Selasa, 05 Desember 2006

Seluruh Karya Kita di Dunia Akan Dinilai

Pringsewu,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Eksistensi manusia di dunia ini pada hakikatnya adalah berawal dari ketiadaan. Asal kita berasal dari tidak ada, kemudian ada di dunia, selanjutnya tidak ada lagi. Akhirnya akan diadakan lagi oleh yang menciptakan kita, Allah SWT.

Demikian dikatakan KH Sujadi di depan Majelis Taklim Al Huda Pagelaran, Selasa (27/9).

Seluruh Karya Kita di Dunia Akan Dinilai (Sumber Gambar : Nu Online)
Seluruh Karya Kita di Dunia Akan Dinilai (Sumber Gambar : Nu Online)

Seluruh Karya Kita di Dunia Akan Dinilai

Dari rangkaian peristiwa ini, lanjutnya, sudah seharusnya manusia mengambil hikmah perjalanan manusia tersebut dengan senantiasa mengingat bahwa kehidupan manusia tidaklah kekal di dunia ini. Ketidakkekalan ini juga harus diringi dengan mempersiapkan bekal dengan sebaik-baiknya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Mari berkarya apa saja di dunia ini. Seluruh karya kita di dunia ini akan dinilai oleh Allah SWT. Kebaikan akan dinilai, kejelekan juga akan dinilai. Becik ketitik, Olo ketoro," ujar Bupati Pringsewu ini mengutip pepatah jawa.

Kiai tersebut menegaskan pula bahwa Penilaian Allah SWT kepada manusia selama di dunia bersifat mutlak kebenarannya. Tidak ada subjektifitas di dalamnya. Sehingganya apa yang dilakukan di dunia ini akan dipertanggungjawabkan sesuai dengan apa yang dilakukannya.

"Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula," terangnya mengutip Quran surat Az Zalzalah ayat 7-8.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut Mustasyar PCNU Pringsewu ini juga mengajak kaum muslimin untuk senantiasa mendoakan kepada sesama muslim baik yang masih hidup ataupun sudah dipanggil oleh yang kuasa. "Mereka yang dialam qubur juga melihat dan mendoakan kita yang di dunia," ujarnya.

Orang yang telah mendahului dipanggil Allah SWT akan melihat tingkah laku manusia di dunia. "Jika yang ditinggalkan selalu mendoakan dan saling berbuat baik dengan sesama maka merekapun akan senang. Namun sebaliknya jika yang ditinggalkan tidak mendoakan dan selalu berselisih maka merekapun akan bersedih," katanya. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 01 Desember 2006

Jihad Membendung Hoax yang Meresahkan

Oleh Nasrullah Nurdin

Pada era globalisasi seperti sekarang ini geliat bertukar informasi dan literasi digital tak bisa dihentikan. Masyarakat seakan kecanduan dalam berselancar di dunia virtual itu. Membaca, men-share, meng-upadate, dan mem-posting/meng-upload suatu berita di dunia maya menjadi bagian dari rutinitas masyarakat dunia. Seiring dengan perkembangan teknologi informasi yang sudah tidak bisa dihentikan, ancaman perang informasi juga semakin dahsyat saja. Berita benar dan salah tak menjadi persoalan.

Jihad Membendung Hoax yang Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Membendung Hoax yang Meresahkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Membendung Hoax yang Meresahkan

Diakui atau tidak, perang informasi telah membawa implikasi yang luar biasa dalam berbagai sendi kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pemanfaatan yang positif dari perkembangan teknologi informasi untuk membangun sistem dan tata nilai kehidupan manusia sudah banyak dirasakan. Namun, di sisi lain, dampak negatifnya tidak kalah besar dalam merusak karakter manusia yang juga berpotensi mengancam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta mudah untuk menghancurkan kedaulatan suatu negara dibandingkan perang fisik yang pernah mewarnai hubungan antar manusia di era Perang Dunia I dan Perang Dunia II maupun Perang Dingin. (Opini Harian Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Jumat 13 Januari 2017, h. 8).

Mengonsumsi berita juga perlu kita perhatikan. Asupan informasi yang baik tentu dapat membuat pikiran kita positif, pun sebaliknya dengan berita negatif dan provokatif, apalagi berita bohong atau informasi palsu (hoax). Berita hoax belakangan ini cukup meresahkan masyarakat. Pasalnya, tak hanya berita isu berskala lokal atau nasional, hoax bisa menyerang seluruh aspek kehidupan manusia. Isu agama, ekonomi, politik, kesehatan, dan isu lainnya tidak luput dari sasaran empuk pembuat hoax. Istilahnya, hoax ibarat bensin yang tersulut api, tidak hanya menyebar dengan cepat, tetapi juga mampu membakar apa saja yang ada di sekitarnya. Perumpamaan ini dirasa tak berlebihan karena banyak sekali orang yang sudah ‘terbakar habis’ karena hoax. Logikanya, orang awam setelah menerima hoax, tanpa pikir panjang mereka langsung menyebarkannya tanpa harus check and recheck terlebih dahulu. Apalagi, teknologi informasi, khususnya internet membuat penyebaran hoax menjadi lebih cepat dan masif. Media sosial menjadi salah satu sarana gratis yang sangat ampuh untuk menyebarkan hoax, mengingat sebagian masyarakat Indonesia memiliki akun media sosial (medsos).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ironisnya, penyebaran hoax tak hanya dilakukan orang awam, tetapi juga banyak yang berasal dari kalangan akademisi. Ada adagium yang menyatakan jika berita bohong disebarkan terus-menerus dan masif, lambat laun akan dipercaya masyarakat sebagai sebuah kebenaran. Kecenderungan masyarakat Indonesia yang sangat responsif terhadap suatu fenomena merupakan peluang yang sangat mungkin dimanfaatkan orang tidak bertanggungjawab untuk menyebarkan hoax. Di era sekarang ini siapa saja bisa menciptakan informasi dengan motif bermacam-macam. Berhati-hati dalam memercayai dan menyebarkan informasi (sharing information) adalah salah satu upaya preventif menghentikan mata rantai penyebaran hoax. (Harian Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Jumat 13 Januari 2017, h. 9).

(Baca: Peringatan Imam Syafi’i untuk yang Gemar Copy-Paste di Medsos)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



‘Jihad’ Membendung Hoax



Padanan kata hoax (Inggris), dalam bahasa Arab adalah khad?’ah, khud’ah, dan hilah, dan makr yang berarti menipu dan mengolok-olok. Bila ditelusuri melalui Al-Qur’an, orang-orang yang memproduksi berita hoax ini pada umumnya adalah orang-orang munafik dengan tujuan merusak agama, adu domba, dan provokasi. Akar kata yang sama dengan khad?’ah dan khud’ah ini terdapat dalam QS. Al-Baqarah [2]: ayat 9. Akan tetapi, didahului oleh pernyataan tentang iman yakni QS. Al-Baqarah [2]: ayat 8, dan dilanjutkan dengan menyebutkan motif memproduksi atau menyebarkan hoax itu sendiri, yaitu sakit hati, iri, dengki, dan ragu terhadap Islam.

Ini berarti bahwa pekerjaan memproduksi hoax dan menyebarkannya bukanlah pekerjaan orang beriman, meskipun kebanyakan mereka—yang memproduksi dan menyebar berita hoax itu—mengaku beriman seperti yang terdapat dalam QS Al-Baqarah [2]: ayat 8. Meski ada yang berpendapat bahwa berita hoax telah menyatukan umat Islam, persatuan itu tidak lain dari hasil kerja yang batil (salah atau keliru). Sesuatu yang dihasilkan dari usaha batil, tak akan pernah mendatangkan kebaikan. Sebaliknya, hanya akan menuai keburukan. Adanya ayat ini, dapat dipahami sebagai isyarat bahwa dalam sejarah umat beragama, masalah hoax adalah lagu lama. Peringatan Tuhan pada manusia tentang berita hoax, yang telah ada sejak 14 abad silam—dan hingga hari ini masih sangat relevan—menunjukkan hoax selalu hadir dalam kehidupan masyarakat beragama untuk merusak kerukunan beragama dan menciptakan perang (war). (Opini Harian Umum Republika, Jumat 13 Januari 2017, h. 6).



(Baca juga: Berita Hoax dalam Lintasan Sejarah)


Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa berita bohong (hoax) ini sudah pernah ada dalam lintasan sejarah Islam. Menurut Kepala Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an (LPMQ) Muchlis Muhamamad Hanafi yang juga Direktur Eksekutif Pusat Studi Al-Qur’an (PSQ) Jakarta ini, menyebarluaskan berita bohong (hoax) merupakan dosa besar. Tindakan tersebut, ungkap Muchlis, akan menimbulkan fitnah yang merusak sendi-sendi kehidupan bermasyarakat.Dia menyebutkan Rasulullah SAW pernah menjadi korban hoax. Ini ketika istri Rasul, Siti Aisyah RA mendapat tuduhan berselingkuh. Menurut Muchlis, berita hoax tersebut sempat menggelinding liar di Madinah seperti disebutkan dalam Alquran surah an-Nur [24]: ayat ke-11 dan 12. Dalam istilah Al-Qur’an, berita hoax tersebut disebut dengan kata ‘Fâhisyah’ sebagaimana penegasan Al-Qur’an surah an-Nur [24]: ayat ke-19, yaitu sesuatu yang teramat keji. “Bahkan, terbilang dosa besar terbesar,” tulis penyabet gelar doktor di bidang tafsir dari Universitas al-Azhar, Kairo? Mesir ini.



(Baca juga: Haditsul Ifki (Hoax) di Masa Rasulullah SAW)


Muchlis mengutip hadits Rasul tentang bahaya hoax dari riwayat Bukhari. Hadits tersebut berbunyi: "Maukah kalian aku beritahu tentang sebesar-besar dosa besar? Yaitu mempersekutukan Allah dan durhaka pada kedua orang tua. Ketahuilah juga, termasuk perkataan/persaksian dusta/palsu.” Tak hanya terhenti di situ, imbuh Muchlis, Allah SWT menggandengkan dua larangan sekaligus yaitu larangan menyembah berhala yang najis dan larangan berkata dusta sebagaimana penegasan Alquran surah al-Hajj ayat ke-30. Dalam pandangan Muchlis, ini mengesankan dosa penyebar hoax berada sedikit di bawah dosa syirik. “Penyebar hoax, awas! Murka Tuhan menanti Anda di dunia dan akhirat (QS an-Nur:19),” tulis Muchlis yang juga Ketua Lajnah Pentashihan Mushaf Badan Litbang dan Diklat Kementerian Agama ini. (Source: Republika Online, Sabtu 14 Januari 2017 pukul 08.00 WIB).

Berita hoaxyang menimpa rumah tangga baginda Muhammad SAW, Ummul Mukminin Siti Aisyah RA dikenal dengan Haditsul Ifki (? ?)/yaitu berita bohong/gosip murahan. Disebutkan dalam QS An-Nur [24]: ayat 11-14. Dalam asbâbun nuzûl-nya dikisahkan bahwafitnah dan pemutarbalikan fakta alias kebohongan besar terjadi atas diri Aisyah sebagai akibat dari kebohongan berita yang disebarkan orang-orang munafik yang dipimpin oleh Abdullah bin Ubay bin Salul.Dalam perang dengan suku Yahudi, Bani Musthaliq, yang populer dengan Perang Muraisi’, Nabi Muhammad membawa Ummul Mukminin Aisyah RA. Selesai perang, pasukan siap untuk pulang, sementara Aisyah RA ingin buang air, lalu beliau pergi menjauh dari pasukan. Selesai melaksanakan hajatnya, beliau menyadari bahwa manik-maniknya (perhiasan) jatuh, lalu berbalik lagi untuk mengambilnya. Ketika beliau kembali ke tempat semula, beliau mengetahui bahwa pasukan sudah berangkat, dan beliau tidak mungkin menyusul dengan berjalan kaki karena untanya ikut rombongan pasukan itu. Tidak ada orang yang menyadari bahwa Aisyah RA tertinggal.

Aisyah RA terpaksa hanya menunggu, tetapi sampai memasuki waktu malam tidak ada yang datang menjemput. Lalu seorang pemuda muslim bernama Shafwan bin Mu’atthal as-Sulami, yang memilih berangkat paling belakang, melihat adanya sosok perempuan, lalu ia mendekat. Karena sebelum perintah berhijab bagi istri-istri Nabi diturunkan, ia (Shafwan) pernah melihat Aisyah RA. Lalu ia pun tahu bahwa itu adalah Ummul Mukmini Aisyah RA. Ia berteriak sambil mengucapkan Inna lillah wa inna Ilayhi Roji’un, sehingga Aisyah terbangun. Shafwan bin Mu’atthal memerintahkan untanya berjongkok, dan Aisyah menaikinya, lalu mereka berdua menyusul pasukan yang lebih dulu berangkat. Mereka baru menemukan pasukan ketika pasuka tentara itu istirahat untuk berlindung dari terik panas matahari pada tengah hari berikutnya. Sesampainya di Madinah, berkembanglah rumor yang bersumber dari Abdullah bin Ubay bin Salul (tokoh munafik di Madinah), lalu Hassan bin Sabit (keponakan Nabi sebelum masuk Islam) dan Mistah (keponakan Abu Bakar), bahwa Aisyah RA berselingkuh dengan Shafwan bin Mu’attal. Nabi mendengar berita/gosip murahan/rumor itu terpengaruh dan tidak menegur Aisyah dan hanya berdoa kepada Allah untuk mendapat ampunan dari Allah SWT. Ayat ini menerangkan bahwa Allah mencela tindakan orang-orang mukmin yang mendengar berita bohong (hoax) itu yang seakan-akan mempercayainya. Mengapa mereka tidak menolak fitnahan itu secara spontan? Mengapa mereka tidak mendahulukan baik sangkanya (positive thinking)? Iman mereka, semestinya membawa mereka untuk berbaik sangka (husnuz zhan), dan mencegah mereka berburuk sangka kepada sesama mukmin. (Referensi: Al-Qur’an dan Tafsirnya, Jilid 6, Juz 16, 17, dan 18, Direktorat Jenderal Bimas Islam, Urusan Agama Islam dan Bimbingan Syariah (Urais) Kementerian Agama RI, 2012, h. 573-578). ?

Pentingnya Tabayun(Klarifikasi)

Berita bohong di era digital kini mencapai puncak kejayaannya. Berita yang lazim disebut hoax itu kerap tersebar di grup media sosial dari mulai Facebook, Instagram, Twitter, hingga Whatsapp. Hoax sebagaimana dipaparkan di atas adalah berita palsu yang diproduksi untuk tujuan menyerang orang atau kelompok tertentu. Berita bohong atau informasi palsu ini telah menggerus kaum intelek dan akademisi (sampai bergelar profesor dan doktor) serta melumpuhkan akal sehat kita hingga ke titik nadir. Bayangkan, kaum terpelajar yang semestinya memilah dan memilih berita terlebih dahulu bahkan harus kritis dalam menyerap informasi malah melahap mentah-mentah berita palsu dan menyebarkannya ke orang lain.

Di dalam Islam, orang beriman selayaknya mengklarifikasi berita yang sampai. Islam sebenarnya memiliki doktrin yang ketat untuk menghindari hoax. Allah SWT menyuruh kaum mukmin untuk meneliti dan mengonfirmasi berita yang datang kepadanya. Khususnya berita itu datang dari orang fasik. Berikut firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, jika ada seorang fasik datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayun lah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (QS. Al-Hujurât [49]: ayat 6).M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah seperti dilansir Harian Umum Republika, Dialog Jumat 13 Januari 2017/14 Rabi’ul Akhir 1438 H, h. 4, bahwa ayat ke-6 ini merupakan salah satu ketetapan agama dalam kehidupan sosial. Kehidupan manusia dan interaksinya harus didasarkan pada hal-hal yang diketahui. Karena itu, dia membutuhkan pihak lain yang jujur dan berintegritas untuk menyampaikan hal-hal yang benar. Berita yang sampai pun harus disaring. Jangan sampai seseorang melangkah tidak dengan jelas atau dalam bahasa ayat di atas, yakni bi jahalah/ ? alias tidak tahu.

Oleh karena itu, penting bagi kita selaku pengguna media sosial dan internet untuk cerdas dan teliti dalam berbagi informasi. Jarimu, harimaumu. Mari bijak dalam bertukar informasi. Saring dulu sebelum sharing.

Penulis adalah staf Badan Litbang dan Diklat Kemenag; alumni Pascasarjana UIN Jakarta, penulis buku, dan pengurus Lembaga Falakiyah PW NU DKI Jakarta periode 2016-2020



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Makam, Ulama, Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 22 September 2006

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional

Magelang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Perjuangan bangsa Indonesia menghadirkan kembali kejayaannya di bidang olahraga masih harus melalui jalan panjang dan penuh tantangan. Hal ini disampaikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi pada puncak Peringatan Hari Olahraga Nasional, di Alun-Alun Kota Magelang, Jawa Tengah, Sabtu (9/9).

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Perayaan HAORNAS 2017, Momentum Mengembalikan Kejayaan Prestasi Olahraga Nasional

Namun menurutnya justru dengan momentum peringatan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) 2017 yang mengangkat tema “Olahraga Menyatukan Kita’’ akan menjadi langkah strategis mewujudkan tantangan itu dengan sinergi dan kerjasama dari semua pihak.

“Momentum Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) adalah momen sangat penting dimana kita memberikan penghargaan setinggi-tingginya atas dedikasi, pengorbanan serta perjuangan seluruh pihak yang berkontribusi dalam membangun kemajuan olahraga dari tingkat daerah hingga pusat, mulai dari atlet, pelatih, manajer, pemilik klub, pimpinan cabang olahraga, para pembuat kebijakan, kampus-kampus dan sekolah olahraga, media dan juga masyarakat yang mencintai olahraga,” ujar Menpora.

Menpora mengatakan dengan semangat olahraga yang mempersatukan ini, banyak kegiatan-kegiatan keolahragaan diarahkan untuk menumbuhkan kembali semangat cinta tanah air, dan penyatuan kembali semangat kebangsaan dan solidaritas di antara sesama warga masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tidak hanya tentang persatuan, olahraga juga mengajarkan kita banyak hal tentang makna kejujuran, sportivitas, keadilan dan juga kebanggaan kita sebagai sebuah bangsa. Ketika semua bersatu dan berjuang untuk olahraga, maka serentak kita akan berkata inilah Indonesia, Indonesia Raya…!!! maka disitulah kebanggaan kita hadir dari olahraga,” tegas Menpora lagi.

Menurutnya, semangat perayaan Hari Olahraga Nasional kali ini sedikit berbeda dari biasanya, karena dilakukan kurang lebih satu tahun jelang perhelatan olahraga paling bergengsi di Asia dimana Indonesia menjadi tuan rumahnya.

“Asian Games dan Asian Paragames 2018 harus menjadi momentum kebangkitan kembali kejayaan olahraga Indonesia. Keduanya harus meninggalkan warisan berharga bagi bangsa Indonesia, yakni meninggalkan infrastruktur olahraga yang lebih baik, lebih maju dan lebih modern, dan hal lainnya yang tidak kalah pentingnya adalah mewariskan masyarakat Indonesia yang gemar berolahraga.” jelas Imam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih jauh ia mengatakan bahwa masyarakat yang gemar dan mencintai olahraga adalah dasar dari lahirnya prestasi olahraga, “Kita ingin membidik prestasi dari tingginya partisipasi masyarakat dalam kegiatan-kegiatan olahraga, Prestasi adalah sebuah proses panjang melahirkan dan menemukan atlet-atlet elit dari ribuan bahkan jutaan anak-anak Indonesia yang turun ke lapangan olahraga, yang berlari dan terus berlari, bergerak terus berolahraga, menempa dirinya dengan disiplin dan latihan keras untuk menjadi juara,’’ jelas Cak Imam, sapaan akrabnya di kalangan anak-anak muda dan para atlet.

Gerakan #Ayo Olahraga Untuk Hadirkan Prestasi Olahraga

Di Tahun 2017, Kementerian Pemuda dan Olahraga telah mencanangkan Gerakan Ayo Olahraga. Gerakan Ayo Olahraga ini sudah berjalan sejak awal bulan Mei lalu dengan menggulirkan 3 program unggulan utama yaitu: Gowes Pesona Nusantara, Gala Desa dan Liga Sepakbola Pelajar (U-12, U-14, U-16 dan Liga Mahasiswa).

Kegiatan Gowes Pesona Nusantara telah melintasi 81 titik Kabupaten/Kota dari 90 Kabupaten/Kota, sementara itu Gala Desa telah berjalan dengan melibatkan 816 desa, 136 kabupaten/kota di 34 Provinsi. Untuk Liga Sepakbola Pelajar di berbagai level dan jenjang usia telah melibatkan ribuan pelajar dari seluruh Indonesia.

Semangat dari ratusan ribu masyarakat yang telah tersentuh oleh program ini diharapkan dapat terus meningkatkan kegemaran masyarakat berolahraga. 

Secara khusus Program Gowes Pesona Nusantara diarahkan untuk melahirkan sebuah konsensus bersama dari seluruh daerah di Indonesia untuk melahirkan Hari Bersepeda Nasional. Sementara pada kegiatan lainnya yakni Gala Desa dan Liga Sepakbola Pelajar bertujuan untuk menjadikan kedua ajang tersebut sebagai wadah pencarian bibit-bibit olahragawan handal dan penuh potensi dari seluruh pelosok nusantara.

Gerakan Ayo Olahraga ini sejatinya juga bisa dikatakan menjadi tindak lanjut Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2017 tentang Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang  bertujuan melibatkan seluruh komponen bangsa untuk hidup sehat dengan berolahraga, hidup aktif dan produktif dengan berolahraga secara rutin dan teratur apapun jenis olahraganya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 September 2006

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Penolakan massif dari berbagai kalangan masyarakat tentang Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 23 tahun 2017 tentang Hari Sekolah menjadi perhatian serius bagi Dewan Pimpinan Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP PKB).?

Peraturan yang mewajibkan siswa berkegiatan dengan sekolah mulai Senin sampai Jumat dari pagi sampai petang ini dinilai gegabah dan merugikan masyarakat karena keadaan masyarakat Indonesia yang beragam baik secara geografis, sosiologis maupun budaya. ?

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)
PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud (Sumber Gambar : Nu Online)

PKB Tuntut Pembatalan Lima Hari Sekolah Mendikbud

Merespon pengesahan peraturan yang lebih populer dikalangan masyarakat sebagai kebijakan Full Day School (FDS) ini DPP PKB melalui Desk Halaqoh mengundang berbagai kalangan masyarakat yang peduli dengan pendidikan untuk berdiskusi secara serius dalam acara Halaqoh Kebangsaan di Hotel Acacia Jakarta Pusat, Senin (7/8).?

Halaqoh kebangsaan ini akan dihadiri oleh anggota legislatif FPKB DPR RI komisi VIII dan X, perwakilan-perwakilan ormas Islam, Pengasuh Pesantren, Madrasah Diniyah dan TPQ dari DKI Jakarta, Banten dan Jawa Barat, serta elemen masyarakat yang peduli pendidikan.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dari awal sebelum dijadikan peraturan resmi, kami sudah menolak adanya sekolah lima hari yang mengatur jam sekolah dari pagi sampai sore hari,” ujar Abdul Kadir Karding, Sekretaris Jenderal DPP PKB.?

“PBNU, KPAI, LPOI beberapa pemerintah daerah seperti Papua, NTT, Pasuruan, Tegal, Purwakarta sudah tegas menolak bahkan sejak peraturan ini masih jadi wacana dan sampai sekarang sikap mereka tidak berubah, hal ini seharusnya didengar oleh Menteri Pendidikan Muhadjir Effendi,” imbuhnya lagi.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Seperti yang sudah diketahui, salah satu nawa cita Presiden Joko Widodo adalah merevolusi karakter bangsa, akan tetapi menerjemahkannya dengan peraturan sekolah lima hari atau full day school menurut Karding sama sekali tidak tepat.

“Kami sepakat dengan revolusi karakter bangsa atau penguatan karakter bangsa, sebab itu yang sudah dilakukan oleh Pesantren dan Madrasah Diniyah selama ini, bahkan sejak sebelum Indonesia Merdeka. Maka dari itu, kami akan tolak segala kebijakan yang akan melemahkan atau bahkan menghapus lembaga pendidikan asli Indonesia ini,” tegas Ketua FPKB MPR RI ini.?

“Yang terancam bukan hanya Pesantren dan Madrasah Diniyah tapi justru karakter bangsa sedang terancam, lebih jauh NKRI bisa terancam,” katanya lagi.

Pria yang akrab disapa dengan AKK ini juga menegaskan bahwa partainya telah menginstruksikan kepada seluruh kader untuk terus berjuang menolak adanya FDS. PKB menilai FDS telah menafikan peran-peran kesejarahan dan peran madrasah dalam membangun karakter bangsa dan akhlak mulia.?

PKB menyatakan bahwa pembangunan karakter bangsa tidak bisa diukur dengan banyaknya hari dan jam anak belajar di sekolah akan tetapi lewat kualitas proses pendidikan dan kesungguhan para guru/ustadz dalam membimbing dan memberi tauladan bagi peserta didik.

Baginya, tidak semua kebijakan politik bisa dinegosiasikan, salah satunya adalah kebijakan full day school yang tidak boleh dinegosiasikan dengan alasan apapun.?

Harapannya, Halaqoh Kebangsaan ini bisa merumuskan hal-hal strategis menyangkut penguatan karakter bangsa dan langkah taktis-strategis untuk menolak pelaksanaan Permendikbud nomor 23 tahun 2017 ini.?

Adapun narasumber yang akan hadir adalah Robikin Emhas (Ketua PBNU Bidang Hukum), Arifin Junaidi (Ketua LP Ma’arif NU), Lukman Hakim (Ketua Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah), Irsyad Yusuf (Bupati Kab Pasuruan), dan Margaret AM (Komisioner KPAI). (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 30 Juli 2006

Pemagangan Bukanlah Rekrutmen Buruh Upah Murah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri menegaskan bahwa pemagangan jangan dijadikan alat oleh industri untuk merekrut buruh dengan upah rendah.

“Pemagangan merupakan bagian dari pelatihan kerja untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Oleh karena itu, sangat penting dilakukan pemagangan berbasis jabatan,” kata Hanif saat menerima Perusahaan Industri Pemagangan yang tergabung dalam GAN (Global Apprenticeship Network) Indonesia pada Rabu (25/10) di Kantor Kementerian Ketenagakerjaan.

Pemagangan Bukanlah Rekrutmen Buruh Upah Murah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemagangan Bukanlah Rekrutmen Buruh Upah Murah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemagangan Bukanlah Rekrutmen Buruh Upah Murah

Hanif menambahkan, pemagangan berbasis jabatan akan memiliki hasil yang jelas, sehingga mereka benar-benar memenuhi standar kompetensi sesuai jabatannya. Jangan anak magang disuruh bikin kopi atau fotokopi, mereka mau belajar apa?

Dikatakan Hanif, supaya pemagangan bisa berjalan dengan baik, maka industri harus memiliki planner dan instruktur pemagangan. “Kita perlu instruktur untuk membantu peserta magang berlatih, selain itu kita juga memerlukan planner untuk membantu proses pemagangan,” paparnya.

Sementara itu, untuk memudahkan kontrol dan pembinaan, Menaker Hanif menyarankan supaya semua industri bergabung dengan Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dengan bergabung ke Kadin dan Apindo, maka proses monitoring dan pembinaan industri terkait pemagangan akan lebih mudah,” jelas Hanif.

Selain itu, Hanif menghimbau, saat ini kita harus merubah pola pikir dari yang sebelumnya mengandalkan sumber daya alam beralih ke bagaimana untuk memaksimalkan sumber daya manusia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sumber daya alam akan habis, oleh karena itu kita harus meningkatkan kompetensi sumber daya manusianya, salah satunya adalah dengan pemagangan. Kita harus ‘jualan’ kompetensi,” kata Hanif.

Ketua Kawasan Industri MM 2100 Darwoto yang juga anggota GAN Indonesia menuturkan, industri akan mendapat lebih banyak keuntungan jika merekrut tenaga kerja yang sudah mengikuti program pemagangan.

“Merekrut tenaga kerja yang sudah mengikuti pemagangan jauh lebih produktif. Mereka sudah tau alur kerja di industri. Pemagangan bukanlah ‘kernet’, sehingga mereka harus berada di line produksi dan didampingi oleh mentornya,” jelas Darwoto.

Namun demikian, Darwoto menjelaskan, hingga saat ini masih banyak pihak yang menolak pemagangan karena dianggap praktek upah murah. “Mereka belum memahami bahwa pemagangan adalah program latihan kerja,” pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah PonPes, Makam, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 01 Januari 2006

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga

Sepeninggal Rasulullah SAW, Malaikat Jibril akan tetap turun ke bumi. Tidak untuk menurunkan wahyu lagi, tetapi guna mengambil sepuluh mutira yang paling berharga dalam kehidupan manusia.

? الحمد لله أحمده وسبحاÙ? Ù‡ وتعالى على Ù? عمه الغزار, أشكره على قسمه المدرار, . أشهد اÙ? لا اله الا الله وحده لا شرÙ? Ùƒ له. واشهد اÙ? سÙ? دÙ? ا محمدا عبده Ùˆ رسوله الÙ? بÙ? المختار. اللهم صل على سÙ? دÙ? ا محمد وعلى أله الأطهار وأصحابه الأخÙ? ار وسلم تسلÙ? ما كثÙ? را. أما بعد فÙ? اأÙ? ها الÙ? اس اتقوالله حق تقاته ولاتموتÙ? الا وأÙ? تم مسلموÙ? . . Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjaga Sepuluh Mutiara Paling Berharga

Marilah kita kembali menambah kadar ketaqwaan kita kepada Allah swt dengan menghindar berbagai larangan-Nya dan juga menjauhi berbagai perkara yang dibenci Rasul-Nya. Sesungguhnya hanya dengan taqwalah kita akan menghadapi kehidupan ini secara sempurna.

Jama’ah Jum’ah yang berbahagia

Memang tidak selayaknya kita membicarakan keburukan demi keburukan yang terjadi di muka bumi ini. Apalagi keburukan yag terjadi di sekitar kita, yang kerap kali melibatkan orang-orang dekat kita. Alangkah baiknya jikalau kita mulai melangkah menyelesaikan dan membenahi keburukan itu, tidak sekedar membicarakannya.

Tindak korupsi yang tidak kunjung surut, pasar narkoba yang semakin meluas, kriminalitas yang kian tinggi, norma dan nilai moral yang telah bergeser. Begitu merosotnya keadaan di sekitar kita, hingga berbagai fatwa ulamapun dianggap angin lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Guna berbenah itulah kita harus tahu persis akar permasalahan dari keburukan itu. Agar treatmen yang akan diberikan tidak salah sasaran. Nampaknya hadits Rasulullah saw ketika berdialog dengan Malaikat Jibril dapat dijadikan pegangan sebagai indikasi juga sebagai solusi.

Ketika Rasulullah saw dalam keadaan sakit yang menghantarkan belaiu wafat, malaikat Jibril datang menemuinya. Setelah berbincang sejenak Rasulullah saw bertanya kepada Jibril “Jibril, apakah kamu nanti masih akan sering turun ke bumi ketika aku sudah meninggal? Jibril menjawab “masih Rasul, saya akan turun sepuluh kali lagi ke bumi, saya turun untuk mngambil sepuluh mutiara dari bumi ini sepeninggalmu”. Rasulullah saw pun penasaran, lalu bertanya kembali “mutiara macam apa yang igin kau ambil itu? jibril menjawab “لأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ)mutiara pertama yang akan saya ambil dari muka bumi ini adalah barokah.

Para kyai biasa memaknai barokah dengan ziyadatul khair. Yang secara bahasa dapat diartikan ‘tambah baik’. Artinya, sesuatu itu dianggap memiliki kebarokahan jika memang dapat melahirkan kebaikan yang lain. Misalkan berdagang yang berkah itu akan menjadikan pedagangnya makin banyak bersedekah dan tambah rajin beribadah. Begitu pula ilmu yang barokah itu akan menjadikan pemiliknya berperilaku semakin baik, tidak malah semakin buruk. Ilmu akuntansi yang barokah tidak akan disalah gunakan oleh pemiliknya untuk korupsi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jama’ah yang Berbahagia

Mutiara kedua yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah rasa dari hati manusia ? وَالثَّاÙ? ىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الخَلْقِ) jika demikian, maka yang tersisa hanyalah rasa benci. Lihatlah sekarang di sekitar kita apakah masih ada cinta dalam hati penguasa yang membuat rakyat dan para petani hidup makin sengsara. Bagaimana ada cinta jikalau mereka tega mengimpor bahan baku dan menghancurkan harga local? Apakah itu cinta? Saya kira kita sudah bisa menilia dan menjawabnya.

Mutiara yang ketika yang akan diambil Jibril dari bumi ini adalah rasa sayang diantara keluarga (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ jikalau harimau tidak akan memangsa anaknya sendiri, tetapi sering kali kita temukan anak dan orang tua saling membunuh, bahkan seorang ibu tega menjual bayinya. Atau bahkan seorang anak menjual bapaknya. Bahkan dalam dunia politik yang semakin menghangat karena musim pilkada berapa saudara yang telah berubah menjadi musuh? Sepertinya rasa sayang antar keluarga semakin menipis. Namun demikian semoga Allah tetap melindungi kita semua.

Mutaiar keempat yang akan diambil oleh Jibril dari bumi ini keadilan di hati pemimpin وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِÙ? ÙŽ الأُمَراَءِ) rasa-rasanya mengenai hal ini kita bersama telah pandai menilai. Apakah kekuasaan di sekitar kita masih mengandung keadilan? Dapatkah disebut ke adilan jika terjadi tebang pilih dalam penegakan hukum? Na’udzubillah min dzalik.

Mutiara kelima yang akan diambil oleh Jibril dari bumi ini adalah وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَÙ? اَءَ مِÙ? ÙŽ الÙ? ِّساَءِ) rasa malu dari perempuan. Rasa malu itu kini telah dirubah menjadi rasa bangga. Bangga menjadi perempuan simpanan. Bangga menjadi gadis gratifikasi seksual, bahkan sebagian menggunakan alasan seni demi menutupi kemaluan yang telah hilang. Semoga kita semua terhindar dari yang demikian ini.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Mutiara keenam yang akan diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِÙ? ÙŽ الفُقَراَءِ) kesabaran dari para fakir. Perlu diakui bahwa factor yang mengondisikan negara miskin dan berkembang tetap aman dan tertata adalah kesabaran para fakir dalam menerima bagian mereka. Namun, ketika golongan fakir miskin ini tidak sabar dengan nasib mereka, maka kesenjangan social bisa berubah menjadi kekacauan fisik. Inilah yang tergambar dalam prosesi premanisme di berbagai kota.

Mutiara ketujuh yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِÙ? ÙŽ العُلَماَءِ) wirai dan zuhud dari para ulama. Wira’i adalah menjaga diri dari yang syuhbat dan yang haram, sedangkan zuhud itu tidak mementingkan harta-dunia, keduanya merupakan karakter para ulama. Akan tetapi jika wira’i dan zuhud telah hilang dari ulama maka nilai keulamannyapun mulai berkurang. Nampaknya inilah yang terjadi pada ulama kita. wajarlah jika akhir-akhir ini berbagai fatwa mereka tidak di dengar lagi oleh masyarakat. Pengajian-pengajiannya hanya dianggap sebagai tontonan.

Mutiara ke delapan yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالثَّامِÙ? ُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِÙ? ÙŽ الأَغْÙ? ِÙ? اَءِ) kedermawanan bagi orang kaya. Diantara unsur yang dapat melanggengkan sirkulasi kehidupan ekonomi dan social di suatu masyarakat adalah kesabaran fakir dan kedermawanan orang kaya. Keduanya akan saling mengisi. Namun jikalau semua itu lenyap, maka harmonisme dalam satu masyarakat dapat hilang tergantikan dengan unharmonism.

Jama’ah yang Berbahagia

Mutiara ke Sembilan yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآÙ? ÙŽ) mengangkat al-Qur’an, tepatnya menghilangkan ruh al-Qur’an itu sendiri sebagai tuntunan dalam kehidupan. Memang, kemajuan teknologi kini makin mempermudah telinga kita mendengarkan lanutnan ayat-ayat al-Qur’an. melalui mp3, DVD, online bahkan juga tafsirnya pun dapat diperoleh dengan mudah pula. Akan tetapi semangat qur’an itu sendiri sekarang makin pudar bersama dengan makin mudahnya mendengarkan al-qur’an. Meski demikian kita harus tetap berusaha memohon kepada Allah Yang Maha Kuasa agar Jibril tidak mengambil mutiara ini.

Dan terakhir, mutiara yang diambil oleh Jibril dari bumi adalah iman. العاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِÙ? ْماَÙ? ÙŽ) mungkin ini adalah mutiara paling berharga diantara sembilan mutiara lainnya. Atau bisa saja ini adalah urutan mutiara yang paling akhir yang akan diambil oleh Jibril. Sebagaimana struktur teks hadits ini yang memposisikannya paling belakang. Iman itu ada di hati semoga Allah menetapkannya dalam hati kita masing-masing.

Jama’ah yang Dimuliakan Allah

Khotbah kali ini sebenarnya berdasarkan pada hadits yang bunyinya:

رُوِىَ Ø£ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ جِبْرِÙ? ْلَ عَلَÙ? ْهِ السَّلاَمُ Ù? َزَلَ عَلَى الÙ? َّبِىِّ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلَّمَ فىِ مَرَضِ مَوْتِهِ فَقاَلَ Ù? اَجِبْرِÙ? ْلُ هَلْ تَÙ? ْزِلُ مِÙ? Ù’ بَعْدِى ؟؟ فَقاَلَ Ù? َعَمْ Ù? اَرَسُوْلَ اللهِ Ø£ÙŽÙ? ْزِلُ عَشْرَ مَرَّاتٍ أَرْفَعُ العَشْرَ الجَواَهِرِ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ قاَلَ Ù? اَ جِبْرَÙ? ْلُ وَماَتَرْفَعُ مِÙ? ْهاَ ØŸ قاَلَ Ø› (الأَوَّلُ) أَرْفَعُ البَرَكَةَ مِÙ? ÙŽ الأَرْضِ (وَالثَّاÙ? ىِ) أَرْفَعُ المَحَبَّةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الخَلْقِ (وَالثَّالِثُ) أَرْفَعُ الشُّفْقَةَ مِÙ? Ù’ قُلُوْبِ الأَقاَرِبِ (وَالرَّابِعُ) أَرْفَعُ العَدْلَ مِÙ? ÙŽ الأُمَراَءِ (وَالخاَمِسُ) أَرْفَعُ الحَÙ? اَءَ مِÙ? ÙŽ الÙ? ِّساَءِ (وَالسَّادِسُ) أَرْفَعُ الصَّبْرَ مِÙ? ÙŽ الفُقَراَءِ (وَالسَّابِعُ) أَرْفَعُ الوَرَعَ وَالزُهْدَ مِÙ? ÙŽ العُلَماَءِ (وَالثَّامِÙ? ُ) أَرْفَعُ السَّخاَءَ مِÙ? ÙŽ الأَغْÙ? ِÙ? اَءِ (وَالتَّاسِعُ) أَرْفَعُ القُرْآÙ? ÙŽ (وَالعاَشِرُ) أَرْفَعُ الإِÙ? ْماَÙ? ÙŽ?

Dari hadits inilah khotib kemudian berusaha mengefaluasai realita zaman sekarang yang ternyata dalam bahasa hadits itu Jibril sudah mulai bertindak turun kebumi satu-persatu mengambil mutiara itu. Semoga masih banyak mutiara yang tersisa. Semoga Allah swt memberikan kekuatan pada kaum muslimin untuk menjaga kesepuluh mutiara tersebut.

بَارَكَ اللهُ لِÙ? Ù’ وَلَكُمْ فِÙ? Ù’ اْلقُرْآÙ? ِ اْلعَظِÙ? ْمِ ÙˆÙŽÙ? َفَعَÙ? ِÙ? ÙˆÙŽØ¥Ù? َّاكُمْ ِبمَا ِفÙ? ْهِ مِÙ? ÙŽ اْلآÙ? اَتِ وَالذكْر ِالْحَكِÙ? ْمِ وَتَقَبَّلَ مِÙ? ِّÙ? وَمِÙ? ْكُمْ تِلاَوَتَهُ Ø¥Ù? َّهُ هُوَ السَّمِÙ? ْعُ اْلعَلِÙ? ْمُ

?

Khutbah II

اَلْحَمْدُ للهِ عَلىَ اِحْسَاÙ? ِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلىَ تَوْفِÙ? ْقِهِ وَاِمْتِÙ? َاÙ? ِهِ. وَاَشْهَدُ اَÙ? Ù’ لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِÙ? ْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَÙ? ÙŽÙ‘ سَÙ? ِّدَÙ? َا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى اِلىَ رِضْوَاÙ? ِهِ. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ وِعَلَى اَلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِÙ? ْمًا كِثÙ? ْرًا اَمَّا بَعْدُ

فَÙ? اَ اَÙ? ُّهَا الÙ? َّاسُ اِتَّقُوااللهَ فِÙ? ْمَا اَمَرَ وَاÙ? ْتَهُوْا عَمَّا Ù? ÙŽÙ‡ÙŽÙ‰ وَاعْلَمُوْا اَÙ? ÙŽÙ‘ اللهّ اَمَرَكُمْ بِاَمْرٍ بَدَأَ فِÙ? ْهِ بِÙ? َفْسِهِ وَثَـÙ? ÙŽÙ‰ بِمَلآ ئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعاَلَى اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ وَمَلآ ئِكَتَهُ Ù? ُصَلُّوْÙ? ÙŽ عَلىَ الÙ? َّبِى Ù? Ø¢ اَÙ? ُّهَا الَّذِÙ? Ù’Ù? ÙŽ آمَÙ? ُوْا صَلُّوْا عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِÙ? ْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَÙ? ِّدِÙ? َا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَÙ? ْهِ وَسَلِّمْ وَعَلَى آلِ سَÙ? ِّدِÙ? اَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَÙ? ْبِÙ? آئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَارْضَ اللّهُمَّ عَÙ? ِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِÙ? Ù’Ù? ÙŽ اَبِى بَكْرٍوَعُمَروَعُثْمَاÙ? وَعَلِى وَعَÙ? Ù’ بَقِÙ? َّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَتَابِعِÙ? التَّابِعِÙ? Ù’Ù? ÙŽ لَهُمْ بِاِحْسَاÙ? ٍ اِلَىÙ? َوْمِ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَارْضَ عَÙ? َّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ Ù? َا اَرْحَمَ الرَّاحِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ

اَللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِÙ? ِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُؤْمِÙ? َاتِ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْÙ? آءُ مِÙ? ْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ اللهُمَّ اَعِزَّ اْلاِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاÙ? ْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِÙ? َّةَ وَاÙ? ْصُرْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ Ù? َصَرَ الدِّÙ? Ù’Ù? ÙŽ وَاخْذُلْ Ù…ÙŽÙ? Ù’ خَذَلَ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ ÙˆÙŽ دَمِّرْ اَعْدَاءَالدِّÙ? Ù’Ù? ِ وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ اِلَى Ù? َوْمَ الدِّÙ? Ù’Ù? ِ. اللهُمَّ ادْفَعْ عَÙ? َّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ وَسُوْءَ اْلفِتْÙ? َةِ وَاْلمِحَÙ? ÙŽ مَا ظَهَرَ مِÙ? ْهَا وَمَا بَطَÙ? ÙŽ عَÙ? Ù’ بَلَدِÙ? َا اِÙ? ْدُوÙ? ِÙ? ْسِÙ? َّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَاÙ? ِ اْلمُسْلِمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ عآمَّةً Ù? َا رَبَّ اْلعَالَمِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. رَبَّÙ? َا آتِÙ? اَ فِى الدُّÙ? Ù’Ù? َا حَسَÙ? َةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَÙ? َةً وَقِÙ? َا عَذَابَ الÙ? َّارِ. رَبَّÙ? َا ظَلَمْÙ? َا اَÙ? ْفُسَÙ? َاوَاِÙ? Ù’ لَمْ تَغْفِرْ Ù„ÙŽÙ? َا وَتَرْحَمْÙ? َا Ù„ÙŽÙ? َكُوْÙ? ÙŽÙ? ÙŽÙ‘ مِÙ? ÙŽ اْلخَاسِرِÙ? Ù’Ù? ÙŽ. عِبَادَاللهِ ! اِÙ? ÙŽÙ‘ اللهَ Ù? َأْمُرُÙ? َا بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَاÙ? ِ وَإِÙ? ْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ ÙˆÙŽÙ? ÙŽÙ? ْهَى عَÙ? ِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُÙ? ْكَرِ وَاْلبَغْÙ? Ù? َعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْÙ? ÙŽ وَاذْكُرُوااللهَ اْلعَظِÙ? ْمَ Ù? َذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ Ù? ِعَمِهِ Ù? َزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ اَكْبَرْ

?

Redaktur: Ulil Hadrawy. ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah