Selasa, 29 November 2016

10.000 Kader Muslimat NU Banjiri Pembukaan Kongres Hari Ini

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pembukaan Kongres Ke17 Muslimat NU digelar hari ini, Kamis (24/11) di Gedung Serba Guna 2 Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Sekitar 10.000 kader Muslimat NU dari seluruh Indonesia termasuk peserta kongres hadir untuk menghadiri pembukaan hajatan lima tahunan itu.

10.000 Kader Muslimat NU Banjiri Pembukaan Kongres Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
10.000 Kader Muslimat NU Banjiri Pembukaan Kongres Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

10.000 Kader Muslimat NU Banjiri Pembukaan Kongres Hari Ini

“10.000 kader dan anggota Muslimat NU akan menghadiri pembukaan,” ujar Wakil Ketua Steering Commitee Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Rabu (23/11).

Sebelumnya, Ketua Umum PP Msulimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa telah mengonfirmasi kepastian bahwa Kongres akan dibuka oleh Presiden, Penglima TNI, dan Ketua Umum PBNU.

“Insyaallah besok pagi jam 9 (hari ini, red), kami sudah mendapat konfirmasi, Presiden berkenan membuka Kongres, selanjutnya sambutan dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo,” ujar Khofifah.

Dalam penutupan Kongres yang akan dilaksanakan 27 November nanti, lanjutnya, Wapres JK dan Rais Aam PBNU akan menutup kegiatan lima tahunan ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofifah juga menjelaskan, ada 4 menteri dari Kabinet Kerja yang juga akan hadir dalam pembukaan besok. Menteri-menteri tersebut diantaranya, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Menkes Nila F Moeloek, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menkop Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, termasuk Kementerian Sosial.?

Kongres ke-17 Muslimat NU yang mengambil tema Dengan Semangat Islam Nusantara, Kita Wujudkan Indonesia Damai Sejahtera ini dihadiri oleh 34 Pengurus Wilayah, 525 Pimpinan Cabang, dan 4 Pengurus Cabang Istimewa.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum pembukaan Kongres hari ini, seluruh peserta menggelar Malam Ta’aruf, Rabu (23/11). Dalam acara tersebut, seluruh peserta diberikan pengarahan oleh Ketua Panitia Kongres Hj Mursyidah Tahir dan Khofifah. Malam Ta’aruf juga dimeriahkan oleh penampilan penyanyi klasik Dewi Yull. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Kyai, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 27 November 2016

Ribuan Warga Kunjungi Haul Syekh M Nawawi Banten

Serang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ribuan warga menghadiri Haul Ke-124 Al-Maghfurlah Syekh Nawawi Al-Bantani di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata), Serang, Jumat (21/7) malam. Mereka hadir tanpa diundang untuk mendoakan Syekh Nawawi yang menjadi guru besar para kiai Nusantara.

KH Ahmad Syauqi Maruf Amin, turunan ke empat dari Syekh Nawawi mengatakan, meski kakek buyutnya itu wafat dan dimakamkan di Mala, Mekkah Al-Mukarramah, tetapi hari wafatnya diperingati setiap akhir Syawwal di tempat lahirnya, di Desa Tanara, Serang.

Ribuan Warga Kunjungi Haul Syekh M Nawawi Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Kunjungi Haul Syekh M Nawawi Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Kunjungi Haul Syekh M Nawawi Banten

"Haul ini adalah tradisi yang berjalan puluhan tahun lalu. Umat Islam dari berbagai daerah di Nusantara biasa berziarah ke rumah tempat lahir syekh, memperingati haulnya setiap akhir Syawwal," kata Pengasuh Penata itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Warga yang hadir, kata Syauqi, datang tanpa diundang karena mereka tahu bahwa setiap akhir Syawwal di Tanara haul digelar oleh keluarga.

Pada haul Syekh Nawawi tahun ini, Presiden RI Joko Widodo hadir bersama sejumlah Menteri Kabinet Kerja II. tampak hadir Menteri Agama H Lukman Hakim, Menteri BUMN Rini Suwandi W, Menteri PU Budi Karya, Gubernur Banten Wahidin Halim, Walikota Bandung Ridwan Kamil. Mereka mengapresiasi kegiatan tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Peringatan haul ini merupakan penghormatan masyarakat Nusantara untuk beliau. Mungkin karena tak berkesempatan berziarah dan menggelar haulnya di Mala, masyarakat berinisiatif menggelarnya di tempat kelahiran beliau," tambah Syauqi.

Haul ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan tahlil bersama yang ditutup dengan ceramah agama oleh Pengurus MUI KH Cholil Nafis. (Abdul Malik Mughni/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 19 November 2016

Makesta IPNU-IPPNU Bandung di Kertasari

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 100 pelajar dari kecamatan Pacet dan kecamatan Kertasari kabupaten Bandung, mengikuti kaderisasi Makesta IPNU-IPPNU Bandung. Kaderisasi selama dua hari ini sejak Sabtu-Ahad (31/5-1/6) dipusatkan di pesantren Nurul Huda desa Cibeureum, kecamatan Kertasari, Bandung.

Turut hadir dalam pembukaan Wakil Sekretaris PCNU kabupaten Bandung H Saepuloh dan Kades Cibeureum Atep. Tampak di jajaran depan Pimpinan pesantren Nurul Huda yang juga Ketua MWCNU Kertasari KH Asep Syarifulloh dan beberapa pimpinan Pergunu, GP Ansor, dan Pagarnusa, serta PW IPNU Jawa Barat.

Makesta IPNU-IPPNU Bandung di Kertasari (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta IPNU-IPPNU Bandung di Kertasari (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta IPNU-IPPNU Bandung di Kertasari

KH Asep Syarifulloh berharap, setelah Makesta ini PAC IPNU-IPPNU di Kertasari segera terbentuk.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara menurut Ketua IPPNU kabupaten Bandung Ida, Makesta merupakan kaderisasi tahap awal menuju perekrutan dan pengenalan anggota terhadap organisasi IPNU-IPPNU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kegiatan ini diharapkan dapat mempertegas perjuangan pelajar putra dan putri Nahdlatul Ulama," tutur Ida.

H Saepuloh dalam sambutan mengharapkan kontinuitas kaderisasi di setiap kecamatan. Karena, hakikatnya gerakan NU terletak pada Lembaga, Lajnah dan Banom.

Menurut H Saepuloh, PCNU kabupaten Bandung sedang melaksanakan 4 program utama. Program itu meliputi pendidian, penerbitan, perekonomian, dan keanggotaan.

“Pendidikan bagi pelatih kader penggerak PCNU dengan 400 alumni, pengelolaan website www.pcnu-bandung.com di mana warga NU bisa daftar Kartanu serta anggota Pergunu secara online, penerbitan majalah Nahdliyatuna serta buku tentang argumentasi amaliah NU serta perekonomian dalam bidang pengembang koperasi. (Awis Saepuloh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 13 November 2016

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

Lombok Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Di perbatasan wilayah dua negara, akan didapati aneka cerita inspiratif tentang perjuangan dan dedikasi warga Nahdliyin. Seperti dikisahkan Katib Syuriah PCNU Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Irham Anwar kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di sela-sela perhelatan Pra-Muktamar di Lombok, Kamis-Jumat (9-10/4).

Irham mengatakan, Malaka merupakan pemekaran dari Kabupaten Belu yang masuk wilayah Provinsi NTT. Untuk menuju kabupaten yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste ini bisa ditempuh perjalanan darat selama empat jam perjalanan dari Kota Atambua.

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

“Kami kalau mau keluar negeri dekat sekali. Sebab, dari tempat kami ke Timor Leste cuma dua jam perjalanan mobil. Kalau ke Australia memang harus langgar (menyeberang-red) laut,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dia, persoalan penduduk asli di sana yang banyak muallaf itu terkait kesejahteraan. Jika dilihat, masalah mereka hanya soal ekonomi. Meski demikian, di tiap-tiap paguyuban atau kelompok ada kegiatan tahlilan, pengajian, dan lain sebagainya. “Itulah kenapa saya semangat mendirikan NU di sana,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melihat geliat warga Nahdliyin di Malaka, Irham bersama beberapa temannya kemudian memproses pendirian kepengurusan cabang. “Prosesnya masih terus berlangsung, ini baru kami bentuk,” ujarnya.

Beberapa pekan setelah berdiri kabupaten baru, Irham langsung bergerak cepat ke desa-desa setempat. “Kami merasa sangat dihargai karena baru membentuk Tim 9 setelah itu langsung dapat SK. Meski SK sudah turun, tapi kami belum dilantik. Sepulang dari sini nanti kami akan bekerja keras untuk mengadakan pelantikan,” tuturnya.

Irham mengaku datang ke pra-muktamar ini melalui proses cukup panjang. Bersama Ketua Tanfidziyah PCNU Malaka Zaenal Muttaqin, ia merasa bahagia bisa turut serta bertemu para alim ulama. Pria asal Kabupaten Bima, NTB ini mengaku telah mengenal NU sejak lahir. Di tempat kelahirannya, Pulau Sumbawa, memang banyak warga NU.

Ditanya soal tantangan kaum muslimin khususnya warga Nahdliyin di daerahnya, Irham mengaku tidak ada masalah berarti soal hubungan antaragama.

“Alhamdulillah baik-baik saja. Meski di sana mayoritas Kristen, tapi mereka menerima kami. Tak ada persoalan mayoritas dan minoritas. Justru yang minor dilindungi yang mayor. Saat Idul Fitri kami dikawal saat pawai takbir keliling. Nah, ini bagusnya di sana,” ungkapnya.

Di Malaka, lanjut Irham, terdapat ormas Islam lainnya. Namun, NU yang paling menonjol. “Setelah kami blusukan, ternyata justru NU yang tampak. Ini terlihat dari kegiatan mereka. Selain tahlilan, kegiatan seperti Muslimat juga ada. Mungkin belum dapat SK dari pusat, tapi sudah dibentuk. Karena ibu-ibu itu punya kegiatan paten seperti arisan, pengajian mingguan, dan bulanan,” ujarnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 11 November 2016

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil

Judul Buku : Tahlil dan Kenduri; Tradisi Santri dan Kiai

Penulis : H.M. Madchan Anies

Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan : I, Februari 2009

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil

Tebal : xii + 180 halaman

Peresensi : Abdul Halim Fathani Yahya*)


Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Umat Islam di Indonesia khususnya warga NU (Nahdliyin) telah mentradisikan tahlil dalam berbagai hajatan, seperti yang biasa dilaksanakan 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari dari kematian keluarga/tetangganya. Di kalangan pesantren, santri dan keluarga ndalem biasanya menyelenggarakan acara haul untuk melakukan “kiriman doa” kepada kiainya yang telah meninggal dunia. Tentang tahlil, sebagian masyarakat kita masih terkotak pada dua kelompok pro dan kontra. Ada yang menganggap bahwa tahlil merupakan tradisi baru, yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW, mereka menganggap tradisi tahlil sebagai bid’ah, sehingga tidak selayaknya sebagai seorang muslim untuk mengamalkannya. Sementara, di pihak lain (baca: kaum Nahdliyyin), meski sebagian dari mereka belum tahu persis landasan hukumnya, namun hal ini tidak mengurangi semangatnya untuk mengamalkan tahlil.

Tradisi tahlilan merupakan salah satu hasil akulturasi antara nilai-nilai masyarakat setempat dengan nilai-nilai Islam, di mana tradisi ini tumbuh subur di kalangan Nahdliyyin. Sementara ormas-ormas lainnya cenderung memusuhi bahkan berusaha mengikisnya habis-habisan. Seakan-akan tradisi tahlilan menjelma sebagai tanda pembeda apakah dia warga NU, Muhammadiyah, Persis, atau yang lainnya. Terjadinya polemik tentang tahlil tersebut, tentu bisa berdampak pada rusaknya ikatan kekeluargaan antar muslim, seperti saling menuduh dan menyesatkan kelompok lainnya, timbulnya rasa curiga yang berlebihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memang, -harus dipahami- tahlil sampai saat ini masih menjadi masalah khilafiyah yang harus diterima dengan lapang dada. Ritual tahlil memang tidak dituntunkan oleh Rasulullah SAW, sehingga bukan merupakan bentuk ibadah mahdhah, bukan ibadah khusus. Ritual tahlil ini sekedar amalan baik yang memiliki keutamaan dan faedah. Bila faedah dari amalan tahlil ini dapat menghantarkan umat untuk tergerak menjalankan syariat-syariat yang wajib, bahkan lalu menjadi sarana utama dan pertama juga agar warga tergerak; maka tradisi tahlil tentu dapat menjadi sarana strategi dakwah umat Islam.

Tetapi, ada beberapa hal yang menjadi koreksi bagi penganut tradisi tahlil. Adalah mayoritas jamaah yang pro-tahlil ini hanya sedikit yang mengerti pijakan hukum tentang tradisi tahlil. Oleh karenanya, diharapkan dengan terbitnya buku ini dapat menambah referensi tentang tahlil. Sehingga dapat menambah keyakinan dan kemantapan hati dalam setiap mengamalkan tahlil. Karena, jika kita mengamalkan sesuatu yang disertai dengan pemahaman landasan hukum yang kuat dan benar tentu akan dapat membuat hati lebih mantap dan yakin.

Melalui buku ini, penulis mengupas secara gamblang terkait tahlil. Bagian awal, diberikan penjelasan beberapa istilah seputar tahlil, yakni zikir, selamatan, kenduri, dan berkat. Istilah tersebut dijelaskan secara detail mulai dari asal katanya hingga landasan hukumnya. Di bagian kedua, penulis memberikan wawasan kepada pembaca terkait dengan amal saleh, meliputi shalat, puasa, sedekah, berdoa, membaca al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi, dan zikir. Untuk mengantarkan pembaca dalam rangka memahami tahlil dan seluk-beluknya, di bagian tiga diuraikan tentang hadiah pahala yang membahas bagaimana menerima pahala amal sendiri, menerima manfaat dari amal orang lain, memeroleh manfaat dari syafaat, menghadiahkan pahala amal, ahli kubur selalu menunggu “kiriman”, dan berziarah kubur dan manfaatnya. 

Adapun kerangka atau rangkaian dasar bacaan tahlil dan urut-urutannya dapat dibaca pada bagian empat. Madchan Anies memaparkan ada sembilan bagian pokok dalam tahlil, yaitu 1) tentang hadrah dan al-Fatihah; 2) surat al-Ikhlas, al-Mu’awwidzatain, dan al-Fatihah; 3) tentang permulaan surat al-Baqarah; 4) tentang surat al-Baqarah 163 dan ayat kursi; 5) tentang ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah; 6) tentang bacaan tarhim dan tabarruk dengan surat Hud 73 dan al-Ahzab 33; 7) tentang shalawat, hasbalah, dan hauqolah; 8) tentang bacaan istighfar, tahlil, dan tasbih; dan 9) tentang doa  penutup tahlil. Penulis melengkapi pada bagian empat ini dengan menjabarkan keutamaan kalimat-kalimat suci tersebut dalam setiap bagian tahlil. Sementara di bagian akhir, penulis menambahkan hal-hal yang terkait dengan tahlil, meliputi kenduri (ambengan), membaca surat Yasin, Fidyah, dan Fida’ atau Ataqah.

Kiranya, buku ini perlu juga dibaca bagi pembaca yang “merasa” kontra terhadap tradisi tahlil. Setidaknya agar mereka membuktikan sendiri bahwa tradisi yang dipraktikkan oleh saudara mereka (baca: warga Nahdliyyin) juga memiliki pijakan dalil syar’i yang kuat. Walhasil, dengan memahami tahlil berikut landasannya, diharapkan akan tercipta sikap saling pengertian demi terwujudnya penguatan persaudaraan antar sesama. Semoga!

*) Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Saat ini aktif di Lingkar Cendekia Kemasyarakatan (LACAK) Malang
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Quote, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah . Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Mranggen Demak turun ke basis-basis (turba) pelajar NU untuk melakukan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). 

Turba mereka pada Ahad (1/3) ke Makesta yang diadakan Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Kebonbatur di MA Miftahul Ulum Tlogorejo Karangawen Demak. Kegiatan tersebut diikuti 80 pelajar.

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa

Setelah mengikuti Makesta, pelajar dibaiat atau disahakan menjadi anggota IPNU-IPNNU oleh Ketua PAC IPNU Mranggen Ahmad Syaifuddin. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada sambutannya, Ahmad berharap para pelajar yang tergabung di IPNU dan IPPNU tersebut makin mantap berorganisasi, setia di bawah panji IPNU-IPPNU yang berlandaskan Ahlussunah wal Jama’ah dan setia pada NKRI. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terpisah, Ketua Pimpinan Cabang IPPNU Demak Istiqomah menegaskan, semangat “belajar, berjuang, dan bertaqwa” harus senantiasa kita tanamkan keapada pelajar NU agar segala langkah IPNU dan IPPNU mendapat dukungan semua pihak.

Pada kegiatan tersebut, hadir Ketua PC IPNU Demak Abdul Halim bersama pengurus lain, serta perwakilan Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Tengah Shohibul Anam, Pembina IPNU M Said Athoillah, dan lain-lain. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 03 November 2016

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wewenang Kementerian Agama sebagai regulator sekaligus operator penyelenggaran haji seperti diatur dalam Undang-Undang nomor 13 tahun 2008, perlu dibatasi. Rangkap tugas semacam ini tidak relevan di era tata kelola pemerintahan yang kini dituntut profesional, akuntabel, dan transparan kepada publik.

“Monopoli kewenangan dan kebijakan yang begitu besar terhadap sebuah institusi rentan disalahgunakan dan dapat menyuburkan praktik korupsi,” kata Ketua Umum Komnas Haji Mustolih Siradj kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah per telepon, Selasa (27/5) siang.

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji

Menurutnya, tugas Kemenag saat ini sangat banyak meliputi penerimaan dana setoran calon jamaah, penyediaan transportasi baik darat maupun udara, pengadaan akomodasi, pemondokan, konsumsi, pembinaan, pengelolaan Dana Abadi Umat, sekaligus regulator.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Terlalu besarnya beban kerja, penyelenggaran haji selama ini dikeluhkan masyarakat karena masih jauh dari transparansi dan profesionalitas utamanya terkait dana calon jamaah yang ? saat ini sudah mencapai Rp 64 triliun,” jelas Mustolih.

Sebagai jalan keluar karut-marut ini, Kemenag di masa mendatang harus diposisikan sebagai regulator dan pengawas saja. Aparatur pemerintahan jangan lagi menjalankan peran-peran operator. Solusi jangka panjangnya, perlu dibentuk badan khusus yang bertugas menyelenggarakan haji.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Mustolih, pembatasan fungsi hal ini sangat mungkin untuk dilakukan. ? Ia menunjuk pada kasus pengelolaan zakat dan wakaf. Dulu Kemenag juga mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) dari masyarakat.

Kemudian kewenangan itu dipangkas dengan lahirnya UU nomor 38 tahun 1999 ? yang digantikan oleh UU nomor 23 tahun 2011 terkait pengelolaan zakat. Urusan zakat selanjutnya diserahkan kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Begitu pula dengan kasus wakaf. Setelah lahir UU nomor 41 tahun 2004 pengelolaan wakaf dilimpahkan kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Kedua lembaga ini berada di bawah Presiden. Progres kedua lembaga itu terbilang baik dibanding ketika masih dijalankan Kemenag. “Semestinya pelimpahan wewenang ini bisa dilakukan untuk urusan haji dan umroh,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini.

Tapi gagasan seperti ini, lanjut Mustolih, tentu saja akan ditolak Kemenag. Karena, upaya seperti akan memangkas kewenangan dan hilangnya proyek triliun rupiah yang sudah berjalan bertahun-tahun.

“Saat ini Kemenag ngotot menggolkan RUU Pengelolaan Keuangan Haji agar bisa lebih leluasa menggunakan dana setoran calon jamaah. Tapi ironisnya, RUU itu tidak menyinggung sama sekali hak-hak calon jamaah haji,” pungkas Mustolih. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 02 November 2016

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Magelang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sinar Mentari pagi yang cerah menyambut ribuan guru yang mulai berdatangan ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Magelang, Sabtu 19 September 2015. Mereka menggunakan kaos putih berlengan hijau bertuliskan "Saatnya Maarifku bangkit" ini hendak mengikuti jalan sehat yang digelar pengurus Cabang LP Maarif NU Kabupaten Magelang dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-56 Lembaga Maarif NU.?

Kegiatan dengan melibatkan ribuan pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan NU tersebut, diharapkan bisa menumbuhkan sikap perjuangan dan pengorbanan untuk Nahdlatul Ulama, menyehatkan badan juga ? mengingatkan masyarakat tentang hari lahir Lembaga Maarif yang notabene mengurusi bidang pendidikan Nahdlatul Ulama.

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Bambang Ardiansyah, ketua Maarif NU Magelang mengatakan kegiatan ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Lembaga Maarif siap menerima amanah membantu mencerdaskan anak bangsa dalam bingkai Islam Ahlusunnah wal Jamaah sehingga ? diharapkan warga NU menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah maupun madrasah di bawah naungan Lembaga Maarif agar terhindar dari doktrinasi paham dan aliran sesat yang dalam beberapa tahun ini meluas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin mengajak para guru bersemangat mengajar agar mendapat kepercayaan masyarakat.

Ribuan guru ? sejak pukul 07.00 WIB sudah mulai berdatangan, dan memenuhi parkiran kantor PCNU dan sekitarnya. Acara sendiri dimulai jam 08.00 WIB dengan start dan finish di halaman kantor tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jalan sehat yang dilepas oleh Wakil Bupati Magelang tersebut mengambil rute mengelilingi desa Bojong kecamatan Mungkid kurang lebih sejauh 3 km. Diakhir acara panitia membagikan ratusan doorprize dan sebagai hadiah utama berupa TV LED, sepeda, kompor gas dan ratusan hadiah hiburan lainnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Olahraga, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah