Rabu, 17 Desember 2008

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Masalah persatuan dalam kebhinekaan mengemuka dalam diskusi kebangsaan yang diadakan Lembaga Kajian Strategis Bangsa (LKSB) di Lantai Lima Gedung PBNU, Jakarta, Jumat (28/10) siang. Masalah ini diperbincangkan dengan hangat oleh para pemuda dari pelbagai latar belakang organisasi pelajar dan mahasiswa.

Sejumlah narasumber dari PMII, IPNU, PMKRI, GMNI, GMKI, dan Ketua FKUB Jati Asih Bekasi membawa menyampaikan pandangannya perihal semangat persatuan yang digelorakan para pemuda di tahun 1928. Mereka tampak menguasai sejarah dan semangat para pemuda Indonesia dengan membandingkannya dengan situasi disharmoni yang kerap hadir menjelang pilkada di sejumlah daerah di Indonesia.

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

LKSB Ingatkan Semangat Persatuan Sumpah Pemuda

Direktur Eksekutif LKSB Abdul Ghopur menyampaikan terima kasih kepada para peserta yang berkenan hadir untuk membincangkan situasi sosial terkini di sejumlah daerah di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alhamdulillah sekarang kita masih bersatu dalam bingkai kebangsaan meskipun belakangan pilkada di beberapa daerah membawa pada ketegangan-ketegangan sosial,” kata Ghopur mengawali diskusi yang dihadiri sedikitnya 25 pemuda dari pelbagai latar belakang gerakan pelajar dan kemahasiswaan.

Ia masih berharap penuh pada para pemuda yang memiliki semangat kebangsaan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kita semua sebagai pemuda memiliki tanggung jawab sejarah untuk mengembalikan kondisi ini ke dalam apa yang dicita-citakan para pemuda pendiri bangsa kita,” kata Ghopur.

Sementara Ketua Umum PMKRI Angelo menyampaikan bahwa butir-butir Pancasila dan semangat persatuan para pemuda pergerakan bangsa dahulu merupakan pengembaraan pemikiran dan penggalian nilai-nilai budaya masyarakat Indonesia yang didasarkan pada kerukunan masyarakat.

Sedangkan Ketua Umum GMNI Crisman menyayangkan sejumlah orang yang melanggar norma-norma semangat persatuan para pendiri bangsa. “Tidak sedikit perilaku anak bangsa hari ini bertolak belakang dengan nilai-nilai dasar kemanusiaan, persatuan, demokrasi Indonesia, keadilan, ketuhanan, dan kerakyatan.” (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama

Yogyakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Peringatan haul ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di Yogyakarta berlangsung meriah, Senin (16/12). Hadir dalam acara bertema “Napak Tilas Perjalanan Gus Dur dalam Merawat Kebhinnekaan” ini warga dari berbagai komunitas dan pemeluk agama.

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Haul Ke-4 Gus Dur di Yogyakarta Dihadiri Lintas Agama

Rangkaian perhelatan haul dimulai sejak pukul 15.00 WIB dengan melakukan kirab budaya dari gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta menuju Monumen Serangan Umum 1 Maret. Aneka pertunjukkan seperti barongsai, Bregodo Mataram, dan ketoprak turut meramaikan acara.

Dalam acara yang dihadiri komunitas difabel ini merupakan, istri Gus Dur, Ny Hj Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid mengatakan, semakin banyaknya orang yang meneruskan perjuangan Gus Dur membuat presiden ke-4 ini terus serasa di tengah-tengah masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Gus Dur itu adalah oase yang menjadi sumber mata air bagi kehidupan. Kita semua punya tugas penting untuk menjaga sumber ini, agar selalu mengalir dan memebrikan kehidupan bagi manusia,” ujarnya.

Menurut Shinta Nuriyah, Gus Dur adalah orang yang selalu siap pasang badan ketika ada ketidakadilan. “Banyak orang yang secara lantang meneriakkan ketidakadilan, namun tidak ada yang berani pasang badan,” lanjutnya. (Muyassaroh Hafidzoh/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 11 Desember 2008

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi

Lviv, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bersama dengan ratusan Muslim Tatar yang ketakutan, Ismail Ayubov memutuskan untuk meninggalkan rumahnya di Crimea bersama dengan istri dan dua orang anaknya, mengingat ketidakpastian masa depan setelah aneksasi oleh Rusia.

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Muslim Tatar di Krimea Mengungsi

“Situasi bisa sangat berbahaya bagi Muslim di Rusia,” kata Ayubov kepada situs World Crunch, Selasa (13/5).

“Saya takut dengan milisi bersenjata,” tambah seorang laki-laki, Enver Mohammed.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terdapat sekitar 300 ribu minoritas Muslim di Krimea, yang mewakili kurang dari 15 persen populasi yang berjumlah 2 juta, yang menentang aneksasi Rusia ke wilayah tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rusia melakukan aneksasi setelah referendum yang dilakukan di awal Maret, dengan hasil keputusan 96 persen masyarakat setuju bergabung dengan Rusia. Komunitas Tatar memboikot referendum tersebut yang menolak penyelenggaraan referendum dibawah todongan senjata serdadu Rusia.

Setelah aneksasi Rusia, ketakutan Muslim Tatar meningkat atas kemungkinan hilangnya kebebasan dan ingatan akan pengusiran dan tuntutan yang mereka hadapi pada 1944.

Selain itu, pemerintahan sementara Krimea menolak pemimpin Muslim Tatar, Mustafa Dzhemilev, ketua majelis Tatar, selama lima tahun atas kritik yang dilakukan terhadap Rusia, menjadi tambahan perhatian bagi kalangan Muslim.

Jaksa Agung Krimea, Natalia Poklonska mengancam akan membubarkan majelis dan mengajukan tuntutan kriminal atas para demonstran.

Menghadapi masa depan yang tidak pasti, ratusan orang Tatar meninggalkan rumah mereka menuju wilayah barat Ukraina di kota Lviv.

“Banyak yang tidak ingin meninggalkan kehidupan mereka di belakang,” kata Muhammad, 28 tahun. 

“Referendum ini adalah lelucon,” tambahnya.

Kehidupan baru

Setelah pergi dari kampung halaman, orang-orang Tatar tersebut membentuk kelompok-kelompok untuk mendukung para pendatang baru di Lviv.

“Rusia mungkin ingin melindungi minoritas, tetapi mereka hanya berpura-pura,” kata Alim Aliev, pemuda 25 tahun yang sudah tinggal di Lviv selama lima tahun dan saat ini memberi dukungan pada para pengungsi Tatar.

Bersama dengan 60 aktifis lainnya, dia membantu mencarikan tempat tinggal, mengumpulkan uang dan membantu mengisi formulir yang diperlukan.

Mereka tidak hanya membantu pengungsi Muslim. Ketika milisi merebut ibukota Krimea Simferopol, mereka membuat halaman Facebook SOS Krimea.

Suku Tatar yang telah mendiami Krimea selama berabad-abad diusir dari tempat tinggalnya oleh Stalin pada Mei 1944, yang menuduh mereka berkolaborasi dengan Nazi.

Populasi keseluruhan Tatar, lebih dari 200 ribu orang, dipindahkan dalam kondisi mengenaskan ribuah mil ke Uzbekistan dan lokasi-lokasi lainnya, banyak yang meninggal di perjalanan atau setelah tiba di lokasi baru.

Uni Soviet menyita rumah mereka, menghancurkan rumah mereka dan mengubahnya menjadi gudang, satu dirubah menjadi museum atheisme.

Sampai masa munculnya perestroika pada akhir 1980-an, sebagian besar orang Tatar baru diizinkan kembali, dan migrasi terus berlanjut setelah Ukraina menjadi merdeka setelah keruntuhan Soviet pada 1991.

Menghidupkan kembali pengalaman pengasingan yang sama, kondisi masih sulit bagi banyak Muslim Tatar untuk membuat kehidupan baru di Lviv.

Sebagai warga negara Ukraina, orang Tatar tidak diperlakukan sebagai pengungsi menurut ketentuan konvensi Jenewa.

Untuk memenuhi kehidupan, orang Tatar Krimea membuka kios dan toko, kata Aliev.

“Satu keluarga bahkan menjalankan bisnis kafe di pusat kota,” tambahnya.

Ketiadaan masjid di Lviv menjadi problem tersendiri bagi para pendatang baru tersebut, berdoa agar bisa kembali ke rumah mereka dibawah hukum Ukraina. (onislam.net/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah