Sabtu, 16 Juli 2016

‘Ngundhuh Berkahing Gusti’, Mensyukuri Karunia Padi

Klaten, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sejauh mata memandang, terhampar luas area persawahan, penuh dengan kemilau padi yang menguning. Pemandangan ini mungkin akan mengingatkan kita kembali, akan sebutan Pulau Jawa sebagai Jawa Dwipa, Pulau Padi.

‘Ngundhuh Berkahing Gusti’, Mensyukuri Karunia Padi (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Ngundhuh Berkahing Gusti’, Mensyukuri Karunia Padi (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Ngundhuh Berkahing Gusti’, Mensyukuri Karunia Padi

Pemandangan yang indah tersebut, dipadu dengan sejuknya semilir angin dan suasana alam desa yang begitu asri. Begitulah suasana di sebuah daerah di Klaten Jawa Tengah, tepatnya di  Segawoh, Karangwungu, Kecamatan Karangdowo, Sabtu (4/1).

Sejurus kemudian, datang sejumlah iring-iringan warga dengan membawa bermacam makanan. Sebagian dari mereka juga membawa tumpeng. Rupanya, mereka hendak menggelar tradisi Ngundhuh Berkahing Gusti. Sebuah tradisi ungkapan syukur warga, yang diadakan untuk menandai datangnya panen padi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pemimpin acara, Lawu Warta, mengungkapkan acara ini bertujuan untuk mensyukuri berkah Tuhan yang diberikan melalui alam. “Sebagai manusia, kita harus menjaga keharmonisan ini. Menjaga alam dan selalu ingat dengan pencipta, dengan mengucap syukur,” tuturnya.

Hal tersebut digambarkan Lawu Warta dengan dua buah kayon, semacam gunungan wayang. “Kayon dengan aksara jawa itu merupakan simbol dari doa, sedangkan kayon yang berwujud pohon merupakan simbol dari alam. Keduanya, bersama dengan manusia yang membawanya merupakan simbol dari keharmonisan kehidupan,” jelasnya. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Hadits Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar