Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hadits. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Proyek perluasan kilang Balikpapan (Refinery Unit V) yang dikelola PT. Pertamina, diperkirakan membutuhkan 20.000 tenaga terampil. Pemenuhan tenaga terampil tersebut sebagian akan diprioritaskan dari pekerja lokal, yakni dari daerah Kalimantan Timur.

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)
Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil (Sumber Gambar : Nu Online)

Perluasan Kilang Balikpapan, Pemerintah Siapkan 5000 Pekerja Lokal Terampil

Terkait dengan rencana pemenuhan tenaga kerja, beberapa petinggi PT Pertamina melakukan audiensi dengan Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri, Senin (20/11) kemarin.

"Kami sowan (silaturahim) ke Pak Menteri untuk menawarkan kerjasama pelatihan untuk  tenaga kerja lokal. Kebutuhan tenaga kerja terlatih sampai 20.000 orang, tapi sebagian akan dilatih dari tenaga kerja lokal sekitar 5000-7000 orang," kata Direktur Megaproyek Pengolahan dan Petrokimia PT Pertamina, Ardhy N. Mokobombang.

Turut serta dalam rombongan audiensi adalah Vice President Refining Project Pertamina Ignatius Tallulembang, serta beberapa pejabat lainnya.

Dijelaskannya, proyek perluasan kilang Balikpapan merupakan bagian dari program strategis meningkatkan kemandirian dan ketahanan energy nasional, baik peningkatan produksi BBM atau non BBM.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kualitas produksi yang semula Euro 2 menjadi Euro 5. Proyek berdurasi 43 bulan ini akan menyerap tenaga kerja sedikitnya  20.000 orang. Saat kilang dioperasikan akan menyerap sekitar 2.500 orang pekerja.  

Rencananya, ground breaking mega proyek dengan investasi US$ 5 miliar ini akan  dilakukan oleh Presiden Joko Widodo pada Desember atau Januari nanti.

Terkait dengan rencana kerjasama menyiapkan pelatihan tenaga kerja terampil, saat ini pihak sedang menyusun silabi pelatihan yang akan diterapkan pada lima Balai Latihan Kerja (BLK) di Kalimantan Timur. Atau di BLK lainnya sesuai kebutuhan pelatihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan tersebut, Menaker M Hanif Dhakiri menyatakan sangat mendukung adanya penyerapan tenaga kerja lokal dalam proyek tersebut.

“Selain mendukung kemandirian energi dan dunia industri, proyek ini akan menyerap ribuan pekerja lokal.  Pemerintah dan Pertamina akan menyiapkan pelatihan bagi tenaga kerjanya,” kata Menaker.   

Menaker berjanji, untuk keperluan pemenuhan tenaga kerja lokal tersebut, pihaknya akan segera membuat tim khusus (pertamina dan Kemnaker) untuk menyusun silabus, instruktur, dan peralatan yang dibutuhkan dalam proyek tersebut.  (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Februari 2018

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja

Bondowoso, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kegiatan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ke-2 GP Ansor Bondowoso merupakan tidak lanjut dari rapat kerja cabang pertama yang telah digelar satu tahun lalu. Sebelumnya, Rakercab ini dilaksanakan bersamaan dengan pelantikan Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Bondowoso. Rakercab kedua ini juga merumuskan agenda-agenda ke depan agar berjalan dengan baik.

Hal tersebut di sampaikan Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (PG) Ansor Kabupaten Bondowoso Muzammil dalam sambutannya membuka Rapat Kerja Cabang Ke-2 dan sekaligus Pelantikan Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor Bondowosa PC GP Ansor di Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki Koncer Darul Aman Jl KH Abd Muiz Tr Desa Koncer Darul Aman Kecamatan Tenggarang Kabupaten Bondowoso Jawa Timur, Sabtu (5/3).

Ia berharap nantinya di Rakercab ini agar ada kontrol bersama, agar ada tanggung jawab bersama sehingga kedepan betul-betul sesuai apa yang diinginkan warga Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso, selain bisa bermanfaat untuk masyarakat Bondowoso secara umum.

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakercab Ke-2, GP Ansor Bondowoso Evaluasi Program Kerja

Acara Pembukaan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) Ke-2 ini di ikuti 23 Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ansor se-Kabupaten Bondowoso dengan mengambil tema ‘Revatalisasi peran Pemuda Ansor dalam proses Pembangunan menuju Masyarakat Bondowoso Beriman, Berdaya dan Bermartabat’.

Turut hadir pula juga dalam acara pembukaan Rakercab Ke-2 ini di antaranya Ketua PC GP Ansor Bondowoso Muzammil beserta jajarannya, Banser, Lembaga Majelis Dzikir dan Sholawat Rijalul Ansor, Polsek Tenggarang, Koramil Tenggarang, Camat Tenggarang Jakfar Sodik, Diknas Pendidikan Kabupaten Bondowoso, Pengasuh Pondok Pesantren Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki KH Muhammad Hasan Abd Muiz. (Ade Nurwahyudi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Hadits, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 17 Februari 2018

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam rangka menerima mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga melaksanakan PBAK (Pengenalan Budaya akademik dan kemahasiswaan), Kamis-Sabtu, 24-26 Agustus 2017 yang diikuti 3000 lebih mahasiswa baru dari berbagai daerah seluruh nusantara.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Prof Dr Amin Abdullah ini UIN Sunan Kalijaga ini mengangkat tema Membangkitkan Nilai Nasionalisme dan Keislaman

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)
3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan (Sumber Gambar : Nu Online)

3000 Lebih Mahasiswa Baru UIN Sunan Kalijaga Gemakan Ya Lal Wathan

Dalam Sambutan Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof Yudian Wahyudi, Ph.D mengingatkan agar mahasiswa baru bisa mencintai Indonesia sebagai bangsa yang majemuk tanpa menghilangkan nilai-nilai keislaman dan agar memiliki jiwa nasionalisme.

Yudian juga mengingatkan agar mahasiswa baru UIN Sunan Kalijaga tidak bergabung dengan oraganisasi yang anti-NKRI. Sebab itu dalam kesempatan ini, Alumni Pondok Pesantren Termas Pacitan itu mengajak para mahasiswa baru menyanyikan lagu Ya Lal Wathan. 

Hal itu juga dipersiapkan oleh Panitia Pelaksana PBAK UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta sebagai cara pembangkit semangat nasionalisme dan cinta NKRI. Suara padu menggema dari mahasiswa baru sembari mengepalkan tangan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

Salah seorang panitia, Ahmad Ainul Fahruri menjelaskan, perlu diketahui bahwa pencipta Mars Subhanul Wathon adalah KH Abdul Wahab Chasbullah, penggerak dan perintis awal berdirinya Nahdlatul Ulama, dengan tujuan agar membangkitkan semangat perjuangan  para santri dalam mengusir penjajah. 

“Lumrah saja ketika mahasiswa UIN Sunan Kalijaga mempunyai semangat mencintai bangsa,” ujar Mahasiswa Sosiologi Agama Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam ini. 

Menyanyikan lagu Ya Lal Wathan juga diinisiasi panitia untuk menanamkan cinta tanah air kepada mahasiswa baru agar ketika berproses menjadi mahasiswa tidak salah langkah dalam berorganisasi. (Fahri/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Ahlussunnah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 08 Februari 2018

Pilkada Usai, Mimbar Agama Damai

Oleh Slamet



Agama dan politik memang dua hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Adapun agama, selain mengatur kehidupan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, juga menjadi pedoman atas etika pergaulan antara manusia dengan sesamanya. Sementara itu, politik menjadi pengatur sistem kehidupan manusia dalam bernegara yang tentu saja tak bisa dipisahkan dari kekuasaan (power). Lalu, apa jadinya jika agama dan politik dicampuradukkan? Tentu yang terjadi adalah ‘politisasi agama’. Artinya, politik akan mencari pembenaran atas kepentingannya dengan dalih teks-teks agama. Begitu pun agama yang? telah menyediakan seperangkat teks yang mampu ditafsirkan sesuai dengan kepentingan pembacanya. Benang merah ‘kemesraan’ agama dan politik ini salah satunya disebabkan karena sifat teks agama yang sangat ‘fleksibel’ dan sifat politik yang sangat pragmatis.

Pilkada Usai, Mimbar Agama Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Usai, Mimbar Agama Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Usai, Mimbar Agama Damai

Alhasil, ketika teks-teks agama disampaikan oleh orang atau kelompok yang berkepentingan dengan politik, maka nilai agama akan ‘penuh dengan kepentingan’ dan teks agama tidak lagi menjadi netral. Dalam konteks ini, teks agama kemudian dijadikan legitimasi atas kepentingan politik yang tetap ‘terbungkus’ rapi dalam ‘baju’ agama. Tidak bisa dipungkiri, fenomena inilah yang sempat ‘mewabah’ di Indonesia. Teks-teks agama yang awalnya digunakan untuk kemaslahatan umat, kemudian ditarik-tarik dalam percaturan kepentingan, hingga ‘berhasil’ mengubah mimbar-mimbar suci agama menjadi mimbar politik.

Alhasil, mimbar agama yang sejatinya berfungsi sebagai ‘panggung kecil’ untuk menyampaikan ajaran agama yang humanis kepada para pemeluknya, justru berubah menjadi mimbar-mimbar politik yang ‘bengis’ yang menjadi ‘medan pertarungan’ antar kelompok pemilik kepentingan. Bahkan parahnya lagi, hujatan, cacian, ujaran kebencina, fitnah hingga ajakan untuk melawan pemerintahan yang sah dikumandangkan secara terbuka melalui mimbar-mimbar agama yang suci.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Apakah ini penistaan? Jelas ini adalah penistaan, karena para pengkhotbah yang syarat dengan kepentingan telah melakukan disfungsionalisasi mimbar agama. Disfungsionalisasi yang dimaksud tidak lain adalah mengubah mimbar agama menjadi mimbar politik. Sebut saja, kasus penodaan Lambang Negara, fitnah terhadap tradisi lokal, hingga dugaan penistaan terhadap agama lain yang kesemuanya dilakukan melalui mimbar agama. Alhasil, jarak antara mimbar agama dengan mimbar politik tak lebih tebal dari kulit ari, karena kenyataanya muatan-muatan dalam mimbar agama telah ‘dirasuki’ oleh materi-materi politik. Akibatnya, untuk membedakan antara materi agama atau materi politik sangatlah susah, karena keduanya berbaur dalam simbol dan berbaju ‘agama’.

Pengembalian Fungsi Mimbar

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mimbar agama adalah ‘panggung suci’ yang memiliki magnet besar dalam menggerakan umat. Ajaran-ajaran yang disampaikan melalui mimbar, akan menjadi referensi bagi umatnya, terkhusus mereka yang berasal dari golongan yang minim terhadap tradisi literasi. Di sinilah posisi penyampai materi dalam mimbar sangatlah vital, karena secara personal ia tidak saja menjadi panutan, namun materi yang disampaikan akan menjadi rujukan. Singkatnya, umat akan bisa ‘dengan mudah’ digerakkan dari sebuah ‘panggung suci’ yang bernama mimbar. Lalu siapa yang menjadi penentu arah materi mimbar tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah para tokoh agamanya.

Oleh karenanya, jika tokoh agama yang seharusnya menjadi penentu arah materi mimbar menjadi bagian dari kelompok kepentingan, maka umat yang akan menjadi ‘korban’. Mimbar-mimbar yang seharusnya menjadi penerang, berbalik menjadi panggung yang mengerikan karena sarat dengan kepentingan. Pun dengan para umatnya yang seharusnya menjadi pembelajar dan pendengar, harus ‘dipusingkan’ dengan materi hujatan, cacian, ujaran kebencian bahkan hasutan dan berakhir pada ‘perang saudara’. Tentu ini hal yang sangat menyedihkan.

Pertarungan politik pun telah memeras keringat dan mengorbankan banyak hal, mulai dari hubungan pertemanan hingga disfungsionalisasi mimbar agama. Namun, pertarungan politik tidak boleh berlarut-larut sampai menjadi penghalang rekonsiliasi antar kelompok kepentingan. Jika hal ini tidak terjadi, pertarungan politik yang awalnya menjadi pertarungan antar kelompok, bukan tidak mungkin akan menjadi pertarungan ‘atas nama agama’. Mengapa? Karena mereka pernah memanfaatkan mimbar agama untuk melakukan ‘doktrinasi’ politik.

Namun, kini Pilkada telah usai, saatnya mimbar agama kembali damai dan kembali difungsikan sebagaimana mestinya. Tidak lain sebagai panggung untuk berbagi ilmu pengetahuan untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Pertarungan dalam Pilkada memang tidak bisa dihindarkan dan merupakan bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, pemanfaatan mimbar agama sebagai panggung politik harus dihentikan, karena ada hal yang lebih besar yang harus diprioritaskan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan hal ini, butuh kelapangan hati dari tokoh agama agar lebih mengutamakan kepentingan umat yang lebih besar dan menyudahi kepentingan politik yang pragmatis.

Sekali lagi, bahwa tokoh agama adalah panutan umat. Maka sudah seharusnya posisi dari tokoh agama adalah mencerahkan umatnya untuk mengarungi kehidupan dengan damai dan harmonis, sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh para pendiri bangsa Indonesia. Sangat sayang jika umat tidak lagi memiliki panutan karena tokoh-tokohnya menggunakan “baju agama” untuk kepentingan politiknya.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 03 Februari 2018

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum

Assalamu’alaikum wr. wb

Yang terhormat redaksi Bahtsul Masail Pondok Pesantren Attauhidiyyah, saya hendak mengajukan pertanyaan. Untuk lantai masjid, apakah antara imam dan makmum sebaiknya dibuat rata atau tinggi tempat imamnya. Mohon jawaban serta dalilnya. Terima kasih.Wassalamu ’alaikum wr. wb (Ahmad Qodri/Jepara)

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum (Sumber Gambar : Nu Online)
Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum (Sumber Gambar : Nu Online)

Lantai Masjid, Antara Imam dan Makmum

Jawaban

Assalamu’alaikum wr. wb

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt. Sepanjang yang kami ketahui dalam khazanah fikih madzhab Syafi’i mengenai tempat berdirinya imam atau istilah populer di masyarakat kami pengimaman sebaiknya dibuat rata, tidak lebih tinggi dari tempatnya makmum. Begitu juga sebaliknya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Karenanya, jika satu lebih tinggi dihukumi makruh. Salah satu dalil yang digunakan sebagai dasar dari pendapat ini adalah adalah riwayat dari Abu Dawud dan Hakim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.. “Dimakruh salah satu tempat atau posisi imam dan makmum lebih tinggi atas yang lain karena ada riwayat yang menyatakan bahwa sahabat Hudzaifah RA pernah mengimami orang-orang di kota Madain di atas dukkan, lantas Ibnu Masud RA memegang gamis dan menariknya. Ketika Hudzaifah selesai dari shalatnya, Ibnu Masud berkata, “Apakah kamu tidak tahu bahwa mereka melarang hal itu.” Hudzaifah pun menjawab, ‘Tentu aku tahu, sungguh aku ingat ketika kamu menarik gamisku.” Ini telah diriwayatkan Abu Dawud dan Hakim.

Hakim berkata bahwa riwayat ini adalah sahih sesuai persyaratan kesahihan yang ditetapkan Bukhari dan Muslim. Sebaliknya (makmum lebih tinggi dari imam) dikiaskan dengan hal tersebut. (Lihat Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudlatit Thalib, Beirut, Darul Kutub al-Ilmiyah, cet ke-1, 1422 H/2000 M, juz, I, halaman 234).

Namun kemakruhan tersebut bisa berganti menjadi kesunahan apabila ada kebutuhan atau hajat yang menghendaki tempat imam lebih tinggi seperti adanya tujuan untuk memberikan pengajaran shalat sehingga bisa terlihat jelas oleh semua makmum.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Kemudian apabila imam butuh untuk berdiri lebih tinggi (dari makmum) karena untuk mengajari shalat atau selainnya, atau makmum lebih tinggi karena agar bisa menyampaikan takbirnya imam atau selainya, hal itu disunahkan karena untuk memenuhi tujuan tersebut.” (Lihat Zakariya al-Anshari, Asnal Mathalib Syarhu Raudlatit Thalib, juz, I, halaman 234).

Dengan demikian poin penting yang harus digarisbawahi di sini adalah adanya kebutuhan atau tidak. Jika ada kebutuhan, itu menjadi sunnah. Jika tidak ada kebutuhan, ia menjadi makruh. Tetapi kesimpulan ini bukan tanpa persoalan, terutama yang terkait hukum makruh dalam konteks ini, yaitu ketika tidak ada kebutuhan atau hajat.

Seberapa batas ketinggian tempat imam atau makmum yang memiliki konsekuensi hukum makruh?

Di sinilah kemudian al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi memberikan penjelasan yang hemat kami sudah cukup memadai. Menurutnya, tinggi dalam konteks ini tinggi yang kasat mata kendati hanya sedikit. Tetapi jika ‘urf menganggapnya itu tinggi, maka tetap dihukumi makruh.

?: (? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. “Perkataannya ‘tingginya tempat salah satu dari keduanya di atas yang lain’, maksudnya adalah ketinggian yang kasat mata dimana urf menganggapnya tinggi meskipun sedikit,” (Lihat al-Bakri Muhammad Syatha ad-Dimyathi, I’anah ath-Thalibin, Beirut Darul Fikr, juz, II, halaman 30).

Demikian penjelasan yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Hadits, Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 27 Januari 2018

GP Ansor Rembang Siapkan Aplikasi Database untuk Validasi Anggota

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam rangka validasi database, PC Gerakan Pemuda Ansor Rembang, Jawa Tengah mengadakan revalidasi data anggota yang dimulai dari ranting hingga PAC. Ketua PC GP Ansor Rembang Gus Hanies menjelaskan, tujuan diadakannya revalidasi database adalah untuk lebih memvalidkan data anggota GP Ansor se-Rembang. 

GP Ansor Rembang Siapkan Aplikasi Database untuk Validasi Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Rembang Siapkan Aplikasi Database untuk Validasi Anggota (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Rembang Siapkan Aplikasi Database untuk Validasi Anggota

Ia menambahkan, seluruh database anggota sudah direncanakan akan diinput ke dalam sebuah aplikasi yang sudah disediakan Ansor Rembang. Ia menargetkan paling lambat 16 Juli 2016 mendatang, semua data anggota dari ranting sudah di serahkan kepada pengurus Anak Cabang.

"Nanti database akan kita input disebuah aplikasi yang kita siapkan khusus untuk data, dan akan direncanakan data kita online-kan untuk mempermudah memberikan pelayanan kapan pun dan dimana pun,” kata Gus Hanies. Keterangan ini dia sampaikan awal Juli lalu.

Hanies juga sedikit menjelaskan fungsi aplikasi database yang disiapkan oleh Ansor Rembang, diantaranya untuk mempermudah Pengurus Cabang dalam mengelola pengkaderan bagi pengurus dan anggota. Ia juga menyebut, dengan aplikasi ini dapat membantu mengetahui kondisi riil dari anggota, mulai dari golongan darah, pendidikan, pekerjaan, dan jenjang pengkaderan yang pernah di ikuti selama dan sebelum masuk di Ansor.

"Misalnya begini, kita butuh donor darah, kita kan bisa mencari melalui aplikasi database ini siapa saja yang mempunyai misal golongan darah O. Contoh juga ketika pelatihan PKL, kita kan tinggal mencari melalui Search Engine aplikasi, untuk menampilkan siapa saja yang sudah PKD, yang siap dikirim untuk PKL. Tidak perlu kita telepon sana-sini mencari kader,” pungkasnya. (Ahmad Asmui/Fathoni)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Nahdlatul Ulama, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 26 Januari 2018

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai

Cilacap, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam lintasan sejarah, NU memiliki peran politik yang sangat signifikan. Kenyataan ini dibuktikan dengan kiprah organisasi para kiai ini dalam mempengaruhi kebijakan publik secara nasional maupun internasional. Peran ini justru banyak terjadi ketika NU di luar jalur partai.

Pandangan ini disampaikan Ketua PBNU H Imam Azis dalam sesi diskusi Bahtsul Masail Nasional yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) di Pondok Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (8/5) malam.

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai

Imam menunjukkan fakta perjuangan NU pra-kemerdekaan hingga menjelang NU menjadi partai politik pada 1952. Saat itu para kiai mampu mengintervensi kebijakan kolonial Belanda dan Jepang, hingga terlibat dalam proses-proses menentukan pembentukan dan penyelenggaraan Republik Indonesia bersama jaringan yang dimiliki.

”Jadi, kalau NU ingin berperan secara politik, jalurunya tidak harus melalui partai,” tegasnya. Menurut Imam, NU pasca menjadi partai memang memiliki kantong suara yang cukup menjanjikan, tapi, produktivitasnya menurun hingga akhirnya kembali ke khittah pada 1984.

Di era demokrasi pascareformasi, lanjut Imam, NU berada di dalam ancaman ”pusaran uang” yang sangat kencang. Independensi organisasi sosial-keagamaan ini ditantang untuk konsisten menjadi motor perubahan meski tanpa kendaraan partai. Di jalur non-partai, NU dapat memerankan politik secara lebih luas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Artinya apa? Partai politik itu bukan keniscayaan bagi NU,” tuturnya.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam menata dunia pendidikan, pemerintah diminta tidak sepihak menetapkan kebijakan baru. Pemerintah  sebaiknya mensosialisasikan gagasannya terlebih dahulu sebelum menjadi kebijakan  kepada para pemangku kepentingan pendidikan seperti pihak sekolah. 

Demikian yang dikatakan Ketua PC IPPNU Kudus Risda Umami kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kamis (2/5) pandangannya terkait refleksi hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang jatuh 2 Mei kemarin.

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Jangan Sepihak Tetapkan Kebijakan Pendidikan

Risda menyoroti dunia pendidikan nasional belakangan  ini yang memprihatinkan. Banyak kebijakan baru yang kurang terkoordinasikan dengan baik bahkan cenderung morat-marit melenceng jauh dari harapan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pelaksanaan Ujian Nasional misalnya, jika memang dirasa cuma menekan psikologis anak dan menjadikan pelajaran lain jadi termarginalkan, saya kira perlu perlu dipertimbangkan peninjauan kebijakannya,” tandasnya.

Menurut aktifis jebola IAIN Walisongo Semarang ini, masyarakat bawah masih merasakan biaya pendidikan (sekolah) yang terlalu mahal. Hal ini, katanya, akibat praktek komersialisasi pendidikan sebagaimana kebijakan Rintisan Sekolah Berbasis Internasional (RSBI). 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“RSBI yang sudah dibubarkan Mahkamah Konstitusi ini, dulunya sangat diskriminatif bagi masyarakat yang tidak mampu. Setelah dibubarkan, semoga saja tidak ada lagi komersialisasi pendidikan dalam bentuk yang lain,” tegas Risda.

Ia juga mendesak pemerintah untuk segera mencairkan dana Biaya Operasional Sekolah (BOS) yang hingga kini belum turun dari pusat. Pembiayaan operasional madrasah (swasta) sangat bergantung pada dana BOS tersebut.

“Bila belum cair sampai sekarang, roda madrasah bisa terganggu,” tegas Risda yang juga seorang pendidik sebuah madrasah Ibtidaiyah di Kudus.

Pernyataan serupa disampaikan sekretaris PC IPNU Kudus Ali Syafi’i. Menurutnya, wajah pendidikan kian terkungkung oleh kebijakan atau undang-undang seperti terbitnya aturan dari Komisi Nasional Perlindungan Anak menyebabkan keresahan di kalangan guru pendidik.

“Metode pengendalian kenakalan anak dalam pendidikan mengalami kesulitan karena merasa terbatasi. Guru menjadi tidak tegas, khawatir dianggap berbuat kekerasan,” ujar Ali kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

 

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahlussunnah, Hadits, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Januari 2018

Gandeng STIKES ICME Jombang, STAINU Jakarta Gelar Seminar Rembug Desa

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) ICME Jombang, STAINU Jakarta disela Muktamar Ke-33NU, Senin (3/8) mengadakan kegiatan seminar nasional dan rembug desa dengan tema ‘Strategi Implementasi Kebijakan Pelayanan Sosial Dasar Masyarakat di Desa’. Acara tersebut diselenggarakan di Aula STIKES ICME Kampus C Jombang.

Kegiatan dibuka dengan orasi ilmiah oleh Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa, Kementerian DPDTT, Prof Dr Ahmad Erani Yustika dan dilanjutkan dengan seminar dan rembug desa dengan narasumber M Zainul Arifin, M.Kes (Ketua STIKES ICME Jombang), dr Syahrizal Syarief, M.PH, PhD (Ketua STAINU Jakarta), dan Dr Hanibal Hamidi, MKes (Direktur Pelayanan Sosial Dasar KDPDTT).

Gandeng STIKES ICME Jombang, STAINU Jakarta Gelar Seminar Rembug Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng STIKES ICME Jombang, STAINU Jakarta Gelar Seminar Rembug Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gandeng STIKES ICME Jombang, STAINU Jakarta Gelar Seminar Rembug Desa

Aris Adi Leksono, M.Pd (Pembantu Ketua IV STAINU Jakarta) mengatkan, bahwa seminar ini merupakan bagian dari rangkaian kegiatan STAINU Jakarta di Muktamar Ke-33 NU. Juga bertujuan untuk merumuskan gagasan-gagasan tentang pembangunan desa, terutama menyangkut kebutuhan dasar, seperti pendidikan dan kesehatan.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut masyarakat perlu juga diberikan pemahaman terkait kebijakan pembangunan desa melalui alokasi khusus dana desa, bagaimana penyalurannya, kegiatannya, dan pengawasannya. Tentu semuanya harus terlibat mengawasi sehingga semua dana desa, efektif, efesien, dan dapat dipertanggungjwabkan.

Dalam kesempetan ini Bapak Dirjen dan Narasumber bersepakat bahwa pembangunan Indonesia harus di mulai dari desa, karena dari desa akan diketahui kebutuhan dasar masyarakat Indonesia.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut, bahwa pembangunan desa harus mendapatkan afirmasi khusus dalam kebijakan dan penganggaran, sehingga masyarakat betul-betul dapat merasakan kesejahteraan. Masyarakat juga harus terlibat secara aktif dalam pembangunan desa, penggunaan anggaran desa, pengawsan, serta pelaporannya. Acara seminar ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Ustadz Alee Matte dari Thailand Selatan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Hadits, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 09 Januari 2018

Komitmen Kemanusiaan, PBNU Kembali Kirim Tim Medis ke Bangladesh

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) secara resmi kembali melepas tim medis untuk pengungsi Rohingya pada Senin (11/12) malam di gedung PBNU, Jakarta Pusat. Tim medis yang terbentuk atas kerja sama Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim PBNU (LPBI PBNU), Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh Nahdlatul Ulama (LAZISNU) dan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) ini merupakan keberangkatan gelombang ketiga. 

Setelah pelepasan, tim medis dari NU akan langsung bergabung dengan Indonesia Humanitarian Alliance (IHA) dan rencananya berangkat bersama-sama ke Bangladesh pada Kamis (14/12) untuk membantu pengungsi Rohingya yang mulai terserang berbagai penyakit. 

Komitmen Kemanusiaan, PBNU Kembali Kirim Tim Medis ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)
Komitmen Kemanusiaan, PBNU Kembali Kirim Tim Medis ke Bangladesh (Sumber Gambar : Nu Online)

Komitmen Kemanusiaan, PBNU Kembali Kirim Tim Medis ke Bangladesh

Ketua Harian Tanfidziyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) H Robikin Emhas yang didaulat melepas tim medis meminta agar masyarakat Indonesia bersyukur atas kedamaian yang diberikan Allah SWT.  

Robikin mengatakan, Indonesia yang terdiri atas beragam agama, etnis, bahasa, dan budaya masih bisa menjaga kedamaian karena Islam sebagai mayoritas di Indonesia menganut Islam yang toleran. 

"Islam yang melindungi minoritas. Islam yang menghargai perbedaan," jelasnya. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara kembalinya NU memberangkatkan tim medis, kata Robikin, sebagai bentuk keprihatinan dan komitmen kemanusiaan terhadap pengungsi Rohingya di Bangladesh. 

Ia berharap, aksi yang dilakukan NU bisa menginspirasi kelompok-kelompok lain untuk terciptanya perdamaian dunia. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami berharap bahwa nilainya bisa ditularkan, bisa disalurkan ke dunia, sehingga masyarakat dunia akan mencapai perdamaian abadi," jelasnya. 

Turut mendampingi pada kesempatan itu, Wakil Sekretaris PBNU H Isfah Abidal Azis, Ketua LAZISNU Syamsul Huda, dan Wakil Sekretaris LPBI PBNU Ubaidillah Sadewa. (Husni Sahal/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Budaya, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Januari 2018

Kalbar Sambut Gempita MTQ JQH NU

Pontianak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) yang diselenggarakan Jam’iyyatul Qura’ wal-Huffazh Nahdlatul Ulama (JQH NU) disambut gegap-gempita masyarakat Pontianak, Kalimantan Barat. 

Kalbar Sambut Gempita MTQ JQH NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kalbar Sambut Gempita MTQ JQH NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kalbar Sambut Gempita MTQ JQH NU

Pada pembukaan misalnya, warga Pontianak memenuhi tribun stadion Sultan Syarif Abdurahman Selasa malam (3/7).

“Tidak ada tempat yang kosong. Ada sekitar 2000 orang yang hadir,” ujar Odang Prasetyo, Kabag Agama Biro Kesejahteraan Sosial Setda Provinsi Kalimantan Barat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut  Odang, hal ini dilatarbelakangi kerinduan masyarakat akan MTQ bertaraf nasional, karena Pontianak terkahir menyelenggarakan MTQ Nasional tahun 1985, “Apalagi kini menjadi tuan rumah MTQ Internasional pertama kali,” tambahnya.  

“Saya bangga Pontianak menjadi tuan rumah MTQ Internasional. Ini kan pertama kali. Biasanya yang seperti ini diselenggarakan di pulau Jawa, kali ini  di Kalimantan. Makanya saya bangga,” ujar security sebuah hotel.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sambutan juga ditunjukkan dengan bertebarannya umbul-umbul, baliho, spanduk di jantung kota Pontianak, di sudut-sudut strategis, dan halaman kantor-kantor. 

Spanduk itu berbunyi “Mari Kita Sukseskan MTQ Internasional JQH Nahdaltul Ulama”. Terpampang di situ lambang MTQ JQH, Nahdlatul Ulama. Di bawahanya dicantumkan Organisasi Massa, Kepemudaan atau tokoh masyarakat yang mengucapkan. 

Menurut Veri, salah seorang warga Pontianak, umbul-umbul itu masih terlihat sampai radius 15 km perbatasan kota Pontianak.

Syahriel Ishaq melihat sambutan meriah masyarakat Pontianak dari sisi lain yaitu keragaman dalam kedamaian. Pembukaan ini dihadiri bergama tokoh dan warga lintas agama.

Mengingat, sambung Ketua Umum Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMIII) Provinsi Kalimantan Barat, komposisi penduduk muslim tidak lebih banyak dari nonmuslim.  Tetapi MTQ menjadi milik bersama.

“Ini menunjukkan kedamaian dalam keragaman beragama,” tuturnya.

Seperti diketahui, pada acara pembukaan MTQ, Walikota Singkawang yang nonmuslim mempersembahkan tarian kolosal Tahar Gentar oleh 500 orang penari. Para penari terdiri dari muslim dan muslim. 

MTQ yang diselenggarkan JQH NU ini merupakan MTQ VII yang diikuti sekitar 1000 orang peserta. Selain itu akan digelar MTQ internasional I JQH yang diikuti seluruh negara ASEAN dan beberapa negara undangan; dan Musyawarah Nasional (Munsa) IV JQH NU.

Redaktur : Mukafi Niam

Penulis    : Abdullah Alawi  

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 03 Januari 2018

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Kesepuluh anak yang tengah mengantre itu segera bergerak begitu panitia menyilakan pemegang kartu bernomor 1-10 memasuki ruangan. Di dalam ruangan yang rupanya telah disulap menyerupai swalayan, kesepuluh anak itu mengambil satu pak alat tulis, roti dan biskuit, beras, dan pakaian. Khusus untuk pakaian, mereka bisa memilih sesuai ukuran, jenis kelamin, dan warna kesukaan. Selesai mengambil benda-benda itu mereka diarahkan keluar melalui pintu khusus. Di pintu keluar, mereka menerima uang tunai. Binar bahagia terlihat dari wajah mereka.

Suasana itulah yang belangsung di SD Harapan Ibu, Jalan H Banan, Pondok Pinang, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (30/3). Kesepuluh siswa itu ada bersama 550 siswa penerima santunan anak yatim dan dluafa.

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Care LAZISNU Turut Santuni Yatim di SD Harapan Ibu

SD Harapan Ibu menjadikan pemberian santunan kepada anak yatim dan dluafa sebagai agenda tahunan. Acara santunan dapat atas kerjasama pihak sekolah dan donator lainnya.

“Sekolah kami menghimpun infak siswa seminggu sekali. Untuk kegiatan ini kami menganggarkan sekitar 20 juta dari infak tersebut,” kata Kepala SD Harapan Ibu, Baharudin.

Dalam kegiatan tersebut, NU Care LAZISNU juga turut berpartisipasi dengan memberikan sumbangan berupa beras sebanyak 500 kilogram. Direktur NU Care LAZISNU, Samsul Huda mengungkapkan keterlibatan NU Care merupakan bagian program NU Care menjelang Ramadlan dalam bentuk kepedulian kepada yatim piatu dan dluafa.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kebetulan SD Harapan Ibu melakukan kegiatan santunan ini, sehingga dapat bersinergi dengan NU Care. Ini juga sebagai sosialisasi NU Care kepada masyarakat Jakarta Selatan dan sekitarnya,” ujar Samsul.

Samsul menambahkan dalam waktu ke depan ia berharap ada sinergi yang berlekanjutan antara NU Care dan SD Harapan Ibu. Pengumpulan dan penyaluran donasi dikelola SD Harapan Ibu. Adapun NU Care berfungsi memayungi pengumpulan dan penyaluran donasi tersebut sebagai bagian LAZNAS.

Lurah Pondok Pinang Hendi Novriandi yang turut hadir, mengungkapkan pemberian santunan sebagai bentuk saling mengasihi kepada warga di lingkungan sekitar. Ia memandang hal itu sebagai hal positif.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya berharap siswa-siswa yang hadir di sini untuk menciptakan inovasi dan prestasi yang akan menjadi bekal di masa depan,” pesannya. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Islam, Hadits, Jadwal Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 22 Desember 2017

Menggairahkan NU Ke Masyarakat

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Meskipun mayoritas masyarakat Kabupaten Brebes menjadi warga Nahdlatul Ulama (NU), tetapi ghirah (semangat, red) berorganisasinya makin memudar, sehingga perlu digairahkan kembali. Pasalnya masyarakat menjadi basis kegiatan NU, sehingga perlu mendapatklan sentuhan nyata dari pengurus NU disetiap tingkatan.

“Saat ini, yang mendesak untuk digarap pengurus NU untuk kemaslahatan masyarakat adalah kiprah nyata, dengan kerja bukan cuma program,” ujar Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang (MWC) NU terpilih Kec. Larangan H Nuridin Idris saat menyampaikan sambutan kesanggupan pada Konferensi Anak Cabang (Konfercab) di SMK NU Larangan Ahad (19/12).

Menggairahkan NU Ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menggairahkan NU Ke Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menggairahkan NU Ke Masyarakat

Untuk itu dia mengajak seluruh jajaran pengurus untuk bekerja secara aktif dan ikhlas demi kemajuan dan kesejahteraan Nadliyin di Kec. Larangan. Dia tidak ingin menjadi seorang pengurus NU hanya numpang nama. Apalagi kalau kemudian jabatan kepengurusannya digunakan untuk kepentingan pribadi. Sementara kiprah membesarkan NU nihil. “Jangan titip nama, apalagi untuk kepentingan diri,” ucapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

H Nuridin Idris terpilih menjadi Ketua Tanfidziyah MWC NU Larangan setelah mendapatkan suara mutlak 20 suara dari 26 suara yang diperebutkan. Dia unggul dalam satu putaran setelah mengungguli H Imron 2 suara, Hasan Bisri (1), H Atho (2) dan H Bisri (1). H Nuridin menggantikan Kiai Jazuli Safa untuk masa khitmad 2010-2015. Sementara Terpilih sebagai Rais Syuriyah MWC NU Larangan KH Shohib, menggantikan KH Abdul Khamid. (was)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Di Mata Santri, Kiai Kholil Sosok Alim dan Intelek

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Nahdliyyin Kabupaten Jepara, Kamis (4/9) malam berduka. Lantaran Rais Syuriah PCNU Kabupaten Jepara, KH Ahmad Kholil pukul 20.40 WIB menghembuskan nafas terakhir di RS Telogorejo Semarang. Duka tersebut membawa kesedihan bagi umat umumnya dan khususnya bagi para santri.

Di Mata Santri, Kiai Kholil Sosok Alim dan Intelek (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Mata Santri, Kiai Kholil Sosok Alim dan Intelek (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Mata Santri, Kiai Kholil Sosok Alim dan Intelek

Saat Pondok Pesantren Attauhidiyyah menyambangi kediamannya pukul 22.30 WIB jenazah pengasuh pesantren Al-Falah Desa Bakalan, Kecamatan Kalinyamatan, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, ini belum dipulangkan. Namun di pesantren yang lokasinya berada di Jalan Raya Gotri Welahan tampak ratusan jamaah mengerumuni kediamannya.

Tak hanya masyarakat 500 santri putra-putri mukim sudah tak sabar menanti kehadiran jenazah almarhum. Kurang lebih 1.5 jam perjalanan keluarga dan mobil jenazah dari Semarang ke Jepara. Sampai di pesantren, ratusan santri yang sudah berjubel di pesantren meluapkan isak tangis dan terharu atas kepergian Kiai ke rahmatullah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sampai dikediamannya, ratusan pentakziyah yang hadir menyalatkan dan membacakan tahlil untuk kepergian almarhum. Jum’at (5/9) pagi kiai kharismatik kelahiran Jepara 1 Juli 1942 itu dikebumikan di makam Syaikhona desa Bakalan berjarak 300 meter dari kompleks pesantren. Setidaknya, 23 kali almarhum dishalatkan di aula pesantren dan masjid Baitus Salam desa Bakalan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di mata Santri

Menurut pandangan santri, suami dari Nyai Sholihatun itu merupakan sosok yang alim dan amil. Hal itu sebagaimana diuraikan Ansori. “Kiai Kholil jika menyuruh memberi tauladan terlebih dahulu,” kenangnya.  

Kealiman perintis pesantren Al-Falah itu juga ditunjukkan dalam kehati-hatiannya dalam berbicara. Santri yang menetap 11 tahun itu menyebutkan setiap perkataan yang diucapkan kiai mendasar karena akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Hal lain disampaikan Badiul Hadi. Menurut mantan aktivis Lakpesdam NU Jepara itu Kiai Kholil sosok santun dan bijaksana. Ia menyontohkan saat Mukercab NU Kiai tidak lantas memutuskan suatu hal namun pernyataan-pernyataan dari peserta musyawarah ditampung. Kesepakatan lanjutnya, berdasar hasil musyawah yang didasari menghormati orang lain.

Ansori menambahkan lelaki yang wafat di usia 72 tahun itu diamanati sejumlah tanggung jawab semisal Mursyid Thariqah, Rais Syuriah PCNU, Dewan Pembina Yaptinu, Baznas Jepara dan Dewan Mufti Indonesia.

Kiai yang mengaji dengan KH Muslim (Jepara) hal syariat, KH Muslih (Mranggen) bab thariqah dan qur’an dengan KH Arwani (Kudus) lanjut santri asal Desa Batu Kali itu telah menyusun kitab semisal Sabilul Huda berisi amaliah NU dan Qolbil Qur’an isinya intisari al-Qur’an.  

Hal lain yang patut diapresiasi tatkala Kiai memperoleh penghargaan dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bidang toleransi agama. “Waktu itu, Kiai mendirikan masjid di tengah-tengah pemukiman nasrani desa Samigaluh Kulon Progo Yogyakarta,” jelas Ansori.

Kini, almarhum meninggalkan istri Nyai Sholihatun dan 1 putri Nurul Hikmah (2). Kiai juga mewariskan beberapa unit di Yayasan Al-Falah Kalinyamatan diantaranya pesantren putra-putri, balai pengobatan, koperasi, madrasah diniyyah, tarbiyah thoriqoh qodiriyah wanaqsabandiyah, Madrasah Ibtidaiyyah Terpadu, wajar dikdas, kejarpaket dan ma’had ali. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 12 Desember 2017

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca

Oleh Robiatul Adawiyah



Suatu hari A membagikan sebuah artikel yang memiliki judul bombastis sembari berkomentar “Terjadinya Hari Kiamat Di 2012” adalah sebuah bukti bahwa yang membuat sebuah artikel merupakan (orang dalam/orang dekat) dari Tuhan, atau ia sempat mengintervensi Tuhan.

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)
Budaya Komentar di Era Krisis Membaca (Sumber Gambar : Nu Online)

Budaya Komentar di Era Krisis Membaca

Temannya, B berkata, “Bro, yakin itu berita benar?”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

A membalas, “Nggak tau, bro, gw nggak baca, cuma share doang.”

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

B lalu mengambil novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan dan ngegebukin A sampai otak A keluar, lalu B mengambil otak A buat dijual di Tokopedia.

Banyak orang seperti ini di media sosial. Orang-orang yang tidak pantas hidup, yang suka membagikan artikel-artikel bernada bombastis tanpa membaca sepatah kata pun yang ditulis. Atau yang lebih bodoh lagi, suka asal berkomentar padahal belum membaca keseluruhan isi berita/artikel.

Peristiwa di atas menandakan bahwa masih banyak keberadaan masyarakat takhayul dan masyarakat ilmiah. Banyak terdapat gejala-gejala tak masuk akal sejak budaya media sosial mulai berkembang.

Orang menjadi semakin mudah mengedarkan segala macam perkataan, mulai dari kabar serius, desas-desus politik, kabar burung, takhayul, cerita gaib, perang ideologi, rasisme dan lain hal sebagainya.

Peristiwa tersebut disebabkan karena memeriksa suatu kabar membutuhkan jerih payah yang lebih dari pada harus menyebarluaskan berita lewat sosial media. Teknologi dengan cepat melahirkan budaya komentar, dan siapapun boleh komentar. Tak peduli komentar itu melukai seseorang atau tidak, yang dapat membuat seseorang saling membenci, mengancam bahkan saling membunuh.

Melihat kenyataan tersebut, haruskah kita melarang seseorang untuk menggunakan teknologi? Atau apakah semua orang harus menjadi seorang ilmuwan yang dapat menggunakan banyak metode? dengan keahlian detailnya. Jawabannya adalah “Tidak”. Setiap orang hanya perlu berpikir dan bertindak dengan masuk akal.

Ilmu pengetahuan adalah salah satu cara untuk mengetahui. Mengapa disebut salah satu, agar hal tersebut tidak dimaknakan untuk mengalahkan segalanya. Sebab ada realitas yang tidak bisa dijangkau hanya sebatas dengan ilmu.

Melihat keadaan tersebut, dapat dipengaruhi oleh tingkat minat baca seseorang. Minat baca Indonesia itu rendah. Studi menunjukkan Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara yang disurvei oleh Central Connecticut State University. Indonesia hanya sedikit lebih baik daripada Botswana, tapi jauh di bawah negara-negara ASEAN lainnya.

Kenapa bisa begini? Ini pasti salah Jokowi. Memang mudah menyalahkan pihak eksternal. Namun, kurangnya budaya membaca ini sebuah permasalahan yang kompleks yang tidak bisa ditinjau dari satu sisi saja.

Di satu sisi, kebiasaan membaca tidak ditanamkan secara mendalam saat pendidikan dasar. Budaya membaca hanya berhenti sebatas jargon yang ditempel atau dipasang di banner atau baliho atau papan besi di sekolah. “Budayakan membaca”, begitu slogan yang sering ditemui dulu waktu kecil. Namun dalam praktiknya, hampir tidak ada insentif sama sekali untuk membaca buku di luar buku teks pelajaran. Siswa Indonesia baca buku hanya untuk mengetahui materi yang akan diujikan nanti, lalu membuat rumus-rumus cepat supaya nggak perlu liat buku. Guru juga hanya sebatas menguji daya ingat dengan menggunakan soal pilihan ganda, tanpa memberikan kesempatan siswa untuk mengungkapkan pendapatnya sendiri. Lalu, buat apa repot-repot baca buku banyak-banyak, toh materinya nggak keluar di ujian? Kebiasaan ini membuat siswa menjadi robot yang hanya berpikir dari satu sisi saja.

Keadaan tersebut sayangnya dijumpai pada materi pelajaran Bahasa Indonesia yang didominasi soal pilihan ganda, padahal seharusnya pertanyaan ilmu bahasa itu seharusnya interpretatif. Siswa hanya diberikan sebuah cuplikan atau kutipan teks dan memilih makna teks tersebut dari empat pilihan yang ada. Siswa tidak diberikan kesempatan, atau insentif, untuk membahas teks tersebut sesuai pandangan subjektifnya. Akhirnya, siswa tidak berminat untuk menggali lebih lanjut cuplikan tersebut.

Keadaan tersebut juga sering dijumpai di lingkungan kampus. Mahasiswa juga terkadang malas mencari sumber-sumber referensi yang ‘lebih’, dan terlalu bergantung dengan materi slide-slide PowerPoint dosen. Seakan materi di PowerPoint adalah mutlak dan tidak perlu mengembangkan wawasan lagi.

Terkadang, perpustakaan di sekolah dan kampus hanya sebuah formalitas. Di kampus, sebagian besar area perpustakaan dialihfungsikan menjadi meja buat laptop. Hanya sedikit buku-buku yang tertampung. Itupun mungkin jarang disentuh orang-orang kecuali saat ujian tengah/akhir semester. Di luar itu, buku-buku tersebut menganggur.

Lalu ada juga faktor ekonomi. Tidak dapat dipungkiri, lebih dari 50% masyarakat hidup di bawah garis kemiskinan. Boro-boro beli buku, beli makan buat besok aja pusing.? Perlu diakui bahwa membaca buku adalah sebuah privilege untuk orang-orang kelas menengah, jadi perlu dikesampingkan dulu orang-orang miskin. Buat kelas menengah, buku belum menjadi prioritas utama. Mungkin nomor sekian setelah gadget, paket data Internet, jatah nongkrong di kafe, dan bensin kendaraan. Buku-buku yang beredar di toko buku Indonesia masih relatif mahal, terutama buku-buku impor yang masih berbahasa Inggris. Di Gramedia, buku-buku terjemahan memang relatif lebih murah, namun tetap dirasakan ‘mahal’ bagi sebagian orang. Yang laku justru buku komik, self-help bernuansa Islami, dan buku-buku teori konspirasi Illuminati penuh bullshit.

Ada juga faktor sosial. Kehidupan sosial Indonesia cenderung condong pada budaya lisan dibanding budaya tulis. Dalam hal ini adalah kehidupan sosial, orang-orang lebih senang ngerumpi dibanding membaca. Orang yang membaca cenderung diolok-olok atau setidaknya disindir. Tekanan sosial membuat mereka terpaksa meletakkan bukunya dan ikut nimbrung. Dengan berkembangnya budaya lisan atau biasa disebut diskusi, akan lebih mudah mendapatkan sumber-sumber pengetahuan hanya sekedar “katanya dan katanya” tanpa peduli untuk meneliti terlebih dahulu mengenai kebenarannya.

Budaya komentar di era krisis membaca dapat mengakibatkan seseorang konservatif dalam berpikir namun radikal dalam tindakan. Persis seperti situasi nasional saat ini sejak beredarnya video di kepulauan seribu hingga datang putaran kedua.

Penulis adalah mahasiswi MPI STAI Az-Ziyadah Jakarta. Manusia yang baru menginjak kepala dua asal Jakarta (Betawi Asli), yang aktif menyandu kopi, berhobi tidur, dan jalan-jalan, dan senang bermain dengan perasaan.



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 11 Desember 2017

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan

Pamekasan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua PCNU Kabupaten Pamekasan KH Taufiq Hasyim hadir pada Tabligh Maulid Akbar dan Gema Shalawat di Desa Terrak, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan, Sabtu (3/12).

Pada pidato di acara yang digelar SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan tersebut, Kiai Taufiq menyampaikan tiga pesan penting kepada hadirin.

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga Pesan Ketua PCNU di SMP-SMA Maarif 1 Pamekasan

Pesan pertama berupa dorongan kepada SMP-SMA Maarif 1 untuk terus berada pada jalur kemajuan.?

Kiai Taufiq memberi apresiasi positif atas perkembangan lembaga tersebut yang tergolong pesat dan menjadi percontohan di Kota Gerbang Salam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kedua, ajaran Islam Ahlussunnah wal-Jamaah (Aswaja) harus kita terus pupuk. Islam yang mengedepankan maslahat, meski melekat dalam setiap sendi kehidupan kita," tegas Pengasuh Pesantren Sumber Anom, Pegantenan, Pamekasan tersebut.

Terakhir, Kiai Taufiq mengetengahkan pesan perlunya menjaga NKRI. Di negeri ini, kebebasan menjalankan ajaran agama Islam tidak dikekang. Spirit kebangsaan dan keagamaan melebur dan mengarah pada harmoni.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kita mesti terus kedepankan Islam yang ramah, bukan Islam yang marah. Itu sudah dicontohkan oleh para kiai dan para pejuang kemerdekaan di negeri tercinta ini," tegasnya. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, IMNU, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 November 2017

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Rais Syuriyah PBNU AGH M. Sanusi Baco memperoleh gelar Doktor Honoris Causa dalam bidang Hukum Islam pada Rapat Senat Terbuka Luar Biasa, Kamis (20/12) di Universitas Islam Negeri (UIN) Alauddin Makassar.

Tampak � hadir dalam penganugerahan itu antara lain Dr H M. Jusuf Kalla, Wakil Menteri Agama Nasaruddin Umar, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo dan Wagub Sulsel Agus Arifin Nu’mang.

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Syuriyah PBNU AGH Sanusi Baco Peroleh Doktor Honoris Causa

Dalam sambutan Promotor dan Co Promotor Prof Dr H. Minjahuddin MA dan Prof Dr H. Achmad Abubakar M.Ag. mengatakan, AGH Sanusi Baco dikenal sebagai ulama kharismatik dan merupakan tipe seorang ulama yang sejak awal kehidupannya tumbuh dan berkembang dalam tradisi pesantren.

â€Å“Beliau telah berupaya pengembangan Ilmu Perbandingan Mazhab, selaku dosen Fakultas Syariah IAIN Alauddin mengajarkan Ilmu Ushul Fikih dan Ilmu Fikih Perbandingan Mazhab. Ternyata ketiak Promovendus menjadi Ketua Jurusan Perbandinagan Mazhab Fakultas Syariah antara tahun 1977-1983," jelas Minhajudin.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Beliau telah berupaya mengembangkan Ilmu Fiqih Perbandingan Mazhab dengan mewajibkan bagi mahasiswa yang akan ujian akhir jurusan agar membaca salah satu buku referensi dalam Mata Kuliah, diantaranya, Kitabul Fiqh ‘ala Habbul Arba’ah (Mazhab Syafi’i), Bidayatul Mujtahid (Mazhab Maliki), Fiqh Hanbali, dan Fiqh Al Islamiyah Wa Adillatuhu (MAzhab Hanafi),” lanjutnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Metode perbandingan Mazhab juga diajarkan Promovendus kepada peserta Pendidikan Kader Ulama (PKU) yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Provinsi Sulawesi Selatan sejak tahun 1993 sampai sekarang.

Penyelenggaraan PKU tersebut dipusatkan di Masjid Raya Makassar dan Asrama PHI dan hingga kini sudah terlaksana sampai angkatan ke-15. Lulusan PKU tersebut ada yang melanjutkan studinya di Pasca Sarjana (S2-S3) UIN Alauddin Makassar, ada yang menjadi PNS, Pengusaha dan ada yang menjadi imam dan membina pesantren di daerahnya. Jelas Promotor beliau

AGH M. Sanusi Baco, Lc dikenal sebagai Ulama Kharismatik Sulawesi Selatan. Ia dikenal sebagai Rois Syuriah PWNU Sulsel dan Ketua MUI Sulsel, serta pada Muktamar NU 2009 di Makassar beliapun masuk dalam jajaran Rais Syuriyah PBNU.

Redaktur Â? Â? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Andy Muhammad Idris

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Makam, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 26 November 2017

Ribuan Santri Ikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Sunan Kudus

Kudus, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ribuan santri mengikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Kanjeng Sunan Kudus yang diselenggarakan oleh Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (Yapiq) Kudus, Ahad (3/4) pagi. Bupati Kudus H Musthofa melepas rombongan sepeda yang diselenggarakan dalam rangka Satu Abad Qudsiyyah Menara Kudus.

Tampak hadir Ketua Yapiq KH Em Nadjib Hassan, KH Noor Halim Maruf, Prof H Abdurrahman Masud, dan jajaran Forkopindo Kabupaten Kudus.

Ribuan Santri Ikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Sunan Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Ikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Sunan Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Ikuti Sepeda Santai Napak Tilas Laku Sunan Kudus

KH Nadjib Hassan menjelaskan kenapa sepeda santai ini memakai napak tilas laku kanjeng Sunan Kudus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Bahwa Qudsiyyah ini didirikan Mbah KHR Asnawi pada tahun 1337 H, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Mbah KHR Asnawi adalah cucu ke-19 Sayid Jafar Shadiq (Sunan Kudus,). Jadi kalau kemudian Qudsiyyah ini dikaitkan dengan mbah Sunan Kudus, nyambungnya dengan Muassis Qudsiyyah Mbah KHR Asnawi," terang Ketua Lembaga Bathsul Masail Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (LBM PBNU) ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bupati Kudus H Musthofa mengapresiasi sepeda santai napak tilas laku Kanjeng Sunan Kudus ini. Ia berharap tradisi napak tilas Sunan Kudus ini bisa diagendakan setiap tahunnya.

"Tradisi untuk memperingati napak tilas ini, harapan kami tidak hanya untuk satu abad, tetapi mari kita bersama-sama untuk selalu kita peringati setiap tahunnya, dan saya akan perintahkan dinas pariwisata dan DPRD Kudus diagendakan," tegasnya.

Musthofa memaparkan bahwa Pemkab Kudus sudah mengimplementasikan tradisi Gusjigang yang diwariskan dari kanjeng Sunan Kudus.

"Pertama saya menancapkan bahwa Kudus ini menjadi paku pendidikan, kedua bagaimana kesehatan itu bisa kita gratiskan mulai dari puskesmas sampai RSUD (Rumah Sakit Daerah Umum) Kudus walaupun tidak pakai kartu, yang penting warga Kudus, dan yang ketiga pemberdayaan ekonomi kerakyatan adalah implementasi dari pada Gusjigang," tandasnya.

Seperti yang kita ketahui bahwa tema besar Satu Abad Qudsiyyah ialah "Membumikan Gusjigang untuk Kemandirian Bangsa". Yang dimaksud Gusjigang ialah bagus akhlaq dan tingkah lakunya, pinter ngaji atau beribadah haji, dan pandai berdagang atau mandiri.

Dalam kesempatan ini, panitia membagikan hadiah 21 sepeda gunung, 3 kambing, dan ratusan hadiah hiburan lainnya. Selain kegiatan sepeda santai napak tilas laku kanjeng Sunan Kudus, kegiatan lainnya juga bakal digelar yakni Khotmil Quran 100 khataman, 100 ribu surat Al-Ikhlas, dan bancaan 100 ingkung yang akan diselenggarakan di kompleks makam Menara Kudus, Selasa (5/4) malam.

Madrasah Qudsiyyah Menara Kudus merupakan madrasah salaf yang didirikan oleh KHR Asnawi Kudus, salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama dari Kudus. Madrasah Qudsiyyah resmi berdiri pada tahun 1337 H. (Yusrul Wafa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Hadits, Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 12 November 2017

Gadis Palestina Pecahkan Rekor Dokter Termuda Dunia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Eqbal Mahmoud, seorang gadis asal Palestina tercatat memecahkan rekor Guinnness Book sebagai dokter termuda di dunia. Eqbal yang belum genap berusia 20 tahun itu telah menyandang gelar dokter dari Weill Cornell Medical College di Qatar, yang merupakan salah satu perguruan tinggi kedokteran terbaik di dunia.

Gadis Palestina Pecahkan Rekor Dokter Termuda Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Gadis Palestina Pecahkan Rekor Dokter Termuda Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Gadis Palestina Pecahkan Rekor Dokter Termuda Dunia

Ini adalah rekor kedua yang dipecahkan oleh Eqbal. Sebelumnya, gadis manis ini memecahkan rekor sebagai mahasiswi termuda di dunia, di mana ia masuk ke bangku fakultas kedokteran di Weill Cornell Medical College di Qatar ketika masih berusia 13 tahun.

Apa rencana Eqbal setelah ia lulus dan menjadi dokter lulusan salah satu perguruan tinggi kedokteran bergengsi di dunia itu? Apakah ia akan melanjutkan kehidupannya di Qatar yang bergelimpang kemakmuran?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak, ternyata. Eqbal mengatakan ia akan kembali dan pulang ke kampung halamannya di Palestina meskipun kondisi tanah airnya sedang dilanda konflik berkepanjangan. 

"Sekarang sudah tiba saatnya untuk memulai perjuangan dengan nyata. Saya akan kembali pulang ke negara saya. Saya akan pulang membawa ilmu dan prestasi, bukan membawa senjata," kata Eqbal sebagaimana dilansir surat kabar al-Arab (25/5). 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Eqbal, selain nanti akan menjadi dokter di kampung halamannya, ia juga ingin menjadi tenaga pendidik bagi anak-anak di sana. 

"Saya tidak meminta sesuatu, tetapi saya harus berbuat dan memberi sesuatu," kata Eqbal.

Ditambahkannya, salah satu mimpi besarnya adalah membantu anak-anak Palestina untuk mendapatkan pendidikan, ilmu pengetahuan dan layanan kesehatan yang layak.

Eqbal juga memiliki rencana lain untuk melanjutkan jenjang pendidikannya ke tingkat yang lebih tinggi. Rencananya, Eqbal hendak melanjutkan program spesialis dokter anak.

Penulis; Ahmad Syifa

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 08 November 2017

Kelemahan Pengelolaan Organisasi Jadi Perhatian GP Ansor Gerokgak

Buleleng,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam momentum Ramadhan ini, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali mengadakan pembekalan keorganisasian dan administrasi kepada seluruh Pimpinan Ranting.

Kelemahan Pengelolaan Organisasi Jadi Perhatian GP Ansor Gerokgak (Sumber Gambar : Nu Online)
Kelemahan Pengelolaan Organisasi Jadi Perhatian GP Ansor Gerokgak (Sumber Gambar : Nu Online)

Kelemahan Pengelolaan Organisasi Jadi Perhatian GP Ansor Gerokgak

Kegiatan yang berlangsung di gedung NU Kecamatan Gerokgak pada Sabtu, 18 Juni 2016 ini bertujuan memberikan pemahaman keorganisasian secara menyeluruh.

Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Gerokgak Abdul Karim Abraham mengatakan, kelemahan organisasi di tubuh NU adalah persoalan pengelolaan (manajerial) organisasi. Hal itu seringkali menyebabkan tugas-tugas atau bahkan target organisasi tidak bisa dicapai dengan maksimal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menambahkan, kebanyakan pemuda yang bergabung dengan Ansor ini lebih pada alasan ikatan emosioanal. “Sehingga mereka bergabung hanya sekadar ngumpul-ngumpul, yang kemudian memunculkan fanatisme buta, yang tergadang berperilaku reaksioner,” jelasnya. ?

Oleh karenanya, menurut dia, pada moment tersebut pengurus Ranting diberikan pemahaman-pemahaman kesejarahan dan visi organisasi yang harus dicapai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada pembekalan yang dimulai pukul 16.00 Wita ini, panitia memberikan beberapa materi, di antaranya Sejarah GP Ansor, Ketertiban Administrasi Organisasi, Job Discribtion, dan tata cara penyusunan program kerja.

Karim juga mengingatkan kepada Pimpinan Ranting untuk terus melakukan komunikasi dengan Ranting NU dan Muslimat di masing masing desa. Sebab, jangan sampai kegiatan yang diadakan oleh Ranting GP Ansor berbenturan dengan agenda yang sudah ada. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah