Sabtu, 31 Desember 2016

Aktivis PMII Kabupaten Bandung Hadiahkan Lukisan untuk Ketum PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Aktivis Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Indonesia (PMII) Rohmat Hidayatulloh menghadiahkan lukisan karya pribadinya kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. Untuk menyerahkan hadiah, Rohmat diantar enam temannya menemui Kiai Said langsung di gedung PBNU, Jakarta, Senin (8/5).

Aktivis PMII Kabupaten Bandung Hadiahkan Lukisan untuk Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Aktivis PMII Kabupaten Bandung Hadiahkan Lukisan untuk Ketum PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Aktivis PMII Kabupaten Bandung Hadiahkan Lukisan untuk Ketum PBNU

Rohmat menghadiahkan sebanyak dua lukisan, dua memuat rona wajah KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan yang dua lagi wajah Kiai Said sendiri.?

Mendapat hadiah itu, Kiai Said mengaku sebagai sebuah kehormatan. Lukisan karya Rohmat dinilai sebagai sesuatu yang sangat baik.?

“Ini hal yang sangat baik. Saya yakin Rohmat membuatnya dengan ketulusan, keikhlasan, dan sepenuh jiwa, bukan sembarang melukis,” kata Kiai Said.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Said berharap Rohmat terus mengembangkan bakatnya agar menjadi pelukis yang sukses.

“Apalagi dimulai dengan melukis tokoh-tokoh seperti Gus Dur. Semoga lebih maju lagi, dan diberi kekuatan lahir batin dari Allah,” sambung Kiai Said.

Rohmat Hidayatulloh menceritakan, lukisan setiap tokoh dibuat dalam waktu sekitar tiga jam. “Saya membuatnya di dalam ruangan 2x3 meter, menggunakan cat air,” kata Rohmat.

Rohmat mengaku senang dan terharu dengan sambutan Kiai Said. “Saya senang dan terharu campur aduk. Ini pengalaman berharga buat saya,” kata Rohmat yang mengawali kegemarannya melukis dengan media tembok. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 23 Desember 2016

Diusulkan, Moratorium Pendaftaran Haji

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pendaftaran ibadah haji di Indonesia saat ini mengalami kejenuhan. Sebab untuk naik haji, masyarakat harus menunggu belasan tahun lamanya. Bahkan tidak sedikit yang putus asa.

Hal ini mendapat sorotan dari Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H. Hasan Aminuddin yang saat ini menjadi anggota Komisi VIII DPR RI. Menurutnya, sistem pelaksanaan haji yang diterapkan pemerintah Indonesia harus dirombak. “Sistem yang dilaksanakan saat ini tidak efisien dan cenderung merugikan pendaftar haji,” ungkapnya, Rabu (17/12).

Diusulkan, Moratorium Pendaftaran Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Diusulkan, Moratorium Pendaftaran Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Diusulkan, Moratorium Pendaftaran Haji

Hasan menuturkan, permasalahan haji saat ini merupakan problem syariat. Faktanya, orang yang mau melaksanakan rukun Islam kelima itu banyak yang putus asa karena lamanya masa pemberangkatan. Apalagi jika melihat bertambahnya usia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masa tunggu yang terlampau lama itu membuat banyak muslim yang memilih untuk menjalankan ibadah umroh. Terutama yang usianya sudah tua. “Sisa umur yang menjadi penghalang, bukan karena bukan tidak mampu membayar biaya naik haji,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Hasan, pada Januari mendatang, Komisi VIII yang salah satu tugasnya memang mengurusi haji ini akan berkoordinasi dengan Kementerian Agama (Kemenag).

Pembahasan haji yang menjadi prioritas pertama adalah memperpendek masa keberangkatan haji. “Pertama dengan menerapkan kebijakan moratorium haji. Pendaftaran ditutup dulu hingga pendaftar lama sudah berangkat semua,” ujarnya.

Misalnya saat ini sudah ada 1 juta yang mendaftar. Dengan kuota sebanyak 200 ribu jamaah berangkat tiap tahun, maka dalam lima tahun pemerintahan Jokowi-JK, pendaftar haji sudah selesai berangkat. “Jadi tidak hanya moratorium PNS saja, tetapi juga moratorium haji,” tegasnya.

Hal ini jelas Hasan sudah ia diskusikan dengan sejumlah tokoh agama. Salah satunya dengan KH. Moh. Hasan Mutawakkil Alallah selaku Pengasuh Pesantren Zainul Hasan Genggong Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo yang juga Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur.

“Selain saya upayakan melalui Komisi VIII bersama Kementerian Agama, Insya Allah akan diwacanakan juga di Muktamar NU mendatang,” tambah lelaki asal Kelurahan Sidomukti Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo ini.

Yang kedua adalah dengan membuat skala prioritas siapa yang akan diberangkatkan terlebih dahulu. Dalam hal ini, kalangan yang diprioritaskan adalah mereka yang belum pernah menunaikan ibadah haji serta sudah berusia lanjut.

Solusi ketiga adalah memangkas biaya yang mahal (high cost). Hal ini agar biaya haji tidak tinggi. Salah satunya dengan memangkas jumlah petugas haji yang berangkat. Yang dikecualikan adalah ketua kloter. Sebab anggaran untuk petugas haji saat ini menelan ratusan miliar rupiah.

“Yang menjadi petugas haji adalah mereka yang terdaftar di tahap kedua, tapi ditawari menjadi petugas haji. Ada percepatan pemberangkatan dengan menyandang status petugas haji, tapi tetap dengan membayar. Insya Allah banyak yang berebut menjadi petugas haji,” ungkapnya optimis.

Solusi keempat yakni dengan mengurangi durasi pelaksanaan ibadah haji. Selama ini ibadah haji berlangsung dalam 40 hari. Menurut Hasan, ibadah selama 40 hari itu dapat dipangkas menjadi 25 hari saja. Apalagi ibadah haji yang wajib hanya berlangsung selama beberapa hari saja.

Agar pelaksanaan haji lebih cepat, menurutnya pemondokan haji diperdekat. Selain itu, penyediaan konsumsi jamaah haji dilaksanakan oleh pemerintah. “Bukan dengan cara seperti yang berlangsung saat ini, dimana jamaah haji harus memasak sendiri makanannya,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita, Pemurnian Aqidah, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 19 Desember 2016

Di Muktamar, Pemikiran Konstruktif Diperlukan untuk Kemajuan NU

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Tanfidyah PWNU Jawa Barat, Dr H Eman Suryaman berharap kepada para pengurus NU seluruh Indonesia agar menyiapkan pemikiran-pemikiran yang kontsruktif untuk kemajuan NU pada perhelatan Muktamar ke-33 NU di Jombang Agustus mendatang. 

"Kita sama-sama sudah memiliki pemikiran jauh dan luas untuk mengglobalkan Islam Nusantara. Itu artinya bukan sekadar memberi merek, atau menjual label ke publik, melainkan sebagai sarana memperjelas gerakan NU," jelasnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah saat ditemui dalam persiapan Seminar Civic Islam, Rabu (20/5) di Kantor PWNU Jawa Barat, Jalan Galunggung No 9 Bandung.

Di Muktamar, Pemikiran Konstruktif Diperlukan untuk Kemajuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Muktamar, Pemikiran Konstruktif Diperlukan untuk Kemajuan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Muktamar, Pemikiran Konstruktif Diperlukan untuk Kemajuan NU

Dalam pandangan tokoh yang dikenal sebagai wirausahawan dan pegiat sosial ini, spirit yang harus ditumbuhkan NU bukan lagi soal apakah NU akan memainkan politik atau lebih memilih jalur kultural. Tetapi lebih pada NU yang selalu mendatangkan manfaat untuk umat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya kira sekarang Sumber Daya Manusia NU sudah semakin bagus. Namun jangan lengah karena mutu SDM sehebat apapun bisa tak banyak berguna kalau tidak mampu bekerja secara kolektif dan menemukan kesamaan visi dalam menetapkan tujuan berorganisasi," terangnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada Muktamar nanti, Eman akan menyampaikan banyak pemikiran dan juga pengalaman konkret. Sebab selama empat tahun memimpin NU Jawa Barat, Eman dan teman-teman PWNU Jawa Barat sangat aktif dan dinamis. Banyak prestasi dalam bentuk pembangunan fisik maupun konsolidasi antar pengurus.

"Soal ilmu mungkin bisa sama, tapi soal pengalaman adalah sesuatu yang sulit digantikan oleh wacana. Bukan soal membanggakan diri bahwa NU Jawa Barat punya kemajuan. Kami ingin pengalaman itu berguna, diserap dan bisa menjadi model bagi pengembangan organisasi," pungkasnya. (Yus Makmun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 13 Desember 2016

IPNU Pekalongan Raih Tiga Besar OKP Berprestasi 2015

Boyolali, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Pekalongan berhasil meraih peringkat tiga besar dalam ajang Pemilihan Organisasi Kepemudaan Berprestasi tingkat Nasional tahun 2015 yang diselenggarakan Kemenpora RI. IPNU Pekalongan berhasil masuk pada putara bergengsi Soegondo Djojopoespito Award kategori kepelajaran.

IPNU Pekalongan Raih Tiga Besar OKP Berprestasi 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Pekalongan Raih Tiga Besar OKP Berprestasi 2015 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Pekalongan Raih Tiga Besar OKP Berprestasi 2015

Prestasi ini diraih setelah mengikuti presentasi 4 besar organisasi yang terpilih di hadapan tim penilai, Jumat-Sabtu (11-12/12). Proses presentasi sendiri diselenggarakan di salah satu hotel di Jakarta.

Salah satu perwakilan pengurus IPNU Pekalongan Hafidz Ahmad yang hadir dalam presentasi itu mengatakan, proses penilaian sudah berlangsung sejak lama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Hari ini, kami diundang untuk mempresentasikan profil dan kegiatan IPNU Pekalongan. Alhamdulillah, kami meraih peringkat ketiga,” terang Wakil Sekretaris IPNU Pekalongan itu saat dihubungi Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Sabtu (12/12).

Kriteria OKP yang dinilai berprestasi antara lain memiliki dan melakukan program yang berdampak bagi masyarakat khususnya membantu permasalahan masyarakat. OKP itu juga memiliki dan melakukan program organisasi yang bisa menjadi contoh bagi organisasi kepemudaan lainnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Atas prestasi ini Ketua Umum PP IPNU Asep Irfan Mujahid menyatakan apresiasinya. “Ini menunjukkan kesungguhan komitmen rekan-rekan dalam mengelola organisasi,” kata Asep melalui pesan singkatnya.

Pelajar asal Ciamis ini berharap pengurus IPNU cabang lainnya meniru keseriusan IPNU Pekalongan. (Ajie Najmuddin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 29 November 2016

10.000 Kader Muslimat NU Banjiri Pembukaan Kongres Hari Ini

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pembukaan Kongres Ke17 Muslimat NU digelar hari ini, Kamis (24/11) di Gedung Serba Guna 2 Asrama Haji Pondok Gede Jakarta. Sekitar 10.000 kader Muslimat NU dari seluruh Indonesia termasuk peserta kongres hadir untuk menghadiri pembukaan hajatan lima tahunan itu.

10.000 Kader Muslimat NU Banjiri Pembukaan Kongres Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
10.000 Kader Muslimat NU Banjiri Pembukaan Kongres Hari Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

10.000 Kader Muslimat NU Banjiri Pembukaan Kongres Hari Ini

“10.000 kader dan anggota Muslimat NU akan menghadiri pembukaan,” ujar Wakil Ketua Steering Commitee Hj Nurhayati Said Aqil Siroj, Rabu (23/11).

Sebelumnya, Ketua Umum PP Msulimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa telah mengonfirmasi kepastian bahwa Kongres akan dibuka oleh Presiden, Penglima TNI, dan Ketua Umum PBNU.

“Insyaallah besok pagi jam 9 (hari ini, red), kami sudah mendapat konfirmasi, Presiden berkenan membuka Kongres, selanjutnya sambutan dari Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmatyo,” ujar Khofifah.

Dalam penutupan Kongres yang akan dilaksanakan 27 November nanti, lanjutnya, Wapres JK dan Rais Aam PBNU akan menutup kegiatan lima tahunan ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofifah juga menjelaskan, ada 4 menteri dari Kabinet Kerja yang juga akan hadir dalam pembukaan besok. Menteri-menteri tersebut diantaranya, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Menkes Nila F Moeloek, Mendikbud Muhadjir Effendy, Menkop Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, termasuk Kementerian Sosial.?

Kongres ke-17 Muslimat NU yang mengambil tema Dengan Semangat Islam Nusantara, Kita Wujudkan Indonesia Damai Sejahtera ini dihadiri oleh 34 Pengurus Wilayah, 525 Pimpinan Cabang, dan 4 Pengurus Cabang Istimewa.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum pembukaan Kongres hari ini, seluruh peserta menggelar Malam Ta’aruf, Rabu (23/11). Dalam acara tersebut, seluruh peserta diberikan pengarahan oleh Ketua Panitia Kongres Hj Mursyidah Tahir dan Khofifah. Malam Ta’aruf juga dimeriahkan oleh penampilan penyanyi klasik Dewi Yull. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, Kyai, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 27 November 2016

Ribuan Warga Kunjungi Haul Syekh M Nawawi Banten

Serang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ribuan warga menghadiri Haul Ke-124 Al-Maghfurlah Syekh Nawawi Al-Bantani di Pondok Pesantren An-Nawawi Tanara (Penata), Serang, Jumat (21/7) malam. Mereka hadir tanpa diundang untuk mendoakan Syekh Nawawi yang menjadi guru besar para kiai Nusantara.

KH Ahmad Syauqi Maruf Amin, turunan ke empat dari Syekh Nawawi mengatakan, meski kakek buyutnya itu wafat dan dimakamkan di Mala, Mekkah Al-Mukarramah, tetapi hari wafatnya diperingati setiap akhir Syawwal di tempat lahirnya, di Desa Tanara, Serang.

Ribuan Warga Kunjungi Haul Syekh M Nawawi Banten (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Warga Kunjungi Haul Syekh M Nawawi Banten (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Warga Kunjungi Haul Syekh M Nawawi Banten

"Haul ini adalah tradisi yang berjalan puluhan tahun lalu. Umat Islam dari berbagai daerah di Nusantara biasa berziarah ke rumah tempat lahir syekh, memperingati haulnya setiap akhir Syawwal," kata Pengasuh Penata itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Warga yang hadir, kata Syauqi, datang tanpa diundang karena mereka tahu bahwa setiap akhir Syawwal di Tanara haul digelar oleh keluarga.

Pada haul Syekh Nawawi tahun ini, Presiden RI Joko Widodo hadir bersama sejumlah Menteri Kabinet Kerja II. tampak hadir Menteri Agama H Lukman Hakim, Menteri BUMN Rini Suwandi W, Menteri PU Budi Karya, Gubernur Banten Wahidin Halim, Walikota Bandung Ridwan Kamil. Mereka mengapresiasi kegiatan tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Peringatan haul ini merupakan penghormatan masyarakat Nusantara untuk beliau. Mungkin karena tak berkesempatan berziarah dan menggelar haulnya di Mala, masyarakat berinisiatif menggelarnya di tempat kelahiran beliau," tambah Syauqi.

Haul ini diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Quran dan tahlil bersama yang ditutup dengan ceramah agama oleh Pengurus MUI KH Cholil Nafis. (Abdul Malik Mughni/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Sunnah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 19 November 2016

Makesta IPNU-IPPNU Bandung di Kertasari

Bandung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 100 pelajar dari kecamatan Pacet dan kecamatan Kertasari kabupaten Bandung, mengikuti kaderisasi Makesta IPNU-IPPNU Bandung. Kaderisasi selama dua hari ini sejak Sabtu-Ahad (31/5-1/6) dipusatkan di pesantren Nurul Huda desa Cibeureum, kecamatan Kertasari, Bandung.

Turut hadir dalam pembukaan Wakil Sekretaris PCNU kabupaten Bandung H Saepuloh dan Kades Cibeureum Atep. Tampak di jajaran depan Pimpinan pesantren Nurul Huda yang juga Ketua MWCNU Kertasari KH Asep Syarifulloh dan beberapa pimpinan Pergunu, GP Ansor, dan Pagarnusa, serta PW IPNU Jawa Barat.

Makesta IPNU-IPPNU Bandung di Kertasari (Sumber Gambar : Nu Online)
Makesta IPNU-IPPNU Bandung di Kertasari (Sumber Gambar : Nu Online)

Makesta IPNU-IPPNU Bandung di Kertasari

KH Asep Syarifulloh berharap, setelah Makesta ini PAC IPNU-IPPNU di Kertasari segera terbentuk.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara menurut Ketua IPPNU kabupaten Bandung Ida, Makesta merupakan kaderisasi tahap awal menuju perekrutan dan pengenalan anggota terhadap organisasi IPNU-IPPNU.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kegiatan ini diharapkan dapat mempertegas perjuangan pelajar putra dan putri Nahdlatul Ulama," tutur Ida.

H Saepuloh dalam sambutan mengharapkan kontinuitas kaderisasi di setiap kecamatan. Karena, hakikatnya gerakan NU terletak pada Lembaga, Lajnah dan Banom.

Menurut H Saepuloh, PCNU kabupaten Bandung sedang melaksanakan 4 program utama. Program itu meliputi pendidian, penerbitan, perekonomian, dan keanggotaan.

“Pendidikan bagi pelatih kader penggerak PCNU dengan 400 alumni, pengelolaan website www.pcnu-bandung.com di mana warga NU bisa daftar Kartanu serta anggota Pergunu secara online, penerbitan majalah Nahdliyatuna serta buku tentang argumentasi amaliah NU serta perekonomian dalam bidang pengembang koperasi. (Awis Saepuloh/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 13 November 2016

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

Lombok Tengah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Di perbatasan wilayah dua negara, akan didapati aneka cerita inspiratif tentang perjuangan dan dedikasi warga Nahdliyin. Seperti dikisahkan Katib Syuriah PCNU Kabupaten Malaka, Nusa Tenggara Timur, Irham Anwar kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di sela-sela perhelatan Pra-Muktamar di Lombok, Kamis-Jumat (9-10/4).

Irham mengatakan, Malaka merupakan pemekaran dari Kabupaten Belu yang masuk wilayah Provinsi NTT. Untuk menuju kabupaten yang berbatasan langsung dengan Republik Demokratik Timor Leste ini bisa ditempuh perjalanan darat selama empat jam perjalanan dari Kota Atambua.

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)
Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan? (Sumber Gambar : Nu Online)

Seperti Apa Geliat Nahdliyin di Perbatasan?

“Kami kalau mau keluar negeri dekat sekali. Sebab, dari tempat kami ke Timor Leste cuma dua jam perjalanan mobil. Kalau ke Australia memang harus langgar (menyeberang-red) laut,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut dia, persoalan penduduk asli di sana yang banyak muallaf itu terkait kesejahteraan. Jika dilihat, masalah mereka hanya soal ekonomi. Meski demikian, di tiap-tiap paguyuban atau kelompok ada kegiatan tahlilan, pengajian, dan lain sebagainya. “Itulah kenapa saya semangat mendirikan NU di sana,” tegasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melihat geliat warga Nahdliyin di Malaka, Irham bersama beberapa temannya kemudian memproses pendirian kepengurusan cabang. “Prosesnya masih terus berlangsung, ini baru kami bentuk,” ujarnya.

Beberapa pekan setelah berdiri kabupaten baru, Irham langsung bergerak cepat ke desa-desa setempat. “Kami merasa sangat dihargai karena baru membentuk Tim 9 setelah itu langsung dapat SK. Meski SK sudah turun, tapi kami belum dilantik. Sepulang dari sini nanti kami akan bekerja keras untuk mengadakan pelantikan,” tuturnya.

Irham mengaku datang ke pra-muktamar ini melalui proses cukup panjang. Bersama Ketua Tanfidziyah PCNU Malaka Zaenal Muttaqin, ia merasa bahagia bisa turut serta bertemu para alim ulama. Pria asal Kabupaten Bima, NTB ini mengaku telah mengenal NU sejak lahir. Di tempat kelahirannya, Pulau Sumbawa, memang banyak warga NU.

Ditanya soal tantangan kaum muslimin khususnya warga Nahdliyin di daerahnya, Irham mengaku tidak ada masalah berarti soal hubungan antaragama.

“Alhamdulillah baik-baik saja. Meski di sana mayoritas Kristen, tapi mereka menerima kami. Tak ada persoalan mayoritas dan minoritas. Justru yang minor dilindungi yang mayor. Saat Idul Fitri kami dikawal saat pawai takbir keliling. Nah, ini bagusnya di sana,” ungkapnya.

Di Malaka, lanjut Irham, terdapat ormas Islam lainnya. Namun, NU yang paling menonjol. “Setelah kami blusukan, ternyata justru NU yang tampak. Ini terlihat dari kegiatan mereka. Selain tahlilan, kegiatan seperti Muslimat juga ada. Mungkin belum dapat SK dari pusat, tapi sudah dibentuk. Karena ibu-ibu itu punya kegiatan paten seperti arisan, pengajian mingguan, dan bulanan,” ujarnya. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 11 November 2016

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil

Judul Buku : Tahlil dan Kenduri; Tradisi Santri dan Kiai

Penulis : H.M. Madchan Anies

Penerbit : Pustaka Pesantren, Yogyakarta

Cetakan : I, Februari 2009

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengakhiri Dualisme Pemahaman Tahlil

Tebal : xii + 180 halaman

Peresensi : Abdul Halim Fathani Yahya*)


Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Umat Islam di Indonesia khususnya warga NU (Nahdliyin) telah mentradisikan tahlil dalam berbagai hajatan, seperti yang biasa dilaksanakan 7 hari, 40 hari, 100 hari, atau 1000 hari dari kematian keluarga/tetangganya. Di kalangan pesantren, santri dan keluarga ndalem biasanya menyelenggarakan acara haul untuk melakukan “kiriman doa” kepada kiainya yang telah meninggal dunia. Tentang tahlil, sebagian masyarakat kita masih terkotak pada dua kelompok pro dan kontra. Ada yang menganggap bahwa tahlil merupakan tradisi baru, yang tidak pernah diajarkan oleh Nabi SAW, mereka menganggap tradisi tahlil sebagai bid’ah, sehingga tidak selayaknya sebagai seorang muslim untuk mengamalkannya. Sementara, di pihak lain (baca: kaum Nahdliyyin), meski sebagian dari mereka belum tahu persis landasan hukumnya, namun hal ini tidak mengurangi semangatnya untuk mengamalkan tahlil.

Tradisi tahlilan merupakan salah satu hasil akulturasi antara nilai-nilai masyarakat setempat dengan nilai-nilai Islam, di mana tradisi ini tumbuh subur di kalangan Nahdliyyin. Sementara ormas-ormas lainnya cenderung memusuhi bahkan berusaha mengikisnya habis-habisan. Seakan-akan tradisi tahlilan menjelma sebagai tanda pembeda apakah dia warga NU, Muhammadiyah, Persis, atau yang lainnya. Terjadinya polemik tentang tahlil tersebut, tentu bisa berdampak pada rusaknya ikatan kekeluargaan antar muslim, seperti saling menuduh dan menyesatkan kelompok lainnya, timbulnya rasa curiga yang berlebihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Memang, -harus dipahami- tahlil sampai saat ini masih menjadi masalah khilafiyah yang harus diterima dengan lapang dada. Ritual tahlil memang tidak dituntunkan oleh Rasulullah SAW, sehingga bukan merupakan bentuk ibadah mahdhah, bukan ibadah khusus. Ritual tahlil ini sekedar amalan baik yang memiliki keutamaan dan faedah. Bila faedah dari amalan tahlil ini dapat menghantarkan umat untuk tergerak menjalankan syariat-syariat yang wajib, bahkan lalu menjadi sarana utama dan pertama juga agar warga tergerak; maka tradisi tahlil tentu dapat menjadi sarana strategi dakwah umat Islam.

Tetapi, ada beberapa hal yang menjadi koreksi bagi penganut tradisi tahlil. Adalah mayoritas jamaah yang pro-tahlil ini hanya sedikit yang mengerti pijakan hukum tentang tradisi tahlil. Oleh karenanya, diharapkan dengan terbitnya buku ini dapat menambah referensi tentang tahlil. Sehingga dapat menambah keyakinan dan kemantapan hati dalam setiap mengamalkan tahlil. Karena, jika kita mengamalkan sesuatu yang disertai dengan pemahaman landasan hukum yang kuat dan benar tentu akan dapat membuat hati lebih mantap dan yakin.

Melalui buku ini, penulis mengupas secara gamblang terkait tahlil. Bagian awal, diberikan penjelasan beberapa istilah seputar tahlil, yakni zikir, selamatan, kenduri, dan berkat. Istilah tersebut dijelaskan secara detail mulai dari asal katanya hingga landasan hukumnya. Di bagian kedua, penulis memberikan wawasan kepada pembaca terkait dengan amal saleh, meliputi shalat, puasa, sedekah, berdoa, membaca al-Qur’an, bershalawat kepada Nabi, dan zikir. Untuk mengantarkan pembaca dalam rangka memahami tahlil dan seluk-beluknya, di bagian tiga diuraikan tentang hadiah pahala yang membahas bagaimana menerima pahala amal sendiri, menerima manfaat dari amal orang lain, memeroleh manfaat dari syafaat, menghadiahkan pahala amal, ahli kubur selalu menunggu “kiriman”, dan berziarah kubur dan manfaatnya. 

Adapun kerangka atau rangkaian dasar bacaan tahlil dan urut-urutannya dapat dibaca pada bagian empat. Madchan Anies memaparkan ada sembilan bagian pokok dalam tahlil, yaitu 1) tentang hadrah dan al-Fatihah; 2) surat al-Ikhlas, al-Mu’awwidzatain, dan al-Fatihah; 3) tentang permulaan surat al-Baqarah; 4) tentang surat al-Baqarah 163 dan ayat kursi; 5) tentang ayat-ayat terakhir surat al-Baqarah; 6) tentang bacaan tarhim dan tabarruk dengan surat Hud 73 dan al-Ahzab 33; 7) tentang shalawat, hasbalah, dan hauqolah; 8) tentang bacaan istighfar, tahlil, dan tasbih; dan 9) tentang doa  penutup tahlil. Penulis melengkapi pada bagian empat ini dengan menjabarkan keutamaan kalimat-kalimat suci tersebut dalam setiap bagian tahlil. Sementara di bagian akhir, penulis menambahkan hal-hal yang terkait dengan tahlil, meliputi kenduri (ambengan), membaca surat Yasin, Fidyah, dan Fida’ atau Ataqah.

Kiranya, buku ini perlu juga dibaca bagi pembaca yang “merasa” kontra terhadap tradisi tahlil. Setidaknya agar mereka membuktikan sendiri bahwa tradisi yang dipraktikkan oleh saudara mereka (baca: warga Nahdliyyin) juga memiliki pijakan dalil syar’i yang kuat. Walhasil, dengan memahami tahlil berikut landasannya, diharapkan akan tercipta sikap saling pengertian demi terwujudnya penguatan persaudaraan antar sesama. Semoga!

*) Alumnus Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang.

Saat ini aktif di Lingkar Cendekia Kemasyarakatan (LACAK) Malang
Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Quote, Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa

Demak, Pondok Pesantren Attauhidiyyah . Pimpinan Anak Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Mranggen Demak turun ke basis-basis (turba) pelajar NU untuk melakukan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta). 

Turba mereka pada Ahad (1/3) ke Makesta yang diadakan Pimpinan Ranting IPNU-IPPNU Desa Kebonbatur di MA Miftahul Ulum Tlogorejo Karangawen Demak. Kegiatan tersebut diikuti 80 pelajar.

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Mranggen Makesta ke Desa

Setelah mengikuti Makesta, pelajar dibaiat atau disahakan menjadi anggota IPNU-IPNNU oleh Ketua PAC IPNU Mranggen Ahmad Syaifuddin. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada sambutannya, Ahmad berharap para pelajar yang tergabung di IPNU dan IPPNU tersebut makin mantap berorganisasi, setia di bawah panji IPNU-IPPNU yang berlandaskan Ahlussunah wal Jama’ah dan setia pada NKRI. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terpisah, Ketua Pimpinan Cabang IPPNU Demak Istiqomah menegaskan, semangat “belajar, berjuang, dan bertaqwa” harus senantiasa kita tanamkan keapada pelajar NU agar segala langkah IPNU dan IPPNU mendapat dukungan semua pihak.

Pada kegiatan tersebut, hadir Ketua PC IPNU Demak Abdul Halim bersama pengurus lain, serta perwakilan Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Tengah Shohibul Anam, Pembina IPNU M Said Athoillah, dan lain-lain. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 03 November 2016

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wewenang Kementerian Agama sebagai regulator sekaligus operator penyelenggaran haji seperti diatur dalam Undang-Undang nomor 13 tahun 2008, perlu dibatasi. Rangkap tugas semacam ini tidak relevan di era tata kelola pemerintahan yang kini dituntut profesional, akuntabel, dan transparan kepada publik.

“Monopoli kewenangan dan kebijakan yang begitu besar terhadap sebuah institusi rentan disalahgunakan dan dapat menyuburkan praktik korupsi,” kata Ketua Umum Komnas Haji Mustolih Siradj kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah per telepon, Selasa (27/5) siang.

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji (Sumber Gambar : Nu Online)
Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji (Sumber Gambar : Nu Online)

Perbaiki Sistem, Kemenag Harus Lepas Monopoli Haji

Menurutnya, tugas Kemenag saat ini sangat banyak meliputi penerimaan dana setoran calon jamaah, penyediaan transportasi baik darat maupun udara, pengadaan akomodasi, pemondokan, konsumsi, pembinaan, pengelolaan Dana Abadi Umat, sekaligus regulator.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Terlalu besarnya beban kerja, penyelenggaran haji selama ini dikeluhkan masyarakat karena masih jauh dari transparansi dan profesionalitas utamanya terkait dana calon jamaah yang ? saat ini sudah mencapai Rp 64 triliun,” jelas Mustolih.

Sebagai jalan keluar karut-marut ini, Kemenag di masa mendatang harus diposisikan sebagai regulator dan pengawas saja. Aparatur pemerintahan jangan lagi menjalankan peran-peran operator. Solusi jangka panjangnya, perlu dibentuk badan khusus yang bertugas menyelenggarakan haji.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Mustolih, pembatasan fungsi hal ini sangat mungkin untuk dilakukan. ? Ia menunjuk pada kasus pengelolaan zakat dan wakaf. Dulu Kemenag juga mengelola dana zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) dari masyarakat.

Kemudian kewenangan itu dipangkas dengan lahirnya UU nomor 38 tahun 1999 ? yang digantikan oleh UU nomor 23 tahun 2011 terkait pengelolaan zakat. Urusan zakat selanjutnya diserahkan kepada Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS). Begitu pula dengan kasus wakaf. Setelah lahir UU nomor 41 tahun 2004 pengelolaan wakaf dilimpahkan kepada Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Kedua lembaga ini berada di bawah Presiden. Progres kedua lembaga itu terbilang baik dibanding ketika masih dijalankan Kemenag. “Semestinya pelimpahan wewenang ini bisa dilakukan untuk urusan haji dan umroh,” ujar pria yang juga berprofesi sebagai advokat ini.

Tapi gagasan seperti ini, lanjut Mustolih, tentu saja akan ditolak Kemenag. Karena, upaya seperti akan memangkas kewenangan dan hilangnya proyek triliun rupiah yang sudah berjalan bertahun-tahun.

“Saat ini Kemenag ngotot menggolkan RUU Pengelolaan Keuangan Haji agar bisa lebih leluasa menggunakan dana setoran calon jamaah. Tapi ironisnya, RUU itu tidak menyinggung sama sekali hak-hak calon jamaah haji,” pungkas Mustolih. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Berita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 02 November 2016

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Magelang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sinar Mentari pagi yang cerah menyambut ribuan guru yang mulai berdatangan ke kantor Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama kabupaten Magelang, Sabtu 19 September 2015. Mereka menggunakan kaos putih berlengan hijau bertuliskan "Saatnya Maarifku bangkit" ini hendak mengikuti jalan sehat yang digelar pengurus Cabang LP Maarif NU Kabupaten Magelang dalam rangka memperingati hari lahir (harlah) ke-56 Lembaga Maarif NU.?

Kegiatan dengan melibatkan ribuan pendidik dan tenaga kependidikan di lingkungan NU tersebut, diharapkan bisa menumbuhkan sikap perjuangan dan pengorbanan untuk Nahdlatul Ulama, menyehatkan badan juga ? mengingatkan masyarakat tentang hari lahir Lembaga Maarif yang notabene mengurusi bidang pendidikan Nahdlatul Ulama.

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)
Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat (Sumber Gambar : Nu Online)

Ma’arif NU Magelang Peringati Harlah dengan Jalan Sehat

Bambang Ardiansyah, ketua Maarif NU Magelang mengatakan kegiatan ini untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Lembaga Maarif siap menerima amanah membantu mencerdaskan anak bangsa dalam bingkai Islam Ahlusunnah wal Jamaah sehingga ? diharapkan warga NU menyekolahkan putra-putrinya ke sekolah maupun madrasah di bawah naungan Lembaga Maarif agar terhindar dari doktrinasi paham dan aliran sesat yang dalam beberapa tahun ini meluas.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Magelang Zaenal Arifin mengajak para guru bersemangat mengajar agar mendapat kepercayaan masyarakat.

Ribuan guru ? sejak pukul 07.00 WIB sudah mulai berdatangan, dan memenuhi parkiran kantor PCNU dan sekitarnya. Acara sendiri dimulai jam 08.00 WIB dengan start dan finish di halaman kantor tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jalan sehat yang dilepas oleh Wakil Bupati Magelang tersebut mengambil rute mengelilingi desa Bojong kecamatan Mungkid kurang lebih sejauh 3 km. Diakhir acara panitia membagikan ratusan doorprize dan sebagai hadiah utama berupa TV LED, sepeda, kompor gas dan ratusan hadiah hiburan lainnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Olahraga, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 10 Oktober 2016

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi

Cirebon, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menilai, konflik yang berkecamuk di beberapa negara merupakan akibat dari sikap intoleran. Radikalisme yang dikembangkan segelentir umat beragama di beberapa negara telah menimbulkan perpecahan dan kekisruhan di antara mereka.

“Padahal jika ajaran agama dipahami dan diamalkan secara benar, tidak akan menimbulkan kebencian terhadap siapapun, justru yang timbul adalah sikap toleran dan solidaritas,” jelasnya saat bertausiah pada haflah akhirissanah Madrasah Al Hikamus Salafiyah (MHS) Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon, Jawa Barat, Sabtu (30/5).

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi (Sumber Gambar : Nu Online)

Kang Said: Jika Pemahaman Benar, Agama Timbulkan Toleransi

Di hadapan ribuan hadirin, Kiai asal Cirebon ini bersyukur peristiwa tersebut relatif tidak ada di Tanah Air. Menurutnya, umat beragama di Indonesia mayoritas bersikap moderat dan hal itu merupakan jasa dari kiprah pesantren.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Alhamdulillah kalau di Indonesia, kita punya warisan sistem pendidikan keagamaan yang mampu mencetak generasi muslim yang moderat, menanamkan karakter bangsa yang luhur, serta mengedepankan akhlakul karimah. Sistem pendidikan tersebut adalah pondok pesantren,” lanjut Kang Said, sapaan akrabnya.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, mudir Madrasah Al Hikamus Salafiyah KH Azka Hammam Syaerozi dalam sambutannya menegaskan bahwa lembaga yang dipimpinnya berorientasi pada pendidikan karakter berbasis pesantren, sehingga mereka diharapkan mampu menjadi figur khoiru ummah (teladan masyarakat), “Madrasah Al Hikamus Salafiyah merupakan lembaga yang memiliki kurikulum independen, mengacu pada pendalaman kitab kuning, mulai dari tingkat ibtida’iyah, tsanawiyah, aliyah dan ma’had aly”.  

Bersama para kiai babakan, Kang Said Aqil juga diberi kehormatan untuk mewisuda siswa MHS dari seluruh tingkatan. Prosesi wisuda ini dipimpin langsung oleh KH Makhtum Hannan, sesepuh pondok Pesantren Babakan Ciwaringin.

Acara puncak haflah akhirussanah yang berlangsung di halaman utama Madrasah Al Hikamus Salafiyah itu, sebelumnya diawali dengan atraksi sepak bola api dan mandi petasan di lapangan bola Desa Babakan, Ciwaringin. Hal ini merupakan tradisi yang sudah berjalan puluhan tahun, dilakukan oleh para siswa kelas I Aliyah Madrasah Al Hkamus Salafiyah. Masyarakat sekitar pun menyambutnya dengan sangat antusias. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 04 Oktober 2016

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pimpinan Pusat Pemerintahan Provinsi Perbatasan Thailand Selatan (SBPAC-Southern Border Provinces Administrative Center of The Kingdom of Thailand) berkunjung ke kantor PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta, Senin (27/5) petang.

”Kami datang ke sini adalah dalam rangka silaturahim dan menjalin kerja sama di antara Indonesia, khususnya Nadlatul Ulama, dan Thailand Selatan,” kata Ketua Dewan Penasehat SBPAC Abdul Azis bin Hawan.

Azis datang bersama belasan pimpinan SBAC lainnya dan diterima KetuaUmum PBNU KH Said Aqil Siroj, Sekretaris Jendral PBNU H Marsudi Syuhud, Bendahara Umum H Bina Suhendra, Ketua PBNU H Iqbal Sulam, dan sejumlah pengurus lainnya.

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Pimpinan SBPAC Thailand Sowan ke PBNU

Menurut Azis, secara kebudayaan Thailand memiliki banyak kemiripan dengan Indonesia. ”Kami berharap Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menjadi saham untuk kerja sama meningkatkan bidang pendidikan, kebudayaan, dan keagamaan,” ujarnya.

Forum pertemuan berlangsung dialogis. Kang Said, sapaan KH Said Aqil Siroj, menjelaskan bahwa karakter Islam yang diusung NU adalah moderat, toleran, berwawasan kebangsaan, dan menjunjung tinggi asas kemanusiaan. Sebanyak 21 ribu pesantren NU mengembangkan ajaran ini dan mampu bersinergi dan menjadi perekat bagi keanekaragaman budaya di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pihak SBPAC juga mengenalkan, Thailand Selatan memiliki 468 pesantren, dan dari jumlah tersebut 286 di antaranya telah menjadi sekolah agama. ”Mengenai ajaran, saya rasa hampir sama. Kami juga mengenal adanya Kitab Kuning,” kata Persatuan Alumni Indonesia di Thailand Selatan Abdul Hafiz Hiley yang ikut bersama rombongan.

Sementara itu, Iqbal menambahkan, NU pernah memberi masukan kepada pemerintahan Thailand pada periode kepengurusan lalu terkait krisis di negara ini. NU pada waktu itu berkunjung dan mengusulkan agar pemerintah tidak mengedepankan pendekatan militer dan menginternasionalisasi isu konflik.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di hadapan forum, Kang Said tak lupa juga mengucapkan selamat hari Waisak kepada peserta rombongan yang beragama Budha. Mayoritas dari mereka adalah muslim yang memiliki perhatian terhadap proses perdamaian di negaranya.

”Semoga ini bukan pertemuan terakhir. Kami berharap ada pertemuan-pertemuan lanjutan. Kami mengundang NU dapat datang ke negara kami untuk memberi pengenalan Islam di sana,” kata Azis.

 

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya, Hikmah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 27 September 2016

Mahasiswa Angkatan Pertama Politeknik Ketenagakerjaan Mulai Ikuti Kegiatan Kampus

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Untuk memperkenalkan kampus kepada mahasiswa baru, Politeknik Ketenagakerjaan secara resmi mengadakan Pengenalan Kehidupan Kampus Bagi Mahasiswa Baru Angkatan 2017/2018. Kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 16-19 Oktober 2017, di Pusdiklat Kemnaker, Jakarta Timur.

“Atas nama Politeknik Ketenagakerjaan, saya mengucapkan selamat atas keberhasilan saudara-saudara diterima menjadi mahasiswa Politeknik Ketenagakerjaan angkatan pertama,” kata Plt. Sekjen Kemnaker Haiyani Rumondang saat membuka kegiatan, Senin (16/10).

Mahasiswa Angkatan Pertama Politeknik Ketenagakerjaan Mulai Ikuti Kegiatan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Angkatan Pertama Politeknik Ketenagakerjaan Mulai Ikuti Kegiatan Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Angkatan Pertama Politeknik Ketenagakerjaan Mulai Ikuti Kegiatan Kampus

Para mahasiswa baru akan mendapatkan materi yaitu Pengenalan Kehidupan Kampus, Bela Negara dan Wawasan Kebangsaan, Penggulangan Bahaya Narkoba, Penanggulangan Radikalisme dan Terorisme serta Pengembangan Karakter.

Dikatakan Haiyani, total pendaftar Politeknik Ketenagakerjaan berjumlah 2.605 orang. Namun, setelah mengikuti tes seleksi, hanya 90 mahasiswa yang diterima.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Ada beberapa tes yang calon mahasiswa harus ikuti, diantaranya seleksi kelengkapan berkas, Test Potensi Akademik, psikotes, dan terakhir wawancara,” jelas Haiyani.

Haiyani menambahkan, 90 mahasiswa yang diterima terdiri dari beberapa kejuruan, yaitu Diploma 4 Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang nantinya akan mendapat gelar S.Tr.K3, Diploma 4 Relasi Industri dengan gelar S.Tr. M., dan Diploma 3 Manajemen Sumber Daya Manusia dengan gelar Amd. (Ahli Madya) MSDM.

Selain itu, Kurikulum pada setiap Program studi disusun berdasarkan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI) dan Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SN-DIKTI).

“Nantinya setelah lulus mereka tidak hanya akan menerima ijazah tanda kelulusan, akan tetapi sekaligus menerima sertifikat kompetensi sesuai dengan program studi masing-masing,” papar Haiyani.

Adapun kegiatan perkuliahan Politeknik Ketenagakerjaan akan dimulai 23 Oktober 2017,di Gedung Balai Besar Peningkatan Produktivitas (BBPP) Bekasi. Kegiatan praktik prodi D4 K3 akan dilakukan di Balai K3 Jakarta, Cempaka Putih.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tujuan Pendirian Politeknik Ketenagakerjaan adalah memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten di bidang ketenagakerjaan baik di instansi pemerintah, dunia industri, maupun masyarakat pada umumnya.

“Hal ini dilakukan karena permasalahan ketenagakerjaan semakin komplek, dan menghadapi derasnya tuntutan globalisasi, sehingga memerlukan SDM yang kompeten di bidang ketenagakerjaan,” paparnya.

Haiyani berpesan kepada para mahasiswa supaya menyelesaikan studi tepat waktu.

“Dengan lulus tepat waktu, berarti saudara-sadara telah memberi kesempatan yang seluas-luasnya kepada mereka-mereka yang ingin menikmati studi di Politeknik Ketenagakerjaan di tahun-tahun mendatang,” pungkasnya. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 10 September 2016

Bupati: Sugeng Rawuh di Boyolali

Boyolali, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. “Sugeng Rawuh (selamat datang) di Boyolali,” menjadi kalimat pembuka yang disampaikan Pj Bupati Boyolali Sri Ardiningsih, dalam acara penyambutan para peserta Kongres IPNU ke-XVIII dan IPPNU ke-XVII di Pendhapa Alit Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Jumat (4/12) malam.

Bupati: Sugeng Rawuh di Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati: Sugeng Rawuh di Boyolali (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati: Sugeng Rawuh di Boyolali

Dalam sambutannya, Sri ikut menitipkan pesannya kepada para para peserta yang dihadiri dari perwakilan pimpinan pusat, wilayah Jateng, dan cabang Boyolali itu.

“Tantangan yang akan kita hadapi di masa depan jauh lebih berat. Semoga di tangan anak muda, IPNU-IPPNU, Indonesia menjadi lebih jaya di masa depan,” kata dia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam HS, memberikan apresiasi kepada Pemerintah Boyolali atas segala dukungan yang diberikan untuk ikut mensukseskan jalannya kongres.

“Kongres kali ini kita mengambil tema bertema Pelajar Islam Berbudaya Untuk Toleransi dan Persatuan Bangsa. Tema ini diambil karena terjadi disparitas antara agama dan budaya,” kata dia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ditambahkan Anam, kegiatan Kongres IPNU-IPPNU ini rencananya akan dilangsungkan selama lima hari (4-8/12) di Asrama Haji Donohudan Boyolali. Dalam kegiatan tersebut juga diadakan berbagai kegiatan seminar yang menghadirkan pembicara sejumlah menteri dan tokoh lainnya.

Kogres IPNU-IPPNU secara resmi dibuka, Sabtu (5/12) di Asrama Haji Donohudan Boyolali, Jawa Tengah. Pembukaan Kongres ditandai dengan pemukulan gong oleh Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Aswaja Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 04 September 2016

NU Afganistan Bebaskan Seorang Sandera Taliban

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Perwakilan ulama Afganistan dari Provinsi Maidan Wardak yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) berhasil membebaskan seorang sandera yang diculik oleh keompok Taliban. Proses pembebasan dilakukan dengan cara damai.

“Mereka berhasil membebaskan sandera beberapa minggu lalu karena membawa nama Nahdlatul Ulama Afghanistan,” kata Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di Jakarta, Kamis (18/9).

NU Afganistan Bebaskan Seorang Sandera Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Afganistan Bebaskan Seorang Sandera Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Afganistan Bebaskan Seorang Sandera Taliban

Alhamdulillah, organisasi Nahdlatul Ulama Afghanistan telah mendapat kepercayaan dari lapisan masyarakat setempat, baik dari kalangan pemerintah maupun oposisi,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut As’ad, warta mengenai pembebasan sandera itu menjadi salah satu bagian dalam laporan Workshop NUA 17 September 2014 kemarin yang dilaporkan kepada PBNU di Jakarta. Workshop sendiri diselenggarakan dalam rangka memperkuat jaringan NUA di seluruh wilayah Afghanistan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Workshop tersebut diadakan di kantor Noor Educational and Capacity Development Organization (NECDO), Butcher St, Shahr-e-now, Kabul Afghanistan. Sementara dalam laporan juga disebutkan bahwa Gubernur Maidan Wardak telah memberikan salah satu ruangan untuk kantor perwakilan NU Afghanistan, serta akan membantu sepenuhnya NUA dalam mempersiapkan peresmian dan pelantikan pengurusnya.

Setelah ada pelantikan secara resmi, NUA akan secepatnya disosialisasikan ke seluruh Provinsi Afghanistan. Menurut As’ad, dalam waktu dekat pihak NUA juga akan mengadakan silaturahim dengan kedua kandidat calon presiden Afghanistan yaitu DR Abdullah Abdullah dan DR Ashraf Ghani.

“Secara khusus NU Afganistan menyampaikan ucapan terimakasih kepada PBNU di Indonesia yang telah mensupport pendanaan, support teknis dan support politis, serta mengharapkan PBNU Indonesia untuk hadir dalam pelantikan NUA,” katanya.

Ditambahkan, seperti NU di Indonesia, NU Afghanistan akan bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan serta melayani masyarakat dan tidak terlibat dalam politik praktis.

Berbeda dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di luar negeri yang beranggotakan warga Indonesia, NUA didirikan dan beranggotakan masyarakat setempat. Menurut As’ad, organisasi ini akan mengadopsi AD/ART dari PBNU yang ada di Indonesia dengan beberapa penyesuaian terkait regulasi dan kondisi negara setempat. (A. Khoirul Anam)

Gambar: Logo NU Afganistan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 02 September 2016

MWC NU Cengkareng Gelar Konferensi ke IV

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU) Cengkareng menggelar Konferensi ke empat. Acara tersebut digelar di Ranting NU Kapuk Cengkareng, Jl Pasar Alam, Jakarta Barat, Sabtu (20/9/2015). Istighotsah dan Dzikir Qubro yang dipimpin Katib PBNU KH Mujib Qulyubi merupakan rangkaian konferensi yang digelar pada malam tersebut. Konferensi ini mengambil tema “Memantapkan Aqidah Ahlussunnah wal Jamaah, ala Thoriqoh Annahdliyyah dalam Bingkai Nusantara”.

MWC NU Cengkareng Gelar Konferensi ke IV (Sumber Gambar : Nu Online)
MWC NU Cengkareng Gelar Konferensi ke IV (Sumber Gambar : Nu Online)

MWC NU Cengkareng Gelar Konferensi ke IV

Ketua Panitia Konferensi IV MWC NU Cengkareng yang juga Ketua Tanfidziyah NU Kapuk Cengkareng KH Gus Siroj Ronggo Laawe mengatakan “Alhamdulillah Konferensi berjalan lancar, mulus tanpa hambatan berarti, sebelumnya kami menggelar acara Istighotsah dan Dzikir Qubro yang dipimpin Katib PBNU KH Mujib Qulyubi dengan harapan acara konferensi ini berjalan lancar,” katanya.

Terpilih sebagai ketua MWC NU secara demokrasi Agus Salim menggantikan Almarhum KH Abdul Wahid Sholeh. Sementara itu Ketua Ranting NU Kapuk Cengkareng, KH Gus Siroj Ronggo Lawe yang diharapkan maju untuk MWCNU mengaku masih ingin bertahan mengurus Ranting NU Kapuk Cengareng?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Saya sifatnya mengantar dan ngopeni NU, kenapa saya tidak naik ke MWC NU, karena saya masih ngormati NU Ranting, sebelum Ranting ini kuat akarnya saya belum bisa meninggalkan Ranting Kapuk ini, tapi nanti setelah akarnya kuat sekali, baru saya akan ngurusi MWCNU itupun atas ijin Mbah Hasyim Ashari,” ujar Gus Siroj.

Ia mengatakan MWC NU yang sekarang ini harus betul-betul berani mengatakan Islam Nusantara harus secara terbuka dan menjadikan MWC NU Cengkareng menjadi barometer NU di Jakarta Barat.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami Ranting NU Kapuk Cengkareng mendorong MWC NU Cengkareng untuk lebih berani mengatakan Islam Nusantara, harus menjadikan MWC NU Cengareng menjadi barometer NU di Jakarta Barat, dan mendorong sepenuhnya MWC Cengkareng membuka jatidiri NU yang sebenarnya karena untuk menangkis wahabi-wahabi yang saat ini berselimut dengan bahasa NU tapi ternyata mereka menjegal NU secara terang-terangan,” tegas Ketua Ranting NU Kapuk Cengkareng itu.

Hadir ? dalam acara tersebut Katib PWNU DKI Jakarta KH Zuhri Yaqub dan Ketua NU Jakarta Barat KH Abdurrohman Mahmud, Rais Syuriyah Jakarta Barat KH Abdurraman Shoheh dan disaksikan Pengasuh Pondok Pesantren Ashidiqiyah KH M Nur Iskandar SQ turut hadir Banom-banom NU yaitu IPNU, IPPNU, Ansor, Banser, Muslimat dan Fatayat. Red: Mukafi Niam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 08 Agustus 2016

IPNU IPPNU UINSA Siap Kawal Pemberdayaan Era Millenial

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pimpinan Komisariat Perguruan Tinggi Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama – Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Universitas Islam Negeri Surabaya (PKPT IPNU-IPPNU UINSA) turut serta menjaga NKRI dari paham radikal dan anti Pancasila, dengan mengadakan Masa Kesetiaan Anggota (Makesta) di Villa Pondok Jowo Gondang, Padusan, Pacet, Mojokerto, Jumat-Ahad, 27-29 Oktober 2017.

“Makesta merupakan tahap awal pengkaderan IPNU IPPNU dalam meneruskan perjuangan para ulama dalam mensyiarkan faham Ahlusunnah Wal Jama’ah (Aswaja) dan turut serta membentengi  faham radikal yang mulai memasuki dunia pelajar dan kampu,” terang Kartika Nur Umami, Ketua PKPT IPPNU UINSA.

IPNU IPPNU UINSA Siap Kawal Pemberdayaan Era Millenial (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU IPPNU UINSA Siap Kawal Pemberdayaan Era Millenial (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU IPPNU UINSA Siap Kawal Pemberdayaan Era Millenial

Makesta diikuti seluruh fakultas yang ada di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya diantaranya Fakultas Tarbiyah dan Fakultas Syariah. Pengkaderan Makesta diikuti oleh 207 peserta yang didominasi oleh peserta perempuan. 

Mengawal kader NU dalam lingkungan kampus menjadi suatu tantangan tersendiri bagi PKPT IPNU IPPNU UINSA karena mengingat pemikiran-pemikiran para mahasiswa baru yang kadang masih menjadi  beradaptasi sesuai perasaan dan logikanya. Sehingga PKPT IPNU IPPNU UINSA  juga mengupayakan pemberdayaan kader di dalam kampus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alhamdulillah, dengan adanya kegiatan ini saya bisa menambah wawasan tentang kebangsaan dan ke-NU-an, yang jarang sekali kami dapat dibangku sekolah maupun kuliah,” kata salah satu peserta, Muhammad Fajar.

Fajar menambahkan setelah kegiatan dirinya akan berusaha sebaik-baik mungkin untuk mengabdi dan menjadikan IPNU-IPPNU UINSA lebih baik. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sulistia Prabawati, alumni Ketua PKPT IPPNU UINSA tahun priode 2014-2015 dan Ketua PC IPPNU Kota Surabaya tahun 2017-2019 sangat mengapresiasi kegiatan Pengkaderan Makesta tersebut.

“Mengikuti makesta merupakan gerbang awal untuk ikut menjadi bagian dari IPNU-IPPNU dan pemberdayaan kader pun sangat dibutuhkan bagi para kader agar kader tersebut tetap selalu berdaya di IPNU-IPPNU maupun NU pada khususnya,” katanya. (Sumriyah/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah, AlaNu Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 06 Agustus 2016

Kemensos Terjunkan Bantuan Untuk Korban Banjir di Sampang

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kementerian Sosial RI akan menerjunkan bantuan ke masyarakat Sampang Madura, Jawa Timur. Bantuan itu diberikan Kemensos karena di wilayah tersebut, sejak kemarin diguyur hujan dengan intensitas sangat tinggi dan mengakitbatkan wilayah Sampang terendam banjir setinggi 2 meter.

Kemensos Terjunkan Bantuan Untuk Korban Banjir di Sampang (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemensos Terjunkan Bantuan Untuk Korban Banjir di Sampang (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemensos Terjunkan Bantuan Untuk Korban Banjir di Sampang

Hal itu disampaikan Menteri Sosial RI Hj Khofifah Indar Parawansa kepada awak media usai menghadiri acara majlis dzikir dan doa bersama Al-Khidmah di depan Masjid Agung Sidoarjo, Jawa Timur, Ahad (28/2) lalu.

"Kami sudah mengirimkan satu perahu karet ke Sampang, Madura. Semoga bisa digunakan dengan maksimal. Senin besok, 29 Februari, kami juga akan mengirimkan kembali perahu karet dan dapur umum lapangan bersama Pemkab setempat, Pemprov Jatim dan BNPB. Dapur umum lapangan sebanyak satu paket satu mobil. Di dalamnya sudah ingklut untuk menyiapkan dapur umum lapangan," kata Khofifah.

Ia menjelaskan, di Sampang terdapat 274 titik yang potensial longsor dan banjir. Masing-masing titik sudah dikoordinasikan. "Justru pada saat kita setelah elino itu. Karena siklusnya setelah elino, baru lalino," jelasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

SOP yang sudah disiapkan Kemensos relatif memudahkan untuk mendorong logistik. Kalau misalnya ada kabupaten/kota, disitu terjadi bencana alam atau bencana sosisal, bisa mengeluarkan SK darurat. Lalu bisa menggunakan cadangan beras pemerintah sampai 100 ton. Kalau itu sudah terpakai, bisa dilaporkan kepada Gubernur. Selanjutnya Gubernur bisa mengeluarkan SK darurat untuk menggunakan cadangan beras pemerintah sampai 200 ton. Di atas 200 ton baru Mensos.

"Oleh karena itu mudah-mudahan bisa dipercepat untuk mengeluarkan cadangan beras dari pemerintah yang bisa digunakan Bupati/Walikota 100 ton, Gubernur 200 ton. Dan proses yang mendorong logistik itu biasanya karena ada kendala jalan yang tidak bisa digunakan, jalan yang putus. Nah itu bisa menggunakan perahu karet," terangnya.

Di tempat yang sama Wakil Gubernur Jawa Timur, H Saifullah Yusuf mengatakan, pihaknya berencana akan ke Sampang untuk melihat secara langsung kondisi yang terendam banjir. Semua personil Pemprov dan Kabupaten sudah berada di lokasi. "Senin besok kami akan ke lokasi. Terkait bantuan kami juga sudah mendapat laporan di lokasi banjir sudah disiapkan perahu karet, bantuan makan dan minum," ucap pria yang akrap disapa Gus Ipul itu.

Gus Ipul menambahkan, semua bantuan ? sudah terkoordinasi dan sementara semua pengungsi di tempatkan di pendopo dan beberapa tempat. Karena masyarakat di Sampang tidak mau terlalu jauh dari pemukimannya. (Moh Kholidun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Halaqoh, Berita, Warta Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 30 Juli 2016

Dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015; Neoliberalisasi Segala Sektor

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Probolinggo, Jawa Timur membahas AEC (Asean Economic Community) yang akan diterapkan tahun 2015 oleh negara-negara yang tergabung dalam Association of Southeast Asian Nations (ASEAN), termasuk Indonesia.

Dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015; Neoliberalisasi Segala Sektor (Sumber Gambar : Nu Online)
Dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015; Neoliberalisasi Segala Sektor (Sumber Gambar : Nu Online)

Dampak Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015; Neoliberalisasi Segala Sektor

Bertempat di sekretariat cabang jalan Randupitu, Gending, Probolinggo, Ahad sore (14/12), diskusi itu dihadiri sekitar 25 Kader PMII delegasi komisariat se-Probolinggo.

Ketua PC PMII Probolinggo Muhammad Towil menjelaskan, diskusi ini adalah langkah taktis yang dilakukan oleh PMII Probolinggo untuk memberikan pemahaman awal tentang AEC kepada kader-kader PMII.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sejak ditandatanganinya kesepakatan percepatan Asean Economic Community (AEC) dari tahun 2020 menjadi 2015? pada tahun 2007 di Singapora, Indonesia dituntut untuk bergegas. Semua pihak harus menyiapkan diri. “PMII sebagai bagian dari elemen bangsa, tidak bisa diam menghadapi tantangan pasar bebas ASEAN ini,” katanya.

Penyaji dalam diskusi bulanan ini, Muhammad Al Fayyadl, memaparkan dampak AEC. Menurutnya, dampak nyatanya adalah neoliberalisasi di segala sektor, kompetisi produksi, komoditas oriented, kesenjangan tenaga kerja.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menambakan, Indonesia akan jadi surga impor dan investasi yang hanya akan menguntungkan kaum kapitalis. “Jika kita tidak menyiapkan diri, khawatir kita akan kalah di segala sektor,” kata pria alumnus magister Universite De Paris VIII (Vincennes-Saint-Denis), Prancis itu.

Di akhir diskusi berdurasi 2 setengah jam, pria yang akrab dipanggil Gus Fayyadl tersebut berpesan, bahwa sudah saatnya kemandirian ekonomi desa segera digalakkan sebagai langkah antisipiatif dini.

“Untuk PMII, perlu wacana tentang MEA (Masyarakat Ekonomi Asean) atau AEC ini dimunculkan di media-media. Konsolidasi dengan elemen tenaga kerja harus segera dimulai,” jelasnya.

Gus Fayyadl menambahkan, peningkatan kemampuan bahasa asing dan pengenalan budaya asing sudah saatnya untuk dilakukan.(Beny/Abdullah Alawi)? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pertandingan, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Juli 2016

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor

Temanggung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Di saat sebagian masyarakat beramai-ramai menyaksikan fenomena langka gerhana matahari, puluhan anggota Barisan Ansor Serba Guna (Banser) Temanggung berpartisipasi menangani bencana tanah longsor yang melanda beberapa tempat di Desa Tegalsari, Kecamatan Tretep, Kabupaten Temanggung. Mereka membantu evakuasi bencana tanah longsor yang mengakibatkan terhambatnya jalur utama yang menghubungkan Kecamatan Wonoboyo dan Kecamatan Tretep.

Nihilnya angkutan desa yang beroprasi pada Rabu itu bukan semata lantaran bertepatan dengan hari libur nasional atau adanya momentum terjadi gerhana matahari, tetapi lebih karena jalur tersebut belum bisa dilewati baik oleh kendaraan roda empat atau roda dua.

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Temanggung Turut Tangan di Lokasi Tanah Longsor

Hujan lebat mengguyur kawasan Kecamatan Wonoboyo dan Tretep pada Selasa (8/3) sore. Derasnya hujan disertai pula longsor tanah di tiga titik daerah Tretep yang menghalangi jalan raya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Koordinator tim SAR Tretep Yanto, pihaknya merasa sangat terbantu dengan keterlibatan Banser Temanggung dan beberapa elemen lain yang turut menangani tanah longsor di kecamatan Tretep, khususnya yang sempat menimpa jalan raya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Kami mulai menangani longsor ini sejak pagi tadi, berhubung kemarin sore belum memungkinkan untuk turun ke lokasi. Berkat kerja sama dan gotong royong dengan masyarakat daerah dan Banser serta elemen relawan lain, setelah bahu-membahu mengangkat tanah, Alhamdulilah diperkirakan nanti sore jalur ini bisa kembali normal dan sudah bisa dilewati kendaraan," kata Yanto kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Rabu (9/3).

Salah satu anggota Banser Temanggung yang sempat kami temui pada siang itu menyatakan bahwa aksi sosial turun lapangan semacam ini bukan kali ini saja. Setiap terjadi bencana seperti tanah longsor, Banser Temanggung sudah kerap ikut terjun menanganinya.

Berdasarkan pantauan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, akibat tanah lonsor yang menghambat jalan utama kecamatan Tretep ini banyak pedagang yang memilih pulang kembali ketimbang harus melalui jalur alternatif yang jaraknya beberapa kali lipat lebih jauh dari jalan raya yang biasa mereka lewati menuju tempat berdagangnya. Angkutan desa yang biasanya ramai, juga tak tampak pada Rabu itu. (M Haromain/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 19 Juli 2016

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gencarnya penggunaan media online dan media sosial tentang berbagai aktivitas masyarakat disikapi anggota Muslimat NU Kabupaten Brebes dengan cara bijak. Sebanyak 60 aktivis Muslimat NU Brebes menggunakan sejumlah media sosial terutama untuk memotivasi para pasangan usia subur agar ikut Keluarga Berencana (KB).

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

60 Motivator Muslimat NU Brebes Sosialisasikan KB via Teknologi

Mereka mengikuti pendidikan di Hotel Grand Dian Jalan Jenderal Sudirman Brebes, Rabu-Jumat (13-15/1). “Mereka mendapatkan pelatihan mengenai metode kontrasepsi dan penggunaan teknologi modern untuk sosialisasi KB dengan cara Islami di tengah masyarakat,” kata Ketua Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU (YKM) Muslimat NU Brebes Hj Nurhalimah.

Selama 10 tahun ke belakang, kata Nurhalimah, peningkatan capaian KB di Indonesia sangat rendah. Di sisi lain tingkat kematian ibu karena melahirkan juga masih tinggi. Ia menyebut kehamilan yang tidak direncanakan dengan baik sebagai salah satu penyebab kematian ibu. Hal ini semakin memperkuat urgensi untuk segera melakukan inovasi dalam bekerja di lapangan.?

Keluarga Berencana di Indonesia sudah dilaksanakan sejak 40 puluh tahun lalu dan sudah mencapai hasil yang sangat baik yang diakui oleh dunia internasional keberhasilannya. Meski demikian, dalam setiap hal pasti akan ada saatnya dimana dibutuhkan cara kerja baru. Di tengah dinamika lingkungan yang sudah berbeda, seperti dinamika kemajuan teknologi, dinamika budaya dan sosial yang sudah berubah diperlukan inovasi agar dapat terus mempertahankan apa yang sudah dicapai dan meningkatkan ke arah yang lebih baik lagi.

Ketua Muslimat NU Dra Hj Chulasoh menambahkan, Kabupaten Brebes memiliki jumlah penduduk terbanyak se-Jawa Tengah. Ia berharap ledakan jumlah penduduk dapat dicegah. “Muslimat NU terpanggil untuk berperan aktif mengatur jumlah kelahiran,” tuturnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di sisi lain, kata Chulasoh, saat ini hampir 80% orang di Brebes memiliki akses terhadap telepon genggam. Sebagian besar di antaranya sudah memiliki koneksi internet di teleponnya. Mereka menggunakan internet untuk mencari informasi, membaca berita, atau menggunakan sosial media. Hampir 90% masyarakat Brebes memilliki fesbuk.

Statistik ini didapatkan berdasarkan studi terakhir di tahun 2015 yang dilakukan oleh Johns Hopkins Center for Communication Program bekerja sama dengan Universitas Indonesia di 11 kabupaten kota wilayah kerja program Pilihanku, dengan total responden lebih dari 20,000 Pasangan Usia Subur (PUS).

“Dengan media sosial dan instant messaging saya sekarang dapat terkoneksi dengan seluruh orang di dunia,” tambah Soimah salah seorang peserta.?

Ketua Pelaksana Program Pilihanku Muslimat NU Hj Kusnia Nasser menjelaskan, Muslimat NU bekerja sama dengan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dan Johns Hopkins Center for Communication Program (CCP) melihat potensi yang sangat besar untuk menjangkau masyarakat dengan informasi akurat tentang Keluarga Berencana melalui pemanfaatan teknologi online dan media sosial.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Muslimat NU sejak tahun 1967 setuju dengan Keluarga Berencana dan bahkan aktif mengumpulkan para ulama NU untuk diajak diskusi tentang KB ditinjau dari perspektif Islam sehingga pada tanggal 25 September 1969 menghasilkan 8 Fatwa PB Syuriah NU berupa Pedoman Pokok tentang KB untuk jam’iyah NU”, jelasnya.?

Cara-cara Islami yang dimaksud adalah yang sesuai dengan delapan fatwa ulama Syuriyah PBNU. Pertama, KB harus diartikan sebagai pengaturan penjarakkan kehamilan untuk kesejahteraan dan bukan pencegahan untuk pembatasan kehamilan. Kedua, KB harus dijelaskan dalam kepentingan kesejahteraan Ibu dan Anak dan bukan karena takut miskin. Ketiga, KB tidak boleh dilakukan dengan pengguguran kandungan. Keempat, tidak boleh merusak dan menghilangkan bagian tubuh. Kelima, KB adalah masalah perseorangan dan sukarela. Keenam, KB harus mendapat persetujuan suami dan istri. Ketujuh, KB tidak boleh bertentangan dengan hukum agama Islam. Kedelapan, KB jangan disalahgunakan untuk kepentingan maksiat.

Motivator yang rata-rata tinggal di pedesaan dari 17 Pimpinan Anak Cabang se-Kabupaten Brebes itu diberi bekal cara menggunakan media komunikasi tablet yang sudah dilengkapi dengan aplikasi tentang Keluarga Berencana. “Alhamdulillah, saya bisa mengoperasikan tablet yang biasa digunakan anak saya,” tuturnya.

Tablet yang menjadi hak milik para peserta pelatihan tersebut, juga dilengkapi aplikasi perencanaan keluarga yang diberi nama SKATA ? (berasal dari Seiya Sekata bersama pasangan) kini sudah dapat diunduh dari Google Play dan App Store. SKATA adalah aplikasi baru tentang perencanaan keluarga yang dapat diunduh secara gratis oleh pengguna Android atau IOS (iPhone). Selain itu SKATA juga dapat diakses di www.skata.info bagi mereka yang memiliki operating system berbeda, seperti misalnya Blackberry.

Dengan mengunduh SKATA atau melihat websitenya masyarakat dapat memperoleh informasi tentang perencanaan keluarga lewat artikel yang ditulis oleh para ahli. SKATA memberikan penjelasan mendetail tentang masing-masing metode kontrasepsi seperti IUD dan implan, metode kontrasepsi jangka panjang yang memberikan perlindungan 3-12 tahun yang dapat dihentikan pemakaiannya sewaktu-waktu atau berbagai jenis metode kontrasepsi yang cocok bagi ibu yang baru melahirkan. Melalui SKATA juga dapat diperoleh lokasi bidan terdekat untuk konsultasi. SKATA memberikan kuis-kuis untuk mengetes pengatahuan dan bahkan dapat digunakan menjadi menjadi agenda pribadi perencanaan keluarga seperti pengingat imunisasi, kalender menstruasi, kalender kontrasepsi, dan lain-lain.

Hal ini dilakukan agar tiap keluarga di Indonesia memiliki inspirasi untuk merencanakan keluarganya dan merencanakan kebahagiannya sehingga setiap keluarga di Indonesia adalah keluarga yang sejahtera, harmonis, dan berdaya saing tinggi untuk Indonesia yang lebih baik. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, Nahdlatul, Pahlawan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Juli 2016

‘Ngundhuh Berkahing Gusti’, Mensyukuri Karunia Padi

Klaten, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sejauh mata memandang, terhampar luas area persawahan, penuh dengan kemilau padi yang menguning. Pemandangan ini mungkin akan mengingatkan kita kembali, akan sebutan Pulau Jawa sebagai Jawa Dwipa, Pulau Padi.

‘Ngundhuh Berkahing Gusti’, Mensyukuri Karunia Padi (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Ngundhuh Berkahing Gusti’, Mensyukuri Karunia Padi (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Ngundhuh Berkahing Gusti’, Mensyukuri Karunia Padi

Pemandangan yang indah tersebut, dipadu dengan sejuknya semilir angin dan suasana alam desa yang begitu asri. Begitulah suasana di sebuah daerah di Klaten Jawa Tengah, tepatnya di  Segawoh, Karangwungu, Kecamatan Karangdowo, Sabtu (4/1).

Sejurus kemudian, datang sejumlah iring-iringan warga dengan membawa bermacam makanan. Sebagian dari mereka juga membawa tumpeng. Rupanya, mereka hendak menggelar tradisi Ngundhuh Berkahing Gusti. Sebuah tradisi ungkapan syukur warga, yang diadakan untuk menandai datangnya panen padi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pemimpin acara, Lawu Warta, mengungkapkan acara ini bertujuan untuk mensyukuri berkah Tuhan yang diberikan melalui alam. “Sebagai manusia, kita harus menjaga keharmonisan ini. Menjaga alam dan selalu ingat dengan pencipta, dengan mengucap syukur,” tuturnya.

Hal tersebut digambarkan Lawu Warta dengan dua buah kayon, semacam gunungan wayang. “Kayon dengan aksara jawa itu merupakan simbol dari doa, sedangkan kayon yang berwujud pohon merupakan simbol dari alam. Keduanya, bersama dengan manusia yang membawanya merupakan simbol dari keharmonisan kehidupan,” jelasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 15 Juli 2016

Para Pendekar Blitar Bentuk Paguyuban Silat Pencak Dor

Blitar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Para jawara pencak silat dor (open bar) Blitar Raya, Jawa Timur membentuk paguyuban Forum Pencak Door Blitar Raya dengan nama Paguyuban Pencak Dor Blitar Raya. Olahraga dan Beladri khas santri NU itu selama ini berlangsung alami tanpa ada koordinasi antar-kelompok latihan. Sehingga terkesan berdiri sendiri-sendiri dengan nama yang macam-macam.

Para Pendekar Blitar Bentuk Paguyuban Silat Pencak Dor (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Pendekar Blitar Bentuk Paguyuban Silat Pencak Dor (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Pendekar Blitar Bentuk Paguyuban Silat Pencak Dor

Namun mulai 17 September 2016 lalu, para pendekar pencak dor sepakat membentuk organisasi resmi dengan nama Paguyuban Pencak Dor Blitar Raya dengan Ketua Umum Agus Tri Setiyadi.?

Selain dalam rangka sebagai media selaturrahmi diantara para pendekar pencak dor, paguyuban ini juga sekaligus sebagai wahana pemersatu antara pendekar. Karena didalam organisasi ini bercokol beberapa pendekar kawakan dari NU yang sudah malang melintang di dunia pendekar pencak dor.?

Misalnya Mbah Satijan dedengkot Banser Blitar, Mohammad Shobiri, tokoh Pagar Nusa Blitar, Mohammad Kasani, tokoh pendekar pencak dor, Mohammad Mansuri ? pendekar pencak silat dari Porsigal Blitar, H Moh.Yusuf pendekar asal Bangle Kanigoro.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, ada juga beberapa mantan petinju nasional juga ikut gabung dalam paguyuban yang bernaung ? di bawah bendera Forum Olahraga Rekreasi Masyarakat Indonesia ( FORMI) ini. Misalnya Stack Poncogati, Purnomo, dan lainnya.

“Semua pendekar di Blitar hadir dalam pembentukan paguyuban ini. Termasuk para mantan petinju nasional,” ungkap Agus Tri.

“Untuk membuktikan bahwa ? pencak dor ini sebagai olahraga para santri maka logo paguyuban, memakai gambar tali jagat khas NU. Lalu gambar pendekar dan latar belakang warna merah putih sebagai simbul nasionalisme pendekar bahwa NKRI harga mati,” jelas Agus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia menjelaskan, pencak dor merupakan olahraga beladiri santri yang berkembang di wilayah Karesidenan Kediri. Beberapa pesantren memiliki pendekar pencak dor. Misalnya Pesantren Lirboyo, Pesantren Kencong Kediri, Pesantren Kerjen Blitar, Pesantren ? Modangan Blitar dan lainnya. H

ingga kini, tradisi ini masih berjalan baik dan hampir setiap malam minggu dalam satu bulan pasti ada pentas olahraga santri ini. Selain di wilayah Blitar, juga bisa bertempat di wilayah Kediri. Misalnya penyelenggaraan tanggal 25 September 2016 mendatang bertempat di Kecamatan Banyakan Kediri.?

“Bisa disaksikan para pendekar dari karesidenan Kediri akan tampil pada acara ini. Meski mereka bertarung di atas pentas. Nanti setelah sampai dibawah mereka bersahabat lagi sambil makan nasi yang disediakan oleh panitia,” ungkap Agus. (Imam Kusnin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kyai, Halaqoh, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 04 Juli 2016

Kapolres Ajak Pelajar NU Boyolali Jadi Mitra

Boyolali, Pondok Pesantren Attauhidiyyah -

Salah satu rangkaian kegiatan untuk menyambut Hari Lahir (Harlah) IPNU ke-63 yang dilakukan Pimpinan Cabang (PC) IPNU Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, yakni audiensi ke Polres setempat.

Pada kunjungan yang diadakan, Kamis, (23/2), perwakilan pengurus IPNU bersama IPPNU Boyolali tersebut diterima langsung Kapolres Boyolali AKBP Agung M. Suyono.

Kapolres Ajak Pelajar NU Boyolali Jadi Mitra (Sumber Gambar : Nu Online)
Kapolres Ajak Pelajar NU Boyolali Jadi Mitra (Sumber Gambar : Nu Online)

Kapolres Ajak Pelajar NU Boyolali Jadi Mitra

Dalam sambutannya, Agung memberikan apresiasi kepada para pengurus baru IPNU-IPPNU Boyolali, serta siap untuk menjadikan organisasi pelajar NU tersebut, sebagai mitra dan partner polisi, khususnya di kalangan pelajar.

Ia juga mengingatkan akan bahaya provokasi yang kini banyak disebar untuk memecah umat Islam. "NU benar, penjajahan terhadap umat Islam hari ini adalah dengan memecah umat Islam sendiri, sehingga umat Islam disibukkan dengan urusan perpecahan tersebut. Bagaimana cara berkembang tak pernah terlintas di benak Umat Islam sendiri," ujarnya.

Ketua PC IPNU Boyolali Khamidurrahim menjelaskan, audiensi kali ini, selain sebagai agenda menyambut Harlah, juga sebagai media untuk memperkenalkan pengurus baru masa khidmah 2016-2018. “Kita sampaikan pula visi misi kita, serta program pada kepengurusan yang baru ini,” kata dia.

Selain audiensi, dalam momentum Harlah IPNU ke-63 ini, IPNU Boyolali juga mengadakan kegiatan lainnya antara lain ziarah ke makam para sesepuh IPNU, serta acara pengajian “Dzikir dan Shalawat Harlah NU”. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pahlawan, Khutbah, Internasional Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 03 Juli 2016

Mbah Maimoen: Indonesia Harus Lepas dari Teroris dan Aliran Keras

Pekalongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH Maimoen Zubair, ulama sepuh dan kharismatik dari Rembang, Jawa Tengah menyampaikan bahwa sudah semestinya umat Islam berpandangan luas dan terbuka, tidak sempit mengingat keberagaman dan kemajemukan bangsa Indonesia. Sebab itu menurutnya, bangsa Indonesia harus lepas dari tindakan teror dan aliran keras.

Mbah Maimoen: Indonesia Harus Lepas dari Teroris dan Aliran Keras (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Maimoen: Indonesia Harus Lepas dari Teroris dan Aliran Keras (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Maimoen: Indonesia Harus Lepas dari Teroris dan Aliran Keras

Hal ini Mbah Moen sampaikan di sela-sela perhelatan Konferensi Ulama Internasional bertajuk Bela Negara: Konsep dan Urgensinya dalam Islam yang diselenggarakan oleh Jamiyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (JATMAN) pada Kamis (28/7) di Pekalongan, Jawa Tengah. Mbah Moen bersama 300 ulama thariqah dunia berupaya memberikan sumbangsih nyata bagi persatuan umat Islam di dunia.

“Saya mengharapkan agar tidak terjadi apa yang disebut dengan fanatik ashabiyyah (kesukuan, red). Tetapi Islam bangkit dari hal-hal yang kadang menimbulkan pertentangan. Nabi lahir didukung oleh Bani Hasyim dan Bani Mutthalib, tetapi kebangkitan Islam (secara meluas ke berbagai negeri) terjadi di masa sahabat, ada Muhajirin dan ada Anshar,” urainya.

Padahal, lanjut Mbah Moen, para sahabat Muhajirin dan Anshar dengan Bani Hasyim kadang timbul perselisihan. “Untuk itulah Islam membutuhkan pandangan yang luas, tidak sempit. Lebih-lebih di Indonesia, harus lepas dari teroris dan aliran-aliran keras,” jelas Pengasuh Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Keamanan itu penting, kalau di dalam al-Quran, Wattiini wazzaytuuni wa thuuri siiniina wa haadzal BALADIL AMIIN. Barangkali dengan ini para ulama bisa mengamankan, bersama pemerintah, menyatukan kekuatan lahir dan batin,” imbuh salah satu Mustasyar PBNU ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Internasional, Fragmen, Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Orang Bertakwa Menunaikan Kewajiban Berzakat

Bandar Lampung, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Direktur Fundraising NU Care LAZSINU Nur Rahman mengatakan karena zakat adalah kewajiban, sehingga orang yang di dalam hatinya ada ketakwaan kepada Allah SWT akan melaksanakan kewajiban berzakat.

“Orang yang bertakwa akan merasa terpanggil untuk mensyiarkan perintah-perintah Allah termasuk kewajiban zakat,” kata Rahman saat mengisi “Ngaji Fundraising” dalam rangka Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) LAZISNU Lampung di Gedung PWNU Lampung, Ahad (30/4).?

Orang Bertakwa Menunaikan Kewajiban Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Bertakwa Menunaikan Kewajiban Berzakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Bertakwa Menunaikan Kewajiban Berzakat

Ia meneruskan zakat tidak akan syiar di masyarakat jika proses untuk menjadi kebiasaan bagi para muzakki tidak diajarkan sejak dini. Untuk itu sangat dianjurkan belajar berzakat sebelum kewajiban berzakat datang.?

“Kapan kewajiban berzakat datang? Kewajiban berzakat datang ketika sudah ada satu nishob dan haul. Satu nishob adalah ukuran minimal sebuah harta yang wajib dikeluarkan zakatnya yaitu 85 gram harga emas murni. Susah rasanya seseorang jika tidak dibiasakan berzakat. Maka belajar zakat sebelum nishob itu suatu keniscayaan,” papar Rahman.?

Ia menyayangkan walaupun berzakat merupakan salah satu kewajiban umat Islam sekaligus tiang agama, berzakat sering dilupakan umat Islam sendiri.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Zakat tidak sepopuler kewajiban dan perintah-perintah Allah yang lain seperti shalat, puasa, haji. Padahal shalat diajarkan sejak kecil, puasa dan haji juga di ajarkan sejak taman kanak-kanak? Kenapa zakat tidak, apakah zakat juga tidak perlu diajarkan sejak dini?” katanya mengajak merenung peserta Rakorwil yang merupakan perwakilan UPZIS dan JPZIS di Provinsi Lampung.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir Hj Rita Linda dari BAZNAS Provinsi Lampung. Rita menyampaikan pihaknya siap bermitra dengan NU Care LAZISNU Lampung dalam mengembangkan dan mengelola zakat infak dan sedekah di Provinsi Lampung. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hadits, AlaNu, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 30 Juni 2016

IPNU-IPPNU Kadur Pamekasan Buka Olimpiade Matematika

Pamekasan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Olimpiade Mathematic And English Competition (MEC) yang digelar IPNU-IPPNU Kadur telah dibuka, Sabtu (19/1). Ketua MWCNU Kadur Pamekasan, KH Baidowi Absom didapuk sebagai pembuka kegiatan yang dilangsungkan di Pondok Pesanten Sumber Gayam.

IPNU-IPPNU Kadur Pamekasan Buka Olimpiade Matematika (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kadur Pamekasan Buka Olimpiade Matematika (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Kadur Pamekasan Buka Olimpiade Matematika

Pembukaan yang dilangsungkan pagi hari tersebut ditempatkan di Auditorium SMA Al-Falah, Sumber Gayam, dihadiri oleh petinggi NU Kadur, Ketua PC IPNU Pamekasan, Ahmad Nasiruddin, pengurus pesantren, dan 30 peserta beserta dewan guru yang mendampinginya.

Pantauan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, pembukaan tersebut berlangsung khidmat. Belasan panitia yang sebelumnya super sibuk, turut serta di dalamnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Faisol Ansori, Ketua IPNU Kadur, menegaskan bahwa awalnya keraguan akan kesuksesan kegiatan MEC menyelimuti pikirannya. Sebab, kata Faisol, seminggu menjelang Hari H, yang mendaftar hanya 2 orang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Tapi ternyata, mencapai 30 orang. Ini sangat menyenangkan," sela Baitiyah, Ketua Panitia, sembari menuturkan, peserta tersebut terdiri dari 12 delegasi MTs atau sederajat, dan 18 delegasi MA atau sederajat.

Helliyatul Mukarramah, Ketua IPPNU Kadur, menyatakan bahwa olimpiade MEC bakal dilangsungkan dua hari aktif, tanggal 19 - 20 Januari.

"Pada tanggal 19 Januari, peserta yang 30 ini, nantinya akan diambil 10 besar. Pada 20 Januari, akan bersaing lagi untuk memperebutkan juara 1, 2, dan atau 3. Antara juara tingkat MTs dan MA, nantinya dipisah," terang Helen, panggilan Helliyatul Mukarramah.

Sekretaris IPNU Kadur, Fathorrahman, menceritakan betapa terselenggaranya kegiatan tersebut tidak lepas dari kesemangatan pengurus IPNU dan IPPNU Kadur.

"Insya Allah, pasti sukses kalau disertai niatan ibadah dan kerja sama yang kuat di antara kita," ujar Oong, panggilan akrab Fathorrahman.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah IMNU Pondok Pesantren Attauhidiyyah