Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Rabu, 21 Februari 2018

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad

Pringsewu, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Mustasyar PCNU Pringsewu KH Sujadi mengupas makna Jihad dalam Refleksi Satu Tahun dilaksanakannya Ngaji Ahad Pagi (Jihad Pagi), Ahad (21/02/16). Kegiatan yang dihadiri ratusan Jamaah yang datang dari segala penjuru Kabupaten Pringsewu ini dibarengkan dengan Launching Kegiatan Pra Harlah Ke-93 NU PCNU Kabupaten Pringsewu.

Baca:? Empat Kegiatan PCNU Pringsewu Sambut Harlah Ke-93 NU

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCNU Pringsewu Kupas Makna Jihad

Dalam penjelasannya Abah Sujadi, biasa ia dipanggil, mengatakan bahwa mayoritas orang menafsirkan dan mengaitkan Jihad dengan peperangan. "Selain ditafsirkan dan dikaitkan dengan peperangan, pengembangan makna jihad menyentuh kepada perjuangan di jalan kebaikan atau sabilur khoir," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Kata Jihad dalam bahasa Arab terdiri dari 4 huruf yang masing-masing memiliki makna sesuai dengan tujuan jihad. "Jihad terdiri dari huruf Jim yaitu Juhdun wajihadun, huruf Ha yaitu hidayah, huruf Alif yaitu aman dan amanah dan huruf dzal yaitu dawam dan daulah," katanya mengutip Kitab Dalailul Falihin yang merupakan Syarah Kitab Riyadus Shalihin Jilid IV.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa setiap orang yang berjihad harus memiliki 4 rukun Jihad tersebut. "Rukun yang pertama adalah juhdun yaitu bersungguh sunguh. Dalam jihad kita harus bersusah payah namun tidak boleh merasa susah dan tidak boleh merasa payah," tegasnya dihadapan Jamaah yang memenuhi Aula Gedung NU Kabupaten Pringsewu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rukun yang kedua dalam berjihad menurutnya adalah hidayah yang bermakna petunjuk. "Dengan petunjuk ini kita akan mendapatkan hasil jihad yaitu berupa keberkahan. Dan keberkahan inilah yang diharapkan dalam kehidupan dalam berbangsa dan bernegara," tuturnya.

Sujadi melanjutkan Rukun Jihad yang ketiga adalah Aman dan Amanah. Ia mengatakan bahwa keamanan adalah kunci dalam melaksanakan syariat Agama. "Jihad dilakukan dengan tidak merusak keamanan. Jika kondisi negara tidak aman maka kita akan merasa tidak tenang dan nyaman dalam melakukan Ibadah kita," ujar kiai yang juga Bupati Pringsewu ini.

Kemudian rukun jihad yang terakhir menurutnya adalah Dawam yaitu dilakukan secara terus menerus. " Jihad tidak bisa dilakukan secara instan. Jihad membutuhkan waktu yang lama. Oleh karena itu dalam jihad tidak boleh memaksakan sesuatu berubah dengan cepat sesuai dengan keinginan kita," pungkasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebagai rasa syukur atas sudah satu tahun Program Jihad Pagi pada diakhir acara dilakukan pemotongan Tumpeng oleh Abah Sujadi dan diberikan secara simbolis kepada Ketua PCNU Kabupaten Pringsewu H Taufiqurrohim. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 19 Februari 2018

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Bagi Drs H Achfas Tafsir, kehidupan di alam dunia ini sangat indah ketika berguru pada burung. Sikap tawakal yang pantang menyerah terpatri dalam dada seekor burung. Burung tidak memiliki simpanan pangan apalagi gudang logistik. Namun ketika pagi menjelang, burung keluar dari sangkarnya dengan ceria dalam keadaan perut lapar. Saat sore menjemput malam, burungpun pulang dalam keadaan perut kenyang.

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Profil Pemenang Keluarga Sakinah Teladan Jateng

Sikap tawakal dari seekor burung, menjadi daya juang Haji Achfas dalam membangun keluarga sakinah. Baginya, yang penting usaha, bekerja, ikhtiar untuk memperoleh rezeki dari Yang Maha Pengasih.

“Dengan tawakal, hidup tanpa beban,” tutur Achfas saat menerima tim penilai pemilihan keluarga sakinah teladan tingkat Jawa Tengah, di rumahnya Desa Karangjongkeng Rt 01/Rw II, Kecamatan Tonjong Kabupaten Brebes, Sabtu (17/5).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Usaha itu wajib, namun hasilnya tidak wajib. Sebab urusan dapat atau tidaknya adalah urusan hak prerogratif pemilik pemberi rejeki, Allah SWT. Ayah dari 4 orang anak itu percaya betul, ketika burung pulang ke sangkarnya disambut kemeriahan anak-anak burung yang berebut makanan dari paruh sang induk untuk memperoleh jatah makanan.

“Dalam sekejap, vila sangkar itupun menjadi sunyi senyap lantaran anak-anak burung itu terlelap tidur, dalam suasana tenteram dan perut mereka kenyang,” papar suami dari Hj Nasichatun ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dengan filosofi burung, pria kelahiran Brebes 17 Februari 1944 itu bisa mempertahankan biduk keluarganya selama 42 tahun yang dirajut sejak 27 November 1972. Menurutnya, keluarga sakinah bukan berarti keluarga yang tanpa dosa dan selalu mulus perjalanannya. Tetapi ibarat nahkoda, bagaimana bisa bersikap bijaksana dalam mengarungi luas samudera kehidupan. “Saya berusaha menjadi nahkoda dan istri menyiapkan makanan dan sesekali menunjukan arah ketika saya lalai,” ujar nya.

Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Brebes Drs H Imam Hidayat MPdI menjelaskan, Achfas terpilih menjadi keluarga sakinah teladan mewakili eks Karesidenan Pekalongan. Sebelumnya secara berjenjang telah mengikuti seleksi ditingkat desa, kecamatan, kabupaten dan eks Karesidenan Pekalongan. “Haji Achfas sangat pantas menjadi tauladan bagi keluarga Indonesia,” kata Imam.

Hal tersebut antara lain ditunjukannya dengan sikap dan sifat yang sederhana namun pasti. Dari 4 orang anaknya yakni M Yaser Atabaki Spi (39), dr M Fahmi Atabaki (37), Zulfa Atabaki Skep Ns (34) dan Humaira Atabaki Sfarm Apt (30), semua sukses dalam menempuh pendidikan. Di samping itu telah berkeluarga semua dengan memperoleh pekerjaan yang berbeda-beda dan terhormat.

Selain membina anak-anaknya dengan penuh kasih sayang, Achfas juga mengelola pesantren alit. Pesantren yang dia kelola benar alit atau kecil karena hanya menampung 20 santri dengan tujuan utama untuk mempersiapkan calon imam sholat di surau kampung sejak dini. Setiap hari dia menanamkan pokok-pokok dasar ajaran islam terutama masalah kaifiyah sholat, akhlakul karimah, kedisiplinan, hidup mandiri dan kejujuran.

Dalam kehidupan Achfas, selama 23 tahun ini seperti falsafah komunitas burung, selalu menyediakan makanan. Dia rela menjadi buruh masak bagi pelajar dan santri, dalam artian masakan tidak hanya berbentuk fisik tetapi buruh masak rohani. Terukir dalam catatan pribadinya tahun 1982-1984 menyediakan makanan di pesantren Alit Nuruddin karangjongkeng (2 th).

Tahun 1984-1990 menyediakan makanan di Asrama Putri PGAN Pekalongan (6 th). Tahun 1990-1995 menyediakan makanan di asrama putra PGAN Pekalongan (5 th). Tahun 1995-2004 berturut-turut menjabat Kepala MTs N Ketanggungan Brebes, Kepala MTsN Lebaksiu Tegal, Kepala MTs Margadana Tegal dan terakhir menjadi Kepala MTs N Slawi. Saat menjadi pelayan diluar desa Karangjongkeng Pesantren Alit di asuh oleh adiknya KH Sobirin Tafsir. Bulan April 2004 Achfas pensiun dari guru, ia pulang kampung dan melanjutkan mengelola pesantren alit hingga sekarang (10 th) bersama adiknya KH Sobirin Tafsir.

Penilaian pemilihan Keluarga Sakinah Teladan dipimpin Kepala Bidang Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah Kanwil Kemenag Jateng Drs H Syaefullah MAg selaku Ketua Tim Penilai. Syaefullah berjanji akan bertindak obyektif, adil, dengan memotret kehidupan peserta. Termasuk penilaian dari tetangga sekitar mengenai pribadi dan kehidupan rumah tangganya. Anggota Tim Penilai, kata Syaeful, tidak hanya dari kementerian agama tetapi juga dari? unsur Kementerian Sosial, PKK, BKKBN dan Dinas Kesehatan.

Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE mengaku senang dengan kedatangan Tim dari Provinsi. Yang artinya bisa mendorong keluarga-keluarga Brebes menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Dengan keluarga yang sakinah akan mendorong pembangunan Kabupaten Brebes. Karena pada dasarnya pembangunan daerah itu diawali dari pembangunan keluarga. Kalau keluarganya kokoh maka masyarakatnya menjadi kokoh begitupun dengan daerahnya menjadi kuat dan pada muaranya Indonesia akan maju baldatun toyibatun warobun ghofur. “Masyarakat yang sejahterah adil dan makmur dibawah ridlo Allah SWT,” kata Idza.

Untuk itu, dia menyarankan agar institusi lain ikut menggelar pemilihan keluarga sakinah sesuai dengan kriteria dan dalam kemasan yang berbeda. Meskipun pada dasarnya sama untuk mencapai keharmonisan dan kebahagian keluarga. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kiai, Ubudiyah, Habib Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 14 Februari 2018

IPNU-IPPNU Lamongan Gelar Kirab Akbar

Lamongan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pada Ahad (31/3), Alun-alun Lamongan Kota diramaikan oleh penampilan para pelajar dalam acara Kirab Akbar Pelajar Nahdliyyin se-Kab. Lamongan.

IPNU-IPPNU Lamongan Gelar Kirab Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Lamongan Gelar Kirab Akbar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Lamongan Gelar Kirab Akbar

Acara ini sekaligus merupakan rangkaian acara penutupan dalam peringatan harlah IPNU-IPPNU, ? oleh IPNU-IPPNU cabang Lamongan.

Acara sendiri diikuti oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU-IPPNU se-Kab. Lamongan.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Masing-masing peserta unjuk diri dalam menampilkan kreatifitasnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tepat pukul 09.00 WIB Ketua PCNU Lamongan H Kacung Marijan mengibarkan bendera tanda dimulainya acara kirab tersebut. Kirab sendiri mengambil rute alun-alun kota sebagai garis start menuju ke perkampungan sekitar dan berakhir kembali di alun-alun Kota.?

Kondisi ini membuat para peserta mendapatkan apresiasi dari masyarakat yang menyaksikan hampir di sepanjang rute kirab.

Dari beberapa penampilan peserta ada peserta yang menampilkan karya uniknya melalui replika tikus besar. Replika tikus itu sengaja didesain dan diberi tulisan, “Cukup rusak tanaman saja, jangan merusak bangsa” tulisan tersebut seakan menjadi sindiran sosial atas realita yang terjadi sekarang, bahwa korupsi tidak hanya masalah uang semata, budaya juga bisa merusak moral bangsa.?

Beberapa pelajar yang tampil memang banyak yang mengambil tema tani.?

Dari berpakaian ala petani lengkap dengan alat-alat pertaniannya sampai ada yang membawa hasil taninya, padi, singkong dan lainnya. Selain itu juga ada yang menampilkan marching drum band oleh beberapa komisariat.?

Acara yang berlangsung dibawah terik panas matahari itu tidak memupuskan semangat peserta. Mereka tetap antusias untuk menampilkan aksi-aksi kreatifitasnya sampai dengan selesainya acara. Dua jam kemudian peserta berhasil finis di alun-alun Lamongan kota.?

Redaktur: Mukafi Niam

Kontributor: Hepi Ikmal

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Hikmah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 05 Februari 2018

Ketum Baru PP IPPNU Ajak Semua Elemen Berjuang Besarkan Organisasi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puti Hasni, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) hasil Kongres XVII IPPNU di Boyolali, Jawa Tengah menegaskan prinsip kebersamaan dalam membangun dan membesarkan organisasi. Perempuan kelahiran Jakarta, 26 tahun lalu ini mengajak semua elemen pelajar di kalangan NU untuk bersama-sama membesarkan IPPNU.

Ketum Baru PP IPPNU Ajak Semua Elemen Berjuang Besarkan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum Baru PP IPPNU Ajak Semua Elemen Berjuang Besarkan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum Baru PP IPPNU Ajak Semua Elemen Berjuang Besarkan Organisasi

“Pesta demokrasi pelajar NU telah usai. Sekarang mari bersama satukan hati, pikiran, dan tenaga untuk membangun dan membesarkan IPPNU,” katanya di akun pribadinya, Rabu (9/12).

Dia mengaku, setelah dirinya terpilih menjadi Ketum PP IPPNU untuk periode 2015-2018, ucapan doa dan selamat mengalir deras kepadanya sehingga ia pun mengucapkan banyak terima kasih.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Menyadari bahwa deretan redaksi kata terima kasih saja tidak akan cukup untuk mengungkapkan, betapa saya berterima kasih atas semua bentuk kebaikan yang diberikan kepada saya dari para ulama, tokoh masyarakat, teman-teman, santri, kakak-kakak, saudara-saudara, dan berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu,” tutur alumni STAINU Jakarta ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perempuan keturunan Betawi-Padang ini juga mengapresiasi seluruh peserta Kongres yang dengan antusias berpartisipasi dalam perhelatan pesta demokrasi pelajar NU.

“Saya ucapkan terimakasih yang begitu banyak kepada rekanita-rekanita yang turut serta hadir dan berpartisipasi dalam demokrasi pemilihan Ketua Umum IPPNU. Tanpa dukungan rekanita, tentu tak akan tercipta sebuah kemenangan ini,” jelas alumni Buntet Pesantren Cirebon ini.

Dalam Kongres Pelajar NU yang mengusung tema ‘Islam Berbudaya’, Sabtu-Selasa (5-8/12) tersebut, Puti, sapaan akrabnya, berhasil meraih 102 suara dari cabang dan wilayah se-Indonesia untuk mengungguli calon lain, Nunung Nurjanah kader Jawa Barat yang memperoleh 84 suara. (Fathoni)

Foto: Puti Hasni (kerudung putih) saat mendapat ucapan selamat dari Tini Nurmilasari, Bendahara PC IPPNU Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 25 Januari 2018

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Pusat Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (PP LKNU), para tokoh ulama, dan warga NU Kabupaten Brebes dengan menggandeng UNICEF mendeklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi, Sabtu (22/8). Kegiatan yang berlangsung di lantai 5 Gedung PBNU Kramat Raya Jakarta ini mengambil tema Sharing Pengalaman Sosialisasi tentang Gizi dan Pencegahan Stunting.

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU dan Tokoh Ulama Brebes Deklarasikan Forum Ulama Peduli Gizi

Deklarasi para tokoh agama ini dilakukan dalam rangka melaksanakan program pencegahan Stunting (bertubuh pendek dan fungsi kognitif terganggu) di Kabupaten Brebes. Kegiatan ini diikuti oleh 45 tokoh agama dari 5 Kecamatan di Kabupaten Brebes.

Menurut Supervisor Program Penanggulangan Stunting LKNU yang sekarang menjabat Sekreteris Umum PP Fatayat NU, Anggia Ermarini mengatakan, bahwa mengapa pihaknya merangkul Kabupaten Brebes dalam kegiatan, karena Indeks Kesehatan Masyarakat (IKM) di Kabupaten Brebes paling rendah di Provinsi Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dari 35 Kabupaten di Jawa Tengah, Brebes peringkat ke-35 dalam hal kesehatan di masyarakat. Ini merupakan pilot project yang akan kita terapkan juga di 6 Kabupaten di luar Jawa,” ungkap perempuan yang akrab disapa Mbak Anggi ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sebelum berkunjung ke PBNU, para peserta tersebut dilepas oleh Bupati Brebes, Hj Idza Priyanti. Dalam pelepasannya, Bupati sangat berharap kepada para tokoh ulama untuk betul-betul menyosialisasikan program pencegahan stunting ini.

“Kenapa yang justru kita libatkan para tokoh ulama, karena ulamalah yang setiap omongannya diikuti dan dipatuhi oleh masyarakat sehingga menyadarkan masyarakat untuk melakukan pola hidup sehat,” ujar Ketua PC Fatayat NU Brebes, Hj Mu’minah menirukan sambutan Bupati, Jum’at (21/8) malam.

Dalam kesempatan ini, para tokoh ulama dan warga NU Brebes mendeklarasikan 3 butir kesepakatan dan komitmen pencegahan Stunting yang berisi sebagai berikut:

1. Membentuk Forum Ulama Peduli Gizi di Kabupaten Brebes.

2. Menjalin kerjasama dalam meningkatkan sosialisasi peningkatan gizi dan pencegahan stunting di masyarakat.

3. Bekerjasama dengan semua pihak untuk menyukseskan program pengurangan angka stunting di Kabupaten Brebes.?

Kegiatan ini mendapat pengarahan dari Rais Syuriyah PBNU, KH Masdar Farid Mas’udi, serta dihadiri oleh Ketua PCNU Brebes, KH Athoillah, Direktur Bina Gizi Kementerian Kesehatan RI, Doddy Izwardy, dan Chief of Social Policy UNICEF, Dr Petra Hoelscher. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 31 Desember 2017

Lesbumi Tasikmalaya Upayakan Perkuat Al-Barzanji dan Burdah

Tasikmalaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Al-Barzanji dan Burdah kerap dibacakan di berbagai momentum. Mulai rutinan malam Jumat atau saat-saat tertentu seperti halnya prosesi cukuran bayi yang baru lahir. Namun kini tradisi membaca Al-Barzanji dan Burdah ini mulai kurang populer di kalangan masyarakat luas. Khususnya masyarakat perkotaan.

Untuk memperkuat keberadaan tradisi pembacaan Al-Barzanji dan Burdah, generasi muda Nahdlatul Ulama yang dimotori PC GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya dan Lesbumi NU Kabupaten Tasikmalaya menggelar Lomba Al-Barzanji dan Burdah.?

Lesbumi Tasikmalaya Upayakan Perkuat Al-Barzanji dan Burdah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lesbumi Tasikmalaya Upayakan Perkuat Al-Barzanji dan Burdah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lesbumi Tasikmalaya Upayakan Perkuat Al-Barzanji dan Burdah

Lomba tersebut digelar dalam rangka Harlah NU ke 94 dan rangkaian pelantikan Pengurus PCNU Kabupaten Tasikmalaya masa khidmah 2017-2022.

"Pada lomba kali ini pembacaan Al-Barzanji dan Burdah ini kita kemas dalam bentuk yang lain. Kita kombinasikan dengan seni musik tradisional yang bernada islami. Ada yang dengan marawis, tagoni maupun hadrah," kata Ketua Lesbumi NU Kabupaten Tasikmalaya, Imam Mudofar, Ahad (23/4).

Al-Barzanji dan Burdah sendiri, lanjut Imam, berisi tarikh atau sejarah Nabi Muhammad SAW. Di dalamnya lengkap dengan syair-syair yang berisi pujian atau sanjungan pada Sang Nabi akhir zaman.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Meski demikian, kata Imam, tak sedikit masyarakat yang awam tentang hal tersebut. Ironisnya, tak sedikit pula masyarakat yang menganggap tradisi tersebut sebagai sesuatu yang kolot dan bahkan tak sedikit yang beranggapan pembacaan Al-Barzanji dan Burdah ini sebagai sesuatu yang dianggap menyesatkan.

"Intinya kita ingin tetap melestarikan tradisi pembacaan Al-Barzanji dan Burdah ini di tengah-tengah masyarakat," ujar Imam. (Nurjani/Abdullah Alawi)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Habib, Daerah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 29 Desember 2017

Dilantik, GP Ansor Dukuhturi Siap Kembangkan Produksi Sarung

Tegal, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Setelah tidur dalam kevakuman lebih kurang 10 tahun, kepengurusan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah kini kembali bangkit. Tidak tanggung-tanggung, Ketua PAC Ansor Dukuhturi Rozi Nursama bertekad mengembangkan sarung Ansor untuk mendongkrak perekonomian.

Demikian dijelaskan Rozi kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah usai dilantik masa khidmah 2016-2018 di gedung MWCNU Dukuhturi Jalan Desa Kepandean Dukuhturi, Tegal, Ahad (15/1/17).

Dilantik, GP Ansor Dukuhturi Siap Kembangkan Produksi Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dilantik, GP Ansor Dukuhturi Siap Kembangkan Produksi Sarung (Sumber Gambar : Nu Online)

Dilantik, GP Ansor Dukuhturi Siap Kembangkan Produksi Sarung

Menurut Rozi, pemuda Ansor di daerahnya banyak yang menjadi pengusaha dan pekerja sarung. Potensi lokal ini akan dikembangkan melalui koperasi Ansor yang juga akan bergerak di bidang barang dan jasa.

“Sarung produk putra-putra Ansor sudah banyak beredar meskipun tidak membawa nama Ansor yakni sarung Goyor dan Toldem. Insyaallah, kami telah mendesain dan dalam waktu dekat akan menyebarluaskan sarung Ansor produk kami,” tekadnya.

Untuk mempersiapkan SDM, lanjutnya, Ansor akan intensif melakukan pelatihan pengusaha mandiri.

Selain program ekonomi kreatif, sambung Rozi, dirinya akan melakukan pengkaderan dengan merekrut alumni IPNU untuk berkhidmah ke Ansor. Pengkaderan akan terus dilakukan lewat PKD maupun Diklatsar. Dari 18 desa di Kecamatan Dukuhturi sudah berdiri 17 Pimpinan Ranting.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Tinggal Desa Dukuhturi yang belum berdiri. Dalam waktu dekat Insyaallah akan berdiri lagi,” ungkapnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelantikan PAC GP Ansor Kecamatan Dukuhturi Tegal dilakukan Wakil Ketua PW Ansor Jateng Syarifudin di hadapan ribuan pengunjung dan para ulama dan Kapolsek Dukuhturi Yuliantoro. Mereka yang dilantik, antara lain Ketua Rozi Nursama, Sekretaris M Syaeful Mansur dan Bendahara Jaohar Hanafi.?

Kepengurusan PAC Ansor Dukuhturi terbentuk atas hasil Konferancab Ansor Dukuhturi pada 15 September 2016 silam.?

Pelantikan juga diisi dengan pengajian umum Habib Abubakar bin Hud bin Yahya dari Babakan, Cirebon, Jawa Barat. Dalam ceramahnya antara lain menekankan tentang pentingnya mencintai Nabi, ulama dan mengikuti kiai NU.?

Tidak kalah pentingnya, sebagai orang NU harus selalu menanamkan diri pembelaan terhadap NKRI sebagai perwujudan keimanan kepada Allah SWT. “Cinta tanah air itu, sebagian dari iman. Maka Ansor harus menjadi garda terdepan menjaga kiai, menjaga NKRI,” ajaknya.

Acara dimeriahkan juga oleh grup sholawat Babul Mustofa dari Pekalongan. (Wasdiun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Bahtsul Masail, Humor Islam Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. KH Masdar Farid Masudi mengimbau kepada seluruh peserta Aksi Super Damai 2 Desember di Monas, Jakarta, Jumat (2/12) ini untuk tidak memprovokasi atau terprovokasi terkait hal-hal yang dapat merusak kekhidmatan aksi. Pihak berwajib juga diharapkan cermat dalam mengantisipasi situasi.

Menurutnya, komitmen untuk menyelenggarakan aksi ini tanpa kerusuhan harus betul-betul dijaga. Apabila terdapat sinyal provokasi dari oknum-oknum tak bertanggung jawab, aparat keamanan harus melakukan langkah-langkah pencegahan dini.

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Masdar Berharap Kekhidmatan Aksi 2 Desember Dijaga

"Kalau dibiarkan, tentu akan menimbulkan malapetaka luar biasa, bukan hanya bagi korban provokasi tapi juga citra Islam," ujarnya saat diwawancarai ? salah satu stasiun televisi swasta, Jumat, atas nama Wakil Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia.

Rais Syuriyah PBNU ini juga menegaskan, baik aparat keamanan maupun peserta aksi sama-sama menginginkan aksi berlangsung lancar dan damai. Karena itu, masing-masing mesti bertanggung jawab agar setiap tindakan tetap berjalan di jalur hukum.

Hingga berita ini ditulis, ratusan ribu peserta aksi telah memadati kawasan Monas, Bundaran BI, juga Masjid Istiqlal. Mereka bersiap melaksanakan shalat Jumat. Sesuai dengan komitmen para koordinator lapangan, aksi kali ini bukanlah demonstrasi melainkan doa bersama, istighotsah, dan mendengarkan taushiyah. (Mahbib)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Kajian Sunnah, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 25 Desember 2017

NU Batang Jateng Motori Pengembangan Biogas

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Demi mewujudkan kemandirian di sektor energi, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Batang, Jawa Tengah, sedang gencar mengembangkan produksi biogas di daerah setempat dan sejumlah kabupaten lainnya.

Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU (LPPNU) Batang Turjaun mengatakan, sumber energi yang dihasilkan dari limbah peternakan tersebut dapat menjadi bahan bakar alternatif untuk sejumlah kebutuhan, seperti aktivitas memasak dan penerangan.

NU Batang Jateng Motori Pengembangan Biogas (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Batang Jateng Motori Pengembangan Biogas (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Batang Jateng Motori Pengembangan Biogas

Turjaun mengaku sudah berhasil membangun biogas digester yang sudah memproduksi biogas dan dimanfaatkan warga di tempatnya. Bahkan, melalui pengembangan teknologi ini, salah satu desanya meraih peringkat dua pada sebuah lomba untuk kategori desa mandiri energi se-Jawa Tengah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

”Ada permintaan juga di Jawa Barat, petani punya 300 sapi minta dibangunkan biogas dengan kapasitas 30 kubik. Kalau 30 kubik itu minimal bisa (menjadi energi alternatif) untuk 10 rumah,” katanya saat berkunjung ke kantor redaksi Pondok Pesantren Attauhidiyyah, Jakarta, Senin(1/4) sore.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Turjaun, penerapan biogas di daerah yang memiliki potensi peternakan akan membawa keuntungan ekonomis. Selain memanfaatkan limbah yang selama ini cukup terabaikan, juga mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap elpiji, terlebih saat elpiji mengalami kenaikan harga.

Selain di Batang, ia juga mengembangkan teknologi ini di kabupaten lain. ”Di Rembang mulai April ini insyaallah akan dibangun 75 unit biogas digester, hampir per kecamatan ada, masing-masing kapasitas 6m3,” imbuhnya.

Ditambahkan, biogas digester juga akan dibangun di Kabupaten Kendal sebanyak 2 unit, dan di Kabupaten Demak 2 unit, masing-masing berukuran 20m3. Proses pembangunan ini bekerjasama dengan dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jateng.

Sejauh ini, sambung Turjaun, belum ada hambatan yang berarti untuk tugasnya ini. Hanya saja, teknologi biogas yang pihaknya kembangkan belum sampai pada tahap kemasan dalam tabung, sebagaimana elpiji, sehingga belum bisa dipasarkan secara masif.

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Daerah, Aswaja, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 21 Desember 2017

Agama yang Indah itu Kalau Bisa Diamalkan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Di sela-sela acara Muktamar NU nampak seorang sastrawan masyhur D. Zawawi Imron sedang berkeliling di alun-alun kota Jombang, Ahad sore, (02/08). Tak mau melewatkan kesempatan ini, seorang tim Majalah Bangkit menghampirinya.

Amru, tim Majalah Bangkit memaparkan, bahwa Kiai Zawawi berpesan kepada para generasi muda NU, mulai sekarang ini selain belajar agama, semestinya kita juga harus mengamalkan agama itu. 

Agama yang Indah itu Kalau Bisa Diamalkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Agama yang Indah itu Kalau Bisa Diamalkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Agama yang Indah itu Kalau Bisa Diamalkan

"Jadi tak cukup agama itu hanya dijadikan ilmu. Agama yang indah itu kalau bisa diamalkan" tegas sastrawan yang mendapat julukan Celurit Emas ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kiai Zawawi menegaskan, bahwa juga tidak kalah pentingnya, agama itu punya orientasi kepada kemajuan umat, sehingga hari besok itu lebih baik dari sekarang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Kiai Zawawi, kita selain mengembangkan akal sehat kolektif, menghargai orang lain, tapi tidak kalah pentingnya adalah juga harus mengembangkan daya kreatifitas. Sehingga dari itu, kita dapat menghasilkan inovasi-inovasi baru untuk menjawab tantangan zaman.

Karenanya, kita harus sadar bahwa zaman itu sedang berjalan. Zaman itu menuju hari esok. Dan untuk mengantisipasi hari esok, kita harus mengembangkan keilmuan kreatif, sehingga mampu menjawab tantangan hari esok," pungkas sastrawan asal Madura ini. (Anwar Kurniawan/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Amalan, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 16 Desember 2017

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Solo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

Puluhan ribu jamaah memenuhi Masjid Agung Solo. Mereka mengikuti dzikir dan tablig akbar bertajuk "20 ribu yasin untuk hajat Anda menuju Solo Kota Santri" bersama Habib Noval bin Muhammad Alaydrus pada Ahad (13/10).

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Jamaah Dzikir di Masjid Agung Solo

Berdasarkan pengamatan Pondok Pesantren Attauhidiyyah, mayoritas jamaah yang hadir berpakian putih. Selebihnya berjaket dengan nama majelis di punggungnya, seperti Majelis Rosululloh, Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah (Malang), dan Ahbabul Musthofa. 

Sambil menanti acara dimulai, para jamaah asyik mendengarkan lantunan solawat yang dilantunkan oleh kelompok hadroh Jamuri Solo dan Fatahilah.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Sebelum dimulai, yuk berdoa kepada Allah agar dikirimkan mendung atau angin yang semilir," ungkap Habib Noval mengawali majelis. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ucapan tersebut keluar setelah melihat ada sebagian jamaah diluar masjid yang kepanasan, meski panitia telah menutup halaman masjid dengan tenda. Lima menit kemudian, jamaah membaca Alfatihah dipimpinnya. Mendung dan hawa dingin pun mulai datang. 

Usai beberapa sambutan, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengajak hadirin untuk membaca surat Fatihah dan Yasin. Selanjutnya, Habib Noval mengajak hadirin menzikirkan lafad "La ilaha Illalloh". 

Usai menzikirkan lafadz tersebut puluhan kali, habib Noval pun memimpin doa. Banyak hadirin yang menangis ketika mengamini doa sang habib. betapa tidak, sebagian besar doa yang dipanjatkan pimpinan majelis Ar-Raudhah berkaitan dengan permohonan ampun atas tiap dosa kepada orang tua.

"Ya Rabb, ampuni kata-kata kasar kami kepada orang tua kami" demikian di antara doa Habib Noval. 

Selain itu, ia juga memohonkan ampun untuk setiap kaum muslimin, serta beberapa doa lain yang diaminkan oleh ribuan jamaah. Bahkan, sang Habib mendoakan keselamatan untuk siapapun yang membenci hadirin, lahir batin. 

Setelah doa, Habib Noval menanyakan kesediaan jamaah untuk menyelenggaraan acara serupa tiap dua bulan sekali. Tentu saja ajakan tersebut diamini oleh ribuan jamaah yang hadir.

Selanjutnya, acara diisi dengan ceramah singkat dari KH Abdurrohim. Kiai yang akrab disapa Gus Rohim ini dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah ini mengutarakan bahwa wasilah doa kepada Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu ajaran yang disampaikan oleh Habib Anis bin Ali Alabsyi. Habib Anis merupakan guru dan mertua Habib Noval yang diakuinya sebagai salah satu guru dari Majelisul Maulid Wat Talim Riyadlul Jannah.

Sementara itu, Habib Muhammad mengawali urainnya dengan "Anda tahu tentang surga?" Cucu Habib Anis tersebut menguraikan tentang itu, serta keyakinannya bahwa jamaah yang hadir di Masjid Agung Solo sebagai calon penghuni surga.

Sebagai penutup acara, Habib Noval bin Muhammad Alaydrus mengumumkan akan diadakannya Pameran Buku Aswaja se-Solo di bulan Muharam nanti. Selain itu, Habib Noval menyampaikan tentang diselengarakanya pembaacaan Maulid Simthudduror di Majlis Ar-Raudhah setiap Jumat Pon. (Pekik Sasongko/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah RMI NU, Ubudiyah, Kajian Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 14 Desember 2017

UIM Ajak Ribuan Guru dan Pelajar Bahas Pendidikan

Palopo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Universitas Islam Makassar (UIM) menyelenggarakan seminar pendidikan nasional bertema “Problematika Menentukan Dunia Pendidikan dan Solusinya dalam Membangun Daya Saing Bangsa”, Ahad (22/2), di Gedung Saudanrae Kota Palopo, Sulawesi Selatan.

UIM Ajak Ribuan Guru dan Pelajar Bahas Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)
UIM Ajak Ribuan Guru dan Pelajar Bahas Pendidikan (Sumber Gambar : Nu Online)

UIM Ajak Ribuan Guru dan Pelajar Bahas Pendidikan

Dalam seminar tersebut, salah satu perguruan tinggi NU ini melibatkan ribuan guru dan pelajar SMU kelas XII dari Kabupaten/Kota Luwu, Palopo, Luwu Utara, dan Luwu Timur. Hadir pula dalam kesempatan ini Wakapolres Kota Palopo Drs Arief, Kepala Dinas Pendidikan Akram Reza, dan sejumah petinggi UIM.

Rektor UIM Dr Majdah Agus AN saat menjadi pembicara seminar mengungkapkan, pendidikan merupakan pilar yang menentukan kesuksesan pembangunan sebuah bangsa. Islam, katanya, sejak awal mengajarkan tentang hal tersebut.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sesuai dengan surah pertama diturunkan dari Al-Quran yakni ‘Iqra’ berarti bacalah. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya pendidikan itu sendiri. Olehnya itu UIM sebagai kampus Islami mempunyai visi misi yang mengedepankan pengetahuan disertai dengan nilai-nilai moral agama dan budaya,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurutnya, semua negara maju di dunia ini, selain pendidikan menjadi penggerak utama, budaya dan karakter juga menjadi modal utama bagi kemajuan bangsanya. Misalnya Jepang, dikenal sebagai negara yang kokoh mempertahankan nilai-nilai budayanya.

Majdah juga tak lupa memberikan motivasi seluruh pelajar yang akan menghadapi ujian nasional dengan melantunkan hits "Jangan Menyerah".

Pembicara lain, Rahmansyah dari Dinas Pendidikan Tinggi Sulsel, menyoroti peran pendidikan karakter. Ia mengingatkan, pemerintah telah menerapkan kebijakan bahwa seluruh lembaga pendidikan wajib menghadirkan pendidikan karakter. (Andy Muhammad Idris/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, News Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 10 Desember 2017

Pebisnis Muda Ini Pimpin GP Ansor Ajibarang

Banyumas, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Ajibarang Kabupaten Banyumas baru saja menggelar acara konferensi anak cabang (Konferancab) di Gelora Ajibarang Kulon, Ahad, (26/11).

Pada forum rapat tertinggi tingkat Kecamatan itu, Wawan Ibnu Fuad terpilih sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor (GP Ansor) Kecamatan Ajibarang periode 2018-2021.

Pebisnis Muda Ini Pimpin GP Ansor Ajibarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Pebisnis Muda Ini Pimpin GP Ansor Ajibarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Pebisnis Muda Ini Pimpin GP Ansor Ajibarang

Wawan terpilih melalui hasil musyawarah mufakat yang dipimpin oleh Pimpinan Cabang GP Ansor Banyumas bersama Pimpinan Anak Cabang GP Ansor Ajibarang serta perwakilan dari ranting.

Terpilihnya Wawan sebagai Ketua GP Ansor Ajibarang yang baru diharapkan mampu memberikan warna lain bagi GP Ansor Ajibarang. Melihat sosoknya sebagai seorang pengusaha sukses di Kabupaten Banyumas diharapkan bisa ditularkan kepada sahabat-sahabat Ansor yang lain.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hal itu diungkapkan Kartim, salah satu peserta Konferancab dari PR GP Ansor Darmakradenan, "Wawan memiliki leader yang baik, juga seorang pebisnis yang semoga ilmunya bisa ditularkan kepada kami," katanya ketika ditemui usai acara.

Agus Subeno, peserta Konferancab dari PR GP Ansor Ciberung juga berharap, terpilihnya Wawan sebagai ketua yang baru semoga bisa memberikan semangat yang lebih untuk mengembangkan lembaga perekonomian GP Ansor Ajibarang.

Konferancab yang dihadiri oleh 500an peserta dari ranting GP Ansor se-Ajibarang itu, turut hadir pula Rais Syuriyah dan Ketua MWCNU Ajibarang, GP Ansor Banyumas, serta jajaran Forkompimcab setempat. (Kifayatul Akhya/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Kajian, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqih

Oleh Nadirsyah Hosen

Sebelum mengeluarkan fatwa, para ulama harus terlebih dahulu mengetahui kaidah yang dapat digunakan untuk menggali hukum amaliah dari dalil yang terperinci. Pengetahuan ini bersumber dari disiplin ilmu klasik, yaitu Ushul al-Fiqh. Tiada fiqh tanpa melalui Ushul al-Fiqh. Kalau ilmu fiqh bicara soal halal-haram, maka ilmu Ushul al-Fiqh bicara proses yang mendasari halal-haram tersebut.

Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqih (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Sejarah Penulisan Kitab Ushul Fiqih

Imam Syafii (w. 204 H) dianggap sebagai ulama yang pertama kali secara sistematis menulis kitab Ushul al-Fiqh lewat karyanya al-Risalah. Setelah itu bermunculan kitab yang ditulis para ulama untuk menjelaskan (syarh) apa yang disampaikan Imam Syafii dan ada pula yang mengkritisi isi kitab beliau. Para ulama Iraq yang mengikuti mazhab Hanafi misalnya seperti al-Kannani (w. 289 H) dan al-Qummi (w. 305 H) masing-masing menulis kitab al-Hujjah fi al-Radd ala al-Syafii dan Ma Khalafa fihi al-Syafii al-Iraqiyyin fi Ahkam al-Quran.?

Tentu saja para ulama pengikut Imam Syafii mempertahankan dan menjelaskan kitab al-Risalah, misalnya nama-nama seperti al-Sayrafi (w. 330 H), al-Nisaburi (w. 365 H), dan al-Jawzaqi (w. 388). Dibutuhkan sekitar 2 abad untuk para ulama memperdebatkan disiplin ilmu ushul al-fiqh yang dikembangkan oleh Imam Syafii.

Pada abad 5 Hijriah, para ulama mulai menyusun ulang isi kitab ushul al-Fiqh. Dua ulama besar yang terkenal sebagai hakim agung pada masanya merintis ulang usaha ini. Al-Qadli al-Baqillani (w. 402) ulama ahlus sunnah wal jamaah dari mazhab Maliki digelari Syekh Ushuliyyin setelah menulis al-Taqrib wal Irsyad. Sayangnya kitab ini dikabarkan sempat hilang dan hanya kita ketahui pentingnya kitab ini dari sejumlah ulama klasik yang sering merujuk pada karya besar ini. Kabarnya belakangan kitab ini ditemukan dalam bentuk manuskrip di Cairo.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Al-Qadli Abdul Jabbar (w. 415 H) yang merupakan tokoh Mutazilah menulis kitab Ushul al-Fiqh berjudul al-Amd (dua jilid). Kitab ini dikomentari oleh Abu al-Husayn al- Basri (w. 435 H) dalam al-Mutamad fi Ushul al-Fiqh. Beliau ini ulama yang cukup "aneh" karena dalam ilmu kalam mengikuti mazhab Mutazilah namun dalam hal fiqh beliau mengikuti mazhab Syafii.

Al-Juwayni (w. 478 H) yang diberi gelar Imam al-Haramain, selain meringkas kitab al-Baqillani, juga menulis kitab sendiri yang juudlnya al-Burhan fi Ushul al-Fiqh. Imam al-Haramain ini merupakan guru dari Imam al-Ghazali. Yang menarik, Imam al-Haramain mengaitkan antara ilmu kalam dengan Ushul al-Fiqh. Beliau juga lebih jauh menjelaskan berbagai topik yang dibahas oleh Imam Syafii. Namun demikian, sebagai seorang ulama kaliber dunia, beliau juga turut menyampaikan kritikan terhadap Imam Asyari dan Imam Syafii serta ulama lainnya. Keberanian beliau ini mendapat komentar tajam dari para ulama seperti al-Maziri (w. 536 H) dan al-Abyari (w. 616 H) dari mazhab Maliki yang tidak bisa menerima Imam al-Haramain mengkritik Imam Malik.

Imam al-Ghazali (w. 505 H) meneruskan gaya kontroversial gurunya. Tidak tanggung-tanggung Imam al-Ghazali menulis 4 kitab berbeda dalam disiplin ilmu ini. Kitab terakhirnya yang dijadikan rujukan luas yaitu al-Mustasfa. Imam al-Ghazali juga tidka segan berbeda pandangan dengan Imam Syafii. Jadi hal yang wajar saja kalau murid berbeda pandangan dengan guru atau bahkan kakek gurunya. Tapi tetap saja Imam al-Haramain dan Imam al-Ghazali tidak keluar dari mazhab Syafii, tidak seperti Imam Abu Tsaur, Imam Ahmad dan Imam Dawud yang ketiganya mendirikan mazhab sendiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Bagaimana dengan mazhab di luar Syafii? Al-Sarkhasi (w. 423 H) dari mazhab Hanafi yang digelari Syamsul al-Aimmah menulis kitab al-Ushul. Begitu juga Imam al-Jassas (w. 370 H) menulis kitab dengan judul serupa. Sebelumnya ada lagi al-Dabusi (w. 340 H) yang menulis Taqwim al-Adillah. Pengaruh al-Dabusi dan Sarakhsi dalam pembahasan ushul al-fiqh di mazhab Hanafi sangat kuat. Corak pembahasan Syafiiyah dan jumhur ulama (Mutakallimin) dengan Hanafiyah dalam kajian Ushul al-Fiqh memang berbeda.

Pada abad ketujuh Hijriah, disiplin ilmu Ushul al-Fiqh sudah dianggap mapan. Maka mulailah pada periode ini penggabungan kitab, peringkasan dan penjelasan atas ringkasan kitab-kitab sebelumnya. Empat kitab utama yaitu al-Amd, al-Mutamad, al-Burhan dan al-Mustasfa digabung pembahasannya oleh dua ulama besar. Pertama, al-Amidi (w. 631 H) dari mazhab Syafii meringkasnya dalam al-Ihkam fi Usul al-Ahkam.?

Lantas diringkas kembali oleh Ibn Hajib (w. 646 H) dalam Muntaha al-Sul. Oleh pengarangnya sendiir, buku ini kemudian diringkas kembali dalam Mukhtasar Ibn al-Hajib. Lantas pembahasan yang sudah ringkas, diberi komentar panjang oleh Udad al-Din al-Iji (w. 756 H), al-Syirazi (w. 710 H) dan al-Asfahani (w. 749 H).

Kedua, Fakhr al-Din al-Razi dari mazhab Syafii (w. 606 H) menulis al-Mahsul yang merupakan ringkasan dan gabungan dari 4 kitab utama di atas. Dari mazhab Maliki, Imam al-Qarafi (w. 684 H) menulis Tanqih al-Fusul fi Ikhtisar al-Mahsul. Ringkasan al-Mahsul ini kemudian diberi penjelasan sendiri oleh beliau dalam kitabnya Syarh Tanqih al-Fusul. Al-Armawi (w. 656) ikut meringkaskan al-Mahsul dalam kitabnya al-Hasil (Tahsil al-Mahsul). Al-Baydawi (w. 685) kemudian meringkaskan kembali al-Hasil dalam karyanya Minhaj al-Wusul.

Namun karena diringkas dari ringkasan orang jadi susah mengerti karena itu al-Asnawi (w. 772 H) menjelaskan Minhaj-nya al-Baydawi dalam kitabnya Nihayat al-Sul. Begitu juga al-Badakshyi berusaha menjelaskannya dalam Manahij al-Uqul yang populer dengan nama Syarh Badakhsyi. Kitab Nihayat al-Sul karya Asnawi diberi penjelasan yang luar biasa oleh Prof Abu Nur Zuhair dalam kitab Ushul al-Fiqhnya. Abu Nur Zuhair ini guru Abah saya di al-Azhar Cairo dan kabarnya Syekh Ali Gomaa, mantan mufti mesir juga pernah belajar pada Syekh Nur Zuhair ini.

Abah tidak hanya belajar di dalam kelas kepada Syekh Nur Zuhair, tetapi juga belajar langsung di kediamannya. Caranya unik, sambil bersalaman, dan lutut bertemu lutut, Syekh Nur Zuhair menjelaskan isi kitabnya, dan Abah diminta mengulangi penjelasannya tersebut. Kitab Syekh Nur Zuhair ini pula-lah yang diajarkan Abah kepada saya, dan saya mewarisi kitab yang Abah pakai saat belajar dulu dengan gurunya lengkap dengan catatan Abah di pinggir kitab. Inilah perjalanan kitab Ushul al-Fiqh dari Imam Syafii sampai abad modern ini. Inilah pula sanad kajian Ushul al-Fiqh yang saya miliki.

Jikalau anda belum pernah belajar dengan mendalam akan kitab Ushul al-Fiqh dan anda tidak memiliki sanad keilmuan dalam bidang ini, mohon anda menahan diri untuk tidak sembarangan mengeluarkan fatwa ini halal-ini haram tanpa pondasi Ushul al-Fiqh yang kuat, apalagi kalau anda dengan enteng di medsos memaki para ulama atau para sarjana Syariah hanya karena pendapatnya tidak anda setujui. Alih alih membantah dengan ilmu, anda hanya mampu mencaci-maki yang hal itu jauh dari akhlak yang diajarkan oleh Baginda Rasulullah SAW.

Berbeda pendapat antara ulama itu hal biasa, asalkan tetap dilakukan dengan ilmu dan akhlak. Berbeda pendapat di kalangan awam itu luar biasa, sampai caci maki dan menuduh kesana-kemari karena tanpa ilmu dan tanpa akhlak.

Saya ingin menutup catatan ini dengan sebuah puisi selepas saya sowan ke makam Imam Syafii di Cairo pada tahun 2012. Untuk Imam Syafii peletak pondasi dasar ilmu Ushul al-Fiqh mari kita bacakan al-fatihah.

Sang Imam

Ku lihat engkau berbaring dengan tenang

Ku saksikan setiap detik beterbangan pahala jariyah ke tubuhmu

dari setiap bacaan, amalan maupun doa pengikutmu di penjuru dunia

Fatwamu bagaikan ibu (al-Umm) yang menyapih mereka

Argumentasimu menjadi surat pengantar (al-Risalah) bagi ibadah mereka

Ujung karpet terbuka

dan ku saksikan bekas tapak kaki al-Musthafa

Adakah yang lebih menggetarkan ketika engkau sang pembela Sunnah

didatangi langsung oleh al-Musthafa di saat wafatmu?

Penulis adalah Rais Syuriyah PCINU Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School, Australia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Fragmen Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 05 Desember 2017

Diskusi Bareng PMII Umaha dan ISNU Sidoarjo

Sidoarjo,Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Ikatan Sarjana Nadhatul Ulama (ISNU) Sidoarjo, Jawa Timur Sholehuddin mengajak mahasiswa untuk berbakti, mengabdi dan memberikan berkontribusi terhadap masyarakat.

Diskusi Bareng PMII Umaha dan ISNU Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)
Diskusi Bareng PMII Umaha dan ISNU Sidoarjo (Sumber Gambar : Nu Online)

Diskusi Bareng PMII Umaha dan ISNU Sidoarjo

Hal itu di sampaikan dalam paparanya sebagai narasumber diskusi yang bertema "Satu Jam Bersama Ketua ISNU Sidoarjo, Ada Apa sih dengan ISNU?" yang diselenggarakan Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Universitas Maarif Hasyim Latief (UMAHA) Sidoarjo, pada kamis (20/10), di masjid kampus. ?

Dalam kesempatan sama kandidat doktor UINSA Surabaya tersebut mengatakan, sebaik- baiknya manusia adalah adalah yang bisa bermanfaat bagi manusia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia berharap dengan hadirnya ISNU di UMAHA, bisa membawa manfaat bagi calon sarjana di kemudian hari dengan berkontribusi kepada masyarakat.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Lebih lanjut ia menambahkan bahwa ISNU tengah merencanakan program kerja mulai dari pendidikan, litbang, ekonomi, politik, lingkungan, kesehatan, dan kebijakan publik.

“Semoga mahasiswa besok dapat bekerja sam agar dapat membawa kemanfaatan bagi masyarakat terutama masyarakat NU,” pungkasnya.

Ketua Komisariat PMII UMAHA Donny SN berharap diskusi dengan ISNU tidak untuk pertama kalinya, bisa berlanjut di kemudian agar? terjalin komunikasi dengan baik. (Lucky/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Media Sosial Hanya Alat, Tujuan Utama adalah Konten Positif

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Halal bihalal dan sarasehan warganet (netizen) Nahdlatul Ulama membahas perkembangan media sosial saat ini. Intelektual Muda NU Ulil Abshar Abdalla yang menjadi salah satu narasumber menjelaskan bahwa media sosial hanya alat, bukan tujuan.

Media Sosial Hanya Alat, Tujuan Utama adalah Konten Positif (Sumber Gambar : Nu Online)
Media Sosial Hanya Alat, Tujuan Utama adalah Konten Positif (Sumber Gambar : Nu Online)

Media Sosial Hanya Alat, Tujuan Utama adalah Konten Positif

“Tujuan utama media sosial ialah mengisinya dengan konten dan informasi positif,” ujar Ulil di hadapan para aktivis media sosial yang memadati ruang acara, Rabu (12/7) di gedung PBNU Jalan Kramat Raya Jakarta.

Salah seorang menantu Gus Mus itu menjelaskan, konten positif dapat berupa apa saja tak terkecuali gagasan dan ide. Menurutnya, jangan sampai keberadaan media sosial mengalahkan gagasan atau ide dari penggunanya.

“Gagasan atau ide positif itulah yang seharusnya mengisi media sosial sebagai alat penyebarannya,” tegas Aktivis Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP) ini.

Dia mengakui, saat ini para pengguna media sosial menjadikan platform jejaring pertemanan itu sebagai tujuan sehingga melupakan untuk mengisinya dengan gagasan-gagasan positif.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

?

“Gagasan atau ide di media soaial itulah yang akan mewarnai dunia maya saat ini,” tutur Pengasuh Ngaji Virtual Kitab Al-Hikam pada Ramadhan lalu ini.

Selain halal bihalal dan sarasehan Netizen NU, kegiatan yang dibarengi Peringatan Harlah ke-14 Pondok Pesantren Attauhidiyyah dengan ini juga dihadiri oleh Ketua Umum PBNU KH said Aqil Siroj, Waketum PBNU Maksoem Mahfoedz, Ketua PBNU Robikin Emhas, Sekjen PBNU HA. Helmy Faishal Zaini, Pengamat Media Jose Rizal, Ketua RMI PBNU KH Abdul Ghaffar Rozin, Ketua LTN PBNU Hari Usmayadi, Direktur Pondok Pesantren Attauhidiyyah Savic Alielha, dan Pemred Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ahmad Mukafi Niam serta para aktivis media sosial. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 03 Desember 2017

Membangun Generasi Baru Cinta Perdamaian

Pati, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Hingga saat ini, kasus kekerasan yang berlatar belakang isu SARA masih menjadi tantangan bagi masa depan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kasus kekerasan yang sering terjadi di tengah masyarakat menunjukkan meningkatnya radikalisme agama yang dibarengi dengan meningkatnya aksi teror di beberapa daerah.

Membangun Generasi Baru Cinta Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)
Membangun Generasi Baru Cinta Perdamaian (Sumber Gambar : Nu Online)

Membangun Generasi Baru Cinta Perdamaian

Kenyataan ini secara umum berlangsung dari generasi ke generasi, sehingga mata rantai konflik tersebut tidak dapat terputus begitu saja. Diketahui bahwa hanya sekitar 10 persen konflik yang terjadi merupakan konflik yang dikategorikan konflik baru. Hal inilah yang kemudian menjadikan konflik bermutasi dari generasi ke generasi. Untuk mengatasi konflik tersebut, tidak jarang justru memunculkan kekerasan baru yang berkepanjangan.

Adanya keprihatinan inilah yang melatarbelakangi diselengarakannya Training Perdamaian yang dimotori oleh Pusat Studi Peace Promotion Institute Pesantren Mathaliul Falah (Ipmafa) Pati pada tanggal 29 Februari sampai 2 Maret 2016. Dengan adanya pelatihan ini diharapkan dapat memutus mata rantai kekerasan dengan memberi pemahaman nilai-nilai perdamaian melalui pelatihan-pelatihan yang bertujuan untuk membangun generasi baru yang cinta damai.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pelatihan yang berlangsung selama tiga hari ini dipandu langsung oleh fasilitator dari Peace Generation Indonesia, Kamilia Hamidah yang sekaligus menjabat Direktur Pusat Studi Peace Promotion Ipmafa. Pelatihan diikuti perwakilan dari guru, lembaga pesantren dan para mahasiswa anggota Pusat Studi Peace Promotion Ipmafa. ?

Selama pelatihan tersebut, peserta diberi pembekalan yang berisi pendidikan nilai dasar perdamaian untuk para guru dan calon fasilitator perdamaian masa depan. Pembekelan nilai ini meliputi 12 nilai perdamaian yang menjadi prinsip pergerakan cinta damai. Dengan demikian, setelah pelatihan ini para alumni pelatihan dapat mengajarkan dan menyebarkan nilai-nilai perdamaian di komunitasnya masing-masing.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Model pelatihan dikemas dengan metode pembelajaran interaktif meliputi simulasi nilai perdamaian dengan pembelajaran micro-teaching yang menantang kreativitas para peserta. Pembelajaran juga disertai permainan-permainan interaktif sebagai pengejawantahan dari nilai yang diajarkan.

Kesan yang muncul dari para peserta menunjukkan semangat dan antusiasnya selama mengikuti pelatihan. "Senang sekali dapat ikut pelatihan ini sehingga saya bisa belajar bersama-sama. Setelah ini, saya berharap dapat melaksanakan nilai-nilai perdamaian demi kehidupan saya sehari-hari, menyampaikan pelatihan ini kepada siswa-siswa kami," ujar Hindriyah, seorang guru SMK di Margoyoso Pati.

"Saya merasa amazing berkumpul dengan orang-orang yang mempunyai jiwa kepedulian sosial yang tinggi. Setelah mengikuti acara ini saya akan berusaha mengembangkan dua belas nilai ini di pesantren," tutur Karina Harjanti, delegasi dari pondok Pesantren Maslakul Huda Pati.

Menurut Kamilia, kedepan pihaknya ingin membuat gerakan mencetak sebanyak mungkin agen-agen perdamaian yang bisa menularkan virus perdamaian di lingkungannya masing-masing.

“Karena misi perdamaian inilah, kita dari Pusat Studi Peace Promotion membuka diri untuk bersinergi dengan semua pihak dalam memberikan pelatihan nilai dasar perdamaian pada pihak manapun yang konsen pada gerakan perdamaian," tegas Direktur Pusat Studi Peace Promotion Ipmafa ini.

Pelatihan nilai dasar perdamaian ini akan? rutin diadakan oleh Pusat Studi Peace Promotion yang akan dikemas dalam berbagai bentuk jenis kegiatan. Hal ini untuk menanamkan nilai-nilai dasar perdamaian agar semakin banyak agen perdamaian yang dapat menyebarkan perdamaian di masyarakat. (Isyrokh Fuaidi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Sejarah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 30 November 2017

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS

Way Kanan, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Menyikapi kejahatan kemanusiaan di Rohingnya, Rijalul Ansor Way Kanan, GP Ansor Bahuga, Gusdurian Lampung, Satkorwil Banser Lampung, dan Aji Tapak Sesontengan (ATS) Global Indonesia Tim Swarna Raya menggelar doa untuk Rohingya serta bakti sosial penyembuhan alternatif penyakit medis dan non-medis.

Ketua Rijalul Ansor Way Kanan Hasyim Asyari di Blambangan Umpu, Kamis (7/9) menjelaskan, kegiatan itu bertujuan untuk mengundang masyarakat mendoakan agar etnis Rohingya segera terbebas dari kekerasan dan diskriminasi dialami selama ini.

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS (Sumber Gambar : Nu Online)
Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS (Sumber Gambar : Nu Online)

Dua Hari ke Depan, Way Kanan Gelar Doa untuk Rohingya dan Pengobatan Gratis via ATS

Pelaksanaan kegiatan akan berlangsung di dua tempat, pertama pada Jumat 8 September di area Panti Asuhan Pesantren Roudlotul Mutaqqin dan pada Sabtu 9 September di Mushola Al Hikmah, Kampung Dewa Agung, Kecamatan Bahuga.

"Sembari menunggu penagananan penyembuhan penyakitnya seperti asam urat, lemah jantung, sakit gigi, urat kejepit, migrain, vertigo, maag dan berbagai penyakit medis lain oleh Pelaksana Tugas Kepala Satuan Khusus Banser Husada Lampung sekaligus kamitua atau master ATS sahabat Gatot Arifianto, masyarakat akan kami pandu mendoakan saudara kita di Rohingya," ujar Hasyim didampingi Ketua GP Ansor Bahuga Muhammad Nur Hasyim.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menyikapi persoalan Rohingya dengan doa menurut Hasyim, lebih maslahat daripada menyebar gambar hoax tidak sesuai, sadis dan didramatisir yang berpotensi memecah belah masyarakat Indonesia.

"Kami sepakat, bahwa apa yang terjadi di Rohingya ialah tragedi kemanusiaan yang harus segera dihentikan karena bertentangan dengan nalar hingga nurani. Siapapun yang beragama dan mengimaninya dengan benar pasti menolak kebiadaban," katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selain berdoa bersama, masyarakat juga akan diajak berfoto dengan membawa pesan-pesan perdamaian, seperti wasiat KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur): Agama jangan jauh dari kemanusiaan, lalu Dalai Lama XIV: Perdamaian bukan hanya sekadar tidak adanya kekerasan. Perdamaian adalah, perwujudan kasih sayang manusia, serta kutipan positif lain. (Erli Badra/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, Pemurnian Aqidah, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 29 November 2017

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang

Sukabumi, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Ketua PCNU Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat KH R. Abdul Basith mengatakan, untuk memakmurkan masyarakat, diperlukan tiga gerakan. Gerakan itu adalah berjamaah shalat, berinfaq dan sedekah, zakat, serta perekonomian umat.  

“Jika tiga hal tersebut diterapkan di kabupaten Sukabumi insyaallah akan makmur,” katanya pada Lailatul Ijtima dan silaturahim bulanan ulama dan umaro sekaligus peringatan Isra Miraj Nabi Muhammad SAW di Pendopo Kabupaten Sukabumi (20/4).

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang (Sumber Gambar : Nu Online)
Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang (Sumber Gambar : Nu Online)

Uang 500 Rupiah Makmurkan Desa Nanggerang

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amin, Cicurug ini, lebih menekankan poin kedua, yaitu zakat, infak dan sedekah. Menurut dia, zakat adalah kewajiban dari Allah sesudah shalat. “Kenapa Allah memerintahkan kepada umat Islam harus mengeluarkan zakat? Karena setiap harta yang kita miliki ini di dalamnya ada hak orang lain yaitu 2,5%.

Ia mengaku sukar sekali zakat ini dipraktkkan karena tidak adanya pelajaran yang diajarkan langsung kepada anak-anak. Hal itu berbeda dengan kewajiban shalat, puasa, bahkan haji yang telah diajarkan mulai Pendidikan Anak Usia Dini atau Taman Kanak-kanak.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Terkait infak dan sedekah, ia menyebutkan keberhasilan di Desa Nanggerang, Kecamatan Cicurug. Di desa dengan jumlah penduduk1522 orang tersebut, tiap hari mengeluarkan uang 500 rupiah. Kemudian dikumpulkan oleh satu panitia dengan pertanggungjawaban yang jelas.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Sebelum belanja kebutuhan sehari-harinya diusahakan untuk sedekah dulu karena ini ganjarannya langsung dari Allah SWT. Sedekah berbeda dengan ibadah yang lain yang ada syarat-syarat tertentu dalam melaksanakannya,” lanjutnnya.

Ia menjelaskan, di desanya itu, dengan hanya sedekah 500 rupiah bisa membebaskan raskin untuk masyarakat tak mampu, membayar rekening listrik masjid, mushola, pondok pesantren, majlis talim dan madrasah.

Dari uang 500 itu juga desa tersebut bisa mendirikan klinik gratis, membantu pembiayaan keluarga yang anggotanya meninggal dengan membacakan Al-Qur’an selama seminggu. Serta melakukan lampunisasi setiap gang.

“Seandainya semua ini berjalan di kabupaten Sukabumi maka akan membantu pemerintah,” ungkapnya.

Di Desa Nangerang, kata dia, dengan uang 500 itu dalam satu bulan itu mencapai 27 juta. Setelah 3 tahun terus naik karena sudah terasa manfaatnya oleh masyarakat dan untuk masyarakat.

Apa yang dilakukan di desa Nanggerang bukan untuk menyaingi BPJS, tapi membantu pemerintah dan masyarakat. “Ini sudah terjadi di desa kami, bahkan dalam satu tahun bisa mencapai 300 juta. Ini melebihi dari pajak didapat pemerintah di desa itu. Dan sekarang sudah berkembang di tiga kecamatan yaitu Cicurug, Cibadak dan Cidahu,” pungkasnya. (Sofyan Syarif/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Sholawat, Halaqoh, Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 November 2017

Majikan Dungu Sakit Gigi

Seorang majikan dungu sudah dua hari sakit gigi keras. Ia sebentar-sebentar memegang rahang. Sementara tangan satunya memijit kepala. Rebahan, salah. Duduk, tidak betah. Berdiri, gelisah.

Ketimbang bicara, ia lebih sering marah-marah tanpa sebab yang jelas. Marah pun tak jelas siapa yang dituju. Pokoknya nyeri gigi, hebat luar biasa.

Majikan Dungu Sakit Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)
Majikan Dungu Sakit Gigi (Sumber Gambar : Nu Online)

Majikan Dungu Sakit Gigi

“Kalau ketemu dokter, aku akan sampaikan semua keluhan sakit gigiku yang tak tertahankan ini agar ia dapat memberi obat yang manjur,” kata si dungu.

“Kalau sakit gigi tuan sudah parah begitu, mana sanggup tuan banyak bicara,” jawab babunya yang lebih sehat baik lahir maupun mental. (Alhafiz K)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

*) Dikutip dari Akhbarul Hamqa wal Mughaffalin (Hikayat Orang Dungu dan Orang Lalai) karya Inul Jauzi. Judul oleh pengutip.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah Pondok Pesantren Attauhidiyyah