Rabu, 27 April 2016

Pelajar NU Kumbo Ikuti Karnaval Kemerdekaan

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Puluhan pelajar NU yang tergabung dalam Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPNU-IPPNU) Ranting Desa Kumbo Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang, Jawa Tengah mengikuti karnaval peringatan HUT Kemerdekaan Ke-68 RI, pada Kamis (22/8) lalu.?

Pelajar NU Kumbo Ikuti Karnaval Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kumbo Ikuti Karnaval Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Kumbo Ikuti Karnaval Kemerdekaan

Pimpinan Ranting IPNU Desa Kumbo M. Aan Ainun Najib mengatakan, pelajar NU sangat antusias dalam mengikuti acara ini. Walaupun terik matahari sangat menyengat, para peserta mengikuti acara sampai selesai. Acara ini terselenggara berkat kerjasama Ranting IPNU-IPPNU dan Karang Taruna Desa Kumbo.

Aan juga menjelaskan ini adalah wujud bakti kita kepada bangsa, wujud nasionalisme dan patriotisme bela negara. Semoga dengan adanya kegiatan seperti ini generasi muda dapat lebih aktif dalam mewujudnyatakan pembangunan Bangsa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sebagai langkah sosialisasi kita kepada masyarakat, kami juga membagikan lembaran informasi tentang Ranting Kumbo. Lembaran tersebut berisikan, sejarah berdirinya Ranting Kumbo, tujuan berdiri, fungsi IPNU-IPPNU, syarat perekrutan kader baru dan cara pendaftaran. Dengan adanya kegiatan ini kami harapkan pengkaderan pelajar NU tidak akan putus”, tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Rencana kami ke depan ingin menyelenggarakan pelatihan komputer gratis untuk para rekan dan rekanita IPNU-IPPNU Ranting Kumbo. Kami akan bekerjasama dengan Lembaga Pendidikan Komputer (LPK) Yayasan Bina Dhuafa Indonesia,” harapnya.?

Wafa’udin selaku ketua Karang Taruna Desa Kumbo mengatakan, keikutsertaan para Pelajar NU membuat tambah meriah acara ini. Walaupun perencanaan acara ini sangat singkat, tetapi penyelenggaraannya cukup meriah. Bukan hanya pelajar NU yang meriahkan acara ini, ada pula dari SD, MI, MTs dan SMK Kumbo, mereka sangat antusias mengikuti acara sampai selesai.

Wafa’udin yang juga sebagai Ketua Pusat Informasi dan Konseling Kesehatan Reproduksi Remaja (PIK-KRR) Desa Kumbo menambahkan, kami juga menyediakan seratus nasi bungkus untuk para peserta, baik Karang Taruna maupun IPNU-IPPNU.

Dan pada malam harinya, juga diselenggarakan Pagelaran Ketoprak sebagai wujud pelestarian budaya jawa. Acara ini diselenggarakan selama semalam suntuk.?

Redaktur ? ? : Abdullah Alawi?

Kontributor: M. Syahri DM

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 26 April 2016

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Ini catatan perjalanan Ustadz Fauzi Palestin yang beberapa hari lalu melakukan perjalanan ke Malaysia. Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya ini diundang komunitas masyarakat Indonesia yang berada di negeri Jiran tersebut. Bagaimana seru dan kekhasan yang dirasakan selama kegiatan maulid? Berikut uraiannya.

Sebagaimana dimaklumi bersama bahwa bulan Rabiul awal merupakan bulan lahirnya Nabi Muhammad SAW. Mayoritas umat Islam merayakannya sebagai ekspresi bahagia dan syukur yang tak terhingga atas lahirnya Nabi yang mulia, tak terkecuali penduduk Indonesia yang berada di Malaysia bahkan tidak sedikit yang sudah menjadi warga Negara Malaysia.

Berdasarkan safari dakwah yang saya lakukan di beberapa tempat, seperti di kota Kemuning, Damansara, Sungai Buloh dan sebagainya, ada beberapa hal yang menjadi catatan saya:

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Maulid Orang Indonesia di Malaysia

Pertama, saya melihat warga Indonesia di negeri Jiran ini dalam merayakan maulid Nabi sangat antusias bahkan bisa dikatakan sebagai pelopor dzikra maulidir rasul. Hal ini bisa dilihat dari kekompakan dalam pelaksanaan maulid. Kalau di daerah perkotaan sebagian besar penyelenggaranya adalah orang Bawean Gresik yang sudah menjadi warga di sana.

Adapun di daerah perumahan yang masih dalam proses pembangunan, banyak digagas orang Madura. Dalam sebulan, orang Madura bisa menyelenggarakan dua bahkan tiga kali acara pengajian dalam rangka maulidir rasul.

Kedua, orang Indonesia di Malaysia tidak sekedar menyelenggarakan seremonial yang hanya diikuti mereka yang berasal dari Indonesia, tapi juga ikut bergabung orang Melayu selaku penduduk asli. Mereka seakan dipersatukan, dan terlibat aktif dalam menyukseskan acara dan tentu saja bergabung dalam satu majlis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kala itu saya menceritakan betapa dahsyat ulama Indonesia hingga reputasinya yang mendunia. Ada  Syaikh Ihsan Jampes yang menyarahi kitab Minhajul Abidin menjadi Sirajut Thalibin, demikian pula Imam An-Nawawi al-Banteni yang juga mengarang kitab Al-Arbain Nawawi. Kala itu saya tidak lupa mengenalkan kewalian Syaichona Cholil Bangkalan yang dikenal umat Islam di Nusantara bahkan dunia.

Saat di Kota Damansara selepas pengajian, ternyata ada orang Melayu berkeinginan menguliahkan putranya yang sekarang sedang menghafal al-Quran di Indonesia. Yang bersangkutan sempat mencatat nomor hape saya.

Ketiga, teknis pelaksanaan maulid, demikian pula budaya yang digunakan layaknya di Indonesia, Sebagaimana di tanah air, dalam peringatan maulidir rasul yang dibaca adalah qasidah maulid al-Barzanji yang dikarang Sayyid Jakfar bin Abdul Karim. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bahkan shalawat khas Indonesia seperti pembacaan Shalawat Badar karya Kiai Ali Mansur juga dikumandangkan. Dan lagu yang digunakan pun sesuai pola khas di Tanah Air yang disertai musik tradisional compang, yakni sejenis marawis.

Keempat, tidak kalah menarik pula, model berkat atau makanan untuk dibawa pulang yang mereka buat sangat unik dan bervariasi. Kalau orang Madura menggunakan buah sebagai menu pokoknya, mayoritas warga Bawean memanfaatkan aneka ragam jajan dan minuman, bahkan di dalamnya disertakan sarung, sajadah, termasuk sabun mandi. 

Menurut informasi yang saya dapat, untuk membuat satu buah berkat saja dibutuhkan biaya 500 ringgit. Dan waktu yang dibutuhkan untuk membungkus menjadi layak diberikan sampai seminggu lamanya. Itu dilakukan agar berkat terlihat menarik dan menyenangkan para tamu undangan.

Karena didesain sedemikian rupa dan ukurannya lumayan besar, untuk membawa berkat ke rumah harus memakai mobil khusus, termasuk petugas sampai dua hingga tiga orang. Berkat itupun diberikan kepada setiap undangan.

Walau berkat bukan menjadi tujuan, besarnya ukuran menjadi bukti rasa cinta mereka kepada Nabi Muhammad SAW. Kendati demikian, saat diberikan kesempatan memberikan mauidhah, saya katakana bahwa bila dikalkulasi, dana yang dikeluarkan untuk maulid tidaklah melebihi dari biaya para pecandu rokok dalam setahun. Dan para undanganpun yakni jamaah yang hadir tertawa renyah.

Kelima, khusus di Kota Kemuning Taman Wijaya, yang membuat maulid terasa berbeda adalah karena kekompakan anak muda. Saat ceramah, mereka berada di shaf paling depan. Tak hanya itu, secara khusus juga membuat berkat jumbo dengan varian isi yang sangat beragam.

Ketika saya bertanya kepada salah seorang pemuda terkait iuran yang dibutuhkan untuk membuat berkat jumbo tersebut, ternyata masing-masing dikenakan biaya 10 ringgit.

Melihat kekompakan anak-anak muda ini, saya mengurai kisah seorang pemuda di zaman Harun Al-Rasyid yang mendapatkan kenikmatan di alam kubur karena memuluskan bulan Rabiul Awal. Cerita tersebut sebagaimana ditulis Sayyid Satha dalam kitab Ianatul Thalibin.

Segala kisah ini menjadi catatan penting bahwa tradisi Indonesia bisa menjadi kegiatan keagamaan yang membahana di Malaysia. Semoga mereka tidak lupa akan tanah leluhur, terlebih dalam upaya menjaga hubungan antara kedua negara. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 24 April 2016

Apa Kata Gus Mus Tentang Al-Qur’an Terjemahan?

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Al-Qur’an merupakan pedoman bagi umat Islam. Sudah barang tentu, sebagai pedoman maka umat Islam perlu memahaminya. Oleh sebagian pihak kemudian juga dibuat terjemahan, dengan maksud untuk membantu dalam memahaminya. Namun sayangnya, terjemahan Al-Qur’an dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia ini, kemudian justru menghilangkan beberapa sisi keindahan dalam Al-Qur’an yang diturunkan Allah dalam bahasa Arab.

Apa Kata Gus Mus Tentang Al-Qur’an Terjemahan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Apa Kata Gus Mus Tentang Al-Qur’an Terjemahan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Apa Kata Gus Mus Tentang Al-Qur’an Terjemahan?

Demikan, disampaikan Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang, Jawa Tengah, KH Mustofa Bisri atau Gus Mus pada pengajian yang diselenggarakan Pesantren Tahfidz wa Ta’limil Qur’an Masjid Agung Surakarta dan Jamuro, di Serambi Masjid Agung, Ahad (29/11) malam.

“Sekarang ini banyak yang paham Al-Qur’an, tapi hanya lewat terjemahan. Padahal balungan kata arab dan Indonesia ini lain, kalau dileterlek orang Indonesia ya tidak paham. Tapi praktis orang yang ingin mengerti makna al-Qur’an, pasti membuka terjemahan ini,” kata kiai yang akrab disapa Gus Mus ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Secara pribadi, Gus Mus juga kurang sepakat dengan adanya terjemahan Al-Qur’an ini. “Kalau saya tidak cocok dengan penerjemahan al-Quran, tapi sampeyan monggo, wong ini negara demokratis,” ujar dia.

Hal ini, menurut Gus Mus akan menghilangkan banyak hal: kasusastraan, balaghah, bayan, badi’. “Keindahan al-Qur’an itu dalam bahasa Arab: qoma zaidun, zaidun qoimun, inna zaidun qoimun, kana zaidun qoiman itu beda semua, kalau diterjemahkan bahasa indonesia maknanya satu, zaid berdiri,” papar Gus Mus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ditambahkan Gus Mus, yang pernah mengemban amanah sebagai Rais ‘Aam PBNU ini, ungkapan-ungkapan indah yang ada di Al-Qur’an juga akan banyak yang hilang ketika diterjemahkan. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 April 2016

Upaya Memahami Islam Nusantara

Oleh Moh Faiz Maulana

“Islam datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab. Bukan untuk aku jadi ana, sampeyan jadi antum, sedulur jadi akhi. Kita pertahankan milik kita, kita harus filtrasi budayanya, tapi bukan ajarannya...” (Gus Dur)

Mengenai apa yang disebut Islam Nusantara, dan ketakutan oleh sebagian kelompok masyarakat terhadap pemaknaan Islam Nusantara ini, penulis pikir sangat berlebihan. Kekhawatiran yang memunculkan pemikiran dan berujung pada sekularisasi, pendistorsian, pendangkalan makna Islam, bahkan ada yang menganggap ide Islam Nusantara ditunggangi oleh liberalisme, kapitalisme, maupun radikalisme. Anggapan yang tidak berdasar.

Upaya Memahami Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Upaya Memahami Islam Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Upaya Memahami Islam Nusantara

Pandangan peyoratif Islam Nusantra ini perlu dijelaskan. Pertama ingin penulis sampaikan bahwa jauh sebelum mencuatnya ide Islam Nusantara, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah lebih dahulu muncul dengan konsep keislaman yang “membudaya” atau kita kenal dengan konsep Pribumisasi Islam. Islam bersifat shalihun li kulli zaman wa makan. Artinya kira-kira adalah “relevan untuk segala zaman dan tempat”. Keislaman yang mengakomodasi dan dapat diserap budaya lokal.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kedua, bahwa Islam memang secara de facto turun di tanah Arab, tetapi yang perlu digarisbawahi adalah bukan “Arabnya” yang terpenting melainkan nilai keislamannya yang perlu dikaji lebih mendalam –seperti ? apa yang tertulis pada ungkapan di atas. Islam datang bukan untuk mengganti budaya kita dengan budaya Arab, namun tak lantas juga kita menyerukan sikap anti budaya Arab. penulis hanya ingin mengatakan, budaya Arab itu ya budaya, sama seperti budaya-budaya lain di dunia. Tak identik dengan Islam. Artinya, anda tak lantas lebih Islami hanya karena telah berjubah, bersorban, berjenggot atau pakai antum, akhi, milad, atau ahad dalam keseharian. Islam Nusantara hadir sebagai kritik terhadap tradisi Arab yang pada satu sisi terlanjur disalahpahami sebagai pokok nilai keislaman.

Ketiga, munculnya ide Islam Nusantara sendiri bertitik tolak dari kurangnya pengetahuan dan pemahaman sejarah berkembangnya Islam di Nusantara sebagian masyarakat. Hingga mengakibatkan munculnya gerakan Islam radikal di Nusantara ini. Islam mampu berkembang dan tersebar luas di tanah Nusantara tentu tidak dengan pedang, parang, amarah dan marah-marah, bukan? Islam mampu bertahan sampai detik ini di Nusantara justru karena adanya sinergi positif antara budaya dan agama, bukan malah menyalahkan dan mendustakan budaya sebagai biang keladi kekufuran dan kekafiran.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ini sama seperti apa yang dikatakan Kuntowijoyo, bahwa memang sebuah kenyataan sejarah, agama dan kebudayaan dapat saling mempengaruhi karena keduanya terdapat nilai dan simbol. Agama adalah simbol yang melambangkan nilai ketaatan kepada Tuhan. Kebudayaan juga mengandung nilai dan simbol supaya manusia bisa hidup di dalamnya. Agama memerlukan sistem simbol, dengan kata lain agama memerlukan kebudayaan agama. Tetapi keduanya perlu dibedakan. Agama adalah sesuatu yang final, universal, abadi (parennial) dan tidak mengenal perubahan (absolut). Sedangkan kebudayaan bersifat partikular, relatif dan temporer. Agama tanpa kebudayaan memang dapat bekembang sebagai agama pribadi. Tetapi tanpa kebudayaan, agama sebagai kolektivitas tidak akan mendapat tempat.

Interaksi antara agama dan kebudayaan, masih menurut Kuntowijoyo dapat terjadi dengan, pertama, agama mempengaruhi kebudayaan dalam pembentukannya, nilainya adalah agama, tetapi simbolnya adalah kebudayaan. Contohnya adalah bagaimana shalat mempengaruhi bangunan. Kedua, agama dapat mempengaruhi simbol agama. Dalam hal ini kebudayaan Indonesia mempengaruhi Islam dengan pesantren dan kiai yang berasal dari padepokan dan hajar. Lalu ketiga, kebudayaan dapat menggantikan sistem nilai dan simbol agama.

Baik agama dan budaya, keduanya adalah sistem nilai dan sistem simbol yang saling keterkaitan. Di Indonesia agama memberikan warna (spirit) pada kebudayaan, sedangkan kebudayaan memberikan kekayaan terhadap agama. Jadi tak bisa disamaratakan keislaman yang ada di Indonesia dengan keislaman yang ada di Arab, misalnya. Sebab Islam di Arab telah melebur dengan budaya Arab, dan budaya Arab dengan budaya Indonesia tentu sangat berbeda –sebagaimana Gus Dur menegaskan wajah "Islam Indonesia" untuk muslim Indonesia, Tariq Ramadan menekankan "Islam Eropa" untuk muslim Eropa- Pribumisasi Islam telah menjadikan agama dan budaya tidak saling mengalahkan dan menyalahkan, melainkan berwujud dalam pola yang sejajar dengan nalar keagamaan yang tidak lagi mengambil bentuknya yang otentik dari agama, serta berusaha mempertemukan jembatan yang selama ini memisahkan antara agama dan budaya.

Maka Islam Nusantara ini hadir adalah sebagai bentuk penanaman nilai-nilai keislaman yang sesuai dengan jati diri bangsa. Konsep yang membebaskan puritanisme, otentifikasi, dan segala bentuk pemurnian Islam sekaligus juga menjaga kearifan lokal tanpa menghilangkan identitas normatif Islam. Islam nusantara adalah cara berislam yang mempertimbangkan perbedaan lokalitas ketimbang ideologi kultural yang memusat, yang hanya mengakui ajaran agama tanpa interpretasi. Sehingga dapat tersebar di berbagai wilayah tanpa merusak kultur lokal masyarakat setempat. Dengan demikian, tidak akan ada lagi praktik-praktik radikalisme yang ditopang oleh paham-paham keagamaan ekstrem, yang selama ini menjadi ancaman bagi terciptanya perdamaian.

Dalam pengertian, Islam menjadi ajaran yang dapat menjawab problem-problem kemanusiaan secara universal tanpa melihat perbedaan agama dan etnik. Maka Islam menjadi tidak kaku dan rigid dalam menghadapi realitas sosial masyarakat yang selalu berubah. Dan itu artinya penegasan tentang Islam Indonesia untuk kaum muslim Indonesia, bukan Islam Arab. Hanya dengan cara itulah justru terbukti Islam itu shalih li kulli zaman wa makan, relevan untuk setiap masa dan tempat.

Moh. Faiz Maulana, Mahasiswa Pascasarjana Islam Nusantara STAINU Jakarta.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Khutbah, Pemurnian Aqidah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 15 April 2016

NU Gunakan Dakwah Merakyat

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Penyebaran Islam di Indonesia, tidak lepas dari peran Walisongo. Mereka memahami karakter masyarakat dan tradisi lokal. Pemahaman terhadap karakter dan watak masyarakat, menjadi bahan bagi Walisongo untuk memilih pendekatan dakwah terhadap masyarakat di nusantara.

“Tradisi masyarakat diangkat untuk Walisongo untuk menyebarkan nilai-nilai keislaman,” ungkap Dr. Zaki Mubarok, ketua LDNU (Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama) di sela kunjungan belasan civitas akademika dari pelbagai kampus di lt.5 Kantor PBNU Jl. Kramat Raya, Rabu (6/6) siang.

NU Gunakan Dakwah Merakyat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Gunakan Dakwah Merakyat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Gunakan Dakwah Merakyat

Sedikitnya 14 mahasiswi Hubungan Internasional, mengunjungi kantor PBNU. Mereka antara lain berasal dari UI, UGM, dan Universitas Lehigh Amerika Serikat. Kunjungan dimaksudkan dalam rangka mengenal lebih dekat NU. Lewat suara dari dalam NU, mereka terlihat serius mengikuti penjelasan pandangan, gerakan, dan dinamika NU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mereka disambut oleh sejumlah jajaran PBNU seperti Iqbal Sullam, Sekjen PBNU, Abdul Mun‘im DZ, Wasekjen PBNU,  Zaki Mubarok, Ketua Umum LDNU, dan Nurul Yaqin, Sekretaris LDNU.

Pola dakwah NU yang merakyat, meniru cara dakwah yang dirintis oleh Walisongo. Cara dakwah Walisongo begitu lentur sehingga mudah meresah di benak masyarakat. Tanpa resisitensi yang berarti, masyarakat menerima nilai-nilai luhur Islam yang dibawakan Walisongo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan kelenturan luar biasa, Walisongo menjalani kehidupan seperti keseharian masyarakat setempat. Kedekatan mereka dengan masyarakat, tidak lagi dipertanyakan. Menimbang tanpa jarak antara masyarakat dan Walisongo, keduanya membangun peradaban Nusantara dengan nafas Islam.  Tradisi masyarakat berjalan tanpa saling menegasikan satu sama lain.

Kemasan bahasa dakwah, dikemas serenyah mungkin. Sebaik apapun suatu nilai atau ajaran, agak sulit diserap oleh masyarakat umum. Karenanya, kemasan bahasa menjadi pertimbangan dalam penyampaian dakwah NU, tambah Zaki Mubarok.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 11 April 2016

Peringati Harlah NU, Kepengurusan ISHARI Kraksaan Dilantik

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Cabang Ikatan Seni Hadrah Indonesia (ISHARI) Kota Kraksaan, Senin (9/5) malam resmi dilantik di halaman Masjid Bin KH Aminuddin area Pondok Hati di Dusun Toroyan Desa Rangkang Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo. Para pengurus ISHARI ini dilantik oleh Ketua Pimpinan Wilayah ISHARI Jawa Timur H. Yusuf Arif Anwar.

Pelantikan yang digelar dalam peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-93 NU ini dihadiri Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H. Hasan Aminuddin, Kasdim 0820 Probolinggo Mayor Inf. Winarso, Kapolsek Kraksaan Kompol Faroek Mahmud, jajaran Syuriyah dan Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan serta lembaga dan badan otonom PCNU Kota Kraksaan.

Peringati Harlah NU, Kepengurusan ISHARI Kraksaan Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah NU, Kepengurusan ISHARI Kraksaan Dilantik (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah NU, Kepengurusan ISHARI Kraksaan Dilantik

Dalam sambutannya Mustasyar PCNU Kota Kraksaan H. Hasan Aminuddin mengungkapkan para pengurus harus berkhidmat dengan ikhlas hanya semata-mata untuk Allah. Jangan pernah mengharapkan bayaran di NU, karena NU tidak bisa memberikan bayaran.

“Saya menyampaikan ucapan terima kasih kepada semua pengurus MWCNU yang sudah mampu membangun kantor dengan swadaya. Sebab kantor ini merupakan simbol organisasi dan perjuangan para ulama NU. Meskipun tidak ada dukungan biaya, namun kantor ini bisa selesai karena bermodalkan semangat dan berkhidmat untuk masyarakat,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Hasan, selama ini PCNU Kota Kraksaan belum mampu memberikan bantuan penuh kepada semua pengurus MWCNU. Walaupun demikian, diharapkan para pengurus NU ini bisa memberikan warna dalam mempertahankan aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).

“Dengan berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), berarti masyarakat memiliki benteng yang kuat. Sehingga organisasi di luar NU tidak mampu mengembangkan sayapnya,” jelasnya.

Lebih lanjut Hasan menyampaikan rasa bangganya karena pengurus ISHARI Kota Kraksaan banyak diisi oleh generasi muda. Dengan demikian para generasi muda akan memiliki kejadian positif di tengah pesatnya perkembangan zaman.?

“Saya bangga karena banyak anak muda yang mau bergabung dengan ISHARI. Sampaikan kepada generasi muda yang lain agar senantiasa tetap berpegang teguh kepada aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Para generasi muda harus bisa belajar terhadap sejarah berdirinya NKRI yang tidak bisa dipisahkan dengan NU,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam kesempatan tersebut juga diserahkan beragam hadiah dan penghargaan kepada para pemenang lomba yang diadakan dalam rangka memeriahkan Harlah ke-93 NU. Baik yang diadakan oleh PCNU Kota Kraksaan sendiri maupun lembaga dan badan otonomnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 April 2016

Khutbah Jumat Menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-72

Khutbah I

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Khutbah Jumat Menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-72 (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Jumat Menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-72 (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Jumat Menyambut HUT Kemerdekaan RI Ke-72

? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Setiap 17 Agustus kita merayakan peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia. Kita semua wajib bersyukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada bangsa Indonesia sehingga para pejuang kita berhasil meraih kemerdekaan itu dengan segala pengorbanannya. Berjuang melawan penjajah merupakan keharusan karena pada dasarnya hanya kepada Allah SWT makhluk-makhluk yang diciptakan-Nya, terlebih manusia, menghambakan dirinya. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam surah Adz-Dzariat, ayat 56:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan aku tidak mencipatakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepa-Ku.”

Ayat di atas menjadi landasan teologis bahwa sebuah bangsa harus memiliki kemerdekaan. Tanpa kemerdekaan manusia akan terus menerus ditindas oleh manusia lain untuk mengabdi kepada kepentingan mereka demi mewujudkan ambisi dan keserakahannya. Hilangnya kemerdekaan manusia akibat penindasan dan penjajahan sesama manusia menjadikannya jauh dari melaksanakan perintah-perintah Allah SWT. Justru karena itulah, maka berjuang dengan berperang melawan penjajah agar dapat memiliki kebebasan beribadah kepada Allah SWT menjadi wajib hukumnya. Mereka yang gugur dalam perjuangan itu disebut para syuhada dan disediakan surga sebagai tempat terkahirnya yang layak.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Kalau kita kembali kepada sejarah Islam, kita akan tahu bahwa Rasulullah SAW adalah seorang tokoh agung pejuang pembebasan dan kemerdekaan. Beliau telah membebaskan umat manusia dari segala bentuk penjajahan dan penghambaan kepada sesama manusia. Sejarah membuktikan kepada kita bahwa di saat beliau diutus menjadi nabi dan rasul, umat manusia telah terlalu jauh dari bimbingan para rasul terdahulu.

Mereka menjadi hamba bagi hawa nafsunya sendiri. Mereka sesat dalam mencari arah dan tujuan hidup dan berlaku bodoh dalam memenuhi tuntutan kerohaniahan sehingga menyembah patung dan berhala yang mereka buat sendiri. Golongan yang kuat bertindak sewenang-wenang dengan merebut atau merampas hak orang lain yang lemah. Golongan yang lemah terus tertindas dan terjajah. Kebodohan karena ketidaktahuan mana yang benar dan mana yang salah terus mencengkeram sehingga jaman itu dikenal dengan jaman jahiliyah.

Oleh karena itu, diutuslah Rasulullah SAW untuk memerdekakan masyarakat dari segala bentuk penjajahan baik secara jasmani maupun rohani. Perjuangannya bermula di Mekah dan direalisasikan sepenuhnya dengan membentuk umat Islam di Madinah yang kemudian menjadi model masyarakat madani. Model dan strategi perjuangan beliau ini menjadi acuan dalam membina sebuah negara yang merdeka dan berdaulat.

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Peringatan hari kemerdekaan menuntut kita untuk merenung sejenak apakah yang telah kita kerjakan dalam mengisi kemerdekaan ini. Tuntutan ini telah diabadikan dalam Al-Qur’an dalam surah At-Taubah, ayat 105, yang berbunyi:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan katakanlah (wahai Muhammad): Bekerjalah kamu, maka sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang yang beriman akan melihat apa yang kamu kerjakan dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang gaib dan yang nyata, kemudian Dia menerangkan kepada kamu tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Ayat tersebut menegaskan bahwa kita harus mengisi hidup ini dengan beramal dan bekerja baik untuk kepentingan duniawi maupun ukhrawi. Tidak ada alasan untuk mengabaikan kedua amal tersebut karena Allah SWT telah memberi kita kemerdekaan. Dengan kemerdekaan itu kita memiliki kebebasan seluas-luasnya untuk beribadah kepada Allah SWT karena memang tujuan Allah menciptakan manusia di dunia ini tak ada lain adalah agar kita semua senantiasa menyembah atau beribadah kepada-Nya.

Ibadah itu sangat luas yang memungkinkan seseorang mampu beribadah selama 24 jam sehari. Hal ini dimungkinkan ketika kita memaknai ibadah sebagai segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah SWT berupa ucapan, perbuatan maupun sikap, lahir maupun batin. Allah SWT telah membuka pintu-pintu kebaikan. Rasulullah SAW telah menjelaskan kepada kita amal-amal kebaikan yang bisa mendekatkan diri kita kepada Allah. Bukankah beliau telah bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Al-Hakim:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? , ? ? ? ? ?

? ? ? ?

Artinya: “Tidak satu pun amal yang bisa mendekatkan kalian ke surga melainkan aku memerintahkannya kepada kalian. Dan tidak satupun amal yang bisa mendekatkan kalian ke neraka melainkan aku telah melarang kalian darinya.”

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Kita patut bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat kemerdekaan yang telah dianugerahkan kepada kita sebagai rahmat-Nya. Dengan kemerdekaan itu kita bebas ke mana saja untuk beribadah, bekerja, belajar, dan menjalani kehidupan yang aman dan damai. Bisa kita bayangkan betapa mengerikan dan sulitnya hidup di sebuah negara yang dilanda peperangan. Peperangan dengan latar belakang apapun, seperti perang melawan penjajah, perang saudara, konflik antar etnis dan golongan, pasti sangat mengerikan.

Kita bersyukur kepada Allah SWT karena dengan kemerdekaan, maka keamanan lebih bermakna dalam diri kita. Kita dapat menikmati berbagai kemakmuran, pembangunan dan kemajuan. Kita berdoa semoga Allah SWT terus memberikan nikmat ini dan menambahkannya. Semoga pula kita mampu menunjukkan rasa cinta kita yang terus bertambah kepada agama dan negara tercinta ini. Allah SWT telah menegaskan di dalam Al-Qur’an, Surat Ibrahim, ayat 7 sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Sekiranya kamu bersyukur, niscaya Aku akan tambahkan nikmat-Ku, dan sekiranya kamu kufur, sesungguhnya adzab-Ku amatlah pedih.”

Sidang Jum’ah rahimakumullah,

Sebagai tanda syukur kita kepada Allah yang telah menganugerahkan kemerdekaan dan terima kasih kita kepada para pejuang dan pahlawan kita yang telah berhasil meraihnya, maka tidak sepatutnya kita menyia-nyiakan nikmat dan kesempatan-kesempatan yang ada dalam rangka mengisi kemerdekaan. Pemerintah telah menetapkan tema peringatan HUT Kemerdekaan RI yang ke-72 ini adalah “Disiplin Kerja dan Cinta Budaya”. Tema ini sejalan dengan firman Allah dalam Surat Al-Insyirah, ayat 7-8:

? ? ? ? ? ?

Artinya: “Maka apabila kamu telah selesau dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Rabbmulah hendaknya kamu berharap,”

Ayat ini melandasi upaya kita bahwa setelah kemerdekaan kita capai, kita harus mengisinya dengan disiplin kerja yang tinggi dan tetap mencintai budaya bangsa sendiri. Kemerdekaan sesungguhnya bukan tujuan tetapi merupakan jembatan emas untuk mencapai cita-cita luhur. Bangsa Indonesia telah bercita-cita menjadi bangsa merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Bangsa Indonesia memiliki budaya sendiri yang memungkinkan untuk tetap menjaga dan merawat negeri ini berdasarkan Pancasila, UUD 1945, Binneka Tungga Ika dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Untuk itu, marilah sesuai dengan peran dan fungsi kita masing-masing di masyarakat, kita isi kemerdekaan ini dengan beramal dan bekerja sebaik-baiknya sehingga Indonesia menjadi negara yang baldatun thayyibatun warabbul ghafur, yakni sebuah negara yang elok dimana Allah senantiasa memberikan ampunan dan ridha-Nya para pemimpin dan rakyatnya. Sudah pasti ampunan dan ridha-Nya akan kita peroleh selama kita bertahuhid, yakni selama kita menyembah dan tunduk hanya kepada Allah SWT. Semoga kita semua menjadi orang-orang merdeka yang senantiasa men-tauhidkankan-Nya. Amin ya rabbal alamin.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ?



Khutbah II


? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ! ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta

?
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote, Amalan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 09 April 2016

Pesantren di Pringsewu Ini Cetak Yatim Piatu Jadi Hafidh dan Sarjana

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Niat tulus dan ikhlas ditunjukkan Ketua Lembaga Pendidikan Maarif NU Provinsi Lampung H Fauzi yang juga pemilik STMIK dan STIT Pringsewu. Berawal dari kegelisahannya terhadap fenomena gersangnya akhlak dan ilmu agama para mahasiswa di zaman sekarang, ia merintis sebuah pondok pesantren bagi para mahasiswanya.

Pesantren di Pringsewu Ini Cetak Yatim Piatu Jadi Hafidh dan Sarjana (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren di Pringsewu Ini Cetak Yatim Piatu Jadi Hafidh dan Sarjana (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren di Pringsewu Ini Cetak Yatim Piatu Jadi Hafidh dan Sarjana

Awalnya, doktor lulusan Universitas Gajah Mada ini sudah secara rutin membantu mahasiswanya dalam bentuk pendidikan secara gratis. Seiring berjalannya waktu ia menilai bahwa hasil perubahan yang didapat kurang maksimal. Sehingga ia pun mengubah metode penyaluran beasiswa dengan cara mengasramakan para penerima beasiswa tersebut. Hal ini ditujukan untuk lebih fokus dalam pembinaan akhlak mereka.

"Setelah mendirikan asrama, ia (Fauzi) pun berinisiatif untuk merintisnya menjadi sebuah pondok pesantren yang diberi nama Baitul Quran. Dalam mengelolanya ia mempercayakannya kepada saya," kata Ustadz Abdul Hamid Al Hafidz yang juga Pengurus Jamiyyatul Qurra wal Huffadh NU Pringsewu saat menceritakan pesantren yang diasuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Abdul Hamid menambahkan bahwa Pesantren Baitul Quran memiliki konsep beasiswa bagi para anak yatim piatu yang memiliki keinginan menghafalkan Al-Qur’an. "Selain para santri menghafal Al-Qur’an dan belajar ilmu agama, mereka juga mendapat perkuliahan yang nantinya akan menjadikan mereka para sarjana yang hafidz quran," jelasnya, Selasa (18/5).

Untuk kurikulumnya, Pesantren Baitul Quran memiliki banyak matakuliah yang difokuskan pada pendalaman keilmuan para santri di bidang agama khususnya ilmu Al-Qur’an. "Perkuliahan dilaksanakan di kompleks pondok yang statusnya bekerja sama dengan STIT Pringsewu yang masih merupakan (di bawah naungan) satu yayasan," imbuhnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan mata kuliah yang diberikan Pondok Pesantren Baitul Quran, lanjutnya, para santri juga diharapkan memiliki 10 kompetensi para dai. Kompetensi tersebut yaitu memiliki aqidah yang benar, berakhlak mulia, taat beribadah, mandiri, berwawasan luas, sehat jasmani dan rohani, memiliki semangat juang tinggi, dinamis, disiplin dan bermanfaat bagi sesama.

Selama di pesantren para santri diberi beasiswa penuh dan dibebaskan seluruh biaya pendidikan sarjananya serta bebas biasa asrama dan kebutuhan makan sehari hari. "Jika ada anak yatim piatu yang ingin masuk Pesantren Baitul Quran bisa menghubungi saya langsung melalui HP 081369740662 atau datang langsung ke Pesantren yang beralamatkan di Jalan SMA 2 Perum Podomoro Indah Pringsewu," pungkasnya. (Muhammad Faizin).

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 08 April 2016

Menpora Salut Ika Uinsa Selenggarakan Lomba Patrol

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tradisi baru dilakukan Ikatan Keluarga Alumni Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya atau Ika Uinsa koordinator daerah (korda) Jombang. Saat pengukuhan kepengurusan baru di kota santri tersebut juga diisi dengan Festival Musik Patrol Nusantara.

Menpora Salut Ika Uinsa Selenggarakan Lomba Patrol (Sumber Gambar : Nu Online)
Menpora Salut Ika Uinsa Selenggarakan Lomba Patrol (Sumber Gambar : Nu Online)

Menpora Salut Ika Uinsa Selenggarakan Lomba Patrol

Ketua Umum Ika Uinsa Pusat H Imam Nahrawi sangat mengapresiasi ikhtiar para pengurus yang menggandeng Pemerintah Kabupaten Jombang dengan menyelenggarakan kegiatan ini.

Menurut Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora), musik patrol merupakan bagian dari kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia terutama di Jombang yang dikenal sebagai kota santri. Sehingga tradisi tersebut bisa dilestarikan. "Ini perlu dilestarikan. Sebab budaya musik patrol bisa menjadi alternatif hiburan khususnya saat pada bulan Ramadhan," katanya, Sabtu (24/12)? sebelum melepas peserta yang berjumlah 28 kontingen tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bahkan Bupati Jombang H Nyono Suharli Wihandoko yang mendampingi, Menpora mendapatkan kepastian bahwa kegiatan seperti ini akan menjadi agenda tahunan. "Bahkan kata bupati akan diselenggarakan dengan lebih besar dengan melibatkan banyak peserta," ungkapnya saat memberikan sambutan setelah melantik kepengurusan Ika Uinsa Jombang.

Karenanya Menpora juga berharap festival tersebut bisa menjadi agenda tahunan sekaligus kalender nasional. "Saya berharap, Menteri Pariwisata untuk melihat budaya ini sebagai menjadi hal penting untuk dijadikan kalender tahunan," ujar Imam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menpora sangat bangga dengan kreasi yang dilakukan para alumni. "Ini membuktikan bahwa pengurus bisa bersinergi dengan pemerintah dalam melestarikan kekayaan tradisi di masyarakat," ungkapnya di pendopo Kabupaten Jombang.

Ika Uinsa Jombang dilantik oleh Menpora yang juga Ketua Umum Ika Uinsa. Pantauan di lokasi, ribuan warga Jombang tampak memadati jalan protokol tempat dilaluinya para peserta lomba. "Kita datang ke sini untuk melihat musik patrol. Bisa menjadi hiburan saat liburan sekolah," kata Tutik (45) salah satu warga.

Warga rela berdesakan demi melihat lomba yang digelar Pemkab Jombang, untuk menghidupkan musik yang lebih sering didengar pada saat bulan puasa.

Terdapat sekitar 28 grup dari beberapa daerah di Kabupaten Jombang yang ikut menyemarakkan festival tersebut. "Yang mengikuti lomba ini dari beberapa kecamatan dan desa di Jombang," ujar salah seorang panitia, Ahmad Fanani.

Sebelumnya, pelantikan Ika Uinsa juga dilakukan di Mojokerto yang diisi dengan jalan sehat. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)



?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 06 April 2016

Perburuan Macan Sumatra Diharamkan

Cirebon, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Perburuan hewan langka sekelas Macan Sumatra menarik perhatian forum bahtsul masail yang digelar dalam peringatan haul al-marhumin sesepuh dan warga pondok Buntet Pesantren Cirebon di masjid agung pondok Buntet Pesantren Cirebon, Kamis (3/4) malam.

Dalam pembahasan awal Kiai Mutohar yang didaulat sebagai moderator menjelaskan, konteks perburuan hewan buas seperti Macan Sumatra memang harus dibedakan dengan kondisi pembelaan  diri sebagai alasan yang banyak dimanfaatkan oknum tidak bertanggung jawab. 

Perburuan Macan Sumatra Diharamkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perburuan Macan Sumatra Diharamkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perburuan Macan Sumatra Diharamkan

“Perburuan dengan pembelaan diri itu harus dibedakan jauh. Perburuan hewan langka tentu akan melanggar peraturan perundang-undangan yang berlaku. Sementara alasan membela diri dari serangan hewan buas hanya bersifat kasuistik dan berpotensi untuk dijadikan alasan pihak-pihak tertentu,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut Kiai Mutohar menyimpulkan dari tanggapan para peserta bahwa perburuan Macan Sumatra dengan status sebagai hewan buas dikhawatirkan akan memutus rantai makanan dan juga mengakibatkan kerugian bagi manusia dengan dampak lebih besar.

“Dari pertimbangan mashlahat dan mafsadatnya, forum bahtsul masail ini akhirnya menyatakan bahwa perburuan Macan Sumatra lebih banyak menimbulkan kerugian dan bahaya bagi masyarakat. Karenanya forum memutuskan haramnya perburuan Macan Sumatra,” pungkasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain soal hukum perburuan hewan langka, forum bahtsul masail yang dihadiri oleh puluhan tokoh sepuh dan kiai muda ini juga membahas seputar isu penjualan Gunung Ciremai yang marak dibicarakan. Masing-masing kiai sebagai perwakilan dari pesantren-pesantren se-Wilayah III Cirebon ini, dengan hikmat membahas dan berdebat dengan rujukan puluhan kitab yang mu’tabarah. (Sobih Adnan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, Pahlawan, Kyai Pondok Pesantren Attauhidiyyah