Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AlaSantri. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 Februari 2018

Ketum Baru PP IPPNU Ajak Semua Elemen Berjuang Besarkan Organisasi

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Puti Hasni, Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) hasil Kongres XVII IPPNU di Boyolali, Jawa Tengah menegaskan prinsip kebersamaan dalam membangun dan membesarkan organisasi. Perempuan kelahiran Jakarta, 26 tahun lalu ini mengajak semua elemen pelajar di kalangan NU untuk bersama-sama membesarkan IPPNU.

Ketum Baru PP IPPNU Ajak Semua Elemen Berjuang Besarkan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum Baru PP IPPNU Ajak Semua Elemen Berjuang Besarkan Organisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum Baru PP IPPNU Ajak Semua Elemen Berjuang Besarkan Organisasi

“Pesta demokrasi pelajar NU telah usai. Sekarang mari bersama satukan hati, pikiran, dan tenaga untuk membangun dan membesarkan IPPNU,” katanya di akun pribadinya, Rabu (9/12).

Dia mengaku, setelah dirinya terpilih menjadi Ketum PP IPPNU untuk periode 2015-2018, ucapan doa dan selamat mengalir deras kepadanya sehingga ia pun mengucapkan banyak terima kasih.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Menyadari bahwa deretan redaksi kata terima kasih saja tidak akan cukup untuk mengungkapkan, betapa saya berterima kasih atas semua bentuk kebaikan yang diberikan kepada saya dari para ulama, tokoh masyarakat, teman-teman, santri, kakak-kakak, saudara-saudara, dan berbagai pihak yang tidak bisa disebutkan satu persatu,” tutur alumni STAINU Jakarta ini.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perempuan keturunan Betawi-Padang ini juga mengapresiasi seluruh peserta Kongres yang dengan antusias berpartisipasi dalam perhelatan pesta demokrasi pelajar NU.

“Saya ucapkan terimakasih yang begitu banyak kepada rekanita-rekanita yang turut serta hadir dan berpartisipasi dalam demokrasi pemilihan Ketua Umum IPPNU. Tanpa dukungan rekanita, tentu tak akan tercipta sebuah kemenangan ini,” jelas alumni Buntet Pesantren Cirebon ini.

Dalam Kongres Pelajar NU yang mengusung tema ‘Islam Berbudaya’, Sabtu-Selasa (5-8/12) tersebut, Puti, sapaan akrabnya, berhasil meraih 102 suara dari cabang dan wilayah se-Indonesia untuk mengungguli calon lain, Nunung Nurjanah kader Jawa Barat yang memperoleh 84 suara. (Fathoni)

Foto: Puti Hasni (kerudung putih) saat mendapat ucapan selamat dari Tini Nurmilasari, Bendahara PC IPPNU Yogyakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Ubudiyah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 04 Februari 2018

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Oleh Ruchman Basori

Polemik Full Day School (FDS) melalui kebijakan Lima Hari Sekolah (5HS) terus berlanjut. Masyarakat semakin kecewa dengan ngototnya Mendikbud Muhadjir Effendy atas kebijakannya itu. Sepintar-pintar Mendikbud Muhadjir Effendy membungkus 5HS atau FDS, masyarakat akan dengan jeli melihatnya hanya sebuah kedok untuk memperkuat pendidikan karakter. Bahkan lebih dari itu merupakan upaya sekularisasi pendidikan di Indonesia.

Fakta bahwa pendidikan karakter hanya sebagai alasan atau layaknya bungkus, dapat dibaca kenekatan kalangan Kemdikbud yang tetap akan menjalankan kebijakan 5HS pada tahun ajaran baru yang dimulai pada tanggal 17 Juli 2017 mendatang. Alih-alih membatalkan kebijakan 5HS yang tertuang dalam Permendikbud 23 Tahun 2017 tersebut malah akan ditingkatkan lagi menjadi Peraturan Presiden.

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)
FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter (Sumber Gambar : Nu Online)

FDS dan Bungkus Penguatan Pendidikan Karakter

Di berbagai tempat dan kesempatan, Menteri Muhadjir mengatakan bahwa kebijakan 5HS yang didasarkan pada Permendikbud 23/2017 adalah untuk penguatan pendidikan karakter anak bangsa. Padahal hasil penulusuran penulis, dari 11 pasal dalam Permen itu tidak ada yang secara spesifik membahas tentang pendidkan karakter. Pasal demi pasal membahas tentang pemenuhan beban kerja guru. Tapi anehnya Permendikbud itu yang selalu dijadikan argumen untuk penguatan pendidikan karakter.

Pertanyaannya, apakah produk Madrasah Diniyah Takmiliyah (MDT), Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) dan Pondok Pesantren yang selama ini menjadi gawang pendidikan karakter bangsa ini kurang hebat dengan pendidikan karakter yang ada di sekolah? Bukankah masyarakat Islam itu sudah dengan legowo menyempurnakan pendidikan agama dan karakter yang selama ini sangat kurang pada sekolah yang hanya dua jam seminggu?

Sekularisasi pendidikan

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Secara substantif kebijakan 5HS atau FDS yang ditolak oleh masyarakat tidak mencerminkan ikhtiar serius Kemdikbud untuk penguatan pendidikan karakter. Malah sebaliknya peran masyarakat yang telah berpartisipasi ikut memperkuat karakter, moral dan akhlak selama ini malah dinihilkan.

Melalui MDT, TPQ dan Pondok Pesantren, masyarakat selama ini telah menanamkan saham yang tak ternilai harganya untuk tumbuh dan berkembangnya masyarakat yang religius, berkarakter serta loyal terhadap bangsa dan negaranya. Negara nyaris tidak mengeluarkan dana yang sebanding dengan output yang dihasilkan lembaga pendidikan keagamaan Islam itu. Karena mereka lahir, tumbuh dari oleh dan untuk masyarakat secara mandiri.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kementerian Agama dengan keterbatasan anggaran yang ada telah memfasilitasi bagi pengembangan pendidikan keagamaan Islam dan diikuti dengan sejumlah regulasi. Terutama saat ini ketika dipimpin oleh Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin.

Kalau demikian agaknya ada agenda terselubung dari orang-orang tertentu di balik kebijakan FDS. Lebih tepatnya ingin memisahkan antara pendidikan nasional dengan agama. Peserta didik lambat laun tidak akan dikenalkan agama dengan baik tergantikan dengan pendidikan karakter yang belum jelas wujudnya. Dengan kata lain akan terjadi sekularisasi pendidikan di negara kita.?

Adalah Peter L. Berger mendefinisikan sekularisasi adalah sebuah proses di mana sektor-sektor dalam masyarakat dan kebudayaan dipisahkan dari dominasi institusi dan simbol-simbol religius. Berger menegaskan sekularisasi merupakan fenomena global masyarakat modern.

Pada waktu itu akibat dominasi gereja maka di belahan bumi Eropa terhadap pandangan ingin memisahkan antara agama di satu sisi dengan urusan dunia di sisi lainnya. Namun penulis kira beda dengan di Indonesia. Di mana agama telah menjadi dasar fundamental, sumber nilai dan inspirasi untuk berpikir, bersikap dan berperilaku dalam hampir di semua sektor pendidikan.?

Amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan produk-produk turunannya sudah sangat jelas mengatakan bahwa pendidikan nasional sangat religius. Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, Pasal 3 misalnya dengan jelas menyebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.?

Memisahkan pendidikan nasional dengan dasar religius, tidak saja akan mengkhianati cita-cita para pendiri bangsa (founding fathers) ini, tetapi juga pengkhianatan terhadap amanat undang-undang. Selain dari itu pengabaian atas hak-hak kemanusiaan sebagai bangsa yang beragama. Jangan semua urusan hajat bangsa ini akan ditangani oleh pemerintah, namun harus mampu berbagi dengan baik dengan rakyat sebagai model pembangunan yang berbasis partisipatif.

Bukan sentimen organisasi, tapi kepentingan anak bangsa

Penolakan atau bahasa halusnya peninjauan kembali atas kebijakan lima hari sekolah (5HS) atau FDS akan terus digelorakan oleh kalangan masyarakat terutama yang terkena dampak langsung yaitu MDT, TPQ dan Pondok Pesantren. Ini bukan masalah konflik Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama sebagai dua organisasi besar yang selama ini menjadi rujukan penting pendidikan Islam. Tapi ini masalah fundamental dasar-dasar pendidikan bangsa ini.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan harus jujur, kalau ikhtiarnya memperkuat pendidikan karakter, tidak harus dengan kebijakan Lima Hari Sekolah. Namun dengan mengoptimalkan pendidikan nasional yang berbasis karakter dan kecakapan hidup sebagaimana inti dari Kurikulum 2013 (K13).

Kenapa misalkan tidak dengan cara menambah jam pelajaran Pendidikan Agama yang hanya dua jam seminggu. Itu jauh lebih realistis dan pasti akan didukung oleh masyarakat. Tuntutan agar pemerintah menambah jam pelajaran agama sudah lama disuarakan, namun pemerintah tetap kekeh sampai hari ini. Dengan tambahan jam pelajaran agama, tidak saja akan menambah porsi yang cukup bagi pengembangan karakter peserta didik, namun juga pendidikan agama akan semakin mendapat porsi yang semestinya. Masyarakat mulai lega dengan penambahan jam pendidikan Agama di K13 namun Dikbud pada masa Anis Baswedan malah meninjau ulang pemberlakuannya dan berlanjut sampai hari ini.?

Masalah moral, karakter dan akhlak erat kaitannya dengan keteladanan (uswah hasanah). Mestinya pemerintah melalui Kemdikbud, Kemenag dan Ristek Dikti mampu mencetak guru dan calon guru yang mampu menjadi tauladan bagi peserta didiknya, tidak saja di sekolah namun juga di masyarakat. Tak kalah pentingnya adalah profil para pemimpin dan tokoh negeri ini harus menjadi contoh (modelling) bagi anak-anak bangsa yang kini sedang tumbuh besar menyambut Indonesia yang lebih baik.

Hal lainnya yang tak kalah penting adalah revitalisasi kurikulum pendidikan nasional. Seluruh mata pelajaran harus diarahkan pada penciptaan peserta didik yang mempunyai keluhuran budi dan kemualiaan akhlak. Belajar Bahasa, Matematika dan Teknologi tidak melulu pemindahan pengetahuan dan ketrampilan (transfer of knowledge) namun juga pemindahan nilai (transfer of value). Agaknya cita-cita ini sejalan dengan konsep K13 sebagai kurikulum yang terintegrasi (integrated curriculum).

Terakhir agar pendidikan karakter tidak sekadar 5HS maka penciptaan suasana dan kultur sekolah perlu diciptakan. Guru yang menjadi teladan, peserta didik yang mempunyai semangat belajar, perpustakaan yang mendukung, kepemimpinan sekolah yang berpihak pada perubahan serta masyarakat yang mencintai sekolah dapat terejawantahkan dengan baik.

Sekali lagi pendidikan karakter bukan Lima Hari Sekolah tetapi ikhtiar serius membenahi pendidikan nasional. Tujuan berdimensi jauh ke depan menciptakan para pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyatnya. Mengerti masalah dan tahu bagaimana mengatasinya. Rakyat kita makin cerdas maka susunlah kebijakan yang cerdas pula dan berpihak kepada masyarakat bukan malah mengebiri kepentingan-kepentingannya. Wallahu alam bisshowab.

Penulis adalah Ketua Bidang Organisasi Dewan Pengurus Pusat Forum Komunikasi Diniyah Takmiliyah dan Ketua Bidang Kaderisasi Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor.

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Halaqoh, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 16 Januari 2018

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang?

Siapa tak kenal pengarang novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang masyhur itu? Novel itu diterjemahkan ke dalam belasan bahasa asing dan dipuji banyak orang. Belakangan difimkan juga. Pengarangnya tak lain yaitu Ahmad Tohari.

Lalu, bagaimana Ahmad Tohari yang tinggal di pedesaan Banyumas itu bisa menjadi penulis terkenal?

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Ahmad Tohari Jadi Pengarang?

Ahmada Tohari adalah cucu kesayangan kakeknya yang suka nonton wayang. Jika nonton atau mendengar wayang, di pagi hari ia akan menceritakannya kepada Tohari kecil.

“Kepada saya, ia bercerita dengan penuh kenikmatan. Saya tercekam dan mulai tergambar sebuah cerita, tentang sebuah fiksi, tentang dunia di luar realita, tapi itu sangat menarik,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Tohari mengaku, ia tidak merasa dipaksa sang kakek untuk mendengarkan cerita karena ia bercerita dengan menarik. Pada akhirnya ketagihan. “Saya merasa, awal saya masuk ke dunia sastra adalah dongeng itu,” tambahnya.  

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kemudian pada waktu kelas lima ia mulai membaca komik. SMP mulai membaca novel klasik. Di SMP tersebut sebenarnya tidak lengkap menyediakan buku-buku sastra. Tapi untungnya, dia mengenal seorang guru yang mengoleksi lengkap buku-buku sastra. Kepadanya ia meminjam buku.

Ia kemudian mulai membaca buku-buku klasik seperti Azab dan Sengsara, Salah Asuhan, Belenggu dan lain lain. “Saya mulai terkagum-kagum kepada orang yang menyusun cerita,” katanya.

Meski demikian, ia mengaku tidak berani membayangkan akan menjadi penulis karena penulis hebat, baginya seperti berada di langit sana.

Di samping itu, asupan bacaan didapat dari koran Duta Masyarakat. Ayah Tohari yang aktivis NU di tingkat kecamatan tahun 1955 itu berlangganan koran tersebut. “Karena dia pengurus NU, mungkin dianjurkan PBNU untuk langganan Duta Masyarakat,” katanya meski koran itu selalu telambat 7 hari.

Ahmad Tohari akan menyampaikan Pidato Kebudayaan di gedung PBNU, Jakarta, Jumat malam 28 Maret. Ia akan menyampaikan pokok-pokok pikiran dengan judul “Membela dengan Sastra”. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Syariah, Ahlussunnah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 09 Januari 2018

ISNU Ditetapkan sebagai Stan Terbaik Ekspo UKM Brebes

Brebes, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Stan Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) mendapat predikat stan terbaik pada Ekspo Usaha Kecil Menengah (UKM) Kabupaten Brebes, di Islamic Center Brebes, Kamis (22/10) lalu. Stan ISNU menjadi stan terbaik karena berbagai keunggulan yang dimiliki.

ISNU Ditetapkan sebagai Stan Terbaik Ekspo UKM Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU Ditetapkan sebagai Stan Terbaik Ekspo UKM Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

ISNU Ditetapkan sebagai Stan Terbaik Ekspo UKM Brebes

Koordinator Tim Juri Ekspo UKM Gus Faqih Maskumambang menjelaskan, stan ISNU dipandang paling baik, terapi, artistik, terbanyak dikunjungi, laku keras dan menyajikan berbagai produk lokal. “Kami hanya menetapkan satu pemenang dengan hadiah piala, dan uang pembinaan sebesar Rp 2 juta,” terangya di Gedung PCNU Jl Yos Sudarso, Jumat (23/10).?

Ekspo dipantau langsung Direkturat Jenderal Penempatan dan Perluasan Tenaga kerja Kementerian Tenaga Kerja RI Khoerul Huda MSi dan pembukaan dilakukan oleh Bupati Brebes Hj Idza Priyanti SE dengan pengguntingan pita melati dan pelepasan balon.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dalam sambutannya, Bupati mendorong kepada pelaku UKM untuk terus melakukan terobosan-terobosan jitu dengan gigih dan pantang menyerah. Di era krisis dahulu, UKM ternyata paling hebat dalam mempertahankan usahanya. Sehingga tidak sampai gulung tikar dan sangat menopang perekonomian Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pemkab Brebes, lanjutnya, juga telah memasukan UKM dalam program pokok enam pilar pembangunan Brebes. Berbagai bantuan berupa stimulant permodalan, tempat usaha maupun pelatihan sudah digulirkan. Hal ini demi kemaslahatan umat dengan mendorong terciptanya wirausahawan mandiri di berbagai sector. “Santri terbukti sangat gigih pula dalam berwirausaha, dan mayoritas santri berkecimpung dalam usaha perdagangan seperti yang dilakukan Nabi Muhammad yakni berdagang,” tuturnya.

Ketua Panitia Hari Santri Nasional Kabupaten Brebes H Musaffa Lc mengatakan, peringatan Hari Santri Nasional di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, dimeriahkan dengan Pameran Produk Usaha Kecil Menengah (UKM) Gerakan Penanggulangan Pengangguran (GPP). Ekspo menampilkan 30 stan berupa hasil khas industri rumahan di masing-masing Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) dan badan otonom NU se-Kabupaten Brebes.

“Para pelaku usaha lokal tersebut, merupakan binaan dari MWCNU di 17 Kecamatan se-Kabupaten Brebes,” terang ketua panitia, Musaffa. Terlihat penghasil rebana dari MWCNU Bumiayu, Keramik Banjarharjo, Sanggul Brebes, Rengginang Kersana, Batik Salem, dan lain-lain. Kegiatan tersebut, juga diisi pentas musik religi dan hiburan lainnya. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 05 Januari 2018

Ikatan Sarjana NU Tangsel Resmi Dikukuhkan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Tangerang Selatan, Senin, (11/04) resmi dilantik. Pelantikan yang dilaksanakan di Auditorium Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum ISNU Dr Ali Masykur Musa.

Acara pelantikan ini dilanjutkan dengan seminar International yang bertajuk Islam Nusantara to Word Civilization yang dihadiri oleh beberapa narasumber. Diantaranya, Dr Zainul Milal Bizawie (Penulis Masterpiece Islam Nusantara), Brian Lee (Peneliti Heaverly of Light South Korea) dan James B. Hoesterey (Penelity Emary University USA). Dalam hal ini, Prof Dr Masykuri Abdillah (Guru Besar UIN Jakarta sekaligus Direktur Pasca Sarjana UIN) ditunjuk sebagai pembicara kunci.

Ketua ISNU Tangsel, Ir Suryadi berharap, agar ISNU Tangsel bisa bersinergi dengan pemerintah daerah dalam mewarnai dinamika Tangsel. Suryadi juga berharap dengan dilaksanakannya pelantikan ISNU di lingkungan intelektual, ISNU bisa memberikan energi bagi mahasiswa untuk terus membaca dan bertindak cerdas dalam memilih buku sebagai pembuka jendela wacana.

Ikatan Sarjana NU Tangsel Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikatan Sarjana NU Tangsel Resmi Dikukuhkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikatan Sarjana NU Tangsel Resmi Dikukuhkan

Dalam sambutan yang berbeda, Ketua Wilayah ISNU Banten, H.A. Bazary Syam mengungkapkan bahwa ISNU harus menjadi garda terdepan dalam mengawal Islam Nusantara. Ia menambahkan bahwa ISNU adalah sebuah kelompok intelektual yang didirikan untuk menyelamatkan bangsa dan negara.?

“Dalam mars ISNU, Allahu Akbar menjadi kesejukan bukan untuk membunuh umat Islam,” imbuhnya. (M. Alvin Nur Choironi/Zunus)

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nusantara, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 04 Januari 2018

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dua ratus pendekar Ikatan Pencak Silat (IPS) Nahdlatul Ulama atau Pagar Nusa siap mengamankan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama di Pesantren Kempek, Cirebon, Jawa Barat, 14-17 September mendatang. 

Pernyataan itu disampaikan Ketua PP Pagar Nusa Aizzuddin Abdurahman di kantor Pagar Nusa, gedung PBNU, Jakarta, Selasa (11/9).

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan (Sumber Gambar : Nu Online)
200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan (Sumber Gambar : Nu Online)

200 Pendekar Pagar Nusa Siap Mengamankan

“Kami akan menurunkan 200 pendekar. Mereka adalah pasukan inti yang akan mengamankan Munas dan Konbes,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Ketua Pagar Nusa yang biasa disapa Gus Aiz ini, pasukan inti berasal dari Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah Jawa Barat, ditambah Ansor dan Banser. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Dan bisa dipastikan ada pasukan yang suka rela datang. Jadi, jumlahnya bisa lebih 200,” tambahnya. 

Sebenarnya, sambung Gus Aiz, 200 orang, tidak cukup untuk mengamankan acara sebesar Munas dan Konbes. “Tapi, saya mengharapkan, semoga berjalan lancar,” pungkasnya.  

 

Redaktur: Hamzah Sahal

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah News, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 27 Desember 2017

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014

Khartoum, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Khartoum Sudan hasil Konfercab XII PCINU Sudan yang lalu telah resmi dilantik oleh salah satu Mustasyar PCINU Sudan Dr Syekh Muhammad Al Fatih Ali Hasanain di Wisma NU Sudan.

Para pengurus PCINU Sudan masa kidmat 2013-2014 yang dilantik Jum’at (3/5) kemarin merupakan hasil keputusan rapat tim formatur sebanyak tiga kali pertemuan. Dalam kepengurusan periode ini lebih didominasi oleh “generasi baru” yang dinilai mempunyai komitmen dan loyalitas terhadap PCINU Sudan.

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Syekh Al Fatih Lantik PCINU Sudan 2013-2014

Hadir dalam pelantikan tersebut beberapa tokoh dari organisasi masyarakat dan mahasiswa dari berbagai negara, serta perwakilan dari KBRI Sudan. Diantaranya, Ketua dan Sekretaris PPMI Sudan, Ketua dan Sekretaris Ikatan Keluarga Aceh (KMA), Ketua dan Sekretaris Persatuan Mahasiswa Malaysia dan Thailand.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua panitia, Budi Sutardi menyampaikan terima kasih kepada semua pihak atas terlaksananya pelantikan. Sedangkan Rais Syuriah terpilih Auza’i Mahfudz Asirun dalam sambutannya menginstruksikan kepada para pengurus yang terpilih agar menjalankan tugas kepengurusan  dengan sungguh-sungguh dan ikhlas dalam berkhidmah.

Selain itu, Syekh Fatih selaku mustasyar menyampaikan dalam tausiahnya: “Aksi secara berjama’ah itu lebih utama dari pada aksi secara individual sebagaimana sholat berjama’ah lebih utama 27 derajat dari pada sholat sendirian”. 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ia mendorong kepada generasi muda NU untuk meneruskan risalah yang telah dikembangkan oleh organisasi para ulama nusantara ini sebagai warisatul anbiya’, pewaris para nabi. Beliau mengutip hadist Nabi Muhammad SAW: Sampaikanlah (ajaran) dariku walau satu ayat.

Acara ini disampaikan dalam tiga bahasa, bahasa Indonesia, Inggris dan Arab dengan tujuan agar para audien bisa mengikuti seluruh rangkaian acara.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Bahtsul Masail, AlaSantri, Sholawat Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 23 Desember 2017

Raja Yordania Tegaskan Dukungan Penuh untuk Rakyat Palestina

Ramallah, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Nabil Abu Rudeineh, juru bicara Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa Raja Yordania Abdullah II telah menegaskan dukungan penuh negaranya kepada rakyat Palestina dan kepemimpinan mereka.

Raja Yordania Tegaskan Dukungan Penuh untuk Rakyat Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Raja Yordania Tegaskan Dukungan Penuh untuk Rakyat Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Raja Yordania Tegaskan Dukungan Penuh untuk Rakyat Palestina

Seperti dilansir kantor berita Palestina, WAFA, Raja Abdullah II mengunjungi Presiden Mahmoud Abbas di istana kepresidenan di Ramallah, Senin (7/8). Kedua pemimpin itu mengadakan pertemuan tertutup membahas tindakan Israel baru-baru ini terhadap kompleks Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Pertemuan tersebut lantas dilanjutkan dengan sebuah pertemuan yang lebih besar antara rakyat Palestina dan para delegasi Yordania, robongan Raja Abdullah II.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Abu Rudeineh mengatakan, kunjungan ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi dan konsultasi antara Abbas dan Raja Abdullah II dalam menghadapi tantangan menyangkut kepentingan bersama. Hal ini didasarkan atas aksi bersama yang tertuang dalam KTT Arab mutakhir yang diadakan di Laut Mati.

Abbas, kata Abu Rudeineh, memuji upaya yang dilakukan Raja Abdullah II untuk melayani kepentingan Palestina di semua forum internasional.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut Menteri Luar Negeri Palestina Riyad al-Malki, kunjungan ini datang pada momen yang sangat penting untuk bersama-sama mengatasi masalah serangan Israel terhadap Masjid al-Aqsa di Yerusalem, dan upayanya untuk mengubah status quo.

Dia mengatakan bahwa kedua belah pihak sepakat untuk membentuk sel krisis bersama untuk mengevaluasi tahap sebelumnya, menarik pelajaran dan mengevaluasi tantangan masa depan terkait situasi di Masjid al-Aqsa. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Olahraga, AlaSantri, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Rabu, 13 Desember 2017

Kesaktian Aswaja an-Nahdliyah Sudah Teruji

Wonosobo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Tengah Abu Hapsin Umar mengimbau kepada segenap warga NU agar tiap kali menyebut atau menulis kalimat Ahlussunnah wal Jamaah, juga menambahkan kata "an-Nahdliyah".

Hal itu, katanya, lantaran saat ini banyak sekali golongan dan kelompok mengklaim dirinya Ahlussunnah wal Jamaah namun menyimpang dari sikap dasar NU. Ia mencontohkan laskar jihad yang tiap saat membawa pedang tapi mengatasnamakan juga sebagai laskar Ahlussunnah wal Jamaah. Penambahan kata "an-Nahdliyah" ini menurutnya penting untuk membedakan Ahlussunnah wal Jama’ah yang dianut NU dengan yang bukan.

Kesaktian Aswaja an-Nahdliyah Sudah Teruji (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesaktian Aswaja an-Nahdliyah Sudah Teruji (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesaktian Aswaja an-Nahdliyah Sudah Teruji

Pesan tersebut disampaikan Abu Hapsin Umar saat memberikan pidato sambutan atas nama ketua PWNU Jawa Tengah dalam prosesi wisuda sarjana kampus STAINU Temanggung di Pendopo Pengayoman Temanggung, Selasa (9/2) lalu.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Alangkah baiknya kalau ikrar ataupun mars STAINU Temanggung itu yang terselip kata-kata Ahlussunnah wal Jama’ah, syukur-syukur kalau ada kata-kata ‘an-Nahdhiyah’. Dan ini yang harus menjadi ikrar kita bersama. Karena apa? Karena Ahlussunnah wal Jama’ah an nahdhiyah yang selama ini dipraktikkan di kalangan nahdhiyyiin bukan saja diakui oleh orang-orang NU saja manfaatnya," ujar Abu Hapsin.

Mujarab

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Presiden Soeharto, lanjut Abu Hapsin, pada Muktamar 1994 di Cipasung mengatakan sumbangan terbesar NU terhadap bangsa dan negara Republik Indonesia ini bukan terletak pada kekuatan ekonominya tetapi pada pemahaman agamanya yang mampu membuat Indonesia jadi stabil. Pernyataan tersebut tetap diungkapkan Presiden Soeharto kendati tempo itu hubungan antara Soeharto dan Gus Dur selaku ketua PBNU sedang kurang baik.

Menurut Abu Hapsin, kesaktian paham Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdhiyah telah terbukti mujarab, yaitu sudah teruji berhasil mempersatukan bangsa ini. Paham ini pula yang mampu mengompromikan antara konsep nasionalisme di satu sisi dan sikap religius di sisi lain. Padahal di luar, ada fakta sikap agamis harus melepaskan rasa nasionalismenya, juga sebaliknya nasionalisme harus menanggalkan semangat keagamaannya.

"Oleh karenanya, Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdhiyah ini harus kita syukuri. Karena pemahaman inilah yang mampu memadukan, mengombinasikan antara konsep nasionalisme dan agamisme. Hanya pola paham keagamaan Ahlussunnah wal Jama’ah an-Nahdhiyah yang mampu mengantarkan bangsa Indonesia agamis di satu sisi dan nasionalis tulen di sisi lain, ya paham NU," tandas alumni Lirboyo yang masih sempat menjumpai generasi KH. Marzuki Dahlan dan KH. Mahrus Ali tersebut. (M. Haromain/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Halaqoh Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 09 Desember 2017

Bersama TNI, Banser Siap Jaga Keutuhan NKRI dari Ormas Anti-Pancasila

Surabaya, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Satuan Koordinasi Wilayah (Satkoorwil) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jawa Timur menyatakan dukungan penuh terhadap Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam menghadapi gerakan radikal dan Organisasi Masyarakat (Ormas) yang bertentangan dengan ideologi Pancasila.

?

Bersama TNI, Banser Siap Jaga Keutuhan NKRI dari Ormas Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama TNI, Banser Siap Jaga Keutuhan NKRI dari Ormas Anti-Pancasila (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama TNI, Banser Siap Jaga Keutuhan NKRI dari Ormas Anti-Pancasila

"Banser Jatim berkomitmen mendukung langkah TNI menghadapi semua Ormas yang anti Pancasila dan gerakan radikalisme yang mengancam keutuhan NKRI," kata Kasatkorwil Banser Jatim, H Abid Umar, ? di sela memimpin Rapat Persiapan Pemantapan Banser Jatim tahun 2017, di Graha Ansor Jatim, Surabaya, Selasa (17/1).

?

Abid Umar menjelaskan, pihaknya sudah menginstruksikan kepada seluruh kader Banser di Jawa Timur untuk selalu siap menghadapi Ormas yang mengancaman keutuhan NKRI serta menekan bibit kebencian yang disebarkan oleh pihak-pihak yang merusak harmoni kerukunan antar umat beragama di Indonesia.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

"Keluarga besar Banser lahir batin setia bahwa Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 (PBNU) adalah harga mati dan keputusan final," tegas Abid Umar.

?

Menurut dia, gejolak yang terjadi belakangan ini, utamanya perang opini bernada kebencian di media sosial, telah berpengaruh besar dalam mengubah mindset masyarakat Indonesia. Padahal, lanjut dia, budaya Indonesia adalah santun dan damai.

?

"Ini wajib kita antisipasi. Dan Banser sudah Ikrar Setia bersama TNI-Polri untuk jaga keutuhan dan kedamaian NKRI, lahir batin," pungkasnya.?

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa TNI siap menghadapi Ormas yang gerakannya bertentangan dengan Pancasila dan Radikalisme. "Kalau ada Ormas yang bertentangan dengan Pancasila, tujuan akhir pasti mengubah Pancasila, itu berbahaya," tegas Jenderal TNI Gatot di sela Rapat Pimpinan TNI di Jakarta. (Abdul Hady JM/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, AlaSantri, Olahraga Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 05 Desember 2017

Tradisi Shalawatan Ahad Pahing Pelajar NU Bantul

Bantul, Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Setiap malam Ahad Pahing, para pelajar NU ? Bantul yang terhimpun dalam wadah organisasi IPNU-IPPNU Bantul menggelar acara shalawatan. Tradisi yang berlangsung sejak Oktober 2015 itu digelar di tempat berbeda secara bergantian di seluruh wilayah Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Malam Ahad Pahing, (7/2/2016) shalawatan digelar di Masjid Nurul Ummah Numpukan Imogiri.?



Tradisi Shalawatan Ahad Pahing Pelajar NU Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)
Tradisi Shalawatan Ahad Pahing Pelajar NU Bantul (Sumber Gambar : Nu Online)

Tradisi Shalawatan Ahad Pahing Pelajar NU Bantul

Acara ini dihadiri tak kurang dari 130 pelajar yang merupakan perwakilan dari 9 kecamatan yang ada di Bantul. Pada pukul 19.45 WIB, acara dimulai dengan hadroh oleh pelajar NU yang tergabung dalam PAC IPNU-IPPNU Pundong. Usai menggemakan shalawat dengan iringan musik hadroh, para pelajar NU Bantul kemudian bersama-sama membaca Maulid Habsy.?



Setelah pembacaan maulid selesai, acara kemudian dilanjutkan dengan mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Eks Ketua PAC IPNU Pleret, Ustadz Muhammad Jawis. Pada maudhoh hasanah tersebut, Muhammad Jawis berpesan agar kader-kader IPNU-IPPNU tidak hanya memiliki cita-cita saja, tetapi juga harus memiliki kemampuan untuk mewujudkan cita-cita tersebut.?

Pondok Pesantren Attauhidiyyah



Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“IPNU-IPPNU adalah tonggak pengaderan pertama NU. Oleh karena itu, para kader IPNU-IPPNU harus benar-benar memiliki cita-cita yang kemudian harus diwujudkan dengan segera. Jangan hanya bisa bermimpi tapi enggan mewujudkannya,” ujar Ustadz Jawis.?



Sementara itu, Ketua IPNU Bantul, Ahmad Sidik mengungkapkan bahwa tradisi shalawatan tersebut digunakan untuk mempopulerkan tradisi-tradisi Aswaja dan IPNU-IPPNU Bantul itu sendiri.?



“Selain itu, acara shalawatan bersama ini juga bisa menjadi ajang kopi darat pelajar NU se-Bantul untuk membuat gagasan baru guna membentengi kader NU sejak dini dari aliran-aliran menyimpang,” tandasnya. (Nur Rokhim/Fathoni)?



Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Lomba, Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sabtu, 02 Desember 2017

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Salah satu keputusan Sidang Pleno Musyawarah Kerja Cabang Nahdlatul Ulama (Muskercab NU) Kabupaten Jombang adalah merekomendasikan kepada Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk mendesak kepada Pemerintah Republik Indonesia agar membubarkan organisasi Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Alasan yang dikemukakan oleh peserta Muskercab karena HTI telah jelas-jelas tidak mengakui Pancasila dan NKRI. Sikap HTI tersebut dinilai sebagai perbuatan makar terhadap negara.

Keputusan sidang Pleno yang dibacakan KH Junaidi Hidayat tersebut selanjutnya disahkan sebagai keputusan Muskercab PCNU Jombang secara resmi oleh Pimpinan Sidang, KH Dr. Isrofil Amar.

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Terbukti Makar, Muskercab NU Jombang Rekomendasikan HTI Dibubarkan

PCNU Jombang juga merekomendasikan kepada Pemerintah Kabupaten Jombang untuk melarang seluruh aktifitas HTI. (Ma/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Ulama, Anti Hoax Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Senin, 27 November 2017

Sekolah Kader Kopri Digelar di Malang dan Salatiga

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sekolah kader Kopri digelar secara nasional di Hall Oesman Mansoer UIM, Malang, Kamis (20/11). Sekolah ini menghadirkan narasumber dari pelbagai kalangan mulai dari politikus, penulis, akademisi, dan aktivis sosial.

Sekolah Kader Kopri Digelar di Malang dan Salatiga (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekolah Kader Kopri Digelar di Malang dan Salatiga (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekolah Kader Kopri Digelar di Malang dan Salatiga

Pada kesempatan pembukaan Nisaul Kamilah mendorong perempuan untuk banyak berkiprah. "Banyak ruang dan cara untuk perempuan dalam berkarya."

"Kader Kopri hari ini harus lebih menguatkan kapasitas keilmuan dan pengetahuannya. Karena, untuk menjadi seorang perempuan yang bernilai di masyarakat ia harus berwawasan dan berhati lapang," imbuh Irma menutup acara Talk Show Pra SKK PMII Malang.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Sekolah Kader Kopri (SKK) I yang diadakan Kopri Kota Salatiga, melibatkan pengurus Kopri seprovinsi Jawa Tengah. Sekolah kader ini berlangsung selama tiga hari, Jumat-Ahad (21-23/11) di sekolah alam Quryah Toyyibah, Salatiga.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Pada kesempatan sekolah ini mereka merumuskan strategi perempuan dalam menghadapi perubahan sosial di tengah era Global. Kegiatan ini diikuti sedikitnya 30 utusan cabang Kopri se-Jateng. Mereka yang hadir antara lain datang dari Semarang, Purworejo, Kudus, Blora, Yogyakarta, Wonosobo Temanggung dan Pekalongan.

“SKK I sengaja mengundang Kopri PMII se-Jawa Tengah untuk belajar dan diskusi bersama, saling bertukar pengetahuan dan pengalaman dari satu cabang ke cabang lainnya,” kata Ketua Kopri PMII Kota Salatiga Winda. (Diana/Sri/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 12 November 2017

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Padangpariaman, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Sebanyak 34 tuanku dikukuhkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Pakandangan, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Selain itu, juga diberikan ijazah kelulusan kepada 111 tamatan pondok pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan tingkat tsanawiyah, Bustanul Muhaqqiqin (Ma’had A’ly) sebanyak 5 orang.?

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Kukuhkan 34 Tuanku

Demikian disampaikan Ketua Yayasan Pendidikan Imraniyah Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan Idarussalam Tuanku Sutan, Rabu (19/7/2017) di komplek Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Pengukuhan gelar tuanku sekaligus peringatan manyaratuih (seratus) hari wafatnya pendiri Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan Abuya Syekh H. Ali Imran Hasan.

Tuanku yang dihasilkan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan, merupakan kader ulama yang memiliki kemampuan menggali sumber-sumber hukum dan ajaran Islam dari berbagai literatur ? klasik yang dikenal dengan kitab kuning. “Santri di Ponpes Nurul Yaqin Ringan-Ringan dibekali dengan pengetahuan dan kemampuan membaca kitab kuning yang banyak ditulis oleh ulama-ulama terdahulu yang hingga kini isinya masih relevan,” kata Idarussalam.

Menurut Idarussalam, ada tiga kompetensi yang dimiliki Nurul Yaqin diajarkan kepada santrinya. Pertama, keilmuan yakni ilmu kitab sebanyak 16 bidang. Kedua, skill, yakni kemampuan yang dimiliki santri yang diperlukan dalam kehidupan keseharian di masyarakat. Dimana santri bisa berdoa, jadi imam di masjid/surau/mushalla, berdakwah dan ? menjadi guru mengaji. Ketiga, karakter. Santri diajarkan dan dibiasakan dengan ? sopan santun, etika dan ? mengaplikasikan ibadah.?

“Inilah bedanya Pesantren Nurul Yaqin dengan sekolah lainnya. Di Pesantren Nurul Yaqin, Santri dituntut punya ilmu, skill dan berkarakter yang sangat mendukung dalam kehidupan bermasyarakat,” kata Idarussalam.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

“Pesantren Nurul Yaqin tetap mengharapkan dukungan semua pihak, baik alumni, masyarakat, maupun Pemerintah Daerah Kabupaten Padangpariaman,” kata Idarussalam.?

Dengan wafatnya pendiri Nurul Yaqin Ringan-Ringan Syekh Ali Imran, maka terdapat dua pimpinan, yakni pesantren dan keilmuan. Pelaksanaan pesantren diserahkan kepada Drs. Almuhdil Karim Tuanku Bagindo. Sedangkan di ? dibidang ? keilmuan, paham, jamaah, tarekat dan wirid, ? dipimpin oleh khalifah yang dinamakan Khalifah Imrani. Untuk pertama kali khalifah Imrani ini dipercayakan kepada Syekh Muda Zulhamdi Tuanku Kerajaan, murid langsung dari Syekh Ali Imran Hasan.?

Wakil Bupati Padang Pariaman Suhatri Bur yang menghadiri acara pengukuhan tersebut mengatakan, para lulusan Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan yang sudah dikukuhkan sebagai tuanku diharapkan menjadi ulama yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat. “Ilmu yang sudah diperoleh selama belajar di pesantren ini tentu diharapkan dapat bermanfaat bagi diri sendiri, maupun masyarakat di lingkungannya,” kata Suhatri Bur.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan, sebagai ulama tentu prioritas utama adalah untuk terus menggali ilmu agama. Sehingga pemahaman tuanku akan sesuai dengan kondisi masyarakat yang dihadapinya. “Pemkab Padang Pariaman memberikan apresiasi terhadap kehadiran Pondok Pesantren Nurul Yaqin Ringan-Ringan. Amanah dari pendiri pesantren ini memang Pemkab agar memperhatikan perkembangan Pesantren ini. Ini tentu menjadi perhatian kita semuan,” kata Suhatri Bur menambahkan. (Armaidi Tanjung/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, Tokoh, Kiai Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Kamis, 09 November 2017

IPNU akan Launching Buku Pengkaderan Baru

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah
Ikatan Pelajar NU (IPNU) akan melakukan launching buku pedoman pengkaderan baru pada tanggal 11 April 2005 di Gedung PBNU Lt 8. “Kongres IPNU ke 14 di Surabaya yang mengembalikan IPNU sebagai organisasi pelajar dari organisasi pemuda menyebabkan reparadigmatisasi gerakan sehingga perlu dibuat konsep pengkaderan yang baru” ungkap Ketua Umum IPNU Mujtahidur Ridho, Sabtu.

Dalam launching tersebut, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi diharapkan memberikan orasi tentang “Titik Nol Pengkaderan NU”. Setelah launching, acara akan dilanjutkan dengan dialog tiga generasi yang mengambil tema “NU dan Degradasi Kader” dari tokoh-tokoh IPNU yang mewakili generasinya dan dipanel dengan akademisi dan peneliti NU.

Selanjutnya akan dilakukan palatihan pelatih tingkat nasional yang akan berlangsung selama 4 hari (11-15 April) bertempat di Gedung MUI (Wisma Khodimul Ummah) Puncak Bogor.

Buku pengkaderan yang akan dilaunching tersebut merupakan hasil keputusan rapat kerja nasional (Rakernas) I IPNU yang diselenggarakan Juli 2004 di Pekanbaru Riau. Penyusunan buku ini telah melalui proses panjang sebelum diputuskan di Rakernas. Didahului dengan diskusi-diskusi tim pengkaderan pimpinan pusat, dilanjutkan dengan workshop pengkaderan di PP Al Masturiyah Sukabumi dan berakhir di sidang komisi pengkaderan di Rakernas.

Sementara itu dialog tiga generasi akan meneropong lebih dalam dan jauh mengenai perjalanan pengkaderan di NU yang mengalami pasang surut. Masa-masa sulit pengkaderan tidak terlepas dari instrumen pengkaderan yang mendukungnya, termasuk didalamnya konsolidasi badan-badan otonom dibawah NU yang menjadi pilar utama pengkaderan yang juga mengalami pasang surut dan dinamika organisasi yang luar biasa.

IPNU misalnya, setelah hampir 30 tahun konsolidasi basis kadernya berada di sekolah dan pesantren, pada tahun 1989 meluas ke berbagai sasaran garap yang disebabkan perubahan dari “pelajar” menjadi Putra, atau PMII dari organisasi mahasiswa resmi di bawah NU menyatakan independen dari NU.

“Mampukah IPNU menjadi pelopor pembaharuan kaderisasi di tubuh NU? Sanggupkan NU menjadi mediasi distribusi kader ke seluruh potensi kebutuhan masyarakat,” tambahnya.

Pelatihan pelatih akan diikuti peleh pimpinan pusat sebanyak 10 orang, utusan masing-masing cabang se DKI 2 orang dan masing-masing wilayah 2 orang. Pelatihan ini akan menggunakan standar kurikulum pelatihan pelatihn yang ada di buku pedoman pelatihan. Selain itu juga akan diisi dengan penyampaian isu-isu aktual sebagai bahan analisis peserta untuk mempertajam kerangka piker dari beberapa narasumber yang ahli dibidangnya.

Beberapa materi adalah NU dan pengembangan SDM, IPNU dan tantangan globalisasi, Aswaja dan konsep gerakan kepelajaran, prinsip dan falsafah pelatihan, psikologi pelatihan, methodologi pelatihan, media dan manajemen pelatihan, pengembangan kurikulum, psikologi perkembangan remaja, dan methodologi evaluasi pengembangan pelatihan.(mkf)

 

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Nasional, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

IPNU akan Launching Buku Pengkaderan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU akan Launching Buku Pengkaderan Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU akan Launching Buku Pengkaderan Baru

Rabu, 13 September 2017

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi "Sulapa Eppa"

Makassar, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Gubernur Sulawesi Selatan H Syahrul Yasin Limpo menyampaikan kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Islam Makassar (UIM), di Auditorium KH Muhyiddin Zain, Makassar Sulawesi Selatan, Kamis (10/9). Kuliah tersebut dalam rangka penyambutan mahasiswa baru 2015.

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi Sulapa Eppa (Sumber Gambar : Nu Online)
Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi Sulapa Eppa (Sumber Gambar : Nu Online)

Gubernur Sulsel Minta UIM Amalkan Filosofi "Sulapa Eppa"

Syahrul Yasin Limpo memberikan motivasi dan spirit kepada mahasiswa baru di salah satu kampus NU Sulsel tersebut, untuk tetap semangat dan tekun dalam menuntut ilmu.

Kemudian mengajak seluruh mahasiswa UIM untuk mengubah paradigma berpikir yang bermalas-malasan menjadi rajin. Siap menjadi intelektual yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Perubahan mental menjadi lebih dewasa, lanjut dia, tak bisa ditawar-tawar lagi ditunjukkan dengan setiap tingkah laku bercirikan intelektual.

"Proklamasikanlah diri Anda bahwasanya Anda adalah mahasiswa hebat, bangga menjadi mahasiswa UIM sebagai perguruan tinggi terbaik,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jangan lupa sebagai mahasiswa baru dalam menjalani dunia akademik untuk senantiasa mengamalkan nilai-nilai filosofi hidup Bugis-Makassar yakni "Sulapa Eppa" yang berarti segi empat.

Adapun nilai-nilai itu lempu (jujur), macca (berpengetahuan), warani (memiliki keberanian moral), sugi/Malabo (pemurah)," ungkap SYL sapaan akrab Gubernur Sulsel ini. (Andy Muhammad Idris/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri, IMNU, Tegal Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 14 Mei 2017

TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji

Jombang, Pondok Pesantren Attauhidiyyah - Di sejumlah daerah, minat pelajar untuk mengaji Al-Qur’an semakin menurun. Karenanya Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) ini memberikan bimbingan belajar kepada para santri sehingga tetap bertahan dan semangat dalam belajar agama.

 

TPQ dimaksud adalah Tanwirul Qulub yang berada di desa dan dusun Mlaras Sumobito Jombang Jawa Timur. Lukman Chaqim sebagai Ketua TPQ menandaskan, ada kebiasaan di masyarakat sekitar bahwa usai menyelesaikan pendidikan tingkat dasar baik SD maupun MI, mereka enggan mengaji. "Kalau sudah masuk SMP maupun MTs, sepertinya tidak pantas belajar di TPQ lagi," katanya, Selasa (12/1).

 

TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)
TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji (Sumber Gambar : Nu Online)

TPQ ini Berikan Bimbingan Belajar Agar Santri Tetap Minat Mengaji

Beberapa dari mereka beralasan mengikuti bimbingan belajar di sejumlah lembaga kursus. "Karena pelajaran di sekolah semakin sulit, maka kegiatan ngaji akhirnya dikorbankan," ungkap ayah 3 anak ini. Padahal andai saja tetap mengaji, mereka masih bisa membagi waktu lantaran ke TPQ tidak butuh  waktu lama, lanjutnya.

 

Karenanya, sejak dua bulan lalu, TPQ ini menyediakan bimbingan belajar khusus bagi santri yang tingkat MI maupun SD. "Sejak awal sudah kami sediakan bimbingan belajar sesuai dengan minat pelajaran yang diinginkan," kata Ustadz Luqman, sapaan akrabnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

 

Tidak berhenti sampai di situ, mereka yang sudah memasuki MTs maupun SMP, juga diberikan kesempatan yang sama agar bisa menerima bimbingan belajar, khususnya mata pelajaran eksakta dan bahasa asing. "Untuk keperluan ini kami mendatangkan guru sesuai mata pelajaran yang ada dan diinginkan," ungkapnya.

 

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Biaya yang harus dikeluarkan para santri sangat terjangkau. "Setiap menghadiri bimbingan belajar, mereka dikenakan biaya hanya seribu rupiah untuk tingkat dasar, dan dua ribu rupiah untuk sekolah menengah pertama," kata mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Urwatul Wutsqo Bulurejo Jombang ini.

Dengan tambahan bimbingan belajar tersebut, maka jadwal masuk untuk TPQ diajukan lebih awal yakni jam 14.45 WIB. "Untuk bimbingan belajar dimulai sejak jam 16.45 hingga 17.30 WIB," terangnya.

 

Bagi Ustadz Luqman, penambahan materi bimbingan belajar adalah sebagai terobosan agar para santri yang juga siswa bisa terus bertahan mendalami Al-Qur’an. "Karena tekad kami, santri di sini bisa mampu menghafal Al-Qur’an, baik secara lafadz, makna, maupun mengamalkan dalam keseharian," katanya. Dan untuk bisa sampai ke tataran ideal tersebut tentu membutuhkan waktu belajar yang tidak singkat, pungkasnya. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Santri, AlaSantri, Nahdlatul Ulama Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Jumat, 12 Mei 2017

Ansor Banyuanyar Fokuskan PKD ke Pembentukan Karakter Pemuda

Probolinggo, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Dalam rangka membentuk karakter pemuda, Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Banyuanyar Kabupaten Probolinggo menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) di Pondok Pesantren Bahrul Huda di Desa Klenang Kidul Kecamatan Banyuanyar, Selasa (3/11).

PKD ini diikuti oleh 121 orang peserta terdiri dari 27 orang pengurus PAC GP Ansor Kecamatan Banyuanyar, 54 orang pengurus ranting dari 14 desa serta 26 orang utusan dari PAC GP Ansor Kecamatan Maron, Tiris, Gending, Tegalsiwalan, Kraksaan dan Paiton.

Ansor Banyuanyar Fokuskan PKD ke Pembentukan Karakter Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Banyuanyar Fokuskan PKD ke Pembentukan Karakter Pemuda (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Banyuanyar Fokuskan PKD ke Pembentukan Karakter Pemuda

Kegiatan tersebut dihadiri oleh Camat Banyuanyar H Didik Abdul Rohim, Rais Syuriyah MWCNU Kecamatan Banyuanyar Kiai Bahar, Ketua Pimpinan Cabang GP Ansor Kota Kraksaan Taufiq dan sejumlah pengurus.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Ketua PAC GP Ansor Kecamatan ? Banyuanyar Kholilullah mengatakan, selain untuk membentuk karakter pemuda, kegiatan ini bertujuan sebagai kaderisasi dalam semangat juang mempertahankan NKRI serta menajamkan keteguhan dalam melestarikan warisan ulama NU aqidah Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) an-Nahdliyah.

“Melalui PKD ini diharapkan para pengurus GP Ansor memiliki rasa nasionalisme yang tinggi dan setia terhadap NKRI, dapat membedakan aliran-aliran radikal yang menyesatkan serta membentuk khilafah dengan mengatasnamakan agama,” katanya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Ketua PC GP Ansor Kota Kraksaan Taufiq mengharapkan agar peserta PKD mampu membesarkan organisasi GP Ansor dan berjuang dengan sepenuh hati. “Diharapkan para pengurus GP Ansor memberikan manfaat seluas-luasnya untuk NKRI dan Islam ala Ahlussunnah wal Jamaah,” harapnya.

Sedangkan Camat Banyuanyar H Didik Abdul Rohim mengatakan, bahwa bukanlah pemuda yang mengatakan ada bapak saya, tetapi yang dikatakan pemuda adalah diri saya. “Kalau pemuda ingin sukses, maka harus memiliki komitmen, konsensus, konsekuen dan konsisten,” katanya.

Dalam PKD tersebut, para pemuda mendapatkan beberapa materi meliputi sesi ta’aruf, Aswaja, tradisi dan amaliyah Aswaja, ke-NU-an, ke-GP Ansor-an, dasar keorganisasian dan diakhiri dengan pembai’atan. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Selasa, 09 Mei 2017

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah 

DKI Jakarta akan menjadi tuan rumah Konferensi Para Pemimpin Keagamaan ASIA pada 25 Februari sampai dengan 1 Maret mendatang.

Konferensi bertajuk Bringing A Commom Word to Common action for justice yang bakal dihelat di Hotel ACACIA, Jakarta Pusat itu diharapkan dapat membangun komitmen bersama antara para pemimpin keagamaan se ASIA, dari kalangan Muslim dan Kristen.

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia (Sumber Gambar : Nu Online)
ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia (Sumber Gambar : Nu Online)

ICIS Inisiasi Konferensi Tokoh Agama Asia

“Konferensi Ulama dan Arcbishop se Asia ini dihadiri 150 ulama dan Arcbishop dari 15 negara. INi merupakan kelanjutan dari pertemuan ICIS (International Conference of Islamic Scolars) di Singapura, beberapa tahun lalu,” ujar Ketua Panitia The Conference of Muslim-Christians Religious Leaders of Asia, M Nasihin Hasan, Selasa (19/2).

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Dikatakan Nasihin, Konferensi yang diinisasi oleh ICIS itu, akan membahas sejumlah hal krusial di Negara-negara Asia, terutama terkait ketegangan antar agama, ketimpangan hukum, kemiskinan, hingga persoalan korupsi dan perdagangan manusia yang sampai saat ini masih marak terjadi di berbagai Negara di Asia.

“Agama seharusnya bisa menjadi spirit utama dalam penegakan keadilan dan pemberantasan kemiskinan. Dalam konferensi ini, para tokoh agama diharapkan bisa bersama merumuskan wacana dan aksi bersama untuk mengatasi  problem keadilan dan persoalan perdagangan manusia yang menjadi masalah besama Asia saat ini,” ujarnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Sementara Sekjend ICIS KH Hasyim Muzadi mengatakan meskipun berbeda secara theologist, setiap agama sejatinya punya titik temu dalam hal ajaran  tanggung jawab sosial dan moral. “Setiap agama ada titik temu. Tetapi juga ada titik pisah. Kita perkuat titik temunya,” ujar Rais Syuriyah  PBNU itu.

Pertemuan tersebut, kata Hasyim juga merupakan bagian dari Konferensi ICIS yang dilaksanakan rutin sejak tahun 2004 lalu.

“ICIS selama tiga kali berturut-turut. Tahun 2004,2006 dan 2008 ICIS aktif mengadakan pertemuan dengan tokoh agama dari 87 negara. Alhamdulillah ini semakin diterima. Sebelumnya dalam 3 kali pertemuan itu hanya muslim. Sekarang interfaith,” paparnya.

Pertemuan itu juga untuk menegaskan kepada dunia internasional bahwa stigma tentang tingginya intoleransi di negeri ini adalah pandangan yang tak proporsional.

”Walaupun agak sulit karena karena dunia internasional menilai dengan sekularisasi dan pandangan atheism. Sementara di Indonesia kita melihat dengan kacamata pancasila dan keberagamaan,” ujarnya. 

Selama ini  kata Hasyim banyak pengamat agama yang tak turun ke bawah. Banyak peneliti yang kerjanya mencatati konflik tanpa memperbaiki.

“Konfllik agama tak berarti dilatarbelakangi pemikiran intoleransi,” tandasnya. Konferensi tersebut dihelat ICIS bekerja sama dengan Koferensi Wali Gereja di Indonesia (KWI) Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Federas Bishop Asia (FABC) dan Konferensi Kristen Asia (CCA).

Menteri Agama RI Suryadharma Ali direncanakan akan didapuk membuka acara. Konferensi yang berlangsung selama lima hari itu akan menampilkan pembicara-pembicara dari berbagai negara dengan keynote speaker (pembicara kunci) Ali Asghar Engineer.

Pembicara lainnya adalah Arbishop Ferdinand Capalla (Filipina), Arbishop Felix Macado (Hongkong), KH Hasyim Muzadi (Sekjen ICIS), Din Syamsuddin (Ketua PP Muhammadiyah), Prof. Dr. Komarudiin Hidayat, Prof. Dr. Azyumardi.

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Abdel Malek

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Tegal, Pertandingan, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Minggu, 04 September 2016

NU Afganistan Bebaskan Seorang Sandera Taliban

Jakarta, Pondok Pesantren Attauhidiyyah. Perwakilan ulama Afganistan dari Provinsi Maidan Wardak yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama Afghanistan (NUA) berhasil membebaskan seorang sandera yang diculik oleh keompok Taliban. Proses pembebasan dilakukan dengan cara damai.

“Mereka berhasil membebaskan sandera beberapa minggu lalu karena membawa nama Nahdlatul Ulama Afghanistan,” kata Wakil Ketua Umum PBNU KH As’ad Said Ali kepada Pondok Pesantren Attauhidiyyah di Jakarta, Kamis (18/9).

NU Afganistan Bebaskan Seorang Sandera Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Afganistan Bebaskan Seorang Sandera Taliban (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Afganistan Bebaskan Seorang Sandera Taliban

Alhamdulillah, organisasi Nahdlatul Ulama Afghanistan telah mendapat kepercayaan dari lapisan masyarakat setempat, baik dari kalangan pemerintah maupun oposisi,” tambahnya.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Menurut As’ad, warta mengenai pembebasan sandera itu menjadi salah satu bagian dalam laporan Workshop NUA 17 September 2014 kemarin yang dilaporkan kepada PBNU di Jakarta. Workshop sendiri diselenggarakan dalam rangka memperkuat jaringan NUA di seluruh wilayah Afghanistan.

Pondok Pesantren Attauhidiyyah

Workshop tersebut diadakan di kantor Noor Educational and Capacity Development Organization (NECDO), Butcher St, Shahr-e-now, Kabul Afghanistan. Sementara dalam laporan juga disebutkan bahwa Gubernur Maidan Wardak telah memberikan salah satu ruangan untuk kantor perwakilan NU Afghanistan, serta akan membantu sepenuhnya NUA dalam mempersiapkan peresmian dan pelantikan pengurusnya.

Setelah ada pelantikan secara resmi, NUA akan secepatnya disosialisasikan ke seluruh Provinsi Afghanistan. Menurut As’ad, dalam waktu dekat pihak NUA juga akan mengadakan silaturahim dengan kedua kandidat calon presiden Afghanistan yaitu DR Abdullah Abdullah dan DR Ashraf Ghani.

“Secara khusus NU Afganistan menyampaikan ucapan terimakasih kepada PBNU di Indonesia yang telah mensupport pendanaan, support teknis dan support politis, serta mengharapkan PBNU Indonesia untuk hadir dalam pelantikan NUA,” katanya.

Ditambahkan, seperti NU di Indonesia, NU Afghanistan akan bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan serta melayani masyarakat dan tidak terlibat dalam politik praktis.

Berbeda dengan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) di luar negeri yang beranggotakan warga Indonesia, NUA didirikan dan beranggotakan masyarakat setempat. Menurut As’ad, organisasi ini akan mengadopsi AD/ART dari PBNU yang ada di Indonesia dengan beberapa penyesuaian terkait regulasi dan kondisi negara setempat. (A. Khoirul Anam)

Gambar: Logo NU Afganistan

Dari Nu Online: nu.or.id

Pondok Pesantren Attauhidiyyah Hikmah, AlaSantri Pondok Pesantren Attauhidiyyah