Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tegal. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dua ikatan organisasi pelajar NU Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) memperingati hari lahir (Harlah) dengan menggelar Panggung Kreasi Pelajar (PKP).

Harlah ke-60 IPNU dan ke-59 IPPNU diperingati Pimpinan Anak Cabang (PAC) Kecamatan Wanasari di Kantor MWC Wanasari, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Rabu (25/2).

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringati Harlah, Pelajar NU Wanasari Gelar Panggung Kreasi

 

“Kreativitas pelajar NU perlu digali, dengan menyediakan media penyaluran,” kata Ketua Panitia penyelenggara Umi Mukaromah di sela acara.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam memperingati Harlah, IPNU-IPPNU merasa terpanggil untuk menyediakan media kreativitas pelajar. Diharapkan, para pelajar NU khususnya bakat dan minatnya di dalam berkesenian akan terus tumbuh dan berkembang.

Acara yang berlangsung meriah tersebut, antara lain ditampilkan berbagai macam atraksi kreasi band pelajar, lawak, drama, rebana, dan tari islami.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setelah melalui penilaian dewan juri yang sangat ketat, akhirnya berhasil menyabet juara IPNU-IPPNU Pimpinan Ranting Sawojajar meraih juara 1 dengan menampilkan Rebana kolaborasi Tari saman. Juara 2 PR Kertabesuki (band), juara 3 PR Kertabesuki (band) dan juara harapan diraih Komisariat SMK Maarif NU 1 Wanasari (Lawak).

Ikut menyaksikan PKP unsur PC IPNU-IPPNU, Muspika Kecamatan Wanasari dan Ketua MWC NU Wanasari. Selain kegiatan Panggung kreasi pelajar, dalam Harlah tahun ini juga diadakan aksi sosial donor darah yang bekerja sama dengan PMI Cabang Brebes. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, AlaNu, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 04 Februari 2018

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Oleh Ruchman Basori

Polemik Full Day School (FDS) melalui kebijakan Lima Hari Sekolah (5HS) terus berlanjut. Masyarakat semakin kecewa dengan ngototnya Mendikbud Muhadjir Effendy atas kebijakannya itu. Sepintar-pintar Mendikbud Muhadjir Effendy membungkus 5HS atau FDS, masyarakat akan dengan jeli melihatnya hanya sebuah kedok untuk memperkuat pendidikan karakter. Bahkan lebih dari itu merupakan upaya sekularisasi pendidikan di Indonesia.

Fakta bahwa pendidikan karakter hanya sebagai alasan atau layaknya bungkus, dapat dibaca kenekatan kalangan Kemdikbud yang tetap akan menjalankan kebijakan 5HS pada tahun ajaran baru yang dimulai pada tanggal 17 Juli 2017 mendatang. Alih-alih membatalkan kebijakan 5HS yang tertuang dalam Permendikbud 23 Tahun 2017 tersebut malah akan ditingkatkan lagi menjadi Peraturan Presiden.

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Di berbagai tempat dan kesempatan, Menteri Muhadjir mengatakan bahwa kebijakan 5HS yang didasarkan pada Permendikbud 23/2017 adalah untuk penguatan pendidikan karakter anak bangsa. Padahal hasil penulusuran penulis, dari 11 pasal dalam Permen itu tidak ada yang secara spesifik membahas tentang pendidkan karakter. Pasal demi pasal membahas tentang pemenuhan beban kerja guru. Tapi anehnya Permendikbud itu yang selalu dijadikan argumen untuk penguatan pendidikan karakter.

Pertanyaannya, apakah produk Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan Pondok Pesantren yang selama ini menjadi gawang pendidikan karakter bangsa ini kurang hebat dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah? Bukankah masyarakat Islam itu sudah dengan legowo menyempurnakan pendidikan agama dan karakter yang selama ini sangat kurang pada sekolah yang hanya dua jam seminggu?

Sekularisasi pendidikan

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Secara substantif kebijakan 5HS atau FDS yang ditolak oleh masyarakat tidak mencerminkan ikhtiar serius Kemdikbud untuk penguatan pendidikan karakter. Malah sebaliknya peran masyarakat yang telah berpartisipasi ikut memperkuat karakter, moral dan akhlak selama ini malah dinihilkan.

Melalui MDT, TPQ dan Pondok Pesantren, masyarakat selama ini telah menanamkan saham yang tak ternilai harganya untuk tumbuh dan berkembangnya masyarakat yang religius, berkarakter serta loyal terhadap bangsa dan negaranya. Negara nyaris tidak mengeluarkan dana yang sebanding dengan output yang dihasilkan lembaga pendidikan keagamaan Islam itu. Karena mereka lahir, tumbuh dari oleh dan untuk masyarakat secara mandiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kementerian Agama dengan keterbatasan anggaran yang ada telah memfasilitasi bagi pengembangan pendidikan keagamaan Islam dan diikuti dengan sejumlah regulasi. Terutama saat ini ketika dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Kalau demikian agaknya ada agenda terselubung dari orang-orang tertentu di balik kebijakan FDS. Lebih tepatnya ingin memisahkan antara pendidikan nasional dengan agama. Peserta didik lambat laun tidak akan dikenalkan agama dengan baik tergantikan dengan pendidikan karakter yang belum jelas wujudnya. Dengan kata lain akan terjadi sekularisasi pendidikan di negara kita.?

Adalah Peter L. Berger mendefinisikan sekularisasi adalah sebuah proses di mana sektor-sektor dalam masyarakat dan kebudayaan dipisahkan dari dominasi institusi dan simbol-simbol religius. Berger menegaskan sekularisasi merupakan fenomena global masyarakat modern.

Pada waktu itu akibat dominasi gereja maka di belahan bumi Eropa terhadap pandangan ingin memisahkan antara agama di satu sisi dengan urusan dunia di sisi lainnya. Namun penulis kira beda dengan di Indonesia. Di mana agama telah menjadi dasar fundamental, sumber nilai dan inspirasi untuk berpikir, bersikap dan berperilaku dalam hampir di semua sektor pendidikan.?

Amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan produk-produk turunannya sudah sangat jelas mengatakan bahwa pendidikan nasional sangat religius. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 misalnya dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.?

Memisahkan pendidikan nasional dengan dasar religius, tidak saja akan mengkhianati cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers) ini, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanat undang-undang. Selain dari itu pengabaian atas hak-hak kemanusiaan sebagai bangsa yang beragama. Jangan semua urusan hajat bangsa ini akan ditangani oleh pemerintah, namun harus mampu berbagi dengan baik dengan rakyat sebagai model pembangunan yang berbasis partisipatif.

Bukan sentimen organisasi, tapi kepentingan anak bangsa

Penolakan atau bahasa halusnya peninjauan kembali atas kebijakan lima hari sekolah (5HS) atau FDS akan terus digelorakan oleh kalangan masyarakat terutama yang terkena dampak langsung yaitu MDT, TPQ dan Pondok Pesantren. Ini bukan masalah konflik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai dua organisasi besar yang selama ini menjadi rujukan penting pendidikan Islam. Tapi ini masalah fundamental dasar-dasar pendidikan bangsa ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan harus jujur, kalau ikhtiarnya memperkuat pendidikan karakter, tidak harus dengan kebijakan Lima Hari Sekolah. Namun dengan mengoptimalkan pendidikan nasional yang berbasis karakter dan kecakapan hidup sebagaimana inti dari Kurikulum 2013 (K13).

Kenapa misalkan tidak dengan cara menambah jam pelajaran Pendidikan Agama yang hanya dua jam seminggu. Itu jauh lebih realistis dan pasti akan didukung oleh masyarakat. Tuntutan agar pemerintah menambah jam pelajaran agama sudah lama disuarakan, namun pemerintah tetap kekeh sampai hari ini. Dengan tambahan jam pelajaran agama, tidak saja akan menambah porsi yang cukup bagi pengembangan karakter peserta didik, namun juga pendidikan agama akan semakin mendapat porsi yang semestinya. Masyarakat mulai lega dengan penambahan jam pendidikan Agama di K13 namun Dikbud pada masa Anis Baswedan malah meninjau ulang pemberlakuannya dan berlanjut sampai hari ini.?

Masalah moral, karakter dan akhlak erat kaitannya dengan keteladanan (uswah hasanah). Mestinya pemerintah melalui Kemdikbud, Kemenag dan Ristek Dikti mampu mencetak guru dan calon guru yang mampu menjadi tauladan bagi peserta didiknya, tidak saja di sekolah namun juga di masyarakat. Tak kalah pentingnya adalah profil para pemimpin dan tokoh negeri ini harus menjadi contoh (modelling) bagi anak-anak bangsa yang kini sedang tumbuh besar menyambut Indonesia yang lebih baik.

Hal lainnya yang tak kalah penting adalah revitalisasi kurikulum pendidikan nasional. Seluruh mata pelajaran harus diarahkan pada penciptaan peserta didik yang mempunyai keluhuran budi dan kemualiaan akhlak. Belajar Bahasa, Matematika dan Teknologi tidak melulu pemindahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of knowledge) namun juga pemindahan nilai (transfer of value). Agaknya cita-cita ini sejalan dengan konsep K13 sebagai kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum).

Terakhir agar pendidikan karakter tidak sekadar 5HS maka penciptaan suasana dan kultur sekolah perlu diciptakan. Guru yang menjadi teladan, peserta didik yang mempunyai semangat belajar, perpustakaan yang mendukung, kepemimpinan sekolah yang berpihak pada perubahan serta masyarakat yang mencintai sekolah dapat terejawantahkan dengan baik.

Sekali lagi pendidikan karakter bukan Lima Hari Sekolah tetapi ikhtiar serius membenahi pendidikan nasional. Tujuan berdimensi jauh ke depan menciptakan para pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Mengerti masalah dan tahu bagaimana mengatasinya. Rakyat kita makin cerdas maka susunlah kebijakan yang cerdas pula dan berpihak kepada masyarakat bukan malah mengebiri kepentingan-kepentingannya. Wallahu alam bisshowab.

Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dan Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Halaqoh, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan, Rabu (16/11) petang, berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta. Ia menyampaikan keprihatinan terhadap aksi demo 4 November lalu yang semula damai namun berakhir ricuh pada malam harinya.

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Kisruh DKI, Kapolda Curhat ke PBNU

Ia menjelaskan bagaimana sejumlah oknun pendemo menggunakan bambu runcing dan beberapa alat lainnya untuk melukai polisi. Polisi, katanya, menyadari bahwa ada pihak tertentu yang memang menginginkan aksi demo berujung rusuh. Karenanya, polisi saat itu berusaha hanya bertahan untuk menghindari ketegangan yang kian panas.

"Akhirnya banyak sekali anak buah kami yang menjadi korban," tuturnya di hadapan Ketum PBNU KH Said Aqil Siroj, Waktum PBNU H Maksum Mahfudz, Sekjen PBNU H Helmy Faishal Zaini, Bendum PBNU H Bina Suhendra, Ketua PBNU Eman Suryaman, dan beberapa pengurus lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia secara khusus juga meminta PBNU untuk mendinginkan suasana menyusul belum tuntasnya polemik soal pernyataan gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok yang berujung demo hingga dua kali di Ibu Kota. Ia berharap tak ada demo susulan.

Kang Said, sapaan akrab KH Said Aqil Siroj, menyambut baik kunjungan Kapolda Mtro Jaya. NU, katanya, sejak awal berkomitmen untuk meredam situasi agar tak berakhir rusuh. "PBNU percayakan kepada proses hukum," tegasnya.

Ia menilai aksi demo susulan sudah di luar persoalan kasus penistaan agama apabila targetnya adalah memaksa polisi untuk menahan Ahok sebagaimana kabar yang ia dengar. Menurutnya, langkah tersebut adalah bentuk tidak menghargai proses hukum.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sikap PBNU ini juga selaras dengan seruan Kapolda Metro Jaya agar masyarakat tenang dan tidak melakukan tekanan pada proses hukum. "Apalagi kalau terkait (desakan politik kepada, red) petinggi negara, aksi ini berarti sudah inkonstitusional," tambah Iriawan.

Iriawan saat itu didampingi oleh Wakapolda Metro Jaya Brigjend Suntana, Direktur Intelkam PMJ Kombes Merdisyam, Kapolres Metro Jakpus Kombes Dwiyono, dan Korspripim PMJ AKBP Arsal. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 24 Januari 2018

GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?



Setelah beberapa bulan tanpa kabar atas tindak lanjut sikap pemerintah melalui Menteri Koordinator bidan Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto tentang penanganan ormas anti-Pancasila, akhirnya Presiden Joko Widodo menandatangani Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 2 Tahun 2017 Tentang Perubahan atas UU Nomor 17 Tahun 2013 Tentang Organisasi Kemasyarakatan, pada 12 Juli 2017.

GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Surabaya Siap Kawal Perppu Ormas Sampai Tingkat Bawah

Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya Alaik S. Hadi mengapresiasi ketegasan dan mendukung penuh terbitnya Perppu 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan dan siap mengawal proses pembubaran ormas radikal dan anti-Pancasila.

“Terbitnya Perppu ini adalah tepat dan konstitusional, dan akan mempercepat proses hukum penanganan ormas radikal dan anti pancasila, tanpa memberangus hak-hak ormas di Indonesia. Pemerintah bisa menangkal gerakan-gerakan atau benih ke arah terorisme, radikalisme, atau ormas yang terbukti bertentangan dengan ideologi negara atau Pancasila,” jelasnya melalui siaran pers, Rabu (12/7).

Sebelumnya, GP Ansor Kota Surabaya beberapa kali membantu kepolisian dalam menggagalkan aktivitas ormaa anti-Pancasila di Kota Surabaya. Kerja sama baik antar GP Ansor dan Kepolisian akan terus ditingkatkan mengingat ormas anti-Pancasila juga berganti modus gerakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sikap ini, kata dia, juga merupakan bentuk konkrit dukungan di bawah atas pernyataan PBNU dan Pimpinan Pusat GP Ansor yang dari awal mendesak terbitnya Perpu Pembubaran Ormas anti Pancasila.

“Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) pembubaran ormas tak hanya untuk membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Tetapi Ormas apapun yang jelas dan nyata-nyata anti-Pancasila dan mengancam keutuhan NKRI, sudah selayaknya segera dibubarkan,” katanya.?

Menurut dia, strategi dan taktik dalam pencegahan gerakan ormas anti-Pancasila telah dibuat oleh Banser Kota Surabaya dengan membentuk Resimen Banser Mahasiswa yang akan nantinya diharapkan bisa mengawal dan menjaga lingkungan kampus terhadap gempuran paham radikal dan anti-Pancasila.

Sekaitan dengan itu GP Ansor dan Banser Surabaya juga akan mengimbau Ansor dan Banser di tingkat kecamatan dan kelurahan untuk terlibat aktif dalam membagikan informasi yang berkaitan dengan aktivitas ormas anti-Pancasila kepada Kepolisian agar aktivitas ormas anti-Pancasila dapat diantisipasi.

Secepatnya, GP Ansor dan Banser Surabaya segera akan koordinasi dengan berbagai pihak, baik pemerintah, aparat dan para ulama di Kota Surabaya untuk bersama mengawal Perppu Pembubaran Ormas ini di Surabaya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dengan terbitnya Perppu 2/2017 tentang Organisasi Kemasyarakatan. GP Ansor dan Banser Kota Surabaya akan siap mengawal NKRI sampai titik darah penghabisan,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU, Tegal, Syariah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 19 Januari 2018

Banser Diminta Peka Dinamika di Masyakat

Purbalingga,Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kasatkornas Banser Ir. H. Alfa Isnaeni mewanti-wanti para anggota Banser untuk selalu peka dengan dinamika yang terjadi di tengah-tengah masyarakat. Hal ini karena tidak tertutup kemungkinan adanya gerakan penyusupan untuk mendegradasi Banser, Gerakan Pemuda Ansor, NU dan Islam Ahhlussunnah wal-Jamaah Annahdliyah.

Banser Diminta Peka Dinamika di Masyakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Diminta Peka Dinamika di Masyakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Diminta Peka Dinamika di Masyakat

"Nah, kepekaan pimpinan Banser sangat dibutuhkan dan diuji untuk menghadapi dan menyelesaikan masalah-masalah yang muncul," kata Alfa Isnaeni pada Temu Personil Banser di Desa Majasem Kecamatan Kemangkon, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah pada Ahad (31/1).

Alfa juga mengingatkan bahwa Banser sekarang telah bertransformasi menjadi organisasi yang dibangun oleh barisan kader-kader yang senantiasa meningkatkan profesionalitasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Banser, kata Alfa, bukan sekadar tenaga pengamanan, akan tetapi merupakan kader inti dari Gerakan Pemuda Ansor. Kader pemuda nahdliyyin yang siap membaktikan ilmu dan kemampuannya untuk mewujudkan tatanan masyarakat yang lebih baik.

Melalui sistem pengkaderan yang dibangun selama ini, termasuk melalui pendidikan dan latihan (diklat), menjadikan kader-kader Banser memiliki daya intelegensi dan kesigapan untuk membaca kondisi, serta bertindak mengantisipasi atau mengatasi masalah yang muncul di tengah-tengah masyarakatnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sebagai kader nahdlyin, kita harus selalu hadir di tengah-tengah masyarakat kita. Makin banyak tantangan, oleh karena itu kita perlu meningkatkan kewaspadaan, dan jangan lupa senantiasa meningkatkan kompetensi dan profesionalitas kader," ujar Alfanyang ditemani Wasekjend Pimpinan Pusat GP Ansor Ulil Arham.

Alfa mengingatkan bahwa masih ada kelompok kelompok tertentu di bumi Nusantara ini yang mengusung Islam dengan radikalisme, Islam dengan kekerasan, Islam yang selalu mengkafirkan. "Terhadap hal ini, Banser bersikap dengan tegas menolak dengan? keras bentuk bentuk kekerasan dan radikalisme termasuk mengatasnakan agama. Banser juga menolak segala bentuk terorisme," ujar Alfa.

Lebih lanjut, di bumi Nusantara juga muncul gerakan yang samar-samar dan bahkan ada yang berani terang terangan menentang Pancasila dan NKRI. “Nah, terhadap gerakan tersebut Ansor dan Banser dengan tegas menolak kelompok yang anti Pancasila dan anti-NKRI,” pungkasnya. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 18 Januari 2018

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ujaran kebencian saat ini tidak lagi berkeliaran dari mulut ke mulut. Melainkan sudah merambah ke dunia maya. Lalu lintas percakapan di dunia maya kian deras dan tak terbendung. Kebebasan berekspresi dan berbicara tidak lagi menjadi penghalang di media sosial.

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force (Sumber Gambar : Nu Online)
Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force (Sumber Gambar : Nu Online)

Prihatin Konten Dunia Maya, NU Jatim Bentuk Cyber Force

Penggunaan media sosial yang tak terkontrol ini banyak meresahkan masyarakat, termasuk NU. "Kita sudah buat tim ‘pasukan udara’ untuk memantau dunia maya dari teman-teman Ansor dan Cyber NU Jatim. Namanya Cyber Force," kata Ketua PWNU Jatim, KH Mutawakkil Alallah di Markas Polda Jatim, Kamis (1/9).

Cyber Force sudah bekerja sejak beberapa bulan lalu. Tim inilah yang memantau lalu lintas media sosial dan menganalisis ujaran-ujaran yang berseliweran di dunia maya. Jika ada ujaran yang berpotensi memecah belah keutuhan bangsa, NKRI langsung dilaporkan ke Kominfo. "Cara kerjanya seperti apa, tanya ke Ansor dan cyber NU Jatim," lanjut Kiai Mutawakkil.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Yang paling disorot NU, lanjut Mutawakkil, ialah ujaran dari kelompok Islam yang menebarkan paham keagamaan terindikasi radikal. Kelompok seperti inilah yang biasanya menyebarkan virus perpecahan, baik di tubuh Islam maupun masyarakat sebagai bangsa.

Kiai Mutawakkil mengungkapkan hal itu dalam acara penandatanganan nota kesepakatan atau MoU tentang Penanganan Konflik Sosial dan Ujaran Kebencian (Hate Speech) oleh Markas Besar Kepolisian RI dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). MoU dihadiri oleh Kepala Polri Jenderal Polisi Tito Karnavian dan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. (Rof Maulana/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Nasional, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 17 Januari 2018

Pulang dari Tunisia, Mahasiswa STAINU Diharapkan Jadi Duta Islam Moderat

Tunis, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Asdir II Pascasarjana Sekolah Tinggi Agama Islam Nadlatul Ulama (STAINU) Jakarta M. Ulinnuha Husnan mewakili pamitan sepuluh mahasiswanya yang telah mengikuti Program Kelas Internasional di Universitas Zitounah, Tunis, Tunisia.

Pulang dari Tunisia, Mahasiswa STAINU Diharapkan Jadi Duta Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pulang dari Tunisia, Mahasiswa STAINU Diharapkan Jadi Duta Islam Moderat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pulang dari Tunisia, Mahasiswa STAINU Diharapkan Jadi Duta Islam Moderat

Dalam pamitan yang berlangsung di ruang rektor kampus tersebut pada Rabu (11/12) waktu setempat, Ulinnuha menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Rektor dan segenap civitas akademika di salah satu kampus tertua di dunia tersebut.

Hal senada juga disampaikan Rektor Universitas Zitounah, Prof. Dr. Hisyam Grissa. “Saya juga sangat berterima kasih kepada STAINU dan Kementerian Agama atas kepercayaannya. Saya berharap agar kerja sama ini terus berlanjut dan tidak berhenti sampai di sini. Zitounah adalah universitas tertua di dunia yang mengkader muslim moderat,” kata Rektor yang terpilih menggantikan Prof. Abdel Jalil Salem.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Guru besar bidang ushul fikih Universitas Zitounah itu berharap kesepuluh mahasiswa ini dapat menjadi duta Islam moderat di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rektor juga berkomitmen untuk terus menjalin kerja sama dengan STAINU Jakarta, karena kedua perguruan tinggi ini memiliki kesamaan visi dan misi dalam mengembangkan Islam moderat dan toleran.

“Kerja sama ini akan kita jalin terus. Visi dan misi untuk mengusunag Islam moderat dan toleran adalah agenda bersama yang harus kita sebarkan ke segenap penjuru dunia. Salah satunya melalui program kelas internasional semacam ini,” tegasnya.

Lebih jauh, Rektor berharap dan berdoa agar dari kesepuluh mahasiswa STAINU itu ada yang kembali ke Tunis untuk melanjutkan studinya pada tingkat sarjana dan bahkan pascasarjana. “Saya doakan agar diantara kalian ada yang kembali ke sini untuk melanjutkan studi pada tingkat sarjana dan pascasarjana,” harapnya.

Menurut agenda, mahasiswa STAINU akan mengikuti ujian akhir semester pada tanggal 15-16 Desember. Dan pada tanggal 24 mereka dijadwalkan kembali ke tanah air. [MUH/Abdullah]

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 08 Januari 2018

Larang Warga Enam Negara Islam Masuk Amerika, Trump Direstui Kejaksaan Agung

Washington, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Kejaksaan Agung Amerika Serikat memutuskan untuk merestui kebijakan imigrasi Donald Trump terkait dengan larangan warga dari enam negara Islam untuk memasuki negera Paman Sam tersebut. Warga enam negara Islam yang tidak diizinkan masuk Amerika Serikat adalah Chad, Iran, Libya, Somalia, Suriah, dan Yaman. Ditambah dengan Korea Utara dan Venezuela.   

Putusan yang ditetapkan pada Senin (4/12) tersebut bisa segera diberlakukan sementara beberapa kasus pengadilan menentang larang itu terselesaikan. Keputusan akhir soal kebijakan larangan ini diperkirakan akan memakan waktu yang tidak sebentar. Namun ‘restu’ Kejaksaan Agung Amerika Serikat terhadap kebijakan Trump tersebut menjadi pukulan yang mendalam bagi pendukung anti diskriminasi yang bersikukuh menolak kebijakan tersebut. 

Larangan tersebut berarti bahwa Amerika Serikat akan secara kategoris menolak visa masuk ke Amerika Serikat bagi mereka yang berkewarganegaraan enam negara Islam dan ditambah dua negara tersebut. Namun ada pengecualian bagi mereka yang datang ke Amerika Serikat untuk bisnis atau hubungan keluarga dekat akan diperbolehkan. 

Larang Warga Enam Negara Islam Masuk Amerika, Trump Direstui Kejaksaan Agung (Sumber Gambar : Nu Online)
Larang Warga Enam Negara Islam Masuk Amerika, Trump Direstui Kejaksaan Agung (Sumber Gambar : Nu Online)

Larang Warga Enam Negara Islam Masuk Amerika, Trump Direstui Kejaksaan Agung

Sebagaimana dikutip dari The Guardian, Jaksa Agung Jeff Sessions mengatakan bahwa keputusan lembaga tersebut adalah merupakan sebuah kemenangan untuk menyelamatkan dan mengamankan warga Amerika Serikat.

Para pakar terorisme menganggap bahwa pembenaran keamanan dengan cara pelarangan tersebut adalah sesuatu yang menyesatkan. Bahkan, dalam sebuah pernyataannya The progressive Center for Constitutional Rights mengutuk keputusan Kejaksaan Agung itu dan menganggap bahwa apa yang dilakukan kejaksaan adalah sebuah tindakan yang diskriminatif dan tidak manusiawi terhadap Muslim. (Red: Muchlishon Rochmat)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 28 Desember 2017

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Perilaku dan akhlak yang baik adalah anjuran nabi yang selalu ditekankan pada umatnya, bahkan berbuat baik pada orang yang telah melakukan hal buruk sekalipun. Hal ini jelas sudah dicontohkan oleh sang pemuda padang pasir, Muhammad SAW dengan selalu menimpali perbuatan buruk orang lain terhadapnya dengan kasih sayang.

Syahdan, suatu hari Nabi SAW hendak pergi ke masjid dan melewati jalan yang merupakan akses satu-satunya untuk menuju masjid. Di situ Nabi selalu mendapat hinaan, cacian, bahkan dilempar kotoran. 

Namun Nabi tidak pernah membalasnya walau hanya mengeluh. Justru Nabi bertanya dan khawatir terhadap orang yang melempar kotoran saat suatu hari dia tidak melakukan kebiasaan buruknya itu. Ternyata Nabi mendapat kabar bahwa dia sedang sakit. 

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Rasulullah Dihina dan Dilempari Kotoran

Meski mendapat perlakuan negatif dan keji, Nabi tidak segan-segan menjenguknya. Akhirnya, orang tersebut merasa malu karena ternyata manusia yang selalu dikerjainya tersebut mempunyai sifat baik dan tidak dendam sedikitpun. Perangai Nabi itulah yang membuat Islam diterima dan menyebar luas hingga sekarang.

Nabi Muhammad Saw pernah bersabda:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Barang siapa bangun pagi dengan maksud untuk tidak berbuat zhalim (Aniaya)kepada seseorang maka perbutan dosa yang dilakukan akan diampuni (oleh Allah). Dan barang siapa bangun dipagi hari berniat untuk menolong orang yang terzholimi, memenuhi kebutuhan orang muslim maka dia akan mndapatkan pahala seperti haji mabrur.” (Nashaihul Ibad, hal 21)

Berbuat baik (menolong orang yang terdzalimi)dalam arti di atas memiliki arti umum yakni “Madhlum” yang berarti orang yang teraniaya, artinya berbuat baik tidak pandang agama, golongan ataupun ras. Namun berbuat baik adalah anjuran yang harus melekat pada diri manusia. (Diana Manzila)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Amalan, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Desember 2017

Santri Perlu Diajari untuk Profesional

Lumajang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Selama ini kegiatan di pondok pesantren masih didominasi rutinitas di tingkat konsepsi, teori dan gagasan. Kalangan santri pun masih belum mampu beraktivitas di tingkat aktualisasi, implementasi dan aksi. Karenanya, lembaga pendidikan berbasis agama Islam itu pun perlu didorong agar lebih berani beraktualisasi sehingga dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Demikian wacana yang mengemuka pada pembukaan Kursus Maintenance Komputer dan Internet untuk Santri yang digelar Pimpinan Pusat (PP) Rabitah Ma’had Islami (RMI) di Lumajang, Jawa Timur, Senin (26/2). Hadir pada acara tersebut Wakil Katib Syuriah PBNU KH Sadid Jauhari, Ketua Umum PP RMI KH Mahmud Ali Zain, Wakil Sektetaris PP RMI HM Sulthan Fatoni dan Wakil Ketua PP RMI Bashori Alwi.

Santri Perlu Diajari untuk Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Perlu Diajari untuk Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Perlu Diajari untuk Profesional

”Kita sering melihat kelompok masyarakat sibuk dengan wacana syariat Islam namun kita tidak pernah tahu wujud aktualisasi ke-Islam-an mereka. Contoh nyata, kita sering mengkaji kitab kuning bab bai’ (transaksi jual-beli), namun kita masih belum mampu menerapkannya dalam kegiatan usaha yang profesional,” kata KH Mahmud Ali Zain.

Menurut Kiai Mahmud, banyak sekali potensi pesantren yang belum dimanfaatkan secara optimal karena keterbatasan kemampuan beraktualisasi. Kelemahan tersebut, katanya, dapat diatasi dengan cara memperbanyak kursus-kursus. ”Kursus maintenance komputer ini diharapkan dapat menumbuhkan kegairahan berkreasi. Begitu juga kursus internet yang dapat membantu santri untuk mengakses dunia keilmuan di luar komunitas mereka,”terangnya.

Senada dengan Kiai Mahmud, KH Sadid Jauhari mengatakan, sampai saat ini masih saja ada segelintir orang yang memanfaatkan NU untuk tujuan politik praktis. Tindakan tersebut tentu merugikan NU, baik di masa sekarang maupun mendatang. ”Saya minta agar NU tidak diseret ke mana-mana. Karena NU menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik. Karena itu, program PP RMI seperti ini perlu diadakan sesering mungkin untuk menegaskan bahwa corak kegiatan NU yang sudah khittah itu, ya yang begini” ujarnya.

Sementara itu, HM Sulthan Fatoni menjelaskan, program kursus komputer yang diikuti oleh 60 santri se-Jember, Pasuruan dan Lumajang itu akan dilaksanakan hingga tiga bulan mendatang. Sedangkan kursus internet selama enam hari. ”Peserta yang berasal dari Lumajang dapat berangkat dari rumahnya, sedangkan yang dari luar Lumajang ditampung di Ponpes Habibul Abrori Suko Lumajang,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada kesempatan itu, Sulthan meyakinkan tentang kesiapan tenaga teknisi. ”Kami bekerjasama dengan satu lembaga profesional yang sanggup menggaransi semua peserta kursus menjadi terampil berkomputer dan berinternet. Program ini dirancang cukup ideal dan diharapkan, pesantren-pesantren yang santrinya ikut kursus tidak lagi mempunyai problem tenaga teknisi komputer dan internet,” kata mantan Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar NU itu. (maz)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 25 Desember 2017

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengimbau warga NU, dan umat Islam secara umum, untuk bertakziah ke rumah duka Rais Syuriyah PBNU KH Masduqi Mahfudz yang wafat Sabtu (1/3) petang di Malang, Jawa Timur.

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Shalat Ghaib untuk KH Masduqi Machfudz

Bagi yang tidak memungkinkan takziah secara langsung diminta menunaikan shalat ghaib. “Ini bentuk penghormatan terakhir kepada guru kita, Kiai Masduqi. Insya Allah seluruh amal perbuatannya diterima,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta.

Kang Said, demikian ia akrab disapa, mengaku sangat kehilangan kiai yang meninggal dunia di Rumah Sakit Syaiful Anwar, Malang, Jawa Timur itu. “Belum lama kita ditinggal Kiai Sahal Mahfudh (Rais Aam PBNU), seorang kiai kharismatik lainnya sekarang meninggalkan kita. Innalilahi wainna Ilaihi Rojiun," tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mengikuti Kebutuhan Zaman

Di mata Kang Said, Kiai Masduqi adalah guru dan teladan yang sangat alim. Kiai yang lahir di Pati, Jawa Tengah, tersebut dinilai sebagai sosok yang sangat dalam menguasai ilmu fiqih di kitab-kitab klasik, namun mampu mengaktualisasikanya sesuai dengan kebutuhan zaman.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saat kita belum banyak mengenal komputer, tahun 1996 dalam Munas NU di Lombok, Kiai Masduqi sudah bisa mengoperasikan laptop,” kenang Kiai Said.

Kiai Masduqi yang tercatat sebagai murid dari Kiai Kholil, Rembang, Jawa Tengah, lanjut Kang Said, juga dikenal sebagai sosok yang zahid, tulus, dan ikhlas. Pendiriannya dalam mempertahankan prinsip keagamaan sangat keras, hingga menjadikannya sebagi kiai yang kharismatik dan sangat disegani.

“Kiai Masduqi tidak segan berdebat dengan anak-anak muda seperti saya, Pak Masdar (Farid Mas’udi), dan lain sebagainya. Secara keilmuan kami sering tidak sependapat, tapi secara umum kami sangat takdim, sangat menghormati beliau,” urai Kang Said. (Samsul Hadi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 24 Desember 2017

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang

Subang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Subang menggelar Kopi Darat (Kopdar) untuk membahas kaderisasi.

Kegiatan tersebut digelar di Jalan Eyang Tirtapraja Nomor 47, Pamanukan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, Sabtu (4/3/2017) dan dihadiri oleh sejumlah pengurus PC IPNU yang baru terbentuk pasca Konfercab Desember 2016 yang lalu.

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang (Sumber Gambar : Nu Online)
Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang (Sumber Gambar : Nu Online)

Malam Mingguan ala Pelajar NU Subang

"Rencananya Kopdar ini akan kita laksanakan setiap malam Minggu untuk membahas hal-hal strategis berkaitan dengan program kerja IPNU Kabupaten Subang," ujar Ketua PC IPNU Subang, Agung Al-Muttafaqih.

Dikatakan, isu-isu kaderisasi memang menjadi prioritas selama ini. Pria yang akrab disapa Faqih itu menyebut, kaderisasi di IPNU masih akan diutamakan di wilayah Subang bagian utara (Pantura).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Untuk itulah Kopdar ini juga membahas persiapan teknis pelaksanaan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) sebagai pintu gerbang kaderisasi IPNU," kata Faqih.

Selain membahas kaderisasi, Kopdar tersebut juga membahas beberapa agenda jangka pendek yang dalam waktu dekat akan segera dilaksanakan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Khususnya kita akan melaksanakan roadshow dan silaturahmi ke para kiai sepuh yang ada di Kabupaten Subang," pungkasnya. (Ade Mahmudin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 22 Desember 2017

Asrori Terpilih Ketua Ansor Surabaya

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setelah melalui proses yang panjang, akhirnya Mohammad Asrori, terpilih sebagai Ketua PC GP Ansor Kota Surabaya, periode 2013-2017.

Asrori Terpilih Ketua Ansor Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Asrori Terpilih Ketua Ansor Surabaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Asrori Terpilih Ketua Ansor Surabaya

Hal ini setelah dilakukan Konfercab GP Ansor  kota Pahlawan itu di Gedung Islamic Center Surabaya Senin siang (4/2).

Pada acara pemilihan yang dipimpin oleh Sekretaris PW GP Ansor  Jatim, H Imron Rosyadi Hamid dan Kepala Banser Jatim, H Imam Kusnin Ahmad itu, mantan sekretaris Ansor Surabaya ini mendapat dukungan 52 suara dari 86 suara sah yang masuk.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pesaing kuatnya Rubian Arifin hanya mendapat  dukungan 32 suara. Sedangkan dua suara masuk ke Rubianto dan Rudi Wijaya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Konfercab yang dibuka oleh Ketua PW GP Ansor Jatim, Alfa Isnaini merupakan Konfercab kali kedua. Karena, Konfercab yang digelar tahun lalu dengan terpilihnya Mohammad Asrori oleh Pimpinan Pusat dinyatakan tidak sah karena tidak prosedural. 

“Kali ini Konfercab dinyatakan sah karena sudah memenuhi seluruh aturan yang ada di organisasi Ansor,’’ ujar Sekretaris PW GP Ansor Jatim, H Imron Rosyadi Hamid disela-sela pemilihan.

Pimpinan pusat dan pimpinan wilayah, lanjut Imron, tidak ada unsur dukung mendukung  dengan siapapun yang jadi. Asal sesuai dengan Peraturan Dasar dan Peraturan Rumah Tangga Ansor plus tidak menyalahi Peraturan Organisasi Ansor. 

“Masalah siapa yang jadi ketua kita tidak ada masalah. Yang penting konfercab kali ini prosedural,’’ tegas Imron.

Ikut hadir dalam acara itu, Ketua PP GP Ansor H Imam Makruf, Kepala Satkornas Banser, H Abdul Muchid, H Nur Mohyidin. Dari PW Jatim, selain Ketua H Alfa Isnaini, Kepala Satkorwil Banser Jatim, H Imam Kusnin Ahmad, ada jajaran pengurus harian yang lain diantaranya Abdussalam, Yunianto Wahyudi, H Agus  M Ubaidillah, H Budi Mulyo, Hendru Trisubiantoro,  M Nur Arifins.

“Pokoknya saya datang full tim. Ini menunjukkan bahwa Konfercab Ansor Kota Suarabaya ini benar-benar legal dan prosedural,’’ tegas  Imron.

Hal serupa ditegaskan oleh Ketua PW Ansor Jatim, H Alfa Isnaini. Menurutnya, Konfercab ini benar-benar legal formal, karena sudah sesuai dengan prosedur organisasi Ansor.  Untuk itu, ia berharap hendakanya ketua terpilih segera melengkapi pengurus. 

“Kami berharap semua kader Ansor yang potensial di Surabaya diakomodir. Ini penting  untuk kemajuan Ansor Surabaya itu sendiri. Ini penting supaya tidak ada dikotomi,’’ tandas Alfa. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 20 Desember 2017

Ibu-Ibu Jamuri Duduki Kursi DPRD Surakarta

Solo,? Pondok Pesantren Attauhidiyyah -

Menjelang siang, Sabtu (24/12) lalu, lampu-lampu di salah satu ruangan sidang di Gedung DPRD Kota Surakarta menyala terang. Kursi-kursi pun telah ditata rapi sedemikian rupa. Kiranya akan berlangsung acara penting, semacam sidang di tempat tersebut.

Namun, hingga waktu menunjukkan pukul 13.00 WIB, tidak nampak orang-orang yang mengenakan jas. Justru yang datang rombongan ibu-ibu berpakaian putih berpadu kerudung warna merah. Satu per satu mereka mulai berdatangan memenuhi kursi yang tersedia, termasuk kursi yang terletak di lantai atas.

Ibu-Ibu Jamuri Duduki Kursi DPRD Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Ibu-Ibu Jamuri Duduki Kursi DPRD Surakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Ibu-Ibu Jamuri Duduki Kursi DPRD Surakarta

Tak lama, terdengar alunan suara merdu dari salah satu perempuan, yang duduk di panggung depan. Dengan diiringi irama pukulan rebana, semakin menambah asyik suasana.

“Ya Robbi Sholli Ala Muhammad. Ya Robbi Sholli Alaih Wasallim. Ya Robbi Sholli Ala Muhammad. Ya Robbi Sholli Alaih Wasallim,” lantunannya kemudian diikuti seluruh jamaah yang hadir, membuat gedung menjadi semakin bergemuruh akan lantunan shalawat.

Rupanya, hari itu tengah diadakan kegiatan pembacaan shalawat yang diselenggarakan Jamaah Mahabbah Rasul Putri (Jamuri) Surakarta. Secara berkeliling mereka melakukannya, untuk memperingati bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Ketua Jamuri Surakarta, Nyai Hj Sechach Wal’afiyah, menerangkan jadwal penyelenggaraan yang ke-24 ini kebetulan bertempat di Gedung DPRD Kota Surakarta.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Mic yang biasanya untuk interupsi dan lain sebagainya, kali ini kita gunakan untuk dzikir dan shalawat. Penyelenggaraan ini juga sekaligus mengubah anggapan, bahwa kursi anggota dewan bisa diduduki segala lapisan masyarakat,” terang Nyai Hj Sechach Wal’afiyah.

Ditambahkan Nyai Syechah kegiatan shalawat keliling Jamuri di bulan Maulid ini akan berlangsung selama sebulan penuh. Acara pamungkas akan dihelat di Masjid Tegalsari Surakarta, Jumat (30/12) mendatang.? (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Pesantren, Kajian Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tiga ‘Jangan’ dalam Hidup

Pertama, jangan malas! Konon salah satu penyakit yang tidak ada obatnya itu adalah penyakit malas. Banyak hal yang menyebabkan kita dilanda kemalasan. Orang yang banyak masalah biasanya menjadi malas. Begitupula orang yang tidak punya target dalam hidup biasanya senang bermalas-malasan.

Orang yang terkena penyakit malas dia akan membuang waktunya tanpa melakukan apapun seolah waktu itu tidak berharga baginya. Orang malas cenderung menggampangkan persoalan dengan menunda-nunda mengerjakannya. Itulah sebabnya salah satu doa yang dianjurkan Rasulullah SAW untuk kita baca itu agar kita berlindung kepada Allah dari rasa malas.

Kedua, jangan putus asa! Biasanya orang malas akan cenderung mudah menyerah. Tidak punya spirit of fighting. Dia menganggap untuk apa berjuang toh hasilnya pasti kalah juga. Ini orang yang sudah kalah sebelum bertanding.

Tiga ‘Jangan’ dalam Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)
Tiga ‘Jangan’ dalam Hidup (Sumber Gambar : Nu Online)

Tiga ‘Jangan’ dalam Hidup

Alih-alih mengatur strategi dalam hidup, kita cenderung menerima keadaan dan tidak lagi mau berikhtiar. Anda boleh saja terlilit hutang, ditinggalkan kekasih, diberi cobaan penyakit, didera berbagai fitnah, namun apapun itu selama anda tidak berputus asa, anda masih bisa bangkit kembali.

...dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir. (QS. 12:87)

Buat yang suka menuding orang lain kafir hanya karena berbeda pendapat, baca deh ayat di atas: jangan-jangan kita pun juga masuk kategori kafir kalau kita mudah putus asa dari rahmat Allah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Orang yang putus asa itu seolah tidak percaya bahwa Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuan kita; tidak yakin bahwa bahkan binatang melata pun Allah beri rejeki; tidak percaya diri bahwa sesuai janji Allah dibalik kesulitan pasti ada kemudahan.

Ketiga, jangan lupa bersyukur! Mereka yang malas dan mudah putus asa biasanya jarang bersyukur. Apa yang mau disyukuri, lha wong hidup kami ancur-ancuran begini? Begitu biasanya dalih mereka.

Tapi selama nafas masih ada dan selama mentari masih bersinar hidup kita ini layak untuk kita syukuri. Tengoklah sekeliling kita: betapa banyak orang lain yang sebenarnya jauh lebih menderita ketimbang kita.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gak percaya? Tanyakanlah pada para pemulung yang kebingungan melihat kita ngedumel karena koneksi wifi yang lemot; tengoklah mereka yang tidur beratapkan langit dan diterangi kerlip bintang sementara kita terus menggerutu listrik PLN yang byar-pet; dan dengarkan pengamen kecil yang bersenandung riang mengetuk kaca mobil kita di lampu merah sementara kita stres kehilangan proyek.

Mereka yang pandai bersyukur artinya percaya bahwa Allah akan menambah nikmat yang ada --entah kapanpun atau bagaimanapun caranya.

Mereka yang tetap bersyukur meski diuji dengan berbagai cobaan akan lebih optimis memandang masa depan --semua akan indah pada waktunya.

Mereka yang bersyukur akan semakin rajin beribadah dan bekerja karena syukur mereka telah melampaui kesabaran mereka -- tidak heran Allah kerap memuji mereka.

Mereka yang tidak pernah lupa bersyukur adalah mereka yang memulai harinya dengan energi positif; bukan dengan meratapi penderitaan, apalagi nyinyir melihat kesuksesan orang lain.

Jangan malas

Jangan mudah putus asa

Jangan lupa bersyukur

Bismillahi tawakaltu alallah wa la hawla wa la quwwata illa billah.

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita, Tegal, Makam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 11 Desember 2017

38 Pelajar NU Lasem Latih Kemampuan Otomotif dan Tatarias

Rembang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus harian PCNU Lasem menggelar pelatihan keterampilan di bidang otomotif, teknik pendingin, dan tatarias. Kegiatan yang melibatkan 38 pelajar SMNU dan MANU Lasem ini dihadirkan untuk meningkatkan kapasitas peserta pelatihan pada tiga bidang tersebut.

Pelatihan yang dibuka di gedung LP Ma’arif NU Lasem, Rabu (6/5), terselenggara atas kerja sama PCNU Lasem dan Dinas Sosial Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Tampak hadir pada pembukaan pelatihan ini Ketua PCNU Lasem KH Shalahuddin Fattawi, pengurus MWCNU setempat, Kepala SMKNU Lasem, Kepala MANU Lasem, Kepala Dinsosnakertrans, sejumlah instruktur dari dinas serta tamu undangan lainya.

38 Pelajar NU Lasem Latih Kemampuan Otomotif dan Tatarias (Sumber Gambar : Nu Online)
38 Pelajar NU Lasem Latih Kemampuan Otomotif dan Tatarias (Sumber Gambar : Nu Online)

38 Pelajar NU Lasem Latih Kemampuan Otomotif dan Tatarias

Sebanyak 38 peserta pelatihan yang diadakan pada Kamis (7/5) ini terdiri atas 16 peserta pelatihan servis motor, 16 peserta pelatihan teknik pendingin, dan 6 peserta di bidang tatarias. Pelatihan ini akan dilangsungkan di tempat berbeda.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Shalahuddin mengatakan “Peserta kali ini tidak hanya remaja NU, tapi ada beberapa siswa dan siswi yang ditunjuk oleh sekolah dari LP Ma’arif NU Lasem. Saya mengharapkan adanya tindak lanjut yang baik dari kerja sama ini, baik itu dengan menambah berbagai macam pelatihan ataupun pendalaman materinya.”

Ia juga berharap pelatihan ini membawa hasil bagi peserta dengan perubahan pola pikir peserta untuk berwirausaha atau sebagai tenaga kerja berkualitas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Kepala Dinsosnakertrans Waluyo mengatakan, “Sebenarnya banyak dari berbagai kalangan ingin mendaftar untuk mengikuti pelatihan ini, tapi hanya ini yang berhasil.”

Peserta yang lulus pelatihan akan mendapatkan sertifikat resmi dari dinas agar dapat digunakan sebagaimana mestinya. Waluyo berharap peserta dapat mendayagunakan SDM mereka agar lebih produktif. (Akhmad Sayuti/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 Desember 2017

NU dan Kebangkitan Pemuda

Oleh Imam Nahrawi

Nahdlatul Ulama telah memasuki umur ke-91 pada 31 Januari 2017. Sebuah usia yang cukup sepuh dan tentu menyimpan banyak pengalaman dalam bentang perjuangan bangsa Indonesia selama ini. Sebagai ormas terbesar NU terbukti sudah memainkan peran-peran penting dalam usaha mewujudkan kedaulatan dan keutuhan negeri ini.

NU dan Kebangkitan Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Kebangkitan Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Kebangkitan Pemuda

Jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1916, KH Abdul Wahab Chasbullah bersama kiai-kiai lain mempelopori berdirinya Nahdlatul Wathan (kebangkitan tanah air). Kala itu, salah satu pendiri NU yang dua tahun pulang dari Makkah ini tak tega menyaksikan bangsanya dijajah.

Pergerakan tersebut lalu ia topang dengan hadirnya organisasi baru bernama Nahdlatut Tujjar (kebangkitan para saudagar) pada tahun 1918, yang menjadi basis gerakan perekonomian rakyat. Kiai Wahab menjadi sekretaris sekaligus bendaharanya. KH Hasyim Asy’ari memimpin gerakan ini dengan salah satu anggotanya KH Bisri Syansuri. Menyusul kemudian terbentuk Taswirul Afkar (konseptualisasi pemikiran), sebuah forum kajian keagamaan dan kebangsaan yang menyoroti isu-isu krusial dalam konteks itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melalui organisasi-organisasi tersebut para ulama Nusantara mengupayakan berbagai pemecahan masalah bangsanya yang tengah dicengkeram kolonialisme. Dalam suasana penjajahan yang menyengsarakan, langkah-langkah ini tergolong berani dan visioner. Para kiai bergerak dengan risiko akan berhadapan dengan para penjajah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Yang kerap terlupakan adalah para kiai itu berjuang dalam usia yang relatif sangat muda. Kiai Wahab yang lahir pada 31 Maret 1888 membentuk Nahdlatul Wathan saat masih berumur 26 tahun. Ketika itu Kiai Bisri menginjak usia 27 tahun, sedangkan Kiai Hasyim 41 tahun. Nahdlatul Wathan pun menjadi wahana penggembelengan kesadaraan cinta tanah air yang digerakkan para pemuda dan diperuntukkan bagi para pemuda pula.

Fakta tersebut sekadar contoh betapa atmosfir perjuangan bangsa Indonesia sangat diwarnai oleh jiwa-jiwa muda. Tampilnya para kiai muda pendiri Nahdlatul Ulama itu membantah bahwa NU selalu identik dengan kaum tua, sebagaimana persepsi masyarakat yang jamak kita temui. Kita mendapati mereka sebagai kiai sepuh yang mengendalikan NU ketika organisasi keagamaan terbesar ini sudah mapan belakangan.



Spirit Kaum Muda


Kaum muda sering dipandang spesial setidaknya karena dua hal. Pertama, kekuatan. Pemuda dinilai memiliki energi lebih dibanding kaum tua yang secara alami pasti mengalami penurunan kondisi fisik. Pemuda kerap diasosiasikan dengan kelincahan, kesegaran, dan semangat yang menyalah-nyala.

Kedua, progresivitas. Jiwa perubahan umumnya mengalir dalam darah muda. Karenanya tak heran jika mereka kerap diandaikan mampu menjadi agen sosial yang bisa diandalkan untuk melakukan transformasi ke arah yang lebih baik.

Keistimewaan para pendahulu kita adalah mampu mengaktualisasikan potensi kepemudaan mereka untuk kepentingan publik. Mereka bukan orang-orang picik. Kemampuan untuk membaca persoalan dan momobilisasi masa tidak mereka gunakan untuk kepentingan diri sendiri maupun golongan, melainkan bangsa dan negara secara umum.

Kiprah kiai muda Abdul Wahid Hasyim juga bisa menjadi contoh. Beliau tak hanya menyumbangkan pikiran-pikiran penting saat mewakili umat Islam pada sidang BPUPKI dan PPKI, tapi juga sanggup menahan egoismenya dalam forum perumusan dasar negara itu. Di tengah derasnya aspirasi untuk menegakkan negara teokrasi, Kiai Wahid secara ikhlas menerima Pancasila sebagai ideologi final Republik Indonesia.

Andai saja Kiai Wahid ketika itu ngotot menuruti kemauan mendirikan negara berideologi Islam, mungkin hingga kini bangsa kita yang bineka ini masih terpecah-pecah. Kiai Wahid adalah tokoh kharismatik dan sangat representatif bagi umat Islam. Sejak usia 24 tahun ia aktif di MIAI (Majelis Islam Ala Indonesia), sebuah badan federasi partai dan ormas Islam pada zaman Belanda. Dan mengetuai organisasi ini ketika berubah nama menjadi Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi) pada masa pendudukan Jepang.

Pada titik ini, terang sekali bahwa darah muda para kiai NU memberi kontribusi dominan bagi kelahiran dan pertumbuhan negara ini. Kita bisa menyebutnya semangat nahdlatus subban (kebangkitan kaum muda) selain juga nahdlatul ‘ulama (kebangkitan ulama). Teladan positif inilah yang seyogianya dihayati para generasi muda sekarang. Bentuk perjuangan era kini bisa sangat lain, tapi spiritnya tentu tetap sama: membangun kemaslahatan bersama.

Penulis adalah Menteri Pemuda dan Olahraga Republik IndonesiaDari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Bersama TNI, Banser Siap Jaga Keutuhan NKRI dari Ormas Anti-Pancasila

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Satuan Koordinasi Wilayah (Satkoorwil) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jawa Timur menyatakan dukungan penuh terhadap Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menghadapi gerakan radikal dan Organisasi Masyarakat (Ormas) yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

?

Bersama TNI, Banser Siap Jaga Keutuhan NKRI dari Ormas Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama TNI, Banser Siap Jaga Keutuhan NKRI dari Ormas Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama TNI, Banser Siap Jaga Keutuhan NKRI dari Ormas Anti-Pancasila

"Banser Jatim berkomitmen mendukung langkah TNI menghadapi semua Ormas yang anti Pancasila dan gerakan radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI," kata Kasatkorwil Banser Jatim, H Abid Umar, ? di sela memimpin Rapat Persiapan Pemantapan Banser Jatim tahun 2017, di Graha Ansor Jatim, Surabaya, Selasa (17/1).

?

Abid Umar menjelaskan, pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh kader Banser di Jawa Timur untuk selalu siap menghadapi Ormas yang mengancaman keutuhan NKRI serta menekan bibit kebencian yang disebarkan oleh pihak-pihak yang merusak harmoni kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Keluarga besar Banser lahir batin setia bahwa Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 (PBNU) adalah harga mati dan keputusan final," tegas Abid Umar.

?

Menurut dia, gejolak yang terjadi belakangan ini, utamanya perang opini bernada kebencian di media sosial, telah berpengaruh besar dalam mengubah mindset masyarakat Indonesia. Padahal, lanjut dia, budaya Indonesia adalah santun dan damai.

?

"Ini wajib kita antisipasi. Dan Banser sudah Ikrar Setia bersama TNI-Polri untuk jaga keutuhan dan kedamaian NKRI, lahir batin," pungkasnya.?

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa TNI siap menghadapi Ormas yang gerakannya bertentangan dengan Pancasila dan Radikalisme. "Kalau ada Ormas yang bertentangan dengan Pancasila, tujuan akhir pasti mengubah Pancasila, itu berbahaya," tegas Jenderal TNI Gatot di sela Rapat Pimpinan TNI di Jakarta. (Abdul Hady JM/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaSantri, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 04 Desember 2017

Konfercab IPNU-IPPNU Malang Disambangi Kiai Tolhah Hasan

Malang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menjadi sangat lengkap dan hangat suasana Konferensi Cabang IPNU-IPPNU Kabupaten Malang ke XIV-XIII ketika hadir sang tokoh sekaligus pakar Pendidikan Nahdlatul Ulama’ Prof Dr KH M Tolhah Hasan.?

Konfercab IPNU-IPPNU Malang Disambangi Kiai Tolhah Hasan (Sumber Gambar : Nu Online)
Konfercab IPNU-IPPNU Malang Disambangi Kiai Tolhah Hasan (Sumber Gambar : Nu Online)

Konfercab IPNU-IPPNU Malang Disambangi Kiai Tolhah Hasan

Di sela-sela kesibukan beliau yang sangat padat, ia berkenan menghadiri undangan panitia untuk memberikan semangat dan wawasan pada generasi muda NU agar menjadi kader yang professional dan berdedikasi tinggi untuk kemajuan bangsa Indonesia. ?

Kehadiran Mantan Menteri Agama RI 1999-2001 ini diharapkan bisa menambah wawasan kepada seluruh yang hadir pada kegiatan konferensi tersebut tentang pentingnya berorganisasi khususnya IPNU-IPPNU dan perannya dalam mewujudkan Indonesia yang maju.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mantan wakil rais aam ini berpesan “Kader IPNU-IPPNU harus tamat pendidikannya menjadi generasi emas 10 tahun mendatang untuk menghadapi dampak arus globalisasi yang mana kita dihadapkan dengan masyarakat yang terbuka dan berpendidikan sehingga berpikir rasionalis dan kritis, serba bersaing serta materialis menggeser nilai-nilai moral dan berbuat semaunya tanpa mempertimbangkan nilai-nilai agama”.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Redaktur ? : Mukafi Niam

Kontributor: Ika Rosaria?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 21 November 2017

JAMURO Tumbuhkan Semangat Bershalawat di Solo

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jama’ah Muji Rosul, organisasi masyarakat yang memiliki agenda rutin membaca shalawat di wilayah Solo dan sekitarnya. Jamuro digagas sejak tahun 2005 oleh Kiai Abdul Karim dan beberapa kiai lainnya. Sejak kemunculannya, semangat bershalawat mulai tumbuh.

JAMURO Tumbuhkan Semangat Bershalawat di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
JAMURO Tumbuhkan Semangat Bershalawat di Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

JAMURO Tumbuhkan Semangat Bershalawat di Solo

Hal tersebut diungkapkan Wakil Walikota Solo, Ahmad Purnomo saat menghadiri pembacaan maulid al-Barzanji putaran ketiga yang bertempat di grand Ballroom The Sunan Hotel Solo, Sabtu (4/1). ?

“Saya menilai semenjak kemunculan Jamuro di Solo, banyak sekali kelompok-kelompok shalawat yang bermunculan di wilayah Solo, baik yang menggelar acara rutinan seminggu sekali, sebulan sekali, atau yang menggelar acara shalawat 12 hari maupun 30 hari penuh di bulan Maulid ini seperti Jamuri (Jamaah Muji Rosul Putri)”.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut Purnomo menjelaskan bahwa dengan kemunculan semangat bershalawat masyarakat Solo ini, berarti slogan Solo The Spirit Of Shalawat yang selama ini diusung telah sukses dan menjadi fakta bukan hanya slogan semata.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam acara yang dihadiri oleh ribuan jama’ah serta karyawan hotel berbintang empat di kota Solo itu, Purnomo menekankan bahwa shalawat merupakan salah satu bukti bahwa Solo tidak identik dengan Islam garis keras, ekstrim, atau teroris, “Namun Islam yang cinta damai serta berdampingan dengan pemerintahan,” tandasnya. (Ahmad Rosidi/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul Ulama, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah