menghadap ke kiblat, akan tetapi hanya menghadap sebagiannya saja, karena sebagian yang lain berada dibelakang punggungnya. Seperti penjelasan dalam kitab subulussalam,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan bahwa larangan shalat dikuburan, tempat penyembelihan, tempat pembuangan sampah dan kamar mandi adalah dikarenakan terdapat najis, untuk shalat ditengah-tengah jalan karena disitu terdapat hak-hak orang lain(pejalan), maka tidak sah shalat ditempat tersebut, entah jalan itu luas maupun sempit Karen keumuman hadits, untuk kandan unta dikarenakan itu adalah tempat berkumpulnya setan, sedangkan untuk shalat diatas kabah dikarenakan tidak terpenuhinya menghadapat kiblat.

Demikian tempat-tempat yang dilarang untuk shalat. (Penulis: Fuad H Basya/ Redaktur: Ulil H).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Habib, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 September 2017

Wabah Campak dan Gizi Buruk, NU Segera Berangkatkan Relawan ke Asmat

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wabah campak serta gizi buruk yang mendera warga Asmat dan mengakibatkan 61 anak meninggal dunia menggerakkan PBNU untuk segera memberangkatkan relawan ke Kabupaten Asmat, Papua.

Menindaklanjuti hal tersebut, LPBI NU bersama LKNU dan NU Care-LAZISNU menggelar Rapat Koordinasi Pemberangkatan Relawan NU ke Asmat, di Gedung PBNU Lantai 2, Rabu (17/01). Pada rapat sore itu diputuskan, Relawan NU untuk Asmat akan diberangkatkan pada tanggal 25 Januari 2018.

Wabah Campak dan Gizi Buruk, NU Segera Berangkatkan Relawan ke Asmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Wabah Campak dan Gizi Buruk, NU Segera Berangkatkan Relawan ke Asmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Wabah Campak dan Gizi Buruk, NU Segera Berangkatkan Relawan ke Asmat

“Kita sudah ada koordinasi dengan Kemenkes dengan Pemda Asmat. Insya Alloh tanggal duapuluh lima relawan NU diberangkatkan dari Jakarta menuju Asmat,” tutur Yayah Ruhyati, Sekretaris LPBI NU.

Yayah juga menerangkan sudah sejak bulan Januari 2018 melakukan koordinasi untuk mengolah data, dan membuat rancangan pengadaan bantuan.

Sebagaimana info dari Pemda setempat, kata Yayah, tenaga medis di Asmat sangat minim. Selain itu, kegiatan Posyandu pun kurang begitu aktif.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Wakil Bendahara Lembaga Kesehatan NU (LKNU) Makki Zamzami menjelaskan bahwa keadaan yang melanda anak-anak di Asmat disebabkan oleh malnutrisi, status gizi yang buruk, dan kurangnya protein dalam tubuh.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Jadi, bukannya masyarakat suku Asmat itu kekurangan makan. Hanya saja, gizi pada makanan yang masuk dalam tubuh itu-itu saja. Di situ kita harus melakukan edukasi. Pencegahan gizi buruk yaitu dengan memberi minimal enam bulan ASI eksklusif pada anak. Itu sebagai nutrisi yang baik bagi anak. Kemudian untuk mencegah campak bisa dilakukan vaksin. Namun, vaksin pun harus diimbangi dengan nutrisi yang baik dalam tubuh,” papar Makki.

Sementara itu, Wakil Sekretaris NU Care-LAZISNU Nur Rohman mengatakan, anak-anak Asmat harus diselamatkan dari wabah campak dan gizi buruk. NU harus membantu semaksimal mungkin.

“Kita tahu hari ini di Papua, suku Asmat sedang mengalami musibah dari Alloh SWT. Mari bersama-sama kita membantu sekuat kita,” ajak Rohman. (Wahyu Noerhadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Majikan Dungu Sakit Gigi

Seorang majikan dungu sudah dua hari sakit gigi keras. Ia sebentar-sebentar memegang rahang. Sementara tangan satunya memijit kepala. Rebahan, salah. Duduk, tidak betah. Berdiri, gelisah.

Ketimbang bicara, ia lebih sering marah-marah tanpa sebab yang jelas. Marah pun tak jelas siapa yang dituju. Pokoknya nyeri gigi, hebat luar biasa.

Majikan Dungu Sakit Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Majikan Dungu Sakit Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Majikan Dungu Sakit Gigi

“Kalau ketemu dokter, aku akan sampaikan semua keluhan sakit gigiku yang tak tertahankan ini agar ia dapat memberi obat yang manjur,” kata si dungu.

“Kalau sakit gigi tuan sudah parah begitu, mana sanggup tuan banyak bicara,” jawab babunya yang lebih sehat baik lahir maupun mental. (Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

*) Dikutip dari Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin (Hikayat Orang Dungu dan Orang Lalai) karya Inul Jauzi. Judul oleh pengutip.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 20 September 2017

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah

Sungailiat, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mendukung sepenuhnya pemerintah Kabupaten Bangka, Provinsi Kepuluan Bangka Belitung yang mencanangkan program "perburuan anak putus sekolah" (Bunastulah).

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah

"Saya mendukung sepenuhnya program Bunastulah yang digagas pemerintah Kabupaten Bangka, dan program ini baru pertama kali ini saya mengetehuinya," katanya di Sungailiat, Rabu, (5/4) saat menyerahkan bantuan sosial nontunai di Desa Silip Kecamatan Riausilip, Sungailiat seperti dilansir Antara.

Dengan dicanangkan program itu, dia minta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat memperioritaskan agar program yang cukup bagus ini dapat berjalan sesuai yang diinginkan bersama.

"Berbagai program sosial pemerintah pusat maupun daerah harus berdasarkan data yang valid, sehingga bantuan sosial dapat tepat sasaran," ucapnya, menegaskan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mengatakan, validasi data menjadi persoalan yang harus diselesaikan bersama antara pemerintah pusat dan daerah, karena seharusnya data diambil secara berjenjang dari pemerintah daerah mulai dari RT, kepala desa, camat, bupati, gubernur hingga akhirnya sampai ke menteri.

"Saya menginginkan adanya perubahan rezim beda data yang selama menjadi suatu persoalan bersama, namun jika pola pendataan dimulai dari tingkat RT sampai jenjang akhir ke menteri, Insyaallah beda data dapat dikurangi," ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurutnya, banyak program sosial pemerintah Kabupaten Bangka yang harus didukung semua pihak, mulai dari program Bunastulah, program "Perburuan Ibu Hamil Beresiko Tinggi" (Bumil Resti), dan "Perburuan Orang tua Hidup Sendiri" (Buratuhiri).

"Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masuk dalam kota yang menerima program beras sejahtera (ranstra) dari 44 kota di Indonesia," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Tokoh, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 18 September 2017

Para Pemenang NU Award 2017 PWNU Jawa Timur

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pada acara Halal Bihalal PWNU Jawa Timur bersama para Pengurus Cabang NU se Jawa Timur, PWNU Jatim mengumumkan para pemenang NU Award 2017. Acara halal bihalal juga dihadiri oleh Forpimda Jatim.

Para Pemenang NU Award 2017 PWNU Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pemenang NU Award 2017 PWNU Jawa Timur (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pemenang NU Award 2017 PWNU Jawa Timur

"Atas nama pribadi saya dan khodim para ulama mengucapkan minal aidzin wal faizin mohon maaf lahir batin, terutama kepada para ulama dan pengurus cabang se-Jatim," kata KH M. Hasan Mutawakkil Alallah, Ketua PWNU Jatim saat membuka sambutannya, Rabu (19/7) di Gedung PWNU Jatim.

Pengumuman para pemenang NU Award 2017 diumumkan oleh Ketua Panitia M. Qoderi. "PCNU Blitar kembali menyambat juara umum atau juara satu dalam kategori umum setelah dilakukan seleksi yang begitu ketat," kata Qoderi.

Menyusul di juara dua PCNU Magetan, Juara 3 PCNU Sidoarjo dan Juara khusus dari ujung timur pulau Jawa Timur yaitu PCNU Banyuwangi. "Empat PCNU ini ditetapkan sebagai kategori umum," ungkap Qoderi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PCNU Sidoarjo menyabet dua kategori yaitu katagori pendidikan dengan dan kesehatan.

Dalam kategori pendidikan diraih PCNU Sidoarjo dengan MINU Pucang dan ? Kategori kesehatan dengan RSI Siti Hajar. Sedangkan kategori ekonomi ditempati PCNU Ponorogo dengan bintang sembilan swalayan dan KBIH-nya.

Katagori aspirasi politik diduduki PCNU Banyuwangi yang memiliki Bupati kader terbaik NU. "Juara dalam kategori pengkaderan ditempati PCNU Lamongan, meskipun beberapa tahun lalu Lamongan pecah tapi tidak surut dalam pengkaderannya," kata Qoderi. (Rof Maulana/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh, Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pernak-pernik Muktamar Masih Laris di Pasaran

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Momen acara pengukuhan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2015-2020 di Masjid Istiqlal, Jakarta, Sabtu (5/9), menjadi berkah bagi para pedagang, dari yang menjual makanan, pakaian, perlengkapan ibadah, asesoris, batu akik, hingga pernak-pernik ke-NU-an.

Pernak-pernik Muktamar Masih Laris di Pasaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Pernak-pernik Muktamar Masih Laris di Pasaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Pernak-pernik Muktamar Masih Laris di Pasaran

Sebagian dari mereka menggelar tikar dan berderet di pelataran dan lingkungan masjid nasional itu. Sementara sebagian yang lain berjalan mondar-mandir di antara kerumunan massa atau di tepi jalan menuju pintu masuk.

Salah satu pedagang asal Bekasi, Jawa Barat, Erma (40) mengaku senang dengan acara pelantikan ini. Siang itu ia menjejer kaos bergambar logo Muktamar Ke-33 NU yang digelar di Jombang, 1-5 Agustus lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Erma, meski Muktamar NU telah berlangsung satu bulan yang lalu namun peminat kaos dagangannya masih cukup banyak. Sejenak saja ia duduk menunggu, pembeli sudah menghampirinya.

"Tapi ya nggak kayak Muktamar dulu. Waktu itu saya bawa 3000 kaos. Laris. Hanya sisa ratusan," kata Erma yang saat itu didampingi dua anaknya yang masih kecil-kecil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal serupa juga dirasakan Heri (34), pemilik NU Distro, yang mangkal di tepi sungai depan Masjid Istiqlal. Pria asal Cirebon ini datang sejak pukul 11.00. Heri memang spealis menjual kaos bergambar logo NU atau tokoh-tokoh NU. Di lapaknya juga tampak stiker dan pin bernuansa ke-NU-an.

Kendati tak seberuntung ketika pembukaan Munas 2015 bulan lalu di tempat yang sama, Heri mengaku tetap meraup laba cukup banyak.

Ditanya tentang acara pelantikan PBNU periode 2015-2020, ia mengungkapkan harapannya kepada para pengurus baru. "Semoga lebih merangkul masyarakat, bekerja lebih keras, kembali ke Khittah (1926, red). Tidak ada agenda politik praktis," ujarnya.

Acara pengukuhan tersebut dihadiri ribuan warga NU dari berbagai daerah. Sebagian besar datang berombongan dengan menggunakan bus. Hadir pula Wakil Presiden RI Jusuf Kalla, para menteri kabinet kerja, dan sejumlah pejabat tinggi negara lainnya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Forum Jurnalis NU DIY Gelar Syawalan

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Forum Jurnalis Nahdlatul Ulama (FJNU) DIY menggelar Syawalan dan Talkshow, Ahad (9/9). Acara ini bertempat di Ballroom Universitas Sarjana Wiyata Taman Siswa (UST) selatan Balai Kota Yogyakarta. Dalam pantauan Pondok Pesantren Attauhidiyyah tak kurang 50 hadirin antusias mengikuti kegiatan ini. 

Kebanyakan dari hadirin adalah pegiat jurnalis dari kalangan kader muda NU. Baik dari wartawan langsung maupun yang hanya memiliki hobi nulis. “FJNU bukan hanya forum untuk wartawan, tapi juga untuk semua kader NU yang menaruh perhatian besar di dunia tulis menulis,” ungkap Suraji. 

Forum Jurnalis NU DIY Gelar Syawalan (Sumber Gambar : Nu Online)
Forum Jurnalis NU DIY Gelar Syawalan (Sumber Gambar : Nu Online)

Forum Jurnalis NU DIY Gelar Syawalan

Ketua FJNU ini juga mengungkapkan bahwa FJNU sengaja dibentuk dengan mengusung visi besar bagi warga Nahdliyin agar melek media. Lebih-lebih bisa memberikan kontribusi berupa gagasan di media cetak maupun elektronik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Acara Talkshow tersebut dipendegani oleh tiga narasumber, Prof  Dr Maksum (PBNU), Hafidh Asrom (Anggota DPD-RI), dan Dr Kartono (Penulis & pakar pertanahan). Tak kurang dari dua jam, ketiganya membeberkan hal ihwal seputar NU dan dunia Jurnalis. Bahkan sesekali diselingi dengan canda tawa. Sehingga durasi waktu dua jam pun tak terasa.

Jurnalis Idealis

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pena lebih tajam dari pedang, adagium inilah yang kiranya diyakini oleh Hafidh Asrom. “Bukan mustahil kekuatan pena bisa merubah Indonesia, sudah dibuktikan oleh para founding fathers bangsa ini,” tuturnya. 

“Tak lain tak bukan karena media mampu menggiring opini publik, contohnya soal korupsi yang tengah santer diperbincangkan,” tegasnya.

Ketiga narasumber juga menghimbau agar melalui dunia jurnalistik kader-kader muda NU dapat menghadirkan sinar benderang bagi NU. Dengan catatan, bahwa jurnalis tersebut harus seorang yang idealis bukan jurnalis pragmatis. 

Kampus UST dijadikan sebagai tempat penyelenggaraan acara agar para jurnalis NU dapat meneladani Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar, dengan idealismenya, mampu menyuguhkan bara api lewat tulisannya. Sehingga menyulut perjuangan rakyat Indonesia melawan kolonialisasi. 

Dalam waktu dekat, kegiatan yang sama juga bakal diagendakan untuk kalangan guru serta siswa di lingkungan NU. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Hanif

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 September 2017

Peringati Haul, Santri Pondok Tremas Baca Manaqib Pendiri

Pacitan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Para santri Perguruan Islam Pondok Tremas, Pacitan, Jawa Timur, memperingati haul akbar pendiri pertama, KH Abdul Manan Dipomenggolo, di antaranya dengan berziarah dan membaca manaqib. Pembacaan manaqib berlangsung khidmat di area pemakaman masyayikh Desa Semanten Pacitan, Selasa (26/08) sore.

Pengasuh Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan KH Luqman Harist Dimyathi saat memimpin pembacaan manaqib mengatakan, mengunjungi makam para wali atau kiai merupakan cara untuk mendeatkan diri kepada Allah SWT. Hal ini adalah bagian dari tuntunan agama dan jauh dari perbuatan syirik.

Peringati Haul, Santri Pondok Tremas Baca Manaqib Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Haul, Santri Pondok Tremas Baca Manaqib Pendiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Haul, Santri Pondok Tremas Baca Manaqib Pendiri

“Sebagai wujud rasa takdzim para santri kepada pada para masayikh yang telah wafat salah satunya dengan mendoakan dan menziarahi makamnya,” tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Para ulama, lanjutnya, memberikan arahan yang baik tentang tata cara dan etika berziarah. “Jangan sekali-kali meminta di dalam kuburan tapi mintalah kepada allah SWT melalui wasilah orang yang dikubur itu, mudah mudahan bisa dipahami,” terang kiai yang akrab disapa Gus Luqman ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain pembacaan manaqib, peringatan haul juga diisi dengan pembacaan tahlil yang dipimpin KH. Rotal Amin. Sedangkan pembacaan doa secara bergantian dibacakan sejumlah kiai antara lain KH Umar Syahid, KH. Fuad Habib, KH Burhanuddin, KH Hammad Harist, KH Asif Hasyim, dan KH Achid Turmudzi dan KH.Hamid.

Peringatan haul dihadiri oleh ribuan peziarah yang terdiri dari alim ulama, tokoh masyarakat, alumni dan para santri. (Zaenal Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengambil Upah dari Uang Derma

Lembaga filantropi terbilang semakin berkembang di Indonesia. Perkembangan ini menunjukan antusias warga untuk membantu sesama tanpa komando pemerintah sedikitpun. Selain berupa lembaga, juga banyak ditemukan komunitas ataupun personal yang secara sukarela bergerak menggalang dana untuk membantu fakir miskin, korban bencana alam, pembangunan masjid, pesantren, dan lain-lain.

Kehadiran para relawan ini patut disyukuri dan diapresiasi. Sebab bagaimanapun, tidak semua masalah di negara ini dapat diselesaikan oleh negara. Kehadiran mereka cukup banyak membantu dalam menyelesaikan problem kemanusiaan. Akan tetapi, tidak semua relawan berasal dari kalangan elite dan orang kaya. Di antara mereka juga ada yang hidup tidak berkecukupan, bahkan menjadikan hal itu sebagai profesinya. Artinya,  ia tidak memiliki pekerjaan selain menjadi relawan.

Mengambil Upah dari Uang Derma (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengambil Upah dari Uang Derma (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengambil Upah dari Uang Derma

Bagaimana hukumnya jika pada relawan tersebut mengambil sedikit bagian dari uang sumbangan yang telah dia kumpulkan?

Masalah ini pernah dibahas dalam muktamar  NU Ke-2 tahun 1927. Dalam muktamar tersebut diputuskan bahwa orang yang memungut derma untuk mendirikan masjid, madrasah, bantuan fakir miskin dan yatim, ataupun kegiatan sosial lainnya, diperbolehkan untuk mengambil sebagian dari uang itu dengan syarat tidak melebihi upah sepantasnya atau sekedar mencukupi kebutuhannya. Kebolehan ini dikhususkan untuk para relawan yang miskin saja dan tidak diperbolehkan bagi relawan yang kaya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keputusan ini merujuk kepada keterangan dalam kitab Tuhfatul Muhtaj karya Ibnu Hajar al-Haitami.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ?

Disamakan dengan wali anak yatim, seperti yang telah dikemukakan, orang yang mengumpulkan harta, misalnya untuk membebaskan tawanan. Jika ia orang yang miskin maka ia diperbolehkan untuk makan dari harta tersebut atau ia boleh mengambil satu di antara dua hal yang paling sedikit, yaitu biaya nafkah atau mengambil ujratul mitsli (upah standar).

Menurut al-Syirwani yang demikian itu termasuk pula orang yang mengumpulkan harta untuk membantu menyelamatkan orang miskin yang terbelit hutang atau orang yang terzalimi yang dirampas hartanya. Pendapat tersebut adalah pendapat yang baik dan (memang) harus seperti itu, sebagai pendorong dan penyemangat dalam perbuatan mulia.

Membantu penggalangan dana untuk orang yang membutuhkan ialah perbuatan yang sangat mulia. Sebab itu, aktivitas ini harus senantiasa dibantu dengan memberikan upah kepada para relawan tersebut jika ia memang sangat membutuhkan.

Sebaliknya, jika ia berkecukupan dan kaya, seyogyanya ia tidak mengambil uang sumbangan itu. Lebih baik uangnya didermakan kepada orang yang lebih membutuhkan sesuai dengan niat awal pengumpulan dana. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 September 2017

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan Islam Rahmatan LilAlamin. Dalam dakwahnya, organisasi yang berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang agama, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain ini merangkul orang-orang terpinggirkan supaya masuk dan mendalami Islam tanpa memaksa. 

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa

Demikian disampaikan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi, pengasuh Pesantren Assiddiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung.

"Sebelum NU dilahirkan, terlebih dahulu ada Masyumi. Namun seiring berjalannya waktu, Masyumi pecah, ada modern dan tradisional," kata Kiai Imam, di Gunung Labuhan, Sabtu (30/4).

NU berdiri melalui proses. Pendirinya antara lain Hadlratussyaikh KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri. Setelah terbentuk, selanjutnya, KH Ridwan Abdullah mendapat amanah untuk membuat lambang NU.

"Antara lain bola dunia, tali 99 untaian dengan posisi melingkari bola dunia, bintang empat di sebelah kanan dan kiri serta satu bintang besar di atas. Masing-masing mempunyai filosofi berbeda," Kiai Imam menjelaskan kepada peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang digelar PC GP Ansor Way Kanan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bola dunia adalah tempat manusia berasal, menjalani hidup dan akan kembali. Lalu tali melingkar dalam posisi mengikat bermakna tali ukhuwah (persaudaraan) yang kokoh. Kemudian peta Indonesia menggambarkan NU didirikan di Indonesia dan berjuang untuk kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Untaian tali berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Empat bintang bermakna Khulafaur Rasyidin yang terdiri dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kemudian satu bintang besar terletak di tengah melambangkan Rasulullah SAW dan empat bintang lain melambangkan empat madzhab Ahlussunnah wal Jamaah yang terdiri dari Imam Hanafi, Hambali, Maliki dan Syafii," ujar Kiai Imam saat menerangkan mengenai NU.

NU berdiri memiliki tujuan, yakni membimbing umat dengan tawasuth dan itidal, tasamuh, tawazun dan amar maruf nahi munkar. "Tawasuth dan itidal merupakan prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah hidup bersama. Dengan prinsip tersebut, maka NU akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersifat membangun dan menghindari segala bentuk pendekatan bersifat tatharruf (ekstrim)," demikian Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

BPUN 2016 digelar PC GP Ansor Way Kanan di Pesantren Assiddiqiyah 11 mulai 25 April 2016. Selain memberikan motivasi dan bimbingan ruhani istiqomah, juga memberikan materi kecakapan hidup berupa ilmu jurnalistik dibimbing Manajer BPUN setempat Gatot Arifianto. (Uswatun Hasanah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 15 September 2017

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU

Pasuruan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Maruf Amin menghadiri Haul Al-Arif Billah KH Abdul Hamid Pasuruan pada (21/12). Ia disambut PCNU Kota Pasuruan dengan mengadakan kegiatan bertajuk "Silaturahim PBNU dengan Pengurus NU se-Pasuruan Raya".

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam PBNU Sebut Dua Prioritas Pengurus NU

Silaturahim yang berlangsung di aula PCNU Kota Pasuruan tersebut dimulai dengan pembacaan istighosah dipimpin Rais Syuriyah PCNU Kota Pasuruan KH Said Kholil. Kemudian dilanjutkan dengan ucapan selamat datang dari ketua PCNU Kota Pasuruan KH Halim Masud.

Dalam taushiyahnya, KH Maruf Amin menyampaikan, prioritas kegiatan pokok pengurus NU. Pertama, adalah penguatan Aqidah Ahlusunnah wal-Jamaah An-Nahdliyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Islam Nusantara, kata dia, yang menjadi perbincangan ramai di masyarakat, sebenarnya adalah sebuah kemasan dengan isi Islam Ahlusunnah wal jamaah An Nahdliyah. “Jadi, bukan aliran baru seperti banyak dituduhkan oleh pihak yang tidak mau bertabayun,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan corak dakwahnya yang santun dan teduh, lanjut Kiai Ma’ruf, Islam Nusantara diharapkan menjadi solusi atas problematika bagi dunia Islam dewasa ini.

Kedua, adalah perbaikan dan pemberdayaan jam’iyah dengan prinsip aktif, dinamis, kreatif. Hal itu dilakukan secara berkelanjutan di semua bidang dengan menggalakkan pada sektor ekonomi dan pendidikan.

“Untuk mewujudkan tujuan NU maka diperlukan konsolidasi organisasi dan semangat ke-NU an,” pungkasnya.

Rais Aam menegaskan bahwa NU tidak boleh sekedar besar jumlahnya tetapi kecil perannya. NU harus besar jumlahnya dan besar pula perannya. Maka yang perlu ditingkatkan adalah semangat ke-U-an yang akan mengembalikan kejayaan NU sebagaimana di tangan para pendirinya. 

Acara ini dihadiri para pengurus PCNU Kota Pasuruan dan PCNU Kabupaten Pasuruan dengan dipandu cucu Almaghfurlah KH Abdul Hamid, Muchamad Nailur Rohman. (zulkarnaian mahmud/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Kiai, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 September 2017

Muslimat Sulsel: Bangun Daerah Harus Bebas Narkoba

Takalar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua Pimpinan Wilayah Muslimat Nahdlatul Ulama Sulawesi Selatan Majdah Agus Arifin Numang resmi melantik Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Takalar masa khidmah 2016-2021 bertempat di Gedung PCNU Takalar, Sabtu (19/11). Majdah mengingatkan peran penting pengurus dan anggota Muslimat NU Takalar terkait pencegahan penyalahgunaan narkoba.

Adapun yang dilantik adalah Ketua Muslimat NU Takalar Dahlia S, Sekretaris Muslimat NU Takalar Suriati, Bendahara Muslimat NU Takalar Ramlah Amir. Kegiatan ini dirangkai dengan Deklarasi Laskar Anti-Narkoba yang diikuti seluruh kader Muslimat NU, kader IPNU Takalar, kader IPPNU, dan badan otonom NU lainnya.

Muslimat Sulsel: Bangun Daerah Harus Bebas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat Sulsel: Bangun Daerah Harus Bebas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat Sulsel: Bangun Daerah Harus Bebas Narkoba

Majdah menyerahkan secara simbolis Kartamus kepada Dahlia.

Ketua PCNU Takalar Hasid Hasan Palogai menyambut baik pelantikan Muslimat NU Takalar. Ia berharap pengurus Muslimat NU Takalar senantiasa memberikan sumbangsih kepada masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Selain itu, kegiatan yang dirangkaian dengan rapat kerja pengurus mampu merumuskan program kerja yang strategis berdasarkan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga NU." tambahnya.

Menurut Majdah, awal dari pegurus untuk memulai pekerjaan, pengabdian pada agama, nusa, dan bangsa adalah bersatu padu memberantas bahaya laten narkoba.

"Narkoba bukan lagi menjadi masalah nasional, tapi sudah menjadi masalah internasional. Karenanya Muslimat NU harus mengambil peran pemberantas narkoba, dimulai dari diri sendiri, keluarga, dan masyarakat luas."

Menurutnya, narkoba merupakan salah satu sarana untuk menghancurkan sebuah bangsa dan negara, tidak lagi melalui senjata, tetapi menghancurkan generasinya. (Andy Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 September 2017

Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo

Lampung Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Cabang IPNU dan IPPNU Lampung Tengah melantik pimpinan komisariat sekecamatan Bangun Rejo di Gedung MWCNU setempat, Jumat-Ahad (26-28/2). Mereka mencoba menggerakkan organisasi pelajar NU di madrasah-madrasah dan pesantren.

Ketua panitia pelantikan dan Makesta Sulis Wahyuningsih mengatakan, kita sengaja mengadakan agenda kaderisasi IPNU dan IPPNU di Gedung MWCNU ini untuk menumbuhkan loyalitas. Kita ingin membangun kebanggaaan bahwa pelajar NU di wilayah kecamatan Bangun Rejo memakmurkan kegiatan ke-NU-an di gedung ini.

Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Lampung Tengah Bentuk Komisariat Sekecamatan Bangun Rejo

"Kita meminta sejumlah kader untuk mengisi materi terkait IPNU dan IPPNU," kata Sulis.

Ketua IPNU Lampung Tengah Edi Hermawaan mengaku sangat bangga. Ia memberikan apresiasi kepada PAC IPNU dan IPPNU Bangun Rejo atas istiqamah sekaligus kekompakan dalam mengadakan jenjang kaderisasi di tingkat pelajar.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya berharap pengkaderan ini tidak hanya berhenti di Gedung MWCNU ini, tetap terus berjalan di tingkatan komisariat masing-masing. Saya berharap para kader terus mengibarkan panji-panji pelajar NU dan yang tak kalah penting merawat dan melestarikan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyyah," kata Edi. (Akhmad Syarief Kurniawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi "Sulapa Eppa"

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gubernur Sulawesi Selatan H Syahrul Yasin Limpo menyampaikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM), di Auditorium KH Muhyiddin Zain, Makassar Sulawesi Selatan, Kamis (10/9). Kuliah tersebut dalam rangka penyambutan mahasiswa baru 2015.

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi Sulapa Eppa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi Sulapa Eppa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi "Sulapa Eppa"

Syahrul Yasin Limpo memberikan motivasi dan spirit kepada mahasiswa baru di salah satu kampus NU Sulsel tersebut, untuk tetap semangat dan tekun dalam menuntut ilmu.

Kemudian mengajak seluruh mahasiswa UIM untuk mengubah paradigma berpikir yang bermalas-malasan menjadi rajin. Siap menjadi intelektual yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perubahan mental menjadi lebih dewasa, lanjut dia, tak bisa ditawar-tawar lagi ditunjukkan dengan setiap tingkah laku bercirikan intelektual.

"Proklamasikanlah diri Anda bahwasanya Anda adalah mahasiswa hebat, bangga menjadi mahasiswa UIM sebagai perguruan tinggi terbaik,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jangan lupa sebagai mahasiswa baru dalam menjalani dunia akademik untuk senantiasa mengamalkan nilai-nilai filosofi hidup Bugis-Makassar yakni "Sulapa Eppa" yang berarti segi empat.

Adapun nilai-nilai itu lempu (jujur), macca (berpengetahuan), warani (memiliki keberanian moral), sugi/Malabo (pemurah)," ungkap SYL sapaan akrab Gubernur Sulsel ini. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, IMNU, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) Muslimat NU kabupaten Brebes melepas sebanyak 102 jamaah Calon Haji (Calhaj) binaannya. Keberangkatan jamaah ini mengikuti kelompok terbang 50 yang dilepas Bupati Brebes di Islamic Center Brebes, awal pekan lalu.

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)
KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj (Sumber Gambar : Nu Online)

KBIH Muslimat NU Brebes Berangkatkan 102 Calhaj

“Alhamdulillah, KBIH Muslimat NU memberangkatkan 102 pada musim haji 1436 Hijriyah,” kata Ketua KBIH Muslimat NU Hj Nok Jumaro, usai rapat persiapan pelantikan pengurus baru Muslimat NU periode 2015-2020 di gedung Muslimat NU jalan Kiai Kholid Barat Pasarbatang Brebes, Kamis (10/9) sore.

Hj Nok menjelaskan, sebanyak 102 jamaah ini berasal dari Kantor Pusat KBIH di ketanggungan sebanyak 77 calhaj dan Kantor Perwakilan Jatibarang sebanyak 25 calhaj. “Pusat KBIH Muslimat NU Brebes berada di Ketanggungan,” ujar Nyai Nok.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka, lanjutnya, sudah diterbangkan melalui bandara Adi Sumarmo Solo pada 8 September lalu bersama jamaah calhaj lainnya dari Brebes dan Batang. “Sampai saat ini tidak ada kendala yang berarti bagi calhaj,” terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Nok, KBIH yang berdiri sejak 1998 ini selalu diminati warga Brebes terutama Nahdliyin. Tiap tahun mengalami perkembangan yang pesat, meskipun banyak sekali bermunculan KBIH. “Kami bersyukur KBIH Muslimat NU tetap bertahan membimbing para Calhaj yang hendak ziarah ke tanah suci, baik itu perjalanan Haji maupun Umrah,” tuturnya.

Dalam pengelolaannya, sambung Nok, pihak KBIH Muslimat Brebes ini menggunakan manajemen kekeluargaan. Sehingga pembimbing maupun calhaj saling melengkapi berbagai keperluan secara bergotong royong. “Dengan tenaga pembimbing yang sudah berpengalaman, para calhaj yang tergabung di KBIH Muslimat NU merasa nyaman,” ungkapnya.

Nok bertekad, pada kepengurusan Muslimat NU yang baru akan mengembangkan KBIH ini berada di berbagai tempat. Minimal ada di empat wilayah, sehingga bisa menjangkau warga Nahdliyin di 17 kecamtan sekabupaten Brebes. “Kami akan mengembangkan lagi di Brebes dan Bumiayu, sehingga ada empat perwakilan yang bisa menjangkau Nahdliyin di berbagai tempat,” tekadnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 September 2017

IPNU-IPPNU DKI Jakarta Resmi Dilantik, Ini Program Unggulannya

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Provinsi DKI Jakarta menggelar pelantikan di Gedung Balai Kota, Jumat (29/4) lalu. Kepengurusan IPNU DKI Jakarta, Muhammad Muhadzab ketua terpilih masa khidmah 2016-2019 ini langsung dilantik oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU, Asep Irfan Mujahid. Sedangkan Ketua IPPNU DKI Jakarta masa khidmah 2015-2018, Nur Hamidah Wahid dilantik oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU, Puti Hasni.?

IPNU-IPPNU DKI Jakarta Resmi Dilantik, Ini Program Unggulannya (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU DKI Jakarta Resmi Dilantik, Ini Program Unggulannya (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU DKI Jakarta Resmi Dilantik, Ini Program Unggulannya

Hadir dalam pelantikan tersebut, Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah yang saat ini berdinas sebagai Sekda Pemprov DKI Jakarta, ia juga didampingi oleh KH. Syamsul Maarif (PWNU DKI Jakarta). Selain itu hadir pula Hasan Habibi (Pustekkom Kemendikbud RI), dan Ubaidillah Sadewa (KPI D DKI Jakarta).

Dalam sambutannya, H Saefullah mengapresiasi pelantikan yang dilakukan Pimpinan Pusat IPNU dan IPPNU yang sebenarnya kepengurusan Pimpinan Pusat tersebut baru dikukuhkan bulan Maret kemaren. Ia berharap pelantikan terus dilakukan Pimpinan Pusat hingga ke tingkat kota-kota di DKI Jakarta ataupun di daerah-daerah.?

Selain itu, H Saefullah memberikan kabar gembira untuk pelajar Jakarta bahwa Pemprov DKI Jakarta memberikan program KJP Lanjutan di tahun 2016 ini. Program ini diperuntukkan bagi pelajar menengah yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Siapa saja warga Jakarta yang tamatan SMA atau Madrasah Aliyah yang ingin meneruskan ke pertuguran tinggi negeri, maka biaya pendidikannya dan biaya hidupnya ditanggung oleh Pemprov DKI Jakarta,” ungkapnya.

Dalam kesempatan pelantikan ini, Ketua PW IPNU DKI Jakarta mengungkapkan bahwa pelajar NU Jakarta dalam waktu dekat akan merealisasikan program publikasi pelajar Jakarta berbasis web. Program ini akan diwujudkan dengan cara para pengurus menyambangi berbagai sekolah.

“Ini program jangka panjang yang bertujuan selain sebagai publikasi, juga sebagai wadah agar pelajar NU di Jakarta maupun pelajar pada umumnya untuk belajar menulis. Hal ini sangat terkait dengan penyebaran paham Aswaja di kalangan pelajar melalui media,” ujar Muhadzab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nantinya, lanjut alumnus STAINU Jakarta ini, para pelajar di berbagai sekolah akan diarahkan pada satu domain khusus yakni pelajarjakarta.com. “Masing-masing akan menginduk hosting dan domain di situ,” jelasnya. (Frachman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 07 September 2017

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gundul-gundul pacul-cul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan wakul glempang segone dadi sak latar. Tembang Gundul-gundul Pacul ditembangkan oleh Emha Ainun Nadjib atau yang akrab disapa CakNun saat datang ke Suluk Maleman yang bertemakan Mampir Mabuk, Sabtu (15/4) hingga Ahad (16/4) pagi .?

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk Maleman; Peradaban Mabuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Suluk Maleman; Peradaban Mabuk

Bukan tanpa alasan, Cak Nun menilai ada kesamaan hal yang terjadi antara tembang Gundul-gundul Pacul itu dengan tema yang dibawakan Suluk Maleman edisi ke-64 itu. Baginya para penguasa ibarat bocah gundul yang tengah nyunggi (membawa di kepala, Red) wakul itu.

Jika sang penguasa gembelengan atau diartikan mabuk baik secara tekstual maupun kontekstual maka yang terjadi juga akan sama. Wakulnya glempang. Padahal wakul yang berisi nasi itu bisa diartikan kesejahteraan maupun amanah dari rakyat.

“Padahal sekarang yang terjadi ini wakulnya glempang. Kedaulatannya glempang, akal pikiran bangsa ini glempang, termasuk budaya politik juga telah glempang,” ujar lelaki pimpinan Kiai Kanjeng itu.

Cak Nun pun menegaskan agar setiap individu dapat segera mencarikan solusi dan bukannya menambah masalah. Bahkan dalam mengambil penyelesaian masalah itupun juga harus hati-hati agar tidak menimbulkan permasalahan baru.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita bisa belajar dari tembang e dayohe teko. Di situ diceritakan cara menangani masalah dengan cara yang kurang tepat dan justru menimbulkan masalah demi masalah baru. Seperti saat menambal tikar dengan jadah yang sudah busuk. Tentu itu akan membuat dayoh atau tamu menjadi tidak nyaman bahkan bisa saja marah,” ujar Cak Nun.

Meski begitu Cak Nun tetap mengisyaratkan agar umat Muslim tak perlu khawatir. Karena Allah telah menjamin dalam surat Alam Nasyrah bahwa dalam setiap kesulitan selalu disertakan kemudahan.

“Bahkan bukan sesudahnya namun berbarengan dengan kesulitan itu sendiri. Itu sudah jelas disebutkan,” ujarnya yang kemudian dilanjutkan dengan mengajak para hadirin membaca surat tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Anis Sholeh Ba’asyin menambahkan, dalam menghadapi zaman seperti saat ini agar masyarakat jangan mau dijadikan jangkrik aduan. Karena dalam fenomena jangkrik aduan itu jelas bahwa jangkriknya harus berkelahi mempertaruhkan hidup dan matinya sedangkan pengadunya tertawa cengingisan saat menggelitik jangkrik aduannya itu.

“Begitulah kalau mau menghancurkan Indonesia tinggal mengadu domba orang Islam dengan orang Islam dan sekarang itu tengah dilakukan,” tambahnya.

Penggagas Suluk Maleman tersebut juga menambahkan bahwa dalam era peradaban mabuk ini yang justru perlu diwaspadai adalah orang-orang yang sengaja yang memabukkan diri. Seperti halnya kecenderungan manusia untuk menjadi Tuhan.

“Banyak yang justru mudah melihat ketidak sempurnaan orang lain sedangkan ketidaksempurnaan diri sendiri tidak terlihat. Padahal tidak ada orang yang benar-benar sempurna,” ujarnya.

Kedatangan Cak Nun sebagai salah satu ulama sepuh di Indonesia ini rupanya mampu menarik perhatian ribuan warga masyarakat Pati dan sekitarnya. Bahkan mereka tetap khusyuk menikmati diskusi dan ngaji budaya yang digelar di rumah Adab Indonesia Mulia hingga Ahad sekitar pukul 03.30.

Apalagi dalam diskusi kali ini tak hanya menghadirkan Cak Nun namun juga Presiden Jancukers Sujiwo Tedjo dan Dr Ilyas sebagai narasumbernya. Presiden Jancukers itu juga sempat membawakan sejumlah lagu bersama Sampak GusUran yang tentu kian menghangatkan suasana. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 06 September 2017

Bupati Tangerang Janji Canangkan Program Peduli Pesantren

Tangerang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Bupati Tangerang H Ahmad Zaki Iskandar berjanji akan mencanangkan program pembangunan dan pemberdayaan pesantren di Kabupaten Tangerang. Program tersebut akan dilaksanakan tahun depan, yaitu mulai dari perbaikan sanitasi para santri.

"Kita sudah mulai nanti mengalihkan perhatian dan fokus pembangunan sarana pra sarana pondok pesantren dan madrasah dimulai dari sanitasinya, tempat cucinya, dan WC-nya," ujar Ahmad Zaki dalam kegiatan peringatan Haul Ke-10 KH Muhammad Zarkasyi Hasan dan Haflah Dirosah Diniyyah Pondok Pesantren Putri Al Hasaniyah Rawalini Teluknaga, Tangerang, Banten, Sabtu (8/4).

Bupati Tangerang Janji Canangkan Program Peduli Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Tangerang Janji Canangkan Program Peduli Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Tangerang Janji Canangkan Program Peduli Pesantren

Ia pun mengingatkan kepada jamaah kaum ibu untuk senantiasa menjaga anak-anaknya, terutama terkait teknologi dan informasi. Anak-anak tak boleh terbuai dengan dunia maya, lupa dengan belajar agama, agar pembangunan yang sedang digalakan pemerintah daerah tidak mengubah kearifan lokal, kultur, dan akhlak generasi muda di masa depan.

H. Muhamad Qustulani, salah satu pengasuh Pondok Pesantren Al Hasaniyah Rawalini, yang juga sebagai Wakil Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Nahdlatul Ulama (STISNU) Nusantara Tangerang mengaku bahagia atas program pemerintan daerah yang mau peduli pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia pun berharap program tersebut segera bisa direalisasikan, sebab hari ini banyak pesantren, khususnya salafiyah memiliki sanitasi yang kurang layak. Tidak hanya itu, ia berharap santri juga diberdayakan, diajari keterampilan dalam pengembangan ekonomi dan sumber daya manusia untuk kesejahteraan mereka.

acara haul KH. M. Zarkasyi Hasan dan Haflah di Pondok Pesantren Putri Al Hasaniyah dihadiri oleh ribuan jamaah. Hadir pada kegiatan tersebut Hj. Masrifah anggota DPR RI. (Suhendra/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 05 September 2017

Esensi Ibadah Qurban

Oleh Nasrulloh Afandi

--Pengorbanan tertinggi manusia adalah mengikhlaskan sesuatu yang sangat dicintai semata-mata untuk dan karena Allah SWT, meskipun sesuatu itu telah lama dinantikan dan baru saja didapatkannya.

Khazanah ini, bisa mengambil i’tibar (perumpamaan) dari kisah keikhlasan jiwa besar Nabi Ibrahim AS, Ia  telah lama berdoa dan menantikan kehadiran seorang putra, namun ketika putra yang telah lama Ia nantikan itu, baru saja Ia miliki dan telah  tumbuh berusia tiga belas tahun, malah justru datang perintah baru dari Allah SWT, untuk menyembelih putranya sebagai qurban, Ia pun ikhlas menerimanya. Maka akhirnya, semakin diangkatlah derajatnya di mata Allah swt.

Mengorbankan Kepentingan Keluarga

Esensi Ibadah Qurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Esensi Ibadah Qurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Esensi Ibadah Qurban

Nabi Ibrahim AS adalah sang promotor yang mengajak umat manusia untuk mengorbankan kepentingan pribadi dan keluarganya demi untuk kepentingan yang lebih luas atas dasar kebenaran (agama) sehingga Ia pun tanpa ragu, tanpa menunda-nunda, langsung dengan ikhlas menuruti (Kebenaran) perintah Allah swt untuk menyembelih putranya,

Ia bersikap mengedepankan kepentingan agama (kebenaran di ruang publik)  dan untuk ummat, meski harus mengorbankan putranya.- Subhanallah-. Meskipun akhirnya putranya tidak jadi disembelih, karena Allah SWT mengutus malaikat untuk menggantikan Nabi Ismail AS dengan kambing untuk disembelih.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Syeikh Tohir Bin Asyur Sang penggerak lokomotif  Maqashid Syariah modern, dalam magnum opusnya, kitab “Tafsir At-Tahrir wat-Tanwir”, ia mengomentari tentang perintah Allah swt kepada Nabi Ibrahim as untuk menyembelih putranya ,yang dibadikan dalam al-Quran(QS As-Shaafaat 102-109) : “Sejatinya Allah swt tidaklah akan mensyariatkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelih putra semata wayang kesayangannya yang telah lamadinantikannya itu, tetapi perintah tersebut hanyalah upaya Allah swt menguji kualitas keimanan untuk menetapkan dan mengangkat derajatnya Nabi Ibrahim as, bersedia atau tidakkah mengorbankan putranya itu. Terbukti, setelah Nabi Ibrahim dan putranya pun bersedia(bersabar) untuk melaksanakn perintah tersebut, kemudian  Allah swt pun menggirim kambing untuk disembelih, sebelum Nabi Ibrahim melaksanakan atau menyembelih putranya”.

Inilah esensi disyariatkan ibadah qurban, pada tahun kedua Hijriah, yaitu tahun bebarengan dengan disyariatkan(diperintahkannya) Dua salat Id dan zakat harta, itu,

Ekslusivisme Ibadah Qurban

Faktor yang menjadi pijakan ibadah qurban, setidaknya ada dua hal:

Pertama; Untuk mengenang kebesaran jiwa antara seorang ayah yang bernama Nabi Ibrahim AS yang sangat berjiwa besar dan ikhlas rela mengorbankan kpentingan pribadi dan keluarganya, terbukti Ia pun bersedia melaksanakan perintah meneyemeblih anaknya atas dasar kebenaran (dari perintah agama).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua; Mengenang kesabaran dan ketaatan  Sang anak (birrul walidain) yang sangat berbakti pada orang tuanya, Ia  bernama Nabi Ismail as yang ikhlas mau disembelih sebagai qurban oleh ayahnya dengan landasan kebenaran(Firman Allah swt).

Karena dua faktor ini pula, ibadah Qurban mempunyai ekslusivisme, diantaranya, memotong hewan Qurban, adalah harus dilakukan pada waktu yang telah ditentukan oleh syariat, yaitu empat hari: Tanggal 10 Dzulhijjah (setelah shalat ‘Id) dan tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah (tiga hari sesudahnya) yang dikenal dengan Ayyamutasyriq.

Hal ini, yang membedakan antara penyembelihan hewan Qurban dengan (ibadah) penyembelihan hewan lainnya. seperti menyembelih hewan aqiqah, atau juga memotong hewan ternak untuk pesta pernikahan atau menjamu tamu, atau memotong hewan karena memenuhi nazar, atau hewan Dam(denda) yang disembelih oleh orang yang berhaji Tamattu, atau haji Qiran, namun itu semua berbeda dengan memotong hewan Qurban dalam momentum Idul Adha ini. Karena amalan-amalan trsebut, bisa dilaksanakan kapanpun.

Inilah dimensi ekslusivis Ibadah qurban dari syiar Islam lainnya yang berupa ibadah menyembelih(hewan)

Bagaimana Berqurban di Ruang Publik?

Betapa pun sesuatu hal yang sangat dicintai dan telah lama diharapkan, dan baru saja dimiliki, tetapi ketika Perintah Tuhan(kebenaran di ruang Publik) menyerukan untuk mengorbankan hal itu, maka harus ikhlas dikorbankannya.

Dalam konteks ini, implementasinya, dalam kehidupan sosial sehari-hari, dengan tidak terbatas waktu, musim atau tempat, kapan dan dimanapun, jelas membantu orang-orang membutuhkan adalah sebuah tuntutan kebenaran yang harus dilakukan. Sebagaimana Nabi Ibrahim ikhlas mengorbankan putranya, meski masih dalam keadaan “bulan madu” bersama putra kesayangannya.

Di berbagai  lini aktivitas sosial, hal ekonomi, pendidikan, keadilan, politik dan kebebasan berpikir, itu semua adalah bagian dari hal-hal yang perlu pengorbanan, wajib dilakukan oleh orang-orang  mampu untuk melakukannya , berkewajiban untuk berqurban demi membantu mereka yang membutuhkan. Bukan sebaliknya, orang yang lebih kuat atau berkecukupan  justeru mengorbankan orang yang lebih lemah atau kekurangan dijadikannya sebagai tumbal angkara ambisi mereka yang kuat.

Jika hal ini bisa terlaksana di kancah kehidupan sosial bermasyarakat, maka kronisnya penyakit moral berupa: “Mengorbankan kebenaran yang merugikan publik, demi tercapainya hal-hal ambisi pribadi , keluarga dan golongannya”, secara estafet, penyakit tersebut akan tergusur. Bahkan niscaya event Idul Adha ini, maka secara estafet akan mampu dijadikan Pijakan Strategis Reorientasi Totalitas Moralitas Bangsa, dari keterpurukannya yang kian bertambah akut ini.

Teladan dari Nabi Ibrahim AS ini, memang tentu sangatlah langka untuk kita temukan dalam kehidupan bangsa Indonesia tercinta itu, utamanya yang menjangkit kalang elite pemerintah negeri tercinta dasawarsa ini.

Di sisi lain, skandal moral, yang menjangkit totalitas bangsa kita itu, di berbagai lini aktivitas kehidupan bangsa Indonesia ini, dengan semakin langkanya jiwa-jiwa sosial, egoistis merajalela, mencari rezeki dengan menghalalkan segala cara. Kebenaran dan kemanusian dikorbankan, -- parahnya lagi kerap mengklaim sebagai pejuang publik---  meski sejatinya demi hanya untuk mengedepankan tercapainya ambisi pribadi dan keluarga atau maksimal golongannya belaka.

Analisis (tafakkur) berbagai unsur nilai ruhaniah (spiritualitas) yang terkandung, atas disyariatkannya ibadah qurban ini. Adalah sebuah pijakan awal untuk langkah menempa setiap individual manusia (Pasca Idul Adha) dengan hal-hal positif, dengan metode mengambil I’tibar( Teladan) dari apa yang telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS putranya.

Semangat Idul Adha atau hari raya Qurban ini, sudah semestinya  “menjadi start awal” medan memerangi nafsu angkara ambisi, dan kedzoliman (kesewenang-wenangan) yang telah subur bercokol di ruang publik tanah air kita ini, dengan cara “menyembelih” kenaifan-kenaifan tersebut, dan kembali kepada semangat autentisitas berqurban sejati, yaitu berkorban untuk mengedepankan kebenaran, kepentingan luas, dan meminggirkan kepentingan sempit, demi terwujudnya kemaslahatan yang lebih luas.

 

Nasrulloh Afandi, Wakil Ketua Yayasan Pondok Pesantren Asy-Syafi’iyyah, Kedungwungu, Indramayu Timur, Jawa Barat.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah, Nusantara, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 04 September 2017

15 Ribu Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Jalan Bareng Ansor

Sidoarjo,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jalan bareng santri di paseban Alun-alun Sidoarjo dalam rangka memperingati puncak Jambore Harlah Ansor ke-81 diikuti puluhan ribu warga NU dan masyarakat Sidoarjo. Mereka terdiri dari anak-anak, remaja, dewasa hingga orang tua.

15 Ribu Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Jalan Bareng Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)
15 Ribu Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Jalan Bareng Ansor (Sumber Gambar : Nu Online)

15 Ribu Nahdliyin Sidoarjo Ikuti Jalan Bareng Ansor

Meski suasana mendung mengelilingi kota Udang ini, tidak menyurutkan semangat para peserta untuk melangkahkan kakinya guna mengikuti moment yang sangat spesial ini.

Ketua GP Ansor Sidoarjo Slamet Budiono mengatakan bahwa acara puncak jambore jalan bareng santri ini dalam rangka memperingati Harlah Ansor Ke-81. Dalam serangkaian acara ini peserta mendapatkan kupon gratis dari panitia yang akan diundi pada penghujung acara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Alhamdulillah pesertanya melebihi dari target yang ditentukan oleh panitia. Untuk jalan bareng santri ini diikuti sekitar 15.000 peserta dari Banom NU mulai dari Ranting, PAC, PC hingga masyarakat Sidoarjo yang mengikuti Car Free Day di alun-alun Sidoarjo," Ahad (3/5).

Bupati Sidoarjo H Saiful Ilah dalam sambutan pemberangkatannya mengatakan bahwa dalam mengikuti jalan bareng santri ini harus tertib, kondusif dan mematuhi peraturan yang sudah diberikan oleh panitia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya berpesan kepada semua peserta jalan bareng santri agar mempererat kekeluargaan, persahabatan, persaudaraan dan kebersamaan antar peserta jalan sehat,” tutur Abah Ipul sapaan akrab Bupati.

Nampak hadir dalam acara itu Wakil Bupati Sidoarjo H MG Hadi Sutjipto, Ketua DPRD Sidoarjo H Sulamul Hadi Nurmawan, Ketua GP Ansor Sidoarjo Slamet Budiono, Rektor Unusida, Kepala Kemenag Sidoarjo dan beberapa pejabat di lingkungan Kabupaten Sidoarjo/Forpimda.

Setelah peserta diberangkatkan oleh Bupati, para peserta kemudian menempuh jalan yang sudah ditentukan oleh panitia yakni alun-alun Sidoarjo menuju ke Selatan lewat Slautan, kemudian kembali lagi ke alun-alun Sidoarjo untuk mendapatkan hadiah atau door price dari panitia dan hadiah utama berupa sepeda motor Honda. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Sholawat, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Belasan Grup Ramaikan Festival Tongtek IPNU-IPPNU Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 14 grup dari kalangan pemuda kabupaten Kudus meramaikan Festival Tongtek yang diselenggarakan oleh IPNU-IPPNU Kudus dan salah satu harian di Kudus. Pada Ahad (5/7) sore menjelang berbuka puasa di depan Matahari Plaza Kudus, mereka menunjukkan kebolehannya memukul bambu yang menimbulkan sebuah irama.

Belasan Grup Ramaikan Festival Tongtek IPNU-IPPNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Belasan Grup Ramaikan Festival Tongtek IPNU-IPPNU Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Belasan Grup Ramaikan Festival Tongtek IPNU-IPPNU Kudus

Tongtek merupakan seni musik tradisional yang menggunakan kentongan bambu kering. Pada bulan Ramadhan di beberapa daerah di Indonesia, tongtek sudah menjadi tradisi membangunkan warga untuk melaksanakan sahur.

Menurut ketua panitia Sodiqin, festival tongtek digelar khusus untuk membudayakan kembali kesenian tongtek agar semakin kreatif dalam berinovasi di masa depan. ? “Kami memfasilitasi, karena di desa-desa banyak kegiatan tongtek keliling. Di sini bisa menambah banyak pengalaman bagi teman-teman yang biasa membawakan kesenian tongtek,” katanya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah usai acara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia berharap acara ini menginspirasi dan memberikan gambaran baru dalam masyarakat supaya menggerakan kegiatan-kegiatan tongtek di desa-desanya, tambah manajer iklan Radar Kudus itu.

Sementara pananggung jawab IPNU-IPPNU Kudus Muhammad Khoirun menyatakan rencananya untuk mengadakan festival ini berkelanjutan setiap tahun.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Setelah ini, di IPNU-IPPNU tingkat ranting dan anak cabang akan diadakan acara serupa setiap bulan suci Ramadhan,” ujar koordinator bidang Perekonomian IPNU Kudus itu.

Dalam kesempatan yang sama, Syaiful Anam, salah satu peserta festival menilai bahwa kesenian tongtek memiliki makna-makna tertentu, di antaranya setiap pukulan tongtek terdapat isyarat-isyarat seperti menandakan adanya kematian atau pembunuhan, pencurian, kebakaran, banjir bandang, dan lain-lain.

Bagi Anam, manfaat dari acara festival tongtek adalah pelestarian budaya di zaman modern. Untuk itu, ia mendorong anak muda NU untuk ikut serta mengembangkan tongtek supaya memasyarat dan lebih lestari.

“Saya sebagai warga NU menyarankan kepada masyarakat supaya melestarikan kesenian tongtek. Jangan khawatir kebisingan, karena ? tongtek ini sebagai kesenian yang harus dijaga,” pungkasnya. (M Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Anti Hoax, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 01 September 2017

Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku

Maluku yang dikenal dengan sebutan Jazirah al-Mamluk (Kepulauan Raja-raja) adalah sebuah negeri di Timur Indonesia yang yang sangat berpengaruh dengan empat kerajaan yaitu Jailolo, Ternate, Tidore, dan Bacan.?

Islam ? masuk di Maluku melalui jalur perdagangan di abad ke-15. Alasan kenapa Islam masuk lewat jalur perdagangan, karena pada awal abad ke-15 Maluku Sohor sebagai kepulauan rempah-rempah yang menjadi sasaran pada pedagang asing untuk mendapatkan cengkeh dan buah pala. Pedagang-pedagang itu diantaranya dari Asia-Arab, Gujarat, Cina, dan pedagang-pedagang Jawa serat Melayu yang telah memeluk agama Islam.

Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Awal Islam Masuk di Maluku

Syekh Mansur adalah salah satu pedagang dari Arab yang meyiarkan Islam di Tidore pada masa pemerintahan Calano Caliati. Sementara Datu Maulana Hussein adalah salah satu pedagang ? dari Jawa yang juga berpengaruh dalam penyebaran Islam di Ternate pada masa pemerintahan Kalano Marhum.?

Sementara itu, Portugis menyebut bahwa Islam masuk di Maluku semenjak pelantikan Sultan Zainal Abidin ditahun 1486. Namun, sumber lain menyebut Islam sudah ada di Maluku sekitar 50-60 tahun sebelum tahun 1486.?

Setelah Islam masuk di Maluku, pengaruh dan perkembangan Islam belum kuat terutama di Ternate. Oleh sebabnya, Zainal Abidin pergi ke Jawa untuk mempelajari Islam secara langsung dari Sunan Giri. Sunan Giri adalah salah satu ulama atau wali terkenal di tanah Jawa. Dari sinilah muncul empat kerajaan Islam di Maluku yang disebut Maluku Kie Raha (Maluku Empat Raja).

Kesultanan Ternate yang dipimpin oleh Sultan Zainal Abidin (1486-1500); Kesultanan Tidore dipimpin oleh Sultan Mansur; Kesultanan Jailolo yang dipimpin oleh Sultan Sarajati; Kesultanan Bacan yang dipimpin oleh Sultan Kaicil Buko.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Penyebaran Islam di Maluku, tanpa terkecuali tidak dapat dipisahkan dari kerja keras seorang pedagang sekaligus muballigh asal Jawa bernama Datu Maulana Hussein. Ia tiba di Ternate pada 1465. Hussein adalah seorang muballigh besar pada masanya. Ia memiliki pengetahuan agama Islam yang luas dan dalam, serta pakar tilawah dan kaligrafi Arab.?

Dikisahkan pada suatu hari Hussein, dengan suara yang merdu dan keahlian membuat kaligrafi, setiap ia mendendangkan lantunan ayat-ayat suci membuat banyak orang berdatangan untuk mendengarkannya. Dengan demikian masyarakat perlahan-lahan mulai menerima Islam. (Sidra Sofyan)?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah