Sabtu, 16 September 2017

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nahdlatul Ulama (NU) menyampaikan Islam Rahmatan LilAlamin. Dalam dakwahnya, organisasi yang berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang agama, pendidikan, sosial, budaya, ekonomi, dan lain-lain ini merangkul orang-orang terpinggirkan supaya masuk dan mendalami Islam tanpa memaksa. 

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Merangkul Umat Tanpa Memaksa

Demikian disampaikan Kiai Imam Murtadlo Sayuthi, pengasuh Pesantren Assiddiqiyah 11, Kampung Labuhan Jaya, Gunung Labuhan, Way Kanan, Lampung.

"Sebelum NU dilahirkan, terlebih dahulu ada Masyumi. Namun seiring berjalannya waktu, Masyumi pecah, ada modern dan tradisional," kata Kiai Imam, di Gunung Labuhan, Sabtu (30/4).

NU berdiri melalui proses. Pendirinya antara lain Hadlratussyaikh KH Hasyim Asyari, KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Bisri Syansuri. Setelah terbentuk, selanjutnya, KH Ridwan Abdullah mendapat amanah untuk membuat lambang NU.

"Antara lain bola dunia, tali 99 untaian dengan posisi melingkari bola dunia, bintang empat di sebelah kanan dan kiri serta satu bintang besar di atas. Masing-masing mempunyai filosofi berbeda," Kiai Imam menjelaskan kepada peserta Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) yang digelar PC GP Ansor Way Kanan. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bola dunia adalah tempat manusia berasal, menjalani hidup dan akan kembali. Lalu tali melingkar dalam posisi mengikat bermakna tali ukhuwah (persaudaraan) yang kokoh. Kemudian peta Indonesia menggambarkan NU didirikan di Indonesia dan berjuang untuk kejayaan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

"Untaian tali berjumlah 99 melambangkan Asmaul Husna. Empat bintang bermakna Khulafaur Rasyidin yang terdiri dari Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Kemudian satu bintang besar terletak di tengah melambangkan Rasulullah SAW dan empat bintang lain melambangkan empat madzhab Ahlussunnah wal Jamaah yang terdiri dari Imam Hanafi, Hambali, Maliki dan Syafii," ujar Kiai Imam saat menerangkan mengenai NU.

NU berdiri memiliki tujuan, yakni membimbing umat dengan tawasuth dan itidal, tasamuh, tawazun dan amar maruf nahi munkar. "Tawasuth dan itidal merupakan prinsip hidup yang menjunjung tinggi keharusan berlaku adil dan lurus di tengah hidup bersama. Dengan prinsip tersebut, maka NU akan selalu menjadi kelompok panutan yang bersifat membangun dan menghindari segala bentuk pendekatan bersifat tatharruf (ekstrim)," demikian Kiai Imam Murtadlo Sayuthi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

BPUN 2016 digelar PC GP Ansor Way Kanan di Pesantren Assiddiqiyah 11 mulai 25 April 2016. Selain memberikan motivasi dan bimbingan ruhani istiqomah, juga memberikan materi kecakapan hidup berupa ilmu jurnalistik dibimbing Manajer BPUN setempat Gatot Arifianto. (Uswatun Hasanah/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar