Rabu, 30 Agustus 2017

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin

Cilacap, Pondok Pesantren Attauhidiyyah?



Presiden Joko Widodo melakakuna Safari Ramadhan ke Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin Kesugihan, Cilacap, Kamis (15/6) sore. Ia hadir bersama Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji.

Presiden yang akrab disapa Jokowi menyampaikan tentang pentingnya menjaga persaudaraan, ukhuwah wathaniyah dan ukhuwah islamiyah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.?

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Pesan Presiden di Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin

"Marilah kita jaga persaudaraan kita. Persaudaraan antarumat Muslim, ukhuwah islamiyah kita. Kita jaga persaudaraan antarumat beragama yang lain, ukhuwah wataniyah kita, agar kerukunan, persaudaraan d iantara kita terjalin dengan baik," katanya.

Presiden Jokowi juga menyampaikan, Indonesia adalah negara yang besar dan berananekaragam suku, agama dan ras. Oleh sebab itu, ia mengajak untuk mensyukuri anugerah yang diberikan Allah kepada bangsa Indonesia.?

"Jangan sampai di antara kita masih ada yang saling menyalahkan, saling menjelekkan, saling mencemooh, saling mencela; kita lupa bahwa kita ini saudara," lanjutnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jokowi juga mengajak untuk saling menjaga satu sama lain supaya tidak terjadi gesekan yang dapat memecah belah bangsa Indonesia.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya mengajak, agar kebinekaan yang telah menjadi takdir dari Allah, untuk benar-benar dijaga dan dipelihara dengan baik. Jangan sampai ada gesekan dan perpecahan," tegasnya di hadapan ribuan santri dan masyarakat yang hadir sore itu.

Presiden juga menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya pengasuh Pondok Pesantren Al-Ihya Ulumaddin KH Chasbullah Badawi, dan menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa hadir saat itu. (Kifayatul Akhyar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Humor Islam, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 27 Agustus 2017

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu

Oleh Cecep Zakarias El Bilad

Tujuh puluh dua tahun lalu era penjajahan berakhir. Kita baru saja memperingatinya. Perjuangan panjang nenek moyang kita, mempertaruhkan jiwa dan raga, akhirnya berhasil mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Namun betapapun beratnya sebuah perjuangan kemerdekaan, musuh yang dihadapi jelas wujudnya. Jelas pula posisinya, sehingga kita bisa bersembunyi, lari atau hadapi dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.

Tetapi, akan jauh lebih berat lagi ketika penjajah itu tak nampak wujudnya, dan tak jauh pula posisinya. Musuh itu bahkan menyatu dalam diri kita masing-masing, sehingga tak mungkin bersembuyi, lari atau menghadapinya langsung secara vis ? vis, yaitu hawa nafsu. Tanpa maksud mengurangi nilai kemuliaan jihad f? sab?llâh, jihad melawan hawa nafsu adalah perjuangan panjang dan sulit yang dijalani setiap orang sepanjang hidupnya. Sebagaimana diisyaratkan Nabi SAW dalam sabdanya:

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)
Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu (Sumber Gambar : Nu Online)

Manusia dan Penjajahan Hawa Nafsu

? ? ? ? ?

“Orang yang berjihad sejati adalah orang yang memerangi hawa nafsunya karena Allah.” (HR. Ahmad).

Mahluk merdeka

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Manusia tercipta sebagai mahluk merdeka. Ia lahir tidak menjadi budak siapapun, dan tidak pula untuk kepentingan siapapun. Namun, ini tentunya bukan berarti merdeka secara mutlak. Sebab sebagai mahluk, wujud manusia tidaklah berdiri sendiri. Ia semula tidak ada, lalu diadakan oleh Tuhan. Sebagai mahluk, ia juga tidak berdaya apapun.

Semua kemampuan yang ia miliki ialah juga ciptaan dan pemberian dari Sang Pencipta. Statusnya sebagai mahluk ini tidak akan pernah memberinya kebebasan/kemerdekaan yang mutlak. Ia merdeka dalam arti, tidak tunduk pada apapun dan siapapun sesama mahluk di alam semesta ini. Ia hamba Allah dan menghamba hanya kepada-Nya.

Jauh sebelum kelahirannya di dunia, manusia sudah sepenuhnya sadar akan status kehambaannya itu. Ia sadar bahwa kehidupanya di dunia kelak hanya mengemban satu visi yakni menjadi hamba Allah dan satu misi, menghamba kepada-Nya. Sebagaimana yang Allah tegaskan dalam firman-nya:

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

? ? ? ? ? ? ?

“Dan tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali hanya untuk menghamba kepada-Ku.” (adz-Dzariyat, 56).

Kesadarannya itu bahkan diwujudkan dalam sebuah ikrar suci seperti yang Allah sendiri kisahkan:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

"Ingatlah ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan Adam dari sulbi mereka. Kemudian Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. Agar kelak di hari Kiamat kamu tidak berkata sesungguhnya dahulu kami lalai dari hal itu” (al-A‘raf: 172).

Dalam kitab tafsirnya, Syekh Muhammad Mutawalli Sya’rawi menyebut sumpah manusia kepada Allah ini dengan syahâdah al-fi?rah (ikrar suci), yakni ikrar manusia untuk mengesakan Allah (wa?dâniyyatihi). Ikrar ini terjadi di âlam adz-dzar, alam menjelang manusia diturunkan ke alam dunia. Menurut Syekh Asy-Sya’rawi, ayat ini menegaskan bahwa secara fitrah semua mahluk itu beriman kepada Allah, dan meyakini bahwa Dia adalah Pencipta dan Pengatur alam semesta.

Inilah yang sering disebut bahwa agama itu fitrah. Secara alami, manusia akan percaya bahwa alam raya ini ada yang menciptakan, dan Pencipta itu pula yang sekaligus mengatur peredarannya. Fitrah, dalam al-Mu’jam al-Wash?t, bermakna ?? ? ? ? ? ? ? ? (suatu potensi asal saat sesuatu mahluk diciptakan). Ini berarti, dari sekian potensi yang dibawa manusia sejak lahirnya, satu di antaranya adalah potensi ketuhanan ini.

Dari perspektif sains modern sendiri, sudah sejak lama manusia diyakini sebagai mahluk relijius. Agama sebagai fenomena alami, yang niscaya ada dalam kehidupan manusia. Setiap orang secara naluri percaya akan adanya suatu kekuatan di luar sana yang mendesain alam semesta ini, dan mengatur perjalanan setiap jengkal kehidupan.

Namun sesuatu itu keberadaannya di luar jangkauan akal dan pancainderanya. Naluri ini menjadi sumber dorongan manusia untuk menganut agama. Jesse Bering, seorang psikolog kontemporer Amerika dalam bukunya the God Instinct: The Psychology of Souls, Destiny and the Meaning of Life, mengistilahkannya dengan God Instinct (insting ketuhanan). Menurutnya, ini adalah unsur unik dalam diri manusia, yang membedakannya dari binatang. Unsur inilah yang melahirkan fenomena agama dan kepercayaan di setiap tempat dan zaman.

Penjara tubuh

Tibalah giliran masing-masing manusia diturunkan ke muka bumi. Memasuki alam dunia, wujud ruhani itu dimasukkan dalam wadah tubuh jasmani. Di awal perjalanannya, ia mulai belajar survive dan beradaptasi dengan lingkungan duniawinya. Itu dimulai dari ruang sempit rahim ibunya. Seiring waktu, tubuhnya yang semula segumpal daging, tumbuh menjadi janin. Setelah sembilan bulan, saat semua organ dan sistem tubuhnya sempurna, ia kemudian keluar dari ruang sempit itu ke ruang bebas alam dunia ini.

Hari berganti hari. Tubuh mungil itu terus berkembang. Yang semua lemah menjadi kuat; semula kecil semakin besar; semula pendek menjadi tinggi. Semua unsur terus berkembang tahap demi tahap, hingga akhirnya menjadi sosok remaja dan dewasa. Semula ia masih merasa canggung dengan hiruk-pikuk kehidupan dunia. Lambat laun ia mulai meniru dan membiasakan diri. Berkat bimbingan orangtua dan orang-orang di sekitarnya ia pun menjadi terbiasa.

Tahun berganti tahun. Ia sudah mulai akrab, betah, dan akhirnya bisa merasakan manisnya kehidupan dunia. Ia mulai kenal nikmatnya makanan, lembutnya belaian, bagusnya pakaian, asiknya permainan, dan seterusnya. Memasuki usia remaja, kesannya tentang kehidupan pun semakin mendalam. Ia sudah bisa merasakan indahnya pemandangan, cantiknya lawan jenis, asyiknya bergaul, manisnya ilmu, bangganya prestasi, dan seterusnya.

Saat dewasa pun tiba. Ia semakin merasa dunia ini sebagai tempat terbaik. Bagaimana tidak, ia sudah bisa menikmati nikmatnya pujian, asiknya rumah tangga, enaknya banyak uang, indahnya kemewahan, hebatnya kekayaan, kekuasaan, pangkat, jabatan dan seterusnya. Dunia menjadi tempat yang begitu menakjubkan baginya. Bila perlu, ia ingin hidup seterusnya di dunia, terlebih jika “kebetulan” ia memperoleh itu semua dengan mudah.?

Di sinilah manusia mulai merinci daftar keinginan, merangkai cita-cita dan merancang rencana-rencana hidup. Waktu menjadi terasa sangat berharga. Hari demi hari ibarat susunan anak tangga yang dilalui menuju satu demi satu keinginannya.

Di satu sisi, ia sebenarnya sadar bahwa jatah hidup di dunia ini terbatas. Pada saatnya pasti akan berakhir. Namun di sisi lain, dunia ini sudah terlampau indah baginya dan ia sudah terlanjur jatuh cinta. Target-target hidup sudah dipancang. Usaha untuk meraihnya pun sudah dilakukan lahir dan batin. Secara lahir, ia bekerja dan belajar. Kegagalan demi kegagalan ia alami, namun ia terus bangkit.?

Tahap demi tahap, jenjang demi jenjang ia lalui dengan sebar, demi meraih daftar-daftar keinginannya. Tak hanya secara lahir, usaha-usaha batin pun dilakukan, terutama di saat-saat kondisi sulit/terjepit. Ia rajin beribadah dan berdoa, memohon agar Allah memudahkan usahanya meraih setiap keinginannya.

Demikianlah cara umumnya manusia melalui fase hidupnya di dunia. Mereka tentu sadar hidup ini hanya sementara, tapi mereka seolah mencoba melupakannya. Sampai tak lagi merasa jika jatah waktunya di dunia kian habis. Saat ajal tiba, ia mungkin sedang giat-giatnya bekerja, belajar, bercengkrama, bersenang-senang.?

Keinginannya masih banyak yang belum terpenuhi. Masih banyak cita-cita yang belum tercapai. Masalah masih banyak yang belum diselesaikan dan tanggungjawab pun masih besar, di keluarga, kantor, organisasi, masyarakat. Namun ajal tak bisa ditunda. Maka kematian menjadi terasa begitu menyakitkan.

Dijajah nafsu

Seperti sudah diuraikan, manusia adalah mahluk dua dimensi, lahir dan batin; jasad dan ruh. Setelah ruh dan jasad dipersatukan, seperti kata Imam al-Ghazali dalam I?yâ ‘Ul?mudd?n, jasad menjadi kendaraaan bagi ruh (manusia) selama menjalani fase kehidupannya di dunia.

Kemudian, dalam menahkodai tubuh, ruh memiliki satu organ/sistem dalam “tubuh”nya yang disebut an-nafs, yang dalam konteks ini sering diartikan sebagai hawa nafsu atau syahwat. Dalam terminologi pakar kejiwaan Muslim seperti Ibnu Sina dan Mullâ ?adrâ, hawa nafsu diistilahkan dengan an-nafs al-?ayawâniyyah (nafsu hewani).?

Sejatinya, keberadaan hawa nafsu ini adalah fitrah, sebagaimana fitrah-fitrah lainnya dalam diri manusia. Ia adalah unsur ruhani yang menjadi sumber gerak tubuh. Ia menggerakkan dan memproses seluruh organ dan sistem tubuh, pencernaan, pertumbuhan, perkembangbiakkan, penginderaan, dan lain sebagainya.

Dari sinilah bersumber semua rasa dan hasrat jasmaniah manusia. Ini tentunya terkait langsung dengan aktivitas fisik manusia, seperti makan, tidur, bangun, pergi, bekerja, seks dan lain-lain. Artinya, hawa nafsu merupakan penggerak berlangsungnya aktifitas dasar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Ia sebagai hasrat yang mendorong aktivitas-aktivitas itu dan sekaligus yang merasakannya.

Selain hawa nafsu, ruhani manusia juga memiliki bagian lain yang diistilahkan Ibnu Sina sebagai an-nafs al-insâniyyah (nafsu insani), yang mencakup qalbu dan akal-pikiran. Qalbu menjadi sumber spiritualitas dan akal-pikiran sumber intelektualitas. Aspek ruhani inilah yang mendorong manusia pada aktifitas keilmuan, intelektualitas, keagamaan dan filantropi.

Persoalannya adalah nafsu hewani mengontrol langsung aktivitas dasar manusia, seperti makan, minum, seks, penglihatan, pendengaran, dan lain sebagainya. Ketika ruh masuk ke dalam tubuh, aspek ruh inilah yang langsung berperan dan aktif bekerja. Saat tubuh masih gumpalang daging, ia menumbuhkannya jadi janin hingga lengkap dengan organ-organ tubuhnya.?

Jadilah janin itu bayi yang bergerak dan mengindera, hingga sempurna dan siap terjun keluar dari rahim sang ibu. Tahun berganti tahun, barulah nafsu insani aktif bekerja menumbuhkan kesadaran intelektual dan spiritual pada manusia baru itu.

Kondisi ini tentu saja menjadikan hawa nafsu lebih unggul dalam mengendalikan tubuh, dibandingkan pikiran dan qalbu. Sementara dalam konteks ini, tugas akal dan qalbu sebenarnya adalah untuk mengontrol dan membimbing aktifitas hawa nafsu.?

Seperti dikatakan Imam al-Ghazali dalam K?miyâ‘ as-Sa’âdah, jika diri manusia itu diibaratkan sebuah negara (mad?nah), maka tubuh itu adalah wilayah kekuasaan (dliyâ‘), syahwat itu ibarat perdana menteri (wâliy) yang mengatur pemerintahan atas perintah dan bimbingan raja. Sedangkan qalbu adalah sang raja (mâlik) dan akal adalah penasehat raja (waz?r).

Namun jika perdana menteri itu begitu cerdik dan kuat pengaruhnya, sementara sang raja lemah dan bodoh, maka seluruh kerajaan akan tunduk di bawah kendali sang perdana menteri, termasuk pula raja dan penasehatnya itu.?

Artinya, ketika hawa nafsu seseorang terlampau kuat mencengkram tubuh, sementara qalbu dan akalnya lemah, maka orang itu perilakunya sehari-hari akan hanya berdasarkan kemauan hawa nafsunya. Qalbu dan akalnya pun akan bekerja menuruti perintah hawa nafsunya.

Ini kondisi ruhani yang umum dialami manusia, saat hawa nafsu menjajah wilayah kekuasaan qalbu dan akal. Untuk itulah Allah SWT mengingatkan dengan firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Apakah kau pernah lihat orang yang menjadikan hawa nafsu sebagai ilâh (tuhan). Allah membiarkannya tersesat dalam kesadarannya. Allah telah mengunci pendengaran dan qolbunya, serta menutup pandangannya. Maka siapakah yang mampu menuntunnya ketika Allah sudah menyesatkannya. Tidakkah kalian ingat?” (al-Jatsiyah: 23)

Ketika hidup seseorang dipenuhi dengan keinginan-keinginan, maka hari-harinya akan dipenuhi dengan rangkaian kesibukan untuk mencapainya satu demi satu. Jika ia berhasrat jadi seorang PNS, misalkan, maka dia akan mengejarnya. Tenaga, pikiran, harta-benda, keluarga, semuanya akan dipertaruhkan. Perasaannya akan selalu diliputi harapan dan kecemasan, yang hanya hilang jika ia sudah berhasil. Sebaliknya jika gagal, ia akan dirundung stres dan kesedihan.

Satu keinginan terpenuhi, muncullah keinginan-keinginan berikutnya. Dan manusia, pada saat bersamaan, selalu punya lebih dari satu keinginan. Hidupnya akan disesaki berbagai kesibukan demi mengejar daftar kemauan syahwatnya: uang, rumah, sepeda motor, mobil, tanah, pekerjaan, pangkat/jabatan, kekuasaan, istri/suami, anak-cucu, hiburan, hobi, ilmu, prestasi, gelar, dan lain sebagainya.

Ia terjebak dalam jejaring keinginan dan kesibukan yang diciptakannya sendiri atas perintah syahwat. Dan itu berlangsung hampir sepanjang hidupnya, dan menyita hampir seluruh waktu, tenaga, pikiran dan perasaannya. Namun di sisi lain, ibadah dilakukan hanya sekedarnya. Bahkan, momen-momen sakral itu pun, misalnya shalat, puasa, haji, infak, sedekah, tak jarang dijadikan sarana ruhani untuk memuluskan keinginan-keinginan duniawinya itu.

Kemauan nafsu tak pernah habis. Dan untuk setiap kemauan, nafsu akan menggerakkan tubuh tuannya (manusia) untuk melakukan apa saja untuk memenuhinya, meskipun hal itu bisa berakibat buruk bagi dirinya sendiri ataupun melanggar batas-batas aturan syari’at.?

Dalam qalbunya, orang mungkin sadar bahwa suatu perbuatan itu salah/dosa dan akalnya pun tahu jika itu berbahaya, namun karena desakan syahwat yang begitu kuat, ia tetap melakukannya. Ia juga tetap menikmatinya. Keadaan seperti ini, berarti seseorang sudah menjadi hamba bagi hawa nafsunya. Seperti dikecam Allah dalam ayat surat al-Jatsiyah di atas.

Tentang kondisi manusia semacam itu, Allah SWT juga berfiman:

? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Sungguh manusia itu kepada Tuhannya ingkar. Mereka mengakui keingkarannya itu. Kepada harta-benda, cintanya begitu besar.” (al-‘Adiyat, 6-8).

Ia selalu sadar bahwa Allah adalah Tuhan (ilâh), dan hanya kepada-Nya ia mengabdikan diri. Namun jeratan hawa nafsu begitu kuat, qalbu dan akalnya yang lemah tak mampu mengendalikan apalagi membebaskannya. Akhirnya, sebagian besar waktu, tenaga, pikiran, perasaan dan semua yang dimilikinya, didedikasikan bukan untuk Allah, tapi untuk mengejar semua yang diinginkan nafsu hewaninya. Bahkan terkadang ia rela melanggar aturan-aturan Allah, hanya demi menuruti kemauan “tuhan” kecilnya itu. Inilah barangkali yang dimaksud Allah dalam firman-Nya:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

“Dan jika engkau bertanya kepada mereka siapakah yang menciptakan langit dan bumi, serta yang menundukkan matahari dan bulan. Niscaya mereka akan menjawab “Allah”. (al-Ankabut, 61).

Sampai di sini, jelas bahwa musuh terbesar kita sampai detik ini adalah syahwat/hawa nafsu. Setiap insan sudah beriman kepada Allah jauh sebelum ia lahir ke muka bumi. Namun, seperti dikatakan Syekh Asy-Sya’rawi saat bicara tentang syahâdah al-fi?hrah, hawa nafsulah yang kemudian melalaikan kita dari ikrar suci itu.?

Sedangkan hawa nafsu itu sendiri adalah bagian penting dari diri selama kita menjalani hidup di dunia. Oleh karenanya, perjuangan kita untuk merdeka dari belenggu hawa nafsu menjadi begitu berat dan sulit. Terlebih ini adalah perjuangan abadi di sepanjang hidup kita.

Sebentar lagi ‘Idul Adha tiba. Saat yang tepat untuk menyelami makna pengorbanan Ibrahim a.s dan puteranya Isma’il a.s. Keduanya menjadi teladan bagi kita tentang insan yang merdeka dari penjajahan hawa nafsu. Telah sekian lama Ibrahim menanti hadirnya seorang putera, namun setelah hadir dan beranjak dewasa Allah justru menyuruhnya menyembelih putera kesayangannya itu.

Jika melirik pada kemauan syahwat, perintah itu tentu sangat berat bagi Ibrahim. Namun, dengan penuh kesadaran dan ketulusan sebagai hamba Allah, Ibrahim a.s tetap taat melaksanakan perintah itu. Demikian halnya sang putera, Isma’il a.s.

Akhirnya, semua kembali pada diri masing-masing. Sejauh mana kesungguhan kita berjuang membebaskan diri dari penjajahan hawa nafsu, kembali menjadi hamba Allah sepenuhnya. Selagi masih ada sisa umur dan badan masih sehat. Dahulu kita terlahir sebagai hamba Allah yang merdeka, kelak mati pun semoga dalam keadaan merdeka pula. Âm?n.

Penulis adalah Dosen di Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan IAIN Palangkaraya, Kalimantan Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ulama, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 26 Agustus 2017

9 Batu dan Doa Ditanam di Pondasi Pusdiklat PMII Centre

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pengurus Cabang (PC) Ikatan Alumni (IKA) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jepara telah memulai langkah baru dalam merealisasikan keinginan untuk membangun gedung Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) bagi kader-badernya. Peletakan batu pertama untuk pembangunan gedung Pusdiklat PMII Centre itu dilaksanakan Rabu, (14/9).

Peletakan batu pertama diselenggarakan di tanah seluas 945 meter persegi yang berlokasi di Kelurahan Karangkebagusan RT. 02 RW. 01 Kecamatan Jepara Kabupaten Jepara. Tanah tersebut telah dibeli IKA PMII Jepara dengan hasil iuran para alumni PMII.

9 Batu dan Doa Ditanam di Pondasi Pusdiklat PMII Centre (Sumber Gambar : Nu Online)
9 Batu dan Doa Ditanam di Pondasi Pusdiklat PMII Centre (Sumber Gambar : Nu Online)

9 Batu dan Doa Ditanam di Pondasi Pusdiklat PMII Centre

Turut serta meletakkan batu dalam acara tersebut Ketua PW IKA PMII Jawa Tengah H. Noor Ahmad, Rois Syuriah PCNU Jepara KH Ubaidillah Noor Umar, Ketua PCNU Jepara KH Khayatun Abdullah Hadziq beserta sekretaris PCNU Jepara H. Ulul Absor.

Kemudian turut hadir Ketua MPC IKA PMII Jepara KH. Ahmad Bahrowi beserta Sekretaris MPC KH. Mashudi? yang juga ketua MUI Jepara, anggota MPC H. Zainuri Toha, para alumni dan pengurus PC IKA PMII, kader-kader PMII serta warga di Kelurahan Karangkebagusan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam peletakan batu pertama, ada sembilan batu yang ditanam. Pertama dimulai dari sesepuh warga di Kelurahan Karang Kebagusan, Sulaiman yang juga mengawali memberi doa untuk kelancaran pembangunan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian berturut-turut batu kedua oleh KH Ubaidillah Noor, KH Khayatun Abdullah Hadziq, H. Noor Ahmad, KH. Ahmad Bahrowi, KH. Mashudi, H Zainuri Toha, Musim Aisha dan batu kesembilan ditanam Ketua PC PMII Jepara, Fandeli.

Ketua IKA PMII Jepara, Muslim Aisha mengatakan pembangunan Pusdiklat PMII menjadi salah satu program prioritas dalam kepengurusannya periode 2015-2020.

Dikatakannya, dalam waktu setahun kepengurusannya, IKA PMII Jepara sudah mampu membeli sebidang tanah yang saat ini akan dibangun Gedung PMII Centre. “Semoga upaya IKA PMII untuk membangun gedung yang kedepan dapat dijadikan pusat pendidikan dan latihan kader ini dapat berjalan lancar,” ujarnya.

Ketua PW IKA PMII Jawa Tengah, H. Noor Ahmad megapresiasi atas usaha IKA PMII Jepara. Menurutnya pembangunan pusat pendidikan dan latihan bagi kader-kader PMII di Jepara ini akan dapat menghasilkan kader-kader yang militan. Anggota Komisi X DPR RI ini juga juga memberikan support agar upaya IKA PMII Jepara ini berjalan lancar.

Sementara Rais Syuriah PCNU Jepara, KH Ubaidillah Noor berharap agar apa yang dilakukan IKA PMII maupun para kader PMII dapat membantu proses kaderisasi di kalangan NU. Kader-kader PMII yang merupakan kader NU diharapkan menjadi kader yang teguh dalam memperjuangkan Islam ahlussunah wal jamaah. (Syaiful Mustaqim/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Doa, Khutbah, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 25 Agustus 2017

MUI Nilai Bush Lebih Baik Tak Datang

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Majelis Ulama Indonesia (MUI) menilai, Presiden Amerika Serikat, George Walker Bush, lebih baik tak usah datang ke Indonesia terkait citra dan perlakuannya yang buruk terhadap umat Islam di dunia.

“Kita tahu tata krama bahwa tamu seharusnya dihormati dan disambut baik, tetapi kami lebih senang jika pemerintah tidak mengundang orang yang melukai umat Islam di dunia,” kata Ketua MUI, KH Ma’ruf Amin, di Jakarta, Kamis (9/11).

MUI sebagai wadah dari para pimpinan umat Islam, ujarnya, dapat merasakan bagaimana ketidaksenangan masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, terhadap kedatangan Bush.

MUI Nilai Bush Lebih Baik Tak Datang (Sumber Gambar : Nu Online)
MUI Nilai Bush Lebih Baik Tak Datang (Sumber Gambar : Nu Online)

MUI Nilai Bush Lebih Baik Tak Datang

Bush dijadwalkan berkunjung ke Indonesia seusai menghadiri pertemuan forum Kerja Sama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) pada 20 November di Vietnam yang merupakan kunjungan balasan atas kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke AS pada Mei 2005.

“Ketidaksenangan yang tulus dan tanpa provokasi itu merupakan hal wajar, jika melihat sepak terjang Bush selama ini, seperti invasi ke Irak dan Afghanistan, serta dukungannya terhadap Israel yang membunuhi warga Palestina dan Lebanon,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Seharusnya, ujar Ma’ruf, pemerintah mengundang para pimpinan negeri yang bersahabat dan menjalin hubungan baik sama rendah dan sama tinggi saja, bukan pemimpin negara yang senang merendahkan dan menekan negara dan bangsa lain.

Jika dikalkulasi pemerintah, kedatangan Bush mungkin ada untung ruginya bagi Indonesia, tetapi dari perasaan umat Islam kedatangan Bush dianggap sebagai kontroversi dan hanya dianggap ingin menekan atau minimal membuat repot saja, ujarnya.

Ia menambahkan reaksi negatif terhadap Bush juga bukan hanya datang dari kalangan Muslim, tetapi juga dari kalangan non Muslim, karena mereka juga memiliki hati nurani. (ant/rif)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Khutbah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Murid dari Bermacam Agama, Ini Pendidikan di SMK Bakti Pangkalpinang

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Jumlah peserta didiik di SMK Bakti Pangkalpinang, Bangka Belitung pada tahun 2015 sebanyak 657 orang, terdiri dari 299 laki-laki dan 358 perempuan. Masing-masing peserta didik memeluk salah satu dari enam agama yang saat itu diakui pemerintah RI.

Murid dari Bermacam Agama, Ini Pendidikan di SMK Bakti Pangkalpinang (Sumber Gambar : Nu Online)
Murid dari Bermacam Agama, Ini Pendidikan di SMK Bakti Pangkalpinang (Sumber Gambar : Nu Online)

Murid dari Bermacam Agama, Ini Pendidikan di SMK Bakti Pangkalpinang

Secara berurutan dari segi jumlah pemeluk agama adalah pemeluk agama Buddha berjumlah 233 orang (35,46 %), pemeluk  agama Konghucu 130 (19,79 %), pemeluk  agama Kristen 114 orang (17,35  %), pemeluk  agama Katholik 103 orang (15,68 %), pemeluk  agama Islam  76 orang (11,56 %), dan pemeluk  agama Hindu satu orang ( 0,15 %).

Berdasarkan penelitian Balitbang Diklat Kemenag, diketahui layanan pendidikan agama di SMK Bakti Pangkalpinang, Bangka Belitung yang dilaksanakan secara sistematis dan terstruktur mencakup Pendidikan Agama Buddha, Pendidikan Agama Kristen, Pendidikan Agama Katholik, dan Pendidikan Agama Islam. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara itu, Pendidikan Agama Konghucu dan Pendidikan Agama Hindu tidak disediakan di sekolah ini. Peserta didik yang beragama Konghucu mengikuti Pendidikan Agama Katolik dan Buddha. Sedangkan peserta didik yang beragama Hindu mengikuti Pendidikan Agama Buddha. 

Namun, kadang-kadang peserta didik yang beragama Hindu mengikuti kegiatan keagamaan di pura untuk belajar kepada tokoh agama Hindu. Guru Pendidikan Agama di sekolah ini berjumlah sebelas orang; terdiri dari dua guru Pendidikan Agama Islam, dan masing-masing tiga guru pendidikan agama Kristen, guru pendidikan agama Katholik, serta guru pendidikan agama Buddha. Tidak terdapat guru Pendidikan Agama Konghucu dan Hindu di sekolah ini.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pendidikan Agama Islam dilaksanakan pada jam efektif sebagaimana jadwal pelajaran pada umumnya. Pendidikan Agama Kristen, Katholik, dan Buddha dilaksanakan setiap Jumat siang di luar jam pelajaran sebagaimana jadwal pelajaran lainnya. Tempat ibadah yang ada berupa musala terletak di dalam kompleks sekolah. Buku pelajaran Pendidikan Agama untuk pegangan siswa dirasakan masih sangat kurang. (Husni Sahal/Kendi Setiawan)

Baca Kajian Keagamaan lainnya DI SINI

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Meme Islam, Daerah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 24 Agustus 2017

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin mengapresiasi penyelenggaraan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar NU 2014 yang menyoroti isu kehidupan beragama. Hal ini akan menunjang program Kemenag yang tengah menggalakkan gerakan deradikalisasi agama.

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menag Berkepentingan dengan Hasil Munas NU

“Kami sangat berkepentingan dengan hasil Munas ini karena di dalamnya disinggung soal pemahaman keagamaan dan bagaimana agama bersikap dalam kehidupan bermasyarakat,” ujarnya kepada wartawan selepas acara pembukaan Munas-Konbes NU 2014 di kantor PBNU, Jakarta, Sabtu (1/11).

Munas NU yang akan berakhir Ahad (2/11) ini di antaranya mendiskkusikan kode etik penyiaran agama yang meliputi pula wewenang dan batasan negara mengatur kehidupan beragama, etika dakwah, penghargaan tradisi, dan penguatan harmoni di kalangan lintas agama.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lukman menunggu hasil pembahasan Munas NU. Menurtnya, NU mempunyai sejarah panjang tentang keterlibatannya dalam menjaga NKRI. “Saya menilai paham NU juga sangat cocok dengan jati diri bangsa ini,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Putra tokoh NU KH Saifuddin Zuhri ini mengatakan, bulan depan Kementerian Agama mulai bergerak melaksanakan program deradikalisasi yang bekerja sama dengan Mahkamah Konstitusi. Karenanya, rekomendasi Munas NU menjadi bahan penting bagi usaha menghapus ekstremisme dalam bergama dan membangun kesadaran berkonstitusi tersebut.

Lukman menilai, forum tertinggi setelah Muktamar NU ini merupakan salah satu tradisi yang baik karena dilakukan oleh para ulama kompeten dan melalui kajian mendalam terhadap teks-teks keagamaan.

Secara terpisah, Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal Marwan Ja’far juga mendukung penuh terselenggaranya Munas-Konbes NU. Ia berharap, hasil Munas dapat dikoordinasikan kepada pihaknya untuk ditindak lanjuti. “Tentu saya siap melaksanakan rekomendasi Munas nanti sesuai tupoksi (tigas poko dan fungsi) saya,” tuturnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Mustasyar PCNU Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin, Kamis (29/12) pagi melepas puluhan jamaah umroh Kabupaten Probolinggo. Para jamaah yang dilepas dari Pendopo Bupati Probolinggo ini merupakan para guru pendidik dan pedagang di Kabupaten Probolinggo.

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Probolinggo Lepas Jamaah Umroh

Dalam kesempatan tersebut Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa saat ini suhu di Madinah mencapai 5 derajat yang merupakan cuaca yang ektrem. Oleh karena itu, jamaah umroh harus mempersiapkan diri serta menjaga kondisi kesehatan dengan baik.

"Ibadah umroh dan haji merupakan ibadah fisik. Melaksanakan ibadah umroh maupun haji yang mahal itu adalah untuk kebutuhan hotel (penginapan) dan pesawat," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Hasan, sholat dhuhur 1 kali di Masjidil Haram itu sama dengan sholat Dhuhur 100 ribu kali di Indonesia. "Perbanyaklah serta maksimalkan untuk melaksanakan ibadah dan shalat sunnahnya," jelasnya.

Kepada jamaah umroh Hasan meminta agar meninggalkan baju kesomboangan dan keangkuhannya selama berada di tanah suci Mekah dan Madinah. Sebab dengan sombong dan takabur nantinya akan membawa masalah selama menjalankan ibadah di tanah suci Mekah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Tawadhu atau rendah hatilah yang harus ditanamkan pada setiap hati jamaah untuk kelancaran melaksanakan ibadah umroh selama berada di tanah suci Mekah dan Madinah," tegasnya.

Hasan menambahkan bahwa banyak orang kaya yang tidak pernah ke Mekah dan Madinah untuk menjalan ibadah haji maupun umroh. "Jadi para jamaah ini merupakan kesempatan yang mendapat panggilan sebagai tamu Allah SWT dan Rasulullah," pungkasnya.

Pelepasan para jamaah umroh ini dihadiri oleh sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat serta sejumlah pejabat di lingkungan Pemkab Probolinggo. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gus Syaikhul Minta Lapindo Hentikan Rencana Pengeboran di Tanggulangin

Sidoarjo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Komisi VII DPR RI yang membidangi energi, sumber daya mineral, ristek dan dikti, Syaikhul Islam Ali meminta Lapindo Brantas Inc untuk menghentikan rencana pengeboran gas dan minyak di sumur Tanggulangin I desa Kedungbanteng Kecamatan Tanggulangin Kabupaten Sidoarjo. Menurut Syaikhul, pengeboran harus jauh dari pemukiman warga.

Gus Syaikhul Minta Lapindo Hentikan Rencana Pengeboran di Tanggulangin (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Syaikhul Minta Lapindo Hentikan Rencana Pengeboran di Tanggulangin (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Syaikhul Minta Lapindo Hentikan Rencana Pengeboran di Tanggulangin

"Jangan ngebor di situ karena dalam Industri Migas sesuatu yang sangat dihindari. Jarak 10-20 meter dari perkampungan warga harus dihindari. Karena sangat mengutamakan safety. Jadi harus dihentikan. Selain dekat dengan warga juga dekat dengan semburan lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo," tegas Politisi Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) itu, Senin (11/1).

Menurutnya, dalam proses pengeboran harus ada izin dari Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat, izin dengan SKK Migas (rencana kerja dan anggaran), ada juga izin keselamatan pengeboran dari Dirjen ESDM.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sementara Lapindo ini bermasalah di ketiganya. Pertama izin lama dan belum dievaluasi oleh Lapindo. Ada izinnya, tapi itu izin lama. Kita juga harus melihat dampaknya yang pernah terjadi sebelumnya. SKK Migas juga menggunakan izin lama. Terus khusus izin dari Dirjen Migas ternyata belum ada izinnya," ungkap putra pemangku pesantre Bumi Sholawat itu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Gus Syaikhul menjelaskan bahwa peristiwa semburan lumpur Lapindo itu membawa dampak luar biasa bagi masyarakat Sidoarjo. Untuk itu, sebelum dilakukan pengeboran kembali harus dievaluasi dan dikaji ulang izinnya.

Ia sebelumnya juga pernah mengirimkan surat kepada Kepala satuan kerja khusus pelaksana kegiatan usaha hulu minyak dan gas bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi, Kamis 7 Januari 2016.

Surat yang bernomor 001//A.63/DPR-RI/V/2016 itu tertulis bahwa Komisi VII dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) meminta kejelasan terhadap rencana pengeboran sumur di Tanggulangin I oleh pihak Lapindo Brantas Inc di Desa Kedungbanteng Tanggulangin Sidoarjo.

"Kami mengklarifikasi izin kepada SKK Migas, terkait semua perizinan yang dimiliki Lapindo. Karena menurut Lapindo mereka disuruh SKK Migas. Blok Brantas luas, jangan mengebor di daerah berbahaya. Cari di sana yang jauh dari pemukiman warga. Lapindo kan punya lokasi pengeboran selain di Sidoarjo?" cetusnya.

Lebih jauh Gus Syaikhul menyebutkan, terkadang daerah tidak bisa menolak kalau perizinannya turun dan sudah lengkap. Pasalnya, daerah juga tidak mau dianggap menghambat investor. Namun, di sisi lain SKK Migas tidak harus memperhatikan perizinan di atas meja saja. Tetapi, juga melihat kondisi di luar sana.

Semua pihak harus mengambil pelajaran terkait semburan Lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo, baik SKK Migas, Pemkab Sidoarjo maupun warga Sidoarjo Itu lebih dari cukup kerugian, baik materil maupun immateril. Sekarang juga masih belum selesai.

"Pertama, manusia harus diperioritaskan dari pada sekadar mengeruk sumber daya alam. Jadi kalau masyarakat menolak, itu artinya harus dilihat sebagai aspirasi, bukan direpresi dengan polisi dan tentara. Kedua, benefitnya untuk Sidoarjo tidak banyak. Ini jadi persoalan, karena itu sebagai uang jajan saja dari Lapindo dan besarannya tidak pasti sangat kecil sekali. Sementara risikonya sangat besar dengan kerugian sangat besar," ujarnya. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Pendidikan Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Teriak "NKRI Harga Mati" Harus Punya Dasar

Pemalang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NKRI Harga Mati bukanlah hanya slogan atau teriakan-teriakan tak bermakna, akan tetapi harus didasari pemahaman yang kuat mengapa kita harus menjaga kesatuan Negara Indonesia ini.





Teriak NKRI Harga Mati Harus Punya Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)
Teriak NKRI Harga Mati Harus Punya Dasar (Sumber Gambar : Nu Online)

Teriak "NKRI Harga Mati" Harus Punya Dasar

Demikianlah penuturan Al Habib Muhammad Luthfi Bin Ali Bin Hasyim Bin Yahya Pekalongan, Rais Aam Idaroh Aliyah Jam’iyah Ahlith Thoreqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (Jatman) saat membekali para Pengurus Cabang Mahasiswa Ahlith Thoreqoh Al Mu’tabaroh An Nahdliyyah (MATAN) Kabupaten Pemalang yang baru dilantik, Rabu (29/11) lalu.



Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Acara yang dirangkai dengan Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW Majlis Ta’lim dan Dzikir Riyadussholikhin Sibthu Syaikhun Malam Kamis Wage dan Pelantikan PC MATAN Pemalang itu dihadiri oleh Maulana Habib Luthfi Bin Yahya, KH Abdullah Sa’ad dari Solo, dan para kiai serta Habaib di sekitar Pemalang.





Sementara itu, Maulana Habib Luthfi mengatakan NKRI harga mati itu harus punya dasar yang kuat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sekarang ini kita menghadapi berbagai macam gempuran dari luar mulai dari berita-berita hoaks yang begitu banyaknya tersebar di media, yang mengancam stabilitas dan kenyamanan masyarakat sampai pada sesuatu yang mengancam ideologi Negara," katanya

.

Lebih lanjut, Habib Luthfi menjelaskan bahwa hoaks dan provokasi itu sudah ada sejak zaman-zaman dahulu.

"Kalau dihubungkan apa yang terjadi sekarang itu polanya sama dengan yang terjadi dahulu. Peristiwa tahkim di jaman sahabat Ali Bin Abu Tholib, hingga runtuhnya kerajaan-kerajaan besar yang ada di Indonesia maupun dunia, itu banyak terjadi karena hoaks dan pembusukan dari dalam," lanjut Habib Luthfi.

Oleh karena itu, NKRI Harga Mati itu tidak asal teriak.

"Kalau cuma begitu kita bisa lakukan setiap hari. Lebih dari itu kita harus belajar dari sejarah agar apa yang sudah terjadi pada zaman sebelumnya itu tidak terulang lagi pada zaman sekarang. Dengan begitu kita tahu mengapa kita harus mengatakan NKRI Harga Mati, bukan basa-basi,” paparnya.

Acara yang dilaksanakan di kediaman Habib Ahmad Muhdor Assegaf itu berlangsung meriah dengan diiringi grup rebana Az Zahir dibawah pimpinan Habib Ali Zaenal Abidin Assegaf dari Pekalongan. Acara ditutup dengan doa oleh Habib Ahmad Muhdor Assegaf dan dilanjutkan dengan ramah tamah. (Mukh Imron Ali Mahmudi/Kendi Setiawan) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 23 Agustus 2017

‘Hadrah Kiai’: Ulama Nusantara dalam Syair Kontemporer

Perkembangan dunia sastra di pesantren kian hari semakin menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan. Kiprah santri dalam dunia sastra pun tak bisa dipandang remeh. Terbukti, menjelang peringatan Hari Santri Nasional 2017, sebuah buku puisi terbitan Ganding Pustaka Yogyakarta berjudul "Hadrah Kiai" karya Raedu Basha, seorang santri kelahiran Sumenep Madura, 3 Juni 1988, berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Buku Puisi Pilihan dalam Anugerah Hari Puisi Indonesia 2017 (HPI 2017).

Ajang penghargaan tersebut diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi Indonesia pada Rabu, 4 Oktober 2017, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Kontributor Pondok Pesantren Attauhidiyyah berkesempatan melakukan wawancara singkat dengan Raedu Basha terkait buku puisinya dan prestasi yang telah diraihnya tersebut.

‘Hadrah Kiai’: Ulama Nusantara dalam Syair Kontemporer (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Hadrah Kiai’: Ulama Nusantara dalam Syair Kontemporer (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Hadrah Kiai’: Ulama Nusantara dalam Syair Kontemporer

Bisa diceritakan secara singkat latar belakang anda khususnya awal mula anda berkenalan dengan dunia sastra atau puisi ini?

.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Saya suka sastra sejak kecil dan benar-benar menyukainya ketika nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-guluk Sumenep. Di pesantren yang diasuh almaghfurlah Kiai Ahmad Basyir Abdullah Sajjad ini iklim literasinya cukup kuat dan saya menempa diri dalam tradisi diskusi sastra dan membaca buku di luar teks pelajaran, ini tren saat saya nyantri dulu. Di Annuqayah, saya belajar menulis kepada Ra Faizi, Ra Zamiel, dan pada karya para senior Annuqayah, seperti Jamal D Rahman, Aryadi Mellas, M Idhavi F, Muhammad Al-Fayyadl, dan lain-lain. Tapi tak lepas dari tradisi keluarga saya sendiri juga mempengaruhi saya sampai sekarang, almarhum kakek dan almarhum ayah setiap hari meluangkan waktu untuk muthala’ah, menerjemah atau mengarang sampai akhir hayat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terkait buku Hadrah Kiai ini, seperti apa gambaran singkatnya?

. Buku berisi puisi-puisi tematik kiai-kiai Nusantara. Puisi-puisi yang ada di Hadrah Kiai terdiri dari dua bagian, Hadrah Arwah dan Hadrah Hayah, terdiri dari puisi tentang atau untuk ulama lintas generasi, lintas mazhab bahkan lintas ormas baik yang sudah wafat maupun yang masih berjuang hingga hari ini. Secuil sudah ada di sinopsis bukunya dan beberapa endorser yang diunggah di internet.

Bentuk puisinya?

. Gaya cerita atau gaya ucap yang berbeda-beda, kadang sedih, bahagia, haru, kadang pula lucu menggelitik, nyentrik. Ini terjadi karena puisi-puisi dalam Hadrah Kiai ditulis dengan sikon dan pendekatan yang berbeda-beda. Sebenarnya saya hendak mengonsepnya sebagai manakib, di mana tradisi manakib merupakan khazanah sastra pesantren yang mandeg, tapi saya kemudian menyadari siapa saya ini dibandingkan siapa pengarang Manakib al-Jailani, siapa pengarang Jami Karamatil Auliya, dan sebagainya. Maqam spiritual mereka yang bikin saya gentar untuk menganggap manakib. Akhirnya saya kembali kepada posisi habitat saya sendiri, saya cuma etnografer secara akademik dan santri secara kultur. Sudah, itu saja.

Kalau tentang judulnya, mengapa "Hadrah"?

. Kalau anda membaca etnografi dan mencari di mana munculnya musik hadrah, maka anda akan menemukan nama kampung bahkan nama desa saya. Jadi bagi orang kampung saya, hadrah bisa sangat luas maknanya karena telah mengalami banyak peristiwa dan pemaknaan. Hadrah bisa dimaknai sebagai bentuk menghadirkan sosok mulia dan dihormati, bisa sebagai genre musik dan alat musik, bisa sebagai tawasul misalnya ila hadratin bisa sebagai “ke hadirat” bahkan bisa sebagai sebuah ritus yang lain. hadrah karena sangat akrab dengan kehidupan saya sejak kecil. Kalau boleh cerita, kakek saya sendiri termasuk komponis lirik hadrah dan punya diwan syair hadrah, sanad beliau kepada Ahmad bin Ta’lab (Raja Hadrah Indonesia). Lalu mengapa saya milih judul hadrah? Sebab saya ingin meng-hadrah-kan para ulama Nusantara supaya generasi Islam pada khususnya tidak ahistoris dan publik luas bisa mengenal kiprah dan sejarah ke-Indonesia-an.

Untuk puisi-puisi dalam buku Hadrah Kiai ini sejak kapan mulai ditulis?

. Mulanya saya menulis puisi bertema kiai pada 2006, ketika saya kelas 2 Madrasah Aliyah, tapi inisiatif untuk fokus pada topik ini sejak 2014, tepatnya pada saat proposal tesis saya yang bertopik kiai ditolak. Saya kemudian menumpahkannya ke puisi dan saya sangat menikmatinya sampai hari ini. Saya pun mencoba kirimkan ke media massa, perlombaan, dan alhamdulillah, keramat kiai itu benar-benar saya rasakan.

Bisa diceritakan juga bagaimana proses dan mengapa buku ini bisa meraih penghargaan Buku Pilihan HPI 2017?

. Saya tahu Hari Puisi Indonesia adalah penghargaan tahunan di TIM bagi penyair lintas generasi, setiap penerbit atau penulis melakukan submit terbitannya. Tim penilainya Prof. Dr. Abdul Hadi WM, Soetardji Calzoum Bahri, dan Prof. Maman S Mahayana. Buku saya baru selesai cetak waktu itu, langsung submit dan berkompetisi dengan ratusan buku. Saya tak menyangka akan dapat penghargaan, namun ada dugaan menang, sebab selama ini belum ada karya serupa, baik sebagai sastra maupun etnografi.

Bagi anda, apa makna penghargaan dari HPI 2017 dan makna buku ini sendiri bagi anda, pesantren, maupun lingkungan yang lebih luas?

. Pertanyaan yang berat, heehe. Tentang penghargaan, ini penghargaan untuk para Kiai bukan untuk saya, untuk sastra pesantren tentu saja, untuk dinamika bidang etnografi juga. Sedangkan makna buku ini bagi saya adalah jalan pengabdian sebagai santri dan antropolog. Puisi hari ini mulai mendapatkan tempat di tengah masyarakat kendati sebagian masih menggap tempat penyair salon. Padahal menurut Rendra, puisi harus dekat dengan masyarakat. Saya berharap, kelak, nama, ruang, simbol dan bunyi dalam Hadrah Kiai akan menjadi monumen ingatan.

Pesan-pesan anda berkaitan dengan Hadrah Kiai?

. Saya terkesan pesan seorang sahabat, bahwa problematika ke-Indonesia-an jawabannya ada dalam ke-Indonesia-an juga, tak perlu mencari sosok panutan ke seberang lautan.

Lalu harapan anda pribadi secara umum kedepannya?

. Dalam disiplin keilmuan, pertama, berharap kalangan santri harus lebih serius mengawal tradisi, al-muhafadhah dan al-akhdu harus benar-benar dipandang sejajar. Kedua, sastra harus dipandang sebagai pengetahuan yang ilmiah sebagaimana ulama salaf menempatkan sastra sebagai metode keilmuan. Ketiga, di bidang antropologi kita krisis metode. Keempat, pembaca sastra harus lebih terbuka melihat berbagai tema yang ditawarkan karya sastra. Adapun harapan saya setelah ini, lahirnya diskusi tentang keberagamaan, kebinnekaan, rahmat antar sesama manusia, sehingga terjadi kehidupan ber-Indonesia yang ikhlas mengabdi untuk bangsa dan negara. Saya kadang miris melihat banyaknya orang tidak kenal sejarah bangsanya, menyebut Walisongo tidak ada, Gajah Mada adalah Gaj Ahmada, Pancasila thaghut, sampai dengan umat muslim tak segan meneriaki ulamanya kafir dan berbagai ketidaknyamanan. Bukankah hari ini bangsa kita sedang resah perihal ini?

(Muhammad Uwais Sidhi Weiss/Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Fragmen, Kyai, Tokoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 22 Agustus 2017

Sayyidina Ali tentang Tiga Tanda Orang Riya

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Orang riya’ (pamer) memiliki tiga ciri: malas ketika sendirian, rajin saat di tengah banyak orang, serta amalnya meningkat kala dipuji dan menurun kala dicaci. [Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, dikutip dari Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn karya Imam al-Ghazali]

Sayyidina Ali tentang Tiga Tanda Orang Riya (Sumber Gambar : Nu Online)
Sayyidina Ali tentang Tiga Tanda Orang Riya (Sumber Gambar : Nu Online)

Sayyidina Ali tentang Tiga Tanda Orang Riya

Riya oleh Rasulullah disebut sebagai syirik kecil. Dikatakan syirik karena ia menyekutukan Allah dengan nafsu diri sendiri atau respon orang lain. Sebuah amal yang dihinggapi riya seringkali mempertimbangkan bagaimana orang lain memberi tanggapan. Ia lahir bukan dari ketulusan lillahi taala melainkan terdapat campuran keinginan mendapat citra positif di mata manusia. Akibatnya, fluktuasi amal kebaikan berlangsung naik-turun seiring dengan besar-kecilnya potensi "keuntungan" penilaian dari manusia. Wallahu alam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Budaya Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 18 Agustus 2017

Mendes PDTT: Embung Harus Bisa Juga Jadi Wisata Air

Padang Pariaman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, melakukan peletakan batu pertama revitalisasi pembangunan embung Sungai Abu Tabek Gadang di Nagari Toboh Gadang, Kecamatan Sintuk Toboh Gadang, Padang Pariaman, Sumatera Barat, Sabtu (13/5). Dengan luas 2,5 hektar, embung tersebut akan mampu mengairi Kecamatan Sintoga, Nan Sabaris, dan Ulakan Tapakis.

“Kita berharap revitalisasi ini akan dapat memberikan dampak pada peningkatan ekonomi masyarakat. Selain sektor pertanian, sektor pariwisata dan perikanan juga bisa tumbuh,” ujarnya.

Mendes PDTT: Embung Harus Bisa Juga Jadi Wisata Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes PDTT: Embung Harus Bisa Juga Jadi Wisata Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes PDTT: Embung Harus Bisa Juga Jadi Wisata Air

Ia meyakini, produktivitas pertanian warga akan sangat terbantu dengan adanya pengairan yang baik. Dalam kalkulasinya, kurangnya air membuat para petani hanya mampu panen sekali dalam setahun. Embung, lanjutnya, akan membuat para petani mampu panen tiga hingga empat kali dalam setahun. Begitu juga dengan pengembangan sektor perikanan.

“Baru sekitar 45 persen desa-desa punya saluran irigasi atau embung. Nagari harus anggarkan Rp200-Rp500 juta untuk embung. Ini sesuai instruksi Presiden Joko Widodo,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Eko menambahkan, embung juga harus bisa dimanfaatkan sebagai wisata air dan sarana olahraga seperti kolam renang. Selain itu, lanjutnya, pemerintah desa juga dapat menambahkan lapangan bola dan pengelolaan parkir sehingga total lahan yang digunakan bisa mencapai 4,5 hektar. Ia menegaskan hal tersebut dapat terwujud karena setiap desa kini memiliki dana desa.

"Awalnya banyak yang meragukan apakah desa mampu mengelola keuangannya sendiri. Ternyata masyarakat desa kalau dikasih kesempatan bisa. Ekonomi di desa-desa harus terus berkembang,” tegasnya.

Sementara itu, Bupati Padang Pariaman, Ali Mukni, optimistis revitalisasi pembangunan embung berpotensi menjadi wisata unggulan daerah. Dirinya memprediksi embung tersebut juga akan mampu mengairi hingga 400 hektar lahan sawah. Ali pun mengapresiasi adanya dana desa dari pemerintah pusat karena dinilai mampu mempercepat pembangunan di pedesaan serta memberdayakan masyarakat desa.

“Embung ini ke depannya akan dijadikan tempat wisata, mancing ikan dan irigasi. Dananya murni diambil dari dana desa 2017 sebesar Rp 60 juta. Sampai selesai butuh dana 3M,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sejarahnya, embung tersebut mulai dibangun sejak pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1912 dengan luas 2 hektar. Pada 2009 lalu, masyarakat meminta Wali Nagari mengeruk embung karena debit air mulai menurun. Hal itu disebabkan sedimentasi serta merimbunnya pohon kelapa dan rumbio di tepi embung. Pengerukan dan renovasi dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai Sumatera V pada 2012 lalu. (kemendes.go.id/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Anti Hoax, Doa Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 17 Agustus 2017

Istri Sedang Hamil, Anggota Banser Ini Rela Jual HP untuk Mengikuti Pelatihan Lanjutan

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dari 150 peserta Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) dan Pelatihan Kader Lanjutan (PKL) Pimpinan GP Ansor se-Pati Raya, yang digelar mulai 12 sampai 14 Agustus 2016, berakhir pada Ahad (14/8) dini hari. Sebanyak 142 perwira dibaiat oleh PW GP Ansor Jateng yang dinyatakan lolos dalam mengikuti pelatihan.

Prosesi baiat dilakukan langsung oleh Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf. Dalam pesannya pengasuh Ponpes Raudlotut Tolibien ini menyampaikan agar GP Ansor dam Banser terus meningkatkan kemampuan. Tantangan lanjutnya kedepan akan semakin berat.

Ketua GP Ansor Pimpinan Wilayah Jawa Tengah H Ihwanudin, memberikan penghargaan kepada salah seorang peserta Susbalan bernama Nuril Anwar. Anggota Banser asal Satkoryon Kecamatan Sale, Rembang-Jawa Tengah ini mendapatkan penghargaan karena sikap berani dan rela menjual handphone hanya untuk mengikuti Kursus Banser Lanjutan (Susbalan) ini.

Istri Sedang Hamil, Anggota Banser Ini Rela Jual HP untuk Mengikuti Pelatihan Lanjutan (Sumber Gambar : Nu Online)
Istri Sedang Hamil, Anggota Banser Ini Rela Jual HP untuk Mengikuti Pelatihan Lanjutan (Sumber Gambar : Nu Online)

Istri Sedang Hamil, Anggota Banser Ini Rela Jual HP untuk Mengikuti Pelatihan Lanjutan

Ketika ditanya siapa peserta Susbalan dan PKL yang tidak punya HP, Nuril lantas mengacungkan tangan dan maju kedepan. Ihwanudin pun lantas memberikan pertanyaan kenapa dia tidak punya handphone, jawabanya pria kelahiran Brebes 9 Juni 1990 ini mengaku rela menjual hp nya untuk mengikuti pendidikan setelah Diklatsar ini.

"Saya rela menjual Hp ya hanya biar bisa ikut Susbalan. Saya menjual hp senilai 500 ribu," jelasnya kepada Ihwanudin.

Menurut pengakuan Nuril, dari penjualan handphone ia mendapatkan uang senilai 500 ribu. 200 ribu untuk infaq pendidikan, dan 100 sebagai ongkos perjalanan menuju lokasi pendidikan. Sedangkan sisanya diserahkan kepada istrinya yang sedang hamil anak pertamanya sebagai bekal selama ditinggal mengikuti pelatihan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Saya jual hp saya 500 ribu komandan, 300 untuk ongkos dan infaq pendidikan," jelasnya saat ditanya Ketua PW GP Ansor Jateng.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai bentuk apresiasi Nuril pun mendapatkan uang infaq wajib sebagai syarat mengikuti pendidikan, beserta dengan akomodasi dari PW GP Ansor Jawa Tengah yang disampaikan oleh wakil ketua Ansor Jateng Imron di hadapan peserta Susbalan dan PKL.(Ahmad Asmui/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, Santri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Marsudi Sebut Perekrutan Anggota ISIS via Media Sosial

Jepara, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Hingga kini alumni ISIS yang sudah berada di Indonesia berjumlah 124 orang. Sisanya 800-an orang masih di luar negeri. Dengan kondisi yang memprihatinkan itu Ketua PBNU H Marsyudi Syuhud mengharapkan kaderisasi di ranah NU harus terus digalakkan.

Marsudi Sebut Perekrutan Anggota ISIS via Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Marsudi Sebut Perekrutan Anggota ISIS via Media Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Marsudi Sebut Perekrutan Anggota ISIS via Media Sosial

“Alumni ISIS yang sekarang di Indonesia harus dideteksi keberadaannya. Jangan sampai merekrut kader-kader kita,” kata Marsudi saat memberikan sambutan Pelantikan PCNU Jepara di Gedung NU Jepara, Selasa (22/12) siang.

Jika kader NU di pesantren dan di madrasah diajar pelajaran sharaf “Dharaba yadhribu dharban,” tetapi dengan mengikuti ISIS peserta dilatih bagaimana cara membom. Untuk itu kepada ratusan nahdliyyin dan tamu undangan ia mengingatkan harus terus waspada.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“IPNU-IPPNU harus terus bergerak. Jangan sampai lengah,” lanjutnya.

Mantan Sekjen PBNU 2010-2015 itu membeberkan perekrutan ISIS tidak lain ialah remaja berusia sekitar 12 tahun. Mereka merekrut via fesbuk, twiter serta media massa.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain keliling Indonesia lulusan pesantren Ash-Shiddiqiyyah Jakarta itu juga menyebarkan Islam ramah ke Amerika, Uni Eropa, Roma, Australia, dan negara-negara yang lain.

Uni Eropa juga secara resmi mengirimkan surat ke PBNU dan meminta PBNU untuk mengirim kiai ke Eropa dan Australia. “Intinya mereka ketakutan dengan Islam radikal, dan ingin mendalami Islam ala Indonesia,” tegas putra H Suhadi dan Hj Sairah ini.

Tidak hanya itu, negara-negara di belahan Timur Tengah misalnya juga meminta hal yang sama. “NU hari ini sedang diperhitungkan dunia. Dunia Timur Tengah dan Barat sedang rindu belajar dengan kaum sarungan,” pujinya.

Mustasyar PBNU KH Maemun Zubair membenarkan Islam Indonesia sangat dikagumi Timur Tengah dan Barat sehingga Australia, Selandia Baru, dan negara yang lain ingin terus belajar Islam kepada NU. (Syaiful Mustaqim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 16 Agustus 2017

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Terhitung mulai selepas matahari terbenam atau waktu maghrib, Senin (4/11) umat Islam telah memulai awal bulan Muharram atau pergantian tahun 1435 Hijriyah. Tanggal 1 Muharram 1425 H ditetapkan jatuh pada hari Selasa (5/11).

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Umat Islam Menapaki Tahun 1435 Hijriyah

Rukyat awal bulan Muharram 1435 H yang dilakukan oleh Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama di berbagai titik strategis pada Ahad (3/11) kemarin atau bertepatan dengan tanggal 29 Dzulhijjah 1434 H tidak berhasil melihat hilal karena bulan masih berada di bawah ufuk.

Dalam almanak NU yang diterbitkan oleh Lajnah Falakiyah PBNU menyebutkan, peristiwa ijtima’ atau konjungsi baru terjadi pada Ahad (3/11) malam pukul 19.49 WIB. Sementara posisi bulan pada saat matahari terbenam di hari yang sama berada 2021’ di bawah ufuk sehingga hilal tidak mungkin terlihat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Kami mengikhbarkan awal Muharram 1435 H Jatuh pada Selasa 5 November 2013 atau dimulai malam Selasa sebab rukyat Ahad kemarin tidak berhasil melihat hilal,” demikian disampaikan Ketua Lajnah Falakiyah PBNU, KH A. Ghazalie Masroeri dalam pesan singkatnya kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Awal bulan muharram dengan demikian ditetapkan berdasarkan kaidah istikmal atau penyempurnaan bulan Dzulhijjah menjadi 30 hari, atau sampai Senin, dan hari Selasa baru ditetapkan sebagai awal bulan Muharram. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Hikmah, Meme Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 13 Agustus 2017

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat

Semarang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Buku baru berjudul "KH Sholeh Darat Al Samarani, Maha Guru Ulama Nusantara" karya Amirul Ulum dibedah oleh peneliti Balai Litbang Agama Kemenag Semarang Samidi Khalim di kampus Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang, Rabu (19/10). Bedah buku ini merupakan rangkaian peringatan hari santri PCNU Kota Semarang yang bekerja sama dengan PKPI2 Unwahas.

"Kami ikut berbangga hati, kampus Unwahas dijadikan tuan rumah bedah buku Mbah Sholeh Darat. Semoga ada berkah untuk kampus," tegas Rektor Unwahas Mudzakir Ali.

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Semarang Bedah Buku Biografi KH Sholeh Darat

"Unwahas berdiri tahun 1999 dengan wasilah makam mbah Sholeh selama 40 hari sesuai nasehat KH. Abdurrahman Wahid," tambah H. Mudzakir.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mbah Sholeh merupakan ulama lintas aliran yang melahirkan murid-murid yang menjadi tokoh agama dan berjiwa nasionalis.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Buku ini adalah hadiah hari santri dan sekaligus menguatkan posisi Mbah Sholeh Darat sebagai ulama internasional," kata penulis buku, Amirul Ulum.

Banyak ajaran-ajaran Mbah Sholeh Darat yang hingga sekarang dijalani masyarakat. Kitab-kitab yang dikaryakannya juga masih dijadikan rujukan di pondok pesantren dan madrasah. "Ini menunjukkan bahwa berkah Mbah Sholeh Darat sangat abadi dan masih bisa dinikmati kata Ulum. Banyak murid-murid Mbah Sholeh yang menjadi tokoh nasional, lanjutnya, semacam RA Kartini, KH Hasyim Asyari (pendiri Nahdlatul Ulama) dan KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah).

"Buku karya Mas Ulum ini patut menjadi rujukan kajian biografi ulama Nusantara," kata Samidi. Masih banyak orang yang belum mengenal biografi Mbah Sholeh Darat. Sehingga, kehadiran buku ini mampu melengkapi karya-karya sebelumnya yang membahas Mbah Sholeh dari berbagai sudut keilmuan.

Keluarga besar Mbah Sholeh Darat pun menyambut baik hadirnya buku baru ini. "Semakin banyak orang yang mengkaji Mbah Sholeh menandakan ilmu beliau masih membekas untuk umat," kata Agus Taufiq, buyut Mbah Sholeh Darat. Di sisi lain, dzuriyah Mbah Sholeh Darat berharap kepada PCNU Kota Semarang menjadi penggerak ajaran Mbah Sholeh Darat. "Kita harap ke depan, PCNU Kota Semarang mampu menjadi garda depan penyebar ajaran Mbah Sholeh Darat," tegas Agus Tiyanto yang juga dzuriyah Mbah Sholeh. (Zulfa/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, AlaNu, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Oleh Ayik Heriansyah



NU sebagai kekuatan sipil terbesar di Indonesia berada di garda terdepan menjaga NKRI. Harus diakui sejak republik ini berdiri, NU masih bersih dari segala macam kegiatan yang menganggu eksistensi negara. Dalam keadaan suka duka NU selalu bersama Indonesia secara lahir dan batin.?

Wajar jika pemerintah dan rakyat Indonesia menaruh kepercayaan penuh kepada NU ketika gerakan kaum radikal mulai menggeliat sejak 20 tahun yang lalu. Dari waktu ke waktu, mereka semakin menampakkan diri bertujuan mengubah NKRI menjadi negara khilafah. Untuk mengamankan negara, pemerintah? pun membubarkan organisasi pengusung paham itu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), melalui Perppu Ormas yang kemudian disahkan menjadi UU Ormas oleh DPR.?

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Akhlak dan Hizbul Hoaks Indonesia

Logis jika NU, GP Ansor dan Banser menjadi sasaran kemarahan selepas dicabutnya badan hukum mereka oleh pemerintah, dalam hal ini Kemenkumham; dengan memanfaatkan blog dan media sosial, berbagai berita hoaks, meme bernada pelecehan, potongan video yang tendensius, serta opini-opini lepas tanpa peduli benar atau salah, yang penting viral.?

Di sisi lain, reaksi GP Ansor dan Banser terhadap HTI, jadi dalih penghalang “dakwah”. Itu merupakan pintu propaganda masif agar terjadi pelemahan jama’ah dan jam’iyah. Tak hanya itu, untuk menciptakan aura kebencian kalangan umat Islam yang lain terhadap NU, GP Ansor dan Banser. Awalnya sempat terjadi kontraksi kecil di internal jama’ah NU, tapi tampaknya makin lama, mulai paham dan sadar ada niat busuk di balik share-sharean mereka di dunia maya.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Alhamdulillah warga NU cepat kembali ke kiainya setelah sempat sebentar geger dan gagap dibombardir konten hoaks mereka.?

Selama ini HTI mencitrakan dirinya sebagai kelompok politik intelektual, santun dan tanpa kekerasan. Bagi mereka, bahwa akhlak bagian dari syariat Islam. Bahkan ada satu kitab khusus berisi kumpulan ayat dan hadits tentang akhlak dalam rangka memperkokoh nafsiyah para anggotanya yaitu kitab Min Muqawwimat Nafsiyah Islamiyah (Pilar-pilar Pengokoh Nafsiyah Islamiyah).?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di sisi lain pendapat HTI tentang akhlak terkait dakwah dan kebangkitan umat Islam sangat minor. Terkesan mengabaikan akhlak. Di bab terakhir kitab Nizhamul Islam? membahas akhlak. Di bab tersebut Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani mengatakan: akhlak tidak mempengaruhi secara langsung tegaknya suatu masyarakat. Masyarakat tegak dengan peraturanperaturan hidup dan dipengaruhi oleh perasaan-perasaan dan pemikiran-pemikiran. Akhlak tidak mempengaruhi tegaknya suatu masyarakat, baik kebangkitan maupun kejatuhannya. Yang mempengaruhinya adalah opini (kesepakatan) umum yang lahir dari persepsi tentang hidup. Disamping itu yang menggerakkan masyarakat bukanlah akhlak, melainkan peraturan-peraturan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat itu, pemikiran-pemikiran, dan perasaan yang melekat pada masyarakat tersebut. Akhlak sendiri adalah produk berbagai pemikiran, perasaan, dan hasil penerapan peraturan.?

Atas dasar inilah, maka tidak diperbolehkan dakwah hanya diarahkan pada pembentukan akhlak dalam masyarakat. Sebab akhlak merupakan hasil dari pelaksanaan perintah- perintah Allah SWT yang dapat dibentuk dengan cara mengajak masyarakat kepada akidah dan melaksanakan Islam secara sempurna.?

Disamping itu, mengajak masyarakat pada akhlak semata, dapat memutarbalikkan persepsi Islam tentang kehidupan dan dapat menjauhkan manusia dari pemahaman yang benar tentang hakikat dan bentuk masyarakat. Bahkan dapat membius manusia dengan hanya mengerjakan keutamaan amal-amal yang bersifat individual. Hal ini mengakibatkan kelalaian terhadap langkah-langkah yang benar menuju kemajuan hidup. Dengan demikian sangat berbahaya mengarahkan dakwah Islamiyah hanya pada pembentukan akhlak saja. Hal itu memunculkan anggapan bahwa dakwah Islam adalah dakwah untuk akhlak saja. Cara seperti ini dapat mengaburkan gambaran utuh tentang Islam dan menghalangi pemahaman manusia terhadap Islam. Lebih dari itu dapat menjauhkan masyarakat dari satu-satunya metode dakwah yang dapat menghasilkan penerapan Islam, yaitu tegaknya Daulah Islamiyah. (Nizhamul Islam, terj, 2007: 197-198)

Di kitab at-Takattul Hizbi, Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani juga mengkritik organisasi-organisasi yang mendakwahkan Islam, di samping berbagai organisasi pendidikan dan social tersebut, berdiri pula organisasi berdasarkan akhlak yang berusaha membangkitkan umat atas dasar akhlak melalui nasihat-nasihat, bimbingan-bimbingan, pidato-pidato, dan selebaran-selebaran, dengan suatu anggapan bahwa akhlak adalah dasar kebangkitan. Organisasi-organisasi ini telah mencurahkan tenaga dan dana yang tidak sedikit, namun tidak mendatangkan hasil yang berarti. Perasaan umat tersalur melalui pembicaraan-pembicaraan yang membosankan yang diulang-ulang tanpa arti. (at-Takattul Hizbi, terj: 2001: 25).

Dari pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani di atas sebenarnya HTI tidak melepaskan akhlak secara mutlak. Akhlak sebatas urusan seorang individu terhadap dirinya sendiri. Maksudnya akhlak masalah privat bukan politik. Di ranah politik, akhlak dikesampingkan sebab dalam proses politik menuju tegaknya khilafah, HTI berpedoman pada metode dakwah yang mereka adopsi yang diyakini berasal dari metode dakwah Nabi SAW. Tahap yang krusial bagi eks-HTI dalam metode dakwah mereka adalah fase tafa’ul ma’a ummah (berinteraksi dengan umat). Di fase ini eks-HTI melancarkan shira’ul fikri (konfrontasi pemikiran) dan gencar melakukan aktivitas kifahu siyasi (perjuangan politik).?

Pelanggaran akhlak islami sering kali terjadi pada dua aktivitas ini. Untuk memenangkan konfrontasi pemikiran, eks-HTI tidak segan-segan memanipulasi makna kitab turats (kitab kuning). Contohnya makna khilafah itu sendiri. Eks-HTI mengutip qaul ulama berbagai mazhab tentang khilafah yang bermakna umum (general) kemudian oleh eks-HTI keumuman makna khilafah ditimpali/ditahrif menjadi makna khusus menjadi lebih spesisfik dengan makna khilafah yang mereka maksud dan mereka perjuangkan.?

Khilafah yang ada dalam benak eks-HTI adalah kepemimpinan umat yang dipegang oleh Amir Hizbut Tahrir dalam naungan negara yang mengadopi kontitusi yang disusun oleh Amir Hizbut Tahrir. Tentu saja makna khilafah seperti ini bukan yang dimaksud oleh para ulama salaf dan khalaf di kitab-kitab mereka. Para ulama membiarkan keumuman makna khilafah, sehingga bentuk kepemimpinan, negara dan pemerintahan yang tercakup dalam keumuman makna ini, dianggap Khilafa secara syar’i. NKRI salah satunya.?

Dengan demikian, sebenarnya umat Islam tidak pernah kosong dari khilafah sejak dibaiatnya Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah sampai dilantiknya Presiden Jokowi. Keadaan vacuum of khilafah tidak pernah terjadi pasca runtuhnya Khilafah Turki Utsmani 3 Maret 1924 sebagaimana yang diyakini oleh HTI.

Adapun titik rawan pelanggaran akhlak islami oleh eks-HTI ketika melakukan aktivitas perjuangan politik yaitu aksi membongkar strategi (kasyful khuththath). Kasyful khuththath merupakan aktivitas politik eks-HTI dalam membongkar, menyingkap lalu membongkar ke publik strategi dan rencana penguasa yang mereka vonis sebagai antek-antek negara asing. Tujuan aksi ini untuk memutus kepercayaan publik terhadap pemerintah (dharbu ‘alaqah baina ummah wa hukkam).?

Untuk mendapatkan informasi seputar strategi dan rencana penguasa, eks-HTI melakukan kegiatan mata-mata (intelijen) amatiran. Informasi-informasi mereka kumpulkan dari berbagai sumber baik yang terbuka umum seperti media massa, media online dan media sosial maupun sumber-sumber tertutup dari kegiatan silaturahmi mereka dengan para ulama, pejabat, birokrat, akademisi, dan lain-lain yang mayoritas beragaman Islam.?

Padahal aktivitas memata-matai mereka sangat dilarang oleh akhlak islami. Tajassus kepada sesama muslim perbuatan yang tidak diragukan lagi keharamannya. Seringkali eks-HTI ceroboh dalam menilai kegiatan seorang Muslim yang jadi pejabat, antara perbuatan pribadi atau sebagai pejabat sehingga yang terjadi justru aksi bongkar aib pribadi yang dilakukan eks-HTI kepada seorang pejabat bukan membongkar rencana “jahat antek penjajah”. Membongkar aib pribadi pejabat ke publik termasuk dosa besar. Itu pun bercampur fitnah dan ghibah.

Namun demikian, eks-HTI merasa tidak bersalah karena diyakini sebagai bagian dari implementasi metode dakwah Nabi SAW. Kemudian diperkuat oleh pemikiran Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani yang memisahkan akhlak dari masyarakat membuat eks-HTI mengabaikan akhlak dalam berdakwah. HTI sendiri menegaskan kelompok mereka bukan kelompok ruhani dan akhlak. Mereka merupakan partai politik yang berorientasi meraih kekuasaan sebagai syarat terjadinya perubahan masyarakat. Manuver politik nirakhlak yang dipraktikkan eks-HTI dampak dari keyakinan mereka yang salah tentang metode dakwah Nabi SAW dan konsepsi tentang akhlak kaitannya dengan perubahan masyarakat.?

Betul, suatu masyarakat eksis karena adanya pemikiran, perasaan dan aturan yang sama, namun unsur pokok masyarakat adalah individu. Tanpa individu-individu tidak akan terwujud suatu masyarakat sebagus apapun pemikiran, perasaan dan aturan yang dirancang. Sebab itu perubahan masyarakat ditentukan oleh perubahan individu yang meliputi pemikiran, perasaan dan akhlak. Jika seorang individu belum bisa mengatur dirinya dengan akhlak, maka rasanya berat bagi individu untuk bisa diatur dalam suatu masyarakat. Akhlak jadi parameter keteraturan suatu masyarakat.

Kesalahpahaman Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam mendiagnosa penyakit masyarakat ditambah kedangkalan ilmu agama eks-HTI menjadikan mereka tidak segan-segan mengadu domba lawan-lawan politik mereka dari kalangan ulama dan ormas Islam. NU, GP Ansor dan Banser sebagai benteng NKRI tidak lain merupakan penghalang terbesar sipil bagi agenda pendirian Khilafah oleh eks-HTI.?

Meski belum ada bukti pasti berasal dari mereka, memproduksi konten hoaks agar menimbulkan rasa kebencian dan permusuhan kepada NU, GP Ansor dan Banser adalah perbuatan keji yang jauh dari akhlak terpuji. Dan sepertinya kalangan petinggi eks-DPP HTI membiarkan aksi-aksi “machiaveli” eks-HTI karena dianggap aksi individual, bukan agenda jama’ah dan secara politik aksi-memberi manfaat bagi perjuangan mereka. Mereka seperti menikmati aksi-aksi lone wolf eks-HTI di dunia maya mengingat mereka tidak bisa lagi beraktivitas di dunia nyata.?

Yang pasti, dakwah Islam dengan cara-cara kotor, alih-alih mendapat nashrullah, justru akan mengundang murka Allah SWT. Sudah jadi sunnatullah syariat Islam hanya tegak dengan cara-cara yang bersih, bersih niat, bersih pikiran, bersih ujaran dan bersih tindakan. Menegakkan syariat Islam dengan akhlak tercela ibarat menegakkan benang basah.

Penulis adalah jama’ah Sabtuan NU Kota Bandung, Pegiat di Institute for Democracy Education. Mantan Ketua HTI Babel 2004-2010

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nahdlatul, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 12 Agustus 2017

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf optimis Mukatamar NU ke-33 pada tahun 2015 akan digelar di Jombang, Jawa Timur. Menurutnya, usulan Jombang menjadi tuan rumah sudah disepakati PWNU Jatim dan disampaikan kepada PBNU.

Pria yang akrab disapa Gus Ipul ini mengungkapkan hal itu pada acara tasyakuran penganugerahan gelar pahlawan nasional untuk KH Wahab Chasbullah di Jalan Gus Dur, depan GOR Merdeka, Jombang, Sabtu malam (15/11).

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Ipul Optimis Jombang Tuan Rumah Muktamar Ke-33 NU

“Sudah saatnya NU kembali ke pendirinya, di Jombang ada tiga tokoh pendiri NU, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari, KH Wahab Chasbullah, dan KH Bisri Syansuri yang harus dikenal lebih dekat dan diteladani oleh nahdliyin,” lanjut mantan ketua umum GP Ansor dua periode ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia juga mengatakan, empat pesantren besar yang ada di Jombang sudah menyatakan kesiapannya. “Gus Sholah Tebuireng sudah siap, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Pondok Pesantren Mambaul Ma’arif Denanyar, dan Pondok Pesantren Darul Ulum Rejoso juga demikian. Serta pondok-pondok lainnya juga harus siap,” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Bupati Jombang Nyono Suharli Wihandoko menyatakan kesiapannya menjadi tuan rumah pagelaran akbar NU ini. Kita siap dan mendukung penuh Jombang jadi tuan rumah Muktamar NU. Bahkan, kita sudah menyiapkan anggaran khusus untuk kegiatan ini, tuturnya tanpa menyebutkan nominal anggarannya. (Romza/Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Cerita Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Khofifah: Kasus Atut Pukulan bagi Kaum Perempuan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Ketua Umum Pimpinan Pusat Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa merasa prihatin dengan penetapan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Apalagi, peristiwa tersebut terjadi hampir bersamaan dengan puncak peringatan Hari Ibu yang dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Rabu (18/12).

Menurut Khofifah, penetapan Atut sebagai tersangka menjadi catatan keprihatinan akhir tahun bagi perempuan politik di tengah perayaan peringatan Hari Ibu ke-85. “Kasus ini menjadi pukulan berat bagi kaum perempuan Indonesia di tengah gencarnya meningkatkan keterwakilan perempuan di ranah politik,” terangnya, Rabu.

Khofifah: Kasus Atut Pukulan bagi Kaum Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah: Kasus Atut Pukulan bagi Kaum Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah: Kasus Atut Pukulan bagi Kaum Perempuan

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Kepala BKKBN era Gus Dur itu mengungkapkan, Atut sampai sekarang adalah Gubernur satu-satunya dari kaum perempuan. “Jadi catatan kepiluan karena Atut adalah gubernur perempuan pertama dan satu-satunya di republik ini ditetapkan oleh KPK menjadi tersangka kasus korupsi,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski terpukul, Khofifah tetap mendukung pemberantasan korupsi di Indonesia. “Korupsi memang tetap harus diberantas dan kebenaran tetaplah harus ditegakkan. Tak ada pilihan lain. Susah dan sulitnya jalan untuk memenuhi syarat keterwakilan, perempuan masih dihadapkan lagi menjaga amanat kekuasaan ketika mencapai puncak,” tuturnya.

Wakil Ketua Umum Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) itu menambahkan, kasus yang menimpa Atut jangan sampai membuat perempuan Indonesia bergerak mundur, meski ujian yang dihadapi ke depan akan tetap berat. “Di sinilah perempuan diuji ghirah politiknya. Saya berharap perempuan Indonesia tetap bergerak maju di tengah situasi politik ini,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut, mantan aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini mengatakan, perempuan Indonesia harus tetap optimis turut membangun Indonesia ke depan yang lebih baik. “Ada hujan lebat dikarenakan ada gerimis, ada perempuan hebat pastilah disitu ada jiwa-jiwa yang optimis. Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita untuk tetap berjuang menegakkan demokrasi,” pungkasnya. (Ahmad Millah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Lomba Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menteri Puan Paparkan Sejumlah Harapan kepada Muslimat NU

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Republik Indonesia Puan Maharani menyampaikan harapan kepada Muslimat NU untuk bisa berjuang bersama dengan pemerintah dalam berbagai hal.

“Semoga perempuan-perempuan yang ada di Muslimat NU itu bisa menjadi salah satu garda terdepan pemberdayaaan perempuan yang ada di Indonesia,” kata Puan seusai menghadiri acara pelantikan Pimpin Pusat (PP) Muslimat NU periode 2016-2021 di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat. Selasa (28/3).

Menteri Puan Paparkan Sejumlah Harapan kepada Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Menteri Puan Paparkan Sejumlah Harapan kepada Muslimat NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Menteri Puan Paparkan Sejumlah Harapan kepada Muslimat NU

Selain pemberdayaan perempuan, Puan juga berharap kepada Muslimat NU untuk bisa bersama-sama menjaga toleransi beragama, dan menjaga NKRI, menjaga persatuan dan kesatuan.

“Ini salah satu hal yang harus dilakukan, dan pekerjaan rumah Muslimat NU (periode) 2016-2021,” lanjut perempuan 43 tahun ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain itu, Puan juga berharap Muslimat NU ikut aktif mencegah dan memberantas Narkoba, mengurangi dan mencegah kekerasan pada perempuan dan anak, juga bisa lebih banyak membangun sekolah-sekolah anak di daerah.?

“Karena membangun bangsa ini memang diperlukan kerja sama dan gotong royong, bukan hanya oleh pemerintah pusat dan daerah, tapi juga bagaimana upaya yang dilakukan Muslimat NU,” terang cucu Bung Karno ini.

Acara pelantikan PP Muslimat NU sendiri dihadiri Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU KH Marsudi Syuhud, Imam Masjid Besar Istiqlal KH Nasaruddin Umar dan Hj Shinta Nuriyah Andurrahman Wahid, serta 23.000 kader Muslimat NU dari sejumlah daerah. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni

Oleh Poetra Adi Soerjo

 

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni (Sumber Gambar : Nu Online)
NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni (Sumber Gambar : Nu Online)

NU dan Muhammadiyah di Sumbawa: Sebuah Harmoni

Yang membawa NU pertama kali ke Sumbawa adalah seorang anak muda yang lahir dari rahim kandung Muhammadiyah, dan yang membawa Muhammadiyah melejit ke panggung dunia internasional adalah anak muda Sumbawa yang lahir dari rahim kandung NU.

Adalah Abdul Majid seorang pemuda Sumbawa yang masih berusia 15 tahun pada tahun 1934, pulang ke Sumbawa melihat kegiatan yang dikembangkan oleh Badan Tablig sebuah wadah organisasi ulama yang sudah terlebih dahulu eksis di Sumbawa. Kegiatan Badan Tablig ini mendapat sokongan restu dari Sultan Sumbawa Muhammad Kaharuddin III dan mengirimkan para mubalignya keliling ke seluruh daerah di Sumbawa.

Abdul Majid sendiri adalah seorang pemuda asal Sumbawa yang kecil dan besar dalam pengasuhan KH Agus Salim seorang tokoh sentral Muhammadiyah di Jakarta. Kepada Badan Tablig, Abdul Majid menjelaskan tentang perkembangan oraganisasi kebangkitan ulama di tingkat nasional yang merupakatan geneologi dari komite Hijaz yang dikirimkan oleh ulama ulama Nusantara untuk memprotes kebijakan Raja Najed di Saudi.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Melihat begitu semangatnya dakwah Badan Tablig, Abdul Majid kemudian memperkenalkan organisasi nasional Nahdhatul Ulama (NU) yang memang secara tradisi ibadah sangat dekat dengan tradisi ibadah orang Sumbawa pada umumnya saat itu. Pembacaan Barzanji, Sarakalan, Yasinan, Gendang Tabuh Ratib Rabana Ode dan Rabana Rea, Ratib Munid yang datang dari Banjar dan lain sebagainya telah mendarah daging dalam amaliah ibadah orang Sumbawa. 

Sultan Sumbawa sendiri memiliki garis keturunan yang langsung dari kesultanan Banjar di kalimantan Selatan tempat di mana tradisi awal Ratib berkembang. Maka tak butuh waktu dan perdebatan yang lama untuk menjelaskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar) dan juga kitab Itiqad Ahlussunnah wal Jama’ah yang disusun oleh KH Hasyim Asyari sebagai khittah NU. Karena paham aqidah Asyariyah al-Maturidiyah sendiri telah menjadi amaliah hari-hari orang Sumbawa. Hal tersebut dibuktikan dengan hafalan sifat dua puluh karya Imam Abul Hasan al-Asy’ari dan Abu Mansur al-Maturidi yang sudah umum dikenal masyarakat Sumbawa dan diajarkan di tempat-tempat mengaji.

Adalah M. Sirajudin Syamsuddin yang pidatonya hingga kini terus menggelegar di seluruh penjuru bumi dan dinanti oleh tokoh-tokoh dunia. Bagi saya pribadi, ada aura wibawa yang sangat kuat dalam pidato M. Sirajudin Syamsuddin yang kita kenal dengan nama Prof. Din Syamsuddin sejak mulai membuka salam. Seriuh apa pun audiens, nada salam pembuka dalam pidato Din selalu membuat dunia berhenti dan menoleh, Din selalu mampu mencuri perhatian audiens sejak salam pembuka, dan terus dengan tutur yang sistematis, konten yang berisi, argumentasi dalil yang kuat disertai irama nada dan retorika pidatonya membuat pendengar terkunci tak beranjak dari kursinya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Di umur 12 tahun, sebagai peserta termuda dalam lomba pidato tingkat kabupaten di Sumbawa, Din telah menjadi juara dan mengalahkan peserta lain yang bahkan ada yang sudah menjadi mahasiswa. Pidato Din kala itu sekelas dengan pidato Idham Kholid (tokoh NU) dan M. Natsir (Masyumi) yang terkenal sebagai macan panggung. Kemenangan Din sang kader cilik NU dalam lomba pidato tersebut membuat Sumbawa tercengang, dan inilah pemantik awal karir Din hingga menjadi ulama dunia sampai hari ini.

Adalah Khudori HS, Orang Madura yang menjadi Kepala Depag Sumbawa dan sekaligus Ketua Pimpinan Cabang NU Sumbawa yang menempa dan mengolah teknik dan retorika pidato Din. Ayah Din adalah seorang tokoh dan pengurus NU di Sumbawa. Din mulai dari Ibtadiyah hingga Tsanawiyah menimba pendidikan di sekolah NU di Sumbawa hingga menjadi ketua IPNU. Kembali ke masalah pidato, maka terkait gaya bahasa dan olah kata, Din di bawa oleh sang ayah untuk ditempa oleh seorang punggawa penyair dan sastrawan Sumbawa yaitu Dinullah Rayes yang kini juga dikenal sebagai sastrawan nasional. Dinullah Rayes diusianya yang tak lagi muda menikahi adik dari sahabatnya sesasama penyair yaitu KH Zawawi Imron.

Di umur yang masih begitu belia, Din sudah menjadi mubalig cilik yang berkeliling ke berbagai daerah di Sumbawa untuk memberikan ceramah. Din belia telah menjadi kebanggaan tokoh tokoh NU Sumbawa. Oleh seorang tokoh NU Sumbawa bernama Muchtar Anwar kemampuan piadato dan ceramah Din kembali digembleng. Muchtar Anwar menaikkan Din ke atas kuda untuk dijadikan fodium latihan pidato. Dan oleh Muchtar Anwar, Din dibawa keliling ke berbagai daerah di Sumbawa untuk keliling berceramah sebagai mubalig cilik. Bintang ketokohan seorang Din Syamsuddin mulai menyala dan dijadikan sebagai vote getter oleh partai NU Sumbawa untuk berkampanye meraup suara dalam pemilu. 

Ada cerita menarik Din di masa kecil. Alkisah diadakan sebuah rapat rahasia para tokoh tokoh NU di rumah Ayahnya untuk membahas strategi politik Partai NU dalam Pemilu. Hasil rapat diketikkan dalam beberapa lembar kertas. Din kecil yang suka bermain layang layang tanpa dosa mengambil kertas tersebut sebagai bahan untuk membuat layang layang. Dengan riang gembira Din yang paling suka bermain dan mandi di Kali Tiu Baru memainkan layangannya. Betapa kaget sang Ayah karena tak lagi menemukan berkas rapat penting para tokoh NU di rumahnya. Dan diketahuilah bahwa ternyata kertas tersebut tak lagi berbentuk karena sudah dijadikan layangan oleh Din. Al hasil, sebagaimana orang Sumbawa pada umumnya, Din dilebak sang Ayah yang sedang asik bermain layangan di Tiu Baru. Namun Din yang karena prestasinya yang cemerlang sejak kecil tetaplah menjadi kebanggaan tokoh tokoh NU Sumbawa. Din selalu menjadi bintang dalam kampanye kampanye partai NU Sumbawa. Melihat Din yang terlalu muda dilibatkan dalam panggung politik, maka sang paman yang merupakan tokoh Muhammadiyah mengirimkan Din ke Pondok Modern Gontor, hingga Din bertemu Muhammadiyah dan mencapai puncak tertinggi karirnya dalam organisasi Muhammadiyah sebagai Ketua Pimpinan Pusat.

Maka lihatlah bagaimana investasi Muhammadiyah bagi NU Sumbawa dan demikian pula investasi NU bagi Muhammadiyah. Abdul Majid yang lahir dari rahim Muhammadiyah, anak asuh KH Agus Salim membawa NU untuk pertama kali ke Sumbawa, dan Din Syamsuddin yang lahir dari rahim NU membalas budinya dengan membawa nama besar Muhammadiyah semakin besar lagi ke pentas dunia.

Penulis adalah Sekretaris Bidang Akademik Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Dea Malela

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Quote Pondok Pesantren Attauhidiyyah