Minggu, 16 Agustus 2015

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Berbagai pemikiran para ulama Indonesia yang saat ini hanya ditulis dalam bahasa Indonesia perlu diterjemahkan ke dalam bahasa asing, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris agar dikenal oleh dunia.

“Kenapa tidak ada ulama Indonesia yang mendunia, persoalan karena ditulis dalam bahasa Indoensia, sehingga yang tahu hanya orang Indonesia,” tutur Ketua PBNU Prof. Dr. Masykuri Abdillah, Jum’at (3/8).

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemikiran Ulama Indonesia Perlu Diterjemahkan dalam Bahasa Asing

Dikatakannya ulama Indonesia masa lalu telah melahirkan banyak pemikiran yang dikenal dunia karena mereka menulisnya dalam bahasa Arab seperti yang dilakukan oleh Syeikh Ihsan Jampes, Syeikh Nawawi al Bantani, dan lainnya.

Penyebarluasan pemikiran melalui metode terjemahan ini dilakukan oleh Abu A’la Al Maududi, pemikir dari Pakistan yang hanya menulis dalam bahasa Urdu, namun ia memiliki tim dari Institute of Islamic studies yang menerjemahkannya ke dalam bahasa Inggris dan Arab sehingga ide-idenya bisa disosialisasikan secara luas.

Mantan Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah ini menceritakan pengalamannya ketika mengikuti Islamic Expo di London sebagai wakil NU tahu lalu. Sejauh ini pemikiran dari ulama Indonesia kurang dikenal

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saat diskusi, tentang Indonesia sedikit sekali yang datang, hanya para pecinta Indonesia karena ada anggapan Indonesia tidak ada intelektualisme,” paparnya dengan nada prihatin.

Lulusan Doktor dari Jerman ini juga menjelaskan bahwa pemikiran ulama Malaysia lebih dikenal meskipun pemikiran dari cendekiawan muslim Indonesia lebih maju. Ini disebabkan pemerintah Malaysia membantu mensosialisasikan pemikiran Islam melalui Institute Kepahaman Islam Malaysia dan lembaga lainnya yang memiliki fungsi sama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Walaupun dalam kenyataannya, pemikiran Islam di Indonesia lebih maju, tetapi gaungnya di dunia lebih bergaung Malaysia. Ini karena ada lembaga yang secara gencar mempromosikan, disamping setiap negara besar ada chair of Malaysia,” tandasnya.

Saat ini ia tengah mengusulkan adanya Lembaga Riset Islam Indonesia yang diharapkan didukung pemerintah untuk menjalankan fungsi sosialisasi pemikiran dan ide para ulama Indonesia sehingga lebih dikenal dunia. (mkf)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 14 Agustus 2015

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?

Meski terhitung masih lama, Konferensi Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Jombang, tapi sejumlah isu strategis untuk terus memperkuat NU baik secara struktural ataupun kultural sudah mulai dihembuskan.?

Salah satunya penguatan jenjang kaderisasi NU sebagai pengurus di level cabang NU harus diperhitungkan. "Ke depan, PCNU Harus diisi sebagaimana yang sudah dibikin para ulama terdahulu," kata H Zulfikar Damam Ikhwanto, Ketua Pimpinan Cabang (PC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor setempat, Selasa (15/11).?

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)
Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader (Sumber Gambar : Nu Online)

Tertib Jenjang Kaderisasi Penting untuk Wadahi Kader

Dijelaskan, jenjang kaderisasi NU merupakan media kekuatan dalam berorganisasi. Sejumlah kader NU dari masa ke masa juga dari semua level kepengurusannya akan terwadahi. "Kalau tidak demikian, input kader itu tidak akan kuat untuk ngopeni NU. Militansi pengurus kurang matang kalau tidak berdasar tahapan-tahapan kaderisasi itu," ujarnya.?

Jenjang kaderisasi di NU, lanjut pria yang kerap disapa Gus Antok itu, sudah sangat jelas mulai dari tingkat pelajar, pemuda dan kader NU yang sudah dianggap sepuh. "Kita ini gantian, di tingkat pelajar ada IPNU dan IPPNU, terus naik lagi ke level mahasiswa ada PMII juga PKPTNU, kemudian setelah itu naik lagi ke GP Ansor atau Fatayat NU, setelahnya PCNU dan Muslimat NU," tegas dia.

Selama ini ia memantau, jenjang kaderisasi itu masih belum diperhatikan dengan serius, sehingga kader yang benar-benar berproses di NU sekalipun terkadang tak ada wadah dan hengkang dengan sendirinya. "Saya ada banyak kader Ansor yang sudah pasca kepengurusan cabang, tapi mereka tidak masuk struktur PCNU, terus siapa yang akan mengisi PCNU kalau tidak Pengurus Ansor yang sudah selesai itu," singgung dia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

PNS di lingkungan kota santri itu berharap PCNU sudah mulai memperhatikan ketertiban jenjang kaderisasi NU menjelang Konfercab ini. "Ya memang PCNU harus berani mengambil kebijakan seperti itu agar dicontoh oleh MWC-MWCnya, dan MWC juga ambil kader Ansor yang di kecamatan-kecamatan, begitu juga di ranting," ucapnya.

Untuk diketahui, Konfercab NU Jombang akan berlangsung pada bulan April 2017 mendatang. Hal ini sesuai koordinasi antar pengurus internal PCNU setempat. (Syamsul Arifin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah