Jumat, 30 Oktober 2015

Seknas Gusdurian Serukan Masyarakat Dukung Perjuangan Anti-Korupsi

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Seknas Jaringan GusDurian (JGD) mengajak masyarakat untuk turut bersama dalam mendukung perjuangan anti-korupsi. Hal tersebut disampaikan Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian Alissa Wahid berkaitan dengan peristiwa teror yang menimpa penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Selasa (11/4).

“Kami menganggap bahwa serangan dan intimidasi tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari upaya untuk melemahkan KPK serta menghalangi penanggulangan korupsi di Indonesia secara umum,” kata Alissa kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Seknas Gusdurian Serukan Masyarakat Dukung Perjuangan Anti-Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Seknas Gusdurian Serukan Masyarakat Dukung Perjuangan Anti-Korupsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Seknas Gusdurian Serukan Masyarakat Dukung Perjuangan Anti-Korupsi

Ditegaskan putri sulung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) itu, atas peristiwa tersebut Jaringan Gusdurian Indonesia menyatakan empat sikap sebagai berikut:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

1. Mengutuk keras serangan intimidasi terhadap Novel Baswedan dan KPK. Novel Baswedan sebagai penyidik berpestasi dan Ketua Wadah Pegawai KPK adalah salah satu figur penting dalam upaya pemberantasan korupsi di Indonesia.

2. Serangan ini adalah intimidasi terhadap upaya penegakkan hukum dalam pemberantasan korupsi, untuk melemahkan KPK dan menciptakan rasa takut kepada semua pihak yang menginginkan kasus-kasus korupsi dibuka dan diadili.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

3. Meminta aparat untuk segera menangkap pelaku dan mengusut tuntas peristiwa teror ini.

4. Menyerukan kepada masyarakat untuk terus memberikan dukungan kepada KPK dalam perjuangan pemberantasan korupsi di Indonesia. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, AlaNu, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 Oktober 2015

Fatwa MUI Larang Euthanasia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma`ruf Amin mengatakan bahwa MUI telah lama mengeluarkan fatwa yang mengharamkan dilakukannya tindakan Euthanasia (tindakan mematikan orang untuk meringankan penderitaan sekarat).

"Euthanasia, menurut fatwa kita tidak diperkenankan, karena itu kan melakukan pembunuhan," kata KH MA`ruf Amin di Jakarta, Jumat. Euthanasia dalam keadaan aktif maupun dalam keadaan pasif, menurut fatwa MUI, tidak diperkenankan karena berarti melakukan pembunuhan atau menghilangkan nyawa orang lain.

Lebih lanjut, KH Ma`ruf Amin mengatakan, euthanasia boleh dilakukan dalam kondisi pasif yang sangat khusus. Kondisi pasif tersebut, dimana seseorang yang tergantung oleh alat penunjang kehidupan tetapi ternyata alat tersebut lebih dibutuhkan oleh orang lain atau pasien lain yang memiliki tingkat peluang hidupnya lebih besar, dan pasien tersebut keberadaannya sangat dibutuhkan oleh masyarakat.

Sedangkan, kondisi aktif adalah kondisi orang yang tidak akan mati bila hanya dicabut alat medis perawatan, tetapi memang harus dimatikan. Mengenai dalil atau dasar fatwa MUI tentang pelarangan "euthanasia", dia menjelaskan bahwa dalilnya secara umum yaitu tindakan membunuh orang dan karena faktor keputus-asaan yang tidak diperbolehkan dalam Islam.

Dia mengungkapkan, dasar pelarangan euthanasia memang tidak terdapat secara spesifik dalam Al Quran maupun Sunnah Nabi. "Hak untuk mematikan seseorang ada pada Allah SWT," ujarnya menambahkan. Ketua komisi fatwa MUI itu mengatakan, MUI akan menjelaskan dan mengeluarkan fatwa pelarangan euthanasia tersebut, apabila Pengadilan Negeri Jakarta Pusat atau institusi lainnya menanyakan kepada MUI.

Ia menjelaskan, kasus permohonan euthanasia memang belum pernah terjadi di Indonesia, tetapi MUI telah menetapkan fatwa pelarangan tersebut setelah melakukan diskusi dan pembahasan tentang permasalahan euthanasia yang terjadi di luar negeri. Penjelasan tentang euthanasia berkaitan dengan surat permohonan tindakan Euthanasia yang diajukan oleh Panca Satrya Hasan Kesuma untuk istinya, Agian Isna Nauli (33) ke Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jumat pagi.

Dalam surat permohonannya, Hasan meminta kepada ketua PN Jakpus untuk berkenan menetapkan apakah bisa dilakukan euthanasia terhadap istrinya atau tidak, karena menurut penelitian dokter spesialis neorologi yang merawat, kondisi kesehatan istrinya tidak akan pernah bisa kembali pada keadaan semula.

Surat permohonan tersebut disampaikan oleh Panca Satrya Hasan Kesuma, karena istrinya, Agian Isna Nauli (33), lumpuh setelah melahirkan melalui operasi caesar di Rumah Sakit Islam Bogor.

Menurut penelitian dokter spesialis neorologi yang merawat, kondisi kesehatan istrinya tidak akan pernah bisa kembali pada keadaan semula. Dalam surat permohonan tersebut, Hasan Kesuma mengatakan ia harus memilih euthanasia karena selama perawatan istrinya, ia tidak dapat memperhatikan dan mengupayakan kehidupan yang layak, memberi nafkah pada dua orang anaknya, yaitu Ditya Putra Mardhika (9), dan anaknya yang baru lahir Raydie Attila Nurullah Kesuma.

Beserta surat permohonan tersebut dilampirkan resume perawatan Agian dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dan berkas hasil pemeriksaan radiologis dari RS Pusat Pertamina. Selain itu surat permohonan pada Walikota Bogor tentang bantuan sosial kemanusiaan, surat dari DPRD Bogor mengenai undangan rapat dengar pendapat, dan hasil dengar pendapat, dan surat undangan dari Ikatan Dokter Indonesia Wilayah Jawa Barat yang meminta keterangan tentang Agian. (atr/cih)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax, Ahlussunnah, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Fatwa MUI Larang Euthanasia (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatwa MUI Larang Euthanasia (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatwa MUI Larang Euthanasia

Senin, 26 Oktober 2015

Cetak Dai Internasional, MUI Bentuk Akademi Dakwah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Halaqah Dakwah Nasional 2017 bertema "Menjawab Tantangan Dakwah di Era Modern" yang dilaksanakan Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat Majelis Ulama Indonesia (MUI)  Pusat menghasilkan program strategis pembentukan Akademi Dakwah.

Ketua Umum MUI Pusat KH Maruf Amin saat pembukaan kegiatan tersebut mengemukakan bahwa Akademi Dakwah yang akan dibentuk tersebut merupakan Lembaga Pendidikan bagi para dai atau penceramah dengan durasi waktu 2 sampai dengan 3 bulan berbasis peta dan pedoman dakwah.

Cetak Dai Internasional, MUI Bentuk Akademi Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)
Cetak Dai Internasional, MUI Bentuk Akademi Dakwah (Sumber Gambar : Nu Online)

Cetak Dai Internasional, MUI Bentuk Akademi Dakwah

Akademi tersebut dibentuk dalam rangka memperbaiki kegiatan dakwah secara menyeluruh baik pada dai, madu, maddah, manhaj, maupun wasilah dakwah. 

Dengan hal tersebut harapnya proses dakwah semakin berkualitas dan mencerdaskan umat serta membawa umat kepada jalan kebaikan dan ketakwaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Akademi Dakwah yang sedang dibentuk ini nantinya akan mendidik para dai (penceramah) Indonesia agar berstandar Internasional," ungkap Rais ‘Aam PBNU ini di hotel Rivoli Jakarta, Senin (13/11).

Kiai Maruf menjelaskan juga bahwa dakwah harus memerankan fungsi tauhidul ummah (mempersatukan umat), tansiqul harakah (mensinkronkan gerakan dakwah), taswiyatul manhaj (menyamakan persepsi pola keagamaan Ahlussunnah wal-Jamaah), dan himayatul ummah (melindungi umat) dari akidah dan pemikiran sesat. 

Dakwah juga harus mampu melindungi umat dari muamalat yang haram dan konsumsi yang haram, termasuk membentengi umat Islam menghadapi rongrongan dari luar seperti upaya pemurtadan.

Halaqah yang dilaksanakan mulai Senin (13/11) sampai dengan Rabu (15/11) ini diikuti oleh peserta dari utusan Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI tingkat provinsi se-Indonesia. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 22 Oktober 2015

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Pacitan,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menyemarakkan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dan menyambut peringatan haul ke-18 almagfurlah KH Habib Dimyathi, Pondok Pesantren Tremas, Pacitan, Jawa Timur, menggelar turnamen bola voli tingkat kabupaten pada Sabtu-Ahad (2-3/1) di halaman pesantren tersebut.

Panitia penyelenggara, Nasrowi, menyatakan, turnamen dihelat untuk memperkenalkan pesantren pada masyarakat luas. "Ini sebagai salah satu wujud mengkampanyekan gerakan Ayo Mondok, bahwa image pesantren tidak hanya ngaji saja, tapi ada olahraganya juga, " tuturnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Ahad (3/1).

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tremas Gelar Turnamen Bola Voli Tingkat Kabupaten

Dikatakannya, melalui turnamen ini masyarakat bisa datang menyaksikan pertandingan bola voli sekaligus bisa mengenal lebih dekat dengan dunia pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Turnamen yang digelar setahun sekali ini diikuti 52 tim se-Kabupaten Pacitan. Panitia menyediakan hadiah sebesar Rp. 5.250.000 beserta tropi tetap PHBI CUP 2016.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada laga final yang digelar pada Ahad sore (3/1), tim Sumber Rejeki Ketepung, Kecamatan Kebonagung menjadi juara setelah menekuk tim Desa Mlati. Pertandingan yang disaksikan ribuan massa ini berlangsung sangat ketat, dengan skor akhir 3-1.

Sumber rejeki berhak menerima hadiah uang pembinaan dan piala tetap PHBI CUP 2016. Penyerahan piala secara simbolis akan dilakukan pada malam pengajian Haflah Maulid Nabi Muhammad SAW Rabu malam (6/1). (Zaenal Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 18 Oktober 2015

Puasa dan Budaya Literasi

Oleh Sholihin Hasan



Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq. Artinya; Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.

Ayat di atas merupakan ayat pertama dari lima ayat Surat Al-‘Alaq yang turun sebagai wahyu pertama. Ayat itu diturunkan oleh Allah melalui malaikat Jibril pada malam 17 Ramadhan saat Nabi Muhammad Saw sedang berkhalwat di Gua Hira’. Ketika itu beliau memasuki usia 40 tahun.

Puasa dan Budaya Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Puasa dan Budaya Literasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Puasa dan Budaya Literasi

M Quraish Shihab dalam kitab tafsir Al-Mishbah menyebutkan, kata iqra’ terambil dari kata kerja qara’a yang berarti bacalah. Iqra’ juga berarti  menghimpun, menyampaikan, menelaah, membaca mendalami, meneliti, dan mengetahui ciri-ciri sesuatu. Perintah iqra’ mencakup telaah terhadap alam raya, masyarakat dan diri sendiri, serta bacaan tertulis, baik suci maupun tidak suci.

Perintah iqra’ yang turun 14,5 abad yang lalu akhir-akhir ini kurang mendapat perhatian dari mayoritas umat Islam di Indonesia. Berdasarkan survei yang dilakukan beberapa lembaga internasional menunjukkan bahwa budaya literasi masyarakat Indonesia kalah jauh dengan negara-negara lain.

Hasil penelitian Programme for International Student Assessment (PISA) menyebutkan, budaya literasi masyarakat Indonesia pada tahun 2012 menempati posisi terburuk kedua. Posisi Indonesia berada diurutan ke 64 dari 65 negara yang disurvei.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Empat tahun setelah penelitian PISA, ternyata posisi budaya literasi bangsa ini belum mengalami perubahan signifikan. Sebab, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Central Connecticut State University (CCSU) di New Britain, Conn, Amerika Serikat tahun 2016, menempatkan literasi di Indonesia pada peringkat ke 60 dari 61 negara dalam The World’s Most Literate Nations. 

Dari hasil penelitian tersebut menunjukkan betapa lemahnya budaya literasi masyarakat Indonesia. Rendahnya budaya literasi di Indonesia salah satunya disebabkan karena budaya masyarakat adalah budaya menonton, budaya dongeng dan cerita, bukan budaya membaca.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Anak-anak sekolah lebih senang bermain game ketimbang pergi ke perpustakaan. Masyarakat lebih senang membicarakan materi pembicaraan yang berdasarkan katanya, katanya dan katanya, ketimbang berdasarkan sumber ilmiah atau dari ayat-ayat suci.

Tingginya budaya menonton masyarakat terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa tahun lalu. Dimana jumlah waktu yang digunakan anak Indonesia untuk menonton televisi adalah 300 menit per hari. Jumlah waktu menonton anak-anak Indonesia terlalu besar jika dibandingkan dengan anak-anak di Australia yang hanya 150 menit per hari dan di Amerika yang hanya 100 menit per hari.

Untuk mendorong minat baca di kalangan siswa, di era Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan, pernah mewajibkan para siswa membaca buku 15 menit sebelum jam belajar dimulai.

Pentingnya Literasi

Literasi biasa dipahami sebagai kemampuan membaca dan menulis. Menurut Unesco, literasi adalah kemampuan untuk mengidentifikasi, memahami, menerjemahkan, menciptakan, mengkomunikasikan dan memperhitungkan, menggunakan bahan tertulis maupun tercetak yang berhubungan dengan berbagai konteks.

Kemampuan literasi sering menjadi pembuka bagi datangnya keberhasilan. Hubungan lingkaran setan antara status kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan sesungguhnya berkaitan erat dengan budaya literasi.

Ketika budaya literasi menguat, maka impact-nya lambat laun akan menghilangkan status kebodohan. Dengan sirnanya status kebodohan, maka status keterbelakangan juga ikut sirna. Bahkan, impact dari kuatnya budaya literasi akan mampu memperbaiki taraf hidup, serta kemajuan suatu bangsa.

Unesco pernah melakukan penelitian berjudul Literacy for Life, menemukan adanya hubungan erat antara lemahnya budaya literasi (illiteracy) dengan kemiskinan. Negara-negara yang tingkat literasinya rendah, rata-rata adalah negara miskin. 

Momentum Puasa

Umat Islam yang saat ini tengah melaksakan ibadah puasa Ramadhan perlu merenungi kembali makna perintah iqra’. Apakah perintah iqra’ sudah dilaksanakan dengan baik dan menjadi budaya dalam kehidupan sehari-hari? Kalau pun sudah, apakah iqra’ memiliki pengaruh dalam kehidupan nyata?

Ramadhan adalah momentum penting untuk memperbaiki atau meningkatkan budaya literasi. Sebab, bagi umat Islam di Indonesia, khususnya umat Islam di Jawa, momentum Ramadhan identik dengan budaya literasi.

Beberapa tradisi Ramadhan yang terkait dengan literasi antara lain tradisi tadarus Al-Qur’an. Tradisi ini biasanya digelar selepas shalat Tarawih. Hampir di setiap masjid dan mushalla, selalu dilaksanakan kegiatan tadarus. Baik dengan metode koor, sorogan maupun long march.

Kegiatan tadarus dilaksanakan antara satu hingga dua jam setiap malamnya. Yakni, pukul 20.00 hingga pukul 22.00. Selama Ramadhan biasanya khatam membaca al Qur’an antara dua hingga empat kali khataman. Bahkan ada yang lebih, lima atau enam kali.

Kegiatan tadarus tidak hanya dilaksanakan di masjid dan mushalla, tetapi tadarus juga dilaksanakan di rumah, sekolah, kampus maupun kantor. Organisasi sosial keagamaan dan sosial kemasyarakatkan pun tak ketinggalan melaksanakan kegiatan tadarus berjamaah.

Selama Ramadhan juga semarak dengan kegiatan ceramah agama dan kajian agama. Ceramah agama tersebut biasanya dilaksanakan selepas jamaah shalat isya’ atau tarawih, dan setelah jamaah shalat subuh. Ceramah agama yang ditempatkan di dua waktu ini biasanya sifatnya pendek atau dikenal dengan ceramah kuliah tujuh menit (kultum).

Kajian agama pun marak dilaksanakan di pondok-pondok pesantren. Mulai ba’da subuh hingga larut malam dilakukan kajian kitab kuning. Kajian kitab kuning ini dilakukan para kiai, ustadz dan para santrinya. Berbagai macam kitab kuning dikaji selama Ramadhan. Mereka mengambil waktu khataman baca kitab kuning antara 17 hingga 21 Ramadhan. 

Momen buka puasa bersama sering dijadikan media dilaksanakannya kajian agama atau kultum. Buka puasa bersama dengan kajian agama dengan durasi waktu agak panjang biasanya dilaksanakan di masjid-masjid atau mushalla. Sedangkan untuk buka puasa di kantor, sekolah, perusahaan, kampus maupun organisasi sosial kemasyarakatan biasa didahului dengan ceramah agama agak singkat.

Berbagai kegiatan di atas menunjukkan bahwa kegiatan literasi umat Islam selama Ramadhan meningkat jika dibandingkan di luar Ramadhan. Karena kegiatan-kegiatan seperti itu tidak dijumpai di luar Ramadhan.

Suasana religi tersebut diperkuat tampilan media cetak dan elektronik. Koran, majalah, radio, situs internet dan televisi memberikan ruang khusus selama Ramadhan.

Pertanyaanya, kegiatan baca Al-Qur’an begitu marak, kajian dan ceramah agama digelar di mana-mana, tetapi mengapa literasi bangsa Indonesia dinilai masih terpuruk? 

Hal ini dikarenakan kemampuan literasi umat Islam hanya berhenti pada kemampuan membaca. Kemampuan literasi belum sampai pada kemampuan mengidentifikasi apalagi memahami. Kemampuan literasi belum sampai menghasilkan karya atau produksi.

Tadarus al Qur’an hanya berhenti pada kegiatan membaca. Masih berkutat pada aplikasi penerapan ilmu tajwid, makharijul huruf, ketartilan bacaan, serta merdu dan tidaknya suara. Tadarus Al-Qur’an belum dikembangkan menjadi kegiatan pendalaman melalui kajian tafsir. 

Melalui kajian tafsir akan diperoleh pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dari berbagai penafsir. Dari pendalaman ayat-ayat tersebut akan diperoleh pemahaman. Dari pemahaman tersebut umat Islam diharapkan bisa melakukan identifikasi pesan moral dari kandungan ayat untuk selanjutnya diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Maraknya ceramah agama selama Ramadhan ini juga berhenti dengan selesainya materi ceramah. Minim program tindak lanjut. Masyarakat masih cenderung mendengarkan atau mencari penceramah yang lucu dan memiliki selera humor tinggi. Mengenai isi materi menjadi persoalan belakangan.

Penceramahnya juga cenderung melayani selera masyarakat ketimbang melakukan pencerahan dan melakukan program tindak lanjut. Bahkan, materi ceramah sering diulang-ulang. 

Itulah mengapa masyarakat Indonesia oleh lembaga Programme for International Student Assessment dan Central Connecticut State University dinilai kemampuan literasinya rendah. Karena kemampuan literasinya baru taraf membaca dan mendengarkan.

Untuk menguatkan kemampuan literasi, maka maraknya kegiatan tadarus, kajian agama, dan ceramah agama selama Ramadhan ini hendaknya tidak berhenti di tempat. Gelombangnya sedikit di naikkan. Tadarus tidak sekedar membaca, ceramah tidak sekedar mendengarkan, tetapi sedikit ditingkatkan menjadi memahami maknanya dan selanjutnya mengaplikasikan dalam kehidupan nyata.  

Penulis adalah mahasiswa program doktor UIN Walisongo Semarang, sekaligus dosen STAI Almuhammad Cepu

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, IMNU, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 13 Oktober 2015

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Dalam masyarakat kita ada kecenderungan sebagian orang memandang sebelah mata mereka yang tak bisa memberikan keturunan. Apalagi jika mereka perempuan. Beberapa suami menceraikan istrinya hanya karena ia mandul. Hal seperti ini ? dialami seorang wanita yang Mbah Ngismatun Sakdullah Solo (wafat 1994) memanggilnya “Bulik” untuk “mbasakke” anak-anak Mbah Ngis. Memang masih ada hubungan kerabat antara Mbah Ngis dengannya meski tidak sangat dekat. Sebut saja perempuan itu beranama Bulik Fulanah.

Betul. Bulik Fulanah dicerai suaminya hanya karena tak bisa memberikan keturunan. Sejak itu Bulik Fulanah hidup menjanda. Suami tak ada. Anak tak punya. Kakak atau adik sudah tiada. Orang tua juga sudah lama meninggal dunia. Bulik Fulanah tak punya keluarga. Ia sebatang kara. Masih beruntung ada keponakan yang bersedia menampung hidupnya di rumah di sebuah kampung yang padat penduduk.?

Bulik Fulanah hidup menderita. Ia tak punya apa-apa alias miskin. Jika diperbandingkan, Bulik Fulanah sangat kontras dengan Mbah Ngis meskipun ada beberapa persamaan, seperti sama-sama bukan orang kaya yang berjualan makanan kecil. Bulik Fulanah tak memiliki seorang anak pun. Mbah Ngis memiliki 13 anak. Bulik Fulanah dikenal suka banyak bicara. ? Sedangkan Mbah Ngis cukup tahu kapan harus bicara dan kapan harus diam. Kebiasaan banyak bicara yang topiknya tidak selalu menarik kadang membuat beberapa orang tak menyukai Bulik Fulanah.?

Empati  Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)
Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak (Sumber Gambar : Nu Online)

Empati Mbah Ngis kepada Janda Miskin Tak Beranak

Tetapi bagi Mbah Ngis, semua kekurangan Bulik Fulanah tak dipermasalahkan. Mbah Ngis cukup toleran terhadap hal-hal yang bersifat pribadi. Mbah Ngis cukup mengerti tidak setiap orang berpengatahuan luas atau memiliki banyak pengalaman menarik untuk diceritakan kepada orang lain. Mbah Ngis malahan menaruh iba yang mendalam terhadap nasib Bulik Fulanah sebagai sesama saudara sekaligus sesama perempuan.?

Sudah lama Mbah Ngis bertanya pada diri sendiri kapan bisa menyenangkan Bulik Fulanah dengan memberikan atau mewujudkan sesuatu yang membuatnya berbesar hati. Mbah Ngis lama berpikir soal itu hingga akhirnya Mbah Ngis menemukan gagasan.?

Gagasan itu adalah mengajaknya pergi ke Jakarta, sebuah kota metropolitan dengan segala kemegahannya. Mbah Ngis sendiri belum pernah ke Ibu Kota. Kali ini ada kesempatan bagi Mbah Ngis pergi ke sana, tapi bukan karena Mbah Ngis memiliki banyak uang. Salah seorang keponakan Mbah Dullah di Jakarta mempunyai hajat menikahkan putrinya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Keponakan itu cukup mapan secara ekonomi karena ia seorang pejabat penting. Mbah Ngis dan Mbah Dullah diundang menghadiri resepsi perkawinan itu. Segala sesuatu terkait dengan transportasi, konsumsi dan akomodasi selama di perjalanan Jakarta pulang-pergi sudah ada yang mengurus dan semuanya ditanggung oleh sang keponakan. Mbah Ngis dan Mbah Dullah tinggal menyiapkan diri, terutama kesehatannya, agar bisa hadir. Mbah Ngis sangat senang atas undangan ini dan bersyukur karena semua fasiltas tersedia secara cuma-cuma.?

Rasa syukur itu diwujudkan Mbah Ngis dalam bentuk menyisihkan selama sebulan penuh uang hasil berjualan makanan kecil setiap hari di pondok. Mbah Ngis ingin sekali mengajak Bulik Fulanah ke Jakarta dengan seluruh biaya ditanggung Mbah Ngis.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Benar. Mbah Ngis, Mbah Dullah dan Bulik Fulanah serta rombongan lain dari Solo berangkat bersama ke Jakarta dengan menaiki Kereta Api Senja Utama. Itu adalah kali pertama dan terakhir bagi Mbah Ngis dan Bulik Fulanah pergi ke Jakarta. Juga merupakan kali pertama dan terakhir menaiki kereta api kelas bisnis.?

Sekembalinya ke Solo, Bulik Fulanah memiliki banyak cerita tentang Jakarta dan orang-orang besar yang dilihatnya di resepsi pernikhan putri keponakan Mbah Dullah. Banyak orang tertarik menyimaknya meski ada sebagian kecil berpura-pura tak mendengar. Yang pasti mereka semua menikmati “oleh-oleh” yang dibawa Bulik Fulanah dari Jakarta. ? Peristiwa ini terjadi puluhan tahun lalu di awal tahun 1990-an.?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah