Senin, 18 Maret 2013

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kontribusi positif dan aktif mahasiswa untuk mengabdi dalam pembangunan desa sangat penting. Karena itu, Mahasiswa harus aktif dan berani menyuarakan semua aspirasi untuk memperkaya proses pengambilan kebijakan di desa-desa.

Hal ini disampaikan Menteri Desa, PDT, dan Transmigrasi saat menghadiri Konfrensi Nasional III Inovasi Lingkungan Terbangun Restorasi Permukiman Desa-Kota yang dihadiri mahasiswa dari berbagai Universitas di Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta, Senin (12/10).

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa! Mengabdilah di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa! Mengabdilah di Desa

Marwan menegaskan, salah satu kelemahan paling berat dalam proses pembangunan desa selama ini adalah lemahnya peran dan pemberdayaan masyarakat. Masyarakat desa biasanya hanya jadi subjek yang tidak banyak dilibatkan, baik dalam perencanaan, pelaksanaan, maupun dalam pengelolaan pembangunan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Ini semua problem lama yang harus kita dobrak. Bersyukur sudah ada UU Desa yang memposisikan masyarakat desa sebagai pemeran utama dalam pembangunan nasional. Desa sudah jadi pelaku pembangunan yang didukung perangkat kuat serta dana desa yang besar," ujar Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian Nahdlatul Ulama (LPPNU) ini.

Mahasiswa, lanjut Marwan, harus ikut menjadi bagian dari proses pemberdayaan masyarakat desa. Karena itu, jika sudah lulus, mahasiswa jangan pergi ke kota tapi bangunlah desa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Pemerintah pasti mendengar apa yang disampaikan mahasiswa karena pikiran positif dari perguruan tunggi akan jadi rujukan dalam membuat kebijakan yang konstruktif," jelas Marwan.

Tak lupa, pria asal Pati, Jawa Tengah ini juga meminta rekomendasi dari mahasiswa yang konstruktif demi pemberdayaan masyarakat desa. Termasuk dalam proses penataan ruang desa yang selama ini sangat lemah.

Dalam sistem perencanaan tata ruang, katanya, kelemahan yang dirasakan karena selama ini kebijakan pemerintah kurang menjadikan masyarakat sebagi subjek dalam perencanaan. Kemudian pelaku pembangunan tidak terbuka dalam proses penataan ruang. Juga karena rendahnya upaya pemerintah dalam memberi informasi akuntabilitas tentang penataan ruang. “Bahkan sinergi antara swasta dan masyarakat kurang optimal dalam tata ruang pembangunan," tandas Marwan. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 Maret 2013

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Grebek Mulud yang digelar di halaman Masjid Agung Surakarta, Senin (12/12), menandai puncak perayaan tradisi Sekaten. Dalam acara yang dihelat untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. itu diarak dua gunungan, Jaler-Estri.

Prosesi dimulai saat Gunungan Jaler-Estri dan empat Gunungan Anakan dikirab dengan rute dari Keraton Solo melewati Sithinggil menuju Masjid Agung Solo. Kirab Gunungan itu keluar dari Keraton melalui Kori Kamandungan.

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)
Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan (Sumber Gambar : Nu Online)

Grebeg Mulud Simbol Kelahiran Sang Pembawa Kesejahteraan

Usai didoakan, gunungan-gunungan tersebut langsung diserbu pengunjung. Sebagian pengunjung percaya, isi gunungan yang telah didoakan tersebut membawa keberkahan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pengageng Kusumawa Wandawa Keraton Solo, KGPH Puger mengatakan, kirab Gunungan Jaler-Estri dalam Grebek Mulud menggambarkan keberadaan laki-laki dan perempuan yang kemudian melahirkan keturunan. “Lahirnya Nabi Muhammad SAW simbol sejahtera, mampu menyejahterakan umat.” terang Puger.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Tafsir Anom K.R.T. Muhammad Muhtarom, menambahkan Tradisi Sekaten ini merupakan salah satu produk dari proses internalisasi Islam dengan budaya. “Konsep ini digagas oleh Sunan Kalijaga, sebagai media dakwah Islam yang penuh kearifan dan jauh dari sikap intervensi,” tutur dia.

Grebek Mulud sendiri merupakan tradisi yang tidak hanya diselenggarakan di Solo. Tradisi ini juga diadakan di daerah lain, antara lain Yogyakarta dan Demak. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah