Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ahlussunnah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Februari 2018

PCINU Yaman Terbitkan Buku "Hadhramaut Corner"

Tarim, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Upaya melestarikan manhaj serta pemikiran salafus sholeh agaknya tak cukup dengan menggelindingkan wacana mereka di forum-forum kajian serta diskusi.?

Salah satu langkah yang kongkret adalah dengan menuangkannya dalam bentuk buku. Menyadari hal itu, memasuki tahun baru masehi 2013, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama’ (PCINU) Yaman menerbitkan buku berjudul “Hadhramaut Corner”. Selain sebagai aplikasi nyata dalam ranah dakwah bil qolam, kehadiran buku setebal 239 halaman tersebut – sebagaimana bisa diketahui dari judulnya – juga merupakan upaya kristalisasi ide dan pemikiran ulama di negeri Hadhramaut, Yaman.?

PCINU Yaman Terbitkan Buku Hadhramaut Corner (Sumber Gambar : Nu Online)
PCINU Yaman Terbitkan Buku Hadhramaut Corner (Sumber Gambar : Nu Online)

PCINU Yaman Terbitkan Buku "Hadhramaut Corner"

Buku yang ditulis oleh M. Khotibul Umam, mantan wakil rais syuriyah PCINU Yaman periode 2010-2012 yang baru saja menyelesaikan studi S1 di Fakultas Syariah, Universitas Al-Ahgaff Tarim ini, merupakan kumpulan essai tetapnya dalam rubrik Tadarus Ramadhan di situs berita www.okezone.com selama 3 tahun berturut-turut, mulai 1431 hingga 1433 Hijriah.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Umam, demikian ia akrab disapa, menjadi penulis tetap kolom Tadarus Ramadhan di okezone, di tengah-tengah kesibukannya menjalani aktivitas kemahasiswaan.

“Buku ini saya dedikasikan untuk para segenap pelajar, warga Nahdliyyin, dan seluruh umat Islam, serta masyarakat Indonesia secara umum,” ujar pemuda asal Sampang, Madura tersebut saat acara launching buku, Jumat (04/01) di salah satu ruang paralel Universitas Al-Ahgaff, Tarim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hadhramaut Corner sendiri merupakan terjemahan dari bahasa Arab : Zawiyah Hadhramaut. Zawiyah – yang berarti pojok – merupakan istilah yang digunakan masyarakat Kota Tarim, Hadhramaut untuk menunjukkan arti sebuah tempat khusus di pojok masjid yang dijadikan tempat menggelar aktivitas keilmuan.?

Melalui keberadaan zawiyah-zawiyah inilah, selama berabad-abad, masjid – masjid di Tarim tak hanya berfungsi sebagai pusat ibadah semata. Melainkan mempunyai peranan yang cukup signifikan dalam pembentukan keilmuan umat. Di tempat tersebut, para masyayikh membacakan kitab keislaman kepada masyarakat. Diantara sekian banyak zawiyah yang masih eksis dan konsisten hingga kini, adalah zawiyah Masjid Syekh Ali, yang diasuh oleh Habib Abdullah bin Syihab ; zawiyah tua yang menjadi salah satu sumber inspirasi penulisan buku Hadhramaut Corner. Salah satu kitab rujukan kajiannya, adalah an-Nashoih ad-Diniyah karya Imam Abdullah bin Alwy al-Haddad(w. 1132 H.)

“Sebagian besar isi buku ini terinspirasi dari nasehat serta petuah para habaib Kota Tarim di beberapa zawiyah yang konsisten saya ikuti,” papar penulis bernama pena Umamel Samfanie.

Bagi alumnus pesantren Lirboyo Kediri tersebut, ide-ide serta pemikiran sejumlah Masyayikh Hadhramaut, diantaranya; Habib Abdullah bin Syihab, Habib Salim al-Syathiri, Habib Ali al-Masyhur, dan Habib Umar bin Hafidz, sangat patut diapresiasi dan diwacanakan di Indonesia. Khususnya, terkait metodologi dakwah yang menekankan nilai kecintaan ? dan perdamaiandalam mempresentasikan ajaran Islam, sebagaimana yang dibawa oleh para Walisongo di Nusantara. Hal itu bisa dilihat dari salah satu esai yang berjudul “Luthfan la ‘Unfan : Lemah Lembut, Bukan Ganas Beringas”.

“Buku ini sengaja ditulis dengan gaya essai ringan, agar bisa lebih mengena kepada pembaca,” papar Umam yang akan segera bertolak ke tanah air dalam waktu dekat.

Sementara itu, Ketua Lembaga Ta’lif wan Nasyr (LTNU) PCINU Yaman, M. Shofwan Jauhari, berharap besar agar kehadiran buku Hadhramaut Corner ini menjadi awal yang baik untuk geliat kepenulisan dan penerbitan lembaga yang ia bawahi.

“Ini menjadi motivasi besar untuk kawan-kawan LTNU !” ungkapnya saat diwawancara. Mahasiswa Al-Ahgaff ? tingkat akhir, asal Sidoarjo itu menambahkan, bahwa selain penulisan buku, LTNU juga akan fokus ke aktivitas penerjemahan. Insya Allah, dalam waktu dekat, Hadhramaut Corner akan dicetak oleh sebuah penerbit di Indonesia.

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Dzul Fahmi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Nusantara Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 17 Februari 2018

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam rangka menerima mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga melaksanakan PBAK (Pengenalan Budaya akademik dan kemahasiswaan), Kamis-Sabtu, 24-26 Agustus 2017 yang diikuti 3000 lebih mahasiswa baru dari berbagai daerah seluruh nusantara.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Prof Dr Amin Abdullah ini UIN Sunan Kalijaga ini mengangkat tema Membangkitkan Nilai Nasionalisme dan Keislaman

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan

Dalam Sambutan Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Yudian Wahyudi, Ph.D mengingatkan agar mahasiswa baru bisa mencintai Indonesia sebagai bangsa yang majemuk tanpa menghilangkan nilai-nilai keislaman dan agar memiliki jiwa nasionalisme.

Yudian juga mengingatkan agar mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga tidak bergabung dengan oraganisasi yang anti-NKRI. Sebab itu dalam kesempatan ini, Alumni Pondok Pesantren Termas Pacitan itu mengajak para mahasiswa baru menyanyikan lagu Ya Lal Wathan. 

Hal itu juga dipersiapkan oleh Panitia Pelaksana PBAK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai cara pembangkit semangat nasionalisme dan cinta NKRI. Suara padu menggema dari mahasiswa baru sembari mengepalkan tangan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

Salah seorang panitia, Ahmad Ainul Fahruri menjelaskan, perlu diketahui bahwa pencipta Mars Subhanul Wathon adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, penggerak dan perintis awal berdirinya Nahdlatul Ulama, dengan tujuan agar membangkitkan semangat perjuangan  para santri dalam mengusir penjajah. 

“Lumrah saja ketika mahasiswa UIN Sunan Kalijaga mempunyai semangat mencintai bangsa,” ujar Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam ini. 

Menyanyikan lagu Ya Lal Wathan juga diinisiasi panitia untuk menanamkan cinta tanah air kepada mahasiswa baru agar ketika berproses menjadi mahasiswa tidak salah langkah dalam berorganisasi. (Fahri/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 07 Februari 2018

Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Melayani Budaknya

Orang boleh saja kesal kepada pejabat kebanyakan yang bertingkah selalu ingin dipuji, dihormati dan dilayani. Tapi yakinlah, tak semua pemimpin berkarakter menjengkelkan semacam itu. Sebagaimana kisah Umar bin Abdul Aziz, seorang khalifah tersohor era Bani Umayyah.

Suatu hari Umar bin Abdul Aziz meminta budak perempuannya untuk mengipasi dirinya hingga ia bisa tidur. Si budak menaati perintah sang tuan. Angin spoi-spoi pun mengantarkan Umar bin Abdul Aziz ke alam mimpi.

Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Melayani Budaknya (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Melayani Budaknya (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Khalifah Umar bin Abdul Aziz Melayani Budaknya

Seiring dengan pulasnya tidur sang khalifah, gerak kipas di tangan budak perempuan itu perlahan berhenti dengan sendirinya. Si budak yang tak kuat menahan kantuk ikut tertidur di dekat Umar bin Abdul Aziz.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Budak itu masih tidur saat sang khalifah bangun dari alam mimpinya. Cepat-cepatlah sang khalifah mengambil kipas itu lalu mengipas-kipaskannya ke arah si budak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Budaknya berteriak begitu bangun dan sadar sang khalifah sedang mengipasi dirinya. Si budak merasa lancang meski “layanan spesial” itu bukan atas kemauannya. Rasa haru dan malu bercampur saat berhadapan dengan karakter pemimpin yang demikian rendah hati.

“Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa sepertimu. Aku juga merasa panas sebagaimana dirimu,” tutur Umar bin Abdul Aziz menenangkan. “Aku senang mengipasimu sebagaimana engkau senang mengipasi diriku.”

Demikian diceritakan dalam kitab Irsyâdul ‘Ibâd karya Syekh Zainuddin bin Abdul Aziz al-Malibari. Kisah tersebut menggambarkan betapa egaliternya Umar bin Abdul Aziz. Statusnya sebagai pemimpin tak membuatnya merasa lebih berkelas dibanding yang lain.

Sikap yang ditunjukkan pemimpin yang berjuluk Khalifah Kelima itu hanya bisa muncul secara tulus ketika seseorang sadar akan hakikat kedudukan manusia sebagai sama-sama hamba Allah dan tugas sejati pemimpin yang harus melayani rakyatnya. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Fragmen, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 28 Januari 2018

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan

Way Kanan,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kebersihan sebagian dari iman. Meneguhkan pandangan positif sejumlah pihak terhadap Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Way Kanan Lampung. Pemuda Nahdlatul Ulama (NU) daerah itu melakukan kegiatan sosial gotong-royong membersihkan lingkungan.

"Selain safari ramadan akan digelar beberapa kali, kami juga melakukan gotong-royong membersihkan seputaran balai kampung sembari menunggu buka puasa," kata Ketua Ansor Ranting Gisting Jaya Nanang Yudhi Saputro, di Blambangan Umpu, Rabu (15/6).

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Cara Ansor Gisting Jaya Isi Ramadhan

Kegiatan tersebut diikuti kurang lebih 50 kader. Menindaklanjuti arahan Pimpinan Cabang supaya kader Ansor tidak lelah membuktikan eksistensi melalui gerakan bermanfaat dan bisa dirasakan oleh masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sebagai kader, kami selalu siap mengikuti arahan dan kebijakan Pimpinan Cabang untuk terus berbuat dan berbuat bagi organisasi. Jika tidak ada aksi, apa arti kata gerakan yang melekat pada Pemuda Ansor?" imbuh Ketua PAC Ansor Negara Batin Hozin Munir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Aksi bersih-bersih kader Ansor Gisting Jaya menuai tanggapan positif. Foto-foto yang diupload di media sosial Facebook oleh Budi Waluyo, kader Ansor setempat yang berprofesi sebagai perawat mendapat sejumlah like. "Bravo Pemuda Ansor," ujar I Gusti Ayu Marsih mengomentari foto Budi.

Sejumlah pihak di daerah itu mengapresiasi kiprah Ansor. Notaris dan Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) Agus Zulkarnain salah satunya, menilai program-program Gerakan Pemuda Ansor Way Kanan konkrit, langkah demi langkah terlihat manfaatnya untuk masyarakat umum dan sangat positif.

Adapun Duta Generasi Berencana (GenRe) Mahasiswa Nasional 2013 Ponita Dewi, tak ragu menyebut Ansor sebagai? akronim dari Active, Nice, Social action and Relevant.

"Aksi bersih-bersih lingkungan tentunya merupakan gerakan yang memberi manfaat positif bagi masyarakat," pungkas Nanang. (Rudi/Abdullah Alawi)



? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Nahdlatul, Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam menata dunia pendidikan, pemerintah diminta tidak sepihak menetapkan kebijakan baru. Pemerintah  sebaiknya mensosialisasikan gagasannya terlebih dahulu sebelum menjadi kebijakan  kepada para pemangku kepentingan pendidikan seperti pihak sekolah. 

Demikian yang dikatakan Ketua PC IPPNU Kudus Risda Umami kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kamis (2/5) pandangannya terkait refleksi hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh 2 Mei kemarin.

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan

Risda menyoroti dunia pendidikan nasional belakangan  ini yang memprihatinkan. Banyak kebijakan baru yang kurang terkoordinasikan dengan baik bahkan cenderung morat-marit melenceng jauh dari harapan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pelaksanaan Ujian Nasional misalnya, jika memang dirasa cuma menekan psikologis anak dan menjadikan pelajaran lain jadi termarginalkan, saya kira perlu perlu dipertimbangkan peninjauan kebijakannya,” tandasnya.

Menurut aktifis jebola IAIN Walisongo Semarang ini, masyarakat bawah masih merasakan biaya pendidikan (sekolah) yang terlalu mahal. Hal ini, katanya, akibat praktek komersialisasi pendidikan sebagaimana kebijakan Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI). 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“RSBI yang sudah dibubarkan Mahkamah Konstitusi ini, dulunya sangat diskriminatif bagi masyarakat yang tidak mampu. Setelah dibubarkan, semoga saja tidak ada lagi komersialisasi pendidikan dalam bentuk yang lain,” tegas Risda.

Ia juga mendesak pemerintah untuk segera mencairkan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang hingga kini belum turun dari pusat. Pembiayaan operasional madrasah (swasta) sangat bergantung pada dana BOS tersebut.

“Bila belum cair sampai sekarang, roda madrasah bisa terganggu,” tegas Risda yang juga seorang pendidik sebuah madrasah Ibtidaiyah di Kudus.

Pernyataan serupa disampaikan sekretaris PC IPNU Kudus Ali Syafi’i. Menurutnya, wajah pendidikan kian terkungkung oleh kebijakan atau undang-undang seperti terbitnya aturan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak menyebabkan keresahan di kalangan guru pendidik.

“Metode pengendalian kenakalan anak dalam pendidikan mengalami kesulitan karena merasa terbatasi. Guru menjadi tidak tegas, khawatir dianggap berbuat kekerasan,” ujar Ali kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Hadits, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 19 Januari 2018

Hipsi dan Gusdurian Lampung Edukasi Penanganan Sampah Santri Al-Falakhussaadah

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Himpunan Pengusaha Santri Indonesia (Hipsi) Way Kanan Lampung dan Gusdurian berkomitmen mendidik santri pesantren asuhan Kiai Zaenal Maarif yang berada di Kampung Tanjung Serupa, Kecamatan Pakuan Ratu. Menurut Ketua Hipsi Way Kanan Edi Sugianto, peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tidak cukup untuk diperingati.

"Tidak cukup juga tutur setuju bahwa sampah adalah sebuah masalah, tapi diwujudkan dalam bentuk nyata, yaitu bergerak sebagai salah satu bentuk edukasi awal bagi siswa-siswi dan santri untuk sadar terhadap lingkungan, mengingat mereka adalah bagian dari generasi peradaban, generasi terdekat yang akan mewarisi, mendiami dan hidup di bumi ini," kata Edi di Pakuan Ratu, Ahad (21/2).

Hipsi dan Gusdurian Lampung Edukasi Penanganan Sampah Santri Al-Falakhussaadah (Sumber Gambar : Nu Online)
Hipsi dan Gusdurian Lampung Edukasi Penanganan Sampah Santri Al-Falakhussaadah (Sumber Gambar : Nu Online)

Hipsi dan Gusdurian Lampung Edukasi Penanganan Sampah Santri Al-Falakhussaadah

Sebanyak 310 relawan dari Hipsi, santri, pelajar SMP dan SMA Al-Falakhussaadah turun tangan membersihkan daerah sekitar tempat belajar mereka. "Kita harus memastikan bahwa gerakan bersih patut dimulai dari diri sendiri untuk dapat diwariskan ke generasi berikutnya. Jika bukan penduduk bumi lalu siapa lagi?" ujar Wakil Bendahara GP Ansor Way Kanan itu lagi.

Menurut Edi, begitu banyak hal yang telah alam berikan kepada manusia sehingga sudah seharusnya manusia menjaga dan merawat alam itu sendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Manusia lah yang paling bertanggung jawab terhadap alam, karena manusia yang paling banyak mendapatkan manfaat dari alam. Sudah saatnya kita dekat dan bersahabat dengan alam. Mari budayakan hidup bersih, hidup sehat dan hidup tanpa sampah," imbau Edi kepada puluhan santri dan pelajar yang turut meramaikan aksi sosial Way Kanan Ramik Ragom (beragam) Sakai Sambayan (gotong royong) "Bergerak Untuk Indonesia #BebasSampah2020".

Ia berharap, aksi nasional ini menjadi roh bagi kesadaran pribadi masing-masing sebagai manusia, masyarakat, penduduk dan khalifah di bumi.

"Kita mulai dari hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai dari sekarang. Kalau semua sadar diri dan bergerak serta tergerak hatinya, visi Indonesia bebas sampah 2020 dapat tercapai. Sampah bukan masalah, namun malah bisa menjadi berkah kalau kita bisa memperlakukannnya dengan bijak. Itulah yang akan Hipsi lakukan ke depan bersama Gusdurian untuk menindaklanjuti gerakan HPSN 2016 ini, mengedukasi santri, pelajar dan masyarakat bagaimana cara memanfaatkan sampah dengan baik dan benar," ujar Edi Sugianto. (Gatot Arifianto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Syariah, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 16 Januari 2018

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang?

Siapa tak kenal pengarang novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang masyhur itu? Novel itu diterjemahkan ke dalam belasan bahasa asing dan dipuji banyak orang. Belakangan difimkan juga. Pengarangnya tak lain yaitu Ahmad Tohari.

Lalu, bagaimana Ahmad Tohari yang tinggal di pedesaan Banyumas itu bisa menjadi penulis terkenal?

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang?

Ahmada Tohari adalah cucu kesayangan kakeknya yang suka nonton wayang. Jika nonton atau mendengar wayang, di pagi hari ia akan menceritakannya kepada Tohari kecil.

“Kepada saya, ia bercerita dengan penuh kenikmatan. Saya tercekam dan mulai tergambar sebuah cerita, tentang sebuah fiksi, tentang dunia di luar realita, tapi itu sangat menarik,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tohari mengaku, ia tidak merasa dipaksa sang kakek untuk mendengarkan cerita karena ia bercerita dengan menarik. Pada akhirnya ketagihan. “Saya merasa, awal saya masuk ke dunia sastra adalah dongeng itu,” tambahnya.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian pada waktu kelas lima ia mulai membaca komik. SMP mulai membaca novel klasik. Di SMP tersebut sebenarnya tidak lengkap menyediakan buku-buku sastra. Tapi untungnya, dia mengenal seorang guru yang mengoleksi lengkap buku-buku sastra. Kepadanya ia meminjam buku.

Ia kemudian mulai membaca buku-buku klasik seperti Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, Belenggu dan lain lain. “Saya mulai terkagum-kagum kepada orang yang menyusun cerita,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku tidak berani membayangkan akan menjadi penulis karena penulis hebat, baginya seperti berada di langit sana.

Di samping itu, asupan bacaan didapat dari koran Duta Masyarakat. Ayah Tohari yang aktivis NU di tingkat kecamatan tahun 1955 itu berlangganan koran tersebut. “Karena dia pengurus NU, mungkin dianjurkan PBNU untuk langganan Duta Masyarakat,” katanya meski koran itu selalu telambat 7 hari.

Ahmad Tohari akan menyampaikan Pidato Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat malam 28 Maret. Ia akan menyampaikan pokok-pokok pikiran dengan judul “Membela dengan Sastra”. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Ahlussunnah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Januari 2018

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua PCNU Brebes KH Athoillah menyampaikan tentang pentingnya dua amanat yang telah diembankan kepada NU yang artinya berlaku juga untuk seluruh lembaga dan badan otonom NU, yaitu amanat diniyah (keagamaan) dan amanat wathaniyah (kebangsaan).

Demikian disampaikan Kiai Athoillah pada pembukaan Konferensi Cabang (Konfercab) XI IPNU-IPPNU Kabupaten Brebes di SMK/MTs Al-Ikhlas Limbangan, Losari, Brebes, Rabu (12/7).

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

PCNU Brebes Ingatkan Pelajar NU pada Amanah Keagamaan dan Kebangsaan

Dua amanah ini, kata Atho, dijalankan dengan tawasut artinya moderat pada posisi di tengah-tengah dan toleran. Dalam menjaga Islam yang mulia harus pula dengan kemuliaan. “Komitemen NU, yakni satu tekad, satu langkah untuk mempertahankan Islam dan negara,” kata Kiai Atho.

Ia mengingatkan, kebencian yang terlalu memuncak mendorong kelompok wahabi untuk melenyapkan NU antara tahun 2025 hingga 2030.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tantangan ini, lanjutnya, justru menjadikan NU makin kuat apalagi sekarang sudah mendapat dukungan penuh dari tentara, polisi, dan negara. “Pendidikan kader penggerak NU di Kabupaten Brebes juga sudah digelar 6 angkatan, dan pengkaderan lainnya banom NU yang tiada henti menjadi kekuatan tersendiri,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Wakil Bupati Brebes Narjo yang hadir pada pembukaan konferensi ini mengharapkan kelahiran kader yang mumpuni dan memberkahi. Jadikan forum konfercab sebagai ajang silaturahmi dan peningkatan SDM dalam mengawal NKRI.

Era sekarang, kata Narjo, organisasi pemuda tengah dihadapkan pada tantangan perubahan sosial. Untuk itu perlu peningkatan kapasitas dan kualitas yang memadai sehingga tidak tertinggal dan ditinggal oleh anggotanya.

Narjo juga meminta IPNU-IPPNU untuk berpartisipasi dalam pembangunan daerah. Terutama dalam penanganan dekadensi moral, merebaknya pornografi, narkoba, dan tindak negatif lainnya. “Pemkab memandang IPNU-IPPNU menjadi organisasi yang berakhlakul karimah sehingga mampu membentengi berbagai kegiatan negatif,” tandasnya.

Ketua Panitia Konferensi Abdul Azis menjelaskan, konferensi ini diikuti 750 peserta utusan dari 297 desa/kelurahan di 17 PAC se-Kabupaten Brebes. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pesantren, Berita, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 31 Desember 2017

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pada Ramadhan 1437 H ini PCNU Kabupaten Pringsewu berhasil menggelar Safari Ramadhan di 22 lokasi di 9 Kecamatan yang ada di Bumi Secancanan Bersenyum Manis ini. Hal tersebut disampaikan Ketua Tanfidziyyah PCNU Pringsewu H. Taufiqurrahim dalam Acara Penutupan Rangkaian Safari Ramadhan yang dipusatkan di Gedung NU Pringsewu, Ahad (4/7).

Taufiq menjelaskan bahwa Safari Ramadhan pada tahun ini difokuskan untuk penguatan organisasi dan amaliyyah Ahlussunnah wal Jamaah bagi para pengurus NU di tingkatan MWC Kecamatan dan Ranting Pekon . "Kegiatan ini terdiri dari dua Gelombang. Gelombang pertama untuk jajaran pengurus Tanfidziyyah dan Gelombang kedua untuk Syuriyah," katanya.

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan (Sumber Gambar : Nu Online)
22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan (Sumber Gambar : Nu Online)

22 Titik Kegiatan Safari Ramadhan PCNU Pringsewu Sukses Dilaksanakan

Khusus pada gelombang Kedua yang dilaksanakan mulai pertengahan Ramadhan, Materi safari Ramadhan diisi juga dengan Sosialisasi Lembaga Amil Zakat Infaq Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Kabupaten Pringsewu. "Dalam sosialisasi tersebut juga dilakukan tanya jawab seputar Fiqh Zakat yang dipandu oleh Lembaga Bahtsul Masail PWNU Lampung," ujarnya.

Selain Safari di 9 MWC NU Kecamatan, PCNU juga mengadakan Jihad Sore atau Ngaji Ahad Sore yang merupakan rangkaian dari Safari Ramadhan di Gedung NU sebanyak 4 kali. "Jihad sore ini merupakan Kegiatan Rutin yang biasanya dilakukan pada pagi hari. Khusus pada Ramadhan kita laksanakan pada sore hari yang dilanjutkan dengan Buka Puasa Bersama dan Shalat Maghrib Berjamaah," tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Taufiq berharap Kegiatan ini akan meningkatkan pemahaman dan kesemangatan para pengurus dilevel MWC dan Ranting untuk terus berkhidmah di Jamiyyah Nahdlatul Ulama. " Kita juga berharap Kegiatan Safari Ramadhan pada tahun mendatang akan lebih berkualitas sehingga berpengaruh signifikan terhadap perkembangan organisasi," harapnya.

Hadir pada acara penutupan tersebut Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali Segenap Pengurus PCNU, MWC NU, Badan Otonom dan Lembaga se Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 20 Desember 2017

KH Mahfudh Sumolangu, Pejuang Komandan Angkatan Oemat Islam

Salah satu kiai yang berjasa besar pada masa revolusi kemerdekaan, adalah Kiai Mahfudh Abdurrohman Sumolangu. Kiai ini, berada di barisan kiai militer, yang menggerakkan laskar-laskar santri di negeri ini. Kiai Mahfudh, menggerakkan pasukan Hizbullah-Sabilillah, di kawasan Kedu? Selatan. Kemudian, pasukan ini disebut sebagai Angkatan Oemat Islam.

Siapakah sebenarnya Kiai Mahfudh Abdurrahman? Mengapa ia dianggap pemberontak dalam narasi sejarah militer negeri ini?

KH Mahfudh Sumolangu, Pejuang Komandan Angkatan Oemat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Mahfudh Sumolangu, Pejuang Komandan Angkatan Oemat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Mahfudh Sumolangu, Pejuang Komandan Angkatan Oemat Islam

Kiai Mahfudh al-Hasani merupakan putra dari Syekh as-Sayid Abdurrahman bin Ibrahim al-Hasani. Ia merupakan keturunan dari Syeikh as-Sayid Abdul Kahfi al-Hasani, yang merupakan keturunan ke-10 dari Sayyid Abdul Qodir al-Jilani al-Hasani. Jika dirunut silsilahnya, yakni sebagai berikut:? Kiai Mahfudh bin Abdurrahman bin Ibrahim (Syekh Abdul Kahfi ats-Tsani) bin Muhammad bin Zainal Abidin bin Yusuf bin Abdul Hannan bin Zakariya bin Abdul Mannan bin Hasan bin Yusuf bin Jawahir bin Muhtarom bin Syekh Sayyid Muhammad Ishom a-Hasani (Syekh Abdul Kahfi Awwal).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Mahfudh lahir di kompleks pesantren al-Kahfi pada 27 Rajab 1319/9 November 1901. Ia memiliki tiga saudara, yakni Syekh Sayyid Thoifur al-Hasani dan Syarifah Ghonimah al-Hasani serta 6 saudara seayah lain ibu.

Pada usai 7 tahun, Kiai Mahfudh sudah hafal al-Qur’an. Ia juga menghafal hadist Arbain Nawawi. Ketika usai 16 tahun, Mahfudh remaja mendapat izin ayahandanya untuk mondok di pesantren Tremas Pacitan, yang diasuh Kiai Dimyati. Ketika ngaji di Tremas, Kiai Mahfudh menyusun dua kitab: al-Fawaidus Sharfiyyah (kitab sharaf) dan al-Burhanul Qathi’ (fiqh madzhab Syafi’i), yang diselesaikan pada Ramadhan 1336 H (Juni 1918). Setelah ngaji di Tremas, Kiai Mahfudh kemudian meneruskan belajarnya di pesantren Jamsaren Solo, serta pesantren Darussalam

Watucongol, Muntilan, Magelang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

?

Ayahanda Kiai Mahfudh, yakni Syekh Abdurrahman bin Ibrahim merupakan kiai ‘alim yang menguasai banyak ilmu. Beliau berhaluan Ahlussunnah wal-Jama’ah, mengikuti fiqh madzhab Malikiyyah, dan penganut Tariqah as-Syadziliyyah. Akan tetapi, Syekh Abdurrahman menyarankan putranya untuk menganut fiqh madzhab Syafi’i. Karena, madzhab Syafi’i banyak dianut oleh warga muslim Indonesia, dan cocok dengan kultur orang Indonesia.

Menggerakkan Santri

Kiai Mahfudh termasuk sosok ulama yang inovatif dan menginspirasi parasantri. Selain keilmuan agama dan tasawuf yang mendalam, Kiai Mahfudh juga menggerakkan santri di bidang pertanian dan perekonomian. Hal ini, dimaksudkan agar para santri dapat mandiri di hadapan rezim kolonial? pada masa itu. Pada tahun 1940an, Kiai Mahfudh menggerakkan bermacam usaha, di antaranya pengolahan kopra, industri minyak goreng, pemintalan benang, produksi madu, pabrik rokok, perdagangan kayu jati, dan pemilik penggilingan padi. Pada waktu itu, usaha-usaha yang dirintis Kiai? Mahfudh menjadikan santri-santri dan penduduk di kawasan Kebumen memperoleh manfaat positif.

Ketika menjelang kemerdekaan, Kiai Mahfudh juga bergerak untuk melawan kolonial. Beliau sering bertukar pikiran dengan Syekh Hasyim Asy’arie melalui surat menyurat. Kiai Mahfudh juga akrab dengan Kiai Wahid Hasyim, putra Syekh Hasyim Asy’arie. Dengan demikian, Kiai Mahfudh merupakan salah satu tokoh kunci yang menggerakkan santri dalam menjemput kemerdekaan. Nasionalisme Kiai Mahfudh menjadi catatan penting bagi pergerakan kaum santri, terutama di kawasan Kedu Selatan, dalam melawan penjajah, baik sebelum proklamasi kemerdekaan, maupun? sesudahnya.

Kiai Mahfudh juga aktif berjuang di medan pertempuran dan memiliki strategi jitu dalam mengorganisasi pasukan. Ia membentuk laskar santri, dalam barisan Angkatan Oemat Islam. AOI terbentuk pada 27 Ramadhan 1346 H/ 4 September 1945. Pada waktu itu, tentara nasional sebagai pasukan militer Negara Indonesia belum sepenuhnya solid. Masa awal kemerdekaan, masih dalam transisi kepemimpinan, ekonomi dan konsolidasi pasukan militer. Pasukan-pasukan militer yang terdiri dari berbagai latar belakang ideologi, golongan dan etnis, masih tercerai berai. Pasukan? yang dikomando Panglima Soedirman juga masih menata barisan. Hal ini, sebagaimana tercatat dalam thesis Atik Maskanatun Ni’amah (2013), “Biografi Syaikh Mahfudh al-Hasani Somalangu Kebumen (1901-1950)”.

Pemimpin Militer

Menurut Gus Dur, Angkatan Oemat Islam (AOI) muncul akibat kebijakan pimpinan militer (APRIS) pasca pengakuan kedaulatan 27 Desember 1949. Kebijakan ini menghendaki peleburan laskar-laskar perlawanan ke dalam APRIS setelah usainya perang kemerdekaan. Namun, peleburan itu dengan? misi bahwa hanya orang-orang yang mendapat pendidikan ‘Sekolah Umum Belanda’ saja yang menduduki jabatan komandan Batalyon. Pada konteks ini, Syekh Mahfudh Abdurrahman berminat menjadi komandan batalyon ini, yang akan dibentuk dan bermarkas di Purworejo. Akan tetapi, karena alasan ijazah dan kebijakan pemerintah yang tidak memberikan ruang negosiasi, maka karier Kiai Mahfudh terhalang. Akhirnya, yang menjadi Komandan Batalyon adalah pemuda bernama Ahmad Yani.

Akar sejatinya adalah kebijakan Re-Ra (restrukturisasi dan rasionalisasi) yang digelorakan Kabinet Hatta pada 1948. Kebijakan ini, atas usulan Wakil Panglima Besar AH Nasution. Melalui program Rera, personil Tentara Nasional Indonesia (TNI) akan dipangkas menjadi separuh? dari seluruh personil, dengan kualifikasi khusus yakni mereka yang memiliki ijazah. Mereka yang mendapat pendidikan militer di zaman Belanda dan Jepang mendapat prioritas, karena memiliki persyaratan administratif. Akan tetapi, kalangan santri tidak mendapatkan tempat dan

disingkirkan dari jalur karier militer. Padahal, laskar-laskar santri berperan penting dalam perang kemerdekaan.

Syekh Mahfudh Abdurrahman risau dengan hal ini. Ia mengomando lebih dari 10.000 pasukan dan sekitar 30.000 massa tambahan yang menguatkan barisan laskar. Kiai Mahfudh ingin agar pasukannya dapat diakomodir oleh kebijakan negara, mengingat jasa penting dan kegigihan melawan penjajah pada masa kemerdekaan. Pasukan Angkatan Oemat Islam (AOI) merasa tidak? diperhatikan oleh pemerintah. Mereka memang sebagian besar dari kalangan santri dan petani, yang tidak memiliki akses pendidikan formal. Padahal, ketika pasukan NICA menyerbu berbagai kawasan di Jawa Tengah, pasukan AOI dengan gigih melawan penjajah. Sebagai Ketua PPRK (Panitia

Pertahanan Rakyat Kebumen) yang berkedudukan di bawah Bupati Kebumen, Kiai Mahfudh mengerakkan pasukannya di garda depan menghadapi NICA. Pasukan AOI menjaga garis demarkasi Sungai Kemit, Gombong Timur (Kuntowijoyo, 1970).

Ketika menjaga demarkasi barat Yogyakarta—ketika menjadi Ibu Kota RI—Kiai Mahfudh sempat was-was karena demarkasi timur, di kawasan Madiun terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh Front Demokrasi Rakyat (FDR) pimpinan Amir Syarifuddin. Tentu saja, peristiwa Madiun pada 1948? menguras energi laskar, tentara dan rakyat. Kiai Mahfudh merasa bahwa NICA akan memanfaatkan situasi ini dengan menjebol demarkasi Sungai Kemit dan menyerbu Yogyakarta, agar RI jatuh ke tangan Belanda. Pada 18 Desember 1948, tentara NICA menggelar kampanye militer Doortot? naar Djokdja. Kampanye militer ini berhasil menawan Soekarno-Hatta, sebagai pemimpin Republik Indonesia. Operasi militer NICA ini, membuat pasukan TNI dan laskar-laskar tercerai berai. Kemudian, setelah peristiwa ini, terjadi penandatanganan kesepakatan di Istana Rijswik, pada 27 Desember 1949. Kesepakatan ini, merupakan lanjutan dari Konferensi Meja Bundar, dengan rumusan pendirian Republik Indonesia Serikat (RIS) yang didukung APRIS (Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat) sebagai tentara nasional. Tentu saja, kesepakatan ini membawa masalah tersendiri bagi pasukan-pasukan militer yang telah terkoordinasi pada era sebelumnya.

Pasukan AOI mendapat tawaran dari APRIS untuk bergabung. Kiai Mahfudh menolak bergabung, karena melihat bahwa kebijakan Rera merugikan laskar-laskar dan terutama AOI. Setidaknya, ada empat ancaman pasca kebijakan Rera: (1) ancaman eksistensi organisasi, (2) ancaman kehilangan posisi sosial ekonomi, (3) ancaman kehilangan posisi politis (4) ancaman kehilangan posisi budaya. Kiai Mahfudh sebenarnya sudah tidak memikirkan tentang karier militer atau posisinya sebagai komandan laskar. Akan tetapi, nasib puluhan ribu pasukan dan simpatisan laskar Hizbullah-Sabilillah, dan Pasukan AOI di kawasan Kedu Selatan menjadi keprihatinan Kiai Mahfudh. AOI pada masa itu, memiliki pengaruh besar di Wonosobo, Banjarnegara, Cilacap, Kebumen dan Purworejo. Bahkan, kharisma Kiai Mahfudh melebihi otoritas pejabat Bupati Kebumen pada masa itu, RM

Istikno Sosrobusono (Widiyanta, 1999).

Meski pasukan AOI sudah bergabung dengan Batalyon Lemah Lanang, akan tetapi masalah tidak berhenti. Para pasukan AOI yang memiliki prinsip keagamaan kuat, berbeda tradisi dengan pasukan didikan Militarie Academie Hindia Belanda, yang menjadi pasukan APRIS. Akibatnya, terjadi perkelahian antar pasukan, hingga satu pasukan AOI meninggal. Kolonel Sarbini di Magelang, menganggap peristiwa ini sebagai percikan pemberontakan.

Menurut keterangan Kiai Afifuddin (kerabat Kiai Mahfudh), hingga menjelang 1 Agustus 1950, Kiai Mahfudh sama sekali tidak menyiapkan konsep-konsep untuk mendirikan negara tersendiri, sebagaimana yang dilakukan oleh Sekarmadji Maridjan Kartosuwiryo di Jawa Barat. Kiai Mahfudh hanya ingin memperluas kawasan kepoetihan, semacam kawasan kaum muslim untuk memperluas interaksi komunitas. Akan tetapi, pembicaraan tentang ide Kiai Mahfudh ini juga tidak ada tindak lanjutnya. Pertemuan para pimpinan Batalyon 423 dan 426 (berasal dari laskar Hizbullah-Sabilillah), hanya ditujukan sebagai pertemuan untuk membahas kebijakan Rera dari pemerintah. Maka, dapat dibayangkan, betapa Kiai Mahfudh sangat kaget ketika pesantren Sumolangu diserbu oleh pasukan

TNI, pada pagi hari 1 Agustus 1950. Bangunan pesantren dan rumah-rumah penduduk di kawasan Sumolangu, Candiwulan dan Candimulyo serta kawasan sekitarnya menjadi rusak. Masjid kuno yang berusia lebih 400 tahun juga mengalami kerusakan parah. Arsip-arsip dibakar. Sekitar 1000 orang tewas pada hari itu.

Kejadian ini, membawa luka mendalam bagi pengikut-pengikut Kiai Mahfudh yang berhasil meloloskan diri. Mereka kemudian membangkitkan perlawanan dengan pasukan Batalyon Lemah Lanang, yang kemudian bergabung dengan sisa-sisa Batalyon 426 dan 423 MMC (Merabu Merapi Complex) di kawasan Gunung Slamet. Inilah yang kemudian menjadi stigma Kiai Mahfudh dan? pengikutnya semakin memburuk di hadapan pemerintah. Buku-buku sejarah yang ditulis setelah peristiwa ini, dalam sudut pandang militer, memandang Kiai Mahfudh dan pasukannya sebagai pemberontak. Padahal, yang sebenarnya terjadi, adalah intrik politik dan kepentingan para elite? militer dalam misi Rera, yang ingin menyingkirkan kaum santri dalam peta militer negeri ini.

Kiprah Angkatan Oemat Islam (AOI) sebagai laskar pejuang untuk menegakkan NKRI di kawasan Kedu Selatan perlu ditulis ulang dengan sudut pandang sejarah yang sebenarnya. AOI selama ini dianggap sebagai pemberontak dan memiliki jaringan dengan orang-orang komunis. Tentu saja, hal ini merupakan pandangan yang salah, mengingat kiprah AOI di bawah komando Kiai Mahfudh Abdurrahman sangat gigih membela NKRI. (Munawir Aziz)

Referensi:

AN Ni’amah, Biografi Syaikh Mahfudh Al-Hasani Somalangu Kebumen (1901 M-1950 M) [1], Thesis Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2013.

A Zuhriyah, Angkatan Oemat Islam (Aoi): Studi Historis Gerakan Radikal Di Kebumen 1945-1950 [2], Thesis Pascasarjana UIN Sunan Ampel Surabaya, 2013.

D Widiyanta, Angkatan Oemat Islam 1945-1950: studi tentang Gerakan Sosial di Kebumen, Jakarta: FIB-Universitas Indonesia, 1999.

Kuntowijoyo, Angkatan Oemat Islam 1945-1950: Beberapa Tjatatan Tentang Pergerakan Sosial, Yogyakarta: UGM, 1970.

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, Periset Islam Nusantara :::: Twitter: @Moenawiraziz. Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 19 Desember 2017

Haul Pertama Penulis Kamus Al-Munawwir, KH A Warsun Munawwir

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Warga dan santri Krapyak berduyun-duyun menghadiri peringatan haul pertama kiai disegani KH Ahmad Warsun Munawwir di kompleks Q pesantren Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, Selasa (8/4) malam.

Haul Pertama Penulis Kamus Al-Munawwir, KH A Warsun Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Pertama Penulis Kamus Al-Munawwir, KH A Warsun Munawwir (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Pertama Penulis Kamus Al-Munawwir, KH A Warsun Munawwir

Dalam peringatan haul kiai penyusun kamus terkenal “Al-Munawwir” ini, hadirin membaca surah Yasin dan tahlil yang dipandu KH M Najib Abdul Qodir.

Keponakan Kiai Warsun, Muhtarom Busyro mewakili keluarga menyatakan rasa terima kasihnya atas kehadiran warga dan santri-santri dalam forum itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Semoga para hadirin berkenan mendoakan ahli waris KH Ahmad Warsun Munawwir untuk tetap tabah dan sabar dalam menjaga pesantren ini sebagai warisan almaghfurlah," ujar Muhtarom.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tampak dalam haul ini Mustasyar PWNU DIY KH Attabik Ali dan KH Munawwir AF, Rais Syuriyah PWNU DIY KH Asyari Abta, Wakil Katib PWNU DIY H Suhadi Khozin, dan pengasuh-pengasuh kompleks pesantren Al-Munawwir. (Nur Rokhim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Syariah, Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 17 Desember 2017

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bakti sosial (baksos) bekam, sunatan massal hingga pengajian akbar diigelar 14 Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) di Kabupaten Way Kanan, Provinsi Lampung. Kegiatan tersebut dalam rangka memperingati 90 tahun hari lahir NU. Kegiatan dimulai 30 Januari hingga 9 Februari 2016.

"Walau sederhana, kami mengajak MWCNU untuk memperingati harlah NU, di tingkatan ranting, Sabtu 30 Januari malam kami meminta pengurus untuk menggelar tahlil dan yasinan bagi pendiri NU," ujar Ketua PCNU Way Kanan KH Nur Huda di Blambangan Umpu, Kamis (28/1).

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)
Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan (Sumber Gambar : Nu Online)

Baksos dan Pengajian Ramaikan 90 Tahun NU di Way Kanan

Selain menggelar beberapa kali musyawarah di Gedung PCNU yang berada di Kampung Tiuh Balak I, Kecamatan Baradatu, sejumlah MWC NU juga melakukan musyawarah sendiri bersama badan otonom seperti GP Ansor, Fatayat dan Muslimat NU di tingkatan anak cabang, salah satunya MWC Pakuan Ratu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sabtu 30 Januari MWC Pakuan Ratu menggelar bakti sosial bekam gratis bagi 90 orang dan khitanan massal gratis bagi puluhan anak. Dan pada Minggu 31 Januari kami menggelar istighosah dan pengajian akbar," kata Ketua PAC GP Ansor Pakuan Ratu Bakti Gozali.

MWCNU Kasui dan Blambangan Umpu juga menggelar pengajian akbar pada 31 Januari. Adapun MWCNU Bumi Agung menggelar pengajian pada Sabtu 30 Januari.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Untuk kegiatan itu, Ketua MWC NUBumi Agung Kiai Syamsudin pada Rabu (27/1) mengantar surat kepada Kepala Kemenag, Pj Bupati, Dandim dan Kapolres Way Kanan didampingi KH Nur Huda didampingi sejumlah pengurus.

Di tingkatan cabang, peringatan harlah NU dimulai mulai 7 hingga 9 Februari 2016. Menurut Ketua Lakpesdam Way Kanan Supri Iswan, kegiatan cukup beragam, antara lain lomba membaca Barzanji, bakti sosial, lomba menulis opini, baca puisi, bazar dan ditutup dengan pengajian akbar. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Ahlussunnah, RMI NU Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Desember 2017

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren al-Urwatul Wutsqo, Desa Bulurejo, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang mendorong para santrinya untuk berthariqah dengan rutin. Selain kepada santri, pesantren ini juga mengajak wali santri dan warga sekitar. Hal ini dilakukan setiap bulan sekali di halaman pesantren setempat.

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Urwatul Wutsqo Dorong Santri Berthariqah

Nama aliran thariqah tersebut adalah Syadziliyah al-Mas’udiyah yang dipelopori oleh Abul Hasan Asy Syadzili pada zamannya. Salah satu ajaran yang diterapkan dalam thariqah ini, para jamaah diimbau membaca fida’ sebagai usaha meminta ampunan kepada Allah SWT atas dosa yang telah diberbuat.

Seperti halnya yang dilakukan KH Muhammad Qoyim Ya’qub, Pengasuh Pondok Pesantren al-Urwatul Wutsqo yang sekalius sebagai Mursyid Thariqah ini dalam menerapkan fida’. Para jamaah diperintahkan untuk membaca surat Al Ikhlas sebanyak 100.000 di masa hidupnya. 

“Amalan fida’ ada beberapa versi tergantung mursyidnya dari masing-masing thariqah. Tetapi kalau di sini amalan fida’-nya membaca surat Al-Ikhlas sebanyak 100.000 kali selama orang itu hidup,” kata Gus Qoyim, panggilan akrabnya saat memberikan arahan kepada para jamaah, Sabtu (17/1) lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Berbeda dari bulan-bulan sebelumnya, pada momentum bulan maulid Nabi Muhammad SAW ini sekaligus dijadikan media bertambahnya kecintaan para jamaah dengan membaca shalawat kepadanya. Mereka tampak antusias dan khusyuk dengan diiringi alat musik al-banjari.

Selain mempelajari ilmu thariqah, pada keesokan harinya, Ahad (18/1/2016) di tempat yang sama, pondok pesantren ini juga mengajak para jamaahnya untuk mendalami ilmu-ilmu syari’at sebagai pemantapan dan penerapan langsung dari ibadah-ibadah syar’i.  “Sebab sebaik-baiknya ilmu adalah ilmu yang digurukan kepada guru atau ulama,” ujar Sya’roni Hasan, salah satu pengurus pondok pesantren tersebut. (Syamsul Arifin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Anti Hoax, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 Desember 2017

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok

Lombok Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Istilah Tuan Guru memang akrab dengan Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tuan Guru merupakan sebutan, panggilan, sekaligus gelar dari masyarakat untuk ulama di daerah ini. Posisi Tuan Guru setara dengan Kiai di Tanah Jawa.

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Tuan Guru, Sebutan Ulama Khas Lombok

Demikian penuturan Pengasuh Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan TGH Ahmad Taqiuddin Mansur kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah menjelang perhelatan Pra-Muktamar NU di kediamannya di komplek pesantren Bonder-Praya Barat-Lombok Tengah, NTB, Rabu (8/4) sore.

“Kalau kiai di sini itu banyak. Yang mandiin mayit, disebut kiai. Yang mimpin tahlil, dzikir, juga kiai. Banyak. Jadi, kiai di sini biasa aja. Nah, kalau tuan guru sangat langka. Bisa hanya satu perseribu orang. Seperti kiai di Jawa,” ujar TGH Taqiuddin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun, lanjutnya, sekarang ini penduduk Lombok telah menerima istilah kiai sebagai seorang ulama. Mereka juga mampu menempatkan kiai pada proporsinya. “Yang jelas, masyarakat sini menyebut kiai seperti di Jawa itu sebagai Tuan Guru. Jadi, tidak semua orang bisa menjadi tuan guru,” tandas Ketua PWNU NTB ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut TGH Taqiuddin, sebutan Tuan Guru juga berlaku bagi seseorang yang telah menunaikan ibadah haji ke Mekah. “Kalau belum haji, ya, ustadz atau guru biasa lah. Namun, tidak juga yang punya pesantren. Memang umumnya tuan guru itu memiliki pesantren. Satu hal yang kami kagumi dari seorang tuan guru adalah ketokohannya,” ungkap suami Nyai Hj Hattiyatul Malichah ini. ? ?

Dipanggil tuan guru, tambahnya, selain karena memiliki trah atau keturunan tuan guru pendiri pesantren, juga memiliki keilmuan yang mumpuni. Meski demikian, ia menyatakan berat sekali menyangga gelar tuan guru.

“Namun, rasanya lebih karena kesolehannya ya, bukan karena ilmunya saja. Tapi sikap wara’-nya itu. Nah, masyarakat lah yang akhirnya memberi gelar seperti itu. Cuman memang berat ya disebut tuan guru. Karena tuan guru kan nggak bisa bebas main bola,” selorohnya sembari tertawa.

Disinggung soal keterpilihan pesantren asuhannya sebagai tempat penyelenggaraan pra-muktamar, TGH Taqiuddin menjawab biasa saja, tidak ada sesuatu yang berlebihan apalagi istimewa. Yakni, karena posisinya sebagai Ketua PWNU NTB yang memiliki pesantren.

“Sederhana saja. Mungkin karena saya Ketua NU NTB yang punya pondok kali ya. Dan, pondok-pondok yang kami rekayasa untuk siap ketempatan ternyata susah juga. Tidak seperti di Jawa. Namun yang pasti, saya tidak ingin nilai-nilai pondok seperti di Jawa di sini jangan sampai hilang,” tegasnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Anti Hoax, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pelaksanaan ibadah haji lebih dari sekali baik, sudah jelas mubah menurut agama. Namun pelaksanaan haji lebih dari sekali di tengah keterbatasan kuota haji, jelas memasukkan pelakunya ke dalam daftar mereka yang berperilaku tercela. Pasalnya, pelaksanaan haji lebih dari sekali jelas mengurangi kuota calon haji wajib.

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral (Sumber Gambar : Nu Online)
Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral (Sumber Gambar : Nu Online)

Saat Antrean Panjang, Haji Lebih Dari Sekali Cacat Moral

Isu ini mengemuka dalam forum bahtsul masail pra muktamar NU yang diadakan PBNU di pesantren Krapyak, Yogyakarta, Sabtu-Ahad (28-29/3).

Beberapa kiai mendasarkan perilaku tercela ini pada ghosob yang secara otomatis hukumnya haram. Menurut mereka, orang yang melaksanakan ibadah haji lebih dari sekali merampas secara nyata hak kuota orang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Salah satu peserta forum ini KH Muzammil menerangkan bahwa ibadah haji kedua atau ketiga hukumnya sunah. Ini sudah maklum. Tetapi hukum haji tidak wajib (kedua atau ketiga kali) yang menghalangi orang lain menunaikan haji wajib ialah haram baik dilarang pemerintah atau tidak. Karena dasarnya, merugikan orang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Alasan kedua, secara moral orang yang berhaji dua kali mencederai muru’ahnya (harga diri) karena menghamburkan harta (isrof). Menurut Imam Ghozali, termasuk orang yang terpedaya ialah infaq untuk keperluan haji beberapa kali sementara ia meninggalkan tetangga dalam keadaan lapar,” kata Ketua LBM PWNU Yogyakarta mengutip nukilan dari Ihya Ulumiddin di hadapan sedikitnya 40 kiai NU.

Kiai Muzammil juga mengutip qaul Ibnu Masud RA, “Di akhir zaman banyak orang haji tanpa sebab”. Karena itu, Dirjen Haji Kemenag RI perlu membuat aturan penundaan keberangkatan untuk mereka yang pernah melaksanakan haji.

Sedangkan mereka yang pernah ibadah haji perlu menyadari untuk menunda pendaftaran demi memberi kesempatan ibadah haji bagi saudara lain yang belum menunaikannya. Alangkah baiknya ia mengalokasikan dananya untuk kesejahteraan tetangga di sekitarnya. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta, Pertandingan, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sifat kebudayaan yang pragmatis atau lebih dikenal dengan kebudayaan populer, kini menjadi tantangan bagi Lembaga Seni dan Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) untuk menghasilkan kebudayaan dan kesenian yang manusiawi dan berkualitas.

“Ini membutuhkan pemikiran besar dan visioner bahwa ke depan kita harus menguasai dan kita berjuang kembali dari nol. Sebenarnya orang yang segaris dengan Lesbumi masih banyak, cuma masih berserakan, ” tutur Pemimpin Redaksi Pondok Pesantren AttauhidiyyahMun’im DZ saat memberikan kilas balik Lesbumi dalam rapat koordinasi Pimpinan Pusat Lesbumi di Jakarta, Sabtu.

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Hadapi Tantangan Pragmatisme Kebudayaan

Dikatakan Peneliti Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi Sosial (LP3ES) itu, Lesbumi sendiri dilahirkan pada tahun 1962 sebagai respon terhadap kondisi politik saat itu. Lesbumi menentang Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) dengan konsep Manifesto Kebudayaan-nya atau dikenal dengan istilah Manikebu. Selain PKI sendiri, Lesbumi menentang keras imperialisme Barat.

Sejak awal berdirinya, Lesbumi tidak hanya hidup untuk berkesenian seperti prinsip yang dimiliki oleh Manikebu dengan prinsip art for art atau berkesenian untuk kesenian sementara Lesbumi prinsipnya art for humanity atau seni untuk kemanusiaan. “Apakah ini masih bisa kita pegangi terus atau kita ikut manikebu yang indah-indah, yang bagus-bagus, tanpa ada misi-misi kebudayaan dan moral tertentu,” paparnya.

Namun Mun’im percaya bahwa sebuah arus akan mengalami titik jenuh, hal yang sama juga akan dialami oleh kesenian pop. Karena itu Lesbumi diharapkan bisa menampilkan karya-karya lama berkualitas yang dimasa mendatang bisa menjadi spirit dan mainstream baru.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Dijelaskannya bahwa sebenarnya keberadaan Lesbumi waktu itu tidak hanya berfungsi sebagai badan otonom atau lembaga NU, tetapi sebagai think thank di bidang politik kebudayaan. Karena itu, keberadaan dewan kebudayaan saat ini sangat penting untuk menjalankan fungsi tersebut.

Pada masa Trikora untuk memperebutkan Irian Barat Lesbumi mendukung dalam berbagai kegiatan kesenian. “Disini, dewan kebudayaan bisa mengendalikan arah politik dan menjalankan misi politik untuk kebebasan,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU juga mendukung revoluasi yang belum selesai yang dicetuskan oleh Soekarno. Dukungan ini terkait dengan pembelaan NU terhadap Pancasila yang menurut Soekarno merupakan produk filsafat yang sangat tinggi, lebih tinggi daripada Declaration of Human Right dan Manifesto Komunis.

Mun’im menjelaskan kekuatan imperialis Barat bekerjasama dengan Orde Baru telah mematikan budaya dan kesenian yang berbasis pada kerakyatan dan kebangsaan. Ini untuk menjaga kepentingan politik imperialis, dan hal ini menguntungkan Orde Baru karena dengan hilangnya nuansa kerakyatan dan kebangsaan pada seni dan budaya maka akan muncul seni dan budaya baru yang menjadi ciri khas Orde Baru.

Pada waktu itu, Lesbumi paling menguasai teknologi perfilman dan mampu menghasilkan film-film berkualitas ketika Lekra yang dianggap paling maju belum bisa membuatnya. Film seperti Darah dan Doa dan Film Pagar Kawat Berduri mencerminkan visi yang dimiliki Lesbumi.

Di sisi lain, Lesbumi juga tidak meninggalkan kesenian tradisional di masyarakat tingkat bawah mengingat NU sangat menghargai keragaman seni. “Ada yang selera seninya tinggi, menengah, atau rendah, sehingga semua harus dikelola, kalau seleranya baru kuda lumping atau reog ya harus ditanggapi,” (mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 25 Oktober 2017

Tradisi Menulis Kalangan Pesantren Perlu Ditingkatkan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ilmu dan pemikiran yang dimiliki oleh para kiai dan ulama pesantren seharusnya lebih banyak didokumentasikan dalam bentuk tulisan yang bisa dilacak lintas generasi.

“Para kiai adalah orang yang murah hati untuk membagikan ilmunya, tetapi waktunya kan terbatas dan tak semua orang memiliki waktu. Karena itu penulisan pemikiran menjadi sangat penting,” tandas Mohammad Sobary dalam acara launching Majalah Mata Air di Jakarta, Kamis malam.

Menurutnya jika tradisi menulis ini memiliki akar yang kuat, maka jejak pemikiran para ulama dan kiai NU akan terlacak sampai masa yang panjang. “Jika ini bisa dilakukan, maka akan banyak menteri-menteri yang datang dari NU,” imbuhnya.

Tradisi Menulis Kalangan Pesantren Perlu Ditingkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Menulis Kalangan Pesantren Perlu Ditingkatkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Menulis Kalangan Pesantren Perlu Ditingkatkan

Dikatakannya bahwa kiai NU lebih banyak menjalani kesalehan pribadi dengan menjalankan ritual-ritual keagamaan, namun ini akhirnya menjadi kemewahan pribadi dan menjadi kemubadziran sosial.

Sementara itu Pengasuh Ponpes Raudhatut Thalibien KH Mustofa Bisri tidak sepakat dengan pendapat Kang Sobary kalau para kiai tidak memiliki tradisi menuliskan pemikirannya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mustasyar PBNU ini mencontohkan KH Bisri, kakeknya, meskipun setiap hari mengajar 39 kitab, setiap malam masih sempat menulis. Demikian juga para sesepuh NU seperti KH Hasyim Asy’ari juga suka menulis diwan atau puisi sampai dengan KH Ali Ma’sum, mantan rais aam PBNU. “KH Hamid Pasuruan itu juga sastrawan, tapi tertutup oleh kewaliannya,” paparnya.

Menurutnya permasalahan turunnya tradisi penulisan dikalangan NU terjadi ketika muncul teknologi speaker yang menyebabkan aktifitas para kiai lebih banyak tersita untuk berdakwah secara oral.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Namun demikian, tradisi penulisan belakangan ini mulai berkembang lagi. Diberbagai pesantren saat ini banyak anak-anak muda yang sudah mampu menulis dengan bagus. Ia juga mencontohkan Pesantren Lirboyo saat ini telah memiliki penerbitan majalah yang dikelola secara bagus dan terbit secara rutin dengan nama Miskat. “Jangan sampai yang di Jakarta kalah sama santri di daerah,” tandasnya memberi semangat. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 24 Oktober 2017

Kemendes Ubah Paradigma Pembangunan Perbatasan Menjadi Investasi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) menjalankan berbagai program untuk merubah paradigma pembangunan perbatasan negara, dari semula lebih pada pendekatan keamanan menjadi pusat pertumbuhan dan investasi.

Kemendes Ubah Paradigma Pembangunan Perbatasan Menjadi Investasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes Ubah Paradigma Pembangunan Perbatasan Menjadi Investasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes Ubah Paradigma Pembangunan Perbatasan Menjadi Investasi

"Isu paling dominan di perbatasan saat ini adalah investasi, kita susun buku potensi investasi perbatasan. Perbatasan selama ini diabaikan dalam konteks koridor ekonomi. Inilah target kami, bagaimana merubah paradigma ini menjadi investasi," ujar Dirjen Pengembangan Daerah Tertentu (PDTu) Kemendes PDTT, Suprayoga Hadi di Jakarta, Senin (30/5).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Suprayoga mengakui, untuk merubah paradigma menjadi investasi membutuhkan waktu dan ketekunan. Dalam hal ini, Kemendes PDTT akan mencoba model KEK (Kawasan Ekonomi Khusus), dan memberikan kemudahan bagi investor untuk masuk ke kawasan tersebut.

"Meyakinkan investor itu perlu waktu. Sebelum MEA, kita buka Kalimantan untuk dibuka perkebunan kelapa sawit, itu sudah antre investor," ujarnya.

Menurut Suprayoga, daerah perbatasan selama ini tidak pernah dipandang sebagai growth areas (area pertumbuhan). Inilah yang menyebabkan wilayah perbatasan sulit terentas dari ketertinggalan.

"Inilah kekurangan kita. Maka, pengembangan perbatasan juga harus dilakukan melalui pendekatan investasi. Tanpa investasi daerah akan sulit untuk maju, mereka hanya akan menjadi saksi," ujarnya.

Suprayoga melanjutkan, daerah perbatasan menjadi semakin seksi ketika dihadapkan dengan era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Di mana pada era tersebut, daerah perbatasan akan menjadi sentra pertemuan antara Indonesia dengan negara-negara lainnya.

"Dalam MEA, yang paling terpapar adalah perbatasan. Dan investasi di wilayah perbatasan yang diawali oleh pemerintah itu iya. Investasi tersebut berupa investasi dasar seperti listrik, air bersih, telekomunikasi, dan sebagainya. Setelah investasi dasar terpenuhi baru investor biasanya mau masuk, jika dari awalnya biasanya tidak mau," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 15 Oktober 2017

Air Hangat untuk Wudhu atau Mandi

Assalamu’alaikum warahmatullah wa barakatuh. Saya adalah pembaca Rubrik Bahsul masail NU yang dari penjelasan penjelesan itu sebagian saya pakai pedoman dalam amaliyah saya karena secara kebetulan persis yang kita alami sehari hari yang masih ragu... Nah yang saya tanyakan sekarang adalah:

Bagaimana hukumnya air yang dihangatkan dengan pemanas air baik melelui listrik atau LPG, jika air tersebut saya gunakan mandi jinabat atau berwudhu? Apakah hukumnya syah apa tidak, atau sekedar makruh saja? Sebab yang terjadi di zaman modern ini tidak hanya di hotel saja yang bisa menyediakan air hangat buat mandi tetapi di rumah tangga pun sangat mudah peralatan itu didapatkan dan terjangkau bagi yang mau. Terima kasih dan wassalam. (Hasan Basri, Surabaya)



Air Hangat untuk Wudhu atau Mandi (Sumber Gambar : Nu Online)
Air Hangat untuk Wudhu atau Mandi (Sumber Gambar : Nu Online)

Air Hangat untuk Wudhu atau Mandi

Wa’aalaikum salam warahmatullah wabarakatuh.



Saudara penanya yang kami muliakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mandi atau wudhu dengan menggunakan air hangat bagi sebagian besar orang dianggap sebagai cara yang paling cepat untuk mengusir rasa dingin yang menusuk tubuh. Selain itu, mandi atau wudhu dengan air hangat seolah menjadi terapi tersendiri bagi mereka yang sering diserang nyeri rematik atau sekadar untuk melepas rasa penat setelah menjalankan aktifitas seharian penuh. Hangatnya air yang membasuh tubuh juga dapat membantu melancarkan sirkulasi darah dan memberikan efek rileks pada otot-otot maupun persendian manusia.

Berawal dari sebuah hadis riwayat Aisyah ra yang menyatakan bahwa menggunakan air panas karena terik matahari dapat menyebabkan penyakit kusta, para ulama madzhab Syafi’i yang dipelopori oleh imam Ar-Rafi’i berpendapat tentang penggunaan air panas untuk bersuci baik mandi besar ataupun wudhu hukumnya makruh. Adapun hadis yang dimaksud adalah:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Artinya: bahwasannya Rasulullah saw melarang Aisyah ra untuk menggunakan air musyammasy (air panas karena terik matahari) dan mengatakan bahwasannya air tersebut dapat mengakibatkan penyakit barash (kusta).

Saudara Hasan Basri yang kami hormati.

Hadis diatas memang tidak dikategorikan oleh para ulama hadis dalam tingkatan shahih, namun hadis ini dapat digunakan sebagai acuan untuk meraih kesempurnaan dalam beramal (fadhail al-a’mal). Oleh karena itulah imam ar-Rafi’i menjadikan hadis ini sebagai acuan penetapan hukum bersuci dengan menggunakan air panas karena terik matahari hukumnya makruh. Pandangan ini tentu berbeda dengan ketiga madzhab lain (selain madzhab Syafi’i) yang tidak menghukumi makruh atas penggunaan air panas karena terik matahari untuk bersuci.

Pendapat dari salah seorang imam besar dalam madzhab Syafi’i ini adalah bentuk kehati-hatian dalam menjalankan syariat dan ternyata selaras dengan pandangan para dokter yang menyebutkan adanya efek samping penggunaan air panas seperti munculnya penyakit kulit dan penyakit-penyakit lain. Sejatinya hukum kemakruhan dalam madzhab Syafii ini tidak serta merta disepakati secara bulat, diantara mereka masih terdapat perbedaan pendapat. Imam Nawawi tidak sepakat dengan pendapat yang menganggap bahwa bersuci dengan air panas akibat terik matahari hukumnya makruh. Beliau berpendapat bahwa menggunakan air panas karena terik matahari hukumnya boleh. Begitu juga dengan air panas atau hangat karena alat pemanas listrik atau kompor gas.

Para ulama yang berpandangan mengenai kemakruhan penggunaan air panas atau hangat tersebut juga memberikan banyak catatan sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqih madzhab Syafi’i seperti Al-Bujairaimi, Kifayat al-Ahyar, Al-Bajuri dan lain-lain.

Diantara catatan yang menjadi titik tekan adalah apabila dalam penggunaan air tersebut berdampak negatif atau berpotensi negatif bagi penggunanya, seperti penderita jenis penyakit tertentu yang tidak diperkenankan menggunakan air panas atau akan bertambah sakit jika menggunakan air hangat atau perubahan suhu tubuh yang begitu drastis pasca mandi maupun wudhu. Hukum kemakruhan ini juga berlaku pula pada air yang sangat panas dan air yang sangat dingin meskipun dengan perantara selain matahari sebagaimana dijelaskan dalam kitab Bujairimi ‘Ala al-Khatib:

? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ?. Artinya: “Jumlah air yang makruh digunakan ada delapan sebagaimana terdapat dalam penjelasan Muhammad Ar-Ramli yaitu air musyammas (panas karena terik matahari), air sangat panas, air sangat dingin, air kaum tsamud, air kaum Luth, air sumur Barahut, air Babilonia, dan air sumur Dzarwan.”

Saudara penanya yang dirahmati Allah.

Inti sari dari jawaban kami adalah apabila dalam penggunaan air hangat tersebut berpotensi menimbulkan penyakit atau berdampak semakin berat penyakit yang diderita maka hukumnya haram, namun apabila masih diperkirakan akan datangnya penyakit, hukumnya makruh, apabila tidak ada efek samping dalam penggunaan air hangat maka hukumnya mubah, bahkan bisa menjadi wajib seperti dalam kondisi sempitnya waktu shalat dan tidak ditemukan alat berwudhu selain air hangat tersebut.

Mudah-mudahan jawaban ini dapat diterima oleh saudara penanya khususnya dan bermanfaat bagi kita semua. Saran kami dalam kondisi tertentu, misalnya ketika udara terasa sangat dingin, tidak masalah bersuci atau mandi menggunakan air hangat. Namun dalam kondisi normal lebih baik memakai air biasa saja, agar anggota badan yang terkena wudlu maupun air mandi terasa segar dan tentunya menyehatkan. Ketika badan kita segar dan sehat, maka kita bisa menjalankan ibadah dan aktifitas dengan penuh semangat. Wallahu a’lam (Maftukhan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Internasional, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 September 2017

IPNU-IPPNU DKI Jakarta Resmi Dilantik, Ini Program Unggulannya

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Provinsi DKI Jakarta menggelar pelantikan di Gedung Balai Kota, Jumat (29/4) lalu. Kepengurusan IPNU DKI Jakarta, Muhammad Muhadzab ketua terpilih masa khidmah 2016-2019 ini langsung dilantik oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPNU, Asep Irfan Mujahid. Sedangkan Ketua IPPNU DKI Jakarta masa khidmah 2015-2018, Nur Hamidah Wahid dilantik oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat IPPNU, Puti Hasni.?

IPNU-IPPNU DKI Jakarta Resmi Dilantik, Ini Program Unggulannya (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU DKI Jakarta Resmi Dilantik, Ini Program Unggulannya (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU DKI Jakarta Resmi Dilantik, Ini Program Unggulannya

Hadir dalam pelantikan tersebut, Ketua PWNU DKI Jakarta H Saefullah yang saat ini berdinas sebagai Sekda Pemprov DKI Jakarta, ia juga didampingi oleh KH. Syamsul Maarif (PWNU DKI Jakarta). Selain itu hadir pula Hasan Habibi (Pustekkom Kemendikbud RI), dan Ubaidillah Sadewa (KPI D DKI Jakarta).

Dalam sambutannya, H Saefullah mengapresiasi pelantikan yang dilakukan Pimpinan Pusat IPNU dan IPPNU yang sebenarnya kepengurusan Pimpinan Pusat tersebut baru dikukuhkan bulan Maret kemaren. Ia berharap pelantikan terus dilakukan Pimpinan Pusat hingga ke tingkat kota-kota di DKI Jakarta ataupun di daerah-daerah.?

Selain itu, H Saefullah memberikan kabar gembira untuk pelajar Jakarta bahwa Pemprov DKI Jakarta memberikan program KJP Lanjutan di tahun 2016 ini. Program ini diperuntukkan bagi pelajar menengah yang ingin melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Siapa saja warga Jakarta yang tamatan SMA atau Madrasah Aliyah yang ingin meneruskan ke pertuguran tinggi negeri, maka biaya pendidikannya dan biaya hidupnya ditanggung oleh Pemprov DKI Jakarta,” ungkapnya.

Dalam kesempatan pelantikan ini, Ketua PW IPNU DKI Jakarta mengungkapkan bahwa pelajar NU Jakarta dalam waktu dekat akan merealisasikan program publikasi pelajar Jakarta berbasis web. Program ini akan diwujudkan dengan cara para pengurus menyambangi berbagai sekolah.

“Ini program jangka panjang yang bertujuan selain sebagai publikasi, juga sebagai wadah agar pelajar NU di Jakarta maupun pelajar pada umumnya untuk belajar menulis. Hal ini sangat terkait dengan penyebaran paham Aswaja di kalangan pelajar melalui media,” ujar Muhadzab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nantinya, lanjut alumnus STAINU Jakarta ini, para pelajar di berbagai sekolah akan diarahkan pada satu domain khusus yakni pelajarjakarta.com. “Masing-masing akan menginduk hosting dan domain di situ,” jelasnya. (Frachman/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Ahlussunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah